moonsun

jongseong as reksa sunghoon as satya


Kalau kata orang Reksa itu pemimpi yang handal. Banyak sekali mimpi yang ingin dicapai, tapi Reksa tahu bagaimana cara wujudkannya.

Seperti mimpi sedari lama yang ingin buka toko kue, ia mampu wujudkan beberapa tahun setelahnya. Mimpinya banyak dan Reksa tak pernah keberatan untuk wujudkan satu persatu.

“Sa, menurut kamu aku bisa nggak lanjut studi ke Jepang?” pertanyaan Satya sore itu mampu hadirkan nyeri diseluruh tubuh.

Tapi, Reksa itu juga keras kepala maka dia mengangguk dan berkata penuh yakin, “bisa pasti bisa.”

“Kamu lebih yakin daripada aku sendiri, ya?” Kekehan itu malah buat Reksa semakin kalang kabut.

Ia raih jemari itu dan digenggamnya, “Satya … jangan begitu,” bisiknya penuh permohonan.

Reksa tatap wajah pucat itu dan berujar, “kita masih punya mimpi yang mau diwujudin bareng-bareng, Satya inget kan?”

Mata itu balas menatapnya, seakan sampaikan apa yang dirasa melalui tatap. Sampaikan segala gundah dan gelisah yang dirasa. Salurkan kata yang tak bisa disampaikan melalui lisan.

“Sa, itu … agak sulit. Kamu tahu sendiri kan? Kalau memungkinkan kita bisa wujudinnya bareng-bareng, kalau nggak maaf ya?”

Reksa menggeleng, nggak mau terima maaf yang dikeluarkan barusan. Reksa nggak mau dengar maaf dari mulut Satya malam ini. Nggak mau.

“Satya,” katanya putus asa.

Air mata mulai mengalir turun, basahi pipi Reksa malam itu. Dinginnya ruang rawat Satya tak lagi Reksa pedulikan. Satya-nya lebih penting dari apapun yang ada.

“Aku masih di sini, jangan nangis,” Satya hapus air mata yang mengalir dari manik kesukaannya.

Satya ulaskan senyum, “Reksa, aku masih di sini, kalaupun aku nggak ada, aku masih di sini sama kamu,” jarinya menunjuk dada Reksa.

“Aku maunya sama kamu, maunya ada kamu.”

“Aku juga mau,” balas Satya, ia paksakan senyum, “tapi semesta kadang banyak maunya, Sa.”

Semesta untuk kali ini bisa tidak berpihak pada Reksa?

Reksa hanya ingin dalam setiap lembar cerita yang tertulis ada Satya di dalamnya.

Mimpinya memang banyak, namun untuk kali ini mimpinya satu, Satya tetap bersamanya sampai nanti. Apakah bisa ia wujudkan seperti mimpi-mimpinya yang lain?

Reksa itu pemimpi yang handal, banyak sekali yang ingin dia capai. Tapi, Reksa terkadang lupa satu hal, bahwa dunia yang punya kuasa. Akan hal apa yang terjadi nantinya, bukan lagi kuasa Reksa.

“Satya, jangan pergi, nggak boleh,” malam itu ditemani hujan di luar rumah sakit, Reksa menangis di pelukan Satya.

Memohon pada dunia agar tak ambil Satya-nya secepat itu. Memohon agar dunia berbaik hati pada keduanya. Memohon pada dunia agar punya sedikit belas kasihan padanya.

Malam itu dengan bibir pucat dan tangan gemetar, Satya paksakan keluarkan beberapa kalimat, “aku sayang Reksa, sayang banget. Bahagia terus ya, sayang?”

Bisa tidak Satya diam saja dan tetap memeluknya erat, tanpa harus bersuara. Reksa semakin kalut dibuatnya. Seolah Satya akan segera meninggalkannya sendiri.

Bagaimana Reksa bisa bahagia kalau Satya tak lagi disisi? Reksa nggak bisa. Membayangkannya saja sudah membuatnya mual.

Nyatanya segala pikiran buruk itu benar-benar terjadi. Di antara banyaknya mimpi, Reksa tak pernah terpikir kalau mimpi buruknya malah menjadi nyata.

Satya-nya pergi, tinggalkan Reksa sendiri.

Satya tinggalkan Reksa 'tuk hadapi dunia sendirian.

Dalam hidupnya Heeseung selalu bersyukur dipertemukan dengan Sunghoon. Pemuda yang punya banyak cara 'tuk buat Heeseung tersenyum.

“Utututu bayi gede aku lagi nangis,” Sunghoon terkekeh kala lihat wajah Heeseung memerah, disertai air mata yang mengalir.

“Hoon,” keluhnya sembari sembunyikan wajah di pundak sang kasih.

Tepukan mampir di kepala Sunghoon berikan untuknya, beberapa kali hingga ia tersenyum. Tak lama ia dipeluk lagi, rasanya hangat, Heeseung suka.

“Jadi abang tuh memang susah, ya? Nggak apa, pacarku keren banget, makasih ya udah jadi abang paling keren,” suara halus sapa telinga.

Heeseung tak tahu lagi harus apa selain bersyukur akan hadirnya Sunghoon disisi.

“Aduh kok nangis lagi? Kata papa harus dipuk-puk biar nggak nangis,” kata Sunghoon lagi.

Sunghoon hangat seperti Papa.

Sunghoon hangat hingga Heeseung ingin selalu ada didekatnya.

“Makasih, sayang,” bisik Heeseung, ia lingkarkan kedua lengan di pinggang Sunghoon, balas memeluknya erat.

Abang itu nggak pernah banyak minta, selalu diam dan mengalah, apalagi sama adik-adik kembarnya. Abang juga bukan pribadi yang suka menuntut ini itu sama Yayah dan Papa.

Nggak, abang bukan tipe yang seperti itu.

Abang itu kalau kata kakak, si sabar dan penuh kasih sayang.

Abang cinta keluarga lebih dari dia cinta sama dirinya sendiri.

Walaupun kembar dan hanya berjarak beberapa menit dari Abang, dia tetap sosok kakak pertama yang menjaga adik-adiknya.

Yayah dan Papa itu adil kok perihal kasih sayang. Nggak pilih kasih, begitu juga ke Abang. Mereka menyayangi dia sama seperti dua adiknya.

Tapi, namanya manusia terkadang tak pernah lepas dari kesalahan. Begitu juga Yayah dan Papa.

Heeseung memakluminya. Ia pikir wajar saja namanya orang tua, sudah lelah bekerja. Tak masalah baginya, asal dua adiknya tak rasakan sedihnya dia.

Heeseung itu mirip sekali seperti Jaehyun, Younghoon sendiri akui itu. Tak memikirkan diri sendiri.

“Abang,” Younghoon memanggilnya ketika Heeseung berjalan melewati ruang keluarga.

“Iya, Yah?” Pemuda tujuh belas tahun itu berjalan mendekat dan duduk di hadapan sang ayah.

Dari raut wajahnya Heeseung bisa lihat khawatir yang terpasang jelas di sana. Pasti karena tadi siang. Heeseung sudah siap dimarahi kok, tenang saja.

“Ada yang mau kamu jelasin ke Yayah?”

