“That Night” in Jakarta ?
cw // NSFW, mature content, kissing, hickey, nipples sucking, blow job, hand job, 69 style, harsh words.
Jakarta, 5 Maret 2023
Tok tok tok!
Haechan yang mulanya tengah fokus memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangan. Netranya mendelik ke arah pintu disertai dahi yang mengernyit.
“Siapa?” tanya Haechan dengan volume agak keras.
“Aku,” jawab seseorang di luar.
Mendengar suara yang sangat akrab di telinga, Haechan sigap beranjak dari kasur. Kakinya diarahkan melangkah gontai ke arah pintu. Tatkala pintu terbuka, sosok pria bertubuh mungil tengah berdiri dengan dengan mengulas senyuman tipis hingga membuat alis Haechan terangkat.
“Kenapa?” tanya Haechan singkat.
“Ayo ke bar di bawah,” ajak Renjun.
Tanpa sedikitpun pertimbangan, Haechan langsung mengangguk. Setelah mengucapkan kata, 'tunggu dulu' kepada Renjun guna mengambil ponsel, dompet, kamera, topi, dan cardigannya, Haechan pun berjalan meninggalkan kamarnya bersama Renjun.
Ketika berada di lift, Haechan menoleh ke arah Renjun yang tengah berekspresi datar dengan tatapan nanar. Sebuah pertanyaan pun dilontarkan oleh si gemini, “Udah ga marah sama ak—”
Pertanyaan itu terpotong tatkala Renjun justru menggamit tangan kanan Haechan untuk digenggam. Persetan dengan CCTV atau bagaimana orang-orang akan memperhatikan mereka nanti ketika keluar dari lift. Renjun hanya ingin menggenggam tangan si kesayangannya itu dengan sangat erat. Hal itu menghasilkan senyuman dan semburat merah muda di kedua pipi Haechan seraya mengeratkan genggaman tangannya.
Langkah kaki mereka beriringan bersama keluar dari lift dan menuju sebuah bar megah khas hotel bintang lima. Sebuah spot di seberang meja bar menjadi pilihan mereka. Keduanya duduk berdampingan di sofa empuk nan nyaman dan masih dengan tangan yang saling menggenggam. Renjun pun menyandarkan kepalanya di bahu Haechan, membuat Haechan pun balik menyamankan kepalanya di atas kepala Renjun.
“Capek?” tanya Haechan.
Renjun mengangguk.
“Kenapa ga tidur aja?” tanya Haechan lagi.
Renjun menghembuskan napasnya pelan. “Mana bisa tidur kalo masih kepikiran tadi aku dipunggungin di stage,” cibir Renjun lirih.
Haechan terkekeh mendengarnya bersamaan dengan seorang barista yang membawakan sebotol bir dan dua berukuran sedang untuk mereka. Anggukan Haechan berikan kepada sang barista sebagai tanda terima kasih.
“Minum dulu,” titah Haechan dan membuat Renjun mengangkat kepalanya.
Tangan Renjun meraih botol bir untuk menuangkannya ke dalam dua gelas tersebut. Ia angkat dua-duanya dan memberikan salah satu kepada Haechan. Hanya sedikit bersulang, Renjun langsung meminum alkohol itu dan menghabiskannya dalam sekali tegukan serta menambahnya lagi untuk kemudian dihabiskan dalam sekejap. Haechan yang melihatnya sempat tercengang hingga ia pun meletakkan gelasnya yang masih penuh ke atas meja.
“Renjun? Hey, sayang, pelan-pelan aja minumnya,” ujar Haechan langsung meraih gelas dari tangan Renjun.
Kedua tangan Renjun pun sigap diraih oleh Haechan untuk diberikan genggaman erat. Ibu jari Haechan mengelus lembut punggung tangan mungil kekasihnya itu seraya bertanya, “Sayang, masih marah banget ya sama aku?”
Renjun menundukkan kepalanya. “Ya, kamu tuh kenapa sih dua hari ini aneh banget banyak diemin aku, terus di panggung juga ga kayak biasanya yang nempel ke aku,” cicit Renjun.
Senyuman lembut terulas di wajah Haechan. Ia rengkuh tubuh kecil Renjun dan diberikan usapan di punggung mungilnya.
“Iya iya, maaf ya, sayangku. Aku cuma mau seru-seruan sama yang lain tuh sama Jaemin, sama Jeno juga,” ucap Haechan menenangkan pacarnya.
