syhiraalifia

Terlanjur kecewa.

Setelah mengetahui bahwa ternyata foto itu ada di dalam sebuah aplikasi, dan Vano langsung memutuskan Kiara, Vano bergegas pergi ke rumah Yuna ibunda Kayla.

Vano ingin meminta maaf kepada Kayla, karena dirinya yang sudah keterlaluan mengusir Kayla dari rumah disaat Kayla sedang hamil. Kini Vano menyesal dengan sikap yang telah ia perbuat.

Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya selalu tertuju kepada Kayla, air matanya perlahan mengalir dengan sendirinya.

“Bodoh gue bodoh, kenapa-kenapa ini harus terjadi.” Vano memukul stir mobilnya berkali-kali.

Beberapa menit berlalu, kini Vano sudah sampai dikediaman ibunda Kayla, Vano berjalan ragu karena ia merasa sangat bersalah kepada Kayla.

TOK TOK

Vano mengetuk pelan pintu rumah Yuna, berharap Kayla yang membukakan pintu.

Tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka, menampakkan ibunda Kayla.

“Nak Revano, ada apa kemari?” Tanya Yuna basa-basi.

“Bunda maaf apa Kayla nya ada?” Ucap Vano.

“Ada apa kamu mencari Kayla?”

“Saya mau meminta maaf sama Kayla Bun, saya menyesal.” Ucap Vano, lalu berlutut memegang tangan Yuna.

“Eh-eh nak Vano jangan begini nak, ayo berdiri.” Pinta Yuna, sambil menarik tangan Vano untuk berdiri.

“Nggak Bun, saya juga mau minta maaf sama Bunda karena sudah menyakiti anak Bunda, saya menyesal karena sudah terpengaruh omongan orang lain, saya menyesal.”

“Bunda sudah maafkan nak, ayo berdiri jangan begini.” Ucap Yuna menepuk pundak Vano.

“Saya boleh bertemu Kayla?”

“Boleh nak, tunggu sebentar.”

Yuna berjalan memasuki rumah, hendak memanggil Kayla.

Kayla sedang duduk di meja riasnya, sambil sesekali mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Anak Mama, sehat-sehat di dalam perut ya nak. Mama gak sabar pengen ketemu kamu.”

“Kayla, Kayla.” Panggil Yuna.

“Iya Bun, aku di kamar.”

Yuna memasuki kamar Kayla, lalu berjalan menghampiri Kayla yang sedang duduk manis di meja riasnya.

“Sayang, ada suami kamu di luar.” Ucap Yuna.

“Ada Vano diluar Bun?” Kayla kaget, mengapa tiba-tiba Vano ada disini.

“Iya dia katanya pengen ketemu kamu, dia mau minta maaf sama kamu.”

“Aku gak mau ketemu Vano Bun.”

“Ayo nak temui suami kamu, kasian dia daritadi nunggu kamu.”

“Maaf Bun, aku gak bisa. Aku udah terlanjur kecewa sama Vano.” Ucap Kayla memohon.

“Aku mohon ya Bun, tolong hargai keputusan aku.” Sambungnya lagi.

“Yasudah, Bunda temui Vano dulu ya nak.” Ucap bunda Kayla yang hanya di balas anggukan oleh Kayla.

“Maaf nak, Kayla tidak mau bertemu kamu. Kayla sudah terlanjur kecewa, lebih baik kamu pulang udah mau hujan nanti kamu sakit nak.” Pinta bunda Kayla, karena mau bagaimanapun dirinya tidak akan mungkin memaksa Kayla untuk bertemu dengan Vano.

“Nggak Bun, saya mau nunggu Kayla disini sampai dia mau bertemu saya. Saya mohon.”

“Yasudah ayo masuk jangan di luar, nanti kamu sakit.”

“Saya nunggu diluar aja.”

“Baiklah, bunda masuk dulu ya nak, jika kamu butuh apapun hubungi saja bunda.”

Vano hanya mengangguk.

Hari sudah menjelang malam, langit sangat gelap, suara petir sedari tadi tidak berhenti, sampai akhirnya hujan pun turun.

Vano masih tetap dengan pendirian nya yaitu menunggu Kayla sampai dia mau bertemu dengannya, meskipun cuaca sangat dingin Vano tidak akan pulang.

“Kayla, a-aku moh-hon temui a-aku.” Ucap Vano, bibirnya bergetar karena kedinginan.

Disisi lain Yuna dengan Kayla menatap Vano, Kayla menatap Vano sedih Kayla kasihan dengan Vano yang kedinginan diluar sana, tetapi Kayla juga tidak ingin bertemu Vano karena dirinya terlanjur kecewa.

“Nak, ajak masuk suamimu kasihan dia kedinginan.” Pinta Bunda Kayla.

“Biarin aja Bun.” Jawab Kayla, lalu pergi ke kamarnya.


Hari sudah pagi, matahari sudah bersinar terang, Yuna sedang siap-siap untuk pergi ke pasar.

Disaat Yuna membukakan pintu depan, terlihat Vano yang sedang tertidur di lantai dengan bibir yang bergetar, wajah pucat.

“Ya Allah nak Vano, kamu semalaman tidur disini nak, astagfirullah.” Ucap Bunda Kayla kaget, ternyata Vano masih tetap disini bahkan sampai tidur di lantai.

