KLM

Jeong Yuno, Go Younjung, Lee Juyeon

Pernah dengar istilah orang yang dulunya kita benci, justru jadi orang yang sekarang bisa deket dengan kita? Mungkin itulah yang dialami oleh Kirana saat ini, ia pernah membenci Raka hanya karena alasan konyol dan kekanakannya. Hanya karena Raka mirip sekali dengan suaminya Ayu di mimpi, pria kasar, arogan, suka berjudi, dan gemar menghabiskan uang milik orang tua nya.

Setiap kali bertemu dengan Raka sepanjang mereka berdua bekerja bersama, Kirana selalu menanamkan dalam dirinya jika pria di hadapannya itu Raka. Yang sangat berbeda dari Dimas, mereka berbeda kepribadian. Dan selama itu pula, Kirana bisa mengenal Raka lebih dekat.

Seperti ia yang kini tahu Raka asik sekali diajak bicara, apapun itu menurut Kirana, Raka dengan mudah menyeimbangi. Misalnya saja mereka pernah dalam situasi canggung ketika mereka berdua sedang dalam mobil Raka sehabis memantau proyek mereka, atau sedang dalam perjalanan bertemu klien mereka. Bermodalkan melihat billboard yang menampakan sebuah film romansa saja Raka sudah bisa membangun obrolan dengan Kirana.

Pria itu bertanya apa genre film kesukaan Kirana, dan siapa sangka jika mereka memiliki selera pada genre film yang sama. Raka banyak merekomendasikan film-film yang menurutnya bagus dan kemungkinan masuk ke dalam selera Kirana. Atau pernah, saat mereka meeting di luar kantor dengan klien mereka disebuah mall. Saat itu sedang ada pameran buku.

Dan dengan melihat tumpukan buku-buku itu saja, Raka tiba-tiba menceletukkan sebuah judul buku yang menurutnya bagus. Dan Kirana yang juga tertarik akhirnya bertukar judul buku yang pernah dibacanya dan menurutnya bagus, meski tidak satu selera bacaan. Raka adalah seseorang yang gemar membaca apapun yang menurutnya menarik dan terbukti, pria itu membeli 1 novel yang direkomendasikan oleh Kirana.

Dan ia lumayan menyukainya, sejak itu setiap kali keduanya bertemu untuk membicarakan perihal pekerjaan, Raka dan Kirana enggak pernah ada dalam situasi yang canggung lagi, selalu ada saja topik yang mereka bahas soal film dan buku yang mereka bagi satu sama lain. Hari ini, masa kerja sama mereka terlibat dalam satu proyek yang sama sudah selesai. Untuk merayakan kesuksesan itu semua, Raka mengajak Kirana untuk makan di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor mereka berada.

Tadinya, Kirana mengajak Almira. Namun apa daya wanita itu sudah ada janji dengan mutual dari fandom boygrup kesukaanya. Jadilah keduanya bertemu di restoran tempat mereka membuat janji, tentu saja Kirana sudah bilang ke Bagas agar pria itu tidak salah paham. Meski berniat melepas pelan-pelan pria yang ia sayangi, Kirana tidak mau membuat Bagas sakit seperti berpikir ia berselingkuh hanya karena bertemu berdua dengan Raka di luar pekerjaan, Kirana ingin Bagas paham bahwa mereka tidak bersama hanya karena Kirana tidak ingin memaksakan restu yang tidak pernah mereka berdua dapat dari keluarga Bagas.

“Pesan yang banyak, Na. Saya yang traktir ini.” Raka tersenyum begitu Kirana mengambil nampan untuk mengambil berbagai jenis daging dan juga sayuran.

Kirana yang diberi kesempatan oleh Raka untuk memilih ingin merayakan keberhasilan mereka direstoran mana, Dan Kirana memakai kesempatan itu untuk memilih All You Can Eat. Kirana sudah mengidam-idamkan makan disana, sebenarnya ia pernah kesana dengan Bagas waktu itu sebelum ia kecelakaan.

“Harus yang banyak, Mas Raka. Biar enggak rugi.” Kirana terkekeh pelan, setelah selesai mengambil apa saja yang ingin ia makan, keduanya langsung menuju meja mereka. Memasak makanan yang mereka inginkan sesuai dengan selera masing-masing.

“Saya baru pertama kali makan kaya gini loh.” Raka itu tipe pria yang jarang sekali menjelajah kuliner, yang ia makan hanya itu-itu saja. Lebih banyak masakan rumahan, ia tidak pernah mengikuti makanan-makanan yang sedang naik daun. Ia bisa terbilang jarang menjelajah sosial media.

“Mininal sekali seumur hidup sih, Mas. Itupun kalau enggak ketagihan. Apalagi kalau Mas Raka suka daging, ini kesempatan banget sih.” Kirana memasukan satu suapan daging dan sayu-sayuran ke mulutnya, ia tersenyum senang begitu rasa gurih dan segar dari daging dan sayuran itu masuk ke dalam mulutnya.

“Kayanya saya bakalan ngajak anak saya kesini deh kapan-kapan soalnya dia suka banget juga makan daging.”

“Oh ya?”

Raka mengangguk, sambil sesekali meracik bumbu-bumbu untuk makanannya. “Iya, dari kecil suka banget sama daging, kamu sudah lihat foto anak saya kan, Na?”

“Udah kok, yang mirip banget sama Mas Raka itu kan?” Kirana jadi teringat, wajah anak itu bukan hanya mirip Raka. Namun mirip wajah seseorang yang tidak asing baginya, namun Kirana belum yakin betul orang itu siapa.

Semenjak mengalami mimpi yang terus berlanjut setiap harinya, kadang Kirana suka linglung mengenali orang. Seperti apakah orang ini ia kenal dari mimpinya atau dimasa sekarang ia hidup.

Raka terkekeh pelan, baginya juga begitu. Kirana bahkan orang kesekian yang mengatakan jika Reisaka adalah foto kopiannya. “Betul.”

“Kapan-kapan ajak main dong, Mas. Kalau ada outing kantor ajak aja. Biasanya karyawan lain juga pada ngajak anak atau istrinya.”

“Ya nanti kapan-kapan saya ajak dia.”

Kirana terkekeh saat melihat cara makan Raka yang menurutnya agak aneh, yup, pria itu justru mau memasukan daun perilla kedalam kuah tomyum. Padahal daun itu bisa menjadi wadah bungkus untuk disatukan dengan daging, jamur, bawang putih dan juga aneka toping lainnya.

“Mas Raka, bukan gitu caranya. Nih saya kasih tau ya liatin.”

Kirana mengambil satu lembar daun perilla miliknya, memasukan daging yang sudah matang dipanggang, bawang putih, sedikit nasi, dan bumbu ssamjang kemudian membungkusnya dengan rapih, dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Gitu, saya pernah diajarin sama Almira dan beberapa kali nonton dari drama juga sih, ini itu namanya 쌈 (Ssam) yang artinya bungkus. Cobain deh enak tau!” Mata Kirana bersinar sewaktu menjelaskannya membuat Raka beberapa kali tertawa karena kalau diingat tentang betapa juteknya Kirana dulu sangatlah lucu.

“Oke saya coba ya.” Raka mengambil daun perilla itu dan mempraktikannya seperti yang Kirana peragakan barusan, dalam satu kali suapan semua itu masuk ke dalam mulut Raka dan pria itu tersenyum, bahkan matanya tidak bisa berbohong jika cara makan yang ditunjukkan oleh Kirana itu begitu nikmat. “Iya benar, ini enak banget.”

“Ya kan!!”

Keduanya makan begitu lahap, seolah-oalah tidak ingin waktu yang tersisa tidak mereka manfaatkan untuk mengisi perut mereka dengan mencicipi hampir seluruh hidangan. Mereka sempat membicarakan tentang novel yang Kirana rekomendasikan pada Raka, tentang tokoh dalam novel tersebut, tentang jalan cerita dan alurnya. Sampai dimana Raka mendapati panggilan dari Reisaka, bocah itu menitip sesuatu pada Raka.

“Anak saya nitip es krim, Na.” Raka menaruh ponselnya dan kemudian memakan kembali es krim dengan toping cococruch dan sprinkle di atasnya yang Raka ambil sendiri bersama Kirana.

“Oh ya? Gara-gara Mas Raka kirim foto es krim ini ke dia ya?”

Raka mengangguk, “kalau saya ajak jalan-jalan nih, yang dia minta pertama pasti es krim. Suka banget dia sama makanan manis dan dingin.”

“Khas anak-anak banget yah, Mas. Ah, tapi saya udah segede ini juga masih suka es krim sih.” Kirana tersenyum dan kembali menyendok es krim rasa strawberry miliknya itu.

Getar pada ponsel yang ia taruh di mejanya itu menyita lirikan Kirana, ada pesan singkat dari Bagas, pria itu bilang ia menunggunya di halte bus dekat dengan restoran tempat Kirana dan Raka makan-makan. Kirana hanya menghela nafasnya pelan, hampir 2 minggu tidak bicara banyak dengan pria itu membuatnya rindu. Rindu akan berceloteh dengan Bagas, mencari makanan setelah pulang bekerja, menemani pria itu mencari buku kesukaanya atau memasakan sesuatu untuknya.

Melihat perubahan wajahnya membuat kening Raka mengkerut bingung, karena sedrastis itu perubahan wajah Kirana, wanita itu yang tadinya tersenyum menjadi sedikit murung dan tatapannya kosong sembari mengaduk-aduk es krim yang mereka ambil tadi. Seperti tengah mengisi kekosongan hatinya dengan mengaduk isi es krim tersebut menjadi satu tanpa ia berniat menyendokan lagi makanan dingin itu ke dalam mulutnya.

“Kenapa, Na? Kok BT gitu?” Tak lama kemudian Kirana mengadahkan wajahnya menatap Raka, wanita itu tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan agar ia terlihat baik-baik saja.

“Gapapa, Mas. by the way saya balik duluan boleh? Bagas udah nunggu.”

“Oh boleh dong boleh.” Raka mengangguk-angguk. “Kita juga udah selesai makannya kan, sana kamu samperin kasian cowokmu sering galau akhir-akhir ini kayanya.”

Kirana yang tadi hendak memakai tas itu jadi menghentikan geraknya, ia menoleh pada Raka dan membuat Raka menaikan sebelah alisnya.

“Gimana, Mas?”

“Apanya?” Raka bingung.

“Bagas suka galau?”

Raka mengangguk pelan, “iya kelihatannya.”

Benarkah? Kirana menghela nafasnya dengan kasar, kalau benar apa yang dikatakan Raka barusan jika Bagas sering kelihatan galau itu artinya ia sudah menyakiti hati pria itu dengan sengaja. Selama berkencan dengan Bagas, sebenarnya hubungan mereka terbilang sehat jauh dari kata toxic, Bagas adalah pria yang mendukung penuh apa yang di lakukan oleh Kirana.

Begitu pun sebaliknya, saat sedang tertimpa masalah mereka akan saling bantu, menyelesaikannya bersama dengan banyak mengobrol. Isi kepalanya tak selalu sama, tapi keduanya mau belajar untuk saling menghargai. Malam itu, Kirana berjalan keluar restoran setelah mengucapkan terima kasih pada Raka, jalan gontai yang diselingi dengan keresahan hatinya, tanganya sibuk memilin cardigan kuning yang ia kenakan.

Ia biarkan angin malam itu meniup sedang rambutnya yang mulai panjang, isi kepalanya penuh, ramai, gaduh. Seperti isi jalanan Jakarta yang sampai jam tujuh malam pun masih begitu padat. Langkahnya membawa Kirana pada halte bus tempat Bagas menunggu, pria itu ada di sana, duduk menunggu dengan buku di pangkuannya. Tidak Kirana dapati mobil Bagas di sana, naik apakah pria itu untuk sampai di sini?

“Hai?” Sapa nya ketika ia sudah berada di halte bus itu, tidak begitu ramai. Hanya ada pekerja kantoran yang duduk agak jauh dari tempat Bagas duduk, memakai earphone dan nampak fokus pada ponsel digenggamannya seperti tidak tertarik pada hal-hal lain di sekitarnya selain ponsel yang terus menyita perhatiannya.

“Hai, sini duduk.” Bagas bergeser, menaruh pembatas buku dibuku miliknya dan tersenyum manis menatap Kirana. Ia rindu, wanita itu sangat amat merindukannya. “Udah selesai ditraktirnya?”

“Um.” Kirana mengangguk, “kamu baca apa?”

Bagas tersenyum, ia memberikan buku yang sedang ia baca pada Kirana. “The Daily Stoic.”

Kirana tersenyum, membaca cover depan pada buku yang diberikan oleh pria itu. Buku khas yang Bagas sukai sekali. “Kamu udah selesai baca The Stranger dari Albert Camus?”

“Udah, sayang. Mau pinjam?”

Kirana tersenyum dan mengangguk kecil, selera bacaan keduanya berbeda. Kirana yang gemar membaca dari penulis-penulis lokal dan Bagas yang menyukai penulis-penulis Prancis. Namun walaupun begitu, setiap kali membaca buku mereka akan bercerita satu sama lain, saling meracuni siapa salah satu di antara mereka terpikat.

“Tumben, biasanya kamu suka penulis-penulis lokal.” Tangan Bagas terulur mengusap kepala Kirana.

“Lagi kepengen aja, boleh ya? Kita ambil sekarang?”

“Um, tapi kita ke rumahku naik bus gapapa ya? Mobilku lagi di bengkel.”

“Gapapa,” Kirana menautkan jemari tangannya pada Bagas, keduanya berdiri dan masuk ke dalam bus yang akan membawanya ke rumah yang Bagas sewa, sembari mendengarkan Bagas berceloteh tentang buku yang ia baca barusan. Kirana tidak banyak berkomentar, ia hanya mengangguk dan terus mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.


Berceloteh, berpegangan tangan, saling memandang. Itu yang dilakukan Kirana dan Bagas malam itu, setelah turun dari bus yang membawa mereka sampai daerah rumah Bagas keduanya turun dan berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Bagas masih menceritakan tentang buku yang tengah ia baca, sambil sesekali Kirana menimpali buku yang ingin ia beli segera.

Terkadang mereka tertawa, tidak lepas namun tawa itu cukup mengisi ruang kosong setelah beberapa hari Kirana menghindar. Mengisi ruang rindu yang tersisa, biarkan kali ini Kirana egois, biarkan malam ini wanita itu bersama pria yang ia cintai. Kirana hanya ingin menghabiskan waktu bersama Bagas saja malam ini, melakukan apa saja bahkan Kirana bersedia jika mereka tidak melakukan apa-apa.

Begitu sampai di rumah, Kirana duduk di kursi ruang tamu yang di belakangnya terdapat rak buku besar milik Bagas. Ada banyak sekali koleksi buku milik pria itu, mulai dari buku mereka jaman kuliah, buku filsafat, novel-novel terjemahan karya penulis-penulis Prancis yang selalu Bagas sukai, buku berisi cerpen milik penulis lokal ataupun buku-buku kumpulan puisi.

“Sayang, mau makan gak?” teriak Bagas dari dalam dapurnya, ia sedikit menoleh ke arah ruang tamu demi melihat apa yang wanitanya sedang lakukan. Kirana tengah berjongkok dihadapan rak-rak besar disana, mencari buku yang ingin ia pinjam.

“Gausah, aku masih kenyang.”

“Cemilan mau?”

“Apa?”

“Aku punya bolu kukus.” Bagas membuka kulkas miliknya, memastikan persediaan bolu yang kemarin ia beli masih ada.

“Iya boleh.”

Kirana masih terpanah akan rak buku dan koleksi buku-buku milik pria itu, Bagas sangat menyukai novel-novel romantis. Mungkin itu adalah alasan mengapa ia selalu mempunya sejuta cara memperlakukan Kirana dengan sangat manis, Kirana pernah berpikir jika pria itu terinspirasi dari tokoh-tokoh yang ia baca bagaimana mereka memperlakukan wanita. Namun pernyataan itu ditepis oleh prianya karna pada dasarnya sikap alami Bagas memanglah seperti itu.

Pria itu menata bolu ketan hitam di piring kecil dan menyajikannya bersama teh hangat dalam satu nampan, ia kemudian berjalan ke ruang tamu dan menaruh nampan itu di meja. Langkahnya kemudian terhenti tepat di belakang Kirana yang masih asik membaca bagian belakang buku miliknya.

“Udah ketemu buku yang kamu mau?” tanyanya, tangannya yang panjang itu menghalau bagian samping Kirana. Seperti tengah mengurung tubuh kecil itu di sana tanpa mengintimidasinya.

Kirana tersenyum dan mengangguk, “tapi kamu naruhnya di atas situ. Aku gak sampe, ambilin ya?”

Bagas mengangguk, tubuhnya yang jangkung serta tanganya yang panjang itu dengan mudahnya mengambil buku miliknya. Tanpa drama harus berjinjit, berpegangan apalagi harus naik ke kursi. Semudah itu dan ia memberikannya pada Kirana.

“Mau baca sekarang?”

Kirana menggeleng, “aku mau baca di rumah.”

Keduanya saling menatap, Bagas jatuh pada kubangan rindu didadanya. Mata teduh yang terlihat sendu itu kini menatapnya, seperti berharap entah apa yang wanitanya itu harapkan. Tangan Bagas terbebas, tidak ada benda digenggamannya maka ia dengan leluasa mengusap lembut pipi kekasihnya itu.

“Aku kangen kamu, Na,” bisiknya, terdengar lirih di telinga Kirana. Hatinya sakit dengan buncahan belati yang seperti tengah menghunus hatinya. Ia ingin sekali memeluk Bagas erat tanpa melepaskannya dan mengatakan dengan lantang jika ia jauh lebih merindukan pria itu.

“Bagas?”

“Hm?”

“Aku mau ciuman.” entah hasutan dari mana sampai-sampai Kirana yang dikenal lugu di usianya yang 27 tahun itu dengan percaya dirinya meminta sebuah ciuman pada pria di depannya itu.

Bagas tersipu, bibirnya tertarik kecil membentuk sebuah senyuman dan kepalanya mengangguk kecil. Dengan mudahnya ia sedikit membungkukkan tubuhnya, demi mensejajarkan wajahnya dengan bibir Kirana. Semakin dekat, hingga nafas Bagas behasil menyapu wajah Kirana. Dua anak manusia itu saling memejamkan mata, kedua bibir mereka bertemu. Saling mengecup, melumat sesekali dengan kepala yang saling miring secara berlawanan. Buku yang tadinya ada di tangan Kirana itu jatuh begitu saja, tangannya kini dengan leluasa bertengger di bahu Bagas, mengusapnya pelan hingga kebelakang punggung lebar pria itu.

Kedua pipi Kirana merah padam menahan gairahnya, tangannya dengan lantang membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Bagas dengan tidak sabaran, pria itu tentulah kaget dalam ciuman penuh menuntutnya, bagaimana bisa tangan kecil, putih dengan kuku-kuku bersih itu yang selalu terbungkus dalam rasa segan dan sopan bisa diluar imajinasinya. Kemaja Bagas terlepas, menampakan tubuh gagah pria itu. Keduanya saling melucuti, menelanjangi hingga Bagas berani menghimpit tubuh mungil itu ke rak penuh buku. Jauh dari bayangan Kirana jika Bagas memiliki daya ledak yang cukup tinggi, sehingga pria itu terlalu paham bagian mana dari tubuhnya yang membuatnya selalu menyeruhkan nama Bagas dengan nada terputus-putus penuh keputus asaan dan penekanan itu.

“Aaahhh...” Lenguk Kirana, di sela-sela cumbuan Bagas di leher jenjangnya.

Bagas dengan leluasanya mengangkat tubuh mungil itu, membawanya ke kamar dan menjatuhkan tubuh Kirana ke ranjangnya penuh kehati-hatian seoalah-olah Kirana adalah sebuah porselen yang bisa saja hancur jika ia mengguncangnya agak keras. Tangan keduanya terpaut, dengan ciuman saling menuntut. Bahkan buah dada Kirana yang biasanya terbungkus oleh kain itu kini bisa dengan leluasa Bagas lihat, ternyata tubuh itu lebih indah dari yang selama ini ia bayangkan.

“Mmnhhh...” Kirana terus melenguh, ketika jemari Bagas meremas dadanya. Sekejap ia lupakan dunianya yang kejam. Tak ada lagi kata-kata menyakitkan orang tua Bagas di telinganya.

Bagas sempat menatap wajah merah padam Kirana, tubuh kedua anak manusia itu di penuhi peluh. Keduanya saling tersenyum dan ini adalah pertama kali bagi keduanya, Bagas hanya ingin memastikan bahwa Kirana juga menginginkannya bukan hanya dirinya sendiri.

“Aku gak punya pengaman,” bisik pria itu.

Kirana mengangguk, ia hanya ingin melakukan hal ini dengan pria yang sangat ia cintai. “Aku tau.”

Bagas tersenyum, kembali ia buru bibir mungil itu tidak sabaran sembari sesekali kedua tangannya melebarkan kedua paha Kirana yang kini tidak terhalang kain sehelai pun. Ketika tubuh Bagas memasuki tubuhnya, memasuki diri Kirana. Barulah Kirana sadar jika ia telah meninggalkan dunia yang terlalu kejam padanya, perasaan baru sengan rasa sakit dan nikmat yang lebih dominan itu mampu menerbangkan kewarasan keduanya pada taraf tertinggi. Bagas memejamkan matanya, menggerakan tubuhnya di atas tubuh mungil itu dengan kedua lengan yang menahan bobot tubuhnya agar tidak menindihi tubuh Kirana sepenuhnya.

“Ooohhhh...” Bagas mengigit bibirnya, ia baru tahu menyatukan tubuhnya dengan Kirana ternyata bisa segila ini. “Sayang...”

“Bagas... Nggg.” Kirana memeluk Bagas ketika tubuh keduanya menegang dan memejamkan matanya, menikmati derasnya benih cinta keduanya menyatu di dalam sana.

Bersambung

Kala Raga sedang melewati panjangnya jalan menuju rumahnya, tidak sengaja ekor matanya melihat Bagas dan Kirana tengah duduk berdua di halte bus. Entah apa yang sedang keduanya bicarakan, tampak serasi, tampak melempar senyum satu sama lain. Layaknya seorang remaja yang tengah puber dan dimabuk cinta.

Mobil yang dikendarain terhenti, entah apa yang membuat Raga menginjak rem untuk menelisik apa yang pasangan itu lakukan. Meski hatinya sendiri seperti tercabik-cabik, Raga masih menyangkal terkadang jika ia sudah jatuh cinta dengan Kirana karena mimpi sialan itu. Namun terkadang juga ia membiarkan dirinya menyerah dan mengakui jika ia memang jatuh cinta.

Boleh dikatakan ia bodoh, baper, tidak tahu malu atau umpatan apapun tentang seorang pria yang menyukai wanita milik pria lain. Tapi tidak ada keinginan lebih dari Raga selain hanya memastikan Kirana baik-baik saja, tersenyum dan memandangnya dari jauh. Ia tak ada niatan untuk merebut apalagi menghancurkan hubungan keduanya.

Ketika sebuah bus datang dan berhenti di halte, pasangan itu saling bergandeng tangan dan masuk ke dalamnya. Dan Raga masih terpaku di tempatnya, meremat setir mobilnya sembari menata kepingan hatinya yang hancur setelah diterpa rasa cemburu. Setelah bus itu sedikit menjauh, ia kemudikan lagi mobil miliknya untuk segera pulang.

Ia sudah lelah dan ingin segera istirahat, sesampainya di rumah justru rasa malas mendera Raga hingga ia hanya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Menatap dengan pandangan kosong pada langit-langit gipsum ruang tamunya sembari mempertimbangkan keputusan besar yang akan merubah karirnya.

Ini soal tawaran Ethan, Raga masih mempertimbangkannya dan Ethan sudah meminta keputusan Raga. Dalam hati ia tidak membenarkan perasaan ini, ia harus melupakan Kirana. Tapi jika terus bertemu dengan wanita itu setiap hari di kantor apakah itu akan menjadi mudah? Katakanlah ia pindah kantor hanya demi move on dari wanita itu.

Lalu tanganya merogoh kantong celana miliknya, mengambil benda persegi itu dan mengetikkan sebuah nama di sana. Raga akan menelfon Ethan, tak lama untuk membuat Raga dapat mendengar suara iparnya dari sebrang sana. Karena pada bunyi nada sambung ketiga Ethan sudah mengangkat panggilannya.

hallo, Ga? Ada apa?

“Malam, Mas Ethan. Raga mau ngomongin soal tawaran Mas Ethan.” Raga bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.

ah, iya. Gimana-gimana? Sudah punya keputusan, Ga?

“Raga ambil, Mas. Raga bersedia pindah ke kantor Mas Ethan. Tapi tolong beri waktu sampai Raga menyelesaikan pekerjaan Raga di kantor yang sekarang ini, bagaimana?”

ah serius kamu?!” pekik Ethan tidak menyangka saking susahnya Raga diajak untuk bekerja di kantornya. “*boleh lah, Ga. Selesaikan saja dulu, Ga. Tidak usah buru-buru kapanpun kamu ingin pindah Mas selalu menyambut.”

Raga mengangguk kecil, meski ia yakin Ethan tidak akan melihatnya. “Tapi rahasiain dulu dari Mbak Adel ya, Mas.”

Raga hanya tidak ingin Adel mengintrogasinya dengan rentetan pertanyaan mengapa pada akhirnya ia berlabuh pada kantor iparnya itu, apalagi kalau sampai kakaknya itu menebak alasannya bukan hanya ingin keluar dari zona nya. Melainkan demi melupakan perasaanya pada Kirana, maklum lah terlampau sering Adel menebak, dan sialnya semua tebakannya adalah sebenar-benarnya diri Raga.

iya, tenang aja. Tapi, Ga. Ini kamu mau pindah kantor beneran? Haha sampe kaget Mas loh, tadinya udah pesimis banget.”

