Sacrifice
Driving me crazy more and more, you're the type
Flawless from head to toe, you shine
Suara pantofel beradu keramik memecah keheningan. Membuat pria muda yang duduk disana meneguk ludahnya gugup. Deru nafasnya kian berat, apalagi tau darimana asal suara itu. Lututnya yang gemetar bergesekan langsung dengan marmer dingin. Ia ingin kabur. Ingin pergi. Ingin lari. Ia tidak mau ada disini.
Ludah diteguk kasar. Ia menunduk. Tapi keramik mahal dibawahnya juga terlihat menyeramkan. Harganya mahal, mungkin harga dirinya lebih murah daripada keramik berkilau ini.
Drap.
Drap.
Drap.
Suara langkah itu menggema memenuhi ruangan yang sunyi senyap. Atmosfer semakin berat. Pria muda itu benar-benar tak sanggup menahan gugup. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Cring.
Suara gemerincing dari rantai yang mengikat tangannya dibelakang tubuhnya itu berdering ribut seiring dengan dagunya yang diangkat.
Ia lagi-lagi menelan ludahnya kasar. Ia melenguh kala dagu, rahang, pipi, dan bibirnya diusap oleh jemari kasar yang kokoh dan besar.
Ia gemetar. Sepertinya ia bisa ngompol disini, sekarang juga.
“Cantik...”
Nghh.. ia melenguh. Dua jari masuk menabrak mulut, memaksanya terbuka, memaksa untuk bermain dengan lidahnya. Maka, pria muda itu menurut. Ia menjulurkan lidahnya sedikit, membiarkan dua digit jari itu mengacak-acak rongga mulutnya.
Everyone probably won't let you be
Just say it, you're kinda superior
Cring..
Suara rantai itu kembali memenuhi isi ruangan. Jaehyun melenguh gemetar saat dirinya ditarik mendekat. Posisinya yang duduk bersimpuh diatas lantai dingin itu membuatnya tak bisa kemana-mana, apalagi dengan tangan diborgol ke belakang, dan leher yang dipasangi collar menyatu dengan dinding. Jaehyun melenguh lagi saat dirasa sepatu pantofel itu menabrak paha dalamnya, “Ngangkang..”
Jaehyun menurut meski keringat dingin semakin membasahi dirinya.
Kemeja sutra tipisnya tak berharga, tak bisa menutupi area privatnya. Celana pendeknya juga benar-benar tak berguna.
Oh jadi ini rasanya bekerja seperti papa. Demi menghidupi dirinya, papa rela begini setiap hari.
Jaehyun hendak menangis jika saja rambutnya tak ditarik hingga ia mendongak, “Cantik... Persis papamu”
Pupil mata Jaehyun sedikit berpendar karena takut, Jaehyun mengangguk samar, “ma-makasih om..”
“Butuh berapa, Jaehyun?”
Jaehyun menarik napas dalam, demi papa... Demi papa....
“Ka-kalau 80, om mau kasih?”
Yang dipanggil om itu tertawa sumbang, “kamu worth the price gak?”
Luruh juga air matanya.
Iya ya. Dia terdengar seperti bajingan tak tahu diri. Tapi jika tak dari om ini, dimana lagi dia bisa dapat uang sebanyak itu?
Ia ingin papanya sembuh.
Ia ingin kembali hidup berdua dengan papanya.
Ia ingin papanya kembali sehat seperti biasanya.
“Sssttt don't cry, i just ask...” Katanya sambil mengecup pipi gembilnya.
“Paㅡhiks papa harus operasi om..”
“I know, aku turut berduka atas kecelakaan yang terjadi sama papamu. Dia mainan saya paling handal. Dia selalu bisa memanjakan saya, dia baik hati dan tidak rewel.”
“Saya mohon om...”
“Tapi 80juta itu nominal yang sangat besar, Jaehyun.... Sangat besar.”
Jaehyun menunduk setelah tangan kekar si om menjauh dari dirinya. Ia menangis tersedu-sedu. Hatinya berteriak memanggil papa.
Andai ia terlahir dari keluarga kaya.
Andai uang bukan masalah bagi mereka.
Mungkin papanya takkan melacur untuk menghidupi keduanya.
Dan pastinya operasi papanya akan dilakukan sesegera mungkin.
