schonewords


Redy menoleh ketika telinganya menangkap suara derapan langkah kaki yang mendekatinya. Adalah Hadi yang mengulas senyum sembari berjalan ke arah Redy yang terduduk di atas motornya. Redy pun langsung beranjak dan tak lupa membalas senyuman sosok lelaki yang ia sukai itu.

Hey, sorry ya bikin kamu nunggu,” ujar Hadi.

“Gapapa, kok,” balas Redy sedikit kikuk.

Dua pemuda itu secara natural duduk berdampingan di atas motor Hadi. Sempat ada keheningan yang menciptakan rasa canggung di antara keduanya.

“Hadi,” panggil Redy.

Sontak Hadi menoleh, menatap Redy yang justru menunduk dengan salah satu kakinya yang bergerak memainkan pasir dengan pelan. “Kenapa, Red?” tanya Hadi.

“Itu...” ucapan Redy terhenti sejenak. Sesungguhnya ia bingung ingin memulai arah perbincangan ini dari mana. Ia kerahkan segala usaha dalam otaknya untuk merangkai kata dengan baik. “...kata Evanㅡ eh, Jevano...kamu tahu ya soal Kak Mario yang naksir aku?” sambung Redy sembari balik bertanya.

Hadi tersenyum tipis. Ia alihkan pandangannya untuk menatap nanar, mencoba menolak kalau saja nanti Redy menoleh dan melakukan kontak mata. Sejujurnya, ia tidak ingin ada pembahasan ini, tapi toh mungkin ada baiknya dibicarakan dari pada ia menyimpan rasa cemburu.

“Iya, aku tahu,” jawab Hadi singkat.

Redy mendengus pelan. “Yang naksir itu cuma dia kok. Dia memang pernah nembak aku, tapi aku tolak. Aku sama sekali ga ada rasa apa pun sama dia. Nyaman memang ngobrol atau belajar sama dia, tapi semuanya cuma sebatas aku yang anggap dia sebagai abang aku. Ga lebih kok,” tutur Redy guna menjelaskan, walau pun ia tak tahu apakah Hadi membutuh penjelasan ini atau tidak.

“Hmm, gitㅡ”

“Aku sukanya sama kamu, Hadi,” final Redy memotong ucapan Hadi.

Jelas netra Hadi membelalak dan ia segera menoleh ke arah Redy. Tatapan keduanya bertemu. Dapat Hadi lihat keseriusan yang tersorot dari kedua manik Redy. Pun Redy yang bisa merasakan rasa kagetnya Hadi akan ungkapan hatinya barusan.

“Red...kamu serius?” tanya Hadi yang tak percaya.

Redy terkekeh. Jujur, ekspresi kaget Hadi sangat lucu dan menggemaskan menurutnya. Mata yang membulat, mulut yang sedikit menganga, dan tubuh yang sedikit maju hingga jarak mereka mendekat.

“Serius. Ngapain juga aku bohong soal gituan. Lagian, I thought you already knew about it,” jawab Redy santai. Kelihatannya aja santai, padahal jantungnya sudah berdegup kencang bukan main.

Hadi seketika tertawa pelan. 'Benar juga, sih,' batin Hadi. Remaja gemini itu pun memberanikan diri untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Redy, hingga kini bahu mereka bersentuhan.

“Makasih, Red. Makasih udah jujur gitu. Makasih udah mau jelasin juga. Tadinya aku udah ngerasa 'kecil' aja dibandingkan Bang Mario,” ujar Hadi. Ia tersenyum memandangi setiap pahatan indah nan sempurna di wajah Redy yang selalu ia sukai. “Aku ga pernah nyangka bakal kamu duluan yang confess gitu, hahahaha.”

Pipi Redy bersemu, menciptakan semburat merah muda yang menambahkan sisi gemas dari dirinya. Kepalanya pun tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah itu. “Habisnya, yang waktu itu kan kamu ga jadi, terus ga pernah lagi bahas itu...ya akunya jadi kayak bingung, kamu tuh serius atau engga, kamu tuh sadar atau engga kalo aku juga suka sama kamㅡ” ucapan pelan Redy yang tak beraturan itu terpaksa terhenti ketika ia merasa sesuatu menyentuh pipinya.

Bukan hal yang familiar, tetapi justru hal aneh yang baru pertama kali ia rasakan. Ada sengatan hangat dan mengejutkan di saat yang bersamaan ketika hal itu menyentuh pipinya. Hal itu adalah kecupan singkat dari bibir Hadi yang melayang di pipinya.

Otomatis Redy mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak menatap Hadi yang malah tersenyum usil. “Hehehehe, kaget, ya?” tanya Hadi terkekeh pelan.

Wajah Redy semakin merah, maka ia layangkan pukulan ringan pada lengan Hadi. Ia kembali tertunduk, sedangkan Hadi terbahak kencang seraya mengusap tangannya. “Aduh! Sakit, Reddd. Hahahahaha.”

Redy memicingkan matanya menatap Hadi dengan tajam. “Lagian udah tahu kaget, masih aja pake nanya!” seru Redy yang membuat Hadi semakin tergelak.

Lengan Hadi merangkul bahu Redy. Ia eratkan hingga tubuh mereka berdekatan tanpa jarak. “Maaf, ya. Hehehehe,” ucapnya sembari mengelus bahu si mungil itu.

Redy mengangguk. Wajahnya masih memerah, namun ia telah memberanikan diri menatap Hadi. Ia menjulurkan tangannya yang membuat Hadi mengernyitkan dahi. “Apa nih?” tanya Hadi bingung.

“Mau dipegang tangannya kayak waktu itu,” jawab Redy pelan.

Hadi menahan tawanya, menggantikannya dengan senyuman lebar. Ia raih tangan yang lebih kecil ukurannya dari miliknya itu. Genggaman erat tercipta seiring bertautnya jemari mereka.

“Aku suka banget kalo tangan aku dipegang gini sama kamu,” ujar Redy jujur.

“Aku tahu. Aku juga suka,” tanggap Hadi. “Aku suka megang tangan kamu, merhatiin kamu, ngeliatin muka kamu, liat senyum kamu. Apa pun tentang kamu, aku suka. Intinya, aku suka sama kamu. Hehehehe.”

“Dih apaan sih,” Redy kembali tersipu.

“Hahahaha, gemes banget kalo malu gitu,” Hadi mengusap surai Redy. “Eh, jadi ini kamu yang nembak duluan ya, Red?”

Redy mengangguk dan protes, “Kamu kelamaan. Udah tahu kita saling suka, tapi malah ga nembak juga.”

Hadi kembali tertawa. Ia mengeratkan genggaman tangan mereka dan mengecup sekilas punggung tangan Redy yang halus. “Hehehe, maaf ya. Akhir-akhir ini kamu sibuk banget persiapan olim dan lomba lain, jadi aku ga mau ganggu dulu. Aku mau kamu fokus dulu buat lombanya gitu,” jelas Hadi.

Senyuman terulas di wajah Redy. Ia merasa hatinya menghangat mendengar ucapan Hadi barusan. “Makasih udah pertimbangin itu. Maaf, aku sempat ngiranya kamu malah udah ga tertarik lagi ngajakin aku jadian,” ucapnya.

“Ga mungkinlah! Aku udah ngasih tahu ke seluruh dunia kalo aku suka kamu, masa aku ga mau jadiin kamu pacar aku!” seru Hadi penuh semangat.

“Hehehehe ya udah, santai dong. Sekarang kan udah jadi pacar,” tutur Redy sembari terkekeh.

“Iya. Nanti mau dipamerinlah pokoknya. Akhirnya aku jadi pacarnya seorang Redy Zahid Waradana!”

“Hahahaha, kayak apa aja.”

Kedua remaja itu tertawa bersamaan. Tangan mereka senantiasa saling menggenggam erat tanpa mempedulikan tatapan orang lain yang memperhatikan.

“Red,” panggil Hadi.

“Iya?”

Ibu jari Hadi mengelus tangan Redy dengan pelan. “Nanti...malu ga kamu sebagai siswa kebanggaan sekolah, terus pacarannya sama aku?”

Dahi Redy mengernyit, “Ngomong apaan sih. Of course, not! Why should I feel that way tho?

“Ya, siapa tahu aja. Aku kan ga berprestasi gitu di bidang akademik kayak kamu. Aku cuma anak IPS biasa yang hobinya nge-band, main bola, main basket. Aku belajar cuma di sekolah. Aku ga bimbel, aku ga pernah belajar di rumah juga.”

“Hahahaha, Hadi Hadi,” Redy tertawa pelan mendengar ucapan Hadi. “Ngapain juga aku mesti malu karena hal itu? Biasa aja kali.”

“Serius? Kamu ga malu?”

Redy menggelengkan kepalanya. “Ngga. Kamu keren kok. Kamu udah hebat versi kamu sendiri. Aku suka kamu dengan kehebatan kamu yang tadi kamu sebut,” jawab Redy dengan pasti.

Senyuman pun merekah di wajah Hadi. “Makasih ya, Red,” ujarnya.

“Sama-sama, Hadi.”

“Pulang, yuk? Atau kamu mau kemana gitu? Biar aku anterin.”

Redy sempat berpikir sejenak. Kemudian ia menatap Hadi untuk berucap, “Makan sate padang, yuk! Aku punya tempat langganan yang enaaaak banget! Habis itu, kita jalan-jalan keliling aja. Kalo kamu capek bawa motornya, nanti gantian sama aku. Gimana?”

Hadi mengangguk setuju. “Boleh. Ayo, pergi sekarang!”


schonewords


Redy mengulas senyum ketika netranya menangkap sosok Hadi telah berdiri di depan pintu kelasnya. Langkah kakinya terhenti ketika jarak mereka sudah sangat berdekatan.

