syhiraalifia

Tendangan pertama.

“Mas bangun mas.” panggil Kayla mengguncangkan tubuh Vano.

Vano masih saja tertidur pulas.

“Mas ih bangun, udah siang.”

“Eungggg.” Vano menggeliat lalu membuka matanya pelan “kenapa sayang?” Tanyanya.

“Tadi Mamah chat aku, katanya mamah abis dari sini nganterin makanan tapi kitanya masih tidur jadi Mamah pulang lagi deh, eh tapi tau gak mas tadi Mamah kirim foto kita pas lagi tidur terus Mamah nanya abis ngelakuin apa, ya aku jawab nggak abis ngelakuin apa-apa emang bener kan.” Ucap Kayla.

“Kamu sih pake acara gak pake baju, malu tau sama Mamah.” Sambungnya.

“Loh kenapa malu, gak apa-apa kali kan kita suami istri.” Jawab Vano.

“Ya iya aku tau.”

Tak berapa lama disaat Kayla hendak beranjak dari tempat tidurnya, perutnya tiba-tiba terasa sakit.

“Aw.” Ucapnya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

“Kenapa sayang?” Ucap Vano panik lalu membantu Kayla untuk duduk kembali diatas tempat tidur.

“Perut aku sakit, kayaknya dedek bayinya nendang.”

Vano tersenyum lebar, sorot matanya terlihat bahagia, lalu tangan Vano beralih mengelus perut Kayla.

“Anak Papa, tau gak Papa hari ini seneng banget karena kamu udah mulai aktif di dalam perut Mama, tapi jangan terlalu kenceng dong nendangnya kasian Mama nanti kalo kamu udah lahir, kamu tendang aja papa atau kita langsung main sepak bola aja gimana???”

“Haha dedek bayinya gak bisa langsung main sepak bola juga kali mas kamu ini ada-ada aja.”

“Ya kan aku gak sabar sayang, eh tapi anak kita laki-laki atau perempuan ya sayang?”

“Aku gak tau mas, aku belum USG lagi, kamu pengen anak kita laki-laki atau perempuan mas?”

“Mau perempuan atau laki-laki yang penting kamu sama dedek bayinya sehat, selamat, itu yang paling utama.”

“Aaa aku terharu, makasih ya mas udah selalu ada buat aku, udah selalu nurutin ngidam aku meskipun aku tau kamu pasti kesel karena aku mintanya yang aneh-aneh sekali lagi makasih ya mas. I love you.” Ucap Kayla sembari memeluk Vano.

Vano membalas pelukan Kayla, memeluknya erat sambil sesekali mencium kening Kayla “Kamu gak perlu bilang makasih sayang, itu semua udah jadi kewajiban aku, aku emang sempet kesel kamu ngidamnya aneh tapi aku tau ibu hamil emang kayak gitu sedikit demi sedikit aku jadi paham, i love you more sayang.”

Tendangan pertama.

“Mas bangun mas.” Ucap Kayla, tetapi Vano masih saja tertidur.

“Mas ih bangun, udah siang.”

“Eungggg.” Vano menggeliat lalu membuka matanya pelan “kenapa sayang?” Tanyanya.

“Tadi Mamah chat aku, katanya mamah abis dari sini nganterin makanan tapi kitanya masih tidur jadi Mamah pulang lagi deh, eh tapi tau gak mas tadi Mamah kirim foto kita pas lagi tidur terus Mamah nanya abis ngelakuin apa, ya aku jawab nggak abis ngelakuin apa-apa emang bener kan.” Ucap Kayla.

“Kamu sih pake acara gak pake baju, malu tau sama Mamah.” Sambungnya.

“Loh kenapa malu, gak apa-apa kali kan kita suami istri.” Jawab Vano.

“Ya iya aku tau.”

Tak berapa lama disaat Kayla hendak beranjak dari tempat tidurnya, perutnya tiba-tiba terasa sakit.

“Aw.” Ucapnya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

“Kenapa sayang?” Ucap Vano panik lalu membantu Kayla untuk duduk kembali diatas tempat tidur.

“Perut aku sakit, kayaknya dedek bayinya nendang.”

