schonewords


cw // NSFW, mature content, kissing, hickey, nipples sucking, blow job, hand job, 69 style, harsh words.


Jakarta, 5 Maret 2023

Tok tok tok!

Haechan yang mulanya tengah fokus memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangan. Netranya mendelik ke arah pintu disertai dahi yang mengernyit.

“Siapa?” tanya Haechan dengan volume agak keras.

“Aku,” jawab seseorang di luar.

Mendengar suara yang sangat akrab di telinga, Haechan sigap beranjak dari kasur. Kakinya diarahkan melangkah gontai ke arah pintu. Tatkala pintu terbuka, sosok pria bertubuh mungil tengah berdiri dengan dengan mengulas senyuman tipis hingga membuat alis Haechan terangkat.

“Kenapa?” tanya Haechan singkat.

“Ayo ke bar di bawah,” ajak Renjun.

Tanpa sedikitpun pertimbangan, Haechan langsung mengangguk. Setelah mengucapkan kata, 'tunggu dulu' kepada Renjun guna mengambil ponsel, dompet, kamera, topi, dan cardigannya, Haechan pun berjalan meninggalkan kamarnya bersama Renjun.

Ketika berada di lift, Haechan menoleh ke arah Renjun yang tengah berekspresi datar dengan tatapan nanar. Sebuah pertanyaan pun dilontarkan oleh si gemini, “Udah ga marah sama ak—”

Pertanyaan itu terpotong tatkala Renjun justru menggamit tangan kanan Haechan untuk digenggam. Persetan dengan CCTV atau bagaimana orang-orang akan memperhatikan mereka nanti ketika keluar dari lift. Renjun hanya ingin menggenggam tangan si kesayangannya itu dengan sangat erat. Hal itu menghasilkan senyuman dan semburat merah muda di kedua pipi Haechan seraya mengeratkan genggaman tangannya.

Langkah kaki mereka beriringan bersama keluar dari lift dan menuju sebuah bar megah khas hotel bintang lima. Sebuah spot di seberang meja bar menjadi pilihan mereka. Keduanya duduk berdampingan di sofa empuk nan nyaman dan masih dengan tangan yang saling menggenggam. Renjun pun menyandarkan kepalanya di bahu Haechan, membuat Haechan pun balik menyamankan kepalanya di atas kepala Renjun.

“Capek?” tanya Haechan.

Renjun mengangguk.

“Kenapa ga tidur aja?” tanya Haechan lagi.

Renjun menghembuskan napasnya pelan. “Mana bisa tidur kalo masih kepikiran tadi aku dipunggungin di stage,” cibir Renjun lirih.

Haechan terkekeh mendengarnya bersamaan dengan seorang barista yang membawakan sebotol bir dan dua berukuran sedang untuk mereka. Anggukan Haechan berikan kepada sang barista sebagai tanda terima kasih.

“Minum dulu,” titah Haechan dan membuat Renjun mengangkat kepalanya.

Tangan Renjun meraih botol bir untuk menuangkannya ke dalam dua gelas tersebut. Ia angkat dua-duanya dan memberikan salah satu kepada Haechan. Hanya sedikit bersulang, Renjun langsung meminum alkohol itu dan menghabiskannya dalam sekali tegukan serta menambahnya lagi untuk kemudian dihabiskan dalam sekejap. Haechan yang melihatnya sempat tercengang hingga ia pun meletakkan gelasnya yang masih penuh ke atas meja.

“Renjun? Hey, sayang, pelan-pelan aja minumnya,” ujar Haechan langsung meraih gelas dari tangan Renjun.

Kedua tangan Renjun pun sigap diraih oleh Haechan untuk diberikan genggaman erat. Ibu jari Haechan mengelus lembut punggung tangan mungil kekasihnya itu seraya bertanya, “Sayang, masih marah banget ya sama aku?”

Renjun menundukkan kepalanya. “Ya, kamu tuh kenapa sih dua hari ini aneh banget banyak diemin aku, terus di panggung juga ga kayak biasanya yang nempel ke aku,” cicit Renjun.

Senyuman lembut terulas di wajah Haechan. Ia rengkuh tubuh kecil Renjun dan diberikan usapan di punggung mungilnya.

“Iya iya, maaf ya, sayangku. Aku cuma mau seru-seruan sama yang lain tuh sama Jaemin, sama Jeno juga,” ucap Haechan menenangkan pacarnya.

Dagu Renjun diletakkan di bahu Haechan. “Besok harus sama aku lagi dong seru-seruannya,” gumam Renjun.

Haechan terkekeh. “Iya, sayang. Besok aku sama kamu. Jangan marah lagi ya? Mau kan maafin aku?” ujar Haechan dengan sangat lembut.

Pelukan dilonggarkan oleh Renjun. Netranya menatap obsidian Haechan yang teduh disertai senyuman termanis di wajahnya. Renjun tak bisa menahan dirinya untuk tidak memberikan balasan senyuman kepada kekasih tersayangnya itu.

“Iya, aku maafin. Maaf juga akunya manja gini ya, sampe malah ngambek sama kam—”

Cup!

Kecupan di bibir Renjun membuatnya berhenti berbicara. Haechan terkekeh pelan. Seraya mengusap bibir Renjun pelan, ia berucap, “Aku suka kamu yang manja gitu, Renjun.”

Hati Renjun menghangat mendengarnya. Sigap ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Haechan. Wajahnya dimajukan hingga bibirnya tertempel pada labium Haechan. Perlahan Renjun melumat lembut sekilas dan melepaskannya. Renjun tersenyum lagi seraya merapikan poni Haechan yang terlihat di sela topi hitamnya.

“Pacarku ganteng,” tutur Renjun.

Alis Haechan terangkat dan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Ia pun menarik hidung Renjun pelan saking gemasnya melihat kekasihnya itu yang kini terkekeh pelan.

“Kamu lebih ganteng, Renjun.”

Keduanya tergelak kecil bersamaan. Minuman beralkohol itu kembali mereka teguk bersama. Perbincangan mulai terbangun dengan santai dan diselingi canda tawa. Ditemani live acoustic music di bar tersebut, sepasang kekasih itu sangat menikmati malam guna menghabiskan hari Minggu mereka yang hanya tersisa hitungan jam.

“Eh, kamu bawa kamera kan, Chan?” tanya Renjun.

Haechan mengangguk sembari mengambil kameranya. “Bawa nih. Kenapa?” tanggapnya.

Renjun meraih kamera tersebut dari tangan Haechan. Ia pun beranjak dan memutuskan untuk duduk di sofa yang berada di seberang Haechan agar mereka berada dalam posisi berhadapan.

“Aku mau coba motoin kamu pake ini,” ucap Renjun penuh antusias.

Menyaksikan pemandangan menggemaskan itu, Haechan tak kuasa menahan senyuman dan tawa gelinya. Matanya tak lepas dari Renjun yang tengah berkutat dengan kamera tersebut.

“Coba coba, kamu pose dulu. Aku cobain nih,” titah Renjun.

Haechan mengikuti perintah kekasihnya. Ia berpose beberapa kali, membiarkan kekasihnya mengambil beberapa foto menggunakan kameranya itu.

“Udah! Bagus-bagus nih, Chan. Lihat!”

Dengan penuh semangat, Renjun menyerahkan kamera kepada Haechan. Si gemini langsung fokus memperhatikan hasil tangkapan kamera ala Renjun itu.

“Bagus bagus,” ucap Haechan sambil mengangguk. “Coba sini gantian. Kamu lagi yang aku fotoin.”

Renjun terkekeh malu-malu. Akhirnya ia pun berpose, bahkan sampai melepaskan topi yang ia kenakan. Renjun terus bergerak sesuka hati, pun Haechan tetap menekan shutter button pada kameranya, hingga banyak foto Renjun yang diambil.

“Nih banyak aku fotoin,” kata Haechan sembari menyerahkan kamera kepada Renjun.

“Ih iya bagus!” seru Renjun.

Haechan tersenyum tenang melihat kekasihnya. Ditatapnya dengan lekat sosok kekasih hatinya yang tengah tersenyum sumringah melihat foto-foto dirinya sendiri.

“Kamu jago banget deh sekarang kalo motoin gin—eh? Kok gitu banget ngelihatin aku?” Renjun terkejut ketika menengadahkan kepala dan melihat Haechan menatapnya sangat dalam dengan wajah serius.

“Kamu seksi,” tutur Haechan singkat, padat, dan volume suara yang rendah. Jangan lupakan pula sorot mata tajamnya yang enggan melunak sedikitpun menatap Renjun.

“Hah? Seksi gimana?”

“Itu,” ucap Haechan menunjuk Renjun menggunakan dagunya, “kamu tahu sendiri aku lemah banget ngelihat kamu pake kaus putih oversized.”

Dua bola mata Renjun melebar hingga membuat matanya membelalak. Seketika ia tertawa kecil mendengar ucapan sang kekasih.

“Aku jadi kelihatan menggoda, ya?” tanya Renjun sembari menyugar rambutnya ke belakang dan membuat helaian halus itupun kembali turun ke posisi kembali.

Salah satu sudut bibir Haechan terangkat. Enggan menjawab, ia hanya mengangkat gelasnya dan meneguk minuman memabukkan itu.

“Chan, jawab dong. Aku jadinya menggoda banget ga?”

Setelah meletakkan gelas kembali ke atas meja, Haechan menjawab, “Ga usah ditanya lagi. Kamu selalu menggoda.”

Senyuman puas terulas di wajah Renjun. Sigap ia meneguk birnya lagi yang justru dipotret oleh Haechan menggunakan kameranya.

“Kok difotoin?” tanya Renjun.

“Biar kamu lihat nih. Kamu harus tahu seberapa seksi dan lucunya kamu di waktu yang bersamaan.”

Renjun memajukan tubuhnya untuk melihat hasil jepretan Haechan. Badannya semakin maju agar dapat melihat foto itu dengan lebih jelas, sehingga kerah kaus yang ia kenakan sedikit melonggar. Pergerakan itu membuat mata Haechan menatap ke arah leher Renjun dan menyaksikan dada sang kekasih yang terlihat sekilas. Haechan menelan air ludahnya yang diikuti dengan menjilat bibir bawahnya.

Kepala Renjun menengadah karena merasa tengah diperhatikan dengan tidak biasa. “Chan? Ngelihatin apa sih?” tanyanya bingung.

Alih-alih menjawab, Haechan menyimpan kameranya. Ia kembali menuangkan bir ke gelasnya, menghabiskannya dalam sekali tegukan, dan balik menatap Renjun dengan tajam.

“Aku mulai mabuk kayaknya. Ke kamar aku yuk,” ajak Haechan.

Renjun bukannya baru satu hari atau dua hari menjadi kekasih Haechan. Ia tahu apa yang kini terjadi. Semua sudah terbaca, sehingga Renjun pun menyeringai.

“Akunya ikut ke kamar kamu?” tanya Renjun mencoba menggodai Haechan.

“Hahaha,” Haechan tergelak pelan. “Kamu pasti tahu maksud aku.”

Dan jawaban Haechan pun diakhiri dengan keduanya yang langsung beranjak meninggalkan bar. Mereka kembali bergandengan memasuki lift dan menuju kamar Haechan.


“Haechan...ahh...”

Suara desahan Renjun menggema di dalam kamar yang luas itu. Pria berzodiak aries tersebut terbaring telentang dan berada dalam kungkungan seorang Lee Haechan.

“C-Chan...”

Renjun kian merintih merasakan betapa hangatnya lidah Haechan yang tengah mengulum dua putingnya secara bergantian. Tangannya tak mampu ia biarkan untuk tak meremas rambut Haechan guna melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan.

Haechan melepaskan kulumannya. Tubuhnya setengah terduduk dengan kaki yang bertumpu pada lutut di dua sisi tubuh Renjun. Dipasatinya pemandangan seksi di hadapannya kini. Terpampang jelas kini di bawahnya sosok Renjun dengan kaus putih yang sudah terangkah sampai ke leher, wajah yang memerah, bibir dan puting yang bengkak, beberapa markah merah keunguan yang membekas di sekitaran tonjolan mungil itu.

“Seksi,” ujar Haechan dengan suara baritonnya.

Dua sudut bibir Renjun terangkat dan membentuk lengkungan senyuman manis dicampur kekehan pelan. Tangan kanannya menangkup pipi Haechan, sedangkan tangan kirinya menyibak poni sang kekasih yang kian memanjang.

“Kamu juga seksi dilihat dari bawah begini,” balas Renjun penuh kelembutan.

Sirna segala kuasa Haechan untuk menahan dirinya. Kembali ia tertunduk, membawa bibirnya bertemu ranum merah milik Renjun. Ciuman yang penuh lumatan basah pun tercipta. Keduanya saling berusaha mendominasi cumbuan panas tersebut. Lidah mereka saling bertaut, mendorong, dan terhisap dalam rongga mulut satu sama lain secara bergantian.

Tautan bibir terlepas dan napas kedua pria itu terengah. Masih dalam jarak yang sangat dekat—bahkan tepat di depan ranum Renjun, bisikan Haechan terdengar jelas berucap, “Hand job aja ya malam ini? Besok kita masih perform.”

Renjun menyunggingkan senyuman. Malah perlahan luntur menjadi sebuah seringaian. Kedua tangannya dibawa mengalung di leher Haechan. Masih dalam posisi wajah mereka yang sangat berdekatan dan jarak bibir yang kurang lebih hanya lima sentimeter, Renjun pun melayangkan pertanyaan kepada kekasihnya.

“Kamu maunya hand job? Ga mau blow job aja?”

Runtuh sudah pertahanan Lee Haechan. Matanya yang sayu berpadu dengan senyuman tipis membuat ekspresi wajah si gemini itu sangat seksi.

“Aku tahu mulut ini jago kalo dipake untuk nyanyi, makan makanan enak rekomendasi aku, dan ngomelin aku. Aku hampir lupa kalo mulut ini juga hebat dipake untuk blow job,” ujar Haechan.

Renjun melesatkan kekehan kecil. Bersamaan dengan tangannya yang mengelus bagian belakang lehernya Haechan, ia pun bertanya, “So, it's a 'yes', huh?”

Kepala si gemini mengangguk seraya memberi tambahan jawaban, “Sixty nine, Renjun.”

Sigap kini giliran kepala Renjun yang mengangguk. Ia pun menepuk pundak Haechan pelan, sebagai titah agar Haechan beranjak dari atas tubuhnya. Seolah mengerti, Haechan pun langsung nurut.

“Aku yang di bawah ya, sayang,” pinta Haechan.

“Iya, sayangku,” tanggap Renjun.

Haechan terlentang dan langsung melepaskan menurunkan celananya sampai ke lutut. Begitu pula Renjun yang menanggalkan celananya hingga bagian bawahnya jelas-jelas sudah tak ada sehelai kain pun yang menempel.

“Ayo sini, sayang,” perintah Haechan.

Renjun naik ke atas tubuh Haechan dan langsung berbungkuk. Ia sedikit memundurkan posisinya hingga pantatnya terpampang nyata tepat di hadapan Haechan. Sama halnya dengan Renjun yang mendapati kejantanan Haechan di depan wajahnya yang dan sangat tegang.

Damn,” gumam Haechan pelan ketika Renjun menggenggam kejantanan Haechan serta menjilat ujungnya.

Tanpa basa-basi, Renjun langsung memasukkan kepemilikan Haechan ke dalam mulutnya. Rongga hangat itu perlahan mengulum dan memberikan hisapan pelan nan lembut.

“Argh, Renjun,” rintih Haechan seraya meremas pantat Renjun guna melampiaskan rasa nikmat yang kini ia rasakan.

“Hmmhh,” erangan Renjun tertahan tatkala remasan tangan Haechan padanya disertai dengan salah satu jari si gemini itu yang tak sengaja menusuk lubang analnya.

Mendengar itu, Haechan langsung turut mengulum kemaluan Renjun. Tangannya masih setia meremas pantat sang kekasih kian kuat.

Dua pemuda itu sibuk saling menghisap kejantanan satu sama lain. Suara rintihan kenikmatan teredam, peluh mulai bercucuran, dan libido mereka semakin meningkat.

Beberapa kali Haechan berusaha sekuat tenaga menahan teriakannya setiap gigi Renjun mengenai alat vitalnya. Pun Renjun yang ingin sekilas menjerit tatkala Haechan memukul pantatnya dengan cukup keras.

Setengah jam berlalu. Haechan mengeluarkan kepemilikan Renjun dari mulutnya.

“Renjun...nghh, sayang, aku mau keluar,” ucap Haechan terbata.

Mendengar itu, Renjun semakin bersemangat. Tangan kirinya menggenggam kejantanan Haechan dengan erat dan tangan kanannya memainkan bola kembar milik si gemini. Kepala Renjun naik-turun dengan tempo yang cepat, sesekali menjilat ujung kemaluan Haechan dengan gerakan memutar, dan menghisap batang keras itu dengan sangat kuat hingga pipinya kempot.

“Huang Renjun...hmm kamu hebat banget kalo begini ahh shit Renjunnn!”

Haechan meraung keras ketika putihnya telah meluncur deras, menyemprot di bibir Renjun yang langsung sigap mengeluarkan kejantanan Haechan dari mulutnya. Cairan putih kental itu menggenang sedikit di dalam rongga mulutnya dan tanpa ragu ia telan.

Sedangkan Haechan kini dengan tubuhnya yang bergetar, ia berusaha memasukkan kemaluan Renjun ke dalam mulutnya lagi. Dengan tempo cepat, ia memberikan servis terbaiknya. Ia hisap kuat hingga berani melakukan deep throat selama dua detik. Matanya berair, namun ia sungguh enggan mengeluarkan kepemilikan Renjun itu dari mulutnya karena merasa disemangati oleh desahan si aries yang menggema hebat.

“Ahh, Haechan! Ohh fuck sedikit lagi aku keluar...”

Erangan dan rintihan terus Renjun gaungkan. Libido Haechan meningkat hingga kembali ia tekan pinggul Renjun agar ujuPri kemaluan kekasihnya itu menyentuh kerongkongannya lagi.

“Haechan...Haechan...nghh...Lee Haechan AHHH!”

Sperma Renjun melesat keluar dan menyembur di dalam mulut Haechan. Ia keluarkan alat vital kekasihnya, membiarkan cairan putih itu membasahi wajah dan lehernya.

Renjun pun langsung merobohkan tubuhnya di samping Haechan. Keduanya terengah, mengatur napas mereka yang tersengal dan membiarkan badan mereka yang bergetar akibat pelepasan itu kembali normal.

“Sayang,” panggil Haechan sembari mengelus kaki Renjun yang ada di hadapannya. “Enak ga barusan?”

Kepala Renjun mengangguk. Ia pun mencoba untuk bangkit dan memposisikan dirinya agar rebahan di samping Haechan dengan benar. Pergerakan itu pun disambut oleh Haechan yang langsung merengkuh tubuh mungil Renjun dalam pelukannya.

“Enak banget, tapi sebenarnya lebih enak kalo ditusuk ke dalam,” jawab Renjun.

Haechan tergelitik mendengarnya. Kekehannya yang lolos itu diikuti dengan sebuah kecupan yang dibubuhi di dahi Renjun.

“Aku mau bersihin dulu nih. Kamu mau bersihin bareng?” tanya Haechan.

“Yaudah boleh deh.”

Dua pemuda itu berjalan ke kamar mandi. Mereka memilih untuk membersihkan selangkangan, wajah, leher, dan dada masing-masing, karena jika dibantu satu sama lain, pasti akan ada ronde selanjutnya.

Haechan telah selesai terlebih dahulu. Ia pun kembali berpakaian dengan benar. Bahkan, cardigan hitam yang ia kenakan pun tak tertanggalkan barang sedikit. Ia terduduk di kursi dan menopangkan dagunya pada tangannya yang diletakkan di atas meja kaca. Senyuman tipis terulas tatkala otaknya memutar memori kegiatan panas yang baru saja ia lakukan. Hal itu membawa Haechan pada sebuah lamunan yang membuatnya mengingat betapa kuatnya cintanya dan Renjun dalam mempertahankan hubungan mereka.

Tanpa Haechan sadari, Renjun sudah duduk di hadapannya. Melihat sang kekasih melamun, Renjun pun meraih kamera milik Haechan yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Tak ada aba-aba dan akhirnya Renjun memotret Haechan yang langsung disadari oleh si gemini.

“Eh, kamu motoin aku?” tanya Haechan kaget.

Renjun tergelak. “Iya, hahaha, tapi lihat nih bagus kok hasilnya!” serunya sembari menunjukkan hasil jepretannya.

Haechan tertawa kecil. Ia pun mengusap rambut Renjun dengan lembut.

“Hasil jepretan kamu bagus-bagus nih. Besok mau aku post di Instagram deh,” ucap Haechan.

“Aku juga deh. Besok mau post foto yang tadi kamu fotoin juga,” balas Renjun.

“Hehe, ya udah, sekarang kita tidur yuk, sayang. Besok masih ada hari terakhir nih konser di sini.”

Renjun mengangguk. Tangannya pun meraih tangan Haechan yang terbuka untuk menggamit tangannya. Dua pemuda itu naik ke atas kasur lagi, saling berpelukan dengan dibungkus selimut tebal.

