moonsun

Di usia yang semakin dewasa Heeseung sadari semakin banyak beban yang dipikul. Banyak yang pergi dan datang dalam hidupnya. Kehilangan sudah jadi makanan sehari-hari.

Buat dirinya lambat laun keras pada diri sendiri, tutup diri dari orang lain.

Hari-hari terbiasa sendiri, menurutnya biasa saja tak ada yang salah. Ia menikmati kesendiriannya. Bangun, pergi kerja lalu, pulang, begitu terus hingga hari-hari selanjutnya.

Semua berjalan seperti biasa sebagaimana mestinya. Ia masih pergi bekerja dan masih lakukan hal yang biasa ia lakukan. Tetapi, ada satu presensi lain yang kini ikut andil dalam keseharian Heeseung.

Sosok yang buat Heeseung patahkan pemikiran kalau sendiri lebih baik, sosok itu mampu singkirkan semua pikiran negatif Heeseung. Sosok yang kehadirannya ternyata sangat ia butuhkan.

Sosok yang kini ia jadikan rumah. Sosok yang penuh kehangatan, yang siap peluk Heeseung kala dunia jahat padanya. Sosok yang siap dengarkan semua keluh kesahnya.

Park Jongseong bak matahari yang sinari bumi, selalu datang tak kenal lelah. Tak peduli berapa banyak penolakan yang ia dapat, ia tetap di sana menanti bumi-nya untuk menoleh.

Park Jongseong, pemuda yang mampu cairkan beku yang Heeseung buat. Jongseong datang dengan segala kehangatan yang mampu tenangkan jiwa.

Di ulang tahunnya Heeseung tak harus lagi diam ditemani sepi. Kini ada Jongseong yang hadir halau sepi dalam diri.

“Selamat ulang tahun Kakak!” lengkap dengan senyum manis dan kue di tangan.

Kemudian bersuara lagi ketika Heeseung masih diam, “make a wish dulu ayo.”

Tangannya bertaut diletakkan depan dada, mata mulai terpejam rapalkan beberapa doa dan harapan.

Aku mau bersama Jongseong sampai nanti.

Mau habiskan waktu dengannya.

Selamanya sama Jongseong tak masalah.

Tuhan, tolong untuk kali ini jangan diambil lagi.

Api di lilin padam seiring matanya terbuka untuk tatap pemuda di hadapannya.

“Yey!” Jongseong tersenyum lagi, “harapanku tahun ini masih sama, semoga bahagia terus ada dideket kakak dan dunia berhenti jahatin kesayangan aku ini. Maaf ya kadonya cuma ini aja, aku sayang kakak!”

“Kecil, makasih banyak. Enggak perlu kado, asal ada kamu aja udah cukup.” Heeseung raih tubuh itu ke pelukan, tangannya mengelus lembut kepala Jongseong dan bubuhkan kecup di kening.

“Aku sayang kamu, sayang banget. Makasih untuk enggak nyerah sama aku, makasih mau bertahan sama aku. Sama aku terus ya.”

Dapat ia rasakan dua lengan itu melingkar indah di lehernya, membalas pelukan tak kalah erat kemudian berbisik, “ayo sama-sama terus, Kak.”

Dan siapa Heeseung yang berani tolak permintaan itu?

Sinar bulan temani malam keduanya kali ini. Dhika sendiri masih meracau tak jelas di kursi penumpang. Perihal Damar yang tak mau menciumnya dan berakhir berucap kalau Damar sudah tak menyayanginya lagi.

Dhika yang mabuk adalah Dhika yang cerewet. Maka tak heran pemuda itu tak berhenti berceloteh, perihal apapun. Kucing di pinggir jalan, lampu jalanan, langit yang penuh bintang dan lainnya.

Dhika yang mabuk jelas terlihat berkali lipat lebih lucu di mata Damar. Bibir mengerucut seraya kata demi kata ia keluarkan.

Damar hentikan mobil tepat di depan rumah Dhika. Terlihat sepi karena orang tua kekasihnya berada di kota lain. Singkatnya Dhika anak rantau.

“Yuk turun dulu udah sampai ini.” Damar beri tepukan lembut di pipi.

“Mau cium!”

Rengekan itu tarik sudut bibirnya naik, lucu sekali sih.

“Sini,” Damar menepuk pahanya.

Tanpa perlu diaba-aba lagi, Dhika beranjak duduk di tempat absolut miliknya seorang. Kedua tangannya lingkari leher Damar.

Dalam jarak dekat, dapat Damar lihat jelas wajah indah pemuda di pangkuannya. Ia amati wajah itu dengan seksama, ia ingat bagaimana rupa wajah sang kasih. Mulai dari mata hingga ke bibir, semua tak ada yang luput dari pandangan.

“Cantik,” bisiknya sebelum menyatukan bibir keduanya.

Ditemani sinar rembulan dan alunan lagu dari radio mobil, jadi saksi bisu keduanya bagi cinta malam itu.

Deru napas terdengar bersahutan, rematan Dhika di pundak menguat, tangan Damar bergerak turun menelusuri lekuk tubuh yang tertutup kaos.

Malam itu dingin seolah tak terasa lagi, terhalau oleh sentuhan lembut nan memabukkan dan cumbuan di bibir.

dibuat karena aku liat tweetnya brilli, aku udah izin ke dia ya untuk dibuat oneshot <3

selamat membaca!

Rapat OSIS hari ini tampak sedikit berbeda karena hadirnya satu pemuda yang duduk tenang disebelah sang ketua OSIS. Dengan tangan yang menggenggam roti yang dibagikan sebelum rapat dan mata yang mengedar ke penjuru ruangan.

Sohn Eric, pacar si ketua OSIS. Eric diajak ikut ke ruang OSIS oleh Sunwoo, dengan dalih tak perlu datangi kelas Eric lagi dan bisa langsung pulang.

Pendingin ruangan dinyalakan hingga kini dingin sapa kulit tubuhnya, ia dibuat mengigil karenanya untung masih bisa Eric tahan. Netranya beralih tatap pemuda di sebelahnya yang terlihat serius ketika pimpin rapat. Sisi yang jarang Sunwoo perlihatkan pada banyak orang.

“Karena dana juga agak mepet kalau bisa untuk guest star jangan terlalu banyak, ambil yang paling banyak disukain. Jadi, bisa untuk tutup kekurangan dana yang lain,” jelas Sunwoo.

Eric suka sisi serius Sunwoo saat pimpin rapat, pemuda yang biasa jahil kini terlihat berwibawa. Sunwoo terlihat keren di matanya kini─enggak juga, Sunwoo selalu keren di mata Eric setiap saat.

Sebenarnya Eric sudah sering datangi ruang OSIS, untuk bertemu Sunwoo tentu saja. Tetapi, baru kali ini ia ikut serta anggota OSIS rapat. Tak buruk juga ia bisa makan roti yang disediakan anggota lain untuk rapat.

Kegiatan Eric menyantap roti tertunda ketika Sunwoo menarik hoodie miliknya dari tas ransel.

“Ren, gantiin dulu bentar,” katanya ke Yiren si wakil ketua OSIS.

Ia tatap Sunwoo bingung, mau ke mana?

Rasa penasarannya terjawab ketika Sunwoo tarik kurisnya mendekat dan memakaikan hoodie itu di tubuhnya.

“Rotinya taruh dulu, susah masuknya.” Eric menurut dan letakkan roti itu dibungkusnya. Kembali diam dan tunggu Sunwoo selesai memakaikan hoodie itu ke tubuhnya.

