syhiraalifia

Jinan adalah anak bungsu dari dua bersaudara, ia memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Nathan. Menurut Jinan Nathan adalah kakak yang sangat baik kepadanya, Nathan selalu membelikannya sesuatu yang sangat berharga bagi Jinan. Namun berbeda dengan sang papa, entah apa yang membuat papanya benci kepadanya. Sejak Jinan kecil papanya tidak pernah memberikan nya perhatian, bahkan mengambil rapot sekolah nyapun selalu diambil oleh sang kakak. Jinan selalu bertanya kepada Nathan apa yang membuat papa benci kepadanya, tetapi Nathan tidak menjawabnya, Nathan selalu mengalihkan pembicaraan. Karena, Nathan tidak mau Jinan tau bahwa sang papa membenci adiknya karena sang adiklah yang membuat ibu mereka meninggal.

Sejujurnya Jinan tidak salah, karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Nathan juga paham betul mengenai hal itu. Namun, berbeda dengan sang papa yang masih belum bisa menerima keadaan. Nathan juga sudah berkali-kali berbicara dengan papanya untuk tidak membenci Jinan, tetapi papanya itu sangat keras kepala dan selalu menyalahkan Jinan.

Hari ini Jinan sangat senang karena sebentar lagi ulang tahun papanya, Jinan memutuskan untuk memberikan papanya itu kado tetapi Jinan bingung ia tidak tahu apa barang kesukaan papanya itu. Karena dari kecil, Jinan dengan Jeffrey tidak pernah menghabiskan waktu berdua padahal Jinan sangat menginginkan momen itu. Jeffrey lebih sering mengajak Nathan jalan-jalan ketimbang mengajak Jinan, Jeffrey juga tidak pernah membelikan Jinan barang-barang mewah, ataupun peralatan sekolah, Ia tidak peduli. Yang membelikan barang-barang itu hanyalah Nathan sang kakak.

Jinan kebingungan karena ia tidak tahu apa barang kesukaan papanya, Jinan memutuskan untuk menghampiri sang papa di ruangan kerjanya.

Kini, Jinan sudah sampai di ruangan papanya. Ia ragu untuk masuk karena takut papanya marah, Jinan berdiri di depan pintu selama beberapa menit. Lalu ketika ia hendak mengetuk, pintu itu terbuka menampakkan sang papa dengan wajah yang datar.

“Papa” Sapa Jinan sembari menggaruk kepalanya.

Jeffrey menatap Jinan datar “Ada apa berdiri di ruangan saya?” Tanyanya.

Jinan tersenyum kecil “Aku mau nanya sesuatu sama papa”

“Tanya apa? Cepat, saya tidak punya waktu banyak.” Ucap Jeffrey.

Jinan mulai berbicara “gini pah, papah kan sebentar lagi ulang tahun aku mau kasih kado untuk papah. Tapi aku bingung karena aku gatau apa kesukaan Papah.”

Jeffrey hanya berdeham “terus?”

“Jadi papah suka apa? Biar Jinan belikan.” lanjut Jinan.

Jeffrey berpikir sejenak “Hm kamu mau kasih saya kado kan? Saya hanya ingin kamu pergi dari hidup saya.” Ucap Jeffrey lalu pergi meninggalkan Jinan.

Nathan untuk Jinan

Papah aku juga anak papah

Hai geng ini syahira

“Haii”

Finally.

Hari ini Vano memutuskan untuk melihat Kayla ke rumah sakit, meskipun belum juga ada perkembangan, tapi Vano berharap kali ini istrinya itu bisa terbangun dari tidur panjangnya.

Vano memandikan dahulu putranya agar ketika bertemu Kayla Arsenio sudah wangi.

Vano menghampiri putranya itu yang sedang bermain mobil-mobilan seorang diri “Sayang anak Papa mandi dulu yuk, kan hari ini mau ketemu Mama.”

Arsenio menggeleng.

