syhiraalifia

Kayla, kamu dimana? Aku rindu.

Sudah hampir 1 Minggu Kayla pergi dari rumah, dan 1 Minggu juga Kayla tidak memberi kabar.

Vano memutuskan untuk mencari Kayla ke rumah bundanya, siapa tahu Kayla ada disana.

Sesampainya di rumah bundanya Kayla, Vano langsung disambut hangat oleh bundanya Kayla.

“Eh nak Vano ada apa kemari?” Tanya Yuna tersenyum ramah.

“Kayla ada disini gak Bun?” Tanya Vano.

“Kayla dari sejak kalian menikah tidak pernah lagi kemari nak, memangnya kenapa?” Jawab Yuna, karena menurut Yuna aneh saja Vano bertanya seperti itu padahal kan Kayla selalu bersama Vano setiap hari.

“Kayla pergi dari rumah Bun.” Ucap Vano pelan lalu ia menundukkan kepalanya.

“Pergi dari rumah? Sejak kapan?” Yuna kaget ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Kayla pergi dari rumah Vano, karena Kayla juga tidak memberitahunya.

“1 Minggu yang lalu, maafin Vano Bun karena gak becus jagain Kayla.” Ucap Vano lalu memegang tangan bunda Kayla.

“Kalian ada masalah apa?”

“Vano salah paham sama Kayla Bun, karena dia sering banget jalan sama mantannya.” Jawab Vano jujur.

“Aksa?” Tanya Yuna.

“Iya Bunda.”

“Kok bisa?”

“Kayla kerja di kantornya Aksa, udah Vano larang buat dia kerja tapi kata Kayla biar gak bosen aja.” Vano kembali bersuara ia memutuskan untuk bercerita kepada bunda Kayla.

“Ya Allah, bunda bener bener gak tau nak, Kayla ada dimana, coba kamu chat siapa tau Kayla jawab?” Pinta Yuna, karena biasanya ketika Kayla sedang ada masalah ia tidak mungkin kabur paling juga menenangkan diri di suatu tempat.

“Udah Bun, tapi gak di bales.” Jawab Vano.

“Yaudah kalo gitu Vano pamit ya Bun, Vano mau lanjut cari Kayla.” Sambungnya lagi lalu mencium tangan bunda Kayla.

“Hati hati nak.”

Vano sudah lelah terus mencari Kayla dan hasilnya juga nihil, harus kemana lagi Vano mencari Kayla ia ingin sekali bertemu Kayla, ia ingin meminta maaf kepada istrinya itu.

Bahkan ketika hujan mengguyur pun Vano masih tetapi mencari Kayla.

“Kayla, kamu dimana? Aku rindu.” Batinnya.

Kayla, kamu dimana? Aku rindu.

Sudah hampir 1 Minggu Kayla pergi dari rumah, dan 1 Minggu juga Kayla tidak memberi kabar.

Vano memutuskan untuk mencari Kayla ke rumah bundanya, siapa tahu Kayla ada disana.

Sesampainya di rumah bundanya Kayla, Vano langsung disambut hangat oleh bundanya Kayla.

“Eh nak Vano ada apa kemari?” Tanya Yuna tersenyum ramah.

“Kayla ada disini gak Bun?” Tanya Vano.

“Kayla dari sejak kalian menikah tidak pernah lagi kemari nak, memangnya kenapa?” Jawab Yuna, karena menurut Nita aneh saja Vano bertanya seperti itu padahal kan Kayla selalu bersama Vano setiap hari.

“Kayla pergi dari rumah Bun.” Ucap Vano pelan lalu ia menundukkan kepalanya.

“Pergi dari rumah? Sejak kapan?” Yuna kaget ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Kayla pergi dari rumah Vano, karena Kayla juga tidak memberitahunya.

“1 Minggu yang lalu, maafin Vano Bun karena gak becus jagain Kayla.” Ucap Vano lalu mencium tangan bunda Kayla.

“Kalian ada masalah apa?”

“Vano salah paham sama Kayla Bun, karena dia sering banget jalan sama mantannya.” Jawab Vano jujur.

“Aksa?” Tanya Yuna.

“Iya Bunda.”

“Kok bisa?”

“Kayla kerja di kantornya Aksa, udah Vano larang buat dia kerja tapi kata Kayla biar gak bosen aja.” Vano kembali bersuara ia memutuskan untuk bercerita kepada bunda Kayla.

