Aquamarlynn

Hi this is Aquamarlynn who's love pink

milbbang

rate t+ (cw; kissing)

When you diajak bukber sama temen-temen SMA lu dan harus ketemu mantan. Atau malah lebih dari sekedar ketemu?


Bulan April, tanggal tiga. Hyunjae dan keluarganya mulai puasa. Hyunjae mulai disibukkan dengan kegiatan Ramadhan. Pulang ngampus, bantu-bantu ibu bikin takjil buat disimpan di pinggir jalan, habis itu bantu ibu masak dan akhirnya buka puasa bersama keluarga tercinta di rumah.

Setiap hari selalu begitu. Sampai masuk pertengahan puasa. Hyunjae tidak keberatan rasanya dilelahkan dengan kegiatan bantu-bantu ibu selama Ramadhan, daripada kelaparan nunggu bedug, mending cari pengalihan diri, yaa meskipun makanan ibu seringkali bikin Hyunjae harus ekstra tahan diri.

Hyunjae tersenyum manis sambil menaruh banyak sekali bungkus kopyor diatas meja yang sengaja ditaruh dipinggir jalan. Biasanya, akan banyak driver ojol atau anak-anak yang sengaja ngabuburit sekitar sana, yang akan mengambil takjil gratis buatan ibunya.

Hyunjae tersenyum ramah sambil sesekali membantu orang-orang mengambil takjil yang tersedia diatas meja, hingga setengah jam selanjutnya, semua kopyor diatas meja telah habis. Hyunjae membuang semua sampah yang berserakan dan menyimpan meja, kembali masuk kedalam pekarangan rumahnya, sampai suatu ketika, seseorang menepuk pundaknya sambil berteriak semangat, “Hyunjae!! Wehh bagi-bagi takjil gratis nih!”

Hyunjae menoleh, mendapati Kim Mingyu, salah satu teman SMA-nya tersenyum ramah padanya, “Eh Gyu. Iyaa nih. Sayang banget kehabisan lu”

Yah.. gak apa-apa deh, next time lewat sini lagi semoga kebagian ya.”

Sering-seringlah mampir sini, gak terlalu macet kok, kecuali kalau masuk jam lima dah tuh macet banget jalan sini”

Mingyu mengangguk sambil tersenyum, “by the way, Jangjun ngajak bukber nih minggu, keluarganya buka usaha kuliner katanya, kita disuruh makan disana sekalian promosi gitu. Cuma ini belum bikin grupnya, yang grup awal banyak yang left soalnya, jadi kayaknya harus bikin baru dah”

Hyunjae bertepuk tangan heboh, “wahh kecee boleh tuh boleh. Invite gue ya jangan lupa. Nanti gue invite juga Eunwoo, Jungkook sama Jacob soalnya nomor mereka pada baru.”

Mingyu berseru semangat menyetujui perkataan Hyunjae, lalu segera pamit karena hari semakin gelap dan mendekati waktu adzan.


Menjelang malam, akhirnya Hyunjae merebahkan dirinya sambil santai-santai buka handphone, scroll tiktok dan Twitter, terus aja bolak-balik. Sampai akhirnya notifikasi handphonenya memunculkan banyak chat berupa ajakan bukber dari teman-teman SMAnya. Rupanya, Mingyu benar-benar sudah memasukannya kedalam grup.

Jemari Hyunjae langsung cekatan mengetikkan beberapa kata disana, terlebih lagi setelah memasukkan Eunwoo, Jacob dan Jungkook, suasana di grup itu semakin ramai. Semua orang pada tanya-tanya kabar, lumayan lama juga soalnya gak berkabar kayak gini, semuanya sudah pada sibuk masing-masing.

Hyunjae terbuai dalam kegiatannya, sampai ada satu nama yang sukses menghentikan degup jantungnya.

Kim Younghoon, mantan kekasihnya

Milcob oneshoot AU ❗⚠️ : skinship, harsh word, bxb

Special request from my baby zien, milcob lucu-lucuan


kak Hyunjae, ayo antar aku ke Alfamart!”

Suara cempreng yang memekik milik adik kecilnya itu sukses membuat Lee Hyunjae yang sedang menikmati rebahan siangnya terusik. Ia menutup telinga lalu mengubah posisi menyamping membelakangi adiknya yang masih rewel mengoceh minta diantar.

Kak Hyunjae ih ayo bangun, antar aku ke Alfamart!”

Zien berisik, aku baru santai tau!”

Zien, Lee Zien adik bungsu Hyunjae itu mencebikkan bibirnya beberapa centi sambil memukuli pundak kakaknya yang tak juga beranjak. “zien ih, sana ah sama Juyeon aja!”

Kak Juyeon lagi antar mama, tau! Makanya jangan main terus”

Hyunjae memutar bola matanya malas dengan bibir melengkung mengejek adik bungsunya yang sibuk mengomel tentang dirinya yang hobi keluyuran.

Kak Hyunjae ayo dong ih, aku gak berani nyebrang jalan besarnya kalau sendirian”

Hyunjae akhirnya bangun sambil meremas bahu Zien gemas dan memasang muka super duper masam yang tak bisa tertahan, “bawel!”

Aku traktir rokok deh kalau mau, yuk”

Tunggu disini, kakak pake jaket dulu”


Namanya Lee Hyunjae, pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang baru lulus kuliah dan masih mencari kerja. Anak kedua dari empat bersaudara, kakaknya Lee Sangyeon adalah anggota Brimob, adiknya Lee Juyeon tengah menempuh pendidikan semester lima jurusan teknik, dan adik bungsunya Lee Zien duduk di bangku menengah atas.

Kehidupan keempatnya biasa saja, banyak bertengkarnya seperti adik kakak pada umumnya saja lah ya. Bertengkar berebut makanan, perhatian ibu, uang jajan dari ayah, dan hal-hal kecil lainnya yang membuat suasana rumah ramai.

Lee Hyunjae adalah kakak paling jahil, baik Juyeon maupun Zien akan menyetujuinya. Hyunjae ini tengil dan banyak tingkah, menyebalkan dan cerewet. Tapi itu dulu, soalnya dua bulan belakangan ini, setelah lulus kuliah dan sibuk cari kerja, kakaknya gak lama putus dari kekasihnya, ceritanya masih galau gagal move on. Atau mungkin belum mencoba move on.

Zien mengenalnya, sosok mantan kekasih kak Hyunjae yang tiga tahun menemani langkah-langkahnya, tak pernah membiarkan Hyunjae sendirian setiap hari. Pribadi yang ramah dan pecinta anak-anak. Yang selalu tahu dan cekatan, yang senang hati membantu zien mengerjakan pr dan tugas, yang pandai bernyanyi dan bermain gitar, yang pandai memasak dan membuat lagu. Zien menyukai kakak Jacob, mantan pacar kakaknya.

Zien, juyeon dan kak Sangyeon bisa dibilang team sukses, pendukung nomor satu Hyunjae jacob, meski sayang kisah cinta mereka harus kandas karena kesalahpahaman, dan kakaknya gak bisa move-on, atau mungkin belum bisa move on.

Sesampainya di Alfamart, Zien mendorong pintu masuk dan bergegas mengeksplorasi rak yang berjejer, tangannya mencomot satu persatu barang yang ia butuhkan. Zien berjongkok cukup lama di rak bahan-bahan dapur, menimang dan memilih tepung merk mana yang akan dibelinya.

Hyunjae membenarkan letak maskernya dibelakang punggung adiknya, sesekali menguap dan membuang pandangannya ke segala arah, cukup bosan mengintili adiknya yang berjalan kesana-kemari mencari bahan-bahan praktikum untuk ekskul tata boganya.

Kak, daripada diem mending beliin mentega sama keju, cheddar satu, quickmeal satu, sama satu lagi kalau ada selai nanas buruan nanti aku traktir rokok atau minuman dingin”

Hyunjae mendecak sebal mendengar zien menyuruhnya mengambilkan bahan-bahan lainnya sambil mendorong kakinya yang berat untuk melangkah, dengan hati yang masih dongkol, ia berjalan ogah-ogahan menuju rak yang dimaksud di dekat pintu masuk. Matanya menelusuri satu persatu produk olahan susu itu pelan-pelan, memilih produk yang mana yang cocok dengan harga yang ekonomis. Hingga aktivitasnya terhenti saat tak sengaja Hyunjae menurunkan maskernya dan mencium aroma wangi yang memabukkan yang sangat amat nyaman ia ciumi. Kepalanya menoleh guna mendapati seorang pramuniaga Alfamart yang tengah membereskan rak roti dan telur di sampingnya.

Hyunjae tersenyum dibalik maskernya, sekali lagi ia hirup dengan dalam wangi parfum yang enak yang menyapa penghidunya. Kaki Hyunjae bergeser setelah mengambil keju cheddar dan quick melt sesuai pesanan, curi-curi mendekat untuk kembali menghirup wangi mas-mas pramuniaga didekatnya. Hyunjae membenarkan letak maskernya dan pura-pura memilih selai saat dirasa pramuniaga itu bergerak hampir menoleh ke arahnya. Hyunjae dengan kikuk mengambil satu toples selai nanas dan kembali menurunkan sedikit masker medis yang ia kenakan. “Keren banget wangi parfumnya selera gue banget dah. Masnya pake parfum apa ya...”.

Hyunjae kembali berpura-pura memilih barang disekitar sana, kembali bergeser untuk menghapus jaraknya dengan mas-mas pramuniaga dengan wangi parfum yang amat ia sukai.

Pramuniaga itu masih sibuk membereskan rak roti dan telur, mengganti produk expired dengan produk baru, hingga akhirnya Hyunjae menatapinya diam-diam, seperti cukup familiar dengan perawakannya meski tak yakin seratus persen tentang siapa yang ada didepannya, namun Hyunjae yakin mungkin saja ia mengenalnya.

Alih-alih menyapa untuk memastikan, rasa penasaran Hyunjae terhadap parfum yang dikenakannya jauh lebih memicunya. Hyunjae akhirnya dengan mantap berani basa-basi untuk sekedar bertanya parfum apa yang mas-mas ini kenakan, Hyunjae dengan sikap sok kenalnya akhirnya mencolek bahu pramuniaga itu sambil memanggil dengan lembut dan sopan, “permisi... Mas boleh peluk?”

DAMN LEE HYUNJAE!

Alih-alih bertanya merk parfum atau rasanya, mulut Hyunjae yang tak dapat di kontrol itu malah mengucap hal lain yang aneh dan memalukan, ia segera tertawa meminta maaf sambil memukul bibirnya yang berani berbicara sembarangan pada orang asing.

Pramuniaga itu tertawa kecil sambil merentangkan tangan, membuat Hyunjae lebih mati gaya dan semakin membungkuk meminta maaf.

Lho, aku gak sadar daritadi rupanya kamu Hyunjae ya?”

Hyunjae yang masih anteng membungkuk meminta maaf itu akhirnya mendongak, mendapati Bae Joonhyung atau Bae Jacob ㅡmantan kekasihnya menurunkan maskernya dan tersenyum.

Damn Lee Hyunjae! Mas-mas pramuniaga dengan parfum wangi ini mantan lo!! Rutuknya dalam hati. Hyunjae tertawa kikuk sambil balas menjawab sapaannya, “kok bisa disini jadi pramuniaga?”

Ah, kebetulan aku kepala tokonya sekarang, salah satu pramuniaga ku harus pergi ke office setor laporan, dan aku gantiin dia buat pajang barang dan tarik yang expired. Belanja apa tuh? Keju dan selai nanas?”

Hyunjae tertawa kecil, “Zien praktik buat ekskulnya, Jac”

Oh sama zien, wah udah lama gak ketemu ya..”

Haha iya, semenjak putus aja deh pokoknya ya” dan setelahnya keduanya jadi canggung dengan tawa hambar yang memelan.

Hyunjae menggaruk tengkuknya sambil menunduk sedikit, bertemu dengan mantan kekasih yang masih ia sayangi sekarang, justru membuat Hyunjae semakin susah move on dan ingin berteriak memberontak bahwa dirinya tak ingin putus, apa yang Jacob tangkap tentangnya semuanya salah paham. Apa yang menjadi sebab retak hubungan mereka hanyalah salah paham.

Hyunjae, jam empat sore bisa kesini lagi gak?”

Hyunjae menoleh sembari menaikan alisnya cukup ragu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jacob, “kalau gak bisa gak apa-apa sih..”

Boleh aja, kenapa?”

Kebetulan shift aku kelar jam segitu, aku.. ada yang mau aku sampaikan ke kamu sebenarnya”

Hyunjae menatap netra Jacob lurus dengan teduh lalu ia mengangguk meski diliputi gugup, dan detik selanjutnya ia mendapati Jacob pamit dari hadapannya sembari mengambil satu peti penuh makanan expired yang sedari tadi di tariknya dari etalase.

Hyunjae boleh berharap, kan? Hyunjae tertawa hambar tanpa suara. Ia benar-benar merindukan Jacobnya


Sesuai janji, pukul empat Jacob bergegas pulang, ia menemukan sosok Hyunjae yang masih dengan setelan yang sama sejak terakhir mereka berjumpa tadi, Jacob melambai lalu menyodorkan kopi kaleng dingin pada pemuda didepannya. “duduk disini atau mau ke taman di seberang?” Hyunjae membuka suara terlebih dulu yang dijawab dengan ajakan pergi ke taman untuk berbincang.

Keduanya berjalan beriringan, rasanya degup jantung ini masih sama meski ada sedikit rasa getirnya. Hyunjae belum bisa sempurna melupakan Jacob yang selama ini masih mengisi hatinya, dan ia berharap Jacob juga merasakannya. Jatuh cinta, masih jatuh cinta. Selalunya sama seperti dua tahun ke belakang.

Apa kabar, Je?”

Aduh jangan panggilan Jeje itu lagi, please”

Baik, cobie. Kamu? Aku baru tahu kamu kepala toko Alfamart sini”

Belum lama soalnya, baru sebulan lalu” Jacob membuka segel kopi kaleng itu lalu menenggaknya hingga setengah. “Udah kerja dimana sekarang?”

Masih lamar sana-sini, terakhir aku lamar jadi polisi juga. Kemarin udah test, bulan depan kalau lulus test lainnya lagi..”

Lho, mau jadi polisi? Aku kira masih mau kejar BUMN kayak cita-cita kamu biasanya..”

Hyunjae menunduk dan tertawa getir. Damn, Jacob Bae dan segala ingatannya.

Ya, kalau keteima CPNS sama lamaran lain ada panggilan sih ayo aja, apalagi kalau disitu passion aku kan?”

Jacob mengangguk lalu menunduk menatap sepatunya. “Tujuanku kesini ngajak kamu ngobrol sebenarnya mau minta maaf sih, Je”

Hyunjae diam membisu menerka apa yang akan dikatakannya. Akan kah memicu rasa sakitnya atau malah membangkitkan harapannya?

Jacob, i swear to God, Maria ㅡ”

I know, Je. I know. Aku tahu Maria bukan siapa-siapa kamu. Poor me, kemakan omongan orang-orang gitu aja. Tanpa mau dengerin penjelasan kamu dulu, padahal kita sama-sama gak sehari dua hari, tapi bisa-bisanya aku lebih percaya omongan Maria sama temen-temennya daripada kamu...”

Hyunjae membuang napas lega.

Maria dan aku gak mabok bareng waktu itu, gak juga kita tidur bareng, Cobie... Aku gak tahu kenapa bisa ada Maria disana waktu itu.”

Jacob mengangguk sambil menggenggam tangan Hyunjae dan sedikit mengelusnya, “maaf gak percaya sama kamu terus minta putus tiba-tiba. Aku bego banget, aku minta maaf”

Hyunjae balas menggenggam tangan Jacob erat, sangat erat hingga Jacob dapat merasakan ada rindu disetiap ujung jari Hyunjae yang menyentuh kulitnya.

Aku masih sayang sama kamu, masih cinta... Bisa balikan, gak, sayang?” Hyunjae menatap Jacob penuh harap, memancarkan ketulusan dan keputusasaan karena memang tak pernah mau mencoba move on. Jacob tersenyum dan menarik tangannya, “aku gak pantes dapat kesempatan kedua buat sama-sama lagi sama kamu... Aku udah keterlaluan, Je”

Aku gak peduli!”

Jacob terperanjat, pecah sudah suara Hyunjae. Ada kilatan penuh amarah dimatanya, meski lebih banyak rindunya. “Jacob, please? Aku gak bisa berhenti mikirin kamu kayak gini, aku gak bisa kayak gini terus tanpa kamu. Balik lagi ke aku ya? Kamu udah denger kan kalau malam itu aku gak pernah ada niatan tidur dan mabok bareng Maria, dan sekarang kamu tahu faktanya kan ... So please, come back to me, baby.”

Hyunjae meraih tangan Jacob untuk dikecupnya pelan-pelan dan Jacob menggigiti bibirnya risau. Apakah ia masih pantas mendapatkan cinta dari pemuda yang telah disakitinya ini? Apa Jacob masih punya muka untuk kembali padanya?

Kasih aku waktu buat maafin diriku sendiri boleh?” Suara Jacob yang lembut itu tertangkap oleh telinga Hyunjae bersamaan dengan suara angin yang menerbangkan dedaunan kering di taman yang sepi sore itu.

Aku.. aku masih malu udah nuduh kamu, udah marah-marah sama kamu, udah putusin kamu juga. Boleh kasih aku waktu kan?”

Jaminannya apa kalau aku kasih kamu waktu dan kamu terima aku lagi? Cobie, aku gak peduli tentang masa lalu kita yang kemarin. Aku mau kita sama-sama lagi buat bikin kenangan baru, di lembar hidup kita yang baru juga”

Jacob tersenyum lalu mengecup pipi putih pemuda berkulit putih didepannya, “iya iya... But please kasih aku waktu ya”

Jawabannya tetep iya kan ? Tetep akan balikan sama aku, kan?”

Jacob tertawa sambil menggeleng tanda ia juga belum memiliki keyakinan sejauh itu yang membuat Hyunjae merengek seperti anak kecil, “ayang mah...”

Tawa pemuda Toronto itu pecah dan akhirnya mengangguk, “iya iya ayo balikan. Aku seneng banget bisa ketemu lagi sama kamu kayak gini dan minta maaf secara langsung”

Yang tanpa ba-bi-bu setelah itu ada pelukan yang terlampau erat mendekap tubuh Jacob di sore itu, dengan perasaan bahagia yang membuncah yang membungkus keduanya, “sekali lagi aku minta maaf ya Hyunjae udah tuduh kamu dan gak percaya kamu dari awal”

Hyunjae mengangguk cuek lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pemuda yang akhirnya menjadi kekasihnya lagi, “mas parfumnya wangi banget boleh peluk?”

Seketika tawanya pecah lagi dan balas memberi peluk, “*ini parfum dari kakakku nanti aku mintain namanya ya”**

Eh gak usah, sekarang kalau mau wangi ini, tinggal peluk kamu aja yang lama, nanti wanginya nempel ke baju aku kok, haha”

Jacob menoyor kepala si tengil agak kencang meski berujung memeluknya juga.

Sore itu, di taman tepi kota, ada Hyunjae yang tak fokus saat mencium aroma parfum yang membelai penghidunya, yang dengan keajaiban kecil malah membawanya kembali bersama seseorang yang pernah mengisi hari-harinya.

Hyunjae harus berterimakasih pada Zien nih, karena kalau tidak pergi mengantar zien membeli bahan praktikum, Hyunjae takkan juga menjumpai kesempatan emas ini. Hyunjae menarik badannya hingga duduk tegak, tersenyum manis pada pemuda yang juga tersenyum padanya, lama-lama jarak keduanya mengikis hingga belah ranum masing-masing menyapa rasa manis dari rasa rindu yang telah lama tak tersampaikan, lewat sebuah ciuman.

Fin

milbbang oneshoot AU!

❗⚠️ : kissing scene, harsh word

Tanggal cantik, tanggal yang pas untuk menghabiskan waktu bersama terkasih.


Akhir Januari lalu, Kim Younghoon dan Lee Hyunjae yang akhirnya selesai melaksanakan KKN, bergegas pulang ke kampung halaman masing-masing, melepas rindu dengan orang-orang rumah, sambil tetap menggarap laporan yang harus tetap di setorkan.

Kim Younghoon dan Lee Hyunjae, adalah sepasang kekasih yang dikenal oleh teman satu angkatannya sebagai “si paling langgeng”, karena pasalnya mereka menghabiskan waktu berdua sebagai sepasang kekasih sudah sejak tujuh tahun lalu. Keduanya kebetulan KKN di desa yang sama, dan lebih banyak bisa menghabiskan waktu bersama juga. Teman-temannya banyak sih yang ceng-cengin, yang ya.. cuma dikasih cengiran lebar aja dari keduanya.

Setelah dua minggu di rumah masing-masing, akhirnya Hyunjae dan Younghoon memutuskan untuk kembali saling bertemu, sekedar mengisi waktu luang sepulang kuliah. Makan di resto baru yang belum mereka kunjungi, jalan-jalan ke tempat-tempat baru, library date, dan mencoba cafe-cafe yang katanya memiliki WiFi kencang untuk mengerjakan tugas. Keduanya masih seperti biasanya. Masih seperti sepasang kekasih pada umumnya. Masih Hyunjae untuk Younghoon seperti hari-hari kemarin. Tidak ada yang spesial. Dan mungkin, memang terkesan biasa saja dan tidak ada yang menarik.

Gaya pacaran mereka katanya gaya pacaran anak SMP. Pasalnya, skinship terjauh mereka hanya sampai ciuman saja.

Ya, Hyunjae memang pemuda yang begitu. Menjunjung tinggi Younghoon diatas segalanya. Lagipula, Hyunjae merasa cukup. Tidak usah yang aneh-aneh lah, katanya. Cukup jadi seperti ini terus pun tak masalah. Pun Younghoon sama seperti Hyunjae. Tak pernah menuntut banyak hal diluar kesepakatan keduanya. Tak pernah minta yang aneh-aneh, tak pernah merasa bahwa Hyunjae harusnya melakukan sesuatu dalam hubungan mereka. Younghoon merasa kehadiran kekasihnya saja sudah banyak memberi warna dan perubahan. Tujuh tahun bersama, bukan hal mudah yang bisa sembarang orang lewati. Banyak kerikil tajam dijalan yang mereka lalui. Maka, kehadirannya sudah cukup bagi Younghoon. Asal tak pernah lepas untuk saling menggenggam dan mencinta, cuma sampai ciuman pun tak masalah baginya. Hyunjae adalah kekasih ideal, yang akan dengan bangga Younghoon pamerkan pada dunianya.

Hari kasih sayang juga dilewati biasa saja. Keduanya berjalan-jalan ke sebuah supermarket besar di kotanya, membeli bahan-bahan masakan titipan ibu masing-masing untuk mengisi stock di dapur, dan membeli coklat juga kue untuk dimakan bersama. Tidak ada kejutan Hyunjae mengetuk pintu dengan buket bunga besar atau apapun yang orang-orang lakukan. Hyunjae itu sederhana, dan Younghoon suka.

Karena yang terpenting bukan apa yang dilakukan olehnya, tapi dirinya sendiri. Katanya.

Prinsipnya sih begitu ya.

Hari ini, Hyunjae bertandang ke rumah sepupunya. Bercerita banyak hal tentang kegiatan KKN, games dan kisah cintanya. Yang tentunya disambut hangat oleh sepupunya itu. Juyeon tertawa saat mendengar hal-hal lucu dan menjawab sekenanya tentang cerita yang dihantarkan.

Terus valentine kemarin ngapain sama kak Younghoon?”

Grocery shopping terus makan coklat sama kue di rumahnya, habis itu nonton film gitu deh.”

Ah elah, dari dulu selalu aja monoton kegiatannya”

Eh yang penting itu sama orang tercintanya, bukan apa yang dilakukannya, tau!”

