schonewords


notes: anggap aja ini sedikit cerita yang bisa membawa kita ke cerita-cerita Miguel dan Nolan ke depannya


Miguel tersenyum dan mengunci ponselnya lagi. Baru saja ia membaca pesan yang menghangatkan hatinya. Pesan singkat itu dari adik kesayangannya—Damar.

'I proposed him already. He said, yes. I'm going to marry radin so soon, bang.'

Itu isi pesan yang dikirimkan oleh Damar. Jelas membacanya saja sudah mampu membuat Miguel turut merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti adiknya itu.

“Gue jadi kangen Nolan,” gumam Miguel pada dirinya sendiri.

Tok tok tok!

Miguel sigap menoleh ke arah pintu utama rumahnya. Dahinya mengernyit pasca sekilas ia melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kakinya perlahan melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.

“Nolan?”

Miguel terkejut meliat sosok yang tengah ia rindukan itu nyatanya kini hadir di depannya. Senyuman manis dan lucu khas Nolan terulas di wajahnya, membuat Miguel tak kuasa untuk membalas senyuman tersebut.

“Hai, Kak. Aku boleh masuk?”

“Oh, boleh banget. Silakan.”

Nolan menapakkan kakinya yang telah dilepaskan dari sepatu sebelumnya. Ini jelas bukan pertama kalinya ia menyambangi rumah Miguel (dan Damar). Tentu sebelumnya juga pernah walau hanya sebentar.

“Lan, udah jam segini. Ada hal urgent yang bikin kamu ke sini sekarang?” tanya Miguel dengan suara yang pelan.

Nolan yang sudah berada di depan Miguel pun membalikkan tubuhnya. Kini mereka berhadapan dengan netra yang saling bertatapan.

I miss you, Kak. I hope it's not a wrong move for me to come here buat ngelepasin kangen aku ke kamu,” jawab Nolan.

Jawaban Nolan bagaikan penyejuk untuk Miguel. Tanpa berpikir panjang, pria yang lebih tua itu maju tiga langkah dan langsung memeluk tubuh Nolan.

Sempat ada rasa terperanjat pada Nolan. Namun, detik berikutnya ia kembali tersenyum dan langsung mengelilingkan tangannya di tubuh Miguel yang masih mendekapnya erat.

I miss you much more, Nolan.”

Nyaris dua menit berlalu, Miguel dan Nolan saling merengkuh tubuh satu sama lain. Keheningan dibiarkan menyelimuti suasana dinginnya malam.

“Kak,” ucap Nolan sembari melonggarkan pelukan. “Radin baru aja diajakin nikah sama Pak Damar.”

Kepala Miguel mengangguk pelan dengan senyuman tipis di wajahnya. Suaranya lirih menanggapi dengan, “Iya, aku udah tahu. Damar barusan ngabarin.”

Nolan seketika menundukkan wajahnya. Miguel sadar ada perubahan mood pada sosok yang dipujanya itu.

“Kenapa, by? Ada yang salah dari Damar proposed ke Radin?” tanya Miguel dengan hati-hati dan turut merunduk mencoba menatap mata Nolan.

“Mereka berjuang keras banget ya, Kak. Pantes aja sekarang mereka bisa mulai bahagia bareng-bareng,” gumam Nolan lirih.

Miguel tahu kemana arah pembicaraan ini. Maka perlahan ia sentuh dagu Nolan untuk mengangkat wajah manis itu. Sekalipun wajahnya telah berposisi nanar, arah pandang Nolan masih setia ke bawah—sengaja agar tak bersitatap dengan Miguel.

Baby, please, look at me,” pinta Miguel.

Permintaan itu dipenuhi oleh Nolan. Ia mengangkat arah pandangnya hingga bertemu dengan obsidian teduh milik Miguel. Dilihatnya sosok pria yang sudah disukainya sejak bertahun-tahun yang lalu itu memberikan senyuman tipis sembari menangkup salah satu pipinya.

“Nolan, aku juga bisa ngasih kebahagiaan itu ke kamu. Aku juga mau berjuang untuk kita,” ucap Miguel tetap tenang. Seiring luruhnya senyuman, Miguel melanjutkan, “tapi di hubungan ini ada aku dan kamu. Aku ga bisa berjuang sendirian, Lan. Aku butuh kamu untuk sama kerasnya berjuang demi kebahagiaan kita.”

Netra Nolan mengerjap pelan. Napasnya berembus agak gusar dan menerpa lengan Miguel yang ada di dekat wajahnya.

You have to know how much I envy Damar and Radin at this rate. Aku mau banget ngelakuin semua hal-hal berani yang udah dilakuin Damar di hadapan keluarga besar kamu,” lanjut Miguel.

“Dan aku juga mau berani ngelawan keluargaku kayak yang Radin lakuin, Kak, tapi kamu tahu aku ga seberani itu,” timpal Nolan.

That's why I asked you to fight for it together, Nolan,” tutur Miguel berusaha tetap tenang.

Mendengar itu, jemari Nolan dengan resah memelintir ujung cardigan hitam yang ia kenakan. Kepalanya kembali menunduk, membuat Miguel menghela napas pelan dan langsung merengkuh tubuh Nolan masuk ke dalam pelukannya dengan erat.

“Aku boleh nanya ga ke kamu, by?” tanya Miguel.

Nolan tak bersuara. Namun, kepalanya mengangguk dan Miguel mampu merasakan itu di bahunya.

“Aku boleh ga ngebahagiain kamu?” Miguel mulai melayangkan pertanyaan.

“Boleh,” jawab Nolan setengah berbisik.

Will you allow me to showering you with my love to the fullest?”

Yes, I will.”

Then....”

Miguel melonggarkan pelukan. Tubuh Nolan sedikit didorong pelan dan dagunya kembali digamit supaya tatapan mereka kembali bertemu. Sorot mata Miguel tetap teduh dan tenang, membuat Nolan mampu merasakan besarnya sayang serta harapan dari Miguel yang ditaruhkan pada dirinya.

“...will you fight with me for the sake of our love and happiness?”

Berbeda dengan dua pertanyaan sebelumnya, pertanyaan terakhir ini tak segera dijawab oleh Nolan. Mulutnya bungkam dan iris matanya terlihat bergetar.

Helaan napas Miguel terembus pelan. Ditangkupnya kedua pipi Nolan dan dimajukannya wajahnya. Seketika bibir Miguel menempel dan memberikan lumatan pelan pada bibir Nolan.

Tak ada penolakan dari Nolan. Ia membiarkan Miguel melumat sejenak dan memberikan ciuman hangat nan lembut itu.

Nolan suka. Sangat suka setiap kali ia berciuman dengan Miguel, walaupun ciuman itu dilakukan entah dalam hubungan apa namanya.

Ketika ciuman dilepaskan, Miguel dan Nolan kembali saling menatap. Sorot mata Nolan masih berkabutkan ragu, sedangkan Miguel sebaliknya. Gejolak optimis penuh harap sangat jelas terlihat pada manik indah milik Miguel.

“Aku tahu semua yang jadi pertimbangan kamu itu. Aku tahu kamu pasti mikirin banyak hati yang mungkin bakal sakit kalau kita berdua barengan. By, tapi mau sampe kapan kamu mengutamakan perasaan orang lain selain perasaan kamu? Kalau kamu ngejaga perasaan orang tua kamu, Lion, sama Dokter Joan, ga menutup kemungkinan kamu bakal ngerasain sakit yang sama kayak yang dulu dirasain Radin waktu nikah sama Jeremy.”

Benar juga...

By, Radin aja berjuang mati-matian buat kamu dan sepupu-sepupu kamu supaya ga ngerasain apa yang dia rasain dulu. Beberapa sepupu kamu juga udah mulai berjuang demi kebahagiaan mereka. Masa kamu ga mau berjuang untuk bikin diri kamu sendiri bahagia?”

Sekali lagi, benar juga.

“Kalau kamu berjuang untuk itu, kamu ga akan aku biarin berjuang sendiri, by. Ada aku. I'll be here, stand by your side while holding your hands so tight. I'm not gonna let you face a lot of hardships in this world by yourself. Aku bakal selalu nemenin kamu, by. Aku sayang sama kamu. Pun kalau kamu belum siap untuk memperjuangkan hubungan kita, I'll wait. Apapun yang mau kamu lakuin, aku ga akan pernah ninggalin kamu. But one thing for sure that you have to remember, Nolan, sekeras apapun perjuangan kamu demi kebahagiaan kamu dan demi kita, sekeras itu pula aku bakal melawan apapun rintangannya supaya bisa tetap ada di samping kamu. I promise.”

Semua ucapan Miguel itu pada akhirnya menyentuh relung hati Nolan. Keraguannya seketika runtuh bersamaan air matanya yang mengalir deras di pipinya. Tubuhnya pun dibiarkan jatuh lagi ke dalam pelukan Miguel, seolah membiarkan dirinya untuk terus-menerus jatuh cinta kepada sosok hakim yang hebat itu.

“Jangan gitu ih, Kak! Kamu bikin aku makin sayang sama kamu, bikin aku makin susah buat lepas dari kamu,” gerutu Nolan disela tangisnya.

Then, don't,” ucap Miguel sembari mengusap punggung Nolan dengan lembut. “Don't ever you dare to fall out of love from me. Don't leave me and please stay being attach to me like this. Aku malah senang.”

Nolan terkekeh. Ia melonggarkan kembali pelukannya untuk menatap Miguel. Otomatis Miguel tersenyum seraya mengusap air mata Nolan.

“Kalau aku berjuang sekarang, belum telat kan, Kak?” tanya Nolan.

Miguel menggeleng dan menjawab, “Sama sekali belum terlambat.”

Then, I'll fight for my happiness, for you, and for us now.”

Good, Nolan,” ucap Miguel dengan senyuman yang kian lebar tersungging di wajahnya. “Kita berjuang sama-sama, ya? Aku ga akan biarin kamu berjuang sendirian.”

“Iya, Kak. Kita berjuang bareng-bareng, because we have each other's hands to hold, we have each other's shoulders to lean on, and we have each other's presence to be the strength for us. Bener, kan?”

Kedua tangan Miguel memeluk pinggang Nolan dengan erat seraya kepalanya mengangguk cepat. Sigap dibubuhkan kecupan pada bibir Nolan dan berkata, “Exactly, my baby. Makasih ya udah mutusin buat perjuangin hubungan kita.”

“Makasih juga udah selalu ada buat aku, selalu di samping aku, dan selalu ngeyakinin aku, Kak. You have no idea that you, Kak Miguel, means everything to me.”

You too mean a world to me, Nolan. That's why I love you and it's getting bigger day by day.”

I love you even more now, Kak Miguel.”

Tubuh Miguel dan Nolan kembali bersatu dalam dekapan hangat. Nyatanya, malam itu menjadi malam yang membahagiakan pula untuk Miguel dan Nolan.

Tak hanya Damar dan Radin yang akan memulai perjalanan baru dalam hubungan mereka. Miguel dan Nolan pun akhirnya berani melangkahkan kaki bersama untuk memberi kepastian pada hubungan yang telah mengambang tanpa arah selama bertahun-tahun ini.

So, you're officially my boyfriend now?” tanya Miguel dengan nada bercanda.

Nolan tertawa kecil. Kepalanya mengangguk seraya menjawab, “Yes, I'm yours, and you're mine.”


schonewords


CW // NSFW, bxb mature content, kissing, hickey, hand job, nipples playing, fingering, penetration, dirty talks, harsh words


“Let’s do it tonight, more than what we did just now.”

Haechan tidak bercanda ketika mengatakan itu kepada Renjun beberapa jam lalu. Ya, kira-kira sudah lebih dari tiga jam sejak kalimat itu terucap di backstage pada sesi ‘panas’ yang terjadi akibat agenda tindihan yang tak disengaja itu.

Derap kaki Haechan terdengar terburu-buru. Ada sekitar tiga pintu kamar hotel yang ia lalui dari kamarnya menuju kamar sang kekasih—Huang Renjun.

Tok tok tok!

Pintu terbuka dengan cepat—bahkan tak sampai semenit. Renjun tersenyum manis menyambut tamu spesial yang ditunggu-tunggu itu. Pun pemandangan di ambang pintu ini sudah memanjakan obsidian Haechan yang dipenuhi kabut napsu.

Bagaimana tidak?

Renjun muncul di hadapan Haechan dengan bathrobe putih dan rambut hitam yang basah. Penampilan ini khas seseorang yang baru selesai mandi, dan mampu membuat Haechan mengulas seringaian.

“Ayo masuk, Chan,” ajak Renjun.

Tak menunggu lama, Haechan langsung melangkah masuk. Pintu itu ia tutup. Sigap ia menarik tangan Renjun, mendekap tubuh mungil itu, seraya menggamit dagu Renjun agar kepalanya sedikit menengadah.

“Chan—hmhhh…”

Bibir keduanya telah bersatu dalam tautan yang seketika basah. Haechan melumat bibir Renjun, menyesap kuat bagian bawah labium yang agak tebal itu, dan mengemutnya dengan nikmat. Renjun tentu senang mendapat perlakukan itu, tapi enggan membiarkan kekasihnya mendominasi ciuman.