Vano tersenyum lebar, sorot matanya terlihat bahagia, lalu tangan Vano beralih mengelus perut Kayla.

“Anak Papa, tau gak Papa hari ini seneng banget karena kamu udah mulai aktif di dalam perut Mama, tapi jangan terlalu kenceng dong nendangnya kasian Mama nanti kalo kamu udah lahir, kamu tendang aja papa atau kita langsung main sepak bola aja gimana???”

“Haha dedek bayinya gak bisa langsung main sepak bola juga kali mas kamu ini ada-ada aja.”

“Ya kan aku gak sabar sayang, eh tapi anak kita laki-laki atau perempuan ya sayang?”

“Aku gak tau mas, aku belum USG lagi, kamu pengen anak kita laki-laki atau perempuan mas?”

“Mau perempuan atau laki-laki yang penting kamu sama dedek bayinya sehat, selamat itu yang paling utama.”

“Aaa aku terharu.” Ucap Kayla sembari memeluk Vano.

Kantor dan makan siang.

Kayla sedang dalam perjalanan menuju kantor Vano, ia menaiki taksi online yang ia pesan sebelumnya.

Kayla berniat untuk memberikan suprise kepada Vano, dengan cara membawakan makan siang dan datang ke kantor Vano.

“Nak, kita ke kantor Papa ya.” Ucap Kayla sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Sesampainya di kantor Vano, Kayla bertanya terlebih dahulu kepada staff.

“Eh Bu Kayla, apa kabar Bu? Wah kandungannya sudah semakin besar, sudah berapa bulan Bu?” Sapa staff itu.

“Saya baik, kandungan saya baru 3 bulan Rida, tidak begitu besar hehe. Apakah Pak Revano ada di kantor?” Tanya Kayla ramah.

“Pak Revano ada di ruangannya Bu.” Jawab staff.

“Oh baik, terima kasih Rida.”

“Sama-sama Bu.”

Kayla langsung berjalan menuju lift kantor untuk bisa sampai ke ruangan Vano.

Vano sedang berbicara dengan Silvia sekretaris nya, mengenai proyek yang sedang berjalan sekarang ini.

Silvia melihat dasi Vano berantakan, lalu Silvia beranjak dari tempat duduknya hendak membenarkan dasi Vano.

“Pak maaf, dasi bapa berantakan saya rapihkan ya Pak.” Ucap Silvia yang hanya di balas anggukan oleh Vano.

Silvia merapikan dasi Vano dengan sangat hati-hati, Vano hanya diam sambil melihat-lihat berkas.

Disaat Silvia sedang merapihkan dasi Vano, Kayla datang ia shock tetapi Vano dengan Silvia tidak menyadarinya.

BRAK!

Kayla menjatuhkan paper bag yang berisi bekal makan siang untuk Vano.

“Mas.”

Vano dan Silvia kaget untung lah Silvia telah selesai merapihkan dasi Vano, Silvia langsung pamit keluar dari ruangan Vano karena merasa tidak enak.

“Pak pembicaraan kita sudah selesai, karena tidak ada lagi yang perlu di bicarakan saya permisi ke ruangan saya ya Pak.” Pamit Silvia lalu menundukkan kepalanya.

“Ya baik.” Jawab Vano.

Silvia berjalan ke arah Kayla, tersenyum ramah “Bu, permisi.” Ucapnya.

Kayla tak menggubris.

“Sayang kok kamu bisa ada disini?” Tanya Vano sambil memegang pundak Kayla.

Kayla langsung menepis “Jangan sentuh aku mas.”

“Kenapa sayang?”

“Kamu selingkuh kan sama sekretaris kamu itu hah?!” Ucap Kayla suaranya meninggi, terdengar juga sampai ke luar ruangan vano.

Karyawan yang lainnya berhamburan menghampiri ruangan Vano, disaat hendak sampai di ruangan Vano untunglah ada security yang membubarkan, jadi tidak ada yang melihat pertengkaran Kayla dengan Vano.

“Selingkuh apa sayang? Aku gak selingkuh.” Tanya Vano bingung, ya memang benar sih Vano tidak mungkin berani berselingkuh dibelakang Kayla.

“Tadi itu buktinya apa? Sekretaris kamu itu sentuh-sentuh kamu mana sambil senyam-senyum, kamunya juga diem aja.”

