@yovela43

Ditengah Shane sedang bersiap-siap ponselnya berbunyi menandakan ada telepon yang masuk. Ya, itu dari Jovan.

“Halo.”

“5 menit lagi sebentar.”

Lalu telepon pun terputus.

Shane melihat dirinya di cermin sekali lagi, memastikan kalau ia sudah rapih dan tidak lupa juga ia memakai parfum aroma buah peach yang manis.

Dari jauh Jovan melihat perempuan itu berjalan kearahnya. Perempuan itu memakai celana levis panjang berwarna biru muda, kaos hitam, cardigan berwarna pink dan membawa tas selendang kecil.

Cantik gumam Jovan dalam hati sambil terus memperhatikan Shane berjalan sampai ia tidak sadar kalau Shane sudah berada tepat di hadapannya.

“Jovan,” ucap Shane sambil melambaikan tangan didepan muka Jovan.

Jovan kaget. “Eehh, eh udah disini, perasaan tadi masih disana,” kata Jovan sambil menunjuk trotoar yang dilalui oleh Shane tadi.

“Kenapa sih lihatnya gitu banget?” tanya Shane.

“Terkesima dengan kecantikan bidadari sih,” goda Jovan.

Shane mengerutkan dahi dan memukul pelan pundak Jovan. “Ih naon sih.”

“Cepet naik, gue ga kuat liatin muka lo terus Sha,” goda Jovan kembali.

Shane hanya menatap sinis kearah Jovan dan ia pun segera menaiki motor tersebut.

“Mah, aku mau ke rumah Nahen,” ucap Lalitha.

Ia melihat Ibunya sedang duduk di sofa dan menghiraukan dirinya.

“Assalamuallaikum,” pamit Lalitha.

Tak ada jawaban, Ibunya hanya fokus dengan ponselnya dan menghiraukan Lalitha.

Lalitha memang dilahirkan di keluarga yang lumayan berada, orang tua lengkap, apapun selalu diberikan oleh orang tuanya tapi semua itu dibayar oleh nilai sekolah Lalitha. Jika nilainya turun, orang tua Lalitha akan memarahi Lalitha bahkan sampai bermain fisik dengan Lalitha.

Lalitha selalu merasa kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja dan tidak pernah peduli dengan Lalitha. Mereka hanya peduli dengan nilai Lalitha dan dengan pekerjaan mereka.

Lalitha mempunyai teman baik dari kecil yaitu Nahen. Nahen yang selalu ada untuknya, jika Lalitha sedang punya masalah di rumahnya pasti Lalitha akan pergi ke rumah Nahen.

Keadaan Nahen pun tak jauh berbeda dengan Lalitha, bedanya ia tinggal dengan Ayah dan Ibu Tirinya.

Ya, Ibu kandung Nahen telah tiada karena sakit.

Saat Ibu Nahen meninggal, Ayah Nahen tidak peduli dan ia pergi bersama selingkuhannya yang sekarang menjadi Ibu Tirinya.

Kejadian itu meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi Nahen.

Lalitha dan Nahen adalah dua insan yang saling menguatkan untuk tetap bertahan hidup.

Setelah mendapat chat tersebut Lalitha membuka pintu rumah Nahen.

“Permisi, Nahennnnnnn,” panggil Lalitha.

Tak lama muncul seorang Wanita Paruh Baya. “Eh neng Litha, cari den Nahen ya?” tanya Wanita itu.

“Hehe iya Bi,” jawab Lalitha. “Nahennya ada?” lanjutnya.

“Ada di kamar, ke atas aja,” ucap Wanita itu.

Lalitha pun menuruti kata Bibi itu dan segera menuju kamar Nahen.

“Neng mau minum apa?” tanya Bibi.

“Ga usah bi, bentaran doang ko udah itu mau pergi soalnya,” jawab Lalitha.

Setelah sampai di depan pintu Nahen, Lalitha pun membuka pintu kamar tersebut. Lalu terlihat pemandangan kamar yang sangat berantakan.

“Ihh berantakan banget kaya kamar babi,” celetuk Lalitha.

“Ketuk dulu bisa kan,” ucap Nahen.

“Keluar dulu nying, mau ganti baju, mau cepet pergi kan?” tanya Nahen.

“Oke, oke selow bos,” jawab Lalitha.

Lalitha pun keluar dari kamar Nahen.

Saat berjalan-jalan di trotoar Nahen dan Lalitha tidak sengaja melihat Jovan dan Shane.

“Jovan sama Shane kan?” tunjuk Lalitha.

Nahen menyipitkan mata dengan harapan pandangan menjadi sedikit agak jelas. “Eh iya mereka, tapi...,” ucapan Nahen berhenti. Ia merasa ada yang janggal.

“Kenapa?” tanya Lalitha.

Nahen menunjuk dua orang dibelakang Jovan dan Shane. “Kayanya orang itu ikutin mereka deh, lihat itu gerak geriknya mencurigakan,” kata Nahen.