Basi kak! Kak Hyunjae gak pernah kan kasih gebrakan, gitu-gitu aja. Cupu”

Ya terus harus ngapain emang pas Valentine? Tiap hari juga hari kasih sayang kok”

Aku aja candle light dinner sama Changmin. Aku bawain kado buat dia, wishlist dia selama ini. Terus aku ajak makan makanan yang belum pernah dia coba. Aku ajak jalan-jalan, sorenya sampai malem kita ke pantai, makan malam sama minum dikit. Ciuman deh”

Hyunjae menampar paha sepupunya yang terekspos bebas sambil menggerutu, “ciuman ciuman, enak banget ngambil kesempatan”

Lho, kita sama-sama saling jatuh cinta lagi pas itu. Jadi kita ciuman deh. Tadinya mau lebih, tapi papi Changmin keburu telfon jadi kita pulang. Seenggaknya, setahun sekali itu kalau hubungan bikin moment baru yang berbekas jadi kenangan kak. Biar kita bisa inget-inget lagi debaran jatuh cinta sama pasangan kita. Kalau tiap hari monoton gitu-gitu aja mah, gak ada kesan-kesannya selama pacaran, gak seru!”

Hyunjae mendecak lidah, sambil membuang muka. Sedikit banyak perkataan Juyeon memancing ego dan menggores harga dirinya. Iya juga sih, selama ini hal-hal yang mereka lakukan terkesan biasa saja. Pelukan dan ciuman saja tidak cukup. Meski mereka selalunya masih teringat moment-moment kecil seperti ciuman pertama mereka, pelukan pertama, gandengan tangan pertama, resto pertama yang mereka kunjungi setelah pacaran, menu makanannya, dan hal-hal kecil lain yang tentunya masih membekas jelas di ingatan.

Tapi perkataan Juyeon ada benarnya. Hyunjae harus mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, sedikitnya ia ingin kembali merasakan debaran jatuh cinta itu, seperti tujuh tahun lalu saat ia memutuskan untuk mengikat Younghoon dalam hubungan yang lebih dari teman. “Pacaran sejak SMP jangan sampe hal-hal yang kita lakuin juga kayak bocah SMP. Eh lagian, bocah SMP jaman sekarang udah lebih romantis dari kak Hyunjae kayaknya” lalu setelahnya Juyeon tertawa yang membuat Hyunjae kembali meringis sebal.

Terus gimana, mau gimana ke depannya?”

Hyunjae menyenderkan bahunya pada sofa rumah sepupunya, masih dengan rokok yang menyala terhimpit di kedua jarinya. Juyeon menghembuskan asap rokok sambil menatap sepupunya yang tengah berpikir, “maunya sih serius”

Ya seriusin lah, masa tujuh tahun pacaran ujung-ujungnya gak diseriusin sih kebangetan” Juyeon menekan rokok yang sudah pendek lalu menyesap kopinya pelan-pelan.

Kalau diajak tunangan, Younghoon mau gak ya?”

Kopi itu buru-buru Juyeon telan, kakinya bergerak excited mendengar pertanyaan Hyunjae yang samar. “Maju aja kak! Kak Younghoon pasti seneng diajak serius sama kak Hyunjae”

Ya tapi lulus aja masih jauh, baru juga kelar KKN kemarin.”

Lho ya gak apa-apa tunangan doang, nikahnya nanti aja kalau sama-sama udah mapan, kayak cita-cita kalian itu”

Hyunjae menyesap rokoknya sekali lagi lalu mengepulkan asapnya pelan-pelan sambil menerawang. Hyunjae itu sayang sekali pada sosok pemuda jangkung berkulit putih itu. Tak ada yang tak pernah disyukurinya setelah mengenal Younghoon. Ia sangat memuja kekasihnya. Apa yang ia lakukan, setiap ia bicara, setiap kali ia tersenyum, semuanya Hyunjae suka. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Hyunjae suka. Tak ada yang lain selain Younghoon di hatinya. Meski banyak orang-orang yang mendekat padanya, Hyunjae tak pernah sekalipun berpaling.

Putus nyambung yang pernah mereka lalui semata-mata hanya karena bosan dan pertengkaran karena perbedaan pendapat. Namun setelahnya, mereka akan kembali bersama setelah merenungi kesalahannya.

Jauh dalam lubuk hatinya Hyunjae selalu diliputi rasa takut. Takut Younghoon bosan, takut Younghoon berpaling, takut Younghoon jenuh, dan banyak lainnya yang ia takutkan. Hyunjae takut Younghoon pergi, Hyunjae takut Younghoon meninggalkannya. Hyunjae menggenggam Younghoon terlalu lama dengan cara yang sama, Hyunjae selalu takut bahwa Younghoon bosan hingga akhirnya lepas.

Kak! Malah bengong..”

Hyunjae menoleh ke arah Juyeon lalu mematikan rokoknya. Tangannya meraih air putih dingin lalu meminumnya hingga tandas, “nanti deh dipikirin lagi. Tunangan kan harus izin orang tua dulu. Gak mungkin ayah bunda dilewat, gak mungkin papa mamanya Younghoon juga gak aku mintain restu”

Mumpung tiga hari lagi tanggal cantik, pikirin aja dari sekarang. Izin sama Tante sama om, mau serius sama kak Younghoon, mereka sreg gak sama anaknya, boleh gak kalau tunangan. Pasti kak Younghoon seneng banget sih diseriusin..”

Hyunjae tersenyum kecil lalu mengangguk. Mungkin pulang dari sini ia akan segera bertanya pada kedua orang tuanya.

Ayo genshin lah, keburu makin sore nanti kak Hyunjae diminta jemput Tante, lagi”


Malam hari itu, tepat tanggal dua puluh satu Februari, Lee Hyunjae bilang kalau besok Younghoon harus dandan yang rapi. Semalam, ibunya juga tiba-tiba memesan catering yang entah untuk apa. Sedikitnya membuat Younghoon berdebar gak karuan. Sebab Hyunjae sebelumnya tak pernah begini.

Besok siang aku main ke rumah ya, mau ketemu Bori katanya udah selesai operasi kan? Tapi kebetulan ayah bunda mau ikut juga nih, jadi kamu dandan aja yang rapi” katanya. Younghoon merengut sambil memandang layar handphonenya, “tumben banget sih mau main aja rombongan sama ayah bunda. Pantesan mamaku kemarin pesan catering”

Hyunjae tertawa dibuatnya. Jujur, setelah dari rumah Juyeon hari itu, Hyunjae benar-benar mengatakan niat hatinya pada kedua orangtuanya, yang disambut dengan gembira oleh keduanya. Bunda suka pada Younghoon, dan merasa senang saat anaknya memiliki niat serius setelah tujuh tahun lamanya. Hyunjae berkomitmen untuk mengikat Younghoon dulu sampai akhirnya nanti semakin melangkah pada jenjang pernikahan. Dan ucapannya senantiasa diaminkan.

Maka besoknya, saat Younghoon pergi ke kampus untuk menyerahkan tugas, Hyunjae diam-diam datang ke rumahnya, berbicara pada mama Younghoon tentang niatnya, yang tentu disambut antusias olehnya. Mama Younghoon segera mengabari suaminya, dan restu dari keduanya dikantongi oleh Hyunjae setelahnya.

Biarlah ini menjadi rahasia katanya, Younghoon biar tahu nanti saja.

Ayang, ngantuk ya?”

Hyunjae memperhatikan bagaimana mata kekasihnya semakin sayu dan memberat, beberapa kali kekasihnya terlihat menguap dan hanya fokus mendengarkan cerita Hyunjae tentang kesehariannya. Younghoon tersenyum kecil sambil mengucek matanya, ia mengangguk kecil sambil menarik selimut abu-abunya hingga pipi, “ngantuk, nje. Tapi aku dengerin kok kamu cerita apa tadi”

Hyunjae tersenyum lalu mengangguk, “ya sudah tidur aja ya. Besok siang aku mampir pokoknya. Mau aku bawain apa, hm?”

Younghoon menutup matanya sambil menggeleng, “bawa ayah bunda aja ke rumah, aku kangen main sama mereka.”

Aku bawain kue keju yang biasa itu mau?”

Younghoon mengangguk kecil dan akhirnya tertidur pulas, tanpa mematikan sambungan video call di handphonenya. Hyunjae tertawa setelah mengucapkan selamat malam dan menutup telfonnya. Kekasihnya benar-benar menggemaskan.


Pukul sembilan, rumah Younghoon terasa lebih berisik dari biasanya. Terdengar suara mama menggema di lantai satu rumahnya hingga mengusik tidurnya. Younghoon bangun subuh untuk mengerjakan tugas lalu kembali tidur setelahnya, tapi suara mama di lantai bawah ternyata lebih ampuh dari alarm yang tidak ada efeknya. Younghoon masih dengan piyama yang ia kenakan duduk terbangun dari tidurnya, mengucek matanya membiasakan cahaya masuk. Sampai akhirnya ia menoleh ke arah pintu yang terbuka, “eh udah bangun.. buru turun kata mama”

Kakak kok ada di sini?”

Pulang, mama papa yang minta. Ayo turun buat sarapan, keburu mama yang naik kesini buat bangunin”

Younghoon mengangguk mengiyakan hingga kakaknya menutup pintu dan pergi meninggalkannya. Kakak Younghoon sudah sejak dua tahun lalu mengontrak rumah di kota seberang sebab harus bekerja disana. Memang tak memakan waktu yang terlalu lama sih untuk pulang ke rumah, tapi lebih efisien dan hemat waktu juga jika akhirnya harus tinggal disana. Dan tumben sekali ia pulang. Biasanya sebulan sekali baru akan pulang, itupun saat ada moment moment tertentu atau memang sengaja ambil cuti.

Teriakan kakaknya menggema menyuruhnya turun dan makan, yang akhirnya dengan berat hati Younghoon segera turun menuju ruang makan, tentunya setelah mencuci muka dan menyisir rambut yang acak-acakan.

Lho papa gak kerja? Kok jam segini masih di rumah?”

Younghoon berhenti di depan meja makan menatap heran pada keluarganya yang entah mengapa menjadi lengkap hanya untuk sekedar sarapan di hari Selasa di penghujung Februari ini. Ayahnya tersenyum jahil, “masa papa kerja pas orang tua Hyunjae mau main ke sini sih. Papa juga mau dong ngobrol sama papa Hyunjae. Kita juga mau main golf nanti akhir bulan”

Younghoon menjatuhkan bokongnya di kursi sambil menggedikkan bahunya tak acuh, “kakak juga tumben pulang, kayak tiba-tiba banget”

Lho kan akhir bulan, bisa-bisanya bilang tumben”

Gak tahu ah, aneh aja gitu. Makan apa nih hari ini?wah.. ada roti pisang! Mau dong, ma”

Iya boleh ambil aja, nasi juga makan aja kalau mau, bibi tolong bikinin susu ya empat. Makasih bi...”


Jam sepuluh pagi, Younghoon mengisi mangkok makan dan minum Bori di kamarnya, tangannya tak berhenti mengusap bulu-bulu anjing manis tersebut. Kemarin bori sakit, dan Younghoon sedih karenanya. Tapi melihat perkembangan Bori yang kini sudah sehat dan lincah lagi, Younghoon rasanya tak perlu khawatir.

Anak pinter, toss dulu sama papa! Good job” Younghoon mengangkat bori kedalam pelukannya, tak hentinya dihujani cium dan pujian-pujian padanya.

Kak!! Ada yang pencet bel” Younghoon berteriak saat telinganya menangkap sayup-sayup suara bel dibawah. Kakaknya membuka pintu kamarnya sambil menggerutu, “kenapa gak dibukain sendiri dah kalau denger?”

Yeee kan lagi kasih makan Bori gimana sih. Udah itu cepet bukain ada tamu, tau”

Dan kakaknya dengan terpaksa akhirnya mengalah untuk membuka pintu.

Eh Hyunjae. Masuk masuk, mama sama papa di belakang lagi beresin catering baru sampai.”

Hyunjae diambang pintu bersama kedua orangtuanya akhirnya masuk setelah berjabat tangan dan saling bertanya kabar. Kakak Younghoon mempersilakan ketiganya untuk duduk dan mengambilkan air minum. “Sebentar ya, aku kasih tau mama papa dulu”

Makasih banyak ya kak, jadi ngerepotin gini”

Younghoon yang merasa penasaran tentang siapa tamu yang berkunjung akhirnya menuruni tangga dan sedikit mengintip. Matanya membelalak kaget sebab ternyata kekasihnya benar-benar datang ke rumah dengan kedua orangtuanya. Younghoon berlari kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian, memasang baju yang lebih sopan lagi. Tangannya sibuk merias diri dan mengoleskan lipbalm di ranumnya. Menata rambut dan memakai parfum sambil terus berkaca, menilai penampilannya sendiri. Setelah dirasa cukup rapi dan sopan, akhirnya Younghoon buru-buru turun menghampiri Hyunjae, yang tentunya disambut pelukan hangat dari pemuda September itu, “kok gak ngabarin berangkatnya sih”

Oh iya kelupaan, maaf ya. Nih kue keju sama tadi dikasih buah sama mamanya Juyeon..”

Ih padahal gak usah repot-repot, tau” lalu setelahnya Younghoon menghampiri kedua orangtua Hyunjae, memberi salam dan peluk juga bertanya kabar. Membicarakan hal-hal ringan tentang kuliah dan KKN kemarin, hingga akhirnya kedua orangtuanya datang menyusul ke ruang tengah.

Younghoon akhirnya mengambil duduk di sebelah Hyunjae, sedikit deg-degan karena entah mengapa atmosfer di rumah ini jadi berbeda setelah kedua orangtua Hyunjae datang berkunjung. Ada debaran aneh yang entah datang dari mana, sedikit takut dan ragu-ragu karena katanya hanya akan main saja, tapi kenapa seperti ada niatan lain?

Younghoon menggenggam tangan Hyunjae erat, “nje ini ada apa sih? Katanya mau main... Kok kayak aneh aja gitu kayak beda”

Hyunjae tertawa lalu mengusak rambut kekasihnya gemas, “beda apanya sih? Emang gak boleh ya kita main? Ayah tuh sama papa katanya mau main golf kan akhir bulan? Mereka juga mau main kali, yang, kenapa sih”

Younghoon mencebikkan bibirnya lalu mencoba mempercayai kata-katanya, Hyunjae terlihat asyik bermain bersama Bori, begitu juga kedua orangtuanya yang saling mengobrol. Ada kakak Younghoon juga yang masuk ke dalam percakapan keempatnya, dan Younghoon semakin berdebar dibuatnya.

Kakak Younghoon sudah punya gandengan, kan?”

Ia tersenyum manis sambil mengangguk, “ada Tante, kebetulan teman satu kantor.”

Terus gimana orangnya, cocok?”

Ya cocok cocok aja Tante, akhirnya ada yang pas sama kriteria pacar idaman aku”

Younghoon kini mulai tertarik pada pembahasan orang-orang dewasa disana, bagaimana mamanya bercerita tentang kesehariannya, arisannya, teman-teman satu kompleknya, kegiatan apa yang sedang ia tekuni, dan hal-hal lain yang membuat bunda Hyunjae juga tertarik dan ikut berbagi cerita. Juga kedua kepala keluarga bersama si kakak yang sibuk membicarakan agenda akhir bulan dan tempat golf mana yang ideal untuk disambangi.

Udah siang, makan dulu yuk? Kalian pasti lapar, yuk.”

Younghoon bilangin bibi siapin mejanya ya, kita makan dulu”

Younghoon mengangguk dan pergi ke ruang makan, berbicara pada asisten rumah tangganya. Hyunjae yang menyusul di belakang, dengan jahil melingkarkan tangannya pada pinggang ramping kekasihnya, “cantik banget sih hari ini hmm..”

Apaan dah gombal, ayo makan dulu. Mama beli catering enak nih dari tetangga sebelah.”

Hyunjae mengecup pipi Younghoon dan akhirnya mengambil duduk disebelah kekasihnya.

Makan siang hari itu, rasanya juga sempurna. Dengan kehadiran tamu spesial di rumahnya.


Nak Hyunjae katanya sekarang suka main futsal, ya?”

Iya om. Sekarang suka diajakin gitu sama temen-temen kampus buat futsal. Kadang-kadang hari Minggu nge-gym juga sama mereka.”

Ajakin dong Younghoon nge-gym, dia jarang olahraga nih akhir-akhir ini”

Anaknya gak mau terus om, diajak jogging juga kadang ogah-ogahan”

Jawaban Hyunjae sukses membuat Younghoon memekik kesal sambil mencubit pahanya karena beraninya bongkar bongkar kartu.

Gak apa-apa, bunda tetep suka kok sama nak Younghoon soalnya anaknya baik, rajin, bisa bikin Hyunjae kecipratan rajinnya juga..”

Kepala keluarga Lee siang itu selanjutnya berdehem, “nak Younghoon juga pasti bingung ya sama kedatangan kami kemari tiba-tiba di hari kerja datang rombongan bertiga kesini sambil bawa oleh-oleh itu juga alakadarnya”

Younghoon meremat ujung bajunya, semakin deg-degan karena akhirnya ayah Hyunjae angkat bicara.

Kemarin siang, Hyunjae dateng nemuin mama disini di rumah, gak ada kamu katanya memang sengaja. Terus tiba-tiba minta izin buat bawa orangtuanya buat main ke rumah. Terus ya mama iyain saking senengnya, kan udah lama juga kita gak ketemu sama orangtua Hyunjae ya..”

Younghoon melirik ke arah kekasihnya dengan alis terangkat, seakan meminta jawaban atas apa yang diucapkan mamanya.

Terus, Hyunjae tiba-tiba minta kakak pulang, minta papa libur juga. Ya mama kaget ya kok kenapa tiba-tiba nak Hyunjae minta izin begitu”

Younghoon semakin gugup hingga akhirnya tangan besar Hyunjae menggenggamnya dibawah meja, jempolnya dibawa untuk mengusap punggung tangan kekasihnya, sambil tersenyum manis dan mengangguk, mengkonfirmasi semua perkataan mama Younghoon siang itu.

Jadi sayang, maksud kedatangan kami bertiga kemari, sebenarnya ingin membahas tentang hubungan kalian.”

Deg

Jantung Younghoon seperti berhenti berdetak mendengar perkataan ayah Hyunjae, “m-maksudnya om?”

Hyunjae menarik bahu Younghoon agar menatap kearahnya, “sayang. Kita berdua udah lewatin tujuh tahun bersama, bareng-bareng terus lewatin suka sama duka. Kemarin, pas hari valentine aku gak ngasih kamu sesuatu yang berharga, yang bisa diingat sepanjang perjalanan kita, sampai akhirnya Juyeon ngobrol banyak ke aku yang sedikitnya bikin aku sadar, kalau aku beneran sayang sama kamu, beneran cinta sama kamu, dan gak mau kamu pergi kemana-mana. Aku takut, takut karena selama ini gak pernah kasih kamu sesuatu yang baru, yang belum pernah kita lakuin sebelumnya, atau sesuatu yang bisa bikin kamu bangga punya aku, aku jadi takut kalau kamu bosen sama aku. Tujuh tahun dan aku rasa hubungan kita kan gitu-gitu aja ya, aku juga gak terlalu romantis orangnya, dateng ke rumah kamu mentok bawa martabak atau roti kesukaan kamu... Dan hari ini, tanggalnya cantik, ya kan?”

Younghoon mengangguk patah-patah, keringat dingin mulai membasahi dirinya. Debaran jantung itu semakin tak bisa ia kendalikan, Hyunjae menatapnya serius. Younghoon takut, ia tak bisa menebak apa yang Hyunjae lakukan sekarang.

Nㅡnje... Kamu lamar aku?”

Pertanyaan Younghoon yang terbatas dengan nada lirih itu mengundang senyum dan kekehan geli dari seluruh orang yang menyaksikan, pun dengan kekasihnya yang masih menggenggam tangannya.

Pengennya sih langsung lamar buat nikah tapi kita belum lulus kuliah, baru kemarin kelar KKN. gimana dong, yang? Gak apa-apa kan kalau lamarannya nanti nanti aja kalau kita udah sama-sama mapan, sesuai sama cita-cita kita?”

Younghoon mengangguk pelan masih dengan tatapan polos lugu yang belum bisa membaca situasi.

Tapi aku mau ngajak tunangan, boleh kan?”

Younghoon membelalakkan matanya terkejut setengah mati sambil memukul bahu Hyunjae, “yang bener aja kamu!!?”

Aduh, bener ayang. Aku datang kesini sama ayah bunda mau minta izin buat tunangan sama kamu, aku udah ngobrol sama mama kamu kemarin, sama papa kamu juga, mereka kasih restu, iya kan om Tante?”

Younghoon mendapati kedua orangtuanya mengangguk, “kakak juga udah kasih izin tadi pagi, dan sekarang tinggal kamu... Kamu izinin aku gak buat seriusin kamu? Aku mau ngajak kamu tunangan, yang.. bolehkah?”

Mata Younghoon memanas, ditatapinya netra Hyunjae itu sambil merengek lalu dengan kurang ajar memeluknya terlampau erat, demi Tuhan ia sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya ia memimpikan hal ini akan terjadi, mendapati Hyunjae datang untuk maju ke jenjang serius membuat kupu-kupu dalam dirinya beterbangan tak tentu arah membuat dirinya diselimuti bahagia yang membuncah, “mau... Mau tunangan sama Nje...”

Jawaban Younghoon tak sadar membuat semua orang disana menghembuskan napasnya lega, dan akhirnya kedua kepala keluarga itu berbincang lagi untuk menentukan tanggal dan tempat untuk melaksanakan pesta pertunangannya. Masih dengan Younghoon yang setia memeluk kekasihnya, Hyunjae mengusap pinggang dan punggung Younghoon lembut sambil berterimakasih sebab sudah mengizinkan dirinya menarik Younghoon masuk lebih jauh pada kehidupannya.

Menjelang sore, Hyunjae pergi menemani Younghoon bermain bersama Bori di kamarnya, membiarkan kedua orangtua mereka sibuk dengan agendanya yang belum berubah juga. Saat pintu ditutup, sekali lagi Younghoon menghamburkan dirinya pada pelukan Hyunjae yang terasa sangat aman dan nyaman baginya, kembali menangis terharu terlalu bahagia dengan semuanya yang telah terjadi.

Hyunjae dengan senang hati mengecup pipi dan hidungnya dengan lembut hingga berakhir saling memagut ranum masing-masing. Younghoon mengalungkan tangannya pada leher Hyunjae dan memiringkan kepalanya guna memperdalam ciuman.

Terimakasih banyak, sayang, udah izin aku buat ambil kamu ke jenjang yang lebih serius. Aku takut tadinya kamu gak mau kalau aku minta tunangan secepet ini, kan kita belum lulus”

Nje apaan sih pake boong segala mau main ke rumah, bilang aja mau tunangan gitu kan aku harusnya dandan lebih baik dari ini, masa tunangan aku pake kemeja gini sih”

Hyunjae tertawa sambil kembali memeluk kekasihnya. Keduanya akhirnya rebah diatas kasur tempat dimana biasa Younghoon mengambil foto-foto imut beberapa Minggu terakhir yang dikirimkan padanya. “aku sayang banget sama kamu, tapi kata orang-orang aku kurang romantis, gaya pacaran kita kayak anak SMP, makanya aku kepancing, yaudah aku ngajak tunangan aja, karena aku takut kamu juga bosen sama aku”

Younghoon bangkit dari rebahnya, hingga akhirnya naik ke atas perut Hyunjae dan menangkup pipi kekasihnya sayang, dikecupnya berkali-kali bibir merah menganggur milik kekasihnya itu, biarkan Younghoon yang memimpin ciumannya, batin Hyunjae. Hyunjae dengan senang hati menerimanya.

Aku gak akan bosen pacaran sama hyunjae, apapun yang nje lakuin, semuanya aku suka. Meskipun cuma makan batagor pinggir jalan, aku seneng kok. Apalagi diajak tunangan”

Hyunjae tersenyum sambil menyatukan dahi keduanya, tangannya meraih jemari Younghoon dan menyematkan cincin silver di jari manis kekasihnya.

Cantik banget ya kalau kamu pake”

Younghoon mengangguk menyetujuinya. “cie sekarang punya cincin samaan”

Cieee Younghoon tunangan sama Hyunjae, cieee”

Hahaha akhirnya setelah aku gak bisa tidur semaleman, sekarang aku udah bisa bernapas lega, soalnya kamu mau aku ajak tunangan.”

Janji ya nje, sama-sama terus sama aku. Meskipun aku banyak ngomelnya sama kamu, kamu jangan tinggalin aku”

Iya sayang, aku janji. Kamu juga jangan pergi ya. Aku sayang sama kamu, banget”

Dan hari itu, dua puluh dua Februari 2022 ditutup oleh satu ciuman panjang yang memabukkan. Membiarkan anjing putih di ruangan itu menggonggong kencang meminta perhatian.

