Wordsmith

Reader

Read the latest posts from Wordsmith.

from Love In Silence ☑️

Sore itu Hana masih memiliki waktu beberapa jam untuk membantu Anton memilih beberapa novel titipan Adiknya, Anton suka baca, tapi bukan novel. Kalau pun itu novel, ia lebih menyukai bacaan yang mengangkat isu-isu sosial di dalam negeri.

Menurut Anton, bacaan Hana dan Adiknya itu satu selera. Keduanya menyukai novel bergenre thriller dan misteri. Maka dari itu Anton enggak salah waktu ngajak Hana karena ia merekomendasikan beberapa novel yang sudah pernah ia baca.

Mereka masih mengitari lorong demi lorong buku dengan genre thriller, di keranjang yang Anton bawa, ia sudah mengambil beberapa komik yang Elata tulis judul-judulnya. Sembari mengitari lorong novel-novel thriller, sesekali Anton memperhatikan wajah Hana dari samping. Pahatan sempurna dengan aura lembut dan elegan yang selalu Anton kagumi.

Mata teduhnya membaca setiap sinopsis yang terdapat di belakang novel, sembari sesekali bergumam akan hal menarik yang ia baca. Anton selalu menyukai Hana, atas apa pun yang ia lakukan selalu bisa membuat Anton takjub pada gadis itu.

“Yang ini juga bagus, Kak. Aku udah pernah baca ini.” Hana memberikan sebuah novel dengan cover berwarna pink, karya Gillian Flynn di atasnya ada tulisan penulis best-seller Gone Girl.

“Bagusnya?” Anton menaikan satu alisnya.

“Elata punya triggering sesuatu gak?” tanya Hana sebelum ia menjelaskan novel itu pada Anton. Dan Anton hanya menggeleng.

“Menurut aku, Sharp Objects agak triggering sih di beberapa bagian karna si protagonis penyitas self harm. kalau Elata suka sama genre thriler misteri kaya gini, ini bagus banget.”

Anton hanya manggut-manggut saja, ia percaya pada pilihan Hana. Toh selera bacaan gadis itu enggak perlu di ragukan lagi, Anton bukan sekali atau dua kali minta rekomendasi bacaan, film atau novel pada gadis itu. Jadi tanpa berpikir lagi, langsung saja Anton masukan novel itu ke dalam keranjang yang ia bawa.

“Ada novel lain yang kamu suka, Han?”

Mereka kembali mengitari rak, memilah novel-novel yang berjajar rapih di sana. Sembari sesekali membaca sinopsis nya ketika melihat cover depan bukunya yang sudah membuat keduanya tertarik untuk tahu apa isi dari cerita yang di tulis.

Hana mengangguk, tanpa memandang ke arah Anton ia kembali memilih novel dari rak-rak yang ada di sana. Konsentrasinya terbagi dua, antara membaca sinopsis dan menjawab pertanyaan Anton di sebelahnya.

“Ada, suka sama karya nya Keigo Higashino.”

“Malice?” tebak Anton.

“Kok tahu?” Hana mengerutkan keningnya, Hana cuma mikir Anton gak terlalu suka sama genre thriller apalagi ini tentang pembunuhan. Ya, itu cuma tebakan Hana saja.

“Cuma nebak aja sih, pernah baca separuh punyanya Elata. Terus gak aku lanjutin lagi, karna waktu itu sibuk buat kampanye ketua OSIS.”

Hana mengangguk-angguk. “Harus nya di lanjut sih, Kak.”

“Sebagus itu? Spoiler dong.”

“Aku gak mau spoiler, Kak Anton harus baca sendiri.”

Anton terkekeh. “Tapi serius apa yang bikin kamu enggak bisa berhenti bacanya?”

“Kalau aku yah,” Hana menunjuk dirinya sendiri. “Sebagai orang yang pernah nulis dengan sudut pandang orang pertama, aku jadi berasa di kasih penerangan aja kalau nulis pakai sudut pandang orang pertama itu bisa di kreasikan sedemikian rupa, yah maksudnya. Supaya bisa bikin plot twist yang bikin orang kaget, yah mungkin kurang lebih gitu,” jelas Hana.

Hana bukan penulis sungguhan, namun ia bisa menulis cerita versinya sendiri. Enggak pernah ia unggah di mana pun, Hana hanya menulis sebagai penghilang penat untuk menumpahkan segala isi pikirannya, atas semua cerita-cerita yang ada di kepalanya. Hanya sebatas itu, Hana tidak ingin menjadikan tulisan sebagai pekerjaannya. Itu hanya pelariannya saja.

“Jadi sekalian dapat referensi?”

exactly,” Hana menjentikkan jarinya. “Narasinya juga bagus, aku suka baca tulisan-tulisan dengan narasi yang indah dan mudah di pahami.”

Keduanya masih mengitari rak-rak novel di sana, sedang ada jumpa penulis juga dari novel terbitan sebuah plat form. Hana bisa menebak kalau novelnya bergenre romansa, yah tipikal novel-novel yang di sukai remaja dengan bahasa ringan, kisah roman picisan anak SMA.

“Satu-satunya thriller yang pernah aku lanjut baca itu cuma Holy Mother, itu juga awalnya iseng sih, ada gak novel yang mirip-mirip kaya gitu juga, Han?” ucap Anton tiba-tiba.

“Ahhh.” Hana mengangguk, ia juga pernah baca novel itu, sudah lama sekali namun ia masih mengingat isinya. “Kalau gitu Kak Anton harus baca Kelab Dalam Swalayan atau....”

Hana menggantungkan kalimatnya, mencoba mengingat-ingat novel thriller yang pernah ia baca. Yang menurutnya setipe dengan Holy Mother dan di sebelah nya Anton hanya tersenyum samar-samar, menahan rasa gemas karena melihat bibir Hana yang mengerucut itu.

“Ahhh, sama Confenssion sama-sama bahas tentang hubungan Ibu dan anak, kalau enggak salah Hana masih ada novelnya, mau pinjam?”

“Boleh?”

“Boleh, besok Hana bawa yah. “

Setelah di rasa novel dan beberapa komik yang di belinya sudah lengkap, Anton bergegas membayar belanjaannya. Sementara Hana ia biarkan berkeliling tak jauh dari kasir tempatnya mengantre.

Setelah ini Anton sebenarnya ingin sekali mengajak Hana untuk sekedar makan namun sayangnya gadis itu harus segera pergi ke bimbel nya, lagi pula setelah ini Anton juga masih harus pulang karena guru private nya akan datang.

Sedang asik-asiknya melihat komik yang di susun membentuk sebuah piramida di sana, tiba-tiba saja susunan komik itu ambruk. Hana kaget bukan main, ia merasa tidak menyentuhnya sama sekali walau berdiri di dekat susunan rak komik itu.

Namun tiba-tiba kepanikannya itu berubah menjadi jengkel ketika di seberangnya ia melihat Daren tengah berdiri sembari tersenyum konyol ke arah Hana. kenapa cowok itu ada di sini? pikir Hana.

“Lo ngapain?” tanya Hana.

“Lagi jalan-jalan, duh gimana ini? Gue cuma mau ambil novel yang ada di tengah itu malah jadi ambruk.”

“Kan yang lain ada kenapa harus di tengah?”

“Udah di bukain semua gini, masa gue ambil yang plastiknya udah kebuka.”

“Aduh, Mbak, Mas. Gimana sih bisa ambruk gini susunannya, kalau ada novel yang rusak gimana?” omel salah satu staff toko buku di sana. Hana jadi merasa enggak enak, bukan ia pelaku yang membuat susunan buku itu ambruk tapi karena ia berada di dekat sana staff itu jadi menyalahkan Hana juga.

“Aduh, Mbak. Bukunya mah lecet enggak, yang ada kepala saya ini yang lecet. Nyaris geger otak kayanya,” protes Daren enggak mau kalah.

“Saya enggak mau tau yah, kalian harus beresin kaya semula lagi.”

“Aduh, maaf yah Mbak. Saya beresin kok.” Hana sedikit membungkuk. Begitu pula dengan Daren yang juga meminta maaf, yah harus. Karena ia yang salah.

Keduanya akhirnya mencoba menyusun buku-buku itu menjadi seperti semula atas arahan dari staff barusan, Hana cukup paham. Jadi staff itu meninggalkan keduanya walau sembari di pantau dari jauh.

“Eh tadi gimana ini, Han? Aduh.” Daren menggaruk kepalanya.

“Bukan gitu!” gerutu Hana, ia beringsut dari tempatnya untuk membantu Daren membuat pondasi.

Tidak lama kemudian Anton yang sudah selesai membayar belanjaanya itu menghampiri Hana, ia cukup bingung kenapa Hana dan Daren ada di sana berdua sembari menyusun buku-buku.

“Ada apa, Han?” tanya Anton.

“Tadi Daren enggak sengaja jatuhin rak nya, Kak. Terus staff nya ngira Hana juga ikut jadi penyebab rak nya roboh, makanya kita di suruh nyusun ulang,” jelas Hana.

“Yaudah, tinggalin aja dia. Lagian yang ngerobohin kan dia.” Anton melirik Daren sinis, ia tidak menyukai Daren. Menurutnya Daren adalah pembuat onar di sekolahan dan sekarang cowok itu buat onar di toko buku, memalukan.

“Kasian, Kak. Gapapa kok, Kak Anton kalau mau pulang duluan, duluan aja gapapa. Dikit lagi udah masuk jam private nya juga kan?” Hana melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.

“Kamu? Bimbel kamu 30 menit lagi di mulai, Han.”

Ragu-ragu, namun akhirnya Hana tersenyum. “Hana mau bolos kayanya, Kak.”

“Loh?”

“Agak sedikit setress belajar terus, nanti Hana pulangnya minta di jemput Papa aja.” Hana berdiri, dan membalikan tubuh Anton untuk segera meninggalkanya. Hana enggak mau guru yang menunggu Anton di rumah kelamaan karena Anton harus menunggu Hana menyelesaikan susunan buku-buku itu, kemudian mengantarnya ke bimbel.

go! jangan sampai Miss nya nunggu, Kak.” lanjut Hana.

“Udah sana... Belajar aja biar makin pinter. Urusan Hana nanti gue yang antar dia pulang,” samber Daren yang membuat Anton jadi agak sedikit jengkel.

“Heh, gara-gara lo ya. Lagian lo ngapain sih di toko buku sampe bikin rak bukunya ambruk?”

“Ya nyari buku lah, emang lo pikir gue ke toko buka mau beli semen.”

“Kak...” Hana meringis, ia mengangguk kecil memberi isyarat pada Anton untuk menyudahi adu mulut keduanya.

Anton menghela nafasnya dengan kasar, kantung belanja yang ada di tangannya itu ia remas kencang sebagai pelampiasan rasa kesalnya pada Daren yang sudah menganggu nya dan Hana.

“Yaudah, aku duluan yah. Nanti kabarin aku kalau udah sampai rumah.”

Hana hanya mengacungkan jempol saja, kemudian kembali menyusun buku-buku itu bersama dengan Daren. Biarlah ia sesekali membolos untuk pergi ke bimbel, toh Ibu dan Papa tidak akan marah akan hal itu. Hana bisa beralasan jika ia terlambat atau jenuh belajar, keduanya pasti akan memaklumi.


“Makan nya pelan-pelan aja kali,” ucap Daren saat mereka memutuskan untuk makan ketoprak di pinggir jalan.

“Guhe behum mahan dahi hiang.”

Mulut Hana yang masih penuh dengan makanan itu membuatnya kesulitan untuk bicara, dan di mata Daren itu sungguh lucu, pipi nya yang tirus jadi agak sedikit menggembung karena makanan yang tengah Hana makan.

“Lo pernah makan di pinggir jalan kaya gini gak sih?” Daren cuma mikir, dengan background keluarga Hana yang sempurna itu apa gadis itu tidak malu makan di pinggir jalan. Apalagi Papa nya dokter, mungkin saja Hana tipikal gadis yang menyukai tempat makan yang higenis alih-alih pinggir jalan yang kadang ada kendaraan berasap lewat.

“Pernah beberapa kali sih, di ajak makan nasi goreng sama Papa. Kata Papa nasi goreng abang-abang pinggir jalan lebih enak.”

“Setuju sama Om Yuno gue, gak ada nasi goreng yang bisa nandingin nasi goreng abang-abang.”

Hana menoleh ke arah Daren setelah selesai menenggak air minumnya, “kok lo tau nama bokap gue?”

“Gak sengaja liat di buku hadir orang tua murid,” jawab Daren enteng.