Raga terdiam, menghela nafasnya sendiri dengan kasar. Ia sendiri masih setengah hati, namun tak ada salahnya mencoba keluar dari bubble nya sendiri. Ia ingin melindungi hatinya yang sudah kalah, ia harus tahu diri untuk tidak jatuh lebih dalam pada wanita yang sudah menjadi milik orang lain.

Ga?” panggil Mas Ethan karena Raga tidak kunjung menyahut.

“Gapapa, Mas. Raga mau keluar dari zona nyaman aja.”

Setelah selesai sedikit mengobrol pada Ethan, Raga melangkah masuk ke dalam kamarnya. Matanya sontak melihat bunga yang Raga bawa dari cafe, bunga yang dibawa Kirana sewaktu Kirana bertemu dengan orang tua Bagas. Saat pertama kali orang tua Bagas menyuruhnya menjauhi putra mereka secara terang-terangan. Waktu itu Raga duduk di belakang Kirana, sewaktu itu Raga sendiri kaget jika ia bertemu Kirana di sana.

Raga ambil bunga itu dan ia bawa pulang, bunga cantik yang dirangkai khusus namun justru tidak diberikan pada orang yang seharusnya menjadi pemiliknya. Bunga itu sudah layu, menghitam, mengecil dan sebentar lagi mungkin akan jatuh ke dalam vas bunga yang Raga isi air. Namun ia enggan membuangnya, biarlah bunga itu mati sendiri, jika sudah mati, mungkin Raga akan menjemurnya dan tetap menyimpan kelopak demi kelopak yang berjatuhan itu, atau tidak masalah meski ia hanya menyimpan tali yang meggabungkan setiap tangkai bunga itu.

Mimpi itu masih terngiang, tentang janji Jayden dan Ayu untuk terlahir kembali dan menikah. Tapi jika dugaan itu memang benar, mungkin Jayden dan Ayu kembali tidak berjodoh dikehidupan sekarang ini. Raga sempat menelusuri asal usulnya, tentang keluarga besar dari Papa nya yang juga berkebangsaan Belanda. Namun ia tak mencari tahu lagi lebih dalam, 127 tahun. Sangat sulit jika Raga menyelami sampai sejauh itu.

Itu pun jika benar, jika benar ia adalah keturunan dari keluarga Jayden. Atau ini semua hanya kebetulan saja, entahlah kepala Raga sudah pening rasanya. Lebih baik ia melupakan segala mimpi itu, menguburnya bersama bayang-bayang kecintaanya pada Kirana.


Minggu pagi itu Kirana bangun lebih dulu, ia merenggangkan tubuhnya dan kemudian keluar dari kamarnya. Biasanya minggu pagi seperti ini, Ibu sudah bangun lebih dulu. Entah itu untuk memasak atau menyiram tanaman, Ibu selalu bangun saat menjelang subuh. Saat ini sudah setengah enam dan Ibu belum bangun, Kirana berinsiatif untuk melihat ke kamar Ibunya itu.

Saat pintu kamar Ibu terbuka, wanita itu masih terlelap dengan wajah tenanganya. Kirana tersenyum dan kembali menutup pintu kamar Ibunya kembali. Ia mencuci muka, dan segera membuat teh dan cemilan untuk sarapan di pagi hari. Hari ini dia sudah mengagendakan untuk berbelanja ke pasar bersama Ibu.

Kirana hanya membuat pancake pisang dan teh tawar, kemudian menyiram tanaman di depan rumah mereka sembari menyapa tetangga yang melewati depan rumahnya untuk sekedar berlari pagi atau ingin berbelanja ke pasar. Setelah sudah pukul setengah tujuh, Kirana ingin membangunkan Ibu. Karena jika terlambat sedikit saja ke pasar bisa-bisa ia dan Ibu mendapat ikan yang kurang segar.

Kirana membuka kamar Ibunya lagi, melangkah mendekat ranjang Ibunya itu dan duduk di pinggir kasur Ibunya. “Buk?”

Tak ada sahutan dari Ibu, tapi ada sesuatu yang aneh saat Kirana memegang tangan Ibu untuk sedikit mengguncang tubuhnya. Tangan Ibu dingin, padahal mereka tidak memakai AC. Kening Kirana mengekerut, ada kepanikan menderanya seketika ketika ia memperhatikan tubuh Ibunya.

Tak ada gerakan pada perutnya seperti pada umumnya orang bernafas, tidak kembang kempis. Hanya diam dengan wajah tenang dan pucat serta dingin, Kirana menelan saliva nya susah payah dan kembali membangunkan Ibu nya. Ada sedikit pikiran buruk namun ia tepis dengan segera.

“Buk? Ibu? Udah setengah tujuh, Buk. Katanya mau ke pasar? Kita jadi kan masak pecak?” Sekali lagi, Kirana mengguncang kecil tubuh Ibunya. Jantungnya ingin lepas dari tempatnya ketika tubuh di depannya itu tetap bergeming.

“Buk?” Kirana menggeleng, ia mencoba mendekatkan telapak tanganya pada cuping hidung Ibu. Dan lara kini mendera Kirana ketika tak ia dapati helaan nafas berhembus disana.

“IBU!!!” Kirana panik bukan main, matanya memanas dan air matanya dengan mudahnya menguncur dari pelupuk matanya itu.

Kirana berlari keluar rumahnya, berteriak memanggil siapa saja yang datang atau sekedar lewat rumahnya untuk membantu memastikan Ibunya masih hidup, atau setidaknya membantunya membawa Ibu ke rumah sakit.

“Pak, Buk!! Tolongin Ibu saya!” Pekik Kirana lirih, dadanya sakit bukan main. Ia harap Ibu hanya kelelahan saja dan bukan meninggalkan dirinya.

“Ada apa, Neng?” Tanya seorang Ibu-Ibu yang sepertinya baru saja pulang dari pasar.

“Tolong.. Tolong Ibu..saya..” Kirana terisak, ia menarik tangan Ibu-Ibu itu dan mengajak beberapa warga lain untuk memeriksa keadaan Ibunya.

Meski sudah mendapati pernyataan dari warga yang membantunya jika Ibunya sudah meninggal dunia, Kirana masih enggan mempercayai itu. Ia bersikukuh membawa Ibu ke rumah sakit agar ia bisa mendapatkan peryataan yang legit dari seorang dokter. Warga membantu Kirana membawa Ibu ke rumah sakit terdekat, dalam perjalanan meski matanya buram karena air matanya yang terus mengalir. Kirana berusaha tabah, ia menelfon sanak saudaranya dan juga teman-temannya.

Namun kekecewaan dan kepedihan menerpanya kembali ketika pintu IGD terbuka dan menampakan seorang dokter, dengan wajah yang sulit Kirana artikan. Ia harap Ibunya masih ada, Ibu tidak meninggalkannya, Ibu hanya memerlukan waktu untuk beristirahat sebentar. Namun yang Kirana dengar justru sebaliknya.

“Mbak, Ibu Rahayu sudah meninggal dunia. Ibu sudah meninggal sekitar 4 jam yang lalu.”

Seorang diri Kirana di depan pintu IGD tubuhnya gemetar, seperti tengah tersengat aliran listrik yang siap membuatnya berpindah ke alam lain, ia merosot, menangis dan memegangi dadanya yang terasa di remas dengan kejamnya oleh takdir yang tidak pernah berpihak padanya. Satu-satunya orang yang Kirana miliki di dunia ini, diambil paksa darinya. Membuat Kirana semakin merana hidup dalam kesendirian tanpa orang tua. Ia menangis, begitu lirih sampai beberapa penunggu pasien dan warga yang mengantarnya barusan merasa iba pada Kirana.

Kirana masih belum sanggup untuk berdiri, untuk sekedar mengurus administrasi dan membawa jenazah Ibu nya pulang. Ia masih menunggu Budhe nya untuk datang ke Jakarta dari Semarang, tak lama kemudian dari lorong rumah sakit. Terlihat seorang pria berjalan dengan langkah panjang-panjang mengarah ke padanya.

Persetan dengan siapa pria itu, Kirana masih meratapi nasibnya. Kepalanya pening bukan main, sirna sudah berbelanja ke pasar dan memasak pecak untuk makan siang minggu ini. Pria itu mendekat, tak mampu membuat Kirana menoleh sedikitpun untuk mencari tahu siapa gerangan pria di depannya itu.

“Kirana..” Panggil pria itu dengan suara beratnya, suara yang terlampau Kirana kenal betul itu milik siapa.

Kirana mengadahkan kepalanya, menatap sepasang sandal berbeda warna yang ada di hadapannya itu dan melihat wajah sang empunya. Dugaanya salah jika orang pertama yang datang ke rumah sakit menjemputnya adalah Bagas, justru pria di depannya itu adalah Raga. Dengan nafas tersenggal, kaos oblong, celana training hitam dan sandal jepit yang bahkan berbeda warna. Terlihat compang camping layaknya seorang tuna wisma jika saja Raga tidak kelihatan lebih bersih dan terurus.

Kirana masih bergeming, kemudian Raga berjongkok di depan wanita itu dan menarik kepalanya ke dalam pelukannya. Seketika Kirana luruh, kehancuran dalam dirinya ia tampakan begitu saja. Ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk menemaninya saat ini. Ia menangis, merajuk, merasa kehilangan yang teramat sangat dalam pada pelukan atasannya itu. Ah, tidak. Seharusnya tidak ada sekat lagi diantara mereka karena mereka bukan berada di kantor.

“Ibu saya sudah tidak ada, Pak. Saya yatim piatu,” lirih Kirana dengan suara paraunya.

“Kamu gak sendiri Kirana, kamu masih punya teman-temanmu. Saya juga janji enggak akan membiarkan kamu susah sendirian.”

Kirana tidak menjawab lagi, ia masih terus menangis, menggerung dan meratapi setelah ini ia harus hidup seperti apa karena ia merasa hidupnya sudahlah selesai. 30 menit kemudian datanglah Satya dan Almira, keduanya menemani Kirana di ruang tunggu sementara Raga mengurus administrasi untuk kepulangan jenazah Ibunya Kirana. Ia juga telah meminta bantuan orang suruhannya untuk menyiapkan pemakaman.

Kirana masih melamun dalam pelukan Almira, wanita itu terus mengusap-usap bahu Kirana agar wanita itu tetaplah tabah. Sedangkan Satya, ia sibuk menelfon Bagas. Pria itu bahkan belum datang dan mengangkat telefonnya.

“Gimana, Mas?” Tanya Almira.

“HP nya gak aktif.” Satya berbisik agar Kirana tidak mendengarnya.

Almira menghela nafasnya pelan dan mengigit bibir terdalamnya, bagaimana bisa di saat-saat Kirana membutuhkannya justru Bagas tidak ada. Bahkan Almira dan Satya tidak menyangka jika Raga lah orang pertama yang menyusul Kirana ke rumah sakit setelah Satya mengabarinnya.

Jenazah Ibunya Kirana di bawa pulang, di rumahnya sudah ramai oleh para pelayat, dan orang yang akan memandikan serta mengkafani jenazah. Kirana sempat cuci muka dan berganti baju dahulu ditemani Almira. Ia masih menangis kala menatap cermin dan menampakan dirinya yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk berkabung.

“Setelah ini hidupku gimana yah, Mir. Aku gak bisa hidup tanpa Ibu..” Air mata Kirana kembali jatuh, ia menutup wajahnya dengan jilbab yang ia kenakan.

“Mbak, aku tahu ini gak mudah, tapi Mbak masih punya aku Mbak, masih ada Mas Bagas, Mas Satya dan Pak Raga. Kami disini buatmu, Mbak.”

Kata Raga, penyebab kematian Ibunya Kirana adalah cardiac arrest atau henti jantung. Rencananya setelah adzan dzuhur, jenazahnya akan dimakamkan di TPU Karet Bivak. Dan sampai saat ini, Bagas belumlah datang. Dan Satya memutuskan untuk menjemput pria itu ke rumahnya.

Kirana didampingi oleh Almira yang terus menerus berada di sampingnya itu menyalami satu persatu pelayat yang datang, sementara Raga membantu mengurus berkas-berkas untuk pemakaman. Ada Adel dan Ethan juga kakak dari Raga yang turut melayat.

Setelah adzan dzuhur dan di shalatkan, jenazah Ibunya Kirana akhirnya di kebumikan. Kirana sempat nyaris pingsan kalau saja Almira tidak memeganginya, ia sempat berdoa dan masih menangis ketika para pelayat satu persatu meninggalkan pemakaman.

Kirana sempat mengusap nisan Ibunya, bertuliskan nama Ibunya di sana. Mengaduh terakhir kalinya karena Ibu telah meninggalaknya seorang diri demi bersatu kembali dengan Bapak. Makam kedua orang tua Kirana bersebelahan.

“Kirana sendirian, Buk. Kenapa Ibu gak sempat pamit sama Kirana, Buk.” hari itu langit seperti ikut berdua, mendung, rintih hujan bagai air mata yang jatuh dari pelupuk mata Kirana. Langit ikut menangis mengantar kepergian wanita yang sudah melahirkannya itu.

Dan ketika Kirana, Almira dan Raga ingin pulang. Dari kejauhan Kirana melihat Bagas yang berlari ke arahnya di ikuti Satya di belakangnya, wajahnya panik setengah mati dan matanya memerah. Ia juga merasakan kehilangan sosok Ibu yang bahkan belum sempat ia sebut sebagai 'Ibu Mertua.'

“Na..” Ucap Bagas, pria ingin memeluk Kirana namun Kirana menjauhkan tangan Bagas dari tubuhnya.

“Aku mau pulang, Gas. Nanti malam ada pengajian untuk Ibu.” Kirana kemudian berjalan lebih dulu melewati Bagas yang masih terpaku di tempatnya dan juga Satya yang berada di belakangnya.

Bagas mengepalkan tangannya, ketika ia melihat Raga justru melangkah menyusul Kirana. Namun ia harus menyingkirkan perasaan cemburunya itu, sangat tidak pantas membahasnya sekarang ini.

“Lo dari mana sih, Mas? Kita semua nungguin elo, Mbak Kirana hancur banget tau gak?” Ucap Almira ikut kesal.

“Mir, gue.. Gue rencana mau bikin kejutan buat Kirana, Mir. Gue. Sengaja matiin HP gue karena lagi nyiapin itu semua, gue mau melamar dia malam ini, Mir. Gur gatau kalau akhirnya kaya gini,” jelas Bagas dengan suaranya yang bergetar.

Bersambung...

Sudah satu minggu sejak kepergian Ibu, ini jelas masih meninggalkan duka yang teramat dalam bagi Kirana. Tapi setidaknya kekhawatiran Bagas berkurang sejak Budhe dari pihak Ibu nya datang untuk menemani Kirana di rumahnya. Kirana belum bekerja, kemungkinan besok ia akan kembali bekerja. Dan wanita itu juga masih belum banyak bicara dengan Bagas.

Kirana bukan kecewa dengan Bagas, ya meski sempat ia bertanya-tanya kemana Bagas saat ia membutuhkannya. Bagas juga belum punya kesempatan untuk menjelaskan itu semua pada Kirana, mungkin nanti, saat wanita itu sudah tenang. Saat acara pengajian mengenang 7 hari kepergian Ibu Kirana itu sudah selesai. Bagas membantu Kirana bebenah rumahnya.

Menaruh piring bekas makanan kecil disajikan, membersihkan sampah, menggulung karpet-karpet dan menyapu ruang tamu. Wanita itu masih lebih banyak diam dan melamun, kadang ia mau sedikit berbicara dengan Budhe nya walau kadang hal itu juga sedikit menjadi pemicu Kirana menangis, karena yang mereka bicarakan lebih sering soal Ibu. Jangan bicara tentang Ibu, melihat karangan bunga yang di kirimkan oleh kantor Kirana bekerja, rekan Bapak dulu, dan teman-teman Ibu saja Kirana sudah menangis menyesakkan.

“Makasih yah, nak Bagas. Sudah bantu beres-beres,” ucap Budhe, wanita tua itu tersenyum hangat wajahnya yang agak sedikit menyerupai wajah Ibu nya Kirana itu membuat Bagas menatapnya selayaknya ia menatap Ibunya Kirana.

“Sama-sama Budhe.” Bagas duduk di ruang tamu, tepat di samping Kirana yang masih melamun. Hanya ada mereka bertiga di rumah itu, tamu-tamu yang lain sudah pulang. Termasuk Almira, Raga dan juga Satya.

“Dimakan kue nya Nak Bagas. Budhe mau ke belakang dulu ya, mau beres-beres baju.” sudah 1 minggu Budhe berada di Jakarta, beliau harus segera pulang ke Semarang karena di sana beliau juga mengurus kebun milik keluarga.

“Iya, budhe. Ah iya, besok kalau Budhe mau ke stasiun, biar Bagas saja yang antar ya Budhe, besok pagi Bagas ke sini lagi kok.”

Budhe tersenyum, menampakan kerutan pada wajah dahayu masa lampaunya itu. “Terima kasih ya nak Bagas, besok Budhe kabari ya.”

Kemarin, Bagas sempat mendapat wejangan serta amanat dari Budhe Kirana itu untuk menjaga keponakannya. Mengingat di Jakarta ini, Kirana benar-benar seorang diri tanpa orang tua. Sebenarnya masih ada keluarga dari pihak Bapak yang tinggal di Jakarta, tetapi hubungan Kirana dan keluarga dari Bapaknya itu tidak baik. Apalagi selepas kepergian Bapak, setelah kebangkrutannya itu keluarga Bapak seperti sudah tidak menganggap Kirana sebagai keponakan dan Ibu sebagai iparnya. Jadi Kirana pun sudah menganggap ia tidak memiliki siapa-siapa lagi.

Kini keduanya berada di ruang tamu, Kirana sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Ada begitu banyak penyesalan kenapa ia telah abai memeriksakan kesehatan Ibunya, ada banyak kata andai dalam kepalanya yang Kirana harap ia bisa memutar balikan waktu agar Ibu nya masih ada di rumah ini bersamanya. Setelah Budhe kembali ke Semarang, Kirana akan seorang diri di rumah. Ia tidak mungkin tidak meratapi Ibunya kembali. Meski rumah itu belum banyak memiliki kenangan bersama Ibu, tapi hari-hari mereka banyak di isi dengan memasak bersama, menanam berbagai jenis tumbuhan di depan rumah dan banyak hal yang diobrolkan anak dan orang tua itu.

Apalagi dahulu hanya Ibu sumber kekuatan Kirana dan begitu pula sebaliknya. Banyak duka yang mereka lalui bersama selepas kepergian Bapak. Dan kini Kirana menanggung duka itu sendirian tanpa ia tahu barus membaginya pada siapa.

“Sayang, kamu belum makan. Makan sama aku yuk?” Bagas khawatir bukan main, sudah satu minggu ini Kirana tidak makan nasi. Yang ia makan hanya kue jajanan pasar, roti atau bahkan minum saja. Bagas dan Almira sudah membujuk Kirana untuk setidaknya makan nasi sedikit saja, namun wanita itu tetap enggan.

“Tadi kan udah, Gas.”

“Kan cuma makan lemper aja.”

“Tapi tetap makan kan?” Kirana menjawabnya agak sedikit ketus, perasaanya belum kunjung membaik. Ada sepercik keputus asaan dalam diri Kirana akan sebuah kehilangan, sebuah kepemilikan yang kemudian direnggut paksa. Bapak, Ibu, rumah miliknya dan mungkin sebentar lagi Bagas.

“Aku cuma gak mau kamu sakit, Na.”

“Lebih baik juga aku nyusul orang tuaku, Gas. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi.” air mata Kirana kembali mengembang, yang mungkin jika ia berkedip sedikit saja air mata itu akan terjun bebas dari matanya.

“Masih ada aku, Na.”

“Kamu bukan keluargaku, Gas!” Kirana meninggikan sedikit nada bicaranya. Setelah sadar, ia kemudian mengusap wajahnya putus asa dan memegang tangan Bagas. “Kamu bukan orang tuaku.”

Bagas mengangguk kecil, ia paham Kirana tidak bermaksud menyinggung perasaanya. Biar bagaimana pun yang dikatakan wanita itu benar, ia belumlah menjadi keluarganya. Ia masih kekasih Kirana. “Na, mungkin aku gak bisa menggantikan peran kedua orang tua kamu, tapi aku, aku mau nemenin kamu terus, Na. Jadi tempat kamu pulang.”

Kirana tidak menjawab, ia justru terisak. Bagaimana mengatakan pada Bagas jika mungkin benar pria itu tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi justru sebaliknya, Kirana lah yang akan meninggalkan Bagas. Sebelum Ibu meninggal Kirana telah memikirkan cara bagaimana mula-mula ia menjauhi Bagas kembali setelah kejadian malam itu. Ia ingin melepaskan Bagas, dan mungkin kesempatan itu telah datang kepadanya bersamaan dengan duka kepergian Ibunya. Ia bisa memanfaatkan ketidakhadiran Bagas saat ia membutuhkannya, lebih baik sakit sekalian kehilangan dua orang yang ia sayangi. Dari pada harus melepasnya satu persatu dan merasa sakit kembali.

“Waktu hari Ibu meninggal dan kamu telfon aku, aku minta maaf karena aku gak aktifin HP ku. Aku dan Kanes lagi nyiapin sesuatu untuk kamu, Na. Aku kaget waktu tiba-tiba aja Mas Satya datang dan ngasih kabar tentang Ibu kamu, maafin aku, Na.” Bagas mengenggam tangan Kirana, masih terus merasa bersalah bila ia mengingat kejadian hari itu. Ia merasa begitu bodoh, padahal biasanya ia tidak pernah mematikan ponselnya dalam keadaan apapun dengan sengaja.

Entah sesuatu apa yang Bagas maksud, karena Bagas juga belum menjelaskannya pada Kirana. Ia merasa waktu untuk menjelaskan itu semua belum pantas. Kirana masih dalam masa berkabung dan perasaanya juga belum membaik, mungkin jika Kirana sudah sedikit lebih baik ia akan menjelaskannya pada Kirana.

Sempat hening beberapa saat diantara mereka, Kirana yang sibuk menangis dan kemudian saat tenang ia lebih banyak melamun dan Bagas yang sibuk menatap wajah cantik di depannya itu yang masih meratap. Jika ada cara untuk mengambil alih seluruh sakit, kerapuhan dan kesedihan pada wanitanya. Bagas akan melakukan berbagai cara itu agar hanya tersisa senyum di wajah Kirana.

“Sayang? Istirahat ya, aku antar ke kamar kamu ya? Besok pagi aku kesini lagi buat antar Budhe ke stasiun. Besok kamu mau sarapan apa?”

Kirana masih diam beberapa saat sampai akhirnya ia menoleh pada Bagas, wajahnya masih tertutup awan mendung. Kedua netranya terlihat menyakitkan bagi siapapun yang melihatnya. Dengan gerakan lembut, Kirana menarik tangannya dari genggaman tangan Bagas.

“Bagas?” panggilnya dengan suara lirih.

“Ya, sayang?”

“Aku mau kita putus.”

Tidak ada sahutan dari Bagas, ia berharap ia salah mendengar atau ia berharap ini mimpi buruk, apapun itu asal bukan ini kenyataanya. Ia menampilkan wajah bingungnya dan kemudian tertawa hambar. Ia anggap ucapan Kirana barusan adalah sebuah lelucon. “Gimana? Aku belum dengar kamu tadi ngomong apa.”

“Aku mau putus, Gas. Aku mau kita udahan,” Kirana memperjelas ucapanya dengan penuh penekanan.

🍃🍃🍃

Setelah menyelesaikan meeting nya bersama kliennya pagi ini, Raga kembali ke ruanganya. Harinya mulai hectic sekali menyelesaikan proyek-proyek yang digarapnya. Ia belum memberitahu pada siapapun soal pengunduran dirinya nanti, ia masih menyimpannya sendiri. Beberapa hari ini Kirana juga belum masuk kerja sebenarnya Pak Suryana selaku HRD sudah menanyakan perihal seringnya Kirana tidak hadir di kantor pada Raga. Mengingat Raga lah team leader di kantor itu.

Bisa dikatakan Raga terlampau sering menutup-nutupi soal keabsenan Kirana pada Pak Suryana. Ia tidak ingin Kirana berhadapan dengan Pak Suryana soal kedisiplinan, apalagi jika sampai-sampai dia mendapatkan surat peringatan atau lebih buruknya dipecat. Raga tidak ingin itu terjadi dan menambah penderitaan Kirana, sudah cukup sampai dikehilangan orang tuanya saja. Raga tidak ingin Kirana kehilangan hal-hal lain yang ia sayangi.

Merenggangkan badannya yang sedikit kaku, Raga bersandar pada kursinya. Menatap meja Kirana yang kosong terlihat dari ruangannya yang hanya dibatasi oleh dinding kaca. Lalu tak lama kemudian ia melihat ke meja Bagas, meja pria itu juga kosong. Entah kemana Bagas. Pria itu bahkan tidak menghubungi Raga untuk memberikan informasi kenapa dirinya tidak hadir di kantor.

Terlalu lama terbuai dalam isi kepala dan lamunanya sendiri, Raga sampai tidak sadar jika Satya mengetuk pintu ruanganya dan berakhir membuka pintu itu tanpa menunggu jawaban darinya. Pria yang seumuran dengannya itu tersenyum, menampakan rentetan giginya yang rapih dengan senyum menjengkelkan khas dirinya. Tak ada kata segan jika mereka sedang berdua, karena pada dasarnya Satya memang temannya.