“Kayla, Kayla nak sini.” Teriak Yuna.

Kayla menghampiri “Ada apa bun?”

“Lihat suamimu, dia tidur diluar semalaman, badannya panas, ayo kita bawa ke dalam.”

Vano di tidurkan di kamar Kayla, lalu Kayla mengompres Vano dengan air hangat.

“Vano kenapa kamu nekat sih?” Tanya Kayla.

Vano tidak menjawab, karena Vano masih tertidur.

Tak berapa lama Vano akhirnya terbangun.

“Gue ada dimana.” Batinnya.

“Kamu udah bangun, ayo makan dulu.” Ucap Kayla berjalan mendekati Vano.

“Ka-ayla.” Vano langsung memeluk Kayla, menangis kencang, sembari mengeluarkan beribu-ribu kata maaf.

“Maafin aku sayang, maafin aku. Maafin aku karena udah gak percaya sama kamu, maafin aku karena dengan mudahnya terpengaruh omongan orang lain, aku nyesel, aku minta maaf.”

“Sekarang aku percaya sama kamu sayang, aku minta maaf, aku gagal menjadi suami kamu, aku gagal menjadi Papa untuk anak kita aku minta maaf. Aku janji aku akan perbaiki semuanya aku akan ada terus disisi kamu.”

Kayla tersenyum, lalu menepuk pundak Vano pelan. “Udah Vano udah, sekarang udah jelas kan? Aku gak ngelakuin hal itu, anak yang aku kandung ini anak kamu, bukan anak orang lain.”

“Iya sayang, aku percaya. Kamu mau kan maafin aku?” Ucap Vano memohon.

“Iya aku maafin kamu, tapi aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi.”

“Iya sayang aku janji kejadian ini gak akan pernah terulang lagi.” Ucap Vano, lalu memeluk Kayla lagi kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.

“Vano udah ih engap dedek bayinya.”

“Oh iya lupa hehe, maafin Papa ya sayang.” Vano mengelus lembut perut Kayla.

“Iya Papa gak apa-apa.” Kayla tersenyum.

CUP.

“Ih Vano kok gak bilang-bilang sih kalo mau cium.” Ucap Kayla kesal, lalu membalikkan badannya membelakangi Vano.

“Kalo aku bilang, kamu pasti gak mau.” Ucap Vano memeluk Kayla dari belakang.

Kayla tersenyum, akhirnya permasalahan ini selesai ia lega karena Vano sudah menyadari kesalahannya.

Terlanjur kecewa.

Setelah mengetahui bahwa ternyata foto itu ada di dalam sebuah aplikasi, dan Vano langsung memutuskan Kiara, Vano bergegas pergi ke rumah Yuna ibunda Kayla.

Vano ingin meminta maaf kepada Kayla, karena dirinya yang sudah keterlaluan mengusir Kayla dari rumah disaat Kayla sedang hamil. Kini Vano menyesal dengan sikap yang telah ia perbuat.

Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya selalu tertuju kepada Kayla, air matanya perlahan mengalir dengan sendirinya.

“Bodoh gue bodoh, kenapa-kenapa ini harus terjadi.” Vano memukul stir mobilnya berkali-kali.

Beberapa menit berlalu, kini Vano sudah sampai dikediaman ibunda Kayla, Vano berjalan ragu karena ia merasa sangat bersalah kepada Kayla.

TOK TOK

Vano mengetuk pelan pintu rumah Yuna, berharap Kayla yang membukakan pintu.

Tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka, menampakkan ibunda Kayla.

“Nak Revano, ada apa kemari?” Tanya Yuna basa-basi.

“Bunda maaf apa Kayla nya ada?” Ucap Vano.

“Ada apa kamu mencari Kayla?”

“Saya mau meminta maaf sama Kayla Bun, saya menyesal.” Ucap Vano, lalu berlutut memegang tangan Yuna.

“Eh-eh nak Vano jangan begini nak, ayo berdiri.” Pinta Yuna, sambil menarik tangan Vano untuk berdiri.

“Nggak Bun, saya juga mau minta maaf sama Bunda karena sudah menyakiti anak Bunda, saya menyesal karena sudah terpengaruh omongan orang lain, saya menyesal.”

“Bunda sudah maafkan nak, ayo berdiri jangan begini.” Ucap Yuna menepuk pundak Vano.

“Saya boleh bertemu Kayla?”

“Boleh nak, tunggu sebentar.”

Yuna berjalan memasuki rumah, hendak memanggil Kayla.

Kayla sedang duduk di meja riasnya, sambil sesekali mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Anak Mama, sehat-sehat di dalam perut ya nak. Mama gak sabar pengen ketemu kamu.”

“Kayla, Kayla.” Panggil Yuna.

“Iya Bun, aku di kamar.”

Yuna memasuki kamar Kayla, lalu berjalan menghampiri Kayla yang sedang duduk manis di meja riasnya.

“Sayang, ada suami kamu di luar.” Ucap Yuna.

“Ada Vano diluar Bun?” Kayla kaget, mengapa tiba-tiba Vano ada disini.

“Iya dia katanya pengen ketemu kamu, dia mau minta maaf sama kamu.”

“Aku gak mau ketemu Vano Bun.”

“Ayo nak temui suami kamu, kasian dia daritadi nunggu kamu.”

