Haqnbyul

Sudah 15 menit Hakam mengendarai Angel, motor matic hitam kesayangannya menerobos kemacetan ibu kota dengan Elga yang duduk di belakang Hakam, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.

“Gua bukan ojek, El. Pegangannya yang bener,” ucap Hakam saat mendapati Elga menarik ujung pakaiannya.

Hakam kemudian membawa kedua tangan Elga ke depan, membuat gadis itu memeluk pria itu seperti sekarang.

Ia mencoba menenangkan dirinya, begitupun pria di depan sana. Katakanlah keduanya memang sering pergi bersama, namun status sebagai pasangan kekasih membuat hari ini benar-benar berbeda.


Keduanya tiba di tempat yang dituju, sebuah tempat ramai dengan lampion yang menggantung di sepanjang jalan. Kedai makanan yang berjejer, juga musisi jalanan turut meramaikan tempat itu.

“Lo lagi pengen makan apa gitu nggak, El?”

“Apa ya kak? Bingung, banyak banget pilihannya.”

“Kita liat-liat aja dulu kali, ya! Nanti kalau ada yang lo suka baru kita beli.”

Elga setuju. Keduanya kini berjalan berdampingan, melihat satu persatu kedai yang mereka lewati.

Setelah cukup lama, keduanya memutuskan untuk membeli takoyaki, ceker pedas, corndog, serta beberapa makanan ringan lainnya, tak lupa juga minuman dengan rasa lemon tea untuk Hakam dan coklat untuk Elga.

“Banyak bangeeet, kak!” Elga sedikit terkejut setelah melihat pesanan mereka cukup banyak tertata diatas meja

Hakam hanya tertawa. “Nggak apa-apa biar lo makin gemuk,” ledek Hakam.

Percakapan keduanya mengalir begitu saja, membahas tentang kelas tiga yang sudah mulai mempersiapkan try out hingga tentang apa yang dilakukan Rafka di rumah Elga tadi.

“Mereka pada mintain peje.”

“Kasih aqua gelas aja, kak.”


Setelah perut mereka terisi, menyisakan beberapa makanan yang mereka putuskan untuk membawanya pulang. Tujuan selanjutnya adalah jembatan yang akhir-akhir ini cukup terkenal di kalangan remaja.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang, sehingga keduanya memutuskan untuk berjalan kaki.

“Mbak-mbak, tali sepatunya lepas itu,” ucap seseorang pada Elga.

Menyadari itu, Elga hendak berjongkok membenarkan tali sepatunya, namun Hakam lebih cepat sehingga pemuda itu kini sudah berlutut lebih dulu di depan Elga.

“Untung aja nggak keinjek.”

Hakam menali sepatu gadis itu berbentuk pita, hanya hal kecil yang Hakam lakukan, tapi entah kenapa membuat gadis itu merasa tersentuh.

“Udah!” Hakam mengangkat kepalanya, menatap Elga yang juga sedang menatapnya

Tak ada jawaban. Hakam bangkit dari berlututnya

“Udah, El!” lagi, Hakam mengacak pucuk rambut Elga, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

“Makasih.” Elga mengalihkan pandangannya ke arah lain

“Udah jadi pacar masa masih malu aja!”

“Diem!” Sesampainya di tempat yang dimaksud, Elga juga Hakam mengambil beberapa foto, mulai dari foto masing-masing hingga foto bersama. Foto bersama pertama yang mereka punya.

“Lo percaya bintang jatuh nggak kak?” tanya Elga, meremat pinggiran besi pembatas, menatap langit yang terbentang diatas sana

“Yang katanya kalau kita buat permohonan bakal terkabul?”

“Iya! Percaya nggak?”

“Nggak, kayak anak kecil percaya gituan.”

“Katanya nih ya kak, orang yang sudah meninggal dia bakal jadi salah satu bintang di atas sana. Nah bintang jatuh itu tanda mereka lagi turun ke bumi. Kalo kita buat permohonan pas mereka turun, nanti permohonan kita dibawa naik untuk disampein langsung ke Tuhan saat mereka kembali ke atas.”

“Siapa yang udah nyeritain omong kosong itu ke lo, El?”

“Almarhumah nyokap gua.”

“Lo percaya?”

“KAK! BINTANG JATUH!” Elga segera menyatukan kedua tangannya, menutup mata dan membuat sebuah permohonan.

Hakam? Sama! Meski ia berkata tidak mempercayai omong kosong dan teori tentang bintang jatuh yang Elga jelaskan tadi, namun ketika gadis itu berteriak tentang bintang jatuh, Hakam memejamkan matanya sejenak, dan membukanya sebelum gadis itu membuka matanya.

“Gua berharap, semoga Kak Hakam bisa ujian dengan lancar, lulus, kemudian keterima di kampus yang dia mau. Semoga gua sama kak Hakam bisa bareng-bareng terus, saling menyayangi dan bahagia kayak sekarang, aamiin.”

“Gua harap, kebersamaan ini nggak akan pernah berakhir.”

Elga membuka matanya perlahan

“Apa yang lo minta?”

“Ra-ha-sia.”

Wlek

Elga menjulurkan lidahnya, membuat Hakam gemas dengan gadis itu.

“Jangan gemes-gemes kalo di tempat rame, El. Nanti mereka jatuh cinta sama lo, guanya yang repot.”