Pria kekar yang lebih tua berjalan ke belakang tubuh si kecil yang sibuk menangis, melepas rantai yang tersambung pada dinding. Ia tarik dengan sekali hentak, membuat badan Jaehyun terhuyung ke belakang hingga terjerembab, jatuh menabrak kaki si dominant.
“You worth the price kah?”
“A-aku.. nghh aku...”
Jaehyun menarik ingusnya dan berdehem, membiarkan Seungcheol menaikkan alisnya menunggu Jaehyun.
“Aku lakuin apa aja biar bisa bayar, biar om gak sia-sia keluarin uang sebesar itu. Aku lakuin kapanpun om minta, akuㅡsemuanya demi papa, om, aku janji... Aku janji om”
Seungcheol menyeringai.
Sometimes i can feel your eyes
There might be something, i imagine it all night
Seungcheol suka saat mata anak ini terlihat takut menatapnya. Seungcheol suka saat sinar matanya menyorotkan keputusasaan yang tak berujung. Seungcheol suka saat semua orang bertekuk lutut untuknya, membuang harga diri mereka jauh-jauh hanya untuk sesuatu yang Seungcheol punya.
Seungcheol menyapu bibirnya dengan lidah, memandang anak abg baru legal ini dengan tatapan lapar. Pria kecil itu gemetar. Menatap Seungcheol putus asa.
Ah membayangkan menghabiskan banyak malam bersama daun muda ini membuat gairahnya bangkit.
Seungcheol duduk diatas sofa harga milyaran, menyilang kaki dengan angkuh dan sombong. Menatap anak kecil didepannya dengan tatapan remeh mencemooh dan merendahkan.
“Beg”
Jaehyun tersentak, ia buru-buru merendahkan dirinya, menatap nanar pentofel harga ratusan juta itu dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan. Seungcheol sudah tak sabar.
Cup.
Jaehyun mengecup ujung sepatu kiri Seungcheol.
Cup.
Kini beralih sepatu kanan.
Cup.
Cup.
Cup.
“Aku mohon om.... Aku bakalan nurut, aku janji lakuin semuanya, om...”
Seungcheol tertawa lalu mengangguk. Segera meraih handphonenya dan mengirim uang sesuai dengan nominal yang Jaehyun minta.
“Sudah saya transfer.”
Jaehyun mendongak tak percaya. Ia menangis lagi. Aahh akhirnya ia bisa mengantarkan papanya operasi.
“Ma-makasih om...”
“Now, strip..”
Jaehyun mengangkat tubuhnya. Dengan gerakan teramat pelan, ia lucuti satu-satu kancing kemeja tipisnya. Kemeja kebesaran itu pelan-pelan turun jatuh menuju lantai, membiarkan bahu sexynya terekspos. Lalu dadanya mulai terlihat, Jaehyun sempat berhenti karena gemetar. Demi Tuhan ia bersumpah tak pernah ada yang melihatnya telanjang.
Jaehyun meneguk ludahnya lalu membuka semua kancing bajunya. Angin malam menerpa kulitnya hingga merinding. Seungcheol bersiul. Benar-benar anak Kim Sunwoo. Badannya mulus dan menggoda. Oh sial. Dada anak laki-laki didepannya membuatnya haus.
“Kenapa berhenti?”
Jaehyun gelagapan. Lalu ia menarik celananya. Oh sempurna. Pemuda ini akhirnya bertelanjang bulat.
Jaehyun bergidik geli saat hawa dari air conditioner membelai lembut dirinya.
Seungcheol menyeringai, “sexy..”
Dua jari Seungcheol bergerak, membuat Jaehyun mendekat. Ia tumpukan kedua telapak tangannya pada lutut Seungcheol, ia menatap pada si om dengan mata berkaca-kaca. Ah benar-benar menggemaskan.
“Open your mouth”
Jaehyun membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya sekali lagi lalu membiarkan Seungcheol meludah. Ia secara tak sadar meremas celana Seungcheol karena takut. Dua digit jari masuk, membelai lidah Jaehyun secara acak-acakan. Ia masukkan dua tangannya lebib dalam hingga anak itu tersedak. Jaehyun terbatuk tapi permainan jari itu tak juga berhenti.
Seungcheol merunduk, mencium ranum merah milik Jaehyun dengan ganas. Ia benar-benar sudah tidak tahan untuk mencicipi anak ini.