“Maaf Bun, aku gak bisa. Aku udah terlanjur kecewa sama Vano.” Ucap Kayla memohon.

“Aku mohon ya Bun, tolong hargai keputusan aku.” Sambungnya lagi.

“Yasudah, Bunda temui Vano dulu ya nak.” Ucap bunda Kayla yang hanya di balas anggukan oleh Kayla.

“Maaf nak, Kayla tidak mau bertemu kamu. Kayla sudah terlanjur kecewa, lebih baik kamu pulang udah mau hujan nanti kamu sakit nak.” Pinta bunda Kayla, karena mau bagaimanapun dirinya tidak akan mungkin memaksa Kayla untuk bertemu dengan Vano.

“Nggak Bun, saya mau nunggu Kayla disini sampai dia mau bertemu saya. Saya mohon.”

“Yasudah ayo masuk jangan di luar, nanti kamu sakit.”

“Saya nunggu diluar aja.”

“Baiklah, bunda masuk dulu ya nak, jika kamu butuh apapun hubungi saja bunda.”

Vano hanya mengangguk.

Hari sudah menjelang malam, langit sangat gelap, suara petir sedari tadi tidak berhenti, sampai akhirnya hujan pun turun.

Vano masih tetap dengan pendirian nya yaitu menunggu Kayla sampai dia mau bertemu dengannya, meskipun cuaca sangat dingin Vano tidak akan pulang.

“Kayla, a-aku moh-hon temui a-aku.” Ucap Vano, bibirnya bergetar karena kedinginan.

Disisi lain Yuna dengan Kayla menatap Vano, Kayla menatap Vano sedih Kayla kasihan dengan Vano yang kedinginan diluar sana, tetapi Kayla juga tidak ingin bertemu Vano karena dirinya terlanjur kecewa.

“Nak, ajak masuk suamimu kasihan dia kedinginan.” Pinta Bunda Kayla.

“Biarin aja Bun.” Jawab Kayla, lalu pergi ke kamarnya.


Hari sudah pagi, matahari sudah bersinar terang, Yuna sedang siap-siap untuk pergi ke pasar.

Disaat Yuna membukakan pintu depan, terlihat Vano yang sedang tertidur di lantai dengan bibir yang bergetar, wajah pucat.

“Ya Allah nak Vano, kamu semalaman tidur disini nak, astagfirullah.” Ucap Bunda Kayla kaget, ternyata Vano masih tetap disini bahkan sampai tidur di lantai.

“Kayla, Kayla nak sini.” Teriak Yuna.

Kayla menghampiri “Ada apa bun?”

“Lihat suamimu, dia tidur diluar semalaman, badannya panas, ayo kita bawa ke dalam.”

Vano di tidurkan di kamar Kayla, lalu Kayla mengompres Vano dengan air hangat.

“Vano kenapa kamu nekat sih?” Tanya Kayla.

Vano tidak menjawab, karena Vano masih tertidur.

Tak berapa lama Vano akhirnya terbangun.

“Gue ada dimana.” Batinnya.

“Kamu udah bangun, ayo makan dulu.” Ucap Kayla berjalan mendekati Vano.

“Ka-ayla.” Vano langsung memeluk Kayla, menangis kencang, sembari mengeluarkan beribu-ribu kata maaf.

“Maafin aku sayang, maafin aku. Maafin aku karena udah gak percaya sama kamu, maafin aku karena dengan mudahnya terpengaruh omongan orang lain, aku nyesel, aku minta maaf.”

“Sekarang aku percaya sama kamu sayang, aku minta maaf, aku gagal menjadi suami kamu, aku gagal menjadi Papa untuk anak kita aku minta maaf. Aku janji aku akan perbaiki semuanya aku akan ada terus disisi kamu.”

Kayla tersenyum, lalu menepuk pundak Vano pelan. “Udah Vano udah, sekarang udah jelas kan? Aku gak ngelakuin hal itu, anak yang aku kandung ini anak kamu, bukan anak orang lain.”

“Iya sayang, aku percaya. Kamu mau kan maafin aku?” Ucap Vano memohon.

“Iya aku maafin kamu, tapi aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi.”

“Iya sayang aku janji kejadian ini gak akan pernah terulang lagi.” Ucap Vano, lalu memeluk Kayla lagi kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.

“Vano udah ih engap dedek bayinya.”

“Oh iya lupa hehe, maafin Papa ya sayang.” Vano mengelus lembut perut Kayla.

“Iya Papa gak apa-apa.” Kayla tertawa.

CUP.

“Ih Vano kok gak bilang-bilang sih kalo mau cium.” Ucap Kayla kesal, lalu membalikkan badannya membelakangi Vano.

“Kalo aku bilang, kamu pasti gak mau.” Ucap Vano memeluk Kayla dari belakang.

Kayla tersenyum, akhirnya permasalahan ini selesai ia lega karena Vano sudah menyadari kesalahannya.

Terlanjur kecewa.

Setelah mengetahui bahwa ternyata foto itu ada di dalam sebuah aplikasi, dan Vano langsung memutuskan Kiara, Vano bergegas pergi ke rumah Yuna ibunda Kayla.

Vano ingin meminta maaf kepada Kayla, karena dirinya yang sudah keterlaluan mengusir Kayla dari rumah disaat Kayla sedang hamil. Kini Vano menyesal dengan sikap yang telah ia perbuat.

Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya selalu tertuju kepada Kayla, air matanya perlahan mengalir dengan sendirinya.

“Bodoh gue bodoh, kenapa-kenapa ini harus terjadi.” Vano memukul stir mobilnya berkali-kali.

Beberapa menit berlalu, kini Vano sudah sampai dikediaman ibunda Kayla, Vano berjalan ragu karena ia merasa sangat bersalah kepada Kayla.

TOK TOK

Vano mengetuk pelan pintu rumah Yuna, berharap Kayla yang membukakan pintu.

Tak berapa lama, pintu rumah pun terbuka, menampakkan ibunda Kayla.

“Nak Revano, ada apa kemari?” Tanya Yuna basa-basi.

“Bunda maaf apa Kayla nya ada?” Ucap Vano.

“Ada apa kamu mencari Kayla?”

“Saya mau meminta maaf sama Kayla Bun, saya menyesal.” Ucap Vano, lalu berlutut memegang tangan Yuna.

“Eh-eh nak Vano jangan begini nak, ayo berdiri.” Pinta Yuna, sambil menarik tangan Vano untuk berdiri.

“Nggak Bun, saya juga mau minta maaf sama Bunda karena sudah menyakiti anak Bunda, saya menyesal karena sudah terpengaruh omongan orang lain, saya menyesal.”

“Bunda sudah maafkan nak, ayo berdiri jangan begini.” Ucap Yuna menepuk pundak Vano.

“Saya boleh bertemu Kayla?”

“Boleh nak, tunggu sebentar.”

Yuna berjalan memasuki rumah, hendak memanggil Kayla.

Kayla sedang duduk di meja riasnya, sambil sesekali mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Anak Mama, sehat-sehat di dalam perut ya nak. Mama gak sabar pengen ketemu kamu.”

“Kayla, Kayla.” Panggil Yuna.

“Iya Bun, aku di kamar.”

Yuna memasuki kamar Kayla, lalu berjalan menghampiri Kayla yang sedang duduk manis di meja riasnya.

“Sayang, ada suami kamu di luar.” Ucap Yuna.

“Ada Vano diluar Bun?” Kayla kaget, mengapa tiba-tiba Vano ada disini.

“Iya dia katanya pengen ketemu kamu, dia mau minta maaf sama kamu.”

“Aku gak mau ketemu Vano Bun.”

“Ayo nak temui suami kamu, kasian dia daritadi nunggu kamu.”

“Maaf Bun, aku gak bisa. Aku udah terlanjur kecewa sama Vano.” Ucap Kayla memohon.

“Aku mohon ya Bun, tolong hargai keputusan aku.” Sambungnya lagi.

“Yasudah, Bunda temui Vano dulu ya nak.” Ucap bunda Kayla yang hanya di balas anggukan oleh Kayla.

“Maaf nak, Kayla tidak mau bertemu kamu. Kayla sudah terlanjur kecewa, lebih baik kamu pulang udah mau hujan nanti kamu sakit nak.” Pinta bunda Kayla, karena mau bagaimanapun dirinya tidak akan mungkin memaksa Kayla untuk bertemu dengan Vano.

“Nggak Bun, saya mau nunggu Kayla disini sampai dia mau bertemu saya. Saya mohon.”

“Yasudah ayo masuk jangan di luar, nanti kamu sakit.”

“Saya nunggu diluar aja.”

“Baiklah, bunda masuk dulu ya nak, jika kamu butuh apapun hubungi saja bunda.

Vano hanya mengangguk.

Hari sudah menjelang malam, langit sangat gelap, suara petir sedari tadi tidak berhenti, sampai akhirnya hujan pun turun.

Vano masih tetap dengan pendirian nya yaitu menunggu Kayla sampai dia mau bertemu dengannya, meskipun cuaca sangat dingin Vano tidak akan pulang.

“Kayla, a-aku moh-hon temui a-aku.” Ucap Vano, bibirnya bergetar karena kedinginan.

Disisi lain Yuna dengan Kayla menatap Vano, Kayla menatap Vano sedih Kayla kasihan dengan Vano yang kedinginan diluar sana, tetapi Kayla juga tidak ingin bertemu Vano karena dirinya terlanjur kecewa.

“Nak, ajak masuk suamimu kasihan dia kedinginan.” Pinta Bunda Kayla.

“Biarin aja Bun.” Jawab Kayla, lalu pergi ke kamarnya.


Hari sudah pagi, matahari sudah bersinar terang, Yuna sedang siap-siap untuk pergi ke pasar.

Disaat Yuna membukakan pintu depan, terlihat Vano yang sedang tertidur di lantai dengan bibir yang bergetar, wajah pucat.

“Ya Allah nak Vano, kamu semalaman tidur disini nak, astagfirullah.” Ucap Bunda Kayla kaget, ternyata Vano masih tetap disini bahkan sampai tidur di lantai.

“Kayla, Kayla nak sini.” Teriak Yuna.

Kayla menghampiri “Ada apa bun?”

“Lihat suamimu, dia tidur diluar semalaman, badannya panas, ayo kita bawa ke dalam.”

Vano di tidurkan di kamar Kayla, lalu Kayla mengompres Vano dengan air hangat.

“Vano kenapa kamu nekat sih?” Tanya Kayla.

