CW // NSFW, bxb mature content, kissing, hickey, hand job, nipples playing, fingering, penetration, dirty talks, harsh words
“Let’s do it tonight, more than what we did just now.”
Haechan tidak bercanda ketika mengatakan itu kepada Renjun beberapa jam lalu. Ya, kira-kira sudah lebih dari tiga jam sejak kalimat itu terucap di backstage pada sesi ‘panas’ yang terjadi akibat agenda tindihan yang tak disengaja itu.
Derap kaki Haechan terdengar terburu-buru. Ada sekitar tiga pintu kamar hotel yang ia lalui dari kamarnya menuju kamar sang kekasih—Huang Renjun.
Tok tok tok!
Pintu terbuka dengan cepat—bahkan tak sampai semenit. Renjun tersenyum manis menyambut tamu spesial yang ditunggu-tunggu itu. Pun pemandangan di ambang pintu ini sudah memanjakan obsidian Haechan yang dipenuhi kabut napsu.
Bagaimana tidak?
Renjun muncul di hadapan Haechan dengan bathrobe putih dan rambut hitam yang basah. Penampilan ini khas seseorang yang baru selesai mandi, dan mampu membuat Haechan mengulas seringaian.
“Ayo masuk, Chan,” ajak Renjun.
Tak menunggu lama, Haechan langsung melangkah masuk. Pintu itu ia tutup. Sigap ia menarik tangan Renjun, mendekap tubuh mungil itu, seraya menggamit dagu Renjun agar kepalanya sedikit menengadah.
“Chan—hmhhh…”
Bibir keduanya telah bersatu dalam tautan yang seketika basah. Haechan melumat bibir Renjun, menyesap kuat bagian bawah labium yang agak tebal itu, dan mengemutnya dengan nikmat. Renjun tentu senang mendapat perlakukan itu, tapi enggan membiarkan kekasihnya mendominasi ciuman.
Kedua lengan Renjun mengalung di leher Haechan. Diperdalamnya ciuman dengan mendorong bagian belakang dari kepala Haechan. Belah bibir mereka bertaut mesra dengan ciuman yang terkesan tergesa. Saliva sudah mengalir di sudut bibir mereka hingga ke dagu.
“Kita lanjutin yang tadi ya? Boleh?” tanya Haechan setelah melepaskan tautan bibir mereka.
“Boleh, sayang,” jawab Renjun selembut mungkin sembari ibu jarinya menyeka saliva di bibir Haechan. “Kamu kira aku mandi begini buat apaan kalau bukan buat lanjutin yang tadi?”
Haechan menyeringai. Pertanyaan kembali melesat dari mulutnya, “Bukannya nanti bakal mandi lagi?”
Kepala Renjun mengangguk. Jemarinya bermain di dada Haechan dengan gerakan yang dibuat se-menggoda mungkin.
“Kalau nanti mandinya sama kamu,” jawab Renjun dengan nada suara yang dibuat manja.
Siapalah Lee Haechan kalau sudah melihat sisi Huang Renjun yang seperti ini? Apakah Haechan kuat? Tentu tidak. Pertahanan Haechan seketika runtuh dan berganti dengan libido yang meningkat drastis menguasai dirinya.
“Renjun,” panggil Haechan.
“Ya?” Renjun seketika mematrikan netranya pada manik Haechan dalam pertemuan tatapan yang lembut.
“I’ve been exercise quite often nowadays,” ucap Haechan.
Renjun tersenyum sembari menanggapi dengan, “I know.”
“And I’ve been eating healthy as well,” lanjut Haechan.
“Aku tau,” tanggap Renjun lagi. “Terus kenapa?”
Sebenarnya Renjun tau arah pembicaraan ini. Hanya saja ia senang menggoda Haechan-nya itu.
“I can be so strong and do you all night long,” ucap Haechan berbisik menggoda di telinga Renjun.
Renjun terkekeh. Dicengkramnya dua lengan Haechan yang terekspos jelas—karena Haechan hanya mengenakan kaus sleeveless hitam. Renjun mengelus bisep Haechan yang belakangan memang sudah mulai terlihat lebih kekar.