“Makasih ya kak udah dianter pulang.” Hakam membantu Elga melepaskan helm yang masih terpasang pada gadis itu.

“Sama-sama. Suka nggak tadi?”

Elga mengangguk cepet, “suka banget, kenyang, terus liat jalanan Jakarta dari atas ternyata bagus juga.”

“Syukurlah kalo lo suka. Yaudah sana masuk, istirahat.”

“Nanti, mau liat kakak pergi.”

“Loh? Lo duluan aja! Gua mau mastiin lo masuk ke rumah dengan selamat.” Elga menekuk wajahnya,

“Masih pengen ketemu,” ucap Elga lirih

Hakam menarik tubuh elga, dan membawanya ke dalam pelukan, “besok ketemu lagi, sekarang masuk ya!” pinta Hakam, mengusap rambut panjang Elga.

Meski enggan, Elga menuruti permintaan Hakam. Mau bagaimana lagi, langit semakin gelap, Elga juga khawatir kalau kekasihnya itu pulang terlalu larut.

“Besok kita ketemu di sekolah, besoknya lagi kita ketemu lagi, besok besoknya lagi kita masih bisa ketemu lagi. Jadi nggak usah sedih.”

Hakam melepaskan pelukannya, meletakan kedua tangannya pada pipi Elga. Elga hanya diam, mengedipkan matanya beberapa kali. Saat Hakam mencondongkan tubuhnya, dengan reflek tangan Elga menutup bibirnya sendiri, seakan membuat barikade penghalang agar tidak ada yang menembus pertahanannya.

Hakam tersenyum gemas melihat tingkah Elga barusan.

Cup

Satu kecupan mendarat di punggung telapak tangan yang Elga gunakan untuk menutupi bibirnya.

“Tadinya gua mau nyium kening lo, tapi gua berubah pikiran,” ucap Hakam

“Sekarang masuk gih, udah malem.”

Elga masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata sepatah katapun. Menahan jantungnya agar tidak melompat karena detaknya yang begitu cepat.

Tak lama sejak Elga menutup pintu rumahnya, suara motor Hakam terdengar semakin menjauh.


“LO TADI MIKIR APAAN SIH, ELL!!”

Gadis itu berguling di atas kasurnya, sesekali menenggelamkan wajahnya di balik bantal yang sedang peluk.

Sudah beberapa menit lalu Hakam tiba di depan rumah Elga. Yang ditunggu mengecek kembali buku-buku pelajaran serta penampilannya hari ini.

“Lo udah mulai sekolah?” Tanya Rafka, mengeluarkan motor dari garasi rumahnya.”

“Udah dibolehin sama Ayah.”

“Kalo kenapa-kenapa langsung kabarin gua!” lanjut Rafka.

“Bawel.”


Elga duduk di belakang Hakam, meremat tas hitam yang pria itu kenakan.

Rafka berada di belakang pemuda-pemudi itu, meski sedikit iri, namun ia juga bahagia melihat sahabat kecil yang selalu mengekorinya kini telah memiliki seseorang yang berharga dihidupnya.

“Dingin nggak?” tanya Hakam

“Gua pake jaket.”

“Tadi udah sarapan?”

“Udah kok kak, sekalian minum obat soalnya.”


“Mana Sa? Kok lo belum dipanggil BK?” tanya Ichan, menatap temannya yang masih duduk di dalam kelas

“Baru juga bel masuk.”

Dan benar saja, tak lama setelah Mahesa berkata seperti itu, seseorang datang mencari dirinya.

“Yang namanya Mahesa, disuruh ke BK sekarang,” ucap pemuda itu kemudian pergi

Mahesa menarik napasnya dalam mengabaikan pertanyaan apa dan kenapa yang terlontar dari teman kelasnya.

Disaat yang sama, Hakam menerima pesan atas nama 'Si Tas Biru'. “Kak! Gua dipanggil BK.” Setelah Mahesa, sebenarnya Hakam tahu, gadis itu juga akan ikut dipanggil ke ruangan tersebut.

Hakam mengacak rambutnya kasar, keluar kelas, menuju ruangan yang letaknya jauh di gedung depan sana.

“Gua ikut Kam, Elga juga ngirimin gua chat soalnya, takut dia kenapa-napa,” ucap Rafka berjalan di sebelah Hakam.


Berita tentang anak-anak yang dipanggil ke ruang BK sudah menyebar di antara penghuni sekolah. Bahkan beberapa anak ada yang dengan sengaja mengintip ke dalam ruangan yang tertutup dengan rapat itu.

Hakam, Rafka dan Ichan duduk di luar dengan perasaan gelisah. Hakam takut kesehatan Elga kembali menurun, karena bagaimanapun gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya.

Di dalam ruangan, Mahesa beserta tujuh siswi lainnya duduk di kursi panjang dengan kepala sekolah dan guru BK di hadapan mereka.

Elga mulai bercerita tentang apa yang ia alami beberapa hari lalu, yang dibenarkan oleh Nurul juga Melisa sebagai saksinya.

“Jadi Bunga, Hana dan Fani. Apa benar kalian yang sudah dengan sengaja mengunci Elga?”

Awalnya mereka mengelak, bahkan setelah Tara menjelaskan apa yang ia lihat hari itu. Namun setelah sang guru memutar video dan menunjukkan foto-foto dari ponselnya, ketiga orang itu diam bercampur kaget.