“Kok gitu? Bau loh kamu belum mandi dari pagi sayang, ayo mandi dulu.” Ucap Vano, masih dibalas gelengan oleng Arsenio.

“Sayang ayo nak mandi dulu.”

“Mama, Mama, Mama.” Ucap Arsenio sambil memakan mobil mainannya.

Vano panik dan langsung merebut mobil mainan itu dari tangan Arsenio “Nak jangan di makan kotor, iya hari ini kita ketemu Mama, makanya kamu harus mandi dulu ya.”

Akhirnya Arsenio mengangguk.

“Nah sekarang anak Papa udah wangi, yuk kita liat Mama.”

Vano mendudukkan putranya itu di kursi depan, lalu memasangkan seat belt agar Arsenio tidak terjatuh saat Vano sedang menyetir nanti, karena Arsenio sekarang sudah mulai aktif dan tidak bisa diam Vano saja sampe pusing melihat kelakuan putranya itu.

Setelah memasangkan seat belt, Vano segera menyalakan mesin mobilnya lalu berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Vano langsung berjalan menuju ruang tempat Kayla di rawat.

Akhirnya setelah beberapa menit berjalan Vano pun sampai di ruangan rawat Kayla, Vano membuka pintu ruangan itu perlahan, terlihat istrinya itu sedang tertidur lelap masih dengan posisi yang sama seperti beberapa Minggu yang lalu, Vano sedih karena belum ada perkembangan mengenai istrinya itu.

Vano berjalan menghampiri Kayla “Sayang, aku bawa Arsen kesini dia katanya kangen banget sama kamu.”

Kayla tetap saja tidak merespon omongan Vano, ia masih tertidur.

Lalu Arsen meminta Vano untuk mendekatkan dirinya dengan Kayla, Vano menurutinya dan menidurkan Arsen di sebelah Kayla. Arsen terlihat senang ia tertawa.

Tangan Arsen beralih memegang tangan Kayla, lalu memeluknya.

“Mama, Mama, Papa, Mama.” Ucap Arsen sembari menatap Vano.

Vano tersenyum sayu kepada putranya itu “Iya sayang itu Mama.”

Tak berapa lama, jari Kayla perlahan bergerak Vano tidak menyadarinya, lalu mata Kayla perlahan terbuka.

Vano yang sedang melihat handphone nya pun langsung kaget dan memeluk Kayla.

“Sayang, kamu bangun?” Ucap Vano langsung memeluk istrinya itu sembari menangis akhirnya setelah sekian lama ia menunggu, Kayla akhirnya sadar.

“Mas i-ini siapa?” Tanya Kayla melirik ke arah Arsen yang tertidur disampingnya.

Vano yang sedang menangis pun langsung mengelap air matanya “itu Arsenio anak kita sayang.”

“Arsenio?” Tanya Kayla bingung.

“Iya Arsenio aku kasih dia nama Arsenio putra Revano, bagus gak?” Balas Vano.

Kayla tersenyum “Bagus kok mas.”

Kayla mengusap rambut Arsen “Anak Mama, kamu sudah besar ya nak. Maaf Mama waktu itu gak ada di samping kamu, gak bisa rawat kamu, Mama bener-bener minta maaf nak.”

“Sayang kamu gak perlu minta maaf, Arsen pasti ngerti.”

“Mas pasti kamu kewalahan ya ngurusin anak kita? Maafin aku ya mas.”

Vano mengusap rambut Kayla lalu mencium keningnya “sayang nggak kok, justru aku seneng banget ngerawat Arsen, dia juga gak pernah rewel.”

“Makasih ya sayang karena kamu udah mau bangun, aku kangen banget sama kamu.” Sambung Vano langsung membawa Kayla dan Arsen kedalam pelukannya.

Rumah sakit.

Setelah mendapatkan chat dari Aksa Vano panik bukan kepalang, ia terus memikirkan keadaan Kayla di Jakarta sementara ia hari ini harus meeting dengan klien. Pilihan yang sulit bagi Vano.

