Wordsmith

Reader

Read the latest posts from Wordsmith.

from blissfulqnew

Kedua insan manusia itu kini duduk berdampingan, netra terpaku pada televisi di depan mereka- tetapi dengan pikiran yang telah berjalan jauh entah kemana.

Sama seperti sekarang, raganya berdekatan- tetapi dengan perasaan yang bahkan sudah lama tak saling bersinggungan.

Tak ada satupun dari mereka yang tahu kapan tepatnya ini mulai terjadi, juga tak ada satupun dari mereka yang tahu mengapa ini terjadi.

Walau demikian, keduanya tampak seperti berusaha untuk saling mempertahankan hubungan. Berusaha menyelamatkannya sebelum terpisah selamanya.

Namun jauh di lubuk hatinya, mereka berdua tahu bahwa mereka hanya sedang menunda perpisahan.

Perpisahan.

Satu dari banyak kata yang tak pernah gagal untuk menakuti umat manusia. Kata yang seringkali diikuti dengan tangisan, amarah, dan keputus asaan.

Dalam banyak hal, perpisahan hampir selalu memiliki denotasi negatif. Membuatnya menjadi sebuah kata yang acapkali ingin dihindari.

Dan Chanhee serta Changmin, juga berusaha semampu mereka untuk melawan perpisahan.

Chanhee adalah yang pertama untuk mengalihkan pandangannya dari televisi ke wajah Changmin. Detik berikutnya, Changmin melakukan hal serupa- membuat mereka saling berpandangan.

Dulu, keduanya pasti salah tingkah jika berada dalam situasi seperti ini.

Kini, keduanya hanya mampu menyunggingkan senyum tanpa arti. Sama-sama menyadari bahwa api asmara mereka telah padam seutuhnya.

Ketika keduanya saling menatap ke dalam iris masing-masing, kilas balik kisah cintanya terputar secara cepat di hadapan mereka. Hingga tiba-tiba saja itu terhenti, karena salah satu dari mereka lantas memalingkan mukanya.

Changmin benci karena air matanya kembali jatuh di hadapan Chanhee.

Changmin benci karena sekuat apapun ia mencoba untuk kembali mencintai Chanhee, rasanya tak pernah sama seperti dulu.

Seperti biasa, Chanhee membawa Changmin ke dalam pelukannya dan membiarkan bahunya basah oleh tangisan Changmin.

Seperti biasa, Chanhee membisikkan kalimat-kalimat penenang di telinga Changmin- berharap agar usahanya dapat membuahkan hasil.

Setelah Changmin kembali tenang, perlahan Chanhee melepaskan pelukannya.

Menatap wajahnya dalam-dalam sekali lagi, karena Chanhee tahu setelah ini ia tak akan bisa melihatnya seperti ini lagi.

Walau perasaannya pada Changmin kini sudah tak sama lagi, Chanhee tahu bahwa ia akan merindukan Changmin.

Tawa candanya, sikapnya, dan juga rutinitasnya bersama Changmin.

Chanhee mengeluarkan kedua tangannya dari saku bajunya untuk menggenggam tangan Changmin, yang dibalas dengan erat oleh sosok di hadapannya.

Perlahan, keduanya bergerak mendekat.

Melebur dalam pertautan bibir yang cukup lama.

Menyegel kenangan indah mereka berdua melalui sebuah ciuman perpisahannya.

Ya.

Chanhee dan Changmin sama-sama menyetujui keputusan ini, untuk berpisah secara baik-baik karena mereka berdua sadar tak ada lagi yang tersisa untuk dapat mereka pertahankan.

Fin.

 
Read more...

from blissfulqnew

Sore itu, Chanhee kecil sudah siap sedia dalam balutan kemeja putih yang dipadukan dengan celana hitam miliknya. Sejak siang tadi, Chanhee telah sibuk memilah-milih pakaian apa yang harus dikenakannya untuk acara kelulusan kelas 6 sore ini yang diadakan di aula sekolahnya. Chanhee bahkan meminta sang Bunda untuk turut membantunya memadu-padankan pakaiannya.

Semua ini, Chanhee lakukan hanya untuk Sangyeon.

Ya, Sangyeon.

Seseorang yang telah mencuri perhatiannya semenjak beberapa bulan yang lalu.

Menjelang hari kelulusan Sangyeon, Chanhee sudah mulai mengirimkan surat cinta tanpa identitas yang setiap paginya ditaruh sendiri oleh Chanhee di kolong meja sang kakak kelas.

Chanhee yakin, usahanya selama ini akan membuahkan hasil yang manis. Chanhee percaya diri bahwa Sangyeon telah memahami semua clue yang Chanhee taruh pada suratnya dan akan menjadi pasangan dansanya malam ini.

Akan tetapi, bukan main sakit hatinya ketika netra Chanhee menangkap sosok Sangyeon yang sedang menggandeng lengan seorang perempuan.

Setelah meremat kemejanya kuat-kuat, Chanhee membalikkan badannya dan berlari keluar dari dalam aula sekolah. Meninggalkan lantai pesta dansa dengan penglihatan yang buram karena air mata yang terbendung, hingga tanpa sengaja menubruk seseorang.

“Maaf!” seru Chanhee tanpa melihat sosok tersebut.

Langkah kakinya baru terhenti di depan kolam ikan yang terletak tak jauh dari aula, Chanhee lantas mendudukkan diri di depan kolam ikan dan membiarkan air matanya tumpah dengan bebas.

Tanpa Chanhee sadari, orang yang ditabraknya tadi mengikuti langkahnya dan kini turut mendudukkan diri di sebelah Chanhee.

“Kamu.. nangis kenapa?”

Perlahan, Chanhee mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk untuk menatap sosok di sebelahnya. Awalnya Chanhee sempat enggan untuk menjawab, tapi ketika iris gelap di hadapannya itu menyiratkan rasa khawatir yang besar- Chanhee otomatis membuka mulutnya.

“Orang yang aku kira bakalan jadi pasangan nari aku malem ini, malah gandengan sama orang lain.”

“Haaaaah? Kok bisa gitu?”

“Kayaknya karena orang itu nggak ngerti soal clue-clue yang aku taruh di surat cinta buat dia.”

“Kenapa harus pake surat cinta? Kamu gak bisa kalau langsung ngomong aja sama dia?”

Chanhee menggelengkan kepalanya pelan.

“Dia.. kakak kelas, aku gak berani buat ngajak dia ngobrol.”

“Kamu kelas berapa emangnya?”

“Aku kelas 4.”

“Eh, aku juga loh! Kenalin nama aku Changmin!”

Sosok ceria bernama Changmin itu memamerkan deretan gigi putihnya sambil mengulurkan sebelah tangan, menunggu untuk Chanhee jabat tangannya.

“Chanhee.. salam kenal ya, Changmin.”

“Mhm, salam kenal Chanhee!”

Setelahnya, keduanya larut dalam keheningan. Hanya suara gemericik air dari kolam ikan yang menemani mereka berdua. Mendadak, Changmin kembali mendengar suara isakan tertahan dari Chanhee.