Kedua lengan Renjun mengalung di leher Haechan. Diperdalamnya ciuman dengan mendorong bagian belakang dari kepala Haechan. Belah bibir mereka bertaut mesra dengan ciuman yang terkesan tergesa. Saliva sudah mengalir di sudut bibir mereka hingga ke dagu.

“Kita lanjutin yang tadi ya? Boleh?” tanya Haechan setelah melepaskan tautan bibir mereka.

“Boleh, sayang,” jawab Renjun selembut mungkin sembari ibu jarinya menyeka saliva di bibir Haechan. “Kamu kira aku mandi begini buat apaan kalau bukan buat lanjutin yang tadi?”

Haechan menyeringai. Pertanyaan kembali melesat dari mulutnya, “Bukannya nanti bakal mandi lagi?”

Kepala Renjun mengangguk. Jemarinya bermain di dada Haechan dengan gerakan yang dibuat se-menggoda mungkin.

“Kalau nanti mandinya sama kamu,” jawab Renjun dengan nada suara yang dibuat manja.

Siapalah Lee Haechan kalau sudah melihat sisi Huang Renjun yang seperti ini? Apakah Haechan kuat? Tentu tidak. Pertahanan Haechan seketika runtuh dan berganti dengan libido yang meningkat drastis menguasai dirinya.

“Renjun,” panggil Haechan.

“Ya?” Renjun seketika mematrikan netranya pada manik Haechan dalam pertemuan tatapan yang lembut.

I’ve been exercise quite often nowadays,” ucap Haechan.

Renjun tersenyum sembari menanggapi dengan, “I know.”

And I’ve been eating healthy as well,” lanjut Haechan.

“Aku tau,” tanggap Renjun lagi. “Terus kenapa?”

Sebenarnya Renjun tau arah pembicaraan ini. Hanya saja ia senang menggoda Haechan-nya itu.

I can be so strong and do you all night long,” ucap Haechan berbisik menggoda di telinga Renjun.

Renjun terkekeh. Dicengkramnya dua lengan Haechan yang terekspos jelas—karena Haechan hanya mengenakan kaus sleeveless hitam. Renjun mengelus bisep Haechan yang belakangan memang sudah mulai terlihat lebih kekar.

“Tanpa kamu bilang juga aku udah tau kamu kuat,” ucap Renjun. Tubuhnya maju mendempet dengan Haechan dan berbisik di telinga pria Lee itu, “dan aku juga kuat kok ngeladenin kamu.”

Haechan menutup matanya sekilas dan menyeringai ketika Renjun mengecup telinganya. Kemudian dilanjutkan dengan menjilat dan menggigit kecil leher Haechan—agar tak meninggalkan bekas kemerahan. Setelahnya, tubuhnya dimundurkan agar kembali bersitatap dengan sang kekasih.

“Tadi hampir mau nyium leher aku ya waktu masih di stage?” tanya Renjun sambil tersenyum.

“Iya,” jawab Haechan. “Hampir aja kelepasan. Soalnya udah kebiasaan kalo meluk kamu dari belakang, pasti langsung nyium leher kamu. Eh, tapi tadi inget masih di stage, makanya aku langsung kabur.”

“Karena emang udah turn on ya?” Renjun semakin menggoda Haechan.

Jemari Haechan mencubit pelan pipi Renjun sambil menjawab, “Siapa coba yang tadi bikin turn on?”

“Loh? Yang melukin aku sampe jatuh siapa?”

Kedua pria itu terkekeh bersamaan. Haechan mengangguk mengakui bahwa memang dia sendiri yang membuat dirinya terangsang.

“Tadi ga sengaja juga kena paha kamu,” ujar Haechan.

“Udah turn on karena kena paha aku, terus aku elus paha kamu, terus make-out di backstage. Pantes jadi pengen nyium leher,” ledek Renjun.

Haechan hanya tertawa kecil. Renjun yang ada dihadapannya kini sangat seksi dan menggemaskan. Hanya Haechan yang bisa melihat sisi Renjun yang seperti ini.

Now you can do me as much as you want, Chan,” ucap Renjun sembari menarik tali bathrobenya.

Mata Haechan langsung terarah ke tubuh Renjun yang sudah terekspos tanpa penutup lagi. Bathrobe sudah ditanggalkan dan dibiarkan jatuh ke lantai, membiarkan polosnya badan berkulit putih mulus itu terpampang di hadapan Haechan.

Please enjoy my strength after a lot of exercises, Baby Junnie,” bisik Haechan dengan seringaian khasnya.

Renjun tersenyum dan sedikit terperanjat ketika Haechan mengangkat tubuhnya. Kedua tangan Haechan dengan gampang melingkar di tubuh Renjun, menggendong, dan merebahkan kekasih mungilnya itu di atas kasur.

“Hummh, iya kamu kuat banget sekarang,” desis Renjun.

Haechan hanya tersenyum tipis. Wajahnya sudah tersembunyi di ceruk leher Renjun. Tanpa menunggu pergantian detik, Haechan sigap menghujani leher mulus itu dengan kecupan-kecupan lembut.

“Hnghhh, jangan digigit ya, Channn.”

“Iya, sayang,” bisik Haechan.

Lidah dan mulut Haechan bekerja sama dalam memanjakan leher Renjun. Kecupan dan jilatan menjadi kenikmatan tersendiri untuk sang empu leher. Belum lagi karena jari Haechan yang menggerayangi dadanya, mengelus pelan putingnya, hingga memberi belaian lembut pada perut ratanya.

“Ahhh….”

Lenguhan Renjun berubah menjadi desahan nikmat. Jemarinya mencengkram surai coklat terang milik Haechan. Sesekali dijambak, tapi lebih sering diusap penuh rasa sayang.

Haechan mulai turun ke bawah. Kali ini ia memanjakan kedua puting Renjun yang sudah tegang. Diemutnya puting Renjun yang sebelah kanan, sedangkan jemarinya memainkan puting yang sebelah kiri.

“Channn nghhh jangan ditarik….”

Seolah tuli, Haechan mengabaikan ucapan Renjun. Hisapannya semakin kuat, pun puting Renjun semakin ditarik dan dipelintir tanpa ampun.

“Arghhh fuck! Haechan, aku bilang jangan di— AHHH!”

Bibir Haechan berpindah pada puting yang kiri—menjilat tonjolan mungil yang tadi ia pelintir. Tangannya enggan untuk melakukan hal yang sama pada puting sebelah kanan. Namun, kali ini dibiarkannya tangannya turun ke bawah untuk mengelus paha Renjun di bagian dalam.

“Sshhh… Lee Haechan…”

Suara Renjun yang merdu dengan desahannya yang merapalkan nama lengkap Haechan itu, membuat Haechan semakin terbakar napsunya. Mulutnya menghisap puting Renjun layaknya bayi yang tengah menyusu, sedangkan tangannya mulai meremas paha Renjun dengan gerakan yang sensual.

Renjun sedikit menunduk. Alisnya terangkat dan senyuman terulas ketika matanya bertemu dengan manik penuh napsu milik Haechan. Seketika wajah Renjun merona menyaksikan kekasihnya masih asyik mengenyot putingnya, sedangkan mata mereka bertemu tatap.

Liking what you’re doing now?” tanya Renjun sambil menyugar poni Haechan.

Haechan hanya mengangguk. Ia terus menatap Renjun, memberi senyuman kecil, dan tak berhenti menghisap puting kekasihnya itu.

“Ohhh shit, Lee Haechan….”

Semakin kuat hisapan dari Haechan. Ditambah lagi kini tangan Haechan di bawah sana telah menyentuh dinding anal Renjun dan mengelusnya lembut.

“Tadi waktu aku nindih kamu, dielus di mana, sayang?” tanya Haechan sambil melebarkan kaki Renjun untuk duduk di antara dua tungkai kurus itu.

“Di…paha kamu….”

Salah satu sudut bibir Haechan kembali terangkat. Ia membawa kaki kanan Renjun untuk ditenggerkan pada bahunya guna diberi kecupan pada betis yang mulus dan wangi sabun floral itu.

“Hnghhh,” Renjun melenguh dengan kepalanya menengadah dan bibir bawahnya yang digigit pelan.

“Tadi ngelus bagian ini kan?” tanya Haechan lagi sembari tangannya mengelus paha Renjun.

“Iya— AH! Haechan, kok digigit sih kaki aku?!” tanya Renjun sebal.

Haechan terkekeh. Ia mengecup bagian betis Renjun yang sempat digigit ya tadi.

“Gemes. Kaki kamu kecil, mungil, mulus, wangi pula.”

Renjun hanya mengembuskan napasnya pelan. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Haechan untuk menahan elusan di pahanya.

“Kenapa? Kok ditahan?” tanya Haechan dengan dahi yang mengernyit bingung.

“Aku,” Renjun menutup mukanya yang merah dengan tangannya dan melanjutkan, “takut cum sekarang kalo kamu elus terus di situ.”

Alis Haechan terangkat. Sontak matanya terarah pada penis Renjun yang memang sudah sangat tegang dan bahkan sudah mengeluarkan cairan pre-cum. Seketika Haechan terkekeh.

“Aku bahkan belum buka baju sama sekali loh, sayang. Masa kamu udah mau keluar aja?” goda Haechan.

“Jangan gitu ih, Chan! Maluuuu,” gerutu Renjun masih menutup wajahnya.

“Ya udah. Ayo udahan nutup mukanya.”

“Ga mau. Maluuuu.”

“Junnie baby,” panggil Haechan sambil mengelus lengan Renjun. “Instead of covering your face like that, it’s better using your hands to undress me now. Sini, biar aku bikin kamu keluar karena penis aku yang di dalam, bukan karena paha kamu aku elusin gini.”

Ucapan Haechan terdengar menyenangkan tapi memalukan pula bagi Renjun. Perlahan ia melepaskan tangannya dari wajah, mendapati Haechan yang tersenyum lembut menatapnya. Otomatis Renjun membalas senyuman itu.

“Mau kan bantu aku bukain baju sama celana aku?” kali ini Haechan bertanya—ah, lebih ke arah meminta atau memberi perintah tersirat.

“Iya, mau,” jawab Renjun malu-malu.

Dengan begitu, Haechan berdiri di pinggir ranjang kasur. Dibiarkannya Renjun dengan tangan mungilnya melepaskan seluruh pakaian Haechan dari atas sampai bawah.

Done it, Lee Haechan.”

Senyuman mengembang di wajah Haechan sembari menjawab, “Thank you, Huang Renjun.”

Kembali tubuh Renjun direbahkan di atas kasur. Tanpa menunggu lama, Haechan segera menindih kekasihnya (seperti yang dilakukannya di panggung), mengungkung si mungil itu, sembari melumat bibir Renjun sekilas.

Ketika ciuman dilepas, Haechan memandang Renjun dengan senyuman lembut. Renjun pikir kekasihnya hendak menciumnya lagi atau sekadar memberi sentuhan sensual. Ternyata yang dilakukan Haechan mengejutkan Renjun.

Suck and make it wet,” titah Haechan sembari memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Renjun.

Maka segera dituruti oleh Renjun. Diemutnya jari panjang Haechan itu. Matanya layu, deru napasnya memburu, dan emutannya pada jari Haechan terlihat sangat seksi menggugah napsu.

“Muka kamu seksi banget begini, Njun,” ucap Haechan.

Renjun hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Digenggamnya tangan Haechan itu dengan kedua tangannya dan segera ia berinisiatif menambahkan jari tengah Haechan ke dalam mulutnya.

Fuck Huang Renjun,” desis Haechan merasa takjub melihat Renjun menjadi lebih liar.

Untuk beberapa menit, Haechan membiarkan Renjun asyik dengan kegiatannya. Pemandangan ini tentu menyenangkan di mata Haechan. Ditatapnya lekat seorang Huang Renjun dari rambutnya yang masih basah, mata yang sayu, wajah yang merah, bibir bengkak dan basah, mulut penuh dengan jemarinya, dan dadanya yang penuh bercak merah pasca digigit tadi.

Wet enough?” tanya Renjun ketika mengeluarkan jari Haechan dari mulutnya.

Yes,” jawab Haechan.

Tanpa berlama-lama lagi, Haechan memasukkan jarinya yang basah ke dalam lubang anal Renjun. Perlahan. Sangat pelan, supaya kekasih tercintanya itu tidak (terlalu) kesakitan.

“Sshh…pelan, Chan…”

“Iya, sayang. Ini pelan kok.”

Jari tengah Haechan sudah berhasil masuk. Pelan-pelan digerakkan keluar dan masuk dengan tempo yang teratur.

“Humhh feels good,” desis Renjun.

Setelah dirasa Renjun-nya merasa nikmat dan lubangnya pun mulai longgar, maka Haechan menambahkan satu jarinya—jari telunjuk yang sudah basah. Gerakan bak gunting dilakukannya di dalam lubang ketat milik Renjun.

“Haec— ahh…sempit ya?” tanya Renjun.

“Iya. Ini aku longgarin dulu.”

Renjun menatap Haechan yang dengan gagah duduk di antara kakinya yang mengangkang. Fokus mata Haechan ke arah lubang Renjun yang dipenuhi oleh dua jarinya. Pemandangan ini membuat Renjun tersipu sekaligus semakin terangsang napsunya.

