moonsun

“Raka,” panggil Sagara setelah meletakkan ponselnya di nakas.

Raka yang tengah duduk di kasurnya dengan laptop di pangkuan menoleh dan menatapnya bertanya, “kenapa?”

“Mau ngobrol.”

Perkataan singkat itu cukup membuat Raka paham maksud dari kekasihnya, maka dengan segera Raka menyimpan dokumen yang tengah ia perkisa dan mematikan laptopnya. Setelahnya ia bergeser memberi ruang untuk Sagara duduk di sebelahnya.

“Nah udah, mau ngobrolin apa?”

“Tapi, janji jangan marah?”

“Tergantung.”

“Raka ih!”

Raka tertawa lagi, “iya mbul janji.”

“Aku kadang mikir aku pantes enggak sih sama kamu─nanti dulu biar aku selesai cerita─kayak lihat kamu, Kak, kamu sempurna sedangkan aku? Apa sih cuma anak kuliahan yang asal usulnya juga enggak jelas.” Manik bulatnya bertatapan dengan manik Raka.

Seulas senyum tipis ia berikan sebelum kembali bersuara, “aku selalu nyusahin kamu sama permasalahanku, permasalahan keluarga aku, semua. Kamu itu pacarku atau apa masa aku buat susah terus, kamu dan sifat baik kamu. Keluarga kamu juga baik banget sama aku, hal itu terus buat aku mikir gimana cara bales kebaikan kalian? Pantes enggak aku nerima itu semua.” Dapat ia rasakan tangan itu mengusap air matanya, setelahnya mengelus pelan pipi gembul Sagara.

“Aku selalu mikirin ini mungkin sepele tapi aku selalu kepikiran sama kita, sama hubungan kita. Aku tahu kamu enggak mungkin mikir tentang aku serendah itu, tapi pikiran jelek ini selalu hadir dan aku kesel sendiri.” Sagara membawa kepalanya mendekat ke arah Raka, hingga kini hidung keduanya bersentuhan, “Raka, am i deserve to be loved by you?”

Dirasa ini waktunya bersuara Raka dengan cepat mengangguk, matanya masih tetap menatap Sagara seolah pemuda itu lah pusat dunianya. Ya, kenyataannya begitu Sagara adalah pusat dunianya, tempat Raka mencurahkan kasih sayang untuk semestanya, dunia yang amat Raka syukuri eksistensinya di hidupnya.

Dunianya memang tak seluas yang lain, mungkin juga tak seindah seperti mereka, dunianya juga memiliki banyak luka dan kekurangan, tetapi dunianya ini lah yang selalu ia pinta keberadaannya, yang selalu mau ia lihat setiap harinya. Raka hanya mau Sagara si pusat dunianya.

Dan Raka sanggup untuk terus mengeluarkan pujian akan betapa bersyukurnya ia memiliki Sagara, akan betapa ia menyayangi pemuda itu dan lainnya. Raka mampu, supaya kesayangannya itu tak lagi rendah diri, supaya Sagaranya tahu kalau ada Raka yang memujanya sebegitu dalam.

“Kamu pantas nerima itu semua, kasih sayang dari mama, papa, kakak dan aku. Kamu pantas, sayang, jangan bilang kamu enggak pantas dapatin itu semua. Saga, kamu enggak perlu mikir untuk balas itu semua, kita semua lakuin itu karena kita ingin, bukan berharap untuk dapat imbal baliknya. Karena kita semua sayang kamu, aku sayang kamu.” Satu kecupan di dahi ia berikan, “aku bukan si sempurna, Sa, kamu yang lengkapin kurangnya aku. Kamu yang ajarin aku supaya aku jalanin hidup lebih baik lagi, semuanya karena kamu.”

“Yang katanya cuma anak kuliahan yang asal usulnya enggak jelas ini, mampu buat Raka jadi pribadi yang lebih baik kayak sekarang.”

Raka ingat betul bagaimana sosok Sagara mampu merubah hidupnya telak.

“Susah emang ngendaliin pemikiran buruk itu enggak apa, Sa, jangan lupa dibagi ke aku ya? Biar kamu enggak mikirin sendirian.”

Katakan pada Sagara bagaimana ia tak bersyukur memiliki Raka di sisinya?

Maka dengan wajah basah akan air mata ia berbisik lirih, “Raka, makasih banyak. Saga sayang Raka.”

“Sama-sama, sayang. Raka juga sayang Saga.”

“Aduh!” Raka mengaduh sakit ketika merasakan pukulan di lengannya, pelakunya sudah jelas Sagara. Pemuda itu kini menatapnya galak dengan bibir cemberut.

“Jangan gitu gue malah mau nyium lo jadinya, Sa,” kata Raka sembari menutup wajah Sagara dengan tangannya.

“Apa sih?” omelnya sembari menyingkirkan tangan Raka.