“Ngalamun aja, emang punya cicilan ya?” ledek Satya, pria itu menarik kursi yang ada di depan meja Raga dan duduk di sana. Menyerahkan berkas yang Raga minta, ah sebenarnya Satya memang ingin numpang ngadem saja di ruangan Raga.

“Yang banyak cicilan kan elu.” Raga menggeleng, memeriksa berkas yang Satya beri dan menaruhnya kembali.

“Kenapa sih?” semenjak obrolannya dengan Bagas beberapa hari lalu di Hutan Kota, Satya jadi kepikiran, apalagi soal gerak gerik Raga yang jauh lebih sigap pada Kirana. Apa benar dugaan Bagas soal Raga yang menyukai Kirana itu benar? Tapi setahunya, Raga bukanlah pria seperti itu.

Satya mulai menaruh curiga saat Raga memeluk Kirana di lorong rumah sakit saat Ibunya Kirana meninggal. Awalnya Satya hanya menganggap itu bentuk dukungan demi menguatkan hati Kirana yang tengah berkabung, namun apa pantas seorang atasan seperti itu bilamana ia tidak memiliki perasaan lebih pada bawahannya? Itu yang pertama dan yang kedua adalah, Raga lah yang sibuk mengurus pemakaman bahkan mengurus soal catering untuk pengajian 7 hari kepergian Ibu nya Kirana. Sebenarnya Bagas juga melakukan hal yang sama, Bagas juga memesan catering namun soal keabsenan pria itu saat Kirana membutuhkan pelukan seperti sudah diserobot oleh Raga.

Satya dan Almira tentu saja merahasiakan adegan berpelukan itu pada Bagas, keduanya sepakat merahasiakan ini demi menjaga hati Bagas dan juga nama baik Raga. Mereka hanya menganggap itu sebagai pelukan belasungkawa saja, meski rasa curiga keduanya tepis pelan-pelan.

“Gapapa.” Raga menghela nafasnya kasar.

“Ah masa? Muka lu kaya lagi nyimpen banyak beban gitu. Gak mungkin mikirin cicilan kan? Elu mah nganggur juga tetap kaya, Ga.”

Raga terkekeh, ucapan asal dari Satya itu selalu bisa membuatnya tertawa. Ia bahkan tidak merasa sekaya itu sampai-sampai tidak bekerja pun akan tetap kaya. Keluarganya memang memiliki perkebunan dan toko bunga, tapi kalau tidak dikelola dengan baik pasti akan habis juga bukan?

“Mikirin cicilan mah elu.”

“Terus kenapa dong, Pak?”

“Sat?”

“Hm?” Satya tidak mengadahkan pandanganya ke arah Raga, ia sibuk memainkan rubik yang ada di atas meja Raga tadi.

“Gue berencana buat resign.

“Hah?!” kedua mata Satya terbelalak, ia menegakkan duduknya dan melupakan rubik yang belum selesai ia kerjakan itu. “resign? kenapa?”

“Gue ditawarin buat jadi partner di kantornya Mas Ethan.”

“Suaminya Mbak Adel?”

Raga mengangguk, “gue harus keluar dari zona nyaman, Sat.”

Satya terdiam, dia tidak bisa mengomentari hal ini karena Raga pasti sudah memikirkannya matang-matang. Satya kenal Raga, pria tenang itu adalah pria yang sebelum melakukkan sesuatu sudah memikirkannya dengan sangat matang dan penuh perhitungan. Raga bukan orang yang mudah sekali gegabah mengambil sebuah keputusan.

“Kapan, Ga?”

“Mungkin kalau semua proyek yang gue pegang selesai.”

Satya mengangguk-angguk, entah sejak kapan Raga memikirkan ini tapi bagi Satya kenapa semuanya terasa terburu-buru. “Gue beneran kaget sih, Ga. Gak nyangka juga elu bakalan udahan gini aja. Maksud gue, semuanya buru-buru banget. Gue tau banget berkali-kali Mas Ethan minta lo pindah ke kantornya terus elu tolak melulu dan sekarang saatnya? Ini beneran lo gak ada something apa-apa kan?”

Raga sempat terdiam beberapa saat, ia sempat melirik pada meja Kirana di luar sana yang tentu saja ditangkap oleh Satya. Pria itu juga memperhatikan ekor mata Raga mengarah kemana. Satya masih menepis kecurigaanya.

“Gak ada seseorang yang lagi lo hindarin kan, Ga?”

Raga tertawa hambar, ia tahu Satya mungkin hanya menebak. Tetapi kenapa tebakan pria itu tepat pada sasaran? “Menurut lo begitu, Sat?”

Satya mengangguk, “siapa, Ga?”

“Lo udah tau pasti, Sat. Gue enggak mungkin bilang.” firasat Raga, Satya sebenarnya sudah paham. Pria itu hanya butuh pembuktian saja yang asalnya keluar dari mulut Raga.

Damn!” Satya mengusap wajahnya gusar, ternyata dugaan Bagas benar adanya jika Raga menyukai Kirana. Walau masih kaget dan tidak menyangka tapi Satya sudah melihat sendiri sebuah kenyataan. Raga sendirilah yang mengucapkannya bahkan. “Sejak kapan, Ga?”

“Lumayan lama, Sat. Mungkin sejak Kirana sadar dari koma nya. Ada sesuatu yang hanya gue dan dia yang tau.”

“Sinting!!”

“Sat, ini gak kaya apa yang lo pikir.”

“Gue harap pikiran gue salah, Ga.” Satya mulai berpikiran negatif dengan temannya sendiri, ia selalu berharap pikiran itu keliru. Tidak mungkin mereka telah berselingkuh kan?

“Gue bingung harus ngejelasin ini gimana ke elo, dan mungkin ini juga susah dipercaya, Sat. Cuma gue sama Kirana yang percaya karena kami yang ngalamin.”

Satya tertawa hambar, kecewa dan sedikit marah menguasainya namun ia tetap ingin mendengarkan penjelasan Raga. Hari itu Raga menjelaskan tentang mimpinya dan Kirana tentang pemikiran Raga yang menghubungkan dirinya dan Kirana adalah reinkarnasi dari Jayden dan Ayu, termasuk janji kedua pasangan itu. Satya tentu saja tidak percaya, beberapa kali pria itu tertawa dan memandang Raga dengan tatapan meragukkan, mungkin Satya berpikir jika Raga sedang mendongeng, atau sedang mengerjainya atau mungkin lebih buruk lagi Raga sedang mabuk kecubung, tetapi raut wajah Raga sama sekali tidak menampakan kebohongan.

Wajah pria itu terlalu serius untuk sekedar mengerjainya atau mendongengkannya. Satya jadi bingung sendiri, memangnya ada hal seperti itu terjadi di dunia nyata? Satya hanya tahu hal semacam reinkarnasi dan cerita-cerita seperti itu hanya ada di sebuah film.

“Jadi intinya lo pindah buat ngelupain Kirana juga iya?” dari cerita Raga, sejauh ini yang Satya tangkap hanyalah Raga yang pindah kantor demi melupakan Kirana. Bisa dibilang kawannya itu sudah baper.

“Mungkin bisa dibilang begitu, Sat.” Raga mengakuinya. Terdengar konyol memang, bahkan Satya sedari tadi hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.

“Gue bahkan gak percaya reinkarnasi itu ada, Ga. Gue yakin elo gak setolol itu buat ngehubungin semua mimpi lo dan Kirana sama janji si cowok kolonial dalam mimpi lo itu.” bagi Satya, ini semua tidak masuk akal.

“Gue bahkan berusaha ngeyakinin diri gue sendiri, Sat. Gue banyak nyari tahu soal reinkarnasi dari beberapa artikel. Tapi ini yang terjadi sama gue dan Kirana. Lo bisa tanya sendiri sama dia.”

Bersambung...

Sudah sepersekian kalinya Bagas mencoba menguhubungi Kirana meski tak ia dapati jawaban dari sebrang sana, pikirannya kacau, hatinya galau. Tidak ada rasa tenang dalam kepala Bagas tentang ucapan Kirana beberapa hari yang lalu. Setelah mengatakan ingin berpisah dengan Bagas, hendak ia minta penjelasan dari wanita itu. Kirana langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengatakan jika ia lelah. Pada hari berikutnya Bagas terus mencecar Kirana untuk bertemu, menelfonnya dan mengiriminya pesan untuk sekedar mengatakan apa alasan yang membuatnya ingin mengakhiri hubungan mereka, namun tak ada satu pun dari usaha Bagas yang mendapati jawaban yang ia inginkan.

Satu-satunya tempat yang memungkinkan bagi Bagas bertemu dengan Kirana adalah kantor, namun sampai hari ini Kirana belum masuk juga. Bahkan Bagas sudah meminta bantuan Almira untuk menghubungi Kirana, namun hasilnya pun sama. Tak ada jawaban, hari ini sepulang bekerja Bagas buru-buru ke rumah Kirana. Pikirannya tidak akan bisa tenang dan yang semua sedang ia kerjakan takan berjalan dengan semestinya sampai ia mendapatkan penjelasan dari Kirana kenapa wanita itu ingin berpisah.

Pagar rumah Kirana tidak terkunci, rumahnya tetutup namun dari luar Bagas melihat ada cahaya yang berasal dari ruang tamu rumah sewa Kirana. Sebelum mengetuk, ia sempat memperhatikan rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk. Tak ada sepatu Kirana di sana, sepatu yang biasa wanita itu gunakan tidak ada pada tempatnya. Bagas mencoba peruntungannya kali ini, mengetuk pintu rumah Kirana, berharap wanitanya membukakan pintu untuknya.

Satu sampai empat ketukkan pintu tak membuahkan hasil untuknya, tak ada yang menyahut apalagi membukakan pintu untuk Bagas. Menandakan tidak ada orang di rumah. Kemana Kirana pergi? Wanita itu benar-benar menghindarinya? Atau justru Kirana berada di dalam namun enggan bertemu dengannya? Tadinya, Bagas ingin memberikkan waktu bagi Kirana untuk tenang sejenak setelah kepergian Ibu nya. Namun hatinya menyeruak memaksa ingin segera mendapati jawaban. Ego nya muncul dan memaksanya mencecar Kirana untuk mengatakan alasan wanita itu ingin berpisah darinya. Setidaknya jika sudah mengetahui alasannya Bagas baru bisa bernafas dengan lega.

“Cari siapa, Mas?” seseorang dari belakang kepala Bagas sedikit mengejutkannya. Bagas berbalik, mendapati seorang pemuda yang usianya tak jauh darinya. Tetangga sebelah rumah Kirana itu.

“Mbak Kirana nya ada di dalam gak ya?”

“Ohh.. Kayanya tadi pagi pergi, Mas. Gak tau kemana. Pakai tas dan rapih sekali.”

Dahi Bagas berkerut, memakai tas dan rapih sekali. Jika bukan untuk bekerja kemana Kirana pergi? Bahkan hari ini wanita itu tidak berada di kantor. “Ada yang menjemputnya atau dia pergi sendiri mungkin Mas lihat?”

“Pergi sendiri, Mas. Saya cuma berpapasan dan Mbak Kirana berjalan ke arah halte bus.”

Bagas mengehela nafasnya, pikirannya makin berkecamuk dan hatinya belum kunjung tenang. Bahkan jauh dari kata tenang, kemana wanitanya pergi? Dengan siapa dan kemana dia? Kalimat-kalimat itu terus berputar bagai nyanyian di kepala Bagas. Ia kemudian mengangguk pada pemuda di depannya itu dan tersenyum canggung.

“Terima kasih, Mas.”

“Mari..” setelah mengatakan itu, pemuda itu kembali masuk ke rumahnya. Meninggalkan Bagas yang temenung memandang pohon asam jawa yang berdiri kokoh di depan rumah Kirana.

Lampu-lampu jalan yang remang itu sudah mulai dinyalakan, burung-burung gereja yang berterbangan mencari makan telah kembali ke sarangnya. Dan beberapa menit kemudian suara panggilan sembahyang telah dikumandangkan, Bagas bersandar pada kursi di teras rumah Kirana, mengusap wajahnya yang kumal karena pagi tadi ia tidak sempat mandi. Begitu terjaga dari tidurnya, ia langsung melompat dari ranjang dan berganti pakaian. Sekacau itu Bagas sampai-sampai hal-hal seperti mandi dan sarapan saja ia lupakan begitu.

Hatinya memaksa mencari Kirana berkeliling ke jalanan padatnya ibu kota dijam pulang kantor, menelisik jalanan dan halte-halte bus barangkali ia menemukan Kirana sedang duduk di halte atau sedang berjalan. Namun tak dapat ia temui wanita yang menyita pikiran dan hatinya itu, sekali lagi Bagas tak ingin menyerah. Sembari melajukkan mobilnya menuju tempat-tempat yang biasa ia dan Kirana kunjungi. Ia mencoba menelfon Almira kembali. Mana tahu wanita itu bertukar kabar dengan Kirana.

hallo, Mas Bagas?” suara Almira terdengar disebrang sana, mengintrupsi Bagas untuk sadar dari lamunan akan Kirana ditengah kemacetan itu.

“Mir, udah ada kabar dari Kirana belum? Atau dia nelfon lo mungkin?” Suara Bagas serak, tenggorokkanya rasanya tercekat, sakit, seperti ada kawat berduri yang melingkar menusuk langit-langit mulutnya.

belum, Mas. Kalau ada kabar soal Mbak Kirana gue pasti kasih tahu ke elo kok. Udah coba ke rumahnya?

“Udah, dia gak ada di rumah. Tadi tetangganya bilang kalau Kirana tadi pagi pergi.”

Udah coba telfon ke Budhe nya, Mas? Atau ke teman Mbak Kirana yang lain?” Almira memberi saran mana tahu Bagas kepikiran kemana Kirana pergi.

“Dia...” Bagas memejamkan matanya, tak mungkin berkata jujur jika satu-satunya keluarga Kirana di Jakarta dari Bapaknya itu bahkan sudah tak lagi menganggapnya keponakan. Mana mungkin Kirana pergi ke rumah sanak saudara dari Bapaknya itu. “Gak ada keluarga di Jakarta, Mir.”

Duh, Kemana ya. Gini deh, Mas. Gue coba hubungin lagi ya, kalo gak ada jawaban juga. Gue coba cari Mbak Kirana sebisa gue.

“Perlu gue jemput biar kita cari Kirana bareng?”

ah, gak usah, Mas. Gue pergi sama cowok gue kok.” Almira akan mengajak kekasihnya itu mungkin untuk mengatarnya mencari Kirana. Ia juga khawatir dengan keberadaan wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu.

“Oke, kabarin gue lagi yah, Mir.”

Dalam gemerlapnya lampu kota yang menerangi malam itu, melayang jauh pikiran Bagas ke hari-hari sebelumnya. Hidupnya kini bagai di putar balik ke arah yang berlawanan, bertanya entah pada siapa tentang apa yang terjadi pada Kirana sehingga wanita itu memutuskan untuk menghindarinya, memutuskan hubungan mereka yang dibangun setelah sekian lama dengan cinta, kepercayaan dan kasih sayang. Mata nya masih menelisik ke setiap jalan, ke tempat-tempat makan di pinggir jalan. Berharap disalah satu tenda sana ada Kirana yang tengah duduk atau mungkin tengah makan.

Sementara itu, di belahan jalan lain. Seorang wanita dengan tas punggung berwarna abu berjalan gontai dengan pandangan kosong mengawang jauh dari pikirannya. Tubuh dan roh nya seperti terpisah, berjalan tanpa arah dan tujuan tadinya. Mendatangi tempat-tempat ramai demi mengisi kekosongan di hatinya namun itu semua tidak lantas membuat kesedihannya mengabur. Ketika hari mulai malam dan jalanan mulai lenggang, pada pemberhentian terakhir bus itu kakinya turun melangkah. Kirana tak ingin pulang, ia tak ingin mati karena kesepian dan hilang ditelan isi kepalanya sendiri yang ramai porak poranda.

Tempatnya mengadu kini menjadi sesuatu yang ia hindari, maka biarkan ia melangkah ke kosan milik Almira. Tidak perduli pada titik air gerimis yang berjatuhan mengenai kepalanya, pada cahaya remang lampu pinggir jalan, pada siulan pria-pria yang tengah bergitar di pos dan bertanya dirinya hendak kemana hujan-hujanan. Ia tak perduli, ia hanya ingin mencoba mengabaikan rasa sakitnya.

Begitu sampai di depan pintu kamar kost Almira, Kirana mengetuknya pelan. Sangat pelan namun mampu membuat sang empunya kamar berjalan keluar dan membukakan pintunya, begitu terkejut Almira mendapati Kirana datang ke kosannya dengan keadaan kacau. Rambutnya basah, dan sedikit berantakan, kemeja yang dikenakannya basah dan wajahnya yang dingin dan pucat.

“Ya ampun, Mbak.” Ditariknya tangan wanita itu ke dalam kamarnya, kemudian ia tutup kembali. Menyuruh Kirana untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. “Mbak kamu habis dari mana? Semua orang nyariin kamu.”

Kirana masih diam, ia ingin menjerit jika ia sudah tidak sanggup untuk melanjutkan hidup ini. Namun itu semua tertahan di tenggorokannya yang sangat kering, seharian ini ia belum minum apalagi makan. Yang di telannya hanya saliva nya saja. “Mir, aku haus.”

Almira mengangguk kecil, “iya sebentar, aku ambil air dulu ya.”

Almira buru-buru melangkahkan kakinya ke dapur, menuang segelas air putih dan kembali ke sofa tempat Kirana duduk. Almira berjongkok dan memberikan air itu ke tangan Kirana yang sangat dingin. Sementara itu, Kirana mengambil gelas itu dan menenggak habis air di dalam gelas itu. Tenggorokannya yang kering itu terasa sejuk begitu air yang dinginnya pas mengalir masuk hingga ke kerongkongannya.

Almira sempat mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut Kirana dan menyelimuti tubuh ringkih itu dengan selimut miliknya. Pandangan Kirana masih kosong, entah apa yang ada dipikirannya. Dunia benar-benar menyakiti wanita itu tanpa sisa, tanpa belas kasih hingga seluruh senyumnya ia renggut.

“Mbak?”

“Hm?”

“Kamu habis dari mana?” Almira berusaha bertanya pelan-pelan. “Atau kalau Mbak belum mau cerita, Mbak mau istirahat aja? Ganti baju, Mbak. Pakai bajuku aja.”

“Mir?”

“Iya?”

“Jangan kasih tau siapa-siapa ya kalau aku disini.” suara Kirana terdengar mengawang, masih menatap Almira dengan pandangan kosongnya.

“Iya, Mbak. Aku gak akan kasih tau siapa-siapa kamu disini, tapi jangan pergi lagi ya. Disini aja, kalau Mbak mau pergi kasih tahu aku ya.”

Kirana hanya mengangguk, setelah menemani Kirana berganti pakaian dan memastikan wanita itu terlelap di ranjangnya. Almira berjalan keluar kamar kostnya, ia mengabari Bagas jika ia sudah bertemu dengan Kirana tanpa memberi tahu Kirana ada dimana. Yang terpenting baginya, Bagas sudah bisa tenang jika sudah mendapat kabar tentang Kirana. Untung saja Bagas menurut pada Almira untuk tidak ngotot ketemu Kirana dulu, biarlah nanti Almira sendiri yang akan menjelaskannya pada Bagas di kantor besok pagi.

🍃🍃🍃

Entah sudah berapa jam Asri menunggu seorang pria yang tengah berbicara pada seorang pria lainnya di pojok sebuah cafe itu, dengan wajah yang serius seperti tengah membicarakan sesuatu yang genting. Keningnya sesekali Asri perhatikan mengkerut dengan wajah yang sedikit masam namun terkadang menampilkan senyum yang ia paksakan. Katakanlah ini sebuah kebetulan, karena ia datang ke cafe itu bukan karena sengaja untuk membuntuti Bagas yang juga tengah bertemu dengan klien nya. Asri sedang makan siang sendiri, sampai akhirnya ekor matanya menangkap pria yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini.

Tentang kabar kepergian Ibu nya Kirana sampai kabar tentang Bagas yang mempersiapkan lamaran untuk Kirana itu sudah sampai ke telinganya, sebagian memang ia dapatkan sendiri dari hasil membuntuti Kirana hanya demi memastikan wanita itu sudah menjauhi pria yang Asri cap sebagai miliknya itu. Dan sebagian lagi ia dapat dari Kanes, seperti sewaktu Kanes memesan beberapa bunga, mereservasi tempat dan berbincang dengan Bagas melalui telefon.

Semua Asri dapatkan kabarnya sampai pada akhirnya ia bertanya pada Kanes langsung, bahkan di hari Kanes dan Bagas tengah mempersiapkan itu semua pun Asri tahu karena dia ada di sana. Bahkan, kematian mendiang Ibu nya Kirana di jadikan momen telak baginya karena acara lamaran Bagas itu batal. Asri senang bukan main saat mengetahui itu, apalagi akhir-akhir ini Bagas cukup sering sendirian karena Kirana tidak terlihat bekerja di kantornya. Apalagi dengan wajah Bagas yang seperti menampakan jika ada yang tidak baik-baik saja pada hubungannya dengan Kirana.

Itu semua semakin menambah kesenangan bagi Asri, karena justru kesempatan kosong seperti ini lah ia bisa masuk lewat celah sekecil apapun untuk merebut hati Bagas. Setelah bersalaman pada kedua pria yang duduk di depannya dan pria itu pergi, semua itu menandakan jika pertemuan mereka sudah selesai. Ini adalah kesempatan bagi Asri untuk menghampiri Bagas dan mengajaknya bicara barang sebentar.

Wanita itu membawa tas miliknya, berdiri dan berjalan penuh dengan kepercayaan dirinya. Wajahnya ia naikan beberapa senti sampai memperhatikan leher jenjangnya yang tidak terhalang rambut panjangnya itu, ketukan dari heels yang dipakainya beradu dengan lantai marmer cafe tersebut, membuat Bagas yang tadinya sedang fokus dengan ponselnya itu jadi menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang tengah berjalan ke arahnya.

“Hai,” sapa Asri dengan senyum yang merekah pada wajah angkuhnya itu.

Bagas agak sedikit terperangah karena kehadiran Asri yang tiba-tiba dan tidak diduganya, ia tersenyum sedikit kemudian mengangguk kecil. “Hai.”

“Aku boleh duduk sini? Atau kamu udah janjian sama orang lain?”

“Duduk aja, gue udah selesai ngobrol sama klien.” Tanpa menghiraukan Asri, Bagas mengemasi beberapa berkas miliknya, charger Macbook nya dan menaruhnya kembali kedalam tas.

“Habis meeting ya, Gas?” Asri basa basi, dia sudah tahu dari tadi. Bahkan sejak klien Bagas masih duduk di kursi yang ia tempati.

“Iya nih.” Bagas melihat ke arloji yang ada di pergelangan tangannya, bergerak dengan gelisah sembari sesekali menoleh ke arah ponselnya. Gerak geriknya seperti tengah menunggu kabar dari seseorang. “Sri, sorry gue enggak bisa lama-lama.”

“Ah, Gas. Tunggu sebentar, sebentar aja please ada yang mau aku omongin sama kamu.” Asri sebenarnya sudah menduga jika Bagas akan segera bergegas meninggalkan cafe itu, maka kedua tangan kurusnya itu bergerak dengan cepat menahan lengan Bagas yang tadinya sudah siap memakai tas nya kembali.

“Mau ngomong apa?”

“Soal Ibu..” Asri memejamkan matanya. “Ibu kamu.”

“Kenapa sama Ibu?” Bagas selalu mendapat kabar soal Ibu dari Kanes, kedua orang tua nya itu bahkan baik-baik saja meski sesekali bertanya kabar Bagas melalui Kanes. Karena mereka tahu, Kanes dan Bagas masih sering bertukar kabar.

“Ibu nanyain kamu, Gas. Kamu kapan mau pulang?”

Bagas menghela nafasnya, di lihatnya ke arah luar jendela siang itu. Mataharinya terik Jakarta siang itu nampak tidak lenggang sama sekali, tak ada kata lenggang bahkan. Orang-orang masih berlalu lalang entah kemana, para pedagang di pinggir jalan masih menjajahkan dagangannya tanpa surut semangatnya bahkan oleh matahari yang terik sekalipun. Pemandangan di luar sana nampaknya lebih mengasikan bagi Bagas di banding ia harus bertatap muka dengan Asri, membicarakan orang tua nya.

Ini bukan karena Bagas anak kurang ajar yang tidak perduli akan kabar orang tuanya, bukan. Hanya saja, Bagas sudah tahu kabar kedua orang tua nya dari Kanes. Dan apa yang Asri katakan padanya itu selalu sama tentang orang tua nya, topiknya hanya berputar pada kapan ia akan segera pulang, kapan ia akan segera berbaikan dengan kedua orang tua nya. Seolah-olah ia harus di tuntut selalu mengalah pada ego orang tua nya, lagi pula. Dalam persoalan ini sebenarnya Asri tidak bisa terlalu bisa ikut campur seharusnya, ia adalah orang lain. Ranahnya tidak bisa sejauh itu menjangkau urusan orang tua dan anak ini.

“Gue udah pulang, Sri. Waktu itu, tapi ujung-ujungnya gue tetap ribut. Lagi pula gue selalu tau kabar mereka dari Kanes,” Bagas sedikit ketus, waktunya tak banyak. Ia harus segera kembali ke kantor.