Kalau boleh Heeseung bilang, sifat Younghoon agak berbeda beberapa hari ini. Seolah kehilangan hangat yang biasa melingkupi, terganti dingin yang buat beku sekujur tubuh.

“Abang berantem dan nggak bisa jagain mereka, makanya Adek jatuh dari tangga,” jelas Heeseung singkat.

Mereka bertiga bukanlah orang yang suka berkelahi, Papa bilang itu bukan hal baik untuk diikuti. Tetapi, hari ini adalah pengecualian. Si kembar itu tak pernah terlibat kenakalan di sekolah, catatan di sekolahnya pun selalu baik dan berprestasi.

Makanya ketika mereka terlibat perkelahian, jelas para siswa dan guru yang mengenal mereka kaget.

“Kalau udah tau kenapa masih dilakuin? Yayah kan udah bilang, sekolah yang benar jangan ikut hal nggak baik,” pecah juga amarah Younghoon sore itu.

“Kamu kakak mereka, Bang, jangan beri contoh yang nggak baik. Yayah sekolahin kamu untuk belajar, bukan untuk berantem. Akhirnya apa? Adik kamu luka. Itu yang kamu mau? Adik-adik kamu luka, sakit, itu maunya?”

Heeseung menatap Younghoon terkejut. Seumur hidupnya tak pernah dia dengar Younghoon berujar seperti ini. Younghoon tak pernah seperti ini.

“Yah,” Jaehyun bahkan ikut menegur suaminya itu.

“Jangan dibela terus, dia akan kurang ajar kalau kamu belain terus, Pa!”

“Yayah, apaan sih?” Jaehyun menatapnya tak percaya, “kamu bisa-bisanya nuduh anak kamu begitu?”

“Ya kamu liat aja, kali ini berantem, besok apa lagi? Emang nggak bisa lakuin hal yang bener aja?”

Heeseung sakit hati, jujur.

Ia tak pernah marah kalau Yayah menaruh perhatian lebih pada dua adiknya, tak pernah juga marah kalau ia yang disalahkan, tak pernah sama sekali.

Ia bangkit dari duduknya, menatap Younghoon tepat di matanya, “maaf ya, Yah, kalau Abang nggak becus jadi kakak. Nggak bisa jagain mereka. Tapi, Yah, Abang baru pertama kali jadi Abang, baru pertama kali ini. Banyak hal yang aku sendiri juga nggak paham, jadi maaf kalau banyak kecewa daripada bangganya.” Setelahnya, berjalan menuju pintu keluar, “Abang, mau ke tempat Jaehyuk dulu, siapa tau nanti nyariin.”

“Anak-anak udah bobo, Yah?” Jaehyun bertanya setelah selesai mencuci peralatan makan mereka.

“Barusan bobo, tadinya nggak mau tidur sibuk nyariin Papanya.”

“Hahaha ya biasanya kan mereka bobo sama aku, karena kamu pulang pas jam mereka bobo kadang.” Jaehyun ulurkan secangkir coklat hangat ke arah Younghoon.

Younghoon gumamkan terima kasih sebelum meminum coklat hangat itu. Matanya meneliti raut lelaki yang sudah jadi suaminya dalam kurun tiga tahun itu.

Tangannya mengusap bawah mata Jaehyun yang kini berhias hitam dan kantung mata yang semakin tebal. Pasti lelah ya.

“Capek, ya? Tadi tidur siang nggak?”

“Nggak sempet, anak-anak agak rewel hari ini. Terus kerjaanku deadline-nya mepet.”

Bibir semerah buah ceri itu melengkung ke bawah, hingga buat Jaehyun uraikan tawa di malam sunyi. Ia usap helai yang baru diwarnai itu, “kenapa cemberut gitu? Kayak bayi.”

“Maaf ya?” Pintanya.

Jaehyun mengernyitkan dahi bingung, “untuk?” Younghoon tak melakukan kesalahan padanya, lantas kenapa minta maaf?

“Kamu harus ngurus anak-anak sambil ngerjain kerjaan kamu, jadi makin capek.”

“Lucu banget kenapa sih?” Jaehyun tertawa sembari mencubiti kedua pipi Younghoon. “Kan aku juga orang tua mereka, masa aku nggak ngurus anak aku karena capek kerja?”

Jatuh cinta dengan Lee Jaehyun itu tak rumit. Semua perlakuan dan perkataannya itu mampu buat Younghoon jatuh cinta. Jaehyun itu apa adanya dan Younghoon suka. Jaehyun mau terima Younghoon dan segala kurang yang ia miliki.

Jaehyun itu luar biasa.

Jatuh cinta dengan Lee Jaehyun itu sederhana. Sesederhana hujan yang turun basahi bumi, terus mengalir turun walau terhempas jauh, mengalir mencari kemana hingga akhirnya ia bermuara.

Ibaratkan air hujan itu adalah Younghoon, yang mengalir dan kini bermuara pada pemuda Lee.

Dan Younghoon tak pernah menyesalinya.

“Tapi omongan anak-anak tadi buat kamu sedih, 'kan?” Younghoon menatap Jaehyun.

“Ya sedih sih, tapi setelah aku pikir-pikir bocah banget nggak sih aku kalau marah sama mereka? Mungkin maksud mereka nggak begitu?”

“Anak-anak ngerasa bersalah dan takut kamu marah, mereka itu sayang sama kamu, Je, cuma nggak tahu harus gimana ngungkapinnya,” kata Younghoon, “mereka masih gengsi kalau mau manja-manjaan sama kamu.”

“Gengsian kayak Yayah-nya,” ledek Jaehyun.

Younghoon cemberut, “terus aja.”

“Aduh lucu banget sih.”

Setelahnya malam itu dihabiskan dengan cubitan di pipi Younghoon dan Jaehyun yang tertawa.

Hari ini, tak buruk juga ternyata.

“Ka,” panggil Jenggala. Ia masih belum bisa memejamkan mata. Jantungnya berdegub ribut, buat ia makin tak bisa terlelap.

“Masih nggak bisa tidur?” Marka berbalik dan menatap Jenggala.

Jenggala mengangguk, matanya menatap Marka memelas. Marka tertawa kemudian menarik Jenggala mendekat. Ia bawa tangannya mengelus pelan punggung Jenggala, “tidur udah jam dua, kalau nggak tidur nanti dibawa mbak kunti. Mau lo?” Ia biarkan Jenggala beringsut mendekat, hingga kepala yang lebih muda berada tepat di dadanya.

Marka letakkan kepalanya di puncak kepala Jenggala.

“Tidur gih.”

“Nyanyi dong,” pinta Jenggala.

Kebiasaan Jenggala belum berubah, masih sama seperti yang Marka tahu. Minta dinyanyikan kalau nggak bisa tidur, sama seperti waktu mereka kecil.

“Nggak mau nina bobo, awas aja,” ancam Jenggala.

Marka tertawa, teringat sewaktu mereka masih sekolah menengah atas, Jenggala nggak bisa tidur dan sudah jadi kebiasaan Marka kalau malam selalu menginap di kamar Jenggala. Sama seperti sekarang. Ia minta dinyanyikan dan Marka itu diam-diam jahil, maka ia menyanyikan lagu nina bobo.