“Bunga, Hana dan Fani, apa benar yang ada di dalam video tersebut itu kalian?”

Yang disebutkan namanya hanya menunduk, tidak bisa membantah, karena wajah mereka terekam dengan jelas di sana.

“Kamu dapat dari mana foto-foto itu, nak Mahesa?” tanya sang kepala sekolah

“Dari Aziella pak, anak akuntansi satu.”

Mendengar nama Ziella disebut, ketiga gadis yang sejak tadi diam mulai mengangkat suara.

“Dia juga ikut ngerencanain itu pak.”

“Iya bener pak, panggil dia juga dong, pak!”

“Saya bisa buktiin kalau semua yang kita bertiga lakuin itu ide dia.”

Seperti yang sudah Mahesa kira, semua berjalan sesuai rencana. Ziella masuk kedalam ruangan beberapa menit kemudian.

Ia memandang melas ke arah Mahesa, mencari bantuan di sela tatapan keduanya. Namun Mahesa acuh, ia benar-benar lelah dengan sandiwara wanita itu.

Setelah kurang lebih satu jam mereka di sana, pihak sekolah memutuskan untuk menghukum keempat siswinya atas kasus pembulian.

Awalnya meski Bunga menunjukkan chat grup mereka, namun Zie tetap saja membantah. Bahkan menuduh Elga yang telah menjebaknya.

“Kak Mahesa! Please percaya aku kak, aku nggak mungkin sejahat itu. Itu pasti akal-akalannya Elga, sengaja nuduh aku karena nggak suka aku deket sama kakak.”

“Zie, gua yang laporin ini. Udah ya! Akuin aja kesalahan lo.”

Ziella, Bunga, Hana dan Fani mendapatkan hukuman berupa skors selama 3 hari. Sebelumnya, pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan mereka, namun keputusan tersebut diurungkan mengingat mereka harus membicarakannya kepada orang tua masing-masing, dan lagi dua dari keempat siswi tersebut adalah murid kelas 3 yang akan menghadapi ujian kelulusan.


Hakam segera memeluk Elga tanpa memperdulikan pandangan di sekelilingnya.

“Lo nggak apa-apa kan, El? Lo baik-baik aja kan? Ada yang pusing nggak?” tanyanya

“PELUKANNYA DITAHAN DULU KALI, NGGAK LIAT DI DALAM SANA MASIH ADA KEPSEK?” celetuk Melisa

“Mel, Rul, Tara. Makasih banyak ya udah bantuin gua. Gua nggak punya apa-apa untuk bales kalian, tapi bisa deh kapan-kapan gua traktir bakso.”

“Nggak apa-apa kali El, lagian hal kayak gitu emang nggak bisa didiemin, nanti ngelunjak.” Fani menepuk pundak Elga.

“Padahal gua tadinya cuma nggak sengaja ngeliat doang, tapi kalo emang gua bisa bantu lo ya syukur deh, gua ngerasa berguna,” sahut Tara, gadis yang baru saja Elga kenal.

Nurul, Melisa dan Tara kemudian pergi, menyisakan Elga dan keempat seniornya.

“Kak Mahes bukanya pacarnya Ziella?”

“Siapa yang bilang gua pacaran sih, El! Gua nggak pacaran sama dia, kan gua masih sukanya sama lo.”

Mendengar pernyataan barusan, Hakam melingkarkan tangannya ke leher Elga, menarik gadis itu hingga punggung sang gadis menempel di dadanya.

“LO BERANI?”

“Najis Hakam bucin banget asu, belum resmi aja udah posesif,”

“Iri aja lo Chan.”

“Mending kita balik kelas deh, bentar lagi ganti pelajaran,” sela Rafka

“Kak Mahes, sekali lagi makasih banyak ya, makasih banyak untuk semuanya.”

“Sama-sama, El.” Mahesa tersenyum, mengacak pucuk rambut Elga tak peduli dengan tatapan tajam yang ia terima dari Hakam.

Mereka pun kembali ke kelas masing-masing, Hakam mengantar Elga, sementara Ichan, Rafka dan Mahesa pergi terlebih dahulu.

“Emang dasar lonya yang suka mancing duluan,” ucap Rafka berjalan di sebelah Mahesa

“Gua berani kayak gitu karena Elga belum punya pacar aja, nggak tau besok kalo Hakam udah maju.”

“Lo sengaja kan?”

“Emang.”

“Goblok.”

“Ucapin itu sama temen lo yang nanya Hakam.”

Tw // bullying

Pagi ini, Ziella duduk di kursi belajarnya dengan sekotak susu coklat, obat pencahar sirup dan satu buah jarum suntik yang entah dia beli dari mana.

Ziella memasukkan obat pencahar tersebut ke dalam jarum suntik dan memindahkannya ke kotak susu itu. Memeriksa kembali supaya bekas tusukan pada jarum tadi benar-benar tak terlihat.

“Selesai!”

Elga tersenyum puas, dan tak sabar dengan rencananya hari ini.


“Kalo tuh cewek udah minum susunya, pasti dia bakal ngechat gue, jadi lo bertiga siap-siap aja,” Zie mengirim pesan singkat yang ditujukan kepada tiga temannya.