Badan Jaehyun ditarik, diangkat, hingga Seungcheol bisa memeluk pinggang kecilnya. Ia ciumi lagi anak amatir itu. Berdansa dengan lihai menggunakan lidahnya yang membuat Jaehyun kelabakan.
Surai lembutnya dijambak, dipaksa mendongak, agar Seungcheol bisa leluasa menciumi Jaehyunnya lagi.
Jaehyun menggeliat saat jemari si om bermain nakal pada dadanya. Aduh rasanya geli, membuatnya merinding. Lalu om menyusu pada nipple Jaehyun. Membuat anak kecil itu mendesah ribut.
Disesapnya kuat-kuat; seperti nipple itu akan mengeluarkan asi saja. Lidah dan giginya juga bermain dengan ganas membuat si kecil kepayahan.
Pipi pantatnya diremas. Ah sial pipi pantat Jaehyun pas dengan telapak tangan om yang besar. Ditamparnya pipi pantat itu membuat Jaehyun semakin ribut. Ditarik dengan gemas, diuleni dengan kencang.
“Ahh ahh nghh om...”
Oh sial. Suara vulgarnya seakan membangkitkan monster yang tidur lama dalam dirinya.
“Ahhh ahhh nghhh...”
Seungcheol mengangkat tubuh Jaehyun, ia bawa pada pangkuannya. Ia ciumi lagi pria muda itu dengan ganas. Ia tandai tulang selangkanya. Ia tandai bahunya, dadanya, lehernya, dimana saja yang ia suka. Jaehyun menggeliat, mendesah kacau. Selangkangannya dengan brutal menggesek paha kokoh Seungcheol. Ah sial, Seungcheol makin stress. Ia ingin segera menghancurkan anak ini.
“Nggh om.... Ahhh nghhh om.....”
Ditamparnya lagi pipi pantat Jaehyun dengan gemas hingga merah akhirnya menyebar. Duh Jaehyun juga gatal. Ia tak mengerti apa yang ia rasakan.
Seungcheol mengangkat pinggul Jaehyun, memposisikan pantatnya tepat pada selangkangannya. Jsehyun terbelalak kaget ketika merasakan sesuatu menyundulnya.
“Gerak”
Jaehyun bingung. Bagaimana caranya bergerak sesuai dengan yang disuruh oleh Seungcheol? Maka dengan ragu Jaehyun bergerak maju mundur. Oh kenapa ia ikut merinding ya sekarang? Ah rasanya enak. Sesuatu yang besar menyundul liangnya ini....membuatnya enak.
“Ah sial!” Leher jenjangnya kini kembali ditandai. Membuat Jaehyun merengek. Ia tak berani meminta Seungcheol memelankan ritmenya.
“Turun”
Jaehyun buru-buru turun dan bersimpuh tepat didepan selangkangan Seungcheol.
Oke Jaehyun, fokus.
Kamu pernah mempelajari cara menyepong titit dari video porno. Tidak susah, kan?
Inhale.....exhale....
Seungcheol membuka ritsleting celananya, menarik boxernya turun, membuat penis gagah perkasa itu menyundul pipi Jaehyun.
Besar sekali.
Jaehyun tak bisa membayangkan benda ini masuk mulut papanya yang kecil, atau bahkan mulutnya yang amatir.
“Bisa nyepong?”
“Su-sudah belajar dari video,om....”
“Mana sini, om mau lihat”
Oke Jaehyun, fokus.
Jaehyun menggenggam batang kemaluan si om, ujungnya ia kecup pelan-pelan, ia susuri dari kepala hingga buah zakarnya, ia kecup, ia jilat sedikit, ia lumat sedikit. Lalu langkah selanjutnya adalah membuatnya licin. Maka, Jaehyun jilat lagi hingga liur membuatnya sedikit licin.
Lalu setelah itu, pelan-pelan mengulum. Menyedotnya seperti kamu menyedot susu setiap pagi. Namun jangan lupa mainkan lidahnya.
Oke, permainan amatir Jaehyun membuat Seungcheol mendongak nikmat. Sejauh ini rasanya enak. Gerakan amatirnya bak bumbu yang memicu adrenalin.
Jaehyun meludahi kepala kontolnya hingga basah, lalu ia masukkan kedalam mulutnya. Ah sial, Jaehyun tak bisa menelan semua miliknya. Maka yang menganggur itu ia genggam, ia urut dengan sensual, naik turun, diiringi suara vulgar dari kegiatan mengulumnya.