“Udah enggak dingin?”

“Enggak, udah lanjut lagi aja,” sahut Eric dengan pipi memerah samar. Ia malu, terlebih ketika ia bisa rasakan tatapan meledek dari anggota OSIS lainnya.

“Aduh asiknya rapat bawa pacar,” Hyunjin yang pertama kali bersuara.

Disahuti oleh yang lain. Astaga, memalukan!

“Ih udah lanjut lagi rapatnya,” omel Eric yang kini tarik tudung hoodie Sunwoo guna tutupi wajah memerahnya.

Yang lain hanya tertawa ketika lihat si pemuda Sohn itu malu. Rapat kembali berlanjut ketika Sunwoo ambil alih lagi untuk pimpin rapat sore itu. Semua berjalan lancar, satu persatu pembahasan dapat terselesaikan. Eric juga masih diam nikmati roti coklatnya─entah sudah bungkus yang keberapa ia lupa.

Tapi, semua yang ada di situ jelas tahu Eric itu tak pernah bisa diam. Duduk lama seperti ini sudah pancing rasa bosannya untuk keluar. Terlihat ketika ia tarik kursi mendekat ke Sunwoo dan menatap laptop yang menyala itu.

“Lagi bahas apa sih?” Tanya Eric masih sambil memakan rotinya, membuat pipi itu menggembung lucu.

Sunwoo gemas sendiri dibuatnya. Eric sadar tidak sih kalau dia sangat menggemaskan saat ini? rasanya ingin Sunwoo gigit pipi itu.

“Gue kepo deh,” kata Eric lagi, sembari masukkan potongan roti terakhirnya.

Sunwoo alihkan tatap fokus sepenuhnya pada pemuda yang kini asik berbicara dengan Yiren─masih penasaran dengan apa yang dibahas hari ini.

Tawa kecil Sunwoo keluarkan karena tak tahan lihat Eric begitu menggemaskan. Masih dengan menatap Eric dan senyum yang tak kunjung pergi, tangan Sunwoo bergerak temukan rumahnya di puncak kepala Eric, memberi tepukan pelan di sana.

“Lucu banget sih,” gumamnya.

“Ah anjir ini mah rapat sekaligus pacaran,” kali ini Jihoon angkat bicara, menatap adegan bak di film roman picisan yang sering kakaknya tonton.

“Bilang aja lo iri enggak bisa ajak Kak Hyunsuk,” timpal Yeji.

“Itu tau.”

Dapat Sunwoo rasakan pukulan menghampiri lengannya lumayan kuat hingga ia mengaduh, pelakunya tentu saja Eric.

“Apa sih kok dipukul?”

“Kamu mah, malu tau,” omelnya.

Sunwoo tertawa lagi, “enggak apa sesekali.”

Bibir itu melengkung ke bawah, ia tatap Sunwoo galak─walau percuma karena Eric selalu lucu di mata Sunwoo.

“Aduh gemesnya,” seru Lia yang kini mencubiti pipi Eric dengan gemas.

Membuat Eric kembali merengek malu. Ah tak bisakah mereka berhenti buatnya malu.

Ini salah Sunwoo pokoknya, semua salah Sunwoo.

“Udah eh stop gangguin pacar gue kasian malu,” kata Sunwoo seraya tarik Eric untuk mendekat ke tubuhnya dan menarik kepala itu untuk bersandar di bahunya, menyembunyikan wajah memerah itu di sana.

“Kelarin yuk rapatnya kasian ketos kita mau pacaran,” kata Yiren sembari tertawa melihat Eric kini bersembunyi di bahu Sunwoo.

Rapat kembali dimulai dengan bahu Sunwoo yang masih dijadikan tempat bersembunyi oleh Eric. Hingga tepat lima belas menit rapat sore itu selesai. Eric juga sudah menjauh dari bahu Sunwoo, menatap wajah lelah dari teman-temannya itu.

“Akhirnya kasur!”

“Gue masih harus ngelonin tugas.”

Dan masih banyak keluhan lain yang buat ranumnya mengukir sebuah kurva mungil. Ada-ada saja.

“Makasih ya udah ikut rapat hari ini, sampai ketemu dua hari lagi. Koordinator tiap seksi jangan lupa dikontrol, kalau ada yang kurang atau perlu revisi kabarin dirapat lusa,” kata Sunwoo yang jadi penutup rapat sore itu.

Setelahnya semua berhamburan pergi, tinggalkan Eric dan Sunwoo yang masih berdiam di situ. Matanya menatap Sunwoo yang fokus pada laptopnya.

Wajah itu boleh ukirkan senyum dan tawa lebar tetapi, mata tak dapat bohongi kalau Sunwoo lelah. Kantung mata yang menghitam seolah menjadi riasan baru di wajah Sunwoo.

“Capek ya?”

“Hm?” Sunwoo bergumam masih fokus pada laptopnya, menyimpan semua file penting didokumen terpisah, “lumayan,” sahutnya bersamaan dengan layar laptop itu ia tutup.

“Mau langsung balik apa makan dulu?”

“Bunda di rumah enggak?” Bukannya jawab pertanyaan Sunwoo barusan, Eric malah lontarkan pertanyaan lain.

Sunwoo gelengkan kepala, “nemenin Ayah dinas luar kota, kenapa?”

“Makan dulu berarti, kamu kalau enggak ada Bunda pasti enggak akan makan,” kata Eric yang sudah paham akan tabiat sang kekasih.

“Tapi, habis makan peluk boleh?” pinta Sunwoo penuh harap.

Mata bulatnya kini tatap Eric sepenuhnya, memaksa Eric untuk luluh pada tatapan memelas dari manik kesukaannya.

“Iya nanti dapet peluk.”

“Yang lama?”

“Iya yang lama.”

Bibir tebal itu munculkan senyum manis kala permintaannya dituruti oleh yang lebih muda. Maka, Sunwoo anggukan kepala penuh semangat.

“Yey, ayo cari makan!”

“Dasar dapet cium aja baru semangat.”

“Aku butuh re-charge energi aku, sayang.”

“Halah alasan.”

Perjalanan keduanya sore itu ditemani alunan lagu yang sengaja Sunwoo putar dan canda tawa yang hiasi mobil yang dikendarai Eric. Pemuda itu memaksa untuk menyetir mobil Sunwoo karena ia lihat bagaimana lelahnya Sunwoo kini. Sunwoo hanya menurut toh ada benarnya juga perkataan Eric.

Hal yang Sunwoo sukai ketika perjalan pulang adalah obrolan ringan bersama Eric. Tangan yang saling bertaut dan sesekali memberi elusan lembut di sana. Sesekali ikut melantunkan nyanyian mengikuti lagu yang diputar.

Hari itu memang melelahkan tetapi, Sunwoo bersyukur akan hadirnya Eric yang lengkapi harinya, yang buat harinya lebih baik lagi. Di penghujung hari Sunwoo ukir senyum cerah bukan karena paksaan tetapi, karena ia ingin dan supaya Eric tahu kalau senyum itu hanya ditujukan untuknya─dan kedua orang tuanya tentu saja.

Semuanya jangan lupa bahagia ya!

Siang hari nampaknya tak menyurutkan sifat ceria Eric, hal itu terasa ketika siaran sudah mau selesai. Pemuda itu masih terlihat bersemangat, seolah lelah tak ada dalam kamus Sohn Eric.

“Oke guys kita pamit undur diri, terima kasih udah mau nemenin kita di panas terik hari ini! Gue Kevin-”

“Gue Eric, sampai jumpa minggu depan!”