“Kok jadi kamu yang nyampe duluan di sini?” tanya Redy heran.

“Ga sabar mau ketemu kamu, jadi lari tadi dari belakang, hehe,” jawab Hadi dengan cengiran khasnya.

Redy terkekeh mendengar itu. Netranya melebar tatkala Hadi meraih tangannya, mulai menggenggamnya dan menuntun Redy berjalan ke sebelah kelas 11 IPA 1 yang kosong. Keduanya berdiri saling berhadapan di tempat yang sepi itu. Senyuman dilemparkan untuk satu sama lain, pun tatapan mereka terpaku pada sosok di hadapan masing-masing.

“Seneng ya tangannya dipegang gini?” Hadi kembali bertanya dengan ibu jarinya yang mengelus lembut punggung tangan Redy.

Yang ditanya hanya mengangguk sambil tersipu malu. Semburat merah muda tercipta di wajah tampannya. “Kamu seneng juga?” tanyanya tanpa berucap untuk menjawab.

“Banget,” jawab Hadi singkat. “Sama kayak kamu, aku juga ketagihan megang tangan kamu gini,” lanjutnya.

Wajah Redy semakin bersemu. Dua remaja itu tak sedikit pun melunturkan senyuman mereka, bersamaan dengan jemari yang saling bermain dalam genggaman.

“Jam berapa perform lagi?” tanya Redy.

“Ga tau. Aku tunggu mereka manggil aja,” jawab Hadi santai. “Nanti temenin lagi, ya?”

Si lelaki aries mengangguk. “Iya, tapi kali ini bohong lagi ga?” cibir Redy meledek Hadi.

Hadi terkekeh. “Enggak, kok. Tiga lagu lagi beneran sarannya Yeira semua. Yang tadi...aku minta maaf. Aku beneran ga bisa buat ga nyanyiin lagu untuk kamu, Red. Maaf, ya?” Hadi tampak melukiskan penyesalan di wajahnya.

Redy mengeratkan genggaman pada tangan Hadi, bahkan ia pun meraih tangan Hadi satu lagi untuk digenggam pula. “Gapapa. Lain kali jujur aja, ya? Tapi, aku jadi penasaran. Kenapa kamu mau nyanyi untuk aku?”

That's my way to express my feelings to you, Red. Aku ga sepinter itu untuk blak-blakan buat nunjukkin perasaan aku, jadi ya-”

“Makasih,” potong Redy.

Hadi terdiam. Ia menatap Redy dengan lekat, pun yang ditatap tersenyum lembut dengan tatapan yang teduh. “Makasih, Hadi. Aku seneng kamu nyanyi buat aku begitu. Aku seneng karena secara ga langsung, kamu ngasih tau ke semua orang tentang perasaan kamu ke aku. I feel so special, but...” ucapan Redy menggantung.

Redy menatap Hadi sama lekatnya. Tubuhnya telah dibawa melangkah maju sehingga jarak mereka sudah sangat dekat, bahkan hembusan napas satu sama lain pun terasa. “...I will feel much more special if you tell me in person. Just two of us. Just in front of me...like this,” lanjut Redy diakhiri dengan senyuman.

Rasa kaget menyambangi Hadi. Jantungnya telah berdebar sangat cepat layaknya pembalap di arena sirkuit. Otaknya telah berhasil memproses setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Redy. Maka, ia membalas, “Berdua kayak gini? Berarti aku boleh nanya ga nih?”

Anggukan tercipta di kepala Redy. “Boleh. Mau nanya apa?” Redy balik bertanya. Sejujurnya remaja aries ini pun juga deg-degan, seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Hadi.

“Redy, the song that I've sang before was indeed for you, to tell you about my feelings for you. Jadi...kamu mau ga-”

Drrt drrt!

Hadi menghembuskan napasnya gusar. Salah satu tangannya terlepas dari genggaman Redy untuk merogoh ponselnya, menjawab telepon dari Hilman yang langsung mendengungkan teriakan, “DI MANA LU, MONYET? BURU KE STAGE! INI JADWAL KITA PERFORM SEKARANG! CEPAT! LARI!”

Teriakan Hilman bahkan mampu didengar oleh Redy. Ia pun tertawa ketika sambungan telepon itu dimatikan. “Udah sana ke stage. Buruan lari, nanti aku nyusul. Ayo, sana!” titah Redy.

'Shit', batin Hadi.


schonewords


Disarankan sambil dengar lagu Jaz – Kasmaran yaaaa


Good morning, Ma'am Eliza, hehehehe.”

Sapaan Hadi mendapat perhatian dari sang guru yang namanya dipanggil, serta beberapa siswa yang berada di booth khusus kelas 11 IPA 1. Ada kernyitan di dahi si guru itu, namun kekehan justru mendominasi para siswa, terutama Redy yang menahan senyumannya.

“Hadi? Ngapain kesini? Stand ini belum siap,” ujar Ibu Eliza.

“Hehehe mau jemput Redy, ma'am,” jawab Hadi cengengesan.

Seluruh perhatian terpaku pada Redy yang hanya tersenyum kikuk. Netranya pun menatap Hadi yang kini tersenyum padanya.

“Hadi pacaran sama Redy?” tanya si guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas 11 IPA 1 itu.

Redy melotot, sedangkan Hadi terkekeh pelan. “Calon sih, ma'am. Doain aja, hehehehe,” respon Hadi yang membuat riuh seluruh teman sekelas Redy.

“Oh gitu. Ya sudah, mau dibawa kemana emang si Redy?” lagi-lagi sang guru menginterogasi.

“Ke dekat panggung doang, ma'am. Saya mau perform soalnya, butuh support system,” kembali Hadi menjawab dengan santai.

Sang guru tersenyum. Detik berikutnya ia mengangguk, seolah memaklumi romansa remaja yang telah biasa ia saksikan selama menjadi pengajar. “Redy, udah dijemput, nih. Nanti balik lagi kesini, ya,” ujar Bu Eliza kepada Redy yang kembali terbelalak.

“O-oh oke, permisi dulu, ma'am,” tanggap Redy yang langsung melangkah mendekati Hadi.

Tanpa basa-basi lagi, Hadi langsung meraih tangan Redy, menuntunnya untuk berjalan menuju panggung bersamanya. Otomatis hal ini menjadi pemandangan indah bagi para siswa yang sudah ramai di lapangan sekolah yang luas. Sorak-sorai pun turut terdengar mengiringi dua pemuda yang memang sudah ramai menjadi bahan perbincangan satu sekolah karena kedekatan mereka.

“Di-”

“Tangan kamu kecil banget deh, Red. Jadi enak megangnya,” tutur Hadi seraya melepaskan genggaman ketika mereka telah sampai di samping panggung.

Wajah Redy sudah merah sedari tadi. Pun mendengarkan ucapan Hadi barusan membuat jantungnya semakin berdebar kencang.

“Hadi, ayo naik ke stage,” panggil Syabil membuat Hadi dan Redy menoleh bersamaan.

“Kamu disini aja, ya? Ini tolong pegangin jaket aku yang kata kamu pake parfum Arab,” ujar Hadi diselingi kekehan.

Redy pun tertawa pelan dan mengangguk. “Semangat nyanyinya, ya. Jangan nervous, ada aku disini,” ucap Redy sembari tersenyum.

Hati Hadi menghangat. Ia pun mengelus pelan surai Redy dan membalas senyuman. “Makasih, Red,” balasnya.

Hadi berlari menyusul kedua temannya ke atas panggung. Mereka sigap mengambil posisi. Tak lupa Hadi menyapa seluruh penonton terlebih dahulu, meminta maaf pula karena tidak adanya Yeira dan Hilman untuk sementara waktu, sehingga ia harus menggantikan Yeira.

“Ya udah, kita mulai aja. Semoga masih terhibur walau pun bukan pake suara Yeira, hehehehe. Ini lagu untuk kalian semua yang lagi jatuh cinta dan mewakili isi hati Syabil juga yang lagi kasmaran, hehehehe,” ucapan Hadi menggema melalui mikrofon, membuat audiensi tertawa. Syabil pun mendelik ke arah Hadi yang hanya dibalas cengiran. Si ketua band itu hanya menggelengkan kepalanya, pasrah ketika namanya dijadikan tumbal.

Petikan gitar dari Syabil serta pukulan tangan Doni pada cajon menandakan penampilan mereka dimulai. Tangan Hadi pun bergerak santai memainkan shaker tabung untuk meramaikan instrumen musik mereka. Tarikan napas Hadi mulai menjadi sebuah lantunan merdu merapalkan lirik indah.

Aku di sini padamu Sekali lagi padamu Kubawakan rindu yang kau pesan utuh

Deg!

Redy kembali merasa deg-degan mendengar lirik indah dan suara merdu Hadi. Ia yakin bahwa kini ia lagi-lagi jatuh cinta kepada sosok yang tengah bernyanyi di atas panggung itu.

Aku disini untukmu Sekali lagi untukmu Percayalah, tak perlu lagi kau gundah

Netra Redy terpaku hanya pada Hadi seorang. Tangannya mempererat dekapan pada jaket si pemuda gemini itu. 'Lagunya...bukan buat gue, kan?' batin Redy.

Pun aku merasakan getaranmu Mencintaiku seperti ku mencintaimu Sungguh kasmaran aku kepadamu

Para penonton bersorak, seolah tahu kepada siapa lirik itu Hadi lantunkan. Redy hanya tertunduk sekilas berusaha menahan senyumnya. 'Ga mau kegeeran', kembali ia membatin.