Dagu Renjun diletakkan di bahu Haechan. “Besok harus sama aku lagi dong seru-seruannya,” gumam Renjun.
Haechan terkekeh. “Iya, sayang. Besok aku sama kamu. Jangan marah lagi ya? Mau kan maafin aku?” ujar Haechan dengan sangat lembut.
Pelukan dilonggarkan oleh Renjun. Netranya menatap obsidian Haechan yang teduh disertai senyuman termanis di wajahnya. Renjun tak bisa menahan dirinya untuk tidak memberikan balasan senyuman kepada kekasih tersayangnya itu.
“Iya, aku maafin. Maaf juga akunya manja gini ya, sampe malah ngambek sama kam—”
Cup!
Kecupan di bibir Renjun membuatnya berhenti berbicara. Haechan terkekeh pelan. Seraya mengusap bibir Renjun pelan, ia berucap, “Aku suka kamu yang manja gitu, Renjun.”
Hati Renjun menghangat mendengarnya. Sigap ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Haechan. Wajahnya dimajukan hingga bibirnya tertempel pada labium Haechan. Perlahan Renjun melumat lembut sekilas dan melepaskannya. Renjun tersenyum lagi seraya merapikan poni Haechan yang terlihat di sela topi hitamnya.
“Pacarku ganteng,” tutur Renjun.
Alis Haechan terangkat dan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Ia pun menarik hidung Renjun pelan saking gemasnya melihat kekasihnya itu yang kini terkekeh pelan.
“Kamu lebih ganteng, Renjun.”
Keduanya tergelak kecil bersamaan. Minuman beralkohol itu kembali mereka teguk bersama. Perbincangan mulai terbangun dengan santai dan diselingi canda tawa. Ditemani live acoustic music di bar tersebut, sepasang kekasih itu sangat menikmati malam guna menghabiskan hari Minggu mereka yang hanya tersisa hitungan jam.
“Eh, kamu bawa kamera kan, Chan?” tanya Renjun.
Haechan mengangguk sembari mengambil kameranya. “Bawa nih. Kenapa?” tanggapnya.
Renjun meraih kamera tersebut dari tangan Haechan. Ia pun beranjak dan memutuskan untuk duduk di sofa yang berada di seberang Haechan agar mereka berada dalam posisi berhadapan.
“Aku mau coba motoin kamu pake ini,” ucap Renjun penuh antusias.
Menyaksikan pemandangan menggemaskan itu, Haechan tak kuasa menahan senyuman dan tawa gelinya. Matanya tak lepas dari Renjun yang tengah berkutat dengan kamera tersebut.
“Coba coba, kamu pose dulu. Aku cobain nih,” titah Renjun.
Haechan mengikuti perintah kekasihnya. Ia berpose beberapa kali, membiarkan kekasihnya mengambil beberapa foto menggunakan kameranya itu.
“Udah! Bagus-bagus nih, Chan. Lihat!”
Dengan penuh semangat, Renjun menyerahkan kamera kepada Haechan. Si gemini langsung fokus memperhatikan hasil tangkapan kamera ala Renjun itu.
“Bagus bagus,” ucap Haechan sambil mengangguk. “Coba sini gantian. Kamu lagi yang aku fotoin.”
Renjun terkekeh malu-malu. Akhirnya ia pun berpose, bahkan sampai melepaskan topi yang ia kenakan. Renjun terus bergerak sesuka hati, pun Haechan tetap menekan shutter button pada kameranya, hingga banyak foto Renjun yang diambil.
“Nih banyak aku fotoin,” kata Haechan sembari menyerahkan kamera kepada Renjun.
“Ih iya bagus!” seru Renjun.
Haechan tersenyum tenang melihat kekasihnya. Ditatapnya dengan lekat sosok kekasih hatinya yang tengah tersenyum sumringah melihat foto-foto dirinya sendiri.
“Kamu jago banget deh sekarang kalo motoin gin—eh? Kok gitu banget ngelihatin aku?” Renjun terkejut ketika menengadahkan kepala dan melihat Haechan menatapnya sangat dalam dengan wajah serius.
“Kamu seksi,” tutur Haechan singkat, padat, dan volume suara yang rendah. Jangan lupakan pula sorot mata tajamnya yang enggan melunak sedikitpun menatap Renjun.
“Hah? Seksi gimana?”
“Itu,” ucap Haechan menunjuk Renjun menggunakan dagunya, “kamu tahu sendiri aku lemah banget ngelihat kamu pake kaus putih oversized.”
