Sharlyn

episode 1

“Ma... Dedek berangkat dulu ya..”

Pagi hari, Selasa di pertengahan bulan, Zaqi Auriga yang sudah selesai mengikat sepatunya bergegas meraih helm merah. Di depan sudah ada Sekala dengan motor matic bututnya menunggu. Menyalakan klakson buru-buru karena mengejar sarapan yang ketinggalan.

“Zaq buruan!” Serunya sambil mendecak.

Maka Zaqi berlari dan setelah menutup pagar, ia mendudukkan pantatnya diatas jok motor matic butut itu.

“Lama banget deh ah kebiasaan!” Sekala menggeber-geber motor matic bututnya sedang Zaqi mengerucutkan bibirnya sambil mencubit pinggang si tengil, “Sabar kek gila! kayak mau wisuda aja harus buru-buru”

“Gue laper, tolol! belom sarapan nih, kalo lo lama nanti gak keburu” lalu Sekala menyalakan motornya, berjalan agak cepat untuk segera sampai kampus tercinta. “Motor lo kemana?”

“Kena tilang!!”

Zaqi dan Sekala yang tengah menikmati perjalanan pagi itu akhirnya berbincang. Menceritakan bagaimana hari-hari mereka berjalan, menceritakan kejadian penilangan motor Zaqi secara detail.

Matahari yang sudah sangat gagah menyinari hari itu, sinarnya menerpa keduanya. Memberi efek hangat yang tentu saja memeluk keduanya sepanjang perjalanan. Ada tawa yang terselip juga umpatan dan cacian yang terdengar. Zaqi banyak menggerutu saat motornya terpaksa harus diserahkan pada petugas dan berakhir pulang dengan ojek online. dan Sekala bagian yang tertawa puas, mengejek temannya yang tengah menderita.

“Nanti sidangnya tanggal empat katanya mau ditebus temennya Om Bima” ungkapnya. Sekala yang lelah tertawa lalu mengangguk. Cukup besar nyalinya, tanpa membawa surat-surat penting dan spion yang hanya sebelah, si bodoh Zaqi dengan nekat menyusuri jalanan yang ramai petugas.

“Untung lo gak dimintain duit ya” katanya. Zaqi mengangguk heboh sambil menepuk brutal bahu kokoh anak pertama dari Jawa itu, membenarkan perkataannya. Karena ditanggal-tanggal menjelang tua seperti ini tentunya bekal dan uang jajan Zaqi sudah menipis. Lagipula, Zaqi memang lebih memilih menyimpan motornya saja di kantor polisi daripada harus menyerahkan sejumlah uang.

— — — — — — — — — — — — —

Motor beat street berwarna hitam itu berhenti di parkiran gedung fakultas. Keduanya serempak membuka helm dan menyampirkannya diatas spion motor. Sama-sama mengambil jurusan manajemen bisnis membuat keduanya lebih dekat dan sering bersama. Meskipun terkadang jadwal peminatan yang mereka ambil tidak berada di waktu yang sama karena Sekala yang harus menyesuaikan, tak menghalangi keduanya untuk selalu bersama. Akan ada masanya dimana ada Zaqi pasti disitu ada Sekala.

“Itu seriusan IP lo turun, Qi?”

Keduanya yang mulai berjalan menuju kantin akhirnya berbincang dengan topik sensitif. Ah sial Zaqi benar-benar sedih. Selama satu semester ini menurutnya ia masih stabil, masih bisa menjadi kebanggaan keluarga.

Menurutnya selama ini HARUSNYA hasil yang ia terima setimpal dengan perjuangannya. Belajar mati-matian sampai terkadang harus muntah dan mimisan sebab otak yang terlalu sering dipakai, jam tidur yang kurang, waktu main yang makin menipis, biasanya membawakan hasil yang memuaskan. Jeda dan helaan napas yang ia ambil rasa-rasanya tidak cukup untuk menggambarkan betapa kecewanya ia dengan hasil yang ia terima.

Sial! Kenapa sih Zaqi harus menelan pahitnya kenyataan?

Sejak kecil Zaqi dikenal sebagai anak yang cukup ambisius. Sejak kecil menjadi kebanggaan keluarga karena menjadi anak tunggal, membuatnya selalu ingin menjadi nomor satu juga. Selalu diprioritaskan oleh mama, selalu dilimpahi kasih sayang juga membuatnya selalu ingin menjadi yang teratas.

Zaqi ini cukup kompetitif. Zaqi juga sering kali merasa dirinya pantas diatas meski terkadang kenyataan menamparnya.

Sekala Jaladhi ini tentu kenal betul siapa Zaqi yang sedang menghabiskan siang bersamanya. Yang angkuh dan tak pernah mau dinomor duakan ini beberapa kali menjadi orang yang angkuh dan tak tersentuh. Zaqi ini secara tak sadar tumbuh besar dengan jiwa bersaing yang kuat. Terkadang susah diatur dan tidak bisa menahan dirinya.

“Katanya simpanan rektor, kok nilainya apa adanya sih? Buat apa dong nyepong tiap hari kalau gak bisa pake jalur orang dalam? Percuma! Kagak dapet benefitnya.” lalu Zaqi meraih mangkuk soto yang baru saja disajikan.

Zaqi didepan Sekala sudah memasang wajah suntuk paling buruk yang ia punya. Susu murni yang tadi ia pesan hanya ia aduk sembarangan tanpa minat.

Sekala cekikikan sebentar lalu menyeruput kuah sotonya, mencampurkannya dengan nasi yang sengaja ia bawa dari kost-an. Ujung matanya sedikit menelisik pada sobatnya yang masih enggan juga bicara. Aduh Kala ini tahu betul bagaimana sifat si anak mama ini.

Zaqi si ambisius dan gak mau kalah, they said.

Lalu Zaqi mengacak surainya. “Pokoknya gara-gara gue diajak ngedate terus nih!! Ah sialan juga si Sahid ngasih gue nilai C kemarin, kontol!”

Dengan tak berperikemanusiaan, Zaqi meremas kerupuk yang tengah dilahap Sekala hingga hancur, menuai protes yang lantang dari yang sedang sarapan.

“Kurang ajar si pepek! Kerupuk gue hancur gini jadinya ah ngentot! Males ah” lalu Sekala manyun, menggeser mangkoknya sedikit menjauh dari jangkauan pemuda yang masih sibuk menggerutu. Membiarkan dirinya masih larut dalam kekecewaan dan kekesalan yang ia rasakan.

tbc

Cw : kissing


Sepuluh hari sudah Hyunjae melepas status lajangnya. Sudah genap sepuluh hari, pria bisep tebal itu pindah rumah dari kostan minimalis ke rumah yang disediakan untuk keduanya sebagai hadiah pernikahan. Sudah genap sepuluh hari juga, kalau tidur dia tak lagi sendiri.

Pagi ini, Hyunjae bangun duluan karena cahaya matahari diam-diam menusuk kulit dan matanya. Ia bangun dan menarik gorden, membukanya lebih lebar dan membuka jendela agar udara segar masuk kedalam kamarnya.

Ia garuk rambut coklat ikalnya, sedikit merapikan kolor merah dan kaos oblong coklat yang ia kenakan. Ia tersenyum manis. Duh, enaknya punya teman tidur secantik, setampan, sehangat, selembut dan sesempurna suaminya ini.

Ia bawa tangannya mengusap pelan puncak kepala si tersayang. Ketiban apa ya Hyunjae sampai bisa nikahin dia? Amalan apa yang ia lakukan sampai-sampai bisa diterima sebagai menantu keluarga kaya raya yang disegani banyak orang ini? Hyunjae ini siapa ya di masa lalu, sampai sampai keberuntungannya seakan tak habis-habis.

Younghoon Kim. Kekasihnya selama enam tahun belakangan. Pria manis yang sederhana dan apa adanya meski ia bergelimang harta. Yang mau dibelikan cincin lima ratus ribu rupiah sebagai simbol ikatan cinta dan maju ke jenjang yang lebih serius. Pemuda yang mau menemani Hyunjae yang biasa saja ini dalam suka dan duka.

Duh mimpi apa ya dia sampai-sampai bisa mempersunting pemuda bersinar dan penuh cinta yang mau meniti bahtera cinta selamanya bersama dirinya. Pemuda berparas rupawan dengan pribadi hangat yang siap menjadi tempatnya pulang.

Hyunjae terkekeh geli. Duh salting sendiri deh kalau diinget gimana dia gemeteran buat lamar Younghoon. Gimana takutnya dia menghadap langsung ke orangtuanya Younghoon, gimana rasanya mules dan nahan keringat dingin saat kak Taehyung tiba-tiba jadi lebih sensi sama dia pas tau adiknya mau diajak menikah. Butuh waktu hampir setengah tahun hingga akhirnya Hyunjae bisa bertemu secara proper dengan keluarga sang kekasih dan mempertemukan kedua keluarganya. Dan ya, akhirnya disinilah ia. Bergelung dibawah selimut hangat bersama si terkasih.

Hyunjae merunduk, hendak mencium bibir Younghoon. Namun gerakannya terhenti. Ia kembali terpesona. Duh, gantengnya Kim Younghoon ini. Pipi bulat lembut dan kenyal, hidung mancung, bulu mata lentik, bibir merah kenyal. Hyunjae betah berlama-lama di rumah. Betah berlama-lama bergelung dibawah selimut berbagi peluk hangat. Ia tersenyum. Terimakasih Tuhan, berkatmu, Hyunjae bisa merakan betapa nikmatnya surga yang disebut rumah ini berhiaskan bidadari surga seperti Younghoon yang jadi pendampingnya.

“Kalau kamu gak mau cium, mending aku aja yang cium kamu”

Younghoon ternyata sudah bangun. Tepat saat ia rasakan kasur disebelahnya terasa bergoyang dan deru nafas menyampu permukaan kulit wajahnya. Ia buka mata dan dapati suaminya tengah tersenyum manis menatap paras tampannya. Sampai tidak fokus dan tidak menyahut meski Younghoon memanggilnya beberapa kali.

Ia tenggerkan jemari lentiknya pada rahang tegas Hyunjae, ia usap usap permukaan kulit yang terasa kasar karena suaminya belum bercukur. Pelan-pelan kini lengan Younghoon mengalung pada leher kokoh itu dan ia tarik tengkuk Hyunjae. Ia lumat bibir atas sang cinta dengan lembut. Ia sesap dengan rakus bibir kenyal sedikit pahit karena masih punya kebiasaan merokok itu. Younghoon melenguh saat Hyunjae mengunci pergerakan Younghoon. Ia raih pinggang kecil sang suami, ia dekatkan tubuh mereka berdua hingga menempel. Suara kecipak basah mewarnai pagi mereka. Younghoon mendesah pelan saat tangan Hyunjae menyingkap piyamanya, ia usap perut Younghoon dengan manja.

“Good morning, sayang”

Younghoon yang masih terengah itu hanya menatap Hyunjae, menghadiahkan tawa kecil dari suaminya.

“Bantu aku cukuran yuk. Aku ada meeting sama influencer hari ini”

Hyunjae tarik pinggang Younghoon dan dalam sekali gerak, ia gendong pemuda itu ala bridal masuk kedalam kamar mandi.

Younghoon bergegas mengeluarkan alat tempurnya dan dengan cekatan ia duduk diatas tembok disamping wastafel. Meraih rahang Hyunjae yang kini ia lumuri cream cukur banyak-banyak.

Sesekali Younghoon curi kecupan pada bibir suaminya yang menimbulkan protes. Dengan telaten, jemari lentik Younghoon bergerak diatas rahang Hyunjae, membantunya bercukur.

“Kalau tau nikah ternyata seenak ini, kayaknya aku bakalan minta nikah dari awal ketemu kamu deh, nje”

Hyunjae terkekeh, “aku belum siap dananya dong”

“Gak perlu mahal mahal atau mewah kan? Yang penting itu pernikahannya dan dengan siapa kamu nikah”

“Bisa aja, ah”

“Loh iya tau, nje! Coba sekarang kamu belah dadaku, disana tertulis nama kamu doang hahaha lebay ya aku”

Hyunjae tertawa terbahak-bahak lalu memeluk suaminya. Tak peduli dirinya masih berlumuran krim cukur, ia ciumi pipi suaminya dengan brutal. Menghasilkan pekikan kencang penuh protes dari sang pria.

milbbang! local AU

❗ : High school love story, kissing, skinship, local harsh word, memuat beberapa kenakalan remaja

? : penulisan semi-baku ya kawan-kawan.

Younghoon itu tahu betul bagaimana perangai orang yang ia pacari. Younghoon sudah khatam dari a sampai z-nya tentang Lee Hyunjae. Younghoon juga tahu pasti, kalau Hyunjae terkenal sebagai anak yang hobi mencari gara-gara di sekolah. Tapi tiap kali ditanya;

“kok mau sih kamu pacaran sama Hyunjae? Dia kan tukang tawuran”

Atau hal-hal semacam

“kok mau sih jadi pacar Hyunjae yang berisik, jahil dan pecicilan mana dia suka ngutang risoles di kantin pula. Kamu tuh bisa tahu ih dapetin pacar yang lebih baik dari dia, Hoon”

Younghoon selalu punya jawabannya. Tentu Younghoon akan selalu punya jawaban untuk hal itu.