Hidup adalah tentangmu Selalu saja tentangmu Sepertinya kau adalah candu bagiku

Hadi menoleh sedikit ke arah kirinya. Netranya bertemu tatap dengan kedua manik Redy, seakan ingin berujar bahwa lirik selanjutnya hanya untuk Redy.

Kau buat aku tak mampu Selalu saja tak mampu Menahan perasaanku atas dirimu

Pipi Redy bersemu merah. Ia tersenyum ketika Hadi pun mengulas senyuman disela-sela nyanyiannya.

Selanjutnya Hadi terfokus bernyanyi, diiringi harmonisasi oleh Syabil dan Doni. Para penonton pun turut bernyanyi bersama seraya mengagumi ketiga lelaki berbakat di atas panggung sana.

Penampilan dengan formasi dadakan itu berjalan mulus. Mereka mampu menyelesaikan performance dengan baik dan lancar. Tepuk tangan yang riuh diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada tiga anggota band tersebut.

“Hai, gimana penampilan aku tadi?” tanya Hadi ketika ia menghampiri Redy.

Redy mengulas senyum sembari menyodorkan jaket Hadi. “Amazing as always,” jawab Redy lembut.

Hadi pun membalas senyuman Redy dan meraih jaketnya. Ia tak berucap apapun lagi, hanya terus menatap Redy. Keindahan wajah Redy sangat disayangkan kalau tidak dinikmati dari jarak yang dekat ini.

“Si paling kasmaran,” ucap Redy tiba-tiba diselingi kekehan dan membuat Hadi terbelalak.

“Eh? Itu perwakilan hati Syabil kok, Red,” Hadi mencoba menjawab santai.

Syabil dan Doni menahan tawa mereka dari balik punggung Hadi, yang tentunya bisa disaksikan oleh Redy secara langsung. Redy pun maju satu langkah ke depan, hingga jaraknya semakin dekat dengan Hadi. “Aku ga suka sama orang yang bohong, Hadi. Aku juga ga suka sama orang yang ingkar sama omongannya sendiri,” ujar Redy.

Hadi gelagapan. Jujur, kini jantungnya berdetak dengan cepat, entah karena jarak yang sangat dekat atau karena ucapan Redy barusan.

“Lain kali, jangan begitu lagi, ya?” sambung Redy.

Kepala Hadi mengangguk. Ia tersenyum tipis, “Maaf ya, Red.”

Redy pun mengangguk dan tersenyum manis. Ia menengadah tangannya, terjulur ke depan Hadi. “Akunya ga mau dibalikin ke booth kelas aku?” tanyanya dengan ekspresi lucu.

'Duh gue gigit juga ni cowok. Lucu banget!' batin Hadi menjerit.

Tangan Redy diraih oleh Hadi, digenggam erat. Mereka saling bertatapan sebelum melangkah. “Ayo, aku balikin ke sana.”


schonewords


cw // nsfw, mature content, bl sex activities, kissing, oral sex, fingering, dirty talk, (agak) frontal, explicit


Gama mengangkat kepalanya ketika pintu ruangannya terbuka. Senyuman otomatis merekah di wajahnya tatkala sang suami hadir dari balik pintu dan bergegas menutupnya kembali.

“Ayaaaang!” seru Gala sembari berlari kecil menuju suaminya.

Bukan Gala namanya jika tidak melakukan hal-hal yang menggemaskan. Ia langsung sigap duduk di atas pangkuan Gama, memeluk erat leher suaminya itu, dan mengecup bibir penuh candu itu berulang kali.

“Capek?” tanya Gama lembut.

Gala menggeleng cepat. “Enggak sama sekali. By the way, aku wangi ga, Gam?”

Gama mencium leher Gala. Tak lupa membubuhkan kecupan ringan di sana yang membuat Gala geli tergelitik. “Wangi banget,” jawab Gama.

“Iya doooong! Aku nyempetin pulang dulu ke apart terus mandi. Mumpung syutingnya deket banget dari situ,” ujar Gala penuh antusias.

Kedua tangan Gama mengelilingi pinggang Gala semakin erat. Jarak sama sekali tak ada di antara mereka. Sesekali keduanya akan memagut bibir satu sama lain sekilas, atau hanya sekadar mengecup pipi gembul pasangan masing-masing. Semua hanya perlakuan manis, hingga suatu pergerakan dari Gala yang membuat Gama menciptakan seringaian di wajahnya.

“Hmm, Gal.”

“Hnghh, apa? Bentar, aku lagi enak begini sshh,” Gala merespon dengan menyelipkan lenguhan. Pasalnya, pinggulnya kini tengah bergerak maju mundur dengan tempo yang lambat.

Pergerakan itu membuat Gama meremas pinggang Gala dengan sensual. Gala yang sedang mencari kenikmatan dari friksi yang ia lakukan sendiri hanya dapat berpegangan erat pada bahu Gama.

“Gala sayang, dari pada begini mending yang lain. Aku bikin lebih enak, deh. Mau?” tanya Gama sedikit menengadah untuk menatap wajah suaminya yang telah memerah.

“Mauuuuu. Mana kado ulang tahun ak- AH! Gama, aku kaget!” Gala berteriak sembari memukul pelan lengan suaminya.

Gama baru saja mendudukkan Gala di atas meja kerjanya. Ia pun beranjak dari duduknya dan mengecup bibir Gala sekilas. “Sebentar ya, sayang,” ujarnya seraya berjalan menjauh dari Gala.

Langkah kaki Gama berderap menuju pintu. Tangannya dengan cepat menguncinya, agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangannya dan mengganggu kegiatan panas yang akan ia lakukan dengan suaminya. Netranya pun melirik ke arah jam dinding di ruangan yang menunjukkan pukul tiga sore.

“Buruan sini, Gamaaaaa,” panggil Gala dengan tidak sabar.

Gama terkekeh dan segera mendekati Gala. Ia kembali duduk di kursi kerjanya, dengan tangan yang bergerak melebarkan kedua tungkai kurus Gala. Gama pun langsung memajukan kursinya hingga posisinya kini berada di antara kedua kaki Gala yang sudah terbuka lebar.

“Hehe, mau ngapain kamu posisinya begini?” tanya Gala sembari mengelus surai coklat Gama.

“Mau nyepong,” jawab Gama enteng. Tangannya pun langsung sigap menurunkan ritsleting celana Gala dan melucutinya. “Udah dibersihin kan tadi?” Gama menengadah untuk bertanya kepada suaminya.

“Udah, mas,” jawab Gala lembut.

“Pinternya. Mas mulai ya, dek?”

Gala mengangguk cepat. Pertanyaan Gama saja sudah membuatnya Gila, apalagi ditambah dengan panggilan 'dek' dan nada suaranya yang rendah itu. Gala semakin yakin ia tak salah menikahi pria ini.

“Ahh...”

Desahan Gala mulai terdengar. Penisnya digenggam oleh Gama, diremas dan mulai dikocok pelan. Ujungnya pun diberi kecupan dari bibir Gama berulang kali, menciptakan sensasi geli yang meningkatkan libidonya. Tidak lupa pula dua bola kembarnya yang sesekali Gama emut.

“M-mas...masukin aja, siiihhh,” pinta Gala dengan tidak sabar. Perlakuan Gama saat ini membuatnya frustasi. Lidah Gama lihai menjilat penisnya dari atas ke bawah dan membuat gerakan memutar di ujung kejantanannya itu. “Gamahhh, pleaseee masuk- ahhh iya gituuuh,” Gala kembali mendesah ketika Gama akhirnya memasukkan penis Gala ke dalam mulutnya.

Kuluman Gama pelan dan naik-turun dalam tempo teratur. Perlahan ia mempercepat gerakan kepalanya agar penis suaminya masuk dan keluar dari mulutnya melaju cepat. Tak pula diabaikan bagaimana tangannya mengelus paha bagian dalam milik Gala dengan gerakan sensual, bahkan meremasnya pelan. Semua pergerakan itu membuat Gala benar-benar berada di puncak birahinya yang sangat ia nikmati.

“Ahhh, Gammm. Ahh ahh cepet banget, sayang. Nghhh,” ujar Gala sebagai bentuk protes. Bukan protes sebenarnya, hanya saja Gala tak kuasa merasakan kenikmatan yang menggila ini.

Gama pun menyelesaikan kegiatan servis oralnya itu. Kepalanya menengadah dan tak disangka Gala pun menunduk, hingga tatapan mereka bertemu.

“Enak, sayang?” tanya Gama.

“Enak hehehe,” jawab Gala sambil mengulas senyuman.

“Mau diapain lagi?”

“Hmm, kamu ga mau nenen, mas?” tanya Gala dengan sengaja melukis ekspresi imut, membuat Gama tertawa pelan.

“Aku nenen, tapi sambil fingering, boleh?” Gama melempar pertanyaan sembari bangkit dari duduknya.

Gala mengangguk memberi persetujuan. Ia pun berinisiatif menggenggam tangan Gama, meraih jari tengah Gama dan mulai ia masukkan ke dalam mulut. Jari tersebut dikulum, dihisap, dan dijilat guna membasahinya sebelum dimasukkan ke lubang anal Gala.

Pemandangan ini membuat napsu Gama kian meningkat. Wajahnya semakin mendekat dan tangan satunya mengangkat kaos yang dikenakan Gala. Gama merunduk, memulai servisnya pada kedua puting Gala.

“Nghh, Gammmh,” desah Gala melepaskan kuluman pada jari Gama.

Tangannya yang telah terbebas, Gama bawa turun ke bawah. Perlahan, ia memasukkan jari tengahnya yang basah ke dalam lubang Gala. Rintihan pun semakin keras terdengar kala jari tersebut dengan cepat menerobos anal Gala.

