Lagi helaan napas berat terdengar di kamar lumayan luas itu, sedangkan yang tak berhenti menghela napas itu menatap kosong ke layar laptop. Terdapat beberapa baris kalimat di sana. Tangannya ia bawa untuk mengacak surai hitamnya, melampiaskan kesal dan kecewa yang dirasa.
Sebagai penulis kehilangan motivasi untuk menulis adalah masalah besar dan Jongseong sangat menyetujuinya. Terhitung hampir tiga hari ia belum juga bisa meneyelesaikan tulisannya.
Kepalanya terasa penuh hingga tulisan yang dituangkan tak terasa seperti biasanya. Monoton dan kacau.
“Udah gue bilang, coba pergi keluar. Cari inspirasi biar enggak mentok, siapa tau pas di luar nemu sesuatu yang buat lo enggak stuck nulis,” Jaeyun kembali angkat bicara begitu melihat keadaan sang karib. “Lagian lo di rumah terus, gimana mau fresh tuh otak. Sesekali keluar nikmati dunia luar.”
“Iya iya oke, nanti gue ikutin saran lo, tapi please untuk sekarang jangan ceramahi gue dulu. Otak gue mau meledak rasanya,” Jongseong menatap pemuda itu memohon.
Jaeyun hanya mengangguk, ia kemudian meraih tasnya dan berdiri, “gue balik dulu ya, mau nemuin Kak Kevin.”
“Good luck.”
Sepeninggalan Jaeyun, ia kembali terdiam menatap layar laptop. Jemarinya bergerak menekan tanda simpan dan segera mematikan laptopnya. Mungkin apa yang dikatakan Jaeyun benar adanya. Jongseong butuh menjernihkan pikirannya.
Maka ia mengambil dompet dan ponsel, tak lupa jaketnya. Ya, berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahannya tak apa 'kan. Ditambah malam sudah menghampiri membuat suasana tenang terasa di sekitarnya, wara wiri kendaraan juga sudah mulai berkurang, ramai orang-orang di jalanan juga perlahan menghilang, berganti sepi menyapa.
Tapi, Jongseong suka. Ia suka ketenangan seperti ini.
“Hm besok pagi kayaknya enak juga jalan begini,” monolognya.
Matanya terpejam menikmati udara malam yang menerpa wajahnya. Wah, sudah berapa lama ia tak menghirup udara luar seperti ini? Sepertinya besok ia harus melakukannya lagi.
Pagi ini sekitar pukul sembilan pagi Jongseong sudah terlihat rapi. Sangat berbeda dengan dirinya beberapa hari yang lalu. Hari ini ia kembali berjalan di sekitaran kompleks perumahannya, dengan tangan menggenggam cup berisi americano.
Matanya meneliti jalanan dan bangunan di sekitar. Mencari sesuatu yang mungkin bisa membangkitkan kinerja otaknya. Hingga ia berhenti pada satu titik, lapangan sebuah sekolah.
Ada beberapa siswa tengah berlatih menari dan yang menjadi fokusnya kini adalah pemuda tinggi berkulit putih, yang tengah berdiri mengamati para siswa.
Mata tajam, hidung mancung, serta rambut yang dibiarkan tertiup angin. Jongseong tak pernah menemukan entitas indah seperti si pemuda sebelumnya. Senyumnya manis sekali dengan mata yang ikut melengkung indah ketika tersenyum.
Hal itu membuat Jongseong tak bisa mengalihkan tatap dari si pemuda. Entah berapa lama ia terdiam dalam posisi itu, hingga si pemuda yang ia tatap itu menoleh ke arahnya. Jonseong tersentak kaget dan mengulas senyum seketika.
Astaga ini memalukan.
Si pemuda itu membalas senyumnya.
Jadi, dengan ragu Jongseong mengangkat kopi di pegangannya dan melambaikan tangannya. Dengan begitu ia melangkah pergi menjauhi bangunan sekolah itu.
Ah, ia bahkan bisa merasakan pipinya memerah karena hal tadi.
Kejadian itu terus berulang dengan Jongseong berdiam mengamati si pemuda yang tengah mengajar tari. Ia selalu suka ketika si pemuda meggerakan tubuhnya seirama dengan musik yang mengalun. Hingga entah keberanian dari mana ia berjalan mendekati si pemuda, ketika ia sudah selesai mengajar.