Hana hanya mengangguk-angguk saja dan kembali memakan- makanannya, terhitung 2 jam mereka menyusun rak buku dan Daren mengajak Hana makan di pinggir jalan sebagai tanda terima kasih karena sudah membantunya.

Cowok itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu perdana dan juga cloud bread yang ia beli tadi pagi, sebenarnya Daren ingin memberi cloud bread itu saat istirahat namun saat jam istirahat ia malah di hukum sama Pak Alesandro karena ketiduran di jam pelajarannya.

“Buat lo, sesuai janji gue kemarin malam.”

“Buat apaan?”

“Ya buat lo pakai kalo kartu perdananya. 50gb itu, Han. Bisa buat balas chat gue sampe tahun depan kayanya, kalau cloud bread buat elo makan.”

“Iya gue tau, tapi ngapain lo ngasih gue kartu perdana? Di rumah gue pakai wifi kok.”

“Biar lo bisa balas chat gue.”

Hana terdiam, ternyata Daren enggak main-main sama ucapannya kalau dia mau ngasih Hana kartu perdana yang terisi dengan paketan internet.

“Cloud bread nya aja, kartunya lo pake aja. Gue enggak butuh itu.”

“Dih, gue udah janji ini.”

“Gausah, ambil aja.”

“Dih, nanti lo gak balas chat gue lagi.”

“Lo lebih milih enggak gue balas, atau gue blokir?” jawab Hana ketus, Daren lama-lama menyebalkan juga menurutnya.

“JANGAN!!” pekiknya. “Yaudah deh, gapapa gak di balas. Tapi lo baca kan?”

Hana mengangguk.

Setelah selesai makan, Daren langsung mengantar Hana pulang. Ini masih jam 8 malam, namun mobil Papa nya itu sudah terparkir di halaman rumah Hana. Tadi Papa memang sempat menelfon Hana, namun saat mau di angkat. Baterai ponsel Hana lemah dan ponselnya mati.

“Sekali lagi, thanks yah Han.” ucap Daren.

“Sama-sama, by the way lo tadi mau cari buku apa?”

“Mau beli atlas, buat Tania.”

“Atlas?” Hana menyipitkan kedua matanya, pasalnya Hana enggak melihat Daren membeli atlas pada akhirnya. “Terus atlasnya mana?”

Tiba-tiba saja Daren berubah menjadi panik. Ia lupa membeli atlas titipan Tania dan itu artinya ia harus kembali ke toko buku itu lagi.

“Mampus gue,” ia menepuk jidatnya sendiri. “Malah lupa beli, balik lagi ini mah.”

Hana jadi terkekeh pelan. “Mau pinjam punya gue? Gue ada kok.”

“Emang gapapa?”

“Yah, gapapa.”

“KAKAKKKKK!!! CIE CIE SAMA PACARNYA YAH?” pekik Zayden dan Zayn dari balkon rumah.

Sontak itu membuat Hana dan Daren menoleh ke kedua bocah laki-laki dengan perawakan yang bak pinang di belah dua itu. Keduanya tersenyum jahil, sembari memakan coklat di sana.

“Zayden! Zayn!!” pekik Hana salah tingkah.

Kedua adik laki-laki nya itu lari masuk ke dalam rumah sembari menyerukan.

“PAPA IBU!! KAK HANA DI ANTAR SAMA PACARNYA TUHH!!”

Hana terlihat begitu panik, lain hal nya dengan Daren yang justru ketawa-ketawa melihat tingkah laku adik kembar Hana itu.

“Adik lo lucu, kembar yah Han?” tanya Daren.

“Iya, namanya Zayden sama Zayn. sorry yah, Ren.” Hana meringis, gak enak banget adiknya itu anggap Daren adalah pacar Hana.

“Santai aja kali, gue suka anak kecil kok.”

“Tunggu sebentar yah, gue ambil atlasnya dulu.”

 
Read more...

from kenanyildiz1

Renault Megane 2 Enjektör Tesisatı — 8200293070

Soketsan Kablo Donanımları olarak, Renault Megane 2 enjektör tesisatı ürününü siz değerli müşterilerimize sunmaktan mutluluk duyuyoruz. Renault Megane 2 enjektör tesisatı, aracınızın enjeksiyon sistemini en iyi şekilde destekleyerek performansını artırır ve uzun ömürlü kullanım sağlar. Kaliteli malzemelerle üretilmiş bu tesisat, güvenilir ve dayanıklıdır.

Ürün Özellikleri

  • Megane 2 enjektör tesisatı için mükemmel uyum
  • Dayanıklı ve güvenilir bağlantılar
  • Kolay montaj imkanı
  • Yüksek kalite standartlarına uygun üretim

Aracınızın enjektör tesisatını yenilemek veya değiştirmek mi istiyorsunuz? Renault enjektör tesisatı ürünlerimizle aradığınız kaliteyi bulacaksınız. Renault Megane 2 tesisat ürünlerimiz, araç performansınızı optimize eder ve sorunsuz bir sürüş deneyimi sunar.

Neden Bizim Ürünümüzü Seçmelisiniz?

  • Renault Megane 2 enjektör tesisatı fiyatları açısından rekabetçi ve uygun çözümler sunuyoruz.
  • Renault Megane 2 enjektör tesisatı satışı konusunda uzman ekibimizle her zaman hizmetinizdeyiz.
  • Yüksek kalite standartlarına uygun enjektör tesisatı ürünlerimizle aracınıza değer katın.
  • Renault Megane 2 enjektör tesisatı nereden alınır sorusunun cevabı: Soketsan Kablo Donanımları!
  • Renault Megane 2 yedek parça enjektör tesisatı ürünlerimizle, aracınızın orijinal performansını koruyun.

Ürün Detayları

  • Renault Megane 2 enjektör kablo tesisatı ile uyumlu
  • Kolay montaj ve güvenilir bağlantı
  • Dayanıklı ve uzun ömürlü malzemeler

Megane 2 Enjektör Tesisatı Fiyatları

Megane 2 enjektör tesisatı fiyatları, ürünün kalitesine, malzeme yapısına ve markasına göre değişiklik gösterebilir. Soketsan Kablo Donanımları olarak, müşterilerimize her zaman en uygun fiyatlarla yüksek kaliteli enjektör tesisatları sunmayı hedefliyoruz. Ürünlerimiz, aracınızın performansını artıracak şekilde tasarlanmış olup, dayanıklılığı ve güvenilirliği ile öne çıkar. Detaylı bilgi ve fiyat teklifi almak için bizimle iletişime geçebilirsiniz. Uzman ekibimiz, ihtiyaçlarınıza en uygun çözümleri sunmaktan memnuniyet duyacaktır.

Soketsan Kablo Donanımları olarak, müşteri memnuniyetini her zaman ön planda tutuyoruz. Renault Megane 2 enjektör tesisatı ihtiyacınızı karşılamak için bizi tercih edin ve kaliteli ürünlerimizin keyfini çıkarın. Aracınızın performansını artırmak ve enjeksiyon sisteminizi en iyi şekilde korumak için en doğru adres burası!

 
Devamını oku...

from kenanyildiz1

Volvo S40 Bobin Tesisatı — 30864977

Soketsan Kablo Donanımları olarak, Volvo S40 bobin tesisatı 30864977 ürünümüzü siz değerli müşterilerimize sunmaktan gurur duyuyoruz. Volvo S40 bobin tesisatı, aracınızın ateşleme sistemini destekleyerek performansını artırır ve uzun ömürlü kullanım sağlar. Kaliteli malzemelerle üretilmiş bu tesisat, güvenilir ve dayanıklıdır.

Ürün Özellikleri

- S40 bobin tesisatı için mükemmel uyum - Dayanıklı ve güvenilir bağlantılar - Kolay montaj imkanı - Yüksek kalite standartlarına uygun üretim Aracınızın bobin tesisatını yenilemek veya değiştirmek mi istiyorsunuz? Volvo bobin tesisatı ürünlerimizle aradığınız kaliteyi bulacaksınız. Volvo S40 tesisat 30864977 ürünlerimiz, araç performansınızı optimize eder ve sorunsuz bir sürüş deneyimi sunar.

Neden Bizim Ürünümüzü Seçmelisiniz?

  • Volvo S40 bobin tesisatı fiyatları açısından rekabetçi ve uygun çözümler sunuyoruz.
  • Volvo S40 bobin tesisatı satışı konusunda uzman ekibimizle her zaman hizmetinizdeyiz.
  • Yüksek kalite standartlarına uygun bobin tesisatı ürünlerimizle aracınıza değer katın.
  • Volvo S40 bobin tesisatı nereden alınır sorusunun cevabı: Soketsan Kablo Donanımları!
  • Volvo S40 yedek parça bobin tesisatı ürünlerimizle, aracınızın orijinal performansını koruyun.

Ürün Detayları

- Volvo S40 bobin kablo tesisatı ile uyumlu - Kolay montaj ve güvenilir bağlantı - Dayanıklı ve uzun ömürlü malzemeler

Volvo S40 Bobin Tesisatı Fiyatı

Volvo S40 Bobin Tesisatı fiyatları, ürünün kalitesine, malzeme yapısına ve markasına göre değişiklik gösterebilir. Soketsan Kablo Donanımları olarak, müşterilerimize her zaman en uygun fiyatlarla yüksek kaliteli enjektör tesisatları sunmayı hedefliyoruz. Ürünlerimiz, aracınızın performansını artıracak şekilde tasarlanmış olup, dayanıklılığı ve güvenilirliği ile öne çıkar. Detaylı bilgi ve fiyat teklifi almak için bizimle iletişime geçebilirsiniz. Uzman ekibimiz, ihtiyaçlarınıza en uygun çözümleri sunmaktan memnuniyet duyacaktır.

Soketsan Kablo Donanımları olarak, müşteri memnuniyetini her zaman ön planda tutuyoruz. Volvo S40 bobin tesisatı ihtiyacınızı karşılamak için bizi tercih edin ve kaliteli ürünlerimizin keyfini çıkarın. Aracınızın performansını artırmak ve ateşleme sisteminizi en iyi şekilde korumak için en doğru adres burası!

 
Devamını oku...

from Love In Silence ☑️

“Kak?”

Panggilan itu membuat Hana mematikan musik yang ia putar saat belajar tadi, itu adalah Ibu nya. Biasanya saat Hana belajar atau membaca, ia pasti memutar lagu-lagu. Entah itu instrumen atau lagu dari penyanyi yang ia suka.

“Masuk aja, Bu. Enggak Kakak kunci kok.”

Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Menampakan wajah teduh milik Ibu nya itu yang tersenyum ke arahnya, Ibu membawakan Hana beberapa cookies buatannya. Itu membuat Hana tersenyum dan menepukkan tangannya girang.

“Buat nemenin Kakak belajar.” Ibu menaruh piring berisi soft cookies buatannya, dan juga teh tawar di meja belajar Hana. Tempat itu aman dari buku-buku, karena meja belajar Hana memiliki space sendiri untuk menaruh makanan dan minuman.

“Hana udah selesai belajarnya kok, Buk. Cuma lagi iseng ngerjain soal aja.” Hana mengambil 1 keping soft cookies buatan Ibunya itu dan memakannya.

“Soal apa, Kak?”

“Fisika, Buk. Kakak cuma lagi ngulang materi yang di kasih dari bimbel aja. Belum di pelajari di sekolah juga sih, tapi kalo udah di pelajari lagi Kakak kan jadi selangkah lebih tahu,” jelas Hana.

Ara yang mendengar penjelasan anaknya itu tersenyum, Hana menjadikan belajar sebagai hobi nya. Yuno dan Ara enggak pernah menyuruh Hana belajar terus-terusan apalagi sampai membuatnya stress, tapi Hana memang menyukai belajar.

Bukan hanya pada akademik saja, Hana juga banyak mempelajari banyak hal seperti bermain alat musik, memasak, membuat cake, melukis bahkan menyulam. Bahkan baru-baru ini Hana merengek pada Papa dan Ibu nya untuk di daftarkan di tempat kursus bahasa asing.

Tapi Yuno dan Ara masih mempertimbangkan hal itu, Yuno dan Ara enggak mau Hana menjadi sibuk belajar dan kursus ini itu sampai mengorbankan masa mudanya, Yuno dan Ara juga enggak ingin Hana menjadi antipati terhadap orang lain karena saking sibuknya dengan dunianya sendiri.

“Kakak boleh belajar banyak hal, tapi jangan sampai stress yah, sayang. Kalau Kakak mau jalan-jalan sama teman-teman Kakak, Ibu sama Papa kan gak larang.” Ara mengusap-usap rambut panjang anaknya itu.

Hana menggeleng, “enggak, Buk. Hana enggak stress sama sekali. Malahan setiap belajar tuh Hana senang.”