“Ssshh, enak banget di atas sama bawahhh.”

Gala terus meracau dan mendesah, sedangkan Gama terus menerus memberikan kenikmatan. Puting Gala dihisap kuat, bahkan digigit pelan hingga sang empu merintih merasa perih dan ngilu di saat yang bersamaan. Pun di bagian bawah sana, jari Gama kian bertambah memasukkan lubangnya, membuat Gala lemas merasakan nikmatnya kegiatan mereka ini.

“Gamhh, ahh ahh, please udahhh nghh udahhhh!” jerit Gala sembari menjambak pelan rambut Gama.

Gama menghisap kedua puting Gala bergantian dan semakin kuat. Jarinya semakin ia sodokkan lebih dalam lagi di lubang suaminya. Segala wujud protes Gala tak dihiraukannya sesaat, hingga sang suami mungilnya itu berteriak kuat, “Gamahh, udahhh! Sakit banget ini!”

Yang dimarahi hanya tertawa pelan. Ia pun berdiri tegak, mengecup bibir suaminya sekilas, tak lupa mengeluarkan jarinya dari lubang Gala dan berujar, “Hehehe, maaf, sayang.”

Bibir Gala mengerucut maju. Dia pun langsung melihat kedua putingnya yang memerah dan bengkak saat ini. “Liat niiih, bengkak jadinya,” gerutu Gala.

“Tadi siapa yang nawarin?” cibir Gama meledek.

“Hmm aku...” jawab Gala ragu dan mengundang tawa Gama.

“Ya udah sekarang dikasih yang enak beneran, deh.”

Gama membuka laci mejanya paling bawah. Tangannya sedih masuk ke dalam untuk meraih botol pelumas berukuran kecil yang selama ini ia simpan disana. Melihat itu, Gala pun tersenyum puas. Kedua kakinya semakin ia lebarkan dengan netra yang terfokus menatap suaminya yang tengah menurunkan celananya.

“Ugh, suamiku seksi banget kalo tititnya udah tegang gitu,” tutur Gala dengan nada yang ceria.

“Hahaha, jelaslah. Suami siapa dulu?”

“SUAMI AKU! Suaminya Gala!”

Gama terkekeh. Kini ia tengah sibuk mengocok penisnya sendiri. Detik berikutnya ia mengeluarkan kondom dari dompetnya. Pemandangan yang memuaskan lagi bagi Gala ketika Gama membuka bungkus pengaman tersebut dengan giginya. “Ah, seksi banget siiih, mas! Aku makin ga sabar ini mau dimasukin,” ungkap Gala melihat Gama yang sibuk membungkus penisnya dengan kondom dan melumuri lubrikan disitu.

“Iya iya, ayang. Ini dimasukin deh.”

Gala turun dari meja. Tubuhnya ia balikkan dan direndahkan, membiarkan kedua tangannya bertumpu pada meja. “Masukin sekarang, masss. Nih aku udah nungging gin- nghh, masss,” ucapan Gala tak selesai karena Gama langsung memasukkan ujung penisnya ke dalam lubang Gala.

Dua pemuda itu melenguh. Dengan gerakan yang pelan, Gama memasukkan penisnya hingga tertanam sempurna di dalam lubang kenikmatan tersebut.

“Ay, sempit banget.”

“Humm, titit kamu yang gede, Gammm.”

Lubang Gala mulai terbiasa dengan adanya penis Gama di dalam sana. Hal itu membuat Gama menggerakkan pinggulnya agak cepat. Genjotannya kian melaju bahkan menyentuh prostat Gala yang membuat Gala semakin mengerang nikmat.

“Hmhh ahh, ayang, disitu lagiiih. Kenain lagi, Gammmm.”

Sebelum menuruti permintaan suaminya, Gama mengeluar penisnya. Gala mengernyit heran, tetapi detik berikutnya ia paham. Gama membalikkan tubuh sang suami hingga mereka berhadapan. Keduanya saling melempar senyum dan berpelukan erat.

“Mmhh,” lenguh Gala ketika Gama memasukkan penisnya lagi.

“Lebih gampang masukinnya, ay. Udah longgar soalnya.”

Gama memeluk tubuh Gala dengan erat. Dipagutnya ranum menggoda milik suaminya, dilumat kasar dan dihisap kuat. Gala pun tak ingin kalah. Ia melumat balik bibir Gama dengan terburu-buru.

“Aw! Gama, jangan digigit- hmphhh,” teriakan dan protes Gala tak lagi mampu diselesaikan. Gama kembali meraup bibir tersebut hingga lidahnya bermain di dalam liang hangat itu.

Ciuman mereka tak kunjung melambat. Semakin kuat Gama menggenjot penisnya di bawah sana, semakin tergesa pula lumatan mereka. Saliva tidak mampu terbendung hingga lelehannya membanjiri ujung bibir keduanya.

“Mhh- Gamhh, fuck kamu kasar banget nghhh, sakitttt.”

“Tapi enak, ay?”

“Iyahh ahh tapi sakit, masss.”

Rintihan Gala diabaikan oleh Gama. Tangannya meremas pantat Gala dengan kuat seiring sodokan penisnya yang semakin dalam. Sang empu anal pun hanya bisa pasrah dan menikmati. Ia eratkan pelukan pada suaminya serta terus menggaungkan nama suaminya dalam desahannya.

“Mas Gamahhh, aku mau keluarhhh mhh m-mas...”

“Keluarin aja, sayang,” titah Gama seraya mengocok penis Gala.

“Ahh iyah ahh, masss.”

Gala mencapai puncaknya. Cairan putih meleleh keluar dari kejantanan Gala, memenuhi telapak tangan Gama hingga tak tertampung. Tubuh Gala lunglai dalam rengkuhan Gama yang masih menggenjot kuat lubang Gala.

“Mas, lama banget keluarnyahhh,” Gala mulai protes dengan lemah.

“Ini mau keluar kok, ahh sshh, adekkk.”

Desahan Gama menandakan putihnya telah sampai. Spermanya menyembur dan terbendung di dalam kondom.

Pria gemini itu mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Gala yang telah lemas pun diposisikan di pangkuan Gama. Keduanya berpelukan erat dengan tangan Gama yang mengelus pinggang Gala penuh kelembutan.

“Sakit ya, dek?”

Gala hanya mengangguk sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gama. Ia menggigit leher Gama dan menghisapnya kuat. “Sakit banget tauuuu,” gumamnya.

Gama pun terkekeh setelah meloloskan lenguhan akibat hisapan di lehernya. Yakin sekali bahwa kini tanda merah telah bertengger di sana. “Hehehe, maaf ya, ayang. Habisnya, kenapa ya kalo kita ngewe pas masih pake baju gini malah bikin napsu aku makin tinggi?” ungkap Gama.

“Kamu aneh.”

“Biarin. Aneh gini juga suaminya Gala.”

Gala tersenyum, merasa tergelitik dengan ujaran Gama barusan. Ia pun melonggarkan pelukan mereka untuk menatap wajah suaminya. Diberinya kecupan lembut pada kedua pipi Gama untuk mengucapkan, “Aku sayang banget sama Mas Gama.”

Senyuman terulas di wajah Gama. Kendati begitu, detik berikutnya ia terbelalak panik. Ibu jarinya segera mengarah ke bibir Gala. “Sayang, maaf, bibir kamu berdarah,” ujar Gama cemas.

Gala bukannya ikut panik, tapi malah tertawa pelan. Ibu jarinya pun bukan mengarah ke bibirnya, tetapi ke bibir suaminya. “Bibir kamu juga, mas. Hehehehe,” tanggapnya disertai cengiran.

Keduanya pun tertawa sembari menyeka bibir satu sama lain dengan tisu. Gama mengecup pelan bibir Gala dan menciptakan senyuman di wajah mereka berdua. “Maaf ya, sayang. Aku jadi nyakitin kamu gitu. Bibirnya perih banget ya? Lubangnya juga?” tanya Gama khawatir.

Gala menggelengkan kepalanya. Jemarinya mengelus pipi Gama dengan lembut. “Gapapa, kan udah biasa sakit karena main kasar, hehehe,” jawab Gala dengan santai.

Menit berikutnya, kedua manik Gala menyipit menatap Gama dengan lekat. “Gama, kok kamu ga ngucapin apa-apa sih di Twitter buat ulang tahun aku?”

Gama terkekeh. Ia meraih hpnya dan menjawab, “Sebentar, aku ucapin dulu.”

Sekian detik Gama sibuk dengan hpnya sambil tersenyum tengil. Gala sudah menaruh curiga dan sigap mengambil hpnya sendiri ketika Gama berkata 'sudah'.

“Ih, Gama! Kamu nyebelin deh! Masa cuma begini doang?! Mana bukan di main account pula!” Gala melayangkan protes dengan bibirnya yang maju.

“Hahahaha, aku bersihin dulu deh ini ya. Habis ini kita pergi makan.”

“Ga mau!”

“Harus mau. Aku udah nyiapin makanan spesial buat kamu,” ujar Gama enteng sembari mengeluarkan penisnya dari lubang Gala dan kembali mendudukkan Gala di atas meja kerjanya.

Gala masih merasa dongkol, namun matanya tetap mengikuti kemana pun Gama melangkah. Mulai dari berjalan membuat kondom yang menampung spermanya, memakai celana, mengambil tisu basah, dan membantu Gala membersihkan penisnya serta memakaikan celana.

Seluruh perbuatan Gama itu meluluhkan hati Gala. Kekesalannya digantikan senyuman manis. Ia pun menarik tangan Gama dan mengisyaratkan pelukan.