Namanya Lee Hyunjae. Anak kedua dari tiga bersaudara. Anak kelas 12 IPA 7 di SMA negeri di Jakarta. Kesehariannya sih sama saja. Sama saja seperti anak-anak remaja lainnya. Pagi sekolah, siang nongkrong di kantin sama teman-teman, sore pulang bersama pacar, malamnya pergi main sama teman-teman komplek, kadang nongkrong di warmindo, kadang juga sewa PlayStation dan bergadang hingga subuh. Biasa aja kan? Ya memang biasa saja. Hyunjae bukan murid rajin yang masuk organisasi sana-sini, bukan juga yang aktif ikut ekstrakurikuler. Beda sama pacarnya Younghoon, mantan wakil ketua OSIS, dan pernah ikut lomba debate inggris dua kali. Tapi Hyunjae juga gak seburuk itu. Dia unggul dalam pelajaran olahraga, Kimia dan dan kesenian. Meski memang suka tawuran dan bikin kantin berisik, tapi Hyunjae tidak seburuk yang ada di pikiran kalian.

Hari itu, Hyunjae mengajaknya makan siang di kantin seperti biasa. Biasanya, mereka akan sengaja memilih bangku di pojokan, memesan mie ayam atau makanan berat lainnya, kadang-kadang bawa bekal sendiri dari rumah. Bangku mereka akan menjadi bangku yang paling berisik, karena diisi oleh Hyunjae, Dokyeom, Mingyu dan Bambam yang punya segudang bahasan konyol dan lucu untuk mengisi acara makan siang mereka. Bambam, Younghoon dan Jacob adalah teman sekelas. Mereka selalu bersama bahkan sejak masa orientasi sekolah. Sebelumnya, mereka semua satu kelas saat orientasi, meski setelah masa orientasi kelas mereka harus di reshuffle lagi, tapi pertemanan mereka tidak berakhir disitu saja. Sampai kelas dua belas seperti inipun, mereka berenam masih bersahabat. Ralat, yang empat sahabat, yang dua pacaran.

Kalau harus menarik garis waktu di masa lalu, kalau diingat-ingat kembali, Younghoon lah yang pertama kali jatuh hati pada pria berambut coklat kriwil itu. Soalnya, Younghoon yang pemalu ini merasa nyaman saat berada disampingnya. Hyunjae itu banyak akal, dia gak pernah kehabisan topik pembicaraan. Dia juga teman yang baik, lucu dan suka menolong. Awalnya cuma satu kelompok, lama-lama malah jadi akrab dan dekat. Karena rumah mereka searah, mereka beberapa kali pulang bersama, entah naik motor Hyunjae, entah naik ojek online.

Lama-lama bersama seperti itu, akhirnya memupuk sesuatu yang seharusnya gak usah ada sejak awal, katanya. Saat itu, saat mereka menginjak semester genap di kelas 10, Hyunjae memberanikan diri mengajak Younghoon untuk pacaran. Lucu, anak kecil udah banyak tingkah aja, gitu kira-kira kata kakak sulung Hyunjae, Lee Sangyeon yang waktu itu jadi ketua OSIS yang menjadi saksi perjalanan mereka.

Tapi karena Younghoon merasa gak keberatan sama sekali, dan kalau diingat-ingat juga dia yang baper duluan, ya akhirnya kesempatan itu diterima saja begitu mudahnya. Dan sejak saat itu, mereka menjalin hubungan yang lebih dari hanya sekedar teman.


Sebenarnya, kalau ditanya apakah Hyunjae itu berandalan sekolah jawabannya tidak juga sih. Masih banyak anak nakal lain yang kelakuannya lebih parah. Cuma memang Hyunjae ini ikut-ikutan aja tiap ada tawuran. Terhitung sudah belasan kali sejak kelas sebelas, Hyunjae mondar-mandir BK untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Nama Hyunjae, Mingyu, Yibo, dan beberapa anak lain sudah tidak asing lagi bagi guru BK.

Dan pasti setelah kejadian itu, Younghoon akan mendapat pertanyaan serupa. Setiap kalinya, setiap tahunnya.

“Kok lo mau sih pacaran sama si Hyunjae? Anaknya tawuran lagi tuh”

“Kak Younghoon kan ketua OSIS kok pacarnya tawuran sama SMA sebelah?”

“Younghoon anak baik kok pacarannya sama yang demen kelahi gitu sih?”

Dan masih banyak pertanyaan serupa yang selalu ditanyakan padanya tiap kali Hyunjae bikin masalah.

Younghoon marah, jelas. Younghoon tidak pernah suka Hyunjae yang pulang dengan keadaan babak belur karena alasan tidak logis mereka. Tapi jika ditanya begitu, tentu saja Younghoon selalu punya jawabannya. Dan setiap kalinya, setiap tahunnya, jawabannya akan selalu sama.


“Yang, pelan-pelan coba, ini perih banget pelipis aku atuh jangan dipencet-pencet begitu”

“Stop berisik atau gue siram pake air garam muka lo yang sok ganteng ini!”

Hyunjae meringis sambil meminta maaf, membiarkan pacarnya mengolesi betadine dan salep pada luka-luka hasil tawurannya.

“Tadi makan siang sama apa ganteng? Mie ayam lagi gak kayak kemarin?”

“Tadi makan soto”

Hyunjae mengangguk-angguk, meski setelah itu meringis lagi karena Younghoon menekan lukanya. “Diem dulu, ini ada kerikilnya kecil-kecil, tahu!”

“Iya maaf atuh sayangku da perih ini teh”

“Stop ngomong bahasa Sunda! Lo orang Jakarta asli!”

“Emangnya kenapa? Ada larangannya?”

“Gak cocok, aksennya beda sama orang Bandung asli!”

Hari itu, setelah gagalnya acara makan siang bersama yang direncanakan di kantin, Younghoon pulang sendiri. Memilih mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu Jepang kesukaannya, sampai akhirnya ia tahu dari tetangga rumahnya ada Hyunjae menungguinya di teras rumah. Dan alhasil, terdamparlah Hyunjae disini, duduk bersila di lantai kamar Younghoon sambil diobati lukanya oleh sang kekasih.

“Ini kalau SMA 58 gak duluan cari gara-gara juga aku gak bonyok, yang..”

“Tapi mereka cari gara-garanya juga bukan ke lo? Kenapa lo yang riweuh ikut tawuran kalo akhirnya luka ginian aja mewek cuma karena kena betadine?”

“Ya iya iya maaf, habisnya aku kan setia kawan, yang..”

“Makan noh setia kawan” ujarnya sambil melempar kapas bekas ke hadapan pemuda kriwil itu. Younghoon beranjak dan mengambil kotak p3k di kamarnya, ia meraih kain kassa dan plester dan memasangkannya pada bagian wajah Hyunjae yang terluka.

Hyunjae tersenyum kecil melihat Younghoon dari jarak sedekat ini, meski bermulut pedas dan irit bicara, Younghoon tidak pernah tidak perhatian pada Hyunjae. Jari Hyunjae ketusuk duri dikit aja dia obatin, apalagi luka bekas tawuran gini, gak pernah ada sejarahnya ada orang selain Kim Younghoon yang ngobatin bekas bekas luka Hyunjae. Mau di sekolah atau di rumah, pasti selalu Younghoon. “Dah beres, minggir. Gue mau cuci tangan!”

Younghoon yang hendak berdiri itu ditarik tangannya hingga terjatuh tepat diatas pangkuan kekasihnya, si pemuda September itu tertawa terbahak-bahak saat si Agustus bersungut-sungut marah atas apa yang dilakukan olehnya. Dan saat ia sibuk mengoceh, Hyunjae mendekatkan bibirnya pada bibir manis milik Younghoon, menciumnya lembut sambil berterima kasih karena sudah membantunya mengobati luka bekas tawuran. Oh yang tentu saja dihadiahi jari tengah oleh Younghoon yang kabur ke kamar mandi, katanya kan tadi mau cuci tangan ya? Tapi kayaknya malah cuci muka, mana merah pula wajahnya.

Dan sorenya, setelah makan ayam geprek bersama, mereka memilih bersantai di kamar Younghoon sambil menonton anime kesukaan pemuda Agustus itu. Duduk berdua sambil bersandar pada kasur, tangan Hyunjae melingkar di pinggang ramping Younghoon, dengan tangannya yang lain memainkan ujung-ujung jemari lentik milik kekasihnya. Pemuda berkulit putih itu sama sekali tidak keberatan, malah semakin mendekatkan dirinya pada Hyunjae, sesekali bersandar pada bahunya, dan sesekali tangan kirinya yang menganggur memeluk pemudanya. Sebenarnya, hubungan mereka ini romantis romantis saja, sih. Orang-orang saja yang tidak tahu.


Hyunjae itu sangat menyukai risoles kantin, dan beberapa kali bertengkar dengan orang-orang yang menurutnya “menghabiskan jatah risoles kantin kesukaannya”. Sudah terhitung puluhan kali, Younghoon harus menjewer telinga Hyunjae yang adu bacot dengan siswa lain karena tak terima kehabisan risoles saat datang ke kantin. Puluhan kali pula Younghoon harus menebalkan muka karena tingkah konyol pacarnya ini.

Siang itu, Younghoon yang baru saja sampai kantin harus mendengar aduan dari Mingyu bahwa pacarnya adu mulut lagi dengan adik kelas karena menyenggol tangannya hingga risolesnya jatuh dan terinjak oleh siswa lain yang sedang antri. Sebenarnya itu bukan masalah besar, sama sekali bukan. Namun karena itu adalah risoles terakhir yang ada di kantin dan Hyunjae begitu menginginkannya, Hyunjae jadi lebih sensitif.

Biasanya setelah dijewer atau diberikan geplakan maut, Hyunjae akan memilih memakan apa saja yang dipesankan Younghoon dengan mood yang anjlok. Menyebabkan Younghoon harus turun tangan menyuapi bayi besar yang menyebalkan itu. Dan biasanya, Younghoon harus menebalkan muka lebih ekstra karena akan banyak pasang mata melihat kearahnya.

Tapi Younghoon tidak keberatan, karena Hyunjae selalu melakukan hal-hal yang sama. Hyunjae itu apa ya? Bisa di bilang dia ini memborong semua love language yang tersedia di muka bumi ini.

He is the king act of service. Dia ini tipe yang sat-sat-sat-set daripada banyak bicara. Hyunjae suka sekali memanjakan Younghoon, Hyunjae treats him like a king. Dimulai dari hal-hal kecil seperti membukakan bungkus chiki, membukakan tutup botol minum, mengikatkan tali sepatu, mengantarkan makanan, memberikan jaket, membantu memasangkan helm, mengantar Younghoon kemanapun ia mau, dan hal-hal lain yang Younghoon lupa apa saja yang sudah Hyunjae lakukan untuknya karena saking banyaknya hal-hal manis yang dilakukan Hyunjae untuknya.

Hyunjae juga sering memujinya. Hal terkecil yang biasa kalian lihat adalah contoh pertamanya, caranya memanggil Younghoon. Hal itu sudah benar-benar menggambarkan betapa Hyunjae sering memujinya. Hyunjae tidak pernah absen untuk menghujani Younghoon dengan kata-kata manis, memuji dan memberi dukungan atas apa yang telah Younghoon lakukan.

Hyunjae itu suka memberi Younghoon hadiah, katanya sih sebagai bentuk apresiasi. Buktinya cincin couple yang tersemat di jari kelingking mereka, ini adalah hadiah anniversary pertama mereka. Jaket dan Hoodie couple sebagai hadiah ulangtahun, sepatu impian Younghoon sebagai hadiah atas terpilihnya Younghoon sebagai wakil ketua OSIS, dan masih banyak hadiah lain yang tidak bisa disebutkan olehnya. Saat menyambangi rumahnya untuk bermalam mingguan, Hyunjae juga biasa membawa buah tangan. Padahal juga malam mingguan di rumah saja, tapi martabak manis langganannya tidak pernah ketinggalan.

The Quality time… Hmm. Hyunjae gemar sekali menghabiskan waktu bersamanya. Meski kadang jarak memisahkan, Hyunjae juga sering menyempatkan waktu berbagi kabar. Contohnya kemarin, saat kelasnya liburan ke puncak, Hyunjae tidak pernah absen mengabari Younghoon, memberinya foto-foto kegiatan, memberi tahunya kegiatan apa saja yang mereka lakukan, dan malamnya akan saling bertukar kabar lewat sambungan video call.

Hyunjae juga sering mengajak Younghoon jalan-jalan di akhir pekan, meski hanya makan di tukang nasi bebek langganan di alun-alun juga, yang menjadi point pentingnya adalah menghabiskan waktu bersama si sayang, iya kan? Hyunjae juga tak ketinggalan untuk berbagi cerita tentang hari-hari yang ia lewati dan akan siap mendengarkan cerita-cerita Younghoon yang membuatnya tertarik. Oh! Ada satu hal yang paling Younghoon sukai dari Hyunjae yang menyukai quality time ini.