Dua bola mata Renjun melebar hingga membuat matanya membelalak. Seketika ia tertawa kecil mendengar ucapan sang kekasih.
“Aku jadi kelihatan menggoda, ya?” tanya Renjun sembari menyugar rambutnya ke belakang dan membuat helaian halus itupun kembali turun ke posisi kembali.
Salah satu sudut bibir Haechan terangkat. Enggan menjawab, ia hanya mengangkat gelasnya dan meneguk minuman memabukkan itu.
“Chan, jawab dong. Aku jadinya menggoda banget ga?”
Setelah meletakkan gelas kembali ke atas meja, Haechan menjawab, “Ga usah ditanya lagi. Kamu selalu menggoda.”
Senyuman puas terulas di wajah Renjun. Sigap ia meneguk birnya lagi yang justru dipotret oleh Haechan menggunakan kameranya.
“Kok difotoin?” tanya Renjun.
“Biar kamu lihat nih. Kamu harus tahu seberapa seksi dan lucunya kamu di waktu yang bersamaan.”
Renjun memajukan tubuhnya untuk melihat hasil jepretan Haechan. Badannya semakin maju agar dapat melihat foto itu dengan lebih jelas, sehingga kerah kaus yang ia kenakan sedikit melonggar. Pergerakan itu membuat mata Haechan menatap ke arah leher Renjun dan menyaksikan dada sang kekasih yang terlihat sekilas. Haechan menelan air ludahnya yang diikuti dengan menjilat bibir bawahnya.
Kepala Renjun menengadah karena merasa tengah diperhatikan dengan tidak biasa. “Chan? Ngelihatin apa sih?” tanyanya bingung.
Alih-alih menjawab, Haechan menyimpan kameranya. Ia kembali menuangkan bir ke gelasnya, menghabiskannya dalam sekali tegukan, dan balik menatap Renjun dengan tajam.
“Aku mulai mabuk kayaknya. Ke kamar aku yuk,” ajak Haechan.
Renjun bukannya baru satu hari atau dua hari menjadi kekasih Haechan. Ia tahu apa yang kini terjadi. Semua sudah terbaca, sehingga Renjun pun menyeringai.
“Akunya ikut ke kamar kamu?” tanya Renjun mencoba menggodai Haechan.
“Hahaha,” Haechan tergelak pelan. “Kamu pasti tahu maksud aku.”
Dan jawaban Haechan pun diakhiri dengan keduanya yang langsung beranjak meninggalkan bar. Mereka kembali bergandengan memasuki lift dan menuju kamar Haechan.
“Haechan...ahh...”
Suara desahan Renjun menggema di dalam kamar yang luas itu. Pria berzodiak aries tersebut terbaring telentang dan berada dalam kungkungan seorang Lee Haechan.
“C-Chan...”
Renjun kian merintih merasakan betapa hangatnya lidah Haechan yang tengah mengulum dua putingnya secara bergantian. Tangannya tak mampu ia biarkan untuk tak meremas rambut Haechan guna melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan.
Haechan melepaskan kulumannya. Tubuhnya setengah terduduk dengan kaki yang bertumpu pada lutut di dua sisi tubuh Renjun. Dipasatinya pemandangan seksi di hadapannya kini. Terpampang jelas kini di bawahnya sosok Renjun dengan kaus putih yang sudah terangkah sampai ke leher, wajah yang memerah, bibir dan puting yang bengkak, beberapa markah merah keunguan yang membekas di sekitaran tonjolan mungil itu.
“Seksi,” ujar Haechan dengan suara baritonnya.
Dua sudut bibir Renjun terangkat dan membentuk lengkungan senyuman manis dicampur kekehan pelan. Tangan kanannya menangkup pipi Haechan, sedangkan tangan kirinya menyibak poni sang kekasih yang kian memanjang.
“Kamu juga seksi dilihat dari bawah begini,” balas Renjun penuh kelembutan.
Sirna segala kuasa Haechan untuk menahan dirinya. Kembali ia tertunduk, membawa bibirnya bertemu ranum merah milik Renjun. Ciuman yang penuh lumatan basah pun tercipta. Keduanya saling berusaha mendominasi cumbuan panas tersebut. Lidah mereka saling bertaut, mendorong, dan terhisap dalam rongga mulut satu sama lain secara bergantian.
Tautan bibir terlepas dan napas kedua pria itu terengah. Masih dalam jarak yang sangat dekat—bahkan tepat di depan ranum Renjun, bisikan Haechan terdengar jelas berucap, “Hand job aja ya malam ini? Besok kita masih perform.”