“Iya aku tau, Ibu juga udah cerita soal itu. Maksudku disini, tinggal lagi sama orang tua kamu. Mereka tuh sayang banget sama kamu loh, Gas. Ayolah turunin sedikit ego kamu yang mereka lakuin ini sebenarnya demi kebaikan kamu juga.”

sorry, Sri. Kebaikan yang mana maksud lo?”

Asri terperangah, wajah ramah Bagas itu berubah menjadi masam. Tatapannya tajam dengan kedua alis yang nyaris menyatu karena keningnya mengekerut. “Yang maksa kehendak mereka dan mengorbankan kebahagiaan anaknya?”

“Gas, kamu tau kan hubungan yang dilandasi tanpa restu orang tua itu berat? Mereka gak setuju kamu sama Kirana loh, bisa aja kan ucapan orang tua kamu benar tentang Kirana.”

“Dan bisa juga ucapan mereka salah tentang Kirana. sorry, Sri. Kalo lo disini cuma mau menghakimi Kirana dan ikut campur urusan pribadi gue. Waktu gue enggak banyak, gue harus balik ke kantor ada hal yang lebih penting dari pada sekedar bahas obrolan yang gak akan ada habisnya ini.” Bagas buru-buru memakai tasnya, tanpa memperdulikan panggilan Asri ia melangkah panjang-panjang keluar dari cafe itu.

Hatinya panas, bukan hanya Bagas tapi juga Asri. Kedua tangan wanita itu mengepal kuat di sebelah pahanya. Dalam hati ia menyupah serapahi Kirana yang entah sudah memberikan apa pada Bagas sehingga pria itu begitu membela dan tergila-gila padannya. Nafsu makannya tak lagi menggebu sejak kepergian Bagas, ia ingin segera pergi juga namun saat kakinya ingin melangkah keluar, lengan tanganya itu ditahan oleh sebuah tangan besar yang melingkar begitu pas di lengannya yang kecil.

Membuat Asri seketika menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat siapa asal pemilik tangan yang sudah menarik lengannya kini. Raka, pria itu menyeringai dengan gestur yang membuat Asri seketika mati kutu. Sejak kapan pria itu disini? Apa ia melihatnya berbicara dengan Bagas barusan?

“Lepasin gak?!” Pekiknya tertahan.

“Duduk.” Raka menunjuk kursi yang tadi di duduki Asri dengan dagunya itu, menyuruh wanita di depannya itu untuk kembali duduk ke kursinya.

“Gak, gue buru-buru.”

“Duduk atau gue bilang sama Bagas kalau elo udah pernah menikah bahkan punya anak.” Raka mengatakannya dengan santai, namun ucapannya itu berhasil membuat kedua mata Asri membulat sempurna sehingga tubuhnya spontan mengikuti apa kata Raka untuk kembali duduk ke kursinya.

Ia kalah telak. Raka terlanjur melihatnya, salahnya sendiri karena ia kurang hati-hati. Ia lupa jika Raka dan Bagas satu perusahaan, bisa jadi memang mereka meeting bareng atau lebih buruknya lagi terlibat dalam satu proyek yang sama.

“Jadi Bagas?” Raka menaikan satu alisnya, kemudian terkekeh mengejek Asri.

“Lo gak perlu tau.”

“Oh ya jelas gak perlu, tapi gue penasaran aja. Ternyata selain lo nelantarin anak lo, pembohong ulung dan sekarang? Ada sebutan yang lain yang bisa gue kasih ke elo? Perebut cowok orang?” Tawa Raka hampir meledak ketika kedua mata Asri membulat sempurna, wanita itu tampak kesal dan bahkan kesulitan menelan salivanya sendiri.

“Gue udah dijodohin sama Bagas, jauh sebelum kita kenal bahkan gue udah kenal sama dia dari lama.”

“Selama apapun lo kenal, itu gak akan mengubah fakta kalau elo tetap ngerebut Bagas dari Kirana.”

“Orang tua nya Bagas bahkan gak ngerestuin hubungan mereka.”

Raka hanya memajukan bibirnya, kepalanya mengangguk-angguk dengan santai. Sama sekali tidak terpancing dengan apa yang Asri katakan barusan, ia hanya sedikit kaget awalnya waktu ia ingin turun ke lantai 1 cafe yang memang memiliki 2 lantai. Raka mengurungkan niatnya untuk lebih memilih mengamati Asri dan Bagas dari kejauhan, Asri nampak begitu kenes saat berbicara dengan Bagas. Namun Bagas jauh dari kata itu, pria itu bahkan kelihatan tidak nyaman dan ingin segera meninggalkan Asri.

Awalnya Raka hanya menebak kira-kira apa hubungan keduanya, namun, mengingat Asri memang tidak pernah dekat dengan pria lain dan dari gerak-geriknya yang memang seperti sedang memikat Bagas. Maka Raka simpulkan sendiri jika Bagas adalah pria yang memang di jodohkan dengan Asri.

“Lo mau ancam gue pake ini? Tega lo hancurin kebahagiaan gue? Inget yah, gue Ibu dari anak lo dan sejak kita cerai. Hak asuh Resaka ada di tangan gue. Gue bisa rebut dia dan gak akan gue biarin lo ketemu sama dia lagi.”

“Asri..Asri, lo kok bisa nya cuma ngancam. Setakut itu gue bakalan buka mulut? Sepenting itu reputasi lo di hadapan orang tua nya Bagas? Gak takut lo bikin mereka kecewa?”

Asri menyeringai, ia berdiri dan menendang salah satu kaki meja hingga meja itu mundur dan mengenai kaki Raka. “Gue udah nurutin apa yang lo mau buat ketemu sama Resaka, itu perjanjian kita kalo lo lupa.”

Bersambung...

Di temani dengan suara televisi yang sedang menayangkan sebuah drama itu, kedua mata Kirana justru tertuju pada sebuah mesin print yang perlahan-lahan sedang mencetak sebuah surat yang baru saja selesai dibuatnya. Perlahan-lahan mesin itu mengeluarkan kertas dari dalamnya hingga akhirnya mesin itu berhenti karena sudah selesai mencetak, diambilnya kertas itu dan Kirana baca kembali. Itu adalah surat pengunduran dirinya dari perusahaan tempatnya bekerja.

Entah apa yang ada dipikiran Kirana saat itu sampai-sampai ia memutuskan untuk mengundurkan diri, sebenarnya faktor utamanya adalah ia ingin menenangkan diri dulu dari kehilangan Ibunya, yang kedua adalah ia ingin menghindari Bagas. Kirana bukan tidak bekerja sama sekali pada akhirnya, ia tetap akan bekerja namun bukan pada sebuah firma arsitektur lagi. Ia memutuskan untuk menggantikan pekerjaan Ibu nya di toko kue, alasannya sangat sederhana. Hanya dengan bekerja di sanalah Kirana bisa merasa dekat dengan Ibunya.

Bau dapur di toko itu, celemek yang selalu Ibu nya kenakan dan teman-teman Ibunya yang cukup perhatian dengannya. Kirana merasa hangat dan dekat, mungkin dengan cara seperti itu ia mengobati luka di hatinya. Setelah 3 hari menginap di rumah Almira, kondisi Kirana sudah cukup membaik meski setiap malam ia berjuang berusaha untuk terlelap, berusaha untuk tidak terisak dan terjun pada gelapnya kesepian dan kesedihan.

Besok ia akan kembali bekerja untuk yang terakhir kalinya, mengemasi barang-barang di kursinya sekaligus berpamitan pada rekan-rekannya. Malam ini ia sudah janjian dengan Bagas untuk bertemu, pilihannya sudah bulat. Ia akan tetap meninggalkan Bagas, berapa kalipun memikirkan hidup tanpa lelaki itu akan sangat menyakitinya. Namun Kirana berpikir itu jauh lebih baik dari pada Bagas harus kehilangan keluarganya. Tidak ada orang yang mau hidup seperti itu, jika memang harus ada yang dikorbankan biarlah itu dirinya dan hubungannya dengan Bagas.

“Mbak?”

Kirana menoleh, ada Almira di belakangnya. Membawa pie susu dan segelas teh hangat untuk mereka berdua. Selama beberapa hari menjadikan kosan Almira sebagai satu-satunya tempat pelarian mencari ketenangan. Akhirnya Kirana memutuskan banyak hal disana, termasuk keputusan-keputusan terberat yang akan ia ambil. Almira pun benar-benar menjaganya. Meski tidak sepenuhnya, dalam artian Almira memang memberitahu pada Bagas jika Kirana berada di rumahnya agar pria itu sedikit lebih tenang. Beruntulah Bagas mau mengikuti permintaan Almira untuk tidak menemui Kirana dahulu.

Almira duduk di sebelah Kirana, mengusap pundak wanita yang lebih tua darinya itu. “Udah selesai, Mbak?”

Kirana mengangguk, “udah, Mir. Doain yah.”

“Aku pasti doain kamu terus, Mbak. Keputusan berat ini gak mudah kamu ambil.”

Kirana tersenyum, senyum yang tulus seolah-olah ia tengah berterima kasih pada Almira lewat senyuman itu karena telah mau menampungnya, mendengar ceritanya dan menguatkannya. Meyakinkan jika ia bisa bertahan untuk hal-hal kecil di hidupnya. “Kira-kira setelah ini hidupku bakalan baik-baik aja gak yah, Mir.”

Kadang Kirana terlampau sering mengkhawatirkan hidupnya, setelah banyak mengalami kehilangan. Akan ada badai apa lagi di hidupnya? Kadang ia merasa kasihan pada dirinya sendiri, namun terkadang juga ia merasa bangga karna bisa melalui semua ujiannya.

“Aku gak bisa mastiin hidupmu bakal gimana, Mbak. Tapi apapun yang Mbak lalui nantinya, aku akan selalu sama Mbak. Mbak tuh udah aku anggap kaya Mbakku sendiri.” tidak ada yang dapat menebak hari esok seperti apa, bahkan 5 menit dari sekarang. Almira hanya ingin meyakinkan Kirana jika ia tidak pernah sendiri bahwa akan selalu ada ia yang terus bersamanya. “Mbak?”

“Hhm?”

“Kamu yakin?”

“Soal?” Kirana menoleh ke arah Almira. Menelisik lewat wajah wanita itu tentang apa yang ia ragukan dari keputusannya.

Resign?” Almira mengigit bibirnya, takut-takut ucapannya menyinggung Kirana.

“Aku udah yakin, Mir. Aku mau kerja di toko ibuku kerja dulu. Masih mau ngerasain bau Ibu. Selain itu, kalau aku masih tetap di kantor. Itu artinya aku akan selalu ketemu Bagas. Makin sulit buat aku kalau terus-terusan ketemu dia.”

Almira mengambil tangan Kirana, mengenggamnya erat dan mengusapnya. Bersama Kirana ia merasakan memiliki seorang saudara perempuan yang di idamkannya selama ini, terkadang. Almira ingin protes kenapa wanita sebaik Kirana harus memiliki liku hidup yang pahit tapi disisi lain pun Almira yakin semua cobaan yang datang pada hidup Kirana itu semua karena Kirana sangatlah kuat.

“Aku akan selalu kangen hari-hari kita di kantor, Mbak. Walau udah gak sekantor, Mbak janji ya bakalan sering main kesini. Aku bakalan kangen banget cerita-cerita di kantor.”

Karena suara Almira yang sudah bergetar, Kirana merentangkan tangannya dan membawa Almira kepelukannya. “Kamu udah aku anggap kaya Adikku sendiri, Mir. Aku bakalan sering ke sini.”

Setelah berpamitan pada Almira, Kirana sempat kembali ke rumahnya dahulu untuk menaruh tas miliknya. Kemudian, menemui Bagas di Taman Kota seperti janji mereka, hari itu memang sengaja Kirana tidak ingin Bagas menjemputnya ke rumah atau menyuruhnya datang ke rumahnya. Begitu turun dari bus yang ditumpanginya, Kirana berjalan sedikit dari halte bus itu untuk sampai di Taman Kota. Tak susah rupanya untuk menemukan Bagas, pria itu tengah duduk sembari menonton pertandingan soft ball yang ada di sana.

Kirana sempat memperhatikan punggung lebar itu, mengusapnya dalam udara seolah-olah ia tengah mengusap punggung Bagas. Ia akan selalu merindukan pelukan dari pria itu kelak, dirasa cukup puas untuk memperhatikan punggung itu. Kirana berjalan mendekat, ia duduk di samping Bagas hingga membuat perhatian pria itu teralihkan padanya.

“Hai,” sapa Kirana.

Bagas tersenyum, ia lega bukan main bisa melihat wanita nya lagi. “Kamu naik apa kesini?”

“Bus, kenapa.”

“Gapapa, tanya aja. Harusnya tadi kamu aku jemput aja, kan kita bisa ke sini bareng.”

“Aku lagi mau naik bus, Bagas.”

Bagas mengangguk kecil, ia mengubah posisi duduknya menjadi menyamping. Memperhatikan wajah dahayu kesayangannya itu. Senyum Kirana sudah kembali meski belum seterang biasanya, pancaran matanya masih redup tapi wanita itu sebisa mungkin untuk terlihat baik-baik saja di depannya.

“Aku kangen kamu, Na.” Selama beberapa hari tidak mendapat kabar dari Kirana bahkan tidak bertemu dengan wanitanya itu. Bagas benar-benar rindu sekaligus khawatir, ia bersyukur bukan main begitu Almira mengabarinya bahwa Kirana berada di rumahnya. Walaupun Almira meminta Bagas untuk tidak menemui Kirana dahulu sampai wanita itu benar-benar tenang, Bagas lakukan itu. Apapun akan Bagas lakukan agar wanitanya membaik.

“Aku juga.” Kirana tersenyum, memejamkan matanya. Membiarkan tangan besar Bagas itu menyingkirkan anak rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinganya.

“Kamu udah jauh lebih baik?”

“Um, sedikit lebih baik.”

“Syukurlah aku lega dengarnya.”

Sempat hening beberapa saat, mereka hanya saling memandang dan tersenyum seperti mengungkapkan kerinduan yang bisa dibayar hanya dengan saling menatap. Menelisik keadaan satu sama lain lewat lemparan tatapan mata itu, sampai akhirnya Kirana menelan saliva nya susah payah. Air matanya mengembang pada pelupuk matanya, bersiap untuk segera di tumpahkan. Lehernya tercekat bahkan disaat kata-kata perpisahan belum terlontar dari bibirnya.

“Ah sebentar, aku punya sesuatu untuk kamu.” Bagas menarik tas miliknya, dan mengeluarkan sebuah kotak disana dan membukannya. Sebuah cincin dengan permata mengkilap yang nampak begitu cantik. Kilapanya yang terkena pantulan sinar dari lampu Taman itu, membuatnya terlihat sangat mewah meski design nya sederhana.

Kirana yang hampir saja menangis itu, sedikit teralihkan. Sempat terlontarkan apakah disaat-saat seperti ini Bagas justru melamarnya?

“Bagas?”

“Jadi istriku, Na. Menikah sama aku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Kita bisa punya rumah buat tempat kita pulang, aku bisa buatin taman kecil di depan rumah kita buat kamu tanami bunga. Kamu suka bunga kan?”

Kirana terdiam, ia bahkan tidak mengambil kotak berisi cincin yang di berikan Bagaa padanya. Hatinya sakit, seperti ada jutaan pisau menghunusnya tanpa ampun. Ada teriakan direlung hatinya yang mengatakan jika ia tidak sanggup untuk berpisah, jika semesta sudah sangat kejam padanya dan bagaimana caranya mengucapkan kata perpisahan yang bukan hanya menyakiti hati pria nya itu.

“Bagas?” Kirana menengadahkan wajahnya, matanya sudah memerah dan sedetik kemudian air mata turun membasahi wajahnya. “Berhenti.”

Tak ada sahutan dari Bagas. Ia hanya menatap wajah Kirana dengan jutaan pertanyaan di kepalanya, Kirana memintanya berhenti untuk apa? “Maksud kamu, Na?”

“Hubungan kita.” Kirana kembali memperjelas ucapannya tempo hari. Saat mengatakan hal itu dadanya kembali sakit.

“Kenapa, Na? Kenapa sama hubungan kita? Kamu kecewa ya sama aku karna aku gak ada waktu Ibu kamu meninggal, iya?”

“Aku capek, Gas..”

“Capek?” Bagas mengerutkan keningnya. Ia sempat berpikir awal mula Kirana meminta pisah darinya karna kekecewaan wanita itu saat ia tidak ada waktu Ibunya meninggal, tapi malam itu Bagas tersadar ketika Kirana mengatakan ia lelah. Bisa jadi Kirana lelah karena keluarganya? Karena sampai hari ini pun, orang tua Bagas belum memberikan restu untuk mereka. Pikirnya.

“Aku mau kita benar-benar berakhir.”

“Kita benar-benar berakhir?” Bagas mengulang ucapan Kirana. “Gak ada harapan lagi, Na? Kamu udah gak sayang sama aku?”

Kirana menangis sesegukan, ia berusaha mengusap wajahnya dari air mata yang terus turun membasahi pipinya. “Karena aku sayang kamu, Gas. Aku sayang kamu. Gimana mungkin enggak?”

Keduanya terdiam, Bagas sibuk memandangi Kirana dengan hati yang hancur, mata yang mulai memanas bersiap untuk menangisi hubunganya yang rumit itu. Sedangkan Kirana sibuk mengusap air matanya, syukurnya tak banyak pasang mata di sana, para pemain soft ball pun tak memperdulikan kehadiran keduanya di sana. Mereka terlalu fokus pada permainan. Kotak berisi cincin yang sudah Bagas buka tadi ia tutup dan ia taruh begitu saja di antara mereka.

“Tapi aku juga sayang diriku sendiri, Gas. Makanya aku gak bisa melanjutkan hubungan ini.”

“Aku siap ninggalin keluargaku, Na.” Air mata yang sedari tadi Bagas tahan itu akhirnya terjun juga. Ia menangis, hatinya pedih seperti ada jutaan belati yang menghujami hatinya. “Aku siap ninggalin orang tuaku.”

Kedua bahu Kirana merosot, kepalanya menggeleng dan ia tatap pria yang sangat ia cintai itu lekat-lekat seolah-olah esok hari ia takan melihat Bagas lagi. “Gak ada yang mau hidup seperti itu, Bagas. Aku juga sakit kalau kamu sakit. Kalo kita tetap maksain bersama, aku cuma gak mau hidup dalam kebencian orang lain. Aku gak mau merebut kamu dari keluargamu, Gas.”

“Aku gak mau putus dari kamu, Na.” Bagas sebisa mungkin membujuk Kirana, ia bahkan sudah tidak perduli menangis menyesakan di depan wanita itu. Ia raih tangannya dan ia genggam tangan kurus itu erat-erat, berharap hati Kirana luluh dan ia mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hubungan yang sudah mereka bangun selama hampir 7 tahun itu. “Aku gak bisa kehilangan kamu, Na. Aku harus gimana..”

“Bagas, kamu pasti bisa..” Suara Kirana bergetar, ia masih menangis namun ia berusaha menenangkan Bagas. Ia usap pucuk kepala pria itu dengan senyuman paling menyakitkan yang ia berikan. “Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Bagas.”

Bagas tak menjawab lagi, ia buru-buru menarik Kirana dalam dekapannya dan menangis sepuas hatinya dalam bahu kecil wanita itu. Menghirup aroma tubuh Kirana yang selama ini selalu berhasil membuatnya tenang. Bagas sama sekali tak menampik jika sikap keluarganya memanglah sudah keterlaluan dengan Kirana hingga membuat wanita itu sakit hati dan berakhir melepaskannya.

“Aku akan selalu kangen bau kamu, Na.”

Kirana mengigit bibir terdalamnya, berusaha meredam isaknya sendiri dengan menenggelamkan wajahnya pada bahu pria yang sangat ia sayangi itu. “Setelah ini kamu harus pulang ya, Gas. Minta maaf sama orang tua kamu karena udah melawan mereka.”

Bagas menggeleng, ia semakin memeluk Kirana dengan erat. Setelah memutuskan untuk berpisah pada Bagas. Kirana pulang, dalam bus pun ia masih menangis. Apalagi ia pulang lebih dulu dari pada Bagas, awalnya Bagas memaksa untuk mengantarnya pulang namun Kirana menolaknya. Ia masih ingin sendiri, meski belum sepenuhnya terima Bagas mencoba untuk mengerti kenapa pada akhirnya Kirana menyerah pada hubungan mereka.

Hubungannya memang tidak mudah, meski Bagas mencoba berkali-kali untuk tetap mempertahankannya. Semua sia-sia karena Kirana sudah terlanjur sakit hati. Malam itu Kirana pulang ke rumah sewanya, tidur di kamar Ibunya sembari mendekap daster milik Ibunya itu. Masih ada aroma tubuh Ibu di sana karena daster itu belum ia cuci.

“Buk, hari ini adalah hari yang berat buat Kirana.” Matanya terasa membengkak kembali karena untuk kesekian kalinya, air mata itu kembali terjun dengan bebas ke wajahnya. “Kirana udah gak punya Bagas, Buk. Kirana sendirian..”

🍃🍃🍃

Pada suatu pagi yang bahkan matahari belum muncul di permukaan, Raga terjaga dalam tidurnya. Nafasnya tak beraturan setelah sekelebatan mimpi tentang Jayden itu kembali dalam kilasan yang sangat amat jelas dalam kepalanya, ah tidak, lebih tepatnya itu seperti sebuah ingatan yang sudah lama ia lupakan dan kini ingatan itu telah kembali. Begitu bangun ia terengah, keringat bercucuran bukan main derasnya membasahi kening hingga turun ke lehernya. Tampak sedikit asing ruangan yang menjadi tempatnya istirahat itu, ada sebuah kesadaran yang terbelenggu lama kini muncul kembali bahwasanya ia adalah pria Belanda itu sendiri, ia adalah Jayden yang terlahir kembali menjadi seorang pribumi.

Ia melihat ke arah jam dinding yang tergantung tak jauh dari ranjangnya berada, sudah pukul 5 pagi. Ia bergegas bangkit dari ranjangnya dengan gerakan tergesah untuk segera menuju kamar mandi. Di basuhnya wajahnya dan ia cermati cermin di depannya itu lekat-lekat, seolah-olah ia tak mengenali dirinya sendiri. Hidung mancungnya, kulit putih pucatnya dan rambut hitam legam itu. Raga sentuh kepalanya dengan wajah yang bingung, namun sedetik kemudian ia menghela nafas pelan.

“Apa Ayu juga mengingat ini semua? Atau hanya aku?” desahnya dalam keputusasaan.

Pagi itu Raga mandi dan segera berangkat ke kantornya, kini ingatan tentang jiwa masa lalunya itu sudah terkumpul. Dan ia akan tetap hidup sebagai Raga, melajukan mobilnya ia membelah jalanan pagi itu yang belum ramai. Dan dengan langkah besar-besar ia segera berjalan menuju ke ruanganya, belum ada karyawan lain. Hanya ada cleaning service saja yang menyapanya pagi itu dan menawarinya untuk di buatkan kopi.

Hari ini harusnya Kirana datang ke kantor, ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Seperti hal nya mimpi itu juga terjadi pada Kirana, kemudian ingatan tentang masa lalu itu yang baru saja Raga sadari. Apa kali ini Kirana juga sudah mengingatnya jika ia adalah Ayu yang terlahir kembali? Raga tidak melakukan apa-apa di ruanganya selain mencari tahu tentang reinkarnasi, separuh dalam dirinya itu berdecap kagum akan kecanggihan teknologi masa kini. Dan ada yang sangat Raga syukuri saat ini, karena ia terlahir sebagai seorang pribumi.

Satu persatu meja terisi oleh karyawan yang berdatangan, namun yang ditunggu belum juga datang, beberapa kali Raga mengintip dari tirai di ruanganya namun meja Kirana belum juga terisi oleh sang empunya. Sampai akhirnya ia di beritahu oleh Satya jika jam 9 nanti mereka harus meeting dengan klien di luar kantor. Mau tak mau Raga harus menuruti perintah itu, 2 jam meeting pikiran Raga hanya berputar pada Kirana. Seperti, apakah wanita itu juga mengingat dirinya sebagai Ayu, apakah mereka terlahir kembali untuk memenuhi janji-janji itu, dan kenapa bukan hanya dirinya dan Kirana saja yang terlahir kembali. Melainkan ada Adi yang kini terlahir sebagai Bagas, Dimas yang kini terlahir sebagai Raka.

Raga menoleh ke arah pria yang tengah berbicara di sebelahnya itu oleh klien mereka, di tahun 1898. Satya adalah kawannya, seorang Indo Belanda yang bernama Jacob. Pria itu terlahir kembali dan tetap menjadi sahabatnya. Apa Satya juga mengingat dirinya di masa lalu? Saking terbuainya dalam lamunan, Raga sampai tidak sadar jika Satya memperhatikannya.

“Pak,” Satya sedikit menggoyangkan tubuhnya, membuat Raga tersadar dari lamunannya itu.

“Kenapa?”

“Jangan ngalamun. Itu Pak Wicaksono tanya soal kolam nya.”

Nyawa Raga rasanya seperti dipaksa berkumpul, ia buru-buru mencari design miliknya dan ia jelaskan pada kliennya itu. Setelah meeting yang berjalan cukup lama menurut Raga akhirnya ia bisa bernafas lega ketika kembali menginjakan kakinya di kantor, begitu sampai ia sudah dibuat terperangah oleh kehadiran Kirana yang duduk di kursi meja nya. Kebetulan tatapan mata keduanya saling bertemu.