Jenggala jelas protes, tapi pemuda itu berkilah, “lo kan masih anak kecil!”

Masih sama seperti tahun-tahun dan hari-hari sebelumnya, Jenggala bergelung nyaman di pelukan Marka dan Marka bernyanyi untuknya. Jenggala suka dengar suara Marka ketika bernyanyi.

Suaranya berat namun tetap terdengar lembut. Jenggala suka dan ingin dengar suara indah itu terus.

“Gal, udah bobo?” Marka menjauhkan dirinya guna melihat Jenggala.

Setelahnya senyum muncul di wajah rupawannya, “selamat tidur,” gumamnya dan kembali memeluk Jenggala.

Jenggala, Marka mau begini terus sampai waktu yang lama, bisa nggak?

warning, this story contains:

miljusun ngewe, jadi sudah pasti ini isinya kotor. threesome, dom!je, vers!ju, sub!sun. miljusun pacaran bertiga. usage of vulgar words (penis, ngewe), swear local words (anjing, brengsek) and a lot of harsh words. degradation, humiliation, dirty talk, implisit sex scene, making out, rough sex (kinda). terus di sini sunwoo-nya suka pake rok.

tolong tegur aku kalau ada tags yang nggak dimasukin atau salah, terima kasih.


Dibalik sifat garang dan cueknya Sunwoo, banyak yang tak tahu perihal kecintaan Sunwoo pada rok. Iya, rok. Bukannya menutupi, tetapi Sunwoo pakai rok hanya untuk kedua pemuda kesayangannya saja kok. Bukan untuk orang lain.

Sore itu kontrakan hanya berisi dia dan Juyeon, sedangkan Jaehyun masih satu jam lagi hingga ia menampakan diri di kontrakan.

Jemarinya membuka pintu lemarinya, dengan cepat mencari barang yang ia butuhkan. Setelahnya tersenyum senang. Bermain-main sedikit tak masalah bukan?

“Juyoo!” Serunya dari dalam kamar, setelah mengganti pakaiannya.

“Aku di depan sini!” Balas Juyeon sembari berteriak juga.

Bibirnya cemberut sedikit dan kembali berseru, “ke kamarku dong, mau minta tolong!”

Tak lama Sunwoo dengar langkah kaki beradu di dinginnya lantai. Ia tersenyum penuh kemenangan, berhasil.

Pintu kamarnya dibuka bersamaan sosok tinggi itu memasuki kamar, nampaknya masih belum sadar dengan pakaian yang kini melekat di tubuh Sunwoo.

“Minta tolong apa─brengsek, sengaja ya?” Mata itu menatapnya lekat, seakan menelanjangi diri. Sunwoo bahkan dibuat gemetar oleh tatapan tajam itu.

“Nggak juga?” Sunwoo terkekeh, ia mengambil langkah maju, mendekat ke arah Juyeon.

Kemudian kedua tangannya melingkari leher Juyeon. Jarak antar keduanya nyaris tak ada, hidung keduanya bahkan sudah bersentuhan.

“Suka, 'kan?” Bisiknya sarat akan godaan di sana.

Dapat Sunwoo rasakan lengan Juyeon melingkari pinggangnya. Mengelus pelan, menyusuri pinggang ramping itu. Seolah tinggalkan jejak kepemilikan di sana. Seakan jadi deklarasi kalau pemuda ini sudah ada pemiliknya.

Tangan Juyeon bergerak turun, sebuah senyum muncul di sana, “nakal ya, siapa yang ngajarin kamu, hm?”

Sunwoo meremang kala tangan besar itu mengelus pelan paha dalamnya. Menyelinap masuk ke dalam rok hitam yang ia kenakan. Kemudian, bergerak menuju tubuh belakangnya dan menampar pelan pantatnya.

“Ju,” rengeknya.

“Bukan Ju,” kata Juyeon.

Tangannya Sunwoo bergerak menuju pipi Juyeon, menarik wajah itu mendekat dan berbisik, “iya, Kakak,” setelahnya menyatukan bibirnya dan Juyeon dalam ciuman.

Elusan di sepanjang punggung Juyeon berikan, sesekali meremat pinggang ramping itu. Juyeon selalu suka ketika tangan besarnya bertemu dengan pinggang ramping Sunwoo, rasanya menyenangkan. Melihat tangannya hampir menutupi pinggang itu.

Tak berhenti disitu, ia menarik kemeja putih yang Sunwoo kenakan dan menyelinap masuk. Menyentuh apa yang bisa ia sentuh, merasakan kulit telanjang itu dibawah sentuhannya. Menyentuh otot di perut Sunwoo yang sudah terbentuk dengan indah di sana.

Rengekan Sunwoo semakin jadi dibuatnya. Entah berapa lama mereka bertahan di posisi itu, hingga akhirnya Juyeon mendudukkan diri di kasur Sunwoo dan menarik si empu untuk duduk di pangkuan.

Napas keduanya terengah, saling bersahutan dalam ruang kamar. Matanya enggan alihkan tatap dari pemuda di pangkuan. Pemandangan indah ini, siapa juga yang rela untuk mengabaikan?

Dia bisa lihat jelas bibir tebal yang bengkak dan mengkilap karena saliva, mata sayu yang menatapnya penuh harap, dada naik turun, pakaian yang berantakan. Sunwoo total indah di matanya.

“Pakai dasi gini,” jemarinya meraih dasi hitam yang Sunwoo kenakan, “biar ditarik pas lagi ngewe, gitu?”

Sejujurnya Juyeon bukan pribadi yang suka berkata kotor dan vulgar. Saat bersama Sunwoo dan Jaehyun adalah pengecualian. Juyeon tak malu untuk melontarkan kata-kata kotor, yang mampu buat nafsu Sunwoo semakin naik dan berakhir merengek untuk dipuaskan.

Dengan cepat Sunwoo mengangguk, “mau ... mau ditarik pas lagi diisi penis Kakak,” kata Sunwoo dengan berani. Jari lentik itu mengusap bibir Juyeon, “mau dienakin sama Kakak, pas pake baju sama rok ini.”

Persetanan dengan pertahan diri yang begitu rendah ketika bersama Sunwoo. Siapa juga yang tahan ketika dengar ucapan kotor barusan? Jawabannya bukan Juyeon apalagi Jaehyun.

“Mau dienakin sama Kakak aja? Kak Jaehyun nggak mau?”

Perkataannya begitu manis dan mampu membuat Sunwoo menurut.

Kepalanya pusing bukan main. Bayangan ketika kedua kesayangannya mengisi dirinya, ketika ia masih mengenakan pakaian lengkap. Tanpa sadar Sunwoo melenguh, pinggulnya bergerak dan kedua penis keras itu saling bersentuhan.

“Mau ... mau Kak Jaehyun─mau kalian─nghh.” Ia jatuhkan kepalanya di pundak Juyeon, tak mampu lagi menatap Juyeon.

Juyeon kecup pipi yang memerah itu, “kalau gitu harus nunggu Kak Jaehyun,” kata Juyeon main-main.