“Haechan sayang,” panggil Renjun.

Arah pandang Haechan beralih. Ditatapnya Renjun yang tersenyum malu kepadanya.

“Kenapa, Junnie baby?” tanya Haechan.

“Boleh langsung dimasukkin sekarang aja ga? I think, itu udah cukup longgar, tapi kan punya kamu lebih gede. Jadi, nanti biarin longgar sendiri because of your big dick.”

Ah, Haechan selalu suka melihat Renjun yang punya kadar kesabaran yang tipis itu. Bahkan dalam urusan bercinta sekalipun, Renjun lebih tidak sabaran daripada Haechan.

“Mau aku tindih kamu dari depan gini atau dari belakang?” tanya Haechan.

“Dari depan gini. Biar aku bisa tetap lihat muka kamu atau sambil nyium kamu.”

“Oke, baby,” tanggap Haechan.

Tangannya meraih kondom di saku celana pendeknya tadi. Bungkus karet pengaman itu dirobek menggunakan giginya.

“Ugh so sexy,” puji Renjun.

“Kamu juga seksi.”

Sigap tangan Haechan bergerak mengenakan kondom pada penisnya. Ia menengadahkan tangan ke depan mulut Renjun dan berkata, “Spit your saliva. Biar aku basahin ini kondom.”

Renjun menjerit di dalam hati. Haechan-nya kali ini sangat liar dan keseksiannya meningkat seribu kali lipat. Maka Renjun yang sempat terpaku itu menuruti keinginan Haechan—yaitu mengeluarkan air liurnya untuk ditampung di tangan Haechan.

Setelahnya tentu Haechan melumuri penisnya—yang dibungkus kondom—dengan saliva Renjun. Dirasa sudah cukup, maka cepat ia arahkan kejantanannya itu ke lubang anal Renjun.

“Nghhh, Chan…”

Renjun merintih sembari mencengkram lengan kekar Haechan yang berada di sisi tubuhnya. Kepala Renjun menengadah dan matanya tertutup merasakan perih di bawah sana.

“Tahan, sayang.”

“Pedih…”

“Iya, tahan sebentar ya.”

Pelan-pelan Haechan mendorong penis besarnya ke dalam lubang sempit Renjun. Terbenam sepenuhnya dalam sekali hentakan kecil yang sukses membuat Renjun berteriak.

“Ahhh! Penuh banget,” desis Renjun.

Haechan tersenyum dan menunduk. Dikecupnya bibir Renjun sembari berkata, “Feels so warm inside you, baby.”

Lengan Renjun otomatis mengalung di leher Haechan. Bibir mereka menyatu dalam cumbuan mesra yang hangat.

Sembari mereka berciuman, di bawah sana Haechan pelan-pelan menggerakkan pinggulnya. Penisnya yang membesar itu mulai keluar dan masuk pada anal Renjun dengan tempo teratur.

“Humhhh,” lenguh Renjun teredam dalam ciuman.

“Sempit banget, Renjun,” bisik Haechan ketika tautan bibir mereka terlepas.

“Kamu suka semakin sempit gini kan?” tanya Renjun sama berbisiknya dengan nada mendayu dan sembari mengetatkan lubangnya.

Fuck,” umpat Haechan dengan suara rendahnya.

Renjun terkekeh sekilas. Melihat itu, Haechan menegakkan tubuhnya kembali duduk di antara tungkai Renjun. Dilebarkannya kaki sang kekasih untuk memperdalam tusukan penisnya.

“Ahhh! Shit kena, Chan!” jerit Renjun.

Haechan menyeringai. “Di sini?” tanyanya sambil menusuk kembali titik kenikmatan pacarnya.

“Ughhh iyahh…ohh fuck dalem banget!”

Desahan Renjun semakin melonglong kuat. Nama Haechan terus dirapalkan dengan nada erotis dan menyatu dengan suara perpaduan kulit mereka.

Tak hanya genjotannya, Haechan kini kembali mengemut puting Renjun. Dihisapnya kuat hingga Renjun mengerang hebat untuk menyuarakan kenikmatan yang ia rasakan.

“Ugh… Chan, i-iyahhh aku tau kamu sekarang makin kuat sshh semenjak nge-gym, umhhh tapi ini kuat banget ahhh. Sampe mentok shhh…”

Pujian Renjun itu semakin membakar napsu Haechan. Tak lagi dihisapnya puting Renjun. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih, tapi di bawah sana genjotannya semakin liar.

Tubuh Renjun terhentak hebat. Bahkan kepalanya nyaris menabrak headboard ranjang yang kini berguncang kuat. Salah satu tangan Haechan diletakkan di atas kepala Renjun agar sang kekasih tak terluka di bagian sana terbentuk kepala ranjang.

“Aku bisa cepet keluar kalo kamu ketatin terus, Njun,” bisik Haechan.

“Hnghh emang itu yang aku mau,” balas Renjun. “Soalnya aku udah mau keluar.”

Then let it out, sayang. Jangan ditahan.”

“Kenain lagi bagian itu nghh please biar enak keluarnya, Chan.”

Permintaan Renjun akan selalu dikabulkan oleh Haechan. Maka diangkatnya tinggi pinggulnya dan langsung menghentak penisnya dengan kuat di dalam anal Renjun hingga kekasih mungilnya itu menjerit.

“Ahhh… Lee Haechan… nghh ahh!”

Renjun pun sampai pada puncak kepuasannya. Cairan putih kental menyembur dari penisnya membasahi perutnya sendiri dan juga perut Haechan.

“Aku sebentar lagi,” ujar Haechan.

Pelukan pada tubuh Renjun dieratkan. Wajahnya yang masih di leher Renjun membuatnya mengecup leher itu berkali-kali dan mengendus aroma floral yang sudah bercampur keringat.

Is it good? Enak udah keluar?” tanya Haechan masih terus menggenjot lubang Renjun.

“Iyahh. Enak banget sshh. Your big dick always satisfying for me, sayang.”

Haechan tersenyum. Renjun-nya itu sangat paham bahwa Haechan suka dipuji, terutama oleh dirinya.

Maka pujian Renjun membawa Haechan pada gerakan brutal di bawah sana. Tusukan demi tusukan terus diberikan pada prostat Renjun, membuat penis Haechan terbenam semakin dalam.

“Mmhh udah mau keluar?” tanya Renjun.

“Iya, sayang,” jawab Haechan. “*Please, baby, again—”

Tak perlu dilanjutkan. Renjun langsung memotong ucapan Haechan dengan, “Haechan-ku ughh kuat banget. Semenjak nge-gym jadi makin seksi. Aku suka…ahh…I don’t know ada pengaruhnya atau ngga, tapi nghhh your dick is getting bigger and stronger as well. Aku…aku suka banget, Chan. Hmhhh aku juga makin suka dipeluk sama lengan kekar kamu ini sekarang. It made me did nothing on the stage when you hugged me until we laid down. I also couldn’t help to not smiling when you back hugged me and sniffed my neck. You did great with your gym, my bear.”

Fuck, Huang Renjun. Kamu tau banget my praising kink ini— arghhh!”

Segala tuturan pujian dari Renjun menjadi bantuan bagi penis Haechan untuk menyemburkan spermanya. Hentakan yang kuat itu semakin liar saat telinga Haechan mendengar setiap kata yang diucapkan oleh kekasihnya tadi.

Kehangatan menyelimuti penis Haechan yang berlapis kondom. Tubuhnya dibaringkan di sebelah Renjun dengan tetap mendekap sang kekasih mungil.

You did great with praising me like that, sayang,” ucap Haechan sambil mengecup kening Renjun.

“Cuma aku loh yang tau kamu suka digituin kalo lagi begini.”

Mereka terkekeh bersama. Tubuh telanjang penuh keringat itu saling berpelukan erat sembari mereka mengatur napas yang memburu pasca pelepasan kenikmatan.

“Mandi yuk,” ajak Haechan.

“Udah? Ga minta nambah?” tanya Renjun.

Kepala Haechan menggeleng. Sambil tersenyum dan bersitatap dengan Renjun, ia menjawab, “Besok kita ada flight pagi.”

Seketika bibir Renjun mencebik. Digumamkannya, “Maaf ya kita harus LDR dulu sebentar.”

No worries, sayang. Kan cuma sebentar. Ntar kalo kamu udah pulang ke Seoul lagi, aku janji bakal sering nginep di tempat kamu.”

“Bener ya?”

“Iya.”

Renjun tersenyum bahagia. Dipeluknya kian erat tubuh Haechan dan menyandarkan kepala di dada bidang kekasihnya itu.

“Besok aku mau pake hoodie abu-abu ah,” ucap Renjun.

“Hmm, oke. Kalo gitu besok aku pake jaket abu-abu. Jadi, walaupun misah, kita tetap keliatan ‘sama’ gitu. Iya kan?”

“Ugh a very sweet of you, gemini boy,” cibir Renjun dengan nada bercanda.

“Tapi kamu suka dengan manisnya aku.”

“Aku suka semua yang ada di kamu, Chan. I even love it. I love you for every inch and every detail of you.”

Same. I love everything about you, Huang Renjun. I love you.”

I love you much more, Lee Haechan.”


schonewords


CW // kissing, make-out


Best friend ever

Lagu Best Friend Ever selesai dinyanyikan. Semua member siap pada posisi terakhir mereka yang kali ini terlihat… berantakan. Mark, Jeno, dan Jisung tetap di posisi mereka, Jaemin berada di belakang Chenle untuk menggendong adiknya itu. Sedangkan…

Haechan memeluk Renjun. Tidak disangka—bahkan Haechan pun tak menyangka—Renjun tidak memberi perlawan ataupun memiliki pertahanan, sehingga tubuhnya terjatuh ke samping.

Posisinya? Ya, Haechan dan Renjun seolah berada di dunia sendiri. Tak ada intensi Haechan untuk menempatkan mereka pada posisi yang (cukup) sensual.

Haechan jelas terkejut dan matanya sempat membelalak sekilas. Terlebih lagi ia melihat Renjun hanya diam, berpose v-sign ke arah penonton, dan satu tangannya terjepit di antara tubuhnya dan tubuh Haechan. Kembali mata Haechan melotot ketika dirasakannya tangan Renjun itu sempat mengelus pahanya sekilas.

Tepuk tangan meriah dan suara teriakan ricuh terdengar dari arah penonton. Lampu di atas panggung seketika padam.

“Njun, sorry—”

“Gapapa,” Renjun tersenyum dan menolehkan kepalanya ke arah Haechan.

“Aku ga sengaja beneran deh,” ucap Haechan lagi.

“Chan, Njun, bangun yuk ke backstage dulu ayo,” ajak Mark sembari membantu Haechan dan Renjun bangun.

Sigap Haechan dan Renjun berdiri. Tepat saat keduanya berdiri, Renjun langsung menarik tangan Haechan dengan langkah kaki yang berderap cepat. Mereka mengarah ke ruang ganti—di mana baju kostum Haechan yang akan dikenakan untuk penampilan bersama NCT 127 telah disiapkan.

“Njun—”

Click!

Renjun mengunci pintu dan mendorong Haechan ke dinding ruang kecil itu. Kedua tangan Renjun mencengkram bahu Haechan kuat, mendekatkan wajahnya pada wajah Haechan, dan seketika bibirnya menempel pada bibir sang kekasih—Lee Haechan.

Haechan sempat kaget, tapi detik berikutnya ia menutup mata layaknya yang Renjun lakukan. Kedua tangannya mencengkram pinggang ramping Renjun hingga tubuh mereka berdempetan erat.

“Hmmhh,” lenguh Renjun.

Bibir keduanya saling melumat. Ciuman itu bukanlah tautan lembut, melainkan cumbuan panas yang terkesan terburu-buru. Bahkan saliva mulai membanjiri bibir mereka disertai bunyi khas perpaduan labium yang basah.

“Ren—jun…mhhh…”

Tautan bibir mereka sempat terpisah, tapi cepat Renjun satukan lagi. Kedua lengan Renjun melingkar di leher Haechan guna menarik kepala kekasih itu untuk memperdalam ciuman.

Mendapatkan perlakuan itu, Haechan memiringkan kepalanya. Ciuman mereka kian panas. Haechan menggigit pelan bibir Renjun untuk menyelinapkan lidahnya masuk ke dalam kehangatan mulut Renjun.

“Hmphhh….”

Lenguhan Renjun semakin membakar libido Haechan. Pelukan mereka dieratkan dan membuat Haechan berinisiatif menekan bagian bawahnya dengan milik Renjun.

Seringaian Renjunterulas sekilas disela ciumannya. Ia bahkan mendorong tubuh Haechan semakin terpojok di dinding agar kejantanannya ditekan kuat pada kepemilikan Haechan yang terasa sama tegangnya.

“Nghh, Chan….”

“Njun sshh aku mau perform lagi….”

“Sebentar….”

Ditengah kegiatan keduanya yang menggesekkan penis mereka kepada satu sama lain, samar suara WayV terdengar. Renjun menatap mata Haechan yang tampak layu karena dikuasai napsu.