“Ya Allah, bunda bener bener gak tau nak, Kayla ada dimana, coba kamu chat siapa tau Kayla jawab?” Pinta Yuna, karena biasanya ketika Kayla sedang ada masalah ia tidak mungkin kabur paling juga menenangkan diri di suatu tempat.

“Udah Bun, tapi gak di bales.” Jawab Vano.

“Yaudah kalo gitu Vano pamit ya Bun, Vano mau lanjut cari Kayla.” Sambungnya lagi lalu mencium tangan bunda Kayla.

“Hati hati nak.”

Vano sudah lelah terus mencari Kayla dan hasilnya juga nihil, harus kemana lagi Vano mencari Kayla ia ingin sekali bertemu Kayla, ia ingin meminta maaf kepada istrinya itu.

Bahkan ketika hujan mengguyur pun Vano masih tetapi mencari Kayla.

“Kayla, kamu dimana? Aku rindu.” Batinnya.

Kamu jahat.

Kayla menutup ponsel nya, lalu beranjak keluar dari kamarnya hendak menghampiri Vano. Disaat Kayla berjalan menuju kamar Vano, terlihat Vano keluar dari kamarnya terburu-buru.

Kayla langsung mencegah Vano.

“Vano tunggu, kamu mau kemana?” Tanya Kayla, tangannya menggenggam tangan Vano.

Vano menepis genggaman itu “apaan sih, bukan urusan lo.”

“Kamu gak seneng aku hamil?” Kayla menundukkan kepalanya.

“B aja sih, lagian itu juga bukan anak gue.” Jawab Vano enteng.

“Ini anak kamu Vano, bukan anak orang lain. Aku gak pernah tidur sama orang lain kecuali sama kamu suami aku, kamu kenapa sih gak pernah percaya sama aku? Udah aku jelasin berkali-kali, tapi kamu tetep gini aku harus gimana lagi?” Ucap Kayla, dirinya sudah lelah karena sudah menjelaskan beribu-ribu kali tetapi Vano masih saja tidak percaya.

“Gue gak percaya, jelas-jelas gue punya buktinya.”

“Itu bukan aku, oke emang bajunya, rambutnya sama kayak aku, tapi itu bukan aku Vano, bukan aku.”

“Mana mungkin lo ngaku.”

“Aku jujur Vano aku gak ngelakuin hal itu, aku mohon percaya sama aku.” Ucap Kayla memohon.

“Alah bohong, lo seminggu di Bali lama banget, mana ada kerja selama itu, yang ada lo malah berduaan tuh sama mantan lo itu.”

“Aku nggak berduaan sama Aksa, aku juga kan selalu ngabarin kamu, oke aku ngaku salah waktu itu pernah nggak ngabarin kamu, tapi aku ada alasannya Vano. Bukannya berduaan sama Aksa.”

“Udahlah gue udah gak mau lagi denger alesan lo yang gak berguna itu, yang jelas anak yang lo kandung itu bukan anak gue mending lo pergi dari rumah ini bawa semua barang-barang lo, kita pisah.” Final Vano lalu pergi meninggalkan Kayla.

Kayla langsung memasuki kamarnya, dan menangis tersedu-sedu. Memikirkan omongan jahat suaminya itu.

“Kamu jahat Vano, aku bakal pergi.”

“Nak, ayo kita pergi Papa kamu jahat sama Mama.” Ucap Kayla sembari mengelus perutnya.

Aku gak ngelakuin hal itu.

Setelah urusan pekerjaannya selesai, Kayla langsung bergegas pergi ke bandara, Kayla ingin menjelaskan semuanya kepada Vano. Bahwa tuduhan Vano itu tidak benar adanya.

Sesampainya di Jakarta, Kayla tidak kemana-mana lagi ia langsung pulang ke rumah menemui Vano.

“Pulang juga lo, setelah seminggu berduaan sama laki-laki lain.” Ucap Vano menatap Kayla dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Aku gak berduaan sama Aksa Vano, disana banyak kok orang lain bahkan ada pak Direktur juga.”

“Bohong, buktinya lo tidur sama laki-laki lain.”

“Aku gak tidur sama laki-laki manapun selain kamu, aku gak kayak gitu.”

“Terus kalo gak tidur kenapa lama banget disana? Bukannya ngomong cuma 3 hari doang?”

“Pak Direktur chat aku, urusan dia sama Aksa belum selesai makannya aku sama Aksa disuruh lebih lama disana. Kamu kenapa sih Vano tiba-tiba nuduh aku?” Tanya Kayla, jujur ia sangat lelah karena baru saja ia pulang sudah di hadapkan dengan amarah Vano.