Sebelumnya, ia sempat mengajak Ismi juga Nurul ke dalam rencana gila itu. sayang, mereka berdua menolak bahkan menasehati Ziell.

Bukan Ziella namanya kalau ia menyerah begitu saja, ia tahu siapa-siapa yang bisa diajak kerjasama. Kak Hana anak kelas 12 AP 1, Kak Bunga 12 AP 1, dan terakhir Fani 11 AK 2. Alasan mereka sebenarnya beragam. Hana sama seperti Ziella, jika Ziella membenci Elga karena gadis itu dekat dengan Kak Mahesa.

Lain hal nya dengan Hana yang tak suka karena Elga dekat dengan Hakam. Bunga hanya ikut-ikutan karena Hana. Sementara Fani, tidak ada urusannya dengan percintaan, hanya saja ia tidak suka tanpa alasan. Ziella tidak peduli, yang terpenting dia tidak sendiri.

“Kita cuma ngasih pelajaran aja, bukan ngebully, jadi lo bertiga nggak usah takut deh, lagian kita cuma mau ngurung dia di kamar mandi, udah gitu doang.” Ziella mencoba meyakinkan.

Jam istirahat pertama tiba, Elga mengeluarkan kotak susu coklat dari laci di bawah meja, kemudian meminumnya sebelum ia pergi ke kantin. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan setelah bel masuk pun semua masih sama.

Pelajaran demi pelajaran dilewati. Elga merasa semakin lama perutnya semakin sakit, mau tidak mau ia harus izin untuk pergi ke kamar mandi.

Sekali, dua kali, hingga beberapa kali. “Udah mulai bekerja kayaknya,” batin Elga, sembari menahan tawa.

“Bikin Elga mules, mission completed.”


“Lo tadi abis makan apa sih sampe kayak gini?” tanya Melisa khawatir

“Gua tadi cuma makan mie rebus doang, itu juga nggak pedes kok.”

“Apa lagi?”

“Gorengan, es teh sama susu coklat dari Zie.”

Mendengar itu, Melisa langsung membulatkan matanya.

“NAH ITU! SUSU COKLAT ITU! GUA YAKIN PASTI UDAH DIAPA-APAIN SAMA TUH ANAK.”

Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Elga juga Melisa tengah merapikan buku-bukunya. Namun teriakan Melisa mengalihkan beberapa anak yang masih di sana, salah satunya Nurul.

“Lo kenapa, El? Sakit? Gue liat tadi lo bolak-balik ke toilet.”

“ZIELLA, RUL. TUH ANAK NGASIH SUSU YANG NGGAK TAU DEH UDAH DI CAMPUR APA SAMPE BIKIN ELGA KAYAK GINI.”

“Lagian lo napa sih masih berhubungan sama Zie? Sebenarnya semalem gua dimasukin gdm sama dia. Lo baca sendiri aja deh—” Nurul menyerahkan ponselnya kepada Melisa dan Elga. Elga tidak bisa menahan amarahnya kala ia membaca isi pesan yang Nurul tunjukkan.

Ia benar-benar tidak menyangka, Zie bisa melakukan itu dan membuat persahabatan mereka hancur sehancur-hancurnya.

“KURANG AJAR! INI NGGAK BISA DIBIARIN, GUA MAU HAJAR DIA SEKARANG.” Melisa sama emosinya

“Thanks ya Rul udah mau ngasih tau gua.” Elga mengembalikan ponsel yang ada di tangannya

“Lo tenang, Mel.”

“Gua emosi, El.”

“Iya tau, tapi biarin gua yang ngomong sama dia, gua nggak mau masalah ini malah ngelebar kemana-mana, takutnya lo juga yang kena imbasnya.”

Melisa mengerti, ia memang sama marahnya dengan Elga, tapi juga ia paham apa yang Elga ucapkan barusan. Pada dasarnya permasalahan mereka cukup sederhana, kedua orang yang pernah menyandang status sahabat mencintai satu orang sama. Bedanya, yang satu terlalu memaksa dengan sesuatu yang tidak bisa ia dapat.

“Yaudah, gua balik. Kalo ada apa-apa langsung kabarin gua!” jelas Melisa

Keduanya berpisah, Melisa pergi ke arah gerbang, sementara Elga pergi ke kelas 12 AP 1 yang letaknya jauh di belakang.

Dengan memegang perutnya, Elga berjalan ke kelas yang dimaksud untuk bertemu Ziella. Namun, belum sampai pada tujuannya, lagi—Elga harus pergi ke toilet terdekat yang ada di sana.

“Buruan! Itu anaknya ke toilet!” perintah Ziella ketika melihat Elga dari jendela kelas

“Sekarang?”

“YA MASA TAHUN DEPAN.”

Hana, Bunga dan Fani berjalan dibelakang Elga. Elga sedikitpun tidak menaruh curiga pada mereka. Yang ia pikirkan hanya sakit di perutnya segera menghilang.

Setelah pintu bilik yang Elga masuki tertutup, Fani meraih sapu yang tergeletak di pojokan, menyilangkan sapu tersebut pada gagang pintu. Awalnya Elga masih biasa, tidak menanggapi suara gaduh di luar sana. Namun ia panik ketika gagang pintu kamar mandinya bergerak seakan ada yang memainkan dari luar.

