cw // mature content, boys sex activities, kissing, smoking, nipple sucking, use vibrator, spank, hand job, penetration, kinda explicit, a lil bit dirty talks
PLEASE BE WISE!
Habrian tersenyum kala melihat sang suami mungilnya telah menunggu di teras lobi gedung kantornya. Revanda berlari kecil memasuki mobil dan menyamankan duduknya di samping kursi kemudi.
“Halo, sayang,” cup, Revanda menyapa Habrian dan langsung membubuhi kecupan di bibir suami tercintanya itu.
Habrian tersenyum, mengelus kepala Revanda, dan mulai melajukan mobilnya. “Gimana hari ini? Capek?” Habrian tak pernah absen menanyakan hal ini kepada Revanda.
“Lumayan. Tadi ada klien, minta desain interior gitu kan buat apartemen barunya, aduh tapi ribet banget. Aku sampe sebel deh. Untuk aja ada anak intern gitu yang pinter dan mau handle,” Revanda menjawab dan tak lupa menggerutu.
Habrian meraih tangan Revanda, menggenggam erat dan mengistirahatkan tangan mereka di atas paha Revanda. “You did well, baby,” tutur Habrian sembari mengulas senyum.
Revanda merasa perutnya tergelitik. Suaminya selalu saja manis hanya dengan mengucapkan kata-kata sederhana. “Kamu gimana hari ini, mas? Kerjaannya masih banyak juga?” Revanda memandang suaminya.
“Ngga juga, semenjak udah nambah anggota tim jadi lumayan ringanlah kerjanya,” jawab Habrian dengan santai.
“Asyik dong. Jadi ga sering lembur kan?” Revanda bertanya dengan antusias.
“Tetap lembur,” Habrian masih menyahut santai.
“Loh? Kok-”
“Lemburnya sama kamu di rumah,” jawaban Habrian memotong ucapan Revanda seraya tangannya mulai melepas genggaman, bergerilya mengelus paha Revanda.
Revanda tak mampu menahan tawa. Ia terbahak mendengar ucapan sekaligus perbuatan tangan Habrian saat ini. Sudah sangat hapal dengan tingkah laku suaminya jika sedang menginginkan kegiatan panas yang memang akhir-akhir ini cukup jarang mereka lakukan.
“Kita masih di jalan loh, mas,” Revanda mencoba menahan tangan Habrian.
“Iya tau kok,” dengan enteng Habrian menanggapi. “Ini menjelang sampe rumah aja, cil,” tukas Habrian sembari kembali mengelus paha Revanda.
Kepala Revanda menggeleng dan dahinya mengernyit. Tatapannya sinis kepada sang suami untuk bertanya, “habis ngapain sih di kantor sampe balik-balik malah horny?”
Kini berganti, tawa Habrian yang pecah. Sekali pun begitu, tangannya tetap bermain pada paha Revanda bahkan sekarang telah menelusup meremas pelan bagian dalam paha mungil itu. “Baju kamu tuh, kancingnya kebuka apa sengaja dibuka yang atasnya? Gimana aku ga tergoda coba.”
Otomatis Revanda menunduk dan melihat kancing bajunya yang terbuka. Pantas saja Habrian bisa terpancing birahinya, dada mulus Revanda jelas terpampang nyata sedari tadi.
“Ga sengaja ini, mas,” tutur Revanda pelan.
“Iya gapapa, cinta.”
Tangan Habrian tak sedikit pun lengah. Remasan pelan terus-menerus ia lakukan pada paha Revanda. Lenguhan pun perlahan mulai terdengar tatkala sesekali tangan Habrian tak sengaja menyentuh kejantanan milik Revanda.
“Bri, bisa ga nanti aja di ruma-ahh...” remasan di paha bagian dalamnya semakin kuat, membuat Revanda mendesah nikmat.
“Gapapa, cil. Ini bikin aku sama kamu tegang aja, biar nanti sampe rumah tinggal langsung masukin hehehe,” Habrian dengan santai menanggapinya.