“Tanpa kamu bilang juga aku udah tau kamu kuat,” ucap Renjun. Tubuhnya maju mendempet dengan Haechan dan berbisik di telinga pria Lee itu, “dan aku juga kuat kok ngeladenin kamu.”
Haechan menutup matanya sekilas dan menyeringai ketika Renjun mengecup telinganya. Kemudian dilanjutkan dengan menjilat dan menggigit kecil leher Haechan—agar tak meninggalkan bekas kemerahan. Setelahnya, tubuhnya dimundurkan agar kembali bersitatap dengan sang kekasih.
“Tadi hampir mau nyium leher aku ya waktu masih di stage?” tanya Renjun sambil tersenyum.
“Iya,” jawab Haechan. “Hampir aja kelepasan. Soalnya udah kebiasaan kalo meluk kamu dari belakang, pasti langsung nyium leher kamu. Eh, tapi tadi inget masih di stage, makanya aku langsung kabur.”
“Karena emang udah turn on ya?” Renjun semakin menggoda Haechan.
Jemari Haechan mencubit pelan pipi Renjun sambil menjawab, “Siapa coba yang tadi bikin turn on?”
“Loh? Yang melukin aku sampe jatuh siapa?”
Kedua pria itu terkekeh bersamaan. Haechan mengangguk mengakui bahwa memang dia sendiri yang membuat dirinya terangsang.
“Tadi ga sengaja juga kena paha kamu,” ujar Haechan.
“Udah turn on karena kena paha aku, terus aku elus paha kamu, terus make-out di backstage. Pantes jadi pengen nyium leher,” ledek Renjun.
Haechan hanya tertawa kecil. Renjun yang ada dihadapannya kini sangat seksi dan menggemaskan. Hanya Haechan yang bisa melihat sisi Renjun yang seperti ini.
“Now you can do me as much as you want, Chan,” ucap Renjun sembari menarik tali bathrobenya.
Mata Haechan langsung terarah ke tubuh Renjun yang sudah terekspos tanpa penutup lagi. Bathrobe sudah ditanggalkan dan dibiarkan jatuh ke lantai, membiarkan polosnya badan berkulit putih mulus itu terpampang di hadapan Haechan.
“Please enjoy my strength after a lot of exercises, Baby Junnie,” bisik Haechan dengan seringaian khasnya.
Renjun tersenyum dan sedikit terperanjat ketika Haechan mengangkat tubuhnya. Kedua tangan Haechan dengan gampang melingkar di tubuh Renjun, menggendong, dan merebahkan kekasih mungilnya itu di atas kasur.
“Hummh, iya kamu kuat banget sekarang,” desis Renjun.
Haechan hanya tersenyum tipis. Wajahnya sudah tersembunyi di ceruk leher Renjun. Tanpa menunggu pergantian detik, Haechan sigap menghujani leher mulus itu dengan kecupan-kecupan lembut.
“Hnghhh, jangan digigit ya, Channn.”
“Iya, sayang,” bisik Haechan.
Lidah dan mulut Haechan bekerja sama dalam memanjakan leher Renjun. Kecupan dan jilatan menjadi kenikmatan tersendiri untuk sang empu leher. Belum lagi karena jari Haechan yang menggerayangi dadanya, mengelus pelan putingnya, hingga memberi belaian lembut pada perut ratanya.
“Ahhh….”
Lenguhan Renjun berubah menjadi desahan nikmat. Jemarinya mencengkram surai coklat terang milik Haechan. Sesekali dijambak, tapi lebih sering diusap penuh rasa sayang.
Haechan mulai turun ke bawah. Kali ini ia memanjakan kedua puting Renjun yang sudah tegang. Diemutnya puting Renjun yang sebelah kanan, sedangkan jemarinya memainkan puting yang sebelah kiri.
“Channn nghhh jangan ditarik….”
Seolah tuli, Haechan mengabaikan ucapan Renjun. Hisapannya semakin kuat, pun puting Renjun semakin ditarik dan dipelintir tanpa ampun.
“Arghhh fuck! Haechan, aku bilang jangan di— AHHH!”