“Udah oke, nggak akan bisa dibuka,” ucap seseorang

“Yuk cabut!” sahut yang lain

“Bentar! Gua mau ngasih hadiah, nggak seru cuma kayak gini.”

byurrr

“WOY! SIAPA SIH YANG NYIRAM GUA!” “GUA LAGI BERAK YA ANJIR!”

“Itu pelajaran dari gua untuk cewek ganjen kayak lo.”

“WOY!” “GUA SALAH APA SAMA KALIAN”

Elga segera menyelesaikan urusannya di dalam sana. Menahan dingin karena seragamnya yang basah. Tak sampai di sana, pintu kamar mandi yang tidak bisa dibuka membuat gadis itu panik bahkan hampir menangis.

Untungnya, ia membawa ponselnya yang dimasukan ke dalam tas. Setidaknya dia masih bisa meminta bantuan, dan tidak akan terkurung semalaman di tolet ini.

“Semoga kak Kak Hakam atau Rafka masih di sekolah.”


“Gua udah di rumah, kenapa? Gua telponin dari tadi nggak diangkat.”

“Sorry kak, hpnya gua silent. Gua kekunci di kamar mandi, Kak!” “Gua nggak tau di sekolah masih ada orang atau enggak.”

“TUNGGU GUA!”

***

***

Pagi ini, setelah Elga memutuskan untuk menjadi secret admirer Mahesa lagi, ia berangkat lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Dengan roti dan sebotol air mineral di tangan, Elga bergegas menuju lantai dua gedung yang terletak tepat di belakang kelasnya.

SMK belum ramai pagi ini, hanya ada beberapa murid saja yang sudah datang. Meski demikian, Elga tetap berhati-hati berharap tidak ada seorangpun tau tentang apa yang dia lakukan. Baru saja Elga hendak membuka loker milik seniornya, seseorang yang sangat ia kenal keluar dari dalam kelas.

“Ziella?” Elga terkejut

“Oh bagus? Lo bener-bener nggak dengerin omongan gua ya, El.” Ziella melipat tangannya di depan dada, berjalan menghampiri Elga.

“Gua nggak akan dengerin omongan lo.”

Elga acuh, membuka loker yang tidak terkunci milik Mahesa, menaruh roti juga minum yang ada di tangannya.

“LO TAU? GARA-GARA INI KAK MAHESA NGEHINDARIN GUA!” Ziella merebut roti tersebut dan membuangnya ke lantai. Marah.

“Lo tuh apa-apaan sih Zie? Nggak usah buang-buang makanan lah.”

Matahari baru menyapa, tapi dua orang di depan kelas 12 TKJ 2 sudah bersitegang sejak tadi. Elga yang hendak mengambil makanan di lantai, didorong, membuat tubuh sang gadis tersungkur ke depan.

“SAKIT ZIELLA!”

Ziella hanya tersenyum lebar,

“Itu hukuman dari gua buat lo, El!” Ia pergi meninggalkan Elga yang masih terduduk di lantai

Belum sempat Ziella meninggalkan tempat itu, tas yang ia kenakan di punggung Elga tarik kuat, membuat gadis itu tertarik ke belakang.

“Itu balasan karena udah ngedorong gua.”

“KURANG AJAR!.”

Keributan antara keduanya tak bisa dihindari, beberapa orang yang melihat perkelahian itu mencoba melerai, namun nihil, tak ada satupun dari Ziella dan Elga yang mengalah.

“Udah jangan berantem!” Ucap seseorang

“Itu pisahin tolol, bukan ditonton.”

“Tadi gua kena gaplok anjir.”

“Udah woy, lepasin rambutnya,”

Meski tubuh mereka sudah ditahan namun Elga tetap menarik kuat rambut Ziella, begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya teriakan seseorang yang mereka kenal menghentikan keduanya.

“ELGA! ZIELLA!”

Itu Mahesa. Elga malu, benar-benar malu berhadapan dengan Mahesa dalam keadaan seperti ini, bagaimana pria itu akan menilainya nanti? Cewek tukang berantem.

“Kak, Elga yang mulai duluan, tadi dia narik rambut aku, aku kan cuma ngebela diri aja.” Ziella memeluk tangan mahesa, dengan wajah yang dibuat sedih.

“HELLO? LO YANG DORONG GUA DULUAN.” “GUA NGGAK MAU DENGER SIAPA YANG DULUAN. LO BERDUA SAMA-SAMA SALAH.”

“Yang pada nonton tolong bubar aja ya, masalah ini biar gua yang urus.”

Murid yang tadi mengelilingi mereka satu persatu persatu pergi, walau begitu tetap saja ada yang menonton lewat jendela kelas di gedung itu maupun di gedung seberang sana.

“Huu berantemnya nggak seru, cuma jambak-jambakan doang.”

“Anak kelas mana sih yang berantem?”

“Yang berangkat siang nyesel nggak bisa liat live action tadi.”

“Goblok.”

***

Semalam, Mahesa memang berniat berangkat lebih awal dari biasanya. Hal yang sering dilakukan ketika ada pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan. Namun, apa yang ia lihat di depan kelasnya benar-benar membuat kepalanya pusing.

“Sekarang gua tanya! Kenapa lo berdua berantem? Nggak malu diliat banyak orang kayak gitu?”

Elga diam. Tapi kalimat yang keluar dari mulut Ziella membuatnya tak bisa menahan amarahnya lagi.

