schonewords


“Pelan-pelan, Bri.”

Habrian mengangguk dan dengan perlahan meletakkan bayinya di atas kasur. Ya, bayi yang sesungguhnya yaitu Kamal, bukan 'bayinya' satu lagi alias Revanda.

Kamal sudah terlelap sejak turun dari pesawat tadi. Matanya sempat terbuka ketika mendengar suara Revanda di bandara, namun kembali mengatup tatkala merasakan kehangatan pelukan sang papa.

“Nyenyak banget dia tidurnya ya, ciㅡ”

Habrian tak mampu menyelesaikan ucapannya ketika merasakan dua tangan melingkar di tubuhnya. Ia pun tersenyum dan langsung menggenggam salah satu tangan tersebut, membalikkan tubuhnya dan membawa Revanda ke dalam dekapannya.

I miss you,” bisik Revanda yang masih mampu didengar oleh Habrian.

“Kita keluar, yuk. Biarin Kamal tidur,” ajak Habrian seraya melonggarkan pelukan dan membawa Revanda keluar kamar.

Mereka memutuskan duduk pada sofa di ruang tengah apartemen kecil yang sudah disewa oleh Revanda. Keduanya melanjutkan sesi berpelukan mereka, melepas rindu perkara dua hari tak saling bertemu.

“Aku kangen banget sama kamu,” tutur Revanda lirih di dalam rengkuhan Habrian.

Habrian tersenyum dan mengangguk. Tangannya mengelus punggung mungil suami kesayangannya itu. “Aku juga kangen kamu, cil,” balasnya.

“Aku seneng sih di sini akhirnya ketemu temen-temen aku, tapi aku kesepian banget kalo tidur ga ada kamu.”

Suara kekehan lolos dari mulut Habrian. “Ya udah, 'kan yang penting sekarang udah ada akunya,” tanggapnya.

Revanda mengeratkan pelukannya, pun Habrian melakukan hal yang sama. Kecupan-kecupan ringan beberapa kali ia bubuhkan pada pucuk kepala Revanda, membuat Revanda tersipu sembari menyandarkan kepalanya pada dada Habrian.

“Mas Bri,” panggil Revanda. “Maaf, ya. Maaf jadi bikin kamu repot ngurusin Kamal. Maaf juga aku belum banyak ngajarin kamu ngurusin dia. Aku sadar kamu belum sepenuhnya siap buat adopsi dia, makanya wajar banget kamu ga bisaㅡ”

“Kamu ngomong apaan?” tanya Habrian dan melonggarkan pelukan. Ia tatap suaminya dengan lekat ketika netra mereka bertemu. Tangannya mengelus surai gelap Revanda yang kian memanjang. “Aku siap, sayang. Aku udah siap adopsi Kamal. Masa udah lima bulan Kamal sama kita, aku ga siap juga? Ga mungkinlah, hahaha. Aku aja yang selama ini kurang perhatian setiap kamu lagi ngurusin dia. Jadinya pas ditinggal berdua doang, aku ga tau apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf. Maaf ya, aku belum bisa jadi papa yang baik buat ngurusin Kamal. Aku janji bakal belajar terus supaya ga salah-salah lagi ngurusin dia. Maaf juga, selama lima bulan ini ngebebanin ke kamu semua buat ngurusin dia, padahal adopsi dia 'kan keputusan kita bersama.”

Hati Revanda menghangat dan senyuman terulas di wajahnya. Ia memajukan tubuhnya, memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya untuk menyalurkan kebahagiaannya mendengar ucapan Habrian barusan.

“Makasih ya, Mas Bri. Makasih banyak kamu udah jadi suami yang hebat dan papa yang keren buat aku sama Kamal. Kita belajar sama-sama, ya? Biar Kamal ngerasa beruntung karena Pian sama Pacil-nya keren terus berusaha buat ngurusin dia.”

Habrian membalas senyuman dan mengangguk. “Iya, sayang. Bantu aku ya, ajarin aku. Makasih kamu udah telaten banget belajar ngurus Kamal selama lima bulan ini,” haturnya.

Revanda tak menjawab dengan tuturan, melainkan langsung kembali memeluk Habrian. Kali ini, ia bawa kepala Habrian untuk bersandar pada bahunya, agar ia bisa dengan nyaman mengelus kepala suaminya itu dengan lembut.

“Kamu juga hebat, Brian,” ucapnya. “Sekarang istirahat, ya. Kamu pasti capek seharian ini udah ngurusin Kamal sendirian, terus berangkat ke sini.”

Habrian mengangguk dan mengecup bahu Revanda sekilas. “Iya, sayang. Ayo kita ke kamar. Kasihan Kamal tidur sendirian, hahaha,” ujar Habrian.

Revanda pun melepaskan pelukan dan menatap Habrian. “Aku bisa tidur nyenyak malam ini karena ada kamu lagi. I need you, Bri. I need you to hug me while I sleep and be there beside me when I wake up. Same like you who needs me to take care of Kamal, hahaha.”


schonewords


CW // NSFW, morning sex, kissing, fingering, anal sex, dirty talks, penetration, nipples sucking and playing, hand job


Cahaya matahari samar-samar mulai menerobos celah tirai kamar. Habrian dan Revanda masih senantiasa terlelap saling berpelukan, sedangkan Kamal senantiasa tidur pula di dalam baby box-nya yang disewa pula oleh Revanda.

“Hmm,” Revanda menggeram dan membalikkan tubuh, membuatnya membelakangi Habrian.

Habrian yang setengah sadar segera melingkarkan tangannya lagi pada pinggang Revanda. Keduanya tersenyum tipis dengan mata yang masih tertutup. Revanda mengelus tangan Habrian yang memeluknya erat dari belakang.

Morning, cintaku,” bisik Habrian tepat di telinga Revanda.

Revanda bergidik pelan. “Jangan bisik di kuping aku kalo pagi-pagi,” ujarnya.

Habrian terkekeh dan membuka matanya. “Kenapa gitu?” tanyanya.

“Suara kamu kalo baru bangun tidur tuh serak gitu, jadi seksi banget, mas. Aku ga kuat dengernya.”

“Hahahaha,” Habrian tertawa pelan. Dieratkannya pelukan pada pinggang Revanda, dikecupnya telinga sang suami hingga kecupan tersebut turun ke leher dan bahunya. “Does my hoarse voice make you turn on, baby?” tanyanya tepat di telinga Revanda.

Revanda tersenyum. Matanya mulai terbuka dan ia langsung membalikkan badannya. Ia bubuhi kecupan sekilas pada bibir Habrian sembari mengelus leher sang suami. “I think so. Also, it's been awhile since the last time we did the morning sex,” jawab Revanda dengan suara yang dipelankan.

Seringaian terbentuk di wajah Habrian. Ia pun langsung memagut bibir sang suami, melumatnya pelan, sembari tangannya menyingkap sedikit baju kaus Revanda agar pinggang ramping itu dapat ia elus secara langsung. Ciuman itu disambut dan diperdalam oleh Revanda, dengan lumatan yang kasar dan terkesan buru-buru.

“Umhh,” lenguhan mulai lolos dari mulut Revanda. Tautan kedua bibir itu pun terlepas, membiarkan dua pria tersebut menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Di sini, cil?” tanya Habrian ragu sambil melirik ke arah baby box, tempat anak mereka berada.

“Boleh, asal ga berisik banget.”

Habrian terkekeh pelan. “Kemarin siapa yang ga mau ngajak anaknya ke reunian karena takut berisik buat anaknya? Sekarang malah mau ginian di depan anaknya,” ledeknya.

Revanda menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tak terdengar oleh Kamal. “Ya, gapapalah. Kan kalo sex-nya kayak gini, menantang dong. Kamu kan suka yang menantang gitu, mas,” balas Revanda menggoda sang suami.

“Bisa banget jawabnya.”

Habrian pun kembali mencium bibir suaminya. Tangannya kini telah masuk ke dalam kaus Revanda, menggerayangi tubuh mungil itu, hingga tibalah jemarinya pada tonjolan mungil di dadan sang suami.

“Mmh, Bri!” Revanda memekik pelan. “Nipple aku jangan ditarik gitu! Sakittt,” rintihnya sambil berbisik.

“Hehehe, gemes, yaaang.”

“Tapi sakit- ahh,” kalimat protes Revanda tergantikan dengan desahan nikmat. Habrian kini mengelus puting si mungil itu sambil mulutnya menghisap leher sang suami.

Revanda berusaha kuat menahan desahannya. Bibir bagian bawahnya ia gigit dan jemari mencengkram surai Habrian dengan kuat pula. Seolah mendapat stimulus, Habrian menghisap leher Revanda semakin kuat, membuat tubuh mungil itu mengejang.

“M-mas, please...aku ga bisa desah kuat-kuat.”

Habrian mengangkat kepalanya. Ia sedikit menaikkan tubuhnya dan menatap sang suami. “Kamu yang nantang aku tadi, sayang,” ujar Habrian sembari menyeringai.

Tubuh Habrian terangkat hingga terduduk di hadapan Revanda. Ia mulai melepaskan kaus berwarna hitam yang melekat di tubuhnya semalaman. Tangannya pun sigap melepaskan kaus milik Revanda, membuat mereka berdua kini telah bertelanjang dada.

“Re,” panggil Habrian ketika ia kembali memeluk Revanda. “I'll do it slowly and gently this time, I promise.”

Revanda tersenyum. Ia tangkupkan tangan kanannya pada pipi Habrian dan mengangguk. “You'd better keep your promise, Bri.”

Keduanya pun kembali menyatukan bibir mereka dalam tautan panas. Kali ini pagutan itu langsung di mulai dengan lumatan cepat dan kasar.

Selagi mulut mereka sibuk bertukar kehangatan, saliva, hingga bertaut lidah, tangan Habrian pun menyusup ke dalam celana Revanda dari bagian belakang. Tak segan-segan ia meremas kedua bongkahan sintal milik suaminya dengan kuat, membuat Revanda melenguh tertahan disela cumbuan memabukkan itu.

“Humhh,” lenguhan Revanda menggila ketika jari tengah Habrian mulai menyapa lubang analnya.

“Sebentar, Bri,” ucap si aries seraya melepaskan tautan bibir dan menahan tangan Habrian di pertengahan pantatnya.

“Semalem sebelum tidur dibersihin?” tanya Habrian.

Revanda mengangguk. “Tapi tetap pake kondom, ya?” pintanya.

“Oke, sayang.”

Habrian terlihat senang. Ia selalu puas dengan suaminya yang tak pernah lupa membersihkan lubang analnya setiap mau tidur. Sudah menjadi kebiasaan Revanda, karena ia tahu suaminya kerap kali mengajak melakukan morning sex ketika mereka bangun tidur.

“Ughh, Bri,” desah Revanda pelan ketika Habrian malah menggesekkan kemaluan mereka yang masih terbungkus celana. “Mmh, aku udah tegang.”

“Hmm, aku juga, cil,” balas Habrian.

“Kamu...nghh bawa lube, ga?” tanya Revanda terbata karena harus menahan desahannya.

“Bawa, Re.”

Senyuman Revanda mengembang. Maka, ia percepat gerak pinggulnya guna meningkatkan kenikmatan yang dihasilkan dari gesekan kejantanannya dengan milik sang suami.

