schonewords


Riuh khas keramaian pesta tengah berlangsung di sebuah ruang besar di rumah yang megah pula. Ulang tahun Nyonya Christine Adipati Tanwira menjadi perayaan yang enggan dilewatkan oleh keluarga Tanwira serta kerabat, rekan, dan kenalan mereka.

Di antara keramaian itu, Damar dan Miguel berdiri sembari menyesap champagne yang telah disediakan. Hubungan dua kakak-beradik ini memang sudah erat dengan keluarga Tanwira sejak Miguel pernah menjadi hakim di persidangan kasus korupsi yang menjebak keluarga konglomerat itu. Tak pula lupa bagaimana Damar memenangkan perceraian Radinka dengan telak dan tegas, membuat citra keluarga itu tetap harum di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai kancah internasional.

“Sekali lagi gue tanya, Dam. Lo yakin?” bisik Miguel lirih.

Damar terkekeh setelah meneguk minumannya. Ekor matanya menyorot sang kakak dengan kepalanya yang mengangguk.

You knew me very well, bang.”

Sesingkat itu jawaban Damar, tapi mampu membungkam Miguel. Salah satu tangan Miguel yang kosong menepuk pelan bahu Damar, membuat Damar menoleh dan mendapati sang kakak tengah memandang ke suatu sudut sembari menunjuknya dengan dagu.

It’s your time,” ucap Miguel setengah berbisik.

Arah yang ditunjuk sang kakak adalah tempat keberadaan orang tua Radinka. Melihat itu, Damar pun berbisik kepada Miguel, “Wish me luck, bang.”

Miguel mengangguk. Ia pandangi sang adik yang mulai berjalan mendekati Ariawan Tanwira beserta istrinya—Alicia Tanwira. Damar tentu sudah mengenal mereka karena sempat bertemu di persidangan perceraian Radinka.

“Selamat malam, Pak Ari dan Bu Alicia,” sapa Damar dengan ramah.

“Oh, Pak Damar! Ya ampun, udah lama loh kita ga ketemu,” seru Bu Alicia langsung membalas sapaan Damar tak kalah ramah.

Di sebelah wanita itu, Pak Ariawan tersenyum tipis menatap Damar dan mengangguk pelan. Tangannya menepuk pelan bahu Damar sembari berkata, “Segan rasanya disapa langsung pengacara terhebat seantero negeri ini.”

Damar terkekeh dan membalas dengan, “Justru saya yang merasa terhormat bisa menyapa pengusaha tersukses nomor satu di negeri ini.”

Gelak tawa pecah dan terdengar lolos dari mulut Pak Ariawan, Bu Alicia, dan juga Damar. Sang pengusaha hebat itu pun mengajak istrinya beserta Damar untuk duduk pada meja VIP yang sudah disiapkan khusus untuk keluarga Ariawan.

“Duduk, Pak Damar. Radinka sama Vien paling lagi sama Nolan,” ucap Bu Alicia.

“Oh iya, terima kasih, bu.”

Pak Ariawan meneguk wine-nya pelan. Tatkala tangannya meletakkan gelasnya di atas meja, beliau bertanya, “Sudah seberapa jauh hubungan kamu sama anak saya?”

Mendengar itu, Damar mengerling. Alisnya terangkat sembari tatapannya dipertemukan dengan netra Pak Ariawan.

“Hubungan? Hubungan apa? Emangnya Pak Damar ada hubungan sama Radin?” tanya Bu Alicia bingung.

Damar sedikit berdeham. Sigap ia menghadap Bu Alicia sambil mengulaskan senyuman manis.

“Bu Alicia, sudah beberapa minggu belakangan saya pacaran sama Radin.”

Lantas netra Bu Alicia membelalak seketika. Mulutnya terbuka karena terperangah. Beliau menoleh untuk melihat suaminya yang tak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali.

“Papa? Papa udah tahu?” tanya Bu Alicia.

“Cuma tahu mereka dekat. Baru tahu juga ternyata mereka udah pacaran,” jawab Pak Ariawan santai.

Damar tetap mengulas senyum. “Makanya saya mau ngomongin itu sekarang,” ucapnya.

“Damar,” panggil Pak Ariawan. “Radinka udah pernah bilang soal peraturan di keluarga ini soal—”

“Soal anggota keluarga Tanwira harus nikah dengan konglomerat, pengusaha ternama, atau memang keturunan keluarga yang kaya raya,” potong Damar dan masih tersenyum. “Saya udah dengar itu, Pak Ari, tapi bukan dari Radinka. Justru dari mantan menantu bapak yang angkuh itu.”

Pak Ariawan tertawa kecil mendengar itu. Beliau menoleh melihat istrinya yang masih terperangah hingga ia pun mengelus lengan sang istri dengan lembut.

“Ma, this man is probably better than Jeremy,” ucap Pak Ariawan.

Bu Alicia menghela napas panjang. “Ga diragukan lagi sih, pa. Aku yakin Pak Damar jauh lebih baik dari Jeremy, tapi the rules in your family is quite suck at this moment,” tanggap Bu Alicia pelan.

Then, let me break it,” tutur Damar yang langsung menarik perhatian suami-istri di hadapannya.

It’s not going to be easy, Damar Hannan,” balas Pak Ariawan. “Peraturan itu udah ada dari dulu. Radinka ga akan bisa ngelanggar itu.”

What if I can?”

Pak Ariawan dan Bu Alicia menatap Damar dengan lekat setelah mendengar pertanyaan singkat itu. Ada sedikit kekhawatiran tersirat dari tatapan pasangan suami-istri itu.

“Pak Damar,” Bu Alicia bersuara dengan lirih. “Saya tahu Pak Damar punya kekuasaan tinggi, ilmu yang mumpuni soal hukum, dan banyak orang kepercayaan dalam kalangan petinggi juga. Walaupun gitu, saya tetap ragu Pak Damar bisa matahin peraturan yang ada di keluarga ini.”

“Itu Bu Alicia tahu apa yang saya punya,” tanggap Damar dengan seringaian di wajahnya. “Saya bukan keturunan konglomerat, pengusaha, atau keluarga kaya raya, but look at me now. Siapa yang ga kenal saya di negeri ini? Saya bikin diri saya sendiri jadi orang kaya tanpa harus jadi seorang ‘keturunan’.”

Bu Alicia tertunduk, sedangkan Pak Ariawan memilih bungkam. Sorot matanya bertemu dengan netra Damar yang tetap menatapnya tenang.

“Pak Ariawan sama Bu Alicia pernah secara ga langsung menyiksa Radinka dengan peraturan itu. Terus…mau sampe kapan keluarga Tanwira tersiksa cuma karena peraturan kolot itu?”

Ucapan Damar seolah menohok Pak Ariawan dan Bu Alicia. Mereka sempatkan saling melirik sebelum akhirnya tertunduk.

“Saya serius sama Radinka. Saya bahkan udah kepikiran untuk nikahin Radinka dan jadi ayah untuk Javien. Untuk bisa ngewujudin itu, cuma ada dua pilihan,” ucap Damar dengan tenang. “Yang pertama, peraturan itu harus dihapus dari keluarga ini. Yang kedua, Radinka dan Javien yang dihapus dari silsilah keluarga Tanwira. Dan saya yakin, untuk pilihan yang kedua itu ga akan mungkin terjadi, mengingat Radinka justru jadi anak dan cucu kebanggaan di keluarga hebat ini. Iya kan?”

Pak Ariawan mengangguk. Gelas wine-nya kembali diangkat. Disempatkannya sebelum menyesap minuman itu untuk berkata, “Kalau berani ngasih usulan begitu, berarti kamu berani ngasih solusi, Damar.”

Senyuman kembali terulas di wajah Damar. Kepalanya mengangguk sembari menanggapi dengan, “Mungkin saya dan Jeremy ga akan ada bedanya kalau saya bilang pernikahan saya dengan Radin bakal jadi ‘simbiosis mutualisme’ untuk kita semua. But one thing for sure, saya nanti menikahi Radin bukan untuk keuntungan materi saya, karena saya memang cinta sama dia.”

“Apa yang keuntungan buat Radin dan Vien kalo begitu?” tanya Bu Alicia.

“Bu Alicia, saya yakin ibu ga tau apa yang dialami anak dan cucu ibu,” tanggap Damar dan membuat Bu Alicia mengernyitkan dahi. “Radin and Vien need help from a professional for their mental health. Your former son-in-law made them suffer a lot. Saya bisa jamin mereka sembuh kalo sama saya. Saya bahkan udah manggil psikolog khusus untuk mereka, and no worries, pengobatannya di rumah Radin. It’s in private, jadi ga perlu khawatir ketahuan media dan bakal ngerusak image keluarga Tanwira.”

Kembali Bu Alicia terdiam dan tertunduk. Ia cukup terkejut dengan fakta yang baru saja diucapkan oleh Damar hingga membuat air matanya menggenang.

“Lalu untuk keluarga Tanwira? Apa untungnya?” tanya Pak Ariawan.

“Saya bisa ngelindungin keluarga ini dari sisi hukum, selagi keluarga ini memang ga berbuat salah. Dengan kayak gitu, nama Tanwira bakal selalu bersih kan?”

Pak Ariawan mengangguk setuju. Baru saja ia ingin berbicara lagi, tapi tangannya ditahan oleh Bu Alicia.

“Terakhir, Damar. Apa untungnya buat kamu selain memang berhasil ngedapetin Radin dan Vien?”

Damar tersenyum dan menjawab, “I’ll get my best future with my best husband and my best son. Just it. I don’t need anything else, Bu Alicia. For me, having Radin and Vien beside me is more than enough.”

Kepala Pak Ariawan dan Bu Alicia mengangguk. Seketika mereka saling bertukar pandang untuk mengulas senyum tipis.

“Kasih saya waktu, Damar,” ucap Pak Ariawan. “Kasih saya dan istri saya waktu untuk ngeyakinin anggota keluarga Tanwira lainnya buat ngasih kelonggaran peraturan itu.”

Go ahead, Pak Ariawan. Saya juga ga mau buru-buru. Saya tahu, pertimbangan lainnya tentang image Radin yang baru aja cerai beberapa bulan lalu dan jangan sampe ada gosip dia selingkuh sama saya sebagai penyebab perceraian. Jadi, let’s take it easy for everything, Pak Ariawan. Yang penting untuk saya sekarang cukup Pak Ariawan dan Bu Alicia percayain Radin dan Vien ke saya. Saya…”

Ucapan Damar menggantung. Arah matanya memandang ke atas, tepatnya keberadaan Radinka dan Javien yang bergandengan untuk menuruni anak tangga.

“...saya sayang dengan Radin dan Vien.”


schonewords


JAEMIN's POV

CW // NSFW, sex implicitly, kissing


Baru saja Mark Lee dan Na Jaemin mengucapkan janji suci mereka. Mark dan Jaemin telah berjanji untuk menjadi pasangan yang akan saling mencinta, saling menguatkan, saling mengasihi, dan akan terus bersama. Di depan Tuhan, keduanya sudah berjanji. Maka dari itu, Mark Lee dan Na Jaemin sudah sah sebagai sepasang suami.


“Hnghh, kakak...”

Beberapa jam yang lalu aku sama Kak Mark baru aja ngucapin janji suci. Yes, today was our wedding day. And yes...this is our first sex after as husband and husband. Udah pernah sih sewaktu pacaran dulu, hehehehe.