Raka hanya mengangkat bahu, kemudian meraih sebelah tangan Sagara dan menggenggamnya, “mau ke mana lagi?”

“Makan?”

“Ayo kita makan,” balas Raka.

“Di rumah aja deh, Ka,” pinta Sagara.

“Mau masak sendiri?”

Sagara mengangguk lagi, entah lah ia kurang menyukai makan di tempat ramai seperti ini. Sagara lebih menyukai makan berdua dengan Raka di rumahnya, dengan begitu mereka juga bisa bebas berbicara tanpa takut terdengar yang lain.


“Selamat makan!” seru Sagara.

“Selamat makan, mbul,” sahut Raka yang langsung menyantap nasi dan lauk yang dimasak oleh Sagara tadi.

Setelahnya hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

“Eh bentar mau ambil camilan dulu,” kata Sagara setelah menyelesaikan makanannya.

“Masih makan lagi?” Raka menatapnya takjub.

Sebenarnya tak heran sih kalau Sagara selalu mencari camilan setelah acara makannya selesai, hanya Raka terkadang kagum dengan porsi makan sang kekasih. Tapi, enggak apa, biar pipinya semakin gembul dan enak dicubiti pikirnya.

“Camilan doang, Raka!”

“Iya iya camilan doang,” Raka tertawa mendengar yang lebih muda menyerukan protes.

Ia kemudian menepuk pahanya, “sini,” sembari menarik Sagara untuk duduk di pangkuannya, Sagara hanya menurut dan duduk dengan tenang di pangkuan Raka sembari mengigit kue cokelatnya.

“Makan yang banyak biar makin mbul,” katanya seraya mengelus pipi gembil itu.

Entah lah beberapa hari ini Sagara tengah sensitif, mudah menangis akan sesuatu. Biasanya perkataan Raka seperti itu tak akan membuatnya mau menangis, tetapi malam ini berbeda. Ia mati-matian menahan air matanya, supaya Raka tak khawatir.

“M-males nanti digigitin lo terus,” katanya dengan suara parau.

Raka tahu ada hal yang tengah memenuhi pikiran sang kekasih dan ia juga tahu Sagara belum mau menceritakannya, maka dia hanya diam dan mengelus pipi gembul itu. Membubuhkan kecup sesekali di sana.

“Ih jangan cium-cium terus,” omel Sagara.

“Lo lucu kayak kucing kecil.”

“Raka,” rengeknya.

Raka tertawa, kedua tangannya menangkup pipi Sagara menariknya mendekat dan mencium bibir kemerahan itu sekilas.

“Rasa cokelat,” katanya setelah mencuri satu kecupan dari Sagara.

Setelah sadar Sagara meletakan toples berisi kue miliknya di meja dan memukul pundak Raka berkali-kali.

“Nyebelin banget!”

“Dih kucing kecilnya jadi galak lagi.” Ia menahan tangan Sagara yang akan memukulnya lagi dan menarik pemuda itu kemudian, ia peluk.

“Jangan galak-galak,” kata Raka dengan tangan mengelus punggung Sagara, “tapi, enggak apa. Marah-marah atau ketawa lagi kayak biasa asal jangan sedih atau nangis, gue sedih lihatnya.”

“Gue tuh tahu kalau lo lagi kepikiran sesuatu, gue sama lo bukan baru sehari atau dua hari, Sa, tapi gue juga tahu lo belum mau cerita ke gue ya enggak masalah, biasanya juga gitu 'kan? tanpa kepaksa lo pasti cerita ke gue.”

“Yang harus lo tahu gue selalu di sini sama lo, kalau lo lagi sedih, marah atau kecewa larinya ke gue aja ya? nanti gue peluk yang lama. Jangan lari ke mana-mana, nanti gue susah nyarinya.”

Raka ini ... benar-benar sesayang itu ya sama Sagara?

“Akhirnya selesai!” seruan itu terdengar kala Sagara berhasil menyelesaikan revisinya, diikuti Reza yang langsung merebahkan diri di lantai kamar Cahaya.

“Kapan bimbingan lagi kalian?” tanya Cahaya yang tengah mematikan laptopnya.

“Tiga hari lagi,” sahut Reza.

“Besok,” Sagara menjawab dengan raut masam.

Di antara ketiganya dosen pembimbingnya lah yang paling susah dan teliti, makanya Sagara selalu mengeluh ketika banyaknya revisi yang menanti.

Reza menyodorkan roti cokelat ke Sagara, “Ayah lo masih dateng lagi?” tanya pemuda itu. Sagara yang tengah mengunyah roti cokelatnya berhenti sejenak, setelahnya tertawa kecil.

“Dia mah balik kalau butuh uang aja, Za, kalau enggak mah mana inget ada gue, anaknya,” Sagara berujar santai seolah itu sudah biasa baginya.