“Nghh, Briii.”

“Yah, sayang?”

“Enak banget sshh.”

Habrian tersenyum puas menatap Revanda yang merem-melek merasakan kenikmatan. Bibirnya terus terbuka membiarkan lenguhan dan desahan pelan keluar bebas merasuki telinga Habrian.

“Briii,” panggil Revanda setengah mendesah. “Mau dimasukinnnn.”

Gotcha!

Mendengar itu, Habrian langsung tampak sangat senang. “Coba ngadep sana, Re,” titah Habrian sembari membalikkan tubuh suaminya untuk membelakangi dirinya.

Habrian beranjak dari kasur, mengambil botol lubrikan dan sekotak kondom. Ia pun langsung menanggalkan celana Revanda ketika balik ke atas kasur dan tak lupa melepaskan celananya, membuat mereka berdua kini telah sepenuhnya telanjang.

“Udah tegang banget, Bri,” ujar Revanda terkekeh.

“Apalagi punya kamu tuh, Re.”

Habrian membuka plastik kondom menggunakan giginya, membuat Revanda menatapnya dan tersenyum. “Seksi banget kalo buka bungkus kondom kayak gitu, suamikuuuu,” tutur Revanda berbisik.

Yang ditatap hanya terkekeh geli. “Memang suami kamu ini seksi sih ngapa-ngapain aja, Re.”

“Ugh, my hot daddy,” goda Revanda.

Habrian hanya tertawa pelan. Ia telah selesai membungkus penisnya dengan kondom dan melumuri lubrikan di sana. Tak lupa jari telunjuk dan tengah pada tangan kirinya pun dibaluri cairan pelumas tersebut.

Ia kembalikan posisinya berbaring miring di belakang Revanda. Jari telunjuknya ia masukkan perlahan ke dalam lubang anak Revanda.

“Mmhh, pelan, Briiih,” Revanda merintih pelan.

Guna mengalihkan rasa perihnya, Revanda membawa tangannya ke belakang. Ia meraih penis Habrian yang sudah terbungkus pengaman dan licin tersebut. Dikocoknya pelan, membuat Habrian pun mengeram.

“Re, ahhh.”

“Sshh, Bri, satu aja duluuuh.”

Keduanya saling memberikan kenikmatan di bawah sana dengan tangan. Desahan pelan kian mereka lontarkan dengan menggaungkan nama satu sama lain.

Lima menit berlalu. Tangan Revanda semakin cepat mengocok penis Habrian di belakangnya. Bahkan, dua bola kembar sang suami sesekali ia tekan menggunakan bokongnya.

Begitu pula Habrian yang telah melesatkan jari tengah untuk menemani jari telunjuknya di dalam anal Revanda. Sodokan dua jari tersebut semakin dalam dan membuat Revanda ngilu ketika terbentuk gerakan menggunting di dalam sana.

“Ahh, Re, udahhh.”

“Mmhh, kamu juga udah dong. Ganti pake punya kamu iniiih, please.”

Your wish is my command, Revanda,” ujar Habrian.

Ia keluarkan jarinya dan melepaskan tangan Revanda dari penisnya. Kini batang kemaluan yang telah tegang sempurna itu ia arahkan ke lubang anal Revanda yang telah berada tepat di depan penisnya.

“Tahan desahan kamu ya, Re. Nanti Kamal bangun,” perintah Habrian yang langsung ditanggapi anggukan oleh Revanda.

Tangan kanan Habrian memeluk perut Revanda, sedangkan tangan satunya mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang Revanda.

“Mmhh, fuck, Briannn.”

“Sshh, tahan, Re. Sempit...”

Dorongan pelan itu dipercepat oleh Habrian. Hingga Revanda memalingkan muka ke bantal agar erangannya tertahan ketika penis Habrian telah sepenuhnya masuk di dalam sana.

“Mmhhh!”

Posisi Habrian yang berada di belakang Revanda itu sangat menguntungkan. Proses memasukkan penisnya tidak susah, sehingga ia pun terangsang untuk langsung menggerakkan pinggulnya.

“Brian! Mmh, ngiluuuu.”

“Tahannn.”

Keduanya saling meredam desahan. Dengan gerakan pelan dari pinggul Habrian, Revanda pun mulai merasakan kenikmatan. Hujaman batangan tumpul di dalam sana membuatnya gila dan ingin sekali mendesah kuat.

“Nghh mentok, Bri. Ahh...” desahan Revanda lolos.

“Re, pelan-pelan desahannya. Kasihan Kamal kalo denger,” ujar Habrian tertawa kecil.

“Ahh, susah bangett nahannyahh ugh ini enak bangethh nghh. Lagiiii kenain di situuu.”

Genjotan Habrian dipercepat, membuat Revanda benar-benar kesulitan menahan desahannya. Ia melirik ke arah baby box, berharap anaknya masih terlelap nyenyak.

“Bri, nghh ga kuattt mau desah.”

“Sebentar, Re.”

Habrian mengeluarkan penisnya, membuat lubang Revanda yang terbuka itu langsung terlihat merah. Tubuh si mungil itu ditelentangkan oleh Habrian dan ia langsung setengah menindih suaminya. Penisnya pun mulai ia dorong kembali masuk ke anal Revanda, membuat si aries langsung memeluk leher suaminya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Habrian.

“Hmhh, terus, sayanggg. Mentokin lagi, Briiih.”

Revanda mendesah pelan tepat di telinga Habrian. Hal itu membuat Habrian semakin cepat menggenjot lubang Revanda yang telah melonggar.

“Mmhh pengen liat kamu genjot sambil ngerokok, Bri.”

“Ada Kamal, sayang. Nghh besok ya kalo udah di Jakarta, aku bisa genjotin kamu sambil ngerokok sshh kita ngewenya di ruang tengah.”

“Sshh beneran yahh?”

“Iya, Revanda-kuuh.”

Can't wait– ahhh!” suara pekikan Revanda tiba-tiba terdengar ketika Habrian dengan gencar menyodok prostatnya berkali-kali.

Habrian langsung memeluk tubuh Revanda dengan erat, berusaha meredam desahan suaminya di dalam rengkuhannya. Matanya mendelik ke arah baby box, melihat sang anak yang bergerak gelisah.

“Ssstt, jangan gede gitu suaranya, Re. Itu Kamal hampir kebangun,” bisik Habrian.

“Kamu siihh nghh kuat banget ahh shit your dick's moving too fast inside me ughh too deep, baby.”

Racauan Revanda itu meningkatkan gairah Habrian, sehingga pinggulnya bergerak kian brutal. Kaki Revanda dibiarkan melingkar di pinggang Habrian, membuat penis si gemini masuk semakin dalam. Salah satu tangan Habrian menggenggam penis Revanda dan mengocoknya cepat.

“Bri...Briannhh ahhh!” Revanda sampai pada puncaknya. Cairan putih nan kental itu mengotori tangan Habrian serta perut mereka berdua.

“Banyak banget keluarnya, Re.”

“Hmhh udah seminggu lebih ga dikeluarinn.”

“Re,” panggil Habrian. “Talk dirty to me. Aku mau keluar sebentar lagi.”

Revanda yang telah lemas hanya tersenyum dan mengikuti perintah Habrian. Badannya terhentak, tangannya yang mengalung pada leher Habrian menarik erat, hingga bibirnya tepat berada di telinga Habrian untuk mulai berbisik sensual.

“Bri, mmhh lubang aku penuh bangettt. Sshh lubang aku gatel kalo kelamaan ga dimasukin punya kamuuh. Ahhh fuck, your big dick suits my tight hole so much, Briiih.”

Libido Habrian meningkat. Gerakan pinggulnya pun ia percepat dan menyodok prostat Revanda semakin liar.

“Nghh ahh yesss like that, Briiii. Fuck me harderrrr, wreck my hole, honeyyy. Umhhh I'm so addicted to your big dick, hot daddy.”

“Kotor banget mulutnya sshh aahh, Revanda!”

Nakalnya ucapan Revanda akhirnya membawa Habrian pada puncak kenikmatannya. Sperma Habrian telah menyembur dan ditampung di dalam karet pengaman.

Habrian melonggarkan pelukan, merendahkan tubuhnya hingga wajahnya berada tepat di depan dada Revanda. Kedua puting Revanda ia kulum dan hisap sekilas, guna menutup kegiatan panas mereka.

“Hmm capek?” tanya Habrian tatkala ia mengeluarkan penisnya dan mulai melepaskan kondom hingga membuangnya.

Revanda mengangguk. “Lemes, mas,” jawabnya.

Habrian pun merengkuh tubuh Revanda setelah kembali ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Revanda. Matanya melirik ke arah tempat tidur anaknya dan tersenyum.

“Dia ga bangun sama sekali, padahal pacilnya berisik.”

Revanda terkekeh dan menoleh melihat ke arah yang sama. “Ngantuk berat dia kayaknya. Semalem juga cuma kebangun sekali jam setengah dua gitu,” ucap Revanda sembari kembali memeluk Habrian dengan erat.

Dua pria itu saling berpelukan dan berbagi kehangatan di balik selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka. Sekitar lima belas menit, mereka hanya terdiam dalam dekapan satu sama lain, hingga terdengar suara rengekan dari balik tubuh Revanda.

“Tuh bangun anaknya,” ujar Habrian.

“Ya udah aku gendong dulu Kamal-nya.”

“Aku aja,” ucap Habrian sembari mengecup kening Revanda. “Kamu mandi duluan, biar aku yang gendong Kamal. Habis itu aku sama Kamal mandi, terus kita bawa dia jalan-jalan.”

Revanda tersenyum. “Thank you, best husband.”

Anytime, sweetheart.”


schonewords


Pair: jaeren (jaehyun x renjun)

Semua ini ceritanya flashback ya! Ini yang diceritain Renjun ke Haechan di percakapan mereka di dalam mobil itu.

cw // mentioning arranged marriage, implicitly mentioning unhealthy relationship


Neotech dibuat gempar pada suatu pagi tatkala sang CTO, Jung Jaehyun, berjalan memasuki gedung megah itu sembari menggenggam tangan seorang pria mungil di sampingnya. Adalah Huang Renjun, sosok yang menggandeng lengan Jaehyun berjalan menyusuri lobi hingga lift.

Desisan bisik-bisik seluruh orang yang menyaksikan jelas terdengar. Semua mata yang menatap pasangan itu berbinar dengan ujaran 'Wah, pak CTO pacarannya sama primadona Neotech'. Mendengar itu, Jaehyun dan Renjun saling bertatapan sembari melempar senyum.

“Aku seneng bisa pacaran sama kamu,” ungkap Jaehyun ketika mereka hanya berdua di dalam lift.

“Kenapa gitu?” tanya Renjun menggoda sang kekasih.

“Ya, simply because I've been paying my attention on you. Terus, sekarang akhirnya kamu jadi pacar aku, well, setelah dibantu suaminya sepupu kamu sih si Kun, hahaha. Gimana aku ga seneng sekarang? This is such a dream comes true.”