Ada sesuatu yang membuat hati Raga mencelos begitu matanya bertemu dengan mata Kirana, ada sebuah sirat kerinduan dari tatapan matanya. Seperti ia baru bertemu dengan kekasihnya setelah sekian lama berpisah dan menunggu, ada dorongan pada diri nya yang membuatnya ingin memeluk Kirana erat. Namun akal sehatnya masih berjalan untuk menahan keinginan itu semua. Terlebih ia bukan siapa-siapa Kirana dikehidupan kini dan lagi pula ini di kantor.

Kirana berdiri dan mengangguk kecil pada Raga yang entah sejak kapan kakinya sudah berhenti di depan meja Kirana itu, dengan tatapan yang Kirana sendiri sulit artikan. Bahkan bukan hanya Kirana yang memandang Raga bingung, namun Almira dan Satya pun sama.

“Sia..siang, Pak.” Kirana menyapa demi menyadarkan Raga dalam tatapan dalamnya itu. Ia berhasil di buat salah tingkah dan bingung dengan tatapannya.

“Hm.. Ka..mu baru mulai masuk lagi, Na?”

Kirana mengangguk kecil, “hari ini hari terakhir saya bekerja disini, Pak.”

Raga mengerutkan keningnya bingung, “terakhir?”

“Saya sudah mengajukan resign, Pak.”

“Kenapa mendadak sekali, Na?”

Kirana tersenyum getir, satu ruangan di sana menoleh ke arahnya. Termasuk Satya yang sama kagetnya dengan Raga, Bagas dan Almira yang sudah mengetahui alasannya pun masih di buat menoleh. Raga yang menyadari banyak mata tertuju pada Kirana itu akhirnya memutuskan untuk mengajak Kirana bicara di ruangannya.

Di dalam ruangan itu, keduanya sempat saling diam. Kirana yang menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Raga dan Raga yang masih terus menerus memperhatikan wajah Kirana. Pagi itu bukan hanya Kirana saja yang merasa Raga bersikap aneh, tapi Satya pun yang memperhatikan mereka berdua dari kursinya juga berpikir demikian.

“Kirana?” Panggil Raga.

“Ya, Pak?”

“Kenapa mendadak sekali?”

Kirana menelan salivanya susah payah, hatinya berkecamuk. Berat sebenarnya ia mengambil keputusan ini. Terlebih kantor yang menjadi tempat ia mencari nafkah selama ini cukup membuatnya nyaman, meski beban kerjanya terbilang cukup tinggi namun lingkungan pertemanan di dalamnya cukup hangat. Bahkan di sana pula Kirana dapat mencicil sedikit demi sedikit hutang Bapak walau belum sepenuhnya selesai.

“Saya ngerasa belum cukup stabil untuk bekerja, Pak. Saya mau memulihkan mental saya dulu. Maaf kalau terdengar kekanakan.”

“Oh, enggak sama sekali, Na.” Raga menggeleng, ia tidak pernah meremehkan keputusan karyawannya. “Saya mengerti kok.”

“Terima kasih, Pak.”

Sebenarnya ada yang ingin Raga tanyakan pada Kirana mengenai dirinya, namun Raga tahan itu semua. Dia cuma merasa waktunya belum tepat saja untuk membicarakan hal ini. Lagi pula, ia bisa bertanya hal itu pada Kirana kapan saja. Toh mereka masih akan tetap terikat sebagai pemilik rumah dan penyewa.

Bersambung...

Ada titik dimana Bagas sangat amat bahagia dalam hidupnya, bisa terbilang dari kecil hidupnya berjalan sudah cukup mulus. Seperti ia selalu bisa masuk ke sekolah yang ia inginkan, mendapatkan nilai yang baik, di sukai oleh teman-teman di manapun ia berada, masuk ke universitas yang ia impikan, ikut organisasi di sana dan berhasil mengecani wanita yang ia sukai. Bisa terbilang hanya ada badai kecil yang singgah hanya sebentar di hidupnya, sampai di mana badai itu datang dan tak singgah sebentar di hidupnya ia saat ini ada di titik di mana ia merasa tak lagi hidup.

Ia hanya bernafas mengikuti alur semesta yang entah akan membawanya kemana, sudah 8 bulan sejak berpisah dengan Kirana ia belum juga kembali ke rumahnya. Ia tidak tahu di mana sekarang Kirana bekerja, tapi yang cukup membuatnya lega adalah wanita itu masih tinggal di rumah sewa Gambir. Terkadang, jika sangat amat merindukan Kirana. Ia melajukan mobilnya ke dekat rumah sewa itu hanya demi melihat Kirana dari kejauhan. Memastikan wanita yang masih sangat ia cintai itu hidup dengan baik, Bagas tidak berani menyapa Kirana lagi. Bukan tidak berani sebenarnya, hanya saja Bagas tidak memiliki muka untuk menemui wanita itu setelah tahu apa yang dilakukan orang tua nya.

Bagas tahu jika Ibunya menemui Kirana dan meminta wanita itu melepaskan hubungan mereka dari Kanes, Kanes tidak sengaja mendengar obrolan Ibu dengan Asri. Yang dilaporkan dari Kanes ke Bagas nyatanya jauh lebih menyakitkan dari pada yang Bagas tahu, sejak ia mengetahui hal itu. Ia tidak ingin bertemu dengan Kirana lagi. Karena tanpa ia sadari, dirinya lah penyebab Kirana merasakan sakit hati. Ia sudah kalah telak dalam melindungi wanitanya.

Selama 8 bulan ini pula hidup Bagas hanya berjalan begitu datar, bekerja hingga larut, olahraga sampai membuat dirinya kelelahan dan beberapa kali pingsan dan itu semua berputar seperti sebuah roda setiap harinya. Bagas terus membuat dirinya sibuk demi bisa melupakan Kirana, tapi nyatanya sesibuk apapun ia. Pada celah kecil waktunya bahkan ketika makan sekalipun kepalanya masih mengingat Kirana dengan baik.

Hari ini, Kanes menjemputnya ke rumah yang Bagas sewa setelah mengetahui kakak laki-lakinya itu sakit. Kanes yang memaksa Bagas untuk kembali ke rumah mereka, mengingat keadaan Bagas cukup memperhatikan saat ini, pria itu kehilangan banyak berat badannya, matanya berkantung, tidak makan dengan baik dan bahkan Bagas berani menyentuh rokok. Barang yang sangat ia benci, bahkan saat Kanes menjemputnya Bagas hanya pasrah saja karena tubuhnya lemas. Seumur-umur Kanes tidak pernah menyangka jika patah hati akan menghancurkan jiwa kakaknya seperti ini.

Begitu sampai rumah, Ibu menyambut Bagas dengan penuh keprihatinan. Tidak menyangka jika putra sulungnya itu akan sehancur ini, Ibu sudah tahu soal Kirana dan Bagas berakhir berpisah. Karena keduanya pernah bertemu kembali setelah perpisahan itu.

“Ya ampun, Gas. Kok sampai sebegininya kamu..” Ibu membantu Kanes memapah Bagas ke sofa, tubuh Bagas yang terbilang cukup tinggi itu agak menyulitkan keduanya.

Setelah Bagas sudah duduk di sofa, Kanes membantu Ibu mengambilkan minum untuk Bagas. Ibu masih memperhatikan wajah si sulung itu, yang pucat dengan mata berkantung, rambut yang sedikit gondrong, kumis yang tidak dicukurnya. Sangat amat berbeda dari Bagas yang terakhir kali kembali ke rumah itu.

“Minum dulu, Mas.” Kanes kembali, memberikan teh hangat untuk kakaknya itu.

“Kita ke dokter yah?” setelah membantu Bagas minum ibu kembali menaruh cangkir itu ke meja. Mencoba peruntungannya untuk membawa Bagas ke dokter, karena Kanes sudah beberapa kali memaksa Bagas untuk ke dokter tapi tetap saja hal itu di tolak mentah-mentah oleh Bagas.

“Gak usah, Buk.”

“Kamu tuh sakit, Gas. Mukamu ini loh pucat banget, kurus.”

Bagas menggeleng, ia merasa hanya butuh sendiri. Memikirkan kelanjutan hidupnya, atau justru Bagas hanya membutuhkan Kirana di sebelahnya? Entahlah, Bagas sendiri bingung. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan, ia hanya tidak bernafsu pada apapun.

“Kanes panggil dokter Mawardi aja ke rumah yah?”

Bagas tetap menggeleng, “gausah.”

“Jangan begini, Nak. Ibu sedih sekali lihat kamu sakit begini.”

Mendengar ucapan Ibu alih-alih merasa tersentuh, Bagas justru terkekeh pelan. Ucapan Ibunya seperti terdengar sebuah lelucon saat ini di telinganya. “Kan Ibu yang buat Bagas seperti ini, Buk.”

“Maksud kamu?” Ibu mengerutkan keningnya bingung.

“Yang Bagas butuhin bukan dokter, Buk. Bukan obat atau bukan pulang ke rumah ini. Bagas cuma butuh Kirana.”

Ibu mendengus, sudah menduga sejak awal jika Bagas sakit seperti ini karena frustasi wanita itu meninggalkan putra sulungnya. Karena tidak ingin berdebat pada Bagas yang sedang sakit, Ibu akhirnya berdiri dan pergi dari ruang tamu. Meninggalkan Bagas yang masih bersandar pada sofa ditemani oleh Kanes.

“Mas mau Kanes telfonin Mbak Kirana?” Mungkin dengan cara ini, dengan Kirana datang menjenguk Bagas. Kakaknya itu bisa pulih atau minimal dapat mengumpulkan semangat hidupnya lagi.

Bagas menggeleng, “gak usah, Nes. Mas gak mau bikin dia susah lagi.”

“Mas yakin? Putus kan bukan berarti kalian jadi gak saling komunikasi, Mas. Kanes tau ini gak mudah juga buat kalian.”

“Mas cuma mau menghargai keputusan dia” Bagas mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Kanes. “Antar Mas ke kamar aja yah, Mas mau istirahat.”

🍃🍃🍃

Mobil yang dikemudikan oleh Adel berhenti di sebuah toko kue yang sudah menjadi langganan Ibu mertuanya itu, hari ini Adel mengajak Raga untuk membantunya mengambil kue dan berbelanja air minum untuk acara arisan keluarga dari pihak keluarga Ethan. Tadinya Raga menolak dengan alasan dia agak sedikit lelah tapi Adel memaksanya, ia sudah lelah melihat Raga yang setiap kali hari libur hanya bergerumul di rumah saja, sedikit banyaknya Adel mengkhawatirkan umur Raga yang sudah terbilang cukup matang itu. Adiknya belum sama sekali memiliki seseorang wanita untuk dikencaninya.

Adel sudah mencoba peruntungannya dengan mengenalkan kenalan-kenalannya dengan Ethan pada Raga, namun itu semua berakhir asam karena tak ada satu pun dari wanita-wanita yang ia kenalkan berakhir memiliki hubungan serius dengan Raga. Adel sadar Raga sama sekali tidak memiliki progress untuk hubunganya pada setiap wanita yang dikenalkannya entah seperti apa selera adiknya itu, Adel pernah bertanya pada Raga secara gamblang tentang kriteria wanita idamannya, namun Raga hanya menjawab dengan enteng seperti, “yang penting yang baik aja.” tanpa menyebutkan spesifiknya.

Yang lebih melantur lagi adalah Ethan pernah menyangka jika Raga penyuka sesama jenis, yang tentu saja ucapan ngelantur Ethan itu dihadiahi sebuah cubitan maut di perut suaminya itu. Raga bukan pria seperti itu, ia yakin Adiknya hanya terlalu pemilih saja.

“Mbak, gue tunggu di sini aja deh gak usah keluar.” keluh Raga, dia agak sedikit segan sebenarnya menemani Adel. Ia ingin berbaring di ranjang seharian. Raga sudah pindah ke kantornya Ethan dan pekerjaan di sana cukup membuat waktu istirahatnya tersita.

“Dih, tega yah lo. Bantuin banyak banget ini loh belanjaanya tega yah?” Adel memasang wajah melasnya.

Raga mendengus, ia melepaskan seatbelt nya dan membuka pintu mobilnya. Pria jangkung itu turun lebih dulu dengan Adel di belakangnya, walau melakukannya setengah hati tapi Raga tidak menampakan ekspresi keterpaksaanya itu. Waktu ia membuka pintu toko kue itu, tercium khas butter dan aneka jajanan pasar tersaji di etalase toko itu. Raga sempat tertarik untuk melihat-lihat kue apa saja yang dijual di sana, seketika tidak ada rasa menyesal karena sudah ikut Adel untuk mengambil pesanannya karena ia dapat menemukan kue tradisional yang ia suka.

Toko yang dari luar terlihat kecil dan sedikit menyempil di ujung gang itu ternyata cukup luas bagian dalamnya, dari luar memang tidak nampak seperti sebuah toko kue jajanan pasar. Ada banyak bunga dan tanaman sulur yang merambat dari atap hingga turun memanjang di dinding depannya, kalau di lihat dari depan orang pasti akan mengira itu adalah toko bunga. Tapi begitu berdiri di depan pintunya saja pasti sudah tercium aroma khas butter yang membuat orang akan tersihir hingga masuk ke dalamnya.

“Mbak, mau kue nagasarinya yah.” melihat kue dengan isian buah pisang itu membuat Raga menelan saliva nya. Perutnya bergejolak meminta kue itu segera dimasukan ke dalam mulutnya. Ada sebagian dirinya dari masa lalu yang menginginkan sekali kue itu.

“Mau berapa, Mas?”

“5 yah.”

Pelayan itu mengambil 5 buah kue nagasari dari etalase dan menaruhnya disebuah kotak, kemudian Raga di arahkan ke kasir. Namun langkah kakinya itu tiba-tiba saja menjadi lebih berat dan tubuhnya seketika membeku ketika ia melihat siapa wanita yang tengah berdiri di depan mesin kasir tersebut. Wanita itu sama terkejutnya dengannya, namun sedetik kemudian senyum manisnya merekah.

“Mau bayar, Pak Raga?” ucapnya.

Raga hanya mengangguk tanpa menjawab, ia terlihat kikuk dan sangat bodoh rasanya kalau tadi ia tetap kekeuh menolah ajakan Adel untuk mengambil pesanan di toko ini. “Kamu kerja di sini, Na?”

Raga mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan memberikannya ke Kirana, tatapannya tak berpindah dan tetap pada wanita itu. Sejak Kirana mengundurkan diri dari kantor dan ia fokus untuk menyelesaikan proyek-proyeknya, Raga sama sekali tak menghubungi Kirana lagi. Bahkan soal pembayaran rumah yang wanita itu sewa ia serahkan pada Adel.

Raga hanya saja tidak memiliki alasan untuk bertemu dengan Kirana, lagi pula waktu itu tekad nya sudah bulat untuk melupakan perasaanya pada Kirana. Mengabaikan mimpi dan kenyataan jika ia adalah reinkarnasi dari Jayden dimasa lalu. Toh sepertinya yang mengingat memori masa lalu mereka hanya Raga saja, tapi siapa sangka jika takdir justru mempertemukan mereka di sebuah toko kue yang tak disangka-sangka.

“Iya, Pak. Toko kue ini tempat dulu Ibu saya bekerja.” Kirana memberikan uang kembalian untuk Raga sekaligus setruk pembayaran dan juga kue yang sudah ia kemas dengan kotak dan juga paper bag.

“Ahh...” Raga mengangguk-angguk. “Gimana kabar kamu?”

“Baik, Pak. Bapak sendiri?”

“Baik, Na. Ah, jangan manggil saya pakai sebutan Bapak lagi bisa? Saya kan udah bukan atasan kamu lagi.” Raga hanya ingin mengobrol pada Kirana dengan santai saja, toh mereka hanya berbeda 3 tahun dan sudah tidak ada sekat atasan dan bawahan diantara mereka.

“Sa..saya harus panggil apa?” Kirana gugup, rasanya aneh sekali harus memanggil Raga tanpa embel-embel “Pak.”

“Raga aja.”

“Eng..gak enak, Pak. Kedengarannya aneh.”

Raga sempat menyingkir sebentar karena ada pelanggan lain yang ingin melakukan transaksi, akhirnya Raga memilih untuk duduk di salah satu kursi di sana sembari memperhatikan Kirana dari kursi itu. Tidak lama kemudian, Adel sudah selesai dengan pesanannya dan menghampiri Raga yang tengah asik memakan kue nagasari di kursinya.

“Yuk, kita balik. Bawain kotak-kotaknya, Ga. Gue mau ngaso di sini dulu.” Adel mengambil satu kue nagasari yang ada atas meja dan memakannya.

“Mbak?”

“Hm?”

“Gue gak ikut balik ke rumah yah, gue mau di sini dulu sebentar.”

“Hah? Ngapain?” pekik Adel.

“Kirana kerja di sini, Mbak. Gue mau ngobrol sama dia sebentar.” Raga menunjuk Kirana yang masih berada di depan meja kasir, melayani pembeli dengan senyuman ramahnya.

Adel menoleh ke arah yang Raga tunjuk, dan seketika senyum jahil merekah pada wajahnya. “Elu yah, masih belum move on juga? Itu cewek orang Raga astaga..”

“Apasih, Mbak. Gue cuma mau ngobrol, cuma mau tanya kabarnya aja.” Raga memang hanya ingin tahu kabar Kirana saja, memastikan wanita itu baik-baik saja setelah pengunduran dirinya dari kantor.

Adel memutar bola matanya, agak sedikit frustasi memberitahu Raga bahwa tidak baik terus melambungkan harapan pada wanita yang sebentar lagi resmi menjadi milik orang lain. “Yaudah, habis itu buruan nyusul yah.”

“Iya, Mbak.”

“Tapi bantuin gue bawain kotak-kotak itu ke mobil dulu.”

Raga mengangguk dengan cepat, kemudian berdiri dan segera membawa kotak-kotak berisi kue itu ke dalam mobil. Adel sempat menyapa Kirana, tidak lama memang. karena pelanggan yang datang cukup ramai dan membuat Kirana tidak bisa berlama-lama untuk mengobrol karena takut menganggu Kirana yang sedang bekerja. Setelah Adel kembali ke rumah, Raga tetap pada kursinya. Sesekali ia membeli kue lain di sana dan juga es cendol. Ia masih menunggu Kirana hingga jam istirahat atau bahkan jam shift nya berakhir hanya untuk mengajaknya bicara.

Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya Kirana menyingkir dari meja kasirnya dan menghampiri Raga yang masih setia duduk di kursinya. Di atas meja nya itu bukan hanya ada kotak yang tadinya terisi oleh kue nagasari tapi ada dua gelas es cendol, dua piring yang tadinya berisi risol, pastel dan kue cucur. Perut Raga sudah kenyang rasanya mencicipi kue-kue itu.

“Maaf yah Pak lama, shift saya baru aja selesai jam dua.” Kirana duduk di depan kursi Raga.

“Jadi kamu udah pulang, Na?”

Kirana mengangguk, “sudah, Pak.”

“Yaudah kalo gitu kita ngobrol di tempat lain aja yah, gak enak saya sudah duduk di sini dua jam.” Raga tersenyum kikuk dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali, karyawan lain memang tidak memperdulikannya mau duduk di sana berapa lama pun selama ia membeli. Hanya saja, Raga yang malu.

“Iya, boleh, Pak. Tunggu sebentar yah, saya ambil tas saya dulu.” Kirana berlalu dari sana, berganti pakaiannya, mengambil tas dan berpamitan pada rekannya yang lain.

Setelah itu ia menghampiri Raga kembali dan mereka pergi dari toko itu, keduanya menaiki bus yang akan membawa mereka ke sebuah pusat bisnis, kuliner, perbelanjaan dan hiburan di kawasan Jakarta Selatan. Di dalam bus mereka sempat agak canggung karena harus duduk bersebelahan, terutama Raga dengan detak jantungnya yang semakin menggila. Ingatnya berkelana pada masa lampau dimana keduanya masih bernama Ayu dan Jayden. Tapi buru-buru ia tepis hal itu dengan mencoba mengajak Kirana berbincang lagi.

“Ah, soal panggilan itu, Na.” Raga memulai pembicaraan lebih dulu.

“Ya, Pak gimana?”

“Kamu panggil saya Raga aja bisa kan?”

Kirana meringis, “sungkan, Pak. Rasanya aneh.”

Raga memejamkan matanya, ia sendiri juga bingung ingin di panggil apa dengan Kirana. “Umur kamu berapa, Na?”

“28, Pak.”

“Panggil saya Mas aja kalau begitu, bisa?”

Kirana melirik ke arah Raga sebelum benar-benar menoleh kearahnya, kedua mata mereka bertemu. Udara dingin yang berasal dari AC bus itu rasanya tidak mempan bagi keduanya karena ada setitik keringat membasahi kening Raga, ia benar-benar gugup. Belum sempat Kirana menjawab sontak Raga berdiri dan memberi kursinya pada penumpang yang baru saja masuk, lansia. Ia berdiri di samping kursinya tadi sembari berpegangan pada handle grip agar dirinya tidak terhuyung kedepan ketika supir bus menginjak rem.

Sementara itu Kirana menoleh ke arah lain, melihat jalanan jakarta siang itu yang tidak terlalu padat. Jalanan masih agak terik hingga sinar matahari menyorot menembus melalui kaca bus yang ditumpangi keduanya. Sesampainya di pemberhentian terakhir keduanya turun, berjalan sedikit untuk sampai ke pusat kuliner. Kirana sempat menebak mungkin tempat itu tidak akan terlalu ramai, mengingat ini bukan jam makan siang dan juga belum terlalu gelap untuk di sebut sore atau bahkan malam. Tapi sudah banyak pengunjung di sana yang mendatangi berbagai macam pilihan restoran dan cafe-cafe yang berjejer di sepanjang jalan.

Kirana lupa ini masih hari libur, dalam langkah yang sejajar itu keduanya berjalan tanpa ada obrolan sedikit pun. Bibir Kirana terasa kaku hanya untuk bertanya pada Raga kemana mereka hendak pergi.

“Kamu suka pancake gak?” tanya Raga tiba-tiba, ucapan itu berhasil membuat Kirana menoleh ke arah pria jangkung di sebelahnya itu.

“Suka, Mas.”

Nyaris saja biji mata Raga keluar karena ia membulatkan matanya tiba-tiba, napasnya terasa tercekat hanya karena terkejut ketika Kirana memanggilnya dengan sebutan “Mas.” ini memang permintaanya, tapi kenapa rasanya terdengar sangat meluluhkan hatinya, jutaan kupu-kupu gila terasa terbang berkeliaran di perutnya.

“Ki..kita makan pancake aja ya?”

Kirana mengangguk, Raga jalan lebih dulu. Membiarkan Kirana berjalan di belakangnya. Tak ada maksud lain di balik tindakannya selain ia ingin menetralkan degub jantung nya lebih dulu. Begitu sampai di sebuah cafe, Raga mencari tempat duduk untuk ia dan juga Kirana. namun sialnya cafe itu agak penuh dan mereka terpaksa menunggu untuk mendapatkan 2 kursi itu.

“Mau makan di tempat lain aja, Na?” Raga menawarkan alternatif lain, siapa tahu Kirana sudah kepalang lapar.

“Gapapa, Mas. Saya mau nyobain pancake nya, katanya kalau rame itu tandanya enak.”

“Beneran?”

Kirana mengangguk, “ah, iya. Saya dengar dari Almira, Mas Raga pindah kantor?”

Almira sempat bercerita pada Kirana jika Raga pindah bekerja, pindah ke perusahaan lain. Waktu itu Almira bercerita dengan wajah yang sedikit masam, Raga memang dikenal sebagai atasan yang agak kaku, tidak seperti kebanyakan atasan yang berusia muda lainnya, Raga itu jarang sekali mengetahui hal-hal yang sedang ramai di bicarakan, makanya tak jarang ia tidak dapat berbicara banyak dengan karyawannya yang lain diluar obrolan kerjaan mereka. Tapi terlepas dari sikapnya yang membosankan, Raga adalah atasan yang baik dan juga sangat menghargai bawahannya.

“Iya, Na. Saya pindah dari kantor. Saya kerja bareng sama Mas Ethan kakak ipar saya.”

“Suaminya Mbak Adel yah?”

“Yup.” Raga mengangguk, “kamu sendiri gimana? Saya pikir kamu kerja di firma lain.”

Kirana tersenyum, ia memang tidak mengatakan pada siapapun selain Almira jika ia bekerja di toko tempat ibunya bekerja dulu. “Enggak, Mas. Sejak kepergian Ibu, saya mutusin buat kerja di toko itu karena toko itu tempat ibu bekerja dulu. Sederhananya saya ngerasa dekat sama Ibu kalau berada di sana.”

“Ahhh...” Raga mengangguk-angguk, “tapi keadaan kamu baik-baik aja sekarang kan, Na?”

“Baik, Mas. Jauh lebih baik kok.” keduanya bersandar di dinding cafe itu, setapak demi setapak mereka maju ketika pelayan cafe itu keluar dan mengantar satu persatu pelanggan yang antre lebih dulu dari mereka ke kursi yang sudah tersedia.

“Sebenarnya, Na. Di hari terakhir kita bertemu, waktu itu saya mau tanya sesuatu ke kamu.”

“Oh ya? Tanya apa, Mas?” Kirana menoleh ke arah Raga, membuat Raga yang berdiri di sebelahnya itu sedikit salah tingkah. Dalam hati Raga terus meruntuki dirinya yang tampak tidak keren sama sekali di depan Kirana.