Sunwoo tahu Juyeon sedang menguji kesabarannya dan lagi Juyeon juga tahu Sunwoo bukan si penyabar. Sunwoo selalu mau keinginannya dipenuhi segera.

Ia gerakkan lagi pinggulnya, kembali menyapa penis keras Juyeon. Hadirkan lenguhan dari bibir kakak kucingnya. Tangan besar itu kembali menyapa pinggangnya, menahan agar tak bergerak lagi.

“Anak nakal,” bisiknya. Tangan satunya meraih ponsel di kantung celana. Mencari kontak Jaehyun dengan cepat.

“Kak, masih lama?” Sunwoo merengek pelan, dia benar-benar habis malam ini.

Mata Juyeon menatapnya, seringai hadir hiasi wajah yang sialannya sangat tampan itu.

“Anaknya mau dienakin pas pake rok, terus mau ditarik dasinya pas lagi ngewe. Kira-kira pas denger itu kakak bakal pulang lama atau cepet?”

Setelahnya Juyeon tertawa begitu dengar kasihnya menggeram marah. Oh, sepertinya malam ini ada yang akan mengamuk.

“Jangan lama ya, Kak, kalau lama kita berdua duluan.”

Anjing. Tunggu Kakak bentar lagi sampai. Tunggu, Kakak, paham?”

Sunwoo dapat dengar jelas suara Jaehyun di sebrang sana. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Semua yang menyangkut Jaehyun, memang mampu buat Sunwoo merasa kecil seketika.

Tapi, katakan Sunwoo bebal dan selalu cari masalah. Terlihat ia kembali menggerakkan pinggulnya, membuat Juyeon loloskan satu lenguhan panjang.

“Ah ... Sun─stop.”

“Kak Je, cepetan pulang kita tunggu─hngh Kak Ju,” katanya disela lenguhan yang berebut untuk keluar.

Baik Sunwoo maupun Juyeon dapat dengar dengan jelas makian Jaehyun. Sunwoo dan Juyeon sebenarnya sama, sama-sama suka menguji kesabaran Jaehyun.

Persetanan dengan Jaehyun dan hukuman yang menanti, Juyeon tak peduli lagi. Nafsunya sudah diambang batas dan tak bisa menunggu lebih lama.

Ia dorong Sunwoo, hingga kekasih kecilnya itu terlentang di kasur. Jemarinya meraih dasi hitam itu dan menariknya kuat.

“Akh!”

Kemudian menyatukan bibir keduanya dalam cumbuan kasar. Juyeon lepaskan sejenak untuk berujar, “Kak Je, nggak tahan. Boleh buka kancing baju Sunwoo?” Ia nyalakan loudspeaker di ponselnya.

Fuck. Macet sialan,” Jaehyun sempatkan untuk memaki sebelum menjawab pertanyaan Juyeon barusan, “boleh, Sayang, buka kayak aku biasa buka kemeja kamu. Bisa?”

“Hm, bisa.” Ia tarik dengan kasar kemeja putih itu, membuat beberapa kancing itu lepas dan jatuh entah ke mana.

Anak pinter, lakuin apa yang mau kamu lakuin. Buat tubuh Sunwoo layaknya kanvas yang harus kamu lukis.”

Juyeon itu anak baik dan penurut. Maka ia lakukan perintah Jaehyun tanpa kurang sedikitpun.

Desahan Sunwoo mulai mengisi ruang kamar. Tangannya meremat helai hitam Juyeon.

“Kak Je,” kepalanya mendongak kala rasakan lidah Juyeon menyapa putingnya, “Ju─Kakak ... ah.”

Iya, Nu, mau dienakin sama Kakak juga?” Sunwoo mengangguk, mulutnya terlalu sibuk mendesah, tetapi hebatnya Jaehyun mengetahuinya. “Sabar ya, kecil, kakak udah sampai.”

Lagi Sunwoo mengangguk.

Sambungan telepon terputus bersamaan pintu kamar mereka dibuka. Jaehyun di sana, menatap keduanya dalam diam.

Tangan Sunwoo terulur ke arah Jaehyun, “Kakak.” Jaehyun mendekati dua kesayangannya.

“Cantik, cantik banget pakai rok kayak gini,” kata Jaehyun.

“Hngh,” desahnya semakin vocal enggan ditutupi lagi.

Tangannya meraih dagu Juyeon, mencengkramnya erat, “nakal banget mulai duluan.” Jaehyun kecup bibir yang terbuka sedikit itu.

“Maaf,” cicitnya.

Jaehyun menepuk pipi sang kasih, guna menenangkan Juyeon. Tatapannya kembali beralih ke yang paling muda. Sebuah seringai mampir di wajah rupawannya.

“Ini yang katanya mau dienakin sambil pakai rok?” Ia raih dasi hitam yang melingkar apik di leher Sunwoo, ditariknya lumayan kuat hingga wajah Sunwoo terangkat.

“A-ah!”

“Bilang kamu mau apa, mulutnya dipakai, Nu, bisa 'kan?”

Kalau Juyeon suka keluarkan kata-kata kotor, lain lagi dengan Jaehyun. Pemuda itu penuh kuasa, suka mendominasi dan buat keduanya bertekuk lutut. Pemuda itu mampu buat keduanya jatuh dalam kuasanya.

Sunwoo buka matanya perlahan, ia tatap kedua lelakinya bergantian, “mau dienakin, mau diisi sampai tolol, mau dipake kakak. Mau kakak ... mau─akh!” dadanya membusung, ketika penisnya dicengkram kuat oleh Jaehyun.

Akal sehatnya sudah hilang, terkikis oleh nafsu birahi yang membara. Tak ada hal lain yang mampu ia pikirkan, selain Juyeon, Jaehyun dan bercinta.

Juyeon memaki, ia paksa bibir itu mengulum jarinya. Sedangkan Jaehyun tertawa sebelum melepaskan jas yang masih membalut tubuh tegapnya.

“Nu, malam ini nggak akan berakhir dengan cepat. Walaupun kamu nangis, kita nggak akan berhenti.”

Kalau dulu sunwoo enggak pernah suka terjebak di bus ketika pulang sekolah. Kalau sekarang sih, jangan ditanya dia sengaja cepet-cepet ke halte. Mau ketemu si kakak galak, yang punya senyum super duper manis.

Sunwoo suka, mau lihat lagi senyum manis itu.

Awalnya ketika hari rabu, hari di mana Sunwoo mengecapnya sebagai hari terburuk. Buku tugasnya tertinggal di rumah, salah seragam, terus lupa bawa baju futsal. Super menyebalkan, bukan?

Maka, bibirnya tak berhenti merengut, sampai Eric tak henti meledeknya. Sepanjang hari Sunwoo enggak berenti ngeluh. Apalagi pas pulang sekolah.

Naik bus, di jam pulang sekolah itu sangat menyebalkan. Ramai dan penuh sesak, kalau beruntung keadaan bus enggak terlalu ramai. Tapi, lagi nampaknya hari rabu masih ingin bermain-main dengannya.

Ya, keadaan bus ramai, hingga Sunwoo harus berdiri di tengah banyaknya manusia sore itu. Menyebalkan.

“Eh, Bu, jangan dorong-dorong dong, nanti saya jatuh Ibu mau tanggung jawab?” Omel Sunwoo.