Lalitha memperhatikan dua orang itu, seperti yang dikatakan Nahen mereka mencurigakan. Memotret Jovan dan Shane yang sedang berjalan dan mereka mengikuti langkah Jovan dan Shane.

“Ayo ikuti mereka, gue takut kenapa-kenapa,” ucap Shane.

Nahen pun setuju. Nahen dan Lalitha mengikuti dua orang tersebut.

Disaat Jovan dan Shane akan memasuki minimarket, dengan cepat Nahen menghadang dua orang yang mengikuti Jovan dan Shane.

“Minggir lo,” cetus salah satu dari mereka.

Nahen pun membiarkan mereka lewat.

“Aneh,” lanjutnya.

“Tha nunggu disebelah aja, sambil perhatiin karena takutnya ketawan Jovan sama Shane,” ucap Nahen.

Lalitha hanya mengangguk dan menuruti Nahen.

Nahen mengintip dari jendela minimarket dan benar saja dua orang itu adalah penguntit. Nahen tidak mengenalinya karena mereka memakai topi dan masker sehingga tidak terlihat jelas wajahnya.

Tak lama Jovan dan Shane keluar dari minimarket, dua orang itupun mengikuti mereka.

“Tha lo diem disini aja,” kata Nahen.

Lalitha mengangguk kembali.

Dengan cepat Nahen menahan dua orang itu.

“Ngapain lagi sih lo? Minggir!” titah salah satu Laki-laki itu.

Nahen merebut ponsel yang dipegang oleh Laki-laki itu dan benar saja dugaan Nahen bahwa mereka adalah penguntit.

Laki-laki itu merebut kembali ponselnya.

“Suruhan siapa kalian?” tanya Nahen.

“Ga ada urusan lo,” jawab Laki-laki itu dan ia segera meninggalkan Nahen.

Nahen menarik baju Laki-laki itu.

“Tunggu dulu anjing, lo belum jawab pertanyaan gue,” ucap Nahen.

Laki-laki itu menepis tangan Nahen dan bersiap untuk memukul Nahen, namun Nahen menahannya.

Teman Laki-laki itu tidak terima dan menendang perut Nahen hingga Nahen terjatuh. Tak hanya itu Teman Laki-laki itu memukul pipi Nahen sehingga menyebabkan luka pada ujung bibir Nahen.

Lalitha yang melihat itu dari jauh ia segera berlari untuk menyelamatkan Nahen. Lalitha menghadang Laki-laki itu ketika dia akan lanjut memukuli Nahen.

“Pergi lo semua atau gue panggil polisi!” bentak Lalitha.

Lalitha mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tangan gemetar.

Laki-laki yang melihat itu pun takut dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.

Lalitha berbalik dan membantu Nahen untuk berdiri. “Na, lo gapapa?” tanya Lalitha.

“Gapapa,” jawab Nahen.

“Gapapa gimana, ini bibir lo berdarah ayo obatin dulu,” ajak Lalitha.

“Gapapa tha, pulang aja obatin dirumah ya?” pinta Nahen.

“Yaudah ayo, gue yang nyetir ya udah punya sim ko tenang,” ucap Lalitha.

Akhirnya mereka pun pulang ke rumah Nahen.

Sesampainya di rumah Nahen. Lalitha pun segera mencari kotak P3K.

“Lo duduk disitu,” titah Lalitha, “kotak P3K dimana?” lanjutnya.

“Lemari deket dapur kalo ga salah,” jawab Nahen.

Lalitha pun mencari kotak P3K itu, setelah ketemu ia kembali ke ruang tamu.

“Lo sih ah kenapa coba pake tarik-tarik baju dia segala kan jadi gelut,” ucap Lalitha.

“Bawel, mending obatin dulu deh sakit nih, sshhh perih,” ringis Nahen.

Lalitha mengambil sedikit kapas dan meneteskannya dengan sedikit betadine lalu mengoleskan pelan di sudut bibir Nahen.

“Shhh, sakit Tha,”

“Tahan yaelah jangan kaya anak kecil,”

Disaat Lalitha mengobati lukanya, Nahen tak sengaja memandangi Lalitha.

Lo lagi khawatir gini cantik banget Tha gumamnya dalam hati.

Lalitha mendongkakan kepalanya, kini mata mereka bertemu dan saling bertatapan. Jantung mereka berdetak sangat kencang karena posisi mereka begitu dekat.

Nahen mengulurkan tangannya untuk menyelipkan rambut Lalitha yang berantakan.

“Lo obatin sendiri,” ucap Lalitha tiba-tiba sambil memberikan kapas yang ia pegang kepada Nahen.

“Gue pulang, bye,” pamit Lalitha.

Lalitha pun berdiri dari duduknya dan segera pulang.

Nahen hanya tersenyum memandangi perempuan itu keluar dari rumahnya.

Jantung gue, aman aman aman batinnya dalam hati.