“Soal, mimpi—” Raga menarik nafasnya sebentar. “Saya—”

Kirana mengangguk, setelah hari terakhirnya bekerja pun Kirana kembali bermimpi tentang Ayu dan Jayden kembali. Mimpi yang selama ini ia alami berputar kembali begitu cepat bagaikan sebuah kaset di kepalanya, dan paginya ketika ia terjaga ia bukan lagi merasa itu semua adalah mimpi. Melainkan potongan dari kisah masa lalunya, pagi itu Kirana tersadar jika ia adalah Ayu yang terlahir kembali. Kilasan itu sebuah cerita yang belum selesai.

“Sir Jayden.”

“Ka..kamu ingat saya?” Raga terperangah, ia yang tadinya berdiri di sebelah Kirana itu kini berpindah berdiri di depannya. “Kamu ingat saya Ayu?”

Kirana tidak menjawab, tenggorokannya rasanya tercekat, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu perasaan ini apa, namun ketika menyebutkan nama Jayden barusan dan melihat reaksi Raga yang justru menunjukan jika dirinya adalah Jayden dari masa lalu. Kirana ingin sekali berlari memeluk Raga, seperti ingin melepas rindu yang bertahun-tahun membuncah dalam hatinya yang terpaksa ia tahan. Petang itu, di bawah sorot matahari menjelang sore di bawah rerimbunan pohon kedua anak manusia itu saling menatap.

Seperti berkomunikasi hanya dengan tatapan itu, seperti tengah mengisi rindu satu sama lain. Sampai akhirnya Raga menarik tangan Kirana dan membawa wanita itu dalam pelukannya, beberapa pasang mata yang melewati mereka sempat melirik ke arah Raga dan Kirana namun keduanya abaikan begitu saja.

“Tolong jangan tinggalin saya lagi, tolong hidup lebih lama lagi..” ucap Kirana lirih, ia tenggelamkan wajahnya di dada bidang Raga. Sama sekali tidak menyangka jika pria kolonial itu kini terlahir kembali menjadi seorang pribumi yang tak kalah jauh menawan. Hatinya masih bersih dan telat ia menyadari jika semesta kembali mempertemukan mereka.

Bersambung...

Uploaded image on Imghippo

Petang itu disaksikan oleh swastamita dan langit merah serta hiruk piruk dari bunyi kendaraan yang semakin ramai, dan burung-burung yang berterbangan kembali ke sarang setelah mencari makan. Dua anak manusia itu duduk disebuah taman, sesekali keduanya saling melirik atau bahkan berlempar pandangan dengan malu-malu. Ada kelegaan hati, sedikit rindu yang masih menyelinap dan rasa kagum yang ingin keduanya utarakan. Kirana bingung harus bersikap seperti apa, harus bagaimana ia memperlakukan pria di depannya ini.

Apakah ia harus memperlakukan pria itu sebagai Jayden kekasih nya dulu ataukah memperlakukannya sebagai Raga? Mengingat Jayden yang saat ini adalah seorang pribumi bernama Raga. Meski mereka telah mengingat bahwasanya mereka telah terlahir kembali dalam sosok baru. Tanpa obrolan itu sama sekali tak membuat keduanya canggung, justru saling berdiam diri seperti ini malah menyelimuti mereka dalam rasa nyaman.

“Saya harus panggil kamu apa?” Tanya Raga tiba-tiba, ia menoleh pada wanita yang duduk di sebelahnya itu. Kirana tadi tampak asik melihat ke atas, melihat kereta yang berjalan di atas mereka.

“Sebagai Kirana?” Ia menaikan satu alisnya. “Karena kita hidup di tahun 2025. Kita terlahir dalam kehidupan baru, Mas.”

Raga mengangguk setuju, meski dikatakan mereka hidup dalam raga yang sama tetapi kehidupan mereka baru jiwa mereka baru, nasib mereka berbeda dan karakter mereka pun tentunya berbeda.

“Kamu sejak kapan sadar soal reinkarnasi itu?”

“Hhmm..” Kirana tersenyum, matanya kembali memandang kereta yang berlalu lalang yang seperti tidak berada jauh dari mereka jika di lihat dengan pandangan mata sesaat. “Sejak hari dimana saya mengundurkan diri.”

“Lama juga yah..” Raga mengangguk-angguk. “Kirana?”

“Hm?”

“Kamu tau kenapa waktu itu saya mati?” Raga menggeleng pelan, memejamkan matanya dan meralat ucapannya kembali. “Maksud saya, Jayden.” Ia menunjuk dirinya sendiri dengan menaruh telapak tangannya di dada.

“Tau, Mas. Waktu itu kan saya pernah cerita kalau Ayu ketemu dengan Jacob. Jacob yang menggantikan posisi Sir Jayden sebagai asisten residen, dia juga yang mengantarkan saya ke kebun melati yang kamu buat.”

“Waktu itu Jacob yang saya minta untuk memanam benihnya di sana. Jayden tertarik buat bikin kebun itu buat kamu, karena kamu sering menjadikan melati sebagai hiasan untuk rambut kamu. Dia selalu mikir kalau kamu identik dengan melati, wanginya dan rupanya itu menyerupai kamu”

Raga tersenyum, mengingat bagaimana Jayden tersenyum ketika Jacob De Houtman selesai menanam benih-benih melati itu. Menunggu hingga pohonnya tumbuh hingga berbunga, pertama kali memetik melati itu dan mengekstraknya hingga menjadi wewangian untuk kamarnya. Disaat itulah Jayden merasa hidup kembali, merasakan seperti masih ada Ayu yang menemaninya meski saat itu Ayu sudah menikah dan diboyong oleh Dimas ke Surabaya.

“Waktu itu Jayden berharap bisa memberitahu kamu tentang kebun itu sendiri, tapi sayangnya dia sakit. Mungkin depresi karena kamu menikah sama Dimas. Dan setelah sembuh, dia mulai sibuk kembali sama pekerjaanya sampai hari dimana dia dibunuh.” Raga meringis, mengingat bagaimana dengan jelas Jayden terbunuh dalam pemberontakan yang melibatkan petani dan para pribumi itu.

Para petani pribumi itu tidak terima karena karena sistem cultuurstelsel itu menjadi pajak tanah dan pajak hasil bumi, yang membuat para petani merasa pajaknya memberatkan, Laporan hasil pajak tidak transparant dan priyai lokal sering memeras. Jayden tak lepas dari serangan pembrontakan itu yang tak terencana tanpa organisasi, Jayden dibunuh dengan senapan milik tentara Kolonial yang sudah tewas dan senjatanya diambil alih oleh pemberontak, Meskipun sangat berpihak pada pribumi, Jayden tak lepas dari para petani yang membabi buta itu karena di anggap ikon Kolonial.

“Jacob cerita soal itu, tapi Ayu gak sanggup dengarnya.”

“Kirana?” Raga menoleh ke arah Kirana, ingin sekali dia berbicara pada wanita itu sebagai Jayden pada Ayu. Itu pun kalau Kirana tidak keberatan, karena sejak kematian Jayden ada banyak kata yang tak tersampaikan pada wanitanya. meski Jacob dan Adi menyampaikan pesannya untuk Ayu.

“Ya, Mas?”

“Saya boleh bicara sama kamu sebagai Jayden?”

Hening beberapa saat, keduanya masih saling menelisik lewat lemparan pandangan mata itu. Hanya ada suara adzan berkumandang di sekitar mereka dan lampu-lampu taman yang mulai dinyalakan, serta air mancur yang berada di bagian bawah taman itu yang ikut menyala seperti menyaksikan cerita dua anak manusia yang belum usai itu.

“Boleh,” jawab Kirana pada akhirnya.

Raga tersenyum, senyum itu mengingatkan Kirana akan Jayden dalam mimpinya. Ah tidak, itu memang Jayden. Pria di depannya ini terlahir kembali dan mengingat semuanya dengan baik. Begitu juga dirinya.

“Saya senang kamu terlahir kembali Ayu, terima kasih sudah menepati janji kita untuk sama-sama terlahir kembali.” saat Raga mengatakan itu rasanya tak ada sekat lagi di antara Kirana dan Raga, maksudnya Kirana benar-benar tidak melihat Raga sebagai Raga lagi. Tetapi sebagai Jayden dan dirinya sebagai Ayu.

Suasana ramai dan penuh dengan gemerlap lampu serta suara dari kereta yang ada di atas sana seakan sirna, digantikan dengan keduanya seolah-olah berdiri di tengah kebun melati yang wanginya bahkan menyeruak memenuhi cuping hidung Kirana. Suasananya dingin namun tetap sedikit hangat, pria di depannya itu yang biasa ia lihat lekat dengan surai legamnya kini berubah menjadi rambut pirang khas Eropa dengan topi fedora khas dan pakaian serba putih gading itu.

Semua berubah dimata Kirana, bahkan cardigan biru yang ia gunakan itu berganti dengan sebuah kebaya cantik dengan bawahan kain. Rambut panjangnya itu di epang dan diberi hiasan bunga melati. Keduanya seperti ditarik kembali pada masa lalu.

“Maaf saya belum sempat membaca surat yang Sir Jayden tulis. Surat itu diambil paksa oleh Mas Dimas dan dirobek olehnya.” Nada bicara Kirana bahkan tidak terdengar seperti Kirana, itu benar-benar Ayu.

Ada sedikit kekecewaan akan hal itu, surat yang Jayden tulis adalah seuntai kalimat yang sangat mewakili hatinya kala itu. Tentang bagaimana ia jatuh cinta pada pribumi itu, tentang bagaimana ia mencintainya dan tentang hatinya yang sakit setelah ditinggal menikah olehnya. Ada pesan juga yang ditulis Jayden tentang kebun melati itu yang tadinya memang ia persembahkan untuk hadiah pernikahan mereka kelak.

“Gapapa, yang terpenting Adi sudah memberikan surat itu padamu.”

“Memang isinya apa?”

“Kapan-kapan akan aku tulis ulang untuk kau baca ya.” Raga (Jayden) itu tersenyum. Ingatanya kembali jika mereka hidup di tahun 2025 tidak ada perang lagi, tidak ada tentangan dari orang tua Kirana (Ayu) untuk mereka berhubungan hanya karena dirinya seorang kolonial. Tapi di tahun ini Kirana (Ayu) telah menjadi milik seorang pria lain. Dan pria itu adalah Bagas yang paras nya mirip sekali dengan Adi.

“Kirana?”

“Ya, Mas?”

“Soal.. Bagas? Gimana kabar dia?”

Demi menyadarkan dirinya dan menempatkan kembali posisinya sebagai Jagaraga Suhartono. Raga kembali bertanya tentang Bagas, biar bagaimana pun dikehidupan kali ini ada banyak hal yang berubah. Bisa saja semesta hanya mempertemukan mereka kembali atas janji masa lalu, ya, bisa saja hanya sebatas itu tanpa membiarkan mereka bersatu menjadi pasangan. Raga ingin dirinya sadar jika ia adalah Raga dan Kirana tetaplah Kirana. Jayden dan Ayu hanya bagian masa lalu dari kehidupan mereka terdahulu.

Kirana menghela nafasnya pelan, hatinya seperti dicubit ketika Raga menyinggung tentang Bagas. Ia sendiri tidak tahu kabar pria itu, Kirana yang meminta pada Bagas untuk berhenti mengiriminya pesan dan fokus pada kehidupan mereka masing-masing. Tapi bagaimana pun sekarang, Kirana hanya berharap jika Bagas baik-baik saja.

“Hubungan saya sama Bagas sudah selesai, Mas.” jawabnya pada akhirnya. Mata Kirana mengawang melihat langit malam itu yang begitu polos, hitam dengan sedikit kemerahan tanpa bintang. Ah, sudah lama sekali ia tidak melihat bintang.

“Selesai maksudnya? Kalian putus?”

Kirana mengangguk, “iya, Mas. Sebenarnya hubungan kami tidak di restui oleh keluarga Bagas. Dan orang tua nya terang-terangan menyuruh saya menjauhi anak mereka. Awalnya saya masih ingin bertahan karena saya sayang sama Bagas, tapi disisi lain saya enggak ingin di anggap merebut Bagas dari keluarganya. Saya hanya tidak ingin memaksakan keadaan.”

Raga jadi teringat waktu ia di undang ke pesta ulang tahun Ibunya Bagas, masih teringat jelas bagaimana Kirana diacuhkan dan diperlakukan sangat tidak baik. Setelah Kirana pergi pun, Bagas dan Ibunya masih berdebat. Hari itu Raga sudah bisa menduga jika keluarga Bagas memang tidak menyukai Kirana. Tapi sama sekali tidak pernah terlintas di kepalanya jika suatu hari Kirana akan menyerah lebih dulu pada hubungannya dengan Bagas.

“Maaf yah, Na. Saya jadi tanya-tanya seperti ini tentang hubungan kamu.” Raga jadi merasa tidak enak.

“Gak papa, Mas. Saya sudah lebih, berlapang dada buat menceritakan ini.”

🍃🍃🍃

Denting pada jam dinding dan kipas angin di ruangan itu menjadi satu-satunya sumber dari suara yang menemani Kirana di atas ranjangnya. Tubuhnya berbalik ke kanan dari kiri, mencari posisi yang menurutnya nyaman hingga matanya terpejam dan larut dalam keheningan malam. Namun sayangnya ia masih terus terjaga, ia jadi teringat pertemuan 8 bulan yang lalu pada orang tua Bagas itu. Ia mencoba memejamkan matanya, berharap lelap menghampirinya namun yang di lihatnya bukan hanya gelap karena matanya telah terutup. Melainkan ingatannya yang di lempar balik ke 8 bulan lalu.

8 Bulan Yang Lalu...

Kirana datang lebih dulu ke cafe yang sudah menjadi tempatnya dan Ibunya Bagas bertemu. Ia sudah memasan minuman untuknya, secangkir kopi Sidikalang yang wanginya sudah membuat cuping hidungnya kembang kempis. Dihirupnya wangi dari asap yang sedikit mengepul itu, sembari sesekali Kirana menatap ke arah luar jendela yang menampakan kesibukan sore itu. Langit berwarna jingga itu seakan menemaninya menunggu seseorang.

Kirana ingin berterima kasih pada semesta hari itu, melihat langit yang indah dengan burung-burung berterbangan, serta daun-daun yang berguguran diterpa angin dan juga suara musik cafe yang menghalau heningnya. Kirana merasa nyaman bahkan untuk berdiam diri di sana, namun tak lama kemudian bunyi gemerincing yang berasal dari lonceng yang di taruh di depan pintu cafe berbunyi.

Menandakan ada pelanggan yang masuk ke cafe itu, Kirana menoleh ke arah pintu itu dan ia dapati seorang wanita yang sudah ia tunggu sekitar tiga puluh menit yang lalu akhirnya datang. Ia sontak berdiri dan mengangguk kecil, hendak menyalami wanita itu ketika tanganya sudah terangkat ke udara. Namun sayangnya hanya angin yang menyapanya karena wanita itu langsung duduk di kursi depan Kirana.

“Langsung saja ada apa kamu ingin bertemu dengan saya?” Tanyanya dengan angkuh, dagunya ia naikan beberapa senti menambah kesan anggun dan keangkuhan yang tergambar jelas pada raut wajah dahayu sisa masa lalu itu.

“Buk, apa kabar?”

Ia menyeringai, menatap Kirana dengan sengit. “Kabar saya tidak akan pernah baik Kirana kalau anak saya belum kembali ke rumah.”

Kirana mengangguk pelan, ia berusaha melemparkan senyumnya. Senyum penuh keteguhan dan kelapangan dada pada suatu pelepasan yang sangat amat ia sayangi. “Buk, sebentar lagi mungkin Bagas akan segera pulang. Ia akan kembali ke rumah orang tuanya.”

“Maksud kamu?” Wanita itu mengeryitkan dahinya. Air wajahnya seakan meminta penjelasan dari maksud ucapan Kirana.

“Beberapa hari yang lalu saya sudah bertemu dengan Bagas setelah menghindar darinya selama satu minggu, kami banyak mengobrol. Dan pada pertemuan itu saya bilang ke Bagas bahwa saya tidak bisa melanjutkan hubungan kami.” Kirana menahan ucapannya sebentar. Ia menunduk, ia yakin ia sudah berlapang dada. Namun rasanya masih ada sedikit sakit di hatinya mengingat hari itu, mengingat bagaimana Bagas menatapnya dengan nanar dan menangis pada pelukan terakhir mereka.

“Kamu sudah putus dengan dia Kirana?”

Kirana mengangguk, “kurang lebih seperti itu, Buk.”

“Baguslah kalau begitu, lebih baik memang begitu.”

“Buk, Bagas kelihatan enggak baik-baik aja akhir-akhir ini. Bahkan di hari terakhir saya bertemu sama dia, kalau boleh saya berpesan pada Ibu. Tolong hubungi dia yah, Buk. Tanya kabarnya, suruh dia makan dengan benar dan istirahat. Saya sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi padanya.”

Entah kata-kata mana yang membuat hati wanita itu seketika tertegun, ia seperti kehilangan kata pada mulutnya. Meratapi kata-kata wanita muda di depannya itu, matanya menatap wajah yang tenang di sebrang sana yang kini tengah menunduk. Tidak ada keraguan dalam nada biacaranya seperti seseorang yang sudah menerima keadaan, namun tetap tersirat sebuah ketulusan di sana.

“Buk, saya sudah melepaskan Bagas. Saya mau bilang ke Ibu, terima kasih karena sudah merawat dan mendidik Bagas dengan baik. Dia laki-laki baik yang pernah saya miliki, Buk. Dia pendengar, obat dan sandaran yang pernah saya miliki. Terima kasih telah meminjamkan Bagas untuk menjadi orang yang saya sayangi, saya akan terus berdoa untuk kebahagiaan Bagas.”

Meski berpisah dengan Bagas, Kirana selalu mengharapkan ada banyak hal baik yang menghampiri hidup pria itu. Untuk menyembuhkan segala rasa sakit yang ia timbulkan karena menyerah pada hubungan mereka. Ada sirat pada kehidupan masa lalu yang tertanam di kepalanya, Bagas di kehidupan lalunya yang bernama Adi. Pria itu hidup dalam serba keprihatinan, jarang sekali tersenyum, selalu menunduk dan jalan membungkuk. Bahkan sampai akhir hidupnya Kirana merasa Adi belum di beri kesempatan berbahagia.

Kirana berharap di kehidupan ini Bagas tidak bernasib sama pada kehidupan masa lalunya. Ia ingin pria itu bahagia pada kehidupan ini, apapun bentuk bahagia nya asalkan Bagas bisa tersenyum dan lupa akan sakit hatinya. Wanita di depannya itu terdiam beberapa saat, sempat menahan nafasnya mendengar kata-kata Kirana yang terdengar sungguh merendah dan tulus mencintai putranya itu.

“Kenapa kamu berterima kasih sama saya Kirana, saya sudah menyuruh kamu meninggalkan Bagas.”

“Karena tanpa Ibu, Bagas tidak akan menjadi Bagas yang seperti saya kenal, Buk. Dia baik. Saya harap siapapun pasangannya nanti, ia juga sama baiknya seperti Bagas.”

“Dan kamu masih mendoakan kebahagiaan dia?”

Kirana mengangguk, “karena Bagas sudah memberikan banyak kebahagiaan pada saya.”

Ibu menelan salivanya susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. Entahlah perasaan ini pantas disebut apa tetapi Ibu merasa sangat tersentuh pada ucapan Kirana. Benci ia mengakui jika wanita muda yang dicintai putranya itu terlihat begitu tulus menyayangi Bagas. Demi pendiriannya yang teguh, ia angkat kembali dagunya demi menepis perasaanya yang sudah disentuh itu.

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih karena telah melepaskan Bagas.”

Bersambung...

Kepulan asap dari panci yang berada diatas kompor itu membuat Asri tersenyum, menatap butir-butir beras yang ia masak itu kini telah berubah menjadi bubur. Ditambahkannya lagi sedikit garam karena di rasa terlalu hambar setelah ia cicipi, setelah itu ia matikan kompornya. meninggalkan sejenak panci berisi bubur itu untuk mengambil mangkuk, ayam yang sudah ia iris kecil-kecil, daun seledri dan juga kacang untuk toping diatas buburnya. Bibir mungilnya itu tidak berhenti tersenyum, membayangkan bagaimana reaksi seseorang yang ia buatkan bubur itu.

Asri terlalu percaya diri jika masakannya memang yang terbaik, terlalu percaya diri jika Bagas akan makan dengan lahap jika ia suapi dengan bubur yang ia buat. beberapa hari yang lalu memang calon Ibu mertuanya itu mengabari Asri jika Bagas sudah kembali ke rumah. Namun pria itu sedang sakit dan Ibu meminta Asri menemani Bagas, ya hitung-hitung mengambil hati pria itu pelan-pelan, Berharap dengan segenap perhatian yang Asri berikan Bagas akan melupakan Kirana dan jatuh cinta padanya.

Ketika semua bahan sudah siap, ia ambil satu centong bubur yang masih mengepulkan asap itu dan menaruhnya di mangkuk. wanginya menyeruak hingga ke ruang tamu. Ia kemudian memberi kuah kuning yang tadi ia buat, setelah itu memberinya sedikit kecap dan menata potongan ayam, daun seledri dan juga kacang di atasnya. Tampilannya cukup cantik apalagi dengan harum kaldu dari kuah kuning diatasnya.

Sebelum menata mangkuk berisi bubur itu diatas nampan, Asri sempat ingin mengambil gelas untuk ia isi dengan teh tawar tanpa gula yang hangat. menurutnya makan bubur ayam akan terasa cocok jika ditemani oleh secangkir teh tawar. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati Kanes masuk ke dalam dapur, Wanita itu membawa buku dilengan kanannya dan menatap Asri dengan datar. Adik Bagas itu, yang kerap kali bersikap acuh padanya. Jika Kanes bukan Adiknya Bagas mungkin Asri sudah memilih mengabaikan wanita itu alih-alih terus bersikap manis padanya.

“Pagi, Nes.” Sapa Asri pada Kanes.

“Pagi, Mbak.” Kanes sempat memperhatikan bubur yang Asri buat, namun setelahnya ia abaikan saja dan lanjut mengambil air di dapur. Kanes tau Ibu nya memang sengaja menyuruh Asri untuk datang ke rumahnya agar membujuk Bagas, entah itu untuk makan atau pun ke rumah sakit.

“Ah, Nes. Bagas udah bangun belum ya?”

“Kurang tau deh, Mbak. Biasanya jam segini juga udah bangun sih.”

Asri tersenyum, ia begitu percaya diri dengan bubur buatannya. Ia yakin selangkah demi selangkah yang ia usahakan untuk pria itu akan membuahkan hasil kelak. “Kalo gitu aku ke kamarnya dulu ya.”

Kanes hanya mengangguk, memperhatikan punggung Asri yang kian menjauh meninggalkan dapur. Sampai Asri menaiki tangga menuju kamar Bagas pun Kanes masih memperhatikan wanita itu, memurut Ibu Asri memang baik tapi entah kenapa Kanes merasa tidak nyaman berada dekat dengan wanita itu. Katakanlah ini hanya perasaan buruknya saja, tapi Kanes merasa seperti ada yang Asri tutup-tutupi dari Ibu. Namun Kanes lebih milih memendam pendapatnya itu saja, Ibu terlampau menyukai wanita itu dan sangat berharap Asri bisa menikah dengan Bagas.

Siang itu setelah Kanes dari kampusnya, ia sempat ke rumah Kirana. Ia ingin meminta bantuan pada mantan kekasih kakaknya itu untuk setidaknya menjenguk Bagas. Ia ingin kakaknya itu kembali pada kehidupan normalnya, sehat, memiliki semangat hidup atau setidaknya pandangan matanya itu tidak kosong lagi. Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak pada Kanes hari itu, karena kebetulan sekali Kirana libur bekerja. Waktu Kanes datang, Kirana sedang sibuk menyiram tanamannya.

Kirana memang menanam berbagai jenis tanaman, ada pohon tomat ceri, cabai, daun sirih yang merambat hingga ke pagar dan juga bunga melati. bahkan harum dari bunga itu menyeruak hingga ke jalanan, membuat siapapun yang lewat akan merasa nyaman dengan wanginya. walau beberapa orang kerap kali menyangkut pautkan wewangian dari melati itu dengan hal-hal klenik, seperti ada makhluk halus perempuan penunggu pohon asam di sana.

Kirana agak sedikit terkejut melihat Kanes datang ke rumahnya, perasaanya bekecamuk. Takut sekali terjadi sesuatu yang buruk pada Bagas meski ia selalu menepis pikiran buruknya itu, atau justru sebaliknya. Kanes datang ke rumahnya untuk memberi kabar baik tentang Bagas? Entah lah, Kanes tersenyum Ia membukakan pagar rumahnya menyuruh Kanes masuk dan duduk di teras rumahnya.

“Mbak Kirana apa kabar?” Tanya Kanes, keadaan Kirana menurutnya jauh lebih baik dari pada kakaknya di rumah. Pancaran wajah Kirana masih sama, hanya saja tubuh wanita itu sedikit kurus dari yang terakhir Kanes temui. sudah lama sekali kira-kira satu tahun yang lalu, jauh sebelum Kirana dan Bagas mengakhiri hubungan mereka.

“Baik, Nes. Kamu gimana kabarnya?”

“Baik, Mbak.”

Kirana mengangguk, lega mendengar kabar baik dari Adik mantan kekasihnya itu. “Ada apa, Nes?”

“Mbak, Mas Bagas sakit,” ucap Kanes to the point.

Sempat hening beberapa saat diantara mereka berdua, Kirana menunduk. Memperhatikan sandal berwarna kuning yang ia kenakan, seakan-akan sandal yang terlihat biasa saja itu jauh lebih menarik dari pada lawan bicara di depannya itu. Pelan-pelan Kirana menenangkan dirinya sendiri, ia masih perduli dengan Bagas bahkan ia tidak berharap mendengar kabar buruk tentang pria itu.