“Em, hai?”
Si pemuda mendongak dan Jongseong terpaku ketika wajah itu bisa ia lihat dari dekat. Indah. Indah sekali. Ia bahkan tanpa sadar menahan napasnya, entah untuk apa.
“Eh, kamu,” sahutnya.
Jongseong meringis, “maaf ya kesannya aneh banget aku lihatin kamu terus.”
Pemuda itu menggeleng dan mengulas senyum, “enggak masalah, agak kaget aja kamu hari ini nyamperin.”
“Abis aku ngerasa kayak stalker kalau ngelihat dari jauh terus,” sahut Jongseong, ia menyodorkan sebotol air mineral ke si pemuda.
“Makasih ya,” ia meletakkan botol pemberian Jongseong ke tasnya, “suka ngelihat orang nari ya? Eh, sini duduk dulu aja em ...”
“Jay.”
“Ah iya sini duduk dulu,” ia menepuk tempat kosong di sebelahnya, Jongseong mengangguk dan duduk di sebelah pemuda yang masih belum ia tahu namanya.
“Sunghoon,” katanya seolah bisa membaca pemikiran Jongseong.
Setelahnya hanya keheningan yang ada, keduanya seolah takut untuk membuka suara sedikit pun. Bingung harus berkata apa.
“Hoon,” Jongseong menjadi pemecah hening di antara keduanya.
Yang dipanggil menoleh dan menatapnya penuh tanya.
“Besok-besok aku boleh ke sini lagi? lihat kamu ngajar, aku diem aja kok duduk di sini,” kata Jongseong penuh harap.
“Boleh aja kok, enggak ada larangannya, Jay,” sahut Sunghoon, “lagi nyari inspirasi kah?”
“Kelihatan banget ya?”
Sunghoon mengangguk, “sama kayak kakakku kalau lagi nyari inspirasi untuk lukisannya. Aku juga begitu sih.”
“Tadinya aku enggak sengaja lewat sekolahan ini dan lihat kamu lagi ngelatih siswa di sini. Aku suka ngelihat kamu nari kayak kamu nuangin emosi kamu di situ, ngebuat gerakan itu terlihat natural dan indah,” tanpa sadar Jongseong berkata panjang lebar membuatnya menepuk mulutnya pelan, “aduh maaf aku bawel banget,” keluhnya.
Ia malah mendengar suara tawa mengalun dari pemuda di sebelahnya. Lagi, Jongseong terpaku menatap entitas indah di sebelahnya ini.
“Makasih lagi ya, Jay,” katanya tulus. Sunghoon menatap Jongseong membuat pemuda itu sedikit salah tingkah, kemudian kembali bersuara, “jarang ada yang bilang gitu ke aku, biasanya cuma dipuji karena wajahku doang bukan kemampuan aku. Eh jadi curhat maaf ya.”
“Masa sih?”
Sunghoon mengangguk lagi, “padahal aku juga mau mereka lihat kemampuan aku, bukan hanya visual aja.”
“Tapi susah enggak sih mengatur pemikiran orang lain? kayak kita capek-capek nunjukin kemampuan kita apa aja, eh mereka seolah tutup mata akan hal itu. Lagian, Hoon, ini hidup kamu kok untuk apa capek-capek dengerin omongan orang?” Jongseong membalas tatapan Sunghoon, “terkadang kita emang butuh validasi dari orang lain akan kemampuan kita, tapi kayak gitu kadang melelahkan enggak sih?”
“Maksudku gini, kalau orang hanya lihat visualmu aja ya udah enggak apa, artinya itu kelebihanmu di mata mereka. Kalau ada orang yang iri ya itu urusan mereka dengan pemikiran mereka, karena kita enggak bisa maksa mereka untuk sesuai sama yang kita mau. Jadi, tanpa perlu dengerin omongan orang kamu juga bisa menjadi versi terbaik dirimu sendiri.”
“Eh aduh aku jadi ngomong panjang lebar maaf,” Jongseong meruntuki dirinya sendiri. Bukan kah aneh dipertemuan pertama mereka, Jongseong sudah menceramahi si pemuda?
Sementara Sunghoon malah tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus helai hitam Jongseong, “enggak apa dan makasih lagi─entah udah yang keberapa kali aku ngomong makasih─untuk perkataan baiknya, akan aku coba lakuin perlahan.”