Fin

© Aquamarlynn_


Cieee cieee Younghoon tunangan sama Hyunjae cieee

milbbang oneshoot AU!

❗⚠️ : kissing scene, harsh word

Tanggal cantik, tanggal yang pas untuk menghabiskan waktu bersama terkasih.


Akhir Januari lalu, Kim Younghoon dan Lee Hyunjae yang akhirnya selesai melaksanakan KKN, bergegas pulang ke kampung halaman masing-masing, melepas rindu dengan orang-orang rumah, sambil tetap menggarap laporan yang harus tetap di setorkan.

Kim Younghoon dan Lee Hyunjae, adalah sepasang kekasih yang dikenal oleh teman satu angkatannya sebagai “si paling langgeng”, karena pasalnya mereka menghabiskan waktu berdua sebagai sepasang kekasih sudah sejak tujuh tahun lalu. Keduanya kebetulan KKN di desa yang sama, dan lebih banyak bisa menghabiskan waktu bersama juga. Teman-temannya banyak sih yang ceng-cengin, yang ya.. cuma dikasih cengiran lebar aja dari keduanya.

Setelah dua minggu di rumah masing-masing, akhirnya Hyunjae dan Younghoon memutuskan untuk kembali saling bertemu, sekedar mengisi waktu luang sepulang kuliah. Makan di resto baru yang belum mereka kunjungi, jalan-jalan ke tempat-tempat baru, library date, dan mencoba cafe-cafe yang katanya memiliki WiFi kencang untuk mengerjakan tugas. Keduanya masih seperti biasanya. Masih seperti sepasang kekasih pada umumnya. Masih Hyunjae untuk Younghoon seperti hari-hari kemarin. Tidak ada yang spesial. Dan mungkin, memang terkesan biasa saja dan tidak ada yang menarik.

Gaya pacaran mereka katanya gaya pacaran anak SMP. Pasalnya, skinship terjauh mereka hanya sampai ciuman saja.

Ya, Hyunjae memang pemuda yang begitu. Menjunjung tinggi Younghoon diatas segalanya. Lagipula, Hyunjae merasa cukup. Tidak usah yang aneh-aneh lah, katanya. Cukup jadi seperti ini terus pun tak masalah. Pun Younghoon sama seperti Hyunjae. Tak pernah menuntut banyak hal diluar kesepakatan keduanya. Tak pernah minta yang aneh-aneh, tak pernah merasa bahwa Hyunjae harusnya melakukan sesuatu dalam hubungan mereka. Younghoon merasa kehadiran kekasihnya saja sudah banyak memberi warna dan perubahan. Tujuh tahun bersama, bukan hal mudah yang bisa sembarang orang lewati. Banyak kerikil tajam dijalan yang mereka lalui. Maka, kehadirannya sudah cukup bagi Younghoon. Asal tak pernah lepas untuk saling menggenggam dan mencinta, cuma sampai ciuman pun tak masalah baginya. Hyunjae adalah kekasih ideal, yang akan dengan bangga Younghoon pamerkan pada dunianya.

Hari kasih sayang juga dilewati biasa saja. Keduanya berjalan-jalan ke sebuah supermarket besar di kotanya, membeli bahan-bahan masakan titipan ibu masing-masing untuk mengisi stock di dapur, dan membeli coklat juga kue untuk dimakan bersama. Tidak ada kejutan Hyunjae mengetuk pintu dengan buket bunga besar atau apapun yang orang-orang lakukan. Hyunjae itu sederhana, dan Younghoon suka.

Karena yang terpenting bukan apa yang dilakukan olehnya, tapi dirinya sendiri. Katanya.

Prinsipnya sih begitu ya.

Hari ini, Hyunjae bertandang ke rumah sepupunya. Bercerita banyak hal tentang kegiatan KKN, games dan kisah cintanya. Yang tentunya disambut hangat oleh sepupunya itu. Juyeon tertawa saat mendengar hal-hal lucu dan menjawab sekenanya tentang cerita yang dihantarkan.

Terus valentine kemarin ngapain sama kak Younghoon?”

Grocery shopping terus makan coklat sama kue di rumahnya, habis itu nonton film gitu deh.”

Ah elah, dari dulu selalu aja monoton kegiatannya”

Eh yang penting itu sama orang tercintanya, bukan apa yang dilakukannya, tau!”

Basi kak! Kak Hyunjae gak pernah kan kasih gebrakan, gitu-gitu aja. Cupu”

Ya terus harus ngapain emang pas Valentine? Tiap hari juga hari kasih sayang kok”

Aku aja candle light dinner sama Changmin. Aku bawain kado buat dia, wishlist dia selama ini. Terus aku ajak makan makanan yang belum pernah dia coba. Aku ajak jalan-jalan, sorenya sampai malem kita ke pantai, makan malam sama minum dikit. Ciuman deh”

Hyunjae menampar paha sepupunya yang terekspos bebas sambil menggerutu, “ciuman ciuman, enak banget ngambil kesempatan”

Lho, kita sama-sama saling jatuh cinta lagi pas itu. Jadi kita ciuman deh. Tadinya mau lebih, tapi papi Changmin keburu telfon jadi kita pulang. Seenggaknya, setahun sekali itu kalau hubungan bikin moment baru yang berbekas jadi kenangan kak. Biar kita bisa inget-inget lagi debaran jatuh cinta sama pasangan kita. Kalau tiap hari monoton gitu-gitu aja mah, gak ada kesan-kesannya selama pacaran, gak seru!”

Hyunjae mendecak lidah, sambil membuang muka. Sedikit banyak perkataan Juyeon memancing ego dan menggores harga dirinya. Iya juga sih, selama ini hal-hal yang mereka lakukan terkesan biasa saja. Pelukan dan ciuman saja tidak cukup. Meski mereka selalunya masih teringat moment-moment kecil seperti ciuman pertama mereka, pelukan pertama, gandengan tangan pertama, resto pertama yang mereka kunjungi setelah pacaran, menu makanannya, dan hal-hal kecil lain yang tentunya masih membekas jelas di ingatan.

Tapi perkataan Juyeon ada benarnya. Hyunjae harus mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, sedikitnya ia ingin kembali merasakan debaran jatuh cinta itu, seperti tujuh tahun lalu saat ia memutuskan untuk mengikat Younghoon dalam hubungan yang lebih dari teman. “Pacaran sejak SMP jangan sampe hal-hal yang kita lakuin juga kayak bocah SMP. Eh lagian, bocah SMP jaman sekarang udah lebih romantis dari kak Hyunjae kayaknya” lalu setelahnya Juyeon tertawa yang membuat Hyunjae kembali meringis sebal.

Terus gimana, mau gimana ke depannya?”

Hyunjae menyenderkan bahunya pada sofa rumah sepupunya, masih dengan rokok yang menyala terhimpit di kedua jarinya. Juyeon menghembuskan asap rokok sambil menatap sepupunya yang tengah berpikir, “maunya sih serius”

Ya seriusin lah, masa tujuh tahun pacaran ujung-ujungnya gak diseriusin sih kebangetan” Juyeon menekan rokok yang sudah pendek lalu menyesap kopinya pelan-pelan.

Kalau diajak tunangan, Younghoon mau gak ya?”

Kopi itu buru-buru Juyeon telan, kakinya bergerak excited mendengar pertanyaan Hyunjae yang samar. “Maju aja kak! Kak Younghoon pasti seneng diajak serius sama kak Hyunjae”

Ya tapi lulus aja masih jauh, baru juga kelar KKN kemarin.”

Lho ya gak apa-apa tunangan doang, nikahnya nanti aja kalau sama-sama udah mapan, kayak cita-cita kalian itu”

Hyunjae menyesap rokoknya sekali lagi lalu mengepulkan asapnya pelan-pelan sambil menerawang. Hyunjae itu sayang sekali pada sosok pemuda jangkung berkulit putih itu. Tak ada yang tak pernah disyukurinya setelah mengenal Younghoon. Ia sangat memuja kekasihnya. Apa yang ia lakukan, setiap ia bicara, setiap kali ia tersenyum, semuanya Hyunjae suka. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Hyunjae suka. Tak ada yang lain selain Younghoon di hatinya. Meski banyak orang-orang yang mendekat padanya, Hyunjae tak pernah sekalipun berpaling.

Putus nyambung yang pernah mereka lalui semata-mata hanya karena bosan dan pertengkaran karena perbedaan pendapat. Namun setelahnya, mereka akan kembali bersama setelah merenungi kesalahannya.

Jauh dalam lubuk hatinya Hyunjae selalu diliputi rasa takut. Takut Younghoon bosan, takut Younghoon berpaling, takut Younghoon jenuh, dan banyak lainnya yang ia takutkan. Hyunjae takut Younghoon pergi, Hyunjae takut Younghoon meninggalkannya. Hyunjae menggenggam Younghoon terlalu lama dengan cara yang sama, Hyunjae selalu takut bahwa Younghoon bosan hingga akhirnya lepas.

Kak! Malah bengong..”

Hyunjae menoleh ke arah Juyeon lalu mematikan rokoknya. Tangannya meraih air putih dingin lalu meminumnya hingga tandas, “nanti deh dipikirin lagi. Tunangan kan harus izin orang tua dulu. Gak mungkin ayah bunda dilewat, gak mungkin papa mamanya Younghoon juga gak aku mintain restu”

Mumpung tiga hari lagi tanggal cantik, pikirin aja dari sekarang. Izin sama Tante sama om, mau serius sama kak Younghoon, mereka sreg gak sama anaknya, boleh gak kalau tunangan. Pasti kak Younghoon seneng banget sih diseriusin..”

Hyunjae tersenyum kecil lalu mengangguk. Mungkin pulang dari sini ia akan segera bertanya pada kedua orang tuanya.

Ayo genshin lah, keburu makin sore nanti kak Hyunjae diminta jemput Tante, lagi”


Malam hari itu, tepat tanggal dua puluh satu Februari, Lee Hyunjae bilang kalau besok Younghoon harus dandan yang rapi. Semalam, ibunya juga tiba-tiba memesan catering yang entah untuk apa. Sedikitnya membuat Younghoon berdebar gak karuan. Sebab Hyunjae sebelumnya tak pernah begini.

Besok siang aku main ke rumah ya, mau ketemu Bori katanya udah selesai operasi kan? Tapi kebetulan ayah bunda mau ikut juga nih, jadi kamu dandan aja yang rapi” katanya. Younghoon merengut sambil memandang layar handphonenya, “tumben banget sih mau main aja rombongan sama ayah bunda. Pantesan mamaku kemarin pesan catering”

Hyunjae tertawa dibuatnya. Jujur, setelah dari rumah Juyeon hari itu, Hyunjae benar-benar mengatakan niat hatinya pada kedua orangtuanya, yang disambut dengan gembira oleh keduanya. Bunda suka pada Younghoon, dan merasa senang saat anaknya memiliki niat serius setelah tujuh tahun lamanya. Hyunjae berkomitmen untuk mengikat Younghoon dulu sampai akhirnya nanti semakin melangkah pada jenjang pernikahan. Dan ucapannya senantiasa diaminkan.

Maka besoknya, saat Younghoon pergi ke kampus untuk menyerahkan tugas, Hyunjae diam-diam datang ke rumahnya, berbicara pada mama Younghoon tentang niatnya, yang tentu disambut antusias olehnya. Mama Younghoon segera mengabari suaminya, dan restu dari keduanya dikantongi oleh Hyunjae setelahnya.

Biarlah ini menjadi rahasia katanya, Younghoon biar tahu nanti saja.

Ayang, ngantuk ya?”

Hyunjae memperhatikan bagaimana mata kekasihnya semakin sayu dan memberat, beberapa kali kekasihnya terlihat menguap dan hanya fokus mendengarkan cerita Hyunjae tentang kesehariannya. Younghoon tersenyum kecil sambil mengucek matanya, ia mengangguk kecil sambil menarik selimut abu-abunya hingga pipi, “ngantuk, nje. Tapi aku dengerin kok kamu cerita apa tadi”

Hyunjae tersenyum lalu mengangguk, “ya sudah tidur aja ya. Besok siang aku mampir pokoknya. Mau aku bawain apa, hm?”

Younghoon menutup matanya sambil menggeleng, “bawa ayah bunda aja ke rumah, aku kangen main sama mereka.”

Aku bawain kue keju yang biasa itu mau?”

Younghoon mengangguk kecil dan akhirnya tertidur pulas, tanpa mematikan sambungan video call di handphonenya. Hyunjae tertawa setelah mengucapkan selamat malam dan menutup telfonnya. Kekasihnya benar-benar menggemaskan.


Pukul sembilan, rumah Younghoon terasa lebih berisik dari biasanya. Terdengar suara mama menggema di lantai satu rumahnya hingga mengusik tidurnya. Younghoon bangun subuh untuk mengerjakan tugas lalu kembali tidur setelahnya, tapi suara mama di lantai bawah ternyata lebih ampuh dari alarm yang tidak ada efeknya. Younghoon masih dengan piyama yang ia kenakan duduk terbangun dari tidurnya, mengucek matanya membiasakan cahaya masuk. Sampai akhirnya ia menoleh ke arah pintu yang terbuka, “eh udah bangun.. buru turun kata mama”

Kakak kok ada di sini?”

Pulang, mama papa yang minta. Ayo turun buat sarapan, keburu mama yang naik kesini buat bangunin”

Younghoon mengangguk mengiyakan hingga kakaknya menutup pintu dan pergi meninggalkannya. Kakak Younghoon sudah sejak dua tahun lalu mengontrak rumah di kota seberang sebab harus bekerja disana. Memang tak memakan waktu yang terlalu lama sih untuk pulang ke rumah, tapi lebih efisien dan hemat waktu juga jika akhirnya harus tinggal disana. Dan tumben sekali ia pulang. Biasanya sebulan sekali baru akan pulang, itupun saat ada moment moment tertentu atau memang sengaja ambil cuti.

Teriakan kakaknya menggema menyuruhnya turun dan makan, yang akhirnya dengan berat hati Younghoon segera turun menuju ruang makan, tentunya setelah mencuci muka dan menyisir rambut yang acak-acakan.

Lho papa gak kerja? Kok jam segini masih di rumah?”

Younghoon berhenti di depan meja makan menatap heran pada keluarganya yang entah mengapa menjadi lengkap hanya untuk sekedar sarapan di hari Selasa di penghujung Februari ini. Ayahnya tersenyum jahil, “masa papa kerja pas orang tua Hyunjae mau main ke sini sih. Papa juga mau dong ngobrol sama papa Hyunjae. Kita juga mau main golf nanti akhir bulan”

Younghoon menjatuhkan bokongnya di kursi sambil menggedikkan bahunya tak acuh, “kakak juga tumben pulang, kayak tiba-tiba banget”

Lho kan akhir bulan, bisa-bisanya bilang tumben”

Gak tahu ah, aneh aja gitu. Makan apa nih hari ini?wah.. ada roti pisang! Mau dong, ma”

Iya boleh ambil aja, nasi juga makan aja kalau mau, bibi tolong bikinin susu ya empat. Makasih bi...”


Jam sepuluh pagi, Younghoon mengisi mangkok makan dan minum Bori di kamarnya, tangannya tak berhenti mengusap bulu-bulu anjing manis tersebut. Kemarin bori sakit, dan Younghoon sedih karenanya. Tapi melihat perkembangan Bori yang kini sudah sehat dan lincah lagi, Younghoon rasanya tak perlu khawatir.

Anak pinter, toss dulu sama papa! Good job” Younghoon mengangkat bori kedalam pelukannya, tak hentinya dihujani cium dan pujian-pujian padanya.

Kak!! Ada yang pencet bel” Younghoon berteriak saat telinganya menangkap sayup-sayup suara bel dibawah. Kakaknya membuka pintu kamarnya sambil menggerutu, “kenapa gak dibukain sendiri dah kalau denger?”

Yeee kan lagi kasih makan Bori gimana sih. Udah itu cepet bukain ada tamu, tau”

Dan kakaknya dengan terpaksa akhirnya mengalah untuk membuka pintu.

Eh Hyunjae. Masuk masuk, mama sama papa di belakang lagi beresin catering baru sampai.”

Hyunjae diambang pintu bersama kedua orangtuanya akhirnya masuk setelah berjabat tangan dan saling bertanya kabar. Kakak Younghoon mempersilakan ketiganya untuk duduk dan mengambilkan air minum. “Sebentar ya, aku kasih tau mama papa dulu”

Makasih banyak ya kak, jadi ngerepotin gini”

Younghoon yang merasa penasaran tentang siapa tamu yang berkunjung akhirnya menuruni tangga dan sedikit mengintip. Matanya membelalak kaget sebab ternyata kekasihnya benar-benar datang ke rumah dengan kedua orangtuanya. Younghoon berlari kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian, memasang baju yang lebih sopan lagi. Tangannya sibuk merias diri dan mengoleskan lipbalm di ranumnya. Menata rambut dan memakai parfum sambil terus berkaca, menilai penampilannya sendiri. Setelah dirasa cukup rapi dan sopan, akhirnya Younghoon buru-buru turun menghampiri Hyunjae, yang tentunya disambut pelukan hangat dari pemuda September itu, “kok gak ngabarin berangkatnya sih”

Oh iya kelupaan, maaf ya. Nih kue keju sama tadi dikasih buah sama mamanya Juyeon..”

Ih padahal gak usah repot-repot, tau” lalu setelahnya Younghoon menghampiri kedua orangtua Hyunjae, memberi salam dan peluk juga bertanya kabar. Membicarakan hal-hal ringan tentang kuliah dan KKN kemarin, hingga akhirnya kedua orangtuanya datang menyusul ke ruang tengah.

Younghoon akhirnya mengambil duduk di sebelah Hyunjae, sedikit deg-degan karena entah mengapa atmosfer di rumah ini jadi berbeda setelah kedua orangtua Hyunjae datang berkunjung. Ada debaran aneh yang entah datang dari mana, sedikit takut dan ragu-ragu karena katanya hanya akan main saja, tapi kenapa seperti ada niatan lain?

Younghoon menggenggam tangan Hyunjae erat, “nje ini ada apa sih? Katanya mau main... Kok kayak aneh aja gitu kayak beda”

Hyunjae tertawa lalu mengusak rambut kekasihnya gemas, “beda apanya sih? Emang gak boleh ya kita main? Ayah tuh sama papa katanya mau main golf kan akhir bulan? Mereka juga mau main kali, yang, kenapa sih”

Younghoon mencebikkan bibirnya lalu mencoba mempercayai kata-katanya, Hyunjae terlihat asyik bermain bersama Bori, begitu juga kedua orangtuanya yang saling mengobrol. Ada kakak Younghoon juga yang masuk ke dalam percakapan keempatnya, dan Younghoon semakin berdebar dibuatnya.

Kakak Younghoon sudah punya gandengan, kan?”

Ia tersenyum manis sambil mengangguk, “ada Tante, kebetulan teman satu kantor.”

Terus gimana orangnya, cocok?”

Ya cocok cocok aja Tante, akhirnya ada yang pas sama kriteria pacar idaman aku”

Younghoon kini mulai tertarik pada pembahasan orang-orang dewasa disana, bagaimana mamanya bercerita tentang kesehariannya, arisannya, teman-teman satu kompleknya, kegiatan apa yang sedang ia tekuni, dan hal-hal lain yang membuat bunda Hyunjae juga tertarik dan ikut berbagi cerita. Juga kedua kepala keluarga bersama si kakak yang sibuk membicarakan agenda akhir bulan dan tempat golf mana yang ideal untuk disambangi.

Udah siang, makan dulu yuk? Kalian pasti lapar, yuk.”

Younghoon bilangin bibi siapin mejanya ya, kita makan dulu”

Younghoon mengangguk dan pergi ke ruang makan, berbicara pada asisten rumah tangganya. Hyunjae yang menyusul di belakang, dengan jahil melingkarkan tangannya pada pinggang ramping kekasihnya, “cantik banget sih hari ini hmm..”

Apaan dah gombal, ayo makan dulu. Mama beli catering enak nih dari tetangga sebelah.”

Hyunjae mengecup pipi Younghoon dan akhirnya mengambil duduk disebelah kekasihnya.

Makan siang hari itu, rasanya juga sempurna. Dengan kehadiran tamu spesial di rumahnya.


Nak Hyunjae katanya sekarang suka main futsal, ya?”

Iya om. Sekarang suka diajakin gitu sama temen-temen kampus buat futsal. Kadang-kadang hari Minggu nge-gym juga sama mereka.”

Ajakin dong Younghoon nge-gym, dia jarang olahraga nih akhir-akhir ini”

Anaknya gak mau terus om, diajak jogging juga kadang ogah-ogahan”

Jawaban Hyunjae sukses membuat Younghoon memekik kesal sambil mencubit pahanya karena beraninya bongkar bongkar kartu.

Gak apa-apa, bunda tetep suka kok sama nak Younghoon soalnya anaknya baik, rajin, bisa bikin Hyunjae kecipratan rajinnya juga..”

Kepala keluarga Lee siang itu selanjutnya berdehem, “nak Younghoon juga pasti bingung ya sama kedatangan kami kemari tiba-tiba di hari kerja datang rombongan bertiga kesini sambil bawa oleh-oleh itu juga alakadarnya”

Younghoon meremat ujung bajunya, semakin deg-degan karena akhirnya ayah Hyunjae angkat bicara.

Kemarin siang, Hyunjae dateng nemuin mama disini di rumah, gak ada kamu katanya memang sengaja. Terus tiba-tiba minta izin buat bawa orangtuanya buat main ke rumah. Terus ya mama iyain saking senengnya, kan udah lama juga kita gak ketemu sama orangtua Hyunjae ya..”

Younghoon melirik ke arah kekasihnya dengan alis terangkat, seakan meminta jawaban atas apa yang diucapkan mamanya.

Terus, Hyunjae tiba-tiba minta kakak pulang, minta papa libur juga. Ya mama kaget ya kok kenapa tiba-tiba nak Hyunjae minta izin begitu”

Younghoon semakin gugup hingga akhirnya tangan besar Hyunjae menggenggamnya dibawah meja, jempolnya dibawa untuk mengusap punggung tangan kekasihnya, sambil tersenyum manis dan mengangguk, mengkonfirmasi semua perkataan mama Younghoon siang itu.

Jadi sayang, maksud kedatangan kami bertiga kemari, sebenarnya ingin membahas tentang hubungan kalian.”

Deg

Jantung Younghoon seperti berhenti berdetak mendengar perkataan ayah Hyunjae, “m-maksudnya om?”

Hyunjae menarik bahu Younghoon agar menatap kearahnya, “sayang. Kita berdua udah lewatin tujuh tahun bersama, bareng-bareng terus lewatin suka sama duka. Kemarin, pas hari valentine aku gak ngasih kamu sesuatu yang berharga, yang bisa diingat sepanjang perjalanan kita, sampai akhirnya Juyeon ngobrol banyak ke aku yang sedikitnya bikin aku sadar, kalau aku beneran sayang sama kamu, beneran cinta sama kamu, dan gak mau kamu pergi kemana-mana. Aku takut, takut karena selama ini gak pernah kasih kamu sesuatu yang baru, yang belum pernah kita lakuin sebelumnya, atau sesuatu yang bisa bikin kamu bangga punya aku, aku jadi takut kalau kamu bosen sama aku. Tujuh tahun dan aku rasa hubungan kita kan gitu-gitu aja ya, aku juga gak terlalu romantis orangnya, dateng ke rumah kamu mentok bawa martabak atau roti kesukaan kamu... Dan hari ini, tanggalnya cantik, ya kan?”

Younghoon mengangguk patah-patah, keringat dingin mulai membasahi dirinya. Debaran jantung itu semakin tak bisa ia kendalikan, Hyunjae menatapnya serius. Younghoon takut, ia tak bisa menebak apa yang Hyunjae lakukan sekarang.

Nㅡnje... Kamu lamar aku?”

Pertanyaan Younghoon yang terbatas dengan nada lirih itu mengundang senyum dan kekehan geli dari seluruh orang yang menyaksikan, pun dengan kekasihnya yang masih menggenggam tangannya.

Pengennya sih langsung lamar buat nikah tapi kita belum lulus kuliah, baru kemarin kelar KKN. gimana dong, yang? Gak apa-apa kan kalau lamarannya nanti nanti aja kalau kita udah sama-sama mapan, sesuai sama cita-cita kita?”