Sepasang kekasih itu terkekeh bersama. Tautan tangan mereka semakin erat dalam genggaman satu sama lain. Tak lupa saling mendekap tatkala mereka akan dipisahkan dengan lantai yang berbeda untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Ya, pada hari itu, kabar tentang hubungan khusus yang terjalin antara Jaehyun dan Renjun menjadi trending topic di Neotech. Banyak yang menanggapi dengan positif dan turut berbahagia, karena dirasa dua pria itu memang pasangan yang serasi. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mencibir dan berburuk sangka, seolah Jaehyun dan Renjun tidak baik untuk disandingkan bersama.


Dua bulan berlalu. Hubungan Jaehyun dan Renjun masih terlihat harmonis, bahkan tampak semakin mesra. Nyaris semua pihak mendukung hubungan ini dengan sering menjuluki mereka sebagai 'pasangan jenius Neotech'. Keduanya pun selalu profesional ketika bekerja tanpa melibatkan perasaan pribadi mereka.

“Kak,” panggil Renjun.

Jaehyun yang sedang asyik menyantap makan siangnya pun mengangkat kepala. “Kenapa, baby?” tanyanya.

“Kamu malam ini ada waktu ga?”

“Kenapa emangnya?”

Can we have a dinner together? Udah dua bulan pacaran, kita cuma sering lunch bareng aja. Ga pernah kita jalan-jalan gitu, even just a simple dinner.”

Jaehyun meletakkan sendoknya. Ia teguk minumnya sejenak, kemudian mengulas senyum untuk Renjun. “Next time ya, baby. Aku harus lembur hari ini,” tanggap Jaehyun.

Ada guratan kecewa yang terlukis di wajah Renjun. Ia tersenyum kecut memandang Jaehyun seraya mengangguk. “Oke deh kalo gitu, kak.”

“Gapapa, 'kan? Nanti aku kirimin makanan ke rumah kamu.”

“Udahlah, ga usah repot-repot, kak.”

“Tetep aku kirimin ya, baby. Pokoknya harus diterima.”

Renjun mengangguk. Selama dua bulan berpacaran, selain rasa cintanya yang besar kepada Jaehyun, rasa kecewanya pun kian tumbuh terhadap sang kekasih. Tetapi, Renjun pikir mungkin ini terlalu cepat untuk memupuk kecewa.


“Ren,” panggil Mark ketika masuk ke dalam ruangan Renjun.

Alis Renjun terangkat melihat sahabatnya tersebut menghampirinya di jam kerja. “Ada apa? Tumben ke sini ga bilang dulu.”

Mark duduk di seberang Renjun yang dibatasi oleh meja kerja si ketua tim satu tersebut. Netranya menatap Renjun dengan lekat. “Lo sama Pak Jaehyun baik-baik aja, 'kan? I mean, setelah empat bulan ini kalian pacaran, everything goes smoothly, right?” tanya Mark.

“Hahaha, beneran tumben lo ke sini cuma buat nanyain hubungan gue doang,” ujar Renjun diselingin tawa.

“Gue lagi serius ini, Ren.”

“Ya emangnya ada apa sih, kak?”

Mark menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Ia terus terpaku menatap sahabatnya tersebut.

“Ada apa?” ulang Renjun.

“Ren, sebenarnya Yangyang mau ngomong langsung ke lo, tapi ga berani.”

Dahi Renjun mengernyit, tapi tak memberi tanggapan apa pun. Mark pun sekali lagi menghela napas berat sebelum melanjutnya ucapannya.

“Lo tau sendiri Yangyang itu bawahan langsung dari Pak Jaehyun. Kemarin, orang tuanya Pak Jaehyun datang ke sini. Si Yangyang sempet dengerㅡ”

Can you straight to the point aja, kak?” Renjun jengah melihat Mark yang memang terlihat ragu-ragu untuk berbicara.

“Oke oke, sorry,” ungkap Mark. “Pak Jaehyun dijodohin sama orang lain, Ren.”

Bak tersambar petir, Renjun terdiam kaku. Mulutnya membungkam bagaikan kehilangan ribuan kata yang sebelumnya ingin ia lontarkan. Iris matanya membulat, menandakan ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Sempet berantem besar kemarin di ruangan Pak Jaehyun, Ren. Ya, lo tau sendiri Pak Jaehyun kalo udah emosi kayak apa. Pak Jaehyun bilang dia udah punya lo dan ga mau dijodohin. Terus, orang tuanya nyuruh Pak Jaehyun bawa lo ke rumah mereka kalo memang serius sama pilihannya.”

Mark selesai, namun sosok dihadapannya masih terdiam. Isi kepalanya berkecamuk karena di dalam hatinya menyimpan banyak kekhawatiran.

“Ren?”

“Nanti aku bakal ngobrolin ini sama Jaehyun.”

Mark beranjak dari duduknya. Tatapannya masih setia memandangi sahabat kesayangannya itu. “Ren, just letting you know that a lot of things might happen in the future ain't as we wish. Semoga apa pun yang bakal terjadi sama lo dan Jaehyun, itu bakal jadi yang terbaik buat kalian,” Mark melontarkan petuahnya.

Renjun mengangguk. “I trust Jaehyun more than you think, kak. Perjodohan itu ga akan terjadi sih. Gue percaya, Jaehyun bakal memperjuangkan hubungan gue dan dia.”


Sebulan pasca cerita Mark, nyatanya Renjun dan Jaehyun tak kunjung membicarakan itu. Renjun tak pernah berani membahasnya, pun Jaehyun yang tampak enggan menceritakannya pada Renjun.

“Ren,” panggil Jaehyun.

“Ya?”

Kedua pria itu tengah duduk bersama di sebuah taman yang tak jauh dari kantor. Ini pertama kalinya Jaehyun meluangkan waktu untuk sekedar duduk santai menikmati sore bersama kekasih mungilnya. Ya, lima bulan ini, tak pernah Jaehyun memanjakan Renjun melalui kebersamaan. Hanya hadiah-hadiah berupa barang atau makanan yang kerap diberikan oleh Jaehyun sebagai wujud cintanya kepada Renjun.

“Kamu mau janji ga sama aku?” tanya Jaehyun.

Renjun yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Jaehyun langsung menengadah. Ia menatap manik sang kekasih seraya bertanya, “Janji apa, sayang?”

Jaehyun genggam erat tangan mungil Renjun. “Janji buat ga ninggalin aku apa pun yang terjadi. Janji buat setia sama aku,” lanjut Jaehyun.

Senyuman terulas di wajah Renjun. Ia mengangguk pasti. “Janji. Aku janji ga akan ninggalin kamu dan bakal setia sama kamu, sayang,” ucapnya.

Tubuh Renjun langsung direngkuh dalam dekapan Jaehyun. Renjun merasa bahagia karena sangat dicintai oleh Jaehyun.

Ya, begitulah yang ia pikirkan saat itu. Hingga satu bulan kemudian...


“Maaf, Ren. Maaf hubungan kita ga bisa dilanjutin lagi.”

Renjun terdiam kaku mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya. Jaehyun berdiri di hadapannya dengan membangun jarak yang tak dekat seperti biasanya.

“Kenapa, kak?” tanya Renjun dengan suara yang bergetar. “Apa yang membuat kamu mutusin aku sekarang?”

Jaehyun memberanikan diri menatap Renjun. “Aku...aku setuju dengan perjodohan yang diatur sama orang tua aku,” jawabnya pelan.

Renjun menghembuskan napas gusar. Sorot matanya tajam menatap pria yang baru saja mencampakkannya itu. “After you asked me to promise never leave you, and now you are the one who leaves me. You think it's fair, Jaehyun?” napas Renjun memburu mengucapkannya.

Mulut Jaehyun mengatup sempurna. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Rasa bersalah menjalar pada dirinya, terutama melihat Renjun yang sangat emosi.

“Kamu tahu orang yang mau dijodohin sama kamu?” tanya Renjun mengintimidasi.

“Dia...anak pemilik Vistech,” jawab Jaehyun.

“Oh,” Renjun mengangguk. “Aku akui, dia pasti lebih pantas sama kamu, tapi bukan berarti kamu seenaknya aja ninggalin aku sekarang, kak! Setelah kamu suruh aku buat janji setia terus sama kamu, malah kamu yang ninggalin aku. Kamu sadar ga sih kamu sejahat itㅡ”

Sorry, Ren. Aku minta maaf, oke? We are done. For real. Thank you for these past six months.”

Ucapan final dari Jaehyun diikuti dengan kepergiannya meninggalkan Renjun yang terpaku di parkiran kantor. Derap langkah cepat menjauh dari Renjun. Sedangkan Renjun, kini wajahnya merah menahan segala amarahnya.

Kandasnya hubungan mereka terjadi dengan tidak baik-baik. Saat itu, dunia terasa kejam untuk Renjun. Hatinya sakit dan kepalanya kalut, namun tak pula dapat ia ekspresikan melalui air mata. Sekali lagi, Renjun mengalami kegagalan cinta, tetapi kali ini terasa begitu jahat dan menyakitkan.


schonewords


cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, fingering, anal sex, rough sex, dirty talk


Gama dan Gala memang bukan pasangan yang bercanda jika bertutur perkara hal 'bercinta'. Baru sekitar sepuluh menit yang lalu mereka menyelesaikan sesi candle light dinner mereka, namun kini mereka dengan tidak sabar telah masuk ke agenda yang selanjutnya.

“Ay, siniiii,” teriak Gala yang sudah berada di dalam kolam renang. “Ga dingin koooook.”

“Iya, sebentar, Gal,” sahut Gama seraya menanggalkan baju dan celananya, meninggalkan celana boxernya saja.

Netra Gala fokus menatap suaminya yang masih berdiri di atas, tepatnya di pinggir kolam. Bisa dilihatnya dada suaminya yang bidang, kaki yang jenjang, dan tentu wajahnya yang tampan.

“Buru, sih!” seru Gala lagi.

Gama tertawa pelan. Ia pun menggoda Gala dengan lebih memilih duduk di pinggir kolam dengan kakinya yang terjuntai di dalam air.

“Kenapa sih mesti buru-buru?” Gama tersenyum.

Gala mendekat. Ia pun memposisikan dirinya di antara dua tungkai Gama dan tangannya memegang erat paha sang suami. “Ya, ngapain kek sama aku di dalam siniiiii,” protes Gala.

Tak ada tanggapan berarti dari Gama. Ia masih ingin menggoda Gala, sehingga ia masih setia duduk dan enggan masuk ke dalam air.

“Gam,” panggil Gala. Tangannya mengelus paha Gama dengan gerakan sensual, bahkan mulai masuk ke dalam celananya untuk meremas pelan paha bagian dalam suaminya itu.

“Apa, ayang?”

“Masuk siniiii.”

“Ga mau ah. Kamu ngerjain aku beberapa hari ini, jadi males deh aku.”

“Ih, Gama maaaah,” bibir Gala maju. “Siniiii, ayaangg. Aku gigit ya nih paha kamu!”

Suara tawa Gama pecah. Ia pun menggenggam tangan Gala. “Jangan digigit dong pahanya. Mending yang lain aja.”

Maksud ucapan Gama tentu langsung ditangkap dengan mudah oleh Gala. Tangannya pun sigap masuk ke dalam celana Gama semakin dalam dan, “Ahh, Gala,” desahan Gama mulai terdengar.

