Zaqi dan egonya

Tak banyak orang tahu, ya memang hanya dua orang saja yang tahu sisi gelap seorang anak manis bernama Zaqi Auriga Bahagi.

Bukan sisi gelap yang dia lahir tanpa ayah kandung karena ibunya korban lelaki bejat yang mesum saat masih merasakan cinta monyet diusia remaja, bukan. Bukan juga ayah tirinya yang seorang anggota TNI angkatan udara yang toxic itu membuat keluarganya hancur saat dia berusia delapan tahun, bukan.

Tapi sisinya yang lain.

Zaqi Auriga Bahagi itu anak satu-satunya mama. Otomatis, dunia mama itu dunia Zaqi juga. Zaqi dari kecil hanya tinggal berdua saja, mamanya banyak mengenalkan Zaqi pada temannya. Zaqi menjadi anak hits di kalangan ibu-ibu arisan teman-teman mamanya itu, menjadi anak manis yang sopan yang diidamkan semua orang.

Anak kecil polos dan pintar yang memiliki senyum cerah itu lama-lama tumbuh menjadi pemuda tampan rupawan yang memiliki pesona tak terelakkan.

Semua orang menyukainya, tak terkecuali suami orang.

Tiga tahun terakhir, pemuda lugu nan polos ini berubah menjadi seorang pemuda nakal yang punya hubungan terlarang dengan rektornya. Yang lebih parahnya lagi, orang tersebut adalah suami sahabat baik mamanya.

Sebut saja Zaqi gila. Namun tumbuh tanpa sosok ayah, menjadikan dirinya haus dan penasaran. Bagaimana sih rasanya disayangi oleh ayah, bagaimana rasanya diperhatikan dan semacamnya. Maka saat orang itu datang membawa cinta, Zaqi terbuai.

Persetan dengan cinta melenceng dari seharusnya ini, Zaqi terbuai dan terlena. Ia suka. Suka sensasi diperhatikan, dimanjakan, disayangi sebegitu banyak oleh laki-laki yang seharusnya tak ia cium bibirnya, tak ia peluk raganya, tak duduk dirinya pada pangkuan lelaki itu.

Persetan benar dan salah.

Zaqi hanya ingin hidup begini. Selama dirinya bahagia, ia tak keberatan harus selalu sembunyi-sembunyi. Tak keberatan ia harus selalu merahasiakan kemesraannya.

Oh tentu Nara dan Sekala adalah orang yang paling pertama memukul kepala bulatnya guna menyadarkan kelakuan buruknya.

Namun Zaqi yang bebal membuat kedua temannya bungkam karena lelah.

Tak banyak orang yang tahu tentang sisi Zaqi yang ini. Sumpah hanya Sekala dan Nara.

Mamanya tak tahu. Apalagi Tante Susan, Tante yang memperlakukan dirinya seperti anak sendiri. Sang istri sah dari lelaki yang ia tiduri selangkangannya tadi malam.

Ah Zaqi dan segala egonya.

Sebut Zaqi dan rektornya itu pintar karena sudah tiga tahun menjalin hubungan ini tak ketahuan.

Namun Zaqi tetap manusia biasa dimana ia dilanda khawatir. Sering tidur tak nyenyak, dibayangi rasa bersalah yang begitu besar.

Sering ia tak tega melihat mata Tante yang begitu banyak menghujaninya cinta. Namun yang terjadi selanjutnya tetap sama, ia dan suaminya bercumbu di belakang wanita cantik itu.

Zaqi tak tahu harus bagaimana. Jujur, Zaqi tak ingin kehilangan segalanya, meski bukan miliknya.

“Karma will hit you, Zaq, i swear”

“Iya”

“Jangan iya-iya aja anjing! Sadar?!!!”

Zaqi membuang muka, enggan menatap Nara yang menatapnya tajam. Zaqi tahu kedua temannya kecewa.

“Beliau bukan hak lu, Zaq. He has already married, sadar...”

“Tapi gue sayang sama Om Bima, Nar!”

“Itu salah, Zaqi!”

“Apa yang salah, Nar? Cinta kan gak bisa milih dimana dia mau berlabuh?”

“Otak lo rusak! Lo yang gak tahu diri”

“Terus apa? Toh kita berdua saling mencintai, lalu apa Nar?”

Waktu itu Nara kehilangan kata-kata. Ia bisa melihat api berkobar dalam tatapan Zaqi. Nara kehabisan tenaga hingga akhirnya ia hanya membuang nafas lelah.

“Gue tahu gue salah Nar... Tapi gue juga mau, gue mau dicintai segini besarnya.... Gue gak pernah, Nara... Tolong ngertiin dulu sebentar”

Hari itu, hujan besar tiba-tiba membasahi bumi Jakarta. Menyisakan riuh suara air hujan diantara keheningan yang kaku dan berat diantara Zaqi dan Nara.

“Zaqi lo tau gue sayang sama lo karena lo sahabat gue, kan?”

Zaqi menatap wajah Nara yang tampak lelah, mengangguk tipis.

“Sampai kapanpun lo tetap sahabat gue, makanya gue gak mau lo kenapa-napa.. lo paham kan kenapa gue segini marahnya?”

“Gue butuh dicintai kayak gini, nar....”

Nara berdecih lalu melempar rokok yang sisa setengah itu pada asbak dihadapannya.

“Atur sesuka lo deh, kan lo panitianya.” Sindirnya.

Mungkin Nara mendapatkan semua yang Zaqi inginkan, makanya ia tak gelap mata. Tak mencintai orang yang memberikan oasis diantara hausnya. Mungkin Nara memang tidak mengerti, atau mungkin Zaqi yang terlalu keras kepala.

tbc