“Sakit apa, Nes?”

Kanes menghela nafasnya pelan, rasanya sudah hampir putus asa mengajak Bagas ke dokter. Kanes sendiri pernah mencoba untuk memeriksa Bagas namun pria itu menolak, Kanes bisa sedikit menarik kesimpulan jika Bagas mungkin terpukul atau bahkan depresi setelah patah hati. Banyak hal-hal yang dulu Bagas sering lakukan kini pria itu tinggalkan, bahkan Bagas pun terpaksa resign dari tempatnya bekerja, pria itu menarik diri dari orang terdekatnya bahkan Satya dan Almira yang ingin menjenguknya saja Bagas larang. Bagas akan mencari banyak alasan agar kedua temannya itu tidak menemuinya di rumah.

“Kanes juga gak tau, Mbak. Mas Bagas sekarang kurus banget, tatapan matanya kosong. Senang banget ngalamun dan sendirian, bahkan gak banyak ngobrol sama Kanes. Kanes udah bujuk dia ke dokter tapi Mas Bagas gak mau, Mas Bagas rasanya kaya gak punya semangat hidup Mbak, bahkan dia juga narik diri dari teman-temannya.”

Sesak rasanya dada Kirana mendengar kabar Bagas yang di bawa oleh Kanes, ia tidak ingin mendengar kabar ini. Ia ingin pria itu baik-baik saja, pikiran Kirana sempat melambung dan di tarik paksa akan ingatannya tentang kehidupan terdahulunya itu. Tentang Adi yang juga sakit dan pada akhirnya meninggal, ia tidak ingin dikehidupan ini Bagas juga mengalami nasib yang serupa dengan Adi.

“Mbak,” Kanes mengubah posisi duduknya menjadi menyamping dan menarik tangan Kirana. Seperti tengah membuat sebuah permohonan pada wanita itu. Raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Ia hanya ingin kakaknya itu sehat kembali, atau setidaknya memiliki semangat hidup. “Aku mohon sama Mbak Kirana buat ketemu sama Mas Bagas, Mbak. Setidaknya bantu dia buat sembuh. Aku gak tau harus minta tolong ke siapa lagi, Mbak.”

Hati Kirana sungguh terenyuh mendengarkan sebuah permohonan itu, tapi pendiriannya tetap teguh untuk tidak bertemu dengan Bagas lagi. Apalagi di situasi seperti ini, ia tidak ingin Bagas melambungkan harapannya lagi pada hubungan mereka. Bertemu dengan Bagas akan menyulitkan dirinya dan tentunya pria itu lagi. Benteng yang ia buat sedemikian kokoh itu bisa rubuh kembali jika ia menemui Bagas.

“Kanes, aku bukan gak mau ketemu Bagas. Aku juga kesulitan setelah berpisah sama dia, Nes. Kalau aku menemui dia lagi, aku takut dia akan berharap sama hubungan kami yang nantinya justru itu bikin dia tambah sakit.” Kirana menolak, meski pahit ia harus bertindak tegas demi melindungi hatinya sendiri.

“Tapi, Mbak.” Kanes meneteskan air matanya. “Mbak, Mas Bagas tuh sayang banget sama kamu, Mbak.”

“Nes, aku merelakan hubunganku dengan dia karena aku sangat menyayangi Bagas dan diriku sendiri. aku gak ingin hubungan dia dengan keluarganya hancur karena aku, aku enggak ingin Bagas membenci orang tuanya.

Mendengar kata-kata itu, Kanes paham. Ia pun juga mungkin akan berlaku sama seperti Kirana jika dihadapkan pada situasi seperti itu. Ibunya memang sudah keterlaluan, Ibu terlalu sibuk membenci latar belakang keluarga Kirana sehingga tidak memberi kesempatan pada hubungan yang sudah di bangun penuh kasih sayang itu.

“Aku harus gimana, Mbak. Tolongin Kanes sekali ini aja, Mbak.” Kanes memohon.

Kirana bingung, ia khawatir dengan Bagas apalagi setelah mendengar kondisi pria itu dari Kanes sama sekali tidak terbayang dalam benaknya jika Bagas akan seperti ini. ia juga sebenarnya tidak tega dengan Kanes, melihat wanita yang jauh lebih muda darinya itu memohon membuat hati Kirana luluh. ia memikirkan cara untuk membantu Bagas setidaknya bisa bangkit lagi dari keterpurukannya.

kalau boleh Kirana jujur perasaan itu masih ada untuk Bagas, ia memang masih dalam proses melupakan pria itu perlahan-lahan. “Nes, aku mau bantu kamu tapi aku tetap enggak bisa bertemu dengan Bagas.”

kening Kanes mengkerut bingung, “lalu bagaimana, Mbak?”

“kamu bawa HP?”

Kanes mengangguk, “Mbak mau menelfon Mas Bagas?”

“Bukan, Nes. aku mau merekam suaraku untuk nanti Bagas dengarkan siapa tau dengan cara ini setidaknya Bagas lebih baik.” setidaknya itu yang bisa Kirana berikan pada Kanes untuk membantunya.

Kanes tampak menimang-nimang ucapan Kirana itu, namun pada akhirnya ia mengangguk setuju dan menyerahkan ponselnya pada Kirana. Kirana membuka sebuah aplikasi pesan instan dan mencari kontak Bagas di sana, kemudian menekan tombol pesan suara yang nantinya bisa langsung Bagas dengarkan.

Kirana sempat menahan nafasnya beberapa detik, seperti tengah membuka sebuah pintu yang sudah ia kunci rapat sejak delapan bulan yang lalu kini terpaksa ia buka kembali. membiarkan sedikit rasa sakit di hatinya itu menyelinap lagi, ia sedikit menghiraukan hatinya yang terasa dicubit dari dalam itu. persetan dengan itu semua yang terpenting saat ini adalah Bagas.

“Hai, Gas. ini aku Kirana, Kanes bilang kamu lagi sakit ya? Bagas aku di sini baik-baik aja. Meskipun hubungan kita udah selesai, kamu pernah menjadi bagian penting dalam hidup aku, Gas. Kita masih bisa jadi teman baik. Bagas, Aku tau kamu sayang sama aku, tapi aku juga akan terus merasa bersalah kalau kamu sampai kehilangan diri kamu sendiri karna sayang sama aku. Diri kamu yang utama, Gas. maaf aku masih belum bisa bertemu sama kamu. tapi aku selalu berharap seandainya kita bertemu suatu hari nanti kamu jauh lebih baik dari yang sekarang.”

Kirana mengirim pesan suaranya itu, kemudian ia memberikan ponsel itu kepada Kanes. setelah Kanes berpamitan, ia kembali menghantam sepi di temani dinding-dinding kamarnya. hanya ada deting dari jarum jam yang terdengar dan suara rintik hujan di luar sana. Kanes kembali menangisi hubungannya dengan Bagas, menangisi kemalangannya dulu hingga sekarang yang selalu sama, tentang ditinggalkan orang-orang yang ia cintai. di kepalanya saat ini menyisakan takut dan bayangan tentang kondisi Bagas yang mungkin saat ini terbaring lemah seperti Adi dalam mimpinya. ia tidak ingin Bagas bernasib sama seperti Adi.

🍃🍃🍃

Pagi itu Bagas dengar seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar, suara itu milik perempuan yang terdengar sangat familiar di telinganya namun suara itu bukan milik Kanes Adiknya apalagi Ibu. Bagas tidak menyahut, ia diam saja bahkan tidak mengubah posisi tidurnya yang membelakangi pintu kamarnya. karena tidak mendapati jawaban sang pemilik kamar, wanitu masuk. ia tersenyum dan dengan percaya dirinya menaruh nampan berisi bubur yang ia buat tadi di meja samping tempat tidur Bagas.

Asri bergeming, menatap punggung lebar yang nampak kokoh namun rapuh itu beberapa saat sampai akhirnya ia memilih untuk duduk di pinggir ranjang Bagas dan memegang pundak pria itu. ia pikir Bagas masih tidur, namun setelah telapak tanganya itu mendarat tepat di pundaknya. pria itu membalikan badannya menatap Asri sedikit sengit, dengan kening berkerut di wajahnya yang pucat. tampak heran ia bahwa Asri berani masuk ke dalam kamarnya bahkan disaat ia tidak menyahuti panggilannya.

“Lo ngapain di sini?” Bagas mengubah posisinya yang tadinya tiduran menjadi bersandar pada tumpukan bantal dibelakang punggungnya.

Asri pun nampak terkejut mengetahu jika Bagas sudah bangun ternyata, “Ak...aku bawain kamu sarapan, Gas. sarapan yuk?”

Bagas melirik ke meja yang berada di samping ranjangnya, ada semangkuk bubur ayam dan teh hangat untuknya. namun sayangnya perut Bagas sama sekali tidak lapar meski terakhir kali ia makan kemarin sore, itu pun hanya roti saja yang dibuatkan oleh Kanes. dengan sedikit ambekan dari adik perempuannya itu akhirnya Bagas makan.

“Gue enggak laper, Sri.”

“Ya tapi kamu harus tetap makan dong, Gas. jangan nunggu laper dulu baru makan. aku suapin sedikit ya?”

Bagas menggeleng pelan, kepalanya agak berdenyut nyeri. “Gue enggak suka lo main masuk-masuk aja ke kamar gue.”

“Tapi tadi aku udah ketuk pintunya, Gas. aku pikir kamu masih tidur makanya aku mau bangunin juga sekalian nyuruh kamu sarapan.” Ibu sempat bilang sama Asri begitu, jika Bagas tidak menyahut kemungkinan pria itu memang masih tidur dan memberi izin pada Asri untuk masuk saja. ia sama sekali tidak menyangka jika Bagas akan sedikit marah padanya seperti ini.

“Mau gue masih tidur kek, mau gue udah bangun selama gue enggak bukain pintu atau bahkan gak nyahut waktu lo panggil, lo gak boleh masuk kamar gue seenaknya.” Tidak ada keramahan lagi pada air wajah Bagas, ia benar-benar tidak suka ada orang lain sembarangan nyelonong masuk ke dalam kamarnya, bahkan Kanes yang Adiknya saja tidak berani.

Asri hanya diam saja menunduk, ia tahu kali ini ia sedikit lancang. ia pikir izin dari Ibunya Bagas saja sudah cukup, “Oke, maaf ya kalo aku sedikit lancang, Gas. aku benar-benar cuma dengerin apa kata Ibu kamu aja buat bangunin kamu.”

Bagas mengangguk, sudah ia duga jika hal ini atas persetujuan Ibu nya. “Yaudah.”

Senyum di wajah Asri sedikit mengembang, walau ia tahu jika Bagas masih sedikit kesal padanya, “Aku bikinin kamu bubur, enak deh. tadi Ayah kamu juga sarapan pakai bubur buatan aku, cobain yuk?”

“Nanti aja ya, gue benar-benar belum lapar.” Entah sejak kapan Bagas merasa dirinya lapar, yang jelas sejak putus dengan Kirana, Bagas sering kebingungan pada dirinya sendiri tidak benar-benar tahu apa yang ia inginkan sebenarnya.

“Kalau udah gak ada yang mau lo omongin lagi bisa gak lo keluar, Sri? gue masih kepengen tidur.”

Asri memejamkan matanya sejenak, ia tidak akan menyerah pada setiap penolakan yang Bagas lontarkan padanya. menurutnya tidak ada salahnya jika ia menuruti keinginan Bagas untuk keluar dari kamarnya lebih dulu dan memberikan waktu pada pria itu untuk beristirahat kembali. toh, rencananya hari ini hanyalah menemani Ibunya Bagas di rumah sembari membantunya membujuk Bagas untuk setidaknya mau makan atau ke dokter.

Asri mengangguk, ia berdiri dari sana dan melangkah keluar dengan harapan mangkuk yang berisi bubur buatanya akan tandas jika asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Bagas itu, mengambil piring bekasnya sarapan dan juga pakaian kotor milik pria itu.

Asri melangkah turun ke lantai dua, ada Ibu yang sedang menikmati secangkir teh sembari membaca di sana. begitu melihat Asri turun dari lantai dua wajah Ibu kian cerah, seperti tengah mendapatkan secercah harapan jika si sulung mungkin luluh dengan rayuan Asri.

“Bagaiamana, Sri? Bagas mau makan kan?” cecar Ibu begitu Asri duduk di sampingnya.

“Asri harap begitu, Buk. tadi Asri pikir dia belum bangun ternyata pas Asri mau coba bangunin dia udah bangun. habis itu dia minta Asri keluar, katanya Bagas masih mau istirahat, Buk. satu jam lagi Asri periksa ya Bagas udah makan atau belum.”

Ibu menghela nafasnya pelan, sedikit pening kepalanya melihat Bagas seperti kehilangan arah dihidupnya. “Makasih ya, kamu udah mau repot-repot buatin bubur buat Bagas, padahal kamu sendiri juga sibuk.”

Asri tersenyum, untuk urusan butiknya ia tidak terlalu memusingkan hal itu. ada banyak pegawainya di sana sebenarnya. biasanya kalau ke butik pun, Asri hanya memeriksa barang yang datang dan memeriksa kondisi butiknya itu saja. Bahkan sebulan mungkin ia hanya mampir ke sana sebanyak dua kali saja. sisa nya Asri lebih banyak di rumah atau menemani Reysaka di rumah Raka.

“Gapapa, Buk. Asri sama sekali gak kerepotan kok. Asri juga kepengen Buk. Bagas kembali kaya dulu lagi. Asri janji gak akan pernah lelah buat nemenin Bagas.”

Bagi Ibu, Asri seperti sebuah harapan untuknya. saking terharunya Ibu bahkan sampai berkaca-kaca dan memeluk Asri. “Tolong jangan pernah lelah sama Bagas ya, Sri. ibu benar-benar berharap suatu hari nanti Bagas akan luluh dengan kamu.”

Bersambung...

“Widih gaya nya, tumben ngaca melulu kamu, Ga. Udah kaya cupang.” Ethan terkekeh pelan, dia duduk di kursinya dan memperhatikan Raga yang sedang menata rambutnya itu.

Akhir-akhir ini menurut Ethan, Raga tidak seperti biasanya. Bukan ke hal-hal yang buruk memang, tapi Raga banyak melakukan kebiasaan kecil yang menurut Ethan bukan Raga sekali seperti saat ini pria itu membawa baju ganti yang rapih, berdandan seperti pria berusia dua puluhan dan menata rambutnya itu dengan rapih. ya walau biasanya juga rapih walau hanya di sisir saja. Terlebih, Raga sering sekali ketahuan senyum-senyum sendiri olehnya. Persis seperti seorang remaja yang sedang kasmaran.

Ethan senang melihatnya, karena Adik iparnya yang terkenal kaku dan jarang bicara itu jadi terlihat lebih hidup. Dalam hati Ethan menebak jika Raga memang sedang jatuh cinta, tebakannya mungkin pada Maurin sekertaris temannya yang ia kenalkan pada Raga satu bulan lalu atau bisa saja dengan Jessica Adik dari koleganya itu. Ah, terserah Raga saja yang penting menurut Ethan kedua wanita itu baik dan sangat cocok untuk Adik iparnya itu.

“Masa cupang sih, Mas. Yang bener aja,” Raga menghela nafasnya, kembali memastikan jika dirinya benar-benar rapih. Dia ganteng gini kok disamakan dengan cupang, pikir Raga.

“Bercanda, mau kemana si kamu? Jalan sama Maurin atau ama Jessica nih?” Ethan menaik turunkan alisnya menggoda Raga.

Raga terkekeh, ia merapihkan tab miliknya dan memasukannya ke dalam tas. Bersiap untuk pulang karena ini memang sudah jam pulang kantor, ya walau bisa di bilang Raga pulang sedikit telat karena harus menyelesaikan pekerjaanya dulu. Walau bisa dibilang di kantornya sekarang ini ia sering over working tapi Raga cukup menikmatinya. Karena Ethan banyak membantu Raga, rekan-rekan kerjanya juga baik dan sangat supportif padanya. Ya, meski terkadang ia suka merindukan suasana kantor yang santai seperti di firma tempatnya dulu bekerja.

Terutama pada Satya dan juga Almira, ngomong-ngomong soal Satya. Pria itu menduduki posisi Raga di sana. Raga senang karena menurutnya hal itu pantas didapatkan oleh Satya. Pria itu juga sudah menikah, sedangkan Almira. Meski sempat tidak semangat bekerja karena Kirana yang mengundurkan diri. Tapi akhirnya Wanita itu kembali menemukan semangat bekerjanya berkat anak magang yang baru di sana, kebetulan mereka sama-sama seorang penggemar Kpop. Awal-awal Kirana keluar, Kirana lebih sering terlihat bersama dengan Raka.

Raka memang dekat dengan Almira seperti Satya, pria itu juga yang banyak mengajari Almira jika ada hal-hal yang tidak wanita itu mengerti. Raga lega mengetahuinya, setidaknya teman-temannya di sana masih bertahan meskipun ia sudah tidak bekerja di sana, beberapa kali Raka dan Satya juga sering mengajak Raga untuk bertemu entah untuk ngopi atau bermain futsal.

“Bukan sama keduanya, Mas.” Raga tersenyum, ia memakai tasnya bersiap untuk segera keluar dari ruang bekerjanya.

“Loh? Sama siapa?” Ethan penasaran setengah mati.

Alih-alih menjawab, Raga justru menepuk pelan pundah Ethan. Ia belum ingin bercerita tentang Kirana pada siapapun, ya palingan hanya Adel saja yang tahu kalau ia dan Kirana sempat berbicara berdua sewaktu di toko kue itu. Selebihnya Raga belum bercerita apapun lagi.

“Raga jalan ya, Mas.” Raga keluar dari ruanganya, menyisakan Ethan dengan banyak pertanyaan dikepalanya dan juga rasa penasaran dengan siapa Raga hendak bertemu.

Hari ini Raga memang berniat ingin mampir ke toko tempat Kirana bekerja, ia ingin membeli beberapa kue disana sekaligus mengajak Kirana mencari makan malam. Tentunya Raga sudah tahu hari ini giliran Kirana mendapatkan shift siang, makanya Raga sekalian saja mengambil waktu lemburnya agar saat ia ke toko tempat Kirana bekerja ia tidak menunggunya terlalu lama.

Mobilnya berhenti di toko kue tradisional itu, Raga memarkirkannya disana. Dari luar memang toko nya agak sedikit ramai. Terlihat dari parkiran kendaraanya yang lumayan dipadati motor dan juga mobil, ada beberapa layanan pesan antar juga yang sedang mengantre menunggu didepan toko sampai pesanannya dipanggil oleh staff yang berjaga. Beruntungnya, Raga masih kedapatan tempat duduk. Jadi ia langsung mengambil tempat disana dan memesan minuman, Kirana sudah tahu jika Raga datang. Wanita itu sempat tersenyum waktu melihatnya, ia masih berdiri didepan meja kasir dengan senyum manisnya.

Raga sempat memesan kopi aceh gayo, klepon, putu ayu dan juga dadar gulung yang masing-masing satu buah. Raga tidak ingin terlalu kenyang karna masih ingin mengajak Kirana makan gulai setelah wanita itu selesai bekerja.

“Di lanjut aja kerjanya, saya tunggu dikursi sana ya?” ucapnya sewaktu ia membayar semua pesanannya dikasir.

“Mas gak kelamaan nunggu saya?”

Raga menggeleng, “enggak kok, masih ada yang harus saya kerjain. Kamu lanjut aja.”

Perihal ini memang alasan Raga saja, kerjaanya sudah selesai ia kerjakan di kantor. Ia hanya membuka tab miliknya dan melihat-lihat sosial media dan terkadang ia juga melihat kontrak proyek yang baru, dari mejanya sembari memakan kue yang ia pesan terkadang Raga juga curi-curi pandang dengan Kirana, kemudian tersenyum dan menikmati jutaan kupu-kupu gila yang berterbangan diperutnya. Raga sangat menikmati sensasi ini, bahkan hanya dengan memikirkan Kirana saja ia sudah bisa menguntai seulas senyum diwajahnya.

Raga sudah tidak menyangkal perasaanya lagi seperti kemarin-kemarin jika ia memang jatuh cinta dengan Kirana, ia melepaskan perasaanya itu dan menikmati setiap prosesnya. Jika ditanya ia mulai mendekati Kirana mungkin Raga akan menjawab, ya, toh saat ini Kirana sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa kan. Ia ingin memberikan dirinya sendiri kesempatan untuk setidaknya lebih memahami wanita itu.

Sesekali saat dilihat gerak Kirana mengarah padanya, Raga buru-buru mengalihkan fokusnya kembali ke tab miliknya. Ia masih malu jika kepergok Kirana tengah memperhatikannya, saat ia memeriksa kembali arlojinya saat ini sudah pukul sembilan malam dan sepertinya staff di sana tengah bersiap-siap untuk menutup toko, maka Raga dengan tahu diri berkemas dan memilih menunggu Kirana di dalam mobil di parkiran.

Sekitar pukul sepuluh lewat dua puluh menit barulah Kirana keluar dan menghampiri Raga didalam mobilnya, wajah wanita itu agak sedikit kelihatan lelah. Wajar saja bekerja di toko dan melayani banyak pengunjung yang datang pasti membuat energi Kirana terkuras lumayan banyak.

“Hai,” sapa Raga sewaktu Kirana masuk.

Kirana senyum, ada semburat kemerahan yang terlihat dikedua pipinya. Entah itu karena riasan yang wanita itu pakai atau karena ia malu, entah lah tapi Raga sangat menyukai kemerahan diwajah cantik itu.

“Mas, lama banget yah nunggu saya?” Kirana merasa tidak enak pada Raga, padahal sejak tadi siang ia sudah mewanti-wanti Raga untuk datang jam sepuluh saja jika memang ingin mengajaknya makan malam.

“Lumayan, tapi ya gak kerasa juga kok, Na. Tadi saya sambil ngerjain kerjaan beneran kok.”

Kirana mengangguk, “bener, Mas?”

“Iya serius.” Raga jadi agak sedikit salah tingkah, dalam hati ia meruntuki dirinya agar tidak melakukan hal-hal konyol yang membuatnya malu didepan Kirana. “Ah, iya. Kamu suka gulai gak?”

“Suka kok.”

“Mau makan gulai ditempat langganan saya?”

“Boleh.”

Kirana memang bukan orang yang milih-milih makanan, tidak ada makanan kesukaan juga karena ia bisa memakan apa saja yang menurutnya enak. Diperjalanan mereka banyak bertukar cerita tentang hari ini, seperti Raga yang bertanya pada Kirana apakah bekerja menjadi pelayan toko jauh lebih menyenangkan dari pada bekerja di kantor dulu, atau Kirana yang bertanya pada Raga bagaimana suasana kantor tempat kerja Raga yang baru.

“Kalau capek ya jelas lebih capek di toko yah, Pak. Tapi seru aja gitu saya bisa nyobain kue dan jadi dapat ilmu bagaimana cara buatnya.”

“Oh ya? Jadi kamu udah bisa bikin kue apa aja nih selama kerja disana?” Raga agak sedikit menoleh, tertarik sekali dengan pembahasan tentang kue tradisional ini. Raga memang baru menyukai kue tradisional sejak tahun kemarin, sebelumnya ia hanya menyukai kue cubit, roti, croissant atau kue-kue luar lainnya. Itu karena dulu saat Mbak Adel masih berkuliah diluar negeri, Raga senang sekali mengunjunginya dan berakhir Raga jatuh cinta pada makanan-makanan western.

“Banyak sih, Mas. Dadar gulung, sosis solo, lemper, onde-onde sampe kue cucur saya bisa. Oh iya, saya juga udah bisa ngedekor birthday cake.”

“Oh ya?!” Raga tersenyum, ia sempat menoleh ke arah Kirana. Wanita itu kelihatan sangat bersemangat saat menceritakannya. “Kapan-kapan mau gak ajarin saya?”

“Bikin apa, Mas?”

“Apa aja yang kamu bisa.”

Kirana tersenyum, “boleh.”

“Di dapur rumah kamu kan ada alat-alat untuk baking punya Mbak Adel, dipakai aja, Na. Gapapa.”

Rumah yang Kirana tempati memang sudah ada barang-barang milik Adel, barang yang Kirana bawa dari rumahnya hanya sedikit seperti lemari, foto keluarga dan baju saja. Kebanyakan memang barang milik Adel dan selama itu pula barang-barang didapur hanya Kirana pakai seperlunya saja. Meski ia menyewa, ia merasa tidak boleh lancang memakai barang-barang Adel yang lain seperti oven, mixer dan alat-alat membuat kue lainnya. Meskipun ia sangat ingin sekali memakainya.

“Mas serius? Tapi kan itu punya Mbak Adel, saya enggak enak makainya.”

“Gapapa, Na. Mbak Adel bilang ke saya malah kalo gak dipakai sayang, jadi jangan sungkan buat pakai ya.”

Kirana tersenyum dan mengangguk, ia senang sekali mendengar hal ini dan rasanya ingin secepatnya untuk segera menunggunakan alat-alat membuat kue itu. Mungkin jika ia sudah dapat giliran libur, ia akan memakai hari liburnya untuk membuat kue dan membaginya ke Mbak Adel dan Mas Ethan sebagai ucapan terima kasih. Atau mungkin kalau orang tua Raga dekat, ia akan sering-sering membuatkan kue untuk orang tua Raga itu.

Keduanya turun dari mobil setelah Raga menemukan tempat parkir, agak sedikit jauh dari warung gulai kambing. Mereka berjalan sedikit, masih sembari mengobrol dan sama sekali tidak ada kecanggungan, semua mengalir seperti sesuai rencana Raga. Ia lega dirinya tidak melakukan hal-hal bodoh.