Ara mengangguk, Ara lega mendengarnya. Baru saja ingin merapihkan sedikit meja belajar anaknya itu, Ara melihat cloud bread kemasan yang Hana taruh di meja belajarnya itu.

“Kok gak di makan cloud bread nya, Kak?” Ibu nya itu menaruh cloud bread pemberian cowok bernama Daren yang menganggu Hana tadi siang.

Hana jadi teringat akan cowok yang mengganggunya itu, oh ngomong-ngomong Daren bukan hanya menganggu nya secara langsung, cowok itu juga mengirimi Hana pesan. Seperti menanyakan Hana sedang apa, mau di pesanin makanan apa, mengingatkan Hana untuk tidak terlambat makan atau mengirimkan cerita-cerita kegiatan cowok itu yang tidak ingin Hana ketahui sebenarnya.

“Oh, itu dari teman Kakak, Buk.” Hana terkekeh.

“Kok gak di makan, hm?”

“Biarin aja, Buk. Besok juga dia ngasih lagi.” Daren bilang lewat pesan memang ia mau memberi Hana cloud bread lagi.

“Terus nanti Kakak kumpulin?” tebak Ibu.

Hana hanya terkekeh, kemudian mengangguk kepalanya. “Buk?”

“Ya, sayang?”

“Dia tuh cowok tahu.”

“Si yang ngasih cloud bread ini?”

Hana mengangguk, “namanya Daren, sepupunya Sabrina.”

“Baik gak anaknya hm?”

Kedua iris kecoklatan itu memandang ke arah lain, seperti tengah mencari jawaban atas pertanyaan Ibu nya itu. Hana tau Daren memang nakal, tapi Daren cowok baik-baik. Sikap begajulannya itu enggak merugikan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Selain itu, Daren juga konyol. Setiap celetukan yang keluar dari bibirnya selalu berhasil membuat Hana menahan tawanya.

“Baik sih, Buk. Tapi dia bodoh.”

“Kak...” Ibu memperingati, Ara gak suka kalau Hana merendahkan orang lain seperti itu.

“Ih beneran, Buk. Kakak bukan ngehina Daren, tapi kenyataanya gitu kok. Nilainya jeblok, dia kebanyakan di hukum karena sering main futsal pakai kemeja seragam sampai basah sama keringat, jorok yah, Buk.” Hana terkekeh.

“Kaya apa sih orangnya?”

“Kakak ada fotonya, sebentar.”

Hana mengambil ponselnya, menunjukkan foto Daren dengan Sabrina dan memberi tahu Ibunya itu.

“Mukanya tengil yah, Buk.” ucap Hana.

Ara hanya terkekeh pelan, melihat Daren. Ara jadi teringat sama Janu, walau wajah Daren lebih tengil dari Janu tapi kelakuan mereka hampir sama nyelenehnya.

“Kelihatanya anak baik yah.”

“Dan lucu, Buk.” Hana terkekeh lagi. “Dia pernah jawab pertanyaan dari Pak Alessandro kalau yang ngetik proklamasi bukan dia, terus yang ngejahit bendera merah putih juga katanya bukan tukang jahit di rumahnya.”

Mendengar itu Ara dan Hana jadi ketawa, Ara gak membayangkan seberapa ngaconya anak itu. Ia bahkan sampai menggelengkan kepalanya saking herannya.

“Ya ampun, ada-ada aja dia. Dia enggak tahu?” tanya Ara.

Hana hanya menggedikan kedua bahunya. “Kayanya sih emang beneran sebodoh itu deh, Buk.”

“Ayura Hana Putri Wijaya..” Ibu nya memperingati lagi.

“Ih Ibu beneran, tapi jawaban nyelenehnya lucu yah, Buk.”

Ara mengangguk, memperhatikan Hana yang terus tersenyum saat melihat foto-foto Daren yang ia lihat dari sosial medianya. Ara kadang ingin menutup mata kalau Hana sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang begitu mengagumkan, Ara cukup tahu jika Hana mewarisi kepopuleran Papa nya dulu di sekolah.

Selain itu Hana juga aktif di bidang OSIS bahkan anak itu bercerita ingin mencalonkan diri sebagai ketua OSIS, selain itu Hana juga menjadi ketua PMR di sekolahnya. Banyak ilmu kedokteran yang ia dapat dan pelajari dari Yuno, kemudian ia bagikan pada teman-teman klub nya itu.

“Kalau Ibu masih seumuran Hana, Ibu bakalan suka sama Daren gak?” tanya Hana random.

“Hhmm..” Ara menarik nafasnya pelan. “Kalau dia baik dan menghargai perempuan, mungkin iya.”

Hana mengangguk, Hana pernah melihat Daren rela turun dari motornya demi menyebrangi nenek-nenek yang sudah sepuh di jalan. Kemudian membawa kucing yang keserempet motor ke klinik dan membelikan Sabrina pembalut tanpa rasa malu seperti kebanyakan cowok.

“Kalau Ibu suka sama Papa dulu karena kenapa?” tanyanya lagi.

Ara jadi tersenyum, mengingat bagaimana dulu ia bisa jatuh cinta pada Suaminya itu. Kak Yuno si cowok paling terkenal di sekolahannya. Dulu Ara sempat buta pada perasaanya, bimbang antara kagum atau ia benar-benar jatuh hati pada laki-laki bernama Aryuno itu.

Namun Ara menyadari, atas setiap apapun yang Yuno lakukan selalu menarik di matanya. Yuno juga yang menjadi motifasi bagi Ara untuk belajar agar bisa berada di peringkat yang sama dengannya, kalau untuk wajah rupawan laki-laki itu. Itu urusan terakhir bagi Ara, karena jika setampan apapun Yuno waktu itu. Kalau dia bukan laki-laki yang menghargai perempuan, Ara tidak akan pernah jatuh cinta padanya.

“Karena Papa baik dan jadi motifasi Ibu buat belajar lebih keras, sampai Ibu tahu cita-cita Ibu mau jadi apa saat dewasa nanti.”

Hana mengangguk, memperhatikan wajah Ibu nya itu yang nampak berseri saat menceritakan Papa nya.

“Papa pasti dulu jadi most wanted banget yah, Buk?” tanya Hana yang membuat Ara jadi tertawa.

“Pada jaman nya.”

“Pantesan aja Papa sombong banget tadi,” cibir Hana.

“Sombong kenapa, Kak?”

“Yah gitu, banyak banget yang ngefans sama Papa di sekolah Hana. Semuanya jadi nanyain Papa terus, Hana kan sebel.”

Ara udah enggak kaget akan hal itu, walau tetap saja kadang perasaan cemburu itu masih ada.

“Terus Papa gimana?”

“Yah, Papa biasa aja sih, Buk. Tapi Kakak yang kesal liatnya. Ibu kok kuat sih liat fans Papa banyak kaya gitu dan terang-terangan pula.”

Ara menggeleng, ia juga tidak tahu kenapa bisa kuat menghadapi perempuan di luar sana yang menggilai Suaminya itu. Tapi Ara hanya berpikir, mereka hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki. Yang terpenting baginya adalah Yuno hanya menatapnya sebagai wanita yang ia cintai, dan selama itu. Ara tidak akan pernah perduli pada perempuan lain yang mengagumi Suaminya.

“Belajar lagi yah, Ibu mau ke kamarnya Zayden sama Zayn dulu.”

“Dah, Ibu.”

“Malam, Kak. Jangan malam-malam yah istirahatnya.”

Begitu Ibu nya keluar dari kamarnya, Hana kembali membaca room chat dari Daren itu. Laki-laki itu masih mengiriminya pesan, bahkan kali ini cowok itu mengirimkannya rekomendasi film bagus versi nya. Bukan film-film bergenre romansa yang membuat bulu kuduk Hana merinding, namun itu film bergenre thriller dan horor yang Hana gemari dan beberapa sudah ada yang ia tonton.

“Dasar cowok aneh,” gumam Hana, menaruh kembali ponselnya tanpa berniat membalas sederet pesan dari Daren itu.

 
Read more...

from kenanyildiz1

Fiat Albea Elektrik Tesisatı — 55189286

Fiat Albea 1.6 16 Valf Elektrik Tesisatı – 55189286, aracınızın elektrik sistemi için gerekli olan tüm bağlantıları içerir ve güvenilir performans sağlar. Fiat Albea elektrik tesisatı ürünlerimiz, kaliteli malzemelerden üretilmiştir ve uzun ömürlü kullanım sunar.

Ürün Özellikleri

Fiat Albea 1.6 16 valf elektrik tesisatı için mükemmel uyum Dayanıklı ve güvenilir bağlantılar Kolay montaj imkanı Yüksek kalite standartlarına uygun üretim

Aracınızın elektrik sistemini yenilemek mi istiyorsunuz? Albea 1.6 16 valf elektrik tesisatı ile aracınızın elektrik aksamını en iyi şekilde koruyabilirsiniz. Fiat Albea 1.6 elektrik tesisatı, araç performansını optimize eder ve sorunsuz bir sürüş deneyimi sunar.

Neden Bizim Ürünümüzü Seçmelisiniz?

  • Fiat Albea 1.6 16 valf elektrik tesisatı fiyatları açısından rekabetçi ve uygun çözümler sunuyoruz.
  • Fiat Albea 1.6 16 valf elektrik tesisatı satışı konusunda uzman ekibimizle her zaman hizmetinizdeyiz.
  • Yüksek kalite standartlarına uygun elektrik tesisatı ürünlerimizle aracınıza değer katın.
  • Fiat Albea 1.6 16 valf elektrik tesisatı nereden alınır sorusunun cevabı: Soketsan Kablo Donanımları
  • Fiat Albea yedek parça elektrik tesisatı ürünlerimizle, aracınızın orijinal performansını koruyun.

Ürün Detayları

  • Fiat Albea 1.6 16 valf elektrik kablo tesisatı ile uyumlu
  • Kolay montaj ve güvenilir bağlantı
  • Dayanıklı ve uzun ömürlü malzemeler

Soketsan Kablo Donanımları olarak, müşteri memnuniyetini her zaman ön planda tutuyoruz. Fiat Albea 1.6 16 Valf Elektrik Tesisatı ihtiyacınızı karşılamak için bizi tercih edin ve kaliteli ürünlerimizin keyfini çıkarın. Aracınızın performansını artırmak ve elektrik sisteminizi en iyi şekilde korumak için en doğru adres burası.

Fiat Albea Elektrik Tesisatı Fiyatı

Fiat Albea 1.6 16 Valf Elektrik Tesisatı – 55189286, kalitesine ve satın alınan yere göre farklılık gösterebilir. Web sitemizde şu an gördüğünüz fiyat, güncel satış fiyatıdımızdır.

Soketsan Kablo Donanımları, araç soketleri olarak, müşteri memnuniyetini her zaman ön planda tutuyoruz. Citroen C3 enjektör tesisatı ihtiyacınızı karşılamak için bizi tercih edin ve kaliteli ürünlerimizin keyfini çıkarın. Aracınızın performansını artırmak ve enjeksiyon sisteminizi en iyi şekilde korumak için en doğru adres burası!

 
Devamını oku...

from kenanyildiz1

Opel Insignia Ön Disk Takımı

Opel Insignia'nın ön disk takımı, aracınızın fren performansını en üst seviyede tutmak için hayati bir bileşendir. Yüksek kaliteli malzemelerle üretilmiş olan bu diskler, güvenli ve etkili bir frenleme sağlar.

Opel Insignia Ön Disk Fiyatı

Opel Insignia ön disk takımı fiyatı, ürün kalitesi ve markaya göre değişiklik gösterebilir. Orijinal ve yan sanayi seçenekler arasında fiyat farklılıkları olabilir. Aracınızın güvenliği ve performansı için orijinal parçaları tercih etmek her zaman daha avantajlıdır.

Opel Insignia Ön Disk Değişimi

Opel Insignia'nın ön disklerinin düzenli olarak kontrol edilmesi ve gerektiğinde değiştirilmesi, aracınızın fren sisteminin güvenli ve verimli çalışmasını sağlar. Disklerin aşınma durumuna göre belirli kilometrelerde değiştirilmesi önerilir.

Opel Insignia Ön Disk Seti

Opel Insignia için ön disk seti, genellikle iki adet diskten oluşur ve aracınızın her iki ön tekerleği için de uygundur. Set halinde satın alındığında, disklerin uyumlu ve dengeli bir şekilde çalışması sağlanır.

Opel Insignia Orijinal Ön Disk

Orijinal Opel Insignia ön diskleri, Opel tarafından üretilen ve onaylanan ürünlerdir. Orijinal parçalar, aracınızın fabrikadan çıktığı haliyle aynı performansı ve güvenilirliği sunar. Aracınızın fren sistemi için en ideal seçimdir.