“Selamat tidur, Lee Haechan-ssi.”

“Hahaha, selamat tidur juga, Huang Renjun-ssi.”

“Jangan lupa besok sama aku di stage.”

“Iya iya, sayangkuuuu. Manja banget, tapi aku suka!”

“Hehehehe. Aku sayang kamu, Haechan.”

“Aku sayang kamu juga, Renjun.”


schonewords


CW // nsfw, bxb mature content, kissing, cuddling, dirty talks, hickeys, nipples play, hand job, harsh words, masturbation


“Haechan!”

Suara yang familiar itu masuk ke telinga Haechan yang langsung menoleh. Mulanya hanya kepalanya yang bergerak, namun tatkala matanya mendapati sosok sang kekasih yang mencuri perhatiannya sepenuhnya.

“Haechan, lihat! Aku iseng nyobain hoodie kamu yang digantung di kamar!” seru Renjun.

Haechan hanya terdiam. Sepasang obsidiannya tak henti menatap Renjun dari atas sampai bawah. Isi kepalanya seketika kosong dan tak mampu memikirkan apapun lagi.

Hoodienya kegedean,” gumam Renjun lirih sambil jalan ke arah Haechan yang lagi santai duduk di sofa.

“Badan kamu yang kecil,” ucap Haechan sambil terkekeh.

“Ya iya sih,” jawab Renjun. Wajahnya sumringah dan dengan sigap dia naik ke atas sofa—tepatnya ke atas pangkuan Haechan. Kedua tangannya pun secara otomatis melingkar di leher Haechan dan memeluk kekasihnya dengan sangat erat. “Tapi aku seneng pake hoodie kamu gini. Berasa kamu pelukin, bisa nyium wanginya kamu terussss, anget juga.”

Kalau isi hati Haechan bisa disuarakan dengan lantang, maka yang terdengar adalah: 'Fuck you, Huang Renjun!'

“Hmm, aku paham sih kamu seneng pake hoodie ini, tapi,” ucap Haechan menggantung.

“Tapi apa?” tanya Renjun melonggarkan pelukan, tapi tetap membiarkan dirinya duduk di paha Haechan dengan dua lengan kecilnya yang setia bertengger mengelilingi leher pacarnya itu.

“Tapi aku ga ngerti kenapa harus pake celana pendek?” Haechan balik bertanya dengan salah satu alisnya yang naik.

Renjun seketika menunduk. Dilihatnya celananya yang hanya menutupi setengah pahanya. Ia pun terkekeh dan kembali menatap Haechan. Begitu pula kedua tangannya yang beralih untuk menangkup dua pipi Haechan yang sudah tak terlalu gembul lagi.

“Oh ini tuh celana yang aku beli di Thailand. Tadinya cuma nyobain doang, terus aku lihat hoodie kamu, yaudah aku cobain barengan. Eh ternyata jadinya lucu juga kalo pake celana ini sambil pake hood—”

Celotehan Renjun yang menggemaskan itu langsung terhenti ketika bibirnya dibungkam oleh labium Haechan. Tanpa basa-basi, Haechan memajukan wajahnya dan mencumbu ranum merah muda sang kekasih yang selalu terlihat menggoda. Untungnya, ini bukan cumbuan panas. Hanya sekadar menautkan bibir sebentar dan melumatnya sedikit, lalu dilepaskan.

“Kamu selalu lucu pake apapun, Junnie,” ucap Haechan sambil mengusap bibir Renjun yang basah karena lumatannya.

Renjun hanya tersenyum mendengar pujian Haechan tadi. Tangannya yang masih menangkup wajah Haechan itu kembali mendekatkan pada wajahnya. Bibir Haechan dikecup sekilas oleh Renjun, dan yang lebih menggelitik Haechan adalah kecupan sekilas yang turut dibubuhkan Renjun di hidung dan dagunya.

“Kalo mau muji tuh kenapa harus nyium dulu, Chan?”

Haechan terkekeh mendengar pertanyaan itu. Tangannya yang semula melingkar di sekeliling pinggang Renjun, kini beralih ke dua sisi pinggang ramping itu.

“Kamu tuh lucu banget tadi ngomongnya, aku ga tahan jadi pengen cium. Terus pengen banget muji kamu karena kalo habis ciuman tuh muka kamu merah, ditambah pujian jadi makin merah. Gemesin banget,” jawab Haechan.

Kali ini Renjun yang terkekeh mendengar penjelasan Haechan. Pipi Haechan pun dicubit pelan sembari bertutur, “Kamu juga lucu banget, Chan. Gemesin jug—heh! Ini tangannya ngapain?”

Suara gelak tawa melesat dari mulut Haechan. Tak pula ia hiraukan protes dari Renjun dan membiarkan tangannya yang telah menyelip masuk ke dalam hoodie itu mengelus pinggang Renjun secara langsung.

“Cuma dielus doang, sayang,” jawab Haechan masih diselingi kekehan.

“Nakal deh tangannya,” ujar Renjun bercanda.

“Loh? Kamu lebih nakal.”

“Eh? Kok aku lebih nakal?” Renjun bertanya dengan ekspresi bingung.

“Ini sekarang duduk di paha aku dengan penampilan seksi gini,” jawab Haechan santai namun diikuti seringaian di wajahnya.

Renjun tertawa kecil mendengarnya. Maka dipeluknya lagi leher Haechan, membawa wajahnya berada di ceruk leher si gemini itu dan membiarkan napasnya menerpa kulit Haechan secara langsung. Bibirnya mengecup leher Haechan sekilas.

“Tapi kamu suka kan kalo aku kayak gini?” tanya Renjun berbisik tepat di bawah telinga Haechan karena sembari menghujani leher Haechan dengan kecupan-kecupan ringan.

Salah satu sudut bibir Haechan semakin tertarik ke atas hingga seringaian itu tercipta kian jelas. “Suka banget, Njun,” jawabnya lirih.

Tak bersuara lagi, Renjun masih sibuk sendiri di leher Haechan. Hidungnya terus mengendus aroma khas tubuh Haechan yang menguar dari sana. Bibirnya tak henti-henti mengecup kulit leher kekasihnya itu yang sangat candu baginya.

Begitu pula dengan Haechan. Selagi ia menikmati kecupan Renjun di lehernya, ia terus mengelus pinggang Renjun dengan lembut. Telapak tangannya dapat merasakan hangat dan mulusnya kulit Renjun.

“Nghh, Renjun,” lenguh Haechan sambil meremas pinggang Renjun ketika lehernya mulai digigit pelan oleh sang kekasih.

“Mmhh,” Renjun pun melenguh karena remasan di pinggangnya hingga membuatnya otomatis menghisap leher Haechan.

Shit! Leher aku nanti merah, sayang,” lirih Haechan.

“Humm gapapa. Kamu jadi seksi banget kalo lehernya merah-merah karena aku.”

Renjun melanjutkan kegiatannya. Beberapa titik di leher Haechan telah penuh dengan tanda merah keunguan khas hisapan yang lebih dikenal hickey. Kepalanya lambat laun menengadah, memberikan akses yang lebih leluasa kepada kekasihnya yang sangat suka mencumbui lehernya.

“Ahh, Haechan!” Renjun menjerit dan menyudahi kegiatannya itu dengan terpaksa.

“Hahahaha, kenapa sih?” Haechan sok polos bertanya.

Renjun memajukan bibirnya. “Tadi tangannya perasaan masih di pinggang. Kenapa tiba-tiba udah nyubit nipple aku?” tanyanya.

“Buat ngelampiasin aja. Kan aku ga mau enak sendiri, Njun.”

Dua pria itu terkekeh. Renjun menyentuh tangan Haechan yang ada di dadanya dari luar hoodie. Diarahnya tangan Haechan untuk mengelus putingnya dengan pelan.

“Hnghhh, aku suka banget deh kalo kamu mainin nipple aku gini.”

“Kalo dicubit?”

Kepala Renjun menggeleng. “Jangan. Sakit kalo dicubit. Dimainin ajaaaa,” ujarnya pelan.

“Iya iya,” Haechan mengangguk.

Bibir mereka bertemu. Renjun mengalungkan tangannya di leher Haechan sembari memiringkan kepalanya ke kiri. Lumatannya disambut oleh Haechan dengan hisapan pada bibir bagian atasnya.

“Mphh,” lenguh Renjun ketika dua jempol Haechan menekan putingnya.

Seiring tangannya yang sibuk di dada Renjun, Haechan pun menjulurkan lidahnya. Ia terobos belahan bibir Renjun, menikmati rongga basah dan hangat itu dengan lidah mereka yang saling bergulat di dalam sana.

“C-chan...”

Ciuman mereka terlepas ketika Renjun mendorong bahu Haechan. Cumbuan itu sudah berlangsung cukup lama, hingga Renjun merasa oksigen di rongga paru-parunya telah menipis. Terlihat dari napasnya yang kini terengah seolah rakus menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Sexy lips,” ujar Haechan memandangi bibir Renjun yang mengkilat karena campuran saliva mereka di sana.

“Hahahaha,” Renjun tergelak. “Bibir kamu juga jadi lebih seksi sekarang.”

Haechan tersenyum. Ia berikan kecupan singkat di bibir Renjun selagi mengeratkan pelukan di pinggang kekasihnya itu.

You wanna do 'it' now?” tanya Renjun seraya menekan kata 'it'.

Kepala Haechan menggeleng. “Kita baru ngelakuin itu kemarin. Pasti kamu masih sakit, jadi ga usah dulu,” jawabnya.

Thank you for being considerate,” hatur Renjun mengelus pipi Haechan. “Tapi ini ada yang keras di pantat aku.”

Ketawa Haechan pecah. Ia tergelak renyah dan kembali mengecup bibir Renjun.

“Siapa juga yang ga tegang lihat kamu pake hoodie kegedean gini sama celana pendek banget? Ditambah lagi kita udah ciuman, leher aku udah merah-merah, terus aku udah mainin nipple kamu.”

Kali ini Renjun yang tertawa renyah. “Padahal kan aku ga bermaksud bikin kamu turn on gini, Channnn,” katanya gemas.

“Ya mau gimana lagi? Tetep aja sekarang high banget nih.”

Renjun terkekeh. Ia dekatkan wajahnya yang kini membuat wajah mereka hanya berjarak sekitar lima sentimeter.

Should I user my hand instead?” tanya Renjun diikuti senyuman menggemaskan.

“Kamu mau?”

Dengan cepat Renjun mengangguk. “Together? I'll do yours and you'll do mine,” ajak Renjun.

“Hahaha, oke!”

Haechan menurunkan Renjun dan dibiarkan duduk di sampingnya. Ia memiringkan posisi agar tetap menghadap Renjun, sedangkan kekasihnya duduk bersandar di sofa.

“Uhh udah tegang banget,” ucap Renjun ketika berhasil menurunkan sedikit celananya Haechan dan mengeluarkan penis kekasihnya itu.

“Padahal kamu juga, Njun,” kata Haechan.

“Eh? Tumben masukin tangannya git—nghhh, Chan...”

Kali ini ada keunikan yang Renjun lihat dari cara Haechan menyentuh kejantanannya. Alih-alih memasukkan tangannya dari bagian atas celana yang menyangkut di pinggul, Haechan memilih menyelipkan tangannya dari bagian bawah. Ya, lubang celana tempat kaki Renjun masuk—tepatnya di bagian pahanya.

“Hnghh, Chan,” Renjun melenguh merasakan nikmat.

“Enak kayak gini?” tanya Haechan.

“Iyahhh.”

Pasalnya, tangan Haechan memulainya dengan mengelus paha Renjun, menjalar ke bagian dalam, naik ke atas, menyelipkan tangan hingga langsung menyentuh dua bola kembar Renjun di dalam sana. Memang lebih sulit seperti ini, tapi nyatanya sensasi panas yang tercipta justru lebih menggoda.

“Ahh shit, Renjun,” racau Haechan ketika jempol Renjun digesekkan di kepala penisnya.

“Haechan ahhh...”

Sepasang kekasih itu saling mendesahkan nama satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh tangan Renjun yang mengocok penis Haechan kian cepat dan tangan Haechan yang meremas kuat penis kekasihnya. Bahkan penis Renjun sudah dikeluarkan Haechan melalui celah kecil di bagian bawah celana itu, membuat kejantanan Renjun keluar mepet dengan pahanya.

“Ohhh damn Haechan, sesak banget rasanya kalo dikeluarin dari situ hmm sempit, Chan. Buka aja celananya.”

Noooo!” Haechan berseru cepat. “Kayak gini lebih seksi, Njun. It's more tempting to see your dick getting bigger in that tight pants and between your thighs.”

Fuck you, Lee Haechan!” Renjun mengumpat mendengarnya. Ya, siapa juga yang tidak semakin tergoda mendengar ucapan se-sensual itu disaat penisnya tengah dikocok dengan tempo yang cepat.

“Enak kan, Njun? Hmm?”

“Enakkk,” Renjun mengangguk dengan susah payah. “Hnghh ini juga punya kamu udah makin gede, makin tegang di tangan akuuu. Do I squeeze it correctly?

Yesss ahhh, enak banget tangan kamu ngocokinnya.”

Kedua pria itu saling meracau, mendesah, bahkan sesekali berteriak melengking tatkala penis mereka diremas oleh sang pacar. Mereka juga akan bercumbu dan melumat sekilas selagi tangan mereka memberi servis kenikmatan pada kejantanan satu sama lain.

“Aku mau keluar, Njunnn,” ucap Haechan sambil menggeram.

Mendengar itu, Renjun makin kencang menaik-turunkan tangannya pada penis Haechan. Diremas dan dikocoknya dengan terburu-buru batang yang telah menegang sempurna itu hingga Haechan mencapai putihnya terlebih dulu.

“Ren—ahh Renjun!” teriakan Haechan menggema seiring spermanya yang mengalir deras di tangan Renjun dan muncrat mengenai paha Renjun pula.

Haechan merasa lemas, tapi ketika diliriknya kekasihnya belum merasa puas, maka tangannya kembali bergerak cepat. Digenggamnya kuat penis Renjun, mengguncang alat kemaluan kekasihnya itu hingga Renjun benar-benar mendesah kuat.

Fuck, Haechan, ahh ahh aku kelu—ahhh!”

Renjun pun telah sampai di puncak kenikmatannya. Cairan putih kental yang keluar dari penisnya itu membanjiri tangan Haechan dan menyatu dengan sperma Haechan di pahanya sendiri.

“Hhhh it was amazing,” ucap Renjun dengan napas tersengal.

I know,” tanggap Haechan sambil terkekeh.

Butuh beberapa menit hingga napas mereka berhembus teratur lagi. Renjun meraih tisu yang ada di meja di hadapan mereka, membersihkan seluruh cairan putih yang tersisa di tangannya, penisnya, pahanya, serta di tangan dan penis Haechan.

“Makasih, sayang,” hatur Haechan sembari tersenyum dan menaikkan celananya ke posisi semula.

“Sama-sama, sayang,” jawab Renjun, pun sama—sambil merapikan celananya lagi dan kembali duduk di pangkuan Haechan.

Mereka saling berpelukan ketika Haechan bertanya kepada Renjun, “Capek?”

Renjun mengangguk pelan. “Mau rebahan, Chan,” jawabnya.

“Oke,” tanggap Haechan seraya berdiri, menggendong Renjun, dan membawanya ke kamar Renjun.

Keduanya pun merebahkan tubuh mereka di atas kasur kecil milik Renjun. Tubuh mungil si pemilik kamar itu sudah beringsut masuk ke dalam dekapan hangat dari Lee Haechan. Pun punggung Renjun dielus dengan pelan serta keningnya diberi kecupan lembut oleh Haechan.

“Aku boleh kan pake hoodie ini terus?” tanya Renjun bergumam sambil bersandar di dada Haechan.

“Boleh banget, tapi jangan pake celana pendek gitu mulu ah. Nanti yang lain pada demen liat paha kamu,” gerutu Haechan.

Renjun terkekeh. “Iya iyaaa. Ini kan aku pakenya karena di dorm cuma ada kita berdua. Kalo ada yang lain ga bakal aku pake yang sependek ini,” ujar Renjun.

Good good, because your sexiness is mine only.”

“Hahahaha,” Renjun tergelak mendengar pernyataan Haechan. “Yes I know it, my possessive boyfriend.”


schonewords


cw // video call sex, nsfw, mature content, dirty talk, harsh words, self service sex, aduh banyak deh intinya mereka anuan pas video call aja ya sampe keluar (gue capek banget mau mikir cw-nya anjiiiingggg)


Revanda itu...suami yang sabar banget. Suami yang nurut banget. Suami yang begitu dinikahin sama Habrian, dia mutusin untuk banyak nurunin egonya dan ngalah dengan suaminya. Eits, tapi bukan berarti Habrian bisa seenaknya juga sama Revanda. Mereka cuma lebih bisa beradaptasi menjadi pasangan yang lebih baik dan dewasa untuk satu sama lain.

Lucu ya pembukaannya? Maksudnya apaan gitu? Hehehe.

Sekarang ini, Revanda lagi pergi ke Malaysia, ada workshop untuk para pemilik firma arsitektur yang terpilih. Ya, Revanda salah satunya. Terpilih sebagai perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti workshop itu seiring dengan firmanya yang semakin berkembang pesat dan terkenal di ibu kota.

LDM alias long distance marriage sejenak, bikin Habrian cukup uring-uringan. Bukannya uring-uringan karena harus ngurusin anaknya sendirian, tapi lebih merasa pening karena lagi butuh belaian suaminya.

“Sayaaaang,” Habrian bersuara tepat ketika Revanda mengangkat telfonnya, ups, lebih tepatnya video call.

“Apa, Mas Briiiii?” tanggap Revanda sambil merebahkan diri di kasur.

Tepatnya saat ini pukul setengah sepuluh malam waktu Jakarta, yang artinya sekarang sudah setengah sebelas malam di Malaysia. Revanda baru selesai mandi, kebablasan berkumpul dengan rekan-rekan sesama arsiteknya untuk makan malam dan berbincang sampai pukul sepuluh waktu setempat.

“Kamu lama banget deh dinnernya, cil,” protes Habrian.

Revanda terkekeh. “Iya iya, maaf ya, sayangkuuuu. Keasyikan ngobrol sih tadi, jadi keterusan ternyata udah jam segini. Padahal aku juga mau video call sama Kamal,” jawabnya.

“Dah keburu molor tuh anak kamu,” balas Habrian sambil menunjukkan box tidur anaknya di sebelah ranjang mereka.

“Lucunyaaaa anak aku. Dia rewel ga, mas?”

“Ngga kok. Aman aja dari tadi dia dijagain sama mamah dengan Jian.”

Ya, seperti biasa, selagi Revanda pergi, pasti Habrian dan baby Kamal mengungsi ke rumah orang tuanya Habrian. Alasannya sederhana. Biar Habrian gak kerepotan dan Revanda merasa aman anaknya diasuh sama mertuanya.

“Sayang, aku kangen,” ucap Habrian dengan manja.

Revanda senyum. Ia tahu pasti bahwa suaminya kalau sudah manja begini, biasanya sedang needy. Kalau lagi berdua di rumah, Habrian yang manja akan berakhir dengan raungan Revanda yang mendesah kuat.

“Aku juga kangen, mas. Aku susah tidur beberapa hari ini karena ga dipelukin sama kamu.”

Aduuuuh. Revanda ituuuu kalau sudah tahu suaminya needy dan clingy, dianya gak mau kalah clingy juga.

“Ah, sayang mah. Aku jadi makin kangen,” cibir Habrian.

“Sabar ya, mas. Besok sore kan aku udah pulang.”

“Udah ga sanggup lagi aku nahan kangen rasanya. Pengen banget nyusulin kamu ke sana sekarang.”

“Ya, jangan dong. Kalo kamu nyusul, yang ngurusin urusan kantor siapa? Sabar ya, Mas Bri. Besok malem kita udah tidur pelukan lagi.”

“Iya. Ga cuma pelukan kan?”

Oke, udah mengarah kemana iniiiii?

“Emang Mas Bri maunya apaan kalo bukan pelukan doang?” ini Revanda bertanya dengan nada menggoda.

“Hmm, ciuman.”

“Oke. Pelukan sama ciuman aja?”

Habrian menggeleng cepat. “Mau isep nenen kamu juga, cil,” jawabnya.

“Ini?” tanya Revanda sambil mengangkat bajunya ke atas, mengarahkan kamera depan HP-nya ke dadanya.

“Iyaaaa, mau nenen itu, sayaaanggg. Aduh liat tuh nipples kamu menggoda banget,” balas Habrian mupeng melihat dua puting coklat Revanda.

Revanda terkekeh melihat ekspresi suaminya yang kayak ngiler banget lihatin putingnya. Revanda pun menyentuh salah satu putingnya menggunakan tangan kirinya yang menganggur. Sedangkan tangan kanannya membawa HP semakin mendekat dengan tonjolan kecil yang lagi disentuhnya itu.

“Hmmmh, mas, lebih enak kalo kamu yang mainin ini,” lenguh Revanda meracau merasakan nikmat di putingnya.