“Aku mau naro roti sama minuman itu di loker kakak, tapi sama Elga dibuang. Gara-gara kemarin aku mintain tolong untuk naro susu pisang di loker kakak, jadinya dia nganggap penggemar rahasianya kakak itu dia. Dan katanya aku nggak pantes deket-deket sama kak Mahesa.”

“El?”

“WAHHH? GILAA, AKTING LO KEREN BANGET, ANJING.” Elga bertepuk tangan pelan, memberi apresiasi atas apa yang diucapkan Ziella.

“Liat deh kak, omongannya kasar.”

“Lo diem! Sorry ya kak Mahes, gua nggak ngefilter omongan gua. Tapi sumpah deh, semua yang diomongin tuh cewek … ” Elga menunjukan Ziella yang masih bersembunyi di sebelah Mahesa

“Semuanya bohong!” “Kalau Zie bohong, coba lo ceritain yang sebenernya! Ngapain lo di sini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, jujur Elga bingung, apa dia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak? Tapi … ah sudahlah, Elga benar-benar sudah tidak bisa membiarkan Ziella dengan semua kebohongannya.

“Roti itu … ” Elga menunjuk roti bungkus yang masih berada di lantai

“Gua yang bawa, gua penggemar rahasia lo kak.”

“BOHONG! ELGA BOHONG KAK, PLEASE PERCAYA AKU.”

“Lo punya bukti nggak El? Biar gua percaya.”

Elga mengeluarkan buku tulis dalam tasnya, entah pelajaran apa, yang penting dia ingin mengeluarkan satu-satunya bukti yang dia punya. Tulisannya sendiri.

“Kak Mahes bandingin aja tulisannya.”

Belum sempat Mahesa mengambil buku tersebut, Ziella merebut dan melemparkannya ke luar, membiarkan buku itu jatuh di taman bawah sana.

“Kak! Please percaya aku, Elga bohong kak, dia selama ini cuma iri karena dia juga suka sama kakak. Aku juga nggak tau kenapa dia bisa sampe kayak gitu. Percaya aku ya kak!” Elga tidak bisa membendung air matanya, sudah sejak tadi ia menangis dengan tangan yang masih memeluk lengan Mahesa.

Di satu sisi, Mahesa sebenarnya sudah percaya dengan apa yang dijelaskan Elga, hanya tinggal meyakinkan diri dengan tulisan tangan Elga dan note yang ia punya. Disisi lain, tangisan gadis di sebelahnya yang tak kunjung reda membuat ia tak bisa menghilangkan simpatinya.

“Lanjutin nanti lagi.” ~ “Gua anter ke kelas ya Zie, tenangin diri lo!” Ziella mengangguk pelan, memberi senyuman ketika ia melewati Elga.

Dasar uler

***

Pagi ini, setelah Elga memutuskan untuk menjadi secret admirer Mahesa lagi, ia berangkat lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Dengan roti dan sebotol air mineral di tangan, Elga bergegas menuju lantai dua gedung yang terletak tepat di belakang kelasnya.

SMK belum ramai pagi ini, hanya ada beberapa murid saja yang sudah datang. Meski demikian, Elga tetap berhati-hati berharap tidak ada seorangpun tau tentang apa yang dia lakukan. Baru saja Elga hendak membuka loker milik seniornya, seseorang yang sangat ia kenal keluar dari dalam kelas.

“Ziella?” Elga terkejut

“Oh bagus? Lo bener-bener nggak dengerin omongan gua ya, El.” Ziella melipat tangannya di depan dada, berjalan menghampiri Elga.

“Gua nggak akan dengerin omongan lo.”

Elga acuh, membuka loker yang tidak terkunci milik Mahesa, menaruh roti juga minum yang ada di tangannya.

“LO TAU? GARA-GARA INI KAK MAHESA NGEHINDARIN GUA!” Ziella merebut roti tersebut dan membuangnya ke lantai. Marah.

“Lo tuh apa-apaan sih Zie? Nggak usah buang-buang makanan lah.”

Matahari baru menyapa, tapi dua orang di depan kelas 12 TKJ 2 sudah bersitegang sejak tadi. Elga yang hendak mengambil makanan di lantai, didorong, membuat tubuh sang gadis tersungkur ke depan.

“SAKIT ZIELLA!”

Ziella hanya tersenyum lebar,

“Itu hukuman dari gua buat lo, El!” Ia pergi meninggalkan Elga yang masih terduduk di lantai

Belum sempat Ziella meninggalkan tempat itu, tas yang ia kenakan di punggung Elga tarik kuat, membuat gadis itu tertarik ke belakang.

“Itu balasan karena udah ngedorong gua.”

“KURANG AJAR!.”

Keributan antara keduanya tak bisa dihindari, beberapa orang yang melihat perkelahian itu mencoba melerai, namun nihil, tak ada satupun dari Ziella dan Elga yang mengalah.

“Udah jangan berantem!” Ucap seseorang

“Itu pisahin tolol, bukan ditonton.”

“Tadi gua kena gaplok anjir.”

“Udah woy, lepasin rambutnya,”

Meski tubuh mereka sudah ditahan namun Elga tetap menarik kuat rambut Ziella, begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya teriakan seseorang yang mereka kenal menghentikan keduanya.

“ELGA! ZIELLA!”