Panik, Changmin berusaha untuk memancing Chanhee kembali mengobrol dengannya agar perhatiannya teralihkan.

“C-Chanhee, aku boleh tau gak orang jahat yang bikin kamu nangis ini siapa?”

Berhasil, isakan itu terhenti untuk kedua kalinya.

“Kenapa kamu mau tau?”

“Kamu pasti gak tau ya kalau aku ini jago berantem?”

Lagi, Chanhee menggelengkan kepalanya.

“Nanti aku bantu pukulin orang yang jahat sama kamu!”

“Makanya ayo kasih tau dulu siapa namanya,” lanjut Changmin sambil menepuk dadanya bangga.

Chanhee merasa konyol dengan sosok di depannya ini, tapi tetap menjawab pertanyaannya.

“Sangyeon, Kak Sangyeon. Dia yang bikin aku nangis.”

Melihat Changmin yang membeku di tempatnya, Chanhee mengedipkan matanya beberapa kali.

“Kenapa? Kok diem aja?”

Changmin meringis, sebelah tangannya bergerak untuk menggaruk bagian tengkuknya yang tidak gatal.

“Hehe.. Kak Sangyeon itu sepupuku aku..”

“Dia lebih jago berantem dari aku.”

Chanhee lantas menganga selama beberapa saat, sebelum akhirnya tertawa kencang karena jawaban Changmin.

Changmin dapat merasakan sebuah perasaan asing di dada dan perutnya.

Geli, rasanya seperti belasan kupu-kupu berterbangan secara beramai-ramai.

Changmin tak paham soal perasaan ini, tapi Changmin hanya paham kalau dirinya suka melihat Chanhee tertawa seperti ini. Changmin ingin selalu melihat Chanhee tertawa karena dirinya.

“Chanhee, udahan kan nangisnya? Mau masuk lagi ke dalem aula?”

Gelengan ketiga Changmin dapatkan sore itu.

“Gak mau.”

Changmin lantas memiringkan kepalanya sambil menatap sang lawan bicara.

“Kenapa?”

“Aku gak mau liat Kak Sangyeon sama orang lain.”

Bibir Changmin membulat karena jawaban Chanhee, merasa belum puas- Changmin kembali mengajukan pertanyaan lainnya.

“Terus? Kamu mau kemana?”

Yang ditanya malah mengangkat bahunya, tak tahu harus menjawab apa sebab bingung.

Namun tiba-tiba, netranya menangkap sesuatu; dengan penuh semangat Chanhee mengacungkan telunjuknya ke udara- menunjuk pada partikel-partikel putih yang melayang di udara.

“Changmin! Liat, salju pertama!”

Dan pada detik berikutnya, tanpa dikomando, kedua siswa kelas 4 itu menghambur ke arah lapangan yang terletak tepat di samping kolam ikan.

Keduanya berlarian kesana-kemari, teriakan dan pekikan penuh kegembiraan bercampur aduk. Tanpa terasa, keduanya menghabiskan waktu berdua hingga malam tiba. Ditemani dengan kepingan kristal es rapuh yang turun ke bumi.

Setelahnya Changmin dan Chanhee dengan cepat menjadi akrab, bahkan melabeli hubungan di antara mereka berdua dengan sebutan “sahabat” walaupun berada di kelas yang berbeda.

Setiap pulang sekolah, Changmin dan Chanhee selalu bergantian menunggu satu sama lain di depan kelas yang lain. Lalu berduaan menghabiskan waktu di taman dengan bermain atau saling bertukar cerita tentang kejadian di sekolah sambil bertelanjang kaki, berbaring bersebelahan di atas rumput sambil menatap langit biru.

Hanya ada Changmin dan Chanhee berdua di taman.

Selalu, seperti itu.

Well, I found a boy, beautiful and sweet Oh, I never knew you were the someone waiting for me

Dan tanpa terasa, 2 tahun berlalu begitu saja. Changmin dan Chanhee kini sudah berada di kelas 6, di penghujung hari-hari Sekolah Dasar mereka.

Di hari kelulusan, Chanhee senang bukan main. Sedikit banyak karena merasa tidak sabar untuk cepat-cepat berstatus sebagai siswa Sekolah Menengah Pertama.

Berkebalikan dengan Chanhee, Changmin malah bersikap tidak seperti biasanya. Senyuman lebar yang dihiasi dengan sepasang lesung pipit itu mendadak menghilang.

Chanhee dapat melihat perbedaannya dengan jelas.

Changmin-nya, yang setiap harinya secerah mentari di musim panas- kini murung bak dihinggapi oleh awan kelabu.

Setelah acara kelulusan mereka selesai, Chanhee mendengar namanya dipanggil oleh sang Bunda. Dilihatnya, sang Bunda sedang berdiri bersebelahan dengan orangtua Changmin.

Karena Changmin juga ada di sana, Chanhee menyudahi obrolannya dengan teman sekelasnya dan berlari menghampiri mereka berempat.

Bersamaan dengan Chanhee yang mendekat, Changmin membuka suaranya.

“Chanhee, besok siang aku bakal pergi.”

Niat awal ingin merangkul Changmin seperti biasanya, mendadak Chanhee urungkan karena perkataan Changmin.

“Pergi? Kemana?”

“Jepang.”

Ah, ternyata cuman ke Jepang- pikir Chanhee.

“Mau liburan ya, Changmin? Sampe kapan perginya? Gak akan lama, 'kan? Kita kan harus siap-siap buat masuk-”

“Aku pindah ke Jepang, Chanhee.”

Chanhee menelan kembali kata-kata yang tertahan di ujung lidahnya.

Changmin? Pindah?

“Ih, apaan sih Changmin. Tante Ji, Changmin bercanda 'kan?”

”...Iya 'kan, tante?”

Hening.

Chanhee tak mendapatkan jawaban yang diharapkannya. Dengan suara yang bergetar, Chanhee memaksakan bibirnya untuk bergerak.

“Kenapa..?”

“Kita udah janji buat selalu bareng, Changmin.”

“Kenapa kamu malah ingkarin janji kamu?”

Tangisan Chanhee menyusul setelahnya, ia jatuh terduduk dengan air mata yang berderai. Kedua tangannya mengepal kuat, berulang kali melayangkan tinjuan menuntut pada kaki Changmin.

Ibunda Chanhee perlahan membungkuk untuk memeluk anak semata wayangnya, sedang orangtua Changmin memalingkan mukanya karena turut merasakan rasa sakit setelah melihat Chanhee hancur seperti itu karena kabar yang Changmin sampaikan.

Changmin ikut berjongkok di depan Chanhee, kemudian memberikan komando pada Bunda Chanhee dan kedua orangtuanya agar meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu.

“Chanhee.”

“Chanhee liat aku dulu.”

Sakit.

Changmin ikut terluka ketika melihat bagaimana wajah teman terkasihnya itu penuh dengan keputus asaan. Sorot mata Chanhee seolah terus-terusan meneriakinya “penghianat”.