Gama membalas senyuman Gala dan pelukannya. “Masih kesel sama aku?” tanya Gama lembut.

“Enggak. Aku ga bisa kesel lama-lama sama kamu.”

Gama melepaskan pelukan dan membubuhi kecupan yang agak lama pada dahi Gala. Tangannya melingkar pada pinggang Gala. “Kita pergi makan sekarang, ya? Aku gendong kamu sampe parkiran.”

“Oke, Mas Gamaaaa!”


schonewords


cw // kissing


“Beneran dong,” Habrian menjawab dengan tegas.

“Tapi...kamu kan-”

“Aku udah siap, Re. Udah cukup waktu yang kamu kasih buat aku persiapin diri aku. Aku juga mau punya anak buat nyempurnain keluarga kita. And the day has come. Tinggal kamu tanda tangan, dan ya...kita udah bisa adopsi anak itu,” Habrian menjelaskan kepada suaminya.

Tanpa disadari mata Revanda telah berkaca-kaca. Ia meletakkan kertas tersebut dan langsung memeluk Habrian dengan erat. Penantiannya yang cukup panjang untuk mengadopsi anak telah berakhir. Segala usaha dan kesabarannya telah membuahkan hasil dan menjadi hadiah untuk ulang tahunnya.

“Makasih, Bri. Makasih banyak. Makasih,” lirih Revanda dalam rengkuhan Habrian.

Tangan Habrian mengusap punggung kecil Revanda. Ia mengangguk, “Sama-sama, sayang. Makasih juga udah sabar nungguin aku sampe siap untuk ini.”

Pelukan itu dilonggarkan dan Habrian sigap menangkup wajah Revanda. Kedua ibu jarinya mengusap air mata sang suami, memberikan senyuman, dan tak lupa mengecup kedua mata indah tersebut. “Revanda sayangku, senang?” Habrian bertanya dengan sangat lembut.

Revanda terkekeh pelan dan mengangguk. “Seneng banget. Makasih, mas! Aduh, gimana lagi aku bilangnya ya? Aku seneng bangettt! Aku sayang kamu. Aku selalu bersyukur punya suami kayak kamu. Semua hal yang kamu lakuin dan kasih ke aku hari ini, ga ada satu pun yang ga buat aku bahagia. Semuanya sederhana, tapi ngasih aku kebahagiaan yang gede banget. Makasih, sayang,” hatur Revanda dengan tulus.

“Re, dari awal aku naksir kamu, yang ada di pikiran aku cuma cara-cara buat kamu bahagia. Maaf, aku ga bisa ngelakuin atau ngasih hal-hal mewah untuk kamu. Bukannya ga mampu, tapi bagi aku, cukup hal kecil aja yang bisa bikin kamu bahagia. There were no cozy lunch, expensive dinner, and luxurious gift for you today. But I can tell that you're beyond happy for everything I gave so far. Aku bener, kan?”

Anggukan cepat dari Revanda menandakan ia setuju dengan semua yang disebutkan oleh Habrian. Tidak ada kemewahan hari ini. Semua sederhana. Mulai dari pelukan di pagi hari, makan siang, hingga makan malam. Kendati begitu, Revanda sangat bahagia. Terlebih lagi, hadiah yang diberikan Habrian benar-benar di luar ekspektasinya.

“Dan untuk hadiah itu, sesuai mau kamu, aku udah adopsi anak laki-laki. Dua minggu yang lalu aku ikut Ales volunteer ke panti asuhan. Waktu itu kebetulan ada ibu-ibu yang nyerahin anaknya disana. Anaknya lucu banget, tapi kasihan karena harus diserahin ke panti asuhan itu,” ujar Habrian.

“Kenapa, mas? Ibunya ga mampu atau...?”

Habrian tersenyum tipis sembari mengelus rambut Revanda. “Ibunya sakit parah dan umurnya ga panjang lagi, makanya anaknya dibawa ke panti asuhan. Ayahnya udah ga ada juga. Aku kasihan liatnya, terus aku ngomong ke Ales kalo aku mau adopsi anak itu. That quick, but I was very sincere to adopt him.”

Revanda otomatis memeluk Habrian dengan erat. “Makasih, mas. Ya ampun...aku...ga tau mau ngomong apa lagi. Kamu baik banget,” lirih Revanda.

“Hahaha. Kata Ales, itu tanda aku udah punya jiwa seorang ayah. Aku rasa itu bener sih.”

Keduanya terkekeh pelan. Revanda mengangguk dan kembali menatap Habrian. “Iya. Ketulusan kamu langsung mau adopsi dia udah jadi pertanda kalo kamu siap buat jadi ayahnya. Mas, aku seneng banget dengernya,” ucap Revanda semangat.

“Sama-sama. Sekarang kamu tanda tangan dulu. Besok, kita beli peralatan bayi dan sekalian jemput babynya. Oke?”

Revanda mengangguk penuh antusias. Ia mengecup bibir suaminya sekilas sebelum berucap, “Once more, thank you so much, Bri. I love you!

I love you even more, Re.”

Sepasang suami itu berpelukan. Tangan Revanda mengalung di leher Habrian, pun kedua lengan Habrian mengelilingi pinggan Revanda. Bibir keduanya bertaut, saling mencumbu dan melumat pelan. Mereka salurkan perasaan bahagia kepada satu sama lain melalui pagutan tersebut.

“Selamat ulang tahun, sayang,” bisik Habrian disela-sela ciuman mereka yang perlahan mulai menjadi cumbuan panas.


FIN


schonewords


Habrian dan Revanda telah sampai di kediaman orang tua Revanda. Rumah yang menemani masa remaja Revanda dan tepat berseberangan dengan rumah orang tua Habrian. Mengingat banyak kenangan dilaluinya di rumah ini, Revanda tersenyum dan hatinya menghangat.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Habrian menatap suaminya dan turut tersenyum pula.

“Gapapa, cuma keinget aja ada anak tetangga dulu yang suka teriak dari rumah yang di depan tuh,” jawab Revanda menggoda suaminya

Habrian terkekeh geli mengetahui bahwa dirinya tengah digoda oleh sang suami. “Tengil banget ya tetangga kamu teriak-teriak,” ujarnya tertawa geli. “Ayo, kita masuk.”

Keduanya turun dari mobil dan memasuki rumah besar yang tak dihuni seminggu belakangan. Revanda mengedarkan pandangan dengan netra yang membelalak. Rumahnya terlihat bersih dan ada beberapa lampu kecil yang menghiasi dinding ruang keluarga.

“Bri, kamu yang nyiapin ini?”

Habrian menggeleng mendengar pertanyaan tersebut. “Pembantu kamu, hehehehe,” jawabnya disertai cengiran.

Revanda terbahak. Ya, kalau dipikir-pikir, Habrian tak punya banyak waktu untuk menyiapkan dekorasi seperti ini. Terlebih lagi, Habrian bukanlah tipe yang mau ribet dengan hal-hal kecil begini.

“Cil, duduk sini,” Habrian menepuk pelan sofa yang ada di ruang tengah.

Revanda menurut. Ia duduk tepat disebelah Habrian, langsung memeluk tubuh suaminya tersebut. “Kamu ngapain bawa aku kesini?” Revanda menengadah untuk bertanya.

Habrian merangkul Revanda dengan erat. Dikecupnya hidung mancung suaminya yang tengah berulang tahun itu. “Papi sama mami kamu ga ada disini hari ini. Aku mau kamu tetap ngerasain adanya mereka buat ngerayain ulang tahun kamu, makanya aku bawa kamu kesini.”

Ah, Habrian dan jalan pikirannya ini selalu menjadi daya tarik tersendiri. Revanda lagi-lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan sosok pria hebat ini. “Makasih, mas,” gumamnya seraya memeluk tubuh Habrian dengan erat.

“Sama-sama. By the way, ini bukan hadiah spesial yang aku maksud loh,” ujar Habrian.

Revanda sontak melepaskan pelukan. Ia menatap suaminya dengan penuh kebingungan, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis. “Terus? Apa dong hadiahnya?” tanya Revanda penuh rasa ingin tahu.

“Sebentar,” jawab Habrian sembari meraih tasnya yang berada tak jauh dari sofa. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran besar dan menyerahkannya pada Revanda. “Hadiahnya ada disini,” tutur Habrian.

Revanda langsung meraih amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas di dalam sana. Iris matanya seketika melebar ketika membaca deretan kata di sana. Mulutnya terbuka. Revanda sepenuhnya terperangah saat final membaca kertas tersebut.

“M-mas...ini...beneran?”


Schonewords


Revanda benar-benar terperangah. Bertahun-tahun ia telah mengenal Habrian, namun tetap saja segala perlakuan Habrian padanya kerap mengundang rasa kaget yang luar biasa.

Disinilah mereka. SMA Nusa Global, sekolah tempat mereka dahulu menimba ilmu. Tempat yang menjadi saksi bisu segala wujud perjuangan seorang Habrian Dewananda Pratama dalam mengejar cintanya. Tempat yang menoreh sejuta memori dalam terjalinnya hubungan kasih Habrian dan Revanda yang pada masanya menjadi cerita romansa favorit seantero sekolah.

“Kamu ngajakin aku makan siang disini, mas?” Revanda masih terbelalak seraya mengikuti langkah kaki Habrian dan menggenggam tangan suaminya.

“Iya. Aku tahu, kamu pasti kangen sotonya Bu Dewi deh,” ujar Habrian.

Revanda tertawa pelan. Ia mengangguk dan semakin mengeratkan genggaman. “Kangen banget! Ya ampuuuun, udah lama banget aku ga makan soto Bu Dewi,” tutur Revanda penuh semangat.

