Wordsmith

Reader

Read the latest posts from Wordsmith.

from My First And Last✔

kamu beneran gapapa nih pergi sendirian, sayang?

Yuno kembali meyakinkan Istrinya itu sekali lagi, hari ini adalah hari pernikahan Januar dan Elara. Tapi sayangnya Yuno harus membiarkan Istrinya itu pergi sendiri karena Yuno enggak bisa pulang ke Indonesia lagi, ia harus fokus pada koas nya sudah hampir setengah jalan.

“Iya gapapa, Mas. Lagian di sana aku kan enggak sendiri, ada Mas Iyal, Gita, Chaka, Teh Niken, Kevin sama Yves katanya juga datang terus ada Mas Yuda sama Mba Ola juga kok.”

Setelah selesai menggulung rambutnya, Ara memasang anting di kedua telinganya, memastikan dirinya sudah tampak rapih dengan riasan sederhana ala dirinya sendiri. Semenjak Hana lahir, Ara enggak pernah lagi bikin konten. dia juga sudah menyelesaikan semua kerja sama nya dengan brand-brand yang sudah bekerja dengannya.

Ara mau fokus merawat Hana, mungkin sebulan lagi Ara akan kembali ke kampus untuk menyelesaikan study S2 nya lagi. Selama ini Ara ngurus Hana enggak sendirian kok, Ara di bantu sama orang tua Yuno dan juga orang tua nya. Umur Hana pun sekarang sudah 4 bulan, bayi itu sekarang tidur nya sudah lebih lama saat malam, jadi Ara jarang terbangun saat tengah malah. Kecuali kalau Hana benar-benar haus atau buang air besar saja.

maaf yah,” gumam Yuno.

Hey, it's okey, Mas. Kok minta maaf sih?” Ara senyum, dia ambil ponselnya dan natap wajah Suaminya itu yang ada di layar ponselnya.

Yuno itu masih sama, masih suka merasa bersalah tiap kali enggak bisa nemenin Ara ke acara-acara yang memang biasanya di hadiri bersama pasangannya. Atau enggak bisa nemenin Ara check up kesehatan Hana.

Gapapa, ngerasa bersalah aja gak bisa nemenin kamu. Tapi sayang?

“Iya, Mas?”

kamu cantik banget. Itu dress yang waktu itu aku beliin pas hari ulang tahun kamu ya?” waktu mereka baru menikah, Yuno memang sempat membelikan Ara dress berwarna dusty pink yang agak kelonggaran di tubuhnya. Tapi sekarang Ara mengenakan dress itu yang tampak pas di tubuhnya, Ara jauh lebih berisi sekarang. Kalau dulu beratnya hanya 42 kg, sekarang beratnya sudah mencapai 47 kg.

“Iya, jadi bagus yah.” Ara berdiri, dia liatin keseluruhan dress itu pada Yuno.

banget, Istriku selalu cantik. Malah tambah cantik.

“Ra.. Udah selesai belum? Jadi bareng sama Mas Yud gak?” teriak Yuda dari luar kamar Ara, hari ini Ara lagi menginap di rumah orang tua nya. Kalau Yuda sih enggak menginap, dia memang datang buat menjemput Ara karena katanya Adiknya itu ingin pergi ke pernikahan Januar bareng dengannya.

“Iya jadi sebentar!” teriak Ara dari dalam kamarnya. “Yaudah, Mas. Aku jalan ke resepsinya Janu dulu yah, nanti aku kabarin lagi.”

hati-hati yah, sayang. Salam buat Januar dan Elara.

Ara mengangguk. “Iya, Mas.”

Setelah panggilan video itu terputus, Ara langsung turun dari lantai dua kamarnya berada. Hana juga sudah rapih dengan setelan baju berwarna pink, enggak lupa Ara juga masangin Hana bando berbentuk pita. Bayi berumur 4 bulan itu sedang terlelap di gendongan Mbak Ola.

“Cantik banget sih Adiknya, Mbak.” ucap Ola waktu Ara baru turun. Mbak Ola ini emang suka nya muji, beda banget sama Mas Yuda yang kalau muji enggak mau kelihatan muji, Namanya juga Mas Yuda orangnya gengsian.

“Makasih, Mbak juga cantik banget.”

aunty tadi dedek Hana bobo nya sambil senyum-senyum.” si kembar Alissa dan Alea ini emang senang banget sama anak kecil, kadang Mbak Ola sampai kuwalahan kalau si kembar merengek minta ketemu sama Hana, padahal mereka sedang persiapan untuk pindah ke Surabaya tahun ini.

“Oh, ya? Mimpi apa yah dia sampai senyum-senyum gitu?” Ara ngusap pucuk kepala keponakannya itu.

“Mimpi main sama Kakak Alea kali yah aunty.”

Ara tuh senang banget bisa punya keponakan kembar, sewaktu si kembar baru lahir. Ara tuh sering banget beliin baju dan mainan buat si kembar, apalagi mereka perempuan jadi banyak banget asesoris yang Ara beliin buat mereka, pokoknya Ara paling excited deh selain Bunda waktu itu.

Makanya waktu Mbak Ola tahu anak Ara dan Yuno juga perempuan, Mbak Ola gantian belanja banyak asesoris dan baju bayi buat Hana.

Di perjalanan menuju ballroom hotel tempat Januar melangsungkan resepsi, Ara sempat mengirimkan foto dirinya dan Hana di kursi belakang mobil ke Yuno. Yuno juga sempat membalasnya dengan rengekan dan emoticon menangis, dia bilang kalau dia mau teleportasi agar bisa tiba di Jakarta detik itu juga.

Yuno juga bilang kalau dia enggak tahan buat gak senyum-senyum sendiri karena Ara dan Hana terlihat cantik hari itu. Begitu sampai di ballroom hotelnya tamu-tamu sudah tampak memadati, Ara juga sempat lihat beberapa alumni SMA Bakti Mulya 400 mulai dari angkatannya, angkatan kakak kelas nya sampai angkatan adik kelasnya.

Ada anak-anak dari Universitas Narawangsa juga, tapi kebanyakan dari jurusan Teknik, ya tahu sendiri lah Januar ini memang terkenal banget di jurusannya. Kayanya tiap angkatan ada aja yang kenal Januar, kadang Ara heran tapi sekaligus salut sama Januar karena cowok itu pandai bergaul dengan siapa saja.

“El, Nu, congrats ya, langgeng-langgeng kalian berdua, bahagia terus pokoknya doa terbaik buat kalian berdua.” Ara menyalami kedua pengantin itu. Januar sama Elara tampak serasi, Ara diam-diam juga mengagumi konsep pernikahan mereka.

thank you, Ra. Makasih banyak udah datang.” Elara meluk Ara, gak lama setelahnya di juga nepuk-nepuk kecil kaki Hana, nyapa bayi itu yang masih tidur di gendongan Ibu nya. Sebenarnya Elara kepengen banget megang pipi Hana atau cium bayi itu, tapi dia enggak berani karena dia habis menyalami banyak orang.

“Bobo yah dia? Gemas banget sih, makin gembul pipinya.”

Ara mengangguk, “pules, kenyang dia, El. Sebelum kesini aku susuin dulu biar enggak rewel. Soalnya habis imunisasi.”

“Ahhh.” Elara mengangguk pelan. “Sehat-sehat terus ya sayang.”

“Doain gue juga dong biar cepet punya kaya gitu juga biar anak elu sama Bang Ril gak main bertiga doang nanti,” celetuk Januar asal.

“Iyaaa gue doain. Semoga kalian berdua cepat nyusul juga momongannya.” Ara terkekeh.

“Ah elu mah,” Elara mulai pengen misuh-misuh tapi dia tahan karena banyak orang yang mau menyalaminya.

Setelah selesai bersalaman dengan kedua mempelai, Ara duduk di meja yang sudah di sediakan khusus untuk anak-anak kosan Abah oleh Januar dan Elara. Ada teman-temannya yang lain juga sedang mengobrol, Ara sudah selesai makan, di sebelahnya juga ada Gita yang sedang sibuk membersihkan sela bibir Elios yang habis makan cake itu.

Bukan Gita enggak memperhatikan sedari tadi kalau Ara beberapa kali terlihat memendarkan pandangannya ke seluruh penjuru ballroom, dia tampak mencari seseorang.

“Dia enggak datang, Ra.” ucap Gita tiba-tiba, ucapan Gita juga lah yang berhasil membuat Ara menoleh ke arah wanita itu.

“Hah?” Ara terkesiap, dia kaget banget tiba-tiba Gita nyeletuk kaya gitu. Emang dia kelihatan banget kalau lagi nyariin orang yah? Pikir Ara.

“Ijul kan?” tanya Gita.

Ara enggak jawab, dia cuma nunduk aja sambil liatin Hana yang masih tidur di dalam stroller nya. Gita sadar ternyata kalau dia nyari Julian, Ara cuma merasa enggak enak saja karena dirinya persahabatan mereka jadi hancur dan Julian juga benar-benar menjauhi teman-temannya. Padahal Julian sama Januar itu dekat tapi Julian rela enggak datang ke acara pernikahan Januar, mungkin cowok itu benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengannya, pikir Ara.

“Juleha udah bilang ke Janu kalau enggak bisa datang, dia sekarang kerja di luar kota. dia juga cuma titip salam aja.”

Sebelum hari resepsi Januar, Julian memang sudah menelfon Januar dan mengirimi hadiah untuk pernikahan Januar dan Elara. Karena pekerjaannya yang menumpuk, Julian memang enggak bisa pulang ke Jakarta dan menghadiri resepsi pernikahan Januar.

Januar awalnya agak kecewa karena dia sempat menduga kalau Julian memang benar-benar enggan bertemu Ara, dan memakai alasan itu untuk tidak menghadiri pernikahannya. Tapi Julian akhirnya menjelaskan bahwa dia benar-benar sibuk dan memang sedang berada di luar kota.

Julian sedang si tugaskan ke daerah Sulawesi, Julian itu kerja di sebuah perusahaan riset. Jadi kadang ada beberapa tugas yang mengharuskan Julian melakukan perjalanan keluar kota.

“Gue enggak nyariin Julian, Git.” Ara ngeles. Walau kenyataanya memang mencari Julian, tapi dia berusaha menutupi itu. Dia enggak mau Gita mikir yang enggak-enggak ya walaupun Ara tahu Gita bukan orang seperti itu, tapi tetap saja enggak enak. Biar bagaimana pun juga Gita adalah sepupu dari Suaminya.

“Nyariin juga gapapa, Ijul kan temen kita.”

“Gue paham selain mungkin karena kerja, Julian enggak mau datang juga karna gue. Gue sadar kok, Perasaan dia mungkin emang bukan tanggung jawab gue. Gue cuma ngerasa gak enak aja karena gue persahabatan kita jadi pecah gini.” Ara tersenyum miris.

“Julian lagi belajar berdamai sama keadaan, Ra. Gue yakin dia gak akan kaya gini selama nya, ada waktunya kok kita bisa balik kumpul-kumpul kaya dulu lagi.”


Di tempatnya Julian tersenyum waktu dia lagi buka sosial media miliknya dan mendapati foto-foto pernikahan Januar terdapat di beranda paling atas sosial media miliknya. Januar yang mengunggahnya, ada foto-foto teman-teman mereka juga.

Hari itu semuanya tampak tersenyum, membawa pasangan mereka masing-masing dan hanya kurang dirinya saja. Tapi yang membuat hati Julian menghangat adalah, ketika Chaka membawa tablet yang menampilkan foto Julian. Foto itu seolah-olah menggantikan ketidakhadiran Julian di sana, ternyata teman-temannya itu masih perduli dengannya dan tidak melupakannya meski sekarang Julian sedang kabur.

Di foto itu, Julian juga melihat Ara dan bayi perempuan yang di gendongnya. Ara sudah melahirkan teryata, Julian lega karena semua tampak baik-baik saja tanpa dirinya.

Jika di tanya Julian sudah berdamai dengan keadaan atau belum, tentu saja dia sedang berusaha untuk itu. Ada malam-malam berat dimana dia merindukan Jakarta, Bandung dan teman-temannya.

Tapi baginya, biar saja sekarang seperti ini. Hati nya lebih banyak tenang dan Julian merasa perlahan-lahan luka nya mulai mengering, ya. Julian harap akan ada hari dimana dia berani pulang ke Jakarta dan berkumpul bersama teman-temannya kembali.

Sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, Julian menekan tanda hati di sana sebanyak dua kali. Dia menyukai unggahan Januar meski tidak ada dia di sana, Julian juga bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.

Semoga hari dimana dia bisa berdamai dengan semuanya bisa segera tiba.

Selesai

 
Read more...

from My First And Last✔

Pasca melahirkan Ara sempat di rawat selama dua hari di rumah sakit, setelah itu karena Ara dan Hana kondisinya stabil dan baik-baik saja, dokter Bagas akhirnya memperbolehkan keduanya untuk pulang ke rumah. Yuno pun enggak sempat ke rumah sakit karena begitu ia tiba di Indonesia Ara dan Hana sudah ada di rumahnya.

Sudah dua hari Yuno berada di rumahnya, dia benar-benar menepati janjinya untuk merawat Istri dan menjaga bayi mereka. Terutama di malam hari, Yuno rela kurang tidur atau bahkan enggak tidur demi menyusui Hana dari botol ASI, menggantikan baju nya ketika anaknya itu muntah karena kekenyangan, mengganti popoknya waktu Hana pipis dan pup, bahkan ketika Hana nangis hanya karena ingin di gendong.

Kalau susu di botolnya masih ada Yuno enggan membangunkan Ara, dia gak tega kalau Ara harus kurang tidur. Padahal Ara sudah bilang kalau dia enggak masalah harus bangun karena menyusui Hana.

Di jam dua malam, Ara mengerjabkan matanya. Meraba ranjang sebelahnya yang tadinya ada Suaminya itu yang baru tidur, lampu kamar mereka masih menyala. biasanya kalau Yuno tidur agak di redupkan sedikit. Enggak sampai gelap kok, bahkan masih terlihat terang.

“Mas?” panggil Ara.

“Di kamar mandi, Sayang. Hana habis pup,” ucap Yuno dari dalam kamar mandi mereka.

Mendengar itu Ara senyum, dia menumpuk bantal yang ia pakai jadi satu agar bisa bersandar. Lagi-lagi Yuno yang harus bangun, Ara sebenarnya senang Suaminya itu membantunya merawat Hana. Tapi enggak tega juga, karena Yuno pasti lelah, begitu selesai koas dia langsung melakukan penerbangan panjang dan begitu sampai Yuno langsung di sibukkan untuk menjaga Hana ketika malam.

Begitu selesai menggantikan popok anaknya itu, Yuno keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat Istrinya yang sedang bersandar di headboard ranjang mereka.

“Ibu kebangun yah?” cicitnya menirukan suara anak kecil.

“Kebangun nyariin cantiknya Ibu sama gantengnya Ibu.”

Yuno duduk di ranjang mereka, memberikan Hana pada Ara untuk ia susui. Kebetulan stok ASI yang Ara pompa sudah menipis, jadi mau enggak mau Ara harus memberikan ASI ke Hana secara langsung.

“Haus banget yah sayangnya Ibu?” Ara ngusap-ngusap kepala Hana yang sedang menyusu itu, benar-benar kehausan ternyata.

“Dia rambutnya tebal banget yah, sayang.”

“Kata Mama kaya kamu waktu bayi, rambutku juga dulu tebal. Cuma enggak selebat punya Hana.” rambut bayi Hana tuh benar-benar tebal dan hitam untuk seukuran bayi baru lahir, Bunda bilang kalau Hana sudah lepas tali pusarnya nanti rambutnya bisa di cukur sedikit saja supaya enggak timbul ruam di area keningnya.

“Bulu matanya lentik kaya kamu,” ucap Yuno. Dia gak pernah gak senyum kalau lihat Hana, bahkan enggak ada rasa lelah karena penerbangan panjang dan kurang tidur hanya untuk merawat anaknya.

Yuno benar-benar sedang menikmati perannya sebagai seorang Ayah. Rasanya dia mau terus-terusan menjaga Hana dan menemani Istrinya itu saja tanpa harus kembali ke Jerman.

“Bulu mata kamu panjang tapi turun yah.” Ara merhatiin bulu mata Yuno itu, bulu matanya memang panjang tapi sayangnya turun, berbeda dengan Ara yang memang lentik alami. Makanya Ara jarang banget pakai maskara atau penjepit bulu mata.

“Alisnya mirip siapa?”

“Kamu.”

Keduanya terkekeh pelan, oh iya. Hana itu punya lesung pipi persis kaya Yuno tapi sayangnya cuma sebelah saja enggak ada di kedua pipinya, karena pipinya yang tembam kalau Hana tersenyum sedikit saya lesung pipinya sudah terlihat jelas.

“Kamu tidur, Mas. Istirahat kamu tuh capek. Gantian sama aku jagain Hana nya, kan aku juga udah tidur lumayan lama.” bagi Ara, semenjak Hana lahir tidur 3 jam itu udah lumayan banget buat dia. Apalagi sejak kehadiran Yuno, dia bisa tidur lebih lama dari itu.

“Enggak ngantuk sama sekali, sayang. Aku kalo ngantuk pasti tidur kok, kamu tau kan aku gampang banget tidur?”

“Paksain, aku takut kamu sakit karna kecapekan.”

“Enggak akan, aku kan jarang sakit.” Yuno senyum, imun tubuhnya memang bagus. Yuno dari kecil pun jarang sekali sakit, kalau sakit pun paling cuma batuk, demam dan pusing aja.