“Sayang, tadi sekretaris aku cuma mau benerin dasi aku doang, bukannya selingkuh.”

“Udahlah, capek.” Ucap Kayla lalu pergi meninggalkan ruangan Vano.

“Sayang tunggu.” Teriak Vano, Kayla tidak menggubris dan tetap melanjutkan langkahnya menuju lift.

Ngidam.

Melihat Vano tertidur di kursi, akhirnya Kayla juga ikut merebahkan tubuhnya di kursi sebelah Vano karena ia sangat malas untuk naik ke kamar.

3 jam berlalu, Vano terbangun ia melihat istrinya itu sedang tertidur pulas tetapi tubuhnya kedinginan. Vano langsung berdiri dan menggendong Kayla, memindahkannya ke kamar mereka.

Setelah sampai di kamar, Vano merebahkan tubuh Kayla, tidak lupa menyelimuti nya.

Sekarang pukul 12 malam, masih lama menuju pagi, Vano memutuskan untuk tidur kembali.


Pukul 2 dini hari, Kayla terbangun, perutnya sedari tadi berbunyi, ia lapar dan memutuskan untuk membangunkan Vano.

“Mas bangun ih.” Panggil Kayla sambil menggoyangkan tubuh Vano.

“Hm, kenapa sayang?” Jawab Vano setengah sadar.

“Aku pengen ayam bakar mas, cepetan ih bangun aku laper.” Ucap Kayla.

“Sekarang jam berapa?” Tanya Vano.

“Jam 2 subuh mas.”

“Ya Allah sayang, mana ada tukang ayam bakar jam segini. Kamu ada-ada aja ah udah tidur-tidur.”

Kayla merengek “Gak mau mas, mau ayam bakar, cepetan mas bangun ih.”

“Aku ngantuk, mau tidur.” Ucap Vano menarik selimutnya.

“Mas bangun.”

Tak berapa lama, Vano mendengar suara tangisan, Vano terbangun lalu melihat istrinya sedang menangis.

Vano mengusap rambut Kayla “Ya Allah, kamu kenapa sayang?”

“Mau ayam bakar huhu.” Jawab Kayla.

Vano menghembus napas kasar “Yaudah iya aku beliin ya, udah jangan nangis lagi kamu tunggu disini.”

Kayla tersenyum “Beneran mas? Aaaa makasih mas.”

Cup.

Kayla mencium pipi Vano.

“Iya, yaudah aku pergi dulu kunci rumah aku bawa ya.” Ucap Vano lalu beranjak dari tempat tidurnya.

“Okayy.”

Saat ini keluarga Vano dan Bunda Kayla sedang berkumpul di ruang rawat Kayla, mereka baru saja sampai.

“Kayla sayang, kamu kenapa nak?” Tanya Nita langsung memeluk Kayla.

“Hehe Mama, aku kecapean aja kok.” Jawab Kayla cengengesan.

“Bohong Mah, dia kerja terlalu capek, udah aku bilangin juga gak denger.” Celetuk Vano.

“Apaan sih mas diem!” Ucap Kayla dengan sorot mata tajam.

“Mas?” Tanya Nita.

“Iya Mah, aku panggil Vano mas, belum lama sih baru-baru ini. Iseng aja awalnya aku panggil mas eh jadi keterusan, terus Vano juga salting tuh di panggil mas.” Jawab Kayla, alisnya terangkat ke atas sambil menatap Vano.

“Dih dih, siapa yang salting? Orang b aja kok.” Ucap Vano.

“Terus kata dokter gimana?” Tanya Yuna.

“Kata dokter Kayla nge-flek Bun, tapi gak apa-apa kok kalian jangan khawatir. Kayla cuma diharuskan istirahat total agar kandungannya kembali normal.” Ucap Vano, lalu duduk di samping ranjang rumah sakit Kayla.

“Alhamdulillah syukurlah kalo begitu.” Ucap Yuna mengembuskan napas lega.

“Kayla inget ya kamu gak boleh kerja terlalu keras, inget ada nyawa yang harus kamu jaga di dalam perut kamu.” Sambung Yuna.

“Iya Bunda.”

Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak pendarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Namun, tidak semua pendarahan selalu menandakan masalah kesehatan yang serius. Beberapa pendarahan ringan seperti bercak-bercak kecil masih dianggap normal selama kehamilan. Jadi bapa tidak perlu panik. Tetapi ibu Kayla harus beristirahat total, tidak boleh bekerja yang berat-berat, jangan berhubungan intim untuk sementara waktu sampai kandungannya kembali normal, dan selalu perhatikan warna darah jika ada darah yang keluar.” Ucap dokter itu.

“Tidak boleh berhubungan intim dok?” Tanya Vano.

“Iya pak demi menghindari terjadinya pendarahan seperti ini lagi.”

“Baik, terima kasih dok, apakah istri saya sudah bisa di jenguk?”

“Sudah pak silahkan.”

Vano membuka pintu ruangan Kayla pelan, Kayla sedang tertidur tetapi ketika Vano melangkahkan kakinya masuk Kayla langsung bangun.

“Mas.” Ucap Kayla lemas.

“Sayang, kamu baik-baik aja kan?”

“Iya aku gak apa-apa, apa kata dokter tadi?”

“Kamu flek, tapi gak apa-apa kok kamu gak perlu khawatir, tapi aku sedih.” Ucap Vano kepalanya menunduk.

“Loh kenapa? Kok sedih?” Ucap Kayla sembari mengusap rambut Vano.

“Untuk sementara waktu ini kita gak boleh berhubungan intim sampai kandungan kamu bener-bener stabil.”

Kayla tertawa “Haha dasar mesum.”

“Dih, wajar lah sayang kan kita suami istri.” Ucap Vano.

“Iya, kamu yang sabar ya hahaha.”

“Eh Aksa mana?” Tanya Kayla.

“Dia udah balik lagi ke kantor.”

Kayla ber-oh pelan.

“Sayang kamu itu gak boleh kecapean kenapa sih udah aku ingetin juga, jadinya kan gini.”

“Iya maaf mas, aku cuma mau nyelesaiin pekerjaan aku yang udah lama tertinggal.”

“Tapi kamu gak perlu maksain juga sayang.”

“Iya maaf.”

“Aku kasih tau Mama sama Bunda dulu ya kalo kamu di rawat.” Ucap Vano sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.

Kayla menahan tangan Vano “Eh jangan.”

“Udah gak apa-apa sayang, mereka juga kan perlu tau.”

“Yaudah deh iya.”

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak pendarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Namun, tidak semua pendarahan selalu menandakan masalah kesehatan yang serius. Beberapa pendarahan ringan seperti bercak-bercak kecil masih dianggap normal selama kehamilan. Jadi bapa tidak perlu panik. Tetapi ibu Kayla harus beristirahat total, tidak boleh bekerja yang berat-berat, jangan berhubungan intim untuk sementara waktu sampai kandungannya kembali normal, dan selalu perhatikan warna darah jika ada darah yang keluar.” Ucap dokter itu.

“Tidak boleh berhubungan intim dok?” Tanya Vano.

“Iya pak demi menghindari terjadinya pendarahan seperti ini lagi.”

“Baik, terima kasih dok, apakah istri saya sudah bisa di jenguk?”

“Sudah pak silahkan.”

Vano membuka pintu ruangan Kayla pelan, Kayla sedang tertidur tetapi ketika Vano melangkahkan kakinya masuk Kayla langsung bangun.

“Mas.” Ucap Kayla lemas.

“Sayang, kamu baik-baik aja kan?”

“Iya aku gak apa-apa, apa kata dokter tadi?”

“Kamu flek, tapi gak apa-apa kok kamu gak perlu khawatir, tapi aku sedih.” Ucap Vano kepalanya menunduk.

“Loh kenapa? Kok sedih?” Ucap Kayla sembari mengusap rambut Vano.

“Untuk sementara waktu ini kita gak boleh berhubungan intim sampai kandungan kamu bener-bener stabil.”

Kayla tertawa “Haha dasar mesum.”

“Dih, wajar lah sayang kan kita suami istri.” Ucap Vano.

“Iya, kamu yang sabar ya hahaha.”

“Eh Aksa mana?” Tanya Kayla.