Younghoon mengangguk pelan masih dengan tatapan polos lugu yang belum bisa membaca situasi.

Tapi aku mau ngajak tunangan, boleh kan?”

Younghoon membelalakkan matanya terkejut setengah mati sambil memukul bahu Hyunjae, “yang bener aja kamu!!?”

Aduh, bener ayang. Aku datang kesini sama ayah bunda mau minta izin buat tunangan sama kamu, aku udah ngobrol sama mama kamu kemarin, sama papa kamu juga, mereka kasih restu, iya kan om Tante?”

Younghoon mendapati kedua orangtuanya mengangguk, “kakak juga udah kasih izin tadi pagi, dan sekarang tinggal kamu... Kamu izinin aku gak buat seriusin kamu? Aku mau ngajak kamu tunangan, yang.. bolehkah?”

Mata Younghoon memanas, ditatapinya netra Hyunjae itu sambil merengek lalu dengan kurang ajar memeluknya terlampau erat, demi Tuhan ia sangat bahagia. Tak pernah sebelumnya ia memimpikan hal ini akan terjadi, mendapati Hyunjae datang untuk maju ke jenjang serius membuat kupu-kupu dalam dirinya beterbangan tak tentu arah membuat dirinya diselimuti bahagia yang membuncah, “mau... Mau tunangan sama Nje...”

Jawaban Younghoon tak sadar membuat semua orang disana menghembuskan napasnya lega, dan akhirnya kedua kepala keluarga itu berbincang lagi untuk menentukan tanggal dan tempat untuk melaksanakan pesta pertunangannya. Masih dengan Younghoon yang setia memeluk kekasihnya, Hyunjae mengusap pinggang dan punggung Younghoon lembut sambil berterimakasih sebab sudah mengizinkan dirinya menarik Younghoon masuk lebih jauh pada kehidupannya.

Menjelang sore, Hyunjae pergi menemani Younghoon bermain bersama Bori di kamarnya, membiarkan kedua orangtua mereka sibuk dengan agendanya yang belum berubah juga. Saat pintu ditutup, sekali lagi Younghoon menghamburkan dirinya pada pelukan Hyunjae yang terasa sangat aman dan nyaman baginya, kembali menangis terharu terlalu bahagia dengan semuanya yang telah terjadi.

Hyunjae dengan senang hati mengecup pipi dan hidungnya dengan lembut hingga berakhir saling memagut ranum masing-masing. Younghoon mengalungkan tangannya pada leher Hyunjae dan memiringkan kepalanya guna memperdalam ciuman.

Terimakasih banyak, sayang, udah izin aku buat ambil kamu ke jenjang yang lebih serius. Aku takut tadinya kamu gak mau kalau aku minta tunangan secepet ini, kan kita belum lulus”

Nje apaan sih pake boong segala mau main ke rumah, bilang aja mau tunangan gitu kan aku harusnya dandan lebih baik dari ini, masa tunangan aku pake kemeja gini sih”

Hyunjae tertawa sambil kembali memeluk kekasihnya. Keduanya akhirnya rebah diatas kasur tempat dimana biasa Younghoon mengambil foto-foto imut beberapa Minggu terakhir yang dikirimkan padanya. “aku sayang banget sama kamu, tapi kata orang-orang aku kurang romantis, gaya pacaran kita kayak anak SMP, makanya aku kepancing, yaudah aku ngajak tunangan aja, karena aku takut kamu juga bosen sama aku”

Younghoon bangkit dari rebahnya, hingga akhirnya naik ke atas perut Hyunjae dan menangkup pipi kekasihnya sayang, dikecupnya berkali-kali bibir merah menganggur milik kekasihnya itu, biarkan Younghoon yang memimpin ciumannya, batin Hyunjae. Hyunjae dengan senang hati menerimanya.

Aku gak akan bosen pacaran sama hyunjae, apapun yang nje lakuin, semuanya aku suka. Meskipun cuma makan batagor pinggir jalan, aku seneng kok. Apalagi diajak tunangan”

Hyunjae tersenyum sambil menyatukan dahi keduanya, tangannya meraih jemari Younghoon dan menyematkan cincin silver di jari manis kekasihnya.

Cantik banget ya kalau kamu pake”

Younghoon mengangguk menyetujuinya. “cie sekarang punya cincin samaan”

Cieee Younghoon tunangan sama Hyunjae, cieee”

Hahaha akhirnya setelah aku gak bisa tidur semaleman, sekarang aku udah bisa bernapas lega, soalnya kamu mau aku ajak tunangan.”

Janji ya nje, sama-sama terus sama aku. Meskipun aku banyak ngomelnya sama kamu, kamu jangan tinggalin aku”

Iya sayang, aku janji. Kamu juga jangan pergi ya. Aku sayang sama kamu, banget”

Dan hari itu, dua puluh dua Februari 2022 ditutup oleh satu ciuman panjang yang memabukkan. Membiarkan anjing putih di ruangan itu menggonggong kencang meminta perhatian.

Fin

© Aquamarlynn_


Cieee cieee Younghoon tunangan sama Hyunjae cieee

Milbbang oneshoot

tag; hybrid!AU, bxb, mention human auctions, kidnapping, violence, mention buying and selling of organ's activity.


Saat matahari mulai naik untuk menyinari bumi, biasanya kamu akan menemukan Lee Hyunjae masih bergelung dengan selimut diatas kasur putih super empuknya. Seharusnya, biasanya begitu. Tapi hari ini pengecualian. Lee Hyunjae, 27 tahun di hari Senin pukul tujuh pagi, sudah sibuk lari-larian kesana-kemari membereskan berkas-berkas penting yang akan diambilnya untuk meeting penting. Membiarkan sesosok laki-laki dengan ekor dan kuping anjing diatas kasurnya masih dipeluk oleh mimpi. Lee Hyunjae terburu-buru mengancingkan kemejanya dan memasang dasi merahnya. Berkeliling untuk mencari kaos kaki dan hal-hal lainnya. Kini, mulutnya dipakai untuk memanggil guna membangunkan si manis yang masih terlelap. Hyunjae memasang jam tangan dan menaruh pantatnya diatas kasur, mengelus pelan-pelan surai Younghoon -hybrid anjing kesayangannya. Dibawanya hidung itu bersentuhan dengan hidung si hybrid yang masih terlelap. Kini tangan itu sibuk mengguncang pelan-pelan tubuh si pemuda berkulit putih porselen yang akhirnya diiringi oleh erangan khas bangun tidur.

Pemuda hybrid itu mengucek matanya, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menusuk penglihatannya. Dilihatnya samar-samar seseorang diatas tubuhnya lalu tersenyum cerah. Terlebih saat Hyunjae akhirnya mengecup dahi, pipi dan hidungnya dengan lembut. “Selamat pagi sayang. Sarapan yuk?” Younghoon mengangguk kecil, merentangkan tangan meminta dipangku, yang tentunya segera diamini oleh Hyunjae. Pemuda hybrid itu telanjang, sepenuhnya telanjang. Dan setelah Hyunjae menggendongnya, tentunya Younghoon didudukkan diatas meja rias, dipasangkan piyama biru muda kesayangannya. Yang tentunya dengan celana yang ramah untuk ekor anjingnya. Setelah selesai mengancingi piyama Younghoon, Hyunjae sedikit menyisir rambut Younghoon yang acak-acakan dan akhirnya keduanya segera pergi ke meja makan.

Nje kemana?” Tentu melihat Hyunjae yang sibuk di jam tujuh lebih tiga belas menit adalah hal yang tak setiap hari Younghoon dapatkan. Biasanya Hyunjae akan berangkat pukul delapan, setelah beres memandikan Younghoon tentunya. Namun hari ini terlihat seperti pengecualian. Hyunjae sejak tadi pagi sudah super duper sibuk, menuai tanda tanya besar dari hybrid kesayangannya.

Hyunjae menaruh roti isi dan susu murni milik Younghoon, mendudukkan dirinya disamping Younghoon yang tentu saja menjadi sasaran empuk bagi si hybrid untuk naik ke pangkuannya, seperti biasa. Younghoon cenderung suka makan dengan posisi dipangku oleh Hyunjae seperti ini, kadang-kadang makan sendiri meski lebih sering disuapi karena Younghoon cenderung suka memainkan makanannya.

Hyunjae sedikit mengerang, waktu yang ia miliki tak banyak karena ada rapat penting yang harus ia hadiri pagi ini. “Boleh tidak kalau Hoonie sekarang makan dan duduk di kursi sendiri? Maksudnya tidak dipangku begini”

Hati-hati. Hyunjae tentu bertanya dengan hati-hati. Takut Younghoon tersinggung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. Younghoon yang sibuk mengunyah roti isi itu mengerjap. Matanya berkedip berulang-ulang dengan wajah polos dan datarnya yang menggemaskan. Hyunjae memekik senang dalam hatinya, memuji betapa indah dan menggemaskan Younghoon yang ia punya.

Kenapa?” Akhirnya si manis bersuara. Dengan kepala yang meneleng karena penasaran. “Nje gak punya banyak waktu sayang, lima belas menit lagi harus segera pergi” Hyunjae mengunyah roti isinya buru-buru, juga meminum susu murninya pagi itu. Younghoon mengerucutkan bibirnya lucu, ia benci sendirian di pagi hari.

Ayolah sayang, jangan sedih begini.. aku titipin kamu ke Jacob kok nanti” jemari Hyunjae mengusap pipi gembil putih si pemuda hybrid. Dan kini dengan jahilnya naik keatas, mengusap kuping anjjng putih yang Younghoon miliki. Membuat Younghoon memejamkan matanya sebab nyaman dengan perlakuan Hyunjae pada telinganya. “Nanti minta dimandikan Jacob ya? Kevin juga pasti belum mandi kok”

Boleh main air kan?”

Hyunjae tersenyum, “coba tanya Jacob nanti ya. Semoga boleh, tapi tolong jangan terlalu lama, ok?”

Younghoon mengangguk semangat. Telinga anjingnya bergerak naik turun dengan gemasnya, mengundang kekehan dari Hyunjae yang masih sibuk memangkunya. Hyunjae kini tak sanggup lagi menahan diri, dibawanya bibir merah miliknya untuk meraup ranum cherry milik si hybrid anjing itu. Menyesap kecil bibir bawahnya, membuat si hybrid terbuai dan meremas bahu Hyunjae setelah memejamkan matanya.

Ya meskipun setelah itu, Hyunjae berpamitan berangkat kerja padanya. Younghoon yang masih dalam tubuh manusianya melambai semangat mengantar Hyunjae sampai ke depan pintu. Hyunjae menangkup pipi chubby itu lalu dikecupinya seluruh permukaan wajah si hybrid dengan manja, Pelipis, pangkal hidung, kedua mata, puncak hidung, pipi kanan dan pipi kiri lalu dagu dan berakhir di puncak ranumnya. Tangan Younghoon senantiasa melingkar di leher lelakinya, tersenyum cerah karena merasa geli dengan segala afeksi yang diberikan. “Jacob udah deket, Hoonie jangan nakal ya. Main sama Kevin aja ya, kalau mau berubah bentuk, kalungnya jangan lupa ya. Jangan keluar rumah kejauhan, kamu buta arah”

Younghoon mengangguk semangat lalu mendusal dileher Hyunjae, merasa akan sangat merindukan pemuda Lee ini karena dia akan sibuk seharian. “Mau steak daging sapi nanti boleh???” Younghoon mengerjapkan matanya penuh harap sambil tersenyum manis mencoba meminta oleh-oleh pada Hyunjae yang dijawab anggukan dan usapan sayang di surai silvernya. “iya sayang nanti Nje belikan ya. Nje berangkat ya? Hati-hati di rumah, selain Jacob dan Kevin tolong jangan dibuka pintunya ya”

Ayay captain!!!!”

Benar saja, Jacob datang lima menit setelah Hyunjae pergi. Dan ia tak sendiri, ada hybrid anjing teman Younghoon disebelahnya, Kevin. Younghoon yang kebetulan tengah berubah bentuk menjadi anjing itu berputar-putar senang saat sahabat Hyunjae datang menemuinya dengan hati angsa segar di kresek yang ia bawa. Younghoon berlari kesana-kemari sambil menggonggong senang, ekornya bergerak excited bersama kupingnya yang bergerak tak kalah heboh. Di sebelahnya ada Kevin yang sekarang ikutan bergerak heboh sambil menggonggong, “iya teman-teman sebentar ya, aku siapkan dulu makanannya. Astaga hahaha heboh sekali” Jacob yang terlampau hapal isi rumah Hyunjae itu bergerak cekatan mengambil dua mangkok makanan anjing dan diisinya dengan hati angsa segar itu, dan tak lupa beberapa Snack tambahan lainnya. Membiarkan kedua hybrid anjing itu makan dengan lahap setelahnya.

Aku isi air mandi dulu ya, jangan ada yang berani sembunyi lho” Jacob beranjak menuju kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat dan mulai menyiapkan shampoo juga peralatan mandi lainnya. Terlampau terbiasa sebab lumayan sering berkunjung dan dititipi begini. Jacob adalah guru seni budaya di salah satu SMA negeri, yang kebetulan seminggu sekali memiliki jadwal daring daripada harus ke sekolah mengajar offline, jadi kadang-kadang Hyunjae memilih menitipkan Younghoon pada sahabatnya itu saat dia sibuk di kantor daripada menitipkan Younghoon pada penitipan hybrid.

Saat jam dinding menunjukan pukul delapan lebih lima belas, kedua hybrid anjing berbeda ras itu akhirnya mandi dan bermain air, masih dengan bentuk anjing mereka. Dengan telaten Jacob menyabuni dan menggosok badan kedua anjing berbeda warna tersebut.

Kevin dan Younghoon terlihat asyik bermain busa dengan bebek-bebek karet yang mengambang. Tangannya tak bisa diam membuat Jacob sedikit lebih kewalahan. “Younghoon kukunya sudah panjang nanti aku bantu potong ya?” Anjing berbulu putih itu menggonggong excited lalu kembali memusatkan perhatiannya pada busa dan bebek yang mengambang.

Ya Jacob sebenarnya tidak pernah keberatan dititipi Younghoon sebab dia selalu akur dengan Kevin, hybrid anjing miliknya.

Siang hari, setelah memotong kuku, mencukur bulu bulu panjang dan mengeringkan badan, Younghoon dan Kevin yang kini berubah menjadi manusia mendudukkan dirinya di ruang tamu dengan puzzle dan alat lukis yang tengah mereka mainkan. Kevin sibuk melukis diatas kanvas, sedangkan Younghoon lebih asyik dengan puzzle yang baru saja Hyunjae belikan. Cuaca cukup panas hari ini, kedua hybrid anjing itu terlihat mengenakan kaos oblong putih dengan celana pendek sepaha didepan kipas angin. Younghoon menggaruk lehernya yang berkeringat lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Jemari jemari lentik itu menarik-narik collar yang mengganggu aktivitas menggaruknya, membuat Kevin mendecak mengingatkan untuk tidak melepasnya sebab Younghoon yang hobi bermain diluar dan bersembunyi akan menyusahkan saat collarnya tidak ia pakai, terlebih lagi jika dalam mode anjingnya. Younghoon mengerucutkan bibirnya lalu beranjak menuju dapur, memakan stock pudding susu yang masih tersisa di kulkas. Ekornya bergerak excited saat mulutnya mengunyah pudding susu coklat itu digenggamnya. Matanya menatap Jacob yang masih sibuk daring bersama murid-muridnya di depan laptop. Kepalanya menggeleng riang dengan kaki yang bergerak acak sebab rasa nikmat yang menyapa Indra pengecapnya.

Telinga anjing Younghoon menegak dan bergerak riang, dari kejauhan sana ia mendengar sayup-sayup suara roda penjual eskrim langganannya. Younghoon berdiri, berlari terburu-buru menuju kamarnya di lantai dua, menimbulkan peringatan halus dari Jacob menyuruhnya untuk hati-hati saat menaiki tangga. Tangan Younghoon sibuk menggeledah laci meja setelah sampai di kamarnya. Mencari-cari dompet atau celengan babi yang selama ini Hyunjae siapkan untuknya. Suara tukang eskrim semakin dekat membuat Younghoon semakin gelisah sebab belum menemukan dompet yang dicarinya. Younghoon semakin merengek dengan kaki yang menghentak-hentak takut ketinggalan. Apalagi suara tukang eskrim yang terdengar kian samar sebab kini semakin menjauh.

Ah ketemu!!!” Younghoon menggenggam dompet cokelat yang Hyunjae khususkan untuknya lalu berlari keluar rumah mengejar tukang eskrim.

Kevin menjerit saat Younghoon melesat keluar rumah tak berpamitan, “MAU KEMANA?!” yang dibalas hanya akan beli eskrim oleh pemuda Kim tersebut.

Younghoon berlari sambil berteriak mengejar tukang eskrim tadi sampai keluar komplek perumahannya. Roda eskrim itu baru berhenti di sekitaran taman bermain di seberang komplek, Younghoon kini asyik memakan dua eskrim di genggamannya dengan tenang. Kakinya yang menggantung diatas tanah bergoyang dengan riang. Younghoon menengadah saat tiba-tiba terdengar suara geludug cukup besar disertai rintik hujan. Younghoon yang masih sibuk dengan eskrimnya akhirnya berlari memasuki terowongan kecil disana untuk berteduh. Dengan gemetar karena takut suara petir yang menyambar, dan kedinginan sebab hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Inginnya berlari menerobos hujan saja untuk pulang, namun kilatan petir diatas sana terlihat sangat mengancam baginya, maka ia hanya bisa bergelung sedih menunggu hujan reda, atau setidaknya mungkin menunggu Jacob dan Kevin datang mencari.

Setengah jam kemudian, hujan tak juga reda, malah semakin besar dan deras, Younghoon yang semakin kedinginan akhirnya merubah dirinya menjadi wujud anjingnya. Bulunya terlihat kuyup dengan kuping turun menyedihkan. Younghoon ingin sekali pulang, ia menggonggong, melolong sedih meminta pertolongan. Memanggil Kevin yang mungkin bisa mendengarnya. Younghoon sangat ketakutan. Ia benar-benar tidak mau terjebak hujan disini selamanya, terlebih lagi hari semakin gelap.


Jacob yang merasa kehilangan Younghoon setelah dua jam kepergiannya yang katanya mencari eskrim itu, akhirnya mondar-mandir tak karuan menelfon Hyunjae diseberang sana agar segera pulang karena kesayangannya hilang. Jacob sudah mencari ke sekitaran komplek, bertanya pada tetangga dan orang-orang yang nongkrong di sekitaran sana, tak ada satupun yang melihat Younghoon. Dalam bentuk anjingnya, atau bahkan bentuk manusianya. Kevin sendiri sudah menangis sedari tadi, sebab si sahabat belum juga ketemu. Tahu akan hilang begini, mungkin Kevin tadi akan menemani Younghoon. Terlebih lagi, hybrid itu buta arah, yang kadangkala tak bisa juga membedakan kanan dan kiri. Jacob memeluk Kevin setelah Hyunjae berjanji akan pulang. Keduanya berdoa agar Younghoon tidak pergi terlalu jauh, terlebih lagi hujan diluar semakin deras.

Gimana bisa ilang sih, cob? Kan gue titip jagain tadi...” Hyunjae yang baru saja datang tak kuasa menahan emosi tertahan yang akhirnya meledak sekarang, pasalnya Younghoon masih belum ditemukan bahkan setelah satu jam mereka menyisir daerah sekitaran komplek. “Gue tadi ngajar sebentar, Kevin bilang Younghoon pergi kejar tukang eskrim, habis itu gak balik lagi, Jae.”

Hyunjae memukul stir mobilnya, Younghoon belum juga ditemukan dan ini adalah malapetaka baginya. Hyunjae sangat menyayangi hybrid maltese itu, ia merawat dan menjaganya sepenuh hati sejak dulu, sejak Hyunjae menemukannya sekarat karena kebodohan orang-orang egois yang menginginkan hybrid untuk kesenangan seksualnya saja. Younghoon adalah hybrid yang ia bawa dari tempat laknat empat tahun silam. Hyunjae yang saat itu mengantar atasannya untuk pergi bermain-main ke tempat pelelangan manusia dan hybrid ilegal di pinggiran kota, akhirnya membawa pulang hybrid maltese yang ditemukan terkapar tak berdaya di depan pintu darurat tempat laknat itu. Dengan badan kurus kering, banyak bekas luka dan patah tulang kaki yang ia derita saat itu, Hyunjae merawatnya sepenuh hati, memberinya kasih dan sayang sebanyak yang ia bisa, Younghoon bukan sekedar peliharaan baginya. Younghoon adalah teman, belahan jiwa, keluarga dan apapun yang sangat berharga yang bisa ia sebutkan dalam hidupnya.

Younghoon takut pada petir, dan juga tidak bisa kedinginan berlama-lama. Hal ini membuat Hyunjae berpikir bahwa pasti Younghoon ada dalam mode anjingnya. Jacob yang duduk setia di kursi sebelahnya juga masih sibuk menyisir jalan mencoba menemukan Younghoon. Kevin yang ada dalam pelukan Jacob sesekali menggerung sedih sebab tak juga mencium keberadaan Younghoon dalam jarak jangkaunya. Hybrid golden retriever itu melolong, memanggil Younghoon disela-sela derasnya hujan, namun tetap nihil. Tak ada sahutan Younghoon yang bisa mereka dengar.

Ketiganya masih sibuk mencari Younghoon kemanapun tempat yang bisa mereka jangkau. Hyunjae dan Jacob turun setelah meraih payung dan memarkirkan mobilnya. Keduanya berlari menyusuri taman bermain di sekitar komplek. Kevin yang masih dalam mode anjingnya menyusuri jalan mengendusi bau Younghoon meskipun terhalang bau hujan. Kevin berlari kesana-kemari sampai berhenti di sebuah terowongan. Kevin menggonggong keras sambil melompat memberi sinyal, dia menemukan sesuatu. Hyunjae yang sedang menyisir sekitaran sana, akhirnya berlari bersama Jacob, mendekat ke arah Kevin dengan deru napas dan degup jantung tak karu-karuan. Keduanya berhenti di depan terowongan, dengan Kevin yang memutari sesuatu yang ia temukan.

Hyunjae mengumpat kencang sambil berjongkok. Itu kalung Younghoon. Collar dengan bandul lonceng berwarna silver yang selalu Hyunjae amanati untuk ia pakai saat berubah bentuk. Dan sialnya, kalungnya jatuh, basah dan kotor. Tentunya tanpa ada tanda-tanda Younghoon disekitarnya.

Kita pulang, petirnya makin gede” Jacob merangkul pundak Hyunjae yang merosot sedih. Rasa takut dan bersalah perlahan melalap habis kewarasannya. Jacob dan Kevin sama sedihnya. Sekali lagi Kevin menggonggong memanggil Younghoon yang siapa tahu bisa mendengarnya. Tapi hari itu, hujan tetap lebih deras menjawab rasa khawatir mereka. Maka mau tak mau, Hyunjae menurut untuk pulang dan akan tetap mencarinya besok. “Semoga Younghoon meneduh ditempat lain” Hyunjae mengangguk lemas sambil berjalan gontai menuju tempatnya memarkirkan mobil. Hyunjae menoleh ke belakang, beberapa waktu lalu Younghoon meneduh di terowongan itu. Hujan dan petir bukan sesuatu yang hybrid itu sukai, pasti ia sangat ketakutan.


Pencarian Younghoon si hybrid maltese yang hilang, belum juga selesai bahkan setelah 48 jam Hyunjae dan Jacob mencarinya. Cuaca lebih cerah hari ini, Hyunjae dan Jacob telah memanggil bantuan, melaporkan hybrid hilang pada organisasi yang biasa membantu menemukan hybrid hilang atau menyelamatkan hybrid terlantar di kota mereka, Hyunjae juga menyebar selebaran tentang Younghoon di penjuru kota. Namun, si kesayangan masih belum jua ditemukan. Kevin dan teman-teman hybrid lain sama sibuknya, mereka menyisir tempat-tempat yang sekiranya bisa dijangkau oleh mereka, namun tak juga ada tanda-tanda bahwa Younghoon ada disana.