Nyatanya memang ia sudah paham dengan kelakuan Ayahnya. Datang disaat ia butuh uang kalau tidak dapat pukulan diberikan ke Sagara, pergi dan tak pernah kembali kalau sudah memiliki uang. Seolah Sagara hanya tempat meminta uang dan dibuang ketika tak dibutuhkan. Setidak berharga itu presensinya di hidup kedua orang tuanya.

Sagara Sagara, kelahiranmu saja sudah menjadi kesalahan, kehadiranmu tak pernah diinginkan oleh mereka, karena kamu mereka terpaksa berada di satu rumah yang sama. Semua itu karena dirimu. Seharusnya ia tak pernah ada, jadi orang tuanya tidak kesulitan dan tidak saling membenci. Kalau ia tak ada hidup keduanya akan lebih baik bukan? Tidak perlu bersusah payah untuk menghidupinya.

Tetapi, apa Sagara pernah minta untuk dilahirkan? Tidak. Sagara tidak pernah meminta, kalau kehadirannya malah menjadi beban bagi orang tuanya, lebih baik ia tak usah dilahirkan, bukan?

Ketika bayi yang baru lahir disambut penuh suka cita, berbeda dengan dirinya. Terkadang ia selalu bertanya bagaimana rasanya dilimpahi kasih sayang oleh kedua orang tuanya? Pasti rasanya bahagia sekali bukan?

Entahlah ia hanya berandai-andai.

“Udah lari ke mana aja tuh pikirannya?” Cahaya menginterupsi lamunan panjang Sagara.

“Hah?”

“Jauh banget larinya pikiran lo, Cahaya sampai bisa masak mie untuk kita,” Reza menyerahkan semangkuk mie ke Sagara.

“Lo tuh kebiasaan deh, lari ke mana-mana,” keluh Cahaya.

Sagara tertawa pelan sembari memakan mie yang dibuat Cahaya tadi, kemudian berkata, “ya gitu deh.”

Cahaya menatap Sagara serius, “Bunda lo ... pernah ketemuin lo?” tanya gadis itu hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Sagara terdiam, matanya menatap mangkuk mie di genggaman. Bundanya ya ... Sagara pun tak tahu kabar wanita yang melahirkannya itu.

“Dia mungkin udah lupa kalau ada anak yang nungguin dia, Ay,” balas Sagara.

Hal itu membuat Cahaya dan Reza saling tatap dan kemudian memilih diam, berpura-pura fokus pada semangkuk mie digenggaman.

warning: omegaverse , contain male pregnant alpha!mil with omega!hoon

enjoy!

Entah sudah yang keberapa kali Jaehyun menghela napas hari ini. Wajah yang biasa terlihat datar itu kini bercampur dengan raut khawatir, yang mana sangat jarang sekali ia tunjukkan. Suasana hatinya sedang tak baik, itu yang dipikirkan orang lain ketika melihat wajah Jaehyun hari itu.

Sampai tepukan di pundak membuat Jaehyun tersadar dari lamunannya. Mina─sepupunya─menatapnya bingung, tangan wanita itu menyodorokan segelas kopi untuknya dan langsung Jaehyun terima dengan baik.

“Kenapa? Ada yang ganggu pikiranmu, Je?”

Jaehyun meringis kecil, menggaruk tengkuknya canggung. Jaehyun jarang sekali kehilangan fokus disaat jam kerja seperti ini, maka ketika hal itu terjadi ia merasa kesal pada dirinya sendiri.

“Younghoon, ya?” Tebak Mina.

Kali ini Jaehyun mengangguk, memang yang membuatnya tak fokus adalah omeganya. Hampir seminggu tak bertemu membuatnya rindu dan juga khawatir, tadinya Jaehyun tak mau ikut dan minta Juyeon─adiknya─yang mewakilkan dirinya tetapi, tak bisa Jaehyun juga harus ikut ke sana.

“Khawatir, ya?” Mina tersenyum lagi ketika anggukan ia terima, “wajar kok, semua Alpha pasti khawatir meninggalkan omeganya sendirian. Tapi, dia baik-baik aja 'kan?”

“Dia sama bayi kami baik-baik aja, Min, cuma ya itu gue khawatir,” dan kangen juga sih, Jaehyun melanjutkan dalam hati. “Mana lo tahu sendiri, dia enggak bisa diam.”

Iya, saat ini Jaehyun dan Younghoon tengah menantikan kehadiran anak pertama mereka. Makanya Jaehyun khawatir setengah mati ketika harus berjauhan dengan Younghoon.

Mina menepuk pundak kokoh si alpha, “jangan terlalu ngekang dia, Je, enggak baik juga. Younghoon pasti tahu mana yang baik dan enggak untuk dia dan bayi kalian,” Mina menjeda sejenak, “dia juga terbiasa sibuk di resto dan ketika kamu suruh diam di rumah pasti aneh, enggak terbiasa dia-nya.”

“Iya gue paham, cuma khawatir aja dia kecapekan.”