Setelah menguatkan hati, Changmin mencoba untuk mengembalikan senyumnya pada Chanhee. Kedua tangannya bergerak untuk menangkup pipi Chanhee, mengusap jejak air mata dengan kedua ibu jarinya.

“Aku bakalan balik buat kamu, Hee.”

Ucapan Changmin terputus sesaat, Chanhee menantikan lanjutannya dalam diam.

“Tapi, selama apapun aku pergi- kamu harus nungguin aku.”

Kernyitan heran Chanhee berikan pada Changmin, kedua tangannya bergerak untuk melepaskan tangan Changmin yang menempel pada wajahnya.

“Kenapa aku harus percaya sama omongan kamu? Jelas-jelas hari ini kamu sendiri yang ngerusak janjimu.”

Changmin menghela napasnya, bulir air mata kini juga mulai terbentuk di pelupuk matanya.

“Chanhee, kamu bisa pegang janjiku. Kalau soal pindah ke Jepang, aku emang gak bisa ikut campur karena Ayah sama Bunda udah nentuin ini dari lama.”

“Tapi kalau soal kamu, soal kita, aku yakin aku bisa nepatin janjiku.”

Cukup lama Chanhee terdiam, bimbang harus menjawab apa pada Changmin.

Akan tetapi, akhirnya Chanhee memilih untuk menuruti bisikan hatinya. Untuk mempercayai ucapan Changmin.

“Janji ya, kamu bakal balik buat aku?”

Changmin menautkan kelingkingnya pada kelingking Chanhee.

“Janji.”

Di hari keberangkatan Changmin, Chanhee bersama sang Bunda turut mengantarkan mereka ke bandara. Di perjalanan pulang menuju rumah, Chanhee dapat melihat salju turun dari jendela mobilnya.

Dalam diam, Chanhee dapat merasakan pipinya memanas karena tangisannya.

Salju pertama, terasa berbeda tanpa kehadiran Changmin di sisinya.

Waktu terus berlalu, tumbuh tanpa Changmin terasa berat dan menyakitkan bagi Chanhee.

Alasan utamanya adalah karena Changmin absen dari hidupnya.

Changmin- seorang teman yang selalu ada untuk menghiburnya di kala sedih, seorang teman yang selalu menutup telinganya ketika salah satu penghuni sekolah tak berperasaan melayangkan komentar buruk pada Chanhee, seorang teman yang selalu menjaganya dari rundungan tangan-tangan nakal.

Sekolah Dasar, tentunya lebih mudah untuk dijalani bagi Chanhee jika dibandingkan dengan kehidupannya di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Berkali-kali, Chanhee diolok-olok karena gaya pakaiannya yang berbeda dari kebanyakan lelaki.

Berkali-kali, Chanhee dicemooh karena lebih menyukai pelajaran kesenian dibanding dengan pelajaran olahraga.

Berkali-kali juga, Chanhee dicibir karena mayoritas dari temannya berjenis kelamin perempuan.

Semua yang telah terjadi itu memang sulit, tetapi Chanhee berhasil bertahan dari semuanya.

Setiap malam- sebelum Chanhee pergi tidur, Chanhee selalu duduk di sisi ranjangnya. Menghabiskan waktu beberapa menit sekadar untuk menatap pigura berisikan fotonya dengan Changmin yang diambil ketika liburan musim panas di kelas 5.

Hanya dengan itu, Chanhee bisa meneruskan hidupnya.

Memasuki masa kuliah, tekanan dan rundungan yang Chanhee dapatkan dari lingkungan sosialnya mulai berkurang. Chanhee sendiri memilih untuk meneruskan pendidikannya di jurusan seni.

Puberty, hits him hard.

Tak dapat dipungkiri, perubahan yang cukup drastis terjadi pada fisik Chanhee. Membuat ini lantas menjadi salah satu hal yang membuatnya menjadi terkenal di seantero kampus.

Dari semester ke semester, banyak yang menyatakan cintanya pada Chanhee. Perempuan dan laki-laki, semuanya Chanhee tolak secara halus dengan alasan klise, “aku lagi fokus kuliah”.

Padahal Chanhee sendiri tahu kalau alasan yang dia gunakan adalah sebuah kebohongan.

Jauh di lubuk hatinya, Chanhee masih menunggu kepulangan Changmin.

Chanhee baru sadar akan perasaannya pada Changmin setelah bertahun-tahun lamanya. Dulu, Chanhee tidak mengerti tentang apa itu cinta.

Kini, Chanhee mengerti bahwa definisinya mengenai cinta adalah Ji Changmin.

Walau terkadang, Chanhee ingin menertawai dirinya sendiri karena masih percaya dengan sebuah janji masa kecil. Janji yang perlahan akan tergerus oleh waktu.

Chanhee bahkan tidak bisa membayangkan ada di mana Changmin-nya itu sekarang.

Dan waktu, terus berputar. Tak akan pernah berhenti untuk menunggu manusia.

'Cause we were just kids when we fell in love Not knowing what it was I will not give you up this time

Akhir dari Bulan Desember kini berada di depan mata.

Jurusan Chanhee memutuskan untuk mengadakan pesta natal bersama di suatu restoran di pusat kota. Sebagai primadona jurusan (dan juga kampus), keberadaan Chanhee sangat diharapkan oleh semua orang. Sehingga mau tak mau, Chanhee menuruti permintaan mereka.

Ketika yang lain sedang terlarut dalam permainan Truth or Dare, Chanhee mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

Salju pertama tahun itu, mulai turun untuk mewarnai bumi dengan warna putihnya.

Dengan sigap, Chanhee berdiri dari tempatnya, mengenakan jaketnya, dan berpamitan pada teman-temannya sebelum berjalan keluar dari restoran.

Chanhee tidak bisa melewatkan momen kesukaannya.

Chanhee melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon mistletoe besar yang menarik perhatiannya bahkan dari kejauhan. Sesampainya ia di depan pohon, helaan nafas bercampur rasa takjub dan kagum keluar dari mulutnya. Derasnya salju yang turun, membuat pohon besar itu dapat tertutupi dengan cepat oleh warna putih.

Chanhee berbisik pada dirinya sendiri, andai saja Changmin ada disini untuk menyaksikan pemandangan indah ini.

Sejak tadi, netra Chanhee terfokus pada bintang kuning yang bersinar terang di atas pohon. Perlahan- pandangannya turun dari puncak.

Hingga ketika pandangannya menatap lurus ke depan, Chanhee terdiam mematung.

Seseorang berdiri di seberang sana dengan wajah yang familiar.

Perlahan-lahan, wajah itu memunculkan senyumnya. Lesung pipit yang lama terkubur dalam ingatan Chanhee- kini tercetak jelas di wajah sosok di hadapannya.

Pelan tapi pasti, keduanya berjalan mendekat.

Kini hanya tersisa beberapa langkah.

“Changmin?” tanya Chanhee untuk memastikan kedua matanya.