Hyunjae tidak pernah asyik dengan handphonenya sendiri jika sedang berduaan. Ia tidak akan menyentuh handphonenya kecuali sudah terdengar nada dering panggilan masuk.

Oh dan tentu saja Hyunjae juga menyukai skinship. Hyunjae itu orangnya gemesan, apalagi Younghoonnya memang gemesin. Hyunjae sering sekali mencubit atau mencuri kecupan di pipi bulat milik Younghoon. Sering kali mencium ujung hidung Younghoon saat pamit pulang, sering mencium bibir merahnya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Apakah Younghoon keberatan? Tentu tidak pernah. Younghoon meleleh. Setiap sentuhan yang ia dapatkan dari Hyunjae selalu sukses membuat jantungnya berdebar kencang. Hyunjae juga suka memegang tangan Younghoon saat berjalan, beberapa kali Younghoon sering tatapi tangan mereka yang bertaut itu. Sambil menerawang apakah akan ada hari dimana tangan mereka tak lagi saling menggenggam?

Akankah ada hari dimana tangan Hyunjae melepas tangannya? Akankah ada hari dimana bukan ia yang Hyunjae peluk dan kecup bibirnya? Akankah ada hari dimana bukan dirinya lagi yang menemani keseharian Hyunjae? Mengingat hal itu Younghoon mencelos hatinya. Membayangkannya saja sangat mengerikan.


Hari ini, mereka menghabiskan waktu di rumah, mengulang materi matematika dan kimia sambil bercengkrama. Younghoon memperhatikan wajah Hyunjae yang serius sambil menerangkan. Tangannya yang menggenggam bolpoint itu menunjuk beberapa ilustrasi gambar di buku paket sambil menerangkan rumus-rumus dan cara menghitungnya. Ditatapnya semakin dalam dan semakin lama, wajah itu semakin bersinar.

Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, bibir merahnya yang selalu menjadi candu untuk Younghoon itu terlihat sangat sempurna. Rambutnya sedikit berantakan, secara tak sadar tangan Younghoon terulur untuk merapikan rambut Hyunjae, mengelusnya dan berakhir bertengger apik di rahang pemuda September itu. Younghoon menatap Hyunjae yang kini menggenggam tangannya yang kini mengecupnya lama, “Sayangku udah gak mau belajar ya? Udah bosen, kah?”

Younghoon terkekeh kecil lalu mengangguk. “Otakku udah kepenuhan” Hyunjae tertawa lalu menggeser tubuhnya hingga menempel pada Younghoon, hingga akhirnya pemuda Agustus itu masuk kedalam pelukannya. Hyunjae melingkarkan tangannya memberi Younghoon rasa aman dan nyaman. Hyunjae mengusap lembut rambut halus milik Younghoon dan mengecup puncak kepalanya lama. “Sayangku, padahal tinggal sedikit lagi itu bahasan Kimianya.”

Younghoon menggeleng dan semakin merapatkan pelukannya. Mau tak mau akhirnya Hyunjae mengalah. Ia memilih membereskan buku-buku diatas meja dan memasukannya kembali ke dalam tas sekolah. Dan dengan kekuatan ekstra, Hyunjae menggendong Younghoon yang menempel seperti koala padanya dan berjalan menuju kamar. Pelan-pelan Hyunjae membaringkan tubuh Younghoon dan mengecup keningnya sebentar. Hyunjae yang duduk dipinggiran kasur itu tersenyum saat bayi besarnya begitu manis dan lucu mengerjap menatapnya penuh cinta. Younghoon memeluk perut Hyunjae, dapat ia rasakan tepukan halus di punggungnya dan usapan sayang pada rambutnya.

“Kamu ngantuk ya, sayangku?” Younghoon menggeleng. Ia bergumam tidak jelas diperut Hyunjae dan memilih untuk mempererat pelukannya. “Kalau gitu mau beli eskrim gak ke depan?”

Mendengar itu Younghoon buru-buru bangun dari tidurnya dan mengangguk semangat, “mau! Beli mie juga ya, aku laper.”

Hyunjae tertawa lalu menjawil hidung Younghoon gemas, “lucu banget sih pacar siapa?”


Younghoon dan Hyunjae berjalan pelan sambil menikmati eskrim di genggaman masing-masing. Tangan mereka tak lupa saling bertaut, menikmati angin sore yang menerbangkan rambut mereka. Younghoon menatap langit diatas sana. Lagi-lagi pertanyaan tempo hari berputar di kepalanya. Kenapa Younghoon mau ya pacaran sama Hyunjae? Anaknya berisik, petakilan, suka tawuran dan beberapa kali merecok di kantin. Kenapa ya Younghoon tetap suka dan betah menjalin asmara dengannya?

Younghoon berjalan dengan berbagai suara mengisi di kepalanya. Ada banyak sekali yang Younghoon tidak suka dari Hyunjae. Ada banyak sekali tingkah menyebalkan Hyunjae yang membuat Younghoon naik darah. Ada banyak sekali alasan Younghoon marah pada Hyunjae.

Tapi tidak pernah ada satu alasanpun yang cukup menjawab mengapa Younghoon mengakhiri hubungannya dengan Hyunjae. Tidak pernah ada satu alasanpun yang bisa mengisi pertanyaan Younghoon yang diam-diam ia pikirkan selama ini.

“Kelak, kalau kita putus, alasannya kenapa ya?”

Hyunjae yang mendengar itu hanya bergumam, suara Younghoon terlalu pelan ditelan bisingnya suasana sore ibu kota.

“Hm? Kamu nanya apa tadi?”

“Kelak, kalau kita putus, alasannya kenapa ya Jae?”

Hyunjae mengenyit dan merengek protes, “Kok kamu mikir gitu sih ayang ah aku gak suka deh..”

Younghoon memutar bola matanya malas lalu kembali menatap langit sore. “Aku sering ditanya kenapa aku mau mau aja pacaran sama kamu. Aku juga sering ditanya kenapa bisa aku sayang sama kamu, aku sering ditanya kenapa bisa aku jatuh cinta duluan sama kamu, dan aku selalu punya jawaban tentang hal itu..”

Younghoon tersenyum, memorinya melayang, memutar kaset lama yang tersimpan di sanubari, menayangkan betapa banyaknya hal indah yang telah dilewati bersama selama dua setengah tahun ini. Begitu banyak cerita, ada suka ada duka yang dilalui bersama. Begitu indah hingga rasanya Younghoon tak pernah mau menukarkannya dengan apapun. “Kalau ditanya kenapa aku mau sama kamu, jawabannya selalu sama. Buatku, kamu udah lebih dari cukup. Udah lebih dari apa yang aku mau, dari apa yang aku harapkan. Kamu gak pernah kasar kok ke aku, meski kata orang-orang kamu suka tawuran. Kamu gak pernah sekalipun tinggiin suara kamu ke aku, kamu gak pernah marah meski aku keterlaluan, kamu gak pernah biarin aku kesusahan sendirian. Kalau kita punya masalah, kamu selalu datang ke aku lurusin semuanya dengan kepala dingin. Meski kita jauh-jauhan, aku gak pernah merasa kehilangan kamu, soalnya kamu masih peduli sama aku. Sejauh apapun kamu, secuek apapun kamu, Semarah apapun kamu sama aku, kamu gak pernah ninggalin aku sendirian. Terus kenapa aku harus gak mau jalani hubungan ini sama kamu?”

Younghoon duduk di bangku taman komplek, membiarkan Hyunjae mengekor dan menatap kearahnya penuh harap, “Kamu selalu punya sisi manis dan baik yang kamu tunjukkan ke aku yang gak kamu tunjukkan ke orang lain, terus kenapa aku harus tinggalin kamu cuma karena kamu tawuran hari itu? Satu hari kamu lakuin kesalahan, gak pernah mengubah hari-hari lain yang kita lewatin, yang bikin aku sadar kalau kamu udah cukup buat aku.”

Younghoon meraih tangan Hyunjae yang menganggur, menggenggamnya erat dan mengusap jemarinya dengan ibu jari miliknya.

“Terus, kalau kita putus nanti, alasannya apa ya? Aku kayaknya terlalu besar kepala karena mikir bahwa kamu gak akan ninggalin aku demi orang lain, aku juga terlalu besar kepala karena yakin kamu gak akan bosen sama aku…”

Hyunjae tersenyum manis sekali. Hatinya menghangat mendengar semua penuturan Younghoon yang panjang. Hyunjae menyatukan kening mereka berdua, “Aku emang gak pernah bisa janjiin masa depan, tapi apapun itu yang terjadi nanti, aku harap aku gak akan pernah ninggalin kamu, aku harap aku gak akan pernah nyakitin kamu, karena seperti kata kamu tadi, kamu juga udah lebih dari cukup buat aku. Aku gak butuh siapapun lagi, ganteng. Aku cuma mau kamu aja. Aku cuma butuh kamu aja. Kita jalani bareng-bareng terus, ya? Akunya tolong diingetin kalo ada salah, kalo ada sikap dan perkataan aku yang bikin kamu gak nyaman atau bikin kamu bosen sama hubungan kita. Aku juga gak pernah mau kehilangan kamu, ih bayanginnya aja merinding apalagi sampe kejadian…”

Younghoon tertawa geli lalu mengangguk, ia menarik diri dan kembali memakan eskrimnya yang mencair. Hyunjae merangkul pundaknya, dan dengan senang hati Younghoon menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh kekasihnya itu. Keduanya menatap langit sambil berbincang kecil. Dalam hati Younghoon sadar, ia selalu punya jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia dapatkan.

Kenapa mau mau aja sih sama Hyunjae?

Karena sejauh apapun ia melangkah, sejauh apapun ia berjalan, dan apapun yang mereka alami, hal itu tidak pernah mengubah kenyataan bahwa perasaan yang mereka miliki begitu dalam. Younghoon akan selalu punya jawaban atas apa yang ditanyakan pada orang-orang padanya, tapi ia tak pernah memiliki satu jawaban yang cukup untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Petang itu, keduanya kembali ke rumah setelah jalan-jalan di taman komplek, Hyunjae berjalan satu langkah didepan Younghoon, tangan mereka masih saling menggenggam. Younghoon menatapi tangan mereka yang saling bertaut itu, jantungnya selalu ribut. Setiap harinya tidak pernah berubah.

“Nje...”

“Iya, ganteng?”

“Sampai kapanpun, tolong jangan lepasin tangan aku, ya?”

Hyunjae tersenyum dan mengangguk, ia menarik Younghoon masuk dalam rengkuhannya dan berjalan berdua. Mengakhiri hari dengan cerita baru, yang tentunya membuat Younghoon semakin sadar bahwa ia selalu punya jawaban atas pertanyaan yang sering ditujukan padanya.

Fin

©bilulangit

Milsun oneshoot ? Top! Mil Bot! Sun

Content warning : Sex scene, fingering, praise kink, nipple sucking, nipple play, cockholding,multiple orgasm, rough sex, doggy-style, mention insecurities, deep throat, mirror sex, Harsh word, vulgar’s local word ( mention sange, kontol,ewe dll) etc.


[Di beberapa scene saat penetrasi akan lumayan banyak conversation, yang kurang berkenan klik tombol kembali mulai dari sekarang!]

Minor? Go away!


Malam itu Sunwoo membaringkan dirinya sehabis melakukan kegiatan comeback Maverick bersama rekan teamnya. Sunwoo yang baru selesai mandi lanjut merebahkan dirinya di sofa ruang tamu asrama sambil berselancar di internet. Melihat betapa antusias deobi (sebutan fans mereka) menyambut kembalinya mereka ke panggung dengan lagu barunya.

Sunwoo berselancar semakin jauh, semakin lama semakin asyik melihat banyak foto-foto tentangnya dan team terpampang di situs burung biru itu. Sampai akhirnya ia berhenti disalah satu cuitan penggemarnya, tertera empat gambar disana menunjukkan rekan teamnya tengah menari. Eric, Kak Hyunjae, Kak Juyeon dan kak Kevin, sebutnya dalam hati.

Pearl boba eyes milik Sunwoo menyelami bagaimana kerennya bisep rekan teamnya terpampang jelas di internet. Bagaimana terlihat besar dan kuat otot-otot yang mereka miliki. Sunwoo memperbesar gambar yang tengah ia pandangi, milik Hyunjae. Sunwoo tidak ingat kapan terakhit kali ia mengukur lengan kekasihnya ini hingga jadi sebesar ini. Hehe iya kekasih. Tidak ada yang tahu selain team mereka sendiri bahwa Sunwoo sudah lama menjalin kasih bersama salah satu kakak di grupnya.