Younghoon kan buta arah, Kevin. Gimana bisa kita cari dia semudah itu? Dia bisa aja jalan kemana aja dia mau, kanan kiri juga dia susah bedainnya” itu Chanhee, si hybrid kucing milik kakak Hyunjae yang ikut serta mencari Younghoon bersama Kevin, Changmin dan Juyeon, teman sesama hybridnya. Kevin mendesah lelah, ia juga tidak tahu harus mencari sahabatnya kemana lagi, yang jelas ia sangat ketakutan. Takut Younghoon kenapa-napa.

Gimana kalau berpencar?” Tanya Juyeon, si kucing besar. Yang tentunya dibalas gelengan oleh kedua pemuda hybrid lainnya, “bahaya Ju. Nanti yang ada kita juga yang hilang”

Kita cari lagi sampai perempatan jalan besar, kalau tidak ada kita cari ke arah lain. Jangan berpencar, lagi banyak penculikan anak dan hybrid soalnya” lalu keempat hewan setengah manusia atau mungkin manusia setengah hewan itu berlari kencang menuju perempatan jalan besar. Semoga Younghoon ketemu, doanya.


Menjelang sore, Hyunjae yang lelah mencari kesana-kemari akhirnya merebahkan diri diatas sofa panjang di rumahnya. Ia telah mencari hingga dua kilo meter jauhnya, ia juga telah menanyai tetangganya, menanyai tukang eskrim yang menjadi orang terakhir yang bertemu dengan Younghoon, dan hasilnya tetap tak membawa si maltese manja itu kembali padanya. Hyunjae memijat pangkal hidungnya lelah. Seharian berjalan hingga kaki bengkak dan lecet tak juga menghasilkan kabar gembira. Hyunjae benar-benar ketakutan. Younghoon tak pernah hilang sebelumnya, jika Younghoon tersesat, ia akan segera kembali meskipun memakan waktu berjam-jam. Younghoon memang buta arah, tapi Younghoon setidaknya ingat jalan pulang meskipun samar-samar. Saat tersesat ditempat-tempat ramai, biasanya Younghoon akan meminta bantuan pada orang-orang sekitar. Namun sepertinya kali ini Hyunjae tak bisa berharap banyak.

Mungkin saja Younghoon diculik oleh orang-orang jahat, mendengar maraknya kasus penculikan anak dan hybrid di kotanya. Motifnya sama, dijual hidup-hidup atau dijual organ dalamnya. Tak terasa air mata menetes pelan-pelan menuruni wajahnya yang sempurna. Memorinya memutar kilas balik saat-saat bahagia bersama Younghoonnya. Bertahun-tahun hidup bersama, melewati suka duka, berbagi kasih sayang, berbagi keluh kesah dan desah, Hyunjae benar-benar takut kehilangan. Younghoon bukan hanya hybrid baginya. Bukan peliharaan, bukan juga hanya teman hidup. Younghoon lebih dari itu. Younghoon adalah belahan jiwa. Younghoon adalah separuh nyawanya. Younghoon adalah satu-satunya tempat ia berlabuh, tempat ia menggantungkan hidup dan matinya. Tempat ia menaruh cinta sebegitu banyaknya. Selama ini, Hyunjae tingga sendirian di kota orang. Setelah menjadi yatim piatu bertahun-tahun yang hidup terpisah dari kakaknya, Hyunjae menemukan Younghoon. Yang memberinya kasih sayang, yang memberinya banyak perhatian. Younghoon dengan segala tingkah menggemaskannya meskipun terkadang galak itu sukses mewarnai hari-harinya.

Hidupnya yang tadinya kelam dan abu-abu, perlahan berwarna dan hangat setelah ada kehadirannya. Younghoon bukan hanya hybrid baginya, Younghoon adalah separuh dirinya.

Hyunjae menangis semakin kencang, berharap Younghoon segera pulang. Ada tangan yang ingin sekali memeluk, ada hati yang ingin sekali mencinta. Ada jiwa yang kini merindu. Dua hari tanpa Younghoon adalah siksaan.

Bagi sebagian orang yang tak paham, mereka akan menganggapnya remeh. “Ah kan itu hanya anjing”Kalau hilang begitu ikhlaskan saja namanya juga anjing, mungkin dia ingin hidup bebas bukan dalam kandang”Oh ternyata hybrid..”Itu kan hanya hybrid, kamu bisa beli lagi yang baru”

Kata-kata dari beberapa tetangga kompleknya sedikit banyak membuatnya marah. Dimana mereka selalu menganggapnya remeh tak pernah berharga. Padahal Younghoon lebih dari sekedar “anjing saja” lebih dari sekedar hybrid yang bisa ia beli penggantinya. Hyunjae meraih jaket kesayangan milik Younghoon. Jaket abu-abu hadiah ulangtahun dari Juyeon itu menjadi jaket yang selalu Younghoon pakai kemana-mana. Hyunjae memeluk jaket abu-abu itu erat, meremasnya dengan kuat, menumpahkan tangis dan luka yang ia rasa karena kehilangannya. Wangi Younghoon masih ada disana, parfum strawberry bercampur minyak telon dan parfum Hyunjae, masih jelas ada disana. Hyunjae kini menangis sendirian. Menjerit memanggil Younghoonnya untuk segera pulang. Karena ia sangat sangat tak mau kehilangan.

Younghoon sayang.. kamu dimana? Cepat pulang.. nje kangen”

Dan malam itu, Hyunjae jatuh tertidur pulas diatas sofa panjang di ruang tamu rumahnya. Diselimuti dingin dan rindu yang masih juga tak mau pergi. Disela-sela tidurnya, Hyunjae menggumam, memanggil nama Younghoon berulang-ulang berharap si maltese putih itu segera pulang.


Jacob dan Sangyeon memasuki rumah yang tak terkunci, menuai decakan halus dari sang kakak tertua saat mendapati keadaannya yang kacau. Hyunjae masih tertidur pulas diatas sofa. Rumahnya berantakan dengan sampah berserakan dimana-mana. Selebaran tentang Younghoon yang hilang juga terbang keseluruh penjuru rumah sebab kipas angin yang lupa ia matikan. Jacob semakin dihantui rasa bersalah karena telah lalai, ia berjongkok mengguncang bahu Hyunjae, “Jae bangun. Udah siang”

Sangyeon menyingkirkan sampah makanan ringan dari atas meja, menggantikannya dengan satu kresek besar berisi ayam goreng dan nasi hangat. Ia menyisir surai adik satu-satunya, memanggil Hyunjae yang kacau itu segera bangun. Semenit setelahnya Hyunjae terbangun dari tidurnya. Menoleh ke segala arah masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna. “Younghoon ketemu, kak?”

Sangyeon tersenyum lembut lalu menyodorkan susu murni kemasan padanya, “sarapan dulu nanti kita cari lagi” mendengar jawaban dari Sangyeon, rasanya Hyunjae enggan untuk melanjutkan hidupnya. Rasanya benar-benar hampa dan menyesakkan. “Kemungkinan diculik ya gak sih kak?” Pemuda Lee itu tertawa sumbang, sorot matanya menatap Sangyeon penuh luka yang dibalas gelengan dari si tertua, “jangan mikir aneh aneh. Younghoon gak apa-apa kok. Yuk makan dulu nanti kita lanjut cari. Anak-anak yang lain juga udah mulai cari lagi”

Kevin, Juyeon, Chanhee sama Changmin juga udah pergi daritadi buat cari Younghoon. Katanya semalam ada satu rumah yang ada anjing maltesenya, dan sedikit banyak mirip Younghoon” sambung Jacob. Masih dengan rasa takut dan khawatir, akhirnya Hyunjae menyantap makanan kesukaannya yang dibawakan oleh Sangyeon pagi itu.

Meskipun dengan ogah-ogahan, Hyunjae mau tak mau harus mengisi perutnya, agar memiliki tenaga menyusuri komplek lagi untuk mencari Younghoon. Matanya menatap lurus pada nasi dan ayam yang tengah ia santap. “Resto ayam ini, tempat favorit Younghoon” bisiknya. Hyunjae tersenyum miring dengan hati yang teriris. Setiap sudut rumahnya selalu mengingatkannya pada si maltese manis kesayangannya. Betapa tengil dan lucu tingkah lakunya, bagaimana lucunya saat ia bermanja, bagaimana menyebalkannya ia saat keras kepala, bagaimana cara Younghoon menjaganya. Younghoon suka sekali membuat roti. Younghoon akan betah berlama-lama di dapur dengan alat panggangnya. Younghoon juga pandai membuat kopi. Bagaimana setiap pagi di akhir pekan, akan ada Hyunjae yang memeluknya dari belakang. Memperhatikan bagaimana cekatannya tangan Younghoon membuat sarapan dan secangkir kopi untuknya.

Dan setelahnya mereka akan berbagi pelukan panjang sampai siang diatas sofa ditemani oleh acara acara tv yang kebanyakan tak mereka cerna sepenuhnya.

Nje... Njeeeeee!!!! Njeeeeee!!!”

Hyunjae menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Suara Younghoon memenuhi kepalanya, membuat hatinya semakin remuk dan sesak. Ia benar-benar merindukan Younghoonnya.

Njeeeeeeee!!! Nje!!”

Hyunjae berjengit kaget saat sebuah tangan melingkar dilehernya sukses membuatnya terhuyung ke belakang sebab beban berat yang tak terduga menimpa dirinya.

Kangeeennn nje!!!” Younghoon mendusal dileher Hyunjae lama, menghirup aroma yang selama ini ia rindukan. “Younghoon??! Sayang?! Kamu pulang?” Hyunjae menangkup pipi chubby itu tak percaya meskipun dibalas anggukan oleh hybrid menggemaskan itu. Hyunjae menarik tubuh hybridnya kedalam satu pelukan terlampau erat. Hyunjae menangis kencang sebab lega akhirnya si kekasih hati bisa pulang dengan selamat.

Kamu kemana aja hiks aku takut”

Aku neduh abis beli eskrim, hujannya besaaarrr sekali. Terus banyak petir kan aku takut, Nje!”

Hyunjae mencium ranum merah milik Younghoon lama lalu berakhir mengusap kuping maltesenya. Membuat Younghoon menggerung suka sambil tersenyum manis.

Kevin, Younghoon ketemu dimana?”

Di taman kemarin, di terowongan yang kemarin juga”

Kemarin aku cari kamu kesana kamu gak ada disana, sayang?” Hyunjae menatap Younghoon penuh selidik. Hybrid itu tersenyum manis sekali, “Kan aku bilang aku neduh, Nje... Kemarin aku gak disana. Kemarin kemarin juga enggak. Hari ini balik lagi kesana buat ambil kalung, eh malah ketemu Kevin dan yang lainnya”

Hyunjae memeluk Younghoon sekali lagi, tak lupa berterimakasih pada teman-teman hybrid yang sudah mau membantunya. “Jacob, makasih ya. Maaf gue sering ngerepotin buat titipin Younghoon”

Gue juga minta maaf karena Younghoon hilang pas lagi sama gue, Jae”

Younghoon menatap Hyunjae lekat lekat lalu tertawa sebab si Tuannya menangis karena kehilangannya, “lain kali kalau tukang eskrimnya sudah jauh, jangan dikejar ya? Aku takut kamu hilang lagi...”

Hehe iya maap. Habisnya waktu itu gerah sekali~~ aku mau eskrim”

Hari itu, saat jam menunjukan pukul sepuluh lebih dua menit, akhirnya Younghoon bercerita banyak bagaimana kronologisnya ia bisa “hilang” dari rumahnya. Membuat seluruh pasang mata yang ada disana berpusat padanya.

Terus habis dari terowongan kamu kemana? Kok aku cuma nemuin kalung kamu doang?”

Younghoon menepuk tangannya kencang sambil mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya, celana dan baju yang entah milik siapa ia kenakan.

Ada om baik bawa aku pulang, tadi juga om itu anter aku ke taman buat cari kalung. Terus ini, katanya kasih ke Nje kalau aku sudah pulang”

Hyunjae menerima kertas kusut itu dari Younghoon, pelan-pelan matanya membaca tiap deretan yang terpatri disana. Beberapa detik setelahnya ia tertawa sambil mengecup puncak hidung maltesenya yang menggemaskan, “Kamu ngerepotin orang aja nih”

Younghoon mengerjapkan matanya polos, tak mengerti apa yang Hyunjae katakan tentangnya. Yang ia tahu, ia hanya menyampaikan amanat yang telah dititipkan om baik itu padanya.

Apa itu jae?” Tanya sang kakak. Yang dibalas tawa renyah oleh adiknya, “bill makan Younghoon selama hilang, kak”

Jawaban yang meluncur dari Hyunjae sukses menuai tawa dari orang-orang yang mendengarnya. Membuat Younghoon menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Hyunjaenya malu. Hyunjae memeluknya penuh kasih sayang, mengusap perut mulus seperti pantat bayi itu sambil menggoda bahwa selama hilang, ia makan makanan enak. Hyunjae harus berterimakasih pada om baik itu karena sudah menjaga dan merawat Younghoon selama hilang.

Jangan hilang lagi ya sayang. Aku beneran takut kehilangan kamu... Aku benci gak ada kamu disini, ngerti kan?” Hyunjae mengusap tangan lentik milik Younghoon yang masih duduk di pangkuannya. Younghoon menatap mata coklat Hyunjae penuh puja lalu mengangguk setelah meminta maaf. “Aku sayang Nje”

Hyunjae mendengus geli sambil tersenyum dan mencium dahinya yang menganggur, “Nje juga sayang sama Younghoon... Sayang banget”

Dan hari itu berakhir dengan Hyunjae memeluk Younghoon seharian, tentunya setelah mengirim sejumlah uang pada om baik yang menyertakan nomor handphone dan nomor rekeningnya di secarik kertas yang ia titipkan pada Younghoon saat pulang.

Fin

© Aquamarlynn_

milbbang oneshoot AU! based on the overtunes song with the same title


No matter what they said, i still love you Now look me in the eyes, i still love you Till forever


Kim Younghoon, anak pengusaha sukses di tanah air, berusia dua puluh saat itu. Saat dirinya diajak bertemu di sebuah cafe oleh salah satu teman satu teamnya saat KKN beberapa waktu lalu. Keduanya tidak terlalu dekat, namun tidak juga jauh. Lee Hyunjae namanya. Salah satu orang yang cukup cekatan dan banyak tahunya. Yang selalu terlihat keren selama KKN yang mereka lakukan berbulan-bulan belakangan. Yang selalu terlihat tampan dan bersahaja. Dengan tatapan yang lembut dan suara tawa yang renyah. Yang setiap malam memetik gitar sambil merokok di teras kostan bersama dua temannya yang lain yang kebetulan satu kelompok juga dengannya.

Kim Younghoon yang biasanya diselimuti kekayaan dan kemewahan, harus banyak belajar hidup mandiri dan sederhana, berbagi satu rumah untuk beberapa orang di kelompoknya, membagi kegiatan untuk mengisi hari-hari. Younghoon si anak mami yang biasanya apa-apa oleh bibi atau mbak itu, mau tak mau harus berani belajar banyak. Berani melakukan hal-hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya selama puluhan tahun. Dan Lee Hyunjae ada disana. Ambil andil cukup banyak dalam mengajarkannya bertahan hidup.

Hyunjae mengajarinya cara memasak, memotong bawang dan tomat, mencuci dan menjemur pakaian dan sepatu, mencuci motor dan atau mobil pribadi, atau hal-hal kecil lainnya yang biasanya orang lakukan tapi Younghoon tidak.

Seiring waktu keduanya menjadi dekat, dan hari itu, di awal bulan pertengahan tahun, Lee Hyunjae memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Younghoon. Pemuda Kim yang sukses membuatnya jatuh hati, setidaknya mungkin itu alasannya mengajaknya berkencan, kan?

Namun Younghoon bukan orang bodoh. Dan tidak ingin jadi bodoh terus menerus. Banyak yang mengejarnya, banyak yang bilang suka padanya, namun itu semua semata-mata karena hartanya. Harta kedua orangtuanya yang selama ini Younghoon rasakan juga. Maka, Younghoon penuh ragu saat menjawab ajakan Hyunjae sore itu.

tak apa, kita coba pelan-pelan, gimana?”

Dan Younghoon masih dengan ragu-ragu yang menggerogotinya kala itu, akhirnya mau tak mau ia mengangguk. Karena sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia juga menyimpan rasa spesial pada Hyunjae.

Pemuda Virgo yang selalu memiliki banyak candaan yang mengisi hari-harinya selama KKN waktu itu.


Bulan berganti menahun. Rasa yang Younghoon simpan semakin besar, hingga akhirnya mereka benar-benar berpacaran. Berbagi kasih dan sayang sesekali disela-sela kesibukan.

Namun bukan hidup jika tanpa cobaan. Hari itu, Hyunjae menjadi bulan-bulanan teman-temannya dikampus. Ayahnya tertangkap badan KPK karena menggelapkan uang perusahaan. Banyak orang yang bergunjing tentangnya. Banyak yang terang-terangan menghujat dan berlaku tak baik. Banyak teman yang mulai menarik diri dan bahkan bersikap seolah tak pernah mengenalnya. Mungkin itu lebih baik, daripada lemparan jeruk dan tepung basah yang ia dapatkan di kantin seperti tadi sore.

Hyunjae menarik diri. Setelah membersihkan jaketnya yang kotor oleh tepung dan jeruk, ia duduk berjongkok di gedung belakang tempat parkir yang sudah sangat sepi itu. Napasnya terbuang dengan berat. Ia menunduk sambil tertawa miris. Betapa keji ayah yang selama ini ia banggakan, bermain kotor dengan dalih “untuk keluarga”. Hyunjae menengadah dengan penuh rasa keterkejutannya, kala mendapati sesuatu seperti tisu basah menyapa di kulit pipinya. Matanya terkunci di netra sehitam jelaga milik kekasihnya, Kim Younghoon. Hati Hyunjae berdenyut sangat sakit. Kim Younghoon didepannya tersenyum manis, manis sekali. Dengan tangan yang masih mengusap pelan-pelan pipinya yang terkena tepung yang kini mengering, “aku cari nje kemana-mana ternyata ada disini. Telfonku juga gak nje angkat”

Pandangan Hyunjae mengabur. Air mata tertahan di pelupuk mata. “terigunya kering, agak susah. Sakit gak?” Kim Younghoon merunduk, mengecek apakah noda terigu di pipi Hyunjae sepenuhnya terhapus atau tidak.

Younghoon...”

Nje udah makan? Mau nyoba restoran ramen yang baru buka di Depok gak? Kata Sunwoo enak, harganya juga murah cuma delapan puluh ribu..”

Hyunjae meraih tangan Younghoon yang menganggur, digenggam dan diusapnya pelan-pelan, Hyunjae terisak. “Younghoon.. ayo putus”

Younghoon diam. Seakan mengizinkan Hyunjae melanjutkan apa yang tertahan di kerongkongan.

Aku.. waktu itu aku bertaruh dengan teman-teman. Siapa yang bisa jadi pacar kamu, dapat motor ninja keluaran terbaru... Motor yang selama ini kamu lihat aku pakai balapan, itu dapat dari mereka karena... Aku dapat dari mereka karena ㅡkarena aku berhasil pacaran sama kamu. Aku minta maaf, aku gak seharusnya jahat sama kamu yang udah baik ke aku. Maaf karena selama satu tahun ini, aku main-main...” Tangis Hyunjae tumpah setelahnya. Tangan yang menggenggam tangan Younghoon terasa sangat dingin, meremasnya dengan kuat hingga gemetar. Hyunjae menangis cukup kencang sambil terus meminta maaf.

Younghoon tersenyum lalu menarik Hyunjae ke dalam satu pelukan, “Ah... Aku lega kamu udah bisa jujur tentang hal ini. Aku udah tahu sejak lama, tapi aku nunggu kamu sendiri yang bilang atau seenggaknya patahin apa yang mereka bilang dengan perlakuan kamu ke aku. Makasih ya Nje”

Dan setelah ucapan yang ia dengar dari bilah bibir kekasihnya, Hyunjae semakin kencang menangis di pelukan Younghoon. Menumpahkan segala badai yang ribut di dalam jiwanya selama ini. Dan Younghoon sore itu mendengarkan semuanya tanpa interupsi. Hanya ada Younghoon dan Hyunjae yang sore itu berpelukan di bawah langit senja.

Dan sore itu Hyunjae menyadari satu hal. Bahwa selama ini ia sudah jatuh. Jatuh hati pada Kim Younghoon. Kekasihnya yang manis dan tampan dengan pipi chubby yang menjadi favoritenya.

Ayo perbaiki semuanya dari awal. Aku gak mau putus dari Nje soalnya aku sayang banget sama Nje...”

Tapi ayah aku koruptor. Kamu bisa jadi bahan gosip orang-orang juga nanti”

It's okay. Itu gak penting kok. Lagian ayah kamu kan sudah ditangani pihak berwajib? Urusan kamu dan aku, itu diluar kasus ayah kamu juga lagian”

Dan sore itu ditutup dengan dua mangkuk ramen Depok yang Younghoon tawarkan padanya.


Yakin mau ikut ke acara pelantikan ekskul sekolah kita, kak?”

Siang itu, di sebuah warung nasi Padang, Eric, Younghoon, dan Hyunjae tengah menyantap makan siangnya dengan khidmat. Hyunjae bercerita bahwa weekend ini, Hyunjae dan Eric kebetulan seorang alumni ekstrakurikuler diundang untuk mengisi malam pelantikan dan api unggun di sekolah menengahnya. Dan mendengar hal itu Younghoon sedikit bersemangat. Ia juga ingin ikut melihat secara langsung acara-acara sekolah yang melibatkan api unggun seperti itu, karena di sekolah menengahnya dulu Younghoon tidak memiliki acara seperti itu. Sekolah elite sih, katanya.

Emangnya gak boleh, Ric?”

Enggak, bukan gak boleh. Cuma mendingan kalau malam-malam tuh kan diem di kamar nonton drakor makan cemilan gitu daripada liatin anak-anak yang mau dilantik?”

Bosen ah, aku mau liat... Soalnya di sekolahku dulu gak ada. Is that okay? Soalnya aku orang asing kan?”

Nanti aku coba bilang aja dulu sama Kangmin, ketua acaranya kalau aku ajak kamu, kalau dibolehin, kita pergi. Aku jemput jam tujuh malam ya..”

Dan Younghoon memekik senang sambil memeluk Hyunjae dengan semangat.

Nanti ada Kak Sangyeon juga kok dia kan sekolah disana juga sama kita dulu”

Younghoon bertepuk tangan karena merasa memiliki banyak teman untuk pergi melihat api unggun, tak akan merasa kesepian dan sendirian juga jika suatu waktu nanti disana Hyunjae meninggalkannya untuk kepentingan acara.


Jaketnya kok bawa dua, Nje?”

Seperti yang dijanjikan oleh Hyunjae sebelumnya setelah mendapat izin dari Kangmin, ketua acara pelantikan ekstrakurikuler SMAnya, Hyunjae langsung menjemput Younghoon pukul tujuh. Di tangannya terlihat ia menggenggam satu jaket berwarna abu-abu yang membuat Younghoon keheranan. “Jaga-jaga kamu kurang anget nanti. Disana kan gak ada penghangat ruangan kayak di kamar kamu” lalu keduanya tertawa.

Rumah Younghoon besar. Besar dan megah. Tak sembarang orang bisa masuk kesini. Terpujilah Hyunjae yang beruntung bisa memacari anak sultan di negaranya. Younghoon tertawa sambil memasang helm. Memasang jaket yang digenggam Hyunjae tadi didepan badannya agar tidak kedinginan. “lucu banget.” Satu kecupan mendarat di puncak hidung milik si pemuda Kim. Hyunjae menutup kaca helm Younghoon dan menggenggam tangannya berjalan menuju motor yang ia kendarai.

Pegangan ya, soalnya kamu biasanya gampang ngantuk kalau diajak naik motor” Mendengar hal it, Younghoon memeluk Hyunjae erat, menumpukan dagunya dipundak Hyunjae dan mempererat pelukannya kala motor ninja itu melaju memecah jalan ibu kota malam hari.