Senyuman yang kian mengembang tampak pada sosok itu, Chanhee sedikt terhempas ke belakang karena pelukan erat yang ia dapatkan kemudian.

Masih berusaha untuk mencerna situasi, mulut Chanhee terkatup rapat.

Sampai akhirnya, Changmin bergerak untuk melepas pelukannya. Terkejut bukan main karena dilihatnya air mata Chanhee sudah mengalir dengan deras. Bak kaset rusak, adegan Changmin yang mengusap air mata Chanhee kembali terulang.

Tiba-tiba, hujaman pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Chanhee.

“Kamu kemana aja, Min?”

“Kenapa kamu pergi lama banget?”

“Kenapa kamu baru muncul sekarang?”

“Sejak kapan kamu udah balik ke Korea?”

“Darimana kamu tau kalau aku ada disini?”

Changmin menahan tawanya, Chanhee-nya ternyata masih secerewet ini.

Chanhee-nya, masih sama seperti dahulu.

“Hey, hey. Pelan-pelan dong nanyanya. Gimana kalau kita obrolin sambil minum cokelat panas? Dingin Hee, kalau ngobrolnya di luar kayak gini.”

Dan di sanalah mereka berdua sekarang. Di pojok sebuah restoran dengan dua mug keramik berisi cokelat panas.

Bertukar kabar, melepas rindu.

Bagi Chanhee, waktu di dunianya kembali berjalan setelah Changmin kembali ke dalamnya.

Karena keduanya mengobrol hingga larut, Changmin menawarkan untuk menemani Chanhee berjalan pulang. Persis seperti apa yang dulu biasa mereka lakukan sepulang sekolah.

Setibanya di depan rumah, Chanhee menatap Changmin dalam-dalam. Yang ditatap malah kebingungan.

“Ada apa?”

“Aku gamau bilang dadah. Aku takut kalau kamu pergi lagi.”

Perkataan tak terduga dari Chanhee mengundang tawa renyah keluar dari belah bibir Changmin.

Changmin kemudian bergerak maju, menghapus jarak diantara mereka berdua sambil menarik tengkuk Chanhee. Menciumnya lembut selama beberapa detik.

“Aku gak akan pergi lagi, Chanhee. Aku udah janji 'kan, sama kamu?”

Jemari Chanhee bergerak untuk meraba bibirnya, otaknya korslet karena tindakan mendadak yang Changmin lakukan.

“Terlebih lagi, gimana caranya aku bisa pergi setelah tau soal bibir manis kamu?”

“Gak mungkin aku relain bibir itu buat dikecup sama yang lain.”

Udara di akhir bulan Desember biasanya cukup dingin.

Tapi mengapa Chanhee kini malah tak bisa berkata-kata sambil mengipasi wajahnya yang memanas?

Fin.

 
Read more...

from Duclos Farms

How to Shop for Avocado

Wondering where and how to shop for avocado? Contact Duclos Farms. We offer the best quality avocados in California that too at a value that is totally sensible. Our characteristic consideration of the soil makes our avocados one of a kind in nourishing substance. We follow natural developing practices; no manufactured pesticides and no engineered manures. Get in touch with us today!

 
Read more...

from Duclos Farms

Avocados Grown in Florida

Do you need the best avocados grown in Florida? Duclos Farms can help you in this regard. We are a renowned name when it comes to providing top-quality avocados at an affordable price. We use organic practices to grow nutritional avocados on our farm. Get in touch with Duclos Farms today!

 
Read more...

from blissfulqnew

Arsip kelima (dan harapannya, ini arsip yang terakhir).

Setelah 3x jatuh hati di benua Eropa, kali ini aku kembali jatuh hati di benua Asia.

Bukan, bukan di Korea.

Melainkan di Indonesia, tepatnya, di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Alasanku pergi kesana karena apa, ya? Jujur aku juga udah gak inget, hehe.

Yang kuingat, hanyalah tentang kamu- Ji Changmin.

Kali pertama kita bertemu, hatiku seolah berbisik padaku.

Kali kedua kita bertemu, mulutku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.

Kali ketiga kita bertemu, tanganku mendadak gemetaran karena bersentuhan dengan milikmu.

Setelahnya, kamu mendadak hilang selama beberapa hari. Membuatku merasakan kesepian, bahkan di tengah keramaian.

Pertemuan selanjutnya, aku tak ingin lagi berpisah darimu.

Kamu itu, kayak paket lengkap, Changmin.

Pertemuan pertama kita, kamu bertindak sebagai penerjemah kegiatan transaksiku dengan penjual setempat.

Pertemuan selanjutnya, kamu menyelamatkanku dari rasa malu karena aku yang ceroboh dan tidak menukarkan uang lebih banyak.

Pertemuan ketiga, aku terkesima dengan tubuh atletismu yang tersembunyi dalam baju kebesaran yang selalu kau kenakan.

Rasanya seperti aku dapat melihat sosok Juyeon, Younghoon, dan Hyunjae secara sekaligus dalam dirimu.

Sampai saat ini, aku masih sering memikirkanmu ketika aku sedang sendirian- memikirkan tentang seorang Ji Changmin.

Apakah ini yang dinamakan dengan cinta, Changmin?

Tapi.. kalau benar ini namanya cinta..

Kenapa waktu itu, kau tidak menepati janjimu untuk mengantarku pulang ke Kanada di bandara?

Kenapa waktu itu, kau malah menghilang lagi?

Kenapa waktu itu, kau mengabaikan semua panggilan dan pesan singkatku?

Karena seorang Ji Changmin, aku bertanya-tanya tentang arti cinta.

Karena seorang Ji Changmin juga, aku akhirnya menemukan arti dari cinta.

Tapi karena seorang Ji Changmin juga, aku tak ingin merasakan yang namanya jatuh cinta lagi.

Karena terjatuh sendirian ketika mencintai seseorang itu, sangatlah menyakitkan.

 
Read more...

from blissfulqnew

Arsip keempat dan kali ini, nggak berkaitan sama pekerjaanku.

Pantai Chia di Sardinia, Italia.

Sebuah destinasi yang benar-benar indah, menurutku.

Dengan hadirnya kamu disana, liburanku menjadi sesuatu yang benar-benar tak terlupakan.

Aku gak tau apakah aku harus bersyukur atau bersedih karena aku nyaris tenggelam di laut waktu itu.

Di satu sisi, aku sedih karena banyaknya jumlah air asin yang nggak sengaja aku telan.

Tapi di sisi lain, aku juga bersyukur karena aku jadi bisa merasakan bibir kenyalmu dari pernapasan buatan yang kamu berikan.

Kalau kamu mau melakukan teknik pernapasan buatanmu untukku lagi, Sardinia akan menjadi destinasi favoritku untuk liburan.

Dan bibirmu itu, mungkin akan menjadi destinasi favoritku juga.

Sebentar, jangan salah paham dulu.

Bukan hanya bibirmu yang aku sukai, sejujurnya, semua tentangmu benar-benar mudah untuk disukai olehku.

Terlebih lagi, aku juga sangat menyukai kedua lengan kekar serta perut kerasmu.