“Hnghh itu WayV masih perform kok, Chan.”

“Itu udah mau selesai, sayang.”

Tok tok tok!

“Chan, Njun, udah dulu. Bentar lagi 127 disuruh stand by.”

Itu suara Mark. Haechan dan Renjun seketika tersenyum tanpa menyelesaikan gerakan pinggul mereka untuk terus mencari kenikmatan dari gesekan di bawah sana.

“Tuh aku udah dipanggil sama Mark hyung,” ucap Haechan.

Bibir Renjun mencebik. Seketika pinggulnya berhenti, tapi wajahnya kembali maju untuk mengecup bibir Haechan.

“Ya udah, kamu ganti baju ya. Nanti kita sambung,” bisik Renjun dengan suaranya yang terdengar lebih menggoda di telinga Haechan.

Haechan tersenyum, mengangguk, dan sembari mengelus pipi Renjun, ia berkata, “Iya, sayang. Ntar di hotel kita sambung ya. Maaf tadi aku nindih kamu jadi bikin kamu turn on ya?”

Renjun mengangguk, tapi tetap tersenyum pada kekasihnya. Kembali dikecupnya sekilas bibir Haechan, ditambah pula kecupan pada leher kekasihnya itu yang masih berkeringat.

“Oke. Kita kelarin dulu konsernya. Abis itu ntar malem kamu tidur di kamar aku ya?” bujuk Renjun manja.

“Iya, Renjun sayangku,” jawab Haechan sambil mengecup bibir Renjun dan meremas pantat si mungil itu. Wajahnya maju untuk berbisik, “Let’s do it tonight, more than what we did just now.”

I’m ready,” balas Renjun dengan senyuman lucunya.


schonewords


CW // kissing


“Hai, Ral!” sapaan dari Jenar jadi yang paling pertama kedengaran waktu Ralio masuk ke dalam studio.

Ralio cuma senyum tipis ke Jenar, Milan, dan Naugo yang udah ada di sana. Oh, pastinya ada satu lagi. Si ganteng Halvy Sagara pacarnya Ralio Baritama yang ceroboh itu.

Langkah kaki Ralio agak cepat ke arah drum tempat Halvy lagi (mencoba) menyibukkan diri. Ralio tau banget sekarang itu Halvy cuma pura-pura sibuk sama drumnya biar sengaja nyuekin Ralio.

“Vy,” panggil Ralio waktu dia udah berdiri di samping Halvy.

Halvy ga jawab apa-apa. Dia cuma noleh dikit. Tatapannya tajam banget dengan muka yang cemberut. Serem sih, tapi dalam hati Ralio juga ngerasa gemes.

“Vy, ayo ngobrol dulu berdua,” ajak Ralio dengan suara yang pelan banget, tapi Halvy masih bisa denger.

Sebenarnya Halvy masih mau marah (read: ngambek), tapi ga bakal sanggup sih kalo udah liat mukanya Ralio. Jadi, dengan perasaan yang (masih) dongkol, Halvy ngangguk, terus berdiri.

“Kita ngobrol di luar aj—”

“Kalian ngobrol di sini aja,” potong Milan. “Jenar sama Naugo mau beli makan. Gue mau ke dalem dulu, kebetulan dicariin nyokap.”

Ralio nyengir ke arah tiga temennya itu. Bibirnya nyebutin 'makasih' tanpa suara, ngebuat Halvy yang sedikit ngelirik ke arah Ralio sempat senyum-senyum tipis.

“Makasih, Milan,” ucap Ralio, sedangkan Halvy cuma ngangguk.

Milan, Jenar, dan Naugo udah keluar dari studio. Sekarang tinggal Halvy sama Ralio doang yang akhirnya mutusin duduk di sofa empuk yang memang disediain di studio mereka itu.

“Vy, maafin aku ya,” kata Ralio tanpa basa-basi lagi sambil ngeliatin Halvy.

Cowok yang namanya Halvy cuma diem, ngeliat ke arah jendela, dan ngangguk pelan. Jelas kayaknya masih kesel, tapi di satu sisi ga sanggup juga ngeliat ekspresi memelas si Ralio.

Halvy itu sebenarnya lemah kalo udah nengokin mukanya Ralio. Jadi, sekarang dia ga mau liat aja sekalian, biar agenda ngambeknya itu sukses.

“Jangan nyuekin aku, Vy,” pinta Ralio. “Liat sini dong. Masa akunya ga diliat. It's such a waste you ain't see my face this close, when a lot of people out there wanna see it badly.”

Sedikit lagi pertahanan Halvy goyah. Ceplas-ceplosnya Ralio itu biasanya bikin dia ketawa. Makanya sekarang dia berusaha banget buat nahan ketawa.

Di samping Halvy, Ralio justru bingung banget. Dia bahkan ngembusin napasnya pelan karena hampir putus asa.

Sebenarnya Ralio ngebatin, 'Apa iya Halvy ngambek? Ga mungkin ah. Selama ini dia ga pernah begini sama gue'.

Akhirnya Ralio pasrah. Dia mutusin buat nyender di sofa sambil ngeluarin HP-nya.

Halvy sempat ngelirik. Dia mikir, 'Loh udah nih ngebujuknya?'

Oh minta dibujuk rupanya. Lucu juga si Halvy ini.

Sekitar hampir lima menit mereka diem-dieman. Duduk sebelahan, tapi ga ada obrolan sama sekali. Ralio sibuk dengan HP-nya dan Halvy juga ngelakuin hal yang sama.

“Vy, liat deh,” ucap Ralio tiba-tiba.

“Apaan?” tanya Halvy.

“Aku bikin playlist di Spotify,” kata Ralio sambil nunjukkin layar HP-nya ke arah Halvy. “Isinya cuma lagu-lagu yang judulnya Sunflower.”

“Oh oke—”

“Coba baca dulu nama playlistnya sama descriptionnya!” titah Ralio penuh semangat.

Pada akhirnya, Halvy nyerah. Dia ambil HP Ralio dan dibacanya dengan cermat playlist itu. Seketika Halvy senyum, terus blushing juga.

“Yaelah, Ral,” ucap Halvy sambil ngasih HP Ralio ke si yang punya. “You always have your own ways to make me feel loved.”

Of course, I am!

Halvy cekikikan. Ga pake basa-basi lagi, dia langsung melukin Ralio erattt bangettt. Begitu juga Ralio yang balas pelukan pacarnya ga kalah erat.

“Udah ga kesel lagi sama aku kan?” tanya Ralio.

“Aku ga pernah kesel sama kamu sekalipun. Aku cuma iseng doang.”

Dengar jawaban itu, Ralio langsung ngelepasin pelukan, terus nyubit pipi Halvy. Dia teriak, “Ih usil banget!”

Halvy ketawa. Ralio ikut ketawa. Muka Ralio langsung ditangkup sama Halvy dan...

Cup!

Bibir Ralio dikecup. Sekilas doang kecupannya, tapi berhasil bikin Ralio senyum blushing salah tingkah.

“Sekali aja I wanna see you being panic because you assuming I'm mad at you. Ternyata lucu juga liatnya,” kata Halvy santai banget.

“Iya sih,” balas Ralio. “Aku juga baru pertama kali liat kamu ngambek. You're sooooo damn cute, my sunflower!”

“Ya udah kalo gitu aku sering-sering ngambek aja apa ya, Ral?”

“Coba aja kalo bisa.”

“Ga bakal bisa sih.”

“Nah itu tau.”

Lagi-lagi mereka ketawa bareng.

Ah cuma berapa detik doang ketawa bareng. Selanjutnya adegan cliché, di mana mereka udah tatap-tatapan, saling ngelempar senyum, terus ngedekatin muka.

Jangan lupain posisi tangan Halvy yang masih menangkup muka Ralio. Terus sekarang tangan Ralio megangin kedua bahunya Halvy.

Smooch!

Yeah, they're starting to kiss each other's lips. Halvy lumat pelan bibir Ralio. Disambut pula sama Ralio yang nyelipin bibir bagian bawahnya di belah bibir Halvy. Gunanya buat ngemut bibir bagian atasnya Halvy.

Pelan-pelan mereka saling peluk. Kedua tangan Halvy melingkar di pinggang Ralio, dan dua tangan Ralio mengalung di leher Halvy.

Ciuman semakin dalam. Mereka saling hisap bibir, lidah, sampai saliva satu sama lain. Ciuman itu ga panas. Ciumannya lembut bangetttt sampe rasanya Halvy dan Ralio mabuk, ga mau lepasin, biarin terus ciuman.

Akhirnya mereka berenti waktu udah mulai kesusahan buat napas. Selesai ciuman, mata mereka ngeliatin bibir satu sama lain. Basah, mengkilat, dan agak bengkak.

“Vy....”

Yes, hunny?”

Promise me to always communicate whatever the feelings you have. If you're happy with me, lemme know. If you're mad at me, lemme know. And if....by any chance someday you're sad because of me, please kindly lemme know as well. Aku janji bakal ngelakuin hal yang sama, karena aku tau our relationship works very well so far because we have a good communication. Jadi, let's always do it like this.”

Halvy senyum. Kepalanya ngangguk sambil bilang, “I promise, butterfly. I'll always tell you the truth only. And don't worry, hunny, you sunflower never get mad at you, my butterfly. Not even once.

“Semoga selalu gitu ya.”

“Iya.”

Mereka sempetin ngecup bibir satu sama lain dan pelukan erat.

“Sekarang menjelang yang lain pada dateng, coba ajarin aku main Ace Racer, Vy.”

“Ya udah sini aku ajarin, tapi nanti bayar ya.”

“Hm? Bayar? Pake apa?”

Cuddle all night long. Aku nginep di rumah kamu.”

“Okeeeee! Jangankan cuddle doang, nanti aku cium-cium terus deh kamu semaleman.”

“Cium di bibir?”

“Iyalah!”

Damn! I can't resist tho, tapi kan itu emang kesukaan kamu.”

“Apanya?”

“Nyiumin bibir aku.”

“Iya emang.”

And it makes you become a good kisser, Ral. You're even better at it than me.”

“Ya udah sekarang kamu ajarin aku main game. Nanti aku ajarin kamu ciuman yang lebih baik ala Ralio.”

“Ngawur, tapi ga nolak, hehehehe.”

“Hehehehehe.”


schonewords


CW // NSFW, ngewe, anuan dah pokoknya pake bahasa frontal (kayaknya)


Gama buka pintu kamarnya pelan-pelan. Seketika dia senyum saat melihat suaminya dan si bayi mungil Gabby tidur nyenyak.

“Gala-ku,” panggil Gama lirih.

Gala sedikit membuka matanya. Senyuman langsung terulas di wajah tampannya ketika mendapati sang suami duduk di pinggir kasur—tepat di sampingnya.

“Ini jam berapa, Mas?” tanya Gala dengan suara serak khas bangun tidur.

“Jam dua, ayang.”

Dahi Gala mengernyit mendengar jawaban Gama. Diliriknya jendela kamarnya yang memang menyuguhkan pemandangan langit Jakarta yang sangat terang. Sekilas juga dia melihat bayi mungil di sebelah kirinya yang terlelap, kemudian melihat ke arah jam dinding.

Benar, ini masih jam dua siang.

“Kok kamu udah pulang?” tanya Gala.

Gama cuma tersenyum tipis. Badannya agak menunduk dan mengecup bibir suaminya sekilas sembari menjawab, “Foto yang kamu kirimin tadi bikin aku ga fokus kerja lagi. Jadi, aku mutusin buat pulang cepet hari ini. I think I want more lunch for today.”

Jelas seringaian terulas di wajah Gama. Sontak Gala melotot karena paham maksud dari ucapan suaminya itu. Bisikannya agak keras ketika berkata, “Mas! Yang bener aj— Ayang!”

Badan Gala sudah diangkat Gama, di bawa turun dari kasur. Si cowok mungil itu dibaringkan di sofa yang berada tak jauh dari ranjang mereka, dengan Gama yang mengungkung dari atas.

I'll eat my lunch very well, ayang.”


Punggung telapak tangan Gala sekarang berada tepat di mulutnya. Kalau ditanya kenapa, ya jawabannya jelas, buat meredam desahannya. Pasalnya sekarang tubuh Gala (dan juga Gama) sudah telanjang.

Di bawah sana, Gama sedang sibuk mengulum penis Gala. Kepalanya naik dan turun guna memasuk dan mengeluarkan kejantanan mungil milik suaminya. Kedua tangannya menahan tungkai Gala agar senantiasa mengangkang lebar.

“Ayanghh...M-mas Gama nghhh,” Gala melenguh lirih.

Gala mengarahkan pandangannya ke bawah. Dilihatnya sang suami yang ternyata membalas tatapannya, memberikan senyuman tipis, dan jangan lupakan penis Gala yang masih dikulum sempurna di mulutnya.

“Aduh, anjiiing udah ah, Gamaaahh! Nanti aku keluar duluannhh,” bisik Gala.

Harus berbisik. Kasihan nanti Gabby yang masih suci, mungil, dan polos itu ternodai suara desahan orang tuanya.

Penis Gala dikeluarkan dari mulut Gama. Seketika si gemini itu mensejajarkan dirinya di atas Gala hingga mata mereka bertemu lebih nyaman dan kecupan ringan dapat dengan mudah dibubuhkan pada dahi serta bibir Gala.