Opel Insignia Ön Disk Değişim Fiyatı

Opel Insignia ön disk değişim fiyatı, servis ve işçilik maliyetlerine bağlı olarak değişiklik gösterebilir. Orijinal disklerin yanı sıra, işçilik kalitesine de dikkat edilmesi gerekmektedir. Güvenilir bir serviste yapılan değişim, uzun ömürlü ve güvenli bir kullanım sağlar.

Opel Insignia Fren Diskleri

Opel Insignia fren diskleri, fren sisteminin en kritik parçalarından biridir. Kaliteli diskler, yüksek sıcaklıklara ve sürtünmelere dayanıklı olmalı, fren performansını olumsuz etkilememelidir.

Opel Insignia Disk Fiyatları

Opel Insignia disk fiyatları, disklerin markasına, kalitesine ve satın alınan yere göre farklılık gösterebilir. Orijinal disklerin fiyatları genellikle daha yüksek olsa da, uzun vadede daha güvenli ve ekonomik bir seçimdir.

Opel Insignia Ön Disk Takımı Kampanyaları

Opel Insignia ön disk takımı kampanyaları, belirli dönemlerde servisler veya parça satıcıları tarafından sunulabilir. Bu kampanyaları takip ederek, kaliteli diskleri daha uygun fiyatlarla temin edebilirsiniz.

Opel Insignia Disk Değişim Süresi

Opel Insignia disk değişim süresi, disklerin aşınma durumuna ve aracın kullanım koşullarına bağlıdır. Genellikle disklerin her 60,000-80,000 kilometrede bir kontrol edilmesi ve gerektiğinde değiştirilmesi önerilir.

Özçelik Opel

Özçelik Opel yedek parça tedariği konusunda 20 yılı aşkın süredir hizmet vermektedir. Orjinal opel ürün ihtiyaçlarınızı web sitemiz üzerinden gönül rahatlğı ile verebilirsiniz.

 
Devamını oku...

from Love In Silence ☑️

Hari ini ada rapat dewan guru dan wali murid, tidak ada pelajaran juga. Jadi sebagian siswa siswi ada yang berdiam diri di kelas dan ada yang lebih memilih untuk di kantin atau bahkan bermain di lapangan. Namun Hana lebih memilih untuk berada di perpustakaan, mendengarkan lagu dari earphone nya sembari membaca buku.

Menurut Hana, itu adalah kombinasi yang sangat sempurna. Apalagi jika di tambah dengan cuaca yang mendung dan agak sedikit hujan, Hana tidak memperdulikan beberapa murid laki-laki yang diam-diam memperhatikannya dari sela-sela rak buku, atau bahkan yang sedang pura-pura mengambil buku.

Hana sama sekali tidak terusik dengan itu, dia sudah biasa dengan hal itu. Ayura Hana Putri Wijaya, siswi kelas 11 yang di kenal sebagai ice princess di sekolahnya. Hana bukan dingin sampai susah di dekati, ia memang tipekal tidak banyak bicara namun sangat amat ramah.

Tidak banyak yang tahu sisi lain dari seorang ice princess sekolah. Hanya sahabatnya yang tahu, namanya Sabrina. Tapi sayangnya Sabrina sedang menemani orang tua nya berkeliling ke sekolah karena orang tua nya adalah salah satu komite sekolah.

Tiba-tiba saja, saat Hana sedang asik membaca buku miliknya. Di depan kursinya duduk seorang siswa laki-laki sembari memberikan strawberry sunday dan cloud bread kesukaannya, dan itu sontak membuat atensinya teralihkan.

Gadis itu mendongakkan kepalanya dan melihat laki-laki yang Hana sering lihat bermain futsal di lapangan itu tengah menyunggingkan senyum konyolnya.

“Hai, nama gue Daren.”

Hana tidak mendengar ucapan laki-laki itu karena musik di earphone nya masih menyala, jadi ia harus mematikan dulu musik yang tersambung dari ponselnya. Namun Hana bisa membaca gerak bibirnya.

“Ada apa?” tanya Hana.

“Itu buat lo,” dia menunjuk strawberry sunday dan cloud bread dengan dagunya. “Nama gue Daren, kelas 11, IIS 2.”

Hana mengangguk. “Nama gue Han—”

“Ayura Hana Putri Wijaya kan?”

“Kok lo tau?”

“Kayanya gak ada yang gak tau siapa lo deh,” ucap Daren sembari terkekeh.

“Kenapa buat gue?”

“Apanya?”

Hana menunjuk strawberry sunday dan cloud bread di depannya itu dengan tangannya.

“Oh,” Daren tertawa. “Pengen ngasih aja, gue sering liat lo makan itu.”

“Oh.. Makasih yah.”

Hana menyimpan makanan itu untuk ia makan nanti, namun itu membuat Daren tampak terlihat bingung. Daren cuma mikir, kenapa enggak di makan sekarang saja? Membaca buku bukanya tambah asik jika sambil makan? Pikirnya.

“Lah, kenapa enggak di makan sekarang aja?” Daren mengikuti langkah Hana menuju lorong buku tentang astronomi.

“Ini kan di perpus,” jawab Hana dingin, dia bahkan enggak menoleh ke arah Daren yang membuntutinya di belakang.

“Emang kenapa? Bukanya baca sambil makan itu tambah asik yah?”

“Lo gak tau kalo di perpus gak boleh makan atau minum?” Hana menunjuk sticker di larang membawa makanan yang berada di dinding lorong perpus, dan pemuda itu hanya menyunggingkan senyumnya hingga deretan giginya itu terlihat.

“Gue pertama kali ke perpus, ma..maksudnya masuk ke perus sekolah. Biasanya gue punya batasan sendiri kalo disini.”

“Batasan?” Hana mengerutkan keningnya.

Dan Daren mengangguk, menggandeng tangan Hana dan menunjukan garis tak kasat mata yang menjadi batasan bagi Daren. Itu ruang pengambilan buku untuk siswa, biasanya setiap tahun ajaran baru. Petugas perpus akan membagikan buku-buku baru dan yang di tunjukkan Daren adalah ruangan itu. Ruang pengambilan buku pelajaran.

Hana yang melihat itu hanya menghela nafasnya dengan kasar, berharap apa dia dari Daren. Si cowok tengil yang hobi main futsal dan keluar masuk BK karena tidak mendengarkan nasihat guru untuk tidak memakai seragam sekolah saat bermain futsal, karena seragam sekolahnya akan basah dengan keringat.

Daren juga sering sekali bolos ke kantin saat jam pelajaran, makan di saat jam pelajaran dan ketiduran di jam pelajaran. Hana sudah sering mendengar itu, karena Sabrina sering menceritakan ke randoman sepupunya itu. Yup, Daren adalah sepupu Sabrina. Semua yang Daren lakukan itu nyeleneh di mata Hana.

“Terus sekarang kenapa lo malah langgar batasan itu?” Hana cuma penasaran aja.

“Karena mau kasihin makanan ke lo.”

Sedang asik mengobrol dengan Daren sekaligus terheran-heran akan ucapan yang keluar dari mulut pemuda itu, Hana mendengar bising dari luar perpustakaan. Bahkan petugas perpus sampai rela mengintip dari kaca jendela sana.

“Ada apa yah? Rame banget kaya anak STM lagi tawuran,” celetuk Daren asal-asalan.

Tanpa menimpali ucapan Daren, Hana keluar dari perpustakaan sendiri untuk melihat apa penyebab kebisingan di luar sana. Begitu Hana berdiri di depan pintu perpustakaan, ia melihat siapa penyebab kebisingan itu sampai terdengar ke dalam perpustakaan.

Itu adalah Papa nya, Papa datang ke sekolah Hana untuk rapat. Namun Papa menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar menyusuri sekolah dulu, namun siapa sangka jika ia justru di ikuti oleh guru-guru, siswi perempuan dan beberapa orang tua murid lainya. Dan itu membuat Hana geram setengah mati.

“Aaaarghhh Papa!!” pekik Hana tertahan, ia memberikan buku yang tadi dia ambil dari perpus dan memberikan itu ke Daren yang masih bingung dengan keramaian di depan perpus itu.

Sementara Hana berlari ke arah Papa nya dan menarik tangan Papa nya itu untuk keluar dari keramaian sana, dan mengajak Papa nya itu ke taman sekolah. Begitu sudah sampai di taman sekolah yang Hana rasa cukup aman, ia lepaskan tangan Papa nya itu.

“Papa ngapain?” tanya Hana.

“Loh, Kak. Papa kan rapat, Papa cuma lagi jalan-jalan aja liat-liat sekolah Papa dulu sama Ibu.”

Hana mendengus, ia memejamkan matanya frustasi. “Iyaaaa, tapi Papa liat kan jadinya pada kepo sama Papa! Kakak gak mau yah kejadian di SMP terulang lagi.”

Gadis sulung Aryuno Abidzar Wijaya itu cemberut, Yuno tahu apa yang Hana maksud. Di SMP Hana memang memiliki banyak teman, tapi Hana juga tahu tidak sedikit yang berteman dengannya hanya untuk memanfaatkannya atau sekedar ngefans dengan Papa nya itu.

Kali ini Hana ingin jadi dirinya sendiri, Hana ingin berteman dengan orang tulus yang memang mau berteman karena dirinya, bukan karena ngefans dengan Papa nya itu.

Yuno yang melihat itu tersenyum, tadinya Ara yang mau datang untuk rapat di sekolahan Hana. Namun sayangnya ada beberapa pekerjaan yang harus Ara urus dulu, jadi lah berakhir Yuno yang hadir dalam rapat orang tua murid.

“Gak akan, Kak. Jangan ngambek dong, atau Papa pakai helm aja ke sekolah Kakak yah biar enggak di liatin?”

“Gatauu ah,” rajuk Hana. “Ibu mana? Kan Hana yang suruh Ibu datang aja.”

“Ibu masih ada urusan di klinik, jadi sama Papa dulu aja yah.”


“Han, itu bokap lo yah?”

“Eh bokap lo dokter kan yah? Praktik dimana aja sih?”

“Sumpah, bokap lo ganteng banget, Han.”

“Papa nya alumni BM400 juga yah?”

“Han, kapan-kapan kita main ke rumah lo yah.”

“Hana Papa mu ada niat punya Istri kedua gak sih?”

Hana sudah berulang kali mendengar kalimat-kalimat itu seharian di sekolah, dan sekarang ia hanya bisa cemberut saat Papanya itu mengajaknya pulang. Bukan Hana enggak tahu kalau sedari tadi sang Papa terus memperhatikannya, Hana cukup tau itu. Hanya saja hatinya masih kesal, Hana benar-benar gak ingin kejadian di SMP nya terulang kembali.

Bukan hanya itu, Hana benci di tanya-tanya bahkan sampai ke hal pribadi dan menyinggung perasaanya. Seperti orang-orang yang menginginkan Papa nya memiliki 2 Istri, bukankah itu terdengar konyol? Memangnya ada yang mau jadi Istri kedua? Pikir Hana.

“Kak?” Papa nya itu menoleh, namun Hana malah membuang pandangannya ke luar jendela mobil.

Kalau melihat Hana ngambek begini, Yuno selalu teringat sama Ara. Cara ngambek mereka sama, namun Hana lebih susah di rayu menurutnya.

“Ohhh Papa tau deh, kayanya kalau makan strawberry sunday siang-siang gini enak deh. Gimana kalo kita jalan-jalan dulu? Habis itu baru jemput si kembar di sekolah?” Yuno menaikan sebelah alisnya, namun Hana masih bergeming di tempatnya.

“Atau Papa bikinin steak aja kali yah? Papa lagi mood masak kayanya deh.”

Siapa sangka jika itu justru membuat Hana menoleh ke arahnya, dan Yuno malah memberikan cengiran yang membuat anaknya itu kembali melihat ke arah lain dan bertambah jengkel.

“Papa tadi waktu rapat tebar pesona sana sini yah? Hana bilangin Ibu loh!!” ancamnya.

“Enggak, mana pernah Papa tebar pesona? Gak tebar pesona aja, udah banyak fans Papa. Bukanya sombong ini, tapi Hana tau sendiri tadi kan.” Yuno menggedikan kedua bahunya.

“Sombong itu namanya!!”

“Enggak dong, Kak. Mana pernah Papa menyombongkan diri, kecuali karena berhasil nikahin Ibu sih.”

“Pokoknya Papa gak boleh ke sekolah Kakak lagi!!”