“Gue gak nuduh, itu emang beneran lo kan?”

“Itu bukan aku Vano, aku gak pernah kayak gitu.” Tegas Kayla.

“Gue gak percaya, udahlah gue mau pergi jangan ganggu gue.” Final Vano, langsung pergi meninggalkan Kayla.

“Vano kenapa banyak banget ujian yang datang di rumah tangga kita, jujur aku capek.” Batin Kayla, dirinya lelah, lelah karena selalu di anggap salah oleh Vano.

Pertemuan dengan Pak Direktur

Kayla dengan Aksa sudah sampai di Bali, mereka langsung bergegas menemui Direktur yang mengajak perusahaan Aksa kerja sama.

“Kayla ini Direktur nya nunggu dimana?” Tanya Aksa.

“Di restoran Deket bandara ini Pak.” Jawab Kayla.

“Yaudah ayo.” Ajak Aksa lalu berjalan mendahului Kayla disusul oleh Kayla di belakangnya.

Sesampainya di restoran Direktur itu sudah ada dengan asistennya.

“Pak, maaf saya terlambat.” Ucap Aksa lalu duduk di sebelah Direktur itu.

“Tidak apa-apa pak Aksa, anda tidak telat. Saya juga baru sampai.” Ucap sang Direktur itu.

“Aduh maaf saya telat, saya habis dari toilet.” Ucap Kayla lalu menunduk.

“Kayla?” Panggil sang Direktur itu.

“Eh? Leon?” Kayla kaget, ternyata direktur yang mengajak perusahaan Aksa kerja sama adalah teman SMA nya dulu.

“Iya haha, kamu masih inget saya ternyata.” Leon tertawa.

“Loh kalian udah saling kenal?” Tanya Aksa dengan tatapan yang aneh.

“Iya pak, kami ini dulu teman SMA.” Jawab Leon.

“Oh begitu.” Jawab Aksa pelan.

“Yasudah mari kita lanjutkan meeting nya.” Ajak Aksa.

“Kayla, masih tetep cantik dari dulu gak berubah.” Batin Leon tersenyum manis ke arah Kayla.

Maafin aku, sayang.

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Vano melihat Kayla sedang melamun ntah memikirkan apa.

Vano berjalan menghampiri Kayla “sayang hei, kok ngelamun? Mikirin apa hm?”

“Eh anu nggak kok.” Jawab Kayla, lalu membenarkan posisinya bersandar di dekat Vano.

“Kamu gak jadi ke Bali?” Tanya Vano sedikit khawatir.

“Nggak, aku udah bilang sama Aksa terus sama Pak direktur yang di Bali mereka izinin.” Jawab Kayla.

“Kamu masak apa? Kelihatannya enak.” Sambungnya lagi.

“Aku masak nasi goreng, aku gak tau makanan kesukaan kamu apa jadi aku masak nasi goreng aja. Gak apa-apa kan sayang? Maaf ya.” Ucap Vano, lalu kepalanya menunduk.

“Gak apa-apa Vano, kita kan belum kenal lama jadi otomatis gak tau makanan kesukaan masing-masing.” Kayla menepuk pundak Vano.

“Iya, mulai sekarang kita harus saling terbuka ya, terbuka dalam hal apapun itu pokoknya jangan ada rahasia rahasian diantara kita berdua ya sayang?” Ucap Vano, lalu beralih mengambil piring dan menyuapi Kayla.

“Iya Vano.” Jawab Kayla tersenyum.

“Aku suapin ya?” Ucap Vano.

Kayla mengangguk.

“Ummmm enak banget.” Puji Kayla.

“Haha siapa dulu dong yang masak nya.” Ucap Vano kegirangan.

“Pede banget.”

“Yaudah sekarang makannya udah habis, kamu istirahat ya? Kamu kurang tidur semalem.” Ucap Vano, lalu menidurkan Kayla, mengusap rambutnya Vano memperlakukan Kayla seperti anak kecil.

“Kamu gak ke kantor?” Tanya Kayla, karena hari sudah semakin siang sedangkan Vano masih memakai baju tidurnya.

“Nggak, aku juga izin tiga hari pengen sama kamu soalnya.” Jawab Vano.

“Maafin aku ya, sayang.” Ucap Vano.

“Minta maaf kenapa Vano? Kamu gak buat salah kok.” Tanya Kayla.

“Aku minta maaf karena semalem.” Ucap Vano jujur.

“Astaga iya gak apa-apa Vano, wajar aja aku juga gak kenapa-napa cuma badanku sakit semua.” Ucap Kayla.