Bibir Haechan berpindah pada puting yang kiri—menjilat tonjolan mungil yang tadi ia pelintir. Tangannya enggan untuk melakukan hal yang sama pada puting sebelah kanan. Namun, kali ini dibiarkannya tangannya turun ke bawah untuk mengelus paha Renjun di bagian dalam.
“Sshhh… Lee Haechan…”
Suara Renjun yang merdu dengan desahannya yang merapalkan nama lengkap Haechan itu, membuat Haechan semakin terbakar napsunya. Mulutnya menghisap puting Renjun layaknya bayi yang tengah menyusu, sedangkan tangannya mulai meremas paha Renjun dengan gerakan yang sensual.
Renjun sedikit menunduk. Alisnya terangkat dan senyuman terulas ketika matanya bertemu dengan manik penuh napsu milik Haechan. Seketika wajah Renjun merona menyaksikan kekasihnya masih asyik mengenyot putingnya, sedangkan mata mereka bertemu tatap.
“Liking what you’re doing now?” tanya Renjun sambil menyugar poni Haechan.
Haechan hanya mengangguk. Ia terus menatap Renjun, memberi senyuman kecil, dan tak berhenti menghisap puting kekasihnya itu.
“Ohhh shit, Lee Haechan….”
Semakin kuat hisapan dari Haechan. Ditambah lagi kini tangan Haechan di bawah sana telah menyentuh dinding anal Renjun dan mengelusnya lembut.
“Tadi waktu aku nindih kamu, dielus di mana, sayang?” tanya Haechan sambil melebarkan kaki Renjun untuk duduk di antara dua tungkai kurus itu.
“Di…paha kamu….”
Salah satu sudut bibir Haechan kembali terangkat. Ia membawa kaki kanan Renjun untuk ditenggerkan pada bahunya guna diberi kecupan pada betis yang mulus dan wangi sabun floral itu.
“Hnghhh,” Renjun melenguh dengan kepalanya menengadah dan bibir bawahnya yang digigit pelan.
“Tadi ngelus bagian ini kan?” tanya Haechan lagi sembari tangannya mengelus paha Renjun.
“Iya— AH! Haechan, kok digigit sih kaki aku?!” tanya Renjun sebal.
Haechan terkekeh. Ia mengecup bagian betis Renjun yang sempat digigit ya tadi.
“Gemes. Kaki kamu kecil, mungil, mulus, wangi pula.”
Renjun hanya mengembuskan napasnya pelan. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Haechan untuk menahan elusan di pahanya.
“Kenapa? Kok ditahan?” tanya Haechan dengan dahi yang mengernyit bingung.
“Aku,” Renjun menutup mukanya yang merah dengan tangannya dan melanjutkan, “takut cum sekarang kalo kamu elus terus di situ.”
Alis Haechan terangkat. Sontak matanya terarah pada penis Renjun yang memang sudah sangat tegang dan bahkan sudah mengeluarkan cairan pre-cum. Seketika Haechan terkekeh.
“Aku bahkan belum buka baju sama sekali loh, sayang. Masa kamu udah mau keluar aja?” goda Haechan.
“Jangan gitu ih, Chan! Maluuuu,” gerutu Renjun masih menutup wajahnya.
“Ya udah. Ayo udahan nutup mukanya.”
“Ga mau. Maluuuu.”
“Junnie baby,” panggil Haechan sambil mengelus lengan Renjun. “Instead of covering your face like that, it’s better using your hands to undress me now. Sini, biar aku bikin kamu keluar karena penis aku yang di dalam, bukan karena paha kamu aku elusin gini.”
Ucapan Haechan terdengar menyenangkan tapi memalukan pula bagi Renjun. Perlahan ia melepaskan tangannya dari wajah, mendapati Haechan yang tersenyum lembut menatapnya. Otomatis Renjun membalas senyuman itu.
“Mau kan bantu aku bukain baju sama celana aku?” kali ini Haechan bertanya—ah, lebih ke arah meminta atau memberi perintah tersirat.
“Iya, mau,” jawab Renjun malu-malu.
Dengan begitu, Haechan berdiri di pinggir ranjang kasur. Dibiarkannya Renjun dengan tangan mungilnya melepaskan seluruh pakaian Haechan dari atas sampai bawah.