“Kamu tuh malu yah, Kak? Punya Papa kaya Papa mu ini? Padahal si kembar aja bangga banget.”

Hana melirik Papa nya itu, Hana tau Papa enggak bicara dengan nada yang menyedihkan seolah-olah Hana benar-benar malu memiliki Papa sepertinya. Papa hanya meledek Hana saja, karena Papa begitu penasaran kenapa Hana sebegitu posesifnya.

“Kakak tuh cuma gak mau orang-orang jadi temenan sama Hana karena ngefans sama Papa!! Terutama guru-guru sama staff di sekolah. Papa cuma punya Hana sama Ibu! Gak boleh ada yang sok-sok ngefans sama Papa!!” ucap Hana posesif.

Itu membuat telinga Yuno memerah karena malu, malu sekaligus senang kalau Hana sesayang itu padanya. Harusnya, Hana gak perlu cemburu dan kesal seperti itu. Karena ini bukan untuk pertama kalinya seorang Aryuno di gandrungi oleh kaum hawa.

Karena sejak SMP pun Yuno sudah di gandrungi oleh gadis-gadis, namun Yuno hanya bisa menatap seorang gadis dengan penuh rasa cinta. Yaitu hanya Ara, dan sekarang bertambah Hana. Hanya 2 wanita itu yang Yuno cintai setelah Mama nya.

“Harusnya Kakak gak perlu cemburu gitu dong, Kak. Kan Kakak tau perempuan yang Papa sayang setelah Eyang putri cuma Ibu sama Kakak.”

“Tetap aja mereka bikin jengkel!! Apalagi yang nanya-nanya Papa praktik dimana.”

“Loh kan Papa dokter, sayang.”

“Ihhhh... Papa mah!!” rajuk Hana.

Yuno terkekeh pelan, ia mengusap kepala anaknya itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih fokus menyetir.

“Yaudah-yaudah, nanti urusan sekolah Kakak biar Ibu yang urus yah?”

Hana mengangguk, ia mengulum bibirnya sendiri. Syukurlah kalau sang Papa akhirnya mengerti, dan akan Hana pastikan tidak ada orang lain yang boleh menatap Papa nya penuh kagum.

 
Read more...

from kenanyildiz1

Opel Vectra B Krank Devir Sensörü — 1238228–9174621

Opel Vectra B krank devir sensörü, aracınızın motor performansını en üst seviyede tutmak için gerekli olan hayati bir parçadır. Orijinal GM marka bu krank devir sensörü, 1238228 ve 9174621 parça numaraları ile Opel Vectra B X20XE motoru için özel olarak üretilmiştir.

Ürün Özellikleri

· Ürün Adı: Opel Vectra B Krank Devir Sensörü

· Parça Numaraları: 1238228, 9174621

· Marka: Orijinal GM

· Uyumluluk: Opel Vectra B X20XE motorları

Uyumluluk ve Kullanım

Bu krank devir sensörü, Opel Vectra B araçlarının yanı sıra, bazı Opel Vectra A kasa modelleri ile de uyumludur. Opel Vectra A kasa krank devir sensörü GM olarak bilinen bu parça, yüksek kaliteli malzemelerden üretilmiş olup, aracınızın motor kontrol ünitesine doğru ve güvenilir sinyaller göndererek motorun verimli çalışmasını sağlar.

Fiyat ve Kalite

Orijinal GM marka olması sayesinde, Opel Vectra B krank sensörü fiyatı performans açısından oldukça uygundur. Kalite ve güvenilirliği ile bilinen GM ürünleri, uzun ömürlü kullanım ve mükemmel performans sunar. Eğer Opel Vectra A kasa krank sensörü fiyatı konusunda da araştırma yapıyorsanız, bu ürün sizin için ideal bir seçim olacaktır.

Detaylı İnceleme

· Vectra B Krank Sensörü: Aracınızın motor performansını artırır ve yakıt verimliliğini optimize eder.

· Opel Vectra Krank Sensörü: Yüksek hassasiyetli sensör teknolojisi ile donatılmıştır.

· GM Krank Devir Sensörü: Orijinal parça kalitesi, güvenilir performans sunar.

· Vectra B Krank Devir Sensörü: Kolay montaj imkanı ve dayanıklı yapı.

Opel Vectra B ve A kasa araç sahipleri için ideal bir çözüm olan bu Opel Vectra krank sensörü, aracınızın en iyi şekilde çalışmasını sağlar. Orijinal GM markasının güvencesiyle üretilen bu krank devir sensörü, aracınızın motor sistemine tam uyum sağlar ve uzun ömürlü kullanım sunar.

Bu ürün hakkında daha fazla bilgi almak ve sipariş vermek için bizimle iletişime geçebilir ya da web sitemizi (https://ozcelikopel.com/urundetay/krank-sensoru-x20xev-vecb-82f) ziyaret edebilirsiniz.

 
Devamını oku...

from How To Stay ✔️

Tangisan dari suara bayi di box bayi sebelah Yuno itu membuat Yuno mengerjapkan matanya, rasanya baru 1 jam yang lalu ia tidur dan sekarang ia harus kembali terbangun karena suara tangisan anaknya itu.

Yuno melihat ke ranjang tempat sebelah Istrinya itu tidur, namun Ara tidak ada di sana dan itu membuat Yuno harus kembali bangun dan menggendong si bungsu itu.

“Zayn? Haus yah sayang?” Yuno menimang-nimang anaknya itu. Ketika sudah berada di gendonganya, anaknya yang bernama Zayn Sadewa putra Wijaya itu menghentikan tangisnya.

Ia malah melihat wajah Yuno yang tersenyum menatapnya, tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka. Menampak Ara yang masuk sembari menggendong Zayden.

“Bu, Zayn nangis nih. Kayanya dia haus deh, kamu susuin dulu yah. Sini gantian aku yang jagain Zayden,” ucap Yuno.

Ara mengangguk, ia menidurkan Zayden di ranjang mereka dan bergantian menggendong Zayn untuk kemudian ia susui. 1 bulan yang lalu, Ara melahirkan anak kembar laki-laki. Yang Yuno dan Ara beri nama Zayden Nakula Putra Wijaya dan Zayn Sadewa Putra Wijaya.

Zayden lahir lebih dulu 7 menit dari pada Zayn. Dan proses melahirkan keduanya waktu itu begitu haru, apalagi saat Yuno menemani Ara di ruang bersalin. Itu untuk pertama kalinya Yuno melihat Istrinya berjuang melahirkan buah cinta mereka.

“Ngantuk yah?” tanya Yuno, dia melihat Ara menyusui Zayn sembari bersandar di head board ranjang mereka dengan mata terpenjam.

“Banget, Mas. Tadi aku habis gantiin celana nya Zayden karena dia pup.”

Yuno tersenyum, tanganya yang lain mengusap wajah Istrinya itu dan mengecup nya singkat. Sungguh, Yuno berani bersumpah jika ia tidak akan pernah menyakiti Istrinya.

Yuno sudah melihat Ara bertaruh nyawa dan mengorbankan banyak hal demi anak-anak mereka. Dan Yuno ingin selalu memastikan jika Ara akan lebih banyak bahagia dengannya, ya. Yuno akan selalu memastikan itu.

“Besok pagi mau massage sayang? Biar pegal-pegal nya hilang?”

Ara menghela nafasnya pelan, tubuhnya memang lelah dan pegal karena mengurus si kembar walau Yuno banyak membantunya, tapi tetap saja mereka harus berbagi perhatian pada Hana. Apalagi si kembar yang sering bangun tengah malam dan masih menyusu pada Ara.

“Nanti yang jagain si kembar siapa?” tanya Ara.

“Aku lah, aku kan Papa nya.”

“Ihh.. Mas.” Ara mencubit pipi Suaminya itu dengan gemas.

“Kamu massage di rumah aja, nanti aku panggil orangnya ke rumah. Besok kan Mama sama Bunda mau ke sini juga, aku gak tega liat kamu pegal-pegal begini. Pasti capek kan sayang?”

Ara mengangguk, “kamu gak capek emangnya? Kan kamu juga ikut jagain.”

“Capek, tapi aku tau kamu pasti lebih capek karena kamu udah bawa-bawa mereka selama 9 bulan, terus nyusuin mereka juga. Hormon kamu tuh pasti berantakan banget, aku gak mau kamu kena baby blues.”

Setelah kedua anak mereka tertidur, sembari menunggu mata mereka kembali mengantuk, Yuno memijat-mijat lengan Istrinya itu yang bersandar di dadanya. Mata keduanya tak luput dari si kembar yang sedang pulas di dalam box bayi sebelah ranjang mereka.

“Sayang?”

“Hm?”

“Makasih yah.”

“Untuk?”

for everything, untuk sayang sama aku, bertahan sama aku, anak-anak yang lucu dan untuk segala kesabaran kamu.” Yuno menciumi pucuk kepala Istrinya itu, setiap pagi yang selalu Yuno ucapkan setelah bangun tidur adalah rasa syukur yang tiada hentinya karena semesta telah menemukanya dengan Ara. Wanita yang paling mengertinya, memberikanya bahagia, keluarga dan tempatnya mengadu.

“Makasi juga, Mas. Karena gak pernah menyerah sama diri kamu sendiri. Dan menjadi Suami sekaligus Ayah yang baik.”

Yuno tahu kalau kedepannya mungkin tidak akan hanya ada bahagia saja, tapi ia dan Ara akan selalu menemukan alasan-alasan untuk mereka tetap bertahan.

we are going to last, selamanya hanya kamu yang jadi pertama dan terakhir buat aku, dan akan selalu aku pastikan. i still wake up every morning and the first thing i want to do is see your face.” ucap Yuno.

Ara mengangguk kecil, ngomong-ngomong ia jadi lupa ingin memberi tahu Suaminya sesuatu tentang kabar bahagia dari Julian.

“Mas, minggu depan kamu praktek gak?” tanya Ara.

“Kenapa hm?”

“Kita ada undangan pernikahan loh. Julian sama Vera.”

Ngomong-ngomong, Julian sama Vera temannya Shanin itu akhirnya menikah. Shanin yang mengenalkan Vera pada Julian, dan kebetulan juga kantor tempat Julian bekerja itu sedang mengadakan proyek bersama dengan kantor tempat Vera bekerja. Jadi lah mereka semakin dekat sampai akhirnya menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah.

Ara lega banget dengarnya, Julian laki-laki baik menurutnya, dan Julian pantas mendapatkan wanita yang juga baik untuknya. Dan Ara lega, akhirnya Julian bisa melupakannya dan mengubur perasaanya untuk Ara.

“Kayanya kosong, Sayang. Minggu juga kan? Kalo pun ada mungkin aku jaga malam kayanya. Bisa kok, nanti kita ke acaranya bareng yah.”

 
Read more...

from JazzyExpert

occhiali titanio

https://www.occhialititanio.it Occhiali Titanio . Grazie alla loro durata e alla leggerezza, gli occhiali in titanio offrono un comfort superiore senza sacrificare lo stile. Sia che siate alla ricerca di un look alla moda o di una soluzione pratica per la vostra vista, troverete informazioni utili.

 
Read more...

from How To Stay ✔️

Hari itu adalah hari ke 3 Yuno dan Ara masih berada di carvan dan menyinggahi pantai sebagai tempat mereka beristirahat, langit yang kala itu berwarna jingga dengan desiran ombak dan suara burung yang berterbangan, Ara memperhatikan Hana yang masih sibuk membuat istana pasir.

Hana enggak pernah bosan bermain di pantai, anak itu enggak mengenal kata lelah. Dari dalam carvan mereka tiba-tiba saja Yuno datang, laki-laki itu tadi bilang ingin membuatkan layangan untuk bermain dengan Hana mumpung anginya kencang. Dan benar saja, ia kembali dengan layangan berbentuk kupu-kupu buatannya sendiri, yang menurut Ara bentuknya jauh dari bentuk asli kupu-kupu.

“Kakak, layang-layangnya udah jadi nih!” teriak Yuno, membuat Hana menoleh dan meninggalkan istana pasir yang sedang ia bangun itu.

Tubunya penuh dengan pasir, bahkan rambut panjang anak itu juga di penuhi pasir. Membuat Ara harus berjongkok dan membersihkan pasir-pasir pantai di tubuh dan rambut anaknya itu.

“Kakak main kotor terus, udah mandi juga,” ucap Ara sembari membersihkan pasir di tubuh anaknya.

“Biarin aja, Buk. Papanya dokter ini, kalau sakit kan Hana bisa Papa sembuhin yah.” Yuno mengedipkan satu matanya ke anaknya itu dan membuat Hana tertawa.