Mobil mereka terhenti ketika lampu lalu lintas baru saja berganti warna menjadi merah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Habrian untuk mencumbu suaminya, menyesap bibir candu itu dan membubuhi gigitan pelan.
“Hmhh,” Revanda mendesah tertahan ketika bibir bagian atasnya dihisap kuat oleh Habrian. Lidah Habrian pun melesak ke dalam mulut hangat Revanda, sempat bermain di dalam sana.
“Mhh lampunya ijo- mas...”
Suara klakson terdengar riuh dari belakang mobil mereka. Habrian menyeringai dan mulai melajukan mobilnya lagi.
“Ga sabaran banget sih, Briiii,” Revanda melayangkan protes. “Padahal nanti kalo di rumah lebih puas.”
“Ga bisa ditahan, sayaaaang. Udah mau sebulan tau kita ga having sex.”
“Ya tapi ga di mobil juga kali ih.”
“You know me, cil. Aku susah buat nahannya.”
“Selain susah nahan, kamu tuh fantasinya suka aneh-aneh tau, Bri.”
“Hehehe kan nyobain hal-hal baru.”
“Hari ini mau nyobain apa?”
“Buka baju dong, cil,” ujar Habrian dengan santai tanpa melirik ke arah Revanda yang tengah melotot sekarang. “Sekarang buka bajunya. Eh, atau buka celananya aja.”
“NGAPAIN?!” teriakan Revanda menggema di dalam mobil, menciptakan gelak tawa pada Habrian.
“Buruan, buka celana kamu. Nanti juga tau aku mau ngapain.”
Revanda terpaku. Ia sungguh tak mengerti dengan suaminya yang jika tengah napsu seperti ini, suka meminta hal-hal yang membingungkan.
“Ayo dong, cintaaaaa. Buka celananyaaaaa,” Habrian akhirnya menoleh sekilas, memperlihatkan wajah manjanya.
“Ck. Iya iya ini aku buka.” Revanda menurut, menurunkan celananya beserta celana dalamnya. Kejantanannya yang sedikit menegang pun terekspos. Revanda tidak merasa terpaksa, karena jujur saja ia selalu suka meladeni suaminya dalam hal vulgar seperti ini. “Dingin, Briiii.”
Habrian menjalankan mobil di lajur kiri serta menurunkan kecepatannya. Ia memperhatikan bagian bawah Revanda yang telah terbuka. Tangannya meraih penis Revanda, membuat si mungil itu mendesah nikmat, “a-ahh...”
Suara mendayu indah itu semakin meningkatkan birahi Habrian. Penis Revanda digenggam erat dengan ibu jari Habrian memainkan ujungnya, menggeseknya pelan saluran kencing itu, membuat Revanda menggelinjang resah.
“M-mas Bri...nghh yang bener aja siiih, lagi di jalan loh,” Revanda berusaha untuk melayangkan protesnya.
“Semakin menantang gini, semakin enak kan, yang?” pertanyaan itu terlontar beriring seringai khas Habrian.
'Sinting!'
Revanda ingin merutuki suaminya, namun yang keluar dari mulutnya justru desahan-desahan kenikmatan. Tangan besar Habrian memijat penisnya pelan, kemudian tak lupa meremas dua bola kembar di penghujung kemaluan itu. Revanda mampu merasakan jari Habrian mulai mundur ke belakang.
“No. Jangan, aku belum bersihin disitu, nanti aja di rumah,” Revanda menahan tangan Habrian ketika ia rasa jari tengah pria gemini itu nyaris menerobos lubang analnya.
“Hehehe yaudah. Bentar, aku ngebut deh, udah ga tahan banget,” ujar Habrian melepaskan tangannya dari selangkangan Revanda untuk kembali ke kemudi.
“Bri???? Aku literally udah tegang banget ini dan kamu biarin aku kedinginan ga pake celana?” Revanda protes.