“Nah kalau kamu gimana?”
“Apanya?”
“Udah ketemu musenya?”
Jongseong mengangguk yakin, “udah.”
“Wah syukur deh kalau udah nemu. Inspirasi, ide tuh datang dari mana aja sebenarnya, bahkan mungkin selama ini ada di deket kita tapi ya gitu kadang kita enggak sadar. Malah sibuk mencari yang lain.”
“Bener banget, kadang kalau udah gitu aku selalu mikir kenapa enggak dari awal aku sadarnya. Tapi, ya mungkin emang harusnya aku tahunya belakangan,” sahut Jongseong.
“Habis ini mau balik?” Sunghoon bertanya.
Jongseong mengangguk sekali lagi, “mau lanjutin kerjaan, udah mau mepet deadline karena aku sempet stuck beberapa hari ini.”
“Oh iya? Bagus dong, terlebih udah nemu inspirasi lagi.”
“Kamu pernah ngerasa jenuh sama pekerjaanmu enggak, Hoon?” Jongseong kembali mengajukan pertanyaan, jangan tanya dirinya dia pun tak tahu kenapa bisa sebawel ini dengan pemuda yang baru ia kenal dalam kurun waktu beberapa jam.
Hanya ketika dengan Sunghoon rasanya ia bisa bebas bercerita dan bertanya. Sunghoon juga dengan suka rela menjawab segala pertanyaannya.
“Pernah, kita semua pasti pernah ada di fase itu, Jay. Biarpun nari itu hobi aku dari dulu, tapi rasa bosan tuh tetap ada.”
“Lalu gimana cara ngatasinnya?”
Sunghoon terdiam sejenak, mengalihkan tatap ke sepatu yang ia kenakan, kemudian berujar, “caraku agak ngeselin sih tapi, kalau lagi difase itu aku bakalan diem di kamar kunci pintu terus nyalain lagu volume full dan aku nyanyi kenceng, sampai mama sama kakak aku ngomel,” Sunghoon tertawa kala mengingat tingkah menyebalkannya itu.
“Asli nyebelin banget itu mah.”
Tawa diberikan sebagai jawaban dan pemuda itu kembali mengangguk, “kalau enggak jalan-jalan enggak jelas keliling perumahan, ya ke mana aja deh.”
“Kalau jenuh tuh 'kan tandanya kita butuh rehat sejenak─bukan berhenti ya─cari distraksi lain sampai nanti rasa jenuh itu hilang dan kita bisa kembali lagi. Dibawa santai aja, Jay, jangan malah dijadikan beban.”
“Iya sih, soalnya aku kalo udah begitu malah dipaksa untuk terus mikir dan lanjutin. Jadi, makin lama malah makin jadi beban buatku,” sahut Jongseong.
Entah berapa lama keduanya asik mengobrol, hingga suara ponsel Jongseong mengagetkan keduanya. Tertera nama Jaeyun di sana, dengan cepat Jongseong mengangkatnya.
“Iya gue ke sana sekarang.”
“Udah mau balik?” Sunghoon bertanya ketika Jongseong meletakkan ponselnya di tas.
Jongseong mengangguk dengan wajah sedikit sedih. Masih ingin mengobrol dengan Sunghoon sebenarnya, namun Jaeyun sudah menanti dirinya.
“Mau ngomong apa? Bilang aja aku enggak gigit, Jay,” ledek Sunghoon.
Membuat Jongseong tanpa sadar menatapnya galak, “itu ... boleh kan kalau mau ngobrol lagi?”
“Astaga kirain apa, boleh kok. Kan katanya besok kamu mau ke sini lagi.”
Dengan begitu Jongseong mengangguk penuh semangat, “kalau gitu sampai jumpa besok?”
Sunghoon kembali mengulas senyum, “sampai jumpa besok.”
Oke hari ini dan seterusnya nampaknya Jongseong tak akan kehilangan motivasi dalam menulis lagi, ia sudah menemukan sumber inspirasinya lagi.
Iya, Park Sunghoon.
Si pemuda yang tak sengaja ia temui ketika tengah berjalan santai di pagi hari dan ia tidak menyesal mengikuti saran Jaeyun waktu itu.
Park Sunghoon, terima kasih ya!