“Coba dicubit dikit, sayang. Nyubitnya di pinggirnya, biar makin nonjol pentil kamu itu.”

Bagaikan sebuah titah, ucapan Habrian langsung diindahkan oleh Revanda. Dua sisi puting kirinya menekannya dan membuat tonjolan itu mencuat. Hal itu mengundang erangan Revanda.

“Aahhh enak, Briannn. Humhhh mau kamu yang nyubitnya giniiii.”

“Re, bentar. Aku pake earpod dulu. Desahan kamu kuat banget, nanti anak kamu bangun.”

Revanda tertawa kecil. Ia menunggu sang suami mengenakan earpodnya.

“Udah, sayang. Lanjutin lagi mainin pentilnya, yang,” kata Habrian.

Perkataan itu dituruti oleh Revanda. Ia memainkan lagi putingnya, sesekali mencubit dengan keras hingga ia menjerit akibat perlakuan jarinya sendiri.

“Brian, nghh...”

“Sayang, tarik agak kuat pentilnya. Bayangin aja aku lagi ngisep nenen kamu.”

“Ahh fuck mau banget dihisappp, Briiii.”

“Iya besok aku hisap kuat-kuat ya, Re.”

Jangan lupakan kalau Habrian dan Revanda akan memanggil nama satu sama lain tanpa embel-embel apapun. Bagi mereka, dengan memanggil nama seperti itu, 'sexual tension' kegiatan panas mereka akan lebih menaikkan libido.

“Bri, kamu sambil pegang punya kamu ga?”

Habrian mengangguk. Beberapa detik lalu tangannya sudah menurunkan celananya untuk memijat penisnya. Gak mungkin Habrian tahan melihat ekspresi Revanda yang benar-benar merasa nikmat memainkan putingnya sendiri.

“Mau liat, Bri,” lirih Revanda.

“Kamu keluarin juga dong.”

Tangan Revanda sigap menurunkan celananya untuk membebaskan penisnya. Sepasang suami itu sempat saling berpandangan dan tersenyum dengan tangan mereka yang memijat pelan kejantanan masing-masing.

Shit I really need your hands in here,” ucap Revanda sambil membalikkan kameranya jadi mode kamera belakang dan menunjukkan tangannya yang lagi meremas penisnya sendiri.

Damn aku mau banget ngocokin itu, sayang,” tanggap Habrian menatap layar HPnya dengan lekat. Ia pun turut mengubah kameranya menjadi ke mode kamera belakang, membiarkan Revanda melihat penisnya yang sudah tegang.

“Re, aku butuh kamu, sayang. Aku butuh mulut kamu, tangan kamu, lubang kamu. I want you to suck my dick.”

Kepala Habrian menengadah dan terus meracaukan nama Revanda. Begitu pula Revanda yang tak hentinya mendesah akibat perbuatan tangannya sendiri.

“Ugh, I miss that big dick tho,” bisik Revanda menatap layar HP, membuat Habrian akhirnya melihat ke layar HPnya juga.

Imagine this big dick inside your tight hole, Revan,” tanggap Habrian setengah berbisik.

“Hmm mau banget. Aku...nghhh...Bri, aku mau masukin jari aku.”

“Iya, sayang. Bawa lube kan kemaren?”

Revanda mengangguk dan meraih botol kecil itu dari tasnya di samping ranjang. Ia menunjukkan botol itu melalui kamera belakang HPnya.

“Nah itu coba kamu pakein ke jari telunjuk kamu dulu, Re,” titah Habrian.

Botol dibuka dan Revanda mulai membaluri lubrikan di jari telunjuknya. “Udah, Bri,” ucapnya.

“Sekarang pelan-pelan masukin jarinya ke lubang kamu. Olesin dulu sedikit di pinggirannya.”

Sesuai perintah dari Habrian, maka Revanda melakukannya. Diolesinya sedikit cairan pelumas di pinggir lubangnya, mulai memasukkan jari telunjuknya perlahan hingga dahinya mengernyit. Perih dan membuatnya ragu untuk terus memasukkan jarinya.

“Ahh sshh pedih, Bri,” desis Revanda.

Slowly, baby. Slowly, relax, feel it as if it is my dick.

Revanda menarik napasnya, mencoba perlahan memasukkan lagi telunjuknya. Habrian yang menyaksikan aksi itu semakin merasa penisnya menegang. Melihat jari mungil Revanda masuk ke lubang itu membuat otaknya membayangkan kejantanannya yang masuk ke sana.

“Brian, ohhh fuck ahhh masuk nghh,” lenguh Revanda merasa lega.

Good, Revan. Pinter banget cintaku ini. Sakit ya, sayang?”

“Iyahhh.”

“Coba pelan-pelan lagi digerakin sedikit aja ujung jari kamu di dalam. Digerakkin pelan, biar ngerangsang lubang kamu, nanti jari kamu jadi pasti naturally gerak lebih cepat.”

“Humhhh,” gumam Revanda mencoba mengikuti ucapan Habrian. “AH! Bri, ini ujung jari aku kok bikin jadi enak di dalemmm?”

“Bener kan? Keluarin sedikit jari kamu, sayang, terus masukin lagi. Kayak biasanya punya aku di dalam lubang kamu itu.”

FUCK! Ahhh, Brian! Nghhh enakkk...”

Habrian menyeringai. Senyumnya semakin lebar ketika Revanda meletakkan HPnya di samping, membiarkan kamera depannya yang kembali menangkap pantulan dirinya yang sedang terbaring dengan baju yang terangkat sampai leher, celana yang diturunkan hingga bertengger di betisnya, serta tangan yang sedang berada di selangkangan.

Squeeze your dick with your left hand, Re.”

Kembali perkataan Habrian diikuti oleh Revanda. Maka, pemandangan yang dilihat adalah Revanda yang terbaring, mengocok penisnya, memasuk-keluarkan jarinya di lubangnya.

“Ahh ahh, Brian, fuck aku butuh kamuuu. I need you now.”

Tangan Habrian semakin cepat mengocok kejantanannya. Naik, turun, naik, turun, diremas kuat.

“Anjingggg, aku tegang banget, Re, hnghhh.”

“Umhh, Brian, kamu butuh lubang akuuuhh.”

“Iya, sayang. Aku butuh lubang kamu yang sempit itu.”

“Nghh iyahh iyaahh, lubang sempit aku juga butuh your big dick ohh fuck!”

Revanda menoleh ke arah HP. Dapat ia lihat layar HPnya penuh dengan pemandangan tangan Habrian yang sedang asyik memberi servis ke penis besarnya sendiri.

“Bri, kayak yang biasanya aku lakuin, nghhh mainin jempol kamu di ujungnya itu.”

Kali ini Habrian yang mengikuti perintah Revanda. Ibu jarinya sekarang berputar di ujung penisnya, memberikan sensasi menyengat yang nikmat menjalar di sekujur tubuhnya.

“Anjing! Revan, ahhh, yesss this is exactly what you always did to my dick,” Habrian meraung tertahan, ia masih ingat anaknya sedang tidur di dekatnya.

“Huumm, iya aku selalu gituin penis kamu kalo mau bobo,” tanggap Revanda.

Mata mereka tak lepas dari layar HP. Seolah-olah pemandangan pasangan satu sama lain itu bagaikan bintang porno untuk memuaskan hasrat mereka.

“Brian, aku mau keluar...”

“Keluarin, sayang. Coba dicepetin lagi itu jarinya, terus tambahin jari tengah kamu ke dalam. Liatin ke aku sini.”

Revanda merubah posisi HPnya. Ia duduk bersandar pada headboard, sedangkan HPnya sekarang sudah tepat berada di tengah-tengah tungkainya, tak jauh dari lubang analnya yang sedang diservis oleh penisnya sendiri. Dua jarinya keluar dan masuk secara cepat hingga membuatnya mendesah kian kuat.

“Ahh ahh, Brian, gimanahhh nghh pengen keluar...”

“Keluarin, Re. Ayo keluarin aja. Aduh damn! Itu lubang kamu keliatan keenakan banget dimasukin jari. Shit, I can't stop imagining it's my dick.”

“Iyahh ahh iyahh ini aku anggapnya punya kam— AHHH, BRIANNN!”

Tangan kiri Revanda yang memijat penisnya kini sudah basah. Cairan spermanya sudah melumuri tangan mungil itu secara keseluruhan dan jarinya sudah ia keluarkan, membuat Habrian bisa memandangi lubang yang sedikit longgar itu dengan leluasa.

Damn, look at that hole. Ga keliatan sempit karena abis kamu masukin jari.”

Revanda yang sedang mengatur napas pun tersenyum. Jari telunjuknya tadi ia gerakkan mengelilingi lubangnya yang terasa ngilu.

“Humm, Brian, kalo kamu masukin punya kamu biasanya lebih longgar dari ini,” ucap Revanda mendayu, mencoba menggoda suaminya yang belum mencapai titik kenikmatan.

“Nghh terusin dirty talknya,” perintah Habrian sembari terus menggerakkan tangannya cepat di penisnya dan menatap lubang Revanda di HPnya.

“Biasanya tuh punya kamu masuk sini, sampe longgar, sampe dalem bangettt. Terus digenjotin, nusukin sampe kena prostat akuuu, terus aku teriak-teriak keenakan gitu kan, Bri—”

Shut up, Revan. Arghhh shit!”

Habrian sampai pada puncaknya. Hanya dengan mendengar suara Revanda yang mengucapkan kata-kata penuh godaan, Habrian akhirnya memuncratkan spermanya dan membasahi tangan, perut, hingga pahanya.

Sekitar beberapa detik Habrian menahan napas. Tangannya meraih tisu dan setelahnya mengambil HPnya, mengembalikan kamera depan sebagai default di video callnya.

How was it, mas?” tanya Revanda ketika melihat kembali wajah suaminya yang penuh peluh.

Amazing, but still need you more,” jawab Habrian. “Ga ada yang ngalahin kuluman kamu, kocokan tangan kamu, sama lubang kamu yang sempit itu.”

Revanda terkekeh mendengarnya. Ia menurunkan bajunya yang tadi terangkat, hanya saja celananya belum dikembalikan ke posisi semula karena penisnya juga belum dibersihkan.

“Nanti dibersihin dulu ya, cil. Lengket gitu pasti kamu bobonya ga bakal nyaman,” ucap Habrian lembut.

Bibir Revanda maju. “Biasanya kamu yang bersihin. Makanya aku males main sendiri, ga ada kamunya yang bantuin aku bersih-bersih,” katanya.

Habrian tertawa kecil. “Iya, sekarang bersihin sendiri dulu ya. Besok kamu sampe sini, kita main lagi, terus aku bersihin pas udah selesai,” tanggapnya dengan sangat sangat sangat lembut.

Senyuman mengembang di wajah Revanda. Ditatapnya sang suami melalui layar HP, diperhatikannya seluruh bagian wajah tampan itu yang turut membalas tatapannya.

I never get bored to say how much I love you, Brian. I always feel grateful for having you as my husband.”

Me too, kecilku. Aku pun sayang banget sama kamu dan ga akan pernah bosan buat bilang itu.”

“Yaudah sana Mas Bri bersih-bersih. Liatin tuh anaknya kebangun ga? Kamu tadi agak gede gitu desahnya.”

“Hehehehe, oke, cintaaa. Kamu juga ya bersih-bersih sekarang.”

“Iya, suamikuuuu. See you tomorrow, Mas Brian.”

See you, cintaku. Besok aku sama Kamal jemput kamu di bandara.”

Alright, captain!


schonewords


cw // nsfw, mature content, boys sex, anal sex, kissing, hickey, mentioned certain kink, fingering, blow job, hand job, nipple pkay, dirty talk, harsh words, explicit


“Hai, sayang,” sapa Renjun ketika memasuki unit apartemennya dan melihat sang suami yang sedang asyik menonton TV.

“Halo, Mr. Husband,” balas Haechan sambil tersenyum. “Macet ga jalanannya?”

Renjun menggeleng sambil jalan mendekati suaminya. “Ngga sama sekali kok, sayang,” jawabnya.

Cup.

Renjun merunduk dan bibir mereka saling mengecup. Tangannya mengelus pipi Haechan dengan lembut seraya mereka saling melempar senyum.

“Aku bersih-bersih dulu ya, Mr. Romantic,” bisik Renjun.

I'm waiting, Mr. Husband.”


Haechan masih fokus menonton berita di televisi sembari mengunyah kacang goreng. Ia sempat tidak menyadari suami mungilnya kini berjalan mendekatinya sampai aroma vanilla tercium di indera penciumannya dan membuatnya menoleh.

“Renjunku udah selesai mandinya?” tanya Haechan menyambut tubuh suaminya yang langsung duduk di pangkuannya.

“Udah, Mr. Romantic,” jawab Renjun sembari mengalungkan tangannya di leher Haechan.

Kedua lengan Haechan sudah melingkar di pinggang Renjun untuk mendekap tubuh mungil tersebut agar tak terjatuh. Dieratkannya, dibawanya wajahnya mendekat dan membiarkan hidungnya kini terpatri pada leher putih polos yang terekspos jelas di hadapannya itu.

I love you even more whenever you used thay vanilla scented soap, Kak Ren,” bisik Haechan tepat di telinga Renjun.

“Humhh,” Renjun melenguh seraya mengeratkan pelukannya pada leher Haechan. “Why tho?”

Alih-alih menjawab, Haechan justru menjulurkan lidahnya. Dijilatnya pelan dengan gerakan sensual menjalar di leher Renjun. Jilatan itu terhenti dan membiarkan dua belah bibir Haechan menempel, mengecup, dan menghisap lembut.

“Kamu jadi makin manis, kak,” barulah Haechan menjawab.

Renjun tersenyum. Pelukan itu ia longgarkan dan menangkup kedua pipi Haechan. Kepala Haechan dibawa menengadah, mempertemukan netra mereka, dan cup!

You never realized that you are also tasted sweet, Chie. Especially these lips,” ujar Renjun tepat di depan bibir Haechan.

Wajah keduanya mendekat dan bibir mereka bertaut. Dekapan mereka kian erat seiring ciuman yang lembut kini berubah menjadi cumbuan panas penuh tuntutan. Kepala mereka bergantian miring ke kiri dan kanan, saling melumat, menyesap ranum tepat candu itu, dan tak lupa saling menjulurkan lidah untuk dikaitkan.

“Mmhh, Kak Ren, lemme break your hole tonight,” bisik Haechan seraya merebahkan tubuh Renjun di sofa dan mengungkungnya.

Renjun tersenyum menatap sang suami di atasnya. Ibu jarinya mengusap bibir seksi milik lelaki gemini tersebut.

“Besok aku masih kerja loh, Chie,” tanggap Renjun terkekeh.

Seringaian terulas di wajah tampan Haechan. “Kamu bisa izin sakit, stay at home, and I'll take over your works for a day,” ujarnya dengan suara rendah.

Renjun tahu pasti saat ini Haechan tengah dikuasai nafsu dan berusaha keras menahan diri. Maka, Renjun mengangguk setuju dengan ucapan Haechan barusan.

Break me then. Penuhin lubang 'kakak' ya, Chie,” ucap Renjun dengan nada menggoda sembari mengelus pelan bahu Haechan.

Seakan digoda kian gencar, Haechan pun merasa birahinya meningkat drastis. Bibirnya langsung kembali menyambar ranum merah muda milik suaminya. Disesapnya kuat dan diberi gigitan kecil pada dua belah bibir Renjun dengan penuh nafsu.

“C-Chie...humhhh,” desah Renjun tertahan karena Haechan begitu ganas mencumbu bibirnya.

Abai dengan panggilan dari suaminya, Haechan justru semakin dalam melumat bibir Renjun. Lidahnya terjulur, menerobos masuk ke dalam rongga mulut suami kesayangannya.

“Hmhhh!”

Renjun lagi-lagi meredam desahannya ketika Haechan menghisap kuat lidahnya. Saliva mulai meleleh di sudut bibir mereka, membentuk benang tipis ketika tautan panas itu terlepas dan menyisakan dua bibir yang mengkilat di jarak yang sangat dekat.

“Kenapa sih ga sabaran banget nyiumnya, sayang?” tanya Renjun sambil mengatur nafasnya kembali dan menyeka saliva di bibir Haechan.

Your lips always tempting, kak,” jawab Haechan dengan suara rendahnya, membuat Renjun merinding.

“Kakak,” panggil Haechan.

“Iya, sayang?”

Bibir Haechan kembali mendarat di kulit leher Renjun. Giginya menggigit pelan dan dua belah mulutnya menghisap kuat, sehingga tanda kemerahan tercipta.

“Kamu seksi banget pake bathrobe gini, kak.”

Renjun tersenyum geli. Ya, dia baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan baju mandinya itu menghampiri Haechan.

Wajah si mungil mendekat, membawa mulutnya berada di depan telinga Haechan untuk berbisik, “Aku ga pake apa-apa di dalam bathrobenya, Chie.”

Mendengar itu, kepala Haechan terangkat. Masih dengan tangan kirinya yang bertumpu pada sandaran sofa agar tubuhnya tak menimpa sang suami, kini tangan kanannya diarahkan ke paha mulus Renjun, menyelip di balik bathrobe dan mengelusnya pelan.

Good job, Kak Ren,” puji Haechan dengan seringaian di wajahnya dan tangannya yang meremas paha bagian dalam Renjun.

“Hmhh, Chie...May I talk dirty tonight?” tanya Renjun setengah melenguh.

Beg for it, kak.”

Jemari Renjun kembali mengelus pipi Haechan. Kedua matanya sayu, bibirnya bengkak dan merah, nafasnya tersengal membuat dadanya naik dan turun cepat. Pemandangan itu dinikmati Haechan dengan puas.

Mr. Romantic, please allow me to talk dirty tonight. I swear it will turn you even more,” Renjun berucap setengah berbisik dan suara yang mendayu.

Damn,” umpat Haechan. Ia mengecup bibir Renjun sekilas dan tersenyum manis. “Boleh, kak.”

Raut wajah Renjun langsung terlukis bahagia. Tangannya kembali mengalung di leher Haechan, menariknya hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.

“Haechie, please do me so hard tonight.”

I will, kakak sayang.”

Meleleh hati Renjun bahkan kewarasannya sudah kian menipis. Maka, kata-kata yang terucap dari mulutnya tak lagi memikirkan kesopanan.

Touch me, Haechie,” pinta Renjun dengan suara yang parau.

“Di mana, kak?”

Here,” jawabnya sembari membawa tangan Haechan ke penisnya.

Haechan tersenyum puas. Wajah mereka semakin dekat, hingga bibir nyaris bersentuhan. Deruan nafas satu sama lain berhembus tepat di kulit muka satu sama lain.

“Udah tegang, kak,” ucap Haechan lirih. “Should I suck it?”

Renjun mengangguk sembari mengulas seringaian. Sekilas ia mengecup bibir Haechan dengan lembut dan menjawab, “Humm, mau banget, Chie.”

“Mau apa, Kak Ren sayangku?” goda Haechan.

“Mau dihisap yang kuat.”

“Apanya, kak?” lagi-lagi Haechan menggoda.

Bibir Renjun mengerucut maju. “Suck my dick now, Lee Haechie!” perintahnya sebal.

Haechan terkekeh pelan. Bibir Renjun dikecup sekilas untuk menjawab, “Iya, kakak sayang. Jangan memble gitu ah, hahahaha.”

Tubuh Renjun diangkat oleh Haechan untuk diposisikan duduk bersandar di sofa. Sedangkan Haechan sendiri turun dari sofa, melebarkan kaki Renjun, dan menyelipkan tubuhnya berada di antara dua tungkai kurus itu.

“Humm, Haechie...ahh...”

Mulut Renjun terbuka dan melesatkan desahan ketika tangan Haechan menyibakkan bathrobe bagian bawahnya. Kedua tungkai Renjun sudah terekspos hingga ke penisnya. Ditatapnya sang suami yang berada di antara dua pahanya yang turut membalas tatapannya walaupun bibir si gemini itu tengah sibuk mengecup paha Renjun secara bergantian di kiri dan kanan.

“Mmhh...Kamu keliatan seksi banget kalo diliat dari atas sini, Chie.”

Haechan hanya tersenyum. Ia tahu, Renjun itu paling memahaminya. Kelemahan Haechan saat tengah bercinta adalah diberi pujian dari Renjun.

“Ugh, that tongue is always good at licking every inch of my skin. Humhh naik lagi, Chie...”

Lagi-lagi Renjun memberi pujian dan diikuti dengan titahnya agar jilatan Haechan pada pahanya semakin naik. Ya, Renjun sudah tidak tahan lagi untuk merasakan rongga hangat dari mulut Haechan.

Haechan mengindahkan keinginan suaminya. Makanya, disibaknya lebih ke atas lagi baju mandi Renjun dan...

“Ahhh...”

Penis Renjun telah masuk ke dalam mulut Haechan. Kepala si gemini mulai naik turun perlahan, dengan tangan Renjun yang meremas rambut gelap milik suaminya.

“Hnghh, a lil bit faster, Chie...”