Habrian terkekeh. Ia pun meraih tangan Revanda, mengarahkannya ke penisnya yang masih terbungkus celana. “Aku juga udah tegang ini, yang. Makanya aku mau ngebut biar cepet nyampe rumah.”
Bibir Revanda maju, namun tangannya pun mengambil kesempatan. Ia remas penis Habrian hingga suaminya menggeram berat. “Biar adil, gini aja ya, mas,” Revanda menyeringai sembari menurunkan ritsleting celana Habrian, mengeluarkan penis suaminya itu.
“Shit, Revanda,” Habrian mengumpat karena saat ini tangan Revanda tengah menyervis kemaluannya. Lelaki gemini itu berusaha keras untuk fokus pada kegiatan nyetirnya karena sedikit lagi mereka tiba di rumah tercinta.
“Awas kamu nanti ya, Re.”
“Cintaaaa, buruan!” Habrian teriak tepat di depan kamar mandi.
Sejak turun dari mobil, Revanda langsung lari ke dalam kamar mandi. Katanya sih ingin langsung bersih-bersih untuk memuaskan suaminya nanti.
Habrian sendiri memilih untuk menunggu di kamar, masih rapi dengan kemeja yang ia pakai kerja tadi. Lima belas menit Revanda berada di kamar mandi terasa seakan lima belas jam untuk Habrian yang sudah kepalang tak kuasa menahan birahinya.
“Rev-”
Baru saja Habrian hendak berteriak lagi, Revanda telah keluar dari kamar mandi. Tak ada celana yang dikenakan, hanya kemeja biru oversized dengan kancing bagian atas yang telah terbuka. Revanda terlihat sangat seksi dan semakin menggoda karena baru saja menyemprotkan parfum andalannya.
“Apa sih, suamikuuuu? Ga sabar banget ya?” Revanda mengalungkan tangannya di leher Habrian, bergelayut di tubuh suaminya itu yang menyambutnya dengan lingkaran tangan pada pinggang ramping Revanda.
“Iya. Kamu lama banget di dalam.”
“Kan aku bersih-bersih dul-”
Habrian tak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut Revanda kecuali desahannya. Bibir itu terkunci dengan lumatan basah yang terburu-buru dan berantakan. Kedua pria itu tampak ingin mendominasi cumbuan panas mereka.
“Mmhh,” Revanda melenguh sembari menekan tengkuk Habrian.
Pagutan sensual itu tak berlangsung lama. Habrian melepaskannya, menatap sang suami dengan tatapan sayu. “Nungging, yang,” titah Habrian yang langsung dituruti oleh Revanda.
Plak!
“Aahh!” Revanda meraih sandaran kursi di hadapannya untuk bertumpu. Ia meremas kuat sandaran tersebut ketika bokongnya dipukul cukup kuat oleh Habrian.
Plak!
Sekali lagi, Habrian menepuk kuat pantat Revanda yang setengahnya tertutup oleh baju. Di dalam sana, tubuh Revanda tak terbungkus apa pun kecuali kemejanya. Oleh karena itu, Habrian sangat tergoda menyuruh Revanda menungging, membuat bongkahan sintal itu terekspos sedikit tanpa adanya celana dalam yang menutupi.
“Seksi banget sih kecilku ini,” ujar Habrian sambil mengangkat kemeja, membuat pantat Revanda akhirnya terlihat dengan jelas. Ada ruam merah bekas pukulan Habrian, tercetak membentuk telapak tangan si gemini itu. “Gemesnyaaa.”
“Hnghh perih tau, Briiii,” Revanda menutup matanya, membiarkan tangan Habrian meremas bokongnya dengan sesekali memukulnya pelan.
“Perih juga kamu suka kan kalo digituin?” tanya Habrian sembari menyeringai.
Revanda mengangguk. Ia berinisiatif untuk semakin menunduk dan mengangkat pinggulnya, seolah ingin menunjukkan lubang analnya yang baru saja ia bersihkan itu. “Merah ga, mas?”