People said that sex after marriage is giving you different vibes with sex before it. I do agree. Ini udah ronde kedua dan Kak Mark (sama aku juga) belum ngerasa capek banget.

“Nana...ahh...”

“Kakkk mmmhh...”

Oke. We just...done it.

“Kak, udah dulu ya, sayang. Istirahat dulu.”

Kak Mark yang tadinya langsung rebahan di samping aku, sekarang langsung meluk aku sambil ketawa kecil. Keringat kita berdua nyatu banget. Padahal, kita baru aja mandi sih tadi sehabis acaranya selesai.

“Hahaha, iya, sayang. Capek ya?”

Aku cuma bisa ngangguk. Mungkin di mata Kak Mark yang aku lakuin barusan itu gemesin, jadi dia kecupin bibir aku berkali-kali. Ya, soalnya biasanya begitu, kalo dia lagi mode gemes ke aku, pasti bibir aku jadi sasaran mulu.

Ah, tapi Kak Mark itu pake komplit. Di balik dianya sering gemes-gemesan ke aku, dia tuh orangnya manis banget. Ga cuma kata-kata yang keluar dari mulut dia yang manis, tapi perlakuan dia ke aku tuh...ya ampun...manisnya ga kuat.

Kayak sekarang. Dia barusan ngambil handuk kecil di samping ranjang buat bersihin area yang patut dibersihin di badan aku sama badannya dia. Dia tarik selimut buat nutupin badan kita, melukin aku, elus rambut aku, dan ga pernah lupa ngecup kening aku.

It might be very bare minimum things, yet I love it so much, because I bet there are a lot of men out there can't do it properly just like my husband.

My husband.

“Kakak, happy ga hari ini?” tanyaku sambil sedikit dongak buat ngelihatin dia.

“Ga perlu ditanya lagi. I'm beyond happy, sayang.”

Ih senengnyaaaa! Aku seneng banget denger Kak Mark bilang begitu.

“Kak,” panggilku.

Kak Mark langsung makin nunduk biar mata kita bisa sejajar tatapannya. “Kenapa, sayangku?” tanyanya.

Sayangku.

SAYANGKU.

Aduh...

“Ih, aku masih salting setiap kamu manggil aku pake 'sayangku' gitu.”

Dia ketawa dan lagi-lagi ngecupin bibir aku sambil bilang, “Gemes banget sayangku ini.”

Aduh...

Ini aku mau bilang 'aduh-aduh' sampe kapan ya?

“Kak, kalau selama jadi suami kamu nanti aku banyak ga dewasanya, banyak cerobohnya, banyak egoisnya, tolong ingetin ya. Mau ya, kak, bantuin aku supaya jadi suami yang baik buat kamu?”

Jujur, sedari tadi pagi, aku kepikiran ini terus. Kak Mark itu super banget dewasanya, bijaknya, baiknya, dan telitinya. Beda seratus delapan puluh derajat dengan aku.

“Nana, listen to me,” katanya sambil nangkup pipi aku supaya makin dekat dengan dia. “Of course, I'm willing to help you to be a better person, tapi kamu harus sadar banyak hal, Na. Kamu itu padahal paling dewasa sifatnya dibandingkan temen-temen kamu.”

Aku bingung. Dewasa darimananya? Perasaan umurku aja sebenarnya muda beberapa bulan dibandingkan Jeno (plus Karina, si mbak pacar) dan Haechan (plus Renjun si tunangannya). Aku malah nyaris seumuran sama Chenle sih.

“Dewasa apanya? Kayaknya di antara Jeno, Haechan, sama Chenle tuh si Haechan paling dewasa deh pemikirannya,” oke aku tanyain aja langsung.

“Hmm,” Kak Mark elus rambut aku lembutttt banget. “Kamu inget ga waktu Jeno ditolak sama Renjun dulu? Satu-satunya yang bisa bikin dia tenang cuma kamu. Aku masih ingat kamu bilang gini, 'Mungkin kalau lo lanjut sama Renjun, endingnya ga akan sesuai dengan yang lo mau. Coba deh, Jen, pikirin aja kalau ternyata Renjun nerima lo cuma karena kasihan, apa ga kasihan sama hati lo yang tulus itu? Mending sekarang sembuhin sakit hati lo, simpan perasaan lo yang sangat tulus itu. Nanti kalau udah nemu orang yang tepat, perasaan itu bakal berguna banget'. Dan lihat Jeno sekarang. Dia ngikutin saran kamu sampai hubungan dia langgeng sama Karina.”

Oke...Bener sih...

“Terus,” dilanjutin lagi sama Kak Mark. “Waktu Haechan overthinking dan ngerasa insecure buat ngedekatin Renjun, kamu orang pertama yang ngeyakinin dia kalau dia itu pantes dan lebih dari cukup buat ngedapetin Renjun. Kamu beda dengan Jeno dan Chenle yang ngedorong Haechan secara blak-blakan. Kamu pelan-pelan banget bikin Haechan sadar dengan valuenya sampai akhirnya dia pun sadar kalau dia pantes banget ngedapetin Renjun kayak sekarang.”

Hmm. Iya sih. Aku ga pernah maksa Haechan buat deketin Renjun.

“Oh, ada lagi,” sip, lanjut terus, Kak Mark. “Chenle itu yang paling keras kepala di antara kalian. Bahkan atasannya dia sendiri juga bilang gitu. No one are able to faced him whenever he being stubborn, except you. Setiap Chenle lagi keras kepala banget pertahanin argumennya yang salah, kamu selalu dengan sabar ngasih tahu resikonya kalau dia terusin pendapatnya itu. He ended up nurut sama perkataan kamu.”

“Biasa aja kalo itu, kak.”

“Ga biasa, sayang. Ngadepin orang keras kepala itu bukan hal yang mudah dan ga semua orang mampu. Nyatanya, Haechan sama Jeno ga pernah bisa ngadepin Chenle yang kayak gitu. Cuma kamu aja yang bisa, karena kamu sebijak itu ngadepin dia.”

I see. Jadi bangga deh sama diri sendiri.

The last one,” oh ternyata masih ada hehe. Lanjut, Mark Lee. “Kamu itu udah dewasa banget buat aku. Kamu yang jarang komplain dengan kesibukan aku yang sering bikin aku nyuekin kamu. Kamu yang sabar pelan-pelan minta perhatian aku. Kamu yang kalau mau nuntut sesuatu dari aku selalu punya alasan yang logis. Kamu yang sabar nungguin aku lembur. Dan kamu yang selalu tahu cara ngingetin aku gimana aku harus prioritasin hal-hal yang sekiranya penting. Aku bakal dimarahin Tuhan kalau nuntut kamu buat ngelakuin yang lebih dari itu, Na. You're more than enough for me.”

“Tapi ga ada salahnya kan buat jadi lebih dewasa dan lebih baik lagi, kak?” tanyaku.

Here comes Mark Lee with his precious smile while caressing my hair. Dia jawab, “Exactly. Makanya aku tadi bilang, aku pasti bantu kamu. Pun kamu yang juga harus bantu aku. Supaya akunya makin layak jadi suami kamu, dan gitu juga sebaliknya.”

Ya Tuhan...satu Mark Lee aja udah berasa aku punya semesta ini.

Aku peluk lagi suami aku ini dengan erat banget. Badannya udah ga berkeringat, tapi masih wangi sabun maskulin yang aku suka. Apalagi sekarang dia juga bales peluka aku sambil elus-elus punggung aku selembut mungkin.

“Aku beruntung banget deh punya suami kayak kamu, kak.”

Same, Na. Aku belum pernah ngerasa seberuntung ini.”

Ah, ga bisa ini, ga bisaaaa. Sayang banget deh aku rasanya sama Mark Lee ini.

“Kak Mark sayang.”

Muka Kak Mark kelihatan kaget. Eh, jujur nih, aku sejarang itu manggil dia begitu hehehehe.

“Ya, sayang?”

“Kakak.”

“Iya, Nana.”

“Aku sayang banget sama kakak. Kalau bisa, besok di kantor aku mau bilang begitu pake microphone yang biasanya buat pengumuman itu.”

Lihat dia ketawa sekarang. Aku suka deh kalau Kak Mark ketawa cuma karena aku bercandaan ngasal kayak gitu.

“Coba aja kalau berani. Paling nanti kamu langsung ditegur Pak Johnny.”

“Ah, ga takut. Ntar tinggal bilang, 'Pak Johnny kayak ga tahu aja rasanya jadi pengantin baru'. Pak Johnny pasti ngerti, kak.”

“Ngawur aja kamu tuh,” protes Kak Mark sambil ketawa dan nyubitin pipi aku pelan.

This is indeed my favorite scene—seeing him laughing like this because of me.

“Kak Mark.”

“Iya, Nana-ku? Kenapa lagi?”

“Hehehehe,” aku nyengir dulu sebelum ngelusin pipinya. “Aku janji bakal sering-sering bikin kamu ketawa kayak gini. Aku mau jadi suami yang bikin kamu banyak bahagianya sama aku.”

As you should, Na. Aku juga bakal ngelakuin hal yang sama. Kita sering-sering bahagia bareng mulai sekarang ya, cantik.”

Cantik.

Cantik.

Cantik.

Cantik.

“Aduuuh, manisnya kakak tuh kalau ngomong, apalagi manggil aku 'cantik' begitu.”

“Ya kan kamu emang cantiknya aku.”

Malu. Akunya malu digituin.

“Hmm kalau aku cantiknya kakak, aku juga punya julukan buat kakak.”

“Apa tuh?”

Aku deketin mukaku ke dia, agak ke atas, sampai bibir aku udah ada di depan telinganya. Pelan banget aku bisikin, “Kak Mark cintanya aku.”

All I can see is his blushing face with that beautiful smile in it. He must be happy hearing it. I know.

Yup! Mark yang bahagia dan salting selalu berakhir dengan dia nyium bibir aku. Dia peluk aku erat, ngelumat bibir aku dengan lembut banget, dan jangan lupa tangannya yang dorong kepala aku di bagian belakang supaya ciumannya makin dalam.

I love you so much, cantiknya aku,” kata Kak Mark waktu ngelepasin ciumannya sebentar sambil senyum.

I love you much more, my husband cintanya aku.”

I really mean it. Aku sayang banget sama kamu, Kak Mark.

Kamu benar-benar cintanya aku, karena aku belum pernah mencintai sedalam dan sebesar ini. Kamu yang pertama dapat cinta aku ini. Dan aku yakin, kamu yang terakhir.

Kamu, Mark Lee, cintanya aku.


schonewords


MARK's POV

CW // kissing


“Hmm, ganti.”

Nope. Terlalu tua kalo lo pake yang itu.”

Udah sekitar setengah jam Renjun sama Yangyang ngomentari baju-baju yang aku pake. Well, they are here because—

“Kak Mark, kayaknya pake kemeja biru itu aja, terus celananya yang broken white gitu. Since it's actually not-so-formal dinner, tapi lo bakal ngelamar Jaemin malam ini. So, you need to dress-up very well.”

Agree with Renjun. Soalnya kalo lo dressing yang formal banget, Jaemin pasti curiga. Ya, lo kan maunya it's going to be a suprise for him. Jadi coba pake baju yang kelihatan santai, tapi quite formal juga.”