Maka Haechan wujudkan keinginan suaminya. Semakin cepat ia mengeluar-masukkan penis Renjun dari mulutnya. Sesekali lidahnya akan menjilat dengan gerakan memutar di ujung penis Renjun bersamaan dengan tangannya yang meremas dua bola kembar si aries itu.

Fuck! Ssshh you are so good at this, Lee Haechie. Nghhh lagi...”

Haechan menarik kepalanya. Renjun pikir, suaminya akan selesai melakukan blow job itu, tetapi dugaannya salah. Haechan justru mengemut ujung penisnya dengan kuat, mendorong lidahnya pada saluran kencingnya yang membuat Renjun berteriak kuat.

“Arghhh! Haechan! Ahhh fuck this is too good! Ssshhh.”

Desahan Renjun semakin kuat menggema, mengalahkan suara TV yang telah terabaikan sejak tadi. Hingga beberapa menit kemudian, Haechan menyudahi kegiatan itu.

How was it, kak? Did I do it right and make you feel nice?” tanya Haechan menengadahkan kepalanya, tersenyum puas melihat wajah suaminya yang telah merah dan terlihat kacau.

Renjun menunduk. Sembari mengatur napasnya yang tersengal, ia mengangguk dan tersenyum tipis. Tangannya mengelus rambut Haechan dengan lembut dan menjawab, “You always did great, my handsome husband.”

Lagi-lagi Renjun memujinya. Haechan pun berdiri, memposisikan kedua tangannya di bokong Renjun, menggendong sang suami ke kamar.

Selama di dalam gendongan Haechan, Renjun tak henti-henti mengecup bibir suaminya. Begitu pula Haechan yang juga mengecup pipi, bibir, dan dagu Renjun.

Setibanya di kamar, tubuh Renjun direbahkan di atas kasur secara perlahan dan hati-hati. Haechan setengah berdiri dengan bertumpu pada lututnya di hadapan Renjun yang memperhatikannya lekat. Senyuman nakal terulas di wajah Renjun tatkala sang suami di hadapannya membuka kaosnya dan melemparnya ke bawah kasur.

“Seksi,” goda Renjun membuat Haechan terkekeh.

Haechan kembali berada di atas tubuh Renjun dengan menumpukan kedua sikunya di sisi kanan dan kiri tubuh Renjun. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus rambut Renjun dan cup!

Cukup lama Haechan mengecup kening Renjun. Seluruh cintanya ia coba salurkan di sana, membiarkan Renjun merasakannya hingga tersenyum bahagia.

Ready for the main 'dish'?” tanya Haechan sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Renjun.

Yes, Mr. Romantic. Aku mau kamu masukin.”

Sekali lagi Haechan mengecup kening Renjun sama lembutnya namun kali ini lebih singkat. Detik berikutnya ia merebahkan diri di sebelah Renjun dengan posisi miring, mengajak sang suami berposisi yang sama agar berhadapan.

“Aku butuh tenaga dulu, kak,” ujar Haechan.

Renjun mengernyitkan dahi kebingungan. Namun, setelahnya ia paham ketika tangan Haechan menarik tali bathrobenya dan melepaskan baju berbahan handuk itu dari tubuhnya.

“Mau ngapain, Haechanku?” tanya Renjun tersenyum sambil bergidik karena dinginnya AC menyambar tubuh telanjangnya.

Haechan membalas senyuman Renjun. Sekilas ia kecup lagi bibir Renjun dan sedikit menurunkan posisi tubuhnya hingga sejajar dengan dada Renjun.

“Mau nyusu,” jawabnya enteng dan membuat Renjun terbahak.

Tanpa mempedulikan suaminya yang tengah tergelak geli, Haechan langsung memeluk tubuh Renjun dan mengemut puting si aries itu. Tangan satunya menggesekkan jempolnya ke puting kanan Renjun yang menganggur.

“Ahh fuck sshh kenapa sih kamu pinter banget bikin aku enak, Chie?” puji Renjun yang sedetik berikutnya langsung menjerit, “AHHH! HAECHIE!”

Aduh, Haechan dipuji lagi. Pantas saja Renjun teriak karena Haechan dengan semangat menghisap kuat puting Renjun sampai mencuat kemudian digigit.

“Jangan dipuji mulu, nanti nipple kamu berdarah, kak,” ucap Haechan diiringi kekehan.

Renjun pun tertawa lagi dan mencubit pipi Haechan. “Ya, jangan digigit kuat banget, sayang. Sakiiitttt.”

Setelah saling berbagi tawa bersama, Haechan kembali menghisap dua puting Renjun secara bergantian. Kali ini lebih lembut dan pelan karena ia tak ingin menyakiti suaminya.

“Kak Ren, nghh,” Haechan mengerang. “Tangannya nakal.”

“Hehehehe,” Renjun nyengir. “Kamu lanjut aja nyusunya, aku cuma mau remas dikit biar makin tegang, jadi nanti masuknya enak.”

Kepala Haechan menggeleng sambil terkekeh. Ia melanjutkan menghisap puting Renjun, sedangkan Renjun terus meremas pelan penis Haechan.

“Humhh...”

“Nghhh...”

Keduanya saling melenguh dan mengerang pelan. Untuk beberapa menit, mereka menikmati kegiatan ini, di mana puting Renjun yang kian membengkak dan penis Haechan yang semakin menegang.

Enough?” tanya Renjun ketika Haechan menyudahi aksi hisapannya.

“Udah, kak.”

“Ayo masukin sekarang!” seru Renjun penuh semangat.

“Hahahahahaha,” Haechan tertawa. “Kenapa jadi kamu yang lebih horny?”

“Habis megang your dick and I'm being impatient to feel it inside me.”

Kembali Haechan menyeringai. Ia beranjak dari kasur, berdiri di tepi dan membuka celananya hingga ia telanjang seperti Renjun. Tangannya meraih lubrikan dan kondom di laci nakas di samping kasur yang selalu siap sedia untuk aktivitas panas mereka.

“Kak Ren, coba tidurannya ngadep ke sana,” perintah Haechan.

“Hmm?” Renjun bingung. “Aku ngebelakangin kamu?”

Seraya naik lagi ke atas kasur dan rebahan di samping Renjun, Haechan mengangguk. “Iya, kamu ngebelakangin aku, kak. Nanti aku masukinnya enak dari belakang,” jelasnya.

'Ah, here comes Lee Haechie and his own way in having sex,' batin Renjun sambil tersenyum dan mengikuti perintah Haechan.

Kini Haechan baru saja selesai mengenakan kondom di penisnya. Ia menuangkan cairan lubrikan di jari telunjuknya, mengarahkannya ke lubang anal Renjun.

“Ahh nghhh, dingin, Chie,” ucap Renjun lirih ketika Haechan melumuri lubrikan itu di lubangnya.

Haechan tersenyum. Ia memeluk tubuh Renjun dengan tangan lainnya, mendekap erat hingga dagunya bertumpu pada bahu Renjun, mengecup telinga suaminya dari belakang.

Fuck, Haechan! Pelan, sayang, hnghh,” rintih Renjun ketika jari telunjuk Haechan menerobos analnya.

Sorry, but please bear with it, kak.”

Bisikan Haechan dengan suara rendahnya yang tepat di telinganya itu membuat Renjun bergidik. Belum lagi panggilan 'kak' yang diucapkan sempurna beriring desahan dari Haechan yang semakin meningkatkan libidonya.

“Chie, bisa langsung punya kamu aja ga yang masuk? I want your big dick so bad.”

“Iya, kak. Sabar, ini aku longgarin dulu sedikit.”

“Hnghh, jari kamu panjang banget, sshhh udah kerasa enak...”

“Jadi pake jari aku aja nih, kak? Udah enak kan?”

Renjun menggeleng cepat. “Ga mau, sayang. Ga mau jari kamuuu,” protes Renjun.

Haechan terkekeh geli dan akhirnya mengeluarkan jarinya dari anal Renjun. Ia kecup bahu Renjun sekilas sebelum akhirnya melumuri pelumas pada penisnya yang telah terbalut kondom.

“Tahan ya, kak.”

Renjun mengangguk.

Pelan-pelan, Haechan memasukkan penisnya ke dalam lubang Renjun. Ujung penisnya didorong, membuat Renjun mengernyit menahan sakit dan menggigit bibir bawahnya.

“Nghhh, it's really big.”

I know, kak. Tahan sedikit ya. Apa aku dorong aja?”

“Iya, coba dorong aja. I'll bear with the pain.”

“Yakin, kak?”

“Iya, sayang.”

Dan izin itu diindahkan oleh Haechan. Ia dorong cepat pinggulnya dan penisnya telah masuk sempurna di dalam anal Renjun.

“AHHHH! Shit gede banget, Chie. Sshhh...”

“Hahaha, kata kamu kan my big dick is your favorite.”

“Iya sih bener.”

Untuk mengalihkan rasa sakit Renjun, tubuh mungil itu dipeluk dengan erat oleh Haechan. Dua tangan kekar si gemini melingkar di pinggang Renjun, diikuti dengan kecupan-kecupan ringan di bahu dan leher Renjun.

“Kak Ren.”

“Iya, Haechieku?”

“Aku sayang banget sama kamu, kak.”

Renjun sedikit memundurkan tubuhnya. Tangannya mengelus lengan Haechan yang kini bertengger di perut ratanya. “Aku juga sayang banget sama kamu, Chie, nghh...” balasnya.

Haechan mengulum sekilas telinga Renjun dan kembali berbisik, “Kak Ren, do you know that your holy body is so addicted?

“Hahaha, I know. So does your body, Chie.”

Tangan Haechan mengelus perut Renjun dengan gerakan sensual. Lidahnya terjulur menjilat bahu Renjun seraya berujar, “Kak Renjunku seksi, ganteng, lubangnya ketat banget. Aku ga akan pernah bosen masukin lubang kakak terus. Mmhh, Kak Ren sayang, hmhh seksi...”

“AHH! Ahh...pelan-pelan, sayang. Sshh, Hae-chie...”

Sembari memuji Renjun, ternyata penis Haechan mulai bergerak di dalam lubang Renjun.

“Unghhh, aku seksi banget ya, Chie?” tanya Renjun disela desahannya.

“Seksi banget, kak. Hmhh Kak Renjunku yang paling seksi, paling enak digenjot, sshh...”

Dua pemuda itu semakin terangsang akibat pujian yang dilontarkan satu sama lain. Belum lagi tangan Haechan yang terus meremas paha Renjun serta penisnya.

“Ahh ahh, deeper, Haechie sayang...”

“Humm like this, kak?” Haechan menekan pinggulnya hingga ujung penisnya menyentuh prostat Renjun.

“Ahhh! Yess yessss gitu, Chie. Nghh damn enak banget!”

“Kak Ren, I really wanna break your tight hole.”

“Sshh please do it, Chie.”

“Kakak mau aku genjotin gini terus ya?”

Shit sshh mau nghh mauu bangettt.”

What if I break your hole when we are in our office? Gimana, kak? Sshh after everyone finished their work, aku genjotin kakak di atas meja kerja kakak sampe kakak teriak keenakan kayak sekarang.”

Seketika Renjun membayangkannya. Fantasinya dan fantasi Haechan memang kurang lebih sama. Ia sama seperti Haechan, menginginkan sex yang penuh tantangan dan melakukannya di ruangannya di kantor merupakan sesuatu yang memang pernah ia bayangkan.

“M-mau...mau, Chie. Hmhhh we should do this in my room.”

Got it, Kak Ren.”

Haechan menyeringai. Pinggulnya bergerak kian cepat, membentuk ritme berantakan, membiarkan penisnya menyentuh titik kenikmatan Renjun berulang kali hingga membuat suaminya berteriak nyaring.

“Ohhh fuck! Lee Haechan, aku mau keluar.”

Mendengar itu, Haechan segera mengocok penis Renjun dengan cepat. Ya, sudah sama cepatnya dengan dorongan penisnya pada anal Renjun.

“Haechie...ah ahh ahh! Shit...”

Renjun telah sampai pada putihnya. Cairan kental meleleh deras dari penisnya, mengotori tangan Haechan dan pahanya sendiri. Nafasnya tersengal, namun badannya masih senantiasa terhentak hebat.

“Aku sedikit lagi, sebentar ya, kak.”

Gerakan pinggul Haechan mendorong kuat dan cepat. Ritme yang tercipta pun terkesan kasar dan berantakan, membuat Renjun kewalahan karena tubuhnya memang sudah lemas.

“Chie, umhhh kamu kuat banget.”

“Aku mau keluar, kak.”

Tak lama, puncak kenikmatan Haechan telah berhasil ia raih. Sensasi hangat menjalar di penisnya yang mengeluarkan sperma dan tertampung di dalam karet pengaman. Pun Renjun merasakan hangat juga di lubang ketatnya yang kini terasa ngilu.

Thank you, Kak Ren,” ucap Haechan sembari mengeratkan pelukan dan mengecup bahu Renjun.

“Sama-sama, Haechanku.”

Keduanya sibuk mengatur nafas masing-masing. Pelukan Haechan kian erat dan terus mengelus perut Renjun. Begitu pula tangan Renjun yang mengusap lengan Haechan serta menyandarkan tubuhnya pada Haechan di belakangnya.

Beberapa menit berlalu, hingga Haechan mengeluarkan penisnya dari lubang Renjun. Seketika Renjun membalikkan tubuhnya, melihat Haechan yang melepaskan kondom dan membuangnya ke tempat sampah di samping ranjang.

“Jadi gimana barusan sex sambil manggil 'kakak' gitu?” Renjun terkekeh sambil memeluk Haechan.

“Hehehe,” Haechan nyengir dan masuk ke dalam dekapan Renjun, membiarkan kepalanya bersandar pada dada sang suami. “I like it. Kamu gimana?”

Renjun mengangguk dan mengecup puncak kepala Haechan. “Me too. Aku juga suka banget kamu manggil aku pake 'kakak' gitu sambil talk dirty. So sexy and romantic, my husband,” ujar Renjun.

Haechan mengangkat kepalanya, membuat Renjun menunduk. Bibir mereka bertaut dan saling melumat sekilas.

“Tunggu di sini, biar aku yang bersihin kali ini ya?” ucap Renjun dan Haechan pun mengangguk.

“Gapapa? Ga lemes kamunya? Lubangnya sakit ga? Kalo sakit, biar aku aj―”

“Udah ah, biar aku aja,” potong Renjun.

Si aries beranjak dari kasur, berjalan ke kamar mandi dan kembali sambil membawa handuk kecil yang sudah dibasahi. Ia membersihkan selangkangannya serta selangkangan Haechan. Tak lupa ia memberikan baju Haechan untuk dikenakan dan berjalan ke lemari untuk mengambil bajunya sendiri.

Done!” serunya seraya melempar handuknya ke sembarang arah.

Renjun kembali naik ke kasur, masuk ke dekapan Haechan, dan membiarkan suaminya memeluknya dengan erat.

“Mau tidur sekarang?” tanya Haechan.

“Ngga ah. Ayo kita nonton Netflix, Chie! Mumpung besok aku sama kamu cuti, hehehe.”

“Oke. Sini aku gendong ya.”

Renjun mengangguk dan langsung digendong oleh Haechan. Mereka kembali ke ruang tengah, tempat kegiatan panas tadi dimulai.

Tidak, mereka tidak melanjutkannya. Kali ini mereka memang menonton film sambil saling berpelukan erat, membiarkan malam kian larut tanpa meluruhkan cinta mereka hingga terlelah dengan saling mendekap.


END


schonewords


top haechan, bottom renjun

cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, nipples playing, hand job, blow job, fingering, anal sex, harsh words, dirty talks


2 jam yang lalu

“Donghyuck, ayo balik—”

“Mark hyung, duluan aja. Aku nginep di dorm dream malam ini. Mau tidur sama Renjun hehehe kangen.”

Dan di sinilah Haechan sekarang. Sosok yang lebih sering dipanggil Donghyuck oleh orang terdekatnya itu berada di dorm NCT Dream, tak mengindahkan ajakan Mark tadi yang mengajaknya pulang ke dorm NCT 127 seperti biasanya.

“Udah gangguin Jisung main gamenya?” Renjun bertanya sembari menengok ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Haechan.

Haechan nyengir. Langkah kakinya gontai dan kini terduduk di atas kasur, langsung memeluk pinggang kekasihnya—Renjun, yang sibuk memainkan ponselnya.

“Udah,” jawab Haechan sambil menumpukan dagunya pada bahu mungil Renjun. “Sekarang aku mau gangguin kamu.”

Renjun sempat melirik sebentar hingga netranya bertemu dengan manik bulat Haechan. Kepalanya menggeleng pelan. “Kalo ga gangguin orang tuh ga bisa ya, Hyuck?” tanyanya.

Gantian, kini Haechan yang menggeleng. “Ga bisa. Seru soalnya gangguin orang, apalagi gangguin kamu sama Jisung,” jawabnya santai.

Renjun hanya tersenyum tipis. Ponselnya kini diletakkan di atas nakas di samping kasur, memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Haechan. Secara otomatis tangannya langsung melingkar di leher Haechan, memeluk kekasihnya dengan erat, pun membuat Haechan mendekat tubuh mungil itu sama eratnya.

“Aku kangen banget sama kamu,” bisik Renjun lirih tepat di telinga Haechan.

Haechan tersenyum. Wajahnya tenggelam di leher Renjun, menghirup aroma khas tubuh kekasihnya yang sangat candu baginya. “Aku juga kangen banget sama kamu, sayang,” balas Haechan dengan sangat lembut.

Untuk beberapa detik sepasang kekasih itu hanya saling berpelukan, melepas rindu karena sempat terpisah jarak yang sangat jauh. Renjun dengan penuh kelembutan mengelus rambut Haechan, sedangkan Haechan tak berhenti mengusap punggung Renjun dan mengecup leher si lelaki aries itu.

“Kalo terus-terusan kamu cium gitu, aku bisa turn on, Hyuck,” gerutu Renjun disambut kekehan oleh Haechan.

“Ya, gapapa kan kalo turn on? Kayaknya udah agak lama juga kita ga ngelakuin ‘itu’ ya?”

Renjun melonggarkan pelukan. Sejenak ia tampak berpikir dan detik berikutnya ia mengangguk setuju. Sepertinya sudah lebih dari tiga minggu mereka tak bercinta. Sempat nyaris melakukannya ketika Renjun hendak berangkat beberapa hari yang lalu, namun terlanjur dilarang oleh Jeno dengan alasan, ‘Ga ada morning sex ya. Renjun nanti kecapekan, flightnya bakal lama.’

“Mikirin apa sih?” Haechan tergelak melihat ekspresi Renjun yang sangat lucu sambil memikirkan sesuatu.

“Hehehe, ngga,” jawab si mungil. “Eh, Hyuck.”

“Hm?”

“Tadi waktu lagi live, ngapain jilat tangan aku?” mata Renjun memicing menatap kekasihnya.

Senyuman tengil terulas di wajah Haechan. “Pengen aja, hehehe. Apapun yang ada di kamu tuh keliatan enak. Semua pokonya yang di badan kamu itu pasti…enak,” jawabnya diselingi tawa kecil.

Kembali Renjun menggelengkan kepala. “Ada-ada aj—”

Ucapan Renjun terhenti karena bibirnya mulai dicium oleh Haechan. Dua labium yang tertempel itu perlahan saling melumat lembut. Baik Haechan maupun Renjun berusaha untuk mendominasi pagutan mesra yang kian memanas itu.

“Hmmhh…”

Renjun melenguh. Ditangkupnya kedua pipi Haechan, diperdalam ciuman tersebut. Begitu pula Haechan yang menelusupkan tangannya ke dalam kaus milik Renjun dan mengelus pinggang ramping itu dengan lembut.

“Umhh…”

Kali ini Haechan meredam desahannya. Pasalnya, Renjun menghisap kuat bibir bagian atasnya, menggigitnya pelan, dan menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Haechan.

Sigap Haechan menghisap lidah Renjun. Ditariknya kuat, diemut, dan dililitkan dengan lidahnya. Pergulatan lidah mereka terjadi secara bergantian di dalam mulut Haechan dan Renjun.

“Sayang,” panggil Haechan ketika tautan bibir itu terlepas. Ibu jarinya mengusap bibir Renjun dengan gerakan sensual. “Boleh kita lakuin malam ini?”

Renjun tersenyum. Tak ada jawaban dalam bentuk tuturan, namun aksi yang dilakukannya sekarang telah menjadi jawaban. Jempol Haechan yang semula bertengger di bibirnya kini telah Renjun masukkan ke dalam mulutnya. Diemutnya pelan seolah menggoda ibu jari itu dengan membayangkan bagian tubuh Haechan yang lainlah yang kini di dalam mulutnya.

“Renjun—”

“Aku mau emut yang lain,” ujar Renjun memotong ucapan Haechan.

Haechan menyeringai. Tentu, ini jawabannya. Lampu hijau diberikan oleh Renjun agar mereka bisa melakukan kegiatan panas malam ini.

“Sebentar,” ucap Haechan.

Dia beranjak dari kasur. Kakinya berjalan untuk mengunci pintu dan kembali ke arah ranjang. Tepat di sisi ranjang dan dihadapan Renjun, Haechan berdiri.

“Mau emut kan?” tanyanya sembari mengelus kepala Renjun.