Itu Mahesa. Elga malu, benar-benar malu berhadapan dengan Mahesa dalam keadaan seperti ini, bagaimana pria itu akan menilainya nanti? Cewek tukang berantem.

“Kak, Elga yang mulai duluan, tadi dia narik rambut aku, aku kan cuma ngebela diri aja.” Ziella memeluk tangan mahesa, dengan wajah yang dibuat sedih.

“HELLO? LO YANG DORONG GUA DULUAN.” “GUA NGGAK MAU DENGER SIAPA YANG DULUAN. LO BERDUA SAMA-SAMA SALAH.”

“Yang pada nonton tolong bubar aja ya, masalah ini biar gua yang urus.”

Murid yang tadi mengelilingi mereka satu persatu persatu pergi, walau begitu tetap saja ada yang menonton lewat jendela kelas di gedung itu maupun di gedung seberang sana.

“Huu berantemnya nggak seru, cuma jambak-jambakan doang.”

“Anak kelas mana sih yang berantem?”

“Yang berangkat siang nyesel nggak bisa liat live action tadi.”

“Goblok.”

***

Semalam, Mahesa memang berniat berangkat lebih awal dari biasanya. Hal yang sering dilakukan ketika ada pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan. Namun, apa yang ia lihat di depan kelasnya benar-benar membuat kepalanya pusing.

“Sekarang gua tanya! Kenapa lo berdua berantem? Nggak malu diliat banyak orang kayak gitu?”

Elga diam. Tapi kalimat yang keluar dari mulut Ziella membuatnya tak bisa menahan amarahnya lagi.

“Aku mau naro roti sama minuman itu di loker kakak, tapi sama Elga dibuang. Gara-gara kemarin aku mintain tolong untuk naro susu pisang di loker kakak, jadinya dia nganggap penggemar rahasianya kakak itu dia. Dan katanya aku nggak pantes deket-deket sama kak Mahesa.”

“El?”

“WAHHH? GILAA, AKTING LO KEREN BANGET, ANJING.” Elga bertepuk tangan pelan, memberi apresiasi atas apa yang diucapkan Ziella.

“Liat deh kak, omongannya kasar.”

“Lo diem! Sorry ya kak Mahes, gua nggak ngefilter omongan gua. Tapi sumpah deh, semua yang diomongin tuh cewek … ” Elga menunjukan Ziella yang masih bersembunyi di sebelah Mahesa

“Semuanya bohong!” “Kalau Zie bohong, coba lo ceritain yang sebenernya! Ngapain lo di sini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, jujur Elga bingung, apa dia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak? Tapi … ah sudahlah, Elga benar-benar sudah tidak bisa membiarkan Ziella dengan semua kebohongannya.

“Roti itu … ” Elga menunjuk roti bungkus yang masih berada di lantai

“Gua yang bawa, gua penggemar rahasia lo kak.”

“BOHONG! ELGA BOHONG KAK, PLEASE PERCAYA AKU.”

“Lo punya bukti nggak El? Biar gua percaya.”

Elga mengeluarkan buku tulis dalam tasnya, entah pelajaran apa, yang penting dia ingin mengeluarkan satu-satunya bukti yang dia punya. Tulisannya sendiri.

“Kak Mahes bandingin aja tulisannya.”

Belum sempat Mahesa mengambil buku tersebut, Ziella merebut dan melemparkannya ke luar, membiarkan buku itu jatuh di taman bawah sana.

“Kak! Please percaya aku, Elga bohong kak, dia selama ini cuma iri karena dia juga suka sama kakak. Aku juga nggak tau kenapa dia bisa sampe kayak gitu. Percaya aku ya kak!” Elga tidak bisa membendung air matanya, sudah sejak tadi ia menangis dengan tangan yang masih memeluk lengan Mahesa.

Di satu sisi, Mahesa sebenarnya sudah percaya dengan apa yang dijelaskan Elga, hanya tinggal meyakinkan diri dengan tulisan tangan Elga dan note yang ia punya. Disisi lain, tangisan gadis di sebelahnya yang tak kunjung reda membuat ia tak bisa menghilangkan simpatinya.

“Lanjutin nanti lagi.” ~ “Gua anter ke kelas ya Zie, tenangin diri lo!” Ziella mengangguk pelan, memberi senyuman ketika ia melewati Elga.

Dasar uler

“Lo tiduran dulu di sini ya, El. Gua panggilin anak PMR sebentar.”

Elga dan Hakam kini berada di UKS. Elga merebahkan dirinya di atas kasur, sementara Hakam berdiri di sebelahnya. Sudah sejak tadi gadis itu mengeluhkan sakit di perutnya, Hakam yang tidak tahu perihal penyakit yang diderita Elga berinisiatif memanggil anak PMR yang bertugas mengurusi obat-obatan di sekolah.

“Kak, nggak usah! gua nggak sakit kayak gitu.”

Elga bersusah payah menjelaskan, sedikit malu karena ini pertama kalinya ia meminta bantuan Hakam ketika datang bulan. Salahkan Rafka yang tidak membalas chat dan tidak mengangkat telepon darinya.

“Tolong beliin gua kiran*i aja kak, di warung depan sekolah!” lanjut Elga.

“Yaudah tunggu sebentar, ya!”