Ya, malam ini aku mau romantic dinner sama Jaemin. Sebenarnya ga ada momen spesial yang mau dirayain hari ini, tapi karena enam bulan lalu, di anniversary pertama kita none of us yang bisa ngerayainnya. I was so busy back then dan Jaemin harus ke luar kota untuk ngasih pelatihan.

So, yeah, we are so late in celebrating it. Enam bulan belakangan memang lagi masa-masa sibuk buat kita berdua. Kita cuma ketemu di kantor, makan siang bareng di kantin, dan sleep over sebanyak tiga kali doang—itu pun di weekend. Ga jarang kita berdua jadi berantem karena kurangnya intensitas waktu buat ketemu. Ah, but the power of love yang pada akhirnya bikin kita saling ngerti dan baikan lagi.

“Gini?” tanyaku ke Renjun sama Yangyang sehabis ganti outfit sesuai saran mereka.

“NAH INI DIA!”

“PERFECT!”

“Oke, gue jalan sekarang deh. Mau jemput Jaemin dulu.”

“Cincinnya udah dibawa ga?” Renjun nanya agak teriak karena panik. “Gue ga mau ya, kak, nanti gue lagi enak-enak cuddle sama Haechie malah lo suruh anterin cincin.”

Omelan Renjun selalu berhasil bikin aku dan Yangyang ketawa. Ya, namanya juga baru jadian, Renjun lagi menikmati masa-masa indahnya sama Haechan.

“Udah aku bawa, Ren. No worries. Gue ga akan ganggu waktu lo sama Haechan.”

Nice.”

“Dah sana, Mark. Gue sama Renjun sekalian pulang deh ini. Good luck, ya.”

Thanks a lot, Yan!”

“Nanti kabarin kita ya, kak.”

“Pasti, Ren.”

Hehe, apalah aku tanpa mereka berdua ini? Sahabat yang keren-keren dan selalu ada buat aku. Yes, very supportive best friends yang sekarang buru-buru banget dorong aku masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan ke rumah Jaemin aku berusaha banget buat fokus. Bohong kalau aku bilang aku ga deg-degan. I'm totally nervous now until I feel like it's so hard for me to breath. Apalagi sekarang udah di depan rumah Jaemin, ketemu orang tuanya, dan minta izin buat bawa anak semata wayang mereka pergi.

“Kamu udah reservasi tempatnya, kak?”

“Udah, sayang. It's a fine dining restaurant. Kamu pasti suka.”

Aku lirik sekilas ke arah Jaemin disela nyetirku, dan aku bisa lihat ekspresi bahagianya yang ditandain dengan senyuman manis khas kelinci lucu ini. Setiap ngelihatin Jaemin, aku ga pernah berhenti muji dia.

Look at him now! Sempurna dengan kemeja denimnya yang dipadukan celana yang sejenis. Rambut hitamnya yang mulai panjang dibiarin lurus terurai dan pada bagian depannya sudah nyaris menutupi matanya.

Dari samping begini—walaupun aku cuma ngelihat sekilas—aku bisa ngelihat pahatan mukanya yang perfectly perfect! Kulit putihnya yang mulus, pipinya yang gembul, mata teduhnya yang kalau membulat kayak mata kelinci disatuin dengan bulu mata yang super lentik, hidung yang mancung, dan bibir tipisnya yang pink banget itu.

Oh, God...Jaemin is so perfect and I won't ask more than his existence beside me. He is more than enough for me.

“Ini, kak, restorannya?” tanya Jaemin begitu kita sampai di restoran yang udah aku reservasi.

Yes, baby. Yuk, turun.”

Sesuai ekspektasi, mata Jaemin melotot bulat lucu kayak kelinci begitu lihat dekorasi private room yang aku pesan. Sebuah ruang kecil yang udah dihias kelopak bunga mawar merah di beberapa sudut.

“Ih, kakak! Ini bagus banget dekornya!” Jaemin setengah teriak saking senangnya. “Are these all based on what you requested?”

Of course. Beautiful person deserves beautiful decoration for his romantic dinner.”

“Aduuuuh romantis banget pacar aku.”

Dan Jaemin meluk aku sehabis ngomong kayak tadi dengan nada manjanya. Hahaha, lucu. Jaemin lucu banget. This hug...I swear to God I won't let him hug anyone else beside me. It's comfortable as always.

“Kita makan dulu ya, sayang. Nanti pelukannya lagi,” ajakku yang langsung disetujui sama Jaemin.

Tenderloin steak with wine as the main menu. Jaemin kelihatan seneng dengan semua yang aku siapin malam ini. Sedari tadi, dia banyak senyum dan ketawa. Moodnya bagus, and I'm so happy because I'm the reason behind it.

“Kak, maaf ya karena aku sibuk banget belakangan ini. Jadinya anniv kita harus diundur sampe enam bulan buat ngerayainnya.”

It's okay, sayang. Ga cuma kamu yang sibuk. Aku juga.”

“Iya sih. Pak kepala divisi ini sibuk banget deh sekarang. Apalagi known as karyawan terbaik selama beberapa bulan berturut-turut.”

Does it make you proud?”

Jaemin senyum sumringah sambil ngangguk. “Of course! Aku selalu banggain ke semua orang kalau pacarku ini cowok yang keren dan hebat banget!” ucapnya kegirangan.

Berhubung makanan kami sudah habis, aku mutusin buat menggeser kursi aku ke samping Jaemin. Dia sempat bingun ngelihat aku begitu, tapi sehabis itu dia senyum karena akhirnya bisa biarin kepala dia nyender di bahu aku.

“Nana,” panggilku.

“Iya?”

Tangan kami yang saling menggenggam itu aku angkat. Aku kasih kecupan singkat di punggung tangannya dan bikin dia makin mepetin badannya ke aku.

Let's change it, Na.”

“Hm?” Jaemin kayaknya bingung. Dia langsung angkat kepalanya, noleh ke aku yang bikin kita berdua akhirnya saling tatap.

Damn! Those beautiful eyes.

“Maksudnya gimana, kak? Apanya yang diubah?” tanyanya bertubi-tubi saking bingungnya.

Tangan Jaemin aku lepas dulu dari genggaman. Aku ambil kotak kecil di kantong celanaku yang langsung mengubah ekspresi Jaemin jadi jauh lebih kaget.

“Kak Mark...”

Lagi. Aku ambil lagi tangan Jaemin sesudah aku buka kotak itu dan nunjukkin cincin ke arah dia.

“Na, thank you for praising me as a great boyfriend of yours. Now, I want you to change it,” aku lihatin mata lucunya itu. “Let's change it. Aku mau kamu bangga ke aku bukan sebagai pacar lagi, Na, tapi sebagai suami kamu. Aku percaya diri bisa jadi suami yang selalu kamu banggain, karena sejauh ini aku berhasil jadi pacar yang bikin kamu bangga terus-terusan.”

Jaemin kelihatan makin kaget, tapi pelan-pelan aku bisa lihat dia senyum. Sekarang giliran aku yang kaget karena Jaemin langsung melukin leher aku kuat banget.

“Kakak, aku bakal dengan senang hati ngebanggain kamu ke seluruh penjuru dunia kalau kamu itu suami aku yang paling hebat! Sampe ke planet Venus pun aku mau banggain kamu yang keren ini sebagai suami aku!”

Hah?

Sebentar...

Ini....

“Nana?” aku lepasin sebentar pelukan itu supaya aku bisa lihatin mata dia lagi. “Ini...maksudnya...kamu—”

Yes, kakak! Let's get married.”

Oh...God, jadi ini rasanya bahagia karena pacarku nerima lamaranku?

For real, Na?”

For real, Kak Mark.”

Damn, my Na.”

Kalau kebahagiaan bisa diukur dengan skala seratus, sekarang ini bahagianya aku udah lebih dari itu. Saking bahagianya, aku peluk Jaemin erat, ngucapin kata 'makasih' berkali-kali, dan...

I'm kissing him right now. His lips, of course.

Terima kasih, Na. Bahagianya aku saat ini semoga bisa sama besarnya dengan bahagianya kamu. Semoga pula kelak kebahagiaan kita selalu sejalan.

Aku cinta kamu, Na. Sangat.


schonewords


Perusahaan Neotech Corps tengah mengadakan makan malam bersama untuk seluruh karyawannya. Kegiatan ini kerap dilakukan kala target pemasaran mereka di tiap kuartalnya mencapai sasaran. Tiga bulan belakangan, perusahaan konsultan IT itu telah menembus angka pemasaran yang melebihi targetnya. Oleh sebab itu, malam ini mereka tengah berpesta guna merayakan kesuksesan baru di perusahaan ternama itu.

“Jaemin,” bisik Chenle dengan dagunya yang mengarah ke pintu utama aula. “Tuh pacar lo dateng.”

Jaemin melirik ke arah yang ditunjuk oleh Chenle. Senyuman mengembang di wajahnya sembari menggumam, “Bukan pacar gue, Le.”

“Calon pacar kali,” timpal Jeno berdiri di antara mereka berdua.

Suara helaan napas lolos dari mulut Jaemin. Bahunya bergidik sembari berkata, “Ga tau deh.”

Jeno dan Chenle saling memberikan lirikan kepada Jaemin yang tengah meneguk champagnenya. Sadar mendapat perhatian itu, Jaemin mengangkat alisnya dan bertanya, “Kenapa? Kok ngelihatin gue begitu?”

“Lo masih belum confess ke Mark?” tanya Jeno melebarkan matanya.

“Belum.”

“Ya ampun! Kok bisa? Bukannya lo bilang kemarin mau confess ke dia pas berangkat ngantor bareng?” kali ini Chenle yang bertanya.

Sekali lagi Jaemin menghela dan menghembuskan napasnya gusar. Ia meletakkan gelasnya di atas meja yang ada di tengah-tengah tempat ia dan para sahabatnya berdiri.

“Ga jadi. Dia keburu mesti meeting kemarin,” jawab Jaemin ketus.

Dua sahabat Jaemin pun membungkam mulut mereka. Kepala mereka mengangguk dan enggan bertanya lebih jauh. Namun, detik berikutnya netra Chenle membelalak. Minuman yang tengah ia sesap segera ditelan.

“Jaemin Jaemin,” Chenle memukul lengan Jaemin. “Itu itu! Si Mark jalan ke sini!”

Jaemin yang mulanya tengah fokus memperhatikan permainan piano di atas panggung pun langsung menoleh. Dilihatnya Mark menyunggingkan senyuman pada wajah tampannya. Langkah kakinya memang benar mengarah ke tempat Jaemin berada, membuat degup jantung Jaemin berpacu cepat tak karuan.

Hey, Jaemin,” sapa Mark ketika telah berdiri tepat di depan si pemilik nama itu. “Hai juga, Jeno, Chenle.”

Jeno dan Chenle membalas sapaan Mark. Mereka seketika melirik ke arah Jaemin yang masih terdiam dan hanya mengulas senyuman tipis.

“Jaemin, will you come with for a bit?”

Mendengar pertanyaan Mark tersebut, alis Jaemin terangkat. Jeno dan Chenle otomatis menatap Jaemin serta memberi kode agar segera mengiyakan ajakan Mark.

“Kemana?” tanya Jaemin.

Just standing right there, in front of the stage.”

“Hm? Ngapain di situ?”

Mark terkekeh pelan dan menjawab, “Nanti juga bakal tahu kok. Yuk?”