“ini aku kalau dipiting kak Hyunjae leherku patah nih” desisnya. Sunwoo membenarkan letak duduknya, memilih untuk menyimpan gambar yang ia temukan tadi, lalu kembali berselancar di dunia burung biru itu. “ini apa tidak ada berita tentangku,ya? Daritadi hanya kak Juyeon dan kak Hyunjae saja yang lewat” bibirnya mengerucut lucu cukup sebal karena sedari tadi tidak menemukan satupun cuitan tentangnya. Hingga ia berhenti. Ada, ucapnya dalam hati.

Selang beberapa detik Sunwoo mencelos. Ia sedikit sebal dengan berita yang ia temukan tentangnya. Bukan, bukan karena cuitannya jelek, bahkan dilihat dari QRTnya banyak yang mengapresiasi. Tapi sejujurnya Sunwoo agak sensitif.

Ia memperbesar gambar yang tersemat dalam cuitan, bagaimana paha padatnya menjadi sorotan disana. Banyak yang memuji paha padatnya, karena perjuangan olahraga dibalik paha ini tidaklah mudah. Tapi Sunwoo agak minder. Jujur saja beberapa kali dalam sebulan belakangan ia terlihat sering mengeluh, takut pahanya terlalu besar dan tidak cantik untuk dilihat. Sunwoo melemas sebab sedih yang ia jemput. Sebenarnya seharusnya tidak ada masalah dengan ini, karena banyak fans yang mengapresiasi dan masih menyukainya. Tapi Sunwoo malu. Itu sebabnya ia jarang mengambil selca seluruh badan, jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali memiliki paha kecil yang cantik, mungkin seperti punya kak Chanhee dan kak Changmin. Tapi baginya miliknya terlalu besar.

Bagaimana bisa kak Hyunjae masih menyayanginya? Sunwoo semakin larut dalam kesedihannya, hingga tak sadar ada satu pemuda yang sudah sejak tiga menit tadi berdiri dibelakangnya. Memperhatikan gerak-geriknya dan menyadari aura kelam yang akhirnya keluar dari dirinya.

“Sunwoo?” Dengan terkejut Sunwoo menoleh cepat ke belakang, mendapati kekasihnya tengah berdiri menatapnya teduh. “Kak Hyunjae bikin kaget aja”. Hyunjae melompat kecil, menduduki sofa disamping kekasihnya lalu memeluk pinggang ramping itu hangat, “kenapa? Mau cerita?”. Rambut coklat itu ia usak, dikecupinya dahi dan pipi pelan-pelan, lalu kekasihnya merengek. Balas memeluk pinggang Hyunjae dan menenggelamkan wajahnya didada bidangnya. Sunwoo menggoyangkan badannya sebal masih dengan rengekan anak kecil yang sama.

“Pahaku gede ya kak? Jelek kan?” Matanya berkaca-kaca saat menatap yang lebih tua. Pemuda 1997 itu tertawa kecil lalu mengecup puncak hidung Sunwoo dan berakhir mengecup singkat bibir plumnya. “Gak jelek. Sunwoo gak jelek sama sekali”

“jangan bohong kak…pahaku gede kan? Jelek banget”

“kata siapa? Gak ada yang bilang begitu Sunwoo. Kamu tetep yang paling indah yang kakak punya di dunia ini” jawabnya. Namun sepertinya pacar kecilnya masih tidak bisa sepenuhnya percaya atas jawaban yang ia lontarkan. Maka, detik berikutnya Hyunjae menangkup pipinya, menatap lembut penuh kasih pada yang lebih muda, “Sunwoo, kakak bersumpah kamu lebih dari cukup. Jangan minder, jangan pernah merasa kurang, kamu adalah kamu, yang punya segudang kesempurnaan karena kamu ya kamu. Setiap manusia di dunia ini, memiliki kelebihannya tersendiri sayang, jangan sedih begitu dong” lalu kembali bibirnya dikecup.

Sunwoo menghela nafas dan memilih menyerah. Sunwoo merengek lagi, semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh pemuda didepannya, semakin merengsek masuk kedalam pelukan yang disambut penuh suka cita oleh yang lebih tua. “kak Hyunjae gede banget sih sejak kapan aku gak sadar”.

“apanya yang gede?”

Jemari tangannya meremas lengan Hyunjae berulang kali hingga menimbulkan kekehan lucu dari sang empunya. “Ya olahraga dong makanya, jangan kabur terus. Tiap nge-gym ada aja alasan kan ketinggalan progress otot kakak” ejeknya. Sunwoo sering kali mangkir jika diajak nge-gym oleh rekan-rekan teamnya, beberapa kali kabur dengan beribu alasan meski akhirnya digusur paksa oleh managernya. Sunwoo malas berkeringat untuk hal-hal selain olahraga lapangan, Sunwoo juga malas angkat-angkat beban.

Hyunjae mengelus pinggang ramping milik sikecil, diusapnya perlahan hingga ia mengingat sesuatu, “kemarin tattoo sunwoo keliatan ya?” Sunwoo mengangguk, “bajunya agak transparan, tipis. Dingin kalau kena AC” jawabnya. “bagus dong, kakak mau lihat boleh?”. Sunwoo mengernyit, “lihat apa?”

Sunwoo tertawa kecil, “sange ya?” hyunjae mencubit perut datar itu sedikit sebal, “kangen”

“Halah sange mah sange aja sih gak usah belagak kangen”

Lalu yang lebih muda kembali dipeluk, “yuk? Mumpung besok free”.

“siapa sih yang lagi ngewe sampe kakak pengen juga?” Sunwoo berdiri sembari membenarkan bajunya yang kusut, “biasalah anak muda jaman sekarang. Kenceng banget suaranya, kedengeran sampai ke kamar”. Sunwoo menggeleng lalu menggandeng tangan Hyunjae, mengizinkan Hyunjae untuk memiliki dirinya malam ini. Dirinya, sepenuhnya atas dirinya.


Entah siapa yang memulai dan entah sejak kapan mereka memulai, cumbuan dan kecupan kecupan ringan itu berubah menjadi lebih panas sejak awal. Bagaimana lidah saling membelit dan mengejar, dengan oksigen yang menipis di rongga paru, hingga Saliva yang menetes di dagu keduanya, hyunjae akhirnya menuntun Sunwoo untuk bersimpuh. Sunwoo menatap Hyunjae,tatapannya menggemaskan, Hyunjae menepuk puncak kepala kekasihnya lembut, “buka dulu bajunya sayang”

Maka siapa Sunwoo berani membantah. Dengan gerakan cepat, akhirnya Sunwoo bertelanjang dada. Tattoo itu, tattoo yang menjadi alasan kekasihnya mengajak menghabiskan malam bersamanya. Hyunjae mengusapnya, sengaja memancing dengan gerakan sensual, jemarinya naik hingga menyapa nipple Sunwoo, yang lebih muda tak sengaja mengumpat, menggigit bibir dan memejamkan mata, semakin lama nafasnya semakin berat.Hyunjae sedikit menyeringai, tidak banyak orang yang tahu bahwa Hyunjae mendamba. Nipple pink milik kekasihnya adalah candu baginya, dengan piercing yang menancap tepat ditengah, Hyunjae suka sensasi besi itu jika tengah menyusu, dan suka saat Sunwoo berantakan sebab lidahnya.


Sunwoo bergerak gelisah, kaki hyunjae tak tinggal diam menggoda Sunwoo tepat diselangkangan. Menekan dan memutar dengan gerakan konstan. Sunwoo melenguh saat tengkuknya ditarik, wajahnya tepat diatas resleting celana milik kekasihnya, Sunwoo menengadah lalu meminta izin lewat tatapannya. Hyunjae tersenyum mempersilakan, dan dengan cepat Sunwoo membuka resletingnya dengan gigi, lalu mengendusi apa yang ada dibalik celana dalam Celine milik kekasihnya.

Pelan namun pasti, Sunwoo yang semula hanya mengecupnya dari luar fabric, kini dengan berani membawanya keluar dari sangkar. Dikecupinya lagi, dijilat perlahan dengan tangan yang konstan mengurut pangkalnya. Sunwoo selalu ragu saat memberikan Hyunjae blow job seperti ini, mulutnya kecil ia takut Hyunjae tidak puas, tapi selama ini, Hyunjae tidak pernah mengeluhkan hal itu. Maka, dengan jantung yang berdebar, Sunwoo mulai mengulumnya, sengaja membasahi dan memberikan kehangatan pada Hyunjae kecil dalam genggamannya.

Hyunjae melenguh panjang saat hangat menjemputnya. Cara Sunwoo yang memperlakukannya hati-hati dan konstan, membuatnya mabuk. Hyunjae menggenggam rambut belakang Sunwoo, membantu sikecil untuk memperdalam kulumannya. Lama kelamaan, temponya menjadi sangat cepat. Ujung penis hyunjae semakin dalam melesak,menyapa tonsil Sunwoo diujung sana. Mata Sunwoo berair, ia semakin pusing sebab oksigen semakin sedikit yang masuk. Sunwoo beberapa kali tersedak, namun ia tak gentar dan tak juga berniat menyudahinya, malah dengan sengaja memperdalam milik kekasihnya dalam rongga mulutnya.


Sunwoo menahan pergerakan Hyunjae, membiarkan penis Hyunaje berada dalam mulutnya, jauh hingga menabrak tonsil, Sunwoo memperdalamnya sekali lagi, lalu terbatuk dan melepaskan penis hyunjae, dengan buru-buru meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Hyunjae tertawa sambil memeluk kekasihnya, “lagian tumben banget deep throat”

“mㅡmau coba hhh…soalnya kata Kak Kevin enak”

Hyunjae tersenyum lalu mengecup puncak kepalanya sekali lagi, digendongnya Sunwoo keatas pangkuan, sikecil memeluk bahu dan leher kekasihnya, membiarkan Hyunjae menyusu padanya. Membiarkan giginya menggigit piercing miliknya, membiarkan lidah membelai kulitnya, membiarkan kekasihnya menyesap keduanya dengan rakus. Sunwoo melenguh, meremas bahu kekasihnya dan menggigit bibir bawahnya kencang kencang, badannya melengkung sebab gelombang yang terlalu banyak datang menyerangnya. Ereksinya kian mengeras, dengan sengaja Hyunjae memainkannya, menelusupkan tangannya kedalam celana membuat Sunwoo sedikit berteriak. “Ah anjing…”

“ssstt…such a little bad boy. Daripada mengumpat, better make a cutter moan,honey” lalu Hyunjae menggigit cuping telinganya. Sunwoo merengek disela-sela desahannya,sebab tangan Hyunjae tak ada niatan berhenti memainkan ereksinya. “T-tapi, aku gak bisa kak”

“bisa. Kamu bisa sayang”

Sunwoo mendesah kencang, saat Hyunjae dengan sengaja mempercepat kocokannya pada penis Sunwoo, sunwoo menengadah, sedikit menangis karena jujur belum siap. “Ahh..pelan kak pelan…nghh”

Saat putih hendak menjemput, Hyunjae menutup lubang miliknya, melepas secara tiba-tiba penis Sunwoo dari segala afeksi yang ia terima. Sunwoo menangis lagi, sakit rasanya. Tapi Hyunjae suka melihat bagaimana si kecil frustasi karena ulahnya. Sunwoo menggoyangkan pinggulnya tak beraturan, sengaja menggesekkan pantatnya pada kelamin Hyunjae yang sudah mengeras lagi.

“Such a bad kitten”

“Meow”

Hyunjae mengumpat, menatap tajam tepat pada netra pemuda Aries didepannya, Sunwoo sedikit tersenyum puas sebab merasa menang, sedikit menyeringai dibalik wajah memelasnya. “don’t you dare” ujarnya. Dibalas oleh “meow~” kedua oleh yang lebih muda. “meow?” Lalu Sunwoo tertawa remeh, membiarkan Hyunjae menggambar hickey di selangkanya. Tangan Hyunjae menarik rambut Sunwoo agak kencang, membiarkannya menengadah dan dengan sengaja menyesap kulit leher sunwoo, mengecup jakun dan kembali memberi tanda di selangka.

Sunwoo turun dari pangkuannya, menungging tepat didepan kekasihnya, menggoyangkan pantatnya yang masih terbalut celana dengan sengaja, “kakak…”. Hyunjae segera melucuti pakaian yang masih menempel, juga menarik baju dan celana sunwoo hingga akhirnya teronggok sia-sia sebab dibuang begitu saja.

“prepare yourself darling, kita mulai ok?” Dan meskipun Sunwoo belum mengangguk, satu jari hyunjae sudah merengsek masuk kedalam lubang senggamanya.


Sunwoo mengungging, membiarkan Hyunjae menghujam dirinya begitu dalam. Pinggang Sunwoo digenggam dengan kedua tangan, Sunwoo menggerakan dirinya berlawanan dengan Hyunjae, menyebabkan penis Hyunjae masuk semakin dalam. Sunwoo tak hentinya mendesah, tangan Hyunjae masih setia menggenggam pinggangnya yang sudah pasti menimbulkan kemerahan. Hyunjae dengan gemas meremas pipi pantat bulat Sunwoo dibawahnya, menepuknya sesekali dan meremasnya tanpa henti. “Ah…kakak nghh” sunwoo meremas sprei yang sudah tak beraturan dibawahnya. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat semakin basah sebab keringat yang keluar buah dari kegiatan panas mereka. AC diruangan mereka seperti tak berdaya untuk mendinginkan suasana.