Renjun menyunggingkan senyuman. Malah perlahan luntur menjadi sebuah seringaian. Kedua tangannya dibawa mengalung di leher Haechan. Masih dalam posisi wajah mereka yang sangat berdekatan dan jarak bibir yang kurang lebih hanya lima sentimeter, Renjun pun melayangkan pertanyaan kepada kekasihnya.
“Kamu maunya hand job? Ga mau blow job aja?”
Runtuh sudah pertahanan Lee Haechan. Matanya yang sayu berpadu dengan senyuman tipis membuat ekspresi wajah si gemini itu sangat seksi.
“Aku tahu mulut ini jago kalo dipake untuk nyanyi, makan makanan enak rekomendasi aku, dan ngomelin aku. Aku hampir lupa kalo mulut ini juga hebat dipake untuk blow job,” ujar Haechan.
Renjun melesatkan kekehan kecil. Bersamaan dengan tangannya yang mengelus bagian belakang lehernya Haechan, ia pun bertanya, “So, it's a 'yes', huh?”
Kepala si gemini mengangguk seraya memberi tambahan jawaban, “Sixty nine, Renjun.”
Sigap kini giliran kepala Renjun yang mengangguk. Ia pun menepuk pundak Haechan pelan, sebagai titah agar Haechan beranjak dari atas tubuhnya. Seolah mengerti, Haechan pun langsung nurut.
“Aku yang di bawah ya, sayang,” pinta Haechan.
“Iya, sayangku,” tanggap Renjun.
Haechan terlentang dan langsung melepaskan menurunkan celananya sampai ke lutut. Begitu pula Renjun yang menanggalkan celananya hingga bagian bawahnya jelas-jelas sudah tak ada sehelai kain pun yang menempel.
“Ayo sini, sayang,” perintah Haechan.
Renjun naik ke atas tubuh Haechan dan langsung berbungkuk. Ia sedikit memundurkan posisinya hingga pantatnya terpampang nyata tepat di hadapan Haechan. Sama halnya dengan Renjun yang mendapati kejantanan Haechan di depan wajahnya yang dan sangat tegang.
“Damn,” gumam Haechan pelan ketika Renjun menggenggam kejantanan Haechan serta menjilat ujungnya.
Tanpa basa-basi, Renjun langsung memasukkan kepemilikan Haechan ke dalam mulutnya. Rongga hangat itu perlahan mengulum dan memberikan hisapan pelan nan lembut.
“Argh, Renjun,” rintih Haechan seraya meremas pantat Renjun guna melampiaskan rasa nikmat yang kini ia rasakan.
“Hmmhh,” erangan Renjun tertahan tatkala remasan tangan Haechan padanya disertai dengan salah satu jari si gemini itu yang tak sengaja menusuk lubang analnya.
Mendengar itu, Haechan langsung turut mengulum kemaluan Renjun. Tangannya masih setia meremas pantat sang kekasih kian kuat.
Dua pemuda itu sibuk saling menghisap kejantanan satu sama lain. Suara rintihan kenikmatan teredam, peluh mulai bercucuran, dan libido mereka semakin meningkat.
Beberapa kali Haechan berusaha sekuat tenaga menahan teriakannya setiap gigi Renjun mengenai alat vitalnya. Pun Renjun yang ingin sekilas menjerit tatkala Haechan memukul pantatnya dengan cukup keras.
Setengah jam berlalu. Haechan mengeluarkan kepemilikan Renjun dari mulutnya.
“Renjun...nghh, sayang, aku mau keluar,” ucap Haechan terbata.
Mendengar itu, Renjun semakin bersemangat. Tangan kirinya menggenggam kejantanan Haechan dengan erat dan tangan kanannya memainkan bola kembar milik si gemini. Kepala Renjun naik-turun dengan tempo yang cepat, sesekali menjilat ujung kemaluan Haechan dengan gerakan memutar, dan menghisap batang keras itu dengan sangat kuat hingga pipinya kempot.
“Huang Renjun...hmm kamu hebat banget kalo begini ahh shit Renjunnn!”
Haechan meraung keras ketika putihnya telah meluncur deras, menyemprot di bibir Renjun yang langsung sigap mengeluarkan kejantanan Haechan dari mulutnya. Cairan putih kental itu menggenang sedikit di dalam rongga mulutnya dan tanpa ragu ia telan.