Selesai.

Eric segera melepas headphone dan merapikan kertas yang berserakan di meja.

“Kak,” panggil Eric ke Kevin yang tengah asik benahi barang-barangnya. “Langsung balik?”

“Iya Jacob udah di depan soalnya. Lo?”

Eric gelengkan kepala, “nungguin Sunwoo katanya dia mau mampir ke sini.

“Ya udah gue tinggal enggak apa 'kan?”

“Enggak masalah, udah sana nanti Kak Jacob nungguin.”

Sepeninggalan Kevin, Eric sembunyikan wajah di kedua lipatan tangan. Masih menunggu hadirnya sang kekasih ke sini. Eric butuh tambahan energi dari Sunwoo.

Ia boleh terlihat bersemangat seolah tak kenal lelah tetapi, berbeda kalau sudah sendiri dan berduaan dengan Sunwoo. Ia dengan bebas tunjukkan rasa lelahnya ke si pemuda.

“Eric?” Ia mendongak ketika dengar suara berat Sunwoo sapa runggunya. Senyum cerah itu kembali hadir.

“Peluk!”

Sunwoo hanya mampu keluarkan tawa ketika melihat kekasihnya menjadi manja begini. Eric itu terlihat semakin menggemaskan kalau sudah manja begini dan rasanya ingin Sunwoo peluk seharian penuh.

Dengan langkah besar Sunwoo hampiri Eric dan ia peluk, “capek?”

Yang ditanya hanya balas dengan anggukan, sibuk menghirup aroma kesukaannya. Mengisi kembali energi yang sudah terkuras habis.

“Nu, ngomong dong,” pintanya.

Ah, kekasihnya ini benar-benar lelah nampaknya.

Sunwoo elus punggung itu perlahan, “pacar Sunwoo keren banget, selalu keren pokoknya. Hari ini capek ya? Nanti abis dari sini kita jajan yang banyak biar enggak capek lagi, mau?” ia berujar lembut seiring elusan di punggung yang tak berhenti, “capek pergi jauh-jauh dari pacar Sunwoo.”

Sunwoo itu selalu bisa munculkan senyum di wajah Eric, selalu bisa tenangkan Eric ketika si pemuda tengah sedih atau gelisah.

“Mau dipuk-puk,” pinta Eric lagi.

Maka, ketika pelukan erat itu terlepas Sunwoo tangkup kedua pipi sang kasih, “aduh kasiannya capek banget kayaknya sampai minta puk-puk.”

Bibir itu melengkung kebawah, “iya.” Setelahnya ia rasakan tepukan pelan di kepala dengan Sunwoo menatapnya lembut.

“Eric keren hari ini bisa selesaiin siaran dengan baik padahal baru selesai UTS, makasih ya?”

Senyum manis yang jadi kesukaan Sunwoo kembali hadir, kini ditemani mata yang berbinar senang, “makasih, Nu. Ayo pulang terus jajan!”

Siang itu memang panas dan membuat banyak orang enggan keluar. Siang itu memang melelahkan bagi banyak orang, terutama Eric. Tetapi, siang itu juga jadi siang yang menyenangkan baginya.

Berjalan sembari lontarkan candaan, tangan saling bertaut, hingga senyum yang tak berhenti muncul.

Siang itu sama seperti siang hari kemarin, cerah dan menyenangkan, setidaknya untuk Sunwoo dan Eric.

Sunwoo jelas tahu bermain-main tak semuanya baik, apalagi perihal hati. Seharusnya ia bisa jaga hati hanya untuk kekasihnya seorang namun, kini ada nama lain lagi yang ikut tinggal dan menetap. Lama kelamaan menggeser posisi sang pemeran utama di sana.

“Mikirin apa?” Sebuah suara menyapa rungu, Sunwoo tolehkan kepalanya ke arah pintu kamar. Di sana pemuda yang mengacak hatinya, pemuda yang seenaknya masuk tanpa permisi membuat Sunwoo dilanda kebingungan.

Tapi, pintu tak akan terbuka kalau tak ada yang buka kuncinya, 'kan?

Sunwoo rasakan lengan kekar itu melingkari pinggangnya, diikut kepala pemuda itu bertumpu di pundaknya. Pelukan yang terasa hangat namun, menyesakkan disaat bersamaan. Dan ia tahu sudah terlampau jauh untuk berhenti, ia sudah jatuh dan tak tahu bagaimana harus keluar.

“Kenapa?” Pemuda itu kembali bertanya sembari bubuhkan kecup di pipi.

“Kak Je,” panggil Sunwoo, mata bulat bak boba itu bersitatap dengan mata pemuda satunya, “pernah kepikiran tentang kita enggak?”

Bisa ia rasakan tubuh yang memeluknya menegang, lengannya merengkuh semakin erat.

“Kak, kamu jelas tau 'kan, kalau kita enggak bisa selamanya begini,” kata Sunwoo lagi, “dari awal ini udah salah, salah banget. Bosen kita jadiin alasan untuk mulai ini semua.”

Pada saat bulan Februari waktu itu tepat sehari setelah hari kasih sayang, Jaehyun datangi Sunwoo. Sebenarnya itu hal biasa, mengingat keduanya adalah teman dekat dari lama. Namun, yang tak biasa adalah perlakuan keduanya. Teman mana yang saling cumbu? Teman mana yang bermesraan? Awalnya hanya sekadar rangkulan, lama kelamaan semakin intim. Keduanya seolah terbuai pada keadaan, membuat mereka jatuh pada lubang yang sama.

Hari itu Jaehyun tumpahkan resahnya dengan Sunwoo memeluknya erat. Jaehyun lelah diabaikan kekasihnya, lelah dinomor duakan, lelah kalah lagi dengan pekerjaan. Jaehyun hanya ingin sehari saja bisa bermesraan dengan kekasihnya namun, Chanhee enggan mengerti. Lama kelamaan rasa bosan menghampiri Jaehyun.

Aku punya pacar rasanya kayak enggak punya, Nu, capek kalah terus sama kerjaan dia. Aku udah coba pahamin dia tapi, kenapa dia enggak pernah coba pahamin aku juga?” Hari itu semua gundahnya tumpah di hadapan Sunwoo.

Hingga perkataan singkat Jaehyun menjadi awal dari segalanya, “malah kayak kamu yang pacar aku, Nu.”

Kembali ke saat ini. Jaehyun masih setia diam, belum mau buka suara akan pertanyaan Sunwoo tadi.

“Kak Chanhee sering nanyain kamu ke aku, katanya apa dia ada salah sama kamu karena kamu agak ngejauh dari dia. Aku cuma bilang enggak tau,” kali ini giliran Sunwoo tumpahkan semua resah yang melanda, “enggak mungkin aku bilang kalau kamu ada sama aku.”

Jaehyun paham seharusnya dari awal dia tak main api. Berdalih ingin menghilangkan sepi dan bosan karena kekasihnya yang terlampau sibuk, ia malah ciptakan satu masalah lagi yang Jaehyun pun tak tahu harus bagaimana menyelesaikannya. Bagai benang kusut yang sulit temukan jalan keluar.

“Aku enggak bisa kehilangan kamu, Nu,” bisiknya.

“Aku pun enggak,” Sunwoo balas dengan cepat.

Jelas Sunwoo tak bisa bayangkan bagaimana harinya ketika Jaehyun tak lagi di sisi. Jaehyun yang menghibur Sunwoo ketika kekasihnya sendiri justru menyakitinya. Jaehyun selalu ada untuk Sunwoo. Mari katakan Sunwoo bergantung pada Jaehyun.