Vano tidak menjawab, karena Vano masih tertidur.

Tak berapa lama Vano akhirnya terbangun.

“Gue ada dimana.” Batinnya.

“Kamu udah bangun, ayo makan dulu.” Ucap Kayla berjalan mendekati Vano.

“Ka-ayla.” Vano langsung memeluk Kayla, menangis kencang, sembari mengeluarkan beribu-ribu kata maaf.

“Maafin aku sayang, maafin aku. Maafin aku karena udah gak percaya sama kamu, maafin aku karena dengan mudahnya terpengaruh omongan orang lain, aku nyesel, aku minta maaf.”

“Sekarang aku percaya sama kamu sayang, aku minta maaf, aku gagal menjadi suami kamu, aku gagal menjadi Papa untuk anak kita aku minta maaf. Aku janji aku akan perbaiki semuanya aku akan ada terus disisi kamu.”

Kayla tersenyum, lalu menepuk pundak Vano pelan. “Udah Vano udah, sekarang udah jelas kan? Aku gak ngelakuin hal itu, anak yang aku kandung ini anak kamu, bukan anak orang lain.”

“Iya sayang, aku percaya. Kamu mau kan maafin aku?” Ucap Vano memohon.

“Iya aku maafin kamu, tapi aku gak mau kejadian kayak gini terulang lagi.”

“Iya sayang aku janji kejadian ini gak akan pernah terulang lagi.” Ucap Vano, lalu memeluk Kayla lagi kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.

“Vano udah ih engap dedek bayinya.”

“Oh iya lupa hehe, maafin Papa ya sayang.” Vano mengelus lembut perut Kayla.

“Iya Papa gak apa-apa.” Kayla tertawa.

CUP.

“Ih Vano kok gak bilang-bilang sih kalo mau cium.” Ucap Kayla kesal, lalu membalikkan badannya membelakangi Vano.

“Kalo aku bilang, kamu pasti gak mau.” Ucap Vano memeluk Kayla dari belakang.

Kayla tersenyum, akhirnya permasalahan ini selesai ia lega karena Vano sudah menyadari kesalahannya.

Akhirnya bertemu.

Setelah chatan dengan Dimas tadi, reyna kesal karena ia masih belum bertemu dengan Dimas semenjak mereka berdua resmi pacaran. Pikirannya menduga duga bahwa Dimas memiliki perempuan lain sehingga Dimas tidak mau bertemu dengannya.

Reyna langsung pergi menuju alun-alun untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya, berharap ada makanan yang bisa membuat rasa kesal dan penatnya hilang.

Setelah mendapatkan makanan favoritnya reyna duduk di bangku dekat trampolin, setelah makanannya habis reyna pun masih memikirkan mengapa Dimas selalu saja bilang 'Nanti aku usahain' jika reyna bertanya seperti itu padahal hubungan mereka sudah cukup lama terjalin, tetapi mereka masih belum saja bertemu.

“Kapan gue bisa ketemu Dimas, Dinner berdua, jalan berdua, inimah boro-boro.” batinnya.

Tanpa reyna sadari Dimas berada di dekatnya tepatnya di belakang reyna, Dimas tersenyum membayangkan betapa kesalnya sang kekasih dengan respon yang ia beri tadi di chat.

“Hei.” sapa Dimas sambil memegang pundak reyna.

“Astaga kaget.” ucap reyna, karena ia tidak menyangka Dimas akan menemuinya.

“Maafin aku karena baru sekarang bisa nemuin kamu, aku bukannya gak mau ketemu kamu tapi akhir-akhir ini aku sibuk latihan buat lomba nanti.” ucap Dimas dengan nada penyesalan.

“Aku gak punya perempuan lain, aku cuma punya kamu.” sambungnya lagi.

Reyna hanya diam tetapi wajahnya tersenyum, ia berusaha untuk tegang di hadapan Dimas padahal hatinya kini sedang berantakan karena ucapan Dimas barusan.

“Maafin aku ya sayang?” pinta Dimas.

“Iya iyaa aku maafin kok, aku juga minta maaf karena berpikiran negatif tentang kamu tadi.”

Dimas langsung membawa reyna ke dalam dekapannya, memeluk tubuh reyna erat seolah tidak ingin kehilangan “Terima kasih sayang, sudah mengerti.” ucapnya masih dengan memeluk tubuh reyna.

Reyna hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang terukir di wajahnya.

Reyna senang akhirnya ia bisa bertemu dengan Dimas, reyna masih tidak menyangka Dimas akan datang menemuinya. Reyna sangat bahagia begitupula dengan Dimas.

• THE END

Akhirnya bertemu

Setelah chatan dengan Dimas tadi, reyna kesal karena ia masih belum bertemu dengan Dimas semenjak mereka berdua resmi pacaran. Pikirannya menduga duga bahwa Dimas memiliki perempuan lain sehingga Dimas tidak mau bertemu dengannya.

Reyna langsung pergi menuju alun-alun untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya, berharap ada makanan yang bisa membuat rasa kesal dan penatnya hilang.

Setelah mendapatkan makanan favoritnya reyna duduk di bangku dekat trampolin, setelah makanannya habis reyna pun masih memikirkan mengapa Dimas selalu saja bilang 'Nanti aku usahain' jika reyna bertanya seperti itu padahal hubungan mereka sudah cukup lama terjalin, tetapi mereka masih belum saja bertemu.