Habrian melebarkan pipi pantat Revanda, menatap lubang kenikmatan itu dengan tatapan penuh napsu. Ia merunduk, menjilat sekilas dinding sekitar lubang anal Revanda, “merah banget. Udah ga sabar mau dimasukin?”
“Iyaaaa, tapi jangan langsung dimasukin ya? Dilicinin dulu. Besok aku masih harus kerja loh. Kan ga lucu jalannya susah karena pedih.”
Habrian terkekeh mendengar suaminya, “iya, sayang. Disini aja ya?”
“Disini? Sambil berdiri gini? Mau nyobain apa kali ini?”
Plak!
“Argh!”
Kembali Habrian memukul pantat Revanda dan langsung mengelusnya dengan gerakan sensual. “Biar bisa liat di kaca tuh.”
Revanda hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Suaminya punya sejuta fantasi seksual yang tak jarang membuat Revanda kewalahan.
“Sebentar ya, sayang,” Habrian menegakkan tubuh Revanda, mengecup bahunya lembut. “Ada yang mau aku ambil dulu.”
Revanda mengangguk. Ia memutuskan untuk duduk di kursi yang tadi menjadi pegangannya. Netranya mengikuti arah suaminya berjalan yaitu ke nakas di samping pintu kamar mereka.
Adalah botol lubrikan, sekotak rokok, dan...sebuah benda yang membuat Revanda terbelalak. Detik berikutnya dua pria itu tertawa ketika Habrian menghampiri Revanda.
“Mau ga pake ini?” tanya Habrian seraya mengangkat sebuah vibrator panjang bersama biru tua.
“Ga mau! Punya kamu ada kok, ngapain pake itu segala?” Revanda menggeleng cepat.
“Tapi aku mau liat kamu pake ini dulu, sayang.”
“Yaelah, Briiiii.”
“Please, sayangggg,” Habrian tampak memelas.
Sang pria aries hanya dapat menghela napas berat. Ia mengangguk, membuat Habrian langsung tersenyum puas. “Tapi sebentar aja ya?” nego Revanda dan disetujui oleh Habrian.
Tangan Habrian melebarkan kedua tungkai Revanda dan menekuknya di atas kursi. Kejantanan dan lubang anal Revanda kini terekspos secara bebas. Habrian meraih botol lubrikan, melumurinya pada vibrator yang kemudian diberikannya kepada Revanda. Cairan pelicin itu pun dilumuri pada lubang senggama sang pria aries.
“Nih, kamu yang masukin sendiri, cil,” Habrian menyodorkan vibrator dan segera diraih oleh Revanda.
Tak butuh waktu lama, Revanda langsung pelan-pelan memasukkan sex toy itu ke dalam lubang analnya. Habrian mundur. Ia memutuskan untuk duduk di ujung kasur, mulai menyesap rokoknya dengan netra yang tak lepas dari suami seksinya itu.
“A-ahh, ngh gede banget sih iniiih,” Revanda bersusah payah memasukkan vibrator.
Habrian terkekeh. Ia melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemejanya. “Dorong langsung, yang,” perintah Habrian sembari menghisap rokoknya lagi.
Si aries menuruti perintah suaminya dan langsung menjerit, “AAHHH!” Vibrator masuk dengan sempurna dan dibiarkan sejenak oleh Revanda agar lubangnya menyesuaikan benda itu.
Habrian berdiri, melangkah mendekati Revanda. Ia menyematkan rokok di belahan bibirnya, sedangkan tangan kanannya yang terbebas menyentuh vibrator, menekan tombol on yang membuat benda itu bergetar di dalam lubang Revanda.
“Ahh...shit, Bri sshh,” Revanda mulai merintih merasakan getaran di lubangnya. “Hmmh, aneh banget sih pake inih.”
“Aneh kenapa, cinta?”
“Y-ya anehhh, soalnya ga biasa pake ini- AHHH!” Revanda menjerit karena Habrian meningkatkan tingkat getarannya.