Ini kali ketiga sunwoo orgasme. Tapi hyunjae baru menjemput pertamanya, dan masih meminta lagi pada kekasih manisnya. Sunwoo tidak protes karena jujur ia juga suka, tapi ia tidak bisa menjamin bahwa ia akan tetap waras pada dunia dan baik-baik saja. Kedua tangan Sunwoo ditarik, tubuhnya mengawang diatas kasur, masih dengan hujaman yang ia terima dilubang senggamanya.

Matanya menatap pada cermin disamping mereka, terlihat jelas bagaimana penyatuan badan mereka yang terlihat sangat panas itu terekam jelas di memorinya. Sunwoo mendesah kian keras, bagai serigala melolong ditengah malam, “nghh kakak.. pelan-pelan” Sunwoo memejamkan matanya, penis Hyunjae makin membesar didalam lubangnya, panas dan gerakannya konsisten. Membuat kewarasan Sunwoo perlahan mulai memudar, yang ia ingat hanya Hyunjae dan kenikmatan yang ingin ia jemput. “look at the mirror. My pretty Kim sunwoo” lalu nipple yang terpasang piercing itu kembali dimainkan, tangan kanan Sunwoo menumpu badannya, masih dengan gerakan Hyunjae yang belum juga memelan.

“hancur kak ㅡnghh udah hancur”

Sunwoo mulai meracau tidak jelas. Tanda putih akan seger menjemput kewarasannya. Hyunjae memeluk Sunwoo, membalut tubuh si ramping dengan badannya, menciumnya dari samping lalu berakhir mengecup keningnya, “indah. Pacar kakak indah banget, ganteng, cantik. Matanya bagus ya sayang”. Sunwoo menggeleng. Ia tidak bisa terlalu banyak dipuji. Semua orang didunia tahu bahwa Sunwoo adalah manusia haus afeksi. Sunwoo menggeleng ribut, “kakak ㅡnghh gede banget takut nghhh”

Hyunjae tertawa sedikit memelankan ritmenya, menusuk dengan pelan namun dalam pada lubang Sunwoo, Sunwoo terhentak hentak ke depan, hancur. Semuanya sudah hancur. Sunwoo sudah tidak punya sisa sisa kewarasan. “Hancur hiks ahhh enak”

“kamu gak akan hancur cuma karena kakak giniin sayang” lalu Hyunjae membalik tubuh Sunwoo hingga telentang, “cantiknya kakak. Sini lihat kakak, jangan merem gitu. Sini lihat kakak sayang”

Sunwoo menurut. Ia menatap Hyunjae, menahan sekuat tenaga saat akan memejam. “Kamu itu sempurna. Jangan cuma karena paha, kamu jadi banyak mindernya. Pacar kakak sempurna, kamu sempurna” satu hujaman, dua hujaman, tiga hujaman, tangan Sunwoo meremas bahu Hyunjae kencang-kencang dengan nafasnya yang tersengal-sengal, “kㅡkakak boleh?? Kakak nghh kakk …”

Hyunjae mengangguk, “boleh sayang, apapun buat kamu”

Dan saat hujaman terakhir itu Hyunjae hantarkan untuk Sunwoo, pemuda rakun itu mendesah panjang meneriakkan nama Hyunjae sambil memeluknya, begitupun hyunjae, mendesah panjang sambil mengusap tubuh Sunwoo dibawahnya. Ada oksigen yang dikejar secara rakus oleh keduanya saat bintang bintang itu menyapa. Ada paru yang harus diisi dan pinggang yang harus berhenti bergerak. Moment dimana Sunwoo menatap lurus pada netra Hyunjae saat orgasme adalah hal terindah yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Rapper kecil kebanggaan grupnya, dengan tingkah tengil dan super jailnya, siapa sangka didalamnya terdapat jiwa yang dipenuhi rasa minder yang tinggi. Yang mudah merasa insecure dan malu terhadap apa yang menurutnya menjadi kekurangannya. Padahal Sunwoo adalah kata lain dari sempurna, sempurna karena menjadi apa adanya dirinya.

Sunwoo adalah definisi cantik dan indah bagi Hyunjae meskipun dalam wujud pria. Sunwoo adalah yang paling tampan yang pernah ia jumpa. Sikecil masih terengah-engah setelah pelepasan. Hyunjae menatapnya lamat-lamat penuh kasih sayang, diusapnya dahi yang basah itu, dikecupnya sekali lagi bibir ranumnya. “Indah banget pacar kakak”

Sunwoo tersenyum sambil memejamkan mata, “diem ah. Capek”

Hyunjae membaringkan tubuhnya di samping Sunwoo, menarik selimut menutupi seluruh tubuh keduanya, “istirahat dulu nanti kakak mandiin, sekalian beresin ini semua”. Sunwoo menenggelamkan wajahnya didada telanjang kekasihnya, “nanti kak Kevin marah kamarnya acak-acakan sama bau peju begini”

Ada tawa yang terdengar setelah Sunwoo berkata demikian, dan ada usapan lembut dipuncak kepala, “iya nanti kakak yang beresin”

Sunwoo menatap wajah Hyunjae penuh senyuman, lalu berbisik berucap terimakasih atas segala yang telah ia beri. Dan malam itu, keduanya tertidur saling memeluk setelah mandi dan mengganti sprei tentunya.

Fin

Content warning : boyslove, rate 17+,berisi peluk-peluk dan kecup-kecup


Jujuyoyo adalah teman sejak kecil. Sampai detik ini mereka belum berpacaran. Tapi orang-orang sudah menganggapnya begitu. Bagaimana Lee Juyeon dan Ji Changmin adalah bagai suatu yang tak bisa dipisahkan. Harus selalu bersama dan akan selalu bersama. Rumah Juyeon yang berjarak lima belas langkah dari rumah Changmin membuat mereka selalu bersama sejak kecil.

Juyeon adalah orang pertama yang tau segala sesuatu tentang Changmin, begitu pun sebaliknya.

Juyeon adalah orang pertama yang akan Changmin cari kala ia kesusahan, Juyeon juga adalah orang pertama yang Changmin ingat setiap membuka mata.

Sudahkah Juyeon mengerjakan pr? Bisakah Juyeon mengerjakan ulangan harian? Dan jika Juyeon kesulitan, Changmin akan datang menyelamatkan kesusahan.

Tok tok tok

Pintu kamar diketuk, Changmin membenarkan piyamanya yang kusut sebab berbaring terlalu lama lalu membuka pintu, menampakan si pemuda berbahu lebar dengan senyuman cerah hingga mata menyipit seperti kucing itu didepan pintu. Dengan kedua tangan menenteng keresek putih yang bisa dipastikan kue ulangtahun dan pudding.

Juyo lama”

Juyeon melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar sahabat kecilnya itu “kan harus bantuin bunda dulu beresin dapur”

Lalu keduanya duduk bersila diatas lantai, “kuenya bikin?”

Si kucing besar mengangguk lalu tersenyum cerah sekali, “kata bunda biar lebih spesial. Ayo kita tiup lilin” Juyeon dengan telaten menancapkan lilin lilin kecil diatas kue lalu menyalakan korek dan mulai bernyanyi. Changmin membuat wish lalu meniupnya dan keduanya bertepuk tangan.

Mau puddingnya kak sang cepet!”

Kue bikinan juyo gamau?”

Puddingnya dulu nyoba sini”

Juyeon menyuapi si tupai dengan pudding buatan kakaknya lalu beralih menyuapinya kue.

Ji Changmin saat mengunyah sangat lucu. Bagaimana pipinya mengembung dengan gerakan mengunyah yang konstan dan wajahnya yang indah juga menggemaskan. Juyeon selalu suka pemandangan seperti ini.

Maka setelah lima belas menit asyik dengan kegiatan suap menyuapi, saat kue dan pudding itu habis, tanpa pikir panjang Changmin langsung bergeser ke arah Juyeon, mendudukkan dirinya diatas kaki Juyeon yang masih duduk bersila. Tangannya melingkar di pinggang Juyeon dan kepalanya dibuat bersandar dibahunya.

Juyeon dengan sigap meraih badan Changmin dan menggendongnya membiarkan Changmin menempel pada badan bagian depannya seperti koala.

Ayo minum dulu”

“Gak mau udah gini aja”

Nanti Changmin cegukan, kamu kalau cegukan rese. Ayo minum dulu”

Katanya mau peluk sampe kebas kok disuruh minum sih” Changmin menggigit bahu Juyeon yang bersikeras memaksanya. Lalu akhirnya si kucing besar mengalah dan merebahkan dirinya dan Changmin diatas kasur bermotif panda itu.

Changmin masih menempel pada tubuh Juyeon seperti lintah. Bahkan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Juyeon. Tapi siapa Lee Juyeon berani memprotes atas tindakan manusia semenggemaskan ini?

Tangan juyeon dibawa untuk memeluk tubuh si kecil yang terlihat tenggelam. Kepalanya ia kecupi dengan lembut, dahi dan puncak kepala lalu dilanjutkan dengan hidung dan pipi.

Aku mending pacaran beneran sama Juyo gak sih?Kecil gini takut kelindes orang-orang. Juyo kan besar”

Tadi katanya gak takut meskipun badannya kiciiiii???”

Ya soalnya Juyo badannya besar. Pas banget buat dipeluk aku yang kecil ini”

Kalau mau pacaran biar pelukan sampe kebas terus biar bisa ciuman sampe jontor Juyeon juga mau”

Lalu terdengar suara Juyeon mengaduh dan tertawa setelah mendapatkan cubitan dari si tupai.

Tapi aku serius Juyeon, ayo pacaran aja kita”

Ya juyeon juga serius Changmin, kalau mau ayo aja”

Yaudah mau”

Lalu juyeon mempererat pelukannya sambil terkikik geli, “*hehe pacar hehe”

Dan hari itu, bersamaan dengan status keduanya berubah, pelukan itu masih tetap erat, bahkan sampai hari berganti.

[Fin]

Kyunyu / Nyukyu! AU Trigger warning : major character death, angst/hurt,kissing, etc.

Ji Changmin tidak terlalu suka. Perceraian orangtuanya menyebabkannya harus memilih. “Kamu pilih tinggal sama ibu atau ayah,nak?”

Ji Changmin tidak pernah suka. Ibu atau ayah bukanlah pilihan. Changmin selalu berdoa dan berharap, semoga ayah dan ibunya tidak serius dalam perpisahan. Ia kira keduanya cukup harmonis selama ini, ia lihat keluarganya baik-baik saja. Ibu yang tersenyum saat ayah pulang, dengan hangat merentangkan tangan membumbu sambutan istrinya dengan peluk dan kecup, ternyata tetap saja dunia adil dan berputar pada porosnya.

Keluarga yang ia kira baik-baik saja, malam itu benar-benar berubah. Lemparan piring dan gelas kaca, sumpah serapah juga suara keras lainnya mengisi rumahnya yang berantakan. Saat itu, Changmin baru berusia dua belas. Changmin yang tidak tahu apa-apa hanya menangis ketakutan didalam kamar. Mencoba menelfon kakaknya meminta perlindungan, “tunggu kakak disitu. Jangan keluar kamar” katanya malam itu.

Hingga saat dimana disuruh memilih, Changmin memilih tinggal bersama kakak. Sangyeon. Sebab ia rasa ayah dan ibunya telah berubah, dan kembali lagi pada keteguhannya, ayah atau ibu bukan pilihan, “Changmin mau tinggal sama kakak kalau ayah dan ibu tetap mau bercerai” suaranya terdengar payah, karena terlalu lama menangis menyebabkan tenggorokannya kering dan sakit, masih dengan dada naik turun, dan malam itu, dunia Changmin berubah.


Sekolah yang rajin ya. Kenalan sama teman-teman baru” Sangyeon membuka seatbelt milik adiknya lalu diusapnya pipi dan rambut hitam legam Changmin dengan penuh perhatian. Changmin menatap keluar jendela, sekolah menengah atas. Sangyeon adalah karyawan kantor yang kerjanya selalu berpindah-pindah kota. Saat SMP saja, Changmin menghabiskan banyak waktunya untuk berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain hanya untuk ikut kakaknya.

Kakak janji kan gak akan pindah-pindah lagi? Aku capek kak kenalan-kenalan terus.. udah nyaman malah harus pindah lagi” Changmin mengeluh. Sangyeon hanya tertawa kecil lalu mencubit hidung adiknya,”kakak janji kamu sampai lulus sekolah disini. Ok?”


Cre.ker High school

Changmin menatap gerbang sekolah barunya. Orang-orang mulai menatapnya, Changmin terlihat mencolok karena seragam yang ia kenakan berbeda dengan murid lainnya, menandakan bahwa ia benar-benar orang baru. Seharusnya berjalan menuju ruang TU tidak sesulit ini, tapi entah mengapa Ji Changmin merasa berat. Ia bukan orang yang mudah bersosialisasi, dan salahkan Sangyeon yang tidak bisa mengantarnya bahkan hanya sampai pintu ruang TU.