Posisi duduk Renjun telah berada di pinggir kasur. Wajahnya menghadap tepat di depan perut Haechan.

“Boleh?” tanya Renjun.

“Silakan, sayangku.”

Tangan Renjun langsung bergerak menurunkan celana putih Haechan serta dalamannya. Tidak, celana itu tidak diturunkan habis. Hanya sebatas paha Haechan saja untuk mengeluarkan kejantanan yang mulai menegang itu.

“Udah aku bersihin kok,” kata Haechan ketika melihat Renjun sempat menggigit bibirnya sendiri sambil menatap penis Haechan.

“Hehehe.”

Renjun menggenggam penis Haechan. Perlahan lidahnya terjulur dan mulai menjilat sekilas ujung kemaluan kekasihnya itu.

“Nghh,” lenguh Haechan.

Pelan-pelan lidah Renjun bergerak memutar membasahi ujung penis Haechan. Tak butuh waktu lama, batang besar itu mulai masuk ke dalam rongga hangat mulut Renjun.

Shibal…”

Haechan mengumpat. Jemarinya meremas dan menjambak pelan surai coklat Renjun. Kenikmatan jelas ia rasakan pada penisnya yang semakin tegang.

“Renjun, jangan dalem banget, sayang. Nanti sakit mulut kamu,” ucap Haechan pelan seraya mengelus rambut Renjun.

Tak diindahkan, Renjun justru semakin gencar memasukkan penis Haechan kian dalam. Tampaknya nafsu tengah menyelimuti Renjun dan sangat mendominasi, hingga tanpa sadar ia terus memasukkan penis Haechan di mulutnya dan, “Uhuk!”

“Sayang!” Haechan panik. “Aku kan udah bilang jangan dalem banget. Tuh jadi kena tenggorokannya kan.”

Penis itu dikeluarkan dari mulut Renjun, membuat Renjun terkekeh disela batuknya. “Aku cuma mau nyobain deep throat, Hyuck,” ucapnya.

“Kamu udah pernah nyoba. Ngapain dicoba lagi?”

“Enak.”

Bola mata Haechan melebar. Ia terkejut dengan jawaban Renjun. Jujur saja, dia suka. Haechan sangat suka, tapi ia juga tak ingin Renjun kesakitan.

“Udah ya? Jangan lagi,” tutur Haechan sembari merebahkan tubuh Renjun di kasur.

Kedua tangan Renjun mengalung di leher Haechan. “Kenapa? Kamu ga suka ya?” tanyanya.

“Aku suka, Njun. Tapi kasian kamu kesakitan gitu.”

Hati Renjun menghangat. Dia benar-benar semakin cinta dengan kekasihnya yang selalu penuh perhatian itu.

“Yaudah bikin sakit yang di bawah aja. Walaupun sakit kan itu enak, hehehe.”

Hush!”

Lagi-lagi Haechan dibikin kaget oleh Renjun.

“Mau, Hyuck.”

“Mau apa, sayang?”

“Mau dimasukin lubangnya. Itu punya kamu udah aku basahin loh.”

Haechan tertawa kecil. Dikecupnya lembut dahi Renjun sekilas. “Lube?” tanyanya.

“Di laci kayak biasa.”

Tanpa perlu beranjak dari kasur, tangan Haechan terjulur untuk membuka laci nakas di samping kasur Renjun. Sigap ia mengambil botol kecil yang berisi lubrikan serta sebungkus kondom di sampingnya.

“Aku buka ya?” tanya Haechan dan mendapat anggukan dari Renjun.

Haechan duduk di antara dia kaki Renjun yang mengangkang. Hoodie, baju kaus putih, serta celana Renjun semua langsung dilepaskan oleh Haechan. Tubuh putih, mulus, dan ramping itu terlihat sangat menggoda di depan Haechan. Belum lagi penis Renjun yang tegang kini tepat berada di hadapan Haechan.

“Seksi,” gumam si gemini membuat ariesnya tersipu.

“Kamu buka juga, sayang,” titah Renjun.

Maka dituruti oleh Haechan. Kaus putihnya beserta celana yang tadi telah diturunkan sedikit langsung ditanggalkan dari tubuhnya.

“Longgarin dulu ya,” ujar Haechan sambil melumuri lubrikan di jari telunjuknya.

Renjun mengangguk sembari kian melebarkan kedua kakinya. Haechan menelan ludahnya, menatap penis Renjun yang tegang dan lubang analnya yang merah.

“Tahan sakitnya.”

Haechan berbaring di samping Renjun, memeluk tubuh mungil itu dengan posisi menyamping. Jari telunjuknya perlahan mulai menyentuh lubang Renjun dan pelan-pelan menerobos masuk.

“Ahh, Donghyuckkk…”

Renjun mengernyitkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya. Haechan yang melihat itu mengeratkan pelukan, mengecup dahi Renjun, mengecup kedua matanya yang tertutup, mengecup kedua pipi, hidung, dagu, dan melumat sekilas bibir si aries.

“Ngilu ya?” tanya Haechan.

“Iyahh…”

“Udah masuk semua ini jari aku. Mau digerakin sekarang atau nanti?”

“Nanti.”

Renjun mencumbu bibir Haechan, berharap rasa sakitnya akan cepat teralihkan. Keduanya hanyut dalam pagutan mesra yang terus melumat itu. Saliva keduanya meleleh, mengalir di sudut bibir masing-masing.

“Coba, Hyuck.”

Haechan menggerakkan jari telunjuknya keluar dan memasukkannya kembali.

“Hnghh ahh…”

Renjun mendesah. Masih merasa ngilu, namun tak ingin terlalu ia rasakan.

Jari Haechan agak mempercepat tempo pergerakan. Keluar dan masuk dari anal Renjun lebih cepat guna membiasakan lubang itu untuk dimasukkan penisnya kelak.

“Hmhh enak, Hyuck…”

Beberapa menit berlalu. Lenguhan Renjun telah tergantikan dengan desahan nikmat yang meminta lebih.

“Hyuck, nghh masukin punya kamu sekaranggg.”

“Udah cukup longgar ini? Udah terbiasa?”

Renjun mengangguk.

Jari Haechan dikeluarkan. Ia pun terduduk di samping tubuh Renjun dan meraih kondom. Dengan menggunakan giginya, Haechan membuka bungkus karet pengaman itu, mengeluarkan dan segera mengenakannya di penisnya.

“Ugh seksi banget,” celetuk Renjun memandangi Haechan.

Haechan hanya menyeringai. Kini ia memposisikan diri di tengah antara kedua tungkai kurus Renjun.

“Siap?” tanyanya.

“Iya. Ayo masukin.”

Mendapat izin Renjun, Haechan langsung mengarahkan penis tegangnya ke lubang anal Renjun.

“Oh…shi— sshh pelan-pelan, Hyuck…”

“Nghh, tahan dulu sakitnya ya, sayang.”

Dorongan pelan terus Haechan lakukan. Sempitnya lubang Renjun itu membuat penisnya ngilu, namun tetap merasa nikmat seolah dipijat dengan sangat kuat.

“Ahhh!” Renjun menjerit ketika penis Haechan masuk sempurna di dalam lubang analnya.

“Ngilu?” tanya Haechan.

“Banget,” jawab Renjun. “Punya kamu ngilu juga ya pasti?”

Haechan mengangguk. “Sempit banget, sayang, makanya ngilu,” jawab Haechan.

Detik berikutnya, pinggul Haechan mulai bergerak pelan. Penisnya ditarik keluar dan didorong kembali ke dalam.

“Hmhh enak…”

Mendengar erangan nikmat lolos dari mulut Renjun, libido Haechan meningkat.

“Ketat banget, Njun.”

“Punya kamu besar, Haechanku sayang.”

Haechan terkekeh. Gerakan pinggulnya mulai dipercepat. Dilihatnya penisnya yang basah bersarang dengan pas di dalam lubang anal Renjun yang agak becek.

“Ahhh terusss ngh, lebih dalam lagi, Hyuck…”

“Gini?”

Haechan menghentak penisnya dengan kuat hingga menabrak prostat Renjun.

“AAHH! Shit enak banget! Ahh ahh terussss kayak gitu. Kenain lagi, Hyuckkk.”

“Mmhh mulai longgar, Renjunnn.”

Tangan Haechan memegang pinggang Renjun, dan satu tangan lainnya meremas paha si mungil. Penisnya terus dihentak kuat, menggenjot lubang anal Renjun, dan menggempur prostat Renjun terus-menerus.

“Donghyuck, nghh sshh aku mau diginiin terussss.”

“Diginiin gimana maksudnya, sayang?”

“Ahh…aku mau kamu genjot terus, Hyuck. Hmhhh aku udah nafsu banget tadi waktu latihan sshh lihat kamu pake sweat pants putih itu.”

“Hahaha,” Haechan sempat tergelak. “Emang kenapa aku pake celana itu?”

“Hmmhh punya kamu ‘kecetak’ jelas banget. Kelihatan gede. Terus nghhh kamu jilat tangan aku, bikin aku makin horny.”

Persetan dengan sakit yang Renjun rasakan, Haechan tak kuasa mendengar ucapan kotor yang jujur dari Renjun. Maka, penisnya digenjot lebih kuat di dalam lubang Renjun.

“AH AHHH! Pelanhhh sshh Haechan!”

Haechan menurunkan tubuhnya. Mulutnya mengarah ke puting Renjun yang belum ia jajah sama sekali sedari tadi.

Shibal! Ahhhh Lee Haechan!” Renjun memekik kuat.

Gempuran penis Haechan di bawah sana semakin kuat. Belum lagi kini mulutnya menghisap dua puting Renjun dengan kuat juga secara bergantian. Ditambah pula dengan tangan kanan Haechan yang mengocok penis Renjun.

Tak ada lagi yang bisa Renjun rasakan selain kenikmatan yang luar biasa. Nama Haechan terus ia gaungkan dengan meningkatnya nafsu mereka.

“Hy-hyuck…ahh Donghyuck!”

Renjun berteriak lega. Cairan putih kental menyembur, membasahi tangan Haechan.

“Enak, sayang? Udah lega?” tanya Haechan sembari mengangkat tubuhnya, menjilat cairan Renjun ditangannya.

“Enak banget, Hyuck. Nghh…”

Haechan masih setia menggenjot lubang Renjun. Hingga beberapa menit kemudian Haechan meneriakkan nama Renjun, “Fuck Renjun, aahhh…”

Haechan pun telah sampai pada puncak kenikmatannya. Tubuhnya dijatuhkan di sebelah tubuh Renjun setelah mengeluarkan penisnya.

“Humm,” Renjun menggumam dan langsung memeluk Haechan.

Keduanya saling berpelukan sembari mengatur nafas mereka yang tersengal. Tangan Haechan mengelus punggung Renjun dan Renjun mengecup dagu Haechan.

“Makasih, Hyuck.”

Haechan tersenyum dan mensejajarkan wajah mereka. Kecupan ringan dibubuhkan di bibir Renjun.

“Makasih juga, Renjun.”

Keduanya saling bertatapan lembut. Renjun pun mengecup kedua pipi Haechan dan mencubitnya pelan.

“Lain kali jangan jilat-jilat tangan aku pas lagi live gitu, Hyuck. Malu banget!”

“Hehehehe,” Haechan nyengir. “Berarti kalo ga lagi live, boleh kan?”

Renjun langsung kembali mencubit pipi Haechan. Keduanya tergelak bersama dan saling mendekap erat.

Rindu yang membuncah karena LDR kini dibayar tuntas. Ya, terbayar dengan ciuman, pelukan, bahkan sesi bercinta yang panas.


schonewords


cw // nsfw, mature content, bxb, video call sex, solo plays, nipple play, fingering, dirty talk, harsh words, local profanities


Membaca balasan pesan Gala, pastinya langsung bikin Gama senang bukan main. Dengan sigap, ia naik ke atas kasurnya yang luas, menyiapkan tisu di nakas samping ranjang, dan mengenakan tudung jaket hitamnya.

Tak lama, HP-nya berdering. Senyuman di wajah Gama kian melebar. Cepat-cepat diangkat panggilan video dari suaminya yang sedang jauh darinya itu.

“Ayaaang— ANJING! Gala, kamu lagi mandi di bathtub terus bawa HP?”

“Ya iyalah,” Gala menjawab dengan cepat. “Kalo mandi pake gayung, gimana mau sambil service nanti, mas?”

Jawaban Gala dengan santai begitu langsung mengundang gelak tawa dari Gama. Keduanya saling menatap cuma dari layar HP, tak seperti biasanya yang akan bertatapan langsung sembari saling berpelukan di atas kasur.

“Kamu kenapa pake jaket gitu, ay?” tanya Gala keheranan.

“Dingin, ayang. Jakarta hujan mulu nih, berasa banget dinginnya. Mana ga ada kamu lagi yang melukin.”

Dua sudut bibir Gala tertarik ke atas, membentuk senyuman manis yang diikuti dengan kekehan kecil. Gala selalu suka kalo Gama-nya manja seperti ini.

“Aku juga pengennya di sana, melukin kamu.”

Sejenak keduanya hanya saling bertukar pandang. Gala yang memperhatikan setiap sudut wajah Gama, sedangkan Gama yang mulai gagal fokus.

“Pengen isep leher kamu, Gal,” tutur Gama pelan ketika netranya menatap leher Gala yang terekspos.

Mendengar itu, Gala sengaja mengarahkan kamera depan HP-nya ke arah leher jenjangnya dengan gerakan perlahan. “Ini, ay?” tanyanya sambil mengelus leher itu dengan tangannya yang basah, membuat air mengalir di sana menciptakan sensasi sensual yang lebih meningkatkan libido Gama.

Gama tak menjawab. Ia hanya fokus melihat leher itu beserta bibir bawah Gala yang turut tersorot kamera. Pria gemini itu menjilat bibirnya, berharap yang ia jilat saat ini adalah labium suaminya.

“Gama.”

“Iya, ayang?”

“Mas Gama...”

“Iya, dek?”

Gala meletakkan HP-nya di pinggir bathtub dan tetap menyoroti setengah badannya yang tak tenggelam di dalam air. Ya, badannya telanjang, dari kepala hingga perutnya terlihat jelas, dan bagian bawahnya tertutup air dan busa.

“Mas Gama, kamu mau mainin ini kan?” tanya Gala seraya memainkan kedua putingnya.

Shit, Gala...”

Gala mengelus kedua putingnya secara bersamaan. Sesekali ia akan menjepit dan memelintir salah satu puting secara bergantian. Kegiatan yang ia lakukan sendiri ini membuatnya mulai mengeluarkan desahan-desahan yang sangat menggoda masuk ke telinga Gama.

“Hnghh, Mas Gamahh...mau dimainin nenennya sama kamu hmhh mau diisep jugaaaah.”

Racauan Gala di tengah desahannya itu membuat Gama semakin menatap lekat layar ponselnya. Tangannya yang terbebas mulai masuk ke dalam bajunya, bergerak ke dadanya, dan ia pun mengelus putingnya sendiri.

“Mas Gama, liat niiih, nenen aku udah tegang giniiii. Pengen banget diisepin sama Mas Gama.”

“Iya, sayang. Besok kalo kamu udah pulang, aku isep ya nenennya.”

“Yang kuat ya ngisepnya, mas.”

“Iya, ayangku.”

Netra Gama terlihat sayu menatapi sang suami yang tengah terpejam memainkan putingnya sendiri. Gala tak henti-hentinya mendesah menggaungkan keinginannya akan tangan Gama yang menyentuhnya.

“Dek Gala.”

“I-iya, mas?”

“Mau nenen.”

Hanya dua kata yang diucapkan Gama dengan suara rendahnya itu, mampu membuat birahi Gala semakin meningkat drastis. Ia mendudukkan dirinya lebih dekat dengan tempat HP-nya disandarkan. Dadanya dibusungkan guna menunjukkan putingnya tepat di depan kamera.

“Ini, Mas Gama. Hmmm aku bayangin Mas Gama sekarang ngemut nenen aku, mainin lidahnya di sini, terus ngisep nenennya kuat banget kayak bayi. Ugh bayi gedenya akuuuu,” Gala menarik-narik pelan putingnya tepat di depan kamera sembari berkata demikian dengan suaranya yang serak.

Mulut Gama sedikit terbuka. Napasnya memburu cepat ketika menangkap pemandangan puting Gala yang mencuat di layar ponselnya. Kepalanya kini membayangkan betapa nikmatnya jika ia bisa langsung melahap tonjolan mungil itu dan menghisapnya dengan sekuat tenaga hingga Gala akan merintih kesakitan dan kenikmatan.

“Iya, ayang. Aku isep kuat ya nenennya. Aku isepin, aku gigit sedikit, sambil tangan aku mainin pantat kamu kayak biasanya.”

“Umhh mauuuu. Terus aku sambil mainin kontol kamu ya.”

Kedua iris mata Gama membelalak lebar. Apa yang baru aja dia denger? Gala ngomong apa?

“Ayang, tadi ngomong ap—”

“Mau nenenin sambil mainin kontol kamu, ayangggg,” Gala mengulangi.

Seringaian terulas di wajah Gama. Dengan suara rendahnya, ia berujar kepada suaminya, “Terusin ngomong kotornya, Gal.”

Gala sempat tertawa kecil mendengarnya. Ia kembali menjauh dari HP, duduk bersandar lagi di dalam bathtub.

Kini kaki kanannya ia tekuk, sehingga pahanya terlihat di layar ponsel Gama. Tangan mungilnya mengelus pahanya sendiri hingga ke bagian dalam.

“Mas Gama, ini enak banget biasanya kalo kamu yang ngelus.”

Gama kembali menyeringai. “Sambil diremes juga kan, ay, biar makin enak,” ujar Gama menambahkan.

“Iya, mas. Humhh pengen deh tangan kamu yang ngelus gini.”

“Coba ayang tutup lagi matanya,” perintah Gama dan langsung dituruti oleh Gala. “Bayangin itu tangan aku yang ngelus, ay. Mulai dari atas ke bawah, terus ke dalam, diremes sedikit. Naik lagi pelan-pelan ke atas—”

“Ahhh...”

Belum selesai Gama memberikan titah, Gala sudah mendesah nikmat. Tangannya melakukan sesuai yang dikatakan oleh Gama hingga tak sengaja menyenggol salah satu bola kembarnya. Desahannya terbit, membuat alis Gama terangkat sebelah dengan senyum puas yang merekah.

“Naik lagi elusannya, ayang. Touch your ball.”

“Mhh, u-udah, masss...”

Good boy. Duduknya benerin dulu, biar aku bisa liat ke bagian bawah. Itu ketutup air.”

Sekali lagi Gala mengikuti perintah Gama. Ia menegakkan duduknya, sehingga penisnya yang menegang sedikit mencuat ke permukaan air.

Gama di seberang sana pun tengah menurunkan celananya. Kejantanannya langsung terbebas dan tegak sempurna. Tangannya pun sigap membungkus penisnya sendiri dan mengusapnya pelan.

“Mas Gama habis ngapain?” Gala bertanya ketika membuka matanya dan melihat ekspresi Gama yang merasa lega.

“Abis nurunin celana, ayang.”

“Mau liat kontol gedenya Mas Gama,” ujar Gala dengan nada manja.

Siapalah Gama yang mampu menolak keinginan suami tercintanya itu? Tentu saja langsung ia turuti. Gama mengganti kamera HP-nya ke bagian belakang dan langsung memperlihatkan penis tegangnya di layar HP Gala.

“Hum mau, mas...”

“Mau apa, Dek Gala?” Gama bertanya dengan nada menggoda.

“Mau sepongin kontol Mas Gama, mau dimasukin juga lubang aku sama kontol gede ituuuu.”

Kepala Gama terasa pusing mendengar ucapan Gala yang sangat frontal itu. Ia sedikit heran karena Gala tidak biasanya berbicara segamblang itu ketika mereka bercinta. Entah kenapa kali ini suami mungilnya itu sangat berani, padahal yang pertama mereka horny jelas-jelas Gama hingga mereka berakhir melakukan video call ini.

“Coba liatin lubang kamu yang sempit itu, ay.”

Walaupun tubuhnya sedikit lemas, Gala berusaha untuk sedikit beranjak. Ia membalikkan tubuhnya dan menungging, membiarkan lubangnya dipertontonkan secara langsung ke arah kamera HP.

Gama menelan ludahnya kasar. Layar ponselnya kini penuh dengan pantat Gala dan lubangnya yang memerah. Belum lagi Gala melebarkan belahan pantatnya agar lubang analnya semakin terekspos dengan jelas, membuat Gama semakin tak kuasa menahan napsunya.

“Gala sayang,” panggil Gama membuat Gala menoleh. “Liat nih kontol aku makin tegang liat lubang kamu tuh.”

Gala terkekeh pelan. Memang yang kini terlihat di layar HP Gala adalah kejantanan Gama yang semakin menegang, sedangkan di layar HP Gama terlihat lubang Gala yang seolah memanggil untuk diberikan servis terbaik saat ini.

“Sempit banget tu lubang kayaknya.”

“Hmm iya dong. Udah dua minggu ga dimasukin kontol gedenya Mas Gama.”