Ya, Jaehyun cukup paham dengan kesibukan Younghoon sebelum menikah dengannya. Memilik restoran dengan cabang yang lumayan banyak, membuat Younghoon tak kalah sibuk dari Jaehyun. Namun, setelah hamil dia perlahan mengurangi dan hanya fokus di satu restoran saja. Jaehyun juga cukup paham pengorbanan yang Younghoon beri untuk dirinya dan calon buah hati mereka. Tetapi hebatnya suaminya itu tak pernah mengeluh, setiap pulang kantor Jaehyun selalu disuguhi Younghoon dan senyum manisnya.

“Jadwal kamu udah aku kosongin sampai si kecil lahir ya, paling sesekali kamu ke kantor untuk rapat, tapi aku usahain supaya kamu bisa melalui online aja.”

Jaehyun tersenyum, “sip, makasih ya, Min. Gue duluan ya titip salam untuk Jihyo sama Jihan.”

“Hati-hati, Je.”

Ah, Jaehyun tak sabar untuk kembali ke rumah.


Jaehyun membuka pintu rumah dengan tak sabaran, setelahnya ia bergegas naik ke lantai dua tempat kamarnya dan Younghoon berada. Sepi sekali, biasa terdengar suara lantunan lagu yang selalu Younghoon putar. Menghilangkan rasa bosan katanya ketika ditanya Jaehyun.

“Hoon,” panggil Jaehyun. Ia kemudian terdiam dan berjalan pelan ketika menemukan Younghoonnya tengah tertidur, dengan tumpukan baju milik Jaehyun bahkan Younghoon kini mengenakan kemeja miliknya juga. Ah, pemuda Kim itu juga rindu padanya ya.

Jaehyun duduk perlahan di tepi kasur, tangannya ia bawa untuk merapikan rambut Younghoon yang menutupi matanya. Ia menunduk dan mengecup kening kekasih hatinya.

Sepertinya kegiatan Jaehyun tadi mengusik tidur siang Younghoon, terbukti dari mata bulat itu perlahan terbuka dan bibirnya tanpa sadar mengeluarkan rengekan kecil.

“Hng?”

“Keganggu, ya? Maaf udah yuk tidur lagi,” Kata Jaehyun dengan tangan yang tetap mengelus surai hitam itu.

“Je?”

“Iya, sayang.”

Younghoon bangun perlahan dibantu oleh Jaehyun. Dengan cepat tangannya meraih bantal untuk dijadikan sandaran oleh si omega.

“Kok enggak ngabarin kalau udah pulang?” tanya Younghoon yang kini menyamankan diri dipelukan sang alpha.

“Ngabarin kok, tapi enggak ada balesan dari kamu eh ternyata tidur.” Tangannya ia bawa ke perut buncit Younghoon, di sana ada jagoan kecilnya. Yang sebentar lagi akan menyapa dunia, yang sebentar lagi akan meramaikan rumah mereka.

Jaehyun menunduk menciumi perut buncit itu kemudian berceloteh tentang apapun, mengajak jagoan mereka untuk mengobrol. Hal itu selalu dilakukan oleh Jaehyun. Sementara Younghoon tersenyum dan mengelus surai hitam itu dengan sayang.

“Nah sekarang waktunya Papa bebersih terus tidur, ya,” kata Younghoon.

“Oke bentar ya sayang-sayangnya papa.”


Menginjak bulan kesembilan Younghoon sudah mulai merasakan pergerakannya terbatas, susah tidur juga sudah mulai ia rasakan. Younghoon juga merasa mudah lelah, kakinya sering membengkak ketika ia berdiri terlalu lama. Untuk berjalan pun terkadang harus dibantu oleh Jaehyun.

Seperti hari ini, jam sudah menujukkan pukul dua pagi namun Younghoon masih terjaga, bayi dikandungannya seakan tak mau kalau Younghoon tertidur. Ingin menangis rasanya, ia mengantuk sampai rasanya ia ingin membangunkan Jaehyun tetapi, urung dilakukan karena suaminya itu pasti lelah.

Asik dengan pemikirannya sendiri, Younghoon dikagetkan dengan elusan di perut buncitnya. Jaehyun terbangun, ia menatapnya penuh rasa sesal. Ini pasti karena Younghoon banyak bergerak.

“Enggak bisa tidur?” Tanya Jaehyun dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Younghoon mengangguk, “maaf ya aku bangunin kamu,” sahutnya.

“Ngapain minta maaf? Kenapa enggak bangunin aku kalau enggak bisa tidur?” Jaehyun menarik tubuh Younghoon agar semakin masuk kepelukannya, tangan kanannya dijadikan bantal untuk Younghoon.

Jemarinya mengelus lembut perut buncit suaminya kemudian berbisik, “adek tidur yuk? Kasian lho Papi ngantuk, mainnya besok lagi ya, sayang?” Jaehyun menunduk dan mengecup kening Younghoon penuh sayang.