“Aku masukin ya?” tanya Gama.

“Sekarang banget? Di sini?” Gala malah balik nanya.

“Iya. Gabby ga akan bangun, ay,” ucap Gama.

Ada keraguan yang jelas tergambar di wajah Gala. Ekor matanya melirik ke arah kasur, tempat Gabby masih terlelap nyenyak.

“Nanti kalo Gabby kebangun giman— Ahh!”

Ucapan Gala belum sempat selesai, sudah keburu terpotong. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kepala penis Gama yang sudah mulai menerobos lubang anal Gala.

“Nghhh anjinggg, Gama!”

“Jangan gede-gede gitu desahannya, ayang.”

“Gimana ga gede kalo lubang aku tiba-tiba dimasukin kontol gede kamu itu!”

Gerutuan Gala yang dibunyikan dengan bisikan itu membuat Gama terkekeh. Dikecupnya pipi kanan Gala sambil berkata, “Maaf, ay. Kontol gede aku ga sabar masuk lubang sempit kamu itu.”

Baru saja Gala mau ngomong lagi, tapi mulutnya keburu dibungkam dengan bibir Gama. Sembari Gama mencium Gala, pinggulnya mendorong maju, menghentakkan penis besarnya yang tegang itu untuk masuk sepenuhnya ke dalam lubang Gala yang sangat ketat.

“Mmph!” Gala mengerang dalam ciumannya. Bahkan bibir Gama sempat ia gigit sekilas untuk melampiaskan rasa sakit di bawah sana.

Gama berusaha menenangkan Gala. Tangan kanannya mengelus pinggang Gala, sedangkan tangan kirinya dipakai untuk menumpukan tubuhnya agar tak sepenuhnya menimpa Gala.

Ciuman mereka kian dalam. Gama berkali-kali melumat bibir Gala dan jelas disambut sama panasnya oleh Gala. Bibir bagian atas Gama diemut, dihisap, dan digigit pelan oleh Gala. Setelah ciuman sempat terpisah guna menghirup oksigen, mereka kembali menautkan labium. Gama membiarkan pula lidah Gala menjelajahi isi mulutnya.

“Itu ga mau digerakkin, Mas?” tanya Gala ketika melepaskan ciuman.

“Adek mau kalo Mas gerakkin kontol Mas? Dek Gala mau lubang sempitnya itu ditusukkin pake kontol Mas yang gede ini?”

Mata Gala melotot. Dia jarang sekali dengar Gama ngomong sefrontal itu. Dia jadi bingung, bukannya harusnya yang ngomong kotor kalo lagi bercinta itu tugasnya Gala?

“Mas? Kamu kenapa? Kok tumben ngomongya git— ahhh, Mas Gamahhhh....”

Gala langsung memejamkan matanya begitu dirasakannya penis Gama mulai bergerak pelan di lubangnya. Pelukannya pada leher Gama pun mengerat seiring kian dalam pula tusukkan kejantanan si gemini itu.

“Gam... Gamahh...”

Desahan Gala semakin terdengar meskipun dengan volume yang kecil. Jelas napsu Gama yang lagi tinggi-tingginya itu jadi makin terbakar.

“Ayang, lubang kamu sempit banget sshhh enak gitu.”

Gala tersenyum. Ia menangkup pipi Gama, membuat netra mereka bertemu.

“Kamu lagi napsu banget ya, ayangku?” tanya Gala diselingi desahan kecil.

“Iya. Udah hampir seminggu ga ngewe. Terus tadi foto yang kamu kirim bikin aku horny banget, ay.”

Gala menarik wajah suaminya untuk mengecup bibirnya. Kecupan ringan itu berubah menjadi lumatan lembut, berbeda dengan hentakan di bawah sana yang semakin cepat.

“Mhhh hnghh....”

Lenguhan Gala teredam. Erat dipeluknya leher Gama saat merasakan genjotan penis suaminya dengan tempo yang lebih cepat lagi.

Fuckkkk Mas Gam... ah! Masss sshh enak ditusuk di situ nghh lagiiihh.”

Gotcha!

Ujung penis Gama baru saja menusuk titik kenikmatan Gala. Maka didorongnya kejantanannya kian dalam.

“Di sini, Papi?” tanya Gama sambil menusukkan ujung penisnya tepat di prostat Gala.

“Iyahh ahh iyah di situ! Lagi lagiii, Daddy....”

Erangan kenikmatan Gala itu semakin membakar libido Gama. Berkali-kali ia mendorong penisnya untuk menyentuh dan menekan prostat Gala.

Sembari mempercepat dan memperdalam genjotannya, Gama pun membawa mulutnya untuk mengemut puting Gala. Dihisapnya kuat serta dipelintir pelan tonjolan mungil itu, membuat desahan Gala semakin terlepas keras, dan semakin susah pula ia meredamnya.

Daddyyy umhh... Mas Gama, aku mau keluar...”

Maka satu lagi servis yang Gama berikan. Genjotan kejantanannya yang semakin cepat, hisapan pada puting Gala yang semakin kuat, serta kini tangannya mengocok penis Gala tak beraturan.

“Gam... Gama ahhh anjingggg! Mas Gamahhh!”

Jeritan kecil itu terdengar beriring cairan sperma Gala yang menyembur. Pelukannya pada leher Gama pun mulai terlepas karena lemas.

Wait a bit, ayang,” pinta Gama.

Tubuhnya ditegakkan dengan dua lututnya menjadi tumpuan. Kedua tangannya mencengkram pinggang Gala guna menahan pergerakan gelisah suaminya akibat hentakan kuat dari penisnya.

“Lubang kamu enak banget, Gal...”

“Ahh buruan siiih keluar, Mas.”

“Iya ini keluar, dek. Ahhh...”

Beberapa hentakan kuat dan dalam itu akhirnya meloloskan cairan kental dari penis Gama. Spermanya menyemprot banyak di dalam anal Gala, membuat Gala merasakan hangat di bawah sana sampai di perutnya.

Gama merebahkan tubuhnya di samping Gala dan sigap merengkuh suaminya. Dipeluknya erat sembari diberikan elusan lembut pada punggung kecil sang suami serta kecupan singkat di dahinya.

Thanks for the yummy lunch, Papinya Gabby,” bisik Gama dengan lembut.

Gala terkekeh sembari bertanya, “Udah kenyang?”

Kepala Gama mengangguk dan menjawab, “Kenyang. Abis nenen juga.”

Mereka pun tertawa bersamaan. Tubuh telanjang penuh keringat itu masih menyatu dalam pelukan hangat.

“Mas, Gabby tuh gerak-gerak. Haus tuh biasanya,” ucap Gala sambil melihat ke arah bayinya.

Cup!

Sekali lagi Gama mencium kening Gala. Ia mengelus pipi suaminya sembari berkata, “Yaudah aku aja yang buatin susu buat Gabby. Kamu tiduran aja dulu, nanti aku bantu bersihin.“en

Gama beranjak dari tidurnya. Sigap ia mengenakan celana boxernya, mengambil selimut, dan menutupi tubuh Gala sebelum keluar dari kamar.

Ya, itulah keseharian Gama. Mengurus dua bayi kesayangannya, walaupun tadi dirinya yang sempat jadi bayi menyusu ke Gala.


schonewords


CW // kissing


Matahari sudah cukup lama terbenam. Makan malam sudah dilakukan sehabis sesi memanggang daging ala Radinka yang disuguhkan untuk Damar dan Javien. Tak terasa waktu pun telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

Javien sudah terlelap nyenyak di dalam tenda yant dipastikan nyaman oleh Damar. Radinka juga turut membantu untuk mengenakan jaket dan selimut tebal yang kini sudah membungkus tubuh mungil itu agar kiranya dinginnya malam khas daerah perbukitan tak menganggu tidur sang anak.

Tersisalah Damar dan Radinka yang masih terjaga. Keduanya duduk beralaskan tikar tepat di depan pintu tenda yang tertutup, membiarkan seorang bocah kecil menikmati perjalanan ke dunia mimpi di dalam sana.

“Mas Damar, makasih ya udah bawa aku sama Vien ke sini. You are so well-prepared for this. Keren banget,” tutur Radinka.

Damar tersenyum. Kepalanya seketika bersandar pada bahu mungil Radinka dan sekilas mengecup leher kekasihnya itu.

“Aku udah pernah bilang bakal mengusahakan apapun untuk bikin kamu sama Vien bahagia, Radin.”

And I’m so thankful for it.”

Radinka mengecup puncak kepala Damar, membuat sang pengacara hebat itu mengangkat kepalanya. Jarak wajah mereka berdekatan, sehingga hasrat pada satu sama lain diturutin—sebuah kecupan ringan mereka bubuhkan pada bibir satu sama lain.

Perlahan keduanya saling berhadapan. Radinka sigap mengalungkan lengannya pada leher Damar, pun Damar yang mencengkram pelan kedua sisi pinggang Radinka. Pada akhirnya bibir mereka menyatu dalam sebuah cumbuan mesra. Tautan itu lembut, tanpa tuntutan, bahkan tak tersirat napsu yang membara. Hanya sebuah ciuman penyalur rasa cinta mereka yang begitu besar.

I love you so much, Mas Damar,” bisik Radinka begitu tautan bibir mereka terlepas.

Damar tersenyum. Salah satu tangannya berpindah untuk menangkup pipi sang kekasih dan membubuhkan kecupan selembut kapas pada keningnya.

My love for you can’t even being described by words anymore, Radin,” balas Damar.

Keduanya kembali pada posisi normal. Radinka kali ini yang menyandarkan kepalanya pada bahu Damar, membuat kepala Damar secara otomatis bersandar pula pada kepala sang kekasih.

Dinginnya malam ini tak mengganggu mereka. Nyatanya cuaca itu justru membuat keduanya semakin menempelkan tubuh lebih rekat dengan Radinka yang dirangkul oleh Damar di dalam rengkuhan hangat.

“Mas, aku boleh nanya sesuatu?” tanya Radinka.

Sure. Go ahead. What is it?”

“Kenapa kamu seperhatian dan sesayang itu banget sama Vien?”

Senyuman manis terulas di wajah Damar. Dieratkan rangkulan tangannya pada bahu mungil Radinka. Satu tangannya lagi sudah menautkan jemari dengan milik Radinka dalam genggaman.

“Vien harus tumbuh jadi anak yang selalu merasa cukup. Aku mau dia ngerasain kebahagiaan yang cukup di masa kecilnya, ngerasa cukup terpenuhi untuk hal apapun, entah itu tentang materi ataupun kasih sayang. Aku juga mau dia tahu gimana rasanya tumbuh bersamaan dengan rasa cukup dari perhatian yang dia dapatin dari orang-orang terdekatnya.”

Jawaban itu sontak membuat Radinka mengangkat kepalanya dan menengadah. Netranya bertemu dengan obsidian teduh milik Damar yang bertemankan senyuman manis di wajah pengacara tersebut.

Damar menambahkan, “Since he was born, he didn’t get it, Radin. He was born unlucky because his parent passed away. Then he was lucky for being adopted by you, but he should faced a lot of hardships because of Jeremy. Sepuluh tahun di awal hidupnya udah ngerasain banyak kesulitan. Aku rasa udah cukup. Udah waktunya Vien tumbuh dengan semestinya anak-anak seumuran dia yang dapat perhatian, kasih sayang, dan diprioritaskan kebahagiaannya.”

Air mata Radinka mulai berlinang. Tatkala ia berkedip, genangannya mengalir di pipi ayah satu anak itu. Segera tangan Damar menyeka air mata kekasihnya dan menangkup kedua pipi itu.

“Aku tahu rasanya tumbuh tanpa orang tua, Radin. Kamu pun pasti tahu gimana beratnya hidup tanpa perhatian dari orang tua padahal mereka masih lengkap. Jadi, usahain jangan sampai Vien ngerasain hal yang sama ya,” ujar Damar.

Radinka mengangguk. Perlahan senyuman terulas di wajahnya. Dengan lirih ia berkata, “Mas Damar, kamu baik banget. I can tell that you’re going to be the best father soon. Kamu tahu banget caranya menenangkan hati aku dan Vien, sampai bisa tahu how to acts and what to do to make us happy. Aku ga tahu harus berterima kasih gimana lagi ke kamu.”

Sisa air mata Radinka masih senantiasa diseka oleh Damar. Wajah mungil yang ditangkup itu sempat ditarik mendekat guna dibubuhkan kecupan pada ranum merah muda Radinka.

“Mulai sekarang lebih banyak tersenyum ya, pumpkin.”

“Iya, Mas.”

You know, Radin, I love the feelings and the butterflies I get when I see you smiling, when I see Javien smiling. I also would like to keep smiling because of you two and gonna let the world knows that three of us are happy for being the reasons behind our smiles. So….”

Ucapan Damar menggantung seiring tangannya merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Tatkala sebuah kotak kecil dikeluarkan dan dibuka, Radinka seketika membelalakkan matanya menatap sepasang cincin silver yang ada di dalam kotak tersebut.