Apalah daya Jaemin saat ini? Tak mungkin ia menolak ajakan dari pria yang belakangan tengah mencuri hati dan perhatiannya itu. Maka ia mendekati Mark, mengikuti langkah Mark tepat di sampingnya menuju sebuah meja bundar yang di sana sudah ada Renjun dan dua anggota divisinya yaitu Yeri dan Hendery.

“Kak, aku ga enak ah duduk di sini. Ini kan meja khusus buat kamu sama team leaders di R&D,” bisik Jaemin ketika duduk tepat di sebelah Mark.

It's fine, Jaemin. Santai aja.”

Jaemin akhirnya memilih diam. Ia melempar senyuman sekilas kepada Renjun, Yeri, dan Hendery. Rasanya tidak nyaman, namun saat ia melihat wajah Mark dari samping, hatinya menjadi lebih tenang.

“Acara selanjutnya, kita akan mendengarkan kata sambutan dari karyawan terbaik bulan ini, yang bikin Neotech Corps mencapai target pemasaran untuk kuartal kedua ini. Berkat strategi yang dirancang dari hasil riset divisi yang beliau pimpin, Neotech Corps meraih keuntungan yang besar! Langsung saja kita sambut, Mark Lee, kepala divisi Research and Development!”

Iris mata Jaemin melebar menatap Mark. Sosok yang namanya dipanggil itu pun hanya tersenyum melihat Jaemin sebelum akhirnya berjalan ke atas panggung.

“Renjun, dia udah tahu bakal disuruh speech?” bisik Jaemin.

“Iya. Kemarin pas meeting udah dikasih tahu.”

Jaemin hanya bisa mengangguk pelan. Matanya sudah terpaku menatap Mark yang berdiri di atas panggung dan tersenyum lebar membuka pidatonya dengan menghaturkan rasa hormat serta terima kasih kepada para petinggi Neotech Corps.

Well, udah lebih dari tiga bulan saya mengemban jabatan sebagai kepala divisi R&D. Semuanya ga mudah. Mulai dari penyesuaian jobdesc sampai the workloads tho. Saya bersyukur punya rekan kerja yang hebat-hebat di divisi tersebut. Thanks to Renjun, Yeri, dan Hendery selaku ketua dari tiga tim yang ada di divisi ini. Berkat kerja keras kalian dan seluruh anggota tim, ancangan marketing bisa berjalan dengan baik dalam penerapannya. Please give applause to them.”

Seluruh karyawan bertepuk tangan yang meriah. Renjun, Yeri, dan Hendery berdiri sejenak untuk membungkuk menghaturkan terima kasih kepada semuanya yang ada di sana.

“Selamat ya, Ren, Kak Yeri, dan Kak Hendery,” ucap Jaemin saat ketiga orang itu kembali duduk. “Kalian keren banget deh—”

“Dan saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada Na Jaemin, asisten manajer HR,” ucap Mark memotong ucapan Jaemin, menarik perhatian Jaemin hingga kini Jaemin sigap menoleh kembali menengok ke panggung dengan netra yang membelalak.

Mark tersenyum di sana. “Na Jaemin, yang jadi asesor saat evaluasi terakhir saya dan Renjun. Na Jaemin, yang dengan ramahnya ngasih selamat atas promosi jabatan saya. Na Jaemin, yang banyak ngasih masukan dalam berbagai hal. Dan...Na Jaemin, yang belakangan selalu ada di samping saya, mau mendengar keluh kesah saya, dan ga pernah capek untuk menasehati,” haturnya dengan tenang.

Suara riuh para audiens terdengar. Hal itu membuat Mark tersipu, pun Jaemin yang wajahnya sudah memerah.

“Jaemin, makasih,” tutur Mark sembari menatap netra Jaemin di bawah sana dengan lekat. “Makasih banyak udah jadi orang yang baik buat saya beberapa bulan ini. Saya jadi yakin kalau ternyata hati saya benar.”

Dahi Jaemin mengernyit. Di sisi lain, semua orang di sana sudah tersenyum sambil berbisik-bisik untuk berasumsi maksud dari ucapan Mark barusan.

My heart was right, Jaemin. Ternyata saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tepat.”

Ucapan itu sukses membuat Jaemin semakin melotot dengan detak jantung yang berdebar kian cepat. Seluruh orang di dalam aula bersorak-sorai riuh yang menjadikan wajah Mark dan Jaemin semakin merah.

Mark menutup pidatonya. Segera ia berjalan cepat turun dari panggung. Tanpa basa-basi dan duduk sedikit pun, ia menarik tangan Jaemin, membawa sang pujaan hati berjalan keluar dari aula.

Jaemin hanya bungkam. Kakinya hanya mampu mengikuti langkah Mark karena tangannya masih digenggam dan ditarik pelan oleh Mark.

Tibalah mereka pada tempat yang tak asing bagi keduanya. Rooftop. Angin malam berhembus menciptakan nuansa dingin, namun tak membuat kedua pria itu merasa demikian. Wajah mereka terasa panas dengan tatapan yang tak berani saling bertemu.

“Kak, tangan kamu,” ucap Jaemin lirih.

Mark sadar tangannya masih menggenggam lengan Jaemin. Maka ia bawa Jaemin untuk berdiri tepat pada dinding pembatas di sana. Detik berikutnya genggaman itu dilepas, membuat Jaemin melipat dua tangannya di depan dada, dan tangan Mark bertumpu pada dinding. Netra keduanya menatap lurus memandangi city lights yang sangat jelas terlihat dari atas atap tertinggi gedung itu.

“Jaemin.”

“Hm?”

It must be surprised you ya?”

Jaemin mengangguk pelan. “Bohong banget kalau aku ga kaget, kak,” jawabnya.

Sorry, Jaem—”

But it makes me happy,” potong Jaemin.

Alis Mark terangkat. Cepat kepalanya menoleh ke kanan, melihat Jaemin yang tengah tersenyum dengan netra yang tengah menatap langit karena kepalanya yang sedikit menengadah.

“Aku seneng, walaupun sebenarnya it was embarrassing,” ucap Jaemin diikuti dengan kekehan pelan. “Thank you, kak.”

Arah pandang Jaemin berubah tatkala kepalanya beralih menengok menghadap Mark. Obsidian teduhnya dipertemukan dengan manik Mark yang masih setengah membelalak.

“Kak, aku hampir aja confess ke kamu kemarin. It failed, karena kamunya harus meeting,” ujar Jaemin lirih. “Hmm, no. It failed because I wasn't ready yet yesterday.”

Mark masih diam terpaku, sedangkan Jaemin mulai merubah posisi tubuhnya menghadap langsung kepada Mark. Kakinya ia bawa maju sedikit hingga jaraknya kian dekat dengan sang pujaan hati. Digamitnya kedua tangan Mark agar dapat ia genggam dengan kedua tangannya pula. Kepala Jaemin tertunduk menatapi tautan tangannya dan tangan Mark tersebut.

“Kak Mark, aku udah notice kamu suka ngelihatin aku dari awal kita ketemu, karena aku pun ngerasain hal yang sama.”

Kedua pria yang mulanya saling nunduk itu secara bersamaan mengangkat kepala mereka. Manik mereka bertemu, kendati dengan ekspresi yang berbeda. Mark yang masih dengan raut wajah penuh kejut, dan Jaemin yang setia mengulas senyum.

“Jaemin...”

“Kak,” potong Jaemin. “Aku tahu ga cuma aku di sini yang jatuh cinta sejak awal, tapi kamu juga. We just two Leo men that fell first and fell harder together in the same time. Aku ga sesusah itu untuk peka sih. Aku cuma ngerasa emang dari kemarin kita nyari timing yang pas aja.”

Ucapan Jaemin itu memberanikan Mark untuk menarik tangan sang tambatan hati. Ia rengkuh tubuh Jaemin untuk masuk ke dalam pelukannya yang erat. Tentu pergerakan ini membuat Jaemin kaget dan terpaku.

Yes, you're right. We are just the two Leo men that crazily in love with each other. Pantesan terlalu mikirin timing,” gumam Mark dari balik bahu Jaemin.

Raut muka yang mulanya kaget pun berubah menjadi senyum sumringah lagi pada wajah Jaemin. Sigap ia membalas pelukan Mark tak kalah erat, membiarkan tubuh keduanya menghangat dalam dekapan masing-masing.

“Akhirnya aku bisa meluk kamu,” bisik Mark.

Jaemin terkekeh. Ia eratkan pelukannya sembari berkata, “Akhirnya aku bisa dipeluk sama kamu.”

Dinginnya angin malam tampaknya kalah pada hangatnya pelukan mereka. Terlebih lagi dekapan itu dimulai dengan ungkapan isi hati yang nyatanya terbalas untuk saling mencinta di kemudian hari. Di mulai dari hari ini dan berharap akan selalu begitu selamanya.


schonewords


Pasca pergi bersama untuk sesi coffee after work dua minggu lalu, perkembangan hubungan Mark dan Jaemin terlihat semakin pesat. Keduanya tampak lebih sering berduaan tanpa malu-malu lagi.

Seperti saat ini, dua pria kelahiran bulan Agustus itu pergi ke kantor bersama. Di dalam mobil hitam yang dikemudikan sang empu—Mark—keduanya saling berbincang dan melempar candaan.

“Itu tuh anggota timnya Renjun, si Giselle, astaga kadang niat banget turun ke lantai tiga belas cuma buat ngegosip doang sama anak-anak HR,” ujar Jaemin penuh semangat bercerita.

Mark tertawa mendengar itu sembari mengangguk. “Iya. Kadang dia juga suka ngilang dari ruangannya, ternyata lagi ngobrol sama sekretaris aku. Sampe teriakan Renjun manggil Giselle tuh kedengeran di semua penjuru lantai lima belas,” tambah Mark.

“Unik-unik banget sih anggota timnya Renjun, but not gonna lie, itu tim terbaik dari divisi kamu, kak.”

Agree. Cara Renjun ngelead keren sih.”

“Bener. Pantes aja Renjun tuh disebut 'ace' di divisi kamu. Ya, along with you.”

I took it as a compliment for me, Na.”

It's indeed a compliment for you, Lee.”

Beberapa menit berlalu, mereka pun tiba di parkiran kantor. Jaemin baru saja melepas seatbelt ketika merasakan lengannya digenggam Mark guna menahan agar tak segera membuka pintu.

“Hm? Kenapa, kak?” tanya Jaemin dengan iris mata yang membulat lucu menatap Mark.

“Kamu beneran jauh lebih bawel sekarang.”

Jaemin tertawa kecil mendengarnya. “Kayak kamu ngga aja,” cibirnya.

“Emangnya aku bawel?” tanya Mark.

“Banget!” jawab Jaemin cepat hingga mengundang gelak tawa Mark.

Perhatian Jaemin terpusat pada Mark yang masih tertawa geli. Sekilas ia pandangi tangan Mark yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Tak kuasa pula Jaemin menahan senyumnya, hingga tak sadar guratan merah muda tengah bersemu di pipinya.

“Kak,” panggil Jaemin yang seketika meluruhkan tawa Mark perlahan.

“Ya?”

Netra mereka bertemu. Mark bisa melihat dengan jelas wajah Jaemin yang bersemu, sedangkan Jaemin sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat tangan Mark yang masih bertaut pada lengannya.