“Tidur ya, aku tungguin sampai kamu tidur.”

Younghoon mengangguk kemudian memejamkan matanya. Jaehyun tersenyum begitu Younghoon tertidur, ia tahu Younghoon sudah mengantuk terlihat dari matanya yang memerah. Namun, sepertinya jagoan kecil mereka belum mau tidur, sudah tak sabar mau keluar dan menyapa dunia nampaknya.

Hal itu hanya bertahan lima jam, saat Jaehyun kembali merasakan pergerakan tak nyaman dari Younghoon. Tangan omeganya itu bahkan mencengkram erat lengannya disertai ringisan. Jaehyun langsung terbangun guna melihat keadaan suaminya.

Peluh membanjiri kening, membuat rambut hitam Younghoon menjadi lepek.

“Sayang?” Tangannya menepuk pipi Younghoon. “Kena─fuck, Hoon, bangun ya kita ke rumah sakit sekarang.” Jaehyun dengan tergesa bangun dan mengambil tas berisi baju Younghoon yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari, mengambil ponsel dan kunci mobil.

“Je, sakit,” rengeknya.

Tangannya tak berhenti meremat lengan Jaehyun.

“Iya, tahan ya, sayang. Sebentar lagi sampai.”

Waktu terasa berjalan lambat pagi itu, mendebarkan dan haru bercampur menjadi satu. Semua perasaan itu silih berganti menghampiri keduanya yang tengah menggenggam jemari satu sama lain; mencari penguat akan perasaan yang berlebih. Rasanya haru dan hangat hingga dada keduanya terasa sesak dan penuh.

Tangannya saling bertaut memberi penguatan satu sama lain. Tangis ikut andil mewarnai hari itu, Jaehyun mati-matian menahan tangisnya. Setidaknya dia harus terlihat kuat untuk Younghoon yang tengah berjuang di sana.

Kecupan, bisikan semangat dan elusan selalu ia beri untuk Younghoonnya. Wajah penuh peluh itu ia tatap terus, seakan kalau ia menoleh sedikitpun wajah yang menjadi candunya itu akan hilang.

Hari ini menjadi babak baru bagi kehidupan keduanya, hari ini ada satu lagi malaikat kecil yang akan melengkapi bahagia keduanya. Malaikat kecil yang selalu mereka nanti hadirnya dan hari ini adalah harinya.

Tiap denting jam yang berbunyi membuat jantungnya berdegub kencang, ia terus merapalkan doa untuk sang terkasih. Tangannya ia biarkan digigit kencang oleh Younghoon, berdarah atau terluka itu urusan nanti, yang menjadi fokusnya kini adalah Younghoon dan bayi mereka. Ia terus membisikan kata sayang dan cinta untuk omeganya, untuk Younghoonnya.

Hingga penantian panjang itu terbayarkan dengan tangis kencang malaikat kecil mereka. Si kecil hadir siap menemani mereka untuk memulai langkah baru dalam kehidupan keduanya. Tangis si kecil tadi menjadi penanda bahwa ada nyawa baru yang harus mereka jaga dan limpahi kasih sayang, bahwa ada satu lagi nyawa yang dititipkan Sang Pencipta pada mereka.

“Makasih, Sayang,” bisik Jaehyun disertai kecupan di kening.

Air mata bahkan sudah mengaliri pipi si alpha, air mata yang sedari tadi dia tahan tumpah jua ketika bayi kecil itu menangis. Jaehyun bahagia dan ini sudah lebih dari cukup.

Kini tanggung jawabnya bertambah satu dan Jaehyun tak pernah menyesal akan hal itu.


“Nu, sini dulu pakai bajunya,” suara Younghoon memecah keheningan rumah itu, disertai tawa dari si kecil yang kini sudah tiga tahun usianya.

Si kecil yang dulu masih harus digendong kemanapun ia pergi, kini sudah lincah berlari mengelilingi rumah.

“Ndak! Mau Papa!”

Mau Papa adalah hal yang terus diucapkan oleh Sunwoo sedari tadi pagi.

“Iya, nanti telepon Papa, tapi Sunwoo pakai baju dulu dong. Masa mau nelepon Papa enggak pakai baju?”

Bibir tebal itu cemberut, matanya menatap Younghoon berkaca-kaca.

“Aaaa mau Papa!”

“Eh kok nangis,” Younghoon menghampiri Sunwoo, “mau peluk?” Ketika Sunwoo mengangguk Younghoon segera meraih Sunwoo kepelukannya.

“Nunu, kangen Papa?”

Sunwoo mengangguk pelan, wajahnya ia sembunyikan di pundak Papinya dan tangan kecilnya memeluk Younghoon erat.

Astaga lucunya.