“Dia udah balik lagi ke kantor.”

Kayla ber-oh pelan.

“Sayang kamu itu gak boleh kecapean kenapa sih udah aku ingetin juga, jadinya kan gini.”

“Iya maaf mas, aku cuma mau nyelesaiin pekerjaan aku yang udah lama tertinggal.”

“Tapi kamu gak perlu maksain juga sayang.”

“Iya maaf.”

“Aku kasih tau Mama sama Bunda dulu ya kalo kamu di rawat.” Ucap Vano sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.

Kayla menahan tangan Vano “Eh jangan.”

“Udah gak apa-apa sayang, mereka juga kan perlu tau.”

“Yaudah deh iya.”

Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak perdarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak pendarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Namun, tidak semua pendarahan selalu menandakan masalah kesehatan yang serius. Beberapa pendarahan ringan seperti bercak-bercak kecil masih dianggap normal selama kehamilan. Jadi bapa tidak perlu panik. Tetapi ibu Kayla harus beristirahat total, tidak boleh bekerja yang berat-berat, jangan berhubungan intim untuk sementara waktu sampai kandungannya kembali normal, dan selalu perhatikan warna darah jika ada darah yang keluar.” Ucap dokter itu.

“Tidak boleh berhubungan intim dok?” Tanya Vano.

“Iya pak demi menghindari terjadinya pendarahan seperti ini lagi.”

“Baik, terima kasih dok, apakah istri saya sudah bisa di jenguk?”

“Sudah pak silahkan.”

Vano membuka pintu ruangan Kayla pelan, Kayla sedang tertidur tetapi ketika Vano melangkahkan kakinya masuk Kayla langsung bangun.

“Mas.” Ucap Kayla lemas.

“Sayang, kamu baik-baik aja kan?”

“Iya aku gak apa-apa, apa kata dokter tadi?”

“Kamu flek, tapi gak apa-apa kok kamu gak perlu khawatir, tapi aku sedih.” Ucap Vano kepalanya menunduk.

“Loh kenapa? Kok sedih?” Ucap Kayla sembari mengusap rambut Vano.

“Untuk sementara waktu ini kita gak boleh berhubungan intim sampai kandungan kamu bener-bener stabil.”

Kayla tertawa “Haha dasar mesum.”

“Dih, wajar lah sayang kan kita suami istri.” Ucap Vano.

“Iya, kamu yang sabar ya hahaha.”

“Eh Aksa mana?” Tanya Kayla.

“Dia udah balik lagi ke kantor.”

Kayla ber-oh pelan.

“Sayang kamu itu gak boleh kecapean kenapa sih udah aku ingetin juga, jadinya kan gini.”

“Iya maaf mas, aku cuma mau nyelesaiin pekerjaan aku yang udah lama tertinggal.”

“Tapi kamu gak perlu maksain juga sayang.”

“Iya maaf.”

“Aku kasih tau Mama sama bunda dulu ya kalo kamu di rawat.” Ucap Vano sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.

Kayla menahan tangan Vano “Eh jangan.”

“Udah gak apa-apa sayang, mereka juga kan perlu tau.”

“Yaudah deh iya.”

Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak perdarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak pendarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Namun, tidak semua pendarahan selalu menandakan masalah kesehatan yang serius. Beberapa pendarahan ringan seperti bercak-bercak kecil masih dianggap normal selama kehamilan. Jadi bapa tidak perlu panik. Tetapi ibu Kayla harus beristirahat total, tidak boleh bekerja yang berat-berat, jangan berhubungan intim untuk sementara waktu sampai kandungannya kembali normal, dan selalu perhatikan warna darah jika ada darah yang keluar.” Ucap dokter itu.

“Tidak boleh berhubungan intim dok?” Tanya Vano.

“Iya pak demi menghindari terjadinya pendarahan seperti ini lagi.”

“Baik, terima kasih dok, apakah istri saya sudah bisa di jenguk?”

“Sudah pak silahkan.”

Vano membuka pintu ruangan Kayla pelan, Kayla sedang tertidur tetapi ketika Vano melangkahkan kakinya masuk Kayla langsung bangun.

“Mas.” Ucap Kayla lemas.