Malam itu pukul sembilan. Sudah satu jam setengah setelah Younghoon menginjakkan kakinya di SMA negeri yang cukup terkenal di kotanya ini. Acara api unggun sudah selesai sepuluh menit lalu, sekarang saatnya bersantai dengan hiburan hiburan yang menyertai mereka. Bercanda dan tertawa dengan games games yang dihantarkan oleh pemandu acara malam itu. Younghoon dan Hyunjae duduk agak jauh di belakang, dekat dengan kerdus dan peralatan anak-anak PMR di pendopo. Hyunjae menyodorkan bajigur hangat yang disediakan panitia pada Younghoon, ini sudah gelas ketiga Younghoon, btw. Dia sangat menyukai minuman jahe itu rupanya. Hyunjae berdiri didepan Younghoon yang duduk anteng dengan bajigur ditangannya. Tangannya dibawa menyisir rambut Younghoon dengan jemari saat dirasa anak rambutnya menusuk mata kekasihnya. Tangan Hyunjae turun membelai pipi chubby yang selalu jadi kesukaannya itu. Younghoon menghabiskan gelas bajigur itu dan memeluk pinggang kekasihnya manja. “Lapar gak? Katanya masih ada konsumsi lebih juga di panitia”

Younghoon menggeleng, menenggelamkan wajahnya di perut kotak-kotak pemuda Virgo itu. Menghirup aroma parfum dan detergen yang menguar dari Hyunjae.

Ngantuk ya? Mau gabung kesana gak sama Eric sama kak Sang?”

Younghoon menengadah sambil mengerucutkan bibirnya, “banyak yang kenal aku, aku malu”

Hyunjae tertawa. Sejak membuka helm, banyak yang memang sangat mengenal Younghoon. Anak bungsu pengusaha sukses yang wajahnya ada dimana-mana. Di koran, di televisi, sering disebut-sebut juga di siaran radio. Selain wajahnya yang tampan dan otaknya yang cerdas, Younghoon dikenal sebagai anak sultan yang mahir panahan dan menembak. Kabar itu dengan cepat menyebar ke seluruh negeri dan mau tak mau Hyunjae harus pasang badan saat orang-orang mulai mengerubungi Younghoon tadi. Bahkan guru-guru dan kepala sekolah mereka juga tak absennya untuk mengajaknya berswafoto.

Hyunjae mencubit kedua pipi Younghoon sambil bercanda, “pacarku terkenal...”

Dan hal itu membuat Younghoon merengek sambil kembali menyusrukkan wajahnya di perut Hyunjae.

Tangan yang melingkar di pinggang itu Hyunjae tarik, ia genggam dan ia ciumi pelan-pelan dan lembut. Lalu ia sedikit menunduk guna mencium puncak kepalanya penuh sayang.

Betapa bodoh ia selama ini menyia-nyiakan kekasihnya yang baik hati dan manja ini. Satu tahun penuh menghabiskan waktu bersama Younghoon hanya karena taruhan, hingga ia sadar akhirnya ia juga jatuh cinta. Ia telah jatuh cinta. Dan itu bukan karena Younghoon dengan hartanya yang takkan habis puluhan turunan. Tapi karena Kim Younghoon adalah pribadi yang hangat, yang ia cari selama ini semuanya ia dapatkan dari Younghoon. Hyunjae adalah manusia dipenuhi untung.

Sayup-sayup tawa semakin kencang terdengar. Acara yang kini dipimpin Sangyeon dan Eric berubah menjadi ajang cari bakat. Dimana banyak anak-anak yang maju untuk menampilkan bakat mereka. Ada yang menyanyi, ada yang bermain alat musik, stand up comedy dan menyanyi.

Beberapa dari panitia juga maju untuk mengisi acara. Hyunjae ikut tertawa saat mendapati hal-hal lucu ditengah api unggun yang masih berkobar dan menyala itu.

Maka tepat saat jam menunjukan pukul sembilan, dengan jahil Sangyeon berteriak kencang yang diiringi tepuk tangan riuh oleh seluruh orang yang ada disana, “BAIKLAH! KITA SAMBUT BINTANG SELANJUTNYA LEE HYUNJAE DAN KIM YOUNGHOON!!!! BERI TEPUK TANGAN YANG MERIAH”

Semua orang bertepuk tangan sambil meneriakkan nama mereka. Hyunjae dan Younghoon tertawa kikuk karena sekarang semua mata tertuju pada mereka. Dengan rasa malu yang masih menyelimuti, Younghoon membiarkan Hyunjae menggandeng tangannya menuju tengah. Hyunjae tertawa sambil memukul bahu Sangyeon merasa dikerjai, “kita nyanyi ya” ajaknya pada Younghoon.

Ada satu lagu yang ia dan Hyunjae sering dengarkan akhir-akhir ini. Lagu band the overtunes yang secara tak sengaja mampir di playlist hingga akhirnya menjadi lagu wajib saat mereka menghabiskan waktu berdua. Dengan lirik manis saat jatuh cinta, lagu akustik itu sukses membuat keduanya mabuk kepayang.

Hyunjae menarik kursi dan gitar, duduk tepat di sebelah Younghoon yang telah menggenggam microphone.

Senar gitar dipetik dengan hati-hati, semuanya menjadi hening. Hanya ada suara Younghoon yang lembut dan suara gitar Hyunjae yang mengisi. Anak-anak dan panitia juga alumni disana terlihat menikmati. Bagaimana dua insan yang dilanda cinta itu dimabuk asmara didepan api unggun. Bernyanyi berdua saling menatap malu-malu.

Kini, Hyunjae mengambil giliran untuk bernyanyi masih dengan tangan yang memainkan gitar, menatap tulus dan lurus pada orang terkasih disebelahnya,

If one day you don't recognize my voice If one day you seems so hard to breath I'll promise you to give my all Ooh like you do from the day I start to see Forever is a long time but I keep my words that I save to you Together we can go far as long as you are with me Cause I will fall for you no matter what they say I still love you I still love you You'll never be alone now look me in the eyes I still love you I still love you Till forever

Tak ada hal lain yang lebih indah dari jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang tepat. Tak ada yang lebih memabukkan daripada jatuh cinta. Jatuh cinta pada si manis. Tak ada yang lebih besar dari bentuk rasa syukurnya karena diizinkan mencinta, mencinta dengan orang yang juga mencinta.

Kim Younghoon adalah orang yang beruntung memiliki Hyunjae yang tak aneh-aneh selama menjadi kekasihnya. Tak pernah menyinggung soal sedikitpun harta seperti orang-orang kebanyakan padanya.

Dan Hyunjae juga amat beruntung memiliki Younghoon disetiap harinya. Sebab pemuda itu menghadirkan banyak tawa dan cinta disetiap detiknya.

Tak ada hal lain yang patut mereka syukuri selain saling mencinta.

I'll keep you safe until you find what you looking for, looking for I'll stay with you until you find your way back home, way back home Cause I will fall for you no matter what they say I still love you I still love you You'll never be alone now look me in the eyes I still love you I still love you I still love you

Fin

© Aquamarlynn_

milbbang oneshoot AU! slight sangbbang milkyu

warning: major character death, angst, hurt/comfort, mention car accident, marriage life, skinship, kissing scene,etc.

'if you cant find the sunshine, please just be that sunshine' – Lee Jaehyun


Hai! Adakah diantara kalian yang sampai saat ini masih mencari tahu apa itu cinta? Adakah diantara kalian yang masih menerka-nerka cinta itu seperti apa dan bagaimana? Siapa sebenarnya cinta? Apakah orang yang kita cintai saat ini adalah cinta sejati kita?

Boleh jadi, kamu bisa bertanya pada pemuda ini. His name is Kim Younghoon

Kim Younghoon adalah pemuda yang dilimpahi banyak cinta. Kim Younghoon adalah pemuda yang dianugerahi banyak syukur dan sayang dalam setiap detik di langkahnya. Memiliki keluarga yang harmonis, karir dan pendidikan yang terbilang lancar, teman-teman yang suportif, kakak yang menyayanginya sepenuh hati, dan kekasih yang selalu ada untuknya.

Lee Sangyeon. Kekasih yang menjadi teman suka dukanya sejak bulan pertama memasuki masa-masa SMA. Keduanya terkenal memiliki hubungan sehat yang menjadi idaman banyak orang. Lee Sangyeon adalah kakak pembimbingnya saat penerimaan peserta didik baru, menjadi lebih dekat dan akrab lewat Hyunjae, teman sekelasnya yang mana merupakan adik kandung dari Sangyeon.

Berawal dari sering berangkat sekolah bersama, akhirnya dua insan itu berbagi perasaan manis yang romantis. Yang berlangsung sangat lama bahkan sampai lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Keduanya saling bergantung satu sama lain, berbagi cerita suka duka, berbagi tawa dan tangis, berbagi rasa hangat dalam setiap pelukan di malam gelap dan di musim dingin, berbagi kecup nan manis, berbagi hati untuk saling menjaga.

Namanya Lee Sangyeon. Anggota Brimob yang setiap malam mengirim martabak ke apartemen Younghoon, berbagi peluk barang sebentar lalu pulang. Yang selalu menjadi yang pertama saat Younghoon butuh bantuan, yang selalu menjadi yang pertama saat Younghoon kesusahan. Lee Sangyeon adalah manusia yang dengan siap siaga menghantarkan banyak cinta padanya. Dan Younghoon bersyukur memilikinya.

Is it okay if i want you to be my bridge?”

Malam itu, setelah menghabiskan waktu lembur, pukul sebelas malam, Sangyeon dengan coklat hangat di genggaman, menatap teduh pada Younghoon yang sibuk mencerna perkataan Sangyeon. Dengan jantung yang bergemuruh hebat, perasaan senang membuncah tak dapat ia tahan, Younghoon melompat pada pangkuan Sangyeon, memeluknya erat membiarkan Sangyeon menjatuhkan cangkir coklat hangat keatas karpetnya. Younghoon menangis bahagia malam itu, membiarkan wajahnya tenggelam di ceruk leher pemudanya. Sangyeon juga sama senangnya, karena sejatinya butuh keberanian besar untuk meminta Younghoon menghabiskan sisa hidup bersamanya.

Dan malam itu, he said yes.

Kabar bahwa kakaknya melamar teman sekelasnya saat duduk di bangku SMA dulu, tak ayal membuat Hyunjae selaku adik Sangyeon satu-satunya itu berbahagia. Lega rasanya mengetahui bahwa Sangyeon memilih maju ke jenjang lebih serius bersama kekasihnya. Malam itu, di pesta makan malam ulangtahun ayah mereka yang ke enam puluh delapan, Sangyeon membawa serta keluarga Younghoon, untuk membahas acara pertunangan dan perkawinan.

Aku senang kakak akhirnya mau maju ke jenjang yang lebih serius sama Younghoon” Malam itu Hyunjae berdiri bersama Sangyeon di balkon kamarnya selepas acara usai. Dengan wine di genggaman masing-masing, keduanya menatap langit malam dengan bintang yang bersinar samar-samar. “Aku juga senang. Lagipula, hubunganku dengan Younghoon terasa monoton karena begini-begini saja. Tunangan enggak, ya sudah nikah saja” lalu ia tertawa kecil. Semburat merah menjalar mewarnai pipi dan telinga pemuda kelahiran sembilan enam itu, yang dihadiahi tawa juga oleh adiknya.

Hah... rasanya berat sekali meminta Younghoon untuk mau menghabiskan sisa hidup denganku. Seperti, banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dan mungkin saja Younghoon menolak lamaranku. Tapi malam itu, dia melompat sambil memelukku, nangis jelek soalnya dia bilang bahagia bisa dengar aku punya niat serius dari hubungan ini. Aku.. aku senang, Jae” Sangyeon menatap adiknya sambil tersipu malu lalu menunduk dan menyesap wine di gelasnya. Yang tentunya dibalas kekehan jenaka oleh Hyunjae, “Mana mungkin nolak sih? Kalian itu bertahun-tahun sama-sama terus. Younghoon juga mungkin sering bimbang, mau dibawa kemana hubungan kalian, makanya pas kakak bilang mau nikahin dia, dia bahagia banget”

Sangyeon menarik napas dalam-dalam, memasukan sebelah tangannya ke saku celana dan menerawang, “aku mau bikin dia bahagia terus. Aku harus bikin dia bahagia terus”

Hyunjae hanya mengangguk sambil meneguk winenya, masih tak percaya bahwa malam itu, kakaknya benar-benar ingin melepas status lajang.

Jadi, gimana? Kalau aku sudah maju, kamu kapan punya pacar? Changmin kan namanya yang lucu itu? Yang empat hari lalu bawa cookies kesini?” Hyunjae mendecak lidah sambil mendorong pelan bahu kakaknya, “Dia temanku di kantor, jangan ngada-ngada”

Lho memang kenapa? Kelihatannya dia baik? Dan yang penting, keliatannya dia suka sama kamu” Sangyeon menubrukkan bahunya pada bahu Hyunjae, adiknya hanya tertawa kecil sambil menunduk, “iya. Changmin orang baik. Tapi, aku masih belum bisa. Gak tahu, padahal dia baik, dia selalu ada, dia juga terang-terangan kasih liat bahwa dia suka sama aku. Tapi aku gak pernah bisa balas perasaan dia. Dia buatku selalunya hanya teman biasa. Mungkin dekat karena kami satu divisi, selebihnya aku tidak bisa menaruh apa-apa padanya. Dibilang mungkin karena aku naksir orang lain juga tidak. Karena aku juga gak lagi suka atau dekat dengan orang lain. Ya mungkin aku cuma belum dikasih kesempatan untuk suka sama Changmin”

Sangyeon menepuk kepala Hyunjae pelan, “Hati memang tidak bisa dipaksakan. Lama-lama juga terbiasa, nanti ketemu jawabannya. Yang penting sekarang jalani saja apa yang ada. Siapa tahu didepan sana tiba-tiba ada kejutan buat kita”

Dan kakak beradik Lee itu akhirnya menghabiskan malam untuk berbincang-bincang.


Tepat hari Rabu, satu minggu sebelum pernikahannya berlangsung, Younghoon disibukkan dengan segala macam persiapan yang sudah harus sampai final. Dimulai dari decor, hidangan, pakaian pengantinnya dan segala macam yang membuatnya sibuk. Dan siang itu, Hyunjae datang mengunjungi rumahnya, membawa design final undangan sebelum akhirnya disebarkan pada para tamu undangan. Hyunjae tersenyum saat pemuda itu membuka pintu. Younghoon menggeser badannya dan menyuruh Hyunjae masuk, “aku bawa dua design final undangannya. Kalau mau di revisi, bisa langsung dihubungi percetakannya.”

Hyunjae menjatuhkan pantatnya pada sofa empuk apartemen Younghoon, mengambil cookies dalam toples dan memakannya dengan santai. Membiarkan Younghoon melihat-lihat design final yang dibawa oleh Hyunjae tadi.

Kata kak Sang, kemungkinan besar kamu bakalan suka yang warna beige sih” Hyunjae menepuk bibirnya menyingkirkan remah-remah cookies yang tersisa, menatap Younghoon yang tersenyum sambil mengangguk. “Iya, aku suka yang beige. Cetak yang ini aja, list undangannya yang kemarin dikirim itu sudah fix kok”

Dan Hyunjae tanpa menunggu jawaban lain hanya mengangguk sambil meminum teh hangat yang disediakan Younghoon untuknya.

Kurang tidur ya?” Younghoon mengangguk kecil. “Santai aja, semuanya pasti sempurna. Semuanya pasti lancar”

Younghoon tertawa lalu mengangguk, “Amin. Makasih ya Jae. Kalau bukan karena kamu dulu, aku mana mungkin bisa pacaran sama kak Sangyeon”

Gak sangka ya, ternyata bisa sampai menikah gini. Keren juga”

Aku juga masih gak sangka...” Younghoon menunduk kecil, memainkan cincin tunangan yang tersemat di jemarinya. Ada perasaan gelisah dan cemas yang seharusnya tak usah. Ada perasaan takut yang entah untuk apa tujuannya.

Hyunjae menggenggam tangan Younghoon erat, dielusnya sedikit dan dikecup, “Kalian pasti bahagia. Pasti. Percaya sama aku, kalian pasti bahagia. Kakak selalu bilang, dia pengen banget kamu bahagia. Apapun caranya, gimanapun caranya kamu harus bahagia”

Aku takut... Takut semuanya gak semudah yang aku bayangin”

It's okay. Kalian saling memiliki. Jalani semuanya sama-sama. Dan lagi, jangan lupa. Ada aku disini. Kalau kalian butuh apa-apa, ada aku disini. Kita kan teman!”

Younghoon menarik ujung bibirnya, tertawa sambil mengangguk, “thanks Jae...”

Anything for you, and my brother”


milbbang oneshoot AU! slight sangbbang milkyu

warning: major character death, angst, hurt/comfort, mention car accident, marriage life, skinship, kissing scene,etc.

'if you cant find the sunshine, please just be that sunshine' – Lee Jaehyun


Hai! Adakah diantara kalian yang sampai saat ini masih mencari tahu apa itu cinta? Adakah diantara kalian yang masih menerka-nerka cinta itu seperti apa dan bagaimana? Siapa sebenarnya cinta? Apakah orang yang kita cintai saat ini adalah cinta sejati kita?

Boleh jadi, kamu bisa bertanya pada pemuda ini. His name is Kim Younghoon

Kim Younghoon adalah pemuda yang dilimpahi banyak cinta. Kim Younghoon adalah pemuda yang dianugerahi banyak syukur dan sayang dalam setiap detik di langkahnya. Memiliki keluarga yang harmonis, karir dan pendidikan yang terbilang lancar, teman-teman yang suportif, kakak yang menyayanginya sepenuh hati, dan kekasih yang selalu ada untuknya.

Lee Sangyeon. Kekasih yang menjadi teman suka dukanya sejak bulan pertama memasuki masa-masa SMA. Keduanya terkenal memiliki hubungan sehat yang menjadi idaman banyak orang. Lee Sangyeon adalah kakak pembimbingnya saat penerimaan peserta didik baru, menjadi lebih dekat dan akrab lewat Hyunjae, teman sekelasnya yang mana merupakan adik kandung dari Sangyeon.

Berawal dari sering berangkat sekolah bersama, akhirnya dua insan itu berbagi perasaan manis yang romantis. Yang berlangsung sangat lama bahkan sampai lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Keduanya saling bergantung satu sama lain, berbagi cerita suka duka, berbagi tawa dan tangis, berbagi rasa hangat dalam setiap pelukan di malam gelap dan di musim dingin, berbagi kecup nan manis, berbagi hati untuk saling menjaga.

Namanya Lee Sangyeon. Anggota Brimob yang setiap malam mengirim martabak ke apartemen Younghoon, berbagi peluk barang sebentar lalu pulang. Yang selalu menjadi yang pertama saat Younghoon butuh bantuan, yang selalu menjadi yang pertama saat Younghoon kesusahan. Lee Sangyeon adalah manusia yang dengan siap siaga menghantarkan banyak cinta padanya. Dan Younghoon bersyukur memilikinya.

Is it okay if i want you to be my bridge?”

Malam itu, setelah menghabiskan waktu lembur, pukul sebelas malam, Sangyeon dengan coklat hangat di genggaman, menatap teduh pada Younghoon yang sibuk mencerna perkataan Sangyeon. Dengan jantung yang bergemuruh hebat, perasaan senang membuncah tak dapat ia tahan, Younghoon melompat pada pangkuan Sangyeon, memeluknya erat membiarkan Sangyeon menjatuhkan cangkir coklat hangat keatas karpetnya. Younghoon menangis bahagia malam itu, membiarkan wajahnya tenggelam di ceruk leher pemudanya. Sangyeon juga sama senangnya, karena sejatinya butuh keberanian besar untuk meminta Younghoon menghabiskan sisa hidup bersamanya.

Dan malam itu, he said yes.

Kabar bahwa kakaknya melamar teman sekelasnya saat duduk di bangku SMA dulu, tak ayal membuat Hyunjae selaku adik Sangyeon satu-satunya itu berbahagia. Lega rasanya mengetahui bahwa Sangyeon memilih maju ke jenjang lebih serius bersama kekasihnya. Malam itu, di pesta makan malam ulangtahun ayah mereka yang ke enam puluh delapan, Sangyeon membawa serta keluarga Younghoon, untuk membahas acara pertunangan dan perkawinan.

Aku senang kakak akhirnya mau maju ke jenjang yang lebih serius sama Younghoon” Malam itu Hyunjae berdiri bersama Sangyeon di balkon kamarnya selepas acara usai. Dengan wine di genggaman masing-masing, keduanya menatap langit malam dengan bintang yang bersinar samar-samar. “Aku juga senang. Lagipula, hubunganku dengan Younghoon terasa monoton karena begini-begini saja. Tunangan enggak, ya sudah nikah saja” lalu ia tertawa kecil. Semburat merah menjalar mewarnai pipi dan telinga pemuda kelahiran sembilan enam itu, yang dihadiahi tawa juga oleh adiknya.

Hah... rasanya berat sekali meminta Younghoon untuk mau menghabiskan sisa hidup denganku. Seperti, banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi, dan mungkin saja Younghoon menolak lamaranku. Tapi malam itu, dia melompat sambil memelukku, nangis jelek soalnya dia bilang bahagia bisa dengar aku punya niat serius dari hubungan ini. Aku.. aku senang, Jae” Sangyeon menatap adiknya sambil tersipu malu lalu menunduk dan menyesap wine di gelasnya. Yang tentunya dibalas kekehan jenaka oleh Hyunjae, “Mana mungkin nolak sih? Kalian itu bertahun-tahun sama-sama terus. Younghoon juga mungkin sering bimbang, mau dibawa kemana hubungan kalian, makanya pas kakak bilang mau nikahin dia, dia bahagia banget”

Sangyeon menarik napas dalam-dalam, memasukan sebelah tangannya ke saku celana dan menerawang, “aku mau bikin dia bahagia terus. Aku harus bikin dia bahagia terus”

Hyunjae hanya mengangguk sambil meneguk winenya, masih tak percaya bahwa malam itu, kakaknya benar-benar ingin melepas status lajang.

Jadi, gimana? Kalau aku sudah maju, kamu kapan punya pacar? Changmin kan namanya yang lucu itu? Yang empat hari lalu bawa cookies kesini?” Hyunjae mendecak lidah sambil mendorong pelan bahu kakaknya, “Dia temanku di kantor, jangan ngada-ngada”

Lho memang kenapa? Kelihatannya dia baik? Dan yang penting, keliatannya dia suka sama kamu” Sangyeon menubrukkan bahunya pada bahu Hyunjae, adiknya hanya tertawa kecil sambil menunduk, “iya. Changmin orang baik. Tapi, aku masih belum bisa. Gak tahu, padahal dia baik, dia selalu ada, dia juga terang-terangan kasih liat bahwa dia suka sama aku. Tapi aku gak pernah bisa balas perasaan dia. Dia buatku selalunya hanya teman biasa. Mungkin dekat karena kami satu divisi, selebihnya aku tidak bisa menaruh apa-apa padanya. Dibilang mungkin karena aku naksir orang lain juga tidak. Karena aku juga gak lagi suka atau dekat dengan orang lain. Ya mungkin aku cuma belum dikasih kesempatan untuk suka sama Changmin”

Sangyeon menepuk kepala Hyunjae pelan, “Hati memang tidak bisa dipaksakan. Lama-lama juga terbiasa, nanti ketemu jawabannya. Yang penting sekarang jalani saja apa yang ada. Siapa tahu didepan sana tiba-tiba ada kejutan buat kita”

Dan kakak beradik Lee itu akhirnya menghabiskan malam untuk berbincang-bincang.


Tepat hari Rabu, satu minggu sebelum pernikahannya berlangsung, Younghoon disibukkan dengan segala macam persiapan yang sudah harus sampai final. Dimulai dari decor, hidangan, pakaian pengantinnya dan segala macam yang membuatnya sibuk. Dan siang itu, Hyunjae datang mengunjungi rumahnya, membawa design final undangan sebelum akhirnya disebarkan pada para tamu undangan. Hyunjae tersenyum saat pemuda itu membuka pintu. Younghoon menggeser badannya dan menyuruh Hyunjae masuk, “aku bawa dua design final undangannya. Kalau mau di revisi, bisa langsung dihubungi percetakannya.”

Hyunjae menjatuhkan pantatnya pada sofa empuk apartemen Younghoon, mengambil cookies dalam toples dan memakannya dengan santai. Membiarkan Younghoon melihat-lihat design final yang dibawa oleh Hyunjae tadi.