Kalau dekat ribut terus, kalau jauh kangen. Itulah dinamika hubungan papa dan anak ini, Sunwoo yang selalu jadi korban kejahilan Jaehyun, makanya ia selalu kesal dengan sang Papa. Tapi, ya kalau berjauhan seperti ini Sunwoo selalu uring-uringan dan rewel seperti sekarang.

“Kita telepon Papa, ya? Atau Nunu masih mau nangis dulu?”

“Mau telepon sekarang, boleh?”

Younghoon tersenyum, “boleh dong, ayo ke kamar Papi. Kita telepon Papa.”

Ketika panggilan itu tersambung layar ponsel Younghoon menampilkan belahan jiwanya di sana, masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuh. Hal itu membuat Younghoon melengkungkan bibir ke bawah, namun dengan cepat ia hilangkan.

“Halo, Sayang, kenapa?” Jaehyun bertanya dengan mata yang masih fokus pada berkas di tangan.

“Lagi sibuk ya?”

“Dikit lagi selesai kok.”

Younghoon mengangguk ia kemudian menoleh dan menatap sang anak yang kini sembunyi di lengannya. Lucu sekali.

“Ini ada yang kangen Papa tapi, malu mau bilang,” kata Younghoon sembari menyentuh pelan pipi gembul Sunwoo dengan telunjuknya, membuat anaknya mengeluarkan rengekan kecil.

Jaehyun berhenti sejenak, meletakkan pena dan berkasnya di meja. Ia kini memfokuskan pandangan pada layar ponselnya.

“Iya? siapa nih yang kangen Papa? kok enggak keliatan ya,” ledek Jaehyun.

“Hayo siapa tadi nangis karena kangen dan enggak berhenti bilang kangen Papa,” Younghoon semakin meledek Sunwoo yang pipinya kini berhias merah samar. “Anaknya malu nih, Pa.”

“Ih,” rengek si kecil, membuat kedua orang tuanya tertawa dan sibuk menahan rasa gemas.

“Nunu kangen Papa ya?” tanya Jaehyun.

Dengan bibir cemberut Sunwoo menggeleng dan berujar, “enggak!” Ah, jagoan kecilnya itu gengsian dan malu mengakui kalau ia rindu Papanya.

Maka Jaehyun tertawa dan menatap si kecil meledek, “oh kalau enggak kangen, Papa enggak pulang deh 'kan Nunu enggak kangen Papa,” katanya dengan nada sedih yang dibuat-buat.

“Hayo Papa enggak pulang tuh,” Younghoon ikutan meledek sang anak.

Membuat anak tiga tahun itu menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca, nampak siap menumpahkan tangis. Jemari kecilnya menggengam erat jemari Younghoon.

“Jangan,” anak itu diam sejenak, “Papa ... pulang. Nu, kangen.”

Aduh gemas sekali anak siapa ini.

“Kalau Papa pulang dikasih peluk enggak?”

Sunwoo langsung mengangguk semangat, mata bulatnya memperlihatkan keseriusannya kini.

“Cium?”

Sunwoo mengangguk lagi.

“Oke Papa pulang nanti, Nu, mau nunggu 'kan?”

“Mau.”

Younghoon sedari tadi hanya diam, melihat interaksi anak dan suaminya. Rasa haru melingkupinya kini, tak pernah terbayang menikah dan miliki anak rasanya semenyenangkan ini. Rasanya sulit untuk diungkapkan melalui lisan maupun tulisan.

Rasanya seperti Younghoon ada di rumahnya dan ia akan selalu kembali ke rumah itu apapun kondisinya, sejauh apapun ia pergi. Sunwoo dan Jaehyun adalah rumahnya, tempat ia kembali berpulang, tempat ia menjadi dirinya sendiri dan tempat ia bebas berkeluh kesah.

Dan Younghoon bersyukur akan hal itu.

Sampai nanti bersama Jaehyun dan Sunwoo sudah lebih dari cukup. Younghoon bahagia.

Hari itu berjalan lebih lama dari biasanya bagi Sunwoo dan menguras banyak tenaganya. Kuliah full dari pagi sampai sore, setelahnya rapat panitia untuk acara fakultas. Intinya Sunwoo sibuk sekali dalam minggu ini. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak tanpa diganggu rapat dan tugas, kapan ia makan dengan baik.

“Nu, kalau sakit izin aja enggak apa. Nanti hasil rapat gue kasih tahu lewat chat,” kata Hyunjun begitu melihat sang karib lesu ditambah wajahnya pucat.

Tapi, Sunwoo tetap lah Sunwoo, si keras kepala. Maka dia menggeleng dan berkata, “enggak apa, Jun.”

“Lo udah makan belum?” Kali ini Karina bertanya.

“Udah.”

“Tadi pagi?” Eric menyahuti perkataan Sunwoo.

Hal itu membuat Sunwoo meringis kecil. Iya, Sunwoo kalau sudah fokus sama satu hal suka melupakan hal-hal kecil dan makan termasuk ke dalamnya.