“Gigit yang ini maksud kamu?” tanya Gala dengan wajah polos seraya tangannya meremas penis Gama.

“Hahaha, beginian aja cepet,” cibir Gama sambil menurunkan tubuhnya masuk ke dalam air.

Gama langsung memeluk pinggang Gala, membuat Gala pun mengalungkan tangannya pada leher suaminya tersebut. Tubuh mereka menempel dengan erat, sehingga bagian bawah mereka pun saling menyentuh tanpa disengaja.

“Nghh,” Gala melenguh tatkala mengeratkan pelukan dan membawa kedua kakinya melingkar di pinggang Gama.

“Udah tegang aja, Gal,” goda Gama.

“Dingin.”

“Tadi katanya ga dingin,” Gama terkekeh pelan.

“Hehehehe, sengaja biar kamu buruan nyebur juga.”

Gala terlihat sangat menggemaskan saat ini di mata Gama, membuat si gemini itu tak kuasa menahan dirinya. Ia raup bibir Gala, melumatnya lembut dan menyesap bibir bagian bawahnya. Gala dengan senang hati membalasnya.

Lumatan dan hisapan pada bibir satu sama lain itu kian menguat. Sesekali, gigi mereka akan menggigit bibir lawannya, hingga lidah salah satu melesak ke dalam mulut yang lain.

“Mhh,” Gala terus melenguh karena lidahnya dihisap kuat oleh Gama.

Tautan bibir mereka terlepas ketika dirasa asupan oksigen mulai menipis di paru-paru keduanya. Netra mereka saling berpandangan dan sesekali melirik ke arah bibir satu sama lain.

“Yah, bengkak deh bibir kamu, ay,” ujar Gama.

“Gapapa, aku suka bibir aku bengkak kalo alasannya karena dicium sama kamu.”

Tanggapan Gala tentu semakin menaikkan gairah Gama. Pelukannya pun semakin dieratkan dan kembali ia kecup berkali-kali bibir suami kesayangannya itu.

“Gama, aku tadi pas nyampe Jakarta langsung mandi,” Gala memberikan informasi.

Gama terkekeh. “Terus?” tanyanya menggoda Gala.

“Iya, jadinya aku udah bersih, hehehehe. Kalo kamu mau masukin mah tinggal masukin aj- AH! GAMA!”

Gala mengeratkan pelukan dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Gama. Pasalnya, tanpa persiapan, Gama langsung memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anal Gala. Alhasil, Gala menjerit dan tak kuasa melanjutkan ucapannya tadi.

“Hehehe, sakit?”

“Masa pake nanya!”

“Ya, 'kan aku meyakinkan aja udah dibersihin beneran apa belum, dek.”

Wajah Gala memerah dan semakin ia sembunyikan di potongan leher Gama. Hidungnya yang menyentuh langsung leher tersebut digunakan untuk menghirup aroma tubuh Gama yang terkuar dari sana. “Gama, aku masih deg-degan kalo kamu manggil aku begitu,” cicit Gala pelan.

“Masa masih deg-degan aja sih, dek.”

“Iya, soalnya- ahhh kalo manggil gitu tuh kamunya jadi makin seksi nghh,” ucap Gala terbata diselingi dengan desahan dan lenguhan karena jari Gama bermain pelan di bawah sana. “Apalagi kalo manggilnya tuh pake suara rendah kamuuuh.”

Gama mendekatkan bibirnya ke telinga Gala dan berbisik dengan nada suara yang rendah, “Begini?”

Libido Gala meningkat drastis. Sigap ia mengangkat kepalanya, menurunkan kakinya dari pinggang Gama, mendorong suaminya tersebut hingga punggung Gama menyentuh dinding kolam. Jari Gama pun keluar dari lubang anal Gala secara tidak sengaja dan membuatnya memegang erat pinggang ramping suaminya itu.

Fuck you, Gama.”

Gala kembali memeluk leher Gama, meraup bibir sang suami bak kelaparan yang terlihat dari berantakannya ia melumat labium sosok yang sedang berulang tahun itu. Ia semakin mengeratkan pelukan, membuat tubuh mereka menempel sempurna, dan ia gerakkan bagian bawahnya. Penis kedua pemuda itu bergesekkan hingga memberikan sensasi menyengat yang kian menaikkan napsu birahi mereka.

“Hmhh ahh,” Gala melenguh dan melepaskan tautan bibir mereka, terus melanjutkan kegiatannya menggesekkan penisnya pada penis sang suami. “Uhhh, kangen banget sama titit Mas Gamahh.”

Seringaian tercipta di wajah tampan Gama. Ia memperhatikan ekspresi Gala yang tengah keenakan. Matanya tertutup dan terbuka, mulutnya terus menggaungkan desahan yang menggoda, dan kepalanya yang menengadah membuat lehernya terekspos lebih jelas.

“Seksi banget suamiku ini,” puji Gama.

“Mmh, Gam, bisa ga langsung masukin ajahh?”

Gama menggeleng. Dengan suara beratnya yang rada serak, ia berujar, “Sabar, dilonggarin dulu biar ga perih banget.”

Jari tengah Gama perlahan masuk lagi ke dalam lubang Gala, menciptakan jeritan pelan dari sang empu lubang tersebut. Pelan-pelan, ia keluar dan masukkan jarinya, menambahkan satu jari lagi, mempercepat ritme agar lubang kenikmatan itu terbiasa.

“Hnghh, baru jari aja udah enakhhh. Kok bisa masuknya ga perih banget?”

Gama mengecup bibir Gala sekilas. “Karena di dalam air kali, jadi ga begitu berasa,” jawabnya.

“Umhh, kalo gitu coba langsung masukin punya kamu, mas. Pasti ga sakit jugahh.”

“Bener nih?”

Gala mengangguk. “Ayo, masukin aja, Gam,” titahnya.

Dua jari Gama dikeluarkan dari lubang Gala. Tangannya melepaskan celana yang tersisa menutupi selangkangan keduanya hingga mereka kini benar-benar telanjang.

Gala pun langsung menyentuh penis Gama dan mengurutnya pelan. “Keras banget, Gam.”

“Ya iyalah, udah kamu gesekin dari tadi, ayaaaang.”

Keduanya terkekeh. Gama melepaskan tangan Gala dari penisnya, mengocok kejantanannya sendiri sebelum dimasukkan pada liang kenikmatan milik Gala.

“Siap?”

Gala mengalungkan tangannya lagi pada leher Gama. Kakinya kembali melingkar di pinggang sang suami agar mempermudah penis kesukaannya itu masuk ke dalam lubang miliknya. “Siap, ayangku,” jawabnya.

Penis Gama perlahan masuk. Gala menyandarkan kepalanya di bahu si gemini seraya mengecup pelan lehernya. “Nghhh, lagiih masukin,” perintahnya.

“Ga sakit?” tanya Gama sambil terus mendorong penisnya.

“Sedikit- ahh,” desahan terdengar tatkala penis Gama telah masuk sempurna di dalam lubang Gala.

Kepala Gala terangkat. Mereka saling berpandangan lagi dengan jarak wajah yang sangat dekat. Pucuk hidung mereka pun bersentuhan, menciptakan sensasi geli dan hangat dari deruan napas satu sama lain. Keduanya tersenyum serta saling mengecup bibir pasangan masing-masing.

“Udah boleh digerakin, dek?” tanya Gama lembut.

Move, Mas Gama,” jawab Gala.

Maka Gama mulai menggerakkan pinggulnya. Ketatnya lubang Gala serta tak ada pelicin yang membantu, membuat Gama sedikit kesulitan menarik dan mendorong penisnya. Suara desahan Gala pun terdengar menyiratkan rasa perih.

“Sakit ya, ayang?” tanya Gama.

“Lumayan nghh, tapi gapapa, ay. Gerak aja terus. Ini kebantu karena ada airrr.”

Gama mengangguk. Ia hujani wajah Gala dengan kecupan-kecupan ringan, yang membuat Gala pun sedikit terdistraksi dari rasa sakitnya di bawah sana.

Cup!

“Suami aku,” ujar Gama sehabis mengecup dahi Gala.

Cup!

“Cintanya aku,” lanjutnya ketika mengecup kedua mata Gala.

Cup!

“Kesayangannya aku,” tambahnya lagi pasca mengecup pipi kanan dan kiri Gala.

Cup!

“Dunianya aku,” kini hidung Gala yang dikecup.

“Dan,” gantung Gama kemudian cup!, dikecupnya bibir Gala agak lama. “Gala-nya aku.”

Wajah Gala memerah merona tanda tersipu malu. Di bawah sana, lubangnya tengah dihajar dengan tempo yang semakin cepat, namun perutnya tergelitik dan hatinya merasa hangat akibat hujaman kecupan dari suaminya beserta kata-kata manisnya tadi.

“Aku sayang banget sama kamu, Gam,” ucap Gala lirih dibarengi dengan senyuman.

“Aku lebih sayang kamu, Gala.”

“Masa- ahhh, di situ, masss,” Gala menjerit kenikmatan ketika penis Gama berhasil menekan prostatnya.

“Di sini? Lagi?” Gama menusuk lagi titik sensitif Gala tersebut.

“I-iyahhh, ahh fuck enak banget kalo di situuuh.”

Seringaian tercipta di wajah Gama. Diperhatikannya lagi Gala yang kini semakin mendesah kuat, hingga salivanya meleleh di sudut bibir. Gama pun menjilat saliva yang mengalir itu, membuat Gala semakin terangsang hebat.

“Gam, ahh aku mau keluarrr, ga tahan bangettt.”

“Eh, sebentar, ay.”

Gama berhenti menggenjot serta mengeluarkan penisnya dari lubang Gala, yang langsung disambut raut kecewa di wajah Gala. Gama tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Gala yang mulai lemas, membawanya berjalan naik keluar dari kolam. Ia turunkan Gala dari gendongannya tepat di samping sebuah kursi kayu di pinggiran kolam tersebut.

“Pegangan di sini, ay, terus nungging,” perintah Gama seraya membalikkan tubuh Gala.

Gala yang telah lemas itu hanya menurut. Ia langsung memposisikan dirinya menungging sambil berpegangan pada sandaran kursi kayu tersebut.

Melihat pergerakan itu, Gama langsung memegang pinggang Gala dan kembali memasukkan penisnya. “Ahh, sakit banget kalo udah gede gitu dimasukkin, ayyy,” protes Gala.

Gama terkekeh, namun terus mendorong penisnya hingga tertanam sempurna. Tanpa menunggu lagi, ia gerakkan pinggulnya yang membuat penisnya kembali menggenjot lubang Gala.

“Ahh besar banget, Gam- uhhh lagiih di situuuh!”

“Enak, ayang? Enak ga lubang sempitnya ditusukin sampe mentok gitu?”

“Bangetth nghh enak banget, mas. Ahh dikit lagi aku keluar tauuuu.”

Tempo pergerakan pinggul Gama semakin cepat dan liar. Tubuh Gala terhentak kuat karena semakin menggilanya sang suami menggenjot lubang analnya.

Fuck ahhh too fast, Gamahhhh.”