Habrian menatap wajah Revanda. Mata si aries itu terbuka dan terpejam seiring kenikmatan yang ia rasakan. Mulutnya terbuka, mendesahkan nama suaminya dengan keras hingga saliva meleleh di ujung bibirnya.
“Enak ga, cil?”
“Nghh enak ahh, t-tapi enakan punya kamu, Briii.”
“Iya nanti ya, sayang.”
Habrian meletakkan rokoknya di asbak. Tangannya sigap melepaskan semua kancing kemeja Revanda, memperlihatkan tubuh putih nan mulus si pria mungil itu. Ia bersimpuh pada lututnya, memajukan tubuhnya untuk menjilat lingkaran pada puting Revanda. Tonjolan coklat itu ia hisap kuat, membuat erangan Revanda semakin kuat terdengar.
“Arghh, Briaannn.”
Teriakan Revanda semakin meningkatkan libido Habrian. Tangan Revanda ia tuntun untuk menggenggam erat vibrator, sedangkan tangannya sendiri memanjakan penis suami mungilnya itu.
“Briannnh, ahh gila ini aku sshh nikmat banget semuanyahhh,” Revanda menjerit nikmat. “Mas Bri, udah donghh sshh, masukin punya kamuuuh.”
Habrian yang telah puas bermain di dada Revanda langsung mengangkat kepalanya. Ia berdiri dan merunduk, mempertemukan bibir mereka dalam cumbuan kilat. Tepat di depan wajah Revanda, Habrian bertanya, “siap lembur sama aku?”
Kekehan lolos dari mulut Revanda. Ia mengangguk, “iya siap. Tolong keluarin vibrator-nya, mas.”
Kecupan ringan dibubuhi oleh Habrian pada dahi Revanda. Tangannya menekan tombol off pada vibrator, dengan pelan mengeluarkan sex toy tersebut membuat Revanda melenguh.
“Bukain baju aku dong, cil,” pinta Habrian yang langsung disetujui Revanda.
Dengan lihai Revanda melucuti seluruh kain yang menutupi tubuh suaminya. Kini yang terpampang di depannya adalah Habrian yang sudah telanjang tanpa busana.
“Ayo nungging lagi,” Habrian menarik tangan Revanda. Ia tak lupa menyingkirkan kursi, menuntun Revanda membalikkan tubuhnya dan berpegangan pada meja rias mereka.
“Jangan dipukul lagi pantat aku, Bri. Udah perih banget,” Revanda mendelik ke belakang, menatap Habrian dengan tajam.
“Hahaha iya, sayang,” tanggap Habrian sembari melumuri penisnya dengan pelumas. Kejantanannya ia kocok sekilas, kemudian menggesekkan ujung penisnya pada lubang Revanda yang merekah.
“Hnghh digesekin aja udah enak, masss.”
“Hmm iya, cil. Tahan ya sakitnya.”
“Iya. Pelan-pelan aja, mas.”
“Iya, cintakuuuu.”
Perlahan, Habrian mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anal Revanda. Ia meringis, begitu pula dengan Revanda yang merintih menahan sakit. “Fuck sempit banget, Reee.”
“Anghh dorong terus, Briii. Ughh ngilu kalo kamu berentiii.”
Habrian terus mendorong pinggulnya hingga kemaluannya masuk sempurna di dalam lubang hangat nan sempit milik Revanda. “Ughh,” Habrian mengerang pelan.
“Ahhh! Gede bangettthh,” rintih Revanda.
“Segini aja padahal, yang.”
“Masa sih? Apa karena udah lama ga dimasukin- ahh, Briannn.”
Bagi Habrian, kini Revanda terlalu banyak bicara. Maka Habrian gerakan pinggulnya perlahan, membuat penisnya mulai keluar dan masuk dengan tempo teratur.
“Sshh ngilu, Briiih.”
“Ya sama, ini aku juga ngilu, yang. Sempit bangettt.”
Pelan-pelan, Habrian menaikkan tempo pergerakan pinggulnya. Genjotan pada lubang senggama Revanda semakin cepat.