“Mas Damar, ini—”

So, may I see those smiles of yours and Javien’s and become the reason behind it for the rest of my life, Radinka?”

Senyuman di wajah Radinka merekah. Air mata jelas kembali menggenang di pelupuk mata yang segera ia usap. Iris netranya kembali bertemu dengan manik Damar yang tenang.

“Aku ga punya alasan untuk bilang ‘ngga’. So, it’s a ‘yes’, of course. Let’s us smile a lot to share our happiness together, Mas Damar. This is totally what I’m waiting for.”

Degup jantung keduanya berdebar cepat, tapi rasa bahagia tentu mendominasi beriring kupu-kupu berterbangan di perut mereka. Pasca mendengar jawaban Radinka, tanpa ragu lagi Damar menyematkan cincin di jari manis kekasihnya.

“Kenapa ada dua cincinnya? Biasanya kalau orang propose gitu cuma satu, Mas,” ujar Radinka dengan dahi yang mengernyit menatap satu cincin lagi di dalam kotak tersebut.

Damar tersenyum. Sembari menyodorkan kotak itu kepada Radinka, ia menjawab, “Never even once I wanna fully dominate everything in our relationship. So, now I’m letting you to propose me as well. I know it’ll make you happy, right?”

Iris mata Radinka melebar, pun senyumnya merekah. Ia sempat terkekeh pelan dan kemudian mengangguk.

You know me that well. As always, a very considerate of you, Mr. Damar Hannan,” Radinka berucap disela tawa kecilnya. “Jadi, Mas Damar, aku mau menua sama kamu, ngelihat pertumbuhan Javien bareng-bareng, dan ngehadapin banyak hal dengan saling nguatin. Will you do it with me, Mas?”

Tak ada lagi ekspresi lain selain tersenyum bahagia yang terlukis di wajah Damar. Kepalanya mengangguk dengan mata yang saling bersitatap dengan Radinka seraya menjawab, “Dengan senang hati aku mau ngelakuin itu semua sama kamu, my dear pumpkin.”

Radinka pun tersenyum dan sigap mengambil cincin satunya. Disematkannya dengan perlahan ke jari manis Damar.

Setelahnya, kedua pria itu saling melempar senyuman. Radinka memajukan tubuhnya dan memberi kecupan singkat pada bibir Damar.

“Makasih banyak, Mas Damar. I got another happy day because of you. My heart feels so full now. Also, thank you for asking.”

So does mine, Radin. Makasih juga udah nerima lamaran aku dan nanya balik.”

Sepasang kekasih itu pun saling berpelukan. Sekilas mereka saling bercumbu mesra untuk mengalirkan rasa bahagia dalam tautan lembut pada bibir mereka.

Kehangatan menyelimuti Damar dan Radinka. Jemari mereka bertaut, membawa tatapan mereka tertuju pada jari manis yang sudah dilingkari cincin kembar berwarna perak itu.

“Papih,” suara Javien menginterupsi dari dalam tenda.

Damar dan Radinka bergerak cepat membuka pintu tenda untuk masuk ke dalam. Terlihat Javien yang tampaknya hanya terbangun sebentar untuk memanggil sang papi.

“Ya udah sekarang kita tidur juga yuk,” ajak Damar.

“Iya, Mas,” tanggap Radinka.

Maka Damar dan Radinka berbaring di sisi kanan dan kiri Javien. Mereka pun memeluk Javien secara bersamaan dengan tangan yang saling menggenggam.

Malam ini semesta kiranya tengah berbaik hati. Dibiarkannya kehangatan menyelimuti tiga orang yang pernah berjuang penuh luka, untuk kini menjadi obat pencipta bahagia. Mulai dari malam ini, ketiganya menguntaikan harap disela suka cita, memohon agar kebahagiaan ini tak luput dan senantiasa membersamai mereka.

Sederhananya, momen indah ini menjadi awal dari perjalanan indah Damar, Radinka, dan Javien menuju ke masa bahagia di depan mereka menjadi satu keluarga kecil yang utuh.


schonewords


CW // kissing


Pasca menemani Javien tidur hingga terlelap nyenyak, Damar dan Radinka memutuskan untuk kembali ke kamar Radinka. Layaknya malam-malam sebelumnya, Damar merebahkan diri di samping Radinka, mendekap tubuh mungil itu dengan erat, dan menghujani wajah tampan yang tampak lelah itu dengan ciuman-ciuman ringan.

“Capek ya hari ini?” tanya Damar sembari mengelus kepala Radinka dengan lembut.

“Banget,” jawab Radinka. “After this super tiring day, all I need is your hug, Mas.”

Damar tersenyum. Dipeluknya kian erat tubuh Radinka yang langsung dibalas pelukan tak kalah erat dari kekasihnya itu. Tak luput pula kecupan hangat dibubuhkan oleh Damar pada kening Radinka.

It's almost over, right, Mas?” tanya Radinka.

“Iya. Almost.”

Seketika suara kekehan lolos dari mulut Radinka. Dilonggarkannya pelukan untuk menengadahkan kepala hingga bersitatap dengan Damar.

“Kapan dong ga 'almost' lagi?” tanya Radinka dengan nada menggoda.

Soon. Kalau udah clear semuanya dan semua keluarga Tanwira ga keberatan lagi, it's totally over.”

Jawaban Damar ternyata tak memuaskan hati Radinka. Bibirnya mencebik dan tangannya memukul dada kekasihnya itu pelan.

“Ck, kamu ga peka, Mas.”

Mendengar itu, Damar pun terkekeh. Direngkuhnya erat lagi tubuh Radinka yang sempat melonggar dari pelukan.

“Saya terlalu tua buat dikodein begitu, Radin,” ucap Damar disela tawanya.

“Ih iya deh, emang pacarku ini udah tua. Udah om-om jadi susah dikodein,” cibir Radinka dengan nada bercanda.

Damar mendekatkan mulutnya hingga tepat berada di depan telinga Radinka. Ia pun berbisik, “Saya emang tua, tapi bukan berarti saya ga pinter nangkep kode kamu, pumpkin. It's over when I marry you later. Itu kan yang mau kamu dengar?”

Mata Radinka membelalak. Lengan Damar pun dipukul pelan, menciptakan gelak tawa dari Damar.

“Bisa usil juga kamu, Mas.”

“Emangnya saya se-kaku itu?”

Kinda.”

“Hmm,” Damar kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Radinka. “Then should I show you more this side of me?”

Wajah Radinka memerah mendengarnya. Sempat ia mundurkan kepalanya, tapi dari bagian belakangnya sigap ditahan oleh Damar.

Pumpkin, the answer?”

Radinka mencoba menarik sudut bibirnya, hingga tercipta senyuman kikuk. Matanya mengerjap lucu dan kepalanya mengangguk. Kedua tangannya menangkup wajah Damar untuk diberi elusan lembut pada pipinya.

“Kamu boleh nunjukkin semua sisi kamu, Mas. Mau kamu yang kaku, serius, usil, dan yang lain-lainnya. Aku pasti tetap suka.”

Damar tertawa kecil mendengar jawaban Radinka. Tanpa bersuara lagi untuk menanggapi, Damar justru memajukan wajahnya. Bibirnya menempel pada bibir Radinka. Sebuah ciuman mesra dibubuhkan hingga membuat keduanya otomatis menutup mata dan memiringkan kepala.

Perlahan bibir keduanya saling melumat. Cumbuan panas mulai tercipta seiring napsu yang kian memuncak. Tubuh mereka sudah saling berpelukan erat dan berdempetan hingga tak ada lagi jarak yang tersisa.

“Hmmhh,” Radinka melenguh ketika merasakan bibirnya dihisap kuat oleh Damar.

Telinga Damar menangkap lenguhan tersebut. Libidonya seketika meningkat. Ia menekan kepala Radinka, memperdalam ciuman, bahkan sampai menghisap lidah kekasihnya itu.

Di sisi lain, Radinka pun enggan membiarkan Damar mendominasi ciuman. Ia berusaha untuk menyesap kuat bibir bagian atas milik Damar. Pelukan pada leher Damar pun dieratkan dengan jemarinya yang terselip di antara surai gelap Damar.

“Mmhh—Mas....”

Ciuman terlepas karena nyatanya dua pria itu membutuhkan asupan oksigen yang kian menipis dari paru-paru. Jarak wajah keduanya berdekatan hingga embusan napas menerpa wajah satu sama lain.

Ibu jari Radinka mengusap bibir Damar yang kini basah dan mengkilat. Senyuman terulas seiring ia berucap lirih, “It's crazy how I always addicted to your lips, Mas.”

“Kamu ga sadar ya kalau bibir kamu jauh lebih bikin saya gila, Radin? Setiap saya lihat bibir kamu, saya selalu berusaha nahan diri buat ga nyium kamu.”

Radinka terkekeh. Ia pun mengecup bibir Damar sekilas dan menanggapi dengan, “Oh, jadi ini salah satu sisi lainnya kamu yang harus aku tahu ya, Mas?”

“Iya, sayang,” jawab Damar setengah berbisik. “And perhaps this one.”

Damar berucap sembari menyelipkan tangannya masuk ke dalam kaus yang dipakai oleh Radinka. Seketika Radinka membelalakkan matanya, terperanjat merasakan dinginnya telapak tangan Damar menyentuh kulit punggungnya.

“M-mas....”

I won't do more than this, pumpkin. Pelan-pelan, saya sentuh kamu, supaya kamu mulai berani melawan ketakutan dan trauma kamu.”

Bibir Radinka seketika mengatup dalam bungkam. Tangannya terasa bergetar tatkala meremas bahu Damar.

Relax, pumpkin. Cuma saya elus aja.”

Damar membelai lembut punggung Radinka. Ia pun turut memberikan kecupan-kecupan ringan di dahi kekasihnya yang tampak mulai lebih tenang dan terbiasa dengan sentuhannya.

“Gapapa kan, sayang? Saya ga nyakitin kamu kan?” Damar bertanya dengan lembut dan tangannya masih mengusap punggung Radinka.

“Iya, Mas. Gapapa. Aku ... kayaknya juga udah mulai terbiasa.”

Senyuman tersungging di wajah Damar. Dapat ia rasakan cengkeraman Radinka pada bahunya sudah mulai melonggar. Raut muka Radinka pun sudah tampak lebih santai dan mulai menikmati sentuhan sensual nan lembut dari Damar. Pelan-pelan Damar pun memindahkan elusannya pada perut rata milik Radinka.

“Hmm....”

Radinka melenguh tertahan ketika merasakan perutnya tergelitik. Sensasi geli dan nikmat mulai menyelimuti dirinya. Untuk beberapa menit, Damar terus mengelus punggung dan perut Radinka bergantian guna membiasakan sang kekasih dengan sentuhan selembut kapas darinya itu.

Done,” gumam Damar dan kembali memeluk Radinka. “How was it? Did I hurt you somewhere? Or did I scare you?

Kepala Radinka menggeleng dalam dekapan Damar. “It was good, though. Makasih, Mas, udah initiate to do that buat bantu aku,” ucap Radinka.

“Saya udah pernah bilang, saya bakal bantuin kamu untuk sembuh dari trauma kamu. Asalkan kamu percaya sama saya.”

Radinka melonggarkan pelukan dan menengadah. Netranya bertemu dengan obsidian Damar yang teduh. Keduanya saling melemparkan senyuman termanis mereka yang diselingi kecupan ringan.

“Aku selalu percaya sama kamu, Mas, karena aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang sama kamu, Radin.”

Mulanya Radinka mengangguk. Namun detik berikutnya, netranya membelalak dan mulutnya terbuka karena terperangah.

“Sebentar,” gumam Radinka lirih. “Mas, barusan kamu bilang ... 'aku'?”

Damar mengulum senyumnya dan mengangguk pelan.

Gosh ... Mas Damar, boleh ulangin lagi ga?”

Kekehan pun lolos dari mulut Damar sembari bertanya, “Aku harus ngulangin apa lagi, pumpkin?”

Damn you, Damar Hannan!”

Radinka memeluk Damar dengan sangat erat. Di balik punggung mungil itu, Damar tertawa kecil sambil membalas pelukan tak kalah erat.

“Mas, makasih udah bikin aku bahagia terus. Malam ini pun aku seneng banget because of your first touch and first 'aku'. Makasih banyak, Mas Damar.”

“Aku senang bisa bikin kamu senang, Radin.”

Kedua pria itu bersamaan melonggarkan pelukan. Seketika bibir mereka kembali menyatu dalam cumbuan lembut dan hangat. Senyuman terulas di wajah mereka tatkala ciuman singkat itu terlepas.

“Aku bakal bikin kamu bahagia juga, Mas. I can't wait to the day I become your husband, gotta make you happy, and to see your smile every day, every time, every minutes.”

“Sebentar lagi, pumpkin. Kita usahakan untuk saling membahagiakan satu sama lain ya.”

Radinka mengangguk. Dikecupnya pelan pipi Damar dan berkata, “I'm so lucky for having you, Mas.”

So do I, Radin.”


schonewords


Radinka berjalan perlahan menuruni anak tangga. Beberapa menit lalu mamanya mendatanginya di kamar guna meminta sang anak dan cucu untuk turun ke bawah menemui Ayahnya Nolan. Maka Radinka memberanikan diri.