“Nanti malem mau lagi gak?” Ajak Vano, sembari menatap Kayla dengan tatapan yang agak menyeramkan.

“Aduh nggak deh, bisa-bisa aku gak ke kantor sebulan.” Ucap Kayla.

“Haha gak apa-apa kali.” Vano tertawa.

“Nggak mau, Vano nyeremin.” Ucap Kayla lalu menarik selimutnya.

Maafin aku, sayang.

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Vano melihat Kayla sedang melamun ntah memikirkan apa.

Vano berjalan menghampiri Kayla “sayang hei, kok ngelamun? Ngelamunin apa hm?”

“Eh anu nggak kok.” Jawab Kayla lalu membenarkan posisi nya, bersandar di dekat Vano.

“Kamu hari ini gak jadi ke Bali?” Tanya Vano sedikit khawatir.

“Nggak, aku udah bilang kok ke Aksa sama ke Pak direktur nya mereka udah izinin.” Jawab Kayla.

“Kamu masak apa? Kelihatannya enak.” Sambungnya lagi.

“Nasi goreng, aku gak tau makanan kesukaan kamu jadi aku masak nasi goreng aja. Gak apa-apa kan? Maaf ya.” Ucap Vano lalu kepalanya menunduk.

“Gak apa-apa Vano, wajar aja kita kan belum kenal lama.” Kayla menepuk pundak Vano.

“Nanti kita harus mulai terbuka ya sayang, terbuka soal apa aja pokoknya jangan ada rahasia diantara kita.” Ucap Vano, lalu meraih piring yang terletak di meja.

“Aku suapin ya?”

Kayla mengangguk.

“Ummmm enak banget, suamiku pinter masak ternyata.” Puji Kayla, lalu gantian menyuapi Vano.

“Maafin aku, sayang.” Ucap Vano tiba-tiba.

“Kenapa? Kok minta maaf kamu gak ada salah apapun sama aku.”

“Maaf karena semalem, aku buat kamu jadi gini.” Ucap Vano jujur.

“Astaga, iya udah gak apa-apa ih jangan nyalahin diri kamu sendiri terus.”

“Nanti malem mau lagi?” Vano menatap Kayla dengan tatapan yang agak mengerikan.

“Gak, gak, cukup. Bisa-bisa aku gak ke kantor sebulan.”

“Haha, yaudah kamu tidur aja istirahat yang cukup ya sayang. Kamu gak boleh sakit aku gak mau liat kamu sakit.” Ucap Vano, sembari mengusap rambut Kayla.

“Kamu gak ke kantor?” Tanya Kayla, karena hari sudah semakin siang sedangkan Vano masih memakai baju tidurnya.

“Aku mau sama kamu, aku juga cuti 3 hari.” Jawab Vano.

“Astaga dasar.” Kayla tertawa.

Quality Time

Setelah mandi, Kayla langsung menuju dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Vano. Hari ini Kayla memasak sup iga kesukaan Vano.

“Vano pasti suka.” Gumamnya.

“Sayang, kamu dimana?” Teriak Vano.

“Aku di dapur, lagi masak.” Jawab Kayla.

Vano langsung menghampiri Kayla, lalu memeluk Kayla dari belakang. Kayla kaget tetapi Kayla tidak memberontak, Kayla hanya tersenyum.

“Masak apa sayang?” Tanya Vano, masih dengan posisi memeluk Kayla.

“Sup iga kesukaan kamu.” Jawab Kayla.

“Udah mateng nih, lepas dulu ya peluknya? Nanti sup nya tumpah kalo kamu terus-terusan meluk aku.” Pinta Kayla, sambil mematikan kompor.

Lalu Vano melepaskan pelukannya.

“Yah, baru sebentar peluknya.” Vano merengek seperti anak kecil.

“Iya nanti dilanjut lagi ya.” Ucap Kayla, lalu memindahkan sup nya ke meja.

“Beneran? Awas aja kalo boong, soalnya kamu suka gitu.”

“Iya sayang iya.” Jawab Kayla.

“Ayo sarapan dulu, nanti keburu dingin nih sup nya.” Sambungnya lagi.

“Okay sayang.”

Vano langsung beralih duduk di meja makan, lalu mulai menyantap masakan Kayla.

“Wah sayang, ini sup nya bener-bener enak banget.” Puji Vano mengacungkan jempol.

“Haha makasih Vano.” Ucap Kayla.