“Re, liat tuh di kaca, kamu seksi banget keenakan gitu.”
“Hnghh kamu juga ganteng banget, Briii.”
Jika ada yang bertanya, mengapa pasangan ini saling memanggil nama satu sama lain sekarang, maka jawabannya cukup karena kebiasaan. Setiap mereka bersetubuh, tak ada panggilan sayang, namun justru saling memanggil nama panggilan masing-masing. Bagi keduanya, dengan mendesahkan nama suami mereka justru semakin meningkatkan napsu mereka dalam bercinta.
“Brian, lebih cepettthh, pleaseee,” pinta Revanda dengan rintihan nikmatnya.
“Sebentar, Re.”
Tangan Habrian terjulur meraih rokoknya yang masih ada setengah. Ia kembali menyalakan api pada batang nikotin itu, menyesapnya sembari mempercepat tabrakan penisnya pada prostat Revanda.
“Ahhh fuck! Brian, ahhh enak banget hmmmh.” Kepala Revanda terangkat, netranya melihat pantulan bayangan suaminya di cermin. Pria aries itu semakin terangsang melihat sang suami menggerakkan pinggulnya cepat, meremas pantatnya dengan satu tangan memegang batang rokok. Sungguh pemandangan yang sangat menggoda.
“Merah banget ini lubang kamu, Re,” Habrian tertunduk melihat lubang anal Revanda menelan penisnya.
“Hmmhh keenakan dimasukin punya kamu, Briii,” tanggap Revanda kesulitan. “Brianhh, kamu seksi bangettt. Aku pengen liat muka kamu langsungggg.”
Seringaian terulas di wajah Habrian. Ia menarik penisnya keluar. Tangan kanannya melingkar di pinggang Revanda, membantu suaminya berdiri dan berbisik tepat di telinga si aries, “ayo ke kasur kalo gitu.”
Keduanya berpindah ke kasur. Revanda melepaskan kemeja yang masih semula masih melekat di tubuhnya. Ia mendorong tubuh Habrian hingga berbaring telentang. Pria mungil itu mengangkang, memegang penis Habrian dan mulai menurunkan pinggulnya untuk memasukkan kejantanan Habrian dalam lubang kenikmatannya.
“Ahhh, kalo aku di atas gini enak banget, mentok gitu,” gumam Revanda diselingi desahan nikmat.
“Please ride me, little daddy,” ujar Habrian disambut kekehan oleh Revanda.
“Okay, let daddy rides you, baby bear,” goda Revanda dengan nada mendayu.
Tangan Revanda bertumpu pada perut Habrian. Ia mulai menaik-turunkan pinggulnya, membuat dirinya sendiri menjerit merasakan nikmat yang luar biasa. Ia dapat merasakan ujung penis Habrian menghujam prostatnya berkali-kali dan sangat tajam.
“Shitttt,” umpat Revanda sembari memejamkan matanya.
“Mmhh kamu seksi banget, Re,” Habrian tak kuasa. Ia menaikkan pinggulnya, membantu Revanda untuk mempercepat genjotan panas itu.
Revanda menunduk. Ia meraih rokok yang tinggal sedikit di belahan bibir Habrian. Disesapnya rokok itu, membuat Habrian terkekeh pelan. “Udah lama ga liat kamu ngerokok, Re.”
Dengan turut tertawa pelan, Revanda terbata menjawab, “a-aku juga udah lama ga liat kamu ngerokok, Briih.”
“Iyalah, kita aja udah lama ga ngewe gini. Kan aku biasanya ngerokok pas kita abis ngewe.”
“Hehehe. Maaf yah, Bri. Nghhh sebulanan ini aku ga mood mulu diajakin ginian.”
“Iya gapapa, sayang. Yang penting sekarang udah mood.”
“Umhh iya- ahhh. Aku kayaknya mau keluarrr,” tutur Revanda seraya mempercepat gerakan pinggulnya.