“Aku deg-degan, kak,” ucap Jaemin jujur.

Mark yang sadar dengan arah pandang Jaemin langsung otomatis menarik tangannya guna melepaskan genggaman. Iris matanya melebar dan ia menggaruk pelan bagian belakang lehernya sembari berkata, “Sorry sorry, Jaemin.”

It's okay,” balas Jaemin lirih. “Toh deg-degannya bukan karena hal buruk. It's a sign for a good thing.”

Dahi Mark mengernyit. “Maksudnya, Jaem—”

“Ya, it's a sign kalau kita tuh sekarang udah makin deket ga sih? Aku berasa punya temen baik yang baru selain Jeno sama Chenle. Akunya juga jadi seneng karena kita makin deket gini. Kayak...apa ya...being much closer to you makes me happier and feel safe.”

Senyuman manis tersungging di wajah Mark. Tangannya secara impulsif terangkat dan mengelus pelan rambut Jaemin.

Me too, Jaemin. Aku juga seneng banget bisa semakin deket sama kamu.”

Seketika kedua pria itu merasa jantung mereka berdegup lebih cepat dari biasanya. Tatapan yang bertemu itu dengan sigap teralih guna menutup rasa salah tingkah yang mereka rasakan.

“Ayo kita turun, Na,” ajak Mark.

Kali ini lengan Mark yang justru ditahan oleh Jaemin. Sehingga sang pria yang lebih tua mengurungkan niatnya yang baru saja hendak membuka pintu mobilnya.

“Kak, makin deket sama kamu ga cuma bikin aku bahagia,” tutur Jaemin lembut.

“Hm?” Mark berdeham bingung dengan keningnya yang mengkerut. Tatapannya lekat pada manik kecoklatan milik Jaemin sembari lanjut bertanya, “Then? Kamu ngerasa apa lagi emangnya?”

Jaemin sempatkan menghela napas pelan dan berkata, “The closer I get to you, the more I realized that...aku...kayaknya—”

Tok tok!

Ucapan Jaemin terpotong karena seseorang mengetuk kaca mobil Mark—tepatnya di pintu sebelah Mark.

“Mark! Ayo turun! Kita ada meeting sepuluh menit lagi!” Renjun berteriak dari luar sana dan langsung berlari menuju pintu masuk kantornya.

“Oh, ayo kita masuk, kak. Kamu mau ada meeting. Ayo ayo cepet!” seru Jaemin seraya melepaskan genggaman pada lengan Mark dan sigap berlari keluar dari mobil.

Mark masih tertegun di balik kemudinya. Matanya menatap Jaemin yang berlari cepat masuk ke dalam kantor. Kepala Mark bersandar pada sandaran kursi mobilnya sembari menggumam, “Now, I'm curious about your feelings, Jaemin.”


schonewords


Sejak hari itu, Mark dan Jaemin mulai mengakrabkan diri. Setiap kali mereka secara tidak sengaja bertemu di kantor—entah itu di lift, kantin, parkiran, lobi, dan beberapa tempat lain termasuk rooftop. Mereka hanya saling menyapa atau tak jarang pula hanya saling melempar senyum.

“Udah seberapa deket sama Jaemin?” tanya Renjun setelah menyaksikan Mark dan Jaemin saling melirik di kantin.

Pardon?”

Yangyang tertawa kecil dan sedikit memukul lengan Mark. “Payah deh yang lagi jatuh cinta nih. Mendadak budek,” cibirnya.

Mark justru terkekeh pelan. Ia teguk minumannya sambil menyempatkan diri untuk melirik ke arah Jaemin yang berada di sudut kantin bersama dua sahabatnya yang Mark sudah kenal—Jeno dan Chenle.

Not that far yet, Renjun,” jawab Mark santai sembari meletakan botol minumnya. “Why? Jealous?

Dua bola mata Renjun berputar malas. “Lo bukan tipe gue dari dulu, kak,” jawabnya ketus.

Jawaban itu sukses membuat Mark dan Yangyang tertawa geli. Kedua pria itu secara bersamaan mencubit pipi Renjun dengan sangat gemas sampai sang empunya mulai berceloteh mengeluarkan omelan khas marah-marahnya.

“Eh, Mark, lo jangan begini lagi ke Renjun sama gue. Ntar Jaemin cemburu,” celetuk Yangyang mengundang tawa dari Renjun.

“Iya bener. Tuh si Jaemin sinis banget ngelihat ke sini,” timpal Renjun sambil mencondongkan dagunya ke arah Jaemin dengan ekspresi meledek.

Kepala Mark sigap menoleh untuk melihat Jaemin. Hembusan napas gusar lolos dari mulutnya tatkala melihat Jaemin justru tengah asyik bersenda gurau dengan para sahabatnya. Ia pun menatap sinis ke arah Renjun dan Yangyang yang kini sedang berusaha menahan gelak tawa mereka.

“Panik banget, Mark? Berarti udah sejauh itu sama Jaemin?” tanya Yangyang.

“Ngga git—”

“Kalau dipikir-pikir,” Renjun memotong hingga membuat Mark bungkam. “Jaemin udah lebih dari tiga bulan kerja di sini? Masa probationnya udah selesai. Selama probation, Jaemin cuma bikin kesalahan satu kali. Sisanya dia selalu berhasil nyelesain kerjaannya sesuai target. Bener kan, kak?”

Mark tersenyum dan mengangguk. “Right. That's the lion's spirit of him,” cicit Mark pelan namun masih terdengar oleh Renjun dan Yangyang yang saling saling melempar senyum.

“Berarti udah jauh, Yan.”

Yes, Ren. Temen kita sampe tahu banget Jaemin's lion spirit.”

Gotcha! Mark jatuh dalam perangkap dua sahabatnya yang iseng. Ia pun menghembuskan napas gusar dan menegakkan posisi duduknya menghadap ke Renjun dan Yangyang.

Kiddos, listen, gue belum sejauh yang kalian pikir. Tentang gue yang tahu banyak hal about him lately, itu pure karena gue sering ga sengaja ketemu dia di rooftop. I've once promised him to be a good listener to every single story he shared. Cuma segitu doang kok deketnya gue sama dia. Bahkan...gue belum punya nomor HP-nya,” jelas Mark dengan wajah seriusnya.

Yangyang terkekeh seraya tangannya terangkat dan mengelus bahu Mark. “Make a braver move, Mark. Minimal minta nomor HP-nya, ngobrol lebih banyak di sana, get to know him more,” ucapnya santai.

Renjun turut memajukan tubuhnya untuk menumpukan tangannya pada bahu Mark lainnya. “Bener tuh kata Yangyang. Also, bisa loh cuma sekadar pergi ngopi berdua after work gitu, kak. Dilanjutin anterin dia pulang,” usul Renjun.

Is it okay to do that?” tanya Mark dengan sangat polos.

Renjun dan Yangyang serentak menepuk dahi mereka pelan. Keduanya pun saling tertawa bersama sembari berkata, “It's fine, Mark Lee!”

Mark tampak berpikir sejenak. Ia hanya mampu menatap kedua sahabatnya yang masih tertawa meledeknya.

“Oke!” seru Mark secara tiba-tiba. “I'll make a move!”

Pria leo itu beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah meninggalkan Renjun dan Yangyang yang bengong tampak bingung.

Ternyata Mark berjalan ke arah Jaemin. Tepat ketika ia berdiri di samping pujaan hatinya dan dua sahabat Jaemin itu, Mark tanpa malu berkata, “Jaemin, let's have some coffee after work.”

God bless you, Mark Lee,” desis Renjun melihat itu.

God bless,” timpal Yangyang.

Di bagian sana, Jaemin terdiam. Pun Jeno dan Chenle yang melotot mendapati adegan tersebut di depan mereka.

Pardon, kak?” tanya Jaemin meminta pengulangan.

Mark tersenyum kepada Jaemin. Satu tangannya mengusap lehernya sendiri dengan kikuk.

“Nanti...sehabis kerja...mau ga ngopi bareng aku?” tanya Mark terbata dan lebih pelan-pelan.

Mendengar itu, Jaemin pun mengulas senyuman. Kepalanya yang menengadah menatap Mark pun mengangguk sembari menjawab, “Sure, kakak!”


schonewords


“Jaemin, kekeliruan kamu kemarin dalam evaluating anggota divisi marketing itu saya anggap kesalahan karena kamu masih penyesuaian diri di sini. Mr.Na, I won't tolerate any other mistakes in the future. Kamu itu asisten saya. Asisten manajer. Harusnya kamu bisa lebih profesional dan lebih cepat beradaptasi sama pekerjaan di sini. Jangan diulang lagi.”

Helaan napas panjang dihembuskan Jaemin tatkala kepalanya memutar memori omelan atasannya tadi pagi. Tatapan nanarnya beralih ketika kepalanya tertunduk. Kedua tangannya yang bertumpu pada dua lututnya kini bertaut di balik kepalanya.

Hembusan angin yang kencang di rooftop gedung tinggi itu tak sedikit pun memberi rasa dingin pada Jaemin. Dirinya yang terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar pada dinding tak pula menyejukkan suasana hatinya.

Ceklek!

Kepala Jaemin sigap terangkat ketika mendengar suara pintu terbuka. Iris matanya melebar saat mendapati sosok pria yang cukup ia kenal tengah berjalan keluar dari pintu tersebut dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Jaemin.

“Loh? Jaemin?”

“Kak Mark? Ngapain ke sini?”

Mark menutup pintu di balik punggungnya, berjalan santai ke arah Jaemin sembari terkekeh. Pun Jaemin hanya menengadahkan kepalanya untuk melihat Mark yang semakin mendekatinya.

“Ga makan siang?” tanya Mark seraya duduk di sebelah Jaemin.

Done it,” jawab Jaemin sambil menunjukkan bungkus hamburger yang ada di sebelahnya.

I see,” desis Mark. Netranya melihat ke Jaemin lekat yang tak lagi membalas tatapannya. “Lagi pusing ya?”

Bahu Jaemin bergidik sekilas. “Perhaps. Lagian yang bikin pusing juga kesalahan aku sendiri. Jadi, aku ngerasa ga pantes buat pusing begini,” jawabnya lemas.

Mark terkekeh, mengundang Jaemin menoleh ke arahnya. Punggungnya bersandar pada dinding seperti yang Jaemin lakukan.

“Justru harusnya kesalahan kita sendiri yang wajib kita pusingin, Jaemin. Kalau kesalahan orang lain, ya bodo amat.”

“Bener juga,” ucap Jaemin lirih.

Jaemin menghela napas berat. Kepalanya menengadah dan matanya tertutup rapat, menikmati paparan hembusan angin pada kulit mukanya.

Don't blame yourself too much, Jaemin. Semua orang pasti bikin kesalahan and it's totally normal. If it's about work, udah sewajarnya kamu bikin salah.”

Dahi Jaemin mengernyit bersamaan dengan netranya yang terbuka. Ia mendelik ke arah Mark dan bertanya, “Kenapa udah sewajarnya?”

Mark menoleh, mempertemukan tatapannya pada mata indah milik Jaemin. Senyuman terulas seraya ia menjawab, “You are a newbie here. Ga ada satupun newbie di sini yang ga bikin salah di bulan pertama mereka kerja, karena pace kerja di sini terlalu beda dengan di tempat lain.”