Kalau kata Jaehyun Sunwoo itu bagai matahari yang sinari hari-harinya. Maka bagi Sunwoo, Jaehyun adalah bulan yang menyinari langit malam, yang menyinari hari-harinya yang kelabu. Jaehyun tuntun Sunwoo untuk lihat cahaya lagi.

“Inget enggak waktu aku ribut sama Eric?”

“Inget lah kalian berdua babak belur gitu.”

“Kakak 'kan yang nolongin aku, sedangkan pacar aku malah mukulin aku.” Senyum tipis muncul di sana. “Kakak yang selalu nolong aku, sampai enggak sadar rasa itu hadir.”

Kedua mata itu bertemu, saling tatap berusaha jelaskan kata yang tak sanggup mereka jabarkan melalui lisan.

Hati kecil Sunwoo berharap kalau Jaehyun tetap ada di sisinya, sampai nanti. Tetapi semua tak semudah itu 'kan?

Sunwoo tak mau egois. Tak mau lukai orang lain demi bahagianya sendiri.

Jaehyun pangkas jarak keduanya hingga hidung mereka bersentuhan. Dapat Sunwoo rasakan terpaan napas halus Jaehyun.

“Mau sampai kapan, Kak?”

“Aku enggak bisa lepasin kamu, Nu, enggak akan bisa.”

Sunwoo tersenyum sendu, “aku pun begitu tapi, kita egois enggak sih, Kak? Kita ada pacar masing-masing tapi, malah diam-diam pacaran.”

Seharusnya kalau dari awal Jaehyun berani memilih, mungkin keadaan tak akan serumit ini. Tak lagi kebingungan hadapi hari esok.

“Kak Je, hidup itu penuh pilihan. Tinggal kita yang tentukan pilihannya.” Tangan Sunwoo menangkup pipi Jaehyun, memberi elusan lembut di sana. “Kak Je, lepasin aku ya? Bahagia lagi sama Kak Chanhee.”

Jaehyun menggeleng kuat, lengan yang masih setia di pinggang Sunwoo memeluknya semakin erat.

“Jangan suruh aku lepasin kamu, aku enggak bisa.”

“Bisa, pasti bisa. Bahagia lagi sama Kak Chanhee seperti sebelum ada aku di sana.” Sunwoo urai senyum lagi, “aku tau di sini nama Kak Chanhee masih jadi pemenangnya, kamu enggak bisa lepasin aku karena aku yang selalu ada, Kak, kamu hanya terbiasa sama aku. Jadi, perbaiki hubungan kalian ya? Obrolin semuanya.”

“Sunwoo ...” Jaehyun menatapnya memohon.

“Aku lepasin kakak, aku juga lepasin Eric, aku lepasin kalian berdua,” kata Sunwoo lagi.

Sungguh Jaehyun tak pernah tahu kalau saat ini akan datang dengan cepat. Jaehyun kebingungan, ia kehilangan. Seolah sesuatu dalam dirinya diambil secara paksa.

“Aku enggak bisa sama kamu aja, Nu?” Bisik Jaehyun sembari jatuhkan wajah di ceruk leher Sunwoo, hirup banyak-banyak aroma kesukaannya.

Yang nanti tak bisa lagi ia rasakan.

“Kita enggak bisa egois terus, Kak, aku juga enggak bisa hidup dalam bayang rasa bersalahku sama Kak Chanhee.”

Jaehyun, asal kamu tahu Sunwoo sangat berat melepasmu pergi. Lebih berat daripada ia lepaskan Eric tadi pagi.

Jaehyun, kalau Sunwoo egois ia tak akan mau kalah. Ia akan terus paksa kamu ada di sisinya. Namun, Sunwoo bukanlah tipe yang seperti itu. Sunwoo tak bisa sakiti orang lain lebih dalam lagi.

Jaehyun, mataharimu itu sudah jatuh terlalu dalam pada bulan-nya. Walau ia tahu kalau sedikit sekali kemungkinan kalian bersama. Berakhir lukai lagi hatinya sendiri.

Sunwoo sudah jatuh dan tak tahu bagaimana untuk keluar. Jadi, Jaehyun biarlah ia rasakan sakitnya sendiri.

Pelukan yang biasa terasa hangat dan nyaman, hari itu seolah direngut paksa. Setelah ini tak ada lagi pelukan hangat itu. Semuanya sudah usai.

Semua teman Sunwoo pasti tahu kalau si pemuda Kim itu menyimpan rasa pada mahasiswa semester akhir dari jurusan matematika. Garis bawahi kata semua. Bagaimana tidak? ketika bersama Chanhee dan Changmin yang selalu ia bahas adalah bagimana tampannya rupa si pemuda, bagaimana manisnya senyum itu dan masih banyak lagi.

“Enggak capek apa?” Chanhee bertanya ketika Sunwoo selesai menceritakan perihal si kakak tingkat idamannya itu.

“Udah berapa kali coba?” giliran Changmin yang bertanya, “dua atau tiga?”

“Tiga,” Chanhee menyahuti pertanyaan kekasihnya.

Sunwoo mencibir, “biarin sih, namanya juga usaha,” katanya membela diri.


Pertemuan pertama

Kala itu Sunwoo yang baru masuk kuliah, masih semangat-semangatnya untuk mengikuti serangkaian kegiatan kampus dan organisasi. Entah berapa banyak yang ia ikuti tapi, yang menjadi fokusnya adalah sepak bola. Chanhee dan Changmin pun tahu secinta apa Sunwoo pada sepak bola.

Hari itu di sore hari Sunwoo dan anggota yang lain tengah berlatih, ketika salah satu kakak tingkat menarik perhatiannya. Lee Jaehyun namanya, mantan anggota UKM sepak bola. Itu adalah kali pertama Sunwoo melihat Jaehyun. Padahal kata Eric pemuda itu sering bergabung kala mereka selesai latihan. Pantas saja tak pernah bertemu, Sunwoo selalu pulang lebih dulu ketika latihan usai.

Hari itu sepertinya dewi fortuna berpihak padanya, Jaehyun datang lebih awal dari biasanya.

“Lo mainnya bagus, Dek,” itu adalah kalimat pertama yang Jaehyun katakan pada Sunwoo.

Ia mati-matian menahan senyumnya, “e-eh makasih, Kak.”

Jemari Jaehyun mengusap pelan rambutnya, “lucu banget sih.”

Ternyata ini ya definsi yang diberantakin rambut yang berantakan hati.

Dan dari situ Sunwoo dan Jaehyun menjadi dekat. Jaehyun pun tak segan mengajak adik tingkatnya itu untuk menemaninya mengerjakan skripsi. Intinya keduanya seperti lem dan perangko, tak bisa lepas.


Kedua kali

Ini kali kedua Sunwoo berusaha mendapatkan hati si kakak tingkat. Tak apa kalau yang pertama masih gagal, masih ada kesempatan lain kali. Dan mungkin kali ini adalah saatnya.

Siang itu keduanya berada di rumah Sunwoo, Jaehyun memintanya mengajari bermain gitar dan sebagai gantinya Sunwoo minta diajarkan piano. Imbal balik yang cukup baik bukan?

“Nah itu udah lumayan bagus kok, Kak, tinggal lancarin aja biar jarinya enggak kaku.”

“Pedih juga ya tangannya,” keluh Jaehyun.

Sunwoo tertawa, “ya gitu lah kalau mau main gitar.”