Kata kak Sang, kemungkinan besar kamu bakalan suka yang warna beige sih” Hyunjae menepuk bibirnya menyingkirkan remah-remah cookies yang tersisa, menatap Younghoon yang tersenyum sambil mengangguk. “Iya, aku suka yang beige. Cetak yang ini aja, list undangannya yang kemarin dikirim itu sudah fix kok”

Dan Hyunjae tanpa menunggu jawaban lain hanya mengangguk sambil meminum teh hangat yang disediakan Younghoon untuknya.

Kurang tidur ya?” Younghoon mengangguk kecil. “Santai aja, semuanya pasti sempurna. Semuanya pasti lancar”

Younghoon tertawa lalu mengangguk, “Amin. Makasih ya Jae. Kalau bukan karena kamu dulu, aku mana mungkin bisa pacaran sama kak Sangyeon”

Gak sangka ya, ternyata bisa sampai menikah gini. Keren juga”

Aku juga masih gak sangka...” Younghoon menunduk kecil, memainkan cincin tunangan yang tersemat di jemarinya. Ada perasaan gelisah dan cemas yang seharusnya tak usah. Ada perasaan takut yang entah untuk apa tujuannya.

Hyunjae menggenggam tangan Younghoon erat, dielusnya sedikit dan dikecup, “Kalian pasti bahagia. Pasti. Percaya sama aku, kalian pasti bahagia. Kakak selalu bilang, dia pengen banget kamu bahagia. Apapun caranya, gimanapun caranya kamu harus bahagia”

Aku takut... Takut semuanya gak semudah yang aku bayangin”

It's okay. Kalian saling memiliki. Jalani semuanya sama-sama. Dan lagi, jangan lupa. Ada aku disini. Kalau kalian butuh apa-apa, ada aku disini. Kita kan teman!”

Younghoon menarik ujung bibirnya, tertawa sambil mengangguk, “thanks Jae...”

Anything for you, and my brother”


Content warning : minor character death, mention accident, marriage life, kissing scene, fluff.

Setengah dari narasi adalah flashback yang sengaja dicetak miring. Beware some typos.


Malam itu, tepat setelah dua hari merilis lagu ciptaannya di SoundCloud pemuda itu menyesap tehnya didepan jendela kamarnya. Dengan kesunyian malam yang menyapa, tenang dan damai adalah sesuatu yang ia nantikan disela-sela kesibukannya. Ia adalah Kim Sunwoo, pemuda kelahiran April. Penyanyi solo yang terkenal dengan tangan terampilnya dalam menciptakan lagu. Selain suaranya yang merdu, bakat rapp yang ia milikipun sukses membuat siapapun yang mendengar lagu-lagu ciptaannya menjadi terpesona. Seringkali ia ditanyai tentang lagu yang ia ciptakan. Semuanya memiliki kisah tersendiri. Dari satu lagu ke lagu lain memiliki makna dan ceritanya sendiri. Dan Kim Sunwoo selalu sukses menyihirnya menjadi mahakarya yang selalu dipuja oleh banyak pasang telinga di dunia.

Pemudaㅡ ah bukan. Lelaki April itu mengaduk teh hangat ditangannya lalu menyesapnya sekali lagi. Matanya masih asyik menatap jendela, menyuguhkan pemandangan langit malam gelap dengan pepohonan dan suara jangkrik samar-samar. Sedikit kebisingan kota dan gemerlap lampu lampu mengintip seperti ingin menemaninya menghabiskan malam. Kim Sunwoo, yang kini berusia tiga puluh dua itu menutup buku yang tadi sempat ia baca. Tangannya melepas kacamata baca yang bertengger apik.

Malam tenang tanpa jadwal yang membuatnya pusing adalah impiannya. Dan Kim Sunwoo mengilhaminya dengan baik. Suara ketukan membuat kepalanya menoleh, netranya menangkap sosok gadis cantik menyembul dibalik pintu, “papa? Boleh masuk?”

Sunwoo tersenyum lalu mengangguk. Tangannya melambai menyuruh gadis cantik itu masuk mendekat ke arahnya. Gadis manis itu berlari kecil lalu memeluk Sunwoo erat sambil memekik senang. Perempuan cantik berumur tujuh dengan mata bulat lucu dan bibir merah itu naik keatas pangkuan Sunwoo. Dan dengan telaten Sunwoo melepas ikat rambut yang sudah tak beraturan itu. Tangannya dengan lihai mulai mengikat scrunchies merah muda itu, mengepang rambut hitam legam milik putrinya. Oh iya, kenalkan. Namanya Lee Hyejin, putri Kim Sunwoo. Berusia tujuh, ceria, manis dan banyak bicara. Dan hal yang ia paling banggakan adalah ia sudah masuk sekolah, katanya.

Papa pulang kok gak bilang-bilang?”

Kata nanny Hyejin les menggambar jadi papa tidak bilang, biar kejutan. Eh tapi sudah ketahuan”

Soalnya tadi daddy telfon Nanny katanya papa sudah pulang”

Sunwoo terkekeh saat anaknya mulai bercerita tentang kesehariannya hari ini. Dimulai ia membuka mata, mandi bersama mainan baru, makan nugget dan telur kesukaannya, pergi sekolah pagi-pagi karena belajar upacara, lalu mendapat bintang karena berhasil menjawab pertanyaan, lalu makan siang bersama teman-teman, pulang lalu pergi les menggambar dan akhirnya pulang ke rumah menyambut papa yang sedang senggang. Sunwoo sesekali tertawa saat Hyejin menceritakan hal-hal lucu yang ia alami sepanjang hari. Lalu Sunwoo berakhir memeluk putrinya, menggendongnya dan menidurkannya diatas kasur. “lalu? Kapan Hyejin yang cantik ini mandi?”

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, “boleh tidak sih tidak usah mandi, pa?”

Hyejin habis dari luar, bertemu banyak orang. Jangan tidak mandi, nanti ada virus dan kuman menempel, nanti Hyejin sakit. Memangnya mau sakit? Nanti tidak bisa sekolah lho...”

Ya sudah, ayo mandi sama papa?!! Mau ya ya ya ya? Aku bosan mandi sama nanny terus...”

Dan Sunwoo adalah orangtua yang tentu saja mengabulkan semua permintaan putri kecilnya.


Sunwoo dengan telaten menggosok punggung putrinya dengan pelan, menuangkan sabun dengan aroma favoritnya, tangan kecil putri manis itu tak hentinya bermain dengan busa-busa yang mengapung diatas air dalam bathtubnya. “Papa.. tadi kata Bu guru lagu baru papa bagus. Bu guru dan teman-temannya suka”

Oh ya? Wah terimakasih banyak gurunya Hyejin.. sebuah kehormatan lagu papa dipuji bagus begitu oleh orang lain”

Lagunya bagus, katanya. Papa keren!!!!!”

Sunwoo tersenyum lagi, lalu mengecup dahi putrinya, “soalnya papa bikinnya dengan hati.”

Ah ah ah!! Aku ingat! Kata Daddy kalau melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan hati, nanti hasilnya akan sempurna. Iya kan pa?”

Eung! Betul! Kata Daddy, sukai apa yang kamu lakukan, lakukan apapun yang kamu sukai. Hasilnya pasti akan sempurna”

Sunwoo membilas tubuh anaknya yang telah selesai ia sabuni, lalu menggendongnya setelah terlilit handuk dengan rapi.

Papa papa! Ceritakan tentang kisah cinta papa!!! Kata Bu guru lagunya cocok untuk orang jatuh cinta!!”

Sunwoo mengernyit jahil lalu menjawil hidung putrinya main-main, “anak kecil kok cinta-cintaan?”

Kan yang cinta-cintaan papa, aku hanya mendengarkan!!!”

Sunwoo tertawa sambil mengoleskan minyak telon dan bedak bayi diatas perut dan punggung Hyejin, lalu membalutnya dengan piyama Cherry kesukaannya. Baik Sunwoo maupun Hyejin akhirnya naik keatas kasur, berbaring saling memeluk satu sama lain.

Lagu papa tentang jatuh cinta, iya?”

Hm.. bisa jadi. Itu lagu lama, seseorang membuatnya pas kami masih SMA dulu. Dan papa baru bisa menyelesaikannya sekarang setelah ingat nada-nadanya lagi..”

Hahaha papa sudah tua jadi pelupa!”

Sunwoo menggigit hidung kecil itu main-main lalu mengusap surai hitam putrinya, “jadi siapa yang cinta-cintaan pa? Papa atau teman papa yang bikin lagu itu pas sekolah?”

Sunwoo menatap putrinya. Tersenyum penuh teduh. Lalu matanya beralih menatap langit-langit kamarnya yang putih, “kita berdua. Kita berdua yang jatuh cinta. Dan lagu itu, dibuat saat kami berdua jatuh cinta”

Teman papa yang jatuh cinta itu orangnya seperti apa? Baik? Ataukah nakal seperti Youngjae? Ugh! Youngjae tadi siang menyembunyikan crayon biruku, aku sebal!!”

Haha, dia orangnya baik. Dia tidak pernah menyembunyikan apapun, tapi dia suka memberi. Dia memberikan semuanya yang papa mau, yang papa suka, yang papa impikan, bahkan tanpa papa minta”

Kim Sunwoo siang itu pergi ke perpustakaan. Dengan buku tebal dipelukannya, ia berjalan dengan tenang, headsetnya memutar lagu kesukaannya, sesekali ia bergumam dan bersiul mengikuti irama lagu. Ia buru-buru membuka sepatu saat memasuki ruang perpustakaan. Menebar senyum pada penjaga perpustakaan dan mendudukkan dirinya di kursi favoritnya. Sunwoo membuka buku tebal yang sedari tadi ia peluk, mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari dalamnya, tangannya membuka lembar demi lembar dan berhenti di lembaran yang ia cari. Matanya menelisik sekitar, kakinya sesekali mengetuk lantai, Sunwoo tengah menunggu.

Menunggu seseorang yang berjanji bertemu di perpustakaan. Seseorang yang akan mengajarkan materi kimia yang tak ia pahami. Setengah jam setelahnya, biasanya mereka akan pergi ke kantin bersama untuk makan siang lalu saat bel berbunyi, mereka akan kembali ke kelasnya masing-masing.

Bahu sunwoo ditepuk, membuatnya terkejut lalu ia menggigit jari telunjuk orang tadi karena sebal,kakak ih... Kaget tau” Lelaki itu tertawa kecil lalu meminta maaf. Ialah Bae Jacob. Pemuda tampan blasteran Korea Canada yang memiliki pesona luar biasa dalam dirinya. Si pintar yang menjadi ketua OSIS dua periode. Kekasih Kim Sunwoo tentunya.Maaf, maaf. Mana soalnya? Kita hanya punya tiga puluh menit sebelum makan. Menu makan siangnya favoriteku semua”

Dia pintar. Dia mengajarkan banyak hal pada papa. Belajar, bernyanyi, bermain gitar, membuat lagu, dan juga belajar sabar”

Sabar?”

Uhm! Sabar dan tidak mudah marah-marah”

Apa papa dan teman papa itu sering main bersama?”

Eum! Meskipun dia sibuk, dia akan selalu punya waktu untuk papa”

Menjadi seorang ketua OSIS, murid teladan dan juara kelas membuat Jacob menjadi orang yang tentunya menjadi primadona. Semua mata tertuju padanya. Semua puja, semua puji di dunia. Jacob adalah sempurna dalam kamus Kim Sunwoo. Yang selalu memberi dan menemani. Yang dengan senang hati mengabulkan semua permintaan Sunwoo. Bahkan disaat tersulit dan sesibuk apapun, Jacob akan selalu ada untuknya. Karena, Kim Sunwoo benci kesepian. Benci kesendirian. Benci tidak diperhatikan. Dan bertemu juga bisa menggenggam Jacob adalah anugerah yang sangat ia syukuri. “Kakak kalau sibuk gak usah iyain permintaan aku buat nonton, ih! Aku kan gak tahu kalau kakak ada rapat acara milad sekolah”Gak apa-apa, rapatnya bisa besok. Tapi nonton sama kamu, kapan lagi? Soalnya ini hari terakhir filmnya tayang kan?”

Pipi Sunwoo memerah karena malu. Demi Tuhan ia tak pernah menyangka akan menjadi prioritas manusia indah didepannya ini. Jacob mengusak rambutnya gemas lalu merangkulnya dengan hangat. Menyalurkan rasa tenang penuh sayang pada si aries. “Popcorn caramel?” Dan Sunwoo tak bisa tak mengangguk untuk tawaran itu.

Sepanjang film diputar di bioskop, sedikitpun tak pernah tangan Jacob melepas genggamannya dari tangan kiri Sunwoo. Sedikit membuat Sunwoo yang ingin memakan popcorn itu kewalahan, tapi Sunwoo tak keberatan. Selama itu Jacob, selama itu kekasihnya. Ia tak keberatan. Ada kepala yang bersandar di bahu luas pemuda Canada itu. Menghabiskan waktu bersama Sunwoo adalah hal sederhana yang Jacob sukai. Dan berada disamping Jacob, adalah hal yang sangat Sunwoo sukai.

Kalau papa ulangtahun, teman papa kasih kado apa?”

Kue. Kue cheesecake dengan berry diatasnya”

Wiiii! Pasti enak”

Sunwoo mengangguk. Rasanya sangat enak.

Hari itu, sehari sebelum ulangtahunnya, Sunwoo bertengkar dengan mama papanya yang tentu saja masih melarang dan agak tidak setuju dengan hobi yang Sunwoo tekuni, futsal. Mama dan papa Sunwoo lebih suka jika Sunwoo menghabiskan waktu membaca buku dan menonjol di bidang akademik. Bukannya main futsal, katanya. Sunwoo yang hancur dan berantakan itu berkali-kali menghubungi Jacob yang tak jua mengangkat telfonnya. Tentu tak jua membalas pesannya. Sunwoo membanting handphonenya keatas kasur lalu mengacak-acak rambutnya. Berjongkok dengan nafas memburu sebab amarah yang memuncak. Bermain futsal tidak ada salahnya. Namun mengapa mama papanya tidak pernah menyukainya. Maka setelah mengganti baju, Sunwoo segera meraih handphone dan kunci motornya. Pergi menerobos hujan deras menuju satu tempat. Rumah Jacob.

Pintu diketuk buru-buru, Jacob sedikit berlari saat itu, tangannya yang belepotan terigu dengan apron yang masih terikat apik di badannya itu menjadi saksi bagaimana sore itu saat hujan deras, kekasihnya berdiri diambang pintu rumahnya, memeluknya erat sambil menangis.ya Tuhan, Kim Sunwoo?” Dan sore itu, dengan hujan yang masih menjadi saksi, Kim Sunwoo menumpahkan letupan emosi yang bertengger didadanya, menangis diatas kursi sambil memeluk Jacob yang senang hati mendengarkannya.

Kakak lagi apa? Kok belepotan hiks terigu?” Setelah tangisnya mereda, Sunwoo mulai memperhatikan bagaimana belepotannya kekasih yang tengah memeluknya ini. Lalu Jacob tertawa kecil, “kakak tadinya lagi bikin kue buat ulangtahun kamu besok. Eh malah kamu kesini... Gagal deh surprisenya”

Mata Sunwoo berbinar seketika dengan tatapan penuh excited. Sunwoo bertepuk tangan sambil menggoyangkan badannya, meminta pada Jacob untuk ikut serta membuat kue ulangtahunnya esok hari, dan Jacob adalah ia yang akan selalu bilang iya pada semua permintaan Sunwoo

Tepungnya 120gram ya? Lalu gula pasirnya juga. Jangan kelebihan jangan juga kurang!” Sunwoo mengangguk, dengan hati-hati dan telaten memasukkan terigu pada takaran yang tersedia diatas counter. Saat berhitung, tangan mereka akan bersentuhan sebab tak sengaja saling meraih benda di seberang satu sama lain. Hanya bersentuhan ujung jari saja, rasanya cukup untuk memupuk rasa cinta yang ada dalam hatinya, sebab Jacob selalu memberikan semua yang Sunwoo mau dan cari meskipun tanpa ia minta. Cinta yang Jacob hantarkan adalah cinta yang ideal yang selama ini Sunwoo cari. Menjadi anak tunggal dari keluarga Kim yang membuatnya sedikit memiliki tekanan dan ekspektasi tinggi keluarganya membuat Sunwoo mencari apa yang ia rasa kurang. Dan saat bertemu dengan Jacob, kakak pembimbingnya saat MOS dulu, adalah bentuk dan cara Tuhan mengabulkan doa Sunwoo. Tepat delapan bulan setelah berkenalan lebih jauh, Jacob memintanya untuk menjadi kekasihnya yang tentu saja diiyakan Sunwoo karena si aries yakin bahwa ia lebih dulu jatuh cinta pada pemuda Canada itu. Jacob dengan usil mengoleskan tepung pada pipi dan hidung Sunwoo yang membuatnya mengerang tak terima. Akhirnya perang tepung pun tak terelakkan. Meskipun demikian, Sunwoo tak keberatan. Sebab ada peluk hangat dan tawa yang merdu ditelinganya yang diberikan Jacob untuk mengisi harinya yang cukup kelabu.

Dan malam itu Sunwoo memilih tidak pulang. Dengan piyama biru navy yang ia kenakan tentunya milik Jacob, ia tertidur dengan pulas saat jam dinding menunjuk angka sembilan lebih lima belas. Tepat ketika Jacob selesai menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Jacob yang memang tinggal sendiri itu mematikan lampu kamar. Menaikkan selimut hingga dagu dan memeluk kekasih kecilnya. Jika Sunwoo adalah orang yang setiap hari merasa dipenuhi cinta sebab memiliki Jacob di setiap harinya, maka Jacob adalah ia yang dipenuhi rasa syukur sebab bisa memiliki Sunwoo untuk mewarnai hari-harinya yang terkesan biasa saja

Papa dan teman papa itu pernah bertengkar? Siapa yang nangis? Aku selalu nangis kalau Youngjae menjahiliku lalu ia tidak mau mengaku dan akhirnya kami bertengkar”

Sunwoo tersenyum. Matanya menerawang, kembali ke masa lalu. Masa-masa sekolah yang penuh warna. Ia hanya pernah sekali bertengkar dengan Jacob selama menjalin hubungan, itu membuktikan betapa Jacob selalu sabar dan selalu menghormati setiap keputusan yang diambil untuk satu masalah yang menerjang keduanya.

Pernah. Papa pernah bertengkar. Itu saat teman papa akan pergi kuliah, dia harusnya kuliah di dekat rumah orangtuanya, dapat beasiswa karena dia pintar. Tapi dia menolaknya”

“Kenapa ditolak??? Ugh! Aku selalu ingin sekolah di Amerika biar keren! Terus kata Daddy, nanti aku bisa bicara bahasa Inggris dengan lancar”

“Aku gak mau, Sunwoo” “Jangan bilang karena aku, kak?” Jacob tertawa kecut. Ia membuang muka. Ia memang menolak beasiswa untuk berkuliah di Canada karenanya. Jacob kira semuanya akan berjalan dengan mudah, dimana Sunwoo akan menghargai apa yang ia ambil. Karena tak hanya dirinya yang menjadi alasan Jacob menetap di Korea. Jacob juga memiliki cita-cita menjadi idola disini. Sudah berkali-kali ia mengikuti audisi untuk masuk agensi. Berkali-kali juga Jacob berjuang untuk mimpinya, mimpi yang selama ini sedikit ia pendam karena tak percaya diri. Namun mengapa Sunwoo tak juga mengerti?

Kak, kalau cuma karena aku, aku bakalan marah kak...”

“Apa salahnya tetap tinggal buat cita-citaku, Sunwoo? Kamu punya mimpikan? Begitu juga aku! Aku masih mau disini, masih mau mencoba, masih mau kejar yang aku mau, masih mau kejar mimpi aku... Kenapa kamu gak ngerti? Ini bukan cuma tentang aku yang mau tetap sama kamu, ini tentang aku juga... Stop bujuk aku untuk kembali ke Canada dan ambil beasiswa itu”

Tapi kak, kampus itu kampus bagus. Kakak bisa masuk jurusan impian kakak juga disana, dapat beasiswa juga...”

Buat apa? Buat apa kalau kakak pergi kesana dapat fasilitas bagus impian semua orang kalau gak satupun mimpi kakak akan terwujud dari sana? Disini juga banyak kampus bagus dengan jurusan yang aku mau Sunwoo... Jangan bilang, kamu juga berpikir kalau aku mau jadi idol itu cuma lelucon? Cuma omong kosong gak berarti dan mimpi yang ketinggian di siang bolong kayak mamaku bilang?”

Sunwoo membolakan matanya lalu segera meraih tangan Jacob yang mengepal karena emosi itu, sunwoo menggeleng ribut dengan matanya yang berkaca-kaca, “bukan kak. Aku gak bermaksud seperti itu... Aku cuma mau yang terbaik buat kakak. Maksud akuㅡ”

Genggaman tangan itu dilepas, lalu tubuhnya ditarik dalam peluk. Peluk yang erat dengan bahunya yang mulai basah sebab Jacob menangis tersedu. Keluarganya selalu bilang menjadi idol adalah lelucon. Mereka tak pernah menganggap Jacob serius, tak jua mendukungnya. Bagi mereka menjadi idol buang-buang waktu. Dan Jacob selalu terluka. Sunwoo tidak pernah bermaksud sekalipun menganggap remeh mimpi kekasihnya, ia hanya ingin Jacob mendapatkan semuanya. Tanpa kurang. Tanpa harus ada rasa sakit. Maka ia berpikir kembali ke Canada dan mulai berkuliah disana akan membuatnya mudah. “Maaf kak, aku gak bermaksud begitu... Aku minta maaf”

Malam itu, setelah emosi mereda, ada Sunwoo yang terbaring diatas kasur dengan Jacob menindihnya, menumpukan badannya diatas siku agar tak membebani pemuda ariesnya. Pagutan yang belum juga terlepas sejak beberapa menit lalu, keduanya saling menyesap. Keduanya saling mengecup. Keduanya berbagi rasa manis penuh cinta. Sunwoo menangkup rahang Jacob, mengejar cium yang memabukkan. Yang membuatnya mabuk dan tak berdaya. Jacob mengelus pinggang ramping Sunwoo yang berbaring diatas ranjangnya. Dan saat Sunwoo melenguh, Jacob menghentikan semuanya sebelum terlalu jauh. Meskipun Sunwoo merengek, namun Jacob dengan tegas berkata tidak. Jacob tak pernah ingin merusak Sunwoo.

“Kak, yang di laci kakak itu apa? Kertas yang dicoret-coret?”

Kamu mau tahu?”

Lalu Jacob dengan senang hati mengeluarkan kertas yang disebut sunwoo tadi, menarik gitar yang tergeletak disamping meja, tangannya mulai memetik. Memainkan melodi yang indah ditelinga Sunwoo. Malam itu, dibawah sinar bintang yang menghampar dilangit, Sunwoo sekali lagi dibuat jatuh cinta. Suara merdu yang lembut milik Jacob itu membuat hatinya hangat. Dengan lirik lagu yang indah yang menyapa gendang telinganya sukses membuat Sunwoo dipenuhi kupu-kupu, tak hentinya tersenyum dan kagum. Jacob dan seluruh kesempurnaannya. Jacob dengan seluruh apa yang ada pada dirinya. Mengapa rasanya mereka sangat serasi? Mengapa rasanya sangat bahagia saat orang-orang bilang iri atas hubungan mereka. Cinta monyet yang terasa seperti ceri. Manis dan sedikit asam. Yang wangi pepohonan dan bunga-bunga. Cinta monyet yang terasa sangat menyenangkan. Rasa cinta yang selalu tumbuh setiap harinya. Yang akan selalu terasa begitu penuh seperti tak ada hari esok. Jacob dengan pribadinya yang hangat dan teduh. Dengan senyum manis dan perlakuannya yang membuat Sunwoo gila. Mencium bibir Jacob adalah hal yang paling manis yang pernah ia coba. Dan memeluk tubuh kekasihnya adalah candu baginya. Sebab ia selalu temukan rasa aman dan hangat yang senantiasa dihantarkan. Hanya dengan menatap matanya, ia sukses jatuh cinta. Tak usah bermain kertas gunting batu tentang siapa yang lebih mencintai siapa, sebab cinta monyet yang terasa seperti ceri ini adalah milik keduanya. Yang mampu memberi warna pada hati dan hari pribadi yang kesepian. Jacob selalu bilang, Sunwoo juga akan merasakannya. Bagaimana indah untuk saling mencintai. Bagaimana bahagia karena saling memiliki. Dan Sunwoo akan menyetujuinya.