You're right,” jawab Jaemin. “Terlalu beda, dan aku agak kewalahan.”

See? It's normal, Jaemin. Dulu aku juga kewalahan waktu awal-awal kerja di sini.”

“Oh ya?” Netra Jaemin seketika berbinar menatap Mark. “How was it?”

Sejenak Mark tampak berpikir, mencoba mengingat masa-masa itu. “Hmm, I made a lot of mistakes every weeks,” jawabnya santai.

“Hah? For real?”

Anggukan tergerak pada kepala Mark. “Research is suck, Jaemin. Jadi aku sering banget bikin salah,” jawabnya lagi.

“Gimana akhirnya kamu bisa semangat lagi dan ga down terus-terusan karena kesalahan kamu itu?” tanya Jaemin penasaran.

Mark sempat terkekeh pelan. “Jaemin, I'm a Leo man. Ga ada kata-kata down di dalam kamus hidup aku. Aku selalu berusaha untuk passionate dan ga takut dengan yang namanya 'kesalahan'. Balik lagi kayak aku bilang tadi, semua orang pasti bikin salah, tapi bukan berarti itu jadi penanda kalau kita gagal. Dari berbuat salah, kita justru belajar buat lebih semangat lagi supaya kesalahannya berubah jadi sesuatu benar,” jawab Mark bijak.

I see,” ucap Jaemin pelan. “Aku kayaknya harus punya mindset kayak gitu juga deh.”

As you should, Jaemin. Semangat ya.”

Thanks a lot, kak. Kamu emang beneran orang yang keren dan baik banget,” tutur Jaemin lembut. “Oh, anyways, I'm a Leo man too!”

Seriously?”

Yes!”

Mark dan Jaemin tertawa kecil bersamaan. Mereka pun saling bertatapan sembari melempar senyuman tatkala tawa itu luruh.

Ok, hello, my fellow Leo man. It's nice to see a cute lion here,” ujar Mark.

Kedua alis Jaemin terangkat. Mendengar kata 'cute' yang terucap dari Mark sempat membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

It feels nice as well for having such a great lion to talk here, Kak Mark.”

“Lain kali, kalau ada yang mau diceritain, boleh berbagi sama aku ya, Jaemin. I'm sure, the one who understands a Leo man is indeed another Leo man.”

“Wow, so confident,” balas Jaemin sambil terkekeh pelan. “Sure, kak. Aku mungkin bakal jadi sedikit bawel kalau keseringan curhat sama kamu. Is it fine?”

Mark mengangguk seraya menjawab, “Of course it's fine, cute lion.”


schonewords


Tok tok tok!

“Masuk,” ucap Mark santai tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya—karena tahu yang masuk pasti sekretarisnya.

“Kak Mark, udah waktunya istirahat,” ujar sang sekretaris dari ambang pintu,

Mark mendelik melihat jam di layar komputer. Tatkala ia sadar sudah pukul 12.00 siang, ia pun tersenyum kepada sang sekretaris sembari berkata, “Oke. Kamu boleh istirahat. Aku bentar lagi turun ke kantin.”

“Oke sip, kak,” balas sekretarisnya. “Oh iya, kak, tadi ada pesan dari Kak Ren, katanya dia nungguin kakak di kantin buat makan bareng.”

Alright. Thanks.”

Sigap Mark mematikan komputernya dan membereskan meja. Ia berjalan santai menuju kantin karyawan yang berada di lantai satu gedung besar tersebut.

Here he is!” seru Renjun yang sudah berdiri di depan pintu utama kantin bersama Yangyang.

Sorry, tadi ga sadar ternyata udah jam istirahat.”

“Mark, you're such a workaholic banget. Pantes aja cepet dipromosiin naik jabatan,” cibir Yangyang.

Mark hanya terkekeh mendengar omelan temannya itu. Ketiga pria tersebut berjalan beriringan masuk ke dalam kantin, menuju meja panjang yang sudah menyajikan beragam lauk untuk santapan siang ini. Tatkala sedang melangkah mencari tempat duduk yang kosong, netra Mark jatuh pada Jaemin yang tengah sendirian memakan makan siangnya di sebuah suduh kantin.

Guys, sorry misah dulu ya,” tutur Mark dan segera berjalan terburu-buru.

Renjun dan Yangyang sempat bingung. Kendati begitu, ketika mereka melihat ke mana arah Mark berjalan, dua sahabat baik Mark itu hanya terkekeh pelan.

“Hai, aku boleh di sini?” tanya Mark kepada Jaemin.

Kepala Jaemin menengadah dengan pipi yang menggembung karena penuh dengan makanan dalam mulutnya. Ia mengangguk pelan dan mengerjapkan matanya lucu sebagai tanda untuk mempersilakan Mark duduk di hadapannya.

“Kok sendirian?” tanya Mark lagi.

Jaemin menyelesaikan kunyahannya dan langsung menelan, agar bisa menjawab, “Lagi banyak yang simple lunch di ruangan, soalnya ngejar target hiring.”

I see. Lagi banyak posisi buat recruitment ya?”

“Iya,” jawab Jaemin singkat.

Mark mengangguk paham. Ia sempat memberi isyarat agar Jaemin melanjutkan kegiatan makan siangnya karena ia pun melakukan hal yang sama. Keduanya hanyut dalam keheningan di antara mereka yang sibuk dengan santapan masing-masing.

“Uhuk!” Jaemin tiba-tiba batuk karena tersedak makanannya sendiri.

“Eh? You good?” Mark bertanya dengan panik seraya menyodorkan sebotol air mineral.

Jaemin meneguk air mineral tersebut cukup banyak. Setelah tenang ia mengangguk pada Mark, “It's okay. I'm good...now.”

Oh, ok.”

Alis Jaemin terangkat dan dia terkekeh pelan. “Kamu kelihatan panik banget, kak,” ucapnya.

Sorry? Oh...hehe, iya takutnya kamu kenapa-napa.”

Senyuman terulas di wajah Jaemin dengan sangat manis. Netranya dan obsidian Mark bertemu dalam teduhnya suasana di antara mereka yang mencair.

“Makasih ya, Kak Mark. Kamu emang orang baik banget kayak yang diomongin semua orang di kantor ini.”

Iris mata Mark membulat dan dahinya mengernyit. “Hm? Pardon?” tanyanya bingung.

Jaemin meletakkan alat makannya. Kedua tangannya terlipat di atas meja seraya melekatkan tatapan pada dua manik Mark.

“Banyak banget di kantor ini yang bilang kalau Kak Mark itu orang paling ramah, pinter, dan baik. Katanya, Kak Mark juga bukan orang yang pelit buat bantuin orang lain—terlepas dari Kak Mark kenal atau ngga sama orang itu. Dan...barusan aku udah ngebuktiin sendiri. You are a very nice guy. Kamu duduk di sini, nemenin aku makan, ngajakin aku ngobrol, dan bantuin aku juga tadi. All of them was the very bare minimum things to do, but it meant special for me.”

Mark bungkam. Dua pipinya melukiskan semburat merah muda yang lucu dan pergerakannya menandakan ia salah tingkah.

Kedua tangan Jaemin mengangkat nampan yang terisi piring, mangkuk, dan botol minuman miliknya yang sudah kosong. Seraya berdiri, ia menyempatkan berkata pada Mark, “Kamu kalau baik terus-menerus begini ke aku, bisa-bisa akunya jatuh hati sama semua tingkah laku kamu, kak.”

Pria itu berlalu meninggalkan Mark yang terpaku. Otaknya masih memproses setiap penggalan kata yang Jaemin tuturkan barusan. Saat kesadarannya kembali, Mark menggumam, “Kalau gitu aku bikin jatuh cinta aja sekalian.”


schonewords


Banyak yang bilang, cinta pada pandangan pertama itu hal yang mustahil terjadi. Dominannya orang-orang meyakini bahwa yang terjadi pada pandangan pertama itu hanya perkara suka dan kagum. Rasa sayang tak semudah itu tumbuh, apalagi cinta.

“Namanya Jaemin,” bisik Yangyang tepat di telinga Mark.

Alis kiri Mark terangkat dengan lirikan khasnya kepada sang sahabat. Ia bersikap pura-pura tidak tahu maksud dari Yangyang barusan yang justru mengguggah tawa pria kelahiran Oktober itu.

“Ga usah sok polos gitu. Gue tahu lo dari tadi merhatiin cowok yang rambut coklat itu,” cibir Yangyang dengan suara yang pelan.

“Dia karyawan baru?” tanya Mark.

Gotcha! Pada akhirnya ia penasaran juga. Yangyang pun segera mengulas senyuman dan mencoba mengulum kekehannya.

“Iya, dia HR baru,” jawab Yangyang sikat.

“Oh—”

“Tugas pertama dia sih evaluating your progress, kak,” tiba-tiba Renjun berdiri di belakang Mark dan Yangyang, membuat dua pria itu terperanjat.

“Kok lo ada di sini?” tanya Yangyang.

Renjun memutar bola matanya malas dan menjawab ketus, “Yang bakal dievaluasi itu divisi gue sama Mark, kalo aja lo lupa.”

Yangyang tak kuasa. Ia melepaskan kekehan pelannya dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Naksir, kak?” tanya Renjun santai ketika berhasil memposisikan dirinya berdiri di antara dua sahabatnya itu.

I'm not sure. Mungkin cuma kagum,” jawab Mark santai dengan netra yang tak lepas dari memandangi sosok bernama Jaemin itu.

He's totally your type,” ucap Renjun.

Agree,” timpal Yangyang.

Obrolan singkat mereka segera dihentikan tatkala nama Mark dan Renjun dipanggil untuk mengambil tempat duduk yang telah disediakan di ruang rapat. Kedua pria yang dijuluki 'The Aces of Research and Development' itu sigap duduk menghadap jajaran petinggi Neotech Corps.

*“Mark Lee, selaku ketua tim satu pada divisi Research and Development, dan Huang Renjun, selaku anggota tim satu divisi yang sama, telah menjalani evaluasi dalam beberapa bulan belakangan. Evaluasi terakhir akan dilakukan selama satu minggu ke depan. Hasil evaluasi secara keseluruhan akan dikalkulasikan untuk menjadi penentu mutlak kelayakan promosi jabatan sesuai dengan peraturan yang berlaku di Neotech Corps.”*

Senyuman mengembang di wajah Mark dan Renjun. Mereka sempat untuk saling bertatapan. Keduanya berdiri secara bersamaan untuk sedikit membungkukkan tubuh mereka guna memberi hormat kepada para petinggi.

Tatkala mereka sudah beralih dari ruang rapat, Yangyang menyambut mereka dengan rasa bahagia. Ketiganya saling berpelukan, mengingat persahabatan mereka dan jalan karir mereka yang sudah sampai sejauh ini berkat dukungan satu sama lain.

Anyway, Mark, gue tadi dapat bocoran dari tim HR.”

“Apaan?”

Yangyang semakin mendekatkan diri kepada Mark. Sedikit berbisik, ia berkata, “Jaemin is going to be in charge for your evaluation this week. You'd better pass the evaluation and got his attention within a week.”

Renjun terbahak mendengar ucapan Yangyang, sedangkan Mark hanya menghembuskan napasnya pelan. Kepalanya menggeleng melihat kedua sahabatnya terkekeh.

“Permisi,” sebuah suara yang sangat lembut menginterupsi ketiga pria itu.