“Done it, Lee Haechan.”
Senyuman mengembang di wajah Haechan sembari menjawab, “Thank you, Huang Renjun.”
Kembali tubuh Renjun direbahkan di atas kasur. Tanpa menunggu lama, Haechan segera menindih kekasihnya (seperti yang dilakukannya di panggung), mengungkung si mungil itu, sembari melumat bibir Renjun sekilas.
Ketika ciuman dilepas, Haechan memandang Renjun dengan senyuman lembut. Renjun pikir kekasihnya hendak menciumnya lagi atau sekadar memberi sentuhan sensual. Ternyata yang dilakukan Haechan mengejutkan Renjun.
“Suck and make it wet,” titah Haechan sembari memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Renjun.
Maka segera dituruti oleh Renjun. Diemutnya jari panjang Haechan itu. Matanya layu, deru napasnya memburu, dan emutannya pada jari Haechan terlihat sangat seksi menggugah napsu.
“Muka kamu seksi banget begini, Njun,” ucap Haechan.
Renjun hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya. Digenggamnya tangan Haechan itu dengan kedua tangannya dan segera ia berinisiatif menambahkan jari tengah Haechan ke dalam mulutnya.
“Fuck Huang Renjun,” desis Haechan merasa takjub melihat Renjun menjadi lebih liar.
Untuk beberapa menit, Haechan membiarkan Renjun asyik dengan kegiatannya. Pemandangan ini tentu menyenangkan di mata Haechan. Ditatapnya lekat seorang Huang Renjun dari rambutnya yang masih basah, mata yang sayu, wajah yang merah, bibir bengkak dan basah, mulut penuh dengan jemarinya, dan dadanya yang penuh bercak merah pasca digigit tadi.
“Wet enough?” tanya Renjun ketika mengeluarkan jari Haechan dari mulutnya.
“Yes,” jawab Haechan.
Tanpa berlama-lama lagi, Haechan memasukkan jarinya yang basah ke dalam lubang anal Renjun. Perlahan. Sangat pelan, supaya kekasih tercintanya itu tidak (terlalu) kesakitan.
“Sshh…pelan, Chan…”
“Iya, sayang. Ini pelan kok.”
Jari tengah Haechan sudah berhasil masuk. Pelan-pelan digerakkan keluar dan masuk dengan tempo yang teratur.
“Humhh feels good,” desis Renjun.
Setelah dirasa Renjun-nya merasa nikmat dan lubangnya pun mulai longgar, maka Haechan menambahkan satu jarinya—jari telunjuk yang sudah basah. Gerakan bak gunting dilakukannya di dalam lubang ketat milik Renjun.
“Haec— ahh…sempit ya?” tanya Renjun.
“Iya. Ini aku longgarin dulu.”
Renjun menatap Haechan yang dengan gagah duduk di antara kakinya yang mengangkang. Fokus mata Haechan ke arah lubang Renjun yang dipenuhi oleh dua jarinya. Pemandangan ini membuat Renjun tersipu sekaligus semakin terangsang napsunya.
“Haechan sayang,” panggil Renjun.
Arah pandang Haechan beralih. Ditatapnya Renjun yang tersenyum malu kepadanya.
“Kenapa, Junnie baby?” tanya Haechan.
“Boleh langsung dimasukkin sekarang aja ga? I think, itu udah cukup longgar, tapi kan punya kamu lebih gede. Jadi, nanti biarin longgar sendiri because of your big dick.”
Ah, Haechan selalu suka melihat Renjun yang punya kadar kesabaran yang tipis itu. Bahkan dalam urusan bercinta sekalipun, Renjun lebih tidak sabaran daripada Haechan.
“Mau aku tindih kamu dari depan gini atau dari belakang?” tanya Haechan.
“Dari depan gini. Biar aku bisa tetap lihat muka kamu atau sambil nyium kamu.”
“Oke, baby,” tanggap Haechan.
Tangannya meraih kondom di saku celana pendeknya tadi. Bungkus karet pengaman itu dirobek menggunakan giginya.
“Ugh so sexy,” puji Renjun.
“Kamu juga seksi.”