Sensitif seperti wanita mau melahirkan─ini kata Hyunjun omong-omong.

“Jangan lebay deh, saya cuma senggol dikit aja,” si Ibu balas mengomel.

Waduh bakalan ribut nih, mungkin itu yang ada dipikiran orang-orang yang ada di dalam bus. Sunwoo bahkan ingat hari itu dia berdebat dengan ibu-ibu menyebalkan itu, hingga seorang pemuda─mungkin seumuran dengannya─menepuk pundaknya pelan.

“Udah, enggak capek apa debat kayak gitu?” Suaranya halus sekali, astaga Sunwoo jadi salah fokus kan!

Tatapannya tajam, seakan bisa memaksa siapapun untuk tunduk padanya. Intinya pemuda di sebelahnya ini cukup mengintimidasi. Mungkin tipe pemuda yang kaku dan serius? Entahlah Sunwoo tak yakin.

“Minta maaf sana sama ibunya,” kata si pemuda itu.

Lah? Kenapa dia yang harus minta maaf? Itu bukan salahnya! Si Ibu mendorongnya hingga nyaris jatuh, kenapa harus Sunwoo yang minta maaf?

Merasa Sunwoo tak akan menurutinya, maka si pemuda beralih menatap si ibu dan tersenyum, “maafin dia ya, Bu, kayaknya lagi bete di sekolahan.”

Sunwoo kaget, sungguh. Pemuda ini ... kenapa malah dia yang minta maaf?

Entah berapa lama Sunwoo melamun, yang ia tau tangannya ditarik mendekat oleh si pemuda.

“Kalau lagi bete enggak masalah, tapi jangan sampai luapin ke orang yang enggak tau masalah lo,” katanya disertai senyum yang mampu buat Sunwoo mati kutu.

Senyum itu ... Sunwoo mau lihat lagi.

“Nama lo siapa?” Katakan Sunwoo tak tahu malu, nyatanya itu lah dirinya. Lebih tepatnya sih, enggak tahu malu.

Mungkin si pemuda merasa pertanyaan Sunwoo barusan, tak relevan dengan perkataannya tadi. Tapi, senyum itu seakan enggan luntur, masih tetap di sana dan buat jantung Sunwoo berdegub ribut.

Tak lama Sunwoo dengar kekehan keluar dari bibir kemerahan itu, “Chanhee, lo?”

“Sunwoo,” jawab Sunwoo dengan cepat.

Memalukan, tapi terserah. Sunwoo hanya ingin mengetahui nama si pemuda.

“Sekolah di mana?” Chanhee membuka obrolan lagi.

“SMA Cre.ker, lo sendiri?”

Lagi, Chanhee tertawa. Sunwoo tatap pemuda itu bingung. Emang wajah Sunwoo terlihat bodoh ya saat ini? Hingga Chanhee tak henti-hentinya tertawa.

“Gue keliatan masih anak sekolah emangnya?”

Dengan polos Sunwoo mengangguk.

“Gue udah kuliah, Sunwoo. Semester dua.”

Sunwoo ber-ooh ria. Tapi, jangan salahkan dia karena menganggap Chanhee seumuran dengannya. Wajahnya masih cocok untuk jadi siswa sekolah menengah atas, kok.

“Lo turun di mana?”

“Masih dua halte lagi, Kak, lo udah mau turun?”

Chanhee mengangguk, “gue duluan ya, Sunwoo. Jangan ngamuk-ngamuk lagi ya,” katanya sebelum bangkit dari duduknya.

“Kak,” panggil Sunwoo.

Chanhee menoleh, menatapnya penuh tanya.

“Besok naik bus lagi?”

Dan satu anggukan pasti dari Chanhee mampu buatnya bersemangat.

“Oke, ketemu lagi besok ya, Kak!”

“Iya, duluan ya bocil.”

Bocil.

Semua temannya pasti tahu kalau Sunwoo enggak suka dipanggil bocil, tapi ketika Chanhee yang memanggilnya, dia malah tersenyum bak orang kesetanan.

Apa ini efek melihat senyum Chanhee tadi, ya?

Enggak mungkin juga Sunwoo jatuh cinta pada Chanhee, 'kan?

Enggak. Itu pemikiran konyol.

“Huhu Kak Chanhee.”

Dasar remaja.

Erangan kesal tak berhenti Dhika keluarkan. Lagi-lagi salah akun, astaga. Dhika sudah memaki dirinya sendiri kini. Malu sekali rasanya.

Masih belum surut dari rasa malunya, pintu kamarnya dibuka. Pelakunya jelas Damar, orang yang ingin ia hindari kini. Makin jadi lah merah di pipinya.

“Eh eh merah banget pipinya kenapa? Sakit?” Damar berseru khawatir dan persekian detik sudah berada di hadapan dhika, menangkup pipi Dhika. “Tapi enggak panas.” Bodoh.

Gue malu karena lo bego! Ingin Dhika berseru, namun urung. Malas untuk permalukan diri lebih dari itu. Sudah cukup.

“Aduh kok ditabok sih?” Omel Damar yang tangannya baru saja kena pukulan Dhika─enggak sakit kok dia aja lebay.

“Ngapain?”

“Apaan?”

“Lo,” jemari kecil itu menunjuk Damar, “ngapain ke sini?”

“Ketemu lo lah, ngapain lagi?”

Oh, bolehkah Dhika bersenang hati karena dengar penuturan singkat itu? Senyum setengah mati ia tahan agar tak terlihat konyol di mata Damar─setidaknya itu menurut dirinya sendiri.

Rasa ini, sudah berapa lama Dhika tak rasakan lagi? Sudah berapa lama hangat tak hampiri diri? Sudah lama sekali hingga rindu datang menghampiri.

“Kok dipukul lagi?” Dan Dhika lebih rindu dengan kebiasaan mereka ketika masih bersama dulu.

“Berisik ah.” Apa yang diucap, beda dengan yang dilakukan. Terlihat dari jemari itu menyisir rambut yang baru diwarnai itu dengan pelan, disertai senyum di bibir.

“Bagus enggak sih diwarnain gini? Tadinya tuh enggak mau, tapi diajak Karin ya udah ngikut. Soalnya besok gue juga izin─eh gue belum bilang ke lo, ya?” Dhika menggeleng pelan. “Nah iya sekalian bilang, jadi besok gue izin kakak sepupu gue nikahan. Makanya gue berani warnain rambut, besok malem juga udah ke salon lagi.”

Bisa enggak warna rambut ini bertahan lebih lama?

“Padahal lo bagus diwarnain gini,” bisiknya.

Dhika kira Damar tak akan dengar bisikan lirihnya.

“Makin ganteng ya?”

“Iya─hah?”

Selanjutnya ruangan itu terisi suara tawa Damar dan omelan Dhika.

warning: cheating , breakup

word count: 1.786

selamat membaca!

─ ?

Rindu itu anarkis, bahkan ugal-ugalan. Sialnya lagi tak pernah berhenti, datang terus menerus tanpa kenal lelah. Tanpa tahu tempat dan waktu. Tanpa peduli kalau ia datang bawa rasa sakit bagi yang merasakan.