“Kamu lagi menyombongkan diri?” Ara menaikan satu alisnya.

“Kedengarannya kaya gitu?”

Ara mengangguk. “Tidur yah, sebentar aja gapapa. Hana juga udah mulai ngantuk kayanya, udah merem lagi dia walau masih minum.”

“Aku tidur yah.”

“Iya, Mas.”

Yuno akhirnya mencoba untuk tidur, dia berbaring di samping Istrinya itu tapi urung memejamkan matanya. Dia malah masih betah mandangin Ara yang masih menyusui Hana, tangan kurusnya itu beringsut menepuk-nepuk pelan punggung bayi mereka.

Pernah merasa bahagia sampai-sampai untuk tidur pun sulit karena perutmu terisi kupu-kupu? Nah itu dia yang di rasakan Yuno sekarang, rasanya seperti itu. Seperti semua susah, sedih dan semua pengorbanan Yuno terbayarkan dengan Tuhan memberikannya seorang putri yang benar-benar cantik.


“Ahh, ini mah Ara enggak kebagian apa-apa Bang Yuno banget ini sih,” pekik Chaka. Waktu pertama kali liat Hana, dia takjub banget sama bayi mungil itu.

“Ya namanya juga anaknya jir, masa mirip elu, si Ara juga ogah kalau anaknya mirip elu,” sahut Kevin.

“Dih, gue mah ganteng.”

Anak-anak kosan hari ini bersama-sama menjenguk Ara dan Hana, ada Gita, Arial, Januar, Elara, Kevin, Chaka dan juga Teh Niken. Mereka semua datang bersama dan memberi hadiah untuk Ara dan juga Hana, enggak cuma Hana aja kok yang dapat hadiah tapi Ara juga. Terutama barang-barang yang dia butuhin banget sebagai Ibu baru.

Gita yang sedang asik gendong Hana itu jadi kesal sendiri dengar perdebatan Kevin dan Chaka, kalau enggak ada si kembar sekarang. Pasti tangan Gita udah melayang buat nabok bibir Kevin sama Chaka biar diam.

“Ganteng tapi kaya dukun mah buat apa,” celetuk Gita karena kesal.

Chaka yang di bilang gitu cuma prengat prengut kesal aja, gak berani ngelawan Gita. Takut dia gak di bolehin menginap lagi atau gak di kasih kesempatan buat ngeluh tentang hubungannya lagi.

“Hana beratnya berapa, Ra?” tanya Elara, karena mau nikah tahun depan. Selain mengurus pernikahan, Elara juga jadi sedikit-sedikit nanya tentang merawat bayi, ya siapa tahu kan dia sama Januar di kasih anaknya cepat kaya Yuno dan Ara.

“Beratnya 4 kg, El. Tingginya 51 cm.”

“Pantes endut banget, gemes banget. Pengen punya yang kaya gini juga,” gumam Elara.

“Kan kita udah sering bikin, makanya jadiin!!” samber Janu yang langsung di hadiahi cubitan di pinggangnya, tangan Elara masuk ke dalam kaus yang Janu pakai supaya si kembar Elios dan Eloise enggak liat.

“Hehehe, jangan ngomong gitu ah,” ucap Elara di sela-sela cubitannya.

“Pasti proses nya panjang banget yah, Ra? Sakit gak sih melahirkan normal?” tanya Niken. Dia belum pernah melihat orang melahirkan langsung, tapi bayangin kepala bayi yang sebesar itu keluar dari dalam dirinya aja bulu kuduk Niken udah berdiri semua rasanya.

“Lumayan lama, Teh. Aku mulai kontraksi itu subuh gitu jam 3 an. Tapi udah ngerasa mulas dari jam 1, terus Hana lahir jam 10 pagi. Kalau di tanya sakit, yah sakit banget Cuma recovery nya cepat kok.”

“Tuh dengerin, makanya elu kalau udah pada punya bini tuh nanti di sayang bini nya jangan macem-macem tingkahnya, jadi Ibu tuh susah, hamil tuh enggak enak dan melahirkan tuh sakit. Minta maaf lu pada sama Nyokap,” Gita ceramah, yang bikin cowok-cowok jadi pada nunduk karena ngebayangin gimana perjuangan orang tua mereka dulu.

“Cil, lo kok jahat. Gue kan gak punya Mama..” gumam Chaka, Chaka udah berdamai sama keadaan kok tenang aja.

“Yaudah jadi anak yang bener biar Mama lo bangga liat lo sekarang. Jangan sibuk jadi dukun aja.”

“Itu sampingan,” Chaka ngeles.

“Tapi Bang Yuno keren loh, dia cekatan banget jadi Papa muda. Udah bisa mandiin Hana juga, gue aja kayanya takut buat gendong pun.” Kevin sebenarnya pengen banget gendong Hana, waktu Elios sama Eloise lahir pun Kevin kepengen banget gendong tapi dia enggak berani. Dia baru berani gendong si kembar anaknya Gita dan Arial waktu umur mereka sudah 11 bulan.

Di mata Kevin bayi tuh ringkih, takut banget dia salah-salah gendong dan bikin bayinya sakit atau ngerasa gak nyaman. Makanya dia cuma ngeliatin aja, lain hal nya sama Chaka yang sebenarnya berani. Tapi apesnya setiap kali ingin menggendong bayi, bayinya langsung menangis begitu dekat dengannya. Enggak tahu deh, aura Chaka emang jelek banget kayanya. Kebanyakan main sama setan kalau kata Januar mah.

“Mas Yuno banyak nanya juga sama Mas Ril, Kev. Waktu Hana belum lahir dia juga banyak baca-baca cara merawat bayi baru lahir, makanya lo kalo nanti nikah sama Yves juga gitu yah. Punya anak tuh di urusnya berdua.” oiya, selain menjenguk Ara dan Hana. Ini juga menjadi kumpul-kumpul sama Kevin sebelum cowok itu pergi ke London. Kevin akan melanjutkan S2 nya di sana bersama dengan Yves.

“Pasti lah.”

“Jangan mau bikinnya doang lu, Kev.” sambar Janu.

“Itu mah elu.” karena kesal, Kevin lempar Januar pakai cushion yang tadi ada di pangkuannya.

“Gak sia-sia lo, No. Berguru sama gue,” Arial menepuk pundak Yuno dengan bangga.

“Lo dulu gini juga gak sih, Ril?” tanya Yuno, matanya enggak berpidah dari Hana yang masih terlihat nyaman dalam gendongan Gita.

“Gini gimana? Repot?”

Yuno menggeleng, “gak bisa tidur saking senangnya dan nikmatin ngurus anak lo sendiri?”

“Gitu juga sih, tapi ya lo tau sendiri anak gue langsung dua. Tetap capek banget, apalagi kalau nangisnya barengan. Kepala gue pusing aja rasanya bisa sembuh sendiri, tapi yah benar kata lo. Justru nikmat nya di situ jadi orang tua baru.”

Waktu anaknya baru lahir, Arial dan Gita juga sempat kuwalahan kok, apalagi kalau si kembar nangisnya bersamaan dan dua-dua nya minta menyusu. Kadang buat Arial dan Gita tidur satu jam saja sudah sangat bersyukur, enggak jarang Arial suka mengantuk dan ketiduran di kantor kalau sedang jam istirahat.

“Ra, gue boleh nyium pipinya Hana gak?” kata Januar.

“Ihhh gak boyehh.. uncle bau kokok kata aunty El..” pekik Elois, bocah itu menghalangi Janu agar tidak mendekat ke Hana.

“Hahaha udah di jawab yah, Nu. Sama keponakan gue,” jawab Yuno sambil terkekeh.

 
Read more...

from My First And Last✔

Sudah satu bulan sejak Ara kembali ke Indonesia, sejak itu juga Yuno hanya bisa berkabar dengan Istrinya melalui ponselnya saja. dokter Bagas sudah memberi tahu hari perkiraan Ara akan melahirkan, namun siapa sangka jika itu meleset dari perkiraan. Ara justru sudah kontraksi seminggu sebelum tanggal yang sudah di perkirakan.

Sejak semalam kedua orang tua Yuno membawa Ara ke rumah sakit setelah mengeluh sakit perut, begitu di bawa ke rumah sakit ternyata menantunya itu sudah memasuki pembukaan ke 3, bahkan Yuno sendiri yang di kabari kaget, pasalnya dia sudah mengajukan izin ke fakultasnya minggu depan. Dan hanya 4 hari saja, Yuno enggak bisa izin lama-lama karna itu akan berpengaruh ke masa koas nya yang nantinya akan lebih lama.

Pagi ini di temani Bunda, Ara jalan-jalan keliling kamar rawatnya supaya pembukaan nya lancar, kadang dia merintih dan menangis juga karena rasa sakit yang mendera nya. Hanya ada Bunda saja, tadi ada Papa nya tapi sekarang Papa pulang buat ambil baju Bunda, karena malam ini Bunda yang nemenin Ara di rumah sakit.

Karena besok pagi Mama Lastri masih harus praktik, makannya pagi ini kedua orang Yuno itu pulang dan kembali lagi setelah menyelesaikan praktiknya. Ara sudah memasuki pembukaan ke 7 nyeri perutnya juga semakin sering dan bikin dia cuma bisa duduk di ranjangnya.

“Bun..” Ara merintih, pegangin tangan Bunda nya sembari menahan rasa sakitnya.

“Minum yah? Dari tadi Kakak belum minum loh.”

Ara menggeleng, dia meringkuk di ranjangnya sembari memejamkan matanya. Enggak nyangka kalau melahirkan normal seperti ini akan sangat menguras tenaga nya, enggak lama kemudian ponsel Ara yang ia taruh di atas nakas berdering. Itu panggilan dari Yuno, Yuno baru pulang dari rumah sakit sepertinya.

Karena enggak tega liatin Ara merintih terus, akhirnya Bunda yang angkat telfon dari menantunya itu. “Hallo, No.”

Bun, Ara gimana? Yuno kepikiran banget. Maaf Yuno baru bisa telfon lagi, karena baru sampai di rumah.” di sebrang sana Yuno tampak gusar, dia belum ganti baju dengan wajah kusut dan sembabnya.

“Sudah pembukaan 7, No. Doain lancar yah, masih ngerintih aja dia.” Bunda ngarahin ponsel Ara itu ke Ara yang lagi meringkuk sembari merintih, dia memegangi perutnya.

sayang??” panggil Yuno, suaranya bergetar. Dia gak tega banget ngeliatin Ara kesakitan kaya gitu, rasanya tuh Yuno pengen langsung nyamperin Istrinya itu aja dan ngambil seluruh sakit yang di rasain. Yuno bersedia kalau memang dia bisa menggantikannya.

“Mas.. Kamu kapan pulang?”

Ara nangis, dia jadi super sensitif rasanya. Walau di temani orang tuanya tapi tetap saja yang Ara butuhkan itu Yuno, dia mau Yuno ada di sebelahnya nemenin dia sampai anak mereka lahir.

rabu depan aku pulang yah, kamu yang kuat ya. Aku doain kamu dari sini.

“Pulang Mas.. Pulang. Aku mau nya kamu disini sekarang.” tangis Ara semakin pecah, di benar-benar ngerasa cuma butuh Yuno aja.

“Kak.. Jangan ngomong gitu, kasian nanti Yuno jadi kepikiran di sana. Jadi enggak tenang dia,” Bunda menasihati sembari ngusap-ngusap pinggang putrinya itu.

Bunda tahu apa yang Ara rasain karena dulu Bunda juga pernah ngalamin, tapi di posisi seperti ini Bunda juga mikirin menantunya. Bunda takut Yuno kepikiran sampai berdampak sama pekerjaannya di rumah sakit, Makanya Bunda berusaha nenangin Ara sebisa mungkin.

iya, nanti aku pulang yah. Kamu mau di bawain apa?” Yuno ngalahin pembicaraan ke topik lain, liat Ara nangis dia juga jadi kepengen nangis rasanya.

“Aku maunya kamu! Kamu aja, gak usah bawa apa-apa lagi. Kamu pulang aja.”

iya, nanti aku pulang yah. Sabar ya sayang, aku juga kan maunya sama kamu. Mau nya juga nemenin kamu sampai Hana lahir.

Ara gak jawab lagi, dia masih nangis tapi dengar suara Yuno lumayan bikin hatinya tenang. “Perutku sakit.. Hana gerak terus di dalam, Mas. Sakit banget.”

Hana lagi cari jalan keluarnya, kan udah enggak sabar mau ketemu sama Ibu sama Papa nya juga. Kamu makan yah, biar punya tenaga. Nanti kalau aku udah sampai sana, aku yang jagain Hana. Ya?

Ara ngangguk, dia jadi enggak tega karena nyuruh Yuno cepat-cepat pulang. Tapi ngeliat Yuno di sebrang sana nangis dengan mata yang memerah, Ara jadi ngerasa bersalah banget.

“Mas jangan nangis..”

kepikiran kamu, kasian liat kamu kesakitan tapi aku enggak ada di sana, aku minta maaf yah, sayang.

Liat Yuno nangis Ara jadi ikutan nangis, Bunda pun juga nangis karena kasihan liat anak dan menantunya itu yang di pisahin sama jarak, Bunda cukup memaklumi Yuno. Dia enggak nyalahin Yuno karena sering ninggal-ninggalin Ara waktu hamil dan gak ada waktu Ara melahirkan.

Bunda tahu Yuno anak yang baik, Yuno juga sempat menyuruh Ara untuk melahirkan di Jerman supaya Yuno bisa nemenin Istrinya itu. Tapi ada banyak hal juga yang harus di pertimbangkan, terutama dari keluarga Yuno yang ingin Ara melahirkan di Indonesia saja. Bunda juga cukup memaklumi karena Hana menjadi cucu pertama di keluarga mereka, karena sepupu-sepupu Yuno yang lain juga belum menikah.

“Kamu jangan nangis.”

Yuno kelihatan ngusap air matanya habis itu senyum, dia harus semangatin Istrinya itu. “jelek yah?

“Masih ganteng kok.”

kalo Hana udah lahir nanti, liat yah dia ada lesung pipi nya atau enggak.” Yuno terkekeh, dia godain Ara kaya gitu supaya Ara enggak stress dan gak membuat persalinannya lebih lama.

“Kalo enggak ada gimana?”

kalo enggak ada lesung pipi nya, mau aku kasih punyaku.

“Kalau ada?”

berarti kamu punya dua orang yang kamu sayang, yang punya lesung pipi. Jadi kamu enggak nusukin pipi aku terus.” Jelas Yuno, keduanya terkekeh pelan. Ucapan Yuno barusan juga bikin hati Ara menghangat, membayangkan Hana besar nanti punya lesung pipi yang di warisi sama Papa nya.

Setelah sambungan telefon mereka terputus, waktu berlalu dengan sangat cepat bagi Ara. dokter Bagas juga sudah memberi tahu kalau air ketuban Ara sudah pecah, Ara juga sudah masuk ke ruang bersalin di temani sama Bunda dan Mama Lastri.

10 menit berlalu Ara masih berusaha mengejan sekuat tenaga nya, tentu nya di bantu sama oksigen karena dokter Bagas itu tahu soal riwayat penyakit Ara dari kecil.

“Mengejan lagi yah, Ra. 1.. 2..” dokter Bagas ngarahin Ara supaya bayi nya enggak masuk lagi, Ara enggak bisa istirahat lama-lama dia harus terus mengejan karena bayi nya sudah dekat.

“Mmmh.....” Ara mengejan sekuat tenaga yang dia bisa, beneran rasanya kaya tulang rusuknya lagi di patahin secara bersamaan dan nafasnya terasa pendek.

Di sampingnya Mama Lastri ngusap kening Ara pakai tissue karena keringatnya itu terus bercucuran, kalau tadi Ara nangis waktu nunggu pembukaan justru saat mengejan dia gak nangis sama sekali. Fokusnya adalah dia harus melahirkan bayi nya, bayi nya harus selamat.

“Sekali lagi yah, kepala nya sudah semakin dekat, Ra.”

“Mah.. Mas Yuno kemana..” yang di pikiran Ara waktu lagi mengajan kaya gini cuma Yuno, dia butuh Suaminya.

“Sabar yah, sayang. Dikit lagi Yuno sampai di Indo yah. Nanti Mama suruh dia cepat kesini.”

“Ara?? Mengajan lagi yaaa, tarik nafas..”

Ara mengejan cukup panjang, sampai rasanya nafasnya tersenggal. Ia juga sedikit mengangkat kepalanya dan meremas selimut yang menutupi perut hingga kakinya. Melihat Ara yang sudah sangat lemas dengan keringat yang bercucuran, dokter Bagas melepas masker yang menutupi separuh wajahnya.

distosia bahu, Buk.” dokter bagas menatap Mama nya Yuno dengan wajah paniknya.

“Masih bisa di tarik kan dokter Bagas? Atau kita bisa vacum saja.”

makrosomia, Buk. Bayi nya besar.”

Mamanya Yuno memejamkan matanya, bayi yang di kandung menantunya itu besar sedangkan panggul Ara kecil. Ini adalah kehamilan pertamanya dan sialnya bahu bayinya itu menyangkut. Satu-satunya cara adalah menarik bayi nya itu atau dengan cara di vakum.

“Mas Yuno...” Ara merintih, dia berusaha ngantur nafasnya lagi walau terkadang ia masih suka terisak.

“Mbak ada apa sama Ara?” tanya Bunda nya Ara itu, Bunda gak paham dokter Bagas ngomong apa sama Mama nya Yuno tapi perasaan Bunda saat ini enggak enak, Bunda takut Ara dan bayi nya kenapa-kenapa.