“Kabar Mama dan Papa Mas Raga gimana? Saya sudah lama gak ketemu sama mereka.” Kirana duduk setelah keduanya mendapatkan kursi, ia juga sempat menyingkir piring bekas makan pengunjung lain yang belum sempat dibersihkan.

“Baik, Na. Mereka tanyain kamu terus loh. Bulan depan mereka mau ke Jakarta, nanti ketemu ya?”

Diam-diam Kirana mengulas senyumnya, dada nya terasa hangat mendengar ucapan Raga barusan. Ia benar-benar disambut baik oleh keluarga Raga, berada ditengah-tengah keluarga Raga membuat Kirana seperti menemukan arti sebuah keluarga kembali.

“Kok merah matanya kenapa, Na?” Raga memperhatikan Kirana yang sempat terdiam dengan mata merah yang sedikit berkaca-kaca. Raga sempat berpikir apakah ia salah bicara dan jika iya, ia sangat menyesali ucapannya.

“Ah..” Kirana terkekeh, ia mengusap matanya dengan telunjuk tangannya. “Maaf yah, Mas. Saya cuma terharu aja sedikit.”

“Terharu?”

Kirana mengangguk, “saya senang aja, Mas. Bisa diperlakukan baik sama keluarga Mas Raga. Sama Om dan Tante, Mbak Adel dan Mas Ethan. Selama ini saya ngerasa kehilangan arti sebuah keluarga dihidup saya.”

Pandangan Kirana mengawang, dalam hati ia membandingkan keluarganya dan keluarga Raga juga keluarga Bagas yang sangat membencinya. Menurutnya keluarga Bagas dan keluarga dari mendiang Bapaknya Kirana tidak berbeda jauh, mereka sama-sama membenci Kirana bahkan disaat ia sudah menunjukan sisi terbaik dirinya. Ia tidak diterima, dicaci, bahkan diabaikan saat kumpul keluarga. Ditempatkan ditempat paling belakang rumah mereka, dapur. Tempat yang terlalu sering Kirana ambangi ketika sedang kumpul keluarga.

Ia bahkan lebih sering berinteraksi dengan asisten rumah tangga disana ketimbang oleh Budhe, Pakdhe, Om dan Tantenya. Ah, bahkan sepupunya sendiri. Selama ini Kirana tahan karena memandang Ibu dan Bapak tapi setelah Bapak meninggal semuanya Kirana tinggalkan, ia tidak perduli lagi jika mereka tidak menganggap Kirana sebagai keponakan sekalipun.

“Keluarga saya itu suka sekali sama kamu, Del. Terutama Ibu. Jadi jangan sungkan untuk bertemu mereka ya, mereka bakalan senang sekali kalau dikunjungi kamu.” Raga jadi tidak tega sendiri, ia ingin tahu banyak tentang Kirana. Namun ia akan tetap menunggu hingga wanita itu siap bercerita.

Raga sempat berdiri dan meninggalkan Kirana sebentar untuk memesan gulai kemudian duduk kembali menunggu hingga pesanan mereka diantar. “Kabar Budhe kamu gimana?”

“Budhe baik, Mas. Dia juga masih suka tanya kabar saya disini dan nyuruh saya beberapa kali pulang ke Semarang.”

“Oh ya?”

Kirana mengangguk, “Budhe satu-satunya keluarga yang saya punya sekarang. Sisa nya gak ada yang mengakui saya keluarga mereka.”

“Kenapa, Na?” Raga sudah tidak tahan, ia ingin lebih memahami lagi diri Kirana.

“Dulu, waktu Bapak saya masih ada dan perusahaanya masih berjalan, Mas, Keluarga dari mendiang Bapak itu sangat baik ke keluarga saya. Ke Ibu dan Bapak, Bapak banyak bantu adik dan kakak nya untuk bekerja di perusahaan Bapak. Sampai akhirnya, perusahaan yang Bapak bangun itu hancur karena Adik korupsi. Banyak sekali investor yang kecewa dan mencabut investasi di kantor Bapak, sampai puncak waktu perusahaan Bapak bangkrut. Sikap keluarga Bapak saya berubah semua sulit di hubungi saat Bapak butuh, mereka bilang tidak ingin terseret-seret dalam hutang Bapak”

Cerita Kirana sempat terhenti sejenak karena pemilik warung di pinggir jalan itu membawa pesanan mereka, dua mangkuk gulai kambing, nasi yang ditaburi bawang goreng dan juga dua gelas es teh manis. Setelah mengucapkan terima kasih pemilik warung itu menyingkir. Raga sempat mengambil sendok dan garpu dan membersihkannya dengan tisu, kemudian memberikan alat makan itu untuk Kirana sembari menunggu kelanjutan cerita wanita itu.

“Sambil makan aja ya, gapapa kan?” tanya Raga memastikan. Ia yakin Kirana masih ingin bercerita. Ia juga masih ingin tahu kelanjutannya.

Kirana mengangguk kecil, “Bapak depresi karena hutang dan sikap keluarganya. Sampai akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, waktu Bapak meninggal keluarganya bahkan gak ada yang melayat semua saya hadapi berdua dengan Ibu sampai soal hutang-hutang Bapak. Saat Bapak jatuh saya ngerasa kehilangan arti keluarga itu sendiri, Mas. Keluarga yang selama ini Bapak saya bela dan bantu ternyata gak sebaik yang saya pikir. Makanya saya terharu sekali bisa di perlakukan dengan baik sama keluarga Mas.”

Raga benar-benar baru tahu hal ini, hatinya ikut sakit membayangkan betapa jahatnya keluarga dari pihak Bapaknya Kirana. Nafsu makan Raga rasanya menipis, ia masih memperhatikan bagaimana bibir kecil itu melengkuk mengulas sebuah senyum diakhir ceritanya. Bahkan saat Kirana menyuap nasi dan gulai itu pun, Raga masih diam. Mendengar hal ini membuat keinginan Raga untuk melindungi dan menemani Kirana kian memuncak, ia juga ingin terus mamastikan jika wanita itu bahagia.

Bersambung...

Bagas sama sekali tidak menyangka jika hanya dengan mandi ia bisa merasa sehidup ini, tubuh jangkungnya itu ia biarkan basah dibawah kucuran shower yang mengalir deras. Air nya sudah ia ubah menjadi lebih hangat karena cuaca akhir-akhir ini sering sekali hujan, Bagas memejamkan matanya, menyibak rambut nya yang sudah sedikit panjang itu hingga menusuk matanya. Suara lembut yang ia rindukan itu masih terdengar dikedua telinganya, ada cubitan halus dan sinar yang membawanya untuk sadar kembali bangkit dan berakhir dikamar mandi ini.

Suara Kirana yang mengatakan ia harus sembuh, orang lain mungkin tidak akan berpikir terlalu jauh tentang suara dan untaian kalimat sederhana wanita itu yang bisa mengubah Bagas setidaknya untuk perduli pada dirinya sendiri. Ia lega Kirana baik-baik saja, dan demi wanita itu ia akan terlihat setidaknya sedikit lebih baik dari pada kelihatan segan hidup seperti kemarin. Ia hanya menuruti keinginan Kirana saja sebenarnya, setelah selesai mandi Bagas membuka lemarinya, mencari pakaian terbaiknya untuk ia kenakan. Ia memilih kaus polo berwarna biru dan bawahan dengan celana pendek sedengkul.

Dari luar terdengar sebuah ketukan, ia sempat berpikir mungkin itu Bibi yang bekerja di rumahnya namun tak lama kemudian suara Kanes yang nyaring itu terdengar hingga mengejutkan Bagas. Entah apa yang ingin Kanes lakukan pagi ini dengannya.

“Mas Bagas?! Buka dong pintunya,” ucap Kanes dari depan kamar Bagas. Sang empunya kamar langsung membukakan pintunya untuk Kanes dan disambut cengiran jahil dari adiknya itu. “Widih... Udah wangi, udah ganteng gini mau kemana, Pak?”

Kanes langsung nyelonong masuk ke kamar kakaknya itu, menelisik penampilan Bagas dari atas sampai bawah. Dalam hati Kanes bersyukur karena Bagas sudah mau sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukannya. Ini semua tentunya berkat rekaman suara dari Kirana yang membuat Bagas lebih baik, Bagas sempat menangis ia benar-benar merindukan Kirana, kembali merasa bersalah pada wanita itu dan menahan semua perasaanya. Namun mendengar permintaan Kirana agar ia sembuh dan lebih perduli pada dirinya sendiri langsung saja Bagas kabulkan. Hanya dengan mendengar suara Kirana saja, Bagas merasa jika wanita itu masih sangat perduli padanya.

“Mau keluar sebentar, mau potong rambut, ikut yuk?” Bagas merangkul bahu adiknya itu dan menaik turunkan alisnya. Kanes yang melihat kakaknya sudah kembali seperti dulu terkekeh dan menyikut perut Bagas. Sontak, pria itu meringis karena sikutan adiknya itu. “Aduh!! Sakit tau. Galak bener jadi adek.”

“Ya, abisnya Mas Bagas genit banget.” Kanes terkekeh. “Tapi aku gak bisa, Mas. Aku udah ada janji sama temenku, tadinya aku ke kamar Mas aja niatnya mau pinjam charger laptop karna charger laptopku ketinggalan di kosan temen. Mas Bagas sendiri aja gapapa?”

Belum sempat menjawab tidak lama kemudian Ibu datang bersama dengan Asri dan menyela ucapan Bagas yang masih tertahan di tenggorokannya itu, “jangan sendirian, Gas. Sama Asri saja ya. Sekalian kalian jalan-jalan menghirup udara segar di luar mumpung cuacanya lagi bagus.”

Kanes yang masih dalam rangkulan Bagas itu memberi kode pada kakaknya dengan sedikit mencubit perut Bagas, awalnya Bagas diam. Berpikir jika mengajak seseorang untuk ia ajak bicara mungkin lebih baik dari pada sendiri. Tadinya ia ingin mengajak Satya, Raka atau Almira tapi ia buru-buru tersadar jika ini masih hari kerja. Teman-temannya itu pasti masih di kantor.

“Lo gak sibuk, Sri?” tanya Bagas yang membuat kedua mata Kanes melotot kaget seketika.

Asri menggeleng pelan, “enggak kok, Gas. Ini kan masih awal bulan aku biasanya mulai agak sibuk kalau udah akhir bulan. Jadi sekarang gak masalah banget kalau cuma nemenin kamu jalan-jalan.”

Bagas mengangguk, “yaudah kalau gitu tunggu dibawah aja ya, gue mau siap-siap dulu.”

Bukan hanya senyum Asri yang mengembang mendengar ucapan Bagas itu, tetapi Ibu juga. Senyum wanita itu justru lebih lebar dari Asri yang tersenyum malu-malu, Ibu merasa ini adalah awal yang baik untuk Asri dan Bagas. Ibu berpikir jika Bagas mulai membuka pintu hatinya yang selama ini ia kunci rapat-rapat, kedua wanita itu pun turun ke lantai satu untuk menunggu Bagas siap-siap. Mau kemana mereka dan mau melakukan apa Ibu serahkan saja pada keduanya.

“Ini awal yang baik, Sri. Doa Ibu didengar kalau Bagas mau membuka hati untuk kamu. Ini semua adalah buah dari kesabaran kamu, sayang.” Ibu mengusap wajah Asri penuh kasih sayang, bahagia bukan main rasanya.

“Iya, Buk. Gak sia-sia perjuangan aku selama ini buat bujuk Bagas makan, masakin dia, nemenin dia sampai nyoba ngajak ngobrol dia walau dia sering ketus ke aku.” Asri pikir Bagas mulai luluh karena perlakuannya, ia berharap dengan begini ia bisa masuk melewati celah kecil pintu yang Bagas buka untuknya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

have fun kalian berdua ya, jangan lupa foto berdua dan berikan pada Ibu.”

Di kamar Bagas setelah Asri dan Ibu turun, Kanes langsung buru-buru melepas rangkulan kakaknya itu dan menatap Bagas dengan pandangan menyalang. Tidak menyangka jika Bagas akan setuju saja dengan ucapan Ibu agar Asri menemaninya, ada sedikit tersirat pemikiran jika kakaknya itu telah membuka hati untuk Asri atau setidaknya memberikan kesempatan untuk wanita itu.

Entahlah rasanya Kanes lebih protektif pada Bagas, ia merasa Asri tidak tulus. Atau ini hanya perasaanya saja? Ah, yang jelas Kanes tidak terlalu menyukai wanita itu.

“Mas Bagas yakin mau sama Mbak Asri?” pekik Kanes tidak percaya.

“Iya, Nes. Kenapa emang?”

“Ya gapapa, aneh aja. Selama ini Mas jutek banget ke dia, atau Mas justru udah mulai suka sama dia gara-gara selama Mas sakit dia terus ya yang ngerawat Mas? Atau justru Mas mau ngasih kesempatan buat dia?!” cecar Kanes.

“Ngaco!” Bagas terkekeh, ia kembali ke meja rias kamarnya dan menyisir rambut nya. Tak lupa ia juga menyemprotkan parfum ke tubuhnya itu, “Mas cuma ngerasa butuh teman buat ngobrol aja, Nes. Gak ada ngasih kesempatan apa-apa.”

“Tapi kan bisa sama teman Mas yang lain? Sama siapa gitu? Mas Satya kek atau yang cewek itu siapa namanya?”

“Almira?”

Kanes menjentikkan jarinya, “iya, sama Almira kan bisa.”

“Kamu lupa ini masih weekday? kalau sekarang weekend Mas pasti udah ngajak mereka hangout.

Kanes menghela nafasnya pelan, ia lupa kalau sekarang masih hari kerja. Tapi tetap saja ada sedikit rasa aneh dan tidak terima jika kakaknya itu jalan berduaan dengan Asri, Kanes cuma punya firasat jika wanita itu tidak sebaik kelihatannya. Seperti menyimpan banyak rahasia yang Kanes sendiri tidak tahu itu apa, kecurigaan jika Asri memiliki banyak rahasia itu semakin kuat sewaktu Kanes tidak sengaja melihat Asri berada di sebuah play ground pusat perbelanjaan.

Wanita itu tengah mengawasi seorang anak laki-laki yang umurnya Mungkin 5 tahun, bocah itu tampak sumringah dan beberapa kali menarik tangan Asri untuk bermain bersamanya. Wajahnya pun terasa tidak asing bagi Kanes seperti seseorang yang pernah ia lihat namun ia lupa orang tersebut siapa, guratan senyum dan bentuk matanya mengingatkan Kanes pada Asri jika sedang tersenyum atau menatap seseorang. Seperti sebuah perpaduan antara perempuan dan laki-laki yang ia kenal.

Melihat Kanes yang tiba-tiba diam, membuat Bagas melambaikan tangannya ke wajah adiknya itu. Kanes melamun seperti ada sesuatu yang tengah adiknya itu pikirkan. “Heh! Kok ngelamun?”

Kanes buru-buru menggeleng kepalanya, “gapapa, Mas. Yaudah kalo Mas butuh temen ngobrol.”

“Kamu gak suka ya Mas jalan sama Asri?”

“Engg...gak gitu sih, Mas. Ya mungkin masih aneh aja buat aku.” Kanes meringis.

Jika boleh jujur. Ia lebih menyukai Kirana dari pada Asri. Kirana lebih terlihat tulus, ramah padanya dan seorang pendengar yang baik. Beberapa kali Kanes memang pernah bercerita tentang perkuliahannya yang super hectic itu. Intinya ya, memang Kanes lebih nyaman saja berbicara dengan Kirana. Asri jarang sekali bicara dengan Kanes bahkan pernah sesekali Kanes mendapati Asri tengah meliriknya dengan sinis.

Bagas mengangguk, ia paham apa yang Asri maksud. Ia sendiri pun masih merasa asing. Namun bukankah ia harus segera move on bukan untuk melupakan Kirana sepenuhnya namun untuk hidup seperti biasa lagi. “Yaudah kalau gitu Mas ke bawah yah, tolong tutup pintu kamarnya nanti.”

🍃🍃🍃

Hari itu niatnya Bagas hanya ingin potong rambut saja disebuah barber shop yang ada didalam mall, ia merasa rambutnya sudah cukup panjang dan terlihat seperti tidak terurus ya memang begitu adanya, seperti kemarin-kemarin yang ia rasakan nyawa dan raganya seperti tidak menyatu pada tempatnya. Merasa kosong, hampa dan kehilangan arah. Hari itu, Bagas ingin merangkai hidup baru. Mencoba menerima dan mengikhlaskan segala yang terjadi dihidupnya termasuk tentang kehilangan. Bagas belum berniat menerima cinta baru, menerima orang baru dalam hidupnya dan memulai hubungan baru. Ia ingin fokus pada dirinya sendiri, menyelesaikan segala masalah dalam dirinya sebelum memulai dan membangun lagi hubungan dari awal.

Karena masih agak sedikit kliyengan, hari itu Asri yang membawa mobilnya. Didalam mobil menuju perjalanan ke mall yang akan mereka tuju, Asri banyak berbicara tentang hobinya, tentang butiknya, tentang kegemarannya dalam membuat baju dan tentang kegemarannya memasak. Apapun tentang dirinya ia ceritakan, seolah Bagas harus tahu tentang apapun kesukaanya. Terkadang wanita itu juga bercerita tentang masa-masa mereka sekolah saat Bagas masih tinggal di Solo. Tak banyak yang Bagas ingat, ingatan tentang masa-masa sekolah tidak terlalu berkesan untuknya.

Bagas memang tidak terlalu banyak bicara, tapi ia tetap menimpali ucapan Asri. Dalam hati ia setuju mengenai hobi masak Asri, masakan wanita itu memang enak beberapa hari ini Asri sering membuatkannya bubur, sup, tekwan dan juga capcai. Itu semua adalah makanan yang Bagas sukai. Bagas tidak heran kenapa wanita itu bisa tahu semua makanan kesukaanya, siapa lagi kalau bukan dari Ibu.

Begitu sampai mall, tujuan utama mereka adalah ke barber shop. Asri duduk diruang tunggu sembari sesekali membaca majalah dan melihat ke arah ponselnya. sedangkan Bagas menikmati pijatan dari staff yang baru saja selesai mencukur rambutnya. Begitu selesai, Bagas menghampiri Asri. Wanita itu berdiri dan tersenyum manis ke arah Bagas, kedua netranya berbinar menampakan dua bola mata yang bening.

“Ganteng, gitu dong. Kalau kaya gini tuh kamu beneran kelihatan segeran banget,” ucapnya sembari memberikan dua ibu jari pada Bagas.

“Mau makan siang sekalian gak?” Bagas takut Asri sudah lapar, mengingat ini sudah jam makan siang.

“Boleh, kamu mau makan apa, Gas?” keduanya berjalan keluar dari barber shop itu. Melihat-lihat kesekeliling mana tau ada restoran yang menarik perhatian mereka, mall dihari kerja tidak begitu ramai.

“Lo suka ramen gak, Sri? Gue kepengen makan ramen deh. Kayanya enak makan yang pedas-pedas gitu setelah kemarin-kemarin gue jadi bayi bangkotan.” Bagas terkekeh.

Asri yang mendengar itu melepas tawanya, untuk pertama kalinya ia mendengar Bagas bercanda dan mengeluarkan celotehan asbun nya. “Kok bayi bangkotan sih? Gara-gara makannya gak pake cabe-cabean?”

Bagas mengangguk, “itu tau. Yuk, Mau gak?”

“Boleh.” Asri tersenyum, ia berjalan disamping Bagas sembari tersenyum diam-diam memandang wajah pria disebelahnya itu.

Sirat masa lalu tentang diri Bagas dan dirinya yang begitu tragis seperti mulai terobati hari ini perlahan-lahan. Asri tidak perduli mengapa Bagas tidak mengingat dirinya sebagai Adi dimasa lalu dan mengapa hanya dirinya saja, yang terpenting bagi Asri saat ini adalah ia bisa hidup kembali bertemu dengan cinta pertama dalam kehidupan terdahulunya dan melihat pria itu bahagia, hidup lebih baik dari pada kehidupan sebelumnya.

Meski terkadang terlihat arogan, rasa sayang Asri pada Bagas itu tulus. Rasa sayang yang didasari kehidupan masa lalunya itu ingin ia curahkan pada Bagas dikehidupan saat ini. Ia ingin balas dendam dengan hidup bahagia bagaimana pun caranya, keduanya duduk dan memesan ramen. Meski bisa Asri akui jika ialah yang paling banyak mencari topik pembicaraan tapi respon Bagas cukup baik, pria itu tidak ketus lagi dengannya.

“Setelah ini kamu mau ngapain, Gas?” tanya Asri setelah mereka selesai memesan makanan.

“Hhmm.. Ngapain yah? Ke toko buku mungkin?” Bagas mengangkat sebelah alisnya. Ia ingin membaca buku lagi untuk mengalihkan pikirannya dari Kirana menjadi ke cerita-cerita dari buku yang ia baca.

“Boleh, kamu suka buku apa sih?”

“Hhmm.. Banyak sih, Sri. Kalo genre sih lebih suka romance yah, tapi selama blurb nya kelihatan bagus gue pasti baca kok.”

“Oh ya?” Asri tidak terlalu suka membaca, bahkan tidak ada satu buku pun yang ia selesaikan. Kalau pun membaca, ia lebih gemar membaca majalah fashion ia tidak memiliki ketertarikan dalam dunia sastra “Kalau penulis kamu lebih suka penulis lokal atau luar?”

“Sejauh ini gue lebih sering baca penulis luar sih, lo sendiri suka baca?”

Asri menggeleng pelan, ia hanya ingin jujur. Tidak ingin dibuat-buat menyukai sesuatu toh ia tidak tahu tentang buku karena tidak ada satupun buku fiksi dan non fiksi yang pernah ia baca sepanjang hidupnya. Menurut Asri membaca adalah kegiatan yang sedikit membosankan, Asri lebih tertarik dengan majalah yang lebih memiliki visual.

“Enggak, Gas. Jujur aja aku enggak terlalu suka baca, gak ada buku yang pernah aku selesain baca sih. Mungkin kamu mau rekomendasiin satu bacaan yang menurut kamu bagus? Ya mana tau bakalan cocok buat aku kan?”

Bagas tersenyum, ia melipat tanganya didepan dada sembari memikirkan buku-buku yang pernah ia baca dan yang paling memungkinkan untuk Asri baca. Sampai ia akhirnya terpikirkan sebuah buku yang menurutnya menarik dan bisa dibilang tidak tebal cocok sekali untuk pemula seperti Asri yang ingin terjun ke dunia literasi dan sastra, Buku yang sangat mengubah cara pandang Bagas terhadap seorang wanita.

“Ada, mungkin lo bakalan suka sama buku ini. Dan lagi buku ini cuma sekitar 100 sampai 150 halaman. Tergantung edisi ya, judulnya A Room Of One's Own By Virginia Wolf.

“Oh, tentang apa tuh, Gas?” Asri jadi sedikit tertarik, ya karena buku itu direkomemdasikan oleh Bagas. Ia ingin mencoba membaca demi bisa memahami Bagas. Ya semoga saja cocok, pikirnya.

“Intinya ya dari yang gue baca, ruang pribadi untuk seorang wanita tuh dibutuhkan supaya mereka bisa berkarya, mewujudkan mimpi. ibarat kalian harus fokus ngerjain sesuatu di ruangan sendiri yang diisi oleh energi kalian. sayangnya gak semua wanita bisa punya kamar itu, si penulis ini berargumen wanita juga bisa berkarya, bukan cuma laki-laki, harusnya semua karya diperlakukan fairly not based on gender. isinya tentang persektif wanita, bagus kok. Kalo lo tertarik lo bisa baca gue ada bukunya di rumah.”

“Oh ya?! Nanti aku pinjam ya, ngomong-ngomong ada bagian yang kamu suka banget berarti dong?” Asri bisa melihat jika Bagas sudah mulai nyaman berbicara panjang dengannya. Ia pun sedikit tertarik sengan buku tersebut.

“Ada lah, bagian A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction.

“Tapi kalo kamu sendiri setuju tuh sama bagian itu?”

Bagas sedikit menggoyangkan kepalanya ke kanan dan kekiri seperti menimang-nimang peryataan itu. “Setuju cuma sekitar 70-80% sih, Wolf menyoroti kalo perempuan emang gak diberi akses pendidikan, enggak punya kendali atas uang sendiri, enggak punya ruang pribadi untuk berpikir dan berkarya. Wolf sebenernya disini bukan cuma ngomongin uang dan ruang aja sih tapi juga kebebesan.

Dan yang membuat Asri kagum sekagum kagumnya pada Bagas adalah bagaimana cara pria itu memgomentari suatu hal dengan cara berpikirnya yang idealis, Bagas memang pintar sejak dulu. Tak heran mengapa pria itu gemar mengomentari sesuatu bahkan dari sastra yang ia baca sekalipun.

“Kalau bagian yang gak kamu setuju?”

“Hhmm.. Mungkin dimana, money and a room of one’s own Itu sebenarnya syarat universal kali ya? Untuk kreativitas serius bukan khusus perempuan, cuma ya perempuan memang lebih sering kekurangan dua hal itu secara sistematik. Terutama untuk perempuan yang sudah menikah dan punya anak, kayanya nanti kita bisa diskusiin ini lebih banyak lagi kalau lo udah baca bukunya deh. Sekarang mending kita makan dulu soalnya gue udah laper banget.” Bagas tersenyum begitu seorang pelayan mengatarkan makanan mereka.

Bersambung...