Rindu itu menyakitkan bagi sebagian orang. Menyelinap hadir dan bawa rasa sesak karena harus tahan rasa itu sendiri. Bukan begitu, Eric?

Entah berapa kali ia harus tahan rasa rindu itu sendiri. Telan bulat-bulat rasa kecewa ketika sang puja batalkan lagi janji-janjinya. Coba ingatkan diri kalau lelakinya tengah sibuk dengan pekerjaan, ketika ragu dominasi diri. Coba beri percaya lagi ketika rasa itu kini dipenuhi keraguan.

Ia ragu namun hatinya bilang untuk percaya. Katanya, kasihnya tak mungkin begitu. Tak mungkin khianati dan rusak rasa percaya yang ia beri.

Katakan ia bodoh, biar lah Eric hanya coba percaya pada sang kasih. Ia masih mau percaya. Walau dihantam rasa sakit dan kecewa terus-menerus, tak apa. Ia akan tunggu sedikit lagi.

“Mau sampai kapan sih lo kayak gini, Ric?” Suara Soobin kembalikan Eric ke dunia nyata. Matanya berpendar ke ruang kamarnya, ada dua temannya di sana.

“Ric,” kali ini Yiren angkat bicara ketika Eric masih diam, “tanya ke dia minta kepastian, mau diapain hubungan kalian ini. Enggak ada salahnya, Ric.” gadis itu beri tepukan pelan di bahu.

“Sekali dua kali oke lah kalau dia batalin janji karena ada kerjaan mendadak tapi, kalau lebih dari itu?” Soobin kembali berujar, “chat lo aja jarang dibales, enggak kayak sebelumnya 'kan? Yang namanya Sunwoo tuh enggak ada ceritanya abaiin semua chat lo, Ric, lo tau sendiri gimana bucinnya dia ke lo, 'kan?”

Eric benci dengar hal itu.

Eric benci karena yang Soobin ucapkan semuanya benar.

Eric benci.

Benci keadaan yang buat Sunwoo-nya berubah.

“Iya nanti gue tanya dia,” kata Eric singkat.

Yiren menatap Soobin pemuda itu hanya balas anggukan pelan, “jalan yuk? Biar enggak suntuk diem di apart aja. Gue dapet rekomendasi kafe enak deket kantor Yeji.”

Kantor Yeji berarti kantor Sunwoo juga. Ya sudah mungkin nanti ia bisa bertemu Sunwoo di sana?

“Ayo.”


Ajak Eric pergi keluar adalah jalan terbaik. Buktinya senyum manis itu kembali hiasi wajah rupawannya. Sudah mulai lontarkan candaan lagi seperti biasa. Soobin dan Yiren kembali temui sahabat mereka yang biasa.

“Bentar deh mau ke toilet dulu,” kata Eric.

Masih dengan senyum kecil Eric berjalan menuju toilet. Setidaknya siang menuju sore hari itu ia bisa ukir senyum dan uraikan tawa, berkat kedua temannya. Langkahnya ringan seolah tak lagi rasakan beban berat.

Matanya berpendar ke penjuru kafe, rasanya nyaman dan buat Eric betah berlama di sini. Hingga satu titik di pojok kafe tarik perhatiannya. Langkah kakinya ia hentikan dengan mata yang masih terpaku di sana.

Pantas semua pesannya tak pernah dibalas lagi.

Kali ini senyum getir hadir di wajah itu, ia mendongak guna halau air mata yang berebut ingin keluar. Eric bawa kakinya melangkah ke arah sebaliknya, berjalan menuju pintu keluar Kafe. Mengetikan beberapa kalimat ke dua temannya kalau ia harus pergi sekarang. Tugas mendadak dari atasan jadi alasannya kini.

Padahal ia sibuk halau rasa sesak yang datang menggerogoti, sibuk tahan air mata yang memaksa keluar.

Ia tatap jalanan melalui kaca jendela dengan pandangan kosong. Pikirannya ribut menerka apa salahnya, padahal Eric yakin kalau mereka baik-baik saja─setidaknya sebelum sebulan ini Sunwoo bertingkah aneh.

Sejujurnya Eric lelah menerka, lelah mengira-ngira, lelah mencari tahu apa salahnya. Apa yang buat Sunwoo perlahan jadi asing bagi Eric.

Mana Sunwoo yang dulu? Mana Sunwoo yang perhatian dan penuh kasih sayang? Mana Sunwoo yang selalu ada untuknya? Semua hilang dalam kurun waktu satu bulan saja.

Dalam satu bulan Eric kehilangan Sunwoo-nya.

Terkadang ia salahkan takdir kenapa begitu jahat padanya. Kenapa ikut permainkan hubungan keduanya?

“Terima kasih ya, Pak,” setelah beri uang pada sang sopir taksi, Eric bergegas masuk ke gedung apartemennya, abaikan sang sopir yang memanggil.

Eric butuh sendiri, ia butuh waktu untuk proses keadaan yang ada.

Pergantian langit sore menjadi kelabu Eric habiskan untuk menangis hingga dadanya sesak. Lelehan air mata itu jatuh bak hujan deras yang tak mau berhenti. Tubuhnya meringkuk bak bayi yang baru lahir, semakin masuk dalam selimut ketika sesak itu tak kunjung pergi.

Sunwoo, rasanya sakit sekali Eric tidak bohong.

Sunwoo, kalau bosan setidaknya selesaikan dulu urusanmu dengan Eric. Jangan dulu buat cerita yang baru.

Sunwoo, setelah semua pahit manis yang kamu lalui dengan Eric, ini caramu untuk membalas penantiannya? Ini caramu untuk balas rasa terima kasihmu?

Sunwoo, tolong ingat Eric yang ada bersamamu dititik terendahmu, membantumu untuk bangkit lagi hingga saat ini dan orang itu bukan pemuda yang ada bersamamu di kafe sore tadi. Orang itu Eric.

“Mama ... sakit banget rasanya.”

Jadi, ini yang dirasakan ibunya ketika sang ayah lebih pilih orang lain ya?


Sunwoo tahu bosan tak seharusnya jadi alasan ia abaikan pesan-pesan yang dikirimi Eric. Tak seharusnya dia batalkan janji dengan Eric, hanya untuk orang lain. Dan tak seharusnya ia buka hati untuk orang lain itu.

Awalnya keduanya hanya sekadar senior dan junior di kantor. Pemuda itu banyak membantu Sunwoo ketika ia kebingungan dan keduanya juga sering terlihat dalam satu pekerjaan yang sama. Intensitas pertemuan yang terlampau sering, buat Sunwoo tanpa sadar beri perhatian lebih pada yang lebih tua. Biarkan hatinya terbuka untuk orang lain, padahal seharusnya hanya ada satu nama di sana. Biarkan sosok itu perhalan menggeser pemeran utama dalam cerita cintanya.

Sunwoo salah langkah dan tak tahu harus bagaimana.

Ia jelas dapat bayangkan raut kecewa dan sedih tampil di wajah rupawan Eric. Selama mereka berhubungan Sunwoo tak pernah ingkari janji keduanya, tak pernah abaikan pesan Eric sesibuk apapun dia. Namun kini? Sunwoo seolah menjelma jadi sosok yang berbeda.