Cari siapa?”

Changmin membalikkan badannya terkejut, ditatapnya anak lelaki seusianya dengan rambut blonde terang bertanya padanya. “Ahㅡ itu mmmm... aku cari ruang TU” ucapnya sedikit mencicit. Anak lelaki itu tampak mengangguk, “ayo aku antar” lalu tangan Changmin diraihnya, badannya dipaksa untuk mengikuti langkah pemuda bertubuh ramping itu.

Murid baru ya?” “Iya..”Kelas apa?”Mmm..katanya sih kelas IPA 2”

Anak itu mengangguk lagi,masih dengan aktivitas menggandeng Ji Changmin hingga ruang TU. “Aku Ji Changmin”

Oh hai Changmin. Ini ruang TU, masuklah. Aku harus ke kelas, dan namaku Choi Chanhee”


Choi Chanhee. Salah satu murid sekolahnya, mungkin teman pertamanya. Anak laki-laki bertubuh kecil itu, rupanya juga teman satu kelasnya. Choi Chanhee tipe anak yang mudah bergaul (kelihatannya,dilihat dari banyak siswa yang mengobrol dengannya). Choi Chanhee duduk di bangku paling ujung barisan dua. Terhalang dua meja dari kanan dengan Changmin yang kedapatan duduk sebangku bersama Donghan. Semakin dilihat dan diperhatikan, Choi Chanhee terlihat sangat menawan meskipun sedang diam. Chanhee kebetulan duduk didekat jendela. Maka saat sinar matahari pagi menyapa, pantulannya seperti cahaya yang menemani bidadari turun dari khayangan.

Choi Chanhee dengan senyum dan tawanya yang sederhana itu,Choi Chanhee yang dihari pertamanya membantu dirinya pergi ke TU, Changmin selalu berharap bisa berteman dengannya.

Ayo ke kantin” itu Choi Chanhee dengan empat temannya . Kevin Moon,Lee Juyeon, Boo seungkwan dan Chwe Vernon. Donghan bilang mereka “geng anak hits” mungkin karena banyak orang yang mengenal mereka dan banyak juga pria dan wanita yang memuja mereka. Ya meskipun baru di sekolah ini Changmin beberapa kali mendengar siswa siswi membicarakan mereka entah itu visualnya atau bahkan bakat mereka. Kevin Moon misalnya, dia dikenal sebagai pianist sekolah dengan suara emasnya. Dapat Changmin lihat saat pelajaran kesenian dimulai, Kevin yang dipercayai sang guru membantu rekan-rekan sekelasnya bermain piano. Atau Choi Chanhee si ahli matematika. Changmin dibuat kagum olehnya saat Chanhee menghitung dengan cepat dan bisa menyelesaikan latihan soal dipapan tulis. Maka tak heran kalau mungkin mereka dijuluki geng anak-anak hits.

“Changmin, mau ikut ke kantin?”

Changmin yang sedang mencatat pelajaran seketika mendongak, netranya berjumpa dengan milik Chanhee yang berwarna kecoklatan. “Ah itu...

Ayo, ke kantin sama-sama” Kevin menyahuti mungkin ia bisa menangkap jelas wajah ragu-ragu dan penuh malu miliknya.

“Ayo jangan banyak berpikir, kenalkan aku Seungkwan. Karena kita satu kelas, kita bisa menjadi teman. Sekarang taruh pulpenmu, tutup bukunya dan mari pergi ke kantin bersama” Seungkwan merebut semua atribut milik Changmin menutup bukunya dengan paksa dan menarik tubuh Changmin untuk segera beranjak.

Dan sejak saat itu, Changmin menghabiskan waktu istirahat siangnya bersama Chanhee dan ketiga kawannya.


Hujan. Ji Changmin bukan penikmat hujan. Ia tidak terlalu menyukai sensasi basah dan dingin yang diciptakan. Maka, Changmin yang hanya memiliki tas ranselnya itu, berlari menerobos hujan hingga ke halte bus terdekat. Changmin mengusap-usap lengan seragamnya yang terkena hujan, juga mengelap ujung sepatunya dengan tissue basah yang ia kantongi.

Aktivitasnya terhenti saat ada sepasang kaki beralaskan sepatu merah berhenti tepat disampingnya, Changmin menegakkan badannya dan lagi netranya bersiborok dengan netra kecoklatan itu. “Chanhee kehujanan juga?”

Yang ditanya hanya mengangguk, “kamu nunggu bis atau nunggu dijemput?”

“Aku nunggu bis sih, Chanhee?”

“Sama aku juga nunggu bis”

Lalu keduanya duduk menunggu bis ditengah hujan yang deras. Chanhee tampak menggoyangkan kakinya, telinganya kini tersumpal airpods berwarna putih, dilihatnya Chanhee mengencangkan volume lagu dari handphonenya. Changmin menghela nafas, karena dirasa suhu semakin dingin menyapa kulitnya.

“Mau dengar apa yang aku dengar?” Chanhee tampak menyodorkan sebelah airpodsnya pada Changmin yang dibalas senyuman dan anggukan olehnya.

Oh! Nikka Costa?”

“Changmin tahu lagu ini?”

Changmin mengangguk antusias, “kakak aku sering nyanyi lagu ini, setiap malam dia selalu main gitar sambil nyanyi lagu ini” Chanhee tersenyum lalu mengangguk pelan,”ini lagu kesukaan mendiang ibuku”

Mata Changmin sedikit meredup, “maafkan aku...”

Untuk apa?

Aku tidak tahu ibu Chanhee sudah tidak ada”

Lalu Chanhee tertawa kecil sambil memukul pelan pundak Changmin,”It's ok. Ibuku meninggal sudah lama. Lupus, sudah bertahun-tahun dan ya..dia sangat suka lagu ini”

Lalu di hari hujan itu, Chanhee dan Changmin terlihat lebih dekat. Keduanya berbincang-bincang tentang banyak hal hingga akhirnya keduanya menaiki bis yang sedari tadi mereka nantikan.


Hujan di bulan September semakin sering mengguyur kota. Mau tak mau setiap siswa harus sedia payung atau jas hujan. Tak sedikit juga siswa yang membawa baju ganti dan sandal untuk berjaga-jaga.

Hari itu, hujan deras. Dan Chanhee tidak membawa payung ataupun jas hujan karena kelupaan. Tas sekolahnya basah kuyup mengharuskannya mengganti dengan tas lain, dan lupa memisahkan jas hujan didalam tas lamanya.

Chanhee mendecak sebal sebab tertahan. Sekolah cukup sepi karena banyak siswa yang telah pulang.

Chanhee mengulurkan tangannya membiarkan ratusan tetes air hujan berjatuhan mengenai tangannya. Rasanya dingin tapi Chanhee cukup menyukainya. Ibu bilang, saat kau menangis ditengah hujan, hujan akan menyamarkan air matamu juga akan meredam gemuruh suara tangismu. Chanhee, sudah lama tidak menangis. Sudah lama tidak bereaksi pada emosi yang ia miliki.

Chanhee menengadah kala payung kuning melindungi kepalanya, “ayo ke halte bersama”

Itu, pria manis berlesung pipi. Tersenyum tulus kearahnya hingga matanya sedikit menyipit, “aku kira Changmin sudah pulang

Aku kan piket hari ini. Ayo ke halte?!” Setelah membagi airpods kiri miliknya pada Changmin, Chanhee mengangguk dan melangkah bersama Changmin menuju halte bus. Kali ini tidak sepi, tidak hanya air hujan yang berisik di gendang telinga. Tapi suara Ji Changmin yang kebetulan sedang asyik bercerita.


Changmin melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat pelajaran olahraga. Tidak ada Choi Chanhee disana padahal ia yakin tadi melihatnya pergi ke loker juga.

Cari Chanhee ya?“ Itu Yoojung. Salah satu teman sekelasnya juga. Lalu Changmin mengangguk. “Chanhee memang tidak pernah ikut pelajaran olahraga selain renang dan catur” Dahi Changmin mengernyit menyiratkan tanda tanya besar dikepalanya. “Aku juga tidak tahu tapi memang sejak kelas sepuluh tidak pernah ikut olahraga selain catur dan renang”

Kalian juga tidak bertanya?” Yoojung menggeleng,”takutnya privasi, bisa saja Chanhee memiliki cidera tertentu” Changmin membulatkan mulutnya, benar juga pikirnya.


Hari itu, lagi-lagi hujan

Dan Changmin akan senang hati mengajak Chanhee berbagi payung lagi. Hari hujan kali ini,mereka berbagi cerita lucu dan seru pengalaman bagaimana mereka menghabiskan waktu di sekolah menengah pertama atau sekolah dasar.

Kamu lucu, Changmin” ucap Chanhee disela-sela tawanya. Changmin yang merasa senang melihat Chanhee tertawa hanya tersenyum setelahnya. “Aku senang bisa berteman denganmu” bisik Changmin yang dibalas guyonan oleh si rambut blonde, “semua orang merasa begitu memang

“Kapan-kapan mau main ke rumahku?”

“Boleh, aku mau bertemu kak Sangyeon yang kau banggakan itu


Menghabiskan waktu bersama selama dua tahun, menghabiskan banyak hari hujan. Menghabiskan banyak detik untuk mengukir kenangan, secara tak sadar Chanhee dan Changmin mulai saling bergantung. Keduanya akan terlihat bersama kemanapun mereka pergi. Ke kantin, ke perpustakaan, jalan-jalan setiap malam Minggu, dan setiap hari hujan payung berwarna kuning itu akan diisi oleh keduanya.

Rasa yang tak biasa lama-lama secara tak sadar kian membesar. Changmin menaruh perhatian lebih pada temannya. Dan selama ini, Changmin kira Chanhee tak keberatan. Didalam bis yang melaju, Changmin akan menaruh kepalanya dibahu Chanhee, masih dengan kegiatan berbagi airpods yang mungkin takkan pernah berubah.


“Changmin-ah kalau suka, katakan saja”

Choi Yoojung sedikit menggebrak meja, Changmin segera menutup mulut gadis itu, “jangan keras-keras nanti mereka dengar

Aku setuju kata Yoojung, kalau kamu suka katakan saja. Selama ini sepertinya Chanhee masih sendiri?” Timpal Doyeon. “Aku malu...

Jangan buru-buru, pelan-pelan saja lalu ambil momentnya dirasa waktunya sudah pas”

Chanhee sudah punya pacar belum, sih?” Jantung Changmin sebenarnya bergemuruh. Adrenalin yang terpacu sedikit membuatnya sakit perut dan gugup. Menghabiskan banyak sekali waktu dengan Chanhee, rasanya seperti mimpi. Changmin tak pernah menjumpai lagi sedihnya, tak pernah lagi merasa kesepian. Saat Chanhee mampir ke rumahnya, dan Sangyeon yang pulang terlambat, Chanhee dengan senang hati menemaninya, membagi satu pelukan hangat sambil menonton televisi.

“Aku tidak kepikiran punya pacar” sedikit mencelos dirinya saat mendengar suara Chanhee. Padahal, Chanhee sangat amat sempurna, tak heran jika mungkin memiliki banyak penggemar dan pengagum rahasia. “Chanhee kan tampan, kenapa tidak mau punya pacar?”

Chanhee terlihat menerawang ke langit sore hari itu, kakinya yang menggantung bergoyang-goyang dan satu helaan nafas lolos, “hanya...takut tidak bisa menjaganya saja. Takut tiba-tiba aku harus pergi, entah itu karena rasaku yang berubah atau mungkin takdir yang lain yang bisa terjadi”

Apa tidak mau mencoba?”

Chanhee menengok kearahnya, mengangkat sebelah alis karena tak mengerti. “Takdir itu kan kehendak Tuhan, baik buruknya, hidup Chanhee tetap akan berjalan. Daripada terus menerus mundur karena rasa takut, mungkin Chanhee bisa mengubahnya, Chanhee maju dan mencoba banyak hal yang baru, lalu rasa takutmu itu ubah menjadi satu batasan agar kita bersikap hati-hati”

Mencoba hal-hal baru ya....” Chanhee terlihat mengangguk sambil merenungkan perkataannya. “Baiklah,kamu mau jadi pacarku?”

Dan hari itu, Ji Changmin bagaikan tersambar petir di siang bolong.


Sejak saat itu Ji Changmin dan Choi Chanhee yang terkenal dua sahabat yang tak terpisahkan, menjadi pasangan yang bahkan menjadi sorotan orang-orang. Choi Chanhee yang sejak dulu punya banyak penggemar karena parasnya yang rupawan dan hatinya yang dermawan, juga Ji Changmin murid pindahan yang sangat menggemaskan yang sukses mencuri perhatian orang-orang itu, kini merubah status mereka menjadi sepasang kekasih. Dimana selalu ada saatnya mereka saling menggenggam tangan saat berjalan di koridor, ada saat dimana mereka menghabiskan waktu makan siang berdua, dan ada saat dimana mereka kembali pada rutinitas mereka yakni berbagi payung kala hujan. Choi Chanhee yang populer itu, sekarang sudah memiliki kekasih.