“Eh, Kak, mau tanya deh.”

“Nanya apaan? gue jawab asal jangan tanya skripsi.”

“Kaga elah.”

“Terus mau tanya apa, cil?”

“Yang naksir lo 'kan banyak tuh ya,” Sunwoo mengalihkan tatap ke gitar di pangkuan Jaehyun, “enggak ada satupun yang lo sukain balik gitu?”

Jaehyun nampak terdiam sejenak, “kalau lo yang naksir sih bisa dipertimbangkan,” kata Jaehyun dengan santai.

Apa maksudnya, Lee Jaehyun? teriak Sunwoo dalam hati.

Matanya melotot kaget, “hah?”

Jangan bilang─

“Bercanda!”

Oh ... Sunwoo terlalu berharap sepertinya.

Jaehyun tertawa begitu melihat wajah kaget Sunwoo barusan, “aduh lucu banget sih, Nu!”

'Percuma lucu kalau enggak dipacarin.'

“Serius ih, Kak!”

“Hahaha oke maaf!” Jaehyun berusaha meredakan tawanya, “Jawabannya enggak, ada satu hal lain yang harus gue kejar, Nu,” jawabnya dengan senyum manis, bahkan Sunwoo bisa lihat mata itu berbinar cerah.

Oke enggak apa, Nu, masih ada kesempatan lagi nanti.

Padahal sorot mata Jaehyun sudah menjelaskan semuanya.


Percobaan ketiga

Kali ini Sunwoo sudah lebih berani, sudah tak malu-malu lagi untuk memuji Jaehyun. Tak malu lagi untuk tunjukan perasaan yang sebenarnya. Mungkin Jaehyun pun menyadari, tak masalah bagi Sunwoo toh memang itu niatnya. Agar pemuda itu tahu kalau Sunwoo memendam rasa untuknya.

Hari ini Sunwoo berniat mengajak Jaehyun pergi, sekaligus mengutarakan perasaannya. Ditolak atau tidak itu urusan belakang. Jaehyun pun menyetujui, dia bilang kalau dia ingin membicarakan sesuatu dengan Sunwoo.

Kafe yang berada di pusat kota adalah pilihan keduanya. Sunwoo sudah ada di sana sejak lima belas menit yang lalu, menanti kehadiran Jaehyun. Pemuda itu mendadak tak bisa dihubungi.

Hampir dua jam ia menanti tetapi, sosok Jaehyun tak muncul juga.

Kali ini pun gagal lagi ya?

Ya sudah mungkin lain waktu.


Kembali ke masa sekarang. Sunwoo baru saja sampai rumahnya, setelah tadi berbincang dengan Chanhee dan Changmin. Baru akan melangkahkan kaki ke kamar mandi ponselnya berbunyi, nama Jaehyun tertera di sana. Pemuda yang tak ada kabar nyaris tiga hari, kini mulai menampakan diri lagi. Dengan cepat ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Jaehyun.

Seketika senyumnya menghilang, rasa bahagia yang sempat ia rasa mendadak sirna. Ia tertawa kecil seolah menertawakan nasib percintaannya yang tak kunjung berhasil atau malah tak pernah berhasil?

Harusnya Sunwoo tahu bahwa Jaehyun dan dia tak bisa bersama. Harusnya Sunwoo sadar perlakuan Jaehyun padanya hanya karena pemuda itu menganggap Sunwoo seperti adiknya sendiri. Tetapi, Sunwoo terlalu menutup mata akan kenyataan yang terlihat. Ia terlalu naif dan menganggap bisa membuat pemuda itu membuka hati untuknya.

Tiga kali Sunwoo mencoba dan untuk kali ini ia berhenti.

Karena pemilik hatinya ternyata sudah memiliki kisahnya sendiri.

Jaehyun sampai tepat lima menit seperti balasannya dichat. Dengan terburu ia membuka pintu kosan Sunwoo, tangannya menepuk pundak Jongho, “Ho, Sunwoo di mana?”

“Eh si mantan, iya di kamarnya, Kak, ada ibunya juga.”

Dengan begitu Jaehyun mengangguk dan berajalan menuju kamar Sunwoo. Sayup-sayup dapat ia dengar suara si wanita yang sarat emosi dan suara lemah Sunwoo yang menyahuti.

Tanganya mengetuk pintu kamar Sunwoo, “Nu? Jadi, pergi cari buku enggak?” Itu hanya lah alibi Jaehyun semata. Ia jelas tahu bagaimana takutnya Sunwoo saat ini dan diam-diam ia bersyukur ketika Sunwoo salah mengirimkan pesan tadi.

“I-iya, Kak, jadi,” pintu kamar itu terbuka membuat Jaehyun masuk dan mengulas senyum ke arah si wanita.

“Siang, Tante,” sapanya.

“Eh nak Jaehyun, mau pergi sama Sunwoo?”

Dih sok baik.

Namun, Jaehyun hanya mengangguk dan masih mempertahankan senyum sopannya, “iya nih, Tan, eh tapi Tante baru dateng ya? Aku ganggu enggak?”

“Enggak sama sekali, Tante juga udah mau pulang. Mau cari buku?”

“Iya, nemenin Sunwoo.”

Si wanita mengangguk paham kemudian senyum tipis terulas di wajah cantiknya, “ya sudah Tante pulang dulu kalau gitu, Mami pulang dulu ya, kalau kamu udah balik kabarin Mami.” Dengan begitu ibunya beranjak pergi meninggalkan dua pemuda dalam diam.

Jaehyun berjalan mendekati Sunwoo, meraih tangan gemetar itu dan dielusnya pelan, “enggak apa, Nu, enggak ada yang jahat lagi ada Kak Je di sini,” katanya pelan.

Sunwoo mendongak, mata bulat yang masih jadi kesukaannya itu memerah, siap menumpahkan air mata kapan saja.

“Kak Je ... takut,” bisiknya bersamaan dengan air mata itu turun dan isak tangisnya terdengar. Badannya bergetar, tangan digenggamannya semakin dingin, bibirnya digigit upaya meredam isakan.

Dengan cepat Jaehyun meraih tubuh yang lebih kecil itu ke gendongannya sebelum ambruk menghantam lantai kosan. Tangannya mengelus punggung itu dengan lembut. Kakinya melangkah menuju kasur Sunwoo dan duduk di sana, membuat Sunwoo ada di pangkuannya kini.

Sunwoo membawa tangannya untuk digigit, hingga berdarah.

“Jangan digigit,” bisiknya sembari membawa kepala Sunwoo agar menyandar di pundaknya, “gigit baju kakak atau pundak kakak aja.”

Jaehyun, kenapa masih sebaik ini padanya?

Jaehyun, tolong jangan begini nanti Sunwoo jatuh lagi.

“Berisik,” gumam Sunwoo tanpa sadar.

Sungguh ia pusing sekali, kepalanya rasanya penuh dengan bisikan memuakan. Rasanya mau pecah, Sunwoo tak tahan. Maka ia arahkan tangannya untuk menarik rambutnya kuat, sesekali memukulnya.

“Hei jangan dipukul, Nu,” Jaehyun menarik tangan Sunwoo yang masih memukul kepalanya, “apa yang berisik?”

“Suaranya berisik, pusing,” gumam Sunwoo, “capek, Kak.”

“Jangan didengerin ya? Apapun yang Sunwoo denger sekarang itu bohong, cukup denger suara kakak aja jangan yang lain.”