Jadi, sosok asing yang tak dapat Eric kenali.

“Hei, kamu baik?” Suara halus itu membuat Sunwoo sadar dari lamunan panjangnya.

Sunwoo beri gelengan singkat, “udah selesai?”

“Yuk pulang.”

Sunwoo tahu semua salahnya. Bukan salah Eric, bukan sama sekali. Eric tak pernah menuntut ini itu, Eric selalu diam dan beri semangat ketika Sunwoo bilang ia lelah. Eric selalu ada di situ menantinya, Sunwoo sadar itu.

Bahkan hingga dosa yang ia lakukan kini nama Eric masih di sana, masih pegang tahta tertinggi dalam hati Sunwoo, walau ia beri celah untuk orang baru. Nama Eric masih di sana.

Sunwoo terlalu terbuai suasana, buat ia tanpa pikir panjang lakukan sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang tak akan bisa dimaafkan oleh Eric.

Sunwoo egois ia tahu.

Tetapi, lagi ia tak bisa menyangkal kalau pemuda itu menarik perhatiannya. Sunwoo yang tengah jenuh pada hubungannya dan Eric mulai buka celah.

Entah lah ini semua membingungkan, Sunwoo hanya berharap Eric tak tahu dan biarkan ia selesaikan hubungannya dengan seniornya di kantor.

Tetapi, Sunwoo tidak tahu kalau Eric lihat semua dengan jelas. Bagaimana ia tatap pemuda itu penuh cinta, bagaimana tangan itu beri usapan gemas, bagaimana Sunwoo beri ciuman mesra di pipi. Eric lihat semuanya namun, ia pilih diam dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.

Sunwoo pun tak tahu bagaimana semua itu berdampak bagi Eric. Sunwoo tak lagi peduli dan itu menyakitkan.

Kalau ditanya apa hal yang paling Eric rindukan, ia dengan lugas akan jawab Sunwoo-nya yang dulu.

Rindu Sunwoo yang selalu beri usapan gemas, rindu Sunwoo yang selalu beri pelukan dan kecupan di pipi, Eric rindu Sunwoo yang dulu. Yang selalu jadikan Eric sebagai prioritasnya.

Terbiasa akan kehadiran Sunwoo disisi, Eric kebingungan ketika sosok itu hilang seketika dari jangkauan. Buat Eric dipaksa harus terbiasa sendiri.

Dunia, bisa tidak kembalikan Sunwoo-nya yang dulu? Karena Eric rindu setengah mati.


Apa hal terberat dalam suatu hubungan? Akan Eric jawab merelakan.

Merelakan cintanya pergi.

Melepaskan sang kasih agar bisa cari bahagia baru.

Apakah Eric sanggup?

Tidak tahu.

Buktinya sampai sekarang ia masih diam dan menunggu Sunwoo jujur kepadanya. Walau hal itu tak mungkin terjadi.

Sejujurnya Eric sedikit senang ketika Sunwoo yang dulu kembali padanya. Tetapi, Eric jelas merasa kalau semua sudah berbeda. Tak seperti dulu lagi, semua tak sama. Rasanya aneh dan canggung, Eric tak menyukai itu.

Sunwoo yang dulu ia rindukan kini perlahan kembali pulang tetapi, apa rasa itu juga ikut kembali? Atau hanya presensinya saja?

“Kok bengong?“  Sunwoo menatapnya bingung.

Eric uraikan senyum tipis, “enggak cuma agak bingung aja.”

“Bingung kenapa?”

“Aku ngerasa kayak lagi mimpi, Nu, kamu ada di deket aku lagi. Aku mikir ini nyata enggak ya? Atau ini halusinasi aku aja?” Eric tersenyum, “Udah lama enggak kayak gini ya, Nu? Biasanya kan kita sering ketemu cuma sekadar ngobrol berdua tapi, udah lama enggak kayak gitu. Jadi, ya aku seneng tapi ya bingung juga.”

Kali ini Sunwoo dibuat bungkam oleh rentetan kata yang Eric lontarkan.

Sunwoo, sudah sejauh apa kamu torehkan luka pada Eric? Dan kamu masih sanggup untuk tujukkan muka di hadapannya?

“Maaf ya,” pintanya.

“Minta maaf untuk yang mana, Nu?”

Apa maksudnya?

“Gimana?” Sunwoo tatap pemuda di hadapannya penuh tanya.

“Iya kamu minta maafnya untuk yang mana?” Eric jelaskan kembali pertanyaannya tadi, “untuk janji-janji yang kamu batalin? untuk semua pesan aku yang enggak kamu bales? Atau untuk buka hati buat orang lain?”

Eric ... darimana ia tahu?

“Eric─”

“Awalnya aku bingung kenapa kamu tiba-tiba ngejauh, suka batalin janji, pesanku enggak dibales. Aku mikir aku ada salah ya? Kok tiba-tiba kayak gitu. Tapi, aku enggak pernah nemu apa yang salah, kamu enggak pernah mau bilang,” Eric menunduk enggan menatap Sunwoo, “dari awal kita bareng aku udah sering bilang 'kan, Nu, kalau aku ada salah tolong bilang ke aku. Jangan tiba-tiba ngejauh pergi dan tiba-tiba balik seolah enggak ada apa-apa.”

“Dan juga aku pernah bilang kalau kamu bosen sama aku, sama hubungan kita kasih tau aku. Jangan buat cerita baru sedangkan cerita sama aku aja belum selesai.”

Ah mungkin ini sudah akhirnya ya? Eric harus bisa melepaskan Sunwoo, 'kan?

“Delapan tahun, bukan waktu yang sebentar ya, Nu?” Helaan napas Eric keluarkan guna halau air mata yang berebut keluar, “dan kayaknya udah cukup buat kita ambil jalan masing-masing.”

Sunwoo gelengkan kepalanya kuat, “enggak, Eric, enggak gitu. Jangan.”

“Terus mau gimana, Nu?”

“Aku minta maaf, iya aku salah maaf aja rasanya enggak cukup tapi, aku enggak mau putus.”

“Dan berharap hubungan kita bisa kayak dulu? Sadar enggak, Nu, dengan kejadian ini hubungan kita enggak akan sama seperti sebelumnya, semua pasti beda walau kita coba lagi. Hati kamu bukan untuk aku lagi.”

Sunwoo menggeleng lagi, “enggak, Eric ...”

“Rasanya enggak pernah sama, kalau kita paksa untuk tetep bareng rasanya aneh dan akan keinget masalah ini lagi. Aku enggak bisa,” kata Eric lagi, kini ia beranikan diri untuk tatap pemuda yang masih ia berikan rasa cintanya, “aku lepasin kamu walau susah.”

Dapat Eric rasakan tangan itu menggenggamnya kembali, ah pasti Eric akan merindukan hal ini.

“Bahagia ya, Nu, bahagiain kak Chanhee juga jangan disia-siain lagi.”

“Eric, please.”

Eric menggeleng, “udah ya, Nu. Aku pulang dulu, hati-hati di jalan.” Ia beri usapan pelan di surai kecokelatan itu, hal terakhir sebelum akhirnya Eric berjalan pergi tinggalkan Sunwoo sendiri di kafe.