“Ya udah, ayo cepet jalannya. Udah laper pasti-”

“Mas,” potong Revanda.

Langkah kaki mereka terhenti tepat ketika nyaris memasuki kawasan kantin sekolah tersebut. Revanda menggerakkan tubuh mereka agar saling berhadapan. Senyuman jelas dilemparkan sosok yang tengah berulang tahun itu kepada sang suami.

“Kenapa?” tanya Habrian dengan dahi yang mengernyit.

Revanda mengikis jarak, memeluk tubuh Habrian dengan erat tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. “Makasih, ya. Baru begini aja aku udah seneng banget,” hatur si aries.

Habrian tersenyum. Tangannya mengusap punggung mungil Revanda seraya mengangguk, “Sama-sama, sayang. Glad to know that you like it even though this one is just a simple lunch menu in simple place.”

Pelukan sedikit dilonggarkan guna Revanda menengadah, mempertemukan kedua maniknya dengan netra indah Habrian. Revanda tampak enggan melunturkan senyumannya, sehingga ia biarkan terus terpatri di wajah tampannya. “Seperti biasa, kamu selalu ngasih hal-hal sederhana, tapi bisa bikin aku bahagia ga ketolongan,” ungkap Revanda.

“Hahahaha, ya udah mending kita makan sekarang. Jam istirahat aku ga panjang loh, yang,” balas Habrian diselingi tawa kecil. “Lagian nanti sore kita bakal pergi lagi. Jadi, sekarang kita jangan lama-lama. Ini baru hadiah pertama dari aku, soalnya masih ada hadiah-hadiah selanjutnya.”

'Hal-hal mengejutkan apa lagi ya?'


Schonewords


cw // mature content, boys sex activities, kissing, smoking, nipple sucking, use vibrator, spank, hand job, penetration, kinda explicit, a lil bit dirty talks

PLEASE BE WISE!


Habrian tersenyum kala melihat sang suami mungilnya telah menunggu di teras lobi gedung kantornya. Revanda berlari kecil memasuki mobil dan menyamankan duduknya di samping kursi kemudi.

“Halo, sayang,” cup, Revanda menyapa Habrian dan langsung membubuhi kecupan di bibir suami tercintanya itu.

Habrian tersenyum, mengelus kepala Revanda, dan mulai melajukan mobilnya. “Gimana hari ini? Capek?” Habrian tak pernah absen menanyakan hal ini kepada Revanda.

“Lumayan. Tadi ada klien, minta desain interior gitu kan buat apartemen barunya, aduh tapi ribet banget. Aku sampe sebel deh. Untuk aja ada anak intern gitu yang pinter dan mau handle,” Revanda menjawab dan tak lupa menggerutu.

Habrian meraih tangan Revanda, menggenggam erat dan mengistirahatkan tangan mereka di atas paha Revanda. “You did well, baby,” tutur Habrian sembari mengulas senyum.

Revanda merasa perutnya tergelitik. Suaminya selalu saja manis hanya dengan mengucapkan kata-kata sederhana. “Kamu gimana hari ini, mas? Kerjaannya masih banyak juga?” Revanda memandang suaminya.

“Ngga juga, semenjak udah nambah anggota tim jadi lumayan ringanlah kerjanya,” jawab Habrian dengan santai.

“Asyik dong. Jadi ga sering lembur kan?” Revanda bertanya dengan antusias.

“Tetap lembur,” Habrian masih menyahut santai.

“Loh? Kok-”

“Lemburnya sama kamu di rumah,” jawaban Habrian memotong ucapan Revanda seraya tangannya mulai melepas genggaman, bergerilya mengelus paha Revanda.

Revanda tak mampu menahan tawa. Ia terbahak mendengar ucapan sekaligus perbuatan tangan Habrian saat ini. Sudah sangat hapal dengan tingkah laku suaminya jika sedang menginginkan kegiatan panas yang memang akhir-akhir ini cukup jarang mereka lakukan.

“Kita masih di jalan loh, mas,” Revanda mencoba menahan tangan Habrian.

“Iya tau kok,” dengan enteng Habrian menanggapi. “Ini menjelang sampe rumah aja, cil,” tukas Habrian sembari kembali mengelus paha Revanda.

Kepala Revanda menggeleng dan dahinya mengernyit. Tatapannya sinis kepada sang suami untuk bertanya, “habis ngapain sih di kantor sampe balik-balik malah horny?”

Kini berganti, tawa Habrian yang pecah. Sekali pun begitu, tangannya tetap bermain pada paha Revanda bahkan sekarang telah menelusup meremas pelan bagian dalam paha mungil itu. “Baju kamu tuh, kancingnya kebuka apa sengaja dibuka yang atasnya? Gimana aku ga tergoda coba.”

Otomatis Revanda menunduk dan melihat kancing bajunya yang terbuka. Pantas saja Habrian bisa terpancing birahinya, dada mulus Revanda jelas terpampang nyata sedari tadi.

“Ga sengaja ini, mas,” tutur Revanda pelan.

“Iya gapapa, cinta.”

Tangan Habrian tak sedikit pun lengah. Remasan pelan terus-menerus ia lakukan pada paha Revanda. Lenguhan pun perlahan mulai terdengar tatkala sesekali tangan Habrian tak sengaja menyentuh kejantanan milik Revanda.

“Bri, bisa ga nanti aja di ruma-ahh...” remasan di paha bagian dalamnya semakin kuat, membuat Revanda mendesah nikmat.

“Gapapa, cil. Ini bikin aku sama kamu tegang aja, biar nanti sampe rumah tinggal langsung masukin hehehe,” Habrian dengan santai menanggapinya.

Mobil mereka terhenti ketika lampu lalu lintas baru saja berganti warna menjadi merah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Habrian untuk mencumbu suaminya, menyesap bibir candu itu dan membubuhi gigitan pelan.

“Hmhh,” Revanda mendesah tertahan ketika bibir bagian atasnya dihisap kuat oleh Habrian. Lidah Habrian pun melesak ke dalam mulut hangat Revanda, sempat bermain di dalam sana.

“Mhh lampunya ijo- mas...”

Suara klakson terdengar riuh dari belakang mobil mereka. Habrian menyeringai dan mulai melajukan mobilnya lagi.

“Ga sabaran banget sih, Briiii,” Revanda melayangkan protes. “Padahal nanti kalo di rumah lebih puas.”

“Ga bisa ditahan, sayaaaang. Udah mau sebulan tau kita ga having sex.”

“Ya tapi ga di mobil juga kali ih.”

You know me, cil. Aku susah buat nahannya.”

“Selain susah nahan, kamu tuh fantasinya suka aneh-aneh tau, Bri.”

“Hehehe kan nyobain hal-hal baru.”

“Hari ini mau nyobain apa?”

“Buka baju dong, cil,” ujar Habrian dengan santai tanpa melirik ke arah Revanda yang tengah melotot sekarang. “Sekarang buka bajunya. Eh, atau buka celananya aja.”

“NGAPAIN?!” teriakan Revanda menggema di dalam mobil, menciptakan gelak tawa pada Habrian.

“Buruan, buka celana kamu. Nanti juga tau aku mau ngapain.”

Revanda terpaku. Ia sungguh tak mengerti dengan suaminya yang jika tengah napsu seperti ini, suka meminta hal-hal yang membingungkan.

“Ayo dong, cintaaaaa. Buka celananyaaaaa,” Habrian akhirnya menoleh sekilas, memperlihatkan wajah manjanya.

“Ck. Iya iya ini aku buka.” Revanda menurut, menurunkan celananya beserta celana dalamnya. Kejantanannya yang sedikit menegang pun terekspos. Revanda tidak merasa terpaksa, karena jujur saja ia selalu suka meladeni suaminya dalam hal vulgar seperti ini. “Dingin, Briiii.”

Habrian menjalankan mobil di lajur kiri serta menurunkan kecepatannya. Ia memperhatikan bagian bawah Revanda yang telah terbuka. Tangannya meraih penis Revanda, membuat si mungil itu mendesah nikmat, “a-ahh...”

Suara mendayu indah itu semakin meningkatkan birahi Habrian. Penis Revanda digenggam erat dengan ibu jari Habrian memainkan ujungnya, menggeseknya pelan saluran kencing itu, membuat Revanda menggelinjang resah.

“M-mas Bri...nghh yang bener aja siiih, lagi di jalan loh,” Revanda berusaha untuk melayangkan protesnya.

“Semakin menantang gini, semakin enak kan, yang?” pertanyaan itu terlontar beriring seringai khas Habrian.

'Sinting!'

Revanda ingin merutuki suaminya, namun yang keluar dari mulutnya justru desahan-desahan kenikmatan. Tangan besar Habrian memijat penisnya pelan, kemudian tak lupa meremas dua bola kembar di penghujung kemaluan itu. Revanda mampu merasakan jari Habrian mulai mundur ke belakang.

No. Jangan, aku belum bersihin disitu, nanti aja di rumah,” Revanda menahan tangan Habrian ketika ia rasa jari tengah pria gemini itu nyaris menerobos lubang analnya.

“Hehehe yaudah. Bentar, aku ngebut deh, udah ga tahan banget,” ujar Habrian melepaskan tangannya dari selangkangan Revanda untuk kembali ke kemudi.

“Bri???? Aku literally udah tegang banget ini dan kamu biarin aku kedinginan ga pake celana?” Revanda protes.

Habrian terkekeh. Ia pun meraih tangan Revanda, mengarahkannya ke penisnya yang masih terbungkus celana. “Aku juga udah tegang ini, yang. Makanya aku mau ngebut biar cepet nyampe rumah.”