Sorot mata semua orang di ruang tamu kini memandangi Radinka dan Javien. Tangan ayah dan anak itu bertaut dalam genggaman erat.

“Duduk, Radin,” titah Ayahnya Nolan yang duduk tepat di samping Pak Ariawan.

Tak ada suara dari Radinka kecuali pergerakan yang menuruti perintah tersebut. Ia sigap duduk di hadapan para orang tua itu sembari memeluk Javien yang berada di sisinya, memeluk pinggang Radinka erat, dan membiarkan kepalanya bersandar pada dada sang papi.

“Radin, what are you going to do with the news?” tanya Ayahnya Nolan dengan nada suara yang dingin.

Radinka menghela napas. Tangannya yang merangkul bahu mungil sang anak kini tampak bergetar.

First of all, aku harus tanya dulu dari keluarga Tanwira gimana. Aku ga mau gegabah sampe ngerugiin keluarga ini.”

“Om kira kamu benci keluarga ini,” desis Ayahnya Nolan dengan sinis.

Nope, I don't. The fact that I only that stupid rules, not the whole family members. Aku jelas ga mau mencoreng nama keluarga, ngerugiin anggota keluarga, dan—”

Eldest grandpa,” suara Javien terdengar bergetar memotong ucapan papinya.

Seketika seluruh pandangan mengarah ke Javien yang ada dalam pelukan Radinka. Pun pria itu melonggarkan dekapannya untuk memandang sang anak yang sudah berlinang air mata.

Eldest grandpa, tolong bantu papi sama Uncle Damar supaya ga diberitain begitu lagi. Beritanya bohong, grandpa. Papi dan Uncle Damar orang baik. Kata Daddy Jeremy juga kalau orang baik ga mungkin ngelakuin perbuatan buruk kayak selingkuh begitu. Tolong, eldest grandpa,” ucap Javien diselingi isakan sesekali.

Hati seluruh orang dewasa yang ada di sana pun mencelos. Terutama Radinka yang sigap kembali mendekap tubuh mungil sang anak.

“Vien,” desis Radinka mengecup puncak kepala sang anak. “Udah, sayang.”

“Vien masih mau berbicara, Papi. Boleh ga?” tanya Javien dengan kepala yang menengadah untuk bersitatap dengan Radinka.

Senyuman tipis terulas di wajah Radinka. Air mata perlahan turut menggenang di pelupuk matanya sembari mengangguk pelan dan berkata, “Boleh, sayang.”

Kembali Javien menatap Ayahnya Nolan dengan tatapan yang takut. Ia pun melirik ke arah Pak Ariawan dan Bu Alicia yang tersenyum lembut kepadanya, seolah memberikan semangat kepada bocah tersebut.

Perlahan Javien melepaskan pelukan dari tubuh Radinka. Ia beranjak mendekati Ayahnya Nolan. Tepat ketika telah berhadapan langsung, Javien menyodorkan layar ponselnya ke arah pria tertua di keluarga Tanwira itu.

Eldest grandpa, coba lihat ini,” ujar Javien menunjukkan sebuah foto yang menampilkan sosok Radinka dan Damar yang tampak bercengkrama di dapur. Jelas foto itu diambil oleh Javien secara diam-diam. “Selama Vien diadopsi oleh Papi Radin, Vien belum pernah melihat papi senyum bahagia begini. Cuma Uncle Damar yang bisa bikin papi senang.”

Seketika suasana hening. Seluruh pasang mata jatuh memandangi Ayahnya Nolan yang lekat menatap layar ponsel Javien. Diperhatikannya dengan saksama gambaran hasil jepretan yang sangat jelas melukiskan kebahagiaan Radinka dan Damar.

Denial. Itulah yang kini mendominasi dari Ayahnya Nolan. Matanya beralih cepat dari laya ponsel untuk menatap Javien kembali.

“Dulu, Daddy Jeremy ga pernah bikin papi bahagia. Setiap hari daddy dan papi ribut. Setiap hari daddy membuat papi menangis. Vien ga suka begitu, grandpa. Vien lebih suka melihat papi tersenyum setiap hari kayak sekarang.”

Ayahnya Nolan menghela napas. Tangannya menyentuh bahu Javien seraya berkata, “Vien—”

“Dan alasan papi sekarang sering bahagia ya karena Uncle Damar, grandpa. Tolong, eldest grandpa, bantu papi. Jangan biarin berita bohong begitu jahatin papi dan Uncle Damar. Please, grandpa....”

Air mata Javien semakin deras membasahi pipinya. Bibirnya bergetar, suara isakannya kian keras, dan kepalanya seketika merunduk lemah.

Bu Alicia menjadi orang pertama yang menari Javien. Dipeluknya erat sang cucu semata wayang untuk ditenangkan.

Grandma, tolong bantu papi dan Uncle Damar. Vien mohon, grandma, biarin papi dan Uncle Damar bahagia. Vien sayang sekali dengan papi dan Uncle Damar,” tutur Javien lirih sembari terisak dalam pelukan Bu Alicia.

“Iya, sayang. Grandma usahakan bantuin papi sama Uncle Damar ya,” tanggap Bu Alicia dengan mata yang menatap sinis kepada Ayahnya Nolan.

Kini tak ada sepasang mata pun yang bertemu. Radinka hanya mampu tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang basah akan air mata. Nolan sigap duduk di samping Radinka dan merangkul sang sepupu berusaha menenangkannya.

Pak Ariawan memeluk istri dan cucunya bersamaan. Beliau sadar bahwa sekeras apapun kini ia berusaha, sang kakak bukanlah lawan yang sepadan baginya.

“Nolan,” suara sang ayah membuat Nolan sigap menoleh. “Bilang ke sekretaris ayah buat panggil wartawan siang ini. Ayah bakal belain Radin in the behalf of Tanwira's family.”

Seluruh kepala yang mulanya tertunduk, kini terangkat dan secara bersamaan memandangi Ayahnya Nolan. Netra mereka membelalak tak percaya, terutama Radinka.

“Ayah? Beneran? Mau belain gimana?” Nolan bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.

Ayahnya Nolan beranjak dari duduknya. Perlahan ia melangkah mendekati Javien, mengelus kepala dan punggungnya dengan lembut. “I'll do it for this little buddy,” ucapnya pelan.

Javien menengadahkan kepalanya. Mata basahnya kembali bersitatap dengan pria yang dipanggilnya 'eldest grandpa' itu.

Eldest grandpa—”

I can sense the sincerity of your words, little boy. Grandpa percaya papi kamu bahagia dengan Damar itu.”

Kepala Javien mengangguk cepat sembari berkata, “Eldest grandpa juga harus percaya kalau papi ga selingkuh sama Uncle Damar.”

I know, kiddo,” tanggap Ayahnya Nolan sembari tersenyum tipis kepada Javien dan menatap satu per satu anggota keluarganya yang lain. “Kalau gitu saya pamit dulu. Saya harus siap-siap untuk wawancaranya.”

Baru saja Ayahnya Nolan berbalik badan, Javien sigap menahan tangannya. Pria paruh baya itu pun kaget dan menoleh untuk menatap bocah itu.

What else, kid?” tanya Ayahnya Nolan.

Eldest grandpa, are you gonna let my papi and Uncle Damar happy together?”

Senyuman terulas di wajah Ayahnya Nolan. Kepalanya mengangguk pelan dan menjawab, “Papi kamu berhak atas kebahagiaannya sendiri. Eldest grandpa ga akan mengganggu itu.”

Then,” sambung Javien. “Will you let Uncle Nolan happy too with Uncle Miguel, grandpa?”

Seketika netra seluruh orang dewasa di sana terbelalak, termasuk Ayahnya Nolan. Ia hanya mampu berdeham dan mengacak pelan rambut Javien dengan bertanya, “Vien mau Uncle Nolan bahagia dengan Uncle Miguel?”

Javien mengangguk cepat dengan salah satu tangannya yang mengusap air mata di pipinya. Pun Ayahnya Nolan tersenyum sembari membantu bocah itu menyeka air matanya pula untuk menjawab, “It's up to him mau bahagia dengan siapa, Vien.”


schonewords


CW // kissing


Pumpkin, ayo bangun. Pindah ke kamar kamu.”

Radinka melenguh pelan dengan mata yang dicoba terbuka. Setengah sadar ia melihat Damar tengah tersenyum berada di sisi kirinya—tepat di pinggir ranjang.

Tatkala menoleh ke kanan, Radinka sadar bahwa baru saja ia tertidur sembari memeluk anaknya. Seketika ia mencoba membuka matanya dan terduduk.

“Aku ketiduran ya, Mas? Lama ya?” tanya Radinka berbisik.

“Ngga lama. Baru lima belas menit aja.”

Radinka mengangguk. Ia menengadah untuk kembali melihat kekasihnya setelah matanya diusap pelan.

“Ngantuk banget ya?” tanya Damar.

“Hmm, iya, Mas.”

Damar tersenyum sembari berkata, “Aku gendong aja ya ke kamar kamu?”

Netra Radinka sukses terbuka lebar. “E-eh ga usah, Mas Dam— Mas!” pekik Radinka ketika terkejut badannya sudah digendong oleh Damar ala bridal style.

Ssstt jangan berisik, Radin. Nanti Vien bangun,” ucap Damar sambil berjalan keluar dari kamar Javien.

Radinka menutup mulut dengan tangannya. Pada akhirnya, salah satu lengannya bertengger di leher Damar. Keduanya saling bertatapan seiring Damar menyusuri koridor remang yang menuju kamar Radinka.

Saat tiba di kamar sang kekasih, Damar dengan perlahan merebahkan tubuh Radinka di atas kasurnya. Ia memilih duduk di sisi ranjang pasca memakaikan selimut di tubuh tambatan hatinya itu.

“Kak Miguel mana? Masih di kamar Nolan?” tanya Radinka.

Kepala Damar mengangguk sembari menjawab, “He texted me earlier, Nolan kebanyakan nangis jadi langsung ketiduran. Miguel is currently making sure that your cousin sleeps very well now.”

I see,” gumam Radinka. “Kamu mau pulang ya, Mas?”

“Iya, Radin, tapi saya harus pastiin kamu tidur yang nyenyak dulu.”

Cuddle me, then.”

Damar tersenyum mendengar permintaan Radinka. Perlahan ia naik ke atas kasur, membuat Radinka sedikit bergeser untuk memberi ruang bagi kekasihnya berbaring di sampingnya. Seketika Damar memeluk tubuh mungil Radinka, merengkuhnya erat, sembari tangannya mengelus punggung Radinka dengan lembut.

So how the family dinner?”

Suara kekehan lolos dari mulut Radinka. Ia tahu pasti bahwa yang ditanyakan Damar bukanlah kelangsungan acara makan malam tersebut, melainkan bagaimana Radinka menyampaikan pemikirannya.

It went well,” jawab Radinka tenang. “Aku udah nyampein semuanya, Mas. Ya, bertentangan sih dengan para orang tua yang kayaknya masih keras untuk pertahanin peraturan itu, tapi anak-anaknya banyak yang setuju sama aku.”

I see. You did great then, pumpkin.”

Of course, I did. Aku bakal ngelakuin apapun untuk matahin peraturan itu.”

Damar kembali mengulas senyuman. Ia sedikit longgarkan pelukan agar dapat mengecup pelan kening Radinka dan kemudian saling bertukar tatap.

You want to be with me that much?” tanya Damar.

Tegas kepala Radinka mengangguk. “Aku sayang sama kamu, Mas. Aku selalu ngerasa dicintai dan dihargai segitu besarnya dari kamu. Yang terpenting juga, Vien bisa nemuin peranan seorang ayah, selain dari aku, yang selama ini ga pernah dia dapatin dari Jeremy. I'm sure my life and also Vien's life are gotta be so perfect if we are with you, Mas,” ucapnya.

That's why you fought for it so badly in the family dinner.”

Yes,” jawab Radinka cepat. “But I also feel so bad to Nolan. Dia jadi blaming diri dia sendiri buat sesuatu yang ga seharusnya begitu. He feels so sorry to me because of the rules yang ga bisa diganggu gugat dari ayahnya itu.”

“Kamu udah ngelakuin hal yang benar, Radin. Perkara Nolan, justru saya rasa dengan begitu kamu bisa bikin dia sadar untuk memprioritaskan kebahagiaan dia. Kamu pernah bilang ke saya kalau kamu pengen banget ngelihat Nolan bahagia dengan pilihannya sendiri. Mungkin dengan kejadian malam ini, kamu udah membantu dia untuk a lil bit closer to reach his own happiness.”

“Iya sih, Mas. Semoga yang aku lakuin emang terbaik juga buat Nolan, ga cuma buat aku.”

Dagu Radinka digamit dan diangkat oleh Damar. Seketika ia menyatukan bibirnya pada labium sang kekasih. Mata mereka otomatis terpejam seiring cumbuan lembut itu terpatri menjadi lumatan pelan.

“Terima kasih hari ini sudah berjuang untuk kebahagiaanmu dan Vien, Radin. Terima kasih karena sudah berjuang juga untuk kita,” hatur Damar di sela ciuman yang sempat terlepas.