Jaehyun tak sengaja memasukkan penis itu terlalu dalam hingga ia tersedak. Ukurannya yang besar dan panjang juga berurat membuat Jaehyun panas dingin.
“Ah sial! Nghh Jaehyun ah sial! Lacur kecil”
Jaehyun menatap Seungcheol sambil terus mengulum milik si om, dagunya diusap seperti anjing, kepalanya ditepuk sayang. Oh Jaehyun jadi lebih semangat karena sejauh ini, yang ia lakukan benar.
Jaehyun memaju mundurkan kepalanya, mencoba membuat Seungcheol terbang menuju nirwana. Pinggul itu bergerak resah dengan tangan yang mencengkram erat rambut halus milik Jaehyun.
“Tolol! Mulutnya enak banget sial!”
Jaehyun tersenyum senang lalu membiarkan lidahnya ikut bermain.
Seungcheol menggeram lalu ia tahan kepala Jaehyun dan mulai memperkosa mulutnya. Temponya cepat tak terkendali membuat Jaehyun kelabakan. Badannya melengkung meminta ampun, matanya terbalik dengan wajah semakin memerah.
Pemuda kecil itu terbatuk-batuk dengan precum dan liur berlomba-lomba membasahi dirinya. Lelehannya membasahi leher dan dada membuatnya berkilau dibawah lampu mahal.
“Ah kontol!”
Seungcheol memaksa Jaehyun menelan seluruh batang penis nya hingga menimbulkan jejak pada batang leher Jaehyun. Rasanya ujung penis Seungcheol bisa menabrak jakunnya.
Sebelum klimaks ia tarik penisnya keluar hingga Jaehyun terduduk terbatuk hebat. Dan saat itu juga sperma meleleh, bucat muncrat membasahi rambut, wajah, hidung dan bibir Jaehyun.
“Cantik banget”
Jaehyun ngos-ngosan namun tak berani memohon pengampunan. Ia biarkan dirinya sendiri terjual demi nominal uang.
Seungcheol menarik pinggang Jaehyun, ia gendong anak itu bak karung beras, ia lempar pada sofa mahal yang empuk. Anak kecil itu gemetar.
“Ngangkang.”
Jaehyun membuka tungkainya. Ia biarkan liang merah mudanya terekspos begitu saja. Seungcheol menggeram penuh nafsu. Maka ia buru-buru memasukkan dua digit jari kedalam anal Jaehyun, membuat anak itu menjerit tak siap.
“Sakit ah ah!!! Aaah sakit om! Ampun!”
Seungcheol menampar pipi Jaehyun membuatnya diam karena takut, “be a good boy, asshole!”
Jemari Seungcheol mengobrak-abrik dinding anal Jaehyun, mencari titik nikmat yang akan mengundang suara surga dunia dari si submisif.
Analnya semakin basah. Apalagi Seungcheol sempat merimmingnya. Jaehyun mendesah tak karuan. Rasanya asing!
Lalu dengan sengaja ia tambah lagi satu digit jari, membuat mata Jaehyun tenggelam sisa putihnya saja. Penisnya mencuat merah, bergerak seakan tersiksa. Ia tak tau apa yang tengah ia rasakan, tapi rasanya benar-benar nikmat.
Seungcheol memasukkan kesejatiannya pelan-pelan, membuat Jaehyun klimaks. Dengan tubuh yang masih sensitif, Jaehyun biarkan dirinya dijamah demikian rupa.
“Ah ahhh ngghh om....”
“Kencengin suaramu biar seisi dunia tau”
Jaehyun menggeleng berusaha tak mengeluarkan suara namun entah mengapa rasanya sia-sia. Suara tak senonoh itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Membuat Seungcheol semakin menggila.
Sialan. Daun muda memang sesempit ini hingga kontolnya terjepit dengan sempurna.
Dibaliknya tubuh Jaehyun hingga ia bisa leluasa menamparku pipi pantat yang tembam didepannya. Jaehyun menangis. Rasanya terlalu banyak hingga otaknya kopong.
Jaehyun membiarkan pantatnya terangkat, dengan posisi doggy seperti ini, penis itu rasanya terlalu kuat menekan titik nikmatnya. Tempo Seungcheol juga tak main-main cepatnya hingga suara beradu kulit begitu nyaring terdengar.
“Ahhh nghhh nghh hhh om...”