Saat gitar berhenti dipetik dan mulut yang berhenti bernyanyi, Jacob menggenggam kedua tangan Sunwoo, dibawanya dalam satu kecupan lama, diusapnya jemari itu dengan ibu jarinya, matanya dengan pasti menatap ke arah netra Sunwoo, “I love you. I really do. Aku bisa beliin kamu cheesecake kesukaan kamu tiap hari, bisa bikinin kamu makanan-makanan lain yang bikin kamu seneng, aku akan senang hati melakukan semuanya untuk kamu. Asal kamu tidak pergi. Jangan pernah pergi. Gak ada satupun sebelumnya orang yang bisa bikin aku kayak gini, nyaman, senang, bahagia, dicintai selain sama kamu, woo. Kamu isi kekosongan aku, begitu juga aku akan selalu berusaha isi kekosongan kamu.”

Ayo saling mencintai selamanya, kak. Kayak lirik lagu kakak tadi. Saling mencintai seperti tak ada hari esok. Aku janji akan selalu ada disini buat kakak, karena kakak juga begitu”


Sunwoo menghapus air matanya yang tak sengaja meluncur bebas dari pelupuk matanya. Menarik napas dalam sambil menggigit bibirnya gemetar, Hyejin disampingnya sontak khawatir, “papa kenapa?”

Sunwoo menggeleng cepat lalu menunduk, membiarkan air mata itu makin deras meluncur. Ada cinta yang selalu sama rasanya, bersemi didalam hatinya. Ada cinta yang sangat berarti yang dengan mudah membuatnya kuat dan bahagia. Cinta dari pemuda Canada yang selalu ada disisinya. Yang tak pernah memberikan rasa kecewa disetiap harinya.

Papa gapapa. Cuma sedikit kangen aja”

Kangen? Sama teman papa yang ini?”

Sunwoo mengangguk, masih menunduk dengan air mata yang mengalir. Punggung tangannya ia gigit sebentar lalu Sunwoo berusaha meredam emosinya. Demi Tuhan Sunwoo sangat merindukan rasa cinta yang ia sebut cinta monyet yang rasanya seperti ceri ini.

Teman yang papa ceritain ini pacar papa ya?? Soalnya ceritanya romantis seperti Cinderella”

Sunwoo mau tak mau sedikit tertawa karenanya. Ia mengambil tisu dan mengusap wajahnya yang basah karena air mata menganak sungai secara tak sengaja.

Dia cintanya papa. Lebih dari sekedar pacar.”

Apa orangnya Daddy? Papa daritadi tidak bilang siapa namanya...”

Sunwoo tersenyum teduh, “Nah, sudah malam dan papa sudah menceritakan bagaimana lagu baru papa ini. Sekarang saatnya Putri Hyejin untuk tidur atau nanti digigit monster hijau”. Hyejin meringkuk ketakutan lalu mulai memejamkan matanya seiring dengan lagu tidur dan tepukan halus di pantatnya. Dengan kantuk yang menyerangnya dengan luar biasa, Hyejin masih mencoba membuka matanya, “Papa...”

“Yes sweetie?”

“Apa cinta yang papa ceritakan itu Daddy? Kalian saling mencintai, kalian pelukan, ciuman juga seperti yang papa ceritakan tadi... Apa itu Daddy?”

Sunwoo mengecup dahi putrinya lama lalu menggeleng, “bukan sayang, bukan Daddy..”

Hyejin mendongak menatap papanya, mengernyit heran. Mengapa kisah cinta yang manis yang sedari tadi diceritakan oleh papanya tidak seperti Cinderella yang akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya?

Kenapa bukan Daddy? Kenapa papa tidak menikah dengan teman papa itu seperti Cinderella yang menikahi pangeran, pa?”

Sunwoo tersenyum lalu memeluk tubuh putrinya. “Sebab Tuhan lebih sayang sama dia daripada papa.”

Hyejin menutup mulutnya, “Dia sudah di surga, pa?”

Dan Sunwoo tak bisa tak menangis. Ia mengangguk, sekali, dua kali, berkali-kali ia mengangguk. Dan Hyejin memberi peluk dengan tangan kecilnya, “tak apa, papa. Teman papa akan bahagia bersama nenek di surga”

Amin... Amin.. dia harus bahagia, di surga.”


Menceritakan Jacob pada putrinya malam ini membuka luka yang teramat pedih baginya. Bagaimana hari itu seharusnya Jacob yang pergi tanda tangan kontrak dengan agensi barunya harus berakhir tragis. Bagaimana hari yang bahagia itu menjadi kelabu sebab kecelakaan yang merenggut nyawanya. Hari itu, hari dimana Sunwoo dinyatakan lulus masuk universitas yang sama dengan Jacob. Sunwoo yang bahagia bisa satu kampus dengan kekasihnya, mencoba menelponnya berulang kali, sejak chat terakhir yang mengatakan bahwa ia akan pergi ke agensi untuk tanda tangan kontrak, sejak saat itu juga Jacob menghilang. Dan kabar yang dihantarkan oleh kepolisian saat itu benar-benar menghancurkan segalanya. Mimpinya, mimpi kekasihnya.

Cintanya pergi. Tak bisa digenggam lagi. Cintanya pergi. Menemui Tuhan yang jauh disana.

Sunwoo menunduk, meremas dadanya yang sesak. Kehilangan Jacob beberapa tahun lalu, rasa sakitnya selalu terasa seperti baru. Kehilangan Jacob beberapa tahun lalu, terasa seperti kenyataan pahit bangun dari mimpi buruk sepanjang hidupnya.

Melihat suaminya menangis di dapur, lelaki yang baru saja pulang lembur itu menarik dasinya sembarangan lalu menghela napas berat. Bagaimana ia menangkap getaran hebat di bahu suaminya dan isakan penuh pilu yang samar-samar terdengar yang sengaja ia tahan. Hyunjae, suami Sunwoo melangkah pelan-pelan. Merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukan hangatnya yang tulus dan nyaman, “hei sweetheart...”

Sunwoo terperanjat kaget. Matanya menangkap suaminya tersenyum manis setelah mengecup pipinya lembut. “Kenapa jam segini nangis di dapur, hm? Ada fans yang ganggu kamu? Atau berantem lagi sama agensi?”

Sunwoo membalikkan badannya membalas pelukan hangat suaminya, menumpahkan segala tangis yang sedari tadi ia tahan. Tangis Sunwoo mengencang, dengan dada yang masih ia remat, “Kakak... Kakak...”

Hyunjae mencium puncak kepalanya lama, beralih mencium dahinya dan mengusap punggungnya, “it's okay. Everything will be fine. Jacob pasti bahagia disana, sayang. Dia pasti bangga liat kamu udah ada di titik ini. Bahagia, berkeluarga, punya anak yang cantik dan baik. Kamu juga idol dan pencipta lagu yang keren. Jacob pasti bangga”

Hyunjae adalah kakak tingkat Sunwoo di kampusnya, yang jatuh cinta pada sosoknya yang terbilang pendiam dan tak terlalu mau bergabung dengan banyak orang. Semakin didekati, semakin Hyunjae sadar betapa ada luka besar perih yang menganga tak kasat mata di seluruh hatinya. Ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya dihari yang paling membahagiakan bagi keduanya.

Hyunjae sedikit mengenal Jacob, ketua OSIS yang beberapa kali bertemu dengannya saat turnamen antar sekolah. Hyunjae yang juga aktif OSIS, tentu mengenal siapa Jacob dari sekolah sebelah. Pribadi yang juga ditaruhi puja dan kagum olehnya.

Maaf kak, hiks. Harusnya... Harusnya aku...”

No need to say sorry. Kamu gak perlu merasa gak enak karena kita sudah menikah tapi kamu masih menangisi Jacob. Aku dan Jacob, dua-duanya ada dihati kamu, meskipun tempatnya berbeda. It's okay. Nangis aja gak apa-apa. Aku ada disini buat kamu. Selamanya. Aku disini”

Dan Sunwoo bersyukur. Kembali menemukan cinta yang terasa seperti beri. Manis dan asam sebagai pelengkap hidupnya.

Sunwoo bersyukur, ada Jacob di masa lalunya. Dan ada Hyunjae yang akan selalu ada untuknya. Selamanya.

Fin

Kyeobmuda oneshoot 🔞AU!

Nsfw content!! Minor do not allowed here

Choi Chanhee Ji Changmin Kim Sunwoo

Mention sangnew jukyu milsun

Trigger warning : drunk, smoking, harsh word Content warning : kissing content, threesome, using sex toy, sandwich sex, cuckolding, deep throat, foreplay, fingering, nippleplay, rimming, spanking, multiple orgasm, and many more.

Top; Choi Chanhee Vers; Kim Sunwoo Bottom; Ji Changmin

Kim Sunwoo tidak pernah bisa mengendalikan dirinya saat dipengaruhi alkohol. Tapi malam itu, ia sama sekali tak keberatan. Karena rasanya seperti surga dunia.


Ada orang, yang sekali saja kamu panggil namanya untuk diajak berbuat sesuatu, ia akan segera menyetujuinya.

Kenalkan. Namanya Kim Sunwoo. Si bungsu dari tiga serangkai yang kebetulan bertemu di SMA yang sama di ibu kota. Pemuda aries kelahiran April itu, dengan mata bulat lucu seperti boba, dengan senyum cerah dan kepribadian yang luar biasa ceria, adalah satu-satunya adik kelas yang menempel seperti lintah pada Choi Chanhee dan Ji Changmin.

Sunwoo dan Changmin juga Chanhee memiliki selisih usia dua tahun, namun rupanya hal itu bukan masalah untuk merajut tali persahabatan. Sebab dimana ada Kim Sunwoo, kadangkala kamu bisa temukan Chanhee dan Changmin juga disana.

Setelah lulus sekolah, ketiganya memutuskan untuk kuliah di luar kota, memesan satu rumah kost untuk bertiga. Dengan Choi Chanhee yang memegang kendalinya. Ji Changmin adalah mahasiswa Teknik Informasi bersama Choi Chanhee. Sedangkan Kim Sunwoo adalah mahasiswa Teknik sipil, yang setiap hari mengeluh bilang salah pilih jurusan.

Tak ada hal menarik yang bisa diceritakan tentang keseharian ketiganya yang dibilang cukup monoton. Hanya kehidupan mahasiswa pada umumnya yang pergi kuliah, nongkrong bersama teman-teman sebaya dan lalu ngedate bersama kekasihnya masing-masing. Hampir tidak ada yang istimewa karena mereka juga selalu bilang akan jadi mahasiswa biasa saja.

Ya kecuali Ji Changmin sih, dia cukup aktif di himpunan mahasiswa bersama kekasihnya Lee Juyeon. Ah iya! Kenalkan, namanya Lee Juyeon. Kekasih Changmin sejak dua tahun belakangan, berjumpa saat ospek jurusan hingga akhirnya sibuk menanam benih cinta, dan ya akhirnya setelah perjuangan yang cukup melelahkan ㅡsebab rupanya Changmin malah menjadi primadona jurusan bersama sahabatnya Chanhee, akhirnya Juyeon bisa menggenggam hati Changmin, mengikatnya dalam satu hubungan, mengendalikannya dengan ujung-ujung jari yang ia miliki, ya istilah kerennya akhirnya menjadi bucin.

Lain Changmin, lain juga Chanhee. Chanhee masih setia menjalin kasih bersama pacarnya sejak SMP. Namanya Lee Sangyeon. Bertemu di tinder dengan niat awal hanya iseng, akhirnya setelah beberapa kali ngedate ala-ala anak SMP, akhirnya mereka resmi jadian, katanya. Lama-lama yang tadinya hanya cinta monyet, berubah semakin serius seiring berjalannya waktu. Melewati banyak rintangan dan tantangan yang dihantarkan oleh dunia, beberapa kali putus nyambung, beberapa kali kalah oleh ego masing-masing, dan ya. Mereka sampai di titik ini. Masih bertahan bahkan sampai usia dua puluhan tahun.

Dan, Kim Sunwoo. Si bungsu dari trio kwek-kwek ini ㅡsetidaknya begitu kata Sangyeon, adalah mahasiswa baru yang setengah mati ketakutan dikejar kakak tingkat yang menurutnya cukup aneh dan nyeleneh. Namanya Lee Hyunjae. Salah satu kakak tingkat saat ospek jurusan yang sangat terlihat mencolok dan menonjol dimatanya.

Bukan hanya dadanya ya, tapi kepribadian Hyunjae yang ramah, tebar pesona dan senyum sana sini juga tak pernah pandang buluh untuk membantu sesama itu, yang tak disangka-sangka akan menjadi pujaan semua mahasiswa baru saat itu, malah mengejar cinta Sunwoo yang setengah mati ketakutan saat Hyunjae terang-terangan mengatakan bahwa Sunwoo memiliki mata yang paling indah yang pernah Hyunjae temui.

Yang sialnya Hyunjae katakan itu ditengah lapangan dengan pengeras suara yang tentunya bisa didengar semua orang.

Dan ya, ketiga anak laki-laki yang sibuk merantau itu sekarang sibuk berbagi peluk dengan kekasihnya masing-masing.

Sunwoo menyeruput minuman brown sugar yang dibawakan kekasihnya dengan anteng. Matanya tak berhenti berfokus pada layar tv yang sedang menayangkan film romantis yang sudah lama mereka nantikan. Kepala Sunwoo sengaja ditaruh di atas bahu kokoh Hyunjae yang sibuk merangkul dan mengunyah popcorn. Mata keduanya masih dan akan selalu terfokus pada layar tv, sampai akhirnya suara handphone Sunwoo mengganggu konsentrasinya.

Siapa sih nelfon-nelfon” Sunwoo menggerutu sambil meraih handphonenya yang terbengkalai begitu saja diatas meja saat detik pertama film diputar.

Hallo kak Chanhee?”

Siapa aja disana?”

Gue sama kak Hyunjae doang, kak Changmin lagi ngedate sama kak Juyeon, tadi bilang beli bakmie”

Malam ini mau minum gak?”

Sunwoo mengernyitkan dahinya heran, menjauhkan ponselnya sedikit guna mengintip nama kontak yang saat ini memiliki sambungan telfon dengannya, benar kok kak Chanhee gumamnya dalam hati.

Kim Sunwoo! Ditanya malah diem.. mau minum gak? Kak Sang yang bayar”

Minum apaan sih? Gak paham”

Terdengar Chanhee mendecakkan lidah diseberang sana, dan bisa Sunwoo tebak ia sedang merotasikan matanya jengah dengan kaki menghentak tanah sebab kesal.

Mabok! Pake nanya...”

Sunwoo ragu-ragu, sejujurnya terakhir kali berjumpa dengan minuman laknat itu, malam dan pagi Sunwoo sedikit berantakan. Karena kadar toleransinya yang biasa saja menjurus agak payah, namun ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Agak rindu juga ya mabuk-mabukan bersama teman-teman.

Bentar tanya kak Hyunjae dulu.. kak, mau gabung minum gak nanti malem?”

Hyunjae segera menoleh dengan ekspresi bingung, sama seperti Sunwoo tadi. “tumben?”

Kak Chanhee sama kak Sangyeon ngajak. Ada kelas pagi gak?”

Gue ikut, gue traktir makanannya deh. libur soalnya” Sunwoo memasang ekspresi remeh sambil menoyor dahi Hyunjae yang tanpa pikir panjang malah mengiyakan ajakan Chanhee dan Sangyeon. “Kak Chan, gue sama kak Hyunjae ikutan deh”

Oke. Nanti gue tanya Changmin. Gak ada kelas pagi kan kalian?”

Kak Nje libur, gue kelasnya jam dua doang”

Dan setelah melewati sedikit percakapan kecil, Chanhee memutus sambungan telfonnya yang tentu saja masih menyisakan heran dan tanda tanya besar dikepala Sunwoo siang itu.


Nu, kakak denger kemarin kamu beli mainan baru?”

Sunwoo mengangguk.

Tepat setelah lima menit sambungan Chanhee terputus, Sunwoo dan Hyunjae tak lagi tertarik pada film yang masih berputar di layar kaca. Mereka lebih memilih untuk asyik bercumbu. Dengan Sunwoo yang sudah duduk diatas pangkuan kekasihnya, dengan tangan yang melingkar di leher dan kepala belakang kekasihnya, sedang tangan Hyunjae asyik bergerilya di pinggang dan pantat bulat Sunwoo, keduanya masih saling mengecup. Bibir merah cherry itu dilumat, dikulum, disesap dan digigiti sedemikian rupa hingga membengkak. Benang saliva yang akhirnya tercipta, dengan lelehannya yang mengalir membasahi dagu si aries, Sunwoo melenguh saat Hyunjae dengan sengaja meremas bongkahan pantatnya yang kenyal. Tangannya masuk pada celana jogger milik Sunwoo.

Mainan apa?”

Butt plug doang kak, tapi bagus. Ujungnya berlian gitu warna putih. Pokoknya cantik”

Cantikan kamu... Kamu paling cantik” lalu Hyunjae kembali mengecup, kali ini lidahnya masuk kedalam rongga mulut milik Sunwoo, mengobrak-abrik isinya, membelit lidah dan menggelitik langit-langit Sunwoo, membuat air liur semakin meleleh. Sunwoo mengerang dan berjengit kaget saat tangan Hyunjae kini dengan kurang ajar bermain diatas dadanya. Mempermainkan nipple pink-nya dengan ibu jari dan telunjuk.

Sok-sokan mau minum sama Chanhee Changmin, kamu kan gampang teler..”

Lalu bibir itu kembali dikecup. Meskipun Sunwoo menggelinjang tak beraturan namun nyatanya Hyunjae tak jua ingin menghentikan aksinya. Yang ada, ia malah semakin gencar melukis diatas canvas polos ciptaan Tuhan yang dianugerahkan pada kekasihnya. Kim Sunwoo si pemuda aries yang terlampau manis dan indah, yang akan tunduk dan patuh dalam kendali dan komando Hyunjae saat sedang kacau seperti ini.

Kita bikin malam ini jadi seru” ujarnya.


Setelah perlakuan tidak senonoh yang sejak tadi dilancarkan oleh Hyunjae, tak lama kemudian Chanhee benar-benar datang dengan botol minuman memabukkan ditangannya. Dengan makanan ringan lainnya yang menemani, Sangyeon tersenyum dibelakangnya. Bercerita bahwa hari ini ia tengah berbahagia dan dalam mood yang cukup bagus untuk berpesta. Setelah bersalaman dan menyiapkan gelas juga piring untuk snack mereka, Chanhee duduk sambil menuangkan minuman pekat itu kedalam gelas. Menunggu Changmin yang katanya sudah dekat.

Jangan kebanyakan, woo. Lo payah soalnya” ejek Chanhee sambil menyeringai. Yang tentunya menuai protes dari si pemilik nama.

Hai guys! Wiiihh wangi ayam!” Suara langkah Ji Changmin terdengar begitu ribut didepan rumah, sedikit berlari dan bertepuk tangan saat menjumpai makanan dan minuman diatas meja ruang tamu. Dibelakangnya ada Lee Juyeon kekasihnya mengekor, senyum tak juga luntur dari keduanya.

Ada acara apa nih tumben banget ngajak happy happy?” Lalu keduanya mengambil duduk diatas lantai sambil mencomot chicken popcorn yang masih mengepul panas. Sangyeon tersenyum sambil mengusak rambutnya, “lagi happy aja jadi all on me”

Sering-sering dong kak happy gini” itu Hyunjae dengan senyum semangat setelah mendesis saat meneguk minuman laknat itu sekali tembak.


Masa dimana jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lebih, percakapan semakin tak jelas arahnya. Hanya tertawa menceritakan hal-hal lucu yang mereka ingat saja. Diantara Chanhee, Changmin dan Sunwoo yang memiliki toleransi alkohol yang lumayan tinggi adalah si pemuda Choi. Yang mana setelah menenggak berkali-kali dalam gelas besar, ia masih bisa mengontrol diri, masih bisa mengambil kuasa atas kesadarannya. Dan Ji Changmin adalah yang sengaja membatasi diri agar tak terlalu larut dalam ambang kewarasan.

Lain halnya dengan Kim Sunwoo. Sunwoo dengan wajah rakunnya yang toan jelas sudah memerah. Changmin yang duduk disampingnya tak henti tertawa sedikit berbisik pada Chanhee, yang tentunya dibalas tawa juga. Mereka erani menjamin, satu gelas tambahan lagi, Kim Sunwoo sudah benar-benar mabuk. Sunwoo yang matanya sudah berubah satu itu sibuk mengunyah chiki keju sambil mendengarkan kekasihnya bercerita pada dua orang pemuda didepannya yang sibuk memakan kacang. Sesekali Sunwoo tertawa yang bahkan ia sendiri tak tahu menertawakan apa. Hal itu tentu tak lepas dari perhatian Juyeon, pemuda kucing itu menunjuk Sunwoo dengan dagunya, “anaknya udah setengah sadar tuh kak” katanya pada entah siapa. Namun yang pasti baik Sangyeon maupun Hyunjae menoleh pada Sunwoo yang sudah tak kuasa menahan dirinya.

Tangannya masih sibuk dengan Chiki digenggamannya, Sunwoo bersandar pada sofa dibelakangnya, ia sudah tak bisa duduk tegak menumpu dirinya sendiri. Hyunjae mengusak rambut hitam kecoklatan kekasihnya, sedikit menarik rahangnya untuk mengecup pelipis Sunwoo yang menganggur, tangan Sunwoo kembali meraih gelas minumnya yang dibalas tepisan kuat oleh Changmin, “udah, lo udah mabok banget gue males deh lo gak pernah cukup satu mangkok doang supnya”

Sunwoo yang memang sudah diambang batas sadar itu akhirnya merengek dan membenamkan dirinya pada pelukan Hyunjae, “mau minum kak... Kak Changmin rese”

Hyunjae memeluk pemuda aries itu lalu diusapnya pelan-pelan punggung yang hangat itu, “besok kelas siang. Udah ya?”

Sunwoo menegakkan badannya lalu meraih gelas itu buru-buru dan menenggak cairannya tanpa jeda. Lalu setelahnya ia tertawa sebab merasa menang tak ada seorangpun yang berani melarangnya.

Chanhee lagi-lagi tertawa saat mendapati Sunwoo semakin berantakan dan sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, “Sunwoo.. Dua puluh lima kali tiga kurang tujuh puluh lima tambah lima belas berapa?” Itu Sangyeon yang sengaja iseng pada si bungsu yang terlihat kewalahan. Sunwo yang sudah merah sebadan-badan dan matanya sudah tidak fokus itu mendecak sebal. Sunwoo mengerucutkan bibirnya tak terima lantas dengan acak ia memandang langit-langit, “Dua!” Katanya asal. Lalu Changmin dengan senang hati menoyor kepalanya, “Ya lima belas bego! Gak kuliah sih Lo, ngewe mulu ya?” lantas semuanya tertawa mendengar lelucon Changmin, termasuk Sunwoo sendiri. Bukan rahasia lagi bahwa baik Hyunjae maupun Sunwoo keduanya memang memiliki otak mesum.

Ngewe mulu sih lo.” Chanhee mengulangi perkataan Changmin sambil mengelus dagu si Bungsu layaknya kucing. Sunwoo yang memang sudah tidak sadar itu menjerit excited mendapat sentuhan ringan di dagunya. Chanhee dengan jemari lentiknya yang memanjakan Sunwoo.

Secara tak sadar Sunwoo menggerung seperti kucing, bergeser merapatkan dirinya pada Chanhee yang masih sibuk mengelus dagu dan rambutnya. “Sunwoo abis pacaran sama Hyunjae jadi manis gitu gak sih? Hyunjae treats him so well” ujar Juyeon setelah mengunyah keripik kentang yang baru dibukanya.

Hyunjae meraih gelasnya lalu tertawa, “Manis dong, apalagi kalau di ranjang ya sayang..” Setelah meneguk minumannya tangan Hyunjae dibawa untuk menepuk bongkahan sintal Sunwoo yang dibalut celana jogger. Sunwoo hanya mengerang tak suka dan kembali melanjutkan aksinya mendusel pada Chanhee yang belum berhenti memperlakukannya seperti kucing.