“Hmm, sengaja, dek, shhh lemme break your hole this time nghh sebagai hukuman kamu nyuekin aku beberapa hari ini.”

Kepala Gala pusing, namun merasa sangat nikmat disaat yang bersamaan. Memang salahnya telah mengerjai Gama, maka malam ini ia harus menerima ganjaran atas perbuatannya itu. Sudah tahu bahwa suaminya manja, Gala malah mengerjainya, hingga harus menanggung resiko saat ini.

“Gamh, ahhh shit aku keluarrr!”

Cairan putih menyembur dari penis Gala yang sempat diremas kuat oleh Gama barusan. Spermanya berserakan di lantai dan kursi, membuat Gama tertawa kecil melihatnya.

“Mas, aku lemas banget, nghhh cepet dong keluarnyaaah,” Gala protes.

“Sabar, dek. Sebentar lagiii,” tanggap Gama.

Hentakan pada prostat Gala berkali-kali terasa dengan kuat. Gama benar-benar menggenjot sangat kuat guna mencapai putihnya.

“Massss, sakit! Hahhh ahh ini kelewat cepet kamu genjotnyahh, nghh periiih.”

“Tapi enak?”

Gala mengangguk karena tak kuasa lagi berkata-kata. Matanya terpejam, tangannya semakin erat menggenggam sandaran kursi, dan bibir bawahnya sesekali ia gigit.

“Aku keluar, ayang, ahhhh!”

Akhirnya Gama mencapai puncaknya setelah genjotan liarnya yang terasa menghancurkan lubang Gala. Sperma Gama yang menyembur di dalam sana pun meleleh keluar hingga mengalir di paha Gala.

“Ayang,” panggil Gama sembari membalikkan dan memeluk tubuh Gala. Ia bawa sang suami duduk di pangkuannya tatkala tubuhnya telah duduk bersandar pada kursi panjang khas pinggir kolam renang.

Gala terkulai lemah di dalam dekapan Gama. Kepalanya tersandar di bahu Gama.

“Ayang, sakit banget, ya?” tanya Gama sembari mengelus pinggang Gala.

Gala mengangguk. “Kamu mah kalo udah ngehukum aku gila banget, Gam,” Gala melayangkan protes sekali pun ia tengah kelelahan.

“Hehehe, maaf, ay,” ujar Gama. “Lubang kamu tuh enak banget, akunya ga tahan.”

Lagi, Gala mengangguk. “Dingin, mas,” ucapnya.

Gama meraih handuk dan menutupi tubuh Gala. “Ayo, berdiri dulu. Aku pakein bathrobe, habis itu aku gendong ke kamar.”

Gala nurut. Ia berdiri dan Gama langsung mengenakan baju handuk di tubuh mereka berdua. Tangannya langsung sigap mengangkat tubuh Gala dan menggendongnya.

“Gal,” panggil Gama.

“Hm?” Gala menanggapi seadanya sembari menatap sang suami.

“Sampe kamar nanti boleh nenen ga sambil cuddle?”

Bola mata Gala berputar. Detik berikutnya ia mengangguk dan menjawab, “Nenen aja, ya? Ga ada ceritanya masuk-masukin lagi. Perih banget tauuuu.”

Gama nyengir dan mulai melangkahkan kakinya ke arah lift. “Ga janji,” jawabnya singkat.

“Gama!”

“Hahahaha, bercandaaaa. Maaf deh mainnya kasar tadi, tapi anggap aja itu hukuman sama aku ambil 'hadiah' tambahan.”

Gala hanya tersenyum lemah. “Iya, deh, karena kamu ulang tahun aja nih aku biarin sekasar tadi.”

Kecupan dibubuhi oleh Gama pada bibir Gala. “Makasih, ayang,” ucapnya.

“Sama-sama. Eh, nanti sampe di kamar aku mau ngetweet dulu spesial buat kamu, hehehe. Nanti cek ya di Twitter.”

“Oke, ayaaaang.”


schonewords


Banyak yang bilang, kesempurnaan itu tak ada di dunia yang fana ini. Semua hal yang memiliki eksistensi di atas bumi ini nyatanya selalu memiliki celah sebagai kekurangan.

Kiranya, jikalau tengah berbahagia, seluruh insan senang mengucapkan “hidupku terasa sempurna”. Tak apa. Sejatinya kesempurnaan itu tak ada tolok ukur yang tetap dan konstan. Kesempurnaan bagi tiap manusia pun berbeda.

Bagi seorang Haditama Dirgantara, kesempurnaan dalam hidupnya dimulai sejak usianya menginjak enam belas tahun. Semua berawal ketika netranya menangkap sesosok anak laki-laki sebayanya yang bertubuh mungil di tengah kerumunan siswa baru masa orientasi sekolah menengah atas. Tepatnya, kesempurnaan itu terasa lengkap ketika perasaannya terbalas dan hatinya bertaut menjalin status 'pacaran' dengan sang pujaan hati.

Kesempurnaan Hadi rasakan dalam hidupnya sejak saat itu, sejak anak laki-laki bernama Redy Zahid Waradana telah menjadi kekasihnya. Kesempurnaan kian terasa tatkala Redy menjadi pelengkap untuk segala kurangnya, menjadi bahagia untuk sedihnya, dan menjadi kuat untuk lemahnya.

Kesempurnaan Hadi terasa semakin nyata seiring mampunya ia dan Redy saling menggenggam dan merangkul erat melewati rintangan berat pada hubungan mereka. Untuk saling menghargai dan menyayangi, membuat seorang Redy merupakan definisi 'sempurna' menurut Hadi.

Pun hal yang sama dirasakan oleh Redy. Kesempurnaannya terjulang tinggi dan kian nyata semenjak menjalin kasih dengan Haditama Dirgantara.

Redy hanya tahu tentang fakta-fakta mutlak di dunia berkat ilmu yang didapatnya dari dunia sains dan buku ensiklopedia. Hadirnya Hadi, membuatnya sadar bahwa dunia ini tak melulu perkara teori A tetaplah A. Haditama membukakan pintu, menyempurnakan pandangan Redy akan segala perkara yang terjadi di dunia ini bisa saja merubah A menjadi Z dalam sekejap mata.

Haditama menjadi potongan akhir dari sebuah puzzle atas apa pun yang terjadi di dalam hidup Redy. Bahagianya disempurnakan oleh Hadi, sekali pun sedihnya pernah tercipta karena sosok itu. Rasa syukurnya kian kuat dan sempurna oleh kehadiran Hadi, sekali pun kecewa pernah dirasakan berkat Hadi pula.

Bagi Redy, sempurna tak melulu tentang hal-hal indah penyejuk jiwa, melainkan dapat pula segala wujud pelajaran hidup yang begitu pahit untuk mampu berdiri kembali melangkah maju dan membuka mata.

Hubungan Hadi dan Redy selalu diragukan oleh banyak orang. Anggaplah sebuah 'cinta monyet' khas remaja SMA yang kerap kandas hanya dalam hitungan bulan yang singkat.

Tetapi, Hadi dan Redy menepis itu. Dengan tekad kuat yang mengiringi cinta mereka, hubungan tersebut berlanjut dari tahun ke tahun.

Keduanya saling menemani hari-hari berat karena tugas, tuntutan deadline, rumit berorganisasi, hingga cacian dari dosen di masa-masa kuliah mereka.

“Yi, tadi aku ditegur dosen yang ngajar Hukum Internasional, gara-gara minggu lalu aku ga masuk kelas pas ada kuis. Padahal itu kuis dadakan, dan bertepatan sama persiapan dies natalis fakultas, kan aku panitia.”

Atau,

“Ayang, aku sedih banget. Aku udah begadang belajar nginget karya-karya sastra Victorian Era, tapi tadi pas UTS ga ada soal yang bahas itu!”

Begitulah keduanya saling mendengarkan keluh kesah semasa kuliah. Seolah, dengan mendengar saja telah menyempurnakan rasa lega keluarnya beban di hati.

Pun mereka terus bersama menyempurnakan kehadiran satu sama lain di masa-masa menjadi karyawan kantoran. Kesempurnaan yang hadir cukup dengan kalimat semangat yang sekiranya meredakan kegugupan mereka.

“Hari ini pertama kalinya aku bakal ikut rapat sama duta besar dari negara lain. Aku masih ga nyangka bisa kerja di Kementerian Luar Negeri gini, ayanggg.”

Atau,

“Ayi, tadi aku kedatangan klien baru, minta tolong dibelain di sidang perceraian dia. Terus dari firma, aku diminta jadi ketua pengacaranya. Dua temen seruangan aku jadi asisten aku. Keren ya aku, yi?”

Dan masih banyak lagi.

Jika sempurna kerap diartikan sebagai suatu hal tanpa celah, maka itu salah. Sempurna hadir ketika sesosok insan mampu dengan sabar dan perlahan menutup kekurangan, memudarkan ruang kosong, hingga sesuatu dapat terasa lengkap.

Hadi dan Redy, dengan seluruh kesabaran, telah mampu menciptakan sempurnanya mereka secara bersama-sama. Hubungan yang renggang, pertikaian kecil hingga besar, bahkan berjauhan tanpa berbicara pernah mereka lalui. Ada pun, segala hal menyakitkan itulah yang menjadi penyeimbang kebahagiaan mereka sedari awal menjalin asmara.

Untuk membuahkan hasil berupa kesempurnaan yang baru, yang lebih kekal, yang lebih banyak lagi menciptakan cerita.

“Saya bersumpah, menerima Redy Zahid Waradana sebagai suami saya mulai detik ini, dalam keadaan suka dan duka bersama.”

“Saya bersumpah, menerima Haditama Dirgantara menjadi suami saya, dan saya berjanji akan terus berada di sampingnya, dalam keadaan senang mau pun susah.”

Itulah arti kesempurnaan untuk Hadi dan Redy.

Haditama and Redy are the perfection to each other.


FIN


schonewords


“Halo?”

Halo, ayi.

“Ayang, aku udah di depan rumah kamu.”

Oh oke, yi. Ini lagi pake sepatu kok.

“Oke, ay.”

Sekitar sepuluh menit setelah telepon dimatikan, sosok Hadi langsung muncul keluar dari pekarangan rumahnya. Ia tersenyum menghampiri kekasihnya yang duduk santai di atas motor.

Morning, Redy bayiiii,” sapa Hadi sumringah.

“Pagi, ayang,” balasnya.

“Sini aku aja yang bawa motornya,” ujar Hadi seraya mengambil kunci motor dari tangan Redy.

Dua remaja itu memulai perjalanan mereka ke sekolah. Redy memeluk tubuh Hadi dari belakang. Hadi pun sesekali akan mengelus tangan mungil tersebut.

“Tadi udah sarapan ga, yi?”

“Udah dooong! Kamu?”

“Udah juga.”

Redy menopangkan dagunya pada bahu kiri Hadi. “Ngantuk ga, ay?” tanyanya.

“Sedikit. Untungnya hari ini cuma mau bahas soal buat persiapan ujian.”

Perjalanan mereka menuju sekolah dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Entah itu celotehan Hadi yang merasa dongkol karena tim sepak bola kesukaannya kalah, atau Redy yang sibuk bertanya tentang seluk-beluk dunia sepak bola.