Setelah sarapan, Kayla duduk santai di ruang tamu sambil menonton tv, lalu Vano menghampirinya dan langsung memeluk Kayla.

“Astaga Vano.” Kayla menepuk jidatnya.

“Kan kata kamu nanti di lanjut lagi, berarti sekarang yaa?” Ucap Vano makin mengeratkan pelukannya.

“Yaudah iya.” Jawab Kayla pasrah.

Hampir 20 menit Vano memeluk Kayla, lalu Vano melepaskan pelukannya.

“Eh sayang ayo kita nyiram tanaman.” Ajak Vano.

“Tiba-tiba?”

“Kan waktu itu kamu pernah bilang, pengen banget nyiram tanaman sama aku kalo kita sama-sama libur kerja.” Ucap Vano lalu menarik tangan Kayla.

“Ayo sayang, nanti habis nyiram kita jogging.” Sambungnya lagi.

“Iya iya ayo.”

“Kamu masih inget ternyata Van.” Batin Kayla lalu berjalan mengikuti Vano.

Morning Kiss

Hari sudah pagi, Kayla dengan Vano tertidur pulas semalam. Dan ini adalah hari libur Kayla memutuskan untuk quality time bersama Vano, karena selama ini Kayla tidak pernah quality time dengan Vano.

Kayla bangun lebih dulu dari Vano, karena bunyi alarm hp nya daritadi terus berbunyi.

Kayla bersandar disebelah Vano mengumpulkan nyawanya, Vano masih tertidur Kayla tidak tega membangunkannya.

Tetapi karena hari sudah mulai siang Kayla memutuskan untuk membangunkan Vano.

“Vano bangun yuk, udah siang.” Ucap Kayla memegang tangan Vano.

Vano mulai membuka perlahan matanya, lalu bersandar di samping Kayla.

CUP

Kayla secara tiba-tiba mencium pipi Vano.

“Morning kiss buat kamu.” Ucap Kayla tersenyum, lalu mulai beranjak dari tempat tidur.

Vano tidak diam saja, ia menarik tangan Kayla, lalu mencium pipi nya.

Ini adalah ciuman pertama yang Kayla dapatkan selama menikah dengan Vano, Vano selama ini tidak pernah sedikitpun menyentuhnya, bahkan mencium pun tidak pernah sama sekali.

“Morning kiss juga buat kamu.” Ucap Vano.

Kayla tidak memberikan respon apapun, Kayla hanya tersenyum.

“Sayang ayo.” Ajak Vano menepuk-nepuk kasur, sambil tersenyum menggoda.

“Gak mau, kaboorrr.” Kayla berlari menuju dapur, karena takut melihat senyuman Vano yang mengerikan itu baginya.

“Sayang kok kabur?” Vano beranjak dari tempat tidur, dan mengejar Kayla.

Morning Kiss

Hari sudah pagi, Kayla dengan Vano tertidur pulas semalam. Dan ini adalah hari libur Kayla memutuskan untuk quality time bersama Vano, karena selama ini Kayla tidak pernah quality time dengan Vano.

Kayla bangun lebih dulu dari Vano, karena bunyi alarm hp nya dari tadi terus berbunyi.

Kayla bersandar disebelah Vano mengumpulkan nyawanya, Vano masih tertidur Kayla tidak tega membangunkannya.

Tetapi karena hari sudah mulai siang Kayla memutuskan untuk membangunkan Vano.

“Vano bangun yuk, udah siang.” Ucap Kayla memegang tangan Vano.

Vano mulai membuka perlahan matanya, lalu bersandar di samping Kayla.

CUP

Kayla secara tiba-tiba mencium pipi Vano.

“Morning kiss buat kamu.” Ucap Kayla tersenyum, lalu mulai beranjak dari tempat tidur.

Vano tidak diam saja, ia menarik tangan Kayla, lalu mencium pipi nya.

Ini adalah ciuman pertama yang Kayla dapatkan selama menikah dengan Vano, Vano selama ini tidak pernah sedikitpun menyentuhnya, bahkan mencium pun tidak pernah sama sekali.

“Morning kiss juga buat kamu.” Ucap Vano.

Kayla tidak memberikan respon apapun, Kayla hanya tersenyum.

“Sayang ayo.” Ajak Vano menepuk-nepuk kasur, sambil tersenyum menggoda.

“Gak mau, kaboorrr.” Kayla berlari menuju dapur, karena takut melihat senyuman Vano yang mengerikan itu baginya.

“Sayang kok kabur?” Vano beranjak dari tempat tidur, dan mengejar Kayla.