“Demi Tuhan, Nu,” Karina menatapnya kesal, “kan udah berapa kali kita bilang, untuk jaga pola makan lo. Udah tahu jurusan kita banyak tugas dan BEM juga lagi ada acara, lo malah jarang makan.”

“Lo tuh ya kebiasaan kalau udah sibuk lupa makan, lupa istirahat,” kata Hyunjun.

Sunwoo hanya diam tanpa membela diri, toh emang salahnya juga sih. Ditambah kepalanya pusing, jadi lebih baik dia diam.

“Tunggu gue beliin roti buat ganjel,” kata Eric lagi.

“Cepet ya, lima belas menit lagi rapat mulai,” kata Giselle, gadis itu kemudian menepuk pundak Sunwoo, “tiduran dulu sana nanti rapat mulai kita bangunin.” Sunwoo mengangguk, mengambil tas dan menjadikannya sebagai bantal.

Namun, belum sempat ia berbaring teriakan Heejin membuat yang lain panik.

“Sunu lo mimisan!”


Mata bulat itu mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya yang berebut masuk. Pusing adalah hal pertama yang ia rasa, ringisan kecil terdengar ketika ia mencoba bangun.

“Tiduran aja, nanti bangun malah makin pusing.” Sunwoo menoleh dan mendapati kekasihnya duduk di kursi dekat meja belajarnya, menatapnya datar.

Oh, Sunwoo telah membuat masalah baru.

Ia meringis menatap Jihoon memelas. Nampaknya itu tak membantu sama sekali karena Jihoon tak melembutkan tatapannya. Pemuda Park itu juga tak berpindah tempat dan enggan bersuara lagi. Benar-benar mendiami Sunwoo.

Kalau sudah begini Sunwoo bingung harus melakukan apa. Jadi, pemuda itu memilih diam dan memejamkan mata karena pusing masih melanda.

Jihoon menghela napas pelan, ia akhirnya bangun dari kursi dan berjalan mendekati Sunwoo. Tangannya terulur, memegang dahi pemuda Kim. Panas.

Netra favoritnya itu terbuka, menatap Jihoon yang tengah menatapnya juga.

“Ji,” panggil Sunwoo.

“Apa?”

Masih marah.

“Jangan diem aja dong,” pinta Sunwoo.

Kalau tidak dalam keadaan marah pada Sunwoo, Jihoon yakin ia sudah mencubiti pipi kekasihnya itu. Tapi, kali ini beda, emosi masih menguasai dirinya. Jadi, ia masih diam dan menatap Sunwoo datar.

“Lo tuh makanya udah gue bilang enggak usah ikut kepanitiaan, malah gegayaan ikut. Sakit kan sekarang.” Akhirnya keluar juga omelan yang sedari tadi ia tahan, disertai pukulan di lengan Sunwoo.

Membuat pemuda itu meringis, “gue lagi sakit?” Sunwoo mengajukan protes. “Aduh kok dipukul lagi?”

“Siapa suruh sakit? Bikin khawatir aja ya lo bisanya!”

Tadinya Sunwoo akan kembali melancarkan protes, tapi begitu mendengar kata 'khawatir', dia malah tersenyum dan menatap Jihoon dengan tatapan meledek.

“Cie khawatir ya,” ledeknya sembari menusuk pipi Jihoon yang kini disertai merah samar.

Huhu gemes.

Hal itu malah membuat Sunwoo jadi sasaran pukulan Jihoon lagi. Kalau begini artinya perkataan Sunwoo tadi benar adanya. Hehehe pacarnya ini lucu sekali sih, rasanya mau Sunwoo gigit pipi gembilnya dan ia peluk seharian!

“Buset udah dulu mukulnya! Gue lagi sakit anjir.” Sunwoo menahan tangan Jihoon dan ia genggam erat. “Manis dikit sama gue kenapa sih.”

Jihoon menatapnya malas, “lo enggak cocok dimanisin.”

Bibir tebal itu melengkung kebawah, “jahat.”

“Abis lo batu, udah gue bilang tadi izin aja. Enggak ikut rapat sehari doang, Nu, yang lain juga pasti paham.” Sunwoo diam karena dia tahu Jihoon masih ingin berbicara, “apalagi jurusan lo yang selalu sibuk tiap saat. Tugas, presentasi hampir tiap hari. Terus rapat BEM enggak berhenti. Coba gue tanya kapan terakhir lo tidur nyenyak? Lo tidur jam lima pagi dan bangun lagi jam tujuh untuk ngampus, kalau masih ada istirahatnya enggak masalah. Lah ini langsung rapat lagi.”

“Gue belum selesai ngomel,” Jihoon kembali berujar ketika Sunwoo akan berbicara.

“Oke lanjut.”