“Kapan gue bisa ketemu Dimas, Dinner berdua, jalan berdua, inimah boro-boro.” batinnya.

Tanpa reyna sadari Dimas berada di dekatnya tepatnya di belakang reyna, Dimas tersenyum membayangkan betapa kesalnya sang kekasih dengan respon yang ia beri tadi di chat.

“Hei.” sapa Dimas sambil memegang pundak reyna.

“Astaga kaget.” ucap reyna, karena ia tidak menyangka Dimas akan menemuinya.

“Maafin aku karena baru sekarang bisa nemuin kamu, aku bukannya gak mau ketemu kamu tapi akhir-akhir ini aku sibuk latihan buat lomba nanti.” ucap Dimas dengan nada penyesalan.

“Aku gak punya perempuan lain, aku cuma punya kamu.” sambungnya lagi.

Reyna hanya diam tetapi wajahnya tersenyum, ia berusaha untuk tegang di hadapan Dimas padahal hatinya kini sedang berantakan karena ucapan Dimas barusan.

“Maafin aku ya sayang?” pinta Dimas.

“Iya iyaa aku maafin kok, aku juga minta maaf karena berpikiran negatif tentang kamu tadi.”

Dimas langsung membawa reyna ke dalam dekapannya, memeluk tubuh reyna erat seolah tidak ingin kehilangan “Terima kasih sayang, sudah mengerti.” ucapnya masih dengan memeluk tubuh reyna.

Reyna hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang terukir di wajahnya.

Reyna senang akhirnya ia bisa bertemu dengan Dimas, reyna masih tidak menyangka Dimas akan datang menemuinya. Reyna sangat bahagia begitupula dengan Dimas.

• THE END

Akhirnya bertemu

Setelah chatan dengan Dimas tadi, reyna kesal karena ia masih belum bertemu dengan Dimas semenjak mereka berdua resmi pacaran. Pikirannya menduga duga bahwa Dimas memiliki perempuan lain sehingga Dimas tidak mau bertemu dengannya.

Reyna langsung pergi menuju alun-alun untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya, berharap ada makanan yang bisa membuat rasa kesal dan penatnya hilang.

Setelah mendapatkan makanan favoritnya reyna duduk di bangku dekat trampolin, setelah makanannya habis reyna pun masih memikirkan kenapa Dimas selalu saja bilang 'Nanti aku usahain' jika reyna bertanya seperti itu padahal hubungan mereka sudah cukup lama terjalin, tetapi mereka masih belum saja bertemu.

“Kapan gue bisa ketemu Dimas, Dinner berdua, jalan berdua, inimah boro-boro.” batinnya.

Tanpa reyna sadari Dimas berada di dekatnya tepatnya di belakang reyna, Dimas tersenyum membayangkan betapa kesalnya sang kekasih dengan respon yang ia beri tadi di chat.

“Hei.” sapa Dimas sambil memegang pundak reyna.

“Astaga kaget.” ucap reyna, karena ia tidak menyangka Dimas akan menemuinya.

“Maafin aku karena baru sekarang bisa nemuin kamu, aku bukannya gak mau ketemu kamu tapi akhir-akhir ini aku sibuk latihan buat lomba nanti.” ucap Dimas dengan nada penyesalan.

“Aku gak punya perempuan lain, aku cuma punya kamu.” sambungnya lagi.

Reyna hanya diam tetapi wajahnya tersenyum, ia berusaha untuk tegang di hadapan Dimas padahal hatinya kini sedang berantakan karena ucapan Dimas barusan.

“Maafin aku ya sayang?” pinta Dimas.

“Iya iyaa aku maafin kok, aku juga minta maaf karena berpikiran negatif tentang kamu tadi.”

Dimas langsung membawa reyna ke dalam dekapannya, memeluk tubuh reyna erat seolah tidak ingin kehilangan “Terima kasih sayang, sudah mengerti.” ucapnya masih dengan memeluk tubuh reyna.

Reyna hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang terukir di wajahnya.

Reyna senang akhirnya ia bisa bertemu dengan Dimas, reyna masih tidak menyangka Dimas akan datang menemuinya. Reyna sangat bahagia begitupula dengan Dimas.

• THE END

Akhirnya bertemu

Setelah chatan dengan Dimas tadi, reyna kesal karena ia masih belum bertemu dengan Dimas semenjak mereka berdua resmi pacaran. Pikirannya menduga duga bahwa Dimas memiliki perempuan lain sehingga Dimas tidak mau bertemu dengannya.

Reyna langsung pergi menuju alun alun untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya, berharap ada makanan yang bisa membuat rasa kesal dan penatnya hilang.

Setelah mendapatkan makanan favoritnya reyna duduk di bangku dekat trampolin, setelah makanannya habis reyna pun masih memikirkan kenapa Dimas selalu saja bilang 'Nanti aku usahain' jika reyna bertanya seperti itu padahal hubungan mereka sudah cukup lama terjalin, tetapi mereka masih belum saja bertemu.

“Kapan gue bisa ketemu Dimas, Dinner berdua, jalan berdua, inimah boro-boro” batinnya.

Tanpa reyna sadari Dimas berada di dekatnya tepatnya di belakang reyna, Dimas tersenyum membayangkan betapa kesalnya sang kekasih dengan respon yang ia beri tadi di chat.