Vano memutuskan untuk tidak menghadiri meeting kali ini dan memilih untuk pulang.

Vano segera pergi ke kamar hotel Silvia sekretarisnya untuk memberitahu bahwa ia tidak bisa menghadiri meeting.

Dengan langkah yang sangat cepat Vano menaiki tangga darurat untuk bisa sampai ke kamar Silvia karena jika memakai lift akan memperlambat waktu.

Sesampainya di kamar hotel Silvia Vano mengetuk pintu kamar itu berkali-kali awalnya tidak ada jawaban tetapi selang beberapa menit pintu kamar pun terbuka.

Silvia mulai membuka pintu kamarnya dan kaget ternyata yang mengetuk pintu sedari tadi itu bos nya.

“Maaf pak saya baru bangun, ada apa?” Tanya Silvia sembari menggosok matanya.

“Kamu ini dari tadi saya ketuk tidak ada respon, saya mau pulang istri saya melahirkan meeting tolong wakilkan sama kamu.” Jawab Vano dan langsung pergi meninggalkan kamar hotel Silvia.


Vano telah sampai di Jakarta dan langsung pergi menuju rumah sakit yang tadi Aksa bagikan lokasinya.

“Kenapa? Kenapa harus orang lain yang ada di deket Kayla disaat Kayla mau ngelahirin, bukan gue?” Batin Vano, karena ia sudah berkali-kali mewanti-wanti Kayla jika terjadi apa-apa kabari tetapi hari ini tidak ada satu pesan pun chat dari Kayla.

Sesampainya di rumah sakit, Vano berlari terburu-buru menuju ruang operasi tidak peduli orang lain menatapnya bagaimana.

Di depan ruang operasi sudah ada Aksa, bunda Kayla, Mamah Vano dan juga Papanya.

“Mah, Pah, gimana Kayla? Kenapa Mamah gak kasih tau Vano kalo Kayla mau ngelahirin kenapa Mah?” Ucap Vano suaranya bergetar karena sangat khawatir dengan Kayla.

Nita menepuk pundak Vano “Kayla lagi di tanganin dokter sayang, maaf Mamah gak kasih tau kamu. Mamah juga gak tau Kayla bakal ngelahirin secepat ini Mamah tadi ninggalin dia sebentar ke supermarket terus tiba-tiba Mamah dapet telfon dari temennya Kayla, Aksa.”

Vano tidak menjawab, ia hanya menunduk, Vano menyesal karena tidak ada di samping Kayla ketika anak mereka akan lahir.

Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi di ruangan operasi itu, Vano langsung berdiri sumringah ketika mendengar suara tangisan bayi itu.

Pintu ruangan operasi terbuka, menampakkan seorang dokter yang menangani Kayla.

“Mohon maaf, suaminya ibu Kayla yang mana ya?” Tanya dokter itu.

Vano langsung mengacungkan tangannya “saya dok.”

Dokter itu tersenyum semu kepada Vano “selamat ya pak, anak bapak telah lahir, laki-laki sehat, sempurna. Tetapi-” dokter itu menjeda ucapannya.

“Tapi apa dok?” Vano mengguncangkan pundak dokter itu.

“Ibu Kayla koma, sejak di bawa ke rumah sakit ibu Kayla dalam keadaan pingsan.”

Vano shock air matanya tidak bisa dibendung lagi, Vano menangis memeluk Mamanya.

“Ma...” Rintih Vano.

“Kamu yang sabar ya nak, Mamah yakin Kayla pasti bangun.” Ucap Nita menenangkan.

Sementara itu bunda Kayla yang mendengar ucapan dokter itu langsung pingsan untung saja Aksa berhasil menahannya.

“Sus bawa ibu itu ke IGD.” Ucap dokter.

“Baik dok.” Ucap suster itu dan segera membawa bunda Kayla ke IGD.