“Sama-sama, Mas. Terus berjuang sama aku ya?”

“Pasti, Radin. Pasti.”

Tangan Radinka menarik leher Damar agar wajah mereka kembali mendekat. Bibir keduanya kembali menempel dan kali ini ciuman menjadi lebih intens. Damar menyelipkan lidahnya di antara belahan bibir Radinka, sehingga hisapan-hisapan mulai terasa, dan saliva mulai saling bertukar.

Radinka merasa malam ini ia ingin terus mencumbui bibir kekasihnya. Kedua tangannya pun mengalung pada leher Damar dan menekan kepala sang pengacara agar memperdalam ciuman mereka. Kepala keduanya saling miring ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Tampak jelas bahwa ciuman itu sangat dinikmati hingga keduanya tenggelaman dalam rasa manis yang tersalur melalui tautan basah itu.

It's time to sleep, pumpkin,” ucap Damar lirih sembari melepaskan ciuman yang menyisakan benang saliva.

“Kamu harus pulang ya, Mas?”

“Iya. Saya harus bawa Miguel pulang juga.”

Seems like I really need to wait any longer until we sleep together, right?”

Damar terkekeh mendengar pertanyaan Radinka. Maka ia kecup kening dan hidung Radinka secara bergantian sembari menjawab, “Nanti ada waktunya saya habiskan hari saya sama kamu, dari matahari terbit sampai matahari tenggelam, dari terang sampai gelap, dan dari mata kamu kebuka ngelihat saya sampai mata kamu mau tertutup pun ngelihat saya. Until that day comes, let's take everything slowly in this relationship, Radin. Perlahan sembari trauma kamu sembuh.”

Kedua lengan Radinka yang masih bertengger di leher Damar pun mengeratkan pelukan. Damar dan Radinka saling mendekap erat untuk menyalurkan rasa sayang yang membuncah.

Thank you for always being considerate towards my condition. It makes me fall for you even harder like in every minutes.”

Your health, happiness, and comfort are the priority now, Radin.”

Thank you so much, Mas Damar, Aku sayang kamu.”

“Saya juga sayang dengan kamu, Radin.”

Pelukan itu semakin erat. Malam yang kian dingin tak pula dirasakan oleh sepasang kekasih ini.

“Sekarang tidur ya? Saya bakal terus peluk kamu sampai kamu tidur.”

“Oke, Mas. Nighty night.”

Good night, pumpkin. Tidur yang nyenyak.”


schonewords


CW // mentioned family issues, trauma, sexual harassment, cheating


Suasana kediaman keluarga Nolan sudah ramai. Entah sejak kapan keluarga Tanwira selalu mempunyai tradisi makan malam bersama di tiap bulannya. Acara makan malam itu diharapkan terus mengeratkan hubungan kekeluargaan, tapi faktanya, anggota keluarga Tanwira seringnya hanya saling memamerkan kekayaan dan prestasi keluarga inti satu sama lain.

“Lan!” seru Radinka menepuk bahu sepupunya dengan pelan.

“Lah? Udah sampe, Din?”

“Udah dari tadi. Lihat aja tuh anak gue udah dikerumunin para orang tua.”

Nolan terkekeh. Tangannya merangkul bahu Radinka sembari berbisik, “Lagi proses persuading tuh biar jadi penerus Tanwira.”

“Ogah,” cibir Radinka ketus. “Anak gue ga boleh jadi penerus Tanwira. Nyusahin aja ni keluarga.”

Gelak tawa lolos dari mulut Nolan. Terus-menerus ia meledek sepupunya yang selalu menghindar agar anaknya tak banyak berinteraksi dengan keluarga besarnya itu.

“Kapan mau ngomongnya, Din?” tanya Nolan tiba-tiba berekspresi serius.

“Bentar lagi. Masih ada yang belum kelar makan tuh. Takutnya keselek.”

Ugh a very considerate of you,” goda Nolan.

Of course.”

Dua pria yang sangat akrab itu terus berbincang. Sesekali Nolan menggoda Radinka lagi perkara hubungannya dengan Damar, atau bahkan Radinka yang menggoda Nolan perkara adanya Dokter Joan yang tak berhenti memandangi Nolan.

“Radin,” suara Pak Ariawan tiba-tiba terdengar dari balik punggung Radinka.

“Ya, Pa?”

“Mending ngomong sekarang. Uncle Jonathan katanya mau buru-buru pulang.”

Kepala Radinka mengangguk setelah sempat bertatapan dengan Nolan. Bahu mungilnya ditepuk pelan oleh Nolan unyuk diberikan semangat.

Makan kini Radinka berjalan gugup ke arah terdepan ruang tengah—tepatnya di ujung meja makan yang selalu sukses menjadi pusat perhatian. Pergerakan Radinka itu disadari oleh para anggota keluarga besarnya, sehingga kini seluruh pasang mata telah terpaku padanya.

“Radin, mau ngapain? Ada yang mau disampaikan?” pertanyaan itu terdengar dari Ayahnya Nolan selaku anak sulung keluarga Tanwira.

“Iya, Om. Aku mau nyampein sesuatu.”

Jawaban Radinka langsung ditanggapi dengan tatapan serius dari seluruh anggota keluarganya. Dipandanginya kedua orang tua yang mulai terlihat resah, Nolan yang berusaha tenang dan diam-diam menyemangatinya, serta Javien yang mengerjapkan matanya lucu sembari meminum jus jeruk.

“Hari ini,” suara Radinka mulai menggelegar di tengah keheningan. “Aku mau kita semua diskusi untuk mengubah peraturan pernikahan di keluarga Tanwira.”

Seketika suara riuh terdengar. Bisikan para orang tua yang berdesis sinis ditangkap baik oleh telinga Radinka. Namun, senyum sumringah dapat ia lihat jelas di wajah para sepupunya yang masih muda dan belum menikah.

The rules for marrying only the rich people is suck,” ujar Radinka dengan suara yang keras. “Aku harap kalian semua banyak belajar dari gagalnya pernikahan aku.”

“Berani sekali ya Radinka berbicara begini. Orang tuanya kok diam aja?” cibir salah satu tantenya—adik dari Pak Ariawan.

Mendengar cibiran itu, Pak Ariawan dan Bu Alicia hanya bungkam. Raut wajah mereka tetap tenang dengan netra yang fokus menatap Radinka serta tangan yang erat menggenggam Javien.

“Memangnya apa masalah dari pernikahanmu, Radinka? Apa hubungannya dengan peraturan keluarga Tanwira? Rumah tanggamu yang gagal, malah menyalahkan peraturan yang sudah lama ada dan berhasil.”

Ucapan itu lolos dari mulut Ibunya Nolan. Sigap sepupunya Radinka itu mencengkram pelan lengan sang ibu dan menggeleng.

“Rumah tangga saya hancur dan gagal karena orang yang aku nikahi itu sama sekali ga cinta aku, ga sayang aku, dan menelantarkan anak aku,” ucap Radinka dengan tegas dan tenang. “Ya, anak aku yang kalian harap jadi penerus Tanwira di generasinya nanti. Oh, dan aku ga akan izinin anakku bernasib sama kayak aku di keluarga ini—”

“Radin,” panggil Ayahnya Nolan memotong ucapan Radinka. “Sesakit itu ya kamu karena Jeremy?”

Radinka berdecih. Senyuman ia paksa untuk tersungging di wajahnya yang sebenarnya ingin sekali menorehkan amarah.

“Om, rasa sakit aku yang bikin anak jadi takut buat buka hati ke semua pria yang udah Om siapin jadi calon suami dia.”

Satu kalimat itu nyatanya sukses membuat wajah Ayah dan Ibu Nolan menegang. Mereka sigap menatap Nolan yang berlinang air mata memandangi Radinka.

“Ga cuma Nolan, semua sepupuku yang belum nikah ini pada takut buat nikah atas perjodohan dari orang tua atau keluarga. Mereka semua takut kalau nanti yang jadi pasangan mereka itu sama kayak Jeremy. Ya, kaya raya, tapi ga sungkan untuk nyakitin suaminya sendiri. Trauma itu bukan cuma membekas di aku, but to all of my single cousins here.”

Tegas Radinka memperjelas situasi. Pernyataan itu disambut anggukan setuju dari para sepupunya yang tersenyum tipis kepada Radinka.

“Aku ga mau ada Radinka-Radinka selanjutnya. Cukup berhenti di aku. Bukannya aku juga ga tahu pernikahan para Om dan Tante di sini banyak yang penuh sandiwara. Kalian banyak yang pura-pura romantis, tapi cuma ditutupi pake materi, padahal masing-masing punya simpanan. Kalaupun pernikahannya baik, ya anak-anaknya terlantar karena orang tuanya sibuk kerja. Itu yang bikin aku ga mau Javien bernasib sama. Itu alasan terbesar kenapa Javien ga punya ‘Tanwira’ di namanya.”

Banyak pasang mata yang melotot mendengar penjelasan Radinka barusan. Suasana menjadi dingin dan tegang. Pun Javien yang menjadi satu-satunya anak kecil di situ merasa gelisah, hingga harus dipeluk erat oleh Bu Alicia.

“Aku setuju sama Mas Radin!” seru Naura, salah seorang sepupu Radinka. “Papi sama Mami selalu acts like couple goals, padahal Papi punya selir di golf clubnya dan Mami is having affair with her Yoga’s instructor. Terus dengan enteng mau jodohin aku sama anak konglomerat yang punya track record as a player. Duh, aku ga mau deh kayak nanti berumah tangga tapi hatinya malah ke orang lain.”

Same!” teriak Dion, sepupu Radinka yang lain. “Aku baru mau tunangan aja sama anak perempuannya konglomerat dari Singapore, tapi belum apa-apa dia udah sering ngancem-ngancem aku perkara sex thingy. Ugh, please, aku ga mau jadi kayak Mas Radin.”

Beberapa sepupu Radinka lainnya angkat bicara. Pada akhirnya, tersisa Nolan yang menjadi seorang anak diam tanpa melayangkan protes. Jelas semua mata tertuju padanya dan membuatnya gugup.

“Ga usah nunggu Nolan ngomong,” ujar Radinka yang kembali menyita perhatian. “Di antara kita semua, Nolan jadi yang paling tersiksa dengan peraturan pernikahan keluarga ini. Nolan udah bertahun-tahun harus tersiksa untuk controlling his feelings supaya ga jatuh makin dalam ke cowok yang udah lama dia suka. Nolan berusaha paling keras biar ga ngasih harapan apapun ke cowok itu. Dan Nolan … yang paling susah melawan semuanya, karena ayahnya anak sulung di keluarga Tanwira, yang selalu jadi contoh, panutan, dan teladan buat semua anggota keluarga dalam mematuhi aturan—”

“Tapi karena itu, lo jadi korbannya, Din,” balas Nolan dengan suara lantang. “Kalo aja gue berani buat nentang peraturan itu dari awal, lo ga akan jadi korban perjodohan dan sexual harassment dari si brengsek Jeremy itu. Harusnya gue yang berjuang dari awal, Din, supaya kalian semua—sepupu gue—ga ada yang tersiksa karena peraturan ini. Harusnya—”

Then fight for it now with Miguel, Lan.”

Radinka memotong ucapan Nolan yang mulai terisak. Keheningan itu berubah pilu karena Nolan akhirnya menitikkan air mata. Radinka berjalan ke arah sepupu tersayangnya itu dan memeluknya erat.

“Ga perlu lo sesalin semuanya, Lan. It’s not even late to fight for it with me.”

Kepala Nolan mengangguk dan air matanya sudah membasahi bahu Radinka. Sorot mata Radinka tajam mendelik ke arah kedua orang tua Nolan.

“Aku harap para orang tua di keluarga ini bisa kembali mempertimbangkan peraturan pernikahan itu. I don’t really get the purpose of marrying a rich person if it ain’t give a single happiness to us. Jadi, tolong … pikirin dan utamain kebahagiaan, keamanan, dan kenyaman anak-anak kalian dalam berumah tangga.”

Radinka melepaskan pelukan. Tangannya sudah mencengkram pergelangan tangan Nolan dan menariknya untuk menggamit tangan Javien. Radinka sudah bersiap membawa sepupu dan anaknya untuk keluar dari rumah itu sebelum langkahnya terhenti oleh pertanyaan dari Ayahnya Nolan.

“Radin, memangnya siapa orang yang bukan keturunan konglomerat yang mau kamu nikahi? Sampai-sampai kamu berani sekali menyuruh kami untuk mempertimbangkan perubahan peraturan ini. Sehebat apa orang itu sampai seorang Radinka Hirawan Tanwira yang biasanya patuh dan sopan, kini menjadi lancang kepada para tetua?”

Seringaian terulas di wajah Radinka. Ia hanya menoleh sedikit ke belakang tanpa membalikkan tubuh guna menjawab, “Damar Hannan. Yes, my boyfriend right now is the great lawyer, Damar Hannan. Seharusnya dengar nama itu bisa bikin keluarga ini agak sediki takut, mengingat Damar Hannan itu pengacara hebat yang bisa aja jadi orang penting untuk keluarga Tanwira; either being a death bomb or being a guardian. Pilih sendiri.”


schonewords