Bibir Revanda maju, namun tangannya pun mengambil kesempatan. Ia remas penis Habrian hingga suaminya menggeram berat. “Biar adil, gini aja ya, mas,” Revanda menyeringai sembari menurunkan ritsleting celana Habrian, mengeluarkan penis suaminya itu.

Shit, Revanda,” Habrian mengumpat karena saat ini tangan Revanda tengah menyervis kemaluannya. Lelaki gemini itu berusaha keras untuk fokus pada kegiatan nyetirnya karena sedikit lagi mereka tiba di rumah tercinta.

“Awas kamu nanti ya, Re.”


“Cintaaaa, buruan!” Habrian teriak tepat di depan kamar mandi.

Sejak turun dari mobil, Revanda langsung lari ke dalam kamar mandi. Katanya sih ingin langsung bersih-bersih untuk memuaskan suaminya nanti.

Habrian sendiri memilih untuk menunggu di kamar, masih rapi dengan kemeja yang ia pakai kerja tadi. Lima belas menit Revanda berada di kamar mandi terasa seakan lima belas jam untuk Habrian yang sudah kepalang tak kuasa menahan birahinya.

“Rev-”

Baru saja Habrian hendak berteriak lagi, Revanda telah keluar dari kamar mandi. Tak ada celana yang dikenakan, hanya kemeja biru oversized dengan kancing bagian atas yang telah terbuka. Revanda terlihat sangat seksi dan semakin menggoda karena baru saja menyemprotkan parfum andalannya.

“Apa sih, suamikuuuu? Ga sabar banget ya?” Revanda mengalungkan tangannya di leher Habrian, bergelayut di tubuh suaminya itu yang menyambutnya dengan lingkaran tangan pada pinggang ramping Revanda.

“Iya. Kamu lama banget di dalam.”

“Kan aku bersih-bersih dul-”

Habrian tak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut Revanda kecuali desahannya. Bibir itu terkunci dengan lumatan basah yang terburu-buru dan berantakan. Kedua pria itu tampak ingin mendominasi cumbuan panas mereka.

“Mmhh,” Revanda melenguh sembari menekan tengkuk Habrian.

Pagutan sensual itu tak berlangsung lama. Habrian melepaskannya, menatap sang suami dengan tatapan sayu. “Nungging, yang,” titah Habrian yang langsung dituruti oleh Revanda.

Plak!

“Aahh!” Revanda meraih sandaran kursi di hadapannya untuk bertumpu. Ia meremas kuat sandaran tersebut ketika bokongnya dipukul cukup kuat oleh Habrian.

Plak!

Sekali lagi, Habrian menepuk kuat pantat Revanda yang setengahnya tertutup oleh baju. Di dalam sana, tubuh Revanda tak terbungkus apa pun kecuali kemejanya. Oleh karena itu, Habrian sangat tergoda menyuruh Revanda menungging, membuat bongkahan sintal itu terekspos sedikit tanpa adanya celana dalam yang menutupi.

“Seksi banget sih kecilku ini,” ujar Habrian sambil mengangkat kemeja, membuat pantat Revanda akhirnya terlihat dengan jelas. Ada ruam merah bekas pukulan Habrian, tercetak membentuk telapak tangan si gemini itu. “Gemesnyaaa.”

“Hnghh perih tau, Briiii,” Revanda menutup matanya, membiarkan tangan Habrian meremas bokongnya dengan sesekali memukulnya pelan.

“Perih juga kamu suka kan kalo digituin?” tanya Habrian sembari menyeringai.

Revanda mengangguk. Ia berinisiatif untuk semakin menunduk dan mengangkat pinggulnya, seolah ingin menunjukkan lubang analnya yang baru saja ia bersihkan itu. “Merah ga, mas?”

Habrian melebarkan pipi pantat Revanda, menatap lubang kenikmatan itu dengan tatapan penuh napsu. Ia merunduk, menjilat sekilas dinding sekitar lubang anal Revanda, “merah banget. Udah ga sabar mau dimasukin?”

“Iyaaaa, tapi jangan langsung dimasukin ya? Dilicinin dulu. Besok aku masih harus kerja loh. Kan ga lucu jalannya susah karena pedih.”

Habrian terkekeh mendengar suaminya, “iya, sayang. Disini aja ya?”

“Disini? Sambil berdiri gini? Mau nyobain apa kali ini?”

Plak!

“Argh!”

Kembali Habrian memukul pantat Revanda dan langsung mengelusnya dengan gerakan sensual. “Biar bisa liat di kaca tuh.”

Revanda hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Suaminya punya sejuta fantasi seksual yang tak jarang membuat Revanda kewalahan.

“Sebentar ya, sayang,” Habrian menegakkan tubuh Revanda, mengecup bahunya lembut. “Ada yang mau aku ambil dulu.”

Revanda mengangguk. Ia memutuskan untuk duduk di kursi yang tadi menjadi pegangannya. Netranya mengikuti arah suaminya berjalan yaitu ke nakas di samping pintu kamar mereka.

Adalah botol lubrikan, sekotak rokok, dan...sebuah benda yang membuat Revanda terbelalak. Detik berikutnya dua pria itu tertawa ketika Habrian menghampiri Revanda.

“Mau ga pake ini?” tanya Habrian seraya mengangkat sebuah vibrator panjang bersama biru tua.

“Ga mau! Punya kamu ada kok, ngapain pake itu segala?” Revanda menggeleng cepat.

“Tapi aku mau liat kamu pake ini dulu, sayang.”

“Yaelah, Briiiii.”

Please, sayangggg,” Habrian tampak memelas.

Sang pria aries hanya dapat menghela napas berat. Ia mengangguk, membuat Habrian langsung tersenyum puas. “Tapi sebentar aja ya?” nego Revanda dan disetujui oleh Habrian.

Tangan Habrian melebarkan kedua tungkai Revanda dan menekuknya di atas kursi. Kejantanan dan lubang anal Revanda kini terekspos secara bebas. Habrian meraih botol lubrikan, melumurinya pada vibrator yang kemudian diberikannya kepada Revanda. Cairan pelicin itu pun dilumuri pada lubang senggama sang pria aries.

“Nih, kamu yang masukin sendiri, cil,” Habrian menyodorkan vibrator dan segera diraih oleh Revanda.

Tak butuh waktu lama, Revanda langsung pelan-pelan memasukkan sex toy itu ke dalam lubang analnya. Habrian mundur. Ia memutuskan untuk duduk di ujung kasur, mulai menyesap rokoknya dengan netra yang tak lepas dari suami seksinya itu.

“A-ahh, ngh gede banget sih iniiih,” Revanda bersusah payah memasukkan vibrator.

Habrian terkekeh. Ia melonggarkan dasinya, membuka dua kancing teratas kemejanya. “Dorong langsung, yang,” perintah Habrian sembari menghisap rokoknya lagi.

Si aries menuruti perintah suaminya dan langsung menjerit, “AAHHH!” Vibrator masuk dengan sempurna dan dibiarkan sejenak oleh Revanda agar lubangnya menyesuaikan benda itu.

Habrian berdiri, melangkah mendekati Revanda. Ia menyematkan rokok di belahan bibirnya, sedangkan tangan kanannya yang terbebas menyentuh vibrator, menekan tombol on yang membuat benda itu bergetar di dalam lubang Revanda.

“Ahh...shit, Bri sshh,” Revanda mulai merintih merasakan getaran di lubangnya. “Hmmh, aneh banget sih pake inih.”

“Aneh kenapa, cinta?”

“Y-ya anehhh, soalnya ga biasa pake ini- AHHH!” Revanda menjerit karena Habrian meningkatkan tingkat getarannya.

Habrian menatap wajah Revanda. Mata si aries itu terbuka dan terpejam seiring kenikmatan yang ia rasakan. Mulutnya terbuka, mendesahkan nama suaminya dengan keras hingga saliva meleleh di ujung bibirnya.

“Enak ga, cil?”

“Nghh enak ahh, t-tapi enakan punya kamu, Briii.”

“Iya nanti ya, sayang.”

Habrian meletakkan rokoknya di asbak. Tangannya sigap melepaskan semua kancing kemeja Revanda, memperlihatkan tubuh putih nan mulus si pria mungil itu. Ia bersimpuh pada lututnya, memajukan tubuhnya untuk menjilat lingkaran pada puting Revanda. Tonjolan coklat itu ia hisap kuat, membuat erangan Revanda semakin kuat terdengar.

“Arghh, Briaannn.”

Teriakan Revanda semakin meningkatkan libido Habrian. Tangan Revanda ia tuntun untuk menggenggam erat vibrator, sedangkan tangannya sendiri memanjakan penis suami mungilnya itu.

“Briannnh, ahh gila ini aku sshh nikmat banget semuanyahhh,” Revanda menjerit nikmat. “Mas Bri, udah donghh sshh, masukin punya kamuuuh.”

Habrian yang telah puas bermain di dada Revanda langsung mengangkat kepalanya. Ia berdiri dan merunduk, mempertemukan bibir mereka dalam cumbuan kilat. Tepat di depan wajah Revanda, Habrian bertanya, “siap lembur sama aku?”

Kekehan lolos dari mulut Revanda. Ia mengangguk, “iya siap. Tolong keluarin vibrator-nya, mas.”

Kecupan ringan dibubuhi oleh Habrian pada dahi Revanda. Tangannya menekan tombol off pada vibrator, dengan pelan mengeluarkan sex toy tersebut membuat Revanda melenguh.

“Bukain baju aku dong, cil,” pinta Habrian yang langsung disetujui Revanda.

Dengan lihai Revanda melucuti seluruh kain yang menutupi tubuh suaminya. Kini yang terpampang di depannya adalah Habrian yang sudah telanjang tanpa busana.