“Kayla sayang, maafin aku karena gak ada disamping kamu.” Ucap Vano lirih.

Gender reveal.

Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Kayla dan Vano, hari dimana mereka akan mengumumkan jenis kelamin anak mereka.

Kini Vano dan Kayla tengah bersiap-siap Kayla memakai pakaian berwarna pink sedangkan Vano berwarna biru.

Vano berjalan menghampiri Kayla “sayang kamu cantik banget.”

“Masa sih? orang aku gendut gini.”

“Astaga sayang kamu itu cantik, mau gendut, kurus, tinggi, pendek, kamu tetep cantik dimata aku.”

Kayla memukul lengan Vano pelan “Dih dasar buaya.”

“Aku bukan buaya, beneran loh sayang kamu itu cantik banget.”

“Kamu juga ganteng.” Ucap Kayla pelan sangat pelan.

Vano pura-pura tidak mendengar “Apa sayang? Coba bilang sekali lagi.”

“Gak mau, udah gak mood.”

Vano mengerucutkan bibirnya “Yah sayang gitu ih.”

“Diem mas, diem. Jangan gemes-gemes nanti aku cubit.”

“Yaudah cubit aja nih.”

Disaat Vano dengan Kayla sedang berduaan, tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Ceklek

“Eh Mama, Papah.” Ucap Vano dan Kayla bersamaan.

“Iya nih, duh Mamah udah gak sabar pengen tau cucu Mamah perempuan atau laki-laki ya?”

Andika ikut bergabung bersama mereka “Papah juga nih.”

“Haha sabar ya Mah, Pah.”

“Vano kamu apa kabar? Kamu ini sombong banget jarang chat Mamah, bahkan main ke rumah Mamah pun gak pernah.” Tanya Nita.

“Hehe maaf ya Mah, Vano sibuk banget.” Balas Vano lalu merangkul pundak Kayla.

Kayla menatap Vano tajam “Hilih sibuk, sibuk, alesan dia Mah. Padahal di rumah mas Vano cuma tidur, nonton, bantuin aku beres-beres gak ada sibuk-sibuknya tuh.”

“Kamu ini ya banyak alesan.” Nita memukul lengan Vano lalu duduk di samping Andika.

“Aduh Mah sakit.” Rintih Vano.

“Sakit, sakit, orang Mamah mukulnya pelan.” Balas Nita.

“Makanya mas, kamu tuh jangan gitu sama orang tua, jangan sombong.”

“Iya sayang maaf.”


Acara pun dimulai, tidak banyak tamu yang datang hanya keluarga Kayla, Vano, dan teman-temannya.

Anika dan Yunita berjalan menghampiri Kayla.

“Kayla lo apa kabar? Wih perut lo makin gede aja nih.” Ucap Anika.

“Baik gue baik kok, kalian berdua apa kabar?”

“Gue baik Kay, si Anika juga baik.” Jawab Yunita.

Disaat Kayla sedang berbincang-bincang dengan Anika dan Yunita, teman-teman Vano datang beramai-ramai.

“Wei bro, apa kabar?” Tanya Harsa menepuk-nepuk pundak Vano.

“Baik, baik, gue baik.” Balas Vano.

Lalu Rendi pun datang, ia terlambat karena mobilnya tadi mogok.

“Eh Van, sorry nih gue telat.” Ucap Rendi.

“Gapapa kali, lagian acaranya belum mulai.”

Rendi hanya mengangguk, lalu ia melihat ke arah Kayla, dan Rendi terkejut ternyata pacarnya ada disini juga, ya pacarnya Yunita. Yunita juga kaget lalu berjalan menghampiri Rendi.

“Sayang, kok kamu ada disini?” Tanya Yunita kaget.

“Aku di undang sama Vano sayang.” Balas Rendi yang tak kalah kaget.

“Jadi, Rendi itu pacar lo?” Tanya Kayla bingung.

“Iya Kay.” Jawab Yunita.