Keduanya tak sadar bahwa mereka telah sampai di sekolah. Kondisi parkiran motor mulai ramai karena pelajaran pertama akan dimulai dalam waktu lima belas menit lagi.

“Ayo, aku anterin ke kelas kamu dulu,” ujar Hadi mengamit tangan Redy.

“Ayang, malu ih,” tanggap Redy seraya melepaskan genggaman tangan dari Hadi.

Hadi terkekeh. Ia paham bahwa Redy masihlah tetap seorang siswa teladan yang menjaga image baiknya di depan seluruh warga satu sekolahan ini.

Keduanya tetap berjalan berdampingan hingga tiba di depan kelas Redy. Mereka menyempatkan diri untuk saling berdiri berhadapan dan melempar senyum. Tangan Hadi mengelus surai Redy dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Aku ke kelas, ya,” ucap Hadi.

Redy mengangguk. “Iya. Semangat belajarnya ya, ayang. Jangan ketiduran pas jam pelajaran,” tutur Redy tegas.

“Siap, bos!” seru Hadi, membuat dua remaja itu tertawa bersamaan. “Kamu juga semangat belajarnya ya, ayi. Nanti pulang sekolah tunggu di sini aja, aku jemput kamu ke kelas.”

“Okeeee! Udah ah, sana ke kelas.”

“Iya iya.”

Sebelum beranjak, Hadi menyempatkan mendekatkan wajahnya ke wajah Redy. Ia berbisik, “I love you, bayi” dan cup! sebuah kecupan singkat ia bubuhkan pada pipi Redy.

Redy terkejut dengan yang dilakukan Hadi. Baru saja ia hendak protes, tapi Hadi sudah berlari menjauh sembari terbahak.

BYE, AYIIII SAYANGKUUUU!”

'Hadi cowok gila.'


schonewords


“Capek ga?” Hadi bertanya sembari mengusap sudut bibir Redy yang terdapat percikan kuah ramen.

Redy mengangguk, namun senyuman lucu terulas di wajahnya. “Capek, tapi aku seneng!”

“Seneng kenapa sih, bayiii?” Hadi mencubit pelan pipi Redy.

“Ya, seneng karena seharian ngehabisin waktu sama kamu. Seneng karena kamu nurutin maunya aku, hehehehe.”

“Kamu kan juga nurutin maunya aku, yi.”

“Hehe, makasih ya, ayang.”

“Sama-sama, Redy.”

Dahi Redy mengernyit. Ia menatap kekasihnya dengan sinis. “Manggil apa tadi?” tanyanya ketus.

“Redyyyy,” ulang Hadi dengan jahil.

“Ih, kamu mah! Pasti mau balas yang aku lakuin tadi ya?”

Hadi terbahak. Ia pun mencubit pelan pipi Redy lagi. “Ga enak kan dipanggil begitu?”

Redy memajukan bibirnya dan mengangguk. “Jangan panggil gitu,” gerutunya.

“Iya, bayiiii.”

Kedua remaja itu lanjut memakan ramen mereka hingga habis. Sesekali mereka akan memainkan HP masing-masing, saling bertukar guyonan melalui meme yang mereka temukan di Twitter, bahkan tak lupa melakukan swafoto untuk mengingat momen bahagia hari ini.

“Sayang,” panggil Hadi.

“Ya?” jawab Redy.

Hadi mengamit tangan Redy dan digenggamnya erat. Punggung tangan kekasihnya dielus lembut dengan terciptanya semburat merah muda di wajah dua remaja itu.

“Manggil aja, sih.”

Redy langsung melayangkan pukulan ringan pada lengan Hadi. Yang dipukul hanya terbahak kencang. Tangan Redy tetap ia genggam dan bahkan ditarik, hingga kini bahu Redy dirangkul untuk menyingkirkan jarak di antara mereka.

“Bercandaaaaa.”

“Iyaaaa, Hadiiiii.”

“Eh, manggil apaan?”

“Hadi Hadi Hadi Hadi Hadi, hahaha.”

Hadi langsung menggelitik pelan pinggang Redy. Sosok yang bertubuh kecil itu pun menahan tangan Hadi dan suaranya tawanya terdengar kuat.

“Ampun, ayyyy. Hahahaha, ampuuun!”

“Hahaha, iya iya,” ujar Hadi dan kembali merangkul Redy. “Aku antar kamu pulang sekarang, yuk.”

Redy mengangguk. Keduanya bersiap dengan mengenakan jaket masing-masing. Tiba-tiba Hadi memiliki sebuah ide.

“Ay, buka dulu jaket kamu,” titahnya.

“Hm? Kenapa?” tanya Redy bingung.

Hadi mengambil jaket Redy ketika kekasihnya melepaskan luaran cukup tebal itu. Netra Redy membelalak tatkala Hadi justru mengenakan jaket miliknya pada tubuh Redy.

“Pake jaket aku aja. Nanti dibawa pulang, ya? Biar malem-malem, bau parfum aku masih kecium di kamar kamu,” ujar Hadi dengan senyuman terulas di wajahnya. “Jaket kamu aku yang bawa. Alasannya sama. Biar kalo malem, aku tidur melukin jaket kamu, bisa nyium bau parfum kamu.”

Redy terkekeh mendengar penjelasan Hadi. Lucu, tapi begitu manis pula. Ia pun mengangguk menyetujui usulan Hadi.

“Ya udah, kita tukeran jaket. Sesederhana itu aja ngomongnya, ay.”

Dua remaja itu tertawa bersama. Mereka beranjak meninggalkan tempat makan tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang dengan mengendarai motor Hadi.


schonewords


cw // kissing


“Ih kemana, sih? Kok cuma diread doangggg?” gerutu Redy sembari mengetuk pelan layar ponselnya.

Ceklek!

Pintu kelas Redy terbuka, membuatnya otomatis langsung menoleh ke arah tersebut. Iris matanya melebar dan senyuman langsung terulas tatkala melihat sosok yang hadir dari balik pintu.

“Hai, sayang,” sapa Hadi seraya masuk ke kelas dan menutup kembali pintu tersebut.

Redy langsung beranjak dari duduknya. Dengan cepat ia memeluk Hadi dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih.

“Kamu kemana aja sih, ay?” tanyanya dengan nada kesal.

Hadi terkekeh. Tangannya merengkuh erat tubuh mungil pacarnya itu. Sesekali ia akan mengelus surai Redy dengan lembut. “Ga kemana-mana, ayi,” jawabnya santai.

“Bohong!” seru Redy menarik kepalanya, menatap Hadi dengan tajam, namun tangannya masih senantiasa memeluk Hadi erat. “Kamu bau rokok gini nih. Habis ngerokok dimana tadi?”

Hadi hanya bisa nyengir. Tangan kanannya beralih ke pipi Redy untuk dielusnya dengan lembut. Suara rendahnya terdengar mendebatkan jantung Redy ketika ia berkata, “Maaf, ya, aku ngerokok dan ga bilang ke kamu dulu tadi.”

Redy mengurungkan niatnya untuk melayangkan protes. Luluh hatinya dan sirna pula khawatirnya mendengar ucapan lembut dari kekasihnya itu. Kedua tangannya berpindah, menangkup wajah Hadi guna mengelus pipi gembul remaja gemini itu.

“Iya, gapapa, ayang. Jangan diulangin, ya,” ucap Redy tak kalah lembut. “Kalau ada masalah, cari aku. Lari ke aku, peluk aku kayak gini. Walau pun kamu belum bisa cerita, seenggaknya aku bisa bantu nenangin diri kamu.”

Hadi tersenyum manis. Hatinya terasa menghangat oleh rasa haru dan penuh syukur. Bersyukur karena bisa mendapatkan sosok remaja baik ini menjadi kekasihnya yang siap merengkuh lemahnya untuk mencari kuat kembali.

“Iya, sayang,” Hadi mengangguk.

“Janji, ya?”

“Janji.”

Dua sejoli itu setia saling bertukar tatap dan melempar senyum. Hadi mengeratkan pelukan pada sekeliling pinggang Redy, pun si pria mungil itu yang mengalihkan kedua tangannya untuk mengalung pada leher Hadi.

“Makasih, bayiiiii. Makasih udah pengertian dan perhatian gini,” tutur Hadi lembut.

That's what I should do as your boyfriend, ayang.”

Senyuman Hadi semakin merekah sempurna. Tatapan keduanya tak berpaling pada satu sama lain. Di momen seperti ini, terbesit sebuah pikiran yang menurut Hadi tak semestinya ia pikirkan, terutama ketika ia menatap bibir Redy.

Redy seolah tahu. Otak cemerlangnya mampu membaca situasi ini, mampu memahami apa yang dipikirkan oleh Hadi hanya melalui sorot mata kekasihnya itu. Ia pun menarik leher Hadi dengan kedua tangannya yang senantiasa mengalung di leher si gemini itu.

Netra Hadi terbelalak. Wajah mereka sudah sangat dekat hingga hembusan napas satu sama lain pun menerpa kulit muka masing-masing.

Redy tersenyum tipis. Dengan lirih ia bertanya, “Mau nyoba ga?”

Hadi tampak gugup. Matanya mengerjap lucu, namun berusaha tetap tenang. “Nyoba apa?” tanyanya balik.

Kissing.”

Degupan jantung Hadi berdebar cepat. Tak terpikirkan olehnya bahwa Redy akan menggodanya seperti ini di dalam ruang kelas dengan suasana sekolah yang kian sepi.

“B-boleh?” tanya Hadi pelan.

Alih-alih menjawab pertanyaan Hadi, Redy dengan sigap memajukan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka hinngga labium keduanya bertemu. Ditempelkan bibirnya terhadap bibir Hadi, yang langsung menciptakan sensasi geli seolah perutnya digelitik oleh ribuan kupu-kupu terbang di sana.

Kedua manik Hadi perlahan menutup setelah melirik ke arah kekasihnya yang telah duluan menutup mata. Pelukan kian dipererat. Hadi membiarkan Redy yang memimpin cumbuan itu, mengingat si pria mungil memang sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya.

Perlahan Redy mulai melumat bibir Hadi. Ia sesap pelan labium atas dan bawah milik sang kekasih secara bergantian. Hadi pun dengan cepat mempelajarinya, maka, ia lakukan hal serupa.

Bibir atas Redy mulai dihisap oleh Hadi serta diemut pelan. Begitu pula Redy yang kian bersemangat melumay bibir bagian bawah Hadi. Perlahan, lidah Redy mulai menerobos belahan labium Hadi, hingga melesak masuk dan bertemu dengan lidah Hadi.

“Humh,” lenguhan Hadi terdengar tatkala lidah keduanya saling bersentuhan dan membelit ringan.

Pagutan itu sempat dilepaskan oleh Hadi, membiarkan oksigen mengisi ruang paru-paru mereka. Tatapan mereka bertemu seiring terbukanya netra sepasang kekasih itu. Tak lupa senyuman diulas untuk tambatan hati satu sama lain.

Thank you for stealing my first kiss. I'm glad the one who took it is you.”

Semburat merah muda terlukis jelas di wajah Redy setelah mendengar ucapan dari Hadi. Ia mengangguk dengan senyuman yang kian mengembang. “Sama-sama. Tapi tadi kamu hebat, cepet pahamnya,” jawab Redy seraya menggoda Hadi.