“Hei” sapa Dimas sambil memegang pundak reyna.

“Astaga kaget” ucap reyna, karena ia tidak menyangka Dimas akan menemuinya.

“Maafin aku karena baru sekarang bisa nemuin kamu, aku bukannya gak mau ketemu kamu tapi akhir-akhir ini aku sibuk latihan buat lomba nanti” ucap Dimas dengan nada penyesalan.

“Aku gak punya perempuan lain, aku cuma punya kamu” sambungnya lagi.

Reyna hanya diam tetapi wajahnya tersenyum, ia berusaha untuk tegang di hadapan Dimas padahal hatinya kini sedang berantakan karena ucapan Dimas barusan.

“Maafin aku ya sayang?” pinta Dimas.

“Iya iyaa aku maafin kok, aku juga minta maaf karena berpikiran negatif tentang kamu tadi”

Dimas langsung membawa reyna ke dalam dekapannya, memeluk tubuh reyna erat seolah tidak ingin kehilangan “Terima kasih sayang, sudah mengerti” ucapnya masih dengan memeluk tubuh reyna.

Reyna hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang terukir di wajahnya.

Reyna senang akhirnya ia bisa bertemu dengan Dimas, reyna masih tidak menyangka Dimas akan datang menemuinya. Reyna sangat bahagia begitupula dengan Dimas.

• THE END

Tiga Sekawan.

Hari ini Kayla berkumpul dengan kedua sahabatnya, sahabat yang ia kenal sejak duduk di bangku SMA.

Kayla berjalan menghampiri Anika, yang sudah ada di Restoran lebih dulu sebelum dirinya datang.

“Hei bestie, apa kabar?” Tanya Anika, langsung memeluk Kayla.

Kayla tersenyum sambil melepaskan pelukannya “Gue baik, lo sendiri gimana? Eh gimana di kantor akhir-akhir ini?”

“Alhamdulillah gue baik, kantor baik, tapi gue ngerasa hampa gak ada lo Kay, pegawai kantor yang lainnya juga kesepian gak ada lo, gak ada yang bawain makanan lagi.” Jawab Anika sedih.

“Aduh haha, jadi pada kangen sama gue itu gara-gara gak ada yang bawain makanan lagi gitu?” Kayla tertawa, lalu duduk di kursi sebelah Anika.

“Nggak nggak haha gue bercanda doang kok Kay, lo kapan masuk kantor lagi?”

“Gue gak tau, tapi gue usahain secepatnya sih soalnya pasti pekerjaan gue numpuk.” Jawab Kayla sambil sesekali mengelus perutnya.

Disaat Kayla dengan Anika sedang berbincang, Yunita datang menghampiri keduanya.

“Halo halo.” Sapa Yunita.

“Hai.” Jawab Kayla dan Anika, langsung memeluk Yunita.

“Apa kabar Ta? udah lama banget gue gak ketemu lo.” Ucap Kayla.

“Gue baik, lo sendiri gimana? Duh ada yang mau jadi ibu nih.” Ucap Yunita.

“Gue juga baik, haha iya Ta, gue juga gak nyangka bakal secepet ini.” Ucap Kayla.

“Gak sabar nunggu ponakan lahir.” Anika bersuara.

Kayla menepuk jidatnya “Masih lama astaga.”

“Oh iya Ta pacar lo mana?” Tanya Kayla, karena ia hanya melihat Yunita datang seorang diri.

“Ada dia nunggu di luar.” Jawab Yunita.

“Suruh masuk dong, masa nunggu di luar kasian.” Pinta Kayla.

“Dia gak mau yaudah gue iya-in aja.”

“Kay suami lo mana kok lo dateng sendiri?” Anika bertanya, karena sudah lama ia tidak melihat Kayla bersama Vano lagi.

“Ah itu, suami gue sibuk.” Jawab Kayla senyumnya seketika memudar.

Anika menatap Kayla sejenak, ia merasa Kayla sedang berbohong kepadanya, mana mungkin Vano sesibuk itu, walau bagaimanapun yang Anika tau, Vano selalu mengutamakan Kayla.

“Oh gitu, lain kali ajak juga dong suami lo biar seru kita ngumpul nya.” Ucap Anika.

“Iya siap.”

“Lo juga Anika cari pacar jangan jomblo mulu lo, masa iya nantinya lo jadi perawan tua.” Ucap Yunita menyindir, karena sampai sekarang Anika, masih tetap menyendiri tidak tahu kenapa padahal banyak laki-laki diluaran sana yang mau dengan Anika.

“Heh anjir lo kalo ngomong kaga pake bismillah dulu.”

“Emang kenyataan nya wlee.” Yunita meledek.

“Dahlah serah lo, asal kan kau bahagia.” Ucap Anika pasrah.

Kayla hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu, seolah masalah yang sedang ia hadapi hilang dari pikirannya.

Tiga Sekawan

Hari ini Kayla berkumpul dengan kedua sahabatnya, sahabat yang ia kenal sejak duduk di bangku SMA.

Kayla berjalan menghampiri Anika, yang sudah ada di restoran lebih dulu sebelum dirinya datang.

“Hei bestie, apa kabar?” Tanya Anika, langsung memeluk Kayla.