Dua pria itu tertawa kecil bersamaan.

“Mas, kontol kamu makin gede itu. Enak banget kayaknya kalo dimasukin ke lubang aku yang sempit ini,” Gala mengelus lubang analnya dengan gerakan pelan dan sensual.

“Iya, ayang. Aku bikin longgar itu lubang ya.”

“Umhh, mau banget, Gamaaaa.”

Gama pelan-pelan mulai mengocok penisnya. Di dalam otaknya kini terbayang bagaimana penisnya mencoba masuk ke dalam lubang sempit Gala dan menerobosnya dengan kuat.

“Gala sayang, masukin jari kamu coba.”

Gala sedikit kebingungan. Pasalnya, ia tak membawa lubrikan ke dalam kamar mandi. Cairan itu ada di dalam kopernya dan sekarang ia tak ingin keluar dari bathtub. Matanya tertuju pada botol sabun yang ada di dekatnya dan langsung mengambilnya.

“Buruan, ayang,” rengek Gama.

“Iya sabar, sayangkuuuu.”

Jari telunjuk Gala sudah dibaluri sabun. Ia oleskan pada lubangnya, digosoknya perlahan di sana sembari imajinasinya membayangkan jari Gama-lah yang bergerak di sana.

“A-ah...Mas Gamahh...”

“Bisa, dek?”

“Nghh susah...”

“Pelan-pelan aja.”

Gala perlahan memasukkan jarinya dengan susah payah. Ia tidak terlalu suka memberikan servis kepada dirinya sendiri selama ini, makanya sekarang si artis terkenal itu jadi kesulitan.

“Sayang, liat sini,” pinta Gama dan Gala menoleh menurut. “Nih liat kontol aku. Bayangin ini lagi masuk ke situ pelan-pelan. Tahan sakitnya, ayang. Nanti kan bakal enak.”

Fuck,” umpat Gala.

Agak lama Gala berusaha hingga akhirnya jari telunjuknya berhasil masuk. Kakinya lemas, membuatnya kewalahan untuk bertahan dengan posisi menungging seperti ini.

Nice, ayangku. Diemin aja dulu.”

“Aneh, Gam.”

“Nanti terbiasa kok. Kalo lemes, coba duduk aja di pinggir bathtub itu, terus kamu sandaran di dindingnya, ya?”

Gala mengangguk dan mengikuti saran Gama. Ia mendekatkan posisi HP dengan tempat ia duduk sekarang. Punggungnya bersandar dengan setengah kakinya yang masih tenggelam di dalam bathtub. Oh, tentunya jarinya masih setia di dalam analnya.

“Mau coba digerakin?” tanya Gama lembut.

Gala kembali mengangguk. “Huum, tapi kamu sambil ngocokin kontol kamu juga ya, Gam?”

“Oke, sayangku.”

Dengan perlahan, Gala mencoba menggerakkan jarinya. Sangat hati-hati ia mengeluarkan jarinya setengah dan memasukkannya lagi.

“Ohh...shit, Gamahhh. I need your dick more now.”

Gama terkekeh sembari tangannya pun memijat pelan penisnya. “Aku juga mau banget masukin lubang kamu, ay.”

“Nghh, Gamaahhh...”

Gala tampak mulai menikmati permainannya sendiri. Ia mulai lihai dan ritme jarinya pun mulai teratur bermain di lubang analnya.

“Gala-nya Gama pinter banget. Iya gitu, sayang. Enak?”

“Humhh, enakkk...”

Gama menggigit bibir bawahnya. Netranya yang sayu tak lepas dari layar HP. Sungguh ia ingin sekali menggantikan jari Gala dengan penis besarnya.

“Umhh, Mas Gama, kalo ditambahin bakal sakit ga ya?”

“Cobain aja, ayang.”

Gala mengeluarkan jarinya dan kembali membalurnya dengan sabun. Kini tak hanya jari telunjuk, melainkan ditambahkan dengan jari tengahnya.

“Pelan-pelan, Gala,” ucap Gama dengan lembut.

Perlahan Gala coba masukkan dua jarinya. Dahinya mengernyit, kepalanya menengadah, dan mulutnya terbuka sembari terus mendesahkan nama Gama.

“Ahh...Gamhh...”

Sudah masuk sempurna kedua jarinya di dalam analnya.

“Seksi banget suami aku,” Gama mendesis memberikan pujian ketika melihat Gala perlahan menggerakkan jarinya.

Wajah Gala sudah merah, begitu pula bibirnya yang beberapa kali ia gigit ketika menahan sakit. Di lain tempat, Gama pun sama. Ekspresinya sudah kepalang merah penuh napsu dan pergerakan tangannya pada penisnya sendiri sudah semakin cepat.

“Gala sayang, hmhh Gala-nya Gama yang cantik, seksi, pinter, sshh liat lubang kamu merah banget, ay. Padahal baru dimasukin jari doang.”

“Humhh, Gamahhh ahh, Gamahh, mau kontol kamu sshh mau kontol gede kamu masuk sini, Gammm.”

“Iya, ayangku. Nanti kamu pulang ke Jakarta, aku masukin kontol aku ke situ ya? Aku masukin sampe mentok banget, sampe kamu teriak minta aku genjot cepat.”

“Mauhh, hnghhh mau bangetttt.”

Gala semakin cepat memberi servis lubangnya, begitu pula Gama yang kian brutal mengocok penisnya. Keduanya terus mendesah, memekikkan nama satu sama lain yang kini raganya tengah berjauhan.

“Gama, aku keluarrrr...ahhh!”

Teriakan Gala nyaring terdengar bersamaan cairan putihnya keluar. Spermanya mengalir dan masuk ke dalam bathtub, mengotori air mandi yang sudah dicampur sabun itu.

“Aku dikit lagi, ay,” gumam Gama. “Keluarin jari kamu, aku mau liat lubang kamu, Gal.”

Jari Gala telah dikeluarkan, membuat lubangnya kini terasa hampa dan sedikit longgar. Pemandangan itu tertangkap di layar HP Gama dengan jelas, membuatnya semakin mempercepat gerakan tangannya di penisnya.

Fuck ahh, Gala...”

Gama pun sampai di puncak kenikmatannya. Cairan kental itu mengotori tangannya yang langsung cepat ia usap dengan tisu.

Napas keduanya terengah. Gala meraih ponselnya, dan Gama merubah kameranya ke kamera depan dan menunjukkan wajah lemasnya.

How was it?” tanya Gama dengan senyum tipis.

Not bad, tapi tetep aja kurang puas kalo ga dimasukin punya kamu.”

“Loh,” Gama terkekeh. “Kok ga frontal lagi nyebutnya?”

“Maluuuu!” seru Gala, membuat Gama tergelak.

“Ganti dulu air bathtubnya, ay, atau mandi pake shower aja.”

Gala mengangguk. “Iya, nanti dulu. Aku masih lemes,” ujarnya.

Gama duduk bersandar pada headboard kasur. Diperhatikannya wajah sang suami yang tersenyum tipis pula kepadanya.

“Cepet pulang ya, suamiku,” ujarnya lembut. “Ga enak banget aku tidur ga meluk kamu.”

Gala mengangguk lucu. “Iya, ayang. Tunggu ya dua hari lagi mungkin bisa pulang. Semoga aja shootingnya bisa kelar besok. Aku juga kangen bobonya dipelukin sama kamu.”

“Ya udah sekarang ayang mandi ya? Habis itu pake piyamanya yang anget, bobo selimutan, AC-nya jangan dingin banget.”

“Oke, ayang!” seru Gala. “Gama-ku juga ya. Jaketnya dipake yang bener, terus tetep pake selimut biar ga kedinginan.”

“Iya, sayang. Nanti sehabis mandi kabarin ya?”

“Oke, mas suami.”

“Aku matiin dulu telfonnya ya? Love you, Gala-nya Gama.”

Love you too, Gama-nya Gala.”


schonewords


cw // nsfw, mature content, boys sex, switch position, kissing, hand job, anal sex, blow job, dirty talk, harsh words


“Chie, yakin ga?” Renjun bertanya sembari menatap Haechan di bawah kungkungannya.

Haechan terkekeh. Ia mengusap pipi suaminya yang kini berada di atasnya itu.

“Ini kita udah telanjang, udah pemanasan dari tadi, kamu tinggal masukin aja loh, sayang,” jawab Haechan.

Renjun nyengir. Pasalnya memang keduanya sudah melakukan foreplay selama lebih dari setengah jam. Mulai dari berciuman, saling menghisap puting satu sama lain, mengulum penis satu sama lain, hingga akhirnya siap untuk bagian inti. Bahkan penis Renjun kini sudah terbungkus oleh kondom yang dibaluri lubrikan.

“Ini kayaknya kamu yang ga yakin deh, Ren,” ujar Haechan terkekeh lagi.

Bibir Renjun maju diikuti dengusan napas pelannya. “Ya, ini bakal jadi pertama kali aku yang masukin. Biasanya kan aku dimasukin terus,” gerutunya.

Tangan Haechan mengelus pinggang Renjun. Perlahan tangannya mulai menyentuh penis Renjun lagi.

“Aku bantu ya?” tawar Haechan.

“Chie, nanti kamu bakal kesakitan loh.”

“Aku bisa tahan,” balasnya. “Sama kayak kamu, aku juga penasaran switch gini. Jadi, gapapa.I'll bear with the pain. Don't worry, sayang.”

Netra mereka saling bertatapan. Renjun pun mulai yakin.

Degupan jantung keduanya berdebar cepat seiring perlahan Renjun mengarahkan penisnya ke lubang anal Haechan. Tangan Haechan pun masih setia menggenggam penis Renjun agar terus terarah ke lubangnya.

“Nghh,” Haechan melenguh tatkala merasa ujung penis Renjun mulai mencoba menerobos masuk lubangnya.

“Sakit kan?” tanya Renjun khawatir.

Kepala Haechan menggeleng. “Terusin aja, sayang. Bisa ditahan kok,” jawabnya.

Renjun kembali mendorong pelan pinggulnya. Penisnya terasa ngilu karena diapit oleh lubang sempit milik Haechan.

“C-Chie, kayaknya aku ga bisa, nghh.”

“Bisa, sayang. Sshh, bisa kok. Pelan-pelan ajahhh.”

Keduanya sama-sama menahan sakit. Sesekali desisan rintih rasa perih lolos dari mulut keduanya, hingga akhirnya Renjun berhasil memasukkan penisnya ke dalam lubang anal Haechan.

“A-ahh...”

“Mhh...”

Haechan dan Renjun berpelukan, membiarkan penis Renjun terbiasa di dalam lubang Haechan. Telinga Renjun dikecup dan diemut oleh Haechan, sedangkan Renjun menghisap leher Haechan, meninggalkan banyak bekas kemerahan di sana.

“Ren, coba gerakin.”

Dengan sedikit ragu, Renjun mencoba menarik penisnya keluar perlahan dan memasukkannya kembali.

“Arghh, iya begitu, sayang.”

“Hnghh, ga bisa, Chie.”

“Bisa. Ayo lagi.”

Pelan-pelan Renjun terus mencoba menggerakkan pinggulnya. Penisnya mulai menggenjot lubang Haechan dan membiarkan dua anak adam itu merasakan sensasi asing tersebut menyengat seluruh tubuh mereka.

“Mhh deeper, Ren.”

Penis Renjun masuk lebih dalam dengan ritme yang mulai lebih cepat. Prostat Haechan pun berhasil disentuh, membuat si gemini menjerit nikmat.

“Ah! Yes, over there, Ren.”

“Nghh sempit, Chie.”

“Oh fuck! This is surprisingly good.”

“Umhh yes, yesss! It feels warm inside you, Chie.”

Tempo pergerakan genjotan penis Renjun semakin cepat dan liar. Dua pemuda itu mendesah kian kuat, menjeritkan kenikmatan dengan menggaungkan nama satu sama lain. Perasaan yang aneh tadi kini telah mulai terbiasa mereka rasakan.

“Haechie, ahh ahh shit, your hole is so damn tight!”

“Hnghh terus, Ren, terussss. Tusuk terus di situuu sshh deeper, Renjunnn.”

Aktivitas panas itu semakin memberikan kenikmatan untuk mereka. Mendengar desahan Haechan yang keenakan, Renjun pun menjadi lebih semangat menggenjot hingga ia mencapai putihnya terlebih dahulu.

“C-Chie! Ahhh!”

Sperma Renjun tertampung di karet pengaman. Semburan yang tak bocor itu tetap menciptakan sensasi hangat di lubang Haechan.

“Hahaha,” Haechan tertawa geli. “Aku belum keluar loh, sayang. Gimana ini? Kamunya pasti udah lemes mau genjot.”

Renjun mengangguk, namun kepalanya terbesit ide. Ia keluarkan penisnya dan turun untuk duduk di antara dua kaki Haechan yang terbuka lebar.

Please come inside my mouth if you reach it later,” ujar Renjun sebelum mulai mengulum penis Haechan.

Fuck. Ahhh my husband is so naughty.”

Mendengar pujian itu, Renjun pun mengemut penis Haechan kian dalam. Lidahnya sesekali berputar di pucuk kejantanan besar itu. Dua bola kembarnya diremas kuat, hingga membuat Haechan menjerit kuat.

“Huang Renjun, arghh! Sshh you're so good at this.”

Of course I am.”

Ia melanjutkan kegiatan mengulum penis Haechan. Dihisapnya kuat, dikocok, dan diremas. Renjun semakin liar, sedangkan Haechan tentu semakin gila mendapatkan perlakuan tersebut.

“Ren, mau keluar...”

“Keluarin di mulut aku, Chie.”

Haechan mendorong tubuh Renjun. Ia memposisikan Renjun untuk duduk, sedangkan kini si gemini bertumpu pada kedua lututnya. Penisnya yang telah menegang itu menampar bibir Renjun.

Di hadapannya, Renjun telah terduduk manis. Tangannya memegang penis Haechan dan lidahnya terjulur keluar.

“Keluarin, Chie.”

Here you go, hubby, ahhh.”

Haechan menyemprotkan spermanya di lidah Renjun yang terjulur. Dengan cepat Renjun menampung, menjilat, dan menelannya.

“Jangan ditelan semua,” ujar Haechan sembari meraih tisu dan membiarkan sisa spermanya tertampung di tisu tersebut.

Renjun segera berbaring telentang. Tubuhnya lemas, penuh peluh, dan juga bercak merah di sekitar leher dan dada. Sungguh pemandangan yang indah bagi Haechan.

“Aku bukain dulu ini ya,” ujar Haechan seraya melepaskan kondom di penis Renjun, mengikatnya, dan membuangnya.

Haechan membersihkan penis Renjun dan juga penisnya sebelum berbaring di sebelah suaminya itu. Ia rengkuh tubuh mungil disampingnya dan langsung mendapat balasan pelukan.

“Gimana? Udah ga penasaran?” tanya Haechan sembari mengelus kepala Renjun.

“Udah,” jawab Renjun. “Aneh, Chie. Aku ga biasa.”

“Ga enak?”

Kepala Renjun menggeleng. “Enak sih, tapi aku kurang menikmati. I prefer ditusuk aja deh walaupun sakit,” gerutunya dengan bibir yang maju.

Haechan tergelak geli. Ia pun mengusap keringat dari dahi Renjun dan mengecupnya sekilas. “Gapapa, karena baru sekali itu makanya kamu ga menikmati. Kapan-kapan dicoba lagi deh. Mau?” tanya Haechan lembut.

“Mau mungkin, hehehe.”

Dagu Renjun diangkat oleh Haechan agar si gemini dapat mencium bibirnya dengan mudah. Lumatan pada bibir Renjun diberikan sekilas dan diakhiri dengan jilatan sensual.

“Kalau udah ga capek lagi, kasih tahu,” ujar Haechan sambil saling bertatapan dengan Renjun. Ia kemudian berbisik, “Gantian, I want to be inside you because you said you prefer ditusuk.”

Renjun tersenyum geli dan mengangguk. Ia mengecup pipi Haechan, kemudian mengeratkan pelukan.

Gimme 30 minutes to take a rest and after that, please break my hole, Mr. Romantic.”


schonewords


cw // nsfw, mature content, boys sex, kissing, hickey, nipples play, oral sex, fingering, anal sex, harsh words


“Wangi banget yang habis mandi,” ujar Haechan seraya memeluk tubuh Renjun dari belakang.

Renjun yang tengah berdiri di balkon kamar hotel itu pun tersenyum. Tangannya mengusap lengan Haechan yang melingkar di pinggangnya. Ia pun mampu merasakan deruan napas Haechan di lehernya karena wajah si gemini itu memang menghadap ke sana.

“Ren,” panggil Haechan pelan.

“Ya?”

Haechan tak menjawab. Ia justru mengecup lembut leher Renjun. Kedua lengannya semakin erat memeluk pinggang ramping Renjun tatkala ia memberanikan diri menggigit kecil dan menghisap pelan leher mulus kekasihnya tersebut.

“Nghh, Chie,” Renjun melenguh karena merasa geli di lehernya.

Lagi Haechan hisap leher Renjun pada spot yang berbeda, dan mengulanginya beberapa kali. Lenguhan pun terus-menerus lolos dari mulut Renjun, membuatnya menutup matanya, hingga ia meremat lengan Haechan.

“C-Chie...”

Renjun membalikkan tubuhnya, membuat Haechan dengan terpaksa melepaskan pelukan dan mengangkat wajahnya. Ekspresinya kini hanya tersenyum tanpa berdosa, sedangkan wajah Renjun sudah sangat merah, sama seperti lehernya.

“Ngapain?” tanya Renjun dengan mata yang membelalak.

Haechan terkekeh, “Heheheh. Pengen aja, Ren.”

Kepala Renjun menggeleng, namun senyuman terulas di wajahnya. Kedua tangannya mengalung di leher Haechan. Bibirnya mengecup bibir Haechan sekilas dan kembali tersenyum.

You want something, right? Makanya kamu ngajakin aku staycation gini,” ujar Renjun diselingi tawa kecil.

Haechan pun tertawa. Ah, sepertinya semua akal-akalannya sudah terbaca. Maka ia mengangguk, membenarkan dugaan dari kekasihnya seraya melingkarkan kembali lengannya di pinggang Renjun.

What we did that night in front of your house keep haunting me,” jawab Haechan dengan nada yang lembut dan tangan yang mengelus sisi pinggang Renjun. Ia dekatkan bibir ke telinga Renjun untuk berbisik, “I want more.”

Kedua iris mata Renjun melebar, pun dengan senyumannya. Tanpa berucap lagi, Renjun menangkup pipi Haechan, memagut bibir kekasihnya hingga mereka tenggelam dalam ciuman yang kian panas. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Tautan bibir kerap terlepas namun kembali bersatu diiringi dengan saliva yang membasahi pinggiran labium keduanya.

“Ren, kita masuk ke dalam ya.”


“Ahh, Chie,” desahan Renjun mulai menggema di kamar.

Tubuh si mungil itu terlentang dengan kemeja yang tak lagi menempel di tubuhnya. Kekasihnya tengah sibuk di atas badannya, memainkan lidah di putingnya, dan sesekali menghisapnya kuat. Tangan Renjun pun hanya bisa menjambak pelan rambut Haechan untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

“Ren,” Haechan menatap Renjun ketika mensejajarkan wajah mereka. “We don't need to do this if you don't want to.”

Renjun tersenyum lembut. Tangannya mengelus pipi Haechan, merapikan rambut sang kekasih pula. “I'm half-naked already, gimana ceritanya aku ga mau? Lagian, it's almost a year of our relationship, kok kita belum pernah ngelakuin itu sekali pun ya?” pertanyaan berlapis itu Renjun ucapkan dengan lembut namun terdengar sensual.

“Iya juga ya, hahaha,” tanggap Haechan.

Dahi Renjun dikecup oleh Haechan. Ia menatap Renjun dengan tatapan yang teduh dan ibu jarinya yang mengelus pipi si mungil dengan lembut.

“Sayang,” panggil Haechan. “Aku mau nanya sesuatu. Semoga ga aneh.”

Alis Renjun terangkat. “Nanya apa?” tanyanya heran.

Dengan volume suara yang kecil dan suaranya yang memberat, Haechan berbisik, “Which one do you prefer, me inside you or you inside me?”

Mendengar pertanyaan itu, pipi Renjun bersemu merah muda. Ia mengalihkan pandangannya dari Haechan, membuat Haechan terkekeh geli melihat kekasihnya yang salah tingkat. Tetapi Haechan justru kembali mengelus pipi Renjun, mengecupnya ringan, hingga Renjun kembali berani menatapnya.

“Pilih yang mana? I'm quite flexible with it, so you decide it,” ucap Haechan.

“Hmm,” Renjun mulai bersuara. “I want you inside me.”

Haechan mengangguk mendengar jawaban Renjun. Ia menyempatkan diri beranjak dari kasur untuk mengambil pengaman dan cairan pelumas yang ternyata telah ia bawa di kopernya. Renjun yang menatap itu hanya bisa tertawa karena tak menyangka kekasihnya telah mempersiapkan itu semua.