Hadi pun terkekeh. “Iya, dong. Kan diajarin sama kamu,” ujarnya.

Redy tertawa kecil. Ia pun melepaskan pelukan, menarik tangan Hadi. Si pria kecil memposisikan diri duduk di atas meja, sedangkan Hadi berdiri di antara dua tungkainya yang terbuka.

Sepasang kekasih itu kembali menautkan kedua tangan mereka pada tubuh satu sama lain. Redy pun menarik tubuh Hadi agar semakin merapat dan mengikis jarak.

“Ayi, aku mau nanya deh,” ujar Hadi.

“Apa tuh?”

First kiss kamu sama siapa? Terus kapan?”

Redy terbahak. Ia pun memukul pelan bahu Hadi. “Oh, hahahahaha. Tahun lalu kok, sama Bang Jaki, mantan pacar aku,” jawab Redy sambil nyengir.

“Bang Jaki yang dulunya juara olim kimia?”

“Fisika. Olim fisika dianya. Aku sama dia kan korban cinlok pas sama-sama latihan olim.”

“Oh, I see,” tanggap Hadi mengangguk. “Terus?”

“Terus apa?” Redy mengernyitkan dahi.

“Di mana ciumannya?”

“Hehehe, di rumah aku waktu lagi kosong. Tapi serius cuma ciuman kok, ay!”

Hadi terbahak. Ia pun mengeratkan pelukan pada pinggang Redy. “Iya, bayiii. Aku percaya kok,” ucapnya.

Redy kembali tersenyum. Lagi, ia kalungkan tangan pada leher Hadi. “Enakan ciuman sama kamu, kok. Bang Jaki pake behel, jadi ciumannya kayak ada yang ngeganjel.”

Suara tawa Hadi pecah dan gelaknya itu benar-benar menggema. Tak kuasa ia menahan rasa geli mendengar ucapan kekasihnya barusan. “Ada-ada aja deh kamu,” ujar Hadi sembari mengacak pelan rambut Redy.

“Serius, ayaaaang.”

“Gitu-gitu juga first kiss kamu.”

“Iya, makanya first kiss aku ga berkesan.”

Hadi masih setia tertawa. Redy pun ikut tertawa seraya mengelus pipi Hadi.

Tatkala gelak itu luntur, Hadi mendekatkan wajahnya pada wajah Redy. Bibirnya mendarat pada kening Redy, mengecupnya dengan lembut dan membuat Redy menutup matanya sembari tersenyum. Ciuman penuh kasih sayang itu seolah menjadi selimut tebal yang menghangatkan hatinya.

“Pacaran sama kamu tuh paket lengkap banget, Red. Kamu sadar ga?” tanya Hadi ketika kecupan itu berakhir.

“Kenapa gitu?” Redy balik bertanya.

“Kamu ganteng, cantik, manis, lucu, pinter, baik, perhatian, penyayang. Aku ga nyangka seorang Redy yang katanya susah didekatin itu, ternyata punya sisi yang bikin aku terus-terusan bersyukur bisa dapatin kamu.”

Redy tersipu mendengar pujian itu. Ia pun membubuhi kecupan pada kedua pipi Hadi dengan lembut. “Aku pun sama bersyukurnya. Siapa yang sangka aku bisa dapatin seorang Hadi yang hebat, ganteng, keren, pinter, dan bucin ini? Padahal yang naksir kamu tuh banyak banget.”

Sepasang kekasih itu saling melempar senyuman termanis mereka. Tatapan mereka terpatri pada satu sama lain, seolah menyuarakan ketulusan rangkaian kata yang mereka haturkan barusan.

“Aku sayang kamu, Redy. Sayang banget.”

“Aku juga sayang kamu, Hadi.”

Dua sejoli itu kembali memagutkan bibir mereka dalam cumbuan lembut yang memabukkan. Rasa sayang mereka terhadap satu sama lain yang begitu besar pun tersalurkan melalui penyatuan bibir mereka, yang menyempurnakan ungkapan kata tadi.


schonewords


cw // nsfw, mature content, boys sex scene, kissing, nipple plays, blow job, fingering, hand job, penetration, anal sex, saliva as lubricant, harsh words


Gama membuka pintu mobil bagian penumpang di tengah dengan netra yang terbelalak. Pasalnya, sang suami, Gala, tengah menutup matanya dengan tangan yang sibuk memijat kemaluannya sendiri. Lenguhan pun lolos dari mulutnya secara sensual.

“Gamhhh,” erangnya ketika mendapati Gama telah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.

Gama tersenyum. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Gala dan mengecup keningnya, “Udah ga tahan ya, sayang?”

Gala mengangguk lemah dan tatapannya sayu. Pemandangan ini meningkatkan libido Gama dengan cepat. Suaminya yang netranya mengerjap lemah, belahan bibirnya yang merah terbuka, dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka, dan jangan lupakan ritsleting celana yang telah terbuka di mana tangan mungil itu telah masuk ke dalam untuk memanjakan penisnya.

“Gam, mau tit-”

Ucapan Gala menggantung tatkala Gama meraup bibir si aries itu. Lumatan basah dan kasar tercipta, membuat Gala langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Gama. Tangan Gama menurunkan sandaran kursi, membiatkan Gala mulai terbaring dengan posisi Gama yang setengah menimpanya.

“Hmphh!” Gala menjerit tertahan dalam ciumannya ketika Gama menggigit bibirnya.

'Cup!' Gama mengecup lembut labium Gala tatkala bibir mereka terpisah. Ibu jarinya mengusap bibir mengkilat dan bengka milik Gala.

“Mas Gamaaaa,” panggil Gala dengan suaranya yang serak.

“Ya, sayang?”

Bukannya menjawab, Gala mengeratkan pelukan pada leher Gama. Senyuman terulas di wajah tampan Gama dan mendudukkan tubuh Gala, agar dapat memeluk tubuh mungil itu dengan erat.

“Kenapa, sayangku?” tanya Gama lembut.

“Humm, kamu bosen ga sih liat aku gampang banget horny terus minta mulu sama kamu?”

Gama terkekeh. Tangannya mengelus punggung Gala penuh kasih sayang. “Engga dong, ayang. Ga mungkin aku bosen. Aku malah suka kok,” jawab Gama seraya mengecup leher Gala.

Lenguhan Gala kembali terdengar disebabkan oleh lihainya Gama menghisap lehernya, memberi tanda merah keunguan yang menciptakan rasa nikmat untuk si artis itu. Semakin kuat desahan Gala menggaungkan nama Gama, maka semakin kuat dan bersemangat pula Gama mengerjai leher suaminya.

“Gamhh, kita mau interview nghhh gimana kalo leher aku merah gituuuh.”

Pelukan dilonggarkan. Gama menatap wajah indah suaminya yang tersenyum lemah namun dengan tatapan yang penuh napsu. Pemandangan ini selalu menjadi favorit untuk Gama.

“Gal,” panggil Gama.

“Ya, mas?”

“Kamu cantik, dek.”

“Aku cowok.”

“Tetep aja, kamu cantik. Cantik banget.”

Gala tersipu. Wajahnya bersemu merah muda, membuat Gama gemas dan tak kuasa mengecup pahatan indah itu berkali-kali.

“Mas Gama.”

“Ya, cantikku?”

Gala mendekatkan bibirnya ke telinga Gama untuk berbisik, “Aku udah tegang nih.”

Gelak tawa melesat dari mulut Gama. Bibir Gala kembali ia pagut dan cumbu dengan mesra, sedangkan tangannya langsung terselip masuk ke dalam celana Gala, menyentuh penis suaminya itu secara langsung dan meremasnya pelan.

“Hmhh...”

Tangan Gama dengan lihai memijat penis Gala, memainkan ujungnya dan sesekali meremat bola kembar di pangkal kemaluan kecil itu. Gerakan naik dan turun dilakukan tangannya guna mengocok kejantanan sang suami yang membuat si artis itu mengerang hingga penyatuan bibir mereka terlepas.

“Ahhh, Masss...”

“Yang ini masih bersih ga?” tanya Gama seraya mengelus permukaan lubang anal Gala.

“Humm, masiiih.”

Gama mengeluarkan tangannya. Dilepaskannya celana Gala, membuat bagian bawah tubuh si mungil itu terekspos bebas, memperlihatkan penisnya yang telah tegang.

Jari Gama diarahkan ke mulut Gala. Kini yang ia dapati adalah pemandangan menggairahkan di mana Gala mengemut jari tengah Gama dengan gerakan sensual.

“Aku masukin jari dulu ke lubang kamu ya, ayang,” izin Gama kepada Gala.

Gala mengangguk. “Tapi, aku sambil emut titit kamu boleh ga, mas? Biar nanti bisa langsung masukin kalo udah agak longgar,” ujarnya.

“Oke, ayang.”

Gama menurunkan celananya hingga sebatas lutut. Gala pun dengan senang hati merundukkan tubuhnya ke arah Gama, mulai menggenggam kejantan suaminya, menjilat penis si gemini itu, dan memainkan lidah di pangkal alat vital kesukaannya itu.

“Nghh,” erang Gama. Tangannya sigap mengelus pinggiran sekitar lubang anal Gala. Jari tengah yang basah itu mulai didorong masuk, membuat Gala melenguh merasakan sakit hingga secara tak sadar menggigit pelan ujung penis Gama.

“Mpphh!”

“Aww, jangan digigit, Gal. Ssh pelan-pelan aja, ay.”

Kegiatan itu terus berlanjut. Gama pun telah menambahkan jari telunjuknya, membuat gerakan menggunting guna melonggarkan lubang kenikmatan itu. Gala pun semakin liar mengeluar-masukkan penis Gama dari mulutnya, membuat kepemilikan sang suami telah sepenuhnya basah oleh air liurnya.

“Mas Gammhh, masukin sekarang kali, yahhh,” pinta Gala.

“Oke, aya- Gal?”

Gama terperangah melihat Gala tiba-tiba menaiki tubuhnya, duduk di atas pangkuan Gama dengan seringaian yang sangat menggoda. Tangannya dengan perlahan membuka seluruh kancing kemejanya, mempertontonkan tubuhnya yang dibaluti kulit putih nan mulus. Dua tonjolan coklat di dadanya pun mulai berwarna merah muda dan mencuat.

“Aku di atas ya, mas?”

“Boleh, ayangku. Nanti aku bantu dorong masukinnya.”

Gala tersenyum puas. Ia tangkup wajah Gama dan memberikan kecupan ringan di seluruh wajah tampan suaminya itu.

Tangannya meraih kejantanan Gama yang telah menegang sepenuhnya. Mulai diarahkannya ke lubang analnya yang membuatnya mengernyitkan dahi menahan perih.

“Nghh aduuh, mas...”

“Sakit, dek?” tanya Gama dengan suara rendahnya seraya mengelus pinggang suaminya.

“Perih, mas.”

Gama mengeratkan pelukan. Ia mengulum salah satu puting Gala dengan lembut sembari penisnya ia dorong perlahan masuk ke dalam lubang anal Gala. Ya, secara perlahan dan gentle hingga alat kemaluannya itu sudah tertanam sempurna di lubang Gala.