Ara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian kembali duduk dan memperhatikan Hana dan Suaminya itu bermain layangan. Setelah obrolan malam hari itu, Yuno belum memutuskan apa-apa, namun Ara benar-benar mengurungkan niatnya untuk bercerai.

Berkas-berkas yang kemarin sudah di pegang oleh pengacaranya itu, Ara tarik kembali. Ia sudah mantap pada keputusannya untuk bertahan dengan Yuno, seberapa besar masalah yang Jeff berikan pada rumah tangganya. Ara enggak mau menjadikan hal itu alasan untuk meninggalkan Yuno.

“Kakak bisa pegang layangannya? Bisa mainin nya gak?” tanya Yuno, Hana sudah bisa memainkan layangannya sendiri, jadi Yuno berniat untuk melepaskannya dan ingin berbicara dengan Ara sebentar.

“Bisa, Pah.” mata anak itu masih fokus pada layangan yang sedang ia terbangkan itu.

“Papa duduk di sana sama Ibu yah, jangan jauh-jauh mainnya yah, udah mau gelap.”

“Ayay captain!!” pekik Hana.

Setelah memberi tahu Hana, Yuno kembali menghampiri Istrinya itu yang sedang duduk di depan carvan mereka. Yuno duduk di sebelahnya, semalaman ini Yuno banyak merenung dan ia sudah mempunyai keputusan untuk rumah tangga nya dan Ara.

“Semalam, aku banyak merenung.”

Keduanya memperhatikan api unggun yang baru saja Yuno nyalakan tadi sebelum mengajak Hana bermain layangan.

“Aku udah punya keputusan soal rumah tangga kita,” lanjutnya.

Ara yang semula melihat ke arah api unggun itu kini menoleh ke arah Suaminya itu, ia melihat sepasang mata teduh itu menatap api unggun. Seolah-oalah di depan sana ada jawaban akan keputusan yang akan ia ambil.

“Aku mau pertahanin semuanya,” Yuno menoleh ke arah Ara, kedua mata mereka saling bertemu. “Aku mau kamu dan Hana selamanya, Sayang.”

Mereka hening beberapa saat sampai akhirnya Yuno ingin memastikan lagi akan keputusan Ara mengurungkan niatnya untuk bercerai.

“Tapi, aku mau tanya sekali lagi sama kamu. Apa kamu yakin?”

Jawaban Yuno adalah jawaban yang selalu ingin Ara dengar, ia ingin Yuno mempertahankannya. Ia juga masih ingin bertahan, enggak ada keraguan lagi. Kalau pun nantinya Jeff akan kembali, Ara masih akan selalu bisa memakluminya. Ia akan selalu menunggu Yuno kembali padanya.

“Um,” Ara mengangguk. “Kamu selalu jadi rumah buat aku pulang, Mas.”

“Sayang?”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku enggak pulang ke rumah, apa kamu tetap mau nunggu aku pulang?” tanya Yuno, ini adalah salah satu kesepakatan yang ia dan Jeff buat.

“Aku dan Hana selalu nunggu kamu pulang, seberapa lamanya kamu pergi. Tapi tolong janji kamu harus pulang dalam keadaan baik-baik aja ya, pulang sebagai diri kamu sendiri.”

Yuno mengangguk, ia beringsut membawa Ara ke dalam dekapannya. Mencium pucuk kepala wanita yang menjadi cinta pertama dan terakhir di hidupnya.

“Papa Ibu!!!” pekik Hana, anak itu berlari meninggalkan layanannya yang terbang di tiup angin.

Teriakan Hana itu membuat Yuno dan Ara melepaskan pelukan mereka dan bergantian memeluk Hana, hari itu di bawah matahari terbenam dan deburan ombak. Yuno dan Ara memutuskan untuk memulai kembali perjalanan mereka, seberapa sulitnya hal yang ia akan hadapi nanti, Ara memutuskan untuk tetap bertahan.


2 tahun kemudian

Ara melajukan mobilnya membelah Jakarta sore itu yang agak sedikit padat, mobil-mobil di depannya berjalan lambat untuk tetap sampai ke tujuan mereka, ia sudah kembali bekerja sejak 1 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah di rumah tangganya dan Yuno selama 2 tahun belakangan ini, Yuno masih bekerja di rumah sakit milik Papa nya sampai saat ini. Tahun depan, Yuno rencananya mau membuka klinik sendiri.

Masih ada beberapa hal yang harus ia urus dulu untuk membuka kliniknya sendiri, ngomong-ngomong soal studinya, Yuno memutuskan untuk fokus pada karir sebagai dokter umum lebih dulu. Papa juga menyetujui Yuno untuk menunda studinya, Papa udah enggak mau atur hidup Yuno lagi.

Papa bilang, Yuno sudah menjadi anak yang baik untuknya. jadi saat ini Yuno boleh melakukan apa saja yang ia mau. Saat mobilnya sedang terjebak di kemacetan, Ara menoleh ke arah gantungan yang ada di mobilnya.

Fotonya dengan Yuno dan Hana saat mereka di taman bermain 2 tahun yang lalu, Ara tersenyum. Anak itu sekarang ini sudah masuk sekolah dasar, Hana semakin dewasa. Putri kecilnya itu bahkan sudah bertekad untuk meneruskan profesi Yuno sebagai seorang dokter.

Baik Yuno maupun Ara, mereka enggak pernah memaksa Hana untuk menjadi dokter. Hana yang menginginkannya sendiri, menurutnya menjadi seorang dokter itu adalah pekerjaan yang keren dan mulia. Apalagi saat Hana melihat Yuno bekerja di rumah sakit, Yuno benar-benar di cintai oleh pasien-pasien dan rekannya saat ini.

Bicara soal Yuno, Ara jadi merindukan laki-laki itu. Sudah terhitung 2 minggu ini Yuno enggak pulang, Ara tahu kemana laki-laki itu pergi. Dan Ara membiarkannya, karena ini untuk pertama kalinya Yuno tidak pulang ke rumah lagi sejak 2 tahun yang lalu.

Mobil yang ia kendarai akhirnya sampai di kompleks perumahan nya, saat Ara akan memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya. Sudah ada mobil milik Yuno di sana, sungguh senyum di wajahnya langsung cerah begitu mengetahui Suaminya itu pulang.

Ara langsung bergegas masuk, kebetulan di meja makan ada Budhe Ani dan Mbak Ulfa yang sedang bersih-bersih. Jadi Ara tanya pada mereka lebih dulu apakah Suaminya benar-benar pulang.

“Budhe, Bapak pulang?” tanya Ara.

“Iya, Buk. Bapak juga nanyain Ibu.”

“Sekarang dimana?”

“Di atas, Buk. Tadi habis anterin Kakak ke tempat bimbelnya, langsung naik ke atas, Buk.”

Ara mengangguk, “yaudah, makasih yah, Budhe.”

Ara langsung menaiki tangga ke lantai 2 rumahnya, begitu ia masuk ke dalam kamar. Suaminya itu ada di balkon kamar mereka ternyata, sedang menikmati matahari sore hari itu.

“Mas?” panggil Ara.

Saat Yuno berbalik badan, senyum di wajah Ara semakin mengembang. Apalagi saat Yuno merentangkan tangannya menyuruh Ara untuk berlari ke pelukannya. Dan tanpa menunggu lama, Ara langsung berlari ke pelukan Yuno. Memeluk Suaminya dan menumpahkan segala rindu yang ia tahan selama 2 minggu tidak bertemu.

“Aku kangen kamu, Mas.” ucap Ara, ia banyak-banyak menghirup aroma tubuh Yuno yang sangat candu baginya.

“Baik-baik aja di rumah kan?”

Ara mengangguk.

Yuno pernah bilang ke Ara, jika suatu hari nanti dia enggak pulang ke rumah mereka. Itu artinya Jeff sedang menguasainya lagi, Yuno dan Jeff membuat kesepakatan itu. Yuno bilang pada Jeff jika sedang menguasainya, Jeff tidak boleh pulang ke rumahnya.

Maka dari itu, Jeff akan pulang ke apartemen milik Yuno yang tidak jauh dari rumah sakit. Jeff benar-benar menepati janjinya untuk tidak menemui Ara dan Hana lagi, itu semua Jeff lakukan untuk menebus semua rasa bersalahnya karena sudah menyakiti Ara dan Hana serta membuat Nathan pergi.

Jika sedang menguasainya, Jeff akan selalu mampir ke makam Nathan setiap ia pulang bekerja. Di rumah sakit, Jeff juga enggak banyak bicara. ini agar tidak ada orang yang mengetahui jika Yuno memiliki alter ego karena cara berbicara mereka sangatlah berbeda.

Meski rasanya Jeff juga merindukan Ara tapi ia lebih baik tidak menunjukan dirinya di depan wanita itu, Jeff hanya melihat foto-foto Ara di ponsel Yuno. Kemudian akan merasa lega mengetahui wanita yang juga ia cintai itu baik-baik saja.

Sore itu, Yuno dan Ara menikmati matahari terbenam di balkon rumah mereka sembari bercerita dan menikmati secangkir teh. Yuno bahkan enggak melepaskan pelukannya di pinggang ramping Istrinya itu, ia ingin menebus waktu-waktu saat tidak bisa memeluk wanitanya.

“Mas?”

“Hm?”

Ara menarik nafasnya, tangan Yuno yang berada di atas perutnya itu. Ia usap, Ara juga mengusap-usap cincin nikah mereka yang melingkar di jari manis Yuno, ia ingin menanyakan Jeff. Ia juga ingin tahu kabar laki-laki itu bagaimana, mungkin sulit melupakan kejadian 2 tahun lalu di hidupnya. Namun Ara sudah memaafkan laki-laki itu.

Apalagi jika mengingat sorot mata kesedihan dan penyesalan saat yang terakhir Ara lihat. Apa Jeff saat ini baik-baik saja? Ngomong-ngomong, Jeff muncul memang karena Yuno membiarkannya datang, Yuno juga ingin tahu kabar Jeff. Selama 2 tahun ini Yuno tidak membiarkan Jeff muncul dan Jeff juga tidak memaksa Yuno untuk itu.

Jeff lebih mudah di kendalikan sekarang, biarpun sikap dingin dan emosinya memang susah untuk hilang.

“Mau ngomong apa sih?” Yuno mengecup pipi Ara dari belakang, kemudian kembali mengeratkan pelukannya lagi.

“Jeff, gimana kabarnya Mas?”

Yuno tersenyum, Ara masih perduli pada alter ego nya itu. Yuno agak sedikit lega, setidaknya Ara tidak menyimpan dendam apa-apa pada Jeff meski mungkin memaafkan Jeff masih terlalu sulit untuknya, Pikir Yuno.

“Dia baik-baik aja, sangat baik-baik aja.”

Ara mengangguk, “syukur deh. Aku lega dengarnya.”

“Sayang?”

“Ya?”

“Jeff titip sesuatu yang dia buat sendiri ke aku, untuk kamu. Tapi aku agak sedikit—” Yuno menarik nafasnya dengan kasar. “Cemburu,” cicitnya.

what?” Ara terkekeh, ia melepaskan pelukan Suaminya itu dan menghadap ke arahnya. “why? dia titip apa ke kamu?”

“Karena dia lebih suka bikin sesuatu untuk kamu, dan semua buatanya bagus. Sedangkan aku cuma bisa beli. Tangan aku kayanya lebih pandai ngerusak deh.” Yuno terkekeh.

Yuno kemudian merogoh saku celana yang ia pakai dan mengeluarkan kotak berudu merah di sana. Seperti sebuah kotak perhiasan, mungkin sebuah kalung atau gelang, pikir Ara.

“Ini apa?” tanya Ara.

“Enggak tahu, aku gak di bolehin buka karena kata dia itu bukan buatku.”

Ara terkekeh, Suaminya itu benar-benar cemburu. “Aku buka yah?”

Yuno mengangguk.

Begitu Ara membukanya, ternyata Jeff memberinya hadiah sebuah kalung cantik dengan pendant sebuah resin art yang di dalamnya ada bunga dandelion dan insial namanya. Sebuah kalung yang sangat cantik pikirnya, dan Jeff bilang membuatnya sendiri.

Ara tahu, Jeff itu terampil sekali. Laki-laki itu pandai membuat sesuatu sendiri. Seperti Jeff bisa melakukan pottery untuk membuat mug dan piring-piring lucu, bisa membuat enchanted rose, melukis dan menyulam. Jeff banyak mempelajari hal-hal itu dengan cepat.

Berbeda dengan Yuno yang enggak terampil melakukan hal-hal seperti itu, Yuno lebih pandai memasak dan menyembuhkan pasiennya dari pada membuat kerajinan tangan. Tangan Yuno enggak seterampil itu, bahkan untuk memasang lemari kayu sendiri aja ia kesulitan dan berakhir memanggil tukang.