“Terus pola makan lo, kacau. Kalau enggak gue ingetin dan paksa enggak ada tuh makanan masuk ke perut. Lo bahkan hari ini cuma sarapan doang. Gue enggak pernah larang lo untuk ikut organisasi atau apapun itu, tapi 'kan gue udah pernah bilang untuk jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Tapi, emang dasar lo anaknya batu, kesel banget gue!”

“Ini gue udah boleh ngomong?”

Jihoon menghembuskan napas kesal, kemudian mengangguk. Sunwoo sempatkan untuk menarik tubuh Jihoon agar mendekat ke arahnya.

“Maaf ya gue emang nyebelin anaknya, enggak mau nurut kalau dikasih tahu. Emang sih gue akuin gue kalau udah fokus sama satu hal, selalu lupain hal-hal kecil. Maaf ya, sering buat lo kesel dan khawatir.”

“Tuh tau! Jadi, stop buat gue khawatir sama kesel.” Tangannya menyibak poni lepek Sunwoo, memberi elusan lembut di sana. “Cepet sembuh,” bisiknya.

Bibir pucat itu mengulas senyum, “iya, sayang. Maaf ya.”

“Tidur lagi, lo butuh banyak istirahat.”

“Peluk?”

Yang membuat Jihoon gemas kalau Sunwoo sakit adalah dia menjadi lebih manja. Yang mana jarang bisa Jihoon lihat kalau si pemuda Kim itu dalam keadaan sehat, namun bukan berarti dia suka kalau Sunwoo sakit ya.

“Iya ini dipeluk, dah tidur,” kata Jihoon lagi, tangannya ia bawa untuk menepuk punggung itu pelan, sesekali mengelus surai merah muda itu.

Nyaman, pelukan Jihoon selalu membuat Sunwoo merasa nyaman dan tak butuh waktu lama untuk Sunwoo terlelap.

Jaeyun menatap Jongseong dengan tatapan meledek, raut wajah si pemuda Park itu nampak kesal. Lagipula bisa-bisanya dia salah mem-posting foto, astaga Jongseong bodoh sekali. Tanpa sadar bibir itu cemberut, masih kesal dengan kebodohan yang ia lakukan.

“Kenapa sih? Bukannya enak jadi kalau mau berduaan enggak perlu diem-diem,” kata Jaeyun menenangkan.

“Malu,” gumam Jongseong yang langsung memakan burgernya.

“Lah, bisa malu juga lo?” Ledek Jaeyun.

Jongseong menatapnya galak, “mau gue tabok?”

Si pemuda satunya bukannya takut malah gemas dengan kekasihnya, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap surai hitam itu.

“Udah enggak usah peduliin omongan orang, yang jalanin 'kan lo sama gue. Mereka cuma liat luarnya aja,” kata Jaeyun disertai senyum khasnya.

“Penggemar lo tuh banyak, ngeri,” balas Jongseong masih dengan bibir cemberut. “Males kayak waktu SMA.”

Ya, yang membuat Jongseong malas mempublikasikan hubungannya dengan Jaeyun adalah ini. Jaeyun anggota band sedari SMA dan sudah memiliki lumayan banyak penggemar. Sewaktu SMA tak jarang Jongseong mendapat tatapan sinis dari penggemar Jaeyun yang menyebalkan dan itu cukup menganggu.

Makanya, ketika memasuki dunia perkuliahan Jongseong tak mau hubungan keduanya diketahui banyak orang. Singkatnya mereka backstreet. Yang orang-orang tahu Jongseong dan Jaeyun tidak saling kenal.

“Yang kayak gitu enggak usah dipeduliin, susah memang untuk enggak dengerin begituan. Tapi, nih ya penggemar gue pun enggak akan berani sama lo,” kata Jaeyun.

“Kenapa mikir gitu?”

“Nyari mati kali mereka kalau macem-macem sama wapres BEM kampus?”

Oh iya, Jongseong terkadang lupa dengan jabatannya di kampus. Mana ada yang berani mengusiknya, selain itu Jongseong terkenal galak dan mencari masalah dengannya sama saja cari mati.

“Dan juga lo galak, siapa yang berani ganggu coba?” Jaeyun tertawa begitu melihat bibir itu semakin merengut. Lucu sekali.

“Jadi?”

“Apa?”

“Enggak usah sembunyi-sembunyi lagi, ya?” Tanya Jaeyun.

Tangannya terulur mengusap noda es krim di bibir Jongseong.

“Ya udah ketauan juga,” sahut Jongseong cuek. “Lagian kalau ada yang macem-macem 'kan ada lo.”

Perkataan itu mengundang senyum di wajah Jaeyun. Harus dia akui kalau hari ini dia bahagia, tak perlu susah-susah bersembunyi kalau ingin berduaan. Bisa bebas menggenggam tangan Jongseong. Diam-diam ia bersyukur Jongseong salah akun ketika mem-posting fotonya.

Sore itu ditutup dengan rasa bahagia yang menghampiri keduanya.