Ups.

Hyunjae. Itu kan, namamu?

Aku mau tanya, deh. Waktu kau melakukan pernapasan buatan padaku, kau juga turut memasukkan ramuan cinta lewat mulutku- ya?

Karena setelahnya, yang ada di pikiranku hanyalah kamu seorang.

Bahkan sempat terlintas dalam benakku untuk pura-pura tenggelam lagi, hanya untuk mendapatkan seluruh perhatianmu tertuju padaku.

Hyunjae, apakah kau tidak ada niatan untuk pergi ke tempatku?

Kanada juga punya banyak pantai bagus, Hyunjae. Kapan-kapan kalau kamu kesini, aku akan membawamu melihat seluruh pantai itu.

Tapi, bukan untuk gratisan.. sih.

Jadilah kekasihku sebagai bayarannya, Hyunjae.

Yayaya?

Ayo pacaran sama aku, aku MAKSA loh Hyunjae! :(

 
Read more...

from blissfulqnew

Wah, udah nyampe arsip ketiga ya?

Arsip kali ini, aku tujukan untuk seseorang yang aku temui di London.

Beberapa bulan setelah balik dari workshop di Paris, ketua divisiku bilang kalau aku harus pergi ke luar negeri lagi.

Kali ini, sekedar buat nyari inspirasi sekaligus ngehadirin London Fashion Week.

Pulang dari London Fashion Week, aku mutusin untuk mampir ke toko roti yang letaknya gak jauh dari situ. Wangi harum kayu manis dan mentega menyeruak sampai ke bagian belakang dari kepalaku.

Tanpa banyak pikir, aku langsung menuhin keranjang belanjaanku dengan tumpukan beragam jenis roti.

Setelah selesai milih dan muterin toko roti, aku langsung jalan ke kasir buat bayar belanjaanku.

Tapi siapa sangka..

Dompetku hilang dari tas selempangku.

Padahal seingetku, jelas-jelas dompetku masih ada waktu ngehadirin London Fashion Week tadi.

Di depan kasir, mukaku mendadak sepucat ubin lantai. Hari itu, suhu di London cukup rendah.. tapi bulir keringat bisa aku rasain mulai membasahi bajuku.

Tiba-tiba dari belakangku, ada sebuah tangan yang nyodorin kartu debitnya ke kasir. Otomatis, aku puterin badanku untuk ngeliat siapa yang ngelakuin ini.

Ternyata, ada cowok ganteng yang bayarin aku.

Hihi.

TAPI SERIUS, dia emang beneran seganteng itu.

Cowok tadi cuman senyum aja ngeliat aku yang bengong, aku juga ngerasa gak enak sama dia karena ternyata harga total dari roti yang aku bayar..

Mahal banget.

Tapi dengan santainya, dia bilang gapapa. Dia juga jelasin kalau dulu dia pernah kehilangan dompet juga di London.

Sebelum pisah, aku sempet kenalan dan bertukar nama sama orang itu.

Kim Younghoon, makasih banyak ya udah bayarin aku waktu itu.

Kalau kamu baca ini, aku harap kamu baik-baik aja.

Ah, kalau bisa.. tolong kirimin nomor rekeningmu ya? Aku mau ganti semua uangmu yang kamu keluarin untuk bayarin aku hari itu (sekalian kenalan lebih lanjut sama kamu, kalau emang boleh.. hehe).

Oh! Satu lagi, semua roti dari hari itu ternyata rasanya enak banget.

Ternyata bener ya perkataan soal “ada harga ada kualitas”. Huft.

 
Read more...

from @yovela43

Lalitha POV

Aku membulatkan mataku setelah melihat pesan yang dikirim oleh Nahen.

“Sayang?”

Kami kan hanya berpura-pura, haruskah sampai memanggil sayang?

Aku beranjak dari kasurku, melihat ke luar jendela. Benar saja dia ada di luar. Ponselku terus berdering, Nahen terus meneleponku.

Aku tidak tahu kenapa aku bisa marah karena hal ini? Rasanya aku benar-benar seperti tidak di anggap olehnya. Padahal aku kan hanya berpura-pura, tapi kok rasanya sakit sekali?

Dengan rasa malas aku turun dan membukakan pintu untuk Nahen.

“Na, buka gerbangnya sendiri ya, susah,” teriakku dari depan pintu utama.

Nahen membuka gerbang lalu memasukan motornya ke halaman rumah. Setelah itu ia menghampiriku.

“Tha, ini pesenan lo,” ucap Nahen sembari memberikan katung kresek berisi makanan kepadaku.

Aku tidak meresponnya. Aku berlalu meninggalkannya ke dalam rumah dan dia mengikutiku.

“Th, lo marah?”

“Lo pikir lah sendiri,”

“Tha, maaf jari gue ini emang harus di ganti kayanya,”

“Gue harus jawab apa sama temen gue, Na? Mereka nanya ke gue.”

“Jawab aja gue iseng, selebihnya gak usah di gubris,”

Aku tidak meresponnya dan kembali berjalan menuju arah kamarku. Tiba-tiba aku merasakan Nahen memelukku dari belakang.

“Tha, udah dong jangan marah, aku minta maaf ya? Sayang.”

Aku berusaha melepaskan pelukan itu.

“Na, lo terlalu berlebihan ga sih? Kita cuma pura-pura.”

“Lima menit Tha, biarkan gue menikmati ini. Biarkan gue totalitas menjadi pacar lo walau gue tau ini hanya hubungan palsu,” ucapnya dengan suara berat.

Jantungku berdegup sangat kencang setelah mendengar ucapan Nahen tersebut.

Ini sangat gila, suasana ini membuatku gila. Terlebih lagi suara berat Nahen yang tersengar sangat sexy di telingaku.

 
Read more...

from LizaHadiz

Modernism and Paris After the War

The moral devastation experienced by the US after the Great War led the country to the quest of achieving a new stability. This was sought through regaining economic strength and retaining traditional values. It was during this aftermath that many American modernist writers, in search of a safe haven, emigrated to Europe. Many settled in Paris, finding the freedom that could release them from the disillusionment caused by the war.

For many years Paris was home to American modernist writers, poets, and artists during an era of postwar recovery and prefascist political power. These writers were then known as “the Lost Generation”—those who due to the war had lost their faith in the government, God, and the American dream.

Even with the economic and social independence that American women gained in the roaring '20s, the literary and art scene still offered less freedom to women. This led many American female writers and artists to join the emigration to France in the 1920s and '30s. Among these women were Gertrude Stein, Djuna Barnes, Solita Solano, and Thelma Wood, just to name a few. However, “the Lost Generation”, a term first coined by Stein, remained associated mainly with male writers, such as Ernest Hemingway and F. Scott Fitzgerald—the major heroes of this generation.

In the 1920s and 30s, Paris had inspired women modernist writers and artists as the city gave them freedom to live an alternative lifestyle to that of the conservative postwar American society. These Parisian women, who led the unmarried, bohemian, and bisexual lifestyle, were later dubbed the “Left Bank women writers”, as they famously resided in this part of Paris. Their work and lifestyle quickly became a subculture within the male dominated literary and art community of American modernists.