Dan tanpa diminta Sunwoo menangis lagi, ia rindu. Rindu perlakuan manis Jaehyun padanya, ia rindu Kak Je-nya.

“Kok makin kenceng nangisnya, pusing banget ya?”

Sunwoo menggeleng, “kangen,” bisiknya dan bisa ia rasakan elusan Jaehyun di punggungnya berhenti.

Ah Sunwoo kenapa enggak bisa menahan rasa kangennya sendiri sih? Kalau Jaehyun sudah punya pacar bagaimana, lalu bagaimana kalau Jaehyun risih?

Persetanan dengan semua kemungkinan yang berkeliaran dibenaknya, untuk kali ini ia membiarkan perasaannya menang dan kalau Jaehyun menjauhinya ya sudah tak apa. Sunwoo sudah tak punya apapun dan ditinggalkan adalah hal biasa baginya.

“Kangen Kak Je,” katanya lagi, rematan di kaus Jaehyun semakin menguat.

“Mana sini yang katanya kangen aku, coba lihat mukanya,” dengan perlahan Jaehyun meraih wajah Sunwoo, mendekatkan wajah keduanya hingga kini hidungnya saling bersentuhan.

Sunwoo bahkan bisa merasakan napas Jaehyun menerpa wajahnya. Hal itu semakin membuat Sunwoo menangis, ia benar-benar dimakan rindu. Berbulan-bulan tak mendapati kehadiran Jaehyun di sisinya membuat Sunwoo kehilangan, membuat Sunwoo merindu. Rindu Jaehyun dengan senyum menenangkannya, rindu Jaehyun si tengil, ia rindu segalanya yang ada pada Jaehyun.

“Jangan nangis lagi dong, ini aku udah di sini,” kata Jaehyun sembari menghapus air mata yang membasahi pipi.

Hari itu berakhir Sunwoo tertidur di pelukan Jaehyun dan Jaehyun yang merelakan kelasnya di sore hari, demi Sunwoo.

Jaehyun sampai tepat lima menit seperti balasannya dichat. Dengan terburu ia membuka pintu kosan Sunwoo, tangannya menepuk pundak Jongho, “Ho, Sunwoo di mana?”

“Eh si mantan, iya di kamarnya, Kak, ada ibunya juga.”

Dengan begitu Jaehyun mengangguk dan berajalan menuju kamar Sunwoo. Sayup-sayup dapat ia dengar suara si wanita yang sarat emosi dan suara lemah Sunwoo yang menyahuti.

Tanganya mengetuk pintu kamar Sunwoo, “Nu? Jadi, pergi cari buku enggak?” Itu hanya lah alibi Jaehyun semata. Ia jelas tahu bagaimana takutnya Sunwoo saat ini dan diam-diam ia bersyukur ketika Sunwoo salah mengirimkan pesan tadi.

“I-iya, Kak, jadi,” pintu kamar itu terbuka membuat Jaehyun masuk dan mengulas senyum ke arah si wanita.

“Siang, Tante,” sapanya.

“Eh nak Jaehyun, mau pergi sama Sunwoo?”

Dih sok baik.

Namun, Jaehyun hanya mengangguk dan masih mempertahankan senyum sopannya, “iya nih, Tan, eh tapi Tante baru dateng ya? Aku ganggu enggak?”

“Enggak sama sekali, Tante juga udah mau pulang. Mau cari buku?”

“Iya, nemenin Sunwoo.”

Si wanita mengangguk paham kemudian senyum tipis terulas di wajah cantiknya, “ya sudah Tante pulang dulu kalau gitu, Mami pulang dulu ya, kalau kamu udah balik kabarin Mami.” Dengan begitu ibunya beranjak pergi meninggalkan dua pemuda dalam diam.

Jaehyun berjalan mendekati Sunwoo, meraih tangan gemetar itu dan dielusnya pelan, “enggak apa, Nu, enggak ada yang jahat lagi ada Kak Je di sini,” katanya pelan.

Sunwoo mendongak, mata bulat yang masih jadi kesukaannya itu memerah, siap menumpahkan air mata kapan saja.

“Kak Je ... takut,” bisiknya bersamaan dengan air mata itu turun dan isak tangisnya terdengar. Badannya bergetar, tangan digenggamannya semakin dingin, bibirnya digigit upaya meredam isakan.

Dengan cepat Jaehyun meraih tubuh yang lebih kecil itu ke gendongannya sebelum ambruk menghantam lantai kosan. Tangannya mengelus punggung itu dengan lembut. Kakinya melangkah menuju kasur Sunwoo dan duduk di sana, membuat Sunwoo ada di pangkuannya kini.

Sunwoo membawa tangannya untuk digigit, hingga berdarah.

“Jangan digigit,” bisiknya sembari membawa kepala Sunwoo agar menyandar di pundaknya, “gigit baju kakak atau pundak kakak aja.”

Jaehyun, kenapa masih sebaik ini padanya?

Jaehyun, tolong jangan begini nanti Sunwoo jatuh lagi.

“Berisik,” gumam Sunwoo tanpa sadar.

Sungguh ia pusing sekali, kepalanya rasanya penuh dengan bisikan memuakan. Rasanya mau pecah, Sunwoo tak tahan. Maka ia arahkan tangannya untuk menarik rambutnya kuat, sesekali memukulnya.

“Hei jangan dipukul, Nu,” Jaehyun menarik tangan Sunwoo yang masih memukul kepalanya, “apa yang berisik?”

“Suaranya berisik, pusing,” gumam Sunwoo, “capek, Kak.”

“Jangan didengerin ya? Apapun yang Sunwoo denger sekarang itu bohong, cukup denger suara kakak aja jangan yang lain.”

Dan tanpa diminta Sunwoo menangis lagi, ia rindu. Rindu perlakuan manis Jaehyun padanya, ia rindu Kak Je-nya.

“Kok makin kenceng nangisnya, pusing banget ya?”

Sunwoo menggeleng, “kangen,” bisiknya dan bisa ia rasakan elusan Jaehyun di punggungnya berhenti.

Ah Sunwoo kenapa enggak bisa menahan rasa kangennya sendiri sih? Kalau Jaehyun sudah punya pacar bagaimana, lalu bagaimana kalau Jaehyun risih?

Persetanan dengan semua kemungkinan yang berkeliaran dibenaknya, untuk kali ini ia membiarkan perasaannya menang dan kalau Jaehyun menjauhinya ya sudah tak apa. Sunwoo sudak tak punya apapun, ditinggalkan adalah hal biasa baginya.

“Kangen Kak Je,” katanya lagi, rematan di kaus Jaehyun semakin menguat.

“Mana sini yang katanya kangen aku, coba lihat mukanya,” dengan perlahan Jaehyun meraih wajah Sunwoo, mendekatkan wajah keduanya hingga kini hidungnya saling bersentuhan.

Sunwoo bahkan bisa merasakan napas Jaehyun menerpa wajahnya. Hal itu semakin membuat Sunwoo menangis, ia benar-benar dimakan rindu. Berbulan-bulan tak mendapati kehadiran Jaehyun di sisinya membuat Sunwoo kehilangan, membuat Sunwoo merindu. Rindu Jaehyun dengan senyum menenangkannya, rindu Jaehyun si tengil, ia rindu segalanya yang ada pada Jaehyun.

“Jangan nangis lagi dong, ini aku udah di sini,” kata Jaehyun sembari menghapus air mata yang membasahi pipi.