Seungcheol menggeram penuh nafsu. Dengan nakal ia manjakan nipple dan penis Jaehyun yang menganggur.
Oh, sekarang anak ini terbiasa dengan ukurannya. Karena sudah tak terdengar lagi suara tangisan dan jeritan kesakitannya. Berganti desah yang nikmat dengan liur menetes membasahi dirinya.
Seungcheol menarik satu kaki Jaehyun hingga anak itu semakin mengangkang, ia mainkan temponya hingga pemuda itu frustasi.
It gets deeper and deeper
Can't get away the more i get to know you
“Ah sial, Jaehyun enak banget lo anjing!”
Jaehyun membiarkan dirinya menjadi mainan si om malam itu. Tak peduli bagaimanapun gaya yang si om minta, Jaehyun turuti semuanya. Asal papa bisa dioperasi esok hari.
Seungcheol mendorong tubuh Jaehyun hingga terjerembab pada ujung sofa. Lalu tanpa aba-aba ia dudukkan pemuda itu pada pangkuannya. Oh sial!
Ukuran Seungcheol yang besar dan panjang semakin terasa dengan posisi seperti ini.
Lalu Jaehyun naik turun, dengan kesadaran yang sudah hilang, pemuda itu bergerak liar seperti cowboy mengendalikan kudanya.
Pinggul nya bergerak mengejar nikmat. Maju mundur naik turun.
“Ahhh nghh om gatel nghhh”
“Apanya sayang, hm?”
Jaehyun mendongak nikmat. Ah ia meleleh.
“Nen aahhh nghh nennya ah!”
Lalu Seungcheol menyusu. Menyusu dengan rakus, dengan tangan yang mengurut penis Jaehyun yang siap bucat kapan saja.
Ah sial kepala Jaehyun semakin kopong, kosong melompong.
“Ahhh nghhh”
“Lacur kecil kayak kamu sudah sepantasnya cuma ngejar nikmat, Jaehyun...”
Jaehyun mengangguk. Iya!
Iya dia lacur kecil. Lacur kecil yang berkorban demi papanya.
Badan Jaehyun terhuyung jatuh, menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Seungcheol, membiarkan mani muncrat membasahi kemeja mahal Seungcheol dan perut telanjangnya.
“Good. Cum, cum for me”
Jaehyun mendesah panjang tepat di telinga Seungcheol, membuat pria matang itu tertawa puas.
“Saya belum keluar.”
Oh shit.
Setelah bicara seperti itu, ada Jaehyun yang tubuhnya dipakai sesuka hati oleh pria matang disana.
Berbagai posisi, berbagai tempat, berbagai gaya mereka lakukan hingga fajar menjelang.
Dua kali Jaehyun sempat pingsan.
Namun setelah bangun, ia dapati pria matang itu tengah menyantap liang analnya. Mengobok-obok liangnya dengan lidah panjangnya dan lanjut memakai tubuhnya hingga perut Jaehyun kembung akan sperma.
Maka, saat pagi menjelang dan Seungcheol kehabisan tenaga, ia meraih buttplug dan menyumpal anal Jaehyun. Menyuruh anak itu menyimpan bibitnya sedikit lebih lama lagi.
Jaehyun terkulai tak berdaya. Hanya bisa menatap pergerakan Seungcheol dan melenguh seadanya. Lalu dengan kesadaran yang tipis, ia bisa merasakan tubuhnya dibasuh air hangat dan dipakaikan baju sexy berenda yang bahkan tak bisa menutupi area privatnya.
Seungcheol berdecak kagum lalu mencium bibir Jaehyun. “Kita istirahat dulu sebelum lanjut main lagi ya sayang”
Jaehyun mengangguk lemas. Lalu ia rasakan ujung kakinya dipakaikan borgol yang disambungkan rantai, dikaitkan pada ujung kasur hingga ia tak bisa pergi kemana-mana.
Seungcheol melempar handphone Jaehyun kearahnya, “rumah sakit nelfonin terus. Segera bayar tagihannya”
Setelah berucap demikian, Seungcheol pergi meninggalkannya.
Oh rupanya Jaehyun dibawa ke kamar besar dengan kasur super empuk ya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, Jaehyun segera melunasi tagihan rumah sakit papanya dan mengisi formulir persetujuan operasi.
Meski harus berkorban banyak yang entah sampai kapan, Jaehyun tak keberatan. Asal nanti, papa sehat dan kembali ke dekapan.