The Left Bank women writers were less acknowledged in modernist literature than their male peers. They were eventually recognized but labeled as “women writers” or “lesbian writers”. Some writers find this separate category of recognition as derogatory. Barnes, who is well-known for her classic novel, Nightwood (1936) which was influenced by her relationship with Wood, once said, “I hate women writers!” and wanted to disassociate her work from this label. The category had emerged owing to the absence of white heterosexual male bias (albeit still predominantly white) in the works of Left Bank women writers. Despite this, arguably, the category may have kept the work of Left Bank women writers at the margins of the modernist literary movement.

The male comrades of the Lost Generation emerged from a state of cultural changes and turbulent times. Even though breaking with traditional literary conventions, they were often criticized for preserving a predominantly masculine culture; thus, contributing to modernism’s marginalization of women.

Photo: Solita Solano and Djuna Barnes in a Paris cafe around 1922 (Maurice Brange)

-Some Thoughts from the Cappuccino Girl- (2021)

#literature #Worldwar1 #womenwriters #lostgeneration #history #US #Paris #gender

If you are interested in this topic, you might like to read: Unsung Women Writers of the Postwar Era https://feministpassion.blogspot.com/2019/03/unsung-women-writers-of-postwar-era.html

 
Read more...

from @yovela43

Nahen POV

“Nahen, turun makan dulu ayo,”

Terdengar teriakan Tante memanggilku. Sungguh aku sangat malas terlebih lagi moodku sudah hancur semenjak melihat Kainan. Terpaksa aku harus turun dari pada aku mendengar ocehan Papah, padahal aku ingin tidur karena begadang semalaman.

Aku pun turun dan terlihat di meja makan sudah tertata makanan diatasnya. Dengan malas aku duduk di samping Kainan karena tinggal kursi itu yang tersisa. Kami mulai menikmati makanan dengan suasana hening hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan sampai akhirnya Papah mencairkan suasana.

“Kamu semalam dari mana Na?”

Aku menjawabnya dengan nada datar. “UGD,”

Sepertinya Papah kaget mendengar jawabanku, “Ngapain di UGD?” “Nemenin Litha, Pah.”

Papah hanya mengangguk mendengar jawabku, tidak ada reaksi lain.

“Oh iya, selamat datang Kainan, sebetulnya umur kalian tidak beda jauh hanya beda beberapa bulan. Hanya saja Kainan yang lebih dulu lahir, jadi tidak apa-apa kan Nahen kalau Kainan menjadi kakakmu?” Aku hanya diam fokus terhadap makananku dan tidak memberikan respon apapun.

“Mamah denger juga kalian satu sekolah ya?”

“Iya Mah, Cuma beda kelas. Kalau tahu Nahen adik aku pasti udah aku sapa dari dulu,” jawab Kainan.

“Iya salah kami juga karena tidak memberi tahu soal ini, Papah minta maaf ya Kainan, Nahen,”

“Iya karena kalau dikasih tau di awal Kainan juga gak akan setuju kali sama kaya aku, gak setuju kalian berdua nikah, apalagi nikahnya diem-diem.” Paparku.

“Nahen!” bentak Papah.

“Eh lo tau gak, Papah tiri lo ini meninggalkan tanggung jawabnya sebagai suami loh, masa istrinya lagi sakit gak diurusin dan pas istrinya meninggal dia malah pergi sama Mamah lo, kelakuan bejat Papah tiri lo.”

Semua orang di meja makan memandangiku, terutama Papah. Ia melihatku dengan sorotan mata yang tajam. Tante berusaha menenangkan Papah dengan mengelus pundak Papah.

“Udah, udah sabar Mas,” ucap Tante.

“Nahen, kamu masih belum bisa berdamai ya? Kita lupain kejadian yang lalu ya? Kita mulai hidup baru.” lanjutnya sembari tersenyum ke arahku.

“Tante juga gak tahu malu sekali ya, godain suami orang buat dapetin hartanya sampai menghasut Papah saya buat gak peduliin Bunda saya. Tante juga..”

“Jaga omongan lo Nahen, berani banget lo ngomong gitu ke nyokap gue!” potong Kainan.

Brakk. Papah menggebrak meja makan. Kami semua terdiam.

“Cukup, makanlah dengan tenang. Papah tidak pernah mengajarkan kamu ribut di meja makan Nahen,”

Aku menghela napas kasar, beranjak dari dudukku dan berlalu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apapun. Aku menaiki tangga dengan kesal, mengapa ini harus terjadi pada keluargaku?

Aku merebahkan diri di kasur, memakai airpods dan mendengarkan lagu kesukaanku sambil menatap langit-langit kamar. Kembali teringat kenangan yang tidak ingin ku ingat.

-Flashback on–

2 Tahun lalu

Author POV

Nahen duduk di samping ranjang Nadien. Menggenggam dan mengecup punggung tangan Nadien mengalirkan kekuatan serta pengharapan agar Bundanya segera membuka matanya. Sudah 1 bulan Nadien terbaring di rumah sakit semenjak kecelakaan yang menyebabkan dirinya koma karena mengalami pendarahan di otak.

“Bunda, maaf Nahen belum bisa bawa Papah kesini hari ini.”

“Bunda, kapan bangun? Gak capek tidur terus? Nahen kangen masakan Bunda. Oh iya Bun, Nahen hari ini dapat juara kelas lagi loh, Nahen kalahin Litha. Bunda pernah bilang mau kasih Nahen hadiah kalau berhasil melampaui Litha.” Tanpa sadar air mata membasahi pipi Nahen.

“Bun, aku lihat Papah jalan sama wanta lain. Aku tahu kenapa Papah gak mau kesini, pasti karena wanita itu kan Bun? Bun, kalau Bunda bangun Nahen janji bakal jagain Bunda. Nahen gak akan kaya Papah Bun janji,” ucapnya sambil menangis hingga akhirnya tertidur dengan posisi duduk di samping Nadine.

Sampai pada akhirnya ada seseorang yang memasuki ruang perawatan Nadine, ia mencabut selang oksigen Nadine dan menyebabkan monitor di sebelah ranjang Nadine berbunyi. Nahen bangun dari tidurnya karena kaget dengan suara monitor Bundanya berbunyi. Bergegas ia memencet bel di dekat ranjang yang berfungsi untuk memanggil perawat dan tak lama perawat pun datang.

“Dokter, Dokter! Saturasi pasien menurun,” teriak perawat.

Tiiiiiit suara monitor menunjukan garis lurus sempurna sebelum Dokter datang ke ruangan Nadine.

“Bunda, Suster tolong Bunda, Dokter tolong Bunda!” histeris Nahen.

Tak lama Dokter pun datang dengan dua suster lainnya dan kaget melihat monitor Nadine menunjukan garis lurus.