“Dandelion, punya makna mendalam sama kehidupan. Mungkin itu yang Jeff gambarin dari kamu.”

Entah kenapa sore itu Ara sedikit sensitif, matanya berkaca-kaca saat ia melihat kalung yang di berikan Jeff untuknya.

“Kenapa aku jadi nangis yah?” keluh Ara, dia mengusap kedua matanya dan terkekeh.

“Mau aku pakein sayang?”

Ara mengangguk dengan cepat, memberikan kalung itu pada Yuno dan membawa rambutnya ke depan dadanya agar tidak menghalangi Yuno untuk memakaikan kalungnya nanti. Saat kalung itu sudah terpasang, Ara berkaca pada pintu kaca yang memisahkan antara kamarnya dan balkon. Dan kalung buatan Jeff benar-benar cantik di leher jenjangnya.

“Cantik,” ucap Ara.

“Dia bilang dia akan terus tepati janjinya sama kamu, buat enggak muncul lagi di depan kamu, sayang. Aku harap itu lebih baik.”

“Mas?”

“Hm?”

“Ini untuk pertama kalinya Jeff muncul lagi, waktu di hari pertama kamu enggak pulang. Aku sempat takut, takut kalau kamu enggak akan pulang ke rumah sebagai diri kamu sendiri. Aku takut Jeff ambil alih diri kamu seluruhnya, tapi aku nyesel banget mikir gitu karena ternyata Jeff benar-benar menepati janjinya.”

Ara memang mengkhawatirkan hal itu, karena ada beberapa kasus alter yang mengubur karakter asli seseorang dan tidak membiarkan karakter asli itu muncul, dengan kata lain tubuh nya justru di kuasai oleh alter nya saja. Dan Ara enggak ingin itu terjadi, tapi siapa sangka justru Jeff kini jauh lebih baik dan terkendali.

“Jeff masih merasa bersalah sama kamu, dia bilang dia akan selalu ingat hal itu sebagai hukuman untuk dirinya sendiri. Jeff cerita ke aku, kalau selama dia ngambil alih aku, dia gak pernah absen ke makam Nathan.”

Ara mengangguk, selain ingin mendengar kabar Jeff dari Suaminya. Ara juga punya kejutan untuk Yuno, hadiah yang Ara sangat ingin memberitahunya pada Yuno langsung.

“ah, iya, Mas. Aku punya sesuatu buat kamu.”

“Apa?” Yuno mengerutkan keningnya.

“Tunggu sebentar yah.” Ara masuk ke dalam kamar mereka, ia mengambil hadiah untuk Yuno itu di laci meja riasnya dan kemudian kembali lagi ke balkon.“Tutup mata kamu.”

“Sayang, hadiah apa sih? Aku pake nutup mata segala,” protesnya.

“Udah ih, tutup mata aja.”

“Yaudah-yaudah.” Yuno pasrah, ia menutup matanya dan membiarkan Ara mengambil tangannya dan meletakan sesuatu di atas telapak tangannya.

“Sekarang, buka mata kamu deh.”

Begitu Yuno membuka kedua matanya, senyum di wajah tampannya itu langsung muncul. Saking senang dan suka nya dengan hadiah itu, bahkan Yuno sampai enggak bisa berkata-kata lagi.

“Sayang ini beneran?” tanya Yuno tidak percaya dengan apa yang baru saja Ara berikan.

Ara mengangguk, “udah masuk 8 minggu.”

Saking senangnya, Yuno sampai menitihkan air matanya dan menarik Ara ke dalam pelukannya. Ya, Ara hamil. Dan usia kandungannya sudah 8 minggu, waktu tahu ia hamil, Ara ingin sekali memberi tahu pada Yuno namun saat itu Jeff sedang mengambil alih Suaminya. Jadilah hari ini Ara baru memberi tahu Yuno.

“Sayang.. Aku bahagia banget, aduh aku sampai nangis gini.” Yuno mengusap matanya, ini benar-benar tangisan kebahagiaanya.

“Utututu sini aku elapin air matanya,” Ara mengusap wajah Yuno yang basah dengan air matanya itu.

“Sayang, i'm the happiest husband ever,” Yuno mengecup kening Ara.

no, i'm the happiest wife ever.” Ara tersenyum bahagia.

Keduanya terkekeh.

“Kakak udah tahu kalau mau punya Adik lagi?”

Ara menggeleng, “kamu yang pertama tahu.”

Yuno tersenyum, ia melayangkan satu kecupan singkat di bibir Istrinya itu. Sekarang kebahagiaan mereka telah lengkap, mungkin enggak akan selamanya selalu bahagia. Tapi setidaknya keduanya sudah berjanji akan tetap bersama saat suatu hari badai menerpa lagi, mereka akan melaluinya bersama sampai hari kembali cerah.

Dan kebahagiaan ini telah lengkap setelah Yuno mengetahui Ara mengandung lagi, anak ketiga mereka yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan.

selesai

 
Read more...

from How To Stay ✔️

For you i'll buy a boat, sail the atlantic sink it to the bottom get the keys to atlantis.

“Lo pikirin lagi, Kak. Kalian masih punya banyak waktu buat ngobrol berdua, nikmatin quality time lo sama Ara dan Hana. Dan pikir-pikir lagi, apa lo udah siap kehilangan mereka?”

“she is perfect as a wife, not many men are lucky to have a good wife, so why did you let her go?”

“aku masih sayang kamu. Aku mau bertahan bukan cuma karena ada Hana di antara kita, tapi karena aku sayang sama kamu.”

Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala Yuno hingga saat ini, pagi itu ketiganya berakhir di sebuah carvan yang Yuno sewa. Ia memilih pantai sebagai tempat carvan mereka singgahi, ini masih terlalu pagi, bahkan di luar masih gelap. Namun Yuno sudah terbangun, ia melihat Istri dan anaknya itu yang sedang tidur di sebelahnya, yup Yuno berada di tengah dengan dua perempuan yang sangat ia sayangi itu mengapitnya.

Ia memperhatikan setiap lekuk wajah Istrinya yang selalu ia lihat ketika menutup mata dan membuka mata keesokan harinya, ia sudah banyak melewati suka dan duka bersama Ara, wanita itu yang membuatnya jauh lebih kuat. Di tambah dengan kehadiran malaikat kecil di hidup keduanya, sekali lagi Yuno bertanya pada dirinya sendiri.

Apa ia sudah siap untuk kehilangan keduanya? Bercerai dengan cara baik-baik demi kebaikan bersama? Memang itu ada? Meskipun terbilang baik-baik, tapi tetap saja ada masalah di rumah tangga mereka. Meski terdengar remeh, tapi bagi Yuno ini bukan suatu hal yang remeh, ini soal Jeff. Tentang dirinya, dirinya yang lain yang selalu berusaha untuk menyakiti Istrinya.

Yuno memejamkan matanya, mengusap wajahnya itu. Di sebelahnya Ara menggeliat, Istrinya itu masih tertidur, namun tanganya memeluk tubuh Yuno dan mengusapkan wajahnya di lengannya, Membuat Yuno menoleh ke arah Istrinya itu.

Tanpa ia sadari, sebuah senyuman terbit di wajahnya. Tangan besarnya itu mengusap wajah Ara sangat pelan, apa ia sudah siap tidak melihat wanitanya ketika ia membuka mata di pagi hari nanti?

Ketika sedang larut dalam pikirannya sendiri sambil menatap wajah cantik kesayangannya, kedua mata yang selalu Yuno sukai itu terbuka. Iris hitam legam itu menatapnya, ia sedikit mengucek matanya yang terasa perih. Kemudian tersenyum, senyuman yang selalu berhasil membuat Yuno tergila-gila pada wanitanya itu.

Yuno tidak perduli dulu Jeff pernah bilang kalau Ara adalah gadis yang manja, yang Yuno suka memang gadis yang manja. Yuno suka memanjakan Ara, semua rajukan yang keluar dari bibir ranum itu tidak tahan membuat Yuno untuk ingin selalu mengabulkan permintaanya.

good morning, Papa..” sapaan itu keluar dari bibirnya, ia kemudian tersenyum.

morning Too.” Yuno menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah Istrinya itu dan mengecup keningnya.

“Hngg..” bibirnya cemberut, “bukan di situ kayanya deh.”

“Apanya?” Yuno mengerutkan keningnya bingung.

“Ciumnya!!”

“Terus dimana?”

Ara mengerucutkan bibirnya, sungguh Yuno berani bersumpah. Ara yang terlihat kekanakan pagi ini dan mengerucutkan bibirnya itu mirip sekali dengan Hana, kelakuan manja Istrinya di pagi hari itu membuat Yuno tertawa dan tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Dengan cepat ia layangkan 1 kecupan di bibir Istrinya itu, keduanya saling tertawa. Namun rasanya Ara masih belum cukup jika hanya di kecup saja, jadi wanita itu mendekatkan dirinya dan mencium Yuno lebih dulu.

Ara itu masih agak kaku, ia jarang sekali mencium Yuno duluan. Bahkan Yuno masih bisa menghitung berapa kali Ara menciumnya dengan kedua jari tangannya, ciuman itu terlalu manis bagi Yuno, bagaimana bisa bibir mungil itu mengecup bibirnya, melumat dan dan menggigitnya kecil.

Yuno masih terlalu terkejut, namun pada akhirnya ia memejamkan matanya. Menikmati setiap kuluman dan kecupan bibir mungil itu di atas bibirnya, tangan Yuno yang semula diam itu kini berpindah memegangi pinggang ramping istrinya itu.

Rambut panjang Ara yang terurai itu, menutupi wajah keduanya dari samping. Pertemuan antara bibir itu membuat keduanya terbuai dan masih terus mencacapi satu sama lain, sungguh, Ara rasanya di buat mabuk kepayang hanya dengan ciuman di pagi mereka yang tidak biasa ini.

Namun ciuman itu tidak berlangsung lama, karena Hana menggeliat dan mengubah posisinya menjadi menghadap kedua orang tua nya. Ara buru-buru menjauhkan tubuhnya dari tubuh Suaminya itu, walau Hana masih memejamkan matanya. Tapi tetap saja Ara dan Yuno terkejut, keduanya tidak ingin Hana memergoki apa yang kedua orang tua nya lakukan.

“Mau sarapan apa sayang?” tanya Yuno.

Keduanya bangun dan masih duduk di ranjang, Ara juga mematikan AC yang ada di carvan dan menggantinya dengan membuka jendela yang berada di dekat ranjang mereka. Begitu jendelanya di buka, semilir angin laut di pagi hari itu langsung masuk ke dalam carvan mereka.

“Chef Yuno yang mau masak yah?”

yes, Istriku ini mau makan apa?”

“Mas?”

“Tuh kan manggil itu lagi.” protes Yuno, Ara masih sering kali salah memanggilnya.

“Hana belum bangun, janji deh kalau Hana bangun aku panggil Papa.”

Yuno menghela nafasnya pelan, namun pada akhirnya ia mengangguk setuju.

“Yaudah, kamu mau makan apa hm?”

Rasanya pagi ini Yuno ingin sekali bermesraan dengan Ara, jadi, ia peluk tubuh itu dari belakang dan ia kecupi bahu Ara.

“Mau pasta deh, Mas.”

“Selain pasta, sayang. Aku gak bawa pasta.”

“Hmm.. Apa yah,” Ara masih mikir-mikir ingin di masakan apa, Yuno itu pandai sekali memasak. Ara bisa minta di masakan apa saja oleh Suaminya itu karena Yuno selalu bisa membuatnya.

“Mas, apa dong kasih saran gitu.”

“Apa yah? Aku lagi sibuk nyiumin rambut kamu,” Yuno terkekeh. “Ini loh wangi nya enak banget.”

“Ishhh aku gak minta kamu review wangi rambut aku, bantuin aku mikir mau sarapan apa Mas Yuno...” rengek Ara dan itu semakin membuat Yuno tertawa melihatnya.

“Avocado toast, hm? Or corn sup?”

“Ya Udah deh dua-duanya aja, Mas. Tapi nanti siang kita jadi makan seafood kan?” Ara menoleh ke arahnya, kedua matanya berkedip seperti memohon. Terlihat seperti anak kucing yang sedang memohon untuk di rawat.

“Iya sayang.”

Begitu Yuno mengiyakan, Ara tersenyum. Keduanya langsung mengarah ke mini kitchen yang ada di carvan itu. Biarpun mini kitchen, tapi hampir semua perlengkapan dapurnya itu lengkap, ada pemanggang roti, microwave, oven dan mixer.