Sigap tangan Haechan bergerak mengenakan kondom pada penisnya. Ia menengadahkan tangan ke depan mulut Renjun dan berkata, “Spit your saliva. Biar aku basahin ini kondom.”
Renjun menjerit di dalam hati. Haechan-nya kali ini sangat liar dan keseksiannya meningkat seribu kali lipat. Maka Renjun yang sempat terpaku itu menuruti keinginan Haechan—yaitu mengeluarkan air liurnya untuk ditampung di tangan Haechan.
Setelahnya tentu Haechan melumuri penisnya—yang dibungkus kondom—dengan saliva Renjun. Dirasa sudah cukup, maka cepat ia arahkan kejantanannya itu ke lubang anal Renjun.
“Nghhh, Chan…”
Renjun merintih sembari mencengkram lengan kekar Haechan yang berada di sisi tubuhnya. Kepala Renjun menengadah dan matanya tertutup merasakan perih di bawah sana.
“Tahan, sayang.”
“Pedih…”
“Iya, tahan sebentar ya.”
Pelan-pelan Haechan mendorong penis besarnya ke dalam lubang sempit Renjun. Terbenam sepenuhnya dalam sekali hentakan kecil yang sukses membuat Renjun berteriak.
“Ahhh! Penuh banget,” desis Renjun.
Haechan tersenyum dan menunduk. Dikecupnya bibir Renjun sembari berkata, “Feels so warm inside you, baby.”
Lengan Renjun otomatis mengalung di leher Haechan. Bibir mereka menyatu dalam cumbuan mesra yang hangat.
Sembari mereka berciuman, di bawah sana Haechan pelan-pelan menggerakkan pinggulnya. Penisnya yang membesar itu mulai keluar dan masuk pada anal Renjun dengan tempo teratur.
“Humhhh,” lenguh Renjun teredam dalam ciuman.
“Sempit banget, Renjun,” bisik Haechan ketika tautan bibir mereka terlepas.
“Kamu suka semakin sempit gini kan?” tanya Renjun sama berbisiknya dengan nada mendayu dan sembari mengetatkan lubangnya.
“Fuck,” umpat Haechan dengan suara rendahnya.
Renjun terkekeh sekilas. Melihat itu, Haechan menegakkan tubuhnya kembali duduk di antara tungkai Renjun. Dilebarkannya kaki sang kekasih untuk memperdalam tusukan penisnya.
“Ahhh! Shit kena, Chan!” jerit Renjun.
Haechan menyeringai. “Di sini?” tanyanya sambil menusuk kembali titik kenikmatan pacarnya.
“Ughhh iyahh…ohh fuck dalem banget!”
Desahan Renjun semakin melonglong kuat. Nama Haechan terus dirapalkan dengan nada erotis dan menyatu dengan suara perpaduan kulit mereka.
Tak hanya genjotannya, Haechan kini kembali mengemut puting Renjun. Dihisapnya kuat hingga Renjun mengerang hebat untuk menyuarakan kenikmatan yang ia rasakan.
“Ugh… Chan, i-iyahhh aku tau kamu sekarang makin kuat sshh semenjak nge-gym, umhhh tapi ini kuat banget ahhh. Sampe mentok shhh…”
Pujian Renjun itu semakin membakar napsu Haechan. Tak lagi dihisapnya puting Renjun. Ia hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih, tapi di bawah sana genjotannya semakin liar.
Tubuh Renjun terhentak hebat. Bahkan kepalanya nyaris menabrak headboard ranjang yang kini berguncang kuat. Salah satu tangan Haechan diletakkan di atas kepala Renjun agar sang kekasih tak terluka di bagian sana terbentuk kepala ranjang.
“Aku bisa cepet keluar kalo kamu ketatin terus, Njun,” bisik Haechan.
“Hnghh emang itu yang aku mau,” balas Renjun. “Soalnya aku udah mau keluar.”
“Then let it out, sayang. Jangan ditahan.”
“Kenain lagi bagian itu nghh please biar enak keluarnya, Chan.”