“Suster, siapkan Defibrilator! Dan tolong Nahen minggir dulu sebentar ya, Suster tolong”

Suster membantu menyampingkan Nahen. Terlihat dokter sedang berusaha menolong Nadine di bantu oleh suster yang lain, Dokter sibuk melalukan CPR selagi menunggu Defibrilator siap digunakan.

“Kantong Ambu,” ucap Dokter.

Suster dengan sigap mengambil kantong ambu untuk memberikan oksigen sementara kepada Nadine.

“Sudah siap Dok,” ucap Suster yang mengurus defibrilator.

“Isi 200 joule!”

“Sudah terisi,”

“Baik, mundur semua!”

“Shoot!”

Nihil, Nadine tidak memberi respon bahkan alat monitornya masih sama. Dokter melakukan CPR kembali.

“Isi 200 joule!”

“Sudah terisi dok,”

“Baik, mundur semua!”

“Shoot!”

Hasilnya tetap sama, nihil.

“Nadine, kumohon bertahanlah,” gumam Dokter pelan.

Nahen yang melihat itu histeris, ia ketakutan kalau Bundanya tidak bisa diselamatkan. Sudah 20 menit Dokter melakukan kegiatan tersebut tapi tetap Nadine tidak merespon apapun dan monitornya masih menunjukan garis lurus yang sama.

“Nadine,” lirih Dokter itu. “Kumohon,”

“Dok,” panggil suster sambil menggeleng kepalanya menandakan tidak ada perkembangan.

“Dok, anda harus umumkan waktu kematian pasien,”

Dokter menghela napas tak percaya kalau ia gagal menyelamatkan Nadine. Dengan sangat berat hati ia mengumumkan waktu kematian tersebut.

“Waktu kematian…”

“ENGGAK! BUNDA GAK MENINGGAL KAN DOK?!” sela Nahen.

Ucapan Dokter terhenti karena Nahen memotong ucapannya.

“Jam tujuh belas lebih lima belas menit,”

Nahen menangis sejadi-jadinya, ia tak percaya kalau Bundanya kini telah tiada.

Dokter membisikan sesuatu di telinga Nadine. “Selamat tidur ratuku, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu.”

Jasad Nadien diurus oleh Perawat, sedangakan Dokter membawa Nahen yang masih menangis keluar dari ruangan.

“Nahen, tunggu sebentar ya, nanti pasti Papah jemput kamu,”

Dokter itu pun merogoh ponsel dari kantung jasnya dan menghubungi seseorang.

“Rel, Nadine udah gak ada, ini anak lo sama gue dulu ya?”

“Gue sibuk, bisa tolong urusin pemakaman Nadine gak Han?”

“LO SIBUK SAMA WANITA ITU KAN? INI ISTRI LO MENINGGAL DAN LO MASIH SIBUK DENGAN WANITA ITU?! SAKIT LO?!”

“Ryhan, tolong sekali ini aja. Gue titip Nahen juga sama lo. Acha lagi sakit dan gak mau ditinggal soalnya,”

“Brengsek lo jadi suami!”

Ryhan memutus panggilan itu. Muka Ryhan memerah karena menahan amarah, demi apapun apakah benar yang tadi ia telpon adalah Farrel yang ia kenal? Farrel yang baik hati berubah menjadi bajingan hanya karena 1 wanita.

“Nahen, sekarang ikut om dulu ya?”

“Papah gimana, Om?”

“Papah sibuk,”

“Bohong! Pasti Papah sedang sibuk dengan wanita jalang itu!”

“Sttt, kamu ini masih kecil kok sudah kasar? Bukan karena itu kok, percaya sama Om Reyhan ya?”

“Nahen udah besar, udah enam belas tahun Om,”

“Masa? Kamu masih sebelas tahun ini mah,”

Nahen berdecak kesal. “Ih Om, masih mau terus anggep aku anak kecil?”

Ryhan terkekeh sambil mengelus kepala Nahen. “Haha, ponakan Om sudah besar ya. Berarti udah bisa ikhlas ya soal Bunda? Gak boleh terlalu sedih oke?”

Nahen kembali menunduk, ia kembali terisak. “Bunda udah sehat berarti ya Om, udah gak sakit lagi.”

Ryhan yang melihat Nahen pun ikut sedih. Tanpa aba-aba ia membawa Nahen ke pelukannya. “Iya sayang, Bunda udah sehat sekarang ya,” tanpa disadari, Ryhan pun menitikkan air matanya tanpa terisak.

-Flashback off-

Mengingat itu membuat Nahen terpejam dan menitikkan air mata.

Brakkk. Suara pintu terbuka keras.

“Bisa ketok dulu gak sih?” ucap Nahen.

“Lo bisa kan gak usah kasar sama nyokap gue?”

Nahen tidak memberikan respon apapun.

“Bangun lo!” ucap Kainan sembari menarik tangan Nahen.

Nahen terduduk kesal. “Mau apa lagi sih lo? Ganggu gue tidur aja,”

“Asal lo tau Na, lo boleh kasar sama gue tapi engga sama nyokap gue. Emang gue juga setuju sama pernikahan mereka? Gue juga gak tau kalau nyokap selama di Bandung deket sama Papah lo. Tiba-tiba nyokap balik ke Jakarta minta cerai sama bokap gue, oh dan ternyata nyokap minta cerai buat nikah sama bokap lo. Gue di bawa kesini juga semata-mata buat duit Na, gue di Jakarta gak di urus sama bokap gue.” Jelas Kainan.

“Oh, pantesan buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya ya, udah gila harta brengsek lagi”

Kainan mengepal tangannya bersiap meluncurkan pukulan kepada Nahen. “Anjing lo!” Satu pukulan mendarat di pipi mulus Nahen. Nahen merasakan bibirnya luka, ia memegang ujung bibir itu dengan jempol tangannya.

Shit,”

Nahen beranjak dari duduknya dan menghampiri Kainan, ia menarik kerah baju Kainan dan menatapnya tajam.

Nahen tersenyum miring. “Jangan macem-macem lo sama gue,” ancam nya.

“Lo salah Na, harusnya lo yang gak macem-macem sama gue. Gue bisa ganggu temen lo, atau temen Lalitha,” timpal Kainan. “Oh, atau bahkan gue bisa ganggu Lalitha,”

Nahen melotot. “Jangan berani-berani lo sentuh Lalitha atau lo habis sama gue,”

“Gue tahu lo lemah Nahen,”

Nahen menendang perut Kainan. Ia masih memegang kerah baju itu dan menyeret Kainan agar keluar dari kamarnya.

“Gue gak selemah yang lo pikir. Bahkan gue rela mati demi Lalitha!” tegasnya.

Nahen melepaskan kerah baju itu dan Kainan jatuh tersungkur.

 
Read more...

from drikkes

Was @veilchengrau eigentlich meint

Mir sind Mitmenschen nicht wichtig genug, als daß ich die Mühe auf mich nähme, zu ihnen Kontakt zu halten. Das gilt für eigentlich alle Menschen und schon seit jeher. Und diejenigen, die interessiert genug sind, mir ihrerseits eine Nachricht zu schicken, sind so wenige, daß es mich nicht stört. Auf diese Weise siebe ich die ganzen Halbinteressierten aus. Ich liebe es.