Ketika mereka menoleh, netra ketiganya secara bersamaan membelalak. Adalah Jaemin yang berdiri di dekat mereka. Renjun dan Yangyang otomatis melirik ke arah Mark. Dan Mark? Ia terdiam kaku dengan manik yang nyaris enggan berkedip menatap Jaemin, hingga yang diberikan tatapan itu sedikit salah tingkah.

“Iya, ada apa?” tanya Renjun memecah keheningan pasca tersadar Jaemin salting.

“Oh, saya cuma mau kenalan. Berhubung satu minggu ke depan saya bakal banyak berinteraksi sama kalian berdua, jadi saya pikir ada baiknya kenalan dulu,” ucap Jaemin dengan suara yang lembut dan ekspresi ramah kepada Mark dan Renjun. “Saya Jaemin, asistennya Bu Sooyoung—ah, maksudnya asisten manajer HR yang baru.”

Tangan Jaemin terulur dan Renjun sigap menjabatnya. “Hai, Jaemin! Aku Renjun. Aku dengar dari Bu Sooyoung kalo kamu seumuran aku. Jadi, santai aja kalo ngomong sama aku ya, Jaemin. Salam kenal,” balas Renjun tak kalah ramah.

“Iya, Renjun. Salam kenal,” ucap Jaemin. Ia alihkan juluran tangannya ke hadapan Mark yang masih diam. “Salam kenal juga, Kak Mark. Benar kan saya panggilnya 'kak'?”

Mark semakin membatu, kaku, dan lidahnya kelu melihat senyuman Jaemin dengan jarak yang dekat ini. Dapat ia lihat sempurnanya pahatan wajah Jaemin dengan kulit putih mulusnya, bulu mata yang lentik, mata bulat lucu nan teduh, serta bibir merah mudanya.

“Kak,” panggil Renjun lirih sembari menyenggol siku Mark hingga pria leo itu tersadar dan mengerjapkan matanya.

“Oh, iya. Hai, Jaemin. Salam kenal juga and welcome to Neotech. I'm looking forward to working together with you,” ucap Mark menyambut tangan Jaemin dan menjabatnya. Ada sengatan yang menyenangkan di hatinya ketika berhasil menyentuh kulit tangan Jaemin yang sangat lembut.

Sure. It must be nice to work with the aces like you and Renjun. Semangat untuk evaluasi terakhirnya,” balas Jaemin masih tersenyum manis.

Mark mengulas senyuman pula di wajahnya. Tatapan lekatnya bersatu dengan iris mata Jaemin yang membulat lucu seperti manik kelinci.

Please be kind to my last evaluation, Jaemin.”

Sure. If only you give me your best, Mr. Lee.”

Beberapa detik berikutnya Jaemin berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Mark tak henti-hentinya menatap pria manis tersebut hingga punggungnya telah menghilang di balik pintu lift.

“Lepas tu bola mata bentar lagi, Mark,” cibir Yangyang.

“Takutnya jantungnya juga lepas, Yan. Pasti sekarang lagi deg-degan banget habis lihat cowok manis gitu,” timpal Renjun.

Mark terkekeh. Ia tatapan kedua sahabatnya sembari berkata, “Renjun, you're right. He is really my type, and fuck it. I think it's love at the very first sight. Me...to him. I'm sure.”

Pada hari itu, Mark meyakinkan dirinya bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Bukan sekadar rasa suka atau kagum semata, tapi sudah sebuah hasrat yang ingin selalu tumbuh menjadi perasaan yang tulus di kemudian hari. Itulah yang Mark rasakan dan inginkan setelah melihat Jaemin.


schonewords


cw // NSFW, mature content, bxb sex scenes, kissing, hickey, nipples playing, hand job, fingering, anal sex, harsh words, dirty talks


Tangan Daniel tergesa membuka kunci pintu unit apartemennya. Ketika pintu itu berhasil terbuka, ia langsung menarik Regi masuk ke dalam, dan kembali mengunci pintu tersebut dari dalam.

“Dan—gosh, Dani!” jerit Regi.

Saat ini Daniel telah mengangkat tubuh Regi dalam gendongannya. Kakinya melangkah terburu-buru ke arah kamarnya.

“Buru-buru banget sih,” ucap Regi diselingi kekehan dan cubitan pelan pada pipi Daniel.

You make me like this, love.”

Keduanya tertawa kecil hingga tiba di kamar mandi yang berada di dalam kamar Daniel. Si mungil itu diturunkan dengan hati-hati dan dilanjutkan diberi kecupan.

“Bersihin dulu ya, sayang. Kamu pake aja kamar mandi ini, aku pake kamar mandi yang di luar. We'll do it after this, so, please make sure you clean it properly,” ujar Daniel.

Regi mengangguk. Ia sedikit berjinjit dan mengecup bibir Daniel.

Alright, captain. I'll clean it 'til the you being addicted to it.”

“Hahahaha, naughty.”


Pasca membersihkan diri masing-masing, Daniel dan Regi berpelukan di pinggir ranjang sebelum akhirnya Regi kembali berada dalam gendongan Daniel. Tubuh Regi direbahkan perlahan di tengah-tengah kasur dengan seprai bernuansa abu-abu tua. Adapun Daniel berada di atasnya, bertumpu pada dua sikunya yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh Regi.

Wow, you look so damn gorgeous from up here,” kata Daniel dengan suara rendahnya.

Mendengar itu, Regi tertawa geli. Tangannya yang menganggur pun dibawa menangkup dua pipi Daniel.

You too look so fucking handsome and sexy from down here. Please, kiss me, sayang,” pinta Regi sesaat setelah membalas pujian Daniel.

Permintaan Regi langsung dikabulkan oleh Daniel tanpa bersuara sedikit pun. Bibirnya kembali menyapa ranum sang kekasih mungilnya itu. Kali ini cumbuannya tak tergesa. Keduanya tampak sangat menikmati dan melumat dengan perlahan.

Sesekali pagutan terlepas, namun kembali disatukan. Sekarang mulai terasa panas yang membakar napsu keduanya. Daniel menyesap kuat belah bibir Regi secara bergantian. Pun Regi yang mengulurkan lidahnya, meminta agar Daniel menghisapnya sama kuatnya ketika menghisap bibirnya.

“Mmhh,” lenguh Regi merasa perih ketiga Daniel menggigit bibirnya disertai tangannya yang mulai menyelinap masuk ke dalam kausnya.

“Sayang,” panggil Daniel setelah memisahkan pagutan.

“Iya, sayang?”

“Regi sayang,” sekali lagi Daniel menggaungkan nama kekasihnya dengan suara baritonnya. “Sayangku, Regiku.”

Perut Regi tergelitik mendengarnya. Raut wajahnya kini bersemu, menambahkan warna kemerahan pasca berciuman panas tadi.

“Kenapa, Danielku, sayangku?”

Daniel terkekeh pelan dan mengulas senyum. Ia sedikit merunduk guna mengecup bibir Regi yang telah membengkak.

Kepala Daniel menggeleng. “Nothing. I just want you so bad now,” gumamnya.

Just do whatever you wanna do over me now, sayang.”

Suara Regi barusan dalam menuturkan kalimat bak sebuah izin itu sangat menyenangkan masuk ke telinga Daniel. Si gemini itu sempat mengecup dahi kekasihnya cukup lama sebelum akhirnya memutuskan duduk di antara dua kaki Regi yang terbuka lebar.

Pergerakan Daniel berikutnya membuat kedua alis Regi terangkat. Pria kelahiran Juni itu baru saja melepaskan bathrobenya.

May I do the same to yours?” tanya Daniel penuh kelembutan.

Sure, love.”

Maka Daniel pelan-pelan menarik tali bathrobe Regi. Kini tubuh mereka sudah telanjang tanpa sehelai kain pun yang melapisi kulit mereka.

Dua pemuda itu kini tersipu menatap tubuh satu sama lain. Sekalipun sudah bersahabat sejak SMA, nyatanya mereka belum pernah memandang tubuh satu sama lain tanpa sehelai benang pun. Regi terlihat ragu-ragu untuk melihat Daniel. Sebaliknya, Daniel justru menjilat bibir bawahnya ketika matanya bak memindai tubuh Regi dari atas sampai bawah.

“Jangan begitu ngelihatinnya. Aku malu, Dan.”

“Hahaha, sayang, kamu lucu banget,” ucap Daniel dengan kekehannya. “And sexy as well.”

“Gemini sialan, lo! Jangan gitu ah. Malu beneran ini.”

Keduanya tergelak bersama. Ketahui saja, ini caranya Daniel agar mereka berdua lebih rileks.

“Sayang,” Daniel kembali menggaungkan panggilan sayang itu sembari mengungkung tubuh Regi lagi di bawahnya. “If by chance I hurt your body tonight, please let me know.

Hati Regi menghangat, perutnya bagaikan digelitiki ribuan kupu-kupu, dan ia yakin wajahnya semakin merah bersemu. Kedua tangannya semakin mengeratkan pelukan pada leher Daniel sembari mengelus surai coklat kekasihnya itu.

“Aku yakin kamu ga akan nyakitin secuil pun bagian di badan aku. I trust you, Dani.”

Thank you, love. Thank you,” ucap Daniel seraya mengecup kedua pipi dan bibir Regi. “I promise I'll do it gently, Regi.”

Keduanya saling melempar senyum. Mereka menyempatkan untuk mencumbu sesaat sebelum Daniel menurunkan ciumannya ke leher Regi.

“Nghh, Dani...”

Regi mulai membebaskan lenguhannya. Jemarinya menyelip di rambut Daniel, meremasnya pelan tiap kali Daniel menggigit dan menghisap lehernya. Bibir bagian bawahnya ia gigit saat Daniel memperkuat hisapannya.

“Dani sshh it's crazily tickling yet feels good,” racau Regi.

Salah satu sudut bibir Daniel terangkat menciptakan seringaian. Kepalanya menengadah, namun tubuhnya sedikit meringsut turun. Bibirnya berlabuh pada dada Regi yang membuat kekasihnya itu terperanjat merasakan basahnya jilatan Daniel pada putingnya.

“Dan—ahhh...”

Regi merasa tubuhnya bagaikan tersambar aliran listrik. Tak henti-hentinya ia keluarkan desahan tiap Daniel menjilat dengan gerakan memutar di putingnya. Tatkala tonjolan kecil itu dihisap, jeritan kenikmatan pun digaungkan oleh Regi.

“Ahh! Dani, shit!”

Tidak hanya itu. Daniel kini mulai menggerayangi tubuh kekasihnya. Tangannya mengelus perut Regi dengan gerakan yang sensual, menyentuh dua bola kembar si manis itu sekilas, berlanjut mengusap dan meremas paha Regi, hingga berlabuh di kejantanan si aries tersebut.

Damn, Dani, tangan kamu nghhh,” protes Regi dengan susah payah.

“Kenapa tangan aku? Ga boleh aku pegang ini?” tanya Daniel dengan tangannya yang masih bertengger di penis kekasihnya.

Sigap Regi menggeleng. “Boleh, sayang. Aku cuma kaget,” desisnya.

Daniel tersenyum. Maka gerakan selanjutnya, ia remas penis Regi dalam genggamannya, hingga menciptakan erangan lolos dari mulut Regi.

“Ahhh fuck, Dani!”

What? Do you want me to fuck you now?”

“Masih pake nanya.”