Sedangkan Haechan kini dengan tubuhnya yang bergetar, ia berusaha memasukkan kemaluan Renjun ke dalam mulutnya lagi. Dengan tempo cepat, ia memberikan servis terbaiknya. Ia hisap kuat hingga berani melakukan deep throat selama dua detik. Matanya berair, namun ia sungguh enggan mengeluarkan kepemilikan Renjun itu dari mulutnya karena merasa disemangati oleh desahan si aries yang menggema hebat.
“Ahh, Haechan! Ohh fuck sedikit lagi aku keluar...”
Erangan dan rintihan terus Renjun gaungkan. Libido Haechan meningkat hingga kembali ia tekan pinggul Renjun agar ujuPri kemaluan kekasihnya itu menyentuh kerongkongannya lagi.
“Haechan...Haechan...nghh...Lee Haechan AHHH!”
Sperma Renjun melesat keluar dan menyembur di dalam mulut Haechan. Ia keluarkan alat vital kekasihnya, membiarkan cairan putih itu membasahi wajah dan lehernya.
Renjun pun langsung merobohkan tubuhnya di samping Haechan. Keduanya terengah, mengatur napas mereka yang tersengal dan membiarkan badan mereka yang bergetar akibat pelepasan itu kembali normal.
“Sayang,” panggil Haechan sembari mengelus kaki Renjun yang ada di hadapannya. “Enak ga barusan?”
Kepala Renjun mengangguk. Ia pun mencoba untuk bangkit dan memposisikan dirinya agar rebahan di samping Haechan dengan benar. Pergerakan itu pun disambut oleh Haechan yang langsung merengkuh tubuh mungil Renjun dalam pelukannya.
“Enak banget, tapi sebenarnya lebih enak kalo ditusuk ke dalam,” jawab Renjun.
Haechan tergelitik mendengarnya. Kekehannya yang lolos itu diikuti dengan sebuah kecupan yang dibubuhi di dahi Renjun.
“Aku mau bersihin dulu nih. Kamu mau bersihin bareng?” tanya Haechan.
“Yaudah boleh deh.”
Dua pemuda itu berjalan ke kamar mandi. Mereka memilih untuk membersihkan selangkangan, wajah, leher, dan dada masing-masing, karena jika dibantu satu sama lain, pasti akan ada ronde selanjutnya.
Haechan telah selesai terlebih dahulu. Ia pun kembali berpakaian dengan benar. Bahkan, cardigan hitam yang ia kenakan pun tak tertanggalkan barang sedikit. Ia terduduk di kursi dan menopangkan dagunya pada tangannya yang diletakkan di atas meja kaca. Senyuman tipis terulas tatkala otaknya memutar memori kegiatan panas yang baru saja ia lakukan. Hal itu membawa Haechan pada sebuah lamunan yang membuatnya mengingat betapa kuatnya cintanya dan Renjun dalam mempertahankan hubungan mereka.
Tanpa Haechan sadari, Renjun sudah duduk di hadapannya. Melihat sang kekasih melamun, Renjun pun meraih kamera milik Haechan yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Tak ada aba-aba dan akhirnya Renjun memotret Haechan yang langsung disadari oleh si gemini.
“Eh, kamu motoin aku?” tanya Haechan kaget.
Renjun tergelak. “Iya, hahaha, tapi lihat nih bagus kok hasilnya!” serunya sembari menunjukkan hasil jepretannya.
Haechan tertawa kecil. Ia pun mengusap rambut Renjun dengan lembut.
“Hasil jepretan kamu bagus-bagus nih. Besok mau aku post di Instagram deh,” ucap Haechan.
“Aku juga deh. Besok mau post foto yang tadi kamu fotoin juga,” balas Renjun.
“Hehe, ya udah, sekarang kita tidur yuk, sayang. Besok masih ada hari terakhir nih konser di sini.”
Renjun mengangguk. Tangannya pun meraih tangan Haechan yang terbuka untuk menggamit tangannya. Dua pemuda itu naik ke atas kasur lagi, saling berpelukan dengan dibungkus selimut tebal.
“Selamat tidur, Lee Haechan-ssi.”
“Hahaha, selamat tidur juga, Huang Renjun-ssi.”
“Jangan lupa besok sama aku di stage.”
“Iya iya, sayangkuuuu. Manja banget, tapi aku suka!”
“Hehehehe. Aku sayang kamu, Haechan.”
“Aku sayang kamu juga, Renjun.”
schonewords