Detik berikutnya Haechan telah menanggalkan seluruh kain yang melekat pada tubuhnya dan tubuh Renjun. Sentuhan ringan ia paparkan pada setiap inci kulit mulu Renjun dari atas hingga ke bawah.

I love you,” bisik Haechan ketika ia mengecup dahi Renjun, turun ke kedua matanya, kedua pipi gembulnya, pucuk hidungnya, dagu, dan berakhir dengan melumat sekilas bibir Renjun. “I love you so much, Ren.”

Hati Renjun menghangat. Ia memeluk Haechan kian erat, mengusalkan hidungnya pada leher kekasihnya. “Mmmhh, I love you more, Chie,” lenguh Renjun karena di antara pelukan itu, Haechan tengah menggesekkan penis mereka berdua.

“Nghh,” Haechan pun melenguh. “This one makes me crazy already.”

Me too.”

Haechan melepaskan pelukan. Ia duduk di antara dua tungkai Renjun yang terbuka. Ia pegang penis Renjun, mengocoknya pelan, hingga ia menunduk dan memasukkanya ke dalam mulutnya.

“Ahhh, Chie!” jerit Renjun merasakan nikmat.

Matanya sempat tertutup dan kepalanya menengadah. Beberapa detik berikutnya, ia menunduk dan membuka matanya, bertemu tatap dengan Haechan yang melihatnya dengan mulut yang penuh tengah mengulum kejantanannya.

Fuck, you look so sexy from up here, Chie.”

Haechan hanya tersenyum tipis. Ia masih terus memberi servis kepada kejantanan Renjun selama beberapa menit sebelum akhirnya ia sudahi.

“Udah tegang nih punya kamu,” ujar Haechan.

Should I do the same to yours?” tanya Renjun terengah-engah.

Haechan menggeleng. “Mainin pake tangan aja sebentar menjelang aku siapin lubang kamu,” jawabnya.

Renjun mengangguk setuju. Haechan memutuskan untuk berbaring di sebelah Renjun dengan posisi menyamping. Ia biarkan tangan Renjun langsung memijat penisnya.

“Sshh, cepet banget tangannya.”

“Hehehe,” Renjun tertawa kecil. “Udah tegang juga ini.”

Mereka terkekeh bersama. Haechan melumuri cairan lubrikan pada jari telunjuknya dan di sekitar lubang anal Renjun. Keduanya kembali saling memagut bibir sembari tangan mereka memanjakan satu sama lain di bawah sana.

“Hmphh,” desahan Haechan teredam di ciuman mereka.

“Mmh!” Renjun ingin berteriak disela ciumannya ketika jari telunjuk Haechan berhasil masuk lubangnya.

“Chie, perih,” ciuman dilepaskan sehingga si mungil merintih dan tangannya tak lagi memberi servis pada kejantanan Haechan.

“Sebentar, biar nanti ga kaget aku masukin.”

Ini bukanlah pengalaman pertama mereka dalam bercinta, namun tentu ini pertama kalinya mereka melakukannya bersama. Sudah lama keduanya tak melakukannya, hingga terasa asing.

“Ahh, Chie, pelanhh...”

Jari telunjuk Haechan keluar dan masuk pada tempo teratur. Keduanya saling bertatapan dan sekali-kali memagut bibir lagi. Renjun tak segan menyembunyikan wajahnya di leher Haechan dan memberikan tanda merah di sana.

“Ahh, Ren.”

Setelah cukup lama, Haechan mengeluarkan jarinya ketika Renjun tengah asyik mengemut puting Haechan. Tangannya mengelus surai gelap Renjun dan mengecup pelipisnya. “Enough? Aku masukin sekarang boleh ga?” tanyanya lembut.

Renjun mengangguk, membuat Haechan duduk dan meraih sebungkus kondom. Tangan Renjun mengambil bungkus tersebut membuat Haechan mengernyit heran.

“Aku aja yang pakein, Chie,” ucap Renjun.

Bungkus kondom itu dibuka dengan menggunakan gigi oleh Renjun. Dengan posisinya yang masih terbaring, ia membungkus penis Haechan yang sudah menegang sempurna.

“Udah,” Renjun tersenyum. “Now please put it inside me, Chie.”

Mendengar titah Renjun tersebut, Haechan langsung mengambil posisi setelah melumuri penisnya itu dengan lubrikan. Ia merebahkan dirinya setengah menindih Renjun di atas tubuh mungil itu. Tangannya mulai memasukkan penisnya ke lubang anal Renjun.

“A-ahh...Chie, nghh, sakit,” rintih Renjun.

Haechan mengecup pipi Renjun berulang kali. “Tahan sebentar, sayang,” ucapnya lembut.

Beberapa detik Haechan berusaha mendorong penisnya ke dalam lubang anal Renjun, pun si mungil yang menahan sakitnya. Ia memeluk erat leher Haechan, menenggelamkan wajahnya di sana untuk mengalihkan rasa sakit.

“Ahhh!” jerit Renjun tatkala penis kekasihnya telah masuk sempurna di lubangnya.

“Aku diamin dulu ya biar sakitnya agak hilang,” ujar Haechan.

Dua pemuda itu berpelukan, bergantian mengecup wajah satu sama lain untuk menyalurkan rasa sayang. Renjun mencoba membiasakan lubangnya yang kini penuh oleh penis besar milik Haechan.

Move, Chie.”

Lagi, Haechan turuti perintah Renjun. Pinggulnya mulai bergerak pelan dengan sedikit kesulitan.

“Nghh, it's so big inside, Chie.”

Your hole is so tight, Ren.”

“Ahh, but I can't help. Ini enak, Chie. Sssh please faster a bit.”

Gerakan pinggul Haechan sedikit melaju cepat. Renjun mendesah semakin kuat merasakan nikmat di lubangnya. Begitu pula Haechan yang merasa penis besarnya terjepit kuat, terasa ngilu namun nikmat di saat yang bersamaan.

Relax, Ren. Biar ga ketat banget.”

I'm...trying.”

Perlahan Renjun sudah merasa santai. Lubangnya tak lagi seketat sebelumnya. Haechan pun mempercepat gerakan pinggulnya.

“Ahh, yes, Renjun. Udah longgar.”

“Ah ahh, enak, Chie. Lebih dalem, Chie. Kenain ke dalem banget.”

Haechan semakin menggenjot kuat, menggempur lubang Renjun, hingga ia menyentuh prostat sang kekasih.

“Nghh there! Lagi, Chie, di situuu mhh,” teriak Renjun.

Desahan Renjun yang semakin menggila membuat Haechan semakin semangat mendorong kejantanannya. Prostat Renjun terus ia sentuh menggunakan kepala penisnya.

I'm...I'm coming. Haechie...”

Renjun sampai ke puncaknya. Spermanya telah meleleh keluar dari penisnya, mengotori perutnya dan perut Haechan.

“Aku sebentar lagi, tahan dulu ya.”

Renjun mengangguk. Ia biarkan tubuh lemasnya terhentak kuat akibat gempuran penis Haechan yang kian menggila di lubangnya. Desahan Renjun terus menggema, begitu pula erangan dari Haechan hingga ia menjemput putihnya.

“Ren, aku keluar. Argh...”

Sperma Haechan tertampung pada kondom yang membungkus penisnya, namun aliran hangat itu tetap dapat Renjun rasakan. Keduanya saling berpelukan untuk menguatkan karena tubuh mereka telah sangat lemas sekarang.

Thank you, Ren.”

No. We both enjoyed it. Thank you, Chie.”

Haechan tersenyum. Ia angkat tubuhnya tatkala mengeluarkan penisnya, membuat lubang Renjun menjadi rongga kosong yang merasa hampa seketika. Perut kedua pria itu dibersihkan oleh Haechan.

Si gemini beranjak dari kasur untuk membuat kondomnya. Kembali ia berbaring di sebelah Renjun, memeluk tubuh tunangannya itu sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih telanjang.

“Kamu jadi keringetan lagi habis mandi,” ujar Haechan.

“Ya, tinggal mandi lagi, Chie.”

Mereka terkekeh bersama. Saling mendekap erat, memberi ketenangan dan menyalurkan cinta melalui kecupan ringan pula.

“Mau dinner di luar atau delivery aja?” tanya Renjun.

“Keluar aja, yuk. Ada kafe yang nyediain pizza enak di dekat sini. Mau kan?”

“Mau!” seru Renjun.

“Ya udah, istirahat dulu sebentar. Setengah jam lagi kita pergi ya?”

“Oke, tunanganku.”


schonewords


cw // nsfw, mature content, kissing, sex scene, boys sex, anal sex, hand tied, nipples play, hand job, blow job, deep throat, dirty talks, cock warming, cuddle after sex


“Hy-hyuck, mpphh...”

Donghyuck mencium kasar bibir Renjun tatkala ia menggendong kekasihnya untuk masuk ke kamar. Beberapa menit lalu, Jaemin yang semalaman menemani Renjun di apartemen, berpamitan pergi kerja saat dijemput Mark.

Kini hanya ada sepasang kekasih yang tengah memagut bibir satu sama lain dan hanyut dalam cumbuan panas. Mereka saling melumat, menyesap, menggigit, hingga memainkan lidah pasangan masing-masing. Suara lenguhan pun menjadi bukti bahwa keduanya saling berusaha untuk mendominasi ciuman tersebut.

So, where's my gift?” tanya Donghyuck menyeringai dengan kedua tangan bertumpu di samping tubuh Renjun yang berada di kungkungannya.

Here, daddy,” jawab Renjun tersenyum polos sembari menunjuk dirinya.

Donghyuck tersenyum puas. Ia mengecup bibir Renjun sekilas sebelum memutuskan untuk beranjak dari kasur. Pintu lemari terbuka dan tampak ia mengambil sehelai dasi andalan Renjun yang berwarna kuning.

The victory is in front of our eyes,” ucap Donghyuck seraya kembali naik ke atas kasur. “Now let's us enjoy this gift together.”

Anggukan tergerak pada kepala Renjun diiringi senyuman lembutnya. Donghyuck membawa kedua tangan Renjun ke atas kepalanya, mengikatnya dengan dasi yang telah diambilnya tadi. Renjun pun hanya menurut dan membiarkan kedua tangannya tak lagi bebas digerakan.

Donghyuck membuka kancing piyama Renjun, membiarkan dada mulus si mungil tereskpos dengan dua tonjolan kecil yang mulai mencuat. Seringaian terulas di wajah tampan si gemini tatkala menyampirkan kemeja ke samping dan mulai menundukkan wajahnya.

“Ahh,” Renjun mendesah kuat ketika mulut Donghyuck mulai menyapa putingnya. Tonjolan kecil sebelah kanan mulai diemut dan yang sebelah kiri dimainkan dengan jemarinya.

“Ohh fuck nghh jangan digigit, daddy,” pinta Renjun yang tentu tak diindahkan oleh Donghyuck.

Donghyuck semakin liar memainkan puting Renjun. Berpindah antara kanan dan kiri, mengemutnya kuat, memberi gigitan-gigitan yang membuat sang empu merasa ngilu, bahkan dihisap tanpa ampun hingga mencuat sangat jelas. Sekeliling dada Renjun pun sudah penuh dengan bercak merah sebagai tanda kepemilikan dari Donghyuck.

“Jadi bengkak, baby,” ujr Donghyuck seraya menatap hasil permainannya tadi.

“Ya kamu gigit gitu, gimana ga bengkak?” gerutu Renjun.

Donghyuck terkekeh pelan. Perlahan ia turun ke bawah, menarik celana Renjun hingga dalamannya juga. Seketika terbebaskan penis mungil yang sudah tegal sempurna itu.

“Celana dalam kamu udah basah,” tutur Donghyuck sembari melihat celana dalam Renjun dan membuangnya ke samping kasur. “My baby is getting impatient, right?

Renjun mengangguk cepat. Tubuhnya sudah mulai memanas dan napasnya mulai memberat. “Touch me, daddy,” pintanya lagi.

Donghyuck mengangkat tubuh Renjun, menyandarkannya pada headboard kasur dengan kedua tangan yang masih terikat dan kini dibiarkan terkunci di depan perutnya. Mata Donghyuck memindai tubuh kekasihnya yang masih berbalut atasan piyama dan tanpa bawahan sama sekali.

“Kamu makin seksi, baby.”

I know. Now please touch me.”

Donghyuck menggeleng. Tangannya menekuk dua tungkai Renjun dengan posisi kaki yang melebar. Penis dan lubang anal Renjun terlihat sangat jelas dengan Donghyuck yang duduk di antara dua kaki kurus yang telah terbuka lebar itu.

Your dick is so hard now,” ujar Donghyuck dengan suara rendahnya. “And your hole is getting red.”

“Ughhh, iya. Makanya, touch me now,” rengek Renjun frustasi.

Donghyuck membiarkan tangan kanannya membelai paha Renjun dengan pelan. Sesekali ia akan meremas bagian dalamnya, atau dengan sengaja menyentuh kecil dua bola kembar kekasihnya itu.

“Nghhh this kind of touch is so tempting yet killing me, daddy,” Renjun berusaha berbicara dengan napas yang memburu.

Donghyuck tersenyum puas. Tujuan sentuhannya memang untuk menggoda Renjun, karena ekspresi si mungil itu sangat seksi dikala diberikan stimulus seperti ini.

“Ahh!” Renjun memekik ketika tangan Donghyuck meremas penisnya dengan kuat.

“Kuat banget teriakannya,” Donghyuck terkekeh.

“Kamu tiba-tiba kuat banget remesnya, dad.”

But it feels good, right?

Renjun mengangguk. Tak bisa dibohongi bahwa ia menyukai setiap servis yang diberikan oleh Donghyuck.

Let’s make you scream louder,” ucap Donghyuck dengan suara rendah dan seringaian di wajahnya.

Kedua kaki Renjun yang tertekuk ditahan oleh Donghyuck. Kepalanya berada di antara dua paha tersebut dan mulai memasukkan ujung penis Renjun. Batang tegang itu pun digenggam kuat olehnya, membuat Renjun merasa mendapat kenikmatan yang bertubi saat ini.

Fuck, daddy, nghhh anget banget di dalam mulut kamu,” rintih Renjun seraya menengadahkan kepalanya dengan mata tertutup.

Tangan Renjun mampu meraih surai Donghyuck. Jemarinya meremas kuat helaian rambut kekasihnya itu dan menjambaknya pelan. Seluruh kenikmatan yang ia rasakan kini ia salurkan dari rematan tersebut.

Netra Renjun terbuka ketika kepalanya sedikit tertunduk. Dua maniknya bertemu dengan mata Donghyuck yang mulutnya masih sibuk memberikan servis terbaik pada penisnya. Renjun mengulas senyum lemah karena merasa libidonya meningkat drastis melihat Donghyuck yang sangat seksi saat ini mengulum kejantanannya.

“Hmhh aku juga mau, daddy,” lirih Renjun.

Donghyuck melepas kuluman penis Renjun. Kepalanya sedikit terangkat untuk bertanya, “Mau apa, baby?”

Suck your big dick,” jawab Renjun pelan.

Tanpa berkata apa pun, Donghyuck mengangkat tubuhnya. Ia pun memposisikan tubuh Renjun untuk terduduk dengan dirinya yang menumpukan kedua lututnya di atas kasur. Donghyuck menarik kausnya hingga tubuh bagian atasnya telah telanjang. Celananya ia turunkan tepat ketika pinggulnya sudah berada di depan Renjun dan seketika penisnya yang telah tegang menampar dagu Renjun.

“Kamu mau ini, cookie?” tanya Donghyuck memegang penisnya dan memainkan ujungnya di bibir Renjun.

“Mmh iya, daddy,” jawab Renjun mencoba memajukan bibirnya agar dapat menangkup penis kekasihnya untuk masuk ke dalam mulut.

Beg for it,” Donghyuck berbisik.

Kepala Renjun menengadah, mempertemukan tatapan keduanya. Netranya berbinar dan ekspresinya tampak dibuat seperti memelas.

Daddy, cookie wants daddy's big dick. Cookie wants it inside cookie's mouth and hole. Cookie wants daddy fills cookie fully, break cookie's hole, makes cookie moan loudly just like daddy's slut,” ucap Renjun dengan suara yang pelan dan ekspresi imut namun tetap menggoda.

My baby cookie is getting smarter and much more naughty now,” tanggap Donghyuck seraya menyeringai. “Aku suka banget.”

Berakhirnya ucapan Donghyuck diikuti dengan dimasukkannya penisnya ke dalam mulut Renjun. Dengan senang hati Renjun menyambutnya, mengulum penis besar itu untuk masuk ke dalam mulutnya walaupun ia sedikit kesulitan. Tangannya masih terikat, sehingga ia hanya bisa memaju-mundurkan kepalanya saja.

“Arghhh, enak banget, baby,” Donghyuck mengerang. Tangannya dibiarkan berpegangan pada bagian belakang kepala Renjun. “Kamu jago banget kayak gini, sayang.”

Semakin dipuji, semakin semangat pula Renjun mengeluar-masukkan penis Donghyuck pada mulutnya. Sesekali ia biarkan lidahnya bermain pada pucuk penis itu, menjilat batang tersebut hingga dua bola kembarnya.

Daddy,” panggil Renjun hingga mata mereka bertemu. “Cookie mau coba deep throat.”

Alis Donghyuck terangkat. “You sure?” tanyanya.

Renjun mengangguk cepat. “Mau cobain duluuu,” ujarnya manja.

Maka Donghyuck kabulkan. Tak ada satu pun keinginan Renjun yang tak ia wujudkan, termasuk yang satu ini. Tangannya yang masih bertengger di belakang kepala Renjun perlahan menekan kepala si mungil itu.

Ready?” tanya Donghyuck yang langsung mendapat anggukan dari Renjun dengan mulutnya yang sudah terbuka lebar. “Aku masukin ya.”

Donghyuck kembali memasukkan penisnya ke dalam mulut Renjun. Perlahan ia majukan terus pinggulnya, membuat kejantanannya masuk semakin dalam di dalam rongga hangat mulut Renjun. Hingga akhirnya suara batuk mulai terdengar, menandakan ujung penisnya telah menyentuh tenggorokan Renjun.

“Hmphh!”

“Aku keluarin ya, cookie?”

Renjun menggeleng cepat. Kepalanya semakin maju guna memasukkan penis Donghyuck lebih dalam.

“Uhuk!”

Lagi-lagi Renjun terbatuk karena ujung penis Donghyuck menyentuh tenggorokannya, namun kali ini ia coba tahan. Ia biarkan posisi itu bertahan beberapa detik, hingga air mata mulai menggenang. Donghyuck yang sadar akan hal itu langsung menarik penisnya keluar dari mulut Renjun.

Enough. Itu pasti sakit banget,” ucapnya sembari merebahkan tubuh Renjun dengan perlahan. Ikatan dasi pada tangan Renjun pun dilepaskannya. “Ini juga pasti sakit, ya?”

Renjun tersenyum. Donghyuck bukan tipe yang mampu menyakiti orang yang dia sayangi. Dalam bercinta pun, ia tak pernah melakukan hal-hal yang akan sangat menyakiti Renjun.

“Gapapa, aku suka kok, daddy,” jawab Renjun lembut.

Kedua tangan si mungil itu terbebas dan langsung melingkar pada leher Donghyuck. Tubuh kekasihnya sudah setengah menimpa dirinya, tertahan sedikit oleh kedua siku Donghyuck yang bertumpu di dua sisi tubuh Renjun.

Donghyuck dan Renjun saling memagut bibir satu sama lain. Kali ini ciuman itu penuh kelembutan. Tak ada tuntutan, tak ada pula rasa tergesa-gesa. Hanya labium yang saling bertaut mesra dengan sesekali saling menyesap.

Daddy,” panggil Renjun lirih ketika ciuman itu ia lepaskan.

Yes, cookie?”

Renjun menarik leher Donghyuck, mendekatkan bibirnya pada telinga sang kekasih untuk berbisik, “Please fill me up now.”

Kekehan pelan melesat dari mulut Donghyuck. Ia mengangkat kepalanya, mengecup dahi dan bibir Renjun sekilas. “Oke, sebentar ya,” ujarnya.

Donghyuck sedikit beranjak untuk meraih kondom dan botol lubrikan di dalam laci nakas sebelah kasurnya. Kembali ia tumpukan lututnya di atas kasur di antara dua kaki Renjun yang masih terbuka lebar. Ia merobek bungkus pengaman itu dengan giginya, mengeluarkan dan mengenakannya pada penisnya. Tak lupa cairan lubrikan ia oleskan pada sekitar lubang anal Renjun dan juga di penisnya yang sudah terbungkus kondom.

Ready?” tanya Donghyuck.

Renjun mengangguk. Matanya berbinar melihat Donghyuck berada di antara tungkainya, mulai memasukkan penis besarnya ke dalam lubang ketat Renjun.

“Nghh,” dahi Renjun mengernyit, menahan sakit di bagian bawahnya.

“Sakit banget?” tanya Donghyuck sembari terus mendorong pinggulnya dan mengelus pinggang Renjun.

Kepala Renjun mengangguk pelan. “Gapapa, aku bisa tahan, Hyuck,” jawabnya lirih. “Terusin aja.”