“Wah dunia sempit banget ya, gue gak nyangka.” Ucap Kayla.

“Lo kenapa sih gak kasih tau gue kalo lo pacarnya Rendi? Temen suami gue?” Lanjutnya.

“Ya maaf, gue gak sempet cerita ke kalian berdua.”

“Yaudah-yaudah gak apa-apa.” Ucap Kayla.

Acara telah dimulai dan kini Vano dan Kayla telah berdiri di depan semua tamu, untuk mengumumkan jenis kelamin anak mereka.

“Baik Pak Revano, ibu Kayla silahkan.” Ucap MC.

Vano dengan Kayla berbarengan mengucapkan jenis kelamin bayi mereka.

“It's a boy!” Ucap Revano dan Kayla bersamaan.

Semua tamu bersorak gembira dan bertepuk tangan.

“Wah congrast broo.” Teriak Harsa.

Vano dan Kayla hanya tersenyum lalu Vano menatap Kayla mencium keningnya, merangkul pundak Kayla serta memeluk Kayla.

“Wah selamat ya Pak Revano dan ibu Kayla, bayi mereka ternyata berjenis kelamin laki-laki.” Ucap MC.

Dan disaat Vano tengah mencium bibir Kayla tiba-tiba Harsa memotongnya.

“Woi gue laper nih.” Teriak Harsa.

Seketika ciuman itu terhenti.

Rendi menatap tajam kearah Harsa “Lo bisa diem gak sih? Ganggu mereka mulu.”

“Wah anjing lo Harsa.” Batin Vano.

Tendangan kedua.

Cw // kissing

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan cepat menuju kamar, dengan perasaan gelisah karena takut Kayla marah padanya dan mendiaminya seperti waktu itu.

Sesampainya di depan kamar, Vano menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya Vano terus melakukan hal itu sebanyak 3x lalu membuka pintu kamarnya pelan.

Disaat Vano sedang menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Kayla memeluknya dari belakang sambil membawa buket bunga yang semalam Vano berikan.

Vano kaget tetapi juga senang karena istrinya itu tidak marah padanya, pikirannya ternyata salah.

“Mas makasih banyakkkkkk.” Ucap Kayla.

“Iya sama-sama sayang, maafin aku ya.”

Kayla melepaskan pelukannya “Iya gak apa-apa mas, aku ngerti.”

“Gimana kamu suka sama bunganya?” Tanya Vano sedikit khawatir, takut Kayla tidak menyukai bunga pemberian nya.

“Sukaa banget, i love you sayang.” Ucap Kayla, lalu mencium bibir Vano sekilas.

Vano terkejut, lalu menarik Kayla dan mempersatukan bibir mereka. Melumatnya dengan penuh kasih sayang begitupula sebaliknya dan disaat ciuman mereka semakin panas, tiba-tiba Kayla mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.

Kayla melepaskan tautan bibir mereka “Aw, aw, sebentar mas.”

Vano langsung menidurkan Kayla di atas ranjang.

“Mas sakit.” Ucap Kayla.

Vano ikut berbaring di samping Kayla, lalu menyeimbangkan tubuhnya dengan perut Kayla, mengelusnya dengan penuh kasih sayang, lalu Vano berusaha menenangkan anaknya itu.

“Sayangnya papa, lagi apa nak? Sampe-sampe kamu ganggu ciuman kami tadi, mama kamu kesakitan nih gara-gara kamu aktif terus dari tadi.”

“Mas dedek bayinya udah gak nendang lagi, kayaknya dia dengerin omongan kamu barusan. Wah hebat banget langsung nurut sama papanya, giliran sama aku dia gak berenti nendangnya huffft.”

“Haha syukur deh sayang, kamu udah gak sakit lagi kan?” Tanya Vano, kini posisi nya suda seimbang dengan Kayla.

“Iya.”

“Ayok kita lanjut yang tadi.”

“Iya sayang.” Jawab Kayla pasrah.