Hari itu Eric belajar dua hal, melepaskan dan mengikhlaskan. Eric lepaskan Sunwoo agar keduanya tak menyakiti lebih dalam lagi. Eric ikhlaskan Sunwoo dan cintanya pergi.

selesai

boleh mampir kalau mau, menerima kritik saran, mau cerita atau ngobrol juga boleh, mau ngajak temenan boleh banget :D

https://secreto.site/id/19757644 https://curiouscat.qa/tofuberries

warning: friends with benefit, implisit sex scene, cheating, harsh word, swear local word (babi, brengsek dll)

intinya jorok.

ga ada posisi kanan kiri, adanya kyunyu di kasur :p


Malam itu Chanhee kembali hadir di ruang kamar Changmin, kamarnya yang bersebelahan dengan Changmin memudahkan ia untuk datang kapan saja. Temani sang karib yang tengah merasa sepi.

Malam minggu yang identik dihabiskan dengan kekasih tak berlaku bagi Changmin. Ia harus berpuas diri menghabiskannya dengan teman sepopoknya─Chanhee. Mengingat sang kasih yang berada di kota lain, memaksanya jalani hubungan jarak jauh.

“Lo enggak sama pacar kecil lo?” Changmin bertanya.

“Mana pacar sih? Temen doang,” kata Chanhee yang masih fokus pada ponsel digenggaman.

“Temen berbagi kehangatan maksud lo?” Hal itu buat sebuah bantal menyapa wajah Changmin, “aduh! Sakit babi!”

“Mulut lo tuh kayak enggak pernah sekolah!” Omel Chanhee setelahnya.

Changmin menatapnya penuh selidik, Chanhee sendiri masih tak peduli.

“Apa sih, Changmin? Mau apa?”

“Yang tadi, jawab,” pintanya penuh paksa.

Mendengar Changmin yang mulai serius Chanhee bangkit dari acara tidurannya dan letakkan ponsel di sembarang tempat. Duduk saling berhadapan di kasur Changmin.

“Ya temen doang, apa lagi?”

Tatapan Changmin masih setia, tak berganti sedetikpun buat Chanhee menyerah.

“Iya oke temen tapi, dia sering minta peluk sama cium. Udah gitu aja.”

Peluk dan cium.

Changmin kira keduanya sudah lebih dari itu, ternyata belum. Hal itu buat senyum muncul di wajahnya. Sontak Chanhee layangkan tatapan heran di sana.

“Kenapa lo senyum gitu?”

Bukannya menjawab Changmin bergerak mendekat, hingga hidung keduanya bersentuhan. Hal itu buat yang lebih tinggi gelagapan, tangannya ia letakkan di pundak Changmin.

“Ngapain?”

“Dia sama gue, enak mana, Chan?”

Chanhee blank seketika. Wajahnya berhias merah, akibat pertanyaan Changmin barusan.

“A-apanya?”

“Ciumannya, Chanhee.”

Ji Changmin, sialan.

Jawabannya sudah pasti Changmin, walau Chanhee berciuman dengan yang lain, nama Changmin selalu ada di sana. Seolah enggan pergi dari pikiran, paksa Chanhee untuk ingat dia terus.

Tetapi, jelas Chanhee ingin bermain sejenak dengan pemuda di hadapannya ini. Maka ia uraikan senyum, matanya tatap Changmin sarat akan godaan, “kenapa enggak lo cari tau sendiri jawabannya, Min?” katanya.

Detik selanjutnya keduanya sudah menyatu dalam ciuman, bibir bertemu bibir melebur jadi satu. Menyesap bibir masing-masing dengan terburu, seolah dikejar waktu.

Tangan pun tak tinggal diam, saling jamah tubuh masing-masing. Rasakan kulit halus itu lewat sentuhan. Chanhee letakkan tangannya di pinggang Changmin, mengelusnya pelan membuat pemuda di hadapannya ini lirihkan desahan.

Changmin mendorong yang lebih tinggi hingga terbaring di kasurnya dengan ia berada di atasnya dan kembali menyatukan bibir keduanya. Keduanya seolah tak mau berhenti walau napas memberat dan berseru minta diisi oksigen kembali, terlampau asik memakan bibir masing-masing.

Tepat detik tiga puluh dua, Changmin lepaskan pagutan keduanya. Deru napas keduanya bersahutan penuhi ruangan.

“Anjing,” makian keluar dari bibir Changmin ketika punggungnya bertemu kasur dengan keras. Pelakunya sudah jelas Chanhee.

Pemuda yang kini berada di atasnya tertawa, bubuhkan kecup di kedua pipi Changmin.

“Maaf terlalu semangat,” katanya tetapi, Changmin tahu pemuda itu sengaja.

Chanhee ketika dalam keadaan seperti ini tak lagi kenal kata pelan dan halus. Kasar dan terburu-buru, dua kata yang cocok gambarkan Chanhee saat ini. Dan Changmin sudah terlampau hafal dengan sifatnya.

“Lo sengaja gue tau,” sahutnya.

Kemudian kembali teringat dengan pertanyaannya tadi, “jadi gimana, Chan? Gue atau degem lo?”

Chanhee menunduk, sejajarkan wajah keduanya. Mata Changmin terpejam sejenak kala rasakan terpaan napas halus Chanhee.

“Kenapa harus ditanya kalau lo juga udah tau jawabannya?”

“Jawab aja.”

“Haus validasi, hm?”

Choi Chanhee brengsek.

“Kalau gue balikin pertanyaannya, enak mana gue sama cowok lo? Kira-kira lo bakal jawab apa, Changmin?”

Mulut itu benar-benar bisa kacaukan kewarasan Changmin. Sialnya lagi, Changmin menyukai itu.

Sebelum menjawab ia sempatkan lingkarkan kedua lengannya di leher Chanhee, munculkan senyum manis, “ya gue bakal jawab lo. Choi Chanhee doang yang bisa buat gue berantakan, iya 'kan?”

“Lo brengsek,” Chanhee berkata seiring ia sembunyikan wajah di leher Changmin, “brengsek tapi, gue sayang.”

“Iya lah yang bisa buat lo desah keenakan kan cuma gue.”

Chanhee tatap lagi wajah itu kemudian tertawa, “mulut lo itu, diajarin siapa hah?”

“Lo,” satu kata singkat mampu buat Chanhee tertampar kenyataan.

Benar juga.

Tapi, Chanhee suka dengar kalimat kotor yang keluar dari bibir pemuda itu.

“Putusin aja pacar lo, pacaran sama gue,” kata Chanhee meledek but he mean it.

“Maunya gitu tapi, nanti deh.”

Gila.

Keduanya memang gila dan mereka akui itu. Tak masalah.

Chanhee tersenyum penuh kemenangan. Chanhee jelas menang dari kekasih Changmin. Hanya dia yang bisa buat Changmin teriak keenakan, hanya dia yang bisa kacaukan Changmin dan hanya dia yang bisa sentuh tubuh indah itu. Bahkan kekasihnya itu tidak bisa.

Dari awal Chanhee sudah menang telak.