Donghyuck terus mendorong pinggulnya hingga penisnya sudah masuk sempurna. Renjun pun melenguh panjang, membuat Donghyuck langsung memeluk tubuh Renjun dengan erat.

How is it?” tanya Donghyuck dengan lembut sambil mengelus punggung mungil itu.

Renjun membalas pelukan Donghyuck dengan erat. “It feels good as always. Penuh banget nih. Makin gede ya punya kamu? Minum obat?”

“Hahaha,” Donghyuck tergelak sedikit. “Iya. Beberapa minggu lalu dikasih obat sama Mark.”

Senyuman terulas di wajah Renjun tatkala netra mereka bertemu. “Pantesan. Makin gede sih, tapi makin enak kok,” ujarnya.

Should daddy move it?”

Renjun mengangguk. “Yes, please, daddy. Cookie wants to feel your dick's movement inside me,” jawabnya.

Donghyuck mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Ketatnya lubang anal Renjun, membuatnya merasa ngilu di bagian bawah sana.

Cookie, sempit banget. Jangan diketatin dulu.”

“Hnghh, ga diketatin ini. Mmhh, emang ketat, daddy.”

Pelukan mereka semakin erat, begitu pula gerakan pinggul Donghyuck yang mulai tambah cepat temponya. Desahan dua anak adam itu semakin menggema di kamar, menambah sensasi sensual di ruangan itu.

“Ahh, daddy, faster,” pinta Renjun dengan suara rintihannya.

Sure nghh.”

Tempo pergerakan genjotan Donghyuck semakin cepat. Tubuh mungil Renjun terhentak kuat di dalam rengkuhan Donghyuck. Suara perpaduan kulit mereka yang saling bersentuhan turut meramaikan seluruh penjuru kamar bersamaan dengan desahan dan ucapan-ucapan vulgar mereka.

“Mhh, daddy I really love your big dick inside me like this, ahh! Dalem banget, daddyyyy, nghhh.”

“Shh, ini kena ga? Kena bagian enak kamu ga, cookie?”

“Ahh i-iya, nghh more, daddy ah ahh lagiii, lebih dalam lagi.”

Pekikan kenikmatan mereka saling bersahutan. Sesekali bibir mereka akan saling memagut hingga saliva mengalir di pinggir labium keduanya.

Daddy, aku mau keluar,” ucap Renjun dengan susah payah.

Tangan Donghyuck langsung sigap meraih penis Renjun. Ia kocok cepat penis mungil itu, membuat Renjun merintih nikmat dan mendesah semakin kuat.

Daddy, nghh cookie is cl-close– ahhh!”

Renjun mengeluarkan spermanya. Cairan putih itu membasahi tangan Donghyuck dan juga perutnya.

“Aku sebentar lagi,” ucap Donghyuck masih semangat menggempur lubang anal Renjun.

Pria gemini itu menarik tangannya dari penis Renjun yang sudah lemas. Ia menjilat jemarinya yang dibasahi air mani Renjun, membuat Renjun terkekeh melihatnya.

“Jangan dijilat ih. Jorok,” ujar Renjun.

“Enak. Kamu selalu enak. Semuanya enak, baby. Your hole, your nipple, your sperm, your lips, arghhh everything about you.

Selesainya pujian dari Donghyuck, ia pun sampai pada putihnya. Cairan kenikmatannya tertampung di dalam kondom, namun Renjun tetap dapat merasakan hawa kehangatan itu di dalam lubangnya.

Donghyuck menarik penisnya keluar setelah beberapa detik. Ia membuang kondom dan langsung merengkuh tubuh Renjun.

“Kamu mau ke kantor?” tanya Donghyuck seraya memeluk erat kekasihnya dan mengelus perut Renjun dengan lembut.

“Iya. Habis makan siang aja deh.”

“Mau bareng?”

Renjun mengangguk. “But I'm kinda sleepy now,” ujarnya.

You might sleep for a while, cookie. Nanti aku bangunin sekalian makan siang, ya.”

Okay!” seru Renjun. “But, daddy...can you put your dick inside me again?

Cock warming?

Yes.”

Tanpa memberi tanggapan lagi, Donghyuck memasukkan penisnya perlahan. Ia biarkan kejantanannya menerima kehangatan dari lubang ketat milik Renjun.

“Makasih hadiahnya, cookie.”

“Justru aku yang makasih,” ucap Renjun lirih. “Makasih udah berjuang untuk kasus mamiku.”

Donghyuck mengecup dahi Renjun agak lama. Ia semakin mengeratkan pelukan dan mengelus punggung mungil itu, hingga membuat Renjun perlahan terlelap.

Anything for you, my baby cookie.”


schonewords


cw // nsfw, mature content, make out, kissing, hickey, nipples play, petting, hand job, blow job, non-penetration, harsh words


Haechan tak tahu bahwa yang dimaksud Renjun “jalan pulang dulu aja” itu mengarah ke sini. Benar, mereka memang kini sudah pulang. Benar, mereka bahkan saat ini sudah masuk ke pekarangan rumah Renjun. Tetapi, mobil Haechan diparkirkan di dekat pagar yang notabenenya jauh dari pintu utama rumah itu.

“Hmmh,” lenguhan Renjun lolos tatkala pagutan dari Haechan kian dalam.

Tangan kiri Haechan sudah terpatri di bagian belakang kepala Renjun, menekannya hingga semakin kuat pula lumatannya pada bibir Renjun. Lidahnya tak kalah lihai dalam bergelut dengan lidah si pria mungil itu, membuat Renjun berkali-kali melenguh merasakan nikmat.

“Ini maksudnya buat ngilangin bosen?” tanya Haechan ketika ia melepaskan ciuman mereka.

Renjun terkekeh pelan. Wajahnya sudah memerah dengan senyuman malu-malu khas gelagat salah tingkahnya. “Bukan, sih,” jawab Renjun pelan.

Alis Haechan terangkat diikuti dengan tawa kecilnya. “Terus apaan?” lanjutnya bertanya.

Bukannya menjawab, Renjun justru membawa tangan kanannya terangkat ke arah wajah Haechan. Dengan lembut dan gerakan yang cukup menggoda, ia elus rahang tegas Haechan. Wajahnya turut maju dan ia berikan kecupan ringan pada rahang tersebut.

Haechan merasa terkejut dengan perlakuan Renjun itu. Ia baru saja hendak bersuara, namun gerakan Renjun lagi-lagi membuatnya terdiam. Tangan mungil itu kini mengelus lehernya dengan netra yang sayu menatap bagian tersebut.

“Ngapain, sayang?” Haechan bertanya lagi sembari mengelus lengan Renjun.

Elusan tangan Renjun turun ke dada Haechan, diiringi dengan senyuman manis di wajahnya serta kedua manik yang menatap netra Haechan. “I just feel like want to touch you and...” gantungnya.

And?” tanya Haechan penasaran.

...and wanna feel your touch as well,” final Renjun.

Jantung Haechan berdegup lebih kencang mendengar jawaban Renjun. Iris matanya bahkan melebar, namun ia kembali tersenyum ketika mendapati wajah Renjun sudah semakin merah. Pun jantung Renjun berdegup sama cepatnya dengan Haechan. Mengucapkan kalimat tersebut tak pernah terbayangkan olehnya, namun itulah hasrat yang kini ia rasakan.

“Chie—”

Ucapan Renjun terputus karena Haechan langsung memajukan wajahnya dan meraup bibir Renjun lagi. Kali ini cumbuan itu terasa lebih menuntut dengan lumatan yang jauh lebih terburu-buru. Haechan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Renjun, mencoba memperdalam ciumannya. Sedangkan Renjun membiarkan bibirnya dikuasai oleh sang kekasih dan tangannya kini terus menjelajah meraba dada hingga perut Haechan.

“Ren,” ciuman terlepas ketika Haechan merasa jemari Renjun yang mulai berani membuka dua kancing teratas kemeja. “Mau ngapain?”

“Mau pegang aja. Penasaran, Chie,” jawab Renjun singkat dengan ekspresi yang polos.

Haechan seketika terkekeh mendengar jawaban yang menggemaskan itu. Ia pun mengecup bibir Renjun sekilas, mengusap surai hitam kekasihnya itu, dan menatap netra rubah yang sangat ia sukai. Haechan meraih tangan Renjun yang kini berada di dadanya, membawa telapak mungil itu masuk ke dalam kemejanya yang telah setengah terbuka.

Caress it slowly so both of us will enjoy the way you touch me,” ucap Haechan lirih seraya menuntun tangan Renjun untuk mengusap dadanya secara langsung.

Netra Renjun turun mengarah ke dada Haechan yang sudah terekspos di depannya. Sesuai perintah Haechan, ia elus lembut dada kekasihnya itu, membuat keduanya bernapas dengan berat merasakan libido mereka mulai meningkat.

Merasakan sentuhan dari Renjun yang sangat lembut dan menggoda, Haechan pun menjatuhkan kepalanya di bahu Renjun. Ia biarkan kekasihnya terus membelai bagian depan tubuhnya. Wajahnya dibiarkan tenggelam di ceruk leher Renjun, sesekali mengecupnya pelan, hingga Haechan beranikan dirinya menghisap pelan leher Renjun.

“C-chie...” Renjun memundurkan tubuhnya, membuat kepala Haechan terpaksa terangkat dan mereka bertatapan. “Nanti merah,” sambung Renjun.

Haechan tersenyum lembut. Ia kecup kening Renjun agak lama. Netranya pun melihat leher Renjun ditengah kegelapan mobil dengan pencahayaan yang minim dari lampu taman di pekarangan rumah. Pria gemini itu tersenyum melihat leher Renjun memang sudah terdapat bercak merah muda yang samar. “Maaf, sayang. Kelepasan aja barusan. Ga merah banget kok, walaupun emang ada bekasnya sedikit,” ujar Haechan.

Renjun terkekeh seraya mengangguk. “Iya, gapapa, Chie,” balas Renjun.

“Masih mau elus-elus dada sama perut aku nih?” tanya Haechan menggoda Renjun sembari melihat tangan kekasihnya masih terpaku di dadanya.

Renjun menggigit bibir bawahnya. Netranya bertemu dengan manik Haechan. Dengan senyum malu-malu, Renjun bertanya, “Boleh elus yang lain?”

Haechan tertawa pelan mendengar pertanyaan Renjun. Ia tak menyangka kekasihnya yang selalu terlihat dewasa, bijaksana, dan tegas itu kini menjadi sangat menggemaskan dan menggoda. Kendati begitu, Haechan mengangguk. Kembali ia meraih tangan Renjun di dadanya, menurunkannya, dan membawa telapak tangan kecil itu ke atas pahanya.

“Kamu mau elus ini, kan?” tanya Haechan lembut.

Kedua manik Renjun membelalak. “Kok kamu tahu?” tanyanya bingung.

I noticed it you keep staring at my thighs, sejak di ruangan sama sepanjang perjalanan dari kantor tadi.”

Renjun jelas terkejut mengetahui bahwa ternyata Haechan menyadari hal itu. Ia pun tersipu, membuat kesan menggemaskan di wajahnya semakin meningkat.

Haechan kembali mengecup bibir Renjun sekilas. Ia memajukan tubuhnya, membuat bibirnya kini berada tepat di dekat telinga Renjun. “Touch it as you want, sayang,” bisik Haechan.

Dagu Renjun diangkat oleh Haechan. Bibir mereka kembali menyatu dalam cumbuan panas nan menggairahkan. Keduanya saling melumat, menggigit bibir satu sama lain, hingga membiarkan lidah mereka secara bergantian melesak ke dalam rongga mulut pasangan mereka.

“Hmm,” Haechan meredam lenguhannya dalam ciuman tatkala ia rasa Renjun mulai mengelus pahanya di bagian dalam.

Selagi ciuman berlangsung, Renjun terus-menerus membelai paha Haechan. Sesekali ia akan meremasnya, bahkan ketika bagian dalam ia elus, tangannya tak mampu menahan hasrat untuk meremasnya dengan cukup kuat.

“Renjun—” Haechan melepaskan ciuman. “Kok sampe di sini tangannya?”

Pertanyaan Haechan itu terlontar saat tangan Renjun mulai menyentuh kejantanannya. Netra Haechan membelalak, sedangkan kedua manik Renjun mengerjap lucu.

“Sayang, ngapain sampe ke situ megangnya?” sekali lagi Haechan bertanya.

“Ga boleh ya?” tanya Renjun dengan ekspresi polos. Kendati begitu, tangannya tak sesuai dengan wajahnya yang tampak lugu dan menggemaskan. Renjun justru menggerakkan ibu jarinya untuk mengelus pelan bagian sensitif Haechan itu.

“Ren—”

Let me touch it, Chie,” pinta Renjun.

Haechan tersenyum lembut menatap ekspresi lucu Renjun saat ini. Maka, ia mengangguk sembari mengacak pelan surai Renjun. “Go ahead, sayang,” ujarnya. “Tapi...izinin aku buat megang punya kamu juga. Deal?”

Senyuman lebar terulas di wajah Renjun. Dengan cepat ia mengangguk dan mengecup pipi— ah, tepatnya rahang Haechan sekilas. “Deal!” serunya.

Untuk beberapa menit, keduanya sibuk dengan cumbuan yang berulang kali dilakukan. Tangan keduanya pun lihai memainkan penis satu sama lain.

Haechan mendorong tubuh Renjun untuk bersandar. Ia turunkan sandaran kursi tempat Renjun duduk, membuat pria aries itu kini sudah setengah berbaring. Haechan menatap netra Renjun ketika tangannya berada di dada si mungil yang kemudian mendapat anggukan oleh Renjun. Dengan perlahan, Haechan membuka semua kancing pada kemeja Renjun dan membiarkan dada serta perut kekasihnya terekspos.

“Ahhh, Chie,” desah Renjun tatkala Haechan mulai menjilat putingnya.

Tonjolan mungil itu mencuat tegang. Jilatan, hisapan, hingga gigitan-gigitan kecil Haechan dilakukan Haechan.

“Chie, jangan kuat-kuat digigitnya,” ucap Renjun.

“Iya, sayang,” tanggap Haechan. “Boleh aku tandain di sini?” tanyanya seraya menunjuk dada Renjun.

“Boleh, sayang,” Renjun mengangguk.

Otomatis Haechan langsung mengerjai dada Renjun. Gigitan dan hisapan kuat ia patrikan, membuat beberapa tanda kemerahan mulai memenuhi sekitaran puting Renjun, bahkan hingga ke perut.

Renjun memegang lengan Haechan yang sedari tadi meremas kemaluannya. Ia bawa telapak tangan Haechan untuk terselip di celana. “Please, touch it directly there, Chie,” pinta Renjun.

Haechan jelas sempat terkejut begitu telapak tangannya menyentuh penis Renjun secara langsung. Tetapi, tangannya otomatis bergerak, mengikuti kehendak Renjun.

“Nghh, yes there, Chie,” desah Renjun.

Desahan Renjun membuat Haechan semakin napsu meremas kemaluan kekasihnya serta kembali menghisap kuat puting mungil itu. Keduanya sama-sama menikmati kegiatan panas itu. Haechan senang mendengar desahan Renjun menjeritkan namanya, sedangkan Renjun sangat menikmati segala rangsangan yang Haechan berikan.

“Ren, may I suck it?”

Pertanyaan Haechan membuat Renjun terbelalak. Jujur saja, Renjun menyukai semua ini, tapi sama sekali tidak menyangka Haechan akan bertanya untuk melakukan hal itu.

You sure?” Renjun balik bertanya sebagai bentuk tanggapan atas pertanyaan Haechan tadi.

“Iya, aku yakin. Tergantung kamunya aja lagi, boleh apa ngga?” Haechan bertutur dengan lembut.

Tangan Renjun mengelus rambut Haechan, kepalanya mengangguk, dan di wajahnya terulas senyuman manis. “Boleh, Haechie,” jawabnya.

Tanpa basa-basi lagi, Haechan langsung menurunkan celana Renjun hingga setengah pahanya. Celana dalamnya pun tak lupa ia turunkan, hingga penis Renjun yang menegang kini mencuat tinggi di hadapannya.

“Pelan-pelan aja, Chie,” ujar Renjun.

“Iya, sayang,” balas Haechan.

Kejantanan Renjun sudah berada dalam genggaman Haechan. Dipijatnya perlahan, membuat Renjun mengerang meminta kenikmatan yang lebih. Menit berikutnya, penis Renjun mulai dimasukkan ke dalam mulut Haechan, dihisap kuat dengan ujungnya yang dimainkan dengan lidah.

Fuck, Haechie…”

Mendengar erangan-erangan erotis Renjun, Haechan kian semangat memberikan servis terhadap penis kekasihnya itu. Ia hisap kuat, dengan lihai memainkan lidahnya menelusuri batang tegang tersebut, dan sesekali akan bergesekan dengan giginya yang membuat Renjun semakin menjerit.

“Haechan, nghh, suck it more.”

Perintah Renjun dituruti oleh Haechan dengan senang hati. Ia mengeluar-masukkan penis Renjun dari mulutnya dengan cepat. Renjun pun menjambak pelan rambut Haechan untuk melampiaskan rasa nikmatnya tersebut.

Chie, I almost there,” ungkap Renjun disela desahan dan rintihan nikmatnya.

Haechan melepaskan kuluman penis Renjun. Tangannya langsung mengocok kejantanan milik kekasihnya itu dengan cepat.

Do mine too, Ren,” pinta Haechan.

Renjun merubah posisinya menjadi duduk sepenuhnya. Sepasang kekasih itu saling berdekatan, dengan posisi kepala Renjun yang bersandar di bahu Haechan dan tangannya yang mulai memainkan penis Haechan ketika celana si gemini telah turut diturunkan.

“Argh faster, Ren,” Haechan mengerang nikmat merasakan tangan Renjun yang mengocok penisnya dengan cepat.

Kedua pria itu saling memberi servis dengan cepat terhadap kepemilikan satu sama lain. Desahan dan jeritan kian menggaung di dalam mobil yang kini hawa dingin AC bahkan tak terasa.

“C-Chie, ahhh,” Renjun mendesah panjang ketika putihnya tiba. Cairan kental itu mengalir dan membanjiri tangan Haechan, membuatnya lemas dan gerakan tangannya pun melemah.

“Ren, sedikit lagi ya, squeeze mine faster,” titah Haechan dan dituruti oleh Renjun.

Tangan Renjun kembali memijat penis Haechan dengan kuat dan mengocoknya cepat. Sekali pun ia lemas saat ini, namun ia tetap ingin memberikan kepuasan pada kekasihnya.

Yes, Ren, arghh,” erangan berat meluncur dari mulut Haechan seraya cairan putihnya keluar membasahi tangan Renjun.

Haechan dan Renjun sudah sangat lemas. Si gemini lekas mengambil tisu yang banyak, membantu membersihkan tangannya dan tangan Renjun. Tak lupa penis keduanya serta kursi tempat mereka duduk dibersihkan.

“Sebentar senderan di sini dulu, Ren. Aku pakein lagi celana kamu,” ujar Haechan sembari memposisikan Renjun untuk duduk bersandar pada sandaran kursi yang telah kembali ke posisi normal.

Dengan telaten dan hati-hati, Haechan sekali lagi memastikan sekitaran kemaluan Renjun telah bersih. Ia kenakan kembali celana kekasihnya, mengancing kemeja si mungil, serta merapikan rambut gelapnya yang tadi berantakan.

Haechan pun tak lupa merapikan penampilan dirinya yang tadi sama berantakannya dengan Renjun. Hingga keduanya telah kembali rapi, Haechan membawa Renjun ke dalam dekapannya. Dipeluknya erat seraya mengusap punggung mungil itu dengan lembut.

“Makasih ya, Ren,” bisik Haechan dengan lembut. “Did I hurt you in some parts of you?

Renjun menggeleng. Ia tersenyum di dalam dekapan Haechan, merasa hangat mengingat kekasihnya sangat penuh pertimbangan dan rasa hati-hati.

Nope. It felt good tho, Chie. Makasih juga udah nurutin maunya aku yang pastinya ngagetin kamu.”

Pelukan dilepaskan. Haechan dan Renjun saling bertatapan. Kedua tangan Haechan menangkup pipi Renjun dan mengelusnya dengan lembut. Salah satu tangannya diraih oleh Renjun, digenggam erat, sembari netra keduanya masih saling terpaku.

I love your touch so much, sayang,” ungkap Renjun dengan wajah yang bersemu.

Me too. Thank for allowing me to touch you and feel your touch as well,” Haechan balas mengungkapkan perasaannya.

Keduanya saling melempar senyum. Kecupan-kecupan ringan kembali mereka berikan kepada satu sama lain.

“Udah sana turun, terus mandi, istirahat. Makan malam juga kalo mau, ya? Setidaknya bosennya udah hilang, kan?”

Renjun terkekeh dan mengangguk. “Makasih udah bantu ngilangin bosen aku,” ungkap Renjun dan mengecup bibir Haechan sekilas. “Ya udah, aku turun, ya. Kamu hati-hati nyetirnya. Nanti kabarin aku kalo udah sampe. Langsung bersih-bersih, karena pasti lengket tuh,” tambahnya.

“Hahaha, iya iya, sayangku.”


schonewords