Dan pagi itu mereka melanjutkan adegan panas yang tadi sempat terhenti karena tendangan bayi mereka.

Tendangan kedua.

Cw// kissing

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan cepat menuju kamar, dengan perasaan gelisah karena takut Kayla marah padanya dan mendiaminya seperti waktu itu.

Sesampainya di depan kamar, Vano menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya Vano terus melakukan hal itu sebanyak 3x lalu membuka pintu kamarnya pelan.

Disaat Vano sedang menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Kayla memeluknya dari belakang sambil membawa buket bunga yang semalam Vano berikan.

Vano kaget tetapi juga senang karena istrinya itu tidak marah padanya, pikirannya ternyata salah.

“Mas makasih banyakkkkkk.” Ucap Kayla.

“Iya sama-sama sayang, maafin aku ya.”

Kayla melepaskan pelukannya “Iya gak apa-apa mas, aku ngerti.”

“Gimana kamu suka sama bunganya?” Tanya Vano sedikit khawatir, takut Kayla tidak menyukai bunga pemberian nya.

“Sukaa banget, i love you sayang.” Ucap Kayla, lalu mencium bibir Vano sekilas.

Vano terkejut, lalu menarik Kayla dan mempersatukan bibir mereka. Melumatnya dengan penuh kasih sayang begitupula sebaliknya dan disaat ciuman mereka semakin panas, tiba-tiba Kayla mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.

Kayla melepaskan tautan bibir mereka “Aw, aw, sebentar mas.”

Vano langsung menidurkan Kayla di atas ranjang.

“Mas sakit.” Ucap Kayla.

Vano ikut berbaring di samping Kayla, lalu menyeimbangkan tubuhnya dengan perut Kayla, mengelusnya dengan penuh kasih sayang, lalu Vano berusaha menenangkan anaknya itu.

“Sayangnya papa, lagi apa nak? Sampe-sampe kamu ganggu ciuman kami tadi, mama kamu kesakitan nih gara-gara kamu aktif terus dari tadi.”

“Mas dedek bayinya udah gak nendang lagi, kayaknya dia dengerin omongan kamu barusan. Wah hebat banget langsung nurut sama papanya, giliran sama aku dia gak berenti nendangnya huffft.”

“Haha syukur deh sayang, kamu udah gak sakit lagi kan?” Tanya Vano, kini posisi nya suda seimbang dengan Kayla.

“Iya.”

“Ayok kita lanjut yang tadi.”

“Iya sayang.” Jawab Kayla pasrah.

Dan pagi itu mereka melanjutkan adegan panas yang tadi sempat terhenti karena tendangan bayi mereka.

Vano mematikan handphone nya, dan langsung berjalan cepat menuju kamar, dengan perasaan gelisah karena takut Kayla marah padanya dan mendiaminya seperti waktu itu.

Sesampainya di depan kamar, Vano menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya Vano terus melakukan hal itu sebanyak 3x lalu membuka pintu kamarnya pelan.

Disaat Vano sedang menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Kayla memeluknya dari belakang sambil membawa buket bunga yang semalam Vano berikan.

Vano kaget tetapi juga senang karena istrinya itu tidak marah padanya, pikirannya ternyata salah.

“Mas makasih banyakkkkkk.” Ucap Kayla.

“Iya sama-sama sayang, maafin aku ya.”

Kayla melepaskan pelukannya “Iya gak apa-apa mas, aku ngerti.”

“Gimana kamu suka sama bunganya?” Tanya Vano sedikit khawatir, takut Kayla tidak menyukai bunga pemberian nya.

“Sukaa banget, i love you sayang.” Ucap Kayla, lalu mencium bibir Vano sekilas.

Vano terkejut, lalu menarik Kayla dan mempersatukan bibir mereka. Melumatnya dengan penuh kasih sayang begitupula sebaliknya dan disaat ciuman mereka semakin panas perut Kayla tiba-ti da