Sembari memperhatikan Yuno membuat toast, Ara juga membuat adonan cloud bread untuk Hana. Anaknya itu suka sekali makan cloud bread, dan tadi Ara mengintip anak itu belum bangun. Semalam Hana tidur agak sedikit larut karena terlalu banyak bercanda bersama Papa nya itu.

“Aku yang nerusin bikin cloud bread nya gapapa sayang, kamu bangunin Hana aja gih. Udah jam 6 juga, di luar segar banget udaranya loh,” ucap Yuno.

“Beneran gapapa?”

“Yup, nanti kalau udah jadi sarapannya aku panggil, tapi main di pantainya tunggu aku yah.”

“Ih Mas tapi di luar angin nya kencang, nanti masuk angin gimana?”

“Gak ada masuk angin, emang kamu makan angin?”

Ara mengangguk, ia meninggalkan adonan cloud bread nya itu. Sebelum membangunkan Hana, Ara sempat mengecup pipi Suaminya itu, kebetulan Yuno juga sedang sedikit membungkuk, dan itu memudahkan Ara untuk menciumnya. Karena jika Yuno tidak membungkuk, itu artinya Ara harus sedikit berjinjit agar bisa mencium pipinya.

Setelah itu Ara langsung melenggang untuk membangunkan Hana, anak itu masih tidur jadi Ara akan membangunkannya pelan-pelan. Ia naik ke ranjang, dan mengecup pipi Hana.

princess nya Ibu, bangun yuk sayang. Katanya Kakak mau belajar naik sepeda, um?” bisik Ara di telinga putrinya itu.

Hana menggeliat, mata kecilnya yang terpejam itu terbuka. Ia tersenyum melihat Ibu nya di depannya itu, dan memeluk Ibunya.

“Ibu...”

“Ya, sayang?”

“Papa kemana?”

“Lagi buat sarapan, kenapa um?”

“Hana mau main di pantai aja yah, Buk?”

“Main di pantainya nunggu Papa yah? Kan Papa lagi masak, nanti habis sarapan baru kita main-main di pantai.”

Hana mengangguk, ia melepaskan pelukan Ibu nya itu dan mengubah posisinya menjadi duduk.

“Tapi Ibu pegangin Hana yah waktu naik sepeda?” tanya Hana.

sure Ibu di belakang Kakak kok.”

Di dalam caravan sembari menunggu cloud bread nya matang, Yuno memperhatikan Hana yang sedang belajar naik sepeda dengan Ara yang berada di belakangnya. Mereka hidup Yuno, melihat keduanya tertawa membuat hati Yuno menghangat. Dan sekali lagi ia bertanya pada dirinya sendiri, apa ia siap kehilangan saat-saat seperti ini?

Ketika sudah selesai sarapan, ketiganya bermain-main di pantai. Mereka berenang, membuat istana pasir, perang bola pasir sampai Hana dan Ara berakhir mengubur Yuno di dalam pasir. Hanya ada tawa hari itu tanpa mengenal lelah, saat siang tiba. Yuno membuatkan aneka macam seafood dan tidak ketinggalan dengan es kelapa.

Keduanya makan dengan sangat lahap, mereka juga sempat melihat anak penyu di pinggiran pantai. Rasanya Yuno ingin menghentikan waktu saat ini, agar hanya berhenti di saat-saat indah seperti ini saja.

Gita benar, meski sudah nampak terlihat baik-baik saja. Yuno dan Ara seperti berusaha mengubur masalah kemarin, membuat masalah itu seolah-olah tidak pernah terjadi. Padahal Yuno tahu, kalau masih ada yang tampak mengganjal di antara mereka.

Malamnya, saat Hana sudah terlelap tidur. Yuno dan Ara memutuskan untuk berbicara tentang mereka, pernikahan mereka dan masalah kemarin di depan carvan. Di temani secangkir coklat panas, api unggun dan deburan ombak yang menjadi saksi bisu keduanya.

“Aku rasa emang kita perlu ngobrol banyak hal, Mas.”

Matanya menatap deburan ombak, sembari sesekali ia sesap coklat panas itu yang berada di tangannya.

“Boleh mulai dari aku?” tanya Yuno, yang di jawab anggukan kecil oleh Ara.

Sebelum memulai ceritanya, Yuno menarik nafasnya dahulu. Ini akan menjadi obrolan yang panjang bagi keduanya.

“Di rumah sakit aku memang enggak baik-baik aja, Sayang. Maaf aku gak pernah cerita, aku cuma enggak mau bikin kamu kepikiran dan bahayain Nathan waktu itu”

Ara sepertinya tahu ara pembicaraan Yuno kemana, yup. Jeff sudah menceritakannya, namun tetap saja ia ingin mendengar cerita ini dari sudut pandang Suaminya.

“Aku sering dengar teman-teman sesama dokter dan perawat bilang aku gak kompeten, mereka bilang itu di belakang aku,” Yuno meringis, ia sempat bertanya-tanya. Apa ia memang tidak kompeten sebagai seorang dokter?

“Mereka bilang aku anak yang manja dan cuma bisa mengandalkan orang tua, nepotisme dan masih banyak hal-hal menyakitkan yang aku gak sengaja dengar dari mereka. Aku ngerasa semua orang yang ada di sana makai topeng kalau di depan aku”

“Apalagi waktu Papa memutuskan untuk daftarin aku studi lagi dan ambil spesialis jantung. Jujur, aku belum siap. Aku masih mau nikmatin waktu-waktu aku sama kamu dan Hana. Aku bahkan berniat untuk jadi dokter umum aja, aku gak mau Hana gak ngerasain adanya sosok Papa di hidupnya.”

Yuno menunduk, sejak kecil Yuno sering di tinggal kedua orang tua nya untuk bekerja. Bahkan Yuno pernah di ajak ke rumah sakit dan melihat kedua orang tua nya bekerja, sejak umurnya masih terlalu muda. Kedua orang tua nya sudah mendoktrin Yuno kelak besar ia harus menjadi dokter demi meneruskan profesi keluarga.

Bahkan sejak Yuno baru menginjak sekolah dasar, orang tua nya sudah mendaftarkan Yuno ke berbagai bimbel, jika nilai Yuno turun pun, Papa akan memarahinya habis-habisan dan tidak mengizinkan Yuno untuk bermain. Sejak itu Yuno mulai menggilai belajar, bahkan Yuno mengurangi jam tidurnya demi bisa belajar sampai materi yang tidak ia kuasai berakhir ia kuasai.

Sebuah keharusan yang Yuno wajib wujudkan karena ia adalah satu-satunya anak di keluarga itu.

“Aku juga ngerasa bersalah, sering ninggalin kamu waktu kamu hamil Hana karna waktu itu aku masih coas. Bahkan waktu kamu melahirkan, aku datang terlambat. Aku enggak ada di samping kamu, aku ngerasa gak becus jadi Suami waktu itu. Aku ada untuk orang lain yang membutuhkan aku, tapi aku gak pernah ada buat Istri aku sendiri.”

“Mungkin beban-beban di pundak aku terlalu banyak sampai akhirnya Jeff datang dan ngehancurin semuanya,” Yuno meringis.

Ara lega mendengarnya, semua cerita Yuno dan kejujurannya. Ara sangat menghargai itu, ia tidak suka melihat Suaminya sedih dan merasa buruk, jadi ia genggam tangan yang terasa sedikit dingin itu.

“Waktu aku memutuskan mau menikah sama kamu, aku udah tahu semua konsekuensi nya kalau nantinya kamu bakalan sering ninggalin aku, Mas. Dan aku enggak masalah sama itu, tapi yang penting kamu selalu nyempatin waktu singkat kamu buat sekedar ngobrol sama aku dan main sama Hana. Aku bisa memaklumi kamu dan pekerjaan kamu.”

Ara sudah menerima konsekuensi itu, yah meski sering kali ia merasa kesepian. Tapi rasa kesepian itu selalu Yuno tebus dengan rasa bangga ketika Yuno berhasil menjadi seorang dokter, ketika Ara mengantarkan makanan ke rumah sakit dan melihat Yuno sedang memeriksa pasien-pasiennya, Ara selalu bangga dengan Yuno.

“Jeff benar, Mas. Sampai saat ini aku masih sulit menerima sisi dari diri kamu yang lain,” Ara menunduk. “Aku terlalu mencintai kamu sebagai Aryuno, aku gak bisa mencintai Jeff dengan dirinya sendiri”

“Mungkin itu juga yang membuat Jeff benci sama aku, waktu dia datang. Aku berusaha keras untuk menerima dia pelan-pelan, bahkan aku berpikir buat bikin dia sayang sama aku juga. Tapi terlalu banyak sikap Jeff dan kata-katanya yang membuat aku sakit”

“Aku salah waktu itu, aku bahayain Nathan dengan nekat keluar buat ke super market, padahal Jeff bilang kalau aku enggak boleh kemana-kemana karna tekanan darah aku tinggi. Tapi aku mikirnya waktu itu aku cuma butuh refreshing karena terlalu sesak, aku selalu nunggu kamu kembali tapi yang aku dapati setiap hari cuma tatapan dingin dari mata kamu, Aku drop, aku pingsan sampai berakhir Jeff marah besar ke aku.”

Ara masih ingat bagaimana Jeff benar-benar marah waktu itu. Jeff memang tidak pernah memukulnya, tapi tetap saja laki-laki itu sering menarik tangannya dengan kasar dan meneriakkannya.

“Waktu itu aku ikutin kemana Jef pergi, dia ternyata nonton konser sama perempuan yang aku kenal, dia Shanin. Pasien aku di rumah sakit dulu, waktu itu aku ketemuan sama Shanin dan jelasin semuanya ke dia tentang kamu dan Jeff, aku lega banget waktu itu karena Shanin paham dan dia mau jauhi Jeff”

“Aku marah banget ke Jeff, aku bukan cemburu karena dia dekat sama perempuan lain. Tapi karena dia pakai tubuh kamu buat dekat sama perempuan itu, dia bikin seolah-olah kamu selingkuh dan bikin aku cemburu. Yah, dia berhasil. Tapi waktu itu dia balik marah, dia jelasin kalau dia cuma jadiin Shanin senjata balas dendam dia”

Ara menoleh ke arah Yuno, mata mereka berdua saling bertemu saat ini. Yuno tetap kaget mengetahui fakta ini dari Ara sendiri meski Jeff sudah menuliskannya di buku.

“Jeff jujur ke aku, kalau dia sayang sama aku, Mas. Selama ini sikap kasar nya dia ke aku, cuma sebagai bentuk kalau dia cemburu karena aku hanya mencintai kamu. Dia ingin aku mencintai dia sama besarnya kaya aku mencintai kamu, termasuk soal Shanin. Dia mau aku ngerasain cemburu yang selama ini dia rasain.”

Air mata Ara menetes, ia masih benci dengan alasan Jeff untuk satu hal itu. Rasanya saat ini ia tidak ingin lagi melihat tatapan tajam dan dingin itu lagi di kedua netra kecoklatan milik Suaminya. Ia tidak ingin Jeff hadir di antara ia dan Yuno lagi.

“Aku marah banget, aku kelepasan waktu itu dan itu awal mula Nathan pergi.”

Yuno menghela nafasnya kasar, ia mengusap matanya sebelum air matanya itu turun membasahi.

“Maaf aku kepikiran soal pisah, karena waktu itu Jeff bilang kalau dia gak akan biarin kamu kembali, aku gak mau pisah, Mas. Aku gak sanggup tanpa kamu.”

Ara menangis, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis seperti orang frustasi.

“Bukan pisah sama kamu yang aku inginkan, tapi Jeff. Aku enggak mau dia hadir di antara kita lagi.”

Yuno memeluk Istrinya itu, ia sendiri gak punya jaminan apa-apa untuk mengatakan Jeff tidak akan kembali. Malam itu keduanya menangis dengan saling memeluk, keduanya sudah meluapkan apa yang selama ini mengganjal di hati mereka.

Yuno memang tidak punya jaminan jika Jeff tidak akan pernah kembali, tapi ia memikirkan untuk membuat kesepakatan kembali pada laki-laki itu. Apalagi saat ini Yuno tahu jika Jeff juga mencintai Istrinya, meski sedikit cemburu. Namun logikanya masih berkata jika Jeff juga dirinya sendiri.

Jadi saat Ara sudah tidur di dalam carvan, Yuno tulis sebuah surat untuk Jeff. Dan ia taruh di buku penghubung mereka, berharap Jeff tidak akan mengingkari kesepakatan mereka seperti saat keduanya membuat kesepakatan untuk menjadi dokter dahulu.

 
Read more...