Hari itu berakhir Sunwoo tertidur di pelukan Jaehyun dan Jaehyun yang merelakan kelasnya di sore hari, demi Sunwoo.

warning: suicidal thought , major character death

sunghoon as langit jay as biru


Jangan dulu mati, kita masih punya banyak rencana yang belum dijalankan.

Jangan dulu mati, kamu masih punya aku di sini.

Jangan dulu mati, masih ada pelangi setelah hujan.

Jangan dulu mati, jangan meninggalkan aku sendirian, Biru.

Jangan pergi, aku mohon.

Perkataan-perkataan Langit kala itu terus terngiang di benaknya. Perkataan yang dilontarkan ketika Biru berniat mengakhiri semua rasa sakitnya, menyudahi permainan kejam yang semesta berikan padanya.

Kata Langit dia masih butuh Biru.

Kata Langit, Biru adalah dunianya.

Kata Langit, ia segalanya.

Kata Langit juga, ia tak sanggup ditinggal sendiri oleh Biru.

Karena dengan Biru mereka berdua sama-sama berusaha menutupi luka masing-masing, sama-sama berusaha untuk sembuh dan tetap hidup.

Tetapi, kenapa lelaki itu juga yang pergi meninggalkannya sendiri? Pergi ke tempat yang jauh, yang sulit dijangkau oleh Biru.

Langit asal kamu tahu, Biru pun tak bisa ditinggal sendiri.

Ia harus apa kalau Langitnya memilih pergi?

Kepada siapa dia harus bersandar dan mengadu kala semesta lagi dan lagi menyakiti?

Langit, Biru putus asa.

Ia ditinggal jauh dunianya, ditinggal pergi Langitnya.

“Langit, aku sendirian enggak ada kamu,” kalimat itu tak berhenti ia keluarkan seraya menatap ukiran nama di batu nisan itu.

Nama Langitnya.

“Langit, kenapa perginya sendiri? Kenapa enggak ajak aku juga?” Entah berapa lama ia menangis, Biru sudah tak peduli lagi.

Yang ia butuh hanya Langit di sini.

Kenapa semesta tak pernah berpihak padanya sekali saja? Kenapa sekarang sumber bahagianya ikut diambil juga? Biru memang benar-benar tak boleh bahagia ya?

Tuhan, ia lelah.

“Langit, tunggu ya, tunggu sebentar lagi nanti kita bisa bareng-bareng lagi. Nanti enggak bakal ada yang nyakitin kita lagi.”

Lagi helaan napas berat terdengar di kamar lumayan luas itu, sedangkan yang tak berhenti menghela napas itu menatap kosong ke layar laptop. Terdapat beberapa baris kalimat di sana. Tangannya ia bawa untuk mengacak surai hitamnya, melampiaskan kesal dan kecewa yang dirasa.

Sebagai penulis kehilangan motivasi untuk menulis adalah masalah besar dan Jongseong sangat menyetujuinya. Terhitung hampir tiga hari ia belum juga bisa meneyelesaikan tulisannya.

Kepalanya terasa penuh hingga tulisan yang dituangkan tak terasa seperti biasanya. Monoton dan kacau.

“Udah gue bilang, coba pergi keluar. Cari inspirasi biar enggak mentok, siapa tau pas di luar nemu sesuatu yang buat lo enggak stuck nulis,” Jaeyun kembali angkat bicara begitu melihat keadaan sang karib. “Lagian lo di rumah terus, gimana mau fresh tuh otak. Sesekali keluar nikmati dunia luar.”

“Iya iya oke, nanti gue ikutin saran lo, tapi please untuk sekarang jangan ceramahi gue dulu. Otak gue mau meledak rasanya,” Jongseong menatap pemuda itu memohon.

Jaeyun hanya mengangguk, ia kemudian meraih tasnya dan berdiri, “gue balik dulu ya, mau nemuin Kak Kevin.”

Good luck.”

Sepeninggalan Jaeyun, ia kembali terdiam menatap layar laptop. Jemarinya bergerak menekan tanda simpan dan segera mematikan laptopnya. Mungkin apa yang dikatakan Jaeyun benar adanya. Jongseong butuh menjernihkan pikirannya.

Maka ia mengambil dompet dan ponsel, tak lupa jaketnya. Ya, berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahannya tak apa 'kan. Ditambah malam sudah menghampiri membuat suasana tenang terasa di sekitarnya, wara wiri kendaraan juga sudah mulai berkurang, ramai orang-orang di jalanan juga perlahan menghilang, berganti sepi menyapa.

Tapi, Jongseong suka. Ia suka ketenangan seperti ini.

“Hm besok pagi kayaknya enak juga jalan begini,” monolognya.

Matanya terpejam menikmati udara malam yang menerpa wajahnya. Wah, sudah berapa lama ia tak menghirup udara luar seperti ini? Sepertinya besok ia harus melakukannya lagi.


Pagi ini sekitar pukul sembilan pagi Jongseong sudah terlihat rapi. Sangat berbeda dengan dirinya beberapa hari yang lalu. Hari ini ia kembali berjalan di sekitaran kompleks perumahannya, dengan tangan menggenggam cup berisi americano.

Matanya meneliti jalanan dan bangunan di sekitar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membangkitkan kinerja otaknya. Hingga ia berhenti pada satu titik, lapangan sebuah sekolah.

Ada beberapa siswa tengah berlatih menari dan yang menjadi fokusnya kini adalah pemuda tinggi berkulit putih, yang tengah berdiri mengamati para siswa.

Mata tajam, hidung mancung, serta rambut yang dibiarkan tertiup angin. Jongseong tak pernah menemukan entitas indah seperti si pemuda sebelumnya. Senyumnya manis sekali dengan mata yang ikut melengkung indah ketika tersenyum.

Hal itu membuat Jongseong tak bisa mengalihkan tatap dari si pemuda. Entah berapa lama ia terdiam dalam posisi itu, hingga si pemuda yang ia tatap itu menoleh ke arahnya. Jonseong tersentak kaget dan mengulas senyum seketika.

Astaga ini memalukan.

Si pemuda itu membalas senyumnya.

Jadi, dengan ragu Jongseong mengangkat kopi di pegangannya dan melambaikan tangannya. Dengan begitu ia melangkah pergi menjauhi bangunan sekolah itu.

Ah, ia bahkan bisa merasakan pipinya memerah karena hal tadi.

Kejadian itu terus berulang dengan Jongseong berdiam mengamati si pemuda yang tengah mengajar tari. Ia selalu suka ketika si pemuda meggerakan tubuhnya seirama dengan musik yang mengalun. Hingga entah keberanian dari mana ia berjalan mendekati si pemuda, ketika ia sudah selesai mengajar.

“Em, hai?”

Si pemuda mendongak dan Jongseong terpaku ketika wajah itu bisa ia lihat dari dekat. Indah. Indah sekali. Ia bahkan tanpa sadar menahan napasnya, entah untuk apa.

“Eh, kamu,” sahutnya.

Jongseong meringis, “maaf ya kesannya aneh banget aku lihatin kamu terus.”

Pemuda itu menggeleng dan mengulas senyum, “enggak masalah, agak kaget aja kamu hari ini nyamperin.”

“Abis aku ngerasa kayak stalker kalau ngelihat dari jauh terus,” sahut Jongseong, ia menyodorkan sebotol air mineral ke si pemuda.

“Makasih ya,” ia meletakkan botol pemberian Jongseong ke tasnya, “suka ngelihat orang nari ya? Eh, sini duduk dulu aja em ...”

“Jay.”