Permintaan Renjun akan selalu dikabulkan oleh Haechan. Maka diangkatnya tinggi pinggulnya dan langsung menghentak penisnya dengan kuat di dalam anal Renjun hingga kekasih mungilnya itu menjerit.
“Ahhh… Lee Haechan… nghh ahh!”
Renjun pun sampai pada puncak kepuasannya. Cairan putih kental menyembur dari penisnya membasahi perutnya sendiri dan juga perut Haechan.
“Aku sebentar lagi,” ujar Haechan.
Pelukan pada tubuh Renjun dieratkan. Wajahnya yang masih di leher Renjun membuatnya mengecup leher itu berkali-kali dan mengendus aroma floral yang sudah bercampur keringat.
“Is it good? Enak udah keluar?” tanya Haechan masih terus menggenjot lubang Renjun.
“Iyahh. Enak banget sshh. Your big dick always satisfying for me, sayang.”
Haechan tersenyum. Renjun-nya itu sangat paham bahwa Haechan suka dipuji, terutama oleh dirinya.
Maka pujian Renjun membawa Haechan pada gerakan brutal di bawah sana. Tusukan demi tusukan terus diberikan pada prostat Renjun, membuat penis Haechan terbenam semakin dalam.
“Mmhh udah mau keluar?” tanya Renjun.
“Iya, sayang,” jawab Haechan. “*Please, baby, again—”
Tak perlu dilanjutkan. Renjun langsung memotong ucapan Haechan dengan, “Haechan-ku ughh kuat banget. Semenjak nge-gym jadi makin seksi. Aku suka…ahh…I don’t know ada pengaruhnya atau ngga, tapi nghhh your dick is getting bigger and stronger as well. Aku…aku suka banget, Chan. Hmhhh aku juga makin suka dipeluk sama lengan kekar kamu ini sekarang. It made me did nothing on the stage when you hugged me until we laid down. I also couldn’t help to not smiling when you back hugged me and sniffed my neck. You did great with your gym, my bear.”
“Fuck, Huang Renjun. Kamu tau banget my praising kink ini— arghhh!”
Segala tuturan pujian dari Renjun menjadi bantuan bagi penis Haechan untuk menyemburkan spermanya. Hentakan yang kuat itu semakin liar saat telinga Haechan mendengar setiap kata yang diucapkan oleh kekasihnya tadi.
Kehangatan menyelimuti penis Haechan yang berlapis kondom. Tubuhnya dibaringkan di sebelah Renjun dengan tetap mendekap sang kekasih mungil.
“You did great with praising me like that, sayang,” ucap Haechan sambil mengecup kening Renjun.
“Cuma aku loh yang tau kamu suka digituin kalo lagi begini.”
Mereka terkekeh bersama. Tubuh telanjang penuh keringat itu saling berpelukan erat sembari mereka mengatur napas yang memburu pasca pelepasan kenikmatan.
“Mandi yuk,” ajak Haechan.
“Udah? Ga minta nambah?” tanya Renjun.
Kepala Haechan menggeleng. Sambil tersenyum dan bersitatap dengan Renjun, ia menjawab, “Besok kita ada flight pagi.”
Seketika bibir Renjun mencebik. Digumamkannya, “Maaf ya kita harus LDR dulu sebentar.”
“No worries, sayang. Kan cuma sebentar. Ntar kalo kamu udah pulang ke Seoul lagi, aku janji bakal sering nginep di tempat kamu.”
“Bener ya?”
“Iya.”
Renjun tersenyum bahagia. Dipeluknya kian erat tubuh Haechan dan menyandarkan kepala di dada bidang kekasihnya itu.
“Besok aku mau pake hoodie abu-abu ah,” ucap Renjun.
“Hmm, oke. Kalo gitu besok aku pake jaket abu-abu. Jadi, walaupun misah, kita tetap keliatan ‘sama’ gitu. Iya kan?”
“Ugh a very sweet of you, gemini boy,” cibir Renjun dengan nada bercanda.
“Tapi kamu suka dengan manisnya aku.”
“Aku suka semua yang ada di kamu, Chan. I even love it. I love you for every inch and every detail of you.”
“Same. I love everything about you, Huang Renjun. I love you.”
“I love you much more, Lee Haechan.”
schonewords