“Ayo nungging lagi,” Habrian menarik tangan Revanda. Ia tak lupa menyingkirkan kursi, menuntun Revanda membalikkan tubuhnya dan berpegangan pada meja rias mereka.

“Jangan dipukul lagi pantat aku, Bri. Udah perih banget,” Revanda mendelik ke belakang, menatap Habrian dengan tajam.

“Hahaha iya, sayang,” tanggap Habrian sembari melumuri penisnya dengan pelumas. Kejantanannya ia kocok sekilas, kemudian menggesekkan ujung penisnya pada lubang Revanda yang merekah.

“Hnghh digesekin aja udah enak, masss.”

“Hmm iya, cil. Tahan ya sakitnya.”

“Iya. Pelan-pelan aja, mas.”

“Iya, cintakuuuu.”

Perlahan, Habrian mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anal Revanda. Ia meringis, begitu pula dengan Revanda yang merintih menahan sakit. “Fuck sempit banget, Reee.”

“Anghh dorong terus, Briii. Ughh ngilu kalo kamu berentiii.”

Habrian terus mendorong pinggulnya hingga kemaluannya masuk sempurna di dalam lubang hangat nan sempit milik Revanda. “Ughh,” Habrian mengerang pelan.

“Ahhh! Gede bangettthh,” rintih Revanda.

“Segini aja padahal, yang.”

“Masa sih? Apa karena udah lama ga dimasukin- ahh, Briannn.”

Bagi Habrian, kini Revanda terlalu banyak bicara. Maka Habrian gerakan pinggulnya perlahan, membuat penisnya mulai keluar dan masuk dengan tempo teratur.

“Sshh ngilu, Briiih.”

“Ya sama, ini aku juga ngilu, yang. Sempit bangettt.”

Pelan-pelan, Habrian menaikkan tempo pergerakan pinggulnya. Genjotan pada lubang senggama Revanda semakin cepat.

“Re, liat tuh di kaca, kamu seksi banget keenakan gitu.”

“Hnghh kamu juga ganteng banget, Briii.”

Jika ada yang bertanya, mengapa pasangan ini saling memanggil nama satu sama lain sekarang, maka jawabannya cukup karena kebiasaan. Setiap mereka bersetubuh, tak ada panggilan sayang, namun justru saling memanggil nama panggilan masing-masing. Bagi keduanya, dengan mendesahkan nama suami mereka justru semakin meningkatkan napsu mereka dalam bercinta.

“Brian, lebih cepettthh, pleaseee,” pinta Revanda dengan rintihan nikmatnya.

“Sebentar, Re.”

Tangan Habrian terjulur meraih rokoknya yang masih ada setengah. Ia kembali menyalakan api pada batang nikotin itu, menyesapnya sembari mempercepat tabrakan penisnya pada prostat Revanda.

“Ahhh fuck! Brian, ahhh enak banget hmmmh.” Kepala Revanda terangkat, netranya melihat pantulan bayangan suaminya di cermin. Pria aries itu semakin terangsang melihat sang suami menggerakkan pinggulnya cepat, meremas pantatnya dengan satu tangan memegang batang rokok. Sungguh pemandangan yang sangat menggoda.

“Merah banget ini lubang kamu, Re,” Habrian tertunduk melihat lubang anal Revanda menelan penisnya.

“Hmmhh keenakan dimasukin punya kamu, Briii,” tanggap Revanda kesulitan. “Brianhh, kamu seksi bangettt. Aku pengen liat muka kamu langsungggg.”

Seringaian terulas di wajah Habrian. Ia menarik penisnya keluar. Tangan kanannya melingkar di pinggang Revanda, membantu suaminya berdiri dan berbisik tepat di telinga si aries, “ayo ke kasur kalo gitu.”

Keduanya berpindah ke kasur. Revanda melepaskan kemeja yang masih semula masih melekat di tubuhnya. Ia mendorong tubuh Habrian hingga berbaring telentang. Pria mungil itu mengangkang, memegang penis Habrian dan mulai menurunkan pinggulnya untuk memasukkan kejantanan Habrian dalam lubang kenikmatannya.

“Ahhh, kalo aku di atas gini enak banget, mentok gitu,” gumam Revanda diselingi desahan nikmat.

Please ride me, little daddy,” ujar Habrian disambut kekehan oleh Revanda.

Okay, let daddy rides you, baby bear,” goda Revanda dengan nada mendayu.

Tangan Revanda bertumpu pada perut Habrian. Ia mulai menaik-turunkan pinggulnya, membuat dirinya sendiri menjerit merasakan nikmat yang luar biasa. Ia dapat merasakan ujung penis Habrian menghujam prostatnya berkali-kali dan sangat tajam.

Shitttt,” umpat Revanda sembari memejamkan matanya.

“Mmhh kamu seksi banget, Re,” Habrian tak kuasa. Ia menaikkan pinggulnya, membantu Revanda untuk mempercepat genjotan panas itu.

Revanda menunduk. Ia meraih rokok yang tinggal sedikit di belahan bibir Habrian. Disesapnya rokok itu, membuat Habrian terkekeh pelan. “Udah lama ga liat kamu ngerokok, Re.”

Dengan turut tertawa pelan, Revanda terbata menjawab, “a-aku juga udah lama ga liat kamu ngerokok, Briih.”

“Iyalah, kita aja udah lama ga ngewe gini. Kan aku biasanya ngerokok pas kita abis ngewe.”

“Hehehe. Maaf yah, Bri. Nghhh sebulanan ini aku ga mood mulu diajakin ginian.”

“Iya gapapa, sayang. Yang penting sekarang udah mood.”

“Umhh iya- ahhh. Aku kayaknya mau keluarrr,” tutur Revanda seraya mempercepat gerakan pinggulnya.

“Nghh aku duluan kayaknya, Re. Dikit lagiii.”

Revanda berhenti sesaat untuk mematikan rokok pada asbak di atas nakas. Ia menepuk bahu Habrian, seakan memberi isyarat yang lalu dipahami oleh suaminya itu.

Habrian membalikkan posisi mereka. Kini Revanda terbaring di kasur, berada dalam kungkungan Habrian. Kaki Revanda melingkar di pinggang Habrian. Tempo pergerakan pinggul Habrian sangat cepat dan menggila karena ia rasa pelepasannya sudah akan tiba.

“Reee, aku keluarrr ahhhh,” Habrian mencapai putihnya terlebih dulu. Spermanya menyembur di dalam lubang Revanda hingga meleleh keluar.

“Aku belummm mhh bantuin, Briiih. Sedikit lagiii.” Revanda tampak frustasi, membuat Habrian meraih penis Revanda, mengocoknya cepat.

“Udah tegang banget gini padahal, Re.”

“I-iyah. Aku mau keluarrr.” Kocokan Habrian yang cepat pada penis Revanda membuat sang aries itu akhirnya sampai pada puncak kenikmatan. Spermanya menyemprot keluar, mengenai perut Habrian.

Habrian mengeluarkan penisnya. Ia terbaring di samping Revanda, yang langsung membuat Revanda menggeliat memeluknya dari samping.

Senyuman terulas di wajah Habrian. Ia merengkuh tubuh kecil itu dan mengelus punggung yang telanjang tersebut dengan penuh kelembutan. “Makasih ya, cinta,” ujar Habrian dan mengecup kening Revanda cukup lama.

Perut Revanda seolah tergelitik. Ia mengangguk, menengadah dan mempertemukan netra mereka. Dikecupnya sekilas bibir sang suami, “sama-sama. Aku seneng deh, kamu tuh selalu bilang 'makasih' setiap kita habis having sex gini.”

“Ya harus dong. Kamu ga selalu in mood buat ngeladenin napsu aku gini, cil. Jadi ya kalo pas kamu mau, aku harus bilang 'makasih'.”

Lagi dan lagi, Revanda bersyukur memiliki Habrian sebagai suaminya. Ia pun mengeratkan pelukan dan mengusak kepalanya pada dada Habrian. “Aku sayang banget sama kamu, Bri.”

Habrian tersenyum dan mengecup puncak kepala Revanda. “Aku juga sayang banget sama kamu, Re.”

Keduanya saling mendekap untuk melepas lelah sehabis kegiatan panas mereka tadi. Hingga Revanda kembali mendongak untuk berbicara pada Habrian, “mas, aku laper.”

“Ya udah aku siapin dinner dulu. Habis itu kita lanjut ya? Ronde kedua hehehehe,” ujar Habrian sembari menaik-turunkan alisnya.

Revanda hanya terkekeh pelan dan mengangguk. “Iyaaa. Ayo sana siapin makan! Aku harus ngisi tenaga lagi buat lembur malam ini sama kamu.”

Tawa Habrian pecah. Ia melepas pelukan, mengecup bibir Revanda sekilas dan beranjak dari kasur. Celana pendek ia tarik dari dalam lemari untuk dikenakan, membiarkan tubuh bagian atasnya tetap terekspos, membuat pandangan seksi ini sangat menyenangkan bagi Revanda.

“Mas!” teriak Revanda yang otomatis membuat Habrian berbalik ketika tangannya telah membuka pintu kamar.

“Kenapa, yang?”

I love you, suamiku yang seksiiiii,” ujar si aries melukis raut ekspresi lucunya yang kontras dengan tubuh telanjangnya yang masih terpampang nyata.

Habrian terbahak. Ia membuat gerakan mencium ke arah Revanda, “I love you too, suami kecilku yang seksi jugaaaa. Tunggu disini ya. Nanti kalo udah siap, aku gendong kamu ke ruang makan.”

“Okeeeeey!”


schonewords