“Ah iya sini duduk dulu,” ia menepuk tempat kosong di sebelahnya, Jongseong mengangguk dan duduk di sebelah pemuda yang masih belum ia tahu namanya.

“Sunghoon,” katanya seolah bisa membaca pemikiran Jongseong.

Setelahnya hanya keheningan yang ada, keduanya seolah takut untuk membuka suara sedikit pun. Bingung harus berkata apa.

“Hoon,” Jongseong menjadi pemecah hening di antara keduanya.

Yang dipanggil menoleh dan menatapnya penuh tanya.

“Besok-besok aku boleh ke sini lagi? lihat kamu ngajar, aku diem aja kok duduk di sini,” kata Jongseong penuh harap.

“Boleh aja kok, enggak ada larangannya, Jay,” sahut Sunghoon, “lagi nyari inspirasi kah?”

“Kelihatan banget ya?”

Sunghoon mengangguk, “sama kayak kakakku kalau lagi nyari inspirasi untuk lukisannya. Aku juga begitu sih.”

“Tadinya aku enggak sengaja lewat sekolahan ini dan lihat kamu lagi ngelatih siswa di sini. Aku suka ngelihat kamu nari kayak kamu nuangin emosi kamu di situ, ngebuat gerakan itu terlihat natural dan indah,” tanpa sadar Jongseong berkata panjang lebar membuatnya menepuk mulutnya pelan, “aduh maaf aku bawel banget,” keluhnya.

Ia malah mendengar suara tawa mengalun dari pemuda di sebelahnya. Lagi, Jongseong terpaku menatap entitas indah di sebelahnya ini.

“Makasih lagi ya, Jay,” katanya tulus. Sunghoon menatap Jongseong membuat pemuda itu sedikit salah tingkah, kemudian kembali bersuara, “jarang ada yang bilang gitu ke aku, biasanya cuma dipuji karena wajahku doang bukan kemampuan aku. Eh jadi curhat maaf ya.”

“Masa sih?”

Sunghoon mengangguk lagi, “padahal aku juga mau mereka lihat kemampuan aku, bukan hanya visual aja.”

“Tapi susah enggak sih mengatur pemikiran orang lain? kayak kita capek-capek nunjukin kemampuan kita apa aja, eh mereka seolah tutup mata akan hal itu. Lagian, Hoon, ini hidup kamu kok untuk apa capek-capek dengerin omongan orang?” Jongseong membalas tatapan Sunghoon, “terkadang kita emang butuh validasi dari orang lain akan kemampuan kita, tapi kayak gitu kadang melelahkan enggak sih?”

“Maksudku gini, kalau orang hanya lihat visualmu aja ya udah enggak apa, artinya itu kelebihanmu di mata mereka. Kalau ada orang yang iri ya itu urusan mereka dengan pemikiran mereka, karena kita enggak bisa maksa mereka untuk sesuai sama yang kita mau. Jadi, tanpa perlu dengerin omongan orang kamu juga bisa menjadi versi terbaik dirimu sendiri.”

“Eh aduh aku jadi ngomong panjang lebar maaf,” Jongseong meruntuki dirinya sendiri. Bukan kah aneh dipertemuan pertama mereka, Jongseong sudah menceramahi si pemuda?

Sementara Sunghoon malah tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus helai hitam Jongseong, “enggak apa dan makasih lagi─entah udah yang keberapa kali aku ngomong makasih─untuk perkataan baiknya, akan aku coba lakuin perlahan.”

“Nah kalau kamu gimana?”

“Apanya?”

“Udah ketemu musenya?”

Jongseong mengangguk yakin, “udah.”

“Wah syukur deh kalau udah nemu. Inspirasi, ide tuh datang dari mana aja sebenarnya, bahkan mungkin selama ini ada di deket kita tapi ya gitu kadang kita enggak sadar. Malah sibuk mencari yang lain.”

“Bener banget, kadang kalau udah gitu aku selalu mikir kenapa enggak dari awal aku sadarnya. Tapi, ya mungkin emang harusnya aku tahunya belakangan,” sahut Jongseong.

“Habis ini mau balik?” Sunghoon bertanya.

Jongseong mengangguk sekali lagi, “mau lanjutin kerjaan, udah mau mepet deadline karena aku sempet stuck beberapa hari ini.”

“Oh iya? Bagus dong, terlebih udah nemu inspirasi lagi.”

“Kamu pernah ngerasa jenuh sama pekerjaanmu enggak, Hoon?” Jongseong kembali mengajukan pertanyaan, jangan tanya dirinya dia pun tak tahu kenapa bisa sebawel ini dengan pemuda yang baru ia kenal dalam kurun waktu beberapa jam.

Hanya ketika dengan Sunghoon rasanya ia bisa bebas bercerita dan bertanya. Sunghoon juga dengan suka rela menjawab segala pertanyaannya.

“Pernah, kita semua pasti pernah ada di fase itu, Jay. Biarpun nari itu hobi aku dari dulu, tapi rasa bosan tuh tetap ada.”

“Lalu gimana cara ngatasinnya?”

Sunghoon terdiam sejenak, mengalihkan tatap ke sepatu yang ia kenakan, kemudian berujar, “caraku agak ngeselin sih tapi, kalau lagi difase itu aku bakalan diem di kamar kunci pintu terus nyalain lagu volume full dan aku nyanyi kenceng, sampai mama sama kakak aku ngomel,” Sunghoon tertawa kala mengingat tingkah menyebalkannya itu.

“Asli nyebelin banget itu mah.”

Tawa diberikan sebagai jawaban dan pemuda itu kembali mengangguk, “kalau enggak jalan-jalan enggak jelas keliling perumahan, ya ke mana aja deh.”

“Kalau jenuh tuh 'kan tandanya kita butuh rehat sejenak─bukan berhenti ya─cari distraksi lain sampai nanti rasa jenuh itu hilang dan kita bisa kembali lagi. Dibawa santai aja, Jay, jangan malah dijadikan beban.”

“Iya sih, soalnya aku kalo udah begitu malah dipaksa untuk terus mikir dan lanjutin. Jadi, makin lama malah makin jadi beban buatku,” sahut Jongseong.

Entah berapa lama keduanya asik mengobrol, hingga suara ponsel Jongseong mengagetkan keduanya. Tertera nama Jaeyun di sana, dengan cepat Jongseong mengangkatnya.

“Iya gue ke sana sekarang.”

“Udah mau balik?” Sunghoon bertanya ketika Jongseong meletakkan ponselnya di tas.

Jongseong mengangguk dengan wajah sedikit sedih. Masih ingin mengobrol dengan Sunghoon sebenarnya, namun Jaeyun sudah menanti dirinya.

“Mau ngomong apa? Bilang aja aku enggak gigit, Jay,” ledek Sunghoon.

Membuat Jongseong tanpa sadar menatapnya galak, “itu ... boleh kan kalau mau ngobrol lagi?”

“Astaga kirain apa, boleh kok. Kan katanya besok kamu mau ke sini lagi.”

Dengan begitu Jongseong mengangguk penuh semangat, “kalau gitu sampai jumpa besok?”

Sunghoon kembali mengulas senyum, “sampai jumpa besok.”

Oke hari ini dan seterusnya nampaknya Jongseong tak akan kehilangan motivasi dalam menulis lagi, ia sudah menemukan sumber inspirasinya lagi.

Iya, Park Sunghoon.

Si pemuda yang tak sengaja ia temui ketika tengah berjalan santai di pagi hari dan ia tidak menyesal mengikuti saran Jaeyun waktu itu.

Park Sunghoon, terima kasih ya!