“Hahaha, sabar, love.”

Kembali Daniel merangkak sedikit ke atas. Diberinya kecupan pada dahi Regi, berlanjut ke kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya, turun ke bibir serta dagunya. Daniel sempatkan untuk bertukar tatap sejenak dengan mata layu milik Regi. Setelah melemparkan senyuman, Daniel kembali merunduk. Sang gemini pun mencium leher Regi, dilanjutkan lagi ke dadanya, perut ratanya, hingga ia berhenti tepat di depan kemaluan Regi.

“Hnghhh,” Regi melenguh ketika merasakan bibir Daniel mengecup penisnya sekilas.

Daniel duduk bersimpuh lagi di antara kaki Regi. Ia lebarkan dua kaki kurus tersebut dan menekuknya. Netranya terpaku pada kejantanan Regi yang telah menegang sempurna dan lubang analnya yang sudah mulai sedikit terbuka pasca dibersihkan tadi.

“Sayang, mmhh,” Regi tak lagi kuasa menahan desahannya ketika Daniel mulai menjilat batang kemaluannya.

“Hmm,” Daniel menggeram seraya mengulum ujung penis Regi.

Desahan Regi pun kian kuat. Pasalnya, Daniel telah meraup kejantanannya masuk ke dalam mulut si gemini itu.

“Hnggg it's so warm, Daniii.”

Mendengar itu, Daniel semakin semangat. Kepalanya naik dan turun dengan tempo teratur. Tangannya semula menahan kaki Regi yang mengangkang dan tertekuk, namun kini ia letakkan dua tungkai kurus itu di bahunya. Sehingga, tangan Daniel yang terbebas pun mulai mengarah ke pantat Regi.

“Ahhh goddamn, Daniii, kamu nghh...you are really good at this.”

Pujian itu membuat Daniel mengangkat kepalanya. Ia menengadah, bertemu tatap dengan Regi yang tengah menunduk melihatnya.

“Masa sih? Kalo kayak gini, aku masih 'good at this' juga ga, sayang?” Daniel bertanya sembari membiarkan jari telunjuknya menusuk lubang anal Regi.

“Ahh...anjing lo, Daniiii. Hmm it's even better.”

Mendengar pujian yang diawali umpatan itu jelas membuat Daniel terbahak puas. Ia pun meraih botol lubrikan di atas nakas di sebelah ranjang dan segera melumuri jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Aku masukin jari aku ya, Gigi?”

Regi mengangguk. “Satu-satu ya masukinnya, Dan,” pintanya.

“Iya, sayang.”

Jari tengah Daniel menjadi yang pertama dimasukkan. Lubang Regi memang terasa sedikit longgar dan licin yang diyakini Daniel berkat proses 'pembersihannya' yang maksimal.

“Hngghh, Dans, even your fingers aja udah terasa enak.”

“Emangnya ga sakit?”

“Perih sih, but still bearable.”

“Kalo gini?” Pertanyaan itu dilontarkan Daniel diikuti seringaian dan jari telunjuknya yang menyusul menerobos lubang Regi.

“Ahhh! Fuck,” desis Regi.

“Sakit? Atau enak?”

Both, Dans...”

Jawaban itu membuat Daniel perlahan menggerakkan jarinya. Ia keluar-masukkan seraya memperhatikan ekspresi Regi yang menahan perih sekaligus merasakan nikmat.

Untuk beberapa menit, dua jari Daniel bergerak dengan tempo yang kian cepat. Lubang Regi pun mulai terlihat lebih longgar.

Love,” panggil Daniel dan membuat Regi menunduk untuk menatap kekasihnya. “Can I put my dick in now?”

Y-yes, please.

Persetujuan dari si pemilik tubuh seksi itu segera Daniel indahkan. Jemarinya dikeluarkan dari lubang Regi seraya matanya menatap lubang yang memang terlihat lebih mampu dimasukkan penisnya nanti.

Sigap Daniel meraih kondom, menyobek bungkusnya dengan gigi, dan mulai mengenakannya pada kejantanannya yang sudah membesar dan tegang. Tak lupa cairan pelumas dilumuri di sana dan pinggiran lubang amal Regi. Pemandangan menggoda itu diperhatikan oleh Regi secara saksama. Tanpa sadar, Regi menggigit bibir bawahnya sambil menatap fokus pada kemaluan kekasihnya.

“Hahaha, Gigi, do you want it to be inside you so bad?”

Pertanyaan dari Daniel langsung ditanggapi dengan anggukan cepat oleh Regi. Suaranya yang serak akibat banyak mendesah tadi pun terdengar pelan untuk berucap, “Mau, Dani. Mau banget.”

Daniel menyeringai dan mengungkung tubuh Regi di bawahnya. Wajah mereka sejajar, netra terpaku pada obsidian satu sama lain, dan bibir berjarak tipis.

I just knew that you're really naughty on the bed, sayang.”

Regi tergelak kecil. Dengan suara yang mendayu ia berkata, “I also just knew that you're so good about sex and teasing me.”

Keduanya terkekeh kecil. Detik berikutnya Daniel mencium bibir Regi, menyesapnya pelan untuk diberi lumatan lembut. Selagi bibir mereka tengah bercumbu, tangan Daniel mulai mengarahkan penisnya ke arah lubang anal Regi.

“Hmphhh!” erangan Regi teredam dalam ciuman.

Pinggul Daniel terus bergerak maju, mendorong hingga penisnya tertanam sempurna di dalam lubang Regi. Sontak Regi melepaskan ciuman dan melepaskan jeritannya.

“AHHH! Ssshh sakit, Dani...”

“Ssstt, sayang, maaf. Sakit banget? Perih ya?”

Regi mengangguk. Daniel pun sigap merengkuh tubuh Regi, mengusap pinggang rampingnya dan sesekali memberikan tepukan pelan pada pantat sang kekasih. Kejantanannya dibiarkan diam dahulu guna membiasakan lubang Regi menerima benda besar itu di sana.

I hurt you, did I? I'm sorry, sayang,” bisik Daniel tepat ditelinga Regi.

No, you didn't! Sakit begini wajar, sayang. Bentar lagi juga hilang.”

“Humm,” Daniel bergumam dengan wajahnya yang tenggelam di ceruk leher Regi.

“Coba kamu gerakin, Dan.”

“Sekarang?”

“Iya. Gerakin pelan-pelan biar terbiasa.”

“Oke.”

Perlahan pinggul Daniel bergerak. Ia tarik penisnya keluar dan kembali ia masukkan lagi. Dilakukannya ini beberapa kali dengan tempo yang teratur dan tentunya masih pelan.

“Hahh...Dani...”

“Ya, sayang? Mulai enak?”

“Iyaahhh.”

“Boleh agak aku cepetin sekarang?”

Go ahead, love.”

Gerakan pinggul Daniel mulai agak cepat. Erangan Regi pun semakin terdengar lebih bebas dan menyiratkan kenikmatan.

“Nghh ahh, Dansss, faster...”

Daniel mengangkat tubuhnya. Ia tumpukan tangannya di dua sisi kepala Regi. Diperhatikannya wajah Regi yang merah, berpeluh, dan matanya yang sayu. Belum lagi bibirnya yang bengkak kini terbuka guna terus meloloskan desahan.

“Dani...Dani...fuck enak banget hnghh.”

“Sshh, Gigi, your hole is so tight.”

“Mmhh it grabs your dick so hard, huh?”

Yesss ahhh and I like it.”

“Hnghh then put it in much deeper, sayang. Please...”

“Siap laksanakan, sayangku.”

Daniel pun langsung menusuk lubang Regi lebih dalam. Ujung penisnya kini menyentuh prostat Regi, menciptakan rasa geli dan nikmat yang membuat Regi meraung kuat.

“AHHH! Yesss yesss lagi di situ, Dannn.”

“Gini, sayang? Sedalem ini?” tanya Daniel seraya menusukkan penisnya lebih dalam.

“Hahhh iyaahhh, sedalem itu, nghhh enak banget, Dan!” rintih Regi merasakan titik kenikmatannya dihajar berkali-kali oleh Daniel.

Keduanya saling bertatapan. Pergerakan pinggul Daniel pun semakin cepat hingga tubuh Regi terhentak hebat. Tangan Regi meremas bahu Daniel sebagai pelampiasan, dan Daniel kini kembali menghisap puting Regi sekuat mungkin.

Holy shit! Dan, ahhh aku ga bisa nahan lagi. Aku mau keluar.”

Mendengar itu, Daniel langsung membawa tangan kanannya meraih penis Regi. Dikocoknya kemaluan sang kekasih yang memang sudah terasa membesar dan kian tegang.

“Dani...Dani...nghh,” Regi terus meneriakkan nama kekasihnya.

“Iya, sayang. Sayang mau apa? Sayang mau keluar? Iya?”

Regi mengangguk ribut. Desahannya semakin menggema di kamar bersamaan dengan tubuhnya yang mulai lelah dihentak terus-terusan.

Cum now, love. Cum as much as you want until it makes my tummy and thighs dirty.”

Fuck mulut manis kamu itu, Dan. Aku...aku...AHH, DANIIIIH!” Regi menjerit merasakan pelepasannya.

Cairan putihnya menyembur dan benar saja, membasahi perut, tangan, dan paha Daniel. Sehingga Daniel tersenyum tatkala menunduk untuk mendapati cairan kental tersebut sudah menempel di kulitnya.

“Tunggu, aku dikit lagi, sayang.”

Daniel pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia genjot lubang Regi lebih dalam. Ditusuknya prostat kekasih mungilnya itu berulang kali, hingga yang terdengar saat ini adalah raungan kenikmatan Regi serta beradunya kulit mereka.

“Regi...ahhh lubang kamu enak banget. Can I hit your hole in such an often time?”

“B-boleh, sayang. Please break my hole anytime you want. I love it when your big dick inside me like this.

Shit, Regi...hnghh...”

Daniel sampai di puncak kenikmatannya. Kepalanya sempat menengadah ketika spermanya menyembur. Detik berikutnya ia jatuhkan tubuhnya di atas badan Regi, masuk dalam rengkuhan si mungil itu.

“Padahal pake kondom, tapi berasa anget, Dan.”

Suara kekehan lolos dari mulut Daniel tepat di telinga Regi. Sekilas ia kecup bahu telanjang Regi sebelum mengangkat tubuhnya kembali. Ia tatap Regi di bawahnya, memberikan senyuman yang langsung dibalas manisnya senyuman si aries itu.

Congrats, Mr. CEO,” ucap Daniel.

“Hahahaha. Buat apa?”

“Buat terwujudnya mimpi kamu, buat permulaan yang baik untuk perusahaan kita, and...”

And what?”

Setengah berbisik dan bersuara bariton Daniel menjawab, “And for making me so addictive to your body.”

“Hahahahahaha, oh my God, makasih ya, Pak CTO. Congrats juga untuk kesuksesan peluncuran startupnya. Also congrats for making me want to do it again,” ucap Regi sambil mengedipkan salah satu matanya.

Alis Daniel terangkat dan ia menyeringai. “Another round?” tanyanya dengan menggoda.

Yes, please.”

Dan sepasang kekasih itu melanjutkan kegiatan panas mereka hingga pukul dua dini hari. Malam yang panjang dan panas sebagai bentuk selebrasi keberhasilan langkah awal dari startup mereka.


schonewords