Kayla tersenyum sambil melepaskan pelukannya “Gue baik, lo sendiri gimana? Eh gimana di kantor akhir-akhir ini?”

“Alhamdulillah gue baik, kantor baik, tapi gue ngerasa hampa gak ada lo Kay, pegawai kantor yang lainnya juga kesepian gak ada lo, gak ada yang bawain makanan lagi.” Jawab Anika sedih.

“Aduh haha, jadi pada kangen sama gue itu gara-gara gak ada yang bawain makanan lagi gitu?” Kayla tertawa, lalu duduk di kursi sebelah Anika.

“Nggak nggak haha gue bercanda doang kok Kay, lo kapan masuk kantor lagi?”

“Gue gak tau, tapi gue usahain secepatnya sih soalnya pasti pekerjaan gue numpuk.” Jawab Kayla sambil sesekali mengelus perutnya.

Disaat Kayla dengan Anika sedang berbincang, Yunita datang menghampiri keduanya.

“Halo halo.” Sapa Yunita.

“Hai.” Jawab Kayla dan Anika, langsung memeluk Yunita.

“Apa kabar Ta? udah lama banget gue gak ketemu lo.” Ucap Kayla.

“Gue baik, lo sendiri gimana? Duh ada yang mau jadi ibu nih.” Ucap Yunita.

“Gue juga baik, haha iya Ta, gue juga gak nyangka bakal secepet ini.” Ucap Kayla.

“Gak sabar nunggu ponakan lahir.” Anika bersuara.

Kayla menepuk jidatnya “Masih lama astaga.”

“Oh iya Ta pacar lo mana?” Tanya Kayla, karena ia hanya melihat Yunita datang seorang diri.

“Ada dia nunggu di luar.” Jawab Yunita.

“Suruh masuk dong, masa nunggu di luar kasian.” Pinta Kayla.

“Dia gak mau yaudah gue iya-in aja.”

“Kay suami lo mana kok lo dateng sendiri?” Anika bertanya, karena sudah lama ia tidak melihat Kayla bersama Vano lagi.

“Ah itu, suami gue sibuk.” Jawab Kayla senyumnya seketika memudar.

Anika menatap Kayla sejenak, ia merasa Kayla sedang berbohong kepadanya, mana mungkin Vano sesibuk itu, walau bagaimanapun yang Anika tau, Vano selalu mengutamakan Kayla.

“Oh gitu, lain kali ajak juga dong suami lo biar seru kita ngumpul nya.” Ucap Anika.

“Iya siap.”

“Lo juga Anika cari pacar jangan jomblo mulu lo, masa iya nantinya lo jadi perawan tua.” Ucap Yunita menyindir, karena sampai sekarang Anika, masih tetap menyendiri tidak tahu kenapa padahal banyak laki-laki diluaran sana yang mau dengan Anika.

“Heh anjir lo kalo ngomong kaga pake bismillah dulu.”

“Emang kenyataan nya wlee.” Yunita meledek.

“Dahlah serah lo, asal kan kau bahagia.” Ucap Anika pasrah.

Kayla hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu, seolah masalah yang sedang ia hadapi hilang dari pikirannya.

Maaf

Vano langsung berjalan menuju kamar Kayla, karena ia hanya ingin Kayla menjawab apakah dia melihat dirinya dengan Kiara berpelukan atau tidak. Karena tumben sekali biasanya ketika Kayla pulang kerja, Kayla selalu menyapa atau langsung memasak untuk makan malam.

Setelah sampai tepat di depan kamar Kayla, Vano ragu tetapi ia juga penasaran dengan jawaban Kayla.

Tok Tok

Vano mengetuk pintu kamar Kayla, ketukan pertama tidak ada respon lalu Vano kembali mengetuk dan sama tidak ada jawaban.

Vano memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Kayla, karena kebetulan pintu nya tidak di kunci.

“Kay gue masuk ya.” Ucap Vano, berjalan memasuki kamar Kayla.

Ketika Vano masuk, ia melihat Kayla sedang tertidur pulas tetapi masih mengenakan pakaian kantornya Vano lihat mata Kayla sembab seperti habis menangis.

Dugaan Vano benar bahwa Kayla melihat dirinya dengan Kiara sedang berpelukan. Sial benar benar sial.

Baru saja Vano mulai menerima Kayla tetapi ia langsung di hadapkan dengan masalah seperti ini. Tetapi ini semua memang salah Vano. Vano masih saja berhubungan dengan pacarnya yang matre itu.

“Lo beneran tidur?” Ucap Vano mendekat ke arah Kayla.

“Mata lo sembab lo habis nangis ya? Lo juga gak biasanya tidur pake baju kantor, sebenernya lo kenapa sih?” Sambungnya lagi.

Vano mengusap pelan rambut Kayla, mengecup keningnya “Good night istriku, tidur yang nyenyak ya maafin aku.”

Vano langsung keluar dari kamar Kayla karena takut mengganggu.

Setelah Vano pergi dari kamarnya, Kayla membuka matanya pelan lalu tersenyum ia senang karena baru pertama kalinya Vano mengecup keningnya.

“Vano kamu itu ngeselin, tapi aku sayang.” Ucapnya.

“Tapi maaf aku gak bisa jawab pertanyaan kamu, itu terlalu sakit bagi aku Van.” Sambungnya lagi.