“Hnghh...”

“Perih banget, dek?”

“Iyah. Bentar ya, mas. Jangan digerakin dulu.”

“Aku gerakin pelan dulu ya, ayang? Pelan kok. Biar cepet terbiasa.”

Gala mengangguk pasrah. Ia biarkan Gama menaikkan pinggulnya perlahan, membuat penisnya sempat tertarik nyaris keluar dan masuk lagi dengan lembut. Gerakan lambat seperti ini justru membuat Gala semakin terangsang hebat.

“Pelan ginihh bisa ga sampe mentok, Gam?” tanya Gala terengah.

“Aku coba dulu, ya.”

Gama tarik lagi perlahan penisnya, kemudian secara hati-hati ia masukkan lagi hingga tertusuk sangat dalam. Dapat ia rasakan ujung kejantanannya menyentuh prostat Gala, membuat Gala mengerang nikmat mendayukan namanya, “A-ahhh, Gamaaahhh. Sshh, mentok, ayangghh.”

“Enak, dek?”

“I-iyah, mas. Mhh, enak banget.”

“Enakan dibuat mentok gini kalo pelan atau cepet?”

“Dua-duanya enak- AHHH! MAS!”

Gama mendorong kejantanannya secara brutal. Prostat Gala tertusuk dengan kasar, namun sensasi nikmatnya jauh lebih menyenangkan ia rasakan.

“Nghh, aku aja yang gerak, Gam.”

Kaki Gala bertengger pada dua sisi paha Gama. Tangannya bertumpu pada bahu lebar Gama. Pinggulnya ia naikkan, dan kembali diturunkan, membuat penis Gama yang menegang sempurna mulai keluar-masuk lubang analnya secara teratur dan cepat.

“Ahhh fuckkk dalem banget masuknya, masss.”

“Iya, dek. Mmhh mentok banget.”

Sembari genjotan di bawah sana semakin cepat, keduanya saling memagut bibir. Lumatan kasar dan terburu-buru tercipta. Saliva meleleh dari sudut bibir mereka, hingga turun ke leher.

Tangan Gama tak tinggal diam. Sebelah kiri ia gunakan untuk memilin puting Gala, sedangkan yang kanan meremas pantat Gala berulang kali dan sesekali memukulnya.

“Gamahh, aku mau keluarrr.”

Mendengar itu, Gama semakin liar. Ia angkat tubuh Gala dan membalikkan posisi. Kini Gala di bawahnya, membuatnya menggenjot lubang anal Gala tanpa ampun.

“Ahh, Mas. Terlalu cepettt nghh ahh, masss. Gamahh!”

Jeritan Gala disusul dengan menyemburnya cairan putih kental yang mengotori perut keduanya. Gala pun melemah seiring sampainya ia pada puncak kenikmatannya itu. Ia bersandar lesu, membiarkan Gama terus menggempur lubangnya.

“Mmhh, ayang, capek yah?”

Gala mengangguk. “Gapapa, ay. Nghh terus ajahh,” titahnya.

Gama menggenjot semakin cepat. Ia rasakan penisnya semakin besar di dalam lubang sempit itu. Terus ia tusuk kencang prostat Gala, membuat Gala tak henti-hentinya menjerit kenikmatan.

“Aku ga keluar di dalam ya, ay? Nanti lengket, kita mau interview soalnya.”

“I-iyah, mas. Ahh! Enak bangettt. Fuck me harder, Gamaaah.”

Perintah Gala membuat libido Gama semakin memuncak hingga ia akhirnya sampai putihnya. Dikeluarkannya penisnya. Dengan cepat ia meraih beberapa lembar tisu untuk menampung cairan spermanya yang menyembur banyak.

“Arghh,” erangnya ketika cairan kental itu keluar.

Gama terduduk di kursi sebelah Gala. Netra Gala pun terpaku pada penis Gama yang terbungkus tisu.

“Humm pengen ituuu. Sayang banget kebuang di tisu,” ujar Gala dengan bibirnya yang mengerucut maju.

Gama terkekeh menoleh menatap suaminya. Ia bersihkan penisnya dan memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Gala sekilas. “ Nanti malam ya di rumah,” ucapnya.

Gala mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Diraihnya pula tisu untuk membersihkan penisnya sendiri.

Tok tok tok!

Kaca mobil diketuk dari luar, memperlihatkan bayangan Kirana di sana. Teriakannya pun terdengar jelas.

“GAMA, GALA! ANJING LO BERDUA MALAH NGEWE DI MOBIL! CEPET BERSIH-BERSIH TERUS KELUAR!”


schonewords


Raut wajah Redy jelas terlihat masam. Mukanya tertekuk, sorot matanya tajam menyimak penjelasan sang guru olah raga. Ia pun tak menyadari kekasihnya yang telah berdiri di ambang pintu memperhatikannya.

“Oke, nanti bergilir aja ya shoot bolanya. Kita mulai dari Jevano dulu,” sang guru memberi instruksi.

Satu per satu siswa 11 IPA 1 bergiliran memasukkan bola ke arah ring yang tinggi. Semua tampak serius, tak terkecuali Redy yang moodnya telah kacau, namun tetap berhasil melakukan shoot.

“Oke, sekarang coba giliran yang perempuan ya,” kembali instruksi terdengar.

Para siswa laki-laki langsung berdiri menepi di pinggir lapangan. Redy dengan malas-malasan hanya berjalan mundur tanpa membalikkan badan, hingga...

“Red, awas!” teriakan Kiana rasanya sudah tidak ada arti.

Bruk!

Bola basket yang baru saja dilempar oleh Yeira mengenai wajah Redy. Pasalnya bola itu memantul dari pinggiran ring, hingga bolah justru terlempar dan menghantam wajah Redy, tepatnya hidung mancung si lelaki tampan itu.

“Aww!” Redy merintih memegangi hidungnya. Seluruh siswa kelas tersebut beserta gurunya langsung menghampiri Redy.

“Red, gapapa?” Jevano langsung menanyai sahabatnya.

“Gapapa.”

“Redy, sorry banget! Gue ga sengajaaaa,” Yeira langsung merasa tidak enak kepada teman sebangkunya itu.

It's okay, Yei.”

“Red-”

“Duh, gue gapapa!” seru Redy membuat situasi menjadi hening. Tak ada lagi yang berani berbicara kepada Redy. Yang merasa kesakitan pun hanya menghela napasnya gusar.

“Redy, kamu ke UKS aja. Itu hidungnya dikasih es deh, biar ga keburu memar,” ujar guru olah raga mereka.

“Iy-”

“Bu, permisi. Hehehe. Saya bawa Redy ke UKS, ya? Kebetulan kelas saya lagi ga ada guru, kok,” Hadi berucap ketika mendekati kerumunan yang mengelilingi Redy.

“Oh, boleh kalo gitu. Silakan. Tolong dibantu ya obatin Redy.”

“Siap, bu,” ujar Hadi sembari tersenyum. “Ayo, Red.”

Hadi merangkul bahu Redy dan mulai berjalan menuju UKS. Tak ada yang bersuara sepanjang perjalanan mereka menuju ruang kesehatan siswa itu.

Remaja gemini itu pun mendudukkan pacarnya di salah satu kursi. Dengan lihai ia mengambil es dan memasukkannya ke dalam ice bag compress.

“Nih ditaruh di hidungnya,” ujar Hadi.

“Makasih,” tanggap Redy langsung mengikuti perintah Hadi.

Tangan Hadi terangkat dan mengelus surai gelap Redy. Ia tatap dengan lembut kekasihnya yang terlihat kacau itu. Netra mereka pun bertemu, membuat Hadi mengulas senyum.

“Gapapa sakit sedikit ya, sayang? Ga kuat juga tadi kenanya,” tutur Hadi dengan pelan.

“Ih kamu liat ya tadi? Malu banget aku.”

Hadi pun langsung terkekeh. Ia mencubit pelan pipi pacar kesayangannya itu. “Ngapain malu? Justru bagus aku liat, kan aku bisa bawa kamu kesini jadinya,” ujarnya lembut.

Gemini itu beralih duduk di samping Redy. Tangannya melingkar di pinggang Redy. Dagu Hadi bertengger di bahu mungil kekasihnya. “Kamu kenapa, yi? Mau cerita ga sama aku?” tanya Hadi pelan-pelan.

Redy menghembuskan napasnya kasar. Kepalanya ia miringkan hingga bersandar pada kepala Hadi. “Aku ga lolos seleksi olim kali ini,” jawab Redy.

Sontak kepala Hadi terangkat. Keduanya kembali bertatapan untuk beberapa detik sebelum akhirnya Hadi menarik Redy ke dalam rengkuhannya. Ia peluk tubuh mungil itu untuk pertama kalinya. Tangannya mengusap lembut punggung sang kekasih.

You did your best already. I knew it. So, you did well, ayi,” ungkap Hadi sedikit berbisik.

Mendengar itu, Redy langsung membalas pelukan Hadi dengan erat. Kepalanya bersandar pada bahu Hadi, menemukan ketenangan yang sekiranya sedari tadi ia cari. “Aku dikira gagal karena sibuk pacaran. Padahal, kamu tau sendiri gimana seminggu yang lalu aku ga fokus ngapa-ngapain karena papi sakit,” gerutu Redy.

Hadi mengangguk. Tangannya terus-menerus mengelus punggung Redy guna menenangkan sang kekasih yang tengah gelisah itu. “Gapapa. Orang mah kalo ga tau, pasti suka bikin asumsi sendiri. Selagi itu ga bener, ga usah kamu ambil hati, ga usah kamu pikirin. Oke?” ujar Hadi.

Pelukan itu dilonggarkan oleh Redy. Ia mengangguk dan tersenyum tipis seraya bertemu tatap dengan kekasihnya. “Makasih ya, ayang. Makasih kamu selalu bisa nenangin aku,” ungkap Redy penuh ketulusan.

“Sama-sama, bayiii. Jangan kelamaan pundungnya ya? Nanti hidungnya makin sakit.”

Redy tergelak, “Hahahaha, apa hubungannya coba? Ngawur aja.”

“Nah gitu dong ketawa! Hehehehe. Kan pacarku paling cakep ini kalo ketawa, walau pun hidungnya merah,” goda Hadi, membuat Redy membelalakkan matanya.

“Hah? Hidung aku merah? Yang bener?” tanyanya panik.

Hadi terbahak kencang. Ia pun mengacak pelan rambut Redy dengan wajahnya yang mendekat dengan muka si aries itu, dan cup! Sebuah kecupan terbubuhi di hidung Redy.

“Itu obatnya biar ga merah lagi,” ucap Hadi dengan senyuman yang manis.

Semburat merah muda tercipta di pipi Redy. Ia tersenyum malu dan tersipu dengan perlakuan Hadi barusan. “Makasih, Hadi,” bisiknya lembut.

“Iya, bayi. By the way, hidung kamu dingiiiin. Boleh aku kecup lagi ga? Biar anget, hehehehe.”

Redy memukul pelan lengan Hadi. Sepasang kekasih itu tertawa bersamaan, memenuhi ruang UKS yang memang hanya ada mereka berdua.


schonewords