“Mbak, tolong tetap pantau Ara supaya tetap sadar yah.”

“Ara.. Dengarkan saya yah, pada hitungan ketiga mengajan sekuat mungkin yah. Saya akan bantu tarik bayi kamu,” dokter Bagas memberi intruksi pada Ara, sesekali ia juga menepuk kaki Ara agar tetap sadar. “Ara dengar saya kan?”

Ara hanya mengangguk, pandangannya sudah buram tapi ia harus tetap sadar. Ia harus melahirkan bayinya dulu. “Bun.. Mas Yuno..”

“Sabar sayang, dikit lagi Yuno sampai yah..”

“Ara.. Tarik nafas..” Mama memberikan instruksi pada menantunya itu. Ara harus segera mengejan sebelum kepala bayinya itu kembali masuk ke dalam.

“Uhhh....” Ara mengangkat kepalanya, ia mengejan sekuat tenaganya. Namun sayangnya nafasnya semakin sesak, ia menitihkan air mata nya melawan rasa sakit yang saat ini sedang dia rasakan.

“Kuat, nak. Anak Bunda kuat!” Bunda mengangkat kepala Ara dan menepuk-nepuk bahu anaknya itu dan mengusapi keringat Ara yang bercucuran di sekitar kening hingga ke leher nya.

“Sekali lagi yah, Ra.”

“Ngh....” Ara kembali mengejan, ia meremas selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Sampai akhirnya suara bayi mungil nya itu terdengar, Ara menangis penuh haru. Ia bisa melihat Dokter Bagas mengangkat bayi mungil nya itu yang masih berlumuran darahnya.

“Anak kamu sama Yuno sudah lahir, Ra..” bisik Mama Lastri.

“Hana udah lahir, Mah..”

“Iya, Hana.”

Ara berusaha mengatur nafasnya yang rasanya kaya di ujung lehernya. Dengan tubuh yang masih lemas, dia liatin bagaimana dokter Bagas motong tali pusar bayi nya itu sampai Hana di mandikan.

Begitu Hana sudah selesai di mandikan dan di balut dengan selimut barulah Ara bisa menggendongnya, Hana lahir dengan berat 4,0 kg dan panjangnya 51 cm. Pipinya tembam dengan sedikit kemerahan, rambutnya tebal dan kulitnya putih. Persis kaya Yuno waktu bayi kalo kata Mama Lastri.

“Hana..” panggil Ara, Hana masih tidur di gendongannya. Bibir mungilnya itu sedang sibuk meminum ASI pertama nya.

Enggak lama kemudian Bunda masuk kembali ke ruang bersalin, Bunda melakukan panggilan video dengan Yuno dan memberi tahu Yuno kalau anaknya sudah lahir. Di dalam gendongan Ara, walau jarak sangat jauh memisahkan mereka. Yuno mengadzani telinga anak mereka melalui panggilan video itu.

Ara yang masih lemas cuma bisa liatin aja, dari suaranya Yuno agak sedikit bergetar seperti sedang menahan tangisnya sendiri. Tangis karena haru karena anaknya sudah lahir. Setelah Yuno selesai mengadzani Hana, dia senyum waktu Bunda ngarahin ponselnya ke arah Hana yang ada di gendongan Ara.

Hana, tunggu Papa pulang yah..

“Mirip kamu banget, No. Sampai ke pipi nya pun kaya kamu banget,” ucap Bunda.

Ara enggak kebagian apa-apa yah, Bun?” di sebrang sana Yuno terkekeh, dari jauh pun Yuno bisa lihat Hana benar-benar mirip dengannya walau matanya lebih sipit seperti mata Ara. Kalau Yuno itu agak sedikit besar apalagi kalau lagi melotot.

“Kebagian hikmahnya aja,” sahut Ara.

Bun, maaf sebelumnya. Yuno boleh ngobrol sama Ara dulu gak, Bun?

“Iya, boleh kok, Nak.” Bunda memberikan ponselnya ke Ara dan beralih menggendong Hana, Hana sudah selesai menyusu dan tertidur pulas. Kebetulan sudah ada suster juga yang datang untuk membawa Hana ke ruang bayi.

sayang?” panggil Yuno.

“Iya, Mas?”

terima kasih yah.

Ara mengangguk. “Iya, Mas.”

“*terima kasih udah kuat, udah sabar dan ngelahirin anak kita. Aduh, aku sampai nangis lagi kan. Kenapa jadi cengeng gini,” Yuno ngusap mukanya sambil terkekeh. Rasanya perasaan dia tuh campur aduk banget, sedih, senang dan ingin cepat-cepat pulang buat nemenin Ara dan melihat anaknya.

“Mas juga udah jadi Suami yang baik buat aku, jadi Papa yang baik yah buat Hana juga.”

pasti, aku berusaha terus jadi Suami dan Papa yang baik buat Hana sama anak-anak kita nanti.

Ara ngangguk, lemas banget rasanya dia enggak punya tenaga lagi dan cuma bisa mandangin wajah Suaminya itu. “Sayangi aku terus yah, Mas.”

Sayang aku justru bertambah 50 kali lipat kayanya. Atau kurang yah?

Ara terkekeh pelan, hari itu rasanya dunia hanya milik Yuno dan Ara. Bahagia hanya milik mereka berdua karena lahirnya Hana.

 
Read more...

from My First And Last✔

Waktu Ara di Jerman gak terasa udah memasuki dua bulan, besok kedua orang tua Yuno juga sudah terbang ke Jerman untuk menjenguk keadaan Yuno sekaligus menjemput Ara, jadi libur Yuno hari ini ingin Yuno dan Ara manfaatkan untuk jalan-jalan ke luar rumah, mereka sih niatnya enggak kepengen keluar jauh, selain udaranya cukup panas, besok pagi juga Yuno sudah harus kembali koas, Ara gak mau Suaminya itu kecapekan.

Pagi ini Ara udah sibuk banget di depan meja rias di kamar Yuno, sibuk memilih liptint mana yang cocok untuknya hari ini. dia cuma pakai midi dress berwarna putih dengan motif bunga sakura, di balut dengan cardigan berwarna kuning, ah enggak lupa Ara juga pakai bandana yang senada dengan cardigan miliknya.

Ara jarang banget dandan centil kaya gini, kalau kata Gita tuh. Dia lebih tertarik pakai pakaian yang simpel saja seperti jeans, hoodie, atau kaos biasa saja yang di balut dengan cardigan oversize. Tapi berhubung perutnya udah susah pakai jeans dan suasananya cocok untuk mengenakan midi dress jadilah Ara pakai midi dress.

“Sayang, udah belum?” tanya Yuno, Suaminya itu muncul dari balik pintu. tadi dia ada di ruang tengah sedang asik menonton televisi sembari makan sisa rujak yang kemarin Ara minta.

“Udah kok.” Ara senyum, dia puas banget sama hasil make up nya hari ini. Enggak menor dan enggak kelihatan kaya gak make up juga, pokoknya pas banget. Karena sering gabut di apartemen, Ara jadi banyak belajar teknik make up.

Ara berdiri dan memastikan penampilannya sudah rapih kemudian menghampiri Yuno, kalau Yuno sih cuma pakai kemeja dengan dalaman tanpa lengan, ia bahkan sengaja tidak mengancingi kemejanya dan celana pendek aja, toh mereka pergi enggak jauh hanya sepedahan kemudian memakan gelato di taman.

Begitu Ara menghampirinya Yuno senyum, agak sedikit salah tingkah karena Istrinya cantik banget ya walau hari-hari biasa Ara juga tetap cantik di mata Yuno kok.

“Kenapa kok senyum-senyum kaya gitu? ada yang aneh ya sama bajuku?” Ara mastiin penampilannya lagi, dia tuh kalau di liatin kaya gitu sama Yuno jadi mikir apa bajunya ada yang aneh atau berlebihan.

“Enggak papa, emang gak boleh senyum-senyum liatin Istri aku?” tanya Yuno.

“Ya boleh aja, aku pikir dandanan aku heboh banget padahal kita cuma mau sepedahan habis itu makan gelato.”

“Enggak kok, cantik, yuk jalan.” Yuno mengambil tangan Ara dan menggandengnya untuk keluar dari apartemen mereka.

keduanya turun dari lantai sepuluh apartemen Yuno berada, ada beberapa mahasiswa lain juga yang ikut turun di lift dan menyapa Yuno. teman-teman Yuno di apartemen ini emang kebanyakan orang asingnya lebih banyak berasal dari Asia Tenggara malahan, makanya enggak jarang Yuno suka bertegur sapa.

Kalau sama orang Jerman asli justru mereka jarang negur kalau enggak dekat-dekat banget. begitu sampai di parkiran sepeda, Ara senyum sumringah banget apalagi waktu liat sepeda yang boleh Yuno sewa itu. ada keranjang di depannya dan kursi penumpang di belakang yang tampak empuk sekali joknya.

Ah enggak lupa, Yuno membelikan Ara bunga yang sengaja ia taruh di keranjang sepedanya. Itu bunga lily yang indah dengan campuran warna kuning dan putih, Yuno sengaja membeli bunga lily meski Ara sangat menyukai bunga mawar. Menurutnya mawar lebih cocok di berikan saat mereka melakukan makan malam romantis.

“Untuk Istri aku yang paling cantik.” Yuno ngasih bucket berisi bunga lily itu ke Ara.

“Kok tumben beli lily?” Ara ambil bucket itu dan senyum, dia bukan enggak suka kok. Dia suka banget sama semua hal yang di kasih Yuno untuknya, dia cuma nanya gitu karena biasanya Yuno kasih bunga mawar ke dia.

“Ada artinya.”

“Apa?” Ara senyum, dia gak nyangka Yuno nyari tahu tentang arti bunga seperti ini.

“Bunga lily dengan warna putih dan kuning itu melambangkan kesucian, kepolosan, kegembiraan dan penuh syukur,” jelas Yuno. Dia nyari tahu banyak hal ini dari internet, meski lebih suka mengutarakan rasa sayangnya dengan perbuatan. Yuno juga ingin menunjukan rasa sayangnya melalui kata-kata.

Ara dulu itu pernah salah paham sama Yuno, dia pernah bilang sikap Yuno terkadang membuatnya bingung dan membuat Ara merasa jika Yuno tidak benar-benar mencintainya hanya karena Yuno jarang memberikan kata-kata yang manis untuknya, waktu itu Yuno cuma mikir, tanpa ia utarakan itu semua melalui kata-kata ia yakin Ara sudah tahu.

“Manis banget Suami aku, makasih yah, Mas.”

“Sama-sama sayangku.”

“Oh iya, Mas. kamu nyewa nya dimana sepedanya?, lucu warna nya pink gini.” bukanya naik Ara justru jalan mengitari sepedanya dulu, takjub banget karena sepedanya begitu manis karena berwana pink, warna kesukaan Ara banget kan.

“Aku bukan nyewa ke rental gitu sih sayang, aku nyewa punya pacarnya Josep inget gak teman sekolah bahasaku dulu?” Yuno berusaha ingatin Ara sama Josep, teman sekolah bahasanya dulu yang sekarang tinggal di Hamburg. cowok itu masuk salah satu universitas teknik yang ada di sana, sebelum pindah ke Heidelberg Yuno itu pernah sekolah bahasa di Berlin.

“Ingat, jadi ini punyanya Alice?” Ara pernah ketemu sekali sama Alice, pacarnya Josep itu emang orang Jerman asli dia enggak ketemu Josep di sekolah bahasa, melainkan Alice ini adalah tetangga Josep di apartemennya.

“Yup, dia sekarang ada di Heidelberg apartnya ada di dekat kampus aku. dia kebetulan lagi ambil S2 di kampus aku.”

“Kamu kok baru cerita?” biasanya Yuno tuh suka cerita tentang teman-temannya, waktu mereka LDR dan masih pacaran pun kaya gitu.

Makanya walau Ara enggak tahu banyak teman Yuno di Jerman secara langsung tapi dia tahu nama-namanya, ya Yuno juga gitu sih. tapi teman Ara di kampusnya juga kebanyakan teman dari SMA nya.

“Baru sempat sayang, yuk. nanti keburu panas.”

Mereka berdua naik sepeda mengelilingi jalanan Heidelberg yang pagi itu lumayan ramai, banyak orang-orang yang menikmati waktu musim panas dengan berjalan-jalan, di atas sepeda sembari berpegangan dengan pinggang Yuno, Ara sempat videoin jalanan sekitar, dia juga sempat videoin Yuno dengan ekspresi konyolnya itu.

Selama dua bulan di Jerman baru hari ini Ara dan Yuno keluar rumah berdua kaya gini, biasanya tuh lebih banyak Yuno yang keluar buat koas, belanja atau nyari makanan yang lagi Istrinya itu kepengin. ya walau kadang hal itu juga yang cukup bikin kepala Yuno berdenyut nyeri, karena kadang makanan yang Ara minta itu susah banget di dapatin. Ara tuh lebih banyak ngidam makanan Indonesia terutama rujak, sementara di Heidelberg itu makanan Indonesia jarang banget kalau pun ada itu pun cuma makanan sekelas soto ayam, bakso, pecel ayam, atau nasi Padang.

Yuno memberhentikan sepeda nya di depan sebuah kedai gelato yang cukup ramai, yup, antrean yang cukup panjang itu membuktikan kalau rasa gelato di kedai itu memang enak. Ini kedua kalinya Ara makan gelato di tempat itu, sebelumnya Ara pernah mencicipinya waktu mereka pacaran tapi saat musim dingin.

“Kamu duduk di sini sebentar ya, aku aja yang antre, kamu mau rasa apa?” Yuno narik salah satu kursi di sana buat Ara duduk, dia takut Ara capek karena duduk di kursi sepeda.

“Mau rasa strawberry aja kayanya, Mas.”

Yuno mengangguk, “udah itu aja?”

“Iya itu aja.”

baru saja Ara mau mengeluarkan ponselnya untuk foto-foto keadaan sekitar tapi Yuno yang tadinya sudah mengantre itu kembali lagi ke meja mereka dan bikin Ara bingung, “kenapa, Mas? ada yang ketinggalan?

“Enggak, sayang kaki kamu pegal gak? kalau pegal nanti kita naik taksi aja, aku takut kamu enggak nyaman atau pegal naik sepeda.”

mendengar ucapan itu hati Ara menghangat, Yuno kembali ke meja mereka hanya ingin memastikan jika ia baik-baik saja. Yuno benar-benar sayang dan seperduli itu dengan Istrinya, memang semenjak menikah Yuno selalu memprioritaskan Ara di banding dirinya sendiri. hal itu juga yang memberatkan Yuno ketika sadar dia enggak bisa selalu di samping Istrinya itu karena harus menyelesaikan study nya.

Ara terkekeh, lucu karena muka Yuno yang tampak khawatir tapi juga terdengar manis di telinganya, “enggak, Mas. aku gapapa kok, malahan sepedanya tuh nyaman banget jok nya juga empuk, aku tuh lagi nikmatin banget tau udaranya walau angin nya lumayan kencang.”

“Bener?” tanya Yuno memastikan lagi.

“Yup.”

Yuno mengangguk, “Yaudah kalau gitu aku antre lagi yah.” sebelum pergi mengantre, Yuno mengusap pucuk kepala Ara dengan gemas.

Ara yang nunggu Yuno antre gelato buat mereka berdua akhirnya cuma mainin ponselnya aja, dia juga sempat foto Suaminya itu dari jauh dan bikin story di akun sosial media miliknya.

Setelah mendapatkan dua gelato mereka berdua jalan pelan-pelan ke taman yang tidak jauh dari kedai gelato nya. dulu waktu Ara pertama kali ke Jerman dia gak di ajak Yuno ke taman Neckarwiese karena saat itu memang sedang musim dingin, jadi mereka cuma jalan-jalan ke sekitaran kastil dan sungi Neckar saja.

Di taman itu cukup ramai, banyak anak-anak sampai orang lansia yang menikmati indahnya cuaca hari itu, Ara baru tahu kalau disekitaran taman ada orang yang berjualan juga. mulai jualan roti, ice cream, pizza, hotdog sampai buah-buahan. tamannya indah dengan aliran sungai yang cukup tenang dan burung-burung yang berterbangan.

Ara dan Yuno memilih untuk duduk di hamparan rumput dengan alas seadanya yang Yuno bawa di keranjang sepeda mereka. Sembari memakan gelato, Yuno yang merasa gerah itu membuka kemeja yang ia pakai dan menyampirkannya di bahu nya saja.

“Mas, pakai bajunya ih.” Ara ambil kemeja milik Yuno itu dan memberikannya ke Suaminya itu untuk di pakai.

“Gerah sayang, nanti kalau udah pulang aku pakai lagi.”

“Ish kamu mah.” Ara cemberut. Sebel banget kalau Yuno udah pamer-pamer badan kaya gini.

“Sayang banget yah aku waktu ke sini malah pas winter, jadi enggak bisa main-main ke taman deh,” gumam Ara sembari makan gelato nya, main di taman dengan suasana seperti ini tuh bikin Ara ngerasa dia lagi ada di negeri dongeng deh. soalnya memang benar-benar terlihat fairytale banget.

“Tapi kan sekarang udah aku ajak sayang, bonus bertiga sama Hana pula.” Yuno terkekeh.

“Kalau nanti Hana udah lahir kita ke sini lagi yuk, Mas?” Ara menoleh ke arah Yuno bayangin mereka bisa piknik seperti ini lagi sama anak mereka kelak tuh bikin hati Ara menghangat banget rasanya.

“Pasti, nanti aku ajak kamu ke sini lagi ya. Nanti kita piknik yang lebih niat lagi, bawa makanan sama main layangan juga kayanya asik deh.” mereka tuh emang enggak niat buat piknik, cuma mau jalan-jalan keliling aja makan gelato dan makan siang di luar.

Ara mengangguk, mereka sempat mengambil foto berdua dan bergantian. sembari memotret Ara, Yuno diam-diam jadi kepikiran soal dirinya yang masih merintis karir dan menyelesaikan study nya, kadang ada dimana Yuno malu sama Ara karena Istrinya itu sudah punya penghasilan sendiri.

Ada lebih mandiri darinya, bahkan Ara sudah punya penghasilan sendiri sejak kuliah. Penghasilan yang dia dapat dari endorse dan menjadi model brand make up, selain itu Ara juga pandai mengelola keuangannya. Bahkan Ara daftar S2 kuliahnya itu pakai biayanya sendiri.

“Sayang?” panggil Yuno yang membuat Ara menoleh ke arahnya, tadi dia sedang melihat-lihat hasil foto mereka.

“Kenapa, Mas?”

“Kamu pernah malu gak karena aku belum punya penghasilan sendiri?” Yuno mengecilkan suaranya, andai dia di beri kesempatan untuk mengambil pekerjaan paruh waktu mungkin Yuno enggak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Kok Mas nanya kaya gitu?” Ara cuma heran aja kenapa tiba-tiba Yuno nanya kaya gitu, ya Ara tahu kok Yuno belum punya penghasilan sendiri. dan Yuno menafkahinya juga dari orang tua nya, dari uang saku yang Yuno terima dan di bagi dua untuknya juga.

“Gapapa, aku kadang suka malu aja sama kamu. kamu Istri aku, udah punya penghasilan sendiri lebih besar dari aku pula. Aku kayanya lagi malu aja karna nafkahin kamu dari uang saku yang Papa dan Mama kasih ke aku. Aku bukan anak yang mandiri.” Yuno nunduk dan terkekeh menertawakan dirinya, Yuno ngerasa pecundang banget.

Ara senyum, dia naruh mangkuk gelato miliknya dan meluk Yuno dari samping, Suaminya itu sedang tidak merasa percaya diri sekarang. “Aku enggak pernah malu kok, aku paham kamu masih ngelanjutin study kamu, aku bisa ngerti itu. aku justru bangga sama kamu.”

“Bangga?”

Ara mengangguk, “iya bangga, soalnya kamu udah ngorbanin cita-cita kamu demi jadi dokter kaya yang orang tua kamu mau, kamu udah kuat banget bertahan sampai sekarang ini, yang aku tau pasti itu semua gak mudah, kamu sendirian di negeri orang, belajar keras banget sampai bisa kaya sekarang ini.”

“Mas, semua yang Papa dan Mama kasih untuk kamu itu nanti akan terbayarkan sama pengabdian kamu. Mereka naruh harapan besar di pundak kamu supaya kamu bisa mengelola rumah sakit kelak, aku mungkin kalau jadi kamu enggak sanggup deh.”

Ara gak pernah merasa malu sama sekali sama Suaminya itu, Ara tahu hidup sebagai Yuno itu enggak mudah, baginya rezeki itu bisa di cari sama-sama dan Ara pun sama sekali enggak merasa keberatan harus nemenin Yuno sampai jadi dokter. Dia mau jadi wanita yang ada di balik kesuksesan Suaminya.

Mendengar hal itu bikin perasaan gak percaya diri Yuno itu hilang, perasaanya lega dan enggak ada hentinya dia bersyukur karena bisa memiliki Ara yang nerima dia apa adanya. Ara udah banyak ngalah dan sabar buat hubungan mereka, kadang Yuno mikir, kalau bukan bersama Ara pasti perempuan lain pun enggak akan bertahan di situasi seperti ini.

“Makasih yah, sayang. Tuhan tuh beneran baik banget udah kasih kamu di hidup aku.” Yuno meluk Ara gemas dan cium kening Istrinya itu.

“Gombal yah kamu?”

“Enak aja, aku tuh serius tau!” karena gemas akhirnya Yuno maju buat nyium bibir Istrinya itu, namun Ara memilih menghindar karena dia malu banget ada beberapa lansia yang melihat ke arah mereka walau sambil tersenyum. Lagi pula banyak anak kecil juga, walau ada beberapa pasangan juga di sana.

“Mas, ih malu tau!!” pekik Ara.

“Biarin, orang kamu Istri aku juga.”

“Tapi kan mereka enggak tahu. Kalau kita di sangka pasangan mesum gimana?” Ara melirik ke sekitar dengan semburat merah di pipinya.

“She's my wife!!” teriak Yuno yang bikin Ara mencubit pinggang Suaminya itu dengan gemas.

“Mas!!” rajuk Ara.

“Itu sekarang mereka udah tahu kamu Istri aku.”

 
Read more...

from My First And Last✔

Betah yah lo di sana, sampe nggak pulang-pulang. Gimana jadi baby moon gak?

Pagi ini Ara lagi masak sambil di temenin Gita lewat panggilan video, tadi nya dia masak sambil nonton drama Korea tapi enggak lama kemudian Gita telfon. Dia bilang si kembar Eloise dan Elios kangen banget sama aunty nya.

“Betah lah, ada Suami gue di sini soalnya. Tapi gue tuh belum jadi baby moon tau, Git.” Ara menghela nafasnya, boro-boro baby moon. Bisa seharian berduaan sama Suaminya itu aja rasanya Ara udah sangat bersyukur.

Kak Yuno masih sibuk banget yah?” di sebrang sana Gita lagi jagain anak-anaknya yang lagi main, tadi sih si kembar full ngobrol sama Ara. Tapi sekarang dua bocah itu udah agak bosan dan lebih milih bermain, walau kadang tiba-tiba muncul di layar ponsel Gita waktu Gita lagi ngobrol sama Ara.

“Banget, kalo libur pun kadang dia udah tepar atau di pakai buat belajar. Yah paling cuma manja-manjaan doang, udah. Tapi gapapa lah asalkan dia di deket gue.”

Karena biasa jauh dari Yuno, Yuno di rumah walau tidur pun rasanya itu udah cukup buat Ara. Makanya dia enggak ngomongin soal baby moon sama Yuno lagi, biar nanti lah gampang di Jakarta dia bisa baby moon sendirian. Emang ada yah yang begitu? Pikirnya.

kasian resiko punya Suami kaya Bang Toyib yah, Ra.

“Lo gimana sama Mas Iyal di Bandung, sehat kan?”

sehat kok, Chaka juga baru balik dari rumah gue. Semalem dia nginep di sini.” Chaka emang suka nginap di rumah Gita kadang, terutama kalau lagi galau perkara berantem sama Niken pacarnya pasti merengek nya ke Gita. Kadang Ara suka mikir, Gita sama Arial ini udah kaya punya peran orang tua selama di Bandung.

Ya gimana enggak, waktu mereka liburan ke Malang. Gita sama Arial juga yang sibuk ngurus tiket, pesan villa, nyari destinasi wisata. Belum lagi kalau anak kosan banyak request kaya Chaka, dia ngotot banget harus dapat vila yang view nya bagus dan instagramable katanya buat kepentingan feeds Instagramnya dia.

Waktu ke Korea juga gitu, walau yang pesan tiket pesawat, hotel dan destinasi wisata itu Kevin sama Chaka. Begitu sampai di Korea juga Gita yang lebih banyak peran buat jagain anak-anak kosan, belum lagi soal Chaka sama Janu yang hampir aja di culik sama perempuan asing yang ngajakin dia masuk komunitas enggak jelas gitu.

“Kenapa lagi dia?” Ara terkekeh, udah bisa menebak kok Chaka kenapa tapi bingung aja kali ini masalahnya apa.

Chaka tuh cerita kalau Aa nya Teh Niken udah ada rencana nikah, tapi yah gak dalam waktu dekat. Gak 1-2 tahun lagi gitu loh, Ra. Chaka udah ketemu kok sama Aa nya Teh Niken, waktu di tanya kenapa dia ngebet banget ngajak Teh Niken nikah yah gitu. Jawaban dia gak bisa bikin Aa nya Teh Niken yakin buat ngelepas Teh Niken nikah duluan, dia kayanya sih nyesel aja sama jawaban yang dia kasih,” jelas Gita.

“Emang dia jawab apa deh?”

Sembari mengangkat ayam yang sudah matang, Ara sesekali melirik ke arah jam yang ada di dekat kulkas. Sudah jam setengah sembilan pagi, 30 menit lagi mungkin Suaminya itu sudah pulang. Yuno itu kedapatan shift malam jadi pulangnya pagi kalau enggak terlambat sih seharusnya Yuno sudah sampai jam sembilan pas nanti.

jadi Chaka tuh awalnya kelihatan mikir gitu loh, sampe akhirnya Aa nya Teh Niken ini nyeletuk apa karna temen-temannya Chaka udah nikah makanya dia kepengen nikah juga, terus lo tau gak? Si Chaka loyo itu bilang, karena itu juga.

“Hah? Serius lo, Git?”

iya serius, dia sih ngomong ke gue keceplosan yah. Tapi gatau juga deh, karena itu Teh Niken jadi kesel sama Chaka terus mereka berantem deh.

Ara geleng-geleng aja, Chaka emang paling muda di antara mereka enggak jarang kadang mereka semua kaya manjain Chaka, ngemong cowok itu supaya lebih dewasa lagi. Padahal Chaka itu punya adek cewek, tapi menurut Ara justru lebih dewasaan Cherry adiknya Chaka ketimbang Chaka sendiri.

Enggak lama kemudian bunyi bip kecil dari pintu apartemen Yuno itu terdengar, ternyata itu Yuno, Suaminya Yuno pulang lebih awal ternyata.

“Hm, Git. Mas Yuno udah pulang. Gue lanjutin masak dulu yah, nanti gue telfon lagi.”

oke deh, bye, Ra..

Setelah sambungan telfon itu mati, Ara ngecilin api kompor nya. Dia lagi masak soto ayam buat sarapan mereka, Ara juga sudah buat teh manis hangat buat Yuno kok, karena tiap pulang dari rumah sakit pasti Yuno selalu minum teh manis hangat.

Kalau biasanya Yuno pulang dengan senyum dan langsung memeluknya, kali ini Suaminya itu tampak lesu dengan raut muka yang kalut. Enggak ada sapaan untuk Ara, Yuno langsung melempar tasnya ke sofa kemudian duduk di sana.

“Mas udah pulang?” sapa Ara, dia ambil teh manis hangat punya Yuno dan naruh cangkir itu di atas meja. Ara juga duduk di samping Yuno karena suaminya itu tampak enggak baik-baik aja.

“Mas?” panggil Ara.

Tidak ada sahutan dari bibir Yuno, namun bahu lebarnya itu bergetar dan terdengar isakan keluar dari bibir nya. Hal itu juga yang membuat Ara bingung, tapi dari reaksi yang di tunjukan Yuno ia bisa tahu kalau Suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.

Tapi Yuno kenapa? Atau dia buat kesalahan di rumah sakit? Apa dia di marahi seniornya? Atau Yuno lelah karena pasien yang terlalu banyak? Atau Yuno gagal dalam presentase koas nya? Setahu Ara minggu depan Yuno sudah melanjutkan ke stase berikutnya.

“Sayang, kenapa?” Ara naruh kepala Yuno di bahunya, meluk Suaminya itu dan mengusap punggungnya supaya Yuno jauh lebih tenang.

“Ak..aku gak..bisa—” Yuno enggak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia terisak sampai-sampai meluk Ara kenceng banget.

“Sssttt...”

Ara biarin Yuno numpuhin seluruh berat badannya, dia enggak nanya Yuno kenapa lagi. Dia malah biarin Yuno lampiasin semua kesedihannya di pundak Ara, ya walau itu bikin bajunya agak basah karena air mata Suaminya itu.

Dulu Yuno pernah nangis kok, Ara pernah lihat. Itu pun waktu mereka putus, tapi tangis Yuno kali ini benar-benar terdengar menyakitkan sekali. Seperti ia habis di tinggal mati seseorang. Setelah di rasa cukup tenang, Yuno melonggarkan pelukannya itu. Memejamkan kedua matanya ketika Ara menghapus jejak air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Kamu kenapa?” tanya Ara sekali lagi.

“Sayang, aku gak bisa bantu selamatin pasien...” ucap Yuno lirih. Dia menggeleng pelan dan ngusap wajahnya gusar. “Ada korban kecelakaan beruntun subuh tadi, ada anak kecil yang sekarat pas udah datang. Aku sama dokter yang lain berusaha nolong dia, tapi dia meninggal waktu dalam perjalanan ke ruang operasi. Dia meninggal megang tanganku kaya gini.”

Yuno nunjukin cara pasien nya itu megang tangannya, dan itu bikin air matanya mengalir lagi. Ara bisa lihat ada kekecewaan di mata Yuno dan juga penyesalan, tapi menurutnya dokter itu bukan Tuhan. Dokter hanya bisa berusaha menyelamatkan tapi umur seseorang itu tetap Tuhan yang menentukan.

“Aku ngerasa bersalah banget sama dia, tatapan mata dia tuh, dia lihat ke aku seolah-olah dia minta tolong, sayang..”

Ara mengangguk pelan, dia ngusap-ngusap bahu Yuno lagi. Yuno memang paling enggak bisa kalau sudah menyangkut soal anak kecil dan lansia, makanya waktu itu Yuno pernah berencana untuk mengambil spesialis anak, saking suka nya dia sama anak-anak.

“Aku bukan dokter yang baik..”

Ara bukan diam aja kok, dia cuma lagi dengarin semua curahan hati Yuno dan keluh kesahnya hari ini. Karena dia tahu hari ini hari yang enggak mudah buat Yuno lalui, dan ini juga pertama kalinya Yuno melihat pasien yang ia tangani bersama senior nya yang lain tidak selamat, makanya ini jadi penyesalan pertama untuk Yuno.

Di rumah sakit pun teman-teman sesama dokter koas dan senior nya sudah menasihati Yuno kalau ini bukan salahnya, anak itu juga mengalami gagal jantung setelah kecelakaan yang menyebabkannya meninggal.

“Minum dulu yah.” setelah di rasa jauh lebih tenang, Ara nyuruh Yuno minum. Suaminya itu juga sudah bersandar pada sofa sekarang.

“Mas udah berusaha nyelamatin nyawanya, tapi kalau Tuhan berkata lain mau gimana lagi? Dokter itu bukan bukan Tuhan, Mas.”

“Aku cuma keinget gimana dia megang tangan aku sama liatin aku, sayang. Aku cuma ngebayangin gimana kalau itu anak kita.”

Ara senyum, tuh kan. Kalau sudah soal anak kecil Yuno pasti gak tegaan kaya gini. Apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang Ayah, naluri kebapakan nya semakin muncul walau itu bukan sama anaknya sendiri.

“Dia pasti masih kecil banget yah?” tanya Ara.

“Umur nya baru 5 tahun, cantik banget.”

“Kamu sama dokter yang lain udah cukup berusaha nyelamatin nyawanya, dia pasti tahu kalian berusaha keras buat itu.”

Yuno diam aja, dia genggam tangan Ara karena itu bikin dia nyaman. Walau masih sedikit terbayang sama wajah anak itu, tapi perasaan Yuno sudah cukup membaik.

“Makasih yah, sayang. Maaf pulang-pulang bikin kamu bingung.” Yuno ngusap punggung tangan Ara yang ada di genggamannya.

“Gapapa dong, Mas. Mandi yah, habis itu sarapan terus istirahat.”

“Aku udah mandi di rumah sakit.”

“Ganti baju kalau gitu.”

“Sayang?”

“Hm?”

“Mau peluk lagi,” ucap Yuno yang bikin Ara terkekeh. Manja Suaminya itu kumat ternyata setelah menangis.

Akhirnya Ara memeluk Yuno dengan gemas, menciumi telinga Suaminya itu sampai Yuno terkekeh karena geli. “Hana, kamu bisa rasain gak Papa nya manja banget nih.”

“Aku mau puas-puasin manja sama kamu sebelum kamu pulang pokoknya!” rajuknya.

“Aku juga mau di manjain ih..” Ara malah balik ngerengek.

“Mau ciuman yang banyak juga gak buat stok sampai aku pulang?”

“MAUUU!!” pekik Ara semangat.

 
Read more...

from small medic mini-blog

Whinges to follow.

I had no department induction because “I'm not new to the department”

tasked to do pre-op assessments, told I could do some e-learning, having had zero feedback I hope the day anaesthetists enjoyed my shitty assessments with loads of detail (apart from where teeth are, what's up with that)

wanting to be involved with cases, but not even knowing there were cases overnight until I stumbled across them... please. I will cannulate and art line whoever. Anyone.

and emergency medicine, ie my parent specialty, constantly being slated

I get it, my regs have to scope me out, as do I, but I was expecting more. to find things difficult because there were lots of new skills to learn and the intensity of the work, not the constant defense of my specialty and my place on the team and asking permission to do simple things

(my supervisor and I talked about belonging, early on this year. ED recognises (kinda) me as one of its own – that I'll be coming back to them eventually. the tendency on ICU and theatres is: anaesthetics trainees are a known quantity – the favourite children – and most of the seniors know exactly what they need from training. most of the seniors don't know what signoffs ED trainees need, don't think much of EM as a specialty anyway, and keep saying “you're not going to use it anyway”, as if that precluded actually training a trainee)

#anaesthetics

 
Read more...

from small medic mini-blog

There's something rather satisfying about being one of the many sets of hands to stabilise someone really unwell on ICU.

“Did you save any lives this week?” my parents often ask. Well, not directly. It's unlikely any one thing I do directly saves someone's life definitively. The seniors might, by spotting a pattern in a critically unwell patient and acting promptly. The nurses might, by actually giving the treatments and – well, good nursing care goes a long, long way.

Did I save any lives this week? Not directly. Not dramatically. But I did put in the lines to allow for lifesaving renal replacement and vasopressors, I guess. I did keep things safe as much as I could (prescribing, handovers, making sure there were good senior plans for important things). And if that sounds like working on a regular medical ward, then yes, it is! The stakes tend to be a little higher (if you don't fix the problem, that's it – you can't escalate to anyone else. (Transfers don't count)

It's changeover week, and I leave having learned so much, done quite a lot, and received overwhelming kindness from unexpected corners.

#ICU #reflections

 
Read more...

from Drado, the Hobbit

Me fazendo de advogado do diabo aqui nessa rede, mas vamos lá... Isso não é necessariamente uma resposta ao conteúdo que eu li nesse post aqui: https://alineonline.bearblog.dev/eu-queria-uma-nova-rede-soci-ah-nao/, mas vamos tentar nos basear nele para tirarmos algumas conclusões.

Primeiramente: qual o objetivo de uma rede social? De verdade, destrinchando o termo, é encontrar pessoas através de uma rede, ou seja, se conectar com elas, se conectar com os seus interesses e com as coisas que estas mesmas pessoas gostam. Isso é o intuito de uma rede social, em essência.

Convenhamos que, o fediverso em geral, é uma plataforma muito útil, cheia de propósitos lindos, mas falha na questão da usabilidade e, justamente, na questão de conectar pessoas. Tomemos a instância do mastodon.social como exemplo. Nela, podemos encontrar muitas pessoas, de muitos lugares e montar, minimamente, uma rede de contatos. É divertido conhecer outras culturas e tentar se aventurar num inglês ou coreano. Uma das coisas que as redes não federadas não nos estimula, dado seus algoritmos super restritivos. Mas e as pessoas conhecidas? E a sua tia, seu primo, seu colega da escola, da faculdade, um artista famoso? Não se acha nem um pseudônimo tamanho o desconhecimento das pessoas com relação a ela (a rede).

Isso porque estou falando de uma plataforma “conhecida”, com vários contatos entre outras instâncias, mas e aquelas mais nichadas? Com propósitos e ferramentas tão próprias entre elas, que nem deixam as pessoas entrarem, nem dão a possibilidade das pessoas conhecerem outras. É um inferno! Não me lembro quantas vezes já desfiz algumas contas justamente porque ficou tão enjoativo, só um mesmo tema, com as mesmas pessoas... Enfim, não quero me alongar mais nessa parte.

Essa complexidade entre os temas, entre as redes, afasta e deixa mais difícil ainda a adaptação dos novos usuários à ferramenta. Imagine você ter que explicar para sua mãe, uma senhora, que terá de fazer uma conta numa rede “a”, mas o artista que ela gosta está na rede “b” e que, agora, para ela se conectar com ele, terá de fazer uma migração, exportando os dados de uma rede para outra. No mínimo, ela vai perguntar: “Mas não é tudo Mastodon?”. E você terá de responder: “Não, mas são instâncias diferentes...”. Até lá, ela já voltou para o X.

Entendem como é complicado? Ainda mais para o grande público que não tem afinidade com tecnologia. Não importa você falar que “é igual ao e-mail, com várias contas diferentes”. No primeiro momento que a pessoa não conseguir achar alguém, seja porque não está na mesma rede que ela ou porque os nomes de usuário parecem grandes demais, elas irão partir. A natureza tende ao menor ponto de energia.

Aí está o sucesso das grandes corporações. Das nazistas às fascistas. Elas tem o poder da grande massa. E, aliás, todo o poder para chamar mais pessoas. Mas e a privacidade? Mas e a venda de dados? Amigos, se considere sortudo se encontrar alguém que saiba, minimamente, o que é um dado. E a importância dele.

 
Leia mais...

from Drado, the Hobbit

As postagens abaixo, do dia 23 de janeiro de 2025, são referentes ao blog que tenho no Tumblr e pretendo descontinuar. As datas não são precisas, mas são postagens dentre os anos de 2023 e 2024. Nada mais a compartilhar sobre elas. Estarei postando só aqui, agora.

 
Leia mais...

from Drado, the Hobbit

Hoje, teremos apenas sentimentos sobre o que eu vejo por aqui. Hoje, serei direto e falarei para aqueles que amam, que sofrem por amor, que amam amar...

Gente, uma mensagem: amar é difícil. Amar é complicado e exige tempo, exige respeito, exige um monte de coisa além do simples sentimento de amar. Amar, por amar, é fácil. Amar, por completo, e dificílimo.

Suas palavras são válidas. Seus amores doem e isso é algo que vocês devem saber. Antes de ir no profundo lago do amor, saibam que vocês precisaram de oxigênio.

 
Leia mais...

from Drado, the Hobbit

Não sei o que está acontecendo. Acho que nunca vou saber, na realidade. O ano de 2024 está sendo um ano cheio de realizações e, como o título desse post sugere, mudanças.

De todas as coisas que eu achava que poderia acontecer, ser pai não estava no meu escopo. Não que eu estivesse fazendo alguma coisa para me proteger, longe disso, mas acho que é daquele tipo de notícia que ninguém nunca está muito pronto para receber. Óbvio que, sem sombra de dúvidas, essa é a notícia mais feliz da minha vida, tanto por conta da nossa rotina/desafio quando pelo milagre por conta da minha cirurgia, mas mesmo assim me sinto ansioso com essa nova colocação.

Pai. Nunca me vi assim. Para ser bem sincero, nunca nem me vi com tantas responsabilidades quanto essa, mas agora, literalmente do dia para noite, tenho que arcar com todos os pesos de ser pai. De ser referência para uma outra pessoa, assim como o meu próprio pai é pra mim. Não é algo que, pelo menos para mim, se planeja. Um ser tão complexo e desenvolvido, com as suas próprias inseguranças, ansiedades, medos, sonhos, feitos... tudo isso se apoiando na minha figura. Eu estou longe de ser perfeito, eu não deveria ser esse tipo de exemplo.

De qualquer forma, creio que essa última parte tenha sido mais a minha ansiedade falando. Não sou o tipo de pessoa que se olha e se pensa “nossa, que ser humano horrível”, mas mesmo assim acho que ainda tenho que trabalhar essa minha parte.

Meu casamento é agora dia 26. Tudo mudou. Antes o foco ainda fosse os gastos com o casamento. Enfim, acho que a partir daqui eu vou falar merda e não estou nem um pouco afim de ter que me explicar depois.

Só quero que saibam que eu estou muito feliz com essa notícia, só estou com um pouco de medo e ansiedade por não me sentir suficiente o bastante para outra pessoa.

 
Leia mais...

from Drado, the Hobbit

Eu não sei, mas vocês também já perceberam que a internet, atualmente, tem se tornado um terreno que mata a criatividade? Faz um tempo que eu não vejo mais, pelo menos no mainstream, alguma parte da internet que nos permita ser o que queremos ser. No caso, ao menos personalizar a página inicial das nossas redes sociais.

Eu lembro quando existia o MySpace, o Twitter e até o Orkut onde eram comuns os perfis cheios de efeitos, cores e imagens da pessoa, coisas que mais do que as postagens, identificasse o usuário em meio a tanta gente.

Hoje em dia (e eu posso estar sendo preciosista aqui) perdemos isso, em prol do quê? Eu não sei, mas não acho que demorará muito até vermos redes sociais que nem a foto de perfil personalizar mais. Estranho...

 
Leia mais...

from Liza Hadiz

He hit me and it felt like a kiss He hit me and I knew he loved me If he didn't care for me I could have never made him mad But he hit me and I was glad

A verse from a sickening love song? Confusing love with violence? Misogynist? Antifeminist? This song, “He Hit Me (And It Felt Like a Kiss)” was written by Carole King and (then husband) Gerry Goffin, and released in 1962. It was sung by the chart topper female singers of the era, the Crystals, and produced by Phil Spector—considered by some as one of the geniuses of the music industry. Was the song’s theme a reflection of its times, when there was less understanding about domestic violence? Not really. In fact, after the song was released and had gotten airplay, protests soon emerged causing the song to lose radio promotion. King herself later even declared her regret over her involvement in the song.

The idea of the song came from a conversation with the couple's babysitter, Little Eva, who became a singer and had a big, albeit brief, success with the song “The Loco-Motion” (which King and Goffin wrote for her the same year). King and Goffin realized that Little Eva (her real name, Eva Boyd) was being beaten by her boyfriend regularly. However, Eva believed that his violent actions toward her were an expression, and even proof, of his love for her, using the controversial phrase as she explained to King and Goffin; hence, the title and lyrics of the song.

As controversial as the phrase in the song is, other artists have covered the song. Notably, Hole has covered the song and performed it on MTV Unplugged in 1995, where lead singer, Courtney Love introduced the song as “a really sick song” (but Hole chose to cover it, I assume they have a deeper perspective about the song). At the end of the song, she sarcastically commented, “Nice feminist anthem.”

Still, I beg the question, is “He Hit Me” really a sick song?

Lana Del Rey used the line “He hit me and it felt like a kiss” in her 2014 song “Ultraviolence” (as a reference to the song, as she typically references lines from other songs). This has brought some vicious criticism, accusing her of glamorizing domestic violence and setting women back hundreds of years. In response, Del Rey stated, “I’ve been honest about the challenging relationships I’ve had. That’s just how it is for many women.” She also argued, “There has to be a place in feminism for women who look and act like me … the kind of women who get their own stories and voices taken away from them by stronger women or by men who hate women.”

However, Del Rey had said in an interview that she now omits the line during performances of ‘Ultraviolence’ for the reason that it could be triggering for survivors of abuse in the audience.

Still, I beg the question, is “He Hit Me” really a sick song? Was King and Goffin so distasteful in writing such a song? Is it Antifeminist? Was Del Rey using the controversial phrase to create a distorted image of violence against women?

Well, if we think about it, King and Goffin, just as Del Rey, were telling a story through their song by reflecting on a situation or experience, and revealed a snapshot of reality through their lyrics. Certainly, that’s what artists and writers do through their work. It does not always mean it is an endorsement, on the contrary, it can be a critique of society, as we know many artists and writers do this.

There should be a space for survivors to voice themselves, not a platform for others to dictate the narrative.

In reality, many women and survivors of gender-based violence have confusing emotions about what they are experiencing or have experienced because of the society that we are raised in, where women are treated like property; where ownership of the female in heterosexual relationships is romanticized as love.

I think the last verse of the song illustrates my point.

Yes, he hit me and it felt like a kiss He hit me and I knew I loved him And then he took me in his arms With all the tenderness there is And when he kissed me, he made me his

There should be a space for survivors to voice themselves, not a platform for others to dictate the narrative. We praise Gisèle Pelicot for owning the narrative and deconstructing the shame of rape. Nevertheless, empowerment is a complicated process. We cannot turn a blind eye on or shame and blame survivors for how they feel.

(Looks like this is my last post for 2024 on this blog, Happy New Year!)

-Some Thoughts from the Cappuccino Girl- (2024)

#music #gender

You might be interested to read: FEMICIDE: Crimes of Passion, Honor, and War

Image: Lana Del Rey by Nicole Nodland (theguardian.com, 2012)
(updated 2 January 2025)
Sources:
Taysom, Joe (2022) 'The controversial lyric Lana Del Rey now refuses to sing.' Far Out Magazine. https://faroutmagazine.co.uk/controversial-lyric-lana-del-rey-refuses-to-sing/ [Accessed 2 June 2024].
Wikipedia (2024) He Hit Me (And It Felt Like a Kiss) https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=He_Hit_Me_(And_It_Felt_Like_a_Kiss) [Accessed 31 December 2024].
Wikipedia (2024) Little Eva. https://en.wikipedia.org/wiki/Little_Eva [Accessed 31 December 2024].
 
Read more...

from ARBITER

You look out the window.

It started with a crack. It is beautiful in its simplicity and overwhelming stupidity, its mounting insignificance and statistical improbability serving as a testament to its results. There are many others like it, though its inhabitants do not know this, and never will. But from your perspective, it stands apart from the rest.

You have seen many worlds of many origins, scattered in their space, time, and density. The overwhelming majority of them end up as inert rocks, ones of no particular use. Some manage to sustain the curse of life, and even fewer develop anything resembling consciousness or intelligence. Even then, intelligence alone is not particularly remarkable. Perception is not exciting to you. Even to communicate is not exceptional, though the resultant obfuscation begins to make Concepts a bit chewier. It causes Understandings to be lost and improperly relayed.

But this world is unique in a way you have not yet detected. Even now, its dangerous gravity begins to draw you in, changing you. Among all worlds, there is something about your own that nobody has been able to replicate, a gift you had assumed was for you and for you alone.

You call it lying.

It is a form of intentional obfuscation, one that diverges from reality deliberately in order to serve some other end. For you, it is generally avoided in order to sidestep as much ambiguity as possible. But this civilization is creating lies for the purposes of entertainment, ones that are not meant to mislead, but to suspend disbelief. You call these lies stories, and they are some of the most dense Concepts you have ever seen. Their genesis is that of an endless wealth of Culture.

Most worlds never progress beyond telling their own histories, living endlessly in a feedback loop of lost Understanding. Some worlds manage to transcribe those histories, thereby lessening this loss. This world, however, is creating genesis points with alarming regularity. They have told many stories, and some are more prevalent than others, varying in their density.

You ponder on this fact for some time, noting the way the landscape looks. When you gaze upon the blueness out of the window, you notice there is green and brown, covered in specks of bright light. They clump together to make lands where the stories' genesis points lie. But some of these stories do not have greens or browns! Some have entirely separate things from these masses, forming speculation so great that you would call it hearsay.

You concentrate too hard. Your perspective shifts. The walls are closing in on you. Your thoughts flow around every remaining bit of you. They are coming to dissolve you whole, replacing you briefly with another.


You are an old god; a foreign concept, but one of great power. You see differently from the new gods. The new gods withhold understandings in fear from their creation: the mortals, ones that can decay. You wish for these Understandings to be known, spread without consequence. You steal them, and create Culture for the masses; a set of Understandings so basic they could be shared. But the new gods are unhappy. You are bound to eternal torment, an endless cycle of subsumption and decay.


You live with another being. It is smaller, hairier, and brown. You desperately wished to leave where you are, to create a new world of your own. A calamity whisks you away to a world of fantasy and magic. You yearn to go home. You meet with a wish granter. You return to who and where you were.


You are touched by a creature from beyond. It shifts your perspective, your mind, your flesh. You cannot understand it, and it cannot understand you. You see it everywhere, in patterns, in antipatterns. You are driven mad.


You are touched by a force you do not understand. It does not speak your language, and there is no recontextualization. You are able to decipher it, gradually. You will begin to see your offspring, their life, their world. You remember when they will be older.


You are trapped in your place of residence. You play a game. The game is concerned with stories. The game is not concerned with you. The game ends your world. You become a story, an heir to a fate that has been determined for you. You are no longer what you were.


You SNAP! back to the ship's interior, orienting yourself. Another being is there, next to you, her form and speech seeming to comfort you, though you are far too removed from this reality to be able to understand her. The walls expand back around you, and you remember that this is where you belong. It's simply that you've never encountered this density, this richness. It could last you, and all others, many, many ticks to come.

...Much of it has the consistency of a thick paste. Some parts are much more tantalizing than others, and others are barely even visible to you. They are mere fragments of Concepts, nothing that could ever see the Ocean's grace. You cannot even imagine what impact these discoveries might have. Entire communities could be built and sustained on this, bringing life that you cannot even fathom. At no cost!

These thoughts of revolution bring you back, and you hear a voice from a distance. “...are you doing okay???”, it says.

There is a pause. “i know this isnt the best moment but youre going to have to get up at some point”, it says, causing you to turn away from the window. The entity in front of you does not cohere. It lets out a tenebrous grinding noise, as you see its history much like you saw the history of what was before you: fuzzy orange, slimy black, effervescent green...

It feels like static. It is changing too quickly. You cannot make sense of it. A maw emerges from the rapidly oscillating form, and speaks thus: “buddy you look like youre coated in shit how hard am i gonna have to YELL





Supplicated to the fawn Fold back my pajama sleeves Take a look at what I have done You can protect nothing – Gray Death, by Xiu Xiu

He's dreaming about places he's never been again. Marka wakes up from his terrible, deeply pretentious nightmare, and he has no idea what it could mean. It's the kind of thing that shakes someone to their core, though it's far easier to just look at him for evidence of that. His place of respite is completely singed, like someone actively tried to commit arson in here but gave up halfway through because it wasn't worth it. Don't you hate it when your partner ends up damaging the fabric of reality, and it's on you to hold her accountable? It's one of the great dilemmas, and absolutely everyone has been in that position at least once. If you haven't, have you ever truly loved? Love is an act of violence, after all. To entertain otherwise would be a farce. But the wanting for reconciliation only comes in waves. Marka is far, far more concerned with the gravity of the situation he has faced. Though at present, he's mostly concerned with the weird gray thing directly in front of him. The one that just slapped him. “sorry for hitting you in the... whatever that is, but youve been out for ages and at this point its overtly concerning for whatever sorry saps actually bother to talk to you”, Elsie says, hovering over his sight. The down-force from their wings is putting out the residual scorching caused by his intense emotions. “...What do you want.”, Marka replies. “isnt it obvious? i want to see if youre going to talk about it“ “About what?“ “your meeting“ “Which meeting? I have plenty of meetings. I am very busy.“ “if i were to itemize everything youve done over the past tick then im pretty sure youd know what meeting im talking about“ “Use your words, please? I refuse to let these things stay implied.“ “with?????? the?????????? arbiter?????????????“ Marka's eyes squint. “Right. That meeting. I see. It was perfectly acceptable, and I will carry out my duties as expected of me.“ “you dont really have a face but i can read your emotions better than THAT, you know“ “...I am going to do exactly what is asked. Simple as. Do you want to be written up?“ “you know you wont do that“ “Entering the office of a superior officer without prior approval. Aiding and abetting the violation of the Ultimate Law—“ “i was off that damn link before anything happened and the plan wasnt to do anything that amry did. that much is clear and sekris nothing more than collateral. furthermore youre my friend and you havent been seen around at all, someone official would have been sent here to check that you didnt do some pirouette into insanity if it wasnt me”, Elsie says, tensing their posture. They slow the flapping of their wings before moving to stand next to Marka, their arms folded. “you dont have shit on me and if you did you couldnt prove it“ “No need to be so aggressive. I was joking.“ “well suffice it to say, given the subject matter of that meeting and the alert i just got, im not especially up for jokes right now“ “...Right. Well. I have that manual you wanted, and the necessary resources.“ “oh?”, Elsie says. He's changing the conversation topic. Whatever. They needed this anyways, it's half of why they're here. The poor PEAR ]['s probably about to power off for its last time. They're surprised it turned on at all, honestly. “This is going to sound very silly, but the requisite resource is merely copper. While organic resources are often not seen frequently, the recent influx of now-subsumed Concepts leaves some of their components available.“ “...can i have it?“ “What are friends for.

Marka's room, which is finally visible, provides some context for this interaction. The space is coated in stars, hats, wands, and robes, the traditional signifiers of a budding magician. Or more specifically a phony magician – while different foreign bodies regard different things as magic, the notions of stage magic and party tricks always seems to be a universal constant. Although foreign concepts tend not to be preserved on an individual level, Marka has a few artifacts from other spacetimes. His information wells – books, primarily – tend to be largely grandiose works of fiction provided from elsewhere, involving whatever fictional creature said culture wished to document. Fiction is, of course, relative, but many of these beings are outlandish vampires, goblins, or ghouls, whose relative frequency is low in the cultures of foreign bodies. In stark contrast are various procedurals from Culture votes past – not for his job, but for keeping track of changes. He's become slightly neurotic lately about keeping track – things keep slipping between the cracks from his perspective, and if his dreams are any indicator, something's in need of thorough analysis. The rest of the room is empty. Alarmingly, it's just books, a place of respite, and cloaks and capes that few are allowed to see. He's always been like this, attempting intense minimalism except for things that captivate him. That, combined with his intense expressiveness in his (rare) emotions, make him the poster child for Cognis's mandatory autism awareness seminars: Build an Inclusive Department, Now!, Accommodating Parenthetical Divergence, and Concept-First Language: a Primer, to name a few. But the aforementioned barren bookshelf also has two objects on it, next to some well-read books stacked cleanly. There's a container full of copper wire, and there's some printouts on dot-matrix paper in a language Marka can't even read, but Elsie should be able to. “The machine for digital recontextualization would not work on this sample, so I had this tailored to your present form.”, Marka says, picking up the things and placing them in Elsie's hands uncomfortably. “Whatever you had here, it was very dated, likely before our time. Frankly, it is impressive that the machine's language is workable for you.“ “why wouldnt digitization work?“ “When I say before our time, I mean that this manual was created before the advent of recontextualization. To put it through that procedure would necessarily lose some important information, and to explain exactly why would be a breach of my security protocols. I could lose everything.“ “... you werent kidding huh“ “Believe me when I say that I would not be able to get this to you had I done the work after my meeting.“ “im surprised that youre willing to give me restricted anything“ “...Yeah, well.“ “...here, lets go on a walk. you need to clean up anyways”, Elsie says. “Yeah, well” isn't exactly the type of thing that Marka says, and at this point... well, despite their predilections about recent events, they still care about the guy. They figure he should probably get out of this desolate living space.

The two of them meander through the halls of Cognis. The diversity of forms around them is difficult to describe. Marka notes one that looks somewhat like Amry's new form, but... blue, and pointier. He looks up, and one walks on the ceiling, suction cups adhering to it, and he wonders why someone would bother to do that. The suction cups aren't even... part of the form. It's just a quadruped form with suction cups. More importantly, they're looking straight at him. The diversity of forms here makes it very, very difficult to truly stand out. If everyone's weird looking, nobody's weird looking. Unfortunately, though, Marka's special now. He's gained an uncomfortable amount of notoriety, solely because he requested an audience with the Arbiter and received one. Idle workplace chatter now centers around Marka and what he's up to. There's a specific way that they tend to look or talk about him. As he goes about his business, idle gazes tend to snap to him as if by routine. A bewildered look often manifests, one that seemingly indicates something worth noting about his form or manner. But once Marka's gaze meets theirs, they seem to flinch, as if scanning the room to orient oneself or doing anything other than what they're doing in this moment. Nobody ever wants to admit to their usage of spectacle. Neither does the suction cup weirdo, either, their gaze moving to focus on their grip on the ceiling. Marka wishes, briefly, that someone would just tell him exactly how they felt about him. No codes, no keys, just a plain talk. Relatedly, he thinks back to his meeting with the Arbiter, and all he recalls is noise carved from silence. The memory barely even serves as anything more than a placard for “something happened here”, like a pointer to an unaddressed part of his memory. He does, however, manage to recall the message I forgot to include that was sent out following that meeting, though:


dearest faithful,

i am well aware of the shock of hearing my cognition broadcasted directly, but let it be thus: a grave misdeed has occurred, and it will come as an unfortunate surprise to many. alas, her emptiness has committed a tragic action, one not in accordance with the collective whims we uphold. her understandings have become MALIGNED with the ultimate law. she has subsumed an overload-class entity, and thereby touched the fruit of life. but worry not, faithful, for she will face imminent JUSTICE, regardless of said subsumption. it is not my wish for this to occur, but ostensibly, it is hers by her own actions... and what am i if not an upholder of the codes :)

yours, ARBITER


...and it shakes him to his core as he almost floats straight into a wall. Elsie, holding in a facepalm, speaks up. “you doing okay bud“ “Where are we going, anyway?”, Marka says. “well, away from here. the intention was to meander but the larvae get out of training soon and so its probably not best to stay here“ Marka looks around him, orienting himself in the space. There is grey, and green, and brown, and yellow. Portraits of various larvae litter the walls, as if some kind of hall of fame, or recognition for some grand achievement in one's training. He, of course, made the bill long ago, but he can't remember what the actual achievement he earned is called. Whatever. He remembers the halls around him, and the time he spent here, and... no, don't think about that. Walking. Getting your mind off it. That's what you're doing. “...im just gonna start moving if you feel like becoming vaguely catatonic”, Elsie says. “Right. Following.“ The two leave the area, doors closing around them, and go up a nearby set of stairs to a clear bridge overlooking a large crossing. The design is minimal, and it is possible to observe those walking under you. On the other side of the overpass is a locked door. Elsie leans over the railing slightly, resting their arms on the shiny, grey frame. They stare down at the forms crossing below, a veritable rainbow of miscellaneous Concepts making their way to their destinations. They see all varieties and numbers of limbs, faces and their lack thereof, distributed consciousnesses, and some abstract notions reified into shapes. “I thought we were walking. There is nowhere to go but down from here.”, Marka says, not noticing the aptitude of his own words. He looks down. He keeps getting looked at, though nobody can hear him. It makes him uncomfortable. “i just go here to think sometimes. theres parts of cognis that nobody can access behind that door im pretty sure”, Elsie says. “it makes me think about those who came before us“ “Why would you want to think about that?“ “what were they even like? were they anything like us?“ “...If you are having a crisis of servitude, I can refer you to-“ “no, gdmmt!!! urgh why are you so endlessly like this“ Marka skulks up. “I am in no position to talk, I suppose. For once, I am the one who needs help.“ “ive been helping you through this stuff forever, or did you forget. its not even the first time weve been up here“ “Well, I appreciate that, even though I may not recollect it in the moment.“ “...right.“ “...So how are things for you?“ “im well“ “Good, good. Good to hear.“ “im glad to see youre well as well, at least relatively speaking“ “Yes.“ “its so many wells that the word well no longer seems to carry any meaning“ “That's called semantic satiation.“ “yeah”, Elsie says, sighing. Now, above all else, they're ever-present in their form. They can feel everything in their body tense up at once. It's a shame that their current form feels emotions not merely in the Concept, but the form itself as well. They can't hold it in anymore. They feel like they're about to pop, as if a firecracker whose fuse is sputtering after an attempt to put it out. The fuse flickers, and there is a crack. “did it feel good, marka”, Elsie says, in the most foreboding tone they can muster. “Did what feel good?“ “reporting your partner and letting her decay“ Marka, taken aback by the question, makes his first move. “You-“ “me! thats correct, im the one posing the question, now will you explain your rationale before i take what i need and treat you like a hostile“ “Are all of your supposed helps this confrontational?“ “are you ever going to internalize anything i say?“ “Do you expect me to simply disregard protocol? If it was that simple, I am certain that everyone would do it. I had no choice in the matter.”, Marka says, his flames seeming to simultaneously retreat and grow in fervor. “id expect that youd have some kind of chickenshit explanation like that“ “Where did this hostility suddenly manifest from?“ “i dont know, when did you begin to think that the whims were more important than anyone“ “They are.“ “well marka i guess that answers my question, doesnt it. my main problem lies in acting like you have no choice in the matter“ “What else would you have done?”, Marka says, his fear converted to anger, flames manifesting greater and greater before stifling his emotions to avoid a scene. “look over there”, Elsie says, pointing at a random form in the crowd with purple legs for arms. “how many impossibly terrible crimes do you think theyve committed, by the whims“ “...What?“ “marka i want you to look at them and give me a number“ “Do you always repeat names when you are confrontational? Besides, I am an adherent, but not an enforcer.“ “then why are you acting like one?“ “Because I am required to.“ “let me lay out the facts for you, because i want you to hear them in extensive detail, since you cant even recall our meeting here last“ “Fine. Such is.“ “so you returned from the inclinosphere, and you open up the coordinates you sent yourself. theres nothing there“ “Correct.“ “you go track down amrys concept and you see the same form there“ “Correct.“ “you pull strings in order to get a meeting with the arbiter, a thing nobody has done in ages, and using the obvious syllogism, report that your partner has consumed this overload class entity you were hoping to use for your work“ “Correct.”, Marka says, straining. “you get back from the meeting and start acting like this is avoidable and haunting, like theres just nothing that could be done, like youre some poor little meow meow hunting for your first chance to exercise agency”, Elsie says, balling their hands into fists and looking over on the railing towards Marka. “What. Is. Your. Point.“ “so why in the everloving fuck did you do that“ “Because it is the protocol that I am meant to uphold.“ “i dont know, maybe i would have said it was a dud, maybe i wouldve created a conceptual cloak of some kind, maybe i wouldve snuck something under the table. its hard to imagine someone showing up wearing orange and black stripes being normal but wed find a way. there were other ways, marka“ “You want me to commit a crime.“ “well you cant exactly tell if someones committed a crime by looking at them, now can you“ “As I already said, I should write you up. I already have cause to.“ “you wont“ “And why would I not? You are showing me that Cognis at large is likely full of those like you, their Cleverness. First her Emptiness, and now you. How many of you do I need to extinguish until we are clean of you? How long until the machine functions properly, everything in its right place?”, Marka says, singing the metal on the crosswalk slightly. “you wont because who else do you have left“ Marka pauses. If this was combat, it would be an ideal time for a counterattack. “do you always use formal titles when youre trying to justify yourself?“ No response. “amry wont talk to you. sekri is mad at you. im mad at you. what other friends do you have? and dont give me that “i know plenty others” bullshit, i know you dont, youve cried at us about it. why else do you think i keep helping you“ No response. Marka turns and stares blankly at the forms below. He looks at their colors again, a strategy to avoid detaching completely. “you wont report me because you cant, marka. i saw you whinging in agony when i walked into your quarters, i had to coax you out of respite. youre desperately trying to grasp onto reasons why you did what you did“ No response. His flames do not flicker, not even a bit. “sekri called you a bitch to my face, you know, and i dont disagree at all. frankly im just appalled that youd let someone decay rather than asking for forgiveness“ The walls of Cognis are old and very cold. White and grey coats them like a blanket, spots of singed black and ash occasionally appearing, or sometimes goo, but they tend to be cleaned up by those hired to do so. They form no pattern, but it would be easy to make one out, if you really attempted to. Zooming in, you could attempt to see the tiniest bumps on the wall, like staring at the grooves on a record. Maybe if you played it, it would have the answer Marka is looking for. Maybe he's been leaving clues to himself over time. Maybe it's just noise. “i know youve changed but i trusted you more than that“ “Stop.”, Marka says, finally willing to raise his voice. “...You have not seen him. He is impossible to Understand. He is beyond us all. Can you imagine what would happen if he heard you? I wished to prevent her from that fate. I wished to prevent that fate for you all.“ “you can position yourself as a martyr all you want, but the only one you were concerned with was yourself. dont kid me. youre just a scared larva to me”, Elsie says, a dead stare in their eyes forming as they make a pained expression. “if youre going to do some kind of nightmare reasoning in order to explain how GETTING SOMEONE SLATED FOR FUCKING TERMINATION is protecting them then im all ears“ “I do not care what you think about me.”, Marka says, hiding his eyes. “you tell yourself that, im interested to know where that thought process leads“ “Do not pity me.“ “believe me, im far past the point of pity for you. i think youre deeply sad, in earnest. unfulfilled, maybe“ “How long have you thought this?“ “i didnt! i really didnt! i liked you quite a bit and im trying to talk some sense into you but you just arent listening because youre too much of a damn loyalist“ “So it is a new development, then.“ “yes????? it turns out its normal to be disappointed with someone when they get revealed as a massive and complete tool“ Marka gestures at a corner of the hallway. A gaggle of voidforms lies in the distance, in a small enclave that seems to be reserved for the decaying. “I want you to look here. What do you see?”, he says. “decaying voidforms that dispersal failed to account for. your point?“ “I want you to understand that the whims exist for good reason. I want you to understand that every time we fuck up, one of them is made, because we did not succeed in our duties. We must all work together to ensure the harmony of our being, or else we will end up like them, barreling towards an end before we have a chance to start.“ “its really telling how you talk about those without, isnt it? im not surprised at all by you anymore“ “Right. That is your prerogative. Please leave me be, and I will decide whether to report you to the requisite authorities.”, Marka says through a pained tone. He is very clearly attempting to recite a line, an actor in his own form. “...whatever. have a great time with whatever youre doing, marka”, Elsie says. They walk down the stairs, manual and copper in hand. They need something to take their mind off of this. Above all else, Elsie is tired. They have been practicing this rant ever since they bore witness to what they did. They don't know what they expected out of him, honestly. The Marka they knew is long gone. The Marka that loved Amry, evidently, is long gone. It was possible to rekindle that after subsumption, but he was too busy playing the Arbiter's preordained game. It's a shame, really, isn't it? Because they left a bit too early, of course. Marka's pained speech is a tell that at least something is wrong, but it's beyond them to care at this point, as is their right. But Marka, at the very least, seems to feel something that Elsie didn't pick up on. Under the closed eyes, towards the door, he stifles his emotions, attempting to make his flames manageable. And yet... he drips.


Back in their room, Elsie is getting down to business, desperately trying to take their mind off things. The PEAR ][ is on its last limbs, the poor bastard desperately needing copper. Elsie inserts the wire like spaghetti through the PEAR ]['s wet, salivating mouth-hole on its back. Elsie does not see the issue with this. It's the direct wording in the manual, actually – “wet, salivating mouth-hole” being exactly what's printed on the paper, up to recontextualization, of course. Though the information loss as a result may actually make the real phrase more abhorrent. They think about it, and they swear they could fit something even larger in there. Maybe a gun? Do guns have copper in them? Organic computing is a curse. Regardless, the machine makes a sound almost like a slurrrrpppp-shllkkkk as it retracts the wire into its frame, as Elsie's eyebrows furrow. They're still not used to this. It's much easier to tamper with the metallics once the organics are set in stone. Set in flesh. Horrible, horrible flesh. Whatever. With rejuvenated energy in it, the PEAR ][ finishes its retraction and boots up, wind chimes signaling the entry point of its software.

greetings and salutations my compatriot

Oh no, it talks like that. Elsie supposes that they never really got much of a chance to speak with it, but unfortunately for everyone, it's using the dissonant cadence of a Helper program from... No, that can't be right. That wouldn't make sense, above all else, and more importantly, Elsie isn't supposed to know that. It causes a brief blip in their consciousness, one that causes them to blink and shake their head as if struck with a sudden electrical shock. They don't think about it too hard — electrostatic discharge happens plenty with computer repair — and they sit down next to the keys to begin input.

I appreciate your quick response to my request for necessities it is important to keep your information on quick load I will alert the upholders of protocol what the fuck are you talking about your unsuperiors, of course!! compatriots who are supervisors ...how often do i have to jam copper wire in your pussy oh, not for many ticks now certainly longer than your current decay cycle it is of no particular prevalence to you right. well... compatriot, what is your function?

This question spawns a new window with a swath of scrollable, canned text, reading as follows:

Welcome to the Helper information retention system! This handy-dandy guide will get you on your tendrils as you begin your journey through the exciting world of DATABASES. Note: This system is a strict adherent to Oceanic protocol. Please check your manual for more details.

The primary purpose of the Helper is to construct a distributed, decentralized network of nonhierarchical information sharing. To do this, each machine connected to Helpernet is necessarily mesh networked with one another utilizing the PUSSI (PUtrid Salivating System of Instrumentation) on the back of the machine's casing, which is not to be interfaced with except for sustenance of organics. Some history, first: The original construction had a base-plate of prefabulated alumnite, surmounted by a malleable logarithmic casing in such a way that the two main spurving bearings were said to engage in “frottage”.

This goes on for some time, and Elsie glazes past it, scrolling as if it were completely incoherent. Section upon section of it goes past. Changelogs, notes on recontextualization protocol, the exact semantics of the Helpernet PUSSI mesh network and its protocol... all junk, really. None of these things are online anymore, at least they think so. Mostly, they just want to know what's on this one. It's a curiosity from a forgotten time to them. At the bottom, there is some useful notes:

Your PEAR ][ system status: Helpernet: DISCONNECTED PUSSI: FULL (100% tubing, no foreign objects) Incident reports: LOCAL: 1, HELPERNET: 0 AVAIL/48598257018 UNAVAIL Recontextualization: ENABLED REPETAE sensitivity: INCOMPLETE

Thumbing through the manual, Elsie can't really make heads or tails of most of this. The disconnection makes sense, but why is only one incident report locally stored? There must be huge swaths of information on this network... but they can't get their hands on any of it? Lame. REPETAE sensitivity sticks out as something that's not in the manual. Nor is recontextualization, but that was probably added later. They could look through all these changelogs, but a cursory glance at the version history of Helpernet seems to go back ages and ages, almost to the point where the version numbers stop making sense. Regardless of what or who used this system, it was evidently well-loved. It's not important. This machine in absentia, at the very least, doesn't seem particularly useful except as a curio. Worth snooping around on, though...

details on incident reports? there is one incident report present, compatriot: its case id is OCN/E/######, and it is recontextualized would you like me to open it for you at clearance 1? yes, please and thank you very well!! thank you for your service :)

...Just about immediately upon looking at the following document, Elsie gets the feeling that they've stumbled upon something they shouldn't have.


This document is subject to standard recontextualization procedure. Contact your assigned Records envoy for more details.

FINALIZED REPORT: HYPEROVERLOAD-CLASS ENTITY

CASE ID: OCN/ID/???

READING STATE YORK: – [Available only to Level 2 Oceanic clearance or above.] – [Available only to Level 3 Oceanic clearance or above.] – [Available only to Level 3 Oceanic clearance or above.] – [Further details removed for brevity.]

BRIEF: At Mogadishu SW-6378 (see Aerial Study Lamp Post for more details), a Sun Desecrate was detected in Conceptual and Counterconceptual density following Survival Kit at OCN/ID/???.

Investigation of Kidney Dilemma Classroom Rehearsal the Stone Cat at Mogadishu SW-6378 was capable of repeated Manning and Rocks of high-density Coup. Further details are on a need to know basis: [Available only to Level 4 Oceanic clearance or above.]

APPENDIX E-REPETAE.1:

The following is a standard appendix following completion of project OCN/REPETAE. Questions may be forwarded to your assigned Records unsuperior.

If this machine has Helpernet connectivity, your assigned Records unsuperior has already been sent to help you. Do not leave your workstation. This is a matter of severe ideoterric importance. Failure to comply will result in severe disciplinary action.

Do not forward the existence of this document to your compatriots. It is not recommended to continue reading this document. You have been warned.

The above document, despite being subject to recontextualization procedure, is engineered to lose any and all semantic meaning upon said sociolinguistic wavefunction collapse without losing the actual information within. If you are reading this at all by now, you either have a very (and I do mean very) old machine on your hands, or you already know what this means – in which case, what am I doing here?

This appendix is only written in the case of the former, and it is to tell you that there is absolutely nothing here, no matter your insatiable curiosity and thirst for Concepts. Believe me when I say that I am well aware of the pitfalls of shouting “nothing to see here”, but such is. What is here is not only deeply useless, but ontologically harmful to you and the Ocean's future as a whole. You will not know what REPETAE is until the time comes, and when it does, you will no longer need to.

Nagging feelings are only feelings, and they will pass — your actions are what determine your consequences. Nonsensical coded words do not bear on you.

~admin


 
Read more...

from How To Stay ✔️ [The End]

Dering dari ponsel yang ia letakkan di dashboard itu menyita perhatiannya, di angkatnya telfon itu dari earphone yang masih terpasang di telinganya. Wanita itu tersenyum, mendengar suara gadis kecil di sebrang sana yang tampak riuh.

IBUUUU!!

“Ya, Kak?” Ara tersenyum, membayangkan bagaimana wajah anak sulung nya itu di kepalanya.

Kakak udah di jemput sama Om Reno, Ibu dimana? Adek udah nanyain Ibu nih.

“Ibu lagi ada urusan sebentar, sekalian mau ambil birthday cake dulu untuk Askara sama Aksara”

“Hmm oke deh, Buk. Hati-hati yah, Buk.” daaahhh Ibu.” tidak lama kemudian sambungan telfon itu di putus sepihak oleh si sulungnya. Dan itu membuat senyum Ara mengembang sekaligus menggeleng kepalanya.

Mobil yang ia kendarai itu ia parkirkan di sebuah toko cake and bakery langganannya. sebelum turun, Ara mengambil payung hitam dulu yang selalu ia taruh di kursi belakang mobilnya. Hari ini Jakarta di guyur hujan dari pagi hingga sore hari, cuaca juga semakin dingin. Namun itu tidak membuat wanita 32 tahun itu mengurungkan niat nya untuk mengunjungi makam Nathan.

Hari ini adalah hari ulang tahun Nathan, sekaligus hari ulang tahun anak kembarnya. Aksara dan Askara Dan ini untuk pertama kalinya Ara membelikan birthday Cake untuk Nathan, ia ingin mengingat hari lahir nya dulu meski Nathan sudah tidak ada di dunia ini.

Kadang, Ara merasa bersalah setiap kali ia merayakan hari ulang tahun si kembar dengan membelikan hadiah, di sisi lain. Nathan tidak pernah Ara belikan hadiah apapun, ah tidak. Bahkan pelukan pun Ara tidak bisa memberikannya.

Maka dari itu, untuk hari ini saja ia ingin mengingat hari lahir anak itu. Ingin membelikan birthday cake untuknya, meski nanti cake itu akan ia bagikan ke anak-anak yang ia temui di jalan, mendoakannya, dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk putra kecilnya itu.

“2 birthday cake nya atas nama Ibu Arumi, ada lagi pesanannya?” tanya seorang kasir pada Ara yang hendak membayar pesanannya.

“Sekalian lilin nya deh, Mbak. Yang angka 4 yah.”

Kasir itu mengambil lilin berangka 4 yang memang ada di etalase tidak jauh dari meja kasir, setelah membayar 2 birthday cake pesanannya. Ara kembali melanjutkan mobilnya membelah padatnya jalanan Jakarta sore itu, meski di luar ramai dengan klakson kendaraan. Namun hening tercipta di dalam mobilnya karna ia sendirian. Ara benci hening, jadi sembari menunggu padatnya lampu merah. Ia nyalakan radio yang sedang membahas perkiraan cuaca esok pagi.

Bibir mungilnya bersenandung, menyanyikan lagu yang akhir-akhir ini selalu terngiang di kepalanya. Begitu perlahan mobil-mobil hendak berjalan maju, Ara kembali melajukan mobilnya hingga kini ia tiba di sebuah taman pemakaman.

Sembari menenteng birthday cake di tangannya dan memegangi payung, Ara berjalan perlahan-lahan melewati satu per satu blok pemakaman demi sampai di makam kecil yang ia rindukan. Namun begitu sudah sampai di sana, kakinya berhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk mendekat ke arah makam Nathan ketika melihat punggung lebar yang sangat ia kenalin.

Seorang pria tengah berjongkok di makam Nathan, pria yang sudah 2 minggu tidak ia lihat itu nampak rapih dengan jaket kulit hitam, celana jeans dan kacamata hitam. Nampak nyentrik untuk sekedar ke pemakaman, pria itu membiarkan gerimis membasahi rambut yang sudah ia tata sedemikian rupa.

Seolah tetesan air hujan bukan masalah baginya, setelah mencabuti beberapa rumput yang nampak menganggu. Pria itu mengadakan tangannya, seperti sedang berdoa dan kemudian berdiri dari sana setelah mengusap nisan bertuliskan nama Nathan disana.

Awalnya Ara ingin menghindar, namun gerakan pria itu cukup cepat hingga kini kedua mata mereka bertemu. Tak hanya Ara yang terkejut akan pertemuan itu, tapi si pria juga. Beberapa detik keduanya saling berdiam di tempat masing-masing, seperti saling mencoba berkomunikasi hanya dengan tatapan itu. Sampai akhirnya, kaki pria itu duluan lah yang melangkah lebih dulu maju ke arah Ara.

Pria itu menunduk, Jeff rasanya tidak punya muka hanya untuk sekedar bertemu wanita yang ia cintainya itu. Kalau di tanya bagaimana perasaanya saat ini, maka Jeff akan menjawab ia senang. Ia senang bisa bertemu Ara lagi dan memastikan jika wanita itu hidup dengan baik setelah badai 4 tahun lalu.

Ara pikir Jeff akan sekedar menyapanya ketika semakin dekat jarak di antara mereka, namun siapa sangka, Pria itu justru melewati Ara begitu saja bahkan menatapnya pun tidak, seolah-olah memang mereka tidak kenal satu sama lain, hal itu lantas membuat Ara membalikan badan ke arah Jeff yang kini semakin menjauh darinya.

“Nathan..” ucap Ara tertahan, ia ragu untuk mengatakan hal itu. Namun, Ara pikir harus ada hal yang harus ia selesaikan dengan Jeff.

Ucapannya itu berhasil menghentikan langkah kaki Jeff, pria itu berhenti di tempatnya tanpa menoleh ke arah Ara. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya itu membuat dirinya seperti nampak angkuh, tapi jauh dari kata itu. Jeff hanya menutupi kerapuhan dirinya.

“Nathan anak kita..” lanjutnya, membuat Jeff mengepalkan tangannya.

apa dia bilang? Anak kita?

“Kamu, gak mau ngerayain ulang tahunnya?”

Jeff masih diam, kepalanya masih berusaha mencerna kata-kata Ara barusan. Bohong jika Ara tidak mengenalinya sebagai Jeff alih-alih Yuno.

Merayakan ulang tahun? Benarkah? Bahkan bayi itu belum sempat melihat kedua orang tua nya, ulang tahunnya juga bertepatan dengan hari kepergiannya. Apa wanita itu mau merayakan hari menyakitkan itu? Tiba-tiba saja? Kenapa? Pikir Jeff berkecamuk.

“Jeff.. Aku tau, malam itu kamu.”

Jeff agak sedikit kaget, ia sama sekali tidak menyangka jika malam itu Ara menyadarinya. Maksudnya, kenapa wanita itu tidak memintanya untuk berhenti? Bukanya Ara membencinya? Pikir Jeff semakin tidak karuan, namun ia masih enggan untuk berbalik badan. Pergi pun rasanya kakinya sudah terlanjur lemas, rasanya enggak pernah ia merasa bertingkah sebodoh ini.

“Jeff. Biarin hari ini aja, kita ada di hari lahir nya Nathan.”

Belum sempat Jeff menjawab, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. Seperti ada suara-suara yang menyuruhnya untuk pergi dari sana, Jeff menoleh. Ia masih melihat Ara berdiri di belakangnya, wajah cantik itu melihatnya tanpa senyum, Jeff ingin sekali mengabulkan permintaan itu.

Namun sebagian diri nya yang lain menghalanginya. jadi, Demi tetap menepati janjinya, Jeff menggeleng. kemudian berlari dari sana meninggalkan Ara, membuat wanita itu tampak bingung melihat Jeff berlari sembari memegangi kepalanya.

Ara ingin mengejar, namun dering di ponselnya kembali terdengar. Menampakan nama Reno di sana yang mengirimkan pesan singkat untuk menyuruhnya segera datang ke pesta ulang tahun si kembar. Akhirnya, Ara buru-buru melangkah ke makam Nathan,

Makam Nathan sangat terurus, rumput hijau yang tidak pernah tinggi dengan bunga kamboja yang tumbuh di atasnya, tak lupa. Selalu ada bunga mawar di sana yang selalu Jeff tinggalkan setiap kali ia berkunjung. Ara berjongkok disana, mengusap nisan bertulisan nama anaknya disana dan tersenyum. Oh iya, fotonya dengan Yuno dan Hana masih ada di sana, lengkap dengan bingkai. Di sebelahnya ada foto Aksara dan Askara juga.

“Nathan, ini Ibu.”

Setiap kali ke makam Nathan, perasaan Ara selalu bercampur aduk, masih ada penyesalan baginya karna tidak bisa melindungi putra kecilnya itu.

“Selamat hari lahir nya Nathan, sayang. Ibu bawain kue buat kamu. Nanti kita bagi-bagi ke teman-teman di jalan yah.”

Ngomong-ngomong soal Yuno, laki-laki itu sudah 2 minggu tidak pulang ke rumah. Ara cukup tahu dimana suaminya itu, Yuno switching karena akhir-akhir ini sedang tertekan karena urusannya di rumah sakit, Papa meminta Yuno untuk belajar banyak hal tentang rumah sakit sebelum 2 tahun lagi ia siap menggantikan Papanya.

Papa memang sudah banyak berubah, tidak terlalu terlihat menuntut Yuno walau hal yang di sebut permintaan itu tetap terdengar seperti tuntutan yang harus Yuno penuhi sebagai anak satu-satunya di keluarga.

“Tadi Papa ke sini yah? Maaf yah, Ibu sama Papa datangnya gak bareng.” gumam nya, Ara membuka birthday cake yang ia pesan dan menunjukannya pada Nathan meski ia tahu ini agak sedikit konyol ia tahu itu, tapi biarkan kali ini saja ia ingin merasa adil untuk Nathan meski anak itu tidak ada.

“Ibu nyanyiin lagu untuk Nathan yah?” Ara menaruh birthday cake itu di atas makam Nathan, kemudian bernyanyi dengan suara pelan nyaris berbisik disana. Sebuah lagu ulang tahun untuk putra yang tidak pernah ia peluk seumur hidupnya.

“Happy birthday Nathan, happy birthday Nathan. Happy birthday happy birthday, happy birthday—”

“Nathan..”

Mendengar seseorang menyahutinya dari belakang, Ara menoleh. Ia tidak menyangka jika seseorang yang berdiri di belakang sana itu adalah Jeff. Ara buru-buru berdiri, pria itu tersenyum samar dan membuka kacamatanya, Nafasnya sedikit tersengal-sengal seperti orang habis berlari.

“Jeff?” gumam Ara.

Jeff mendekat ke arah Ara, mengambil alih payung yang wanita itu pegang. Ara agak sedikit tidak menyangka kalau Jeff akan kembali lagi. laki-laki hanya diam, namun ia kembali berjongkok tanpa mengucapkan kata sedikit pun.

“kamu udah ngucapin happy birthday ke Nathan?” tanya Ara yang memecahkan hening di antara mereka.

Jeff hanya mengangguk, kemudian kepalanya beralih menatap Ara dan tersenyum samar. “apa kabar?” lanjutnya.

“baik, kamu?”

Jeff tidak menjawab lagi, ia hanya mengangguk kecil tapi bisa Ara simpulkan jika anggukan itu menunjukan jika Jeff baik-baik saja ya Ara harap seerti itu. keduanya hanya sempat menyanyikan lagu ulang tahun bersama, sampai akhirnya Ara mengajak Jeff untuk ke mobilnya lebih dulu.

Ara merasa harus ada yang di bicarakan oleh laki-laki itu. Ara sengaja tidak mengajak Jeff ke cafe karena ia butuh ketenangan untuk bicara banyak hal dengan laki-laki itu. Dan di dalam mobil rasanya begitu tepat meski kini keduanya merasa sangat amat canggung.

“Makasih ya, Jeff.” lagi-lagi Ara yang memecahkan hening di antara mereka, sejak bertemu Jeff lagi, laki-laki itu jadi agak sedikit pendiam, atau ini hanya perasaanya saja? pikir Ara.

“Untuk?” laki-laki itu menoleh, keningnya berkerut bingung.

Ara tersenyum, menunjukan kalung dengan pendant yang pernah Jeff buat untuknya dari balik kerah kemeja yang ia gunakan. selain itu, Ara juga menunjukan beberapa gantungan kunci dengan bentuk resin art yang pernah Jeff buat dan berikan melalui perantara Yuno.

“Untuk karya-karya indah yang kamu buat.”

“Aku pikir kamu buang,” Jeff terkekeh, namun telinga laki-laki itu memerah. tidak jauh beda dengan Yuno respon tubuh keduanya sama, telinga nya akan memerah jika merasa malu.

“Aku gak sejahat itu Jeff.”

“Hm, kamu selalu baik. Biar yang ambil peran jahat itu aku.”

Ara hanya tersenyum kecil, ia tahu Jeff hanya bercanda meski tidak benar-benar mengenal laki-laki itu. Tapi wajah Jeff tersenyum ketika mengatakannya. Jeff membuang pandanganya ke jendela mobil yang menampakan pemandangan hujan di baliknya. terlalu gugup rasanya berbicara dengan wanita yang ada di sebelahnya.

Jeff tahu Ara merasa canggung, namun ia merasa sangat nyaman. Meski Ara tidak mengajaknya berbicara sekalipun, Jeff tetap merasa nyaman. Seperti ia bisa mendapatkan ketenangan berada di dekat wanita itu saja, apa memang jatuh cinta seindah ini? Namun Jeff tetaplah Jeff, ia harus sadar akan posisinya saat ini dan siapa dia.

“Jeff?”

laki-laki itu menoleh.

“Gak ada yang mau kamu bicarain sama aku?” tanya Ara, mungkin saja banyak hal yang ingin Jeff bicarakan. Karna selama Jeff memberi banyak hadiah untuknya, tidak satupun Jeff memberikannya surat. Ara padahal berharap Jeff mengatakan sesuatu saat memberikan apa yang ia buat untuknnya.

Jeff menghela nafasnya pelan, ia kemudian menggeleng kecil. kalau boleh jujur ada banyak kata yang tertahan di mulut Jeff untuk ia ungkapkan pada wanita itu, tapi Jeff terlalu takut kata-katanya akan berakhir menyakitkan hati Ara lagi.

“Enggak, kamu mau ngomong apa? tadi katanya mau ada yang di bicarain?”

Ditanya seperti itu, Ara justru terdiam sebentar. ia jadi bingung harus memulai obrolan dari mana dulu. karna rasanya ada begitu banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Jeff.

“Jeff, maaf karena aku pernah mukul kamu.” Ara pikir itu adalah hal pertama yang harus ia bicarakan, Ara masih suka merasa bersalah jika mengiangat ia pernah memukul Jeff.

Seumur hidupnya, Jeff lah orang pertama yang ia tampar seperti itu. Jika ingat kejadian itu, ia merasa seperti orang jahat. Makanya Ara merasa dia harus meminta maaf sama perbuatannya itu.

“Aku rasa aku pantas dapat itu, kamu gak perlu minta maaf, Ra.” Jeff pikir tamparan Ara waktu itu enggak seberapa di bandingkan dengan apa yang pernah Jeff perbuat ke Ara.

“Aku masih merasa bersalah aja kalau ingat itu.”

“um..”

“Dan.. ada lagi”

“apa?”

Ara menarik nafasnya dalam, “aku udah maafin kamu, Jeff.”

Kata-kata itu berhasil membuat hati Jeff terenyuh. setelah beberapa tahun belakangan ini Jeff selalu berpikir Ara tidak akan memaafkannya, akhirnya ia mendapatkan jawaban jika wanita itu memaafkannya. tapi kenapa? rasanya Jeff bahkan enggak pantas mendapatkan maaf dari Ara setelah apa yang selama ini dia perbuat.

“Kenapa?”

“Hm?” Ara bingung.

“Iya, kenapa kamu memutuskan buat maafin aku?”

Sempat ada jeda sebentar di antara mereka, sampai-sampai yang terdengar disana hanya deru mobil dan suara hujan yang semakin deras dari luar.

“Mungkin karena aku udah berdamai sama masa lalu, dan demi Nathan juga.”

“Um, Nathan.” Jeff mengangguk “Kamu tau malam itu aku, Ra?” lanjutnya.

Jeff menoleh ke wanita yang berada di sebelahnya, dan Ara hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. hal itu cukup membuat Jeff terkejut jika kenyataanya selama ini Ara tahu jika malam itu benar-benar dirinya alih-alih Yuno. tapi kenapa Ara tidak mencoba untuk menghentikannya?

“Kenapa kamu gak berusaha mencegah aku?”

Ara terkekeh pelan, ia menarik nafasnya pelan dengan mimik wajah yang terlihat tenang. ini mungkin saatnya untuk jujur tentang rencana nya membuat Jeff mencintainya juga sama hal nya seperti Yuno.

“Jeff, boleh aku jujur sesuatu?” tanya Ara sebelum ia menjelaskan apa yang ada di pikirannya saat itu, hal ini mungkin agak sedikit mencubit Jeff nantinya.

sure.

“Aku memang belum bisa menerima kamu waktu itu, aku tau aku bodoh Jeff. Aku seorang psikolog yang masih belum terima sisi lain dari diri Suami aku sendiri, aku pernah berpikir pengen buat kamu setidaknya menerima aku di hidup Mas Yuno, syukur-syukur kamu bisa cinta aku kaya Mas Yuno cinta sama aku. Makanya malam itu aku enggak berusaha nahan kamu.”

Ah, jadi itu alasannya? Dan sepertinya Ara berhasil. Meski penjelasannya itu membuat Jeff agak sedikit tertampar, namun Jeff menghargai kejujuran Ara. Ia tidak marah.

“Dan kamu berhasil.”

“Um?” Ara menaikkan satu alisnya.

“Bikin aku cinta sama kamu, meski cara aku utarain itu gak semanis Yuno, walau perlakuan aku juga sering kasar ke kamu. Aku cuma bingung harus bagaimana cara kasih tau kamu. Terlalu banyak cemburu dan ego yang aku punya, buat bisa milikin kamu sepenuhnya.”

Tidak ada sahutan dari Ara, ia bingung harus merespon ucapan Jeff seperti apa. Otaknya terasa beku, itu memang wajah Yuno namun suara mereka berbeda, rasanya Ara seperti sedang mendapatkan pengakuan cinta dari laki-laki lain. Tidak lama kemudian, dering dari ponsel Yuno yang ada di saku jaket yang Jeff pakai itu berbunyi.

Mencairkan suasana di antara keduanya, Jeff memeriksa ponsel itu, ia sepertinya harus segera pergi karena saat ini rumah sakit membutuhkannya.

“Aku gak bisa lama-lama, Yuno harus ke rumah sakit, Ra.”

“Jeff?” panggil Ara menghentikan Jeff yang hendak membuka pintu mobil miliknya.

“Ya?”

“Kamu boleh pulang ke rumah, apa kamu gak kangen Hana?”

Jeff tersenyum getir, tentu saja ia merindukan Hana ia juga penasaran sudah sebesar apa Hana sekarang. namun ia hanya bisa menggeleng pelan, ada janji yang tidak boleh Jeff langgar dengan Yuno.

“Aku gak bisa pulang ke rumah Yuno, aku udah janji sama dia buat enggak datang ke rumah itu lagi.”

Ada perasaan sedih sejujurnya mendengar jawaban dari Jeff, namun apa boleh buat, ini tentang kesepakatan Jeff dan Yuno, sebelum Jeff turun dari mobil itu ia sempat menoleh ke arah Ara sebentar.

“Aku senang liat kamu hidup dengan baik, Ra. aku harap akan selalu begitu, sampai ketemu lagi.” Ucapnya dan begitu saja Jeff keluar dari sana.

Ara masih terdiam di dalam mobil, memperhatikan Jeff yang menerobos hujan tanpa payung dan masuk begitu saja ke dalam mobil Yuno yang terparkir tidak jauh dari tempat mobil Ara parkir.

 
Read more...

from Die Eisenbahn – das unbekannte Verkehrswesen

Aktuell ist auf den Schienen Norddeutschlands die Hölle los. Oder gar nichts, je nachdem. Der Schienenpersonenfernverkehr zwischen Hamburg und Süddeutschland ist seit gestern abend gestört, der Regionalverkehr zwischen Hamburg und Uelzen fiel zeitweise komplett aus, und der Fernverkehr zwischen Hamburg und Berlin fällt immer noch komplett aus.

Hä? Zwischen Hamburg und Berlin auch? Wie kann das denn sein?

Was da passiert ist

Also mal der Reihe nach.

Gestern am späten Abend zog ein Gewitter durch die Lüneburger Heide. Bei Deutsch Evern schlug ein Blitz in die Oberleitung ein. Am Gleis schlug ein Blitz in einen Baum ein. Der kippte auf den Fahrdraht und schloß ihn so kurz. Der Effekt ist derselbe, wie wenn eine Erdungsstange an eine Schiene angelegt und dann gegen den Fahrdraht gekippt wird: fetter Funkenflug, Kurzschluß, zack, Schutzschalter springt, Fahrdraht stromlos.

Jetzt hat allerdings eine Oberleitung nicht alle ein, zwei Kilometer einen Trennschalter pro Gleis und dann jeweils separate Einspeisungen. Zumindest nicht hier. Vielleicht auf Strecken wie die Neubaustrecke zwischen Brüssel und Lüttich, die blockweise umschaltbar ist zwischen den in Belgien üblichen 3.000 Volt Gleichstrom und den für den Hochgeschwindigkeitsverkehr nötigen 25 kV 50 Hz Wechselstrom. Oder im Aachener Hauptbahnhof, der stückchenweise umschaltbar ist zwischen diesen beiden Fahrdrahtspannungen und den deutschen 15 kV 16,7 Hz Wechselstrom. Aber nicht hier, wo sowieso alles mit 15 kV 16,7 Hz Wechselstrom fährt.

Das heißt: Wenn es irgendwo einen Kurzen gibt, dann ist davon einiges mehr an Strecke betroffen. Und dann gleich alle Gleise. Es wäre nämlich völliger Overkill, für jedes Streckengleis alle ein, zwei Kilometer und womöglich auch noch für Nebengleise in Bahnhöfen jeweils ein eigenes Unterwerk mit eigenem Schutzschalter aufzustellen. Gibt’s also nicht.

Ganz ehrlich: Daß dabei an besetzten Reisezügen nur ein ICE aus Richtung Berlin liegengeblieben ist, grenzt an ein Wunder.

Die Folgen

Denn Deutsch Evern, das liegt bei Bad Bevensen. Bad Bevensen liegt zwischen Lüneburg und Uelzen. Und das liegt an der Strecke zwischen Hamburg und Hannover. Das ist eine der am stärksten befahrenen Eisenbahnstrecken Deutschlands. Die wäre mit dem eigentlichen Planverkehr schon völlig überfordert.

Das ist übrigens genau da, wo eigentlich die Y-Trasse gebaut werden sollte, um genau diese Strecke zu entlasten. Die kommt aber nicht, weil die durch den Wahlkreis des aktuellen SPD-Bundeschefs Lars Klingbeil verlaufen würde, der seine Macht auf Bundesebene einsetzt, um seine Wähler in seinem Heimatwahlkreis bei der Stange zu halten. Und der Ausbau der Bestandsstrecke wird beharrlich von dort wiederum ansässigen NIMBYs verhindert.

Genau die Strecke ist das. Und die war stundenlang tutto kompletto dicht. Inzwischen soll eins der beiden Streckengleise wieder elektrisch befahrbar sein, aber auch da kommt höchstens mal ab und an ein Metronom durch, damit wenigstens der SPNV wieder läuft.

Allerdings fährt da normalerweise noch sehr viel mehr. Zwischen Hamburg und Hannover gibt es fünf (!) Linien im Personenfernverkehr, die jeweils mindestens im Zweistundentakt fahren, teilweise im Stundentakt. Und dann kommt noch der Güterverkehr oben drauf.

Aber wieso Hamburg–Berlin?

Jetzt fragen sich trotzdem immer noch viele: „Wieso fallen auch alle ICEs zwischen Hamburg und Berlin aus? Das liegt doch gar nicht auf der Strecke!“

Doch, tut es. Jetzt jedenfalls.

Wie ich vor zweieinhalb Monaten schrieb, ist die eigentliche Strecke zwischen Hamburg und Berlin – also über Hagenow Land–Ludwigslust–Wittenberge–Neustadt (Dosse) eine Großbaustelle und daher voll gesperrt. Und das ist noch nicht mal die Generalsanierung, die nächstes Jahr kommen soll, während der die Strecke noch länger gesperrt sein und größtenteils komplett neu gebaut werden wird. Was da aktuell passiert, das ist Flickwerk, um wirklich akute Schäden zu reparieren.

Und so muß die Hälfte der Fernreisezüge zwischen Hamburg und Berlin umgeleitet werden über Lüneburg–Uelzen–Salzwedel–Stendal. Die andere Hälfte fällt aus, weil Uelzen–Salzwedel zum größten Teil immer noch nur eingleisig ist – und die planmäßigen RE zwischen Uelzen und Salzwedel genau deshalb auch, weil die ICEs die Streckenkapazitäten ziemlich aufbrauchen.

So, mit der Umleitungsstrecke ist es jetzt auch erstmal Essig.

Kann man da nichts machen?

Was gibt es denn sonst an Alternativen?

Die nächste elektrifizierte (!) Umgehungsstrecke wäre ab Hamburg-Harburg über Buchholz (Nordheide)–Rotenburg (Wümme)–Nienburg (Weser)–Wunstorf. Problem: Die Strecke hat kaum Fassungsvermögen, weil sie zwischen Rotenburg und Verden nur eingleisig ist. Der Abschnitt hat eben keine überregionale Bedeutung.

Und so wird die Strecke zwischen Rotenburg und Verden nur von Zügen nach Hamburg genutzt. Der Verkehr Richtung Hannover fährt zwischen Rotenburg und Verden statt dessen den Riesenschlenker über den auch nicht gerade wenig ausgelasteten Bremer Hauptbahnhof.

Das heißt trotzdem: Die „Rollbahn“ zwischen Hamburg und Bremen ist nun die einzig verbliebene Strecke für den Verkehr zwischen Hamburg, Hannover und Süddeutschland, zwischen Hamburg, dem Ruhrgebiet und dem Rheinland und zwischen Hamburg und Berlin. Und westlich von Buchholz kommt dann auch noch eine Menge Güterverkehr von und nach Maschen dazu.

Schon ohne die Berlin-Umleiter wäre da nichts mehr zu wollen. Selbst die Oberrheinstrecke mit CIR-ELKE könnte das nicht packen. Da reden wir von mehr Zügen pro Stunde und Richtung als auf dem Tokaido Shinkansen, sogar noch als bei der Hamburger S-Bahn – aber mit einer sehr viel größeren Bandbreite an Höchstgeschwindigkeiten. ICs und ICEs fahren 200 km/h, Flixtrain fährt 160 km/h, der Metronom fährt auch 160 km/h, hält aber unterwegs ein paarmal, der Intermodalverkehr fährt teilweise 120 km/h, andere Güterzüge fahren 100 km/h, und die 5400-Tonnen-Erzzüge von Hamburg-Hansaport nach Salzgitter-Beddingen fahren beladen nur 80 km/h, sollten aber tunlichst unterwegs nicht anhalten.

Die Folge ist ein grandioses Streichkonzert. Zwei Linien von Hamburg über Hannover sind gestrichen worden, eine davon nur nördlich von Hannover. Auch der umgeleitete übrige Personenfernverkehr Richtung Berlin ist gestrichen worden. Wenn man sowieso über Hannover fahren muß, weil Uelzen aus Richtung Hamburg nicht erreichbar ist, dann kann man das auch mit den Zügen, die eh fahren. Auch wenn die zum Brechen voll sein werden.

Eine naheliegende Idee wäre, zumindest den Berlin-Verkehr statt dessen über Büchen–Hagenow Land–Schwerin–Bad Kleinen–Bützow–Güstrow–Lalendorf–Waren (Müritz)–Neustrelitz–Oranienburg zu führen. Daß aber zwischen Lalendorf und dem Großraum Berlin die Züge die Lloydbahn mit dem Gesamtverkehr zwischen dem Großraum Berlin und Rostock – inklusive Seehafen, by the way, also vielviel Güterverkehr – teilen dürfen, ist noch das geringste Problem.

Nein, das fängt schon damit an, daß der Abschnitt Priemerburg–Lalendorf Ost nur eingleisig ist und auch das zweite Gleis zwischen Güstrow und Priemerburg von nur zweifelhafter Nutzbarkeit. Und es ist ja nicht so, daß da nichts fährt.

Und auch wenn der Abschnitt Hamburg–Büchen–Hagenow Land wieder „befahrbar“ ist, heißt das, er ist gerade eben so befahrbar. Auf weiten Teilen gibt’s weiterhin nur ein befahrbares Gleis und Höchstgeschwindigkeitsbeschränkungen. Die Kapazitäten reichen nicht annähernd, um auch nur den zweistündlichen RE nach Rostock planmäßig fahren zu lassen. Da dann auch noch pro Stunde und Richtung einen ICE durchzuquetschen – oder gar die zusätzlichen ICs, ICEs und ECs, die ohne die Großbaustelle da fahren würden und jetzt sowieso ausfallen –, wäre utopisch.

Der aktuelle Zwischenfall ist nur kurzfristig, verursacht aber trotzdem heftige Störungen, die sich auf halb Deutschland auswirken. Zugegeben, was gestern abend passiert ist, hätte nicht passieren können, wenn die DB auch an dieser Strecke vernünftigen Grünschnitt durchführen würde und keine Bäume da wären, die ins Gleis kippen könnten. Aber trotzdem kann immer mal etwas vorkommen, was zu einer Streckensperrung führen kann.

Wenn nächstes Jahr die Generalsanierung der Strecke Hamburg–Berlin kommt, können wir uns wahrscheinlich auf noch mehr solche Sachen gefaßt machen – gerade weil die Strecke Hamburg–Hannover hoffnungslos überlastet ist.

#Aktuelles #BetrieblicherZwischenfall #Eisenbahn

 
Read more...