Tangannya mengusak rambut coklat Changmin yang kini sudah setengah basah setelah menyelesaikan test renang. Semua mata tertuju pada keduanya yang terlihat lucu dan serasi, “Menjadi bucin menyebabkan seorang Choi Chanhee jarang menghabiskan waktu main sama kita lagi ya” begitu kata Seungkwan yang dibalas cubitan pedas dari Changmin sambil tertawa, “Pulang sekolah nonton yuk, aku dengar ada film bagus lho”

“Mau! Ayo Chanhee kita nonton, aku bosan di rumah terus. Kevin sama Vernon bisa kan?”

Ayo kita nonton, sebelum sibuk persiapan ujian kelulusan”

Chanhee menginterupsi, sambil mengibaskan tangannya “aku sudah ada janji, aku tidak bisa pergi”

Seketika ketiga pemuda lain berseru kecewa, “ayo Chanhee kapan lagi kita bisa nonton bersama” ajak Vernon.

Maaf, aku beneran gak bisa. Kalian aja ya? Atau nanti aku nyusul deh”

Changmin masih alot sebenarnya, memaksa Chanhee untuk ikut, tapi Chanhee tetap teguh pendirian dan akhirnya semuanya mengalah dan mengizinkan Chanhee menyusul setelah urusannya selesai.


Malam itu pukul delapan saat Changmin keluar dari bioskop bersama Kevin, Vernon dan Seungkwan. Kedua jempolnya bergerak cekatan diatas gawai, membalas pesan Chanhee yang bilang ia menunggu ketiganya di restoran Jepang. Changmin melambai ceria mendapati Chanhee tengah duduk menunggu, lalu setengah berlari menghampiri kekasihnya, dengan senang hati Chanhee menyambutnya dengan satu pelukan singkat,sekedar bertanya tentang film yang tadi mereka tonton.

Chanhee memutar stir mobilnya untuk parkir di depan rumah Changmin. Pukul sembilan, mereka memutuskan untuk pulang. Kak Sangyeon izin untuk pulang larut karena ada urusan kantor, maka Chanhee mengiyakan permintaan Changmin untuk menemaninya sebentar, setidaknya sampai jam sepuluh malam katanya.

Changmin membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Chanhee mengikutinya hingga kamar. Keduanya melempar diri pada kasur yang menggoda. Changmin merengsek memeluk Chanhee erat-erat, Chanhee hanya balas memeluk sambil mengecup puncak kepala yang terkasih.

“Capek” keluhnya. Maka, satu kecupan kini mendarat diatas jidat. Satu helaan nafas Changmin akan dibalas satu kecupan manis diatas dirinya, entah itu puncak kepala atau bahkan pipi gembilnya.

Changmin, besok aku pergi sebentar ya. Tidak lama mungkin tiga atau empat hari. Kamu bisa menjaga diri kan?”

Changmin menengadah, sedikit sedih mendengar Chanhee harus pergi,”mau kemana?”

“Ada acara keluarga, aku harus pergi”

Lagi-lagi Changmin menghela nafas, sedikit merengek lalu membenamkan wajah manisnya pada Chanhee,”kalau aku kangen gimana?

Kalau kangen ya tinggal bilang saja, nanti aku video call, ok?”

Sedikit tidak rela tapi akhirnya sang terkasih mengangguk. “Kalau begitu, ayo peluk lagi. Soalnya besok tidak bertemu Chanhee”

Sambil pelukan, keduanya asyik mengobrol. Membicarakan hal-hal lucu, atau sekedar berbagi pengalaman. Changmin menceritakan betapa seringnya ia pindah sekolah sejak ikut bersama kakaknya, ia juga bercerita bagaimana Sangyeon yang sibuk dengan pekerjaannya, bercerita tentang bagaimana pengalamannya memiliki teman banyak dari berbagai daerah yang ia kunjungi, “tapi aku paling bersyukur pindah kesini, karena bisa bertemu dengan Chanhee” lalu tertawa kecil karena malu. Chanhee mencebik mengejek,”gombal aja kamu”

Beneran! Aku berterimakasih sekali kak Sangyeon menerima tawaran naik jabatan dengan syarat pindah kesini, soalnya aku ketemu orang-orang baik, Chanhee, Kevin, Seungkwan,Vernon dan teman-teman lainnya”

Chanhee menatap pemuda tupai itu penuh damba. Pasalnya, ia juga sangat bersyukur bertemu dengannya yang sedang dalam dekapan. Bagaimana hidup Chanhee yang monoton menjadi sedikit berbumbu dan berwarna sebab kehadirannya. Bagaimana caranya bicara, caranya tersenyum dan tertawa, semuanya indah dimata si Choi. Lelaki bernama Ji Changmin ini, sukses merebut semuanya darinya. Sisi lain yang selama ini tak pernah ia bagi, sisi romantisnya yang tak pernah ia berikan pada siapapun. Chanhee bersyukur bertemu dengan pemuda Ji ini.

Maka malam itu, Chanhee dengan kurang ajar memajukan bibirnya untuk mencuri satu ciuman.

Bukan hanya kecupan singkat, tapi benar-benar ciuman. Pelan, manis dan tak menuntut.

Dapat ia rasakan pemuda Ji itu berjengit kaget dan terdiam kaku sebab gerakannya yang tiba-tiba. Sekian sekon ia terdiam, akhirnya dengan penuh keberanian, Changmin memejamkan matanya, mengikuti alur yang Chanhee kendalikan.

Bibir keduanya menyatu, saling menyesap dan mengecup. Tak ada yang mendominasi selain rasa sayang dan cinta diatas keduanya. Changmin meremas punggung kekasihnya saat Chanhee dengan seizinnya memasukan lidahnya, menyapa Changmin didalam sana, menghantarkan getaran yang membuat jantungnya berdegup kencang. Changmin sukses meleleh. Ciuman yang memabukkan malam ini, sukses membuatnya lemas. Ia membiarkan Chanhee melakukan apapun yang ia inginkan. Hingga akhirnya tautan terlepas, Chanhee berbisik,”aku mencintaimu”

Ji Changmin tidak bisa tidur malam itu


Hari itu, Minggu 12 November, Kevin mengirim pesan padanya. Memberitahu bahwa Changmin tidak pergi ke sekolah. Chanhee yang kebetulan sudah pulang dari acara keluarganya, merasa cemas. Pasalnya, tidak satupun orang dikelasnya yang mendapat balasan atas pesan yang dikirimkan pada Changmin terkait keadaannya. Tidak ada yang tahu, hanya pagi itu, Kak Sangyeon terlihat mendatangi ruang guru, dan berakhir wali kelas berkata bahwa Changmin tidak bisa masuk hari itu. Chanhee menutup pintu mobilnya, tangannya menjinjing sebuah paperbag berisi oleh-oleh untuk kekasihnya, dilihatnya rumah itu sepi. Chanhee memencet bel cukup lama hingga akhirnya pemuda Ji itu membuka pintu. Chanhee terkejut sebab mendapati sang terkasih berantakan dengan mata yang sembab sepertinya terlalu banyak menangis. Maka, tanpa banyak berpikir, ia mendaratkan peluk. Membiarkan pertahanan Changmin runtuh dan akhirnya menangis dalam dekapan.

Jahat ㅡhiks ayah dan ibu jahat Chanhee, mereka jahat”

Setelah sesi curhat sambil menangis itu selesai, Changmin yang tengah duduk diatas pangkuan Chanhee itu menatap kosong dinding didepannya. Tangan Chanhee masih setia mengusap punggungnya,berbisik “tidak apa-apa” beribu kali bagai mantra.

Kemarin, ayah Changmin mendatangi rumahnya hanya untuk memberi surat undangan agar kedua anaknya datang ke pesta pernikahannya dengan orang lain. Ayah bilang sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, hubungannya dengan ibu, benar-benar sudah selesai. Changmin hancur, ayah dan ibu yang ia tahu adalah pasangan paling romantis yang pernah ada. Tapi nyatanya semuanya semu. Pertengkaran waktu itu saja masih membuat luka yang dalam, apalagi melihat ayah dengan beraninya mengundang mereka ke pernikahan. Saat Changmin berkeluh kesah pada ibu, ibu hanya marah, berkata bahwa ayahnya memang lelaki hidung belang.

Padahal, bukan itu yang Changmin cari.

Eh hujan!!” Changmin menegakkan badannya menatap keluar jendela,”deras...” Gumamnya.

Main hujan yuk sama aku?” Changmin menatap sangsi pada Chanhee,lalu merengek dan mengejek katanya main hujan hanya untuk anak kecil.

Ayo main hujan, biar kamu gak galau”

Besok Senin, gimana kalau demam?”

Ya jangan demam, ayo main. Kamu punya bola kan?”

Dan hari itu, dengan setengah hati, Changmin mengiyakan permintaan Chanhee. Chanhee sendiri sudah tertawa-tawa sambil berlari menggiring bola dipekarangan belakang rumahnya, mengajak Changmin yang masih ditempat teduh menatapnya sebal, “Chanhee ih nanti demam lho”. Dan Chanhee tetap berlari disana menggiring bola,menendangnya ke gawang sambil tertawa, “ayo seru kok”

Maka mau tak mau, Changmin membuka sandalnya dan berlari menyusul Chanhee. Keduanya kini berebut bola ditengah hujan. Lebih banyak tertawa karena dengan sengaja melakukan kecurangan, lebih banyak tertawa karena berakhir saling mengejar. Dan banyak tertawa membuat Changmin lupa bahwa ia memiliki luka.

Jangan sedih terus nanti aku ikutan sedih” Chanhee berdiri didepan pintu, setelah menumpang mandi dan menghangatkan tubuh,Chanhee pamit untuk pulang. Changmin terlihat mengangguk, “terimakasih Chanhee”

Aku senang kalau kamu udah gak sedih lagi. Aku pamit ya? Salam buat kak Sangyeon, bilang jangan keseringan lembur gak bagus buat kesehatan” yang dibalas anggukan. “Oleh-oleh dari aku dimakan ya, ada coklat enak banget kamu harus coba”

Makasih banyak” Changmin memeluk Chanhee yang setelah itu bergegas pergi.

Benar-benar tidak bisa Changmin bayangkan tidak memiliki Chanhee dihidupnya


Changmin, Chanhee sakit katanya”

Pagi itu Kevin membawa kabar buruk bagi Changmin, satu hari tanpa Chanhee rasanya kosong. “Kan Chanhee nih ih kemarin so ngide banget ngajak hujan-hujanan jadi sakit kan” Changmin menghentakkan kakinya sebal, mengirimkan pesan pada kekasihnya lewat gawai yang sejak tadi ia genggam.

Aku dengar Chanhee masuk rumah sakit” suara Kevin semakin pelan, sorot matanya makin redup dan sedih, apalagi mendapati Changmin terkejut dan sudah terlihat akan menangis.

Changmin, Chanhee masuk rumah sakit bukan karena demam. Kata kakaknya,semalam Chanhee pingsan sambil mimisan”

Jantung Changmin bagai dipaksa berhenti berdetak.


Saat pulang sekolah, ia bergegas memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Setelah mengantongi info tentang Chanhee, Changmin sesegera mungkin melangkahkan kakinya, dengan langkah tergesa dan tangan menjinjing susu dan roti, Changmin dengan cekatan menaiki tangga rumah sakit, setengah berlari menuju ruangan yang dimaksud.

Dadanya naik turun terengah-engah, ia mengintip dari celah pintu, menyaksikan seorang lelaki tengah duduk menghadap ranjang. Dengan penuh keberanian, Changmin mengetuk pelan pintu ruangan itu, membuat lelaki tadi berjalan membuka pintu.

Permisi....ini kamar Choi Chanhee kan?”

Changmin ya? Ayo masuk,Chanhee sudah menunggu kamu daritadi. Kenalkan, aku Choi Minho, ayah Chanhee”


Dunia Changmin sempat runtuh. Pertama, saat pertama kali ia mendengar pertengkaran orangtuanya, kedua saat perceraian orangtuanya yang menjadi sebab utama ia ikut dengan Sangyeon, dan ketiga adalah ketika Ayah dengan lancangnya datang ke rumah hanya untuk mengundang mereka ke pesta pernikahannya. Dunia Changmin benar-benar hancur, luluh lantak sebab yang dicinta menghancurkannya. Maka saat yang terkasih dilanda duka, kakak Sangyeon selalu berpesan “Tuhan itu baik,lho.. akan ada pelangi setelah hujan” awaknya Changmin kira itu hanya bualan belaka, hingga akhirnya ia pun ditakdirkan bertemu dengan pemuda berparas rupawan disekolah barunya.