Elga mengangguk

Hakam pergi tanpa bertanya lebih lanjut, ia mengerti karena minuman yang Elga pinta juga sering diminum oleh sang bunda. Dan kalau sudah seperti itu biasanya bunda akan mengompres perutnya dengan air hangat.

Kurang dari lima menit, Hakam kembali dengan pesanan Elga juga sebungkus roti. Elga sendiri sedang tiduran dengan posisi yang tidak beraturan. Kadang menghadap ke kiri, kadang ke kanan, kadang bantalnya diletakkan di bawah pinggang, atau seperti apa saja setidaknya menghilangkan nyeri di perutnya.

“Nih, El! Lo minum dulu!”

“Maaf ya kak ngerepotin.”

Hakam menggeleng cepat. Ngerepotin? Sama sekali tidak, malah Hakam senang ia bisa membantu gadis itu.

Elga telah meminum habis pereda nyerinya. Sementara botol sisa minuman tersebut Hakam isi dengan air panas dari dispenser yang memang diletakkan di ruangan itu.

“Perut lo kompres pake ini.”

Hakam menyerahkan botol kecil berisi air panas yang dilapisi dengan ujung seragamnya. “Jangan langsung ditaro di perut, lapisin pake selimut dulu aja biar nggak terlalu panas.”

Elga mengikuti perintah Hakam, membaringkan tubuhnya menghadap Hakam kemudian melapisi botol tersebut dengan ujung selimut, sementara sisa selimut lainya ia pakai menyelimuti dirinya sendiri.

“Kak Hakam, kalo mau ke kelas, ke kelas aja! Gua udah nggak kenapa-kenapa. Sebentar lagi juga baikkan.”

“Nggak apa-apa gua disini dulu. Lagian kalau balik ke kelas juga nggak dibolehin masuk, udah telat.”

“Maaf ya kak.”

“Jangan minta maaf terus! Bukan salah lo kok. Emang guanya yang mau.”

Hakam duduk di ranjang sebelah Elga. Dari sana ia bisa melihat gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman. Sesaat lalu ia sedang menghadap dirinya, dan detik kemudian Elga duduk dengan memeluk lututnya, seperti sekarang.

“Punggung lo sakit nggak, El?”

“Kalau ditanya sakit nggak, semua badan gua sakit kak. Sumpah nih pinggang rasanya pengen gua copot dulu kalo bisa.”

“Serem kalo lo jalan pinggangnya ilang.”

“Ya, nggak gitu maksudnya.”

Hakam terkekeh, “iya iya, tau kok. Bunda biasanya kalo sakit gitu minta gua atau bang Hasbi mukulin pinggangnya, sih. Lo mau juga nggak?”

“Dipukul? Sakit dong!”

“nggak kuat kok. Coba deh lo duduknya majuan!” pinta Hakam

Elga menurut, masih dengan posisi yang sama ia memajukan tubuhnya memberi ruang kosong di belakang untuk kemudian Hakam duduki.

“Gua izin pukulin pinggangnya, ya, El.”

Setelah mendapat persetujuan, Hakam mengepalkan tangannya, memukul-mukul pelan pinggang gadis itu.

“Gimana?” tanya Hakam

“Enak kak, berasa dipijet.” “Agak kiri kak! Ke bawahan dikit! Nah iya di situ.”

“Kalau pegel, udahan aja kak!”

“Iya nanti kalau udah capek, gua berhenti.”

Detik demi detik mereka lewati dengan posisi seperti itu. Entah karena tubuh Elga yang memang kurang baik, atau cuaca siang ini yang cukup panas, mendadak wajah Elga memerah.

Yang di belakang tak berbeda jauh. tenggorokannya kering, telinganya memerah. Gadis di depannya bukan bunda, menyadari itu Hakam seketika malu, tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri yang menawarkan diri.

Gua yakin urat malu lo udah putus, Kam

Yang tidak mereka sadari, dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah keduanya. Rafka, berdiri dengan plastik hitam di tangannya.

Ia menghela napasnya dalam, membuang plastik tersebut ke dalam kotak sampah di depan UKS.

“Elga! Lo gapapa kan? Sorry-sorry tadi gua dipanggil ke ruang guru, jadinya nggak liat chat lo.” Seakan tidak pernah melihat apa-apa, Rafka masuk dengan ekspresi begitu panik. “Gua juga nggak beli pesenan lo, soalnya gua langsung ke sini pas baca chatnya.”

“Gak apa-apa Raf, gua udah minta tolong Kak Hakam untuk beliin kok tadi.”

“Lo di sini, Kam? Pantes aja nggak ada di kelas. Thanks ya Kam, nanti uang beli minumannya gua ganti.”

“Nggak usah, Raf, santai aja. Kelas nggak ada guru, tah?”

“Nggak ada, cuma dikasih tugas ngerjain soal doang.”

“Raf, Kak, gua kayaknya mau tidur deh, kalian berdua balik ke kelas aja gih, gua udah chat ketua kelas juga untuk izinin gua.”

Sebenarnya, baik Hakam maupun Rafka, keduanya enggan untuk pergi, tapi Elga terus mendesak dengan alasan ingin tidur jadi daripada kehadirannya mengganggu tidur gadis itu, mereka pun setuju.

“Jujur sama gua! lo suka ya sama Elga?” tanya Rafka yang berjalan di sebelah Hakam

“Sepertinya.”