“Sayang, kamu baik-baik aja kan?”

“Iya aku gak apa-apa, apa kata dokter tadi?”

“Kamu flek, tapi gak apa-apa kok kamu gak perlu khawatir, tapi aku sedih.” Ucap Vano kepalanya menunduk.

“Loh kenapa? Kok sedih?” Ucap Kayla sembari mengusap rambut Vano.

“Untuk sementara waktu ini kita gak boleh berhubungan intim sampai kandungan kamu bener-bener stabil.”

Kayla tertawa “Haha dasar mesum.”

“Dih, wajar lah sayang kan kita suami istri.” Ucap Vano.

“Iya, kamu yang sabar ya hahaha.”

“Eh Aksa mana?” Tanya Kayla.

“Dia udah balik lagi ke kantor.”

Kayla ber-oh pelan.

“Sayang kamu itu gak boleh kecapean kenapa sih udah aku ingetin juga, jadinya kan gini.”

“Iya maaf mas, aku cuma mau nyelesaiin pekerjaan aku yang udah lama tertinggal.”

“Tapi kamu gak perlu maksain juga sayang.”

“Iya maaf.”

“Aku kasih tau Mama sama bunda dulu ya kalo kamu di rawat.” Ucap Vano sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.

Kayla menahan tangan Vano “Eh jangan.”

“Udah gak apa-apa sayang, mereka juga kan perlu tau.”

“Yaudah deh iya.”

Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak perdarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Rumah Sakit.

Setelah melihat notifikasi chat dari Kayla, Vano langsung berlari kencang menuju parkiran mobil, ia cemas karena takut terjadi yang tidak-tidak dengan Kayla.

Padahal dirinya tadi sudah memperingatkan Kayla agar tidak bekerja terlalu keras.

Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke rumah sakit, dari kantor tempat Vano bekerja. Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari bahkan sampai menabrak brankar rumah sakit.

Setibanya di administrasi, Vano menanyakan kepada petugas rumah sakit apakah istirnya itu benar ada disini ataukah di rumah sakit lain.

“Permisi maaf saya ingin bertanya, apakah ada pasien yang bernama Kayla Shaqeena?” Ucap Vano ngos-ngosan.

“Oh ada Pak, pasien di rawat di ruangan mawar nomor 96.” Ucap petugas rumah sakit itu.

“Baik terima kasih.” Ucap Vano, lalu pergi meninggalkan petugas itu.

Sesampainya di ruang mawar, Vano melihat Aksa yang sedang duduk di depan ruangan itu, kepalanya menunduk.

Vano berjalan menghampiri Aksa “Gimana Kayla?”

“Masih di tangani sama dokter.” Jawab Aksa.

“INI SEMUA GARA-GARA LO.” Ucap Vano tangannya menarik kerah kemeja kerja Aksa.

“Kayla begini pasti dia kerja terlalu berat, dan ini gara-gara lo.” Lanjutnya lagi.

“Gua tau gua salah, gua minta maaf karena udah buat istri lo begini, gua juga udah ingetin Kayla tadi, tapi dia tetep keras kepala, katanya dia mau selesaiin pekerjaan nya yang udah lama tertinggal.”

“Ya lo bisa suruh orang lain.”

Disaat perseteruan antara Vano dengan Aksa, pintu ruangan terbuka. Menampakkan sesosok dokter yang memeriksa Kayla.

“Apakah bapak-bapak ini keluarga ibu Kayla?” Tanya dokter.

“Saya suaminya dok.” Ucap Vano sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Oh baik, bapa boleh ikut saya ke ruangan saya.”

Sesampainya di ruangan dokter, dokter itu memulai percakapan.

“Baik pak jadi begini, ibu Kayla pendarahan bisa disebut juga flek, Flek saat hamil adalah bercak perdarahan ringan yang keluar dari vagina. Kondisi ini bisa terjadi selama masa kehamilan, terutama trimester pertama. Sekitar 20 persen wanita mengalami perdarahan di 12 minggu pertama kehamilannya. Jadi bapak tidak perlu khawatir, tetapi agar kejadian ini tidak terulang lagi dianjurkan kepada ibu Kayla untuk beristirahat total, tidak boleh terlalu lelah,