Noch entlarvender als ihr Ausgangstweet, sind die Leute, die knapp mit “+1” replyt haben. Merkt Ihr noch was?

 
Read more...

from pengeluaranhk

Pengeluaran Hk: Togel Hongkong, Data HK, Keluaran Hk, Hk Pools


Pengeluaran hk merupakan sebuah situs yang menyajikan hasil keluaran togel hongkong setiap hari disusun dalam bentuk tabel data hk. Banyak juga yang menyebut hasil nomor keluaran togel hongkong di kerenkan menjadi lebih singkat dengan sebutan keluaran hk dan yang pastinya hasil keluaran hk ini diambil dari sumber resmi togel hongkong yaitu hongkongpools (HK Pools). Dengan adanya situs pengeluaran hk yang mengupdate keluaran hk di tabel data hk setiap harinya, pastinya akan membuat para pecinta togel online untuk lebih mudah mengetahui hasil result togel hongkong hari ini. Karena pasaran togel hongkong sendiri dibuka setiap hari pada jam 23:00 dan tentunya langsung bersumber dari situs resmi hk pools.


Togel Hongkong Menjadi Pasaran Togel Terfavorit Bersumber Dari Hk Pools


Togel hongkong merupakan jenis pasaran togel yang sangat populer di asia dan bahkan di dunia. Hk pools ini adalah situs resmi untuk togel hongkong ini sendiri, yang dimana situs hk pools didirikan langsung oleh pemerintah hongkong.  Akan tetapi, untuk mengakses situs hk pools tersebut sudah tidak bisa lagi menggunakan provider indonesia, karena sudah diblokir oleh pemerintah indonesia. Maka untuk itu, banyak sudah pecinta togel hongkong yang melihat keluaran hk dari situs pengeluaran hk yang disajikan dalam bentuk tabel data hk sebagai acuan untuk live draw togel hk setiap harinya.


Data Hk Memberikan Banyak Keuntungan Dan Memberikan Hasil Keluaran Hk Yang Akurat


Data hk adalah sebuah list rekapan hasil keluaran hk setiap harinya yang disusun menggunakan tabel yang disediakan oleh situs pengeluaran hk. Tujuannya adalah untuk memudahkan para pecinta togel hongkong melihat hasil result togel hk setiap hari pada jam 23:00 sesuai dengan jam buka Hk pools. Tentunya menjadikan data hk sebagai acuan untuk melihat hasil keluaran hk sangatlah tepat, karena situs pengeluaran hk mengupdate hasil nomor keluaran hk langsung bersumber dari situs resmi hk pools. Maka hasil update dari situs pengeluaran hk yang di update di tabel data hk pastinya sangat akurat dan 100% sah.


Keluaran Hk Tercepat Langsung Dari HK Pools Terakurat


Keluaran hk tercepat langsung dari hk pools tentunya adalah hasil keluaran togel hongkong yang paling akurat. Dalam susunan keluaran hk di dalam tabel data hk ini,tentunya sangat detail dan rapi. Bagaimana tidak? anda bisa melihat hasil rekapan keluaran hk di tabel data hk dari tanggal, hari, bulan, bahkan tahun sebelumnya. Jadi anda tidak perlu khawatir jika anda ketinggal info tentang hasil keluaran hk jika anda bermain di togel hongkong. Tujuan situs pengeluaran hk membuat keluaran hk di data hk adalah untuk memudahkan para pecinta togel hongkong untuk melihat secara detail dan bisa dijadikan acuan untuk melihat hasil keluaran nomor 1 prize dari hk pools.

 
Read more...

from @yovela43

Nahen baru saja sampai di rumahnya setelah mengantarkan Lalitha pulang. Ia melihat sekeliling rumahnya yang sepi, hanya ada Bi Ijah asisten rumah tangga Ibu Tirinya.

“Den Nahen baru pulang?” tanya Bi Ijah.

Nahen tertawa hambar. “Hehe, iya Bi abis nganter Litha dulu tadi.”

“Oh iya, Ibu sama Bapak lagi keluar dulu sebentar, nanti juga pulang lagi,”

“Oh oke Bi, ya sudah Nahen mau ke kamar dulu ya Bi,”

Nahen pun berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai, ia mengantuk sebab begadang semalaman menjaga Lalitha.

Saat membuka pintu, Nahen tersontak kaget karena ada seorang lelaki sedang duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela. Lelaki itu terlihat seumuran dengannya. Ia membelakangi Nahen sehingga ia tidak sadar kalau Nahen ada di belakangnya.

“Lo siapa? Berani-beraninya masuk kamar gue,”

Lelaki itu membalik badannya pelan dan memberi senyuman sumringah untuk menyambut kepulangan adiknya. Tapi naas kejadian ini tidak seperti yang di inginkan oleh lelaki itu. Mereka berdua malah tersontak kaget berbarengan.

“LO?!!” ucap mereka berdua.

“Anjing lo ngapain di kamar gue hah?” tanya Nahen

Alih-alih menjawab, lelaki itu malah memberikan pertanyaan yang sama terhadap Nahen. “Lo juga ngapain di sini bangsat?”

“Ini rumah gue.” jawab Nahen.

Lelaki itu pun memberikan jawaban yang sama. “Lah ini juga rumah gue.”

Saat mereka berdua bingung, tiba-tiba Farrel dan Acha datang setelah mendengar kegaduhan dari arah kamar Nahen.

“Hey, kalian berdua sudah bertemu ternyata.” ucap Farrel.

“Nahen kenalkan ini kakak tiri kamu Kainan, dan Kainan kenalkan ini adik tirimu Nahen,” ucap Acha mengenalkan sembari menepuk bahu mereka berdua.

“Akur-akur ya kalian, sebentar lagi makan siang nanti kita makan bareng ya, kita ngobrol, dan Nahen Papah mau bicara juga sama kamu. Sudah ya kita tinggal dulu.”

Nahen memegang dahinya frustasi. “Keluar lo dari kamar gue, najis banget gue punya kakak kaya lo!” titah Nahen.

“Idih siapa juga yang mau jadi kakak lo? Gue juga ogah kali punya adik kaya lo,” ucap Kainan tak mau kalah.

“Keluar anjing!”

Kainan pun menuruti perintah Nahen untuk keluar dari kamarnya. Saat melangkah keluar Kainan menghampiri Nahen dan membisikan sesuatu. “Gue punya hal besar buat lo, gue gak nyakitin lo atau Lalitha secara langsung, tunggu aja tanggal mainnya.”

“Lo gak usah deket-deket sama Litha, gak usah cari gara-gara sama gue!” ancam Nahen sembari mendorong Kainan agar menjauh darinya.

Mimpi buruk, sungguh Nahen tidak pernah membayangkan kalau dirinya dan Kainan adalah saudara.

 
Read more...