Berbagi banyak cerita dan menghabiskan banyak waktu dengannya, berbagi payung kuning hampir setiap tahun, membuatnya tersadar mungkin ini yang Tuhan maksud, kala ia rasa dunianya hancur karena perceraian orangtua, Tuhan menghadirkan Chanhee sebagai pelipur lara.

Lantas, jika Tuhan menitipkan Chanhee untuk ia damba, mengapa pula Tuhan menggariskan Chanheenya terbaring lemah tak berdaya? Tubuh putih porselen itu amat pucat, dengan peralatan medis menancap. Tak hanya selang infus, namun banyak selang lain yang dokter pasangkan untuk yang tercinta.

Pujaannya, Choi Chanhee..tak mungkin kan hanya mimisan menyebabkan dokter menancapkan banyak sekali alat medis ditubuhnya?

Dengan gemetar Changmin menaruh susu dan roti yang ia bawa. Tangannya meraih Chanhee yang dingin. Wajahnya pucat pasi terhalang nebulizer, air mata Changmin berlomba untuk keluar. Jantung dan hatinya bagai diremat, pedih, sakit. Mengapa Tuhan menggariskan takdir pahit bagi pujaannya?

Chanhee sakit, Changmin. Sedari lama, sedari kecil. Anak bungsu kami,sedari dulu selalu kami perjuangkan. Memperjuangkan kesehatannya, memperjuangkan hidupnya. Dari kecil kami sudah mencoba berbagai macam cara dan pengobatan, sedari kecil sudah pergi ke Singapura untuk berobat..semuanya lancar. Chanhee bisa beraktifitas, Chanhee bisa hidup. Hingga saat itu, istriku pergi karena lupusnya, Chanhee seperti kehilangan harapan

Tangis Changmin kian mengeras. “CㅡChanhee sakit apa,om?”

Chanhee.. ada kelainan jantung nak.


Changmin menarik tangan Chanhee untuk dikecup masih dengan harapan agar sang pujaan membuka matanya hanya untuk memberinya kepastian bahwa ia akan baik-baik saja. Malam itu, Changmin belum beranjak. Ayah Chanhee, pergi menemui dokter, hanya tinggal dirinya sendiri dipeluk oleh sepi. Tak ada suara lain selain nafas Changmin yang bersahutan dengan alat medis.

Changmin lelah. Ia terlalu lama menangis. Matanya sudah membengkak, sebab sang kasih belum juga siuman. Hingga, saat Changmin baru saja mulai terlelap, ia merasakan usapan pelan diatas pucuk kepalanya, ia seketika menengadah, mendapati Chanhee tengah tersenyum lemah. “Hai” sapanya.

Dan malam itu, Changmin memeluk tubuh kekasihnya lagi seperti malam-malam biasanya. Hanya kali ini,ditemani luka dan air mata.


Kenapa Chanhee tidak bilang kalau Chanhee sakit?” Yang lebih tua mengusap pipi kekasihnya, posisinya sudah setengah duduk diatas ranjang rumah sakit, setelah mengeluh tenggorokannya perih, Chanhee memilih untuk melawan rasa kantuknya dan mulai memberi penjelasan pada kekasihnya.

No one knows sayang...I swear, no one knows” he whispered.

Changmin memukul pelan bahu kekasihnya dan memeluknya lagi, melingkarkan lengannya dilengan kecil pemuda didepannya.

Chanhee janji harus sembuh ya? Kita lalui ini sama-sama...”

Choi Chanhee menatap lurus, pasti dan berani pada kornea mata Changmin. Dibawanya sekali lagi tangannya untuk mengusap pipi kekasihnya, tersenyum lemah sambil mengecup dahi yang tak terhalang poni itu, “kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih padaku. Aku senang bisa ketemu kamu”

Ucapan manis itu dibalas anggukan dan rengekan, tangan Changmin meremat baju rumah sakit milik Chanhee, “aku sayang sama Chanhee, tolong sembuh ya? Chanhee harus janji”

Janji ya, sama aku terus?” Chanhee mengulurkan jari kelingkingnya, dibalas dengan tautan kelingking sebagai balasan dari kekasihnya. Chanhee yang sedari tadi sudah membuka nebulizernya itu, menangkap dagu pemuda tupai kesayangannya, mengecup pelan bibir ranumnya, menyalurkan kasih sayang yang tiada duanya. Ji Changmin, ji Changmin adalah alasan terbesar Chanhee hidup setelah keluarganya.

Ji Changmin adalah asa yang selalu ia perjuangkan. Ji Changmin adalah nama yang selalu tersemat dalam doa. Maka jika Ji Changmin adalah cinta baginya, Chanhee tidak keberatan untuk hidup lebih lama, meskipun sakit ini akan terus membuatnya tak berdaya, Chanhee tidak akan menyerah.

Air mata itu lolos, Chanhee berdoa. Jika ia diberi kesempatan untuk memiliki waktu yang lama, andai ia masih diberi kesempatan, ia takkan pernah akan menyakitinya.

Air mata itu entah mengapa pelan-pelan mengiringi pagutan keduanya. Seperti akan pergi jauh, Chanhee merasa takut. Setiap hembusan napasnya penuh doa, tolong berikan hidup yang lebih lama.

Changmin membaringkan tubuh Chanhee yang terengah, dikecupnya ujung hidung kekasihnya, “tolong, sembuh ya? Janji padaku untuk tidak pernah sakit lagi”

Maka Chanhee mengamini semuanya. Chanhee juga berharap. “Janji jangan cengeng lagi ya? Liat coba, matanya bengkak begini

Changmin tertawa kecil lalu mengangguk, “aku tidak akan cengeng asal besok Chanhee sudah tidak sakit lagi, ok?”

Chanhee mengangguk, lalu kembali memasang nebulizernya. “Pulanglah lalu tidur, besok jenguk aku lagi. Kamu pasti lelah

Sedikit tidak terima Changmin menghela napas,”kak sangyeon berjanji untuk menjemput. Besok pagi, aku akan kembali. Aku janji. Aku janji, aku akan selalu ada untuk Chanhee”

Dan Chanhee mengangguki perkataan kekasihnya. “terimakasih”

Changmin pernah bermimpi bahwa hidupnya dipenuhi gelap. Menyeramkan. Tempat yang ia tinggali dalam mimpi itu begitu lembab dan bau tidak sedap. Changmin dalam mimpi seringkali menangis dan menjerit tidak jelas seperti kesetanan. Changmin memukuli kepalanya sendiri, mungkin ini pertanda bahwa dunianya telah hancur. Sama seperti dunia kak Sangyeon yang dulu setelah lulus kuliah diusir dari rumah karena menentang ayahnya, dengan modal pas-pasan bertekad pergi jauh dari rumah meninggalkan adik kecilnya sendirian.

Changmin kecil saat itu terpukul mendengar pertengkaran ayah dan kakak sulungnya. Dan bertekad untuk tidak membangkang pada ayah.

Tapi nyatanya setelah dewasa ia kembali mendengar pertengkaran ayahnya. Mendengar benda benda jatuh sebab dilemparkan, mendengar suara tamparan dan lengkingan penuh amarah saling menjatuhkan. Ji Changmin bersumpah dia membencinya. Kondisi dimana keluarga yang selalu ia banggakan hancur berkeping-keping karena keegoisan masing-masing. Hanya Sangyeon. Changmin bersumpah hanya Sangyeon.

Setidaknya sampai ia berjumpa dengan kasihnya, Choi Chanhee. Pemuda berperawakan tinggi ramping, dengan kulit seputih porselen dan senyum secerah matahari pagi itu, eksistensinya bagai cahaya. Changmin yang dirundung kegelapan, menemukan setitik cahaya yang ingin ia kejar.

Berbagi payung kuning setiap hari hujan, berbagi airpods hingga sampai arah pulang,menghabiskan waktu bercengkrama di kantin sekolah hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk melangkah lebih dari sahabat.

Choi Chanhee adalah yang pertama. Yang pertama menyapa, pertama mengulurkan tangan, pertama mengajaknya bicara, yang pertama memberi peluk dan cium saat ia dalam gulana.

Choi Chanhee adalah yang selalu tanpa pamrih memberinya pelukan,memberinya secercah kehidupan.

Choi Chanhee yang tanpa batas memeluknya penuh cinta dan kasih sayang.

Choi Chanhee yang tidak pernah mencoba menjadi orang lain untuk merasa pantas, karena bagi Changmin, Choi Chanhee jauh lebih berarti daripada semua yang ada di bumi.

“Changmin...”

Pagi ini hari Minggu, hujan mengguyur kota amat derasnya. Changmin terduduk diatas kasur menatap lurus pada dinding.

“Kakak antar ya?”

Changmin meraih uluran tangan Sangyeon. Dengan senang hati Sangyeon merangkul pinggang kecil adiknya, mengecup keningnya berkata semua akan baik-baik saja.


Tapi dunia tidak pernah baik-baik saja untuknya. “Bagaimana bisa dunia baik-baik saja, kak?” Tanyanya. “Bagaimana kakak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja kalau.. kalau ㅡhiks kalau Chanhee tidak ada”

Lalu tangisnya pecah. Tangisnya menggema di seluruh penjuru ruangan. Pilu. Tangisnya pilu sedikit menjerit. Tangannya yang masih erat menggenggam sang kasih bergetar.

Pagi ini, Chanhee dipanggil oleh Tuhan. Tuhan ingin bertemu dengan Chanhee, mengakhiri sakit yang selama ini ia tanggung sendiri.

“Chanhee...kenapa pergi”

Kevin, Juyeon,Vernon,Seungkwan, Sangyeon dan keluarga Chanhee ikut meneteskan air mata mendengar rintihan pilu dari pemuda tupai didepan ranjang. Memeluk menjerit memohon agar ia kembali. Tapi Choi Chanhee yang mereka kenal bahkan sudah terbujur kaku, dingin dan tak bernapas lagi.

“Chanhee bilang Chanhee akan baik-baik saja kan? Kenapa pergi...kenapa pergi ㅡhiks kenapa pergi??”

Juyeon mengambil langkah dengan berat hati, menepuk bahu Changmin yang naik turun, “Chanhee... Chanhee udah gak sakit lagi kan, Changmin. Kita harus ikhlas”

Changmin mendongak menatap Juyeon, matanya berpendar menatap satu persatu manusia yang ada di kamar rumah sakit pagi ini. Semuanya terpukul, semuanya menangis. Semuanya juga sama kacaunya dengan dirinya. Bukan hanya ia yang ditinggalkan, tapi ada ayah yang seumur hidup mencinta anaknya,ada kakak yang selalu memuja adiknya, ada sahabat yang selalu setia, ada kak Sangyeon yang selalu mau menghabiskan waktu mendengar kisah cintanya, ada dirinya dan keluarga Chanhee yang lainnya yang sama terpukulnya.

Choi Minho berjalan mendekat, memeluk Changmin yang masih terisak, “kita semua terluka sayang. Tapi percayalah, Chanhee sudah baik-baik saja”

Dan tangisnya tumpah. Jemarinya memutih saat meremas fabric punggung pria paruh baya, “Chanhee ㅡhiks Chanhee...”


Malam itu,hujan belum juga reda. Changmin terduduk menghadap jendela kamarnya, menyaksikan halaman belakang yang dulu menjadi tempatnya bermain bersama Chanhee sebelum ia sakit dan pergi.

Changmin menatap bola yang basah karena hujan, menatap gawang dan rerumputan penuh pilu.

Chanhee...hujan malam ini, hanya menyisakan rindu”.

Kevin, Seungkwan, Vernon dan Juyeon yang kebetulan meminta Sangyeon untuk mengizinkan mereka menemani Changmin malam itu, hanya bisa memeluk menguatkan, “Changmin, Chanhee pasti sudah bahagia, dia udah gak usah sakit lagi ya kan?”

Changmin menatap Seungkwan sedikit ragu, “tapi aku yang sakit disini ...”

Changmin, hidup itu porosnya sudah begini, ada yang datang, ada juga yang pergi. Kita semua harus yakin, dibalik ini semua akan ada masa depan yang lebih baik. Kita harus percaya. Lagipula, kalau Chanhee lihat kamu sedih terus menerus seperti ini, dia pasti akan lebih sedih. Jadi, kamu jangan berlarut ya? Kita semua ada disini buat kamu kok” Kevin mengusap pipi Changmin yang basah lalu tersenyum, sedikit menjawil hidung merahnya, “keep smile honey”

Changmin maaf ya, kita gak tahu kalau Chanhee sakit parah sejak kecil, kita juga belum sempat menjenguknya... Tapi kamu harus percaya, kalau kita ini sahabat terbaiknya, sahabat Chanhee sahabat Changmin juga, jadi jangan sungkan ya?” Juyeon mengangkat jari kelingkingnya, “janji sama kita, kita songsong masa depan kita sama-sama, kita bikin Chanhee bangga sama kita ok?”.

Meski hujan malam itu hanya menyisakan rindu, tapi Changmin memilih menautkan kelingkingnya. Berjanji bahwa setelah hujan ia akan menjemput pelangi.

Memberikan bukti pada Chanhee, jika ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, berkat eksistensinya.

Fin