“Nghh aku duluan kayaknya, Re. Dikit lagiii.”
Revanda berhenti sesaat untuk mematikan rokok pada asbak di atas nakas. Ia menepuk bahu Habrian, seakan memberi isyarat yang lalu dipahami oleh suaminya itu.
Habrian membalikkan posisi mereka. Kini Revanda terbaring di kasur, berada dalam kungkungan Habrian. Kaki Revanda melingkar di pinggang Habrian. Tempo pergerakan pinggul Habrian sangat cepat dan menggila karena ia rasa pelepasannya sudah akan tiba.
“Reee, aku keluarrr ahhhh,” Habrian mencapai putihnya terlebih dulu. Spermanya menyembur di dalam lubang Revanda hingga meleleh keluar.
“Aku belummm mhh bantuin, Briiih. Sedikit lagiii.” Revanda tampak frustasi, membuat Habrian meraih penis Revanda, mengocoknya cepat.
“Udah tegang banget gini padahal, Re.”
“I-iyah. Aku mau keluarrr.” Kocokan Habrian yang cepat pada penis Revanda membuat sang aries itu akhirnya sampai pada puncak kenikmatan. Spermanya menyemprot keluar, mengenai perut Habrian.
Habrian mengeluarkan penisnya. Ia terbaring di samping Revanda, yang langsung membuat Revanda menggeliat memeluknya dari samping.
Senyuman terulas di wajah Habrian. Ia merengkuh tubuh kecil itu dan mengelus punggung yang telanjang tersebut dengan penuh kelembutan. “Makasih ya, cinta,” ujar Habrian dan mengecup kening Revanda cukup lama.
Perut Revanda seolah tergelitik. Ia mengangguk, menengadah dan mempertemukan netra mereka. Dikecupnya sekilas bibir sang suami, “sama-sama. Aku seneng deh, kamu tuh selalu bilang 'makasih' setiap kita habis having sex gini.”
“Ya harus dong. Kamu ga selalu in mood buat ngeladenin napsu aku gini, cil. Jadi ya kalo pas kamu mau, aku harus bilang 'makasih'.”
Lagi dan lagi, Revanda bersyukur memiliki Habrian sebagai suaminya. Ia pun mengeratkan pelukan dan mengusak kepalanya pada dada Habrian. “Aku sayang banget sama kamu, Bri.”
Habrian tersenyum dan mengecup puncak kepala Revanda. “Aku juga sayang banget sama kamu, Re.”
Keduanya saling mendekap untuk melepas lelah sehabis kegiatan panas mereka tadi. Hingga Revanda kembali mendongak untuk berbicara pada Habrian, “mas, aku laper.”
“Ya udah aku siapin dinner dulu. Habis itu kita lanjut ya? Ronde kedua hehehehe,” ujar Habrian sembari menaik-turunkan alisnya.
Revanda hanya terkekeh pelan dan mengangguk. “Iyaaa. Ayo sana siapin makan! Aku harus ngisi tenaga lagi buat lembur malam ini sama kamu.”
Tawa Habrian pecah. Ia melepas pelukan, mengecup bibir Revanda sekilas dan beranjak dari kasur. Celana pendek ia tarik dari dalam lemari untuk dikenakan, membiarkan tubuh bagian atasnya tetap terekspos, membuat pandangan seksi ini sangat menyenangkan bagi Revanda.
“Mas!” teriak Revanda yang otomatis membuat Habrian berbalik ketika tangannya telah membuka pintu kamar.
“Kenapa, yang?”
“I love you, suamiku yang seksiiiii,” ujar si aries melukis raut ekspresi lucunya yang kontras dengan tubuh telanjangnya yang masih terpampang nyata.
Habrian terbahak. Ia membuat gerakan mencium ke arah Revanda, “I love you too, suami kecilku yang seksi jugaaaa. Tunggu disini ya. Nanti kalo udah siap, aku gendong kamu